Temukan buku favorit Anda berikutnya

Jadilah anggota hari ini dan baca gratis selama 30 hari
Islam Kosmologi Baru dan Agama Baru

Islam Kosmologi Baru dan Agama Baru

Baca pratinjau

Islam Kosmologi Baru dan Agama Baru

peringkat:
4/5 (96 peringkat)
Panjangnya:
128 pages
3 hours
Dirilis:
Jul 15, 2012
ISBN:
9781476046693
Format:
Buku

Deskripsi

Sains itu mempunyai dua muka. Jika kita menganggap bahwa apa yang kita saksikan dalam fenomena sains itu adalah “sebuah kenyataan yang sempurna,” kita akan melihat sains sebagai “hanya” kebenaran inderawi. Sains pernah mengukuhkan bahwa kebenaran mutlak adalah yang didasarkan pada panca-inderawi saja. Pandangan ini disebut “saintisme”. Karena itu, pertanyaannya kini adalah, “Apakah ada sesuatu hakikat yang berada di luar sains?” Saintisme akan menjawab tidak ada. Kebenar-an hanyalah kebenaran material yang bisa dideskrip-sikan melalui hukum-hukum saja.
Melawan pandangan saintisme–yang sekarang mulai ditinggalkan orang--sangatlah menarik. Karena, sekarang seseorang bisa melihat “tanda-tanda” bahwa sains bisa membawa kita kepada sesuatu hakikat yang ada di seberang sains, yang disebut hakikat “kesatuan wujud” atau “kesatuan Tuhan”, wahdat al-wujud, manunggaling kawula-Gusti, atau jika kita mengikuti bahasa teologi Islam diistilahkan sebagai hakikat tauhid. Tentu saja, tanda-tanda bukanlah “bukti”, tetapi tetaplah itu merupakan “sesuatu” yang perlu kita perhatikan. Bukankah gejala alam semesta merupakan “ayat” (tanda eksistensi dan kebesaran Tuhan)?.
Buku yang penulis sunting dan diolah dari berbagai tulisan para pakar ini, mengemukakan perdebatan dan proses, bagaimana sains dapat mengantarkan seseorang kepada ma’rifatullah?

Dirilis:
Jul 15, 2012
ISBN:
9781476046693
Format:
Buku

Tentang penulis


Terkait dengan Islam Kosmologi Baru dan Agama Baru

Buku Terkait

Pratinjau Buku

Islam Kosmologi Baru dan Agama Baru - Ni'matul Masfufah

Spiritualitas

Pengantar Penyunting

Alhamdulillah, penyunting ucapkan kepada Allah SWT, atas kemurahan ilmu-Nya, sehingga penyunting dapat menyelesaikan suntingan buku ini. Buku ini menjadi penting, karena seiring dengan perkembangan sains yang terus terjadi, maka tanda-tanda yang pernah diprediksi pada sekitar awal abad ke-21, semakin nampak terjadi dan mendekati kenyataan. Buku ini memberikan berbagai asumsi dan prediksi tentang sains masa depan terkait dengan masa depan spiritualitas dan agama manusia.

Sains itu mempunyai dua muka. Jika kita menganggap bahwa apa yang kita saksikan dalam fenomena sains itu adalah sebuah kenyataan yang sempurna, kita akan melihat sains sebagai hanya kebenaran inderawi. Sains pernah mengukuhkan bahwa kebenaran mutlak adalah yang didasarkan pada panca-inderawi saja. Pandangan ini disebut saintisme. Karena itu, pertanyaannya kini adalah, Apakah ada sesuatu hakikat yang berada di luar sains? Saintisme akan menjawab tidak ada. Kebenar-an hanyalah kebenaran material yang bisa dideskrip-sikan melalui hukum-hukum saja.

Melawan pandangan saintisme–yang sekarang mulai ditinggalkan orang--sangatlah menarik. Karena, sekarang seseorang bisa melihat tanda-tanda bahwa sains bisa membawa kita kepada sesuatu hakikat yang ada di seberang sains, yang disebut hakikat kesatuan wujud atau kesatuan Tuhan, wahdat al-wujud, manunggaling kawula-Gusti, atau jika kita mengikuti bahasa teologi Islam diistilahkan sebagai hakikat tauhid. Tentu saja, tanda-tanda bukanlah bukti, tetapi tetaplah itu merupakan sesuatu yang perlu kita perhatikan. Bukankah gejala alam semesta merupakan ayat (tanda eksistensi dan kebesaran Tuhan)?.

Buku yang penulis sunting dan diolah dari berbagai tulisan para pakar ini, mengemukakan perdebatan dan proses, bagaimana sains dapat mengantarkan seseorang kepada ma’rifatullah?

Dengan terwujudnya buku ini, penyunting sangat berterima kasih kepada suami penyunting, Muhammad Sholikhin, yang mengarahkan penyunting untuk mengolah bahan-bahan dalam buku ini menjadi sebuah buku yang utuh. Terima kasih juga disampaikan kepada segenap penulis yang menjadi kontributor dalam buku ini. Semoga amal shalihnya akan selalu mendapatkan balasan yang besar dan mulia dari Allah SWT.

Semoga buku ini bermanfaat untuk kita semua, dalam memahami hakikat eksistensi Tuhan yang tergelar dalam cakrawala semesta berikut semua keadaan dan kejadiannya.

Boyolali, 14 Maret 2012

Penyunting,

Ni’matul Masfufah MS

I

Agama dan Sains; Dua Kutub Dalam Satu Dunia

Frank J. Tipler, salah seorang dari amat sedikit fisikawan yang menekuni bidang spesialisasi garda depan fisika yang mengkaji teori relativitas umum global--diciptakan oleh fisikawan paling kondang akhir abad ini, Stephen Hawking--,suatu saat membuat pernyataan yang cukup kontroversial bagi ilmuwan pada masanya, bahwa; Teologi ternyata dapat diturunkan langsung dari hukum-hukum fisika. Sehingga Tipler menganggap bahwa dirinya telah sampai pada bukti tentang kebenaran Tuhan dengan cara yang persis sama dengan seorang fisikawan menghitung sifat-sifat elektron. Ini menunjukkan bahwa teologi Yahudi-Kristen sesungguhnya benar. Dan akhirnya Tipler berkesimpulan bahwa teologi (agama) harus menjadi cabang dari ilmu fisika.

Pendapat Tipler itu tidak dikemukakan secara sendirian, karena sejak tahun 70-an telah ada buku-buku seperti The Tao of Physics oleh Fritjhof Capra dan The Dancing Wu Li Masters oleh Gary Zukav yang berusaha menunjukkan betapa penemuan-penemuan mutakhir fisika modern ternyata berjalan sejajar dengan pandangan dunia timur yang religius.

Tentu saja fenomena tersebut mendapat sokongan sepenuhnya dari kalangan agamawan, karena selain dapat meruntuhkan anggapan/mitos sains yang bertentangan dengan agama, juga sekaligus kebenaran agama yang selalu dipertahankan, ini mendapat tambahan bukti yang datang dari sains yang dalam pandangan umum sudah merupakan kebenaran yang dibuktikan.

Akan tetapi perkembangan yang cukup harmonis itu tidak berjalan sendirian. Bersamaan dengan ditemukannya bukti-bukti yang digali dari penemuan paling mutakhir dari Sains, justru sebagian ilmuwan dapat melihat hal yang sepenuhnya bertolak belakang dalam kumparan teoritika sains mutakhir yang sama.

Carl Sagan penulis novel ilmiah bidang fisika teoritis, Contaxt (1998)-- misalnya, mengomentari buku Stephen Hawking, A Brief History of Time yang larisnya bak kacang goreng, sebagai sebuah buku tentang Tuhan ... atau bahkan (tentang) ketidakhadiranNya sama sekali. Di sana, Hawking berbicara tentang kemungkinan mengetahui pikiran Tuhan jika bagian terakhir dari teorinya tentang asal-usul jagat raya sudah ditemukan kelak. Teori itu disebut sebagai aditeori terpadu dengan paradigma Relativitas Umum Einstein dan Mekanika Kuantum.

Di samping Sagan, ada Steven Weinberg yang mendapatkan hadiah Nobel bersama Prof. Abdussalam di bidang Fisika Teoritis yang berbicara tentang kehormatan menerima sebuah dunia tanpa Tuhan di ujung pembicaraannya akan The Theory of Everything /TOE, teori tentang segala sesuatu (yang dalam buku ini nanti akan banyak disebut pada bagian kedua), walaupun TOE itu sendiri sampai saat ini belum ditemukan.

Jika TOE nanti diketemukan--menurut Windberg dan Hawking--maka praktis Sains modern akan dapat menjelaskan semuanya. Setelah itu bisa saja manusia masih bisa menerima kemungkinan akan kebutuhannya terhadap Tuhan atau janji-janji keselamatan di akhirat. Tetapi itu hanya berfungsi secara psikologis, sebagai hiburan bagi kesulitan hidup di dunia bagi yang tidak bersains.

Sementara jika manusia ingin hidup secara terhormat, tak bergantung pada mimpi-mimpi (suatu yang tidak nyata), maka ia harus berani hidup tanpa Tuhan. Di sinilah baru diperoleh kehormatan manusia. Demikian menurut Weinberg.

Stephen Hawking sendiri dalam karya-karyanya banyak menyebut tentang Tuhan, bahkan dalam buku The Black Holes and The Baby Universe ia membuat tema khusus pada artikel kedua belas dengan judul Apakah segala sesuatu telah ditentukan? (hlm. 125-138 dalam edisi terjemahan oleh PT. Gramedia, 1997) dengan jawaban lebih banyak ‘tidaknya’ daripada jawaban ‘ya’. Toh kita--menurut Hawking--tidak tahu siapa atau apa, ditentukan bagaimana. Dan walaupun alam memiliki seperangkat hukum yang sepenuhnya mengatur evolusi jagat raya sejak tahap awalnya yang mungkin saja dibuat Tuhan, namun pasti Tuhan tidak akan melakukan intervensi agar tidak melanggar hukum-hukumnya sendiri. Otomatis kalaupun nantinya terbukti Tuhan ada, maka keberadaannya tidak lagi aktif. Tuhan hanya memiliki peran menciptakan tapi sekarang tidak lagi memeliharanya.

Bahkan lebih lanjut Hawking menyatakan, jika usulan teoritik keadaan tanpa batas atau yang sejenis, yang diusulkan Hawking bersama Jim Hartle pada tahun 1983 disetujui, maka hukum fisika telah berlaku sejak pada awal jagat raya, sehingga Tuhan tidak memiliki kebebasan untuk memilih kondisi-kondisi awalnya. Kalaupun ada pilihan, pilihan Tuhan tidak akan banyak, hanya sebatas pada jawaban atas pertanyaan mengapa jagad raya ini harus ada.

Stephen Hawking, yang oleh para ilmuwan Fisika begitu didewakan, seperti kebanyakan ilmuwan Barat lainnya, memandang Tuhan hanya sebagai satu dari sekian juta kemungkinan acak yang kebetulan tumbuh dari pemikiran manusia tentang konsepsi alam semesta. Dan ada tidaknya Tuhan akan dapat diketemukan jawabannya tergantung bagaimana nanti hasil akhir penelitian Hawking. Alhasil bagi Hawking, sains adalah dewa atau tuhan penentu kebenaran atau yang berhak menganggap salah atau benarnya agama. Agama berada di bawah subordinasi sains.

Mensikapi penemuan yang belum menentu dari wacana Sains terhadap agama tersebut, Brian Appleyard menganjurkan agar kaum beragama kembali pada prinsip gereja, yakni dengan Sains. Sementara penolakan dan dukungan sains terhadap agama hanya dapat diberikan jika keduanya diletakkan dalam suatu deretan atau dataran yang sama. Otomatis solusi ini akan mengandalkan satu hal lain; pengakuan bahwa Sains, terlepas dari jasa besar yang telah diberikan pada manusia, tidak perlu menjadi sahabat yang mudah dibayangkan dan diharapkan manusia, yaitu sebagai yang paling membuktikan kebenaran segala sesuatu, terutama agama. Karena jika itu terjadi hanya ada satu dari dua pilihan sikap beragama, atheis seperti Weinberg dan Sagan, atau menderita arogansi keagamaan seperti Tipler, Capra dan Zukav di atas; kalau tidak minimal bersikap agnostik seperti Hawking. Umumnya, kalangan saintis dan pengikutnya baru benar-benar mau beragama jika data dan fakta ilmiah (sebagai hasil eksplorasi penelitian, observasi, eksperimentasi dan proses uji coba) telah membenarkannya.

Dari wacana-wacana di atas nampaklah bahwa alternatif-alternatif yang tersedia hampir semuanya tidak sejalan dengan konsepsi-konsepsi agama-agama Abrahamik (Yahudi, Nashrani, dan terutama Islam) yang merupakan agama Hanif dan bercorak Wasath serta memiliki kelebihan konsep perennialnya. Hal ini disebabkan karena antara kedua belah pihak masih terdapat pandangan keserbatakhayulan (superstitions) dalam agama. Dengan demikian tinggal bagaimana umat beragama (terutama muslim) ini mengaplikasikan

Anda telah mencapai akhir pratinjau ini. Daftar untuk membaca lebih lanjut!
Halaman 1 dari 1

Ulasan

Pendapat orang tentang Islam Kosmologi Baru dan Agama Baru

3.9
96 peringkat / 8 Ulasan
Apa pendapat Anda?
Penilaian: 0 dari 5 bintang

Ulasan pembaca

  • (4/5)
    kontol ah. mending beli bukunya aja sekalian. dari pada baca tapi bayar wkwk
  • (5/5)
    Main165.com merupakan situs online aman dan terpercaya yang menyediakan Promo Tripple Bonus yang Wow dan tidak pernah anda jumpai di tempat lain.
    Buruan bergabung Menangkan Hadiah & permainan nya, Cukup 1 user id saja anda bisa banyak bermain game di Main165.com.
    Pelayanan cepat, aman & terbaik!, Cs kami siap melayani Anda 24 jam nonstop!!!
    Untuk info lebih lanjut bisa hub cs kami di livechat/Wa : +855973489346
    silahkan bisa di cek ke TKP dan buktikan sekarang juga. . .
  • (5/5)
    review nya menarik. sepertinya wajib di download nih
  • (4/5)
    good
  • (5/5)
    sangat bagus
  • (5/5)

    1 person found this helpful

    Mantaplah untuk bukunya berpaedah sekali untuk warga +62 yang pecinta buku

    1 person found this helpful

  • (1/5)
    okeyyy
  • (5/5)
    Buku yang sangat berguna bagi orang yang menkaji islam ~