Temukan buku favorit Anda berikutnya

Jadilah anggota hari ini dan baca gratis selama 30 hari
Pendekar Negeri Minahasa, Buku Pertama, Darah: Kisah Para Waraney, #1

Pendekar Negeri Minahasa, Buku Pertama, Darah: Kisah Para Waraney, #1

Baca pratinjau

Pendekar Negeri Minahasa, Buku Pertama, Darah: Kisah Para Waraney, #1

peringkat:
4.5/5 (2 peringkat)
Panjangnya:
134 pages
1 hour
Dirilis:
Jan 17, 2017
ISBN:
9781386144823
Format:
Buku

Deskripsi


Cerita silat ala Kho Ping Ho dengan setting Minahasa kuno. Tentang kisah yang tak tercatat dalam sejarah. Ketika perang dan intrik melanda walak-walak di Minahasa, tanpa menyadari ancaman besar di depan mata: serbuan Kerajaan Majapahit…
 

Dirilis:
Jan 17, 2017
ISBN:
9781386144823
Format:
Buku

Tentang penulis


Terkait dengan Pendekar Negeri Minahasa, Buku Pertama, Darah

Buku Terkait

Pratinjau Buku

Pendekar Negeri Minahasa, Buku Pertama, Darah - FARY SJ OROH

Penulis

Diterbitkan oleh

Daun Ilalang Publishing

www.daunilalangpublishing.com

www.faryoroh.com

Hak cipta dilindungi undang-undang

Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit

Beberapa peristiwa dalam kisah ini benar-benar pernah terjadi

Namun kisah ini sepenuhnya fiksi dan bersifat khayalan

Suatu kisah yang tak tercatat dalam sejarah

Ketika perang dan intrik melanda walak-walak di Minahasa, tanpa menyadari ancaman besar di depan mata: serbuan Kerajaan Majapahit...

Prolog

APAKAH kita benar-benar akan melakukan serangan?

Tentu saja, Nala. Tapi itu pilihan terakhir. Jika mereka mau menyerah, upaya kekerasan tidak akan dilakukan...

Laksamana Nala terdiam. Dia kembali bertanya, kali ini dengan hati-hati. Apakah Malesung termasuk wilayah yang akan kita serang, Mahapatih?

Lelaki yang disapa Mahapatih tercenung sejenak. Wajahnya terlihat serius. Dia kemudian menghembuskan nafas panjang. Benar, termasuk Malesung. Kendati, tentu saja, aku tidak menyukai gagasan itu. Tapi semua wilayah di Nusantara harus tunduk di bawah panji-panji kebesaran Kerajaan Majapahit.

Nafas Mahapatih terlihat memburu, wajahnya memancarkan semangat. Matanya menyala. Sumpah sudah terucap, Nala. Semua wilayah harus tunduk. Bukan hanya Gurun, Lombok, Seram, Tanjungpura, Haru, dan Pahang. Bukan hanya Dompo, Bali, Sunda, Palembang dan Tumasik. Tapi semua. Termasuk Malesung.

Akan terjadi banjir darah...

Jika darah harus tertumpah, itu harga yang harus dibayar....

Aku mengerti, Mahapatih...

Dengar Nala, aku mengerti perasaanmu. Kita berdua punya kenangan yang indah dengan Malesung. Tapi itu dulu, semasa kita muda. Sekarang situasi sudah berbeda....

Aku tahu, Mahapatih. Dan maafkan aku....

Sudahlah... Lupakan saja. Ingat, percakapan ini tidak pernah terjadi....

Mahapatih Gajah Mada membalikkan tubuh dan segera berlalu, meninggalkan Laksamana Nala yang tercenung. Angin bertiup semilir, seolah membisikkan tarian perang.... <>

1

Kain Tapak Darah

CAHAYA matahari masih memancar malu-malu di balik pegunungan Lembean. Embun masih menetes di dedaunan, dan hawa dingin sejuk masih terasa. Burung-burung berkicau menyambut datangnya pagi, seiring riak danau Tondano yang terdengar samar. Sebuah pagi yang dingin, namun ceria.

Kendati masih subuh, namun aktifitas masyarakat yang bermukim di tepi danau Tondano sudah mulai terlihat, termasuk sekelompok masyarakat di wanua Pinakoyakan. Wanua yang tergolong sederhana ini terdiri dari belasan rumah, yang didirikan di atas danau, di bagian tepi. Rumah-rumah di wanua ini  terbuat dari bambu jenis taki dan beratap daun katu. Wanua Pinakoyakan didirikan di bagian barat danau Tondano.

Sekitar lima puluh tombak dari dusun, nampak seorang pemuda sedang berlatih sakalele (ilmu bela diri). Ia bertelanjang dada, hanya mengenakan celana panjang dari kain kasar. Tubuhnya sedang dengan sorot mata tajam dan wajah yang menunjukkan ketulusan. Rambutnya panjang sebahu.

Tidak jauh dari si anak muda, berdiri seorang lelaki setengah tua. Badannya tegap dan gagah perkasa. Rambutnya yang panjang sebahu diikat dengan sehelai kain hitam. Lelaki tua yang bercambang dan berkumis lebat ini mengenakan pakaian kain kasar yang terbuka di bagian dada, dan mengenakan celana yang panjangnya sampai ke lutut.

Anak muda ini bernama Lenas, dan pria setengah tua yang menyaksikannya berlatih adalah Waruwu, Ukung (pemimpin) Wanua Pinakoyakan, sekaligus Kepala Walak Toulour, ayah Lenas. Toulour merupakan salah satu dari 12 walak—suatu komunitas yang terdiri dari masyarakat yang memiliki kekerabatan dan menduduki wilayah tertentu, yang ada di Malesung (Minahasa kuno). Kepala Walak dipilih di antara ukung yang mengepalai wanua. Waruwu sendiri sudah menjadi Ukung Pinakoyakan sekaligus Kepala Walak Toulour sejak sepuluh tahun terakhir.

Sudah menjadi kebiasaan Lenas untuk berlatih ilmu bela diri setiap pagi. Orang biasa yang menyaksikan caranya berlatih mungkin akan menjerit lirih. Karena pemuda berusia 25 tahun ini tidak berlatih di atas tanah, tapi di atas ujung bambu-bambu yang sudah diruncingkan. Bambu-bambu ini ditanam di tepi danau Tondano, dan memang sengaja dibuat sebagai tempat berlatih.

Dengan gesit dia meloncat dari ujung bambu satu ke ujung bambu yang lain, melangkah dengan ringan sambil tangannya bergerak-gerak cepat dan gesit, penuh tenaga.

Lenas sebenarnya bukan pemuda biasa. Ketika berumur 10 tahun, dia terpilih mengikuti papendangan, pendidikan untuk menjadi seorang waraney (pendekar). Dia terpilih bersama 27 remaja lain, dididik di puncak gunung Kalabat.

Papendangan (pendidikan) Kalabat merupakan hasil musyawarah para Kepala Walak se-Malesung, dua puluh tahun lalu, yang berharap dari sistim pendidikan ini akan tercipta generasi muda yang tangguh sekaligus calon pemimpin.

Di papendangan, Lenas dan teman-temannya diajarkan tentang pamanuan (kenegaraan), manguma (pertanian), mangasu (perburuan), wawantian (adat-istiadat), tumani (cara mendirikan desa baru) dan sakalele (ilmu bela diri). Mereka dididik oleh tiga tetua, yang hanya dikenal sebagai Ketare, Karua dan Katelu.

Sesudah lima tahun, diadakan seleksi, dan sembilan pemuda yang gugur dipulangkan ke wanua masing-masing. Sesudah sepuluh tahun, kembali diadakan seleksi, sembilan pemuda dipulangkan dan sembilan yang tersisa ini yang digembleng oleh ketiga tetua untuk menjadi waraney Minahasa yang berilmu tinggi.

Enam bulan lalu, kesembilan pemuda ini dinyatakan lulus pendidikan. Lenas dan saudara seperguruannya pulang kampung. Selama setengah tahun ini, Lenas menetap di Wanua Pinakoyakan dan dididik secara ketat oleh ayahnya, yang ingin Lenas juga mewarisi ilmu-ilmu bela diri khas walak Toulour. Ketika mengikuti papendangan, Lenas sebenarnya sudah menguasai dasar-dasar ilmu beladiri khas Toulour. Karena itu, sekembalinya dari pendidikan, dan setelah mewarisi ilmu sakalele yang cukup tinggi, tidak begitu sukar bagi dia melatih ilmu khas masyarakat air itu.

Ilmu bela diri Toulour secara turun-temurun disebut dengan Sakalele Tanu Rano wo Reghes (Silat Sakti Air dan Angin), yang terdiri dari 36 jurus, dan jurus-jurusnya bersumber atau diangkat dari kehidupan masyarakat Toulour yang dekat dengan air dan angin.

Selama enam bulan ini Lenas sudah menguasai ke-36 jurus dan kembangannya hampir sempurna, suatu hal yang membuat Ukung Waruwu kagum. Dia sendiri membutuhkan hampir sepuluh tahun untuk menguasai seluruh ilmu khas Toulour.

Lenas masih terus berlatih dengan giat, tanpa menghiraukan sinar matahari yang kini terlihat jelas di atas pegunungan Lembean. Tiba-tiba Lenas berteriak keras, melompat tinggi, dan tangannya melakukan gerakan menyilang dua kali dan kemudian memutar. Itulah jurus Ma’edo Lewo Witu Lour (Angin Puting Beliung Menerpa Danau), jurus ke-36 dari rangkaian  Sakalele Tanu Rano wo Reghes.

Dan akibatnya sungguh luar biasa. Air di sekitar dia berlatih seakan terbelah oleh tangan raksasa di sebelah kanan dan kiri.

Lenas kemudian berjumpalitan tiga kali, dan melompat ke dekat ayahnya. Tubuhnya basah oleh keringat, nafasnya sedikit memburu, namun wajahnya tersungging senyuman.

Aku telah berhasil, ama’ (ayah), ujar Lenas.

Benar. Kau telah menguasai rangkaian jurus ini, kendati gerakanmu masih terlalu kaku, kata Waruwu. Namun dengan berlatih giat, ilmu ini akan mendarah-daging dan menyatu denganmu.

Lenas mengangguk. Kendati sudah menguasai, namun ia masih menemukan kesulitan untuk secara terus-menerus memainkan jurus-jurus ini secara berkesinambungan. Terlalu banyak kembangan yang harus dihafal.

Sekonyong-konyong dari kejauhan sayup-sayup terdengar bunyi tetengkoren (kentongan bambu). Ukung Waruwu menyimak sejenak, dan wajahnya berubah.

Ada yang tidak beres. Tanpa menanti jawaban Ukung Waruwu segera melompat dan secepat kilat berlari ke arah wanua. Lenas juga segera menyambar pakaiannya mengikuti Waruwu.

Tetengkoren sudah sejak lama dijadikan sarana komunikasi bagi masyarakat Malesung. Walak Toulour sendiri telah menyepakati  bagaimana pukulan dan bunyi tetengkoren. Ada bunyi-bunyi tertentu yang memiliki arti tertentu, yang berbeda tergantung irama dan kecepatan pukulan. Dan bunyi tetengkoren yang terdengar tadi bermakna: Penting, bahaya.

Karena jarak tempat Lenas berlatih dengan wanua tidak terlalu jauh, hanya dalam waktu sekejap ayah dan anak ini telah tiba di wanua

Mereka bergegas ke arah pintu masuk wanua sebelah timur, tempat asal tetengkoren berbunyi. Mereka melihat sekelompok prajurit sedang mengerumuni seorang lelaki yang berlumuran darah. Mengundam, dukun wanua terlihat sedang mengobati si lelaki yang sama sekali tidak mereka kenal.

Ada apa ... apa yang terjadi, tanya Ukung sambil mendekati lelaki yang terbaring di tanah itu.

Dia mengaku datang dari wanua Niatepan. Dia bersikeras ingin bertemu dengan Ukung, jawab Barengan, pemimpin prajurit wanua Pinakoyakan.

Lelaki yang berlumuran darah ini meringis, namun wajahnya terlihat gembira melihat kedatangan Ukung Waruwu. "Oh, syukur kepada Opo Empung (Tuhan Yang Maha Esa) karena saya bisa

Anda telah mencapai akhir pratinjau ini. Daftar untuk membaca lebih lanjut!
Halaman 1 dari 1

Ulasan

Pendapat orang tentang Pendekar Negeri Minahasa, Buku Pertama, Darah

4.5
2 peringkat / 0 Ulasan
Apa pendapat Anda?
Penilaian: 0 dari 5 bintang

Ulasan pembaca