Mulai Membaca

Kisah Hikayat Abbas Bin Abdul Mutthalib Paman Rasulullah SAW

Nilai:
26 halaman15 menit

Ikhtisar

Pada suatu musim kemarau, di waktu penduduk dan negeri ditimpa kekeringan yang sangat, keluarlah Amirul Mu’minin Umar bersama-sama Kaum Muslimin ke lapangan terbuka, melakukan shalat istisqa’ (minta hujan), dan berdu’a merendah­kan diri kepada Allah yang Penyayang agar mengirimkan awan dan menurunkan hujan kepada mereka ….

Umar berdiri sambil memegang tangan kanan Abbas dengan tangan kanannya, diangkatkannya ke arah langit sembari ber­kata:

“Ya Allah, sesungguhnya kami pernah memohonkan hujan perantaraan Nabi-Mu, pada masa beliau masih berada di antara kami …. Ya Allah, sekarang kami meminta hujan pula perantaraan paman Nabi-Mu, maka mohonlah kami diberi hujan . . . !”

Belum lagi sempat Kaum Muslimin meninggalkan tempat mereka, datanglah awan tebal dan hujan lebat pun turunlah, mendatangkan sukacita, menyiram bumi dan menyuburkan tanah. Para shahabat pun’ menemui Abbas, memagut dan men­ciumnya serta mengambil berkat dengannya sambil berkata:

“Selamat kami ucapkan untuk anda, wahai penyedia air minum Haramain (Mekah — Madinah). . . !”

Nah, siapakah dia penyedia air minum Haramain ini? Dan siapakah orang yang dijadikan Umar sebagai perantara baginya kepada Allah, padahal Umar sudah tak asing lagi bagi kita ketaqwaannya, kedahuluannya masuk Islam, serta kedudukannya di sisi Allah dan di sisi Rasul-Nya serta di sisi orang-orang ber­iman . . . ?

Ia adalah Abbas, paman Rasulullah saw. Rasul memulyakan- nya sebagaimana ia pun mencintainya, juga memujinya dan menyebut-nyebut kebaikan budi pekertinya, sabdanya:

“Inilah orang tuaku yang masih ada ….”.

Inilah dia Abbas bin Abdul Mutthalib, orang Quraisy yang paling pemurah dan teramat ramah . .. !

Sebagaimana Hamzah adalah paman Nabi dan Shahabatnya, demikian pula halnya Abbas paman dan teman sebayanya, moga- moga Allah ridla keduanya . . . !

Perbedaan umur antara keduanya hanya terpaut dua atau tiga tahun yakni lebih tua Abbas dari Rasulullah. Demikianlah, Muhammad saw dan pamannya Abbas merupakan dua orang anak yang hampir sebaya dan dua orang pemuda dari satu ang­katan. Ikatan kekeluargaan bukanlah satu-satunya alasan yang menyebabkan keakraban dan terjalin pershabatan yang intim antara keduanya, tetapi persamaan umur tidak kurang ber­pengaruhnya.

Hal lain yang menyebabkan Nabi menempatkan Abbas di tempat pertama, ialah karena akhlaq dan budi pekertinya. Abbas adalah seorang yang pemurah, sangat pemurah, seolah-olah dialah paman atau bapak kepemurahan …

Baca di aplikasi seluler Scribd

Unduh aplikasi seluler Scribd gratis untuk membaca kapan pun, di mana pun.