Temukan buku favorit Anda berikutnya

Jadilah anggota hari ini dan baca gratis selama 30 hari
Hadis Asli Hadis Palsu

Hadis Asli Hadis Palsu

Baca pratinjau

Hadis Asli Hadis Palsu

peringkat:
4/5 (78 peringkat)
Panjangnya:
126 pages
1 hour
Dirilis:
Aug 3, 2012
ISBN:
9781476153261
Format:
Buku

Deskripsi

HADIS ASLI HADIS PALSU dikembangkan dari beberapa makalah menyangkut pengetahuan tentang hadis dan sejarah hadis. Dalam buku ini Sholikhin mendasarkan pada studi yang dilakukan Syekh Muhammad Mustafa Al-A’zami, Ph.D atau dikenal dengan MM Azami di dunia barat. A’zami adalah seorang guru besar ilmu Hadis di Universitas King Saudh di Riyadh, Saudi Arabia. Karya A’zami bisa dikatakan monumental setelah ia menulis disertasi yang mematahkan analisis para orientalis barat mengenai otentisitas hadis sebagai benar-benar berasal dari Rasulullah.
Dalam buku ini, Sholikhin juga mencantumkan daftar kitab-kitab hadis berdasarkan jaman dan jenis-jenis isinya bahkan mendata peringkat keutamaan atau kualitas hadis yang bisa kita jadikan pedoman lebih lanjut untuk mempelajari hadis. Buku ini sangat penting bagi mahasiswa studi Islam, para ulama atau umat Islam pada umumnya yang ingin memahami hadis agar dapat menentukan bacaan yang tepat mengingat banyak sekali kitab-kitab hadis yang ada namun banyak pula yang mengandung hadis-hadis palsu (maudhu’).

Dirilis:
Aug 3, 2012
ISBN:
9781476153261
Format:
Buku

Tentang penulis


Terkait dengan Hadis Asli Hadis Palsu

Buku Terkait

Pratinjau Buku

Hadis Asli Hadis Palsu - Muhammad Sholikhin

garudhawaca@gmail.com

KATA PENGANTAR

Penulis mengucapkan syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT, yang telah memberikan ridha-Nya menyelesaikan tulisan, yang bagi penulis sangat penting ini. Shalawat salam terhaturkan kepada junjungan Nabi Agung Muhammad SAW, yang dengan sunah dan hadisnya telah memberikan suluh, guna mengaplikasikan kalam Allah, bagi kemashlahatan umat seluruh alam. Saya berharap, agar syafaatnya sejak dari dunia, dan utamanya syafaat beliau di hari akhirat juga tercurah kepada saya dan semua keluarga besar saya, serta para pembaca semuanya. Amin.

Dewasa ini mulai banyak dari sebagian kalangan umat Islam yang meragukan hadis sebagai benar-benar berasal dari Rasulullah Muhammad SAW. Bahkan ada sebagian aliran dalam Islam yang sama sekali tidak mau menggunakan hadis Nabi sebagai landasan keberagamaan, karena merasa cukup hanya dengan al-Qur’an sebagai firman Allah yang menjadi sumber ajaran Islam.

Tentu gejala ini sangat memperihatinkan, karena Rasulullah sendiri sangat mengutamakan penggunaan sunah dan hadis sebagai landasan utama ber-Islam mendampingi Kitab suci al-Qur’an. Sewaktu Rasulullah mengutus Mu’adz bin Jabal menjadi gubernur Yaman, Rasulullah bertanya, Apa yang akan engkau jadikan sumber hukum jika kamu menjadi gubernur? Mu’Adz menjawab, Al-Qur’an ya Rasulullah? Rasul bertanya, Kalau kau tidak mendapati dari al-Qur’an? Mu’daz menjawab, Tentu saja sunah Engkau ya Rasulullah. Rasul bertanya, Jika tidak kau dapati juga? Mu’adz menjawab, "Berdasar ra’yu (ijtihad pikiran) saya ya Rasul". Baru kemudian Rasulullah melepas Mu’adz berangkat ke Yaman menunaikan tugas.

Ketika menjelang wafatnya Rasulullah juga berwasiat, bahwa Rasulullah meninggalkan dua hal sebagai pegangan keagamaan, yaitu al-Qur’an dan sunnah (yang termaktub dalam hadis). Sedangkan sebagai tauladan Rasulullah meninggallkan al-Qur’an dan ahl al-bait Rasul.

Memang juga harus diakui bahwa hadis (bukan sunnah), ada yang dha’if (lemah), dan maudhu’ (palsu), dan beberapa kategori yang menjadikannya tidak bisa dijadikan sumber hukum dan dasar keberagamaan. Akan tetapi kenyataan bahwa masih cukup, bahkan sangat banyak, hadis yang sahih (otentik) berasal dari Rasulullah haruslah diakui dan dijadikan dasar juga. Sehingga bukan dengan cara membuang atau tidak mempercayai hadis seluruhnya yang harus dilakukan. Akan tetapi dengan cara memilih dan memilah mana yang sahih dan mana yang tidak. Untuk hadis sahih, kita wajib mengikuti dan menggunakannya sebagai dasar keagamaan. Sedangkan yang tidak sahih diperinci, jika maudhu’ tidak bisa dijadikan landasan argumen keagamaan. Jika sekedar dha’if, maka tidak bisa dijadikan pegangan dalam akidah dan ibadah mahdhah (pokok), namun masih bisa dijadikan sandaran dalam ibadah yang ghairu mahdhah dan ibadah muamalah serta aneka amal shalih yang lain.

Untuk itu, maka dibutuhkan suatu kerangka yang menjadikan kita yakin bahwa masih banyak hadis sahih yang bisa dijadikan sumber hukum keberagamaan. Kerangka tersebut, pada abad ke-21 M dewasa ini dikokohkan oleh Syaikh Muhammad Musthafa al-A’dzami, yang mengkritisi sikap para orientalis dan sikap sebagian ulama serta ilmuwan muslim yang sedemikian gampangnya tidak memper-cayai hadis Nabi sebagai dasar keagamaan.

Saya menyusun buku ini untuk memberikan gambaran bagaimana kerangka dasar pembuktian otentisitas hadis sebagai berasal dari Nabi itu terjadi? Sehingga saya berharap dengan membaca buku kecil ini, semakin kuat dan kokohlah keyakinan kita kepada sunnah dan hadis sahih Nabi sebagai pondasi keberagamaan mendampingi kitab suci al-Qur’an.

Saya sangat berterima kasih kepada para dosen dan guru besar pengajar Program Pasca Sarjana IAIN Walisongo Semarang, yang sudah pernah memberikan sebagian ilmunya selama saya menjadi mahasiswa pada almamater tersebut. Buku ini saya kembangkan dari tugas penelitian salah satu mata kuliah (Ilmu Hadis) saat saya masih belajar di kampus tersebut.

Terima kasih juga untuk istri saya, Ni’matul Masfufah, serta puteri-putera saya: Alfina Nurul ’Ayni, Ailsa Çalya Kasyfatul Mahjubiyyah, dan Abdurrahman Muhammad Syauqi El-Fatta, yang selalu menyertai hari-hari saya melaksanakan amanah berdakwah, baik melalui lisan maupun tulisan.

Buku ini saya hadirkan sebagai bentuk dedikasi dan kecintaan saya kepada habibuna Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya, kepada seluruh guru-guru saya, terutama ayahanda Muhammad Muljadi (Allahu yarham), juga Kyai Damanhuri dan K.H. ’Ali As’ad. Semoga saya beserta keluarga selalu mendapatkan hidayah Allah dari dunia dan akhirat, mendapatkan syafa’at Rasulullah, serta selalu berada dalam keberkahan, sakinah wa sa’adah sejak dunia hingga akhirat. Amin.

Wisma Baitut Ta’lim Al-Hikmah Boyolali,

Rabu Legi, 28 Maret 2012 / 5 Jumadil Awal 1433

Muhammad Sholikhin

Daftar Isi

Kata Pengantar

Daftar Isi

Hadis di Dunia Islam dan Kritik Orientalis

Syekh Al-A’zhami dan Kajian Kritik Orientalis

Kritik Terhadap Hadis dan Pembuktian Tentang Otentisitas Hadis

Syekh Al-A’zhami, Peneguh Ontentisitas Hadis Masa Ini

Macam-macam Kitab Hadis dan Peringkatnya

Daftar_Pustaka

Biodata_Penulis

Hadis di Dunia Islam dan Kritik Orientalis

Studi tentang otentisitas hadis, merupakan lapangan yang tidak pernah sepi dari perdebatan. Sekaligus merupakan wilayah penelitian yang menyedot banyak perhatian intelektual, baik di kalangan ilmuwan Barat maupun Timur. Tidak saja hal itu dilakukan oleh para intelektual muslim, sejak awal sejarahnya, namun penelitian terhadap otentisitas hadis juga dilakukan oleh para orientalis dan oksidentalis, yang terbukti telah menghasilkan berbagai karya berbobot di berbagai belahan dunia. Penelitian itu dilakukan, terutama berkaitan dengan fakta sejarah yang telah mencatat bahwa pemalsuan hadis besar-besaran pernah terjadi dengan motif dan latar belakang yang berbeda-beda, baik motif baik maupun jahat.

Di antara hal yang menjadi latar belakang pemalsuan hadis yaitu: (1) politik, (2) ekonomi, (3) golongan, (4) memperoleh perhatian dari penguasa, (5) hidup kezuhudan, dan (6) daya tarik dalam melakukan dakwah (Ahmad Muhammad Syakir, Alfiyah al-Shuyuthi, t.t.: 85-92; Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadis, 1989: 418-427; Musthafa al-Siba’i, Sunnah 1991: 40-55). Dengan meneliti berbagai motif tersebut, wajar jika tidak semua hadis maudhu’ adalah negatif dan buruk, tetapi juga ada yang sejalan dengan ajaran Islam (M. Syuhudi Ismail, Hadis Nabi, 1994: 51-52; juga baca M. Syuhudi Ismail, 1995).

Para pengkaji dan peneliti hadis dari kalangan orientalis (outsider) yang paling terkenal antara lain Sprenger, Ignaz Goldziher, Montgomery Watt, Joseph Schacht dan sebagainya. Menurut kajian Juynboll, di antara para orientalis yang banyak mengkaji hadis dan cenderung meragukan, bahkan menentang otentisitas hadis adalah A. Sprenger, Goldziher, dan Schacht (G.H.A. Juynboll, The Authenticity, 1965: 1).

Bahkan di kalangan internal umat Islam dewasa ini, banyak muncul kontroversi di sekitar hadis, yang berhubungan dengan mempertanyakan kembali otentisitas hadis, baik itu dalam posisi sebagai sumber hukum Islam, atau dalam segi sejarahnya sebagai hal yang keluar dari diri Rasulullah. Dalam kasus ini, kita menyebut kritik seorang oksidentalis muslim Mahmud Abu Rayyah dalam kitabnya Adwa’ ‘ala al-Sunnah Muhammadiyah aw Difa’u ‘an al-Hadis (Penerbit Dar al-Ma’arif, Mesir, 1969); Nashr Hamid Abu Zaid asal Mesir (konsentrasi utama bidang kritik al-Qur’an, namun juga melakukan kritik tajam terhadap hadis) sebagaimana dilakukan rekan sejawatnya Mohammad Abed al-Jabiri asal Maroko; Mohammed Arkoun dari Al-Jazair; Fazlur Rahman asal Indo-Pakistan; atau Muhammad Shahrour asal Suriah yang menolak hadis sebagai sumber ajaran Islam, karena membedakannya dengan sunnah.

Di Barat, karya Mahmud Abu Rayah menjadi sangat terkenal, akibat kontroversi yang panas di Mesir. Namun publikasi di Barat, juga disebabkan oleh publikasi karya Juynboll yang membahas serangan Abu Rayah terhadap Abu Hurairah dalam karyanya berjudul The Authenticity on the Tradition Literature Duscussions in Modern Egypt. Leiden; E.J. Brill, 1969. Di Indonesia karya ini diterjemahkan oleh Ilyas Hasan dengan judul Kontroversi Hadis di Mesir (1890-1960) (Bandung, Mizan, 1999).

Al-Jabiri meneruskan gagasan Arkoun tentang proyek Kritik Nalar Islamnya, namun al-Jabiri lebih menyempitkan lagi wilayah kajiannya dalam apa yang disebut sebagai proyek naqd al-‘aql al-‘arabi (Kritik Nalar Arab). Termasuk dalam salah satu programnya adalah mendekonstruksi dari apa yang ia sebut sebagai hasil-hasil gerakan tadwin hadis. Baginya apa yang dihasilkan dalam tadwin yang disebutnya sebagai i’adah al-bina al-tsaqafi al-‘am (rekonstruksi komprehensif dalam kebudayaan), harus direkonstruksi sebagai nalar bayani, ‘irfani, dan burhani. Nampaknya memang bagus, hanya saja, pada giliran analisisnya nanti, akan didapatkan kenyataan bahwa menurut al-Jabiri, hadis bukan murni ucapan atau berasal dari Nabi, namun merupakan produk bahasa dan budaya Arab, yang kebanyakan justru berasal dari Arab Badui (lihat seluruh gagasannya dalam Muhammad Abed al-Jabiri, 2000).

Anda telah mencapai akhir pratinjau ini. Daftar untuk membaca lebih lanjut!
Halaman 1 dari 1

Ulasan

Pendapat orang tentang Hadis Asli Hadis Palsu

4.1
78 peringkat / 5 Ulasan
Apa pendapat Anda?
Penilaian: 0 dari 5 bintang

Ulasan pembaca

  • (3/5)

    2 people found this helpful

    Terimakasih.. saya ing8n jalan yg diridoi Allah biar jadi orang yg dicintai Allah ...berebut mencari ridho Allah

    2 people found this helpful

  • (5/5)
    oke
  • (5/5)
    Main165.com merupakan situs online aman dan terpercaya yang menyediakan Promo Tripple Bonus yang Wow dan tidak pernah anda jumpai di tempat lain.
    Buruan bergabung Menangkan Hadiah & permainan nya, Cukup 1 user id saja anda bisa banyak bermain game di Main165.com. silahkan bisa di cek ke TKP dan buktikan sekarang juga. . .
  • (4/5)

    1 person found this helpful

    Top
    pnya lah ... Tp gmna cra nya bca grtissss?

    1 person found this helpful

  • (5/5)

    1 person found this helpful

    top

    1 person found this helpful