Nikmati jutaan ebook, buku audio, majalah, dan banyak lagi dengan uji coba gratis

Hanya $11.99/bulan setelah uji coba. Batalkan kapan saja.

Dunia Yang Hancur
Dunia Yang Hancur
Dunia Yang Hancur
eBook372 halaman8 jam

Dunia Yang Hancur

Penilaian: 3.5 dari 5 bintang

3.5/5

()

Baca pratinjau

Tentang eBuku ini

Sejauh yang Ira DeSoto tahu, ia adalah remaja biasa yang tidak punya rencana yang luar biasa untuk hidupnya. Tapi ketika ia secara tidak sengaja menyelamatkan anak Kagran dari kematian yang lamban, sendirian, kesakitan dan menakutkan, dilanjutkan dengan penyelamatan lima belas lagi dari pasar budak bawah tanah di planetnya Tev-Raxia. Kasih sayang Ira mengambil alih hidupnya saat ia bekerja untuk merawat dan melindungi anak-anak ini dari tangan yang tidak terlihat yang akan mengambil mereka kembali atau menghancurkan mereka. Ketika ia membuat rencana untuk mengangkut mereka keluar galaksi dengan sebuah kapal luar angkasa, membawa mereka pulang ke rumah dan menyatukan mereka dengan keluarga asli mereka, ayahnya berpikir ia gila, tapi Ira De Soto mempunyai sebuah rahasia yang tidak diketahui oleh ayahnya.

BahasaBahasa indonesia
PenerbitJeff Trossen
Tanggal rilis3 Apr 2013
ISBN9781301386000
Dunia Yang Hancur
Baca pratinjau
Penulis

Jeff Trossen

Jeff Trossen was born and raised in Garden Grove and Riverside California. Through his parents he learned to love classical and jazz music. Through the influence of his older brother he learned to love rocket ships, airplanes, sailing ships and science fiction, especially science fiction. His older brother introduced him to classic and popular science fiction writers such as Robert Heinlein, Ray Bradbury, Anne McCaffrey, James H. Schmitz, Larry Niven, Arthur C. Clarke, Andre Norton and especially Jules Verne. Having gotten used to real science fiction, he found himself in a love-hate relationship with the majority of broadcast television science fiction programming. Because of the poor storylines, and silly pseudo-science they presented on their weekly TV programs, he became convinced he could do better. After thinking about it for a decade or two while he struggled with life, earning a living doing mechanical drafting and design he made the effort to write his own stories. The Flight of the Starling Book series is the fruit of his labor. It is his effort to write not just science fiction, but science fiction where the story of the characters themselves carry more weight than the gadgets in their world. He writes so that the gadgets are sensible and not unduly magical or miraculous and makes sure that the characters aren’t perfect. (They never should be) He sees to it that the problems they face are tangible and workable. He goes for the believable rather than the spectacular and sees to it that the whole country, planet, galaxy, or universe isn’t in danger of destruction if the main character doesn’t beat up the inexplicably evil bad guys to save the day. The problem(s) instead are more local and personal, the danger isn’t universal and the main characters are never invulnerable, unassailable or impenetrable. Jeff Trossen currently resides with his wife in Maryland and works as a Science Research Technician at the National Institute of Standards and Technology in Gaithersburg, Maryland.

Terkait dengan Dunia Yang Hancur

E-book terkait

Kategori terkait

Ulasan untuk Dunia Yang Hancur

Penilaian: 3.7142857142857144 dari 5 bintang
3.5/5

14 rating5 ulasan

Apa pendapat Anda?

Ketuk untuk memberi peringkat

Ulasan minimal harus 10 kata

  • Penilaian: 5 dari 5 bintang
    5/5
    Bagi Yang suka main game / Gamers silahkan bisa coba game di qqharian,net Cukup 1 user id saja anda bisa banyak bermain game.
    Modal perdana kurang beruntung? tenang, kami ganti dgn Bonus Welcome Cashback 100% Dansaat anda regist/daftar jangan lupa masukan kode referal :8FE83FDE
    Utk info lebih lanjut lsg cek ke TKP atau bisa follow IG : kellymagdalena97 yah terima kasih. :)
  • Penilaian: 1 dari 5 bintang
    1/5
    bad
  • Penilaian: 5 dari 5 bintang
    5/5
    bestnye
  • Penilaian: 5 dari 5 bintang
    5/5
    ok
  • Penilaian: 5 dari 5 bintang
    5/5
    good

Pratinjau buku

Dunia Yang Hancur - Jeff Trossen

PRAKATA

1. BELOK KIRI ILLEGAL YANG MENGUBAH NASIB

2. BUKAN SEBUAH PROYEK

3. MIMPI BURUK

4. MASALAH, MASALAH DI ANGEL CITY

5. BERLARI KE RUMAH

6. JELAJAHI GUA

7. HARTA KARUN

8. REUNI

9. PERBAIKAN SEMENTARA

10. MENGAWASI PENGAWAS

11. BAGAIMANA CARANYA SAYA MEMAKAN SEEKOR GAJAH?

12. ANAK DARI MIMPI

13. RAMONA

14. TIDAK APA-APA UNTUK MENANGIS

PRAKATA

(DAFTAR ISI)

Kami tak lebih dari anak-anak, muda dan kuat, bahagia, tidak menyadari hal yang akan kami hadapi. Saya, berumur tidak lebih dari 19 tahun. Seandainya saya mempunyai kemampuan untuk melihat atau meramal apa yang akan terjadi di depan, saya tidak akan percaya. Saya hanyalah remaja biasa, dengan pikiran sederhana, mempunyai ide yang biasa, mempunyai hidup seperti kebanyakan orang. Demikian juga dengan anggota keluarga saya yang lain. Kami percaya bahwa hidup kami ini sangatlah teratur seperti halnya kelahiran dan kematian di hari tua, tidak tercatat dalam sejarah, tak dikenal di dunia luar, hidup dengan nyaman dan sederhana.

Kenyataannya, hidup kami seperti bara api. Dalam sekejab mata berubah oleh hal yang tampak sederhana yaitu belok ke kiri yang mengubah nasib saya. Mulai saat itu, hidup kami berubah dari biasa menjadi luar biasa, dari membosankan menjadi menakjubkan, nasib saya dan orang-orang di sekitar saya berubah dan tidak pernah sama lagi.

Seperti burung, sesederhana burung gereja. Berani seperti elang. Waktu hati kami hancur dan patah, kami terbang dengan bebas dan sukacita.

Api yang menyucikan datang tanpa peringatan dan tak ada jalan untuk melarikan diri. Dalam wadah intervensi Ilahi, kami dibersihkan. Kami diuji dengan pengawasan Yang Maha Kuasa, dan dipalu dalam peleburan hasrat keinginan dari luar. Kami muncul dari neraka teka-teki di mata yang kaya dan berkuasa dengan pengawasan mata jeli. Kami adalah elemen tak terduga yang mengubah malapetaka besar, karena kami menjadi utusan rahmat, kepercayaan dan cahaya di mana sebelumnya hanyalah ada kegelapan, ketakutan dan keputusasaan. Kami membawa kebaikan dan kelemah lembutan di mana sebelumnya penuh dengan kekerasan dan hukuman. Kami dinaikkan ke atas bukit ketika kegilaan dan kejahatan datang atas dunia seperti banjir. Kami satu hati, diikat bersama dalam cinta kasih. Kami satu roh terikat bersama dalam hati. Kami, menyebut diri kami The Starlings.

1

BELOK KIRI ILLEGAL YANG MENGUBAH NASIB

(DAFTAR ISI)

Ira DeSoto duduk di belakang kursi pengemudi, berkeringat, dengan perasaan tidak nyaman dan gelisah sambil mengetok-ngetokkan jarinya di pintu mobil. Ia telah menurunkan atap mobilnya karena ac-nya rusak dan ia belum punya uang untuk memperbaikinya. Mobilnya replika Buick tahun '60 telah ketinggalan jaman. Suku cadangnya mahal dan harus dipesan khusus. Anak berusia 19 tahun seperti dia itu biasanya tidak punya uang untuk memperbaiki ac yang rusak.

Apa maksudnya memasang tanda tidak boleh terbang di pusat kota? Menurut surat kabar itu karena ancaman teroris. Pendapat umum dari orang awam seperti dirinya bahwa para teroris itu secara mental dan emosi tidaklah stabil, mereka diajarkan atau dicuci otaknya untuk mempercayai bahwa orang biasa itu apapun alasannya patut mati. Tidak ada seorangpun yang dapat menjawab hal ini. Beberapa percaya ini ulah pemerintah. Yang lainnya bilang ini ulah organisasi kriminal. Pemerintah bilang ini organisasi teroris dan anarkis dari planet galaksi yang lain. Ira tidak peduli untuk saat ini. Ayahnya sedang menunggunya.

Jika bukan karena zona tidak boleh terbang yang tolol ini, saya sudah ada di sana sekarang! Pop akan membunuh saya!

Di dalam pikirannya, Ira membayangkan ayahnya. Ia bisa melihat tatapan mata Pop yang menakutkan. Ira melihat ke cermin. Tampak bayangannya menatap balik. Ia memiliki rambut hitam, kulit pucat dan mata coklat gelap yang terlihat cemas dengan dasi paisley yang tidak serasi dengan kemeja bergaris-garis.

Duh! Kenapa saya tidak memilih dasi semalam seperti saran Pop?

Dengan kecepatannya bergerak saat ini, Ira yakin ia akan tiba di menara PIE lebih cepat dengan berlari. Ia melihat ke sekeliling jalan untuk mencari tempat parkir.

Saat mobilnya bergerak maju, terlihat olehnya sebuah limousine. Cerah, mengkilat, panjang dan hitam dengan bumper chrome dan berkilau di bawah cahaya matahari. Model Cadillac Fleetwood tahun 1953, menuju ke arahnya dari jalan samping belakang barisan restoran, bagian dari shopping center dengan toko-toko pakaian, restoran dan cafe. Saat ini penuh dengan orang-orang yang sedang sarapan demikian pula dengan tempat parkirnya yang penuh dengan mobil-mobil sehingga ia tidak dapat memarkir mobilnya untuk beberapa jam sementara ia menghadiri rapat sesuai permintaan ayahnya.

Satu-satunya belokan kiri yang dapat dipakai itu jaraknya 2 blok dan menilai dari kecepatan lalu lintas saat ini kemungkinan besar akan membutuhkan waktu 15 menit. Ia menatap Cadillac itu lagi yang bergerak perlahan dan stop di sudut jalan seberang, memberi isyarat dan belok kanan. Ira menggigit bibirnya, menatap jauh ke tempat parkir, melihat ke belakang jalan dan membuat koneksi di kepalanya. Gang sempit itu menuju ke pintu masuk tempat parkir. Satu-satunya penghalang adalah pemisah jalan. Ia melihat ke kaca samping. Mobil di belakang belum bergerak. Pengemudi wanitanya sedang sibuk melihat ke cermin dan memakai maskara. Ira memundurkan mobilnya, menunggu peluang, memasukkan gigi dan menekan pedal gas. Mesinnya mengaum dan bergerak. Ia memutar kemudi ke kiri. Mobilnya melonjak keras menaiki pemisah jalan dan bingkai mobilnya tergores. Ia melaju dan berbelok ke jalan sempit itu. Ia melihat ke sekitarnya dengan cepat berharap tidak ada polisi yang melihat perbuatannya. Ia tidak melihat tanda SATU ARAH - DILARANG MASUK di sudut jalan.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk menyadari kesalahannya. Ia melihat rambu-rambu lalu lintas yang terpasang terbalik di jalan. Diliriknya kaca dan terbaca huruf dengan tinta merah dengan latar belakang putih nanaK koleB dan rikraP gnaraliD, rikraP gnaraliD, rikraP gnaraliD, rikraP gnaraliD.

Ira menekan pedal gas dan melaju dengan kencang menuju ujung jalan dengan harapan tidak ada orang yang melihatnya atau ...

Besar, hijau dan berdebu dengan goresan-goresan, cat yang memudar di bagian hidung dan roda, datang menderu dari sudut jalan. Buick convertible merah Ira yang kecil ini bukan tandingan dari truk besar yang melaju dengan cepat. Ira menginjak rem dengan keras dan berdecit berhenti. Ia berusaha mencari tempat untuk memindahkan mobil dari satu sisi ke sisi lain, tapi sulit karena jalannya terlalu sempit. Ira melihat ke arah pengemudi truk, kepalanya botak dan wajahnya berubah merah padam. Terlihat celah di antara gigi bawahnya saat ia menarik tali klakson. Suara nyaring yang menggema dari gedung-gedung di kedua sisi memekakkan telinga Ira. Terdengar suara rem mengerang dan Supermack melambat. Semakin lambat lajunya semakin keras dan panjang suara klaksonnya hinga truk berhenti beberapa inci dari bumper Ira dengan WHEEZE-PISHHHHH. Klaksonnya kembali berbunyi dan bergetar hingga terasa di kaki Ira dan dashboard.

Ira menatap dengan ngeri, terasa hempasan angin kencang seakan menyedot dirinya. Dengan panik, ia mencari jalan keluar. Di sebelah kirinya adalah bagian belakang apartemen berbatu bata merah dan trotoar. Di sebelah kanan adalah bagian belakang deretan restoran yang digunakan sebagai tempat untuk menaikkan dan menurunkan barang. Tanpa menghabiskan waktu, ia memasukkan gigi mundur dan memutar kemudinya searah jarum jam dan menginjak gas. Mobil merahnya dengan bagian ekor terlebih dahulu memasuki tempat menaikkan dan menurunkan barang. Di pinggir jalan terletak tiga tempat sampah dan tanpa sengaja bumper kirinya menyentuh salah satu tempat sampah. Tempat sampah jatuh menimpa tempat sampah di sebelahnya dan sebelahnya lagi dan menggelinding di jalan. Isinya terbang ke segala arah dan jatuh berdenting-denting membuat Ira mengiris saat ia menginjak rem dan Buicknya berdecit berhenti.

Supermack pindah gigi dan bergerak. Pengemudinya menghindari sampah-sampah dan kaleng-kaleng yang tergeletak di jalan. Begitu mobilnya melaju, pengemudinya mengeluarkan kepalan tangan ke arah Ira.

Ira duduk tanpa bergerak di mobil menatap dashboard, terasa pipi dan telinganya memerah mendengar pengemudi truk berteriak mengeluarkan komentar yang menghina dirinya, kecerdasannya, menuduhnya mempunyai kebiasaan seksual yang menyimpang dan mempertanyakan legitimasi kelahirannya.

Dengan enggan ia mengangkat kepala begitu truk berlalu, bersyukur bahwa semua telah berakhir. Nah, belum semua.

Ia menatap ke sampah-sampah yang tergeletak dan sebuah kertas yang terbang mendarat karena hembusan dari truk yang melaju. Apa pendapat Pop jika ia tahu saya membiarkan sampah-sampah ini dan pergi?

Suara ayahnya terdengar jelas di otaknya. Reputasimu jauh lebih penting dari semua kekayaan, keahlian, atau penampilan. Jangan nodai dengan kecerobohan.

Tapi tidak ada orang yang melihat ini!

Siapa diri anda yang sebenarnya tercermin dari perbuatanmu saat tidak ada orang yang melihat.

Sambil menggigit bibir, ia memindahkan gigi ke parkir, melepas sabuk pengaman, membuka pintu dan melangkah ke luar. Hanya membutuhkan waktu satu menit. Saya telah terlambat pula, jadi apa artinya semenit?

Ia memungut dua tempat sampah yang terdekat dan menyeretnya kembali ke tempat semula sambil bergumam.

Ini semua kesalahanmu, Stuart! gumamnya. Kamu bangun di tengah malam dan mematikan alarm!

Meow, terdengar jawaban.

Huh? Ia berhenti, melihat ke sekeliling jalan dan trotoar. Ia merasa suara itu berasal dari seseorang tepat di sampingnya. Siapa yang ada di sana? Suara itu seperti suara kucing yang kesakitan tapi tidak terlihat. Ia menggelengkan kepala, membungkuk dan mengangkat setumpuk surat kabar, kaleng-kaleng kosong dan botol-botol. Dilemparkannya masuk ke tempat sampah terdekat.

Seram. Ia menyapu tumpukan karton kemasan dan kain berminyak dengan satu kaki dan mengumpulkannya. Lalu dilemparkan ke dalam tempat sampah lainnya. Lain kali, Stuart, saya akan menyimpan satu sepatu di bawah bantal dan melemparkannya padamu sebelum kamu menekan tombol mematikan alarm jamku! Atau mungkin saya gunakan balon air! Ia berjalan ke tengah jalan, mengambil sebuah panci logam yang telah berkarat, setumpuk kertas pembungkus yang basah dan sebuah kantong berlubang yang berisi kol yang telah membusuk. Ugh. Ini benar-benar bau!

Meow!

Ia melihat ke atas dan ke bawah, ke depan dan ke belakang dan dengan hati-hati menyeret dan menjatuhkannya ke tempat sampah. Hello? Siapa di sana? Diam. Ia mendapati olesan minyak di lengan jaket olah raganya. Uhgh! Saya kotor. Ia lalu melepaskan dan melemparkan jaket itu ke dalam mobil. Jaketnya melayang dan jatuh di luar di bawah pintu Buick. Ia memungut tempat sampah lainnya, menyeret dan menaruhnya di pinggir jalan di samping tempat sampah lainnya.

Hey anak muda, apa yang kamu lakukan dengan barang-barangku?

Ira berjalan ke jalan masuk, memungut jaket dan melemparkannya ke bangku penumpang. Seorang pria gemuk berseragam juru masak, berdiri di depan pintu belakang gedung berbatu bata merah di belakang mobilnya. Saya tanpa sengaja menjatuhkan tempat sampahmu tuan. Maaf.

Pria itu mengusap tangannya ke lap piring. Apakah kamu ini bersama orang yang naik limo yang mengacaukan tempat sampahku beberapa menit yang lalu?

Limo? Orang-orang yang lain? ia mengangkat bahunya. Saya tidak tahu. Saya hanya membersihkan kekacauan ini.

Baik sekali anda, tapi anda harus segera memindahkan mobil merah itu sebab saya akan menerima pengiriman barang pagi ini.

Saya hanya butuh waktu semenit.

Pria itu menyetujui dengan lambaian tangan dan anggukan kepala lalu masuk ke dalam. Ira kembali ke jalan, mengangkat tumpukan koran dan memasukkannya ke dalam tempat sampah. Bolak balik ia mengangkat sampah-sampah itu. Kamu lakukan ini pada saya Stuart! Saya yakin kamu lakukan dengan sengaja! Tunggu sampai hari dimana kamu harus bangun pagi untuk janji penting!

Mowwwwrrrrr?

Seakan ingin menarik perhatian Ira. Nada suaranya begitu memilukan terasa menusuk tulang belakang, menjalar ke tulang punggung lalu lehernya, membuat kakinya bergetar dan giginya bergemeretak. Ia melihat ke atas, ke gedung apartemen sambil melindungi matanya dari silau matahari dengan tangan, bertanya-tanya jika ada kucing terluka yang duduk di salah satu jendela. Ia tidak melihat apapun dan tidak tahu dari mana sumber suara. Apakah itu suara wanita yang menangis? Suara dengungan lalu lintas di atas zona terbang tidak terdengar jelas. Yang ada suara dengungan mesin Buick. Ia melangkah ke sana, mematikan mesin dan menutup pintu. Hening sejenak dan suara tangisan juga tidak terdengar. Ia menatap sisa sampah dan berharap ia punya pengeruk atau sapu. Sekantong plastik penuh sisa makanan terbuka robek. Ada tulang ayam, sandwich yang dimakan separuh, tongkol jagung.... mangkok cereal yang pecah dan gelas kertas dengan sisa kopi yang bercecaran. Dengan kaki ia mendorong dan mengumpulkannya ke dekat tempat sampah, lalu dipungut dan dilemparkan ke tempat sampah.

Meowwwrrrrrr?

Ira melonjak dan melihat sekeliling. Tidak ada siapapun, ia penasaran. Di mana sumber suara itu? Sampah masih ada di selokan dan trotoar. Ia memungut target berikutnya. Sebuah kantong plastik hitam besar yang biasa digunakan di taman untuk mengumpulkan daun-daun tergeletak di selokan, dengan ampas kopi tercecer di atasnya. Diangkatnya kantong itu ke atas trotoar. Karena isi kantong itu berat dan kantongnya rapuh, ia membuat lubang di atasnya, jadi ia menaruh tangannya di bawah kantong dan mengangkatnya seperti mengangkat sekantong kentang.

Dari dalam kantong terdengar suara MMRRRRRAAAAAOOOOWWRRR!

GHUH! ia terperanjat, tersandung dan jatuh terduduk. Ditatapnya kantong itu dengan kebingungan. Apa isi kantong itu? Ia bangkit, mendekati dan berlutut di depannya. Jika saya membukanya, apakah ada sesuatu yang akan meloncat keluar dan menggigit saya? Ditekannya rasa takut, dengan jari dirobeknya kantong. Ia tersentak melihat muka seorang anak kecil. Telinganya membara karena terkejut.

TIDAK! OH! OH TIDAK! Tergagap dan gemetar, ia merobek kantong sampah itu. Ia berusaha menekan dan mengontrol emosinya. Baginya ini seperti mimpi buruk. Seorang anak Kagran, seorang gadis, tapi ia tidak tahu. Tubuh gadis kecil ini penuh darah, memar dan kulitnya pucat seperti mayat. Ira menelan ludah, membuka lebar kantong sampah itu dan menahan emosi.

Apakah kamu hidup? Siapa yang sanggup berbuat kejam seperti ini? Rambutnya yang berwarna coklat telah dicukur habis. Kedua tanduk gading lebar yang biasanya berakar di atas kedua alisnya telah dipotong habis. Di pergelangan tangan, lengan dan tubuhnya penuh dengan luka, memar dan lecet. Ira lupa tentang rapat yang harus dihadirinya, ia lupa akan waktu, ayahnya, masalahnya dan hidupnya. Yang penting baginya saat ini adalah membawa gadis kecil ini ke rumah sakit.

Dengan tangan gemetar, Ira membuka bagasi mobil, diambilnya selimut dari bawah tempat penyimpanan roda cadangan. Ditebarkannya selimut itu di trotoar. Dengan sangat hati-hati dan cepat, Ia mengangkat tubuh telanjang gadis Kagran dan melepaskannya dari plastik, diletakkannya di tengah selimut dan dilipatnya selimut untuk menutupi tubuhnya. Gadis ini menggumam dan mengejang. Matanya terbuka, terlihat celah vertikal, seperti mata kucing dengan warna biru yang cemerlang.

Gadis Kagran berusaha menggumamkan beberapa kata dalam bahasa yang tidak dimengerti Ira, mendesah dan menutup matanya kembali. Bertahanlah sayang, saya disini untukmu. Diangkatnya tubuh gadis itu dari trotoar dan menuju ke Buick. Jangan khawatir sayang. Saya akan membawa kamu ke rumah sakit. Kamu akan baik saja. Segala sesuatunya akan baik kembali. Diletakkannya gadis itu di bangku, dipasangnya sabuk pengaman dan dengan lembut disapunya ampas kopi yang menempel di jidatnya. Kamu akan sembuh. Saya akan merawat kamu. Jika kamu bisa mendengar, tolong percayailah saya, suaranya serak.

Uhhhhhhhhhhgn...

Jangan meninggal sayang. Bertahanlah! Bertahanlah! Diletakkannya tangannya di leher gadis itu, dirasakannya detak jantungnya yang lemah. Ia masih hidup, terima kasih Tuhan, tapi untuk berapa lama? Berjalan kembali ke tepi jalan, ia menatap ke atas sambil menyipitkan mata karena silau sinar matahari pagi.

Dimanakah Pak Polisi saat kita membutuhkan pertolongannya? Memutuskan bahwa ia tidak ingin kehilangan waktu, Ira berbalik dan berlari ke mobil dan dilihatnya kantong plastik berwarna hitam yang terbang berputar-putar tertiup angin pagi. Diraihnya plastik itu dan dilemparkannya ke bagasi mobil, dibantingnya tutup bagasi, berlari ke arah pintu pengemudi dan menjatuhkan dirinya di kursi. Dipasangnya sabuk pengaman, dibukanya kontrol untuk terbang, dinyalakannya mesin dan rodanya mulai terangkat ke udara.

Menyipitkan mata, ia berusaha mencari kabel tanda anti-penerbangan yang biasanya tergantung di antara gedung di zona tidak boleh terbang. Ia lihat ada beberapa dan dengan hati-hati ia menghindari kabel itu saat ia menerbangkan mobilnya. Jaringan geo-posisi berwarna jingga bermunculan saat ia berbalik dan terbang keluar. Dalam hitungan detik, seorang petugas polisi hovercycle menukik turun yang muncul entah dari mana, mengambil posisi di jalur penerbangannya, mengaktifkan lampu sirene berkedip dan speakernya.

Cukup, ia berseru. Mendaratlah di sana. Ia menunjuk tempat pendaratan terdekat dimana ia bisa mengunci mobil secara magnetik. Ira melambai dan memberi tanda dengan panik ke arah Pak Polisi agar ia mendekat dan kemudian menunjuk ke bangku belakang. Pak Polisi memutar di atas Ira sekali, kemudian menuju ke samping pintu pengemudi.

Dengan air mata bercucuran. Rumah sakit! Ira terisak. Saya harus membawanya ke rumah sakit! Pak Polisi menaikkan kacamatanya dan melihat Kagran muda, hanya wajahnya yang terlihat. Pak, ia hampir meninggal! Tolong bantu saya!

Apa yang terjadi dengannya? Apakah kamu menabraknya?

Tidak! saya tidak tahu apa yang terjadi padanya! Saya hanya menemukannya di gang sempit di bawah sana.

Angel City General atau Mercy?

Mercy itu hanya beberapa menit jauhnya.

Ok. turun ke tempat pendaratan. Saya akan memanggil ambulans.

Tidak Pak. Tolong jangan.

Kenapa tidak?

Mereka tidak akan datang. Ia itu Kagran.

Pak Polisi mengerutkan dahi dan mengangguk. Baiklah, jawabnya. Ikuti saya. Pak Polisi menukik dan Ira mengikutinya. Saat ia naik dan berbelok mengikuti Pak Polisi, Ira memikirkan tindakan selanjutnya yang harus diambil. Pilihannya sangat sempit. Kagran biasanya dibenci di planet Tev-Raxia. Jika ada dokter atau staf di Rumah sakit Mercy yang punya sikap seperti itu, maka hidup gadis muda ini dalam keadaan bahaya. Hanya ada satu jalan saat ini. Telepon Bunda. Ia mengusap wajah dengan lengan baju dan menekan tombol komunikasi yang ada di dashboard.

Dokter Roslyn Trayner, jalur darurat.

* * *

Semua orang memanggilnya Doc Trayner. Ira diangkat anak olehnya dan ia bahkan tidak menikah dengan ayah angkat Ira. Ia juga tidak hidup di rumah mereka. Tapi, sejak Ira masih kecil ia selalu menghabiskan waktu luang bersamanya dan saudaranya. Hanya Ira dan Stuart yang memanggilnya Bunda. Saat ini Ira jarang melihatnya dan hanya meneleponnya saat sesuatu yang buruk terjadi, seperti saat ia mematahkan tulang selangka saat main sepak bola, atau ketika Stu terjatuh dari atap garasi dan mematahkan lengannya saat mencoba mengambil bola. Ia tidak boleh diganggu dan hidup agak keras di usianya yang senja, hanya Ira dan Stuart di seluruh planet ini yang bisa membuatnya sedih.

Ia baru saja tiba di klinik dan duduk di meja kerja, melihat jadwal pasien sambil menikmati secangkir kopi panas saat jalur darurat di SRP berbunyi. Ia ambil telepon itu dari saku dipinggul.

Jalur darurat. Ini Dokter Roslyn Trayner. Apa yang bisa saya bantu?

Hello, Bunda? Ini Ira. Saya lagi dalam perjalanan ke rumah sakit.

Ia tersentak. Ira? Oh para bintang! Apa yang salah? Apa yang terjadi padamu?

Tidak ada apa-apa. Saya baik-baik saja.

Ia membisu. Apa yang kamu hancurkan?

Tidak ada! Saya membawa seorang anak yang terluka berat di mobil saya. Saya membawanya ke rumah sakit.

Kamu tidak menabraknyakan, Ira?

Tidak! Tidak! Saya menemukannya. Ia hampir meninggal dan saya membutuhkan bantuanmu!

Ira, saya punya jadwal pasien dan lagi pula ada dokter darurat yang berjaga di A.C General. Kenapa kamu menelpon saya?

Karena ia seorang gadis Kagran!

Kagran? Apa yang ia lakukan di Tev-Raxia? Dimana keluarganya?

Saya tidak tahu. Tapi Bunda kan tahu. Sebagai suku yang paling rendah ia mungkin tidak akan mendapatkan perawatan. Bunda satu-satunya dokter yang saya tahu yang dapat saya percaya. Dan, saya tidak menuju ke Angel City General. Saya dalam perjalanan ke Mercy.

Mercy? Saya tidak punya izin praktek di rumah sakit Mercy. Kenapa kamu tidak memanggil ambulans?

Jika saya memanggil ambulans, mereka tidak akan datang.

Bisakah kamu membawanya ke A.C General?

Tidak ada waktu. Ia benar-benar lemah dan saya takut ia akan meninggal!

Baiklah, saya rasa saya bisa mencari jalan untuk itu. Saya dalam perjalanan ke sana. Dapatkan kamu memberi tahu saya sekilas kondisi luka gadis itu?

Sepertinya ia dipukul dan disiksa. Saya menemukannya terbungkus di kantong plastik di tempat sampah.

Tujuh bulan Venus dan semua kapal di planet! Siapa yang tega melakukan ini? Saya akan bertemu dengan kamu di Mercy. Siapa namanya?

Nama? Oh... Saya tidak tahu.

Dapatkah kamu tanyakan kepadanya?

Ia tidak sadarkan diri.

Well, berikan ia nama! Jadi saya bisa merawatnya di Mercy dengan mengklaimnya sebagai pasien saya.

Ira melihat ke sekeliling, matanya menatap atap mobilnya. Uh, rrr, rrrr, Rebecca! Ya, Rebecca. Buat jadi ah, Jo.... uh, Smith? Tidak! DeSoto! Rebecca DeSoto!

Rebecca DeSoto. Sampai bertemu di sana. Doc Trayner mematikan koneksi dan berdiri, meneguk kopi. Mengambil catatan medis dari rak dan jaket, bergumam pada diri sendiri, menunda semua janji dengan pasiennya, mengontak asistennya dan memilih staf darurat yang terpercaya yang akan menjaga keselamatan gadis Kagran.

* * *

Ira membelokkan mobilnya, mengikuti hovercycle di jalur darurat polisi. Di heads-up displaynya muncul tulisan dengan huruf merah : PELANGGARAN! HANYA MOBIL POLISI DAN DARURAT SAJA! Ia kembali memberi perintah pada telepon dashboardnya.

Ruang darurat Rumah Sakit Mercy.

Terdengar suara wanita menjawab telepon. Ruang darurat Rumah Sakit Mercy. Apa yang bisa saya bantu?

Saya membawa seorang gadis yang terluka. Ia berumur sekitar 10 atau 12 tahun....

Akan saya sambungkan ke bagian perawatan kecelakaan. Tunggu sebentar. Terdengar suara klik.

Perawatan kecelakaan, suara serius pria. Ira menceritakan situasi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan satu per satu sebaik-baiknya. Semua berjalan lancar hingga pria itu bertanya mengenai suku gadis itu.

Kagran.

Terdengar klik.

Hello? Kamu masih di situ? Hening. Dengan geram ia menekan tombol redial. Ia merasa mobilnya berjalan dengan sangat lambat, ia menunggu, mengetokkan jari di jendela sampai terdengar suara lembut yang menjawab teleponnya.

Panggilan telepon anda tidak dapat dipenuhi.

Huh? Apakah rumah sakit telah memblokir telepon dari saya? Ia kembali memberi perintah pada teleponnya. Angel City Skyway Patrol jalur darurat. Terdengar nada sambung dan suara ramah seorang wanita menjawab.

Police emergency. Apa yang bisa saya bantu?

Seorang petugas hovercycle mengawal saya ke rumah sakit. Dapatkah saya berbicara dengannya?

Berapa nomor kendaraannya?

Ira menyipitkan mata dan melihat ke depan. Nomor M7723.

Itu Pak Harvey Banks. Saya akan menyambungkannya dengan anda. Terdengar suara sambung dan seorang pria menjawab.

Banks.

Ini Ira DeSoto. Ia melihat bahwa Pak Polisi sedang melihat ke arahnya melalui cermin. Saya telah menelpon rumah sakit dan sekarang tidak dapat tersambung.

Dapatkah kamu mencoba kembali?

Telah saya coba. Saya pikir ini karena ia Kagran.

Saya mengerti. Saya akan membuat panggilan. Luka macam apa yang ia alami?

Ia habis dipukul. Tubuhnya penuh memar dan luka dan saya rasa ada beberapa tulang yang patah.

Saya akan mendaftarkannya dengan menggunakan otoritas saya. Apakah ada dokter khusus yang telah kamu hubungi? Pak Polisi membelok ke bawah di antara barisan gedung-gedung pencakar langit menuju ke tempat parkir ambulans di samping ruang gawat darurat rumah sakit.

Ya. Ia sedang menuju ke rumah sakit dan akan bertemu kita di sana.

Bagus. Jangan khawatir. Ditutupnya telepon. Semenit kemudian, ia mendarat di samping pak polisi di depan pintu kaca. Ia lepaskan sabuk pengaman dan melompat ke bangku belakang. Pak Banks turun dan menuju ke pintu.

Mereka memutuskan sambungan telepon dengan saya, katanya, dan berlalu. Ia menuju ke pintu kaca dan menekan tombol buka. Tak ada yang bergerak. Ia mengeluarkan kunci dari kantong, memisahkan salah satu dari ikatan dan melambaikannya di depan pembaca kunci. Kembali, tak ada yang bergerak. Ia menekan tombol interkom di dinding di samping pintu.

Ini petugas City Skyway Patrol Harvey Banks. Ini darurat. Tolong buka pintunya!

Seorang petugas pria keluar dan menekan speaker di dinding dalam. Kami tidak menerima ternak di sini! Dokter hewan terdekat jaraknya lima mil di bagian timur laut di sebelah barat jalan Enam Ratus!

Pak polisi mundur dan melepaskan sarung tangan. "Buka pintu ini sekarang! Ini

Menikmati pratinjau?
Halaman 1 dari 1