Nikmati jutaan ebook, buku audio, majalah, dan banyak lagi dengan uji coba gratis

Hanya $11.99/bulan setelah uji coba. Batalkan kapan saja.

Meerwaarde Indonesia
Meerwaarde Indonesia
Meerwaarde Indonesia
eBook338 halaman4 jam

Meerwaarde Indonesia

Penilaian: 4.5 dari 5 bintang

4.5/5

()

Baca pratinjau

Tentang eBuku ini

Meerwaarde. Nilai Lebih.
Kata ini pernah sangat fasih diucapkan dan riuh diperbincangkan. Bukan hanya di negara-negara asing nun di sana, pula di Indonesia. H.O.S Cokroaminoto, dalam bukunya ‘Islam dan Sosialisme’ tegas menyebutkan meerwaarde sebagai sesuatu hal yang dibenci Islam dalam rupa riba. Dalam upayanya menggali akar anti kapitalisme dalam Islam, H.O.S Cokro menjelaskan meewaarde dalam definisi Karl Marx sebagai ‘menghisap keringat orang-orang yang bekerja, memakan hasil pekerjaannya lain orang, tidak memberikan kebahagiaan keuntungan yang semestinya menjadi kebahagiaan orang lain yang turut bekerja mengeluarkan keuntungan.’ Hal-hal semacam itu dilarang dengan sekeras-kerasnya oleh agama Islam karena itulah perbuatan memakan ‘riba’, demikian H.O.S Cokro.

BahasaBahasa indonesia
PenerbitYuanita Maya
Tanggal rilis17 Apr 2017
ISBN9781365822148
Meerwaarde Indonesia
Baca pratinjau
Penulis

Yuanita Maya

Perempuan dua anak satu cucu yang benci segala bentuk high heels dan mall serta kerap dituduh masih muda ini adalah penggila Benyamin Sueb, Janis Joplin, Brian May, Maha Patih Gajah Mada, Andrea Hirata, Oscar Lewis, Pearl S. Buck, serta Roma Irama (secara musikalitas saja). Satu hal lagi yang dibencinya adalah diajak ngobrol saat sedang merem-merem menikmati musik blues. Masih memertahankan cita-cita lama yang belum tercapai hingga kini: membuat babad Indonesia. Masih menggenggam mimpi lama yang baru berani diungkapkan belakangan ini: hidup di desa untuk menjadi petani, dan membangun learning community. Saat ini tinggal di Jakarta dan seperti biasa, mengisi waktu dengan menulis di berbagai media massa serta kewajiban kontrak sebagai kontributor pada satu-dua lembaga, dengan fokus yang terbesar menjadi ibu rumah tangga. Ia seorang pembosan yang, ironisnya, menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah. Sebagai akibatnya kakinya sering gatal, dan obatnya hanya satu: keluyuran.

Terkait dengan Meerwaarde Indonesia

E-book terkait

Ulasan untuk Meerwaarde Indonesia

Penilaian: 4.290322580645161 dari 5 bintang
4.5/5

31 rating1 ulasan

Apa pendapat Anda?

Ketuk untuk memberi peringkat

Ulasan minimal harus 10 kata

  • Penilaian: 2 dari 5 bintang
    2/5
    Intinya, kurang lengkap. Kalo bisa edisi revisi 2016 diadakan, diuprade.

    2 orang merasa ini bermanfaat.

Pratinjau buku

Meerwaarde Indonesia - Yuanita Maya

SampulBarcode

Table of Contents

Hikayat Negeri Kampungan

Sekapur Sirih

Menghela Pancasila

Pancasila Dasarnya Apaaa…..?

Rakyat Adil Makmurnya Kapaaaan…...

Pribadi Bangsaku Tidak Maju…Maju…Tidak Maju…Maju…Tidak Majuuuu….Majuuu…

Demokrasi Pelangi

Ketuhanan Indonesia

Catatan pribadi penulis

Hikayat Negeri Kampungan

Di negeri kampungan, roti jadi patokan apakah kau termasuk kafir atau kaum beriman

di negeri kampungan, peci hitam atau putih diperkarakan

di negeri kampungan, jumlah peserta demo dipertengkarkan

di negeri kampungan, air botolan disangka untuk mabuk-mabukan

di negeri kampungan, garis pembatas antar iman dibentangkan

di negeri kampungan, warna hitam di jidat jadi modal kesombongan,

atau sebaliknya olok-olokan

di negeri kampungan, bela agama selalu menjadi tameng bagi beragam bentuk kekerasan

di negeri kampungan, kaum beragama dengan jargon kasih membalas dengan kesinisan,

dan sembari bersikap nyinyir kasihpun terlupakan

sebab di negeri kampungan, kepala berisi otak lebih langka daripada tarsius si monyet sekepalan tangan

(Yuanita Maya).

001b

Sekapur Sirih

Meerwaarde. Nilai Lebih.

Kata ini pernah sangat fasih diucapkan dan riuh diperbincangkan. Bukan hanya di negara-negara asing nun di sana, pula di Indonesia. H.O.S Cokroaminoto, dalam bukunya ‘Islam dan Sosialisme’ tegas menyebutkan meerwaarde sebagai sesuatu hal yang dibenci Islam dalam rupa riba. Dalam upayanya menggali akar anti kapitalisme dalam Islam, H.O.S Cokro menjelaskan meewaarde dalam definisi Karl Marx sebagai ‘menghisap keringat orang-orang yang bekerja, memakan hasil pekerjaannya lain orang, tidak memberikan kebahagiaan keuntungan yang semestinya menjadi kebahagiaan orang lain yang turut bekerja mengeluarkan keuntungan.’ Hal-hal semacam itu dilarang dengan sekeras-kerasnya oleh agama Islam karena itulah perbuatan memakan ‘riba’, demikian H.O.S Cokro.

Bung Karno, dalam tulisannya ‘Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme’, idem:

Kaum Islamis tidak boleh lupa, bahwa kapitalisme, musuh Marxisme itu, ialah musuh Islamisme pula. Sebab meerwaarde (nilai tambah) sepanjang paham Marxisme, dalam hakekatnya adalah riba sepanjang paham Islam. Meerwaarde, ialah teori: memakan hasil pekerjaan lain orang, tidak memberikan bagian keuntungan yang seharusnya menjadi bagian kaum buruh yang bekerja mengeluarkan untung itu. Teori meerwaarde ini disusun oleh Karl Marx dan Fredrich Engels untuk menerangkan asal-asalnya kapitalisme terjadi. Meerwaarde inilah yang menjadi nyawa segala peraturan yang bersifat kapitalisme. Dengan memerangi meerwaarde inilah, maka kaum Marxisme memerangi kapitalisme sampai pada akar-akarnya.

Demikianlah dengan perspektif negatif Marx & Engels mendefinisikan meerwaarde menjadi sebuah rumusan dalam rel perjuangan perbaikan nasib kaum akar rumput. Inilah yang kemudian diamini oleh banyak tokoh perjuangan kemerdekaan, termasuk H.O.S Cokroaminoto dan Bung Karno, yang oleh saya pribadi kemudian saya bahasakan menjadi ‘suatu praktik homo homini lupus yang menjijikkan dan layak dibongkar hingga sedalam-dalamnya’.

Namun satu hal yang menarik di sini, pada era tersebut (1920-an), ketika kaum pergerakan yang dalam kelompok-kelompok besar diwakili oleh kaum nasionalis, agama, dan komunis berseteru, Bung Karno tampil dengan pendekatan ‘nilai tambah’ (meerwaarde). Meerwaarde yang berarti nilai tambah (lebih) itu secara akar Bahasa sesungguhnya memiliki makna positif. Maka ketika ketiga kelompok di atas tersebut berseteru dan masing-masing menganggap ideologinya sebagai jembatan yang terbaik menuju perjuangan kemerdekaan Indonesia, Bung Karnopun secara emplisit menyerukan ‘nilai lebih’. Ketiga pihak yang saling memunggungi dengan panas hati itu sesungguhnya punya kesamaan meerwaarde (nilai lebih) berupa satu tujuan, yakni mengejar kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan, dan tak pelak lagi: nationale autonomie.

Dari perspektif inilah meerwaarde saya pahami: sebagai suatu nilai lebih dalam arti positif. Meerwaarde ialah nilai tambah, added value; hal-hal yang menyempurnakan apa yang sudah baik dari awalnya.

Katakanlah –setelah lebih dari tujuh dekade merdeka- bangsa ini benar-benar berhasil meraih apa yang disebut nationale autonomie sambil mengabaikan fakta bahwa peta penguasaan tambang tanah air dikibari oleh bendera-bendera asing, bagaimana kita merumuskan meerwaarde Indonesia masa kini? Bisakah kita dengan mudah mengatakan kepada teman chatting dari Amerika: "Well, meerwaarde Indonesia masa kini adalah keikhlasan hati yang ditandai dengan murahnya kami mengobral BUMN di pasaran internasional. Dan bukankah meerwaarde Indonesia yang berupa kemurahan hati pula yang bisa menyebabkan kalian kembali bebas mengeruk tak terhitung ton emas di perut Papua?? Bisa pulakah kita dengan mudah mengatakan pada diri sendiri,Yah, meerwaarde Indonesia adalah rasa percaya diri sepenuh, sehingga beberapa orang bisa menempati rumah dan tanah Negara sekalipun orangtuanya sudah purnawirawan dua puluh tahun silam, dan justru berteriak histeris menuding Negara nir hati nurani ketika mereka digusur, sebab bangunan dan tanah tersebut hendak dipergunakan oleh yang berhak menurut hukum dan aturan Negara,"? Bisa pulakah meerwaarde Indonesia adalah sikap tenang orang-orang pinggiran yang duduk mencangkung kaki, menyeruput kopi, dan saling berbagi rokok gurem di gerobak angkringan? Sebab bukankah kemampuan berbahagia dengan dua-tiga batang rokok ketengan adalah suatu nilai lebih?

Benar. Mencari nilai lebih Indonesia dalam satu rangkaian kalimat utuh yang berdiri sendiri pada akhirnya  merupakan suatu kemustahilan. Sebab ‘ragam’ adalah suatu kata yang bisa merangkum bangsa besar ini secara sempurna; bisakah ‘ragam’ diringkas dalam satu warna, merah atau putih saja? Bisakah ragam dikemas dalam ekasila? Terlebih karena ‘ragam’ bagi bangsa ini bukanlah mutlak milik domain hasil budaya, produk kuliner, herbal, dan sebagainya, namun juga perilaku dan karakter sang manusia. Inilah negeri di mana kita bisa dengan mudah menemukan sekelompok pria duduk-duduk santai bermain catur sambil ngopi dan merokok pada jam sepuluh pagi. "Lagi pada ngapain tuh orang-orang malas? Yang lain pada kerja, eh, dia nyantai." Demikian cibir Si Sinis. Lagi pada nongkrong; udah tau nanya. Nongkrong, yang digemari oleh umumnya masyarakat Indonesia, adalah sejenis kegiatan dengan definisi tak jelas yang bahkan sering dipandang rendah oleh orang Indonesia sendiri. Jadi tak perlu heran ketika New York Times dalam kolomnya Business-Global pada Mei 2012 memuat laporan bisnis Seven Eleven di Indonesia yang menjabarkan usahanya untuk mendefiniskan ‘nongkrong’ dengan: "In many ways, the convenience store’s evolution was a given in a country like Indonesia, where the penchant for hanging out runs so deep that there is a word for sitting, talking, and generally doing nothing: nongkrong."

"Kerjanya cuma nongkrong sambil gitaran," bisa jadi adalah label yang pernah dengan sinis disematkan pada Iwan Fals muda oleh ibu-ibu di sekitar rumahnya. Padahal bisa jadi pula dengan ‘cuma nongkrong sambil gitaran’ itu Iwan Fals mendapat sungai inspirasi yang tak pernah kering. Sama persis dengan saya yang gemar sekali nongkrong berjam-jam dengan teman-teman dan bicara ngalor-ngidul sambil menghisap rokok kretek berbungkus warna kuning dengan simbol angka berurutan (tapi dulu, ketika masih hidup dalam era kegelapan). ‘Duduk-duduk, bercerita, dan secara umum tidak melakukan apa-apa’ sesuai definisi yang berat sebelah dan sangat memaksakan pendapat di atas, pada prakteknya adalah wahana bagi saya menggali-gali bahan tulisan. Dan ‘nongkrong’ nyatanya adalah wahana yang sangat luas; materi yang bisa saya bawa pulang dari sini sungguh tak terbatas.

Semuanya memang berawal dari perbedaan persepsi (seperti yang saya urai dalam bagian akhir buku ini, dalam penglasifikasian ‘cara berpikir satu tambah satu sama dengan harus dua’) antara orang Barat dan orang Timur (dalam hal ini Indonesia) yang secara umum berseberangan, termasuk dalam hal pemaknaan waktu. Dalam perspektif orang Barat seperti yang ditulis Djoko Purwanto, 2006, dalam bukunya ‘Komunikasi Bisnis’, waktu bersifat efisien dan tak bisa diulang. Sebaliknya, dalam peta pikiran orang Timur waktu adalah sesuatu yang bisa didaur ulang dus sifatnya fleksibel. ‘Sekarang atau tidak sama sekali’ yang getas tak berlaku di sini. Sebaliknya,Bagaimana besok saja, diterima tanpa pertentangan. Dalam serial buku ‘Cultural Shock’ bagian Indonesia (sayang sekali saya lupa nama penulisnya, seorang perempuan Amerika totok yang pernah tinggal di beberapa negara di Asia), penulis dengan gaya menggelitik mengingatkan sesama orang asing yang baru beberapa saat tinggal di Indonesia untuk tidak menelan mentah-mentah begitu saja ucapan teman Indonesianya,Besok, ya, aku ke rumahmu. Tak perlu lantas sibuk menyiapkan hidangan serta segala sesuatunya demi menyambut teman lokal yang ramah tersebut, sebab ‘besok’ di Indonesia bisa berarti besok, lusa, minggu depan, atau bahkan tidak untuk selamanya!

Dan ternyata justru di sinilah letak keindahannya: nongkrong yang tak bermakna bagi orang Barat justru bisa diolah menjadi akar dari rangkaian karya oleh orang Indonesia. Sedemikian pandainya orang Indonesia memanfaatkan peluang dan keadaan yang nampak tak produktif –nongkrong bagi manusia di belahan bumi bagian Barat sana- terlebih dalam menyiasati keadaan yang mendesak. Seorang manusia Indonesia, pada suatu waktu, di tengah kekalutan jiwa akibat himpitan ekonomi dan tumpukan hutang, mendadak terbersit untuk membeli sepuluh ekor anak ayam dan beragam pewarna murahan, mewarnai ayam-ayam cilik tersebut, lalu esoknya datang ke sebuah Taman Kanak-Kanak terdekat untuk menggelar anak-anak ayam mejikuhibiniu itu. Anak-anak melonjak girang, dengan untung besar pedagangpun pulang.

Kiranya pikiran untuk mewarnai anak-anak ayam dan menjualnya untuk pangsa pasar yang segmented –anak-anak TK dan SD- tak bakal melintas dalam benak orang Eropa, Jepang, Korea, Amerika, atau mana saja. Ini murni sesuatu yang hanya bisa muncul dari imajinasi orang Indonesia yang tak terbatas dalam mengalahkan kesulitan dan himpitan. Imajinasi ini kemudian digabungkan dengan keyakinan akan dagangan yang bakal terjual, terlebih jika dilihat dari konteks bangsa Indonesia yang percaya pada Tuhan yang Maha Esa dengan segala tanda-tanda kebesaran-Nya: bukankah rejeki itu sangkan paraning dumadi? Berkat, rizki, ada di manapun juga, sepanjang kita bertakwa pada-Nya dan rajin berbuat baik pada sesama.

Ini menggiring kita untuk di ujung hari bertanya-tanya: hal-hal semacam inikah yang sesungguhnya lebih sesuai disebut meerwaarde Indonesia? Atau masih adakah hal-hal lainnya?

Maka merumuskan meerwaarde Indonesia bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan secara cepat, sebab bangsa inipun terbentuk tidak dalam waktu yang singkat. Indonesia terbentuk melintasi abad. Pertempuran. Perseteruan antar kerajaan. Peperangan antar bangsa asing yang haus mencaplok kekayaan Ibu Pertiwi. Pergantian sekian banyak presiden dengan ongkos sosial yang sedemikian mahal. Kumpulan ribuan resep Nusantara yang beberapa diantaranya didapuk sebagai makanan terlezat di dunia. Suluk-suluk nan elok. Motif-motif batik yang tergambar penuh kesabaran di atas sehelai kain, di mana tiap polanya adalah hasil perenungan akan makna dan saripati kehidupan.

Ya, membuat gambaran akan nilai lebih Indonesia, kiranya adalah sesuatu yang musti kita lakukan satu demi satu. Sekonsep demi sekonsep. Sepengertian demi sepengertian. Dan buku ini tidak ditulis dengan Bahasa langit, yang untuk memahaminya seseorang harus melintasi jalan  berbelit-belit. Sebab saya, sebagai penulis dan sebagai pribadi, sangat percaya bahwa nilai-nilai Indonesia adalah diri kita sendiri. Jadi adalah absurd jika seseorang musti memaknai dirinya sendiri dengan cara yang rumit.

Di akhir buku (yang sesungguhnya merupakan bunga rampai atas tulisan-tulisan saya yang pernah dimuat di berbagai media massa dan situs pribadi ‘Indonesia Saja, Sampai Akhir Menutup Mata…’ yang telah saya kembangkan dengan kemasan baru yang menyatu dan bukan artikel yang masing-masing berdiri sendiri) ini, semoga jawaban atas meerwaarde Indonesia terpapar tunai.

Selamat menelusuri perjalanan perumusan meerwaarde Indonesia……

Menghela Pancasila

Kata banyak orang, bangsa ini galau akut.

Seperti ababil –abege labil- yang sedang sibuk mempertanyakan keberadaan dirinya, atau justru seperti manusia paruh baya yang kehilangan jati diri dan mempertanyakannya untuk kedua kali, bangsa Indonesia tergagap-gagap memaknai dirinya sendiri. Diterpa banyak prahara, dalam masalah pendidikan, misalnya, solusi yang termudah adalah mengganti menteri. Bagaikan pembantu rumah tangga yang mutlak merupakan otoritas sang nyonya rumah, demikianlah menteri diperlakukan; seakan pendidikan anak-anak bangsa adalah mutlak urusan dan hak Presiden, sedangkan murid-murid dan para orang tua yang paling berkepentingan sendiri diabaikan hak-haknya, dan menteri –si pembantu presiden- boleh diangkat-berhentikan setiap waktu tergantung masalah atau tekanan politik.

Bangsa ini pula dikeluhkan telah kehilangan ke-Indonesiaannya, salah satunya oleh fanatisme agama impor yang secara resmi diakui oleh Pemerintah, menyisihkan agama-agama asli warisan nenek-moyang yang kian menguat dari tahun ke tahun (sebagai catatan, empat syarat minimal yang harus dipenuhi oleh kelompok kepercayaan agar bisa diakui keberadaannya sebagai agama dan mendapat pelayanan dari Kementerian Agama adalah memiliki ajaran yang khas yang berbeda dari agama-agama lain, memiliki sistem peribadatan yang jelas, memiliki umat yang eksis di Indonesia, dan memiliki saluran penghubung (organisasi) yang berfungsi sebagai jembatan dengan pemerintah. Kendati demikian, kelompok kepercayaan (agama) lain seperti Baha’I, Yahudi, Sunda Wiwitan, Kaharingan, dan banyak lainnya, meskipun oleh pemeluknya diyakini sebagai agama yang telah memenuhi minimal empat unsur di atas, hingga kini belum mendapatkan pelayanan penuh dari negara).

Fanatisme ini –anehnya- kadang-kadang sumir dan ambigu. Ketika rakyat Aceh tercabik-cabik oleh perseteruan Pemerintah dan GAM, orang Indonesia di bagian-bagian lainnya berdiam diri saja. Tetapi saat rakyat Palestina, belasan ribu kilometer nun jauh di sana, dizalimi oleh Zionis, ribuan orang berteriak, menangis keras-keras, lalu beramai-ramai mengirimkan bantuan kemanusiaan bahkan pasukan berani mati yang sukarela terjun dalam peperangan bangsa lain, atas nama solidaritas Muslim, yang di ujung hari menimbulkan tanda tanya: bukankah Aceh disebut ‘Serambi Mekah’? Kurang Islam apa mereka?

Sementara itu perseteruan antar etnis sesekali muncul ke permukaan, macam siklus berapa tahunan. Jika tidak mewujud dalam bentrok berdarah-darah, minimal dijadikan isu dalam pemilihan Kepala Daerah. Basuki Tjahaya Purnama tentunya yang paling kenyang dalam hal ini. Kecinaannya dicongkel-congkel tanpa ampun, seakan menjadi Cina adalah pilihan. Seakan menjadi etnis lain adalah jaminan kesempurnaan. Kekristenannya digugat, seakan menjadi Kristen, Islam, atheis, menyembah roh-roh yang bersemayam di balik pepohonan di jantung hutan, apapun, adalah kompromi kelompok atau hasil voting berdasarkan suara terbanyak.

Nasionalisme dan kecintaan bangsa ini akan tanah airnya sendiri juga kian diragukan. Pancasila dibebeknunggingkan. Pejabat tak hapal sila-sila dalam Pancasila. Orang yang mengaku tokoh agama menyeru ‘Pancagila’. Remaja kemarin sore berselfie dengan memanjat kepala patung Pahlawan Revolusi tanpa sedikitpun merasa sungkan, apalagi bersalah. Ketika musim Piala Dunia tiba, kampung-kampung urban perkotaan semarak oleh lambaian bendera berbagai bangsa. Pendukung negara satu berusaha mengibarkan bendera negara pujaan mereka lebih tinggi daripada bendera negara yang lain. Dan di tengah kepungan sekian banyak bendera asing itu, Sang Saka Merah Putih terselip, sepuluh jengkal di bawah bubungan rumah. Enam puluh jengkal di atas Merah-Putih, berkibar bendera bangsa-bangsa lain.

Ironi bangsa ini pula dengan mudah dapat kita temukan di wilayah perkotaan. Siapapun yang beruntung mengarungi jalanan kota dengan mobil halus berpendingin udara, pada titik tertentu bisa dipastikan dibuat jengah oleh pemandangan kiri-kanan, di mana kelompok manusia lain yang kurang beruntung mendorong atau menghela gerobak dagangan mereka. Didorong susah-payah oleh manusia berkulit selegam arang, seakan tak cukup, pada waktu-waktu tertentu gerobak tersebut dipinggirkan, untuk kemudian berubah fungsi serta tata letak menjadi peraduan. Atau sekumpulan anak kecil menggerombol seputaran lampu lalu-lintas, lalu berhamburan secepat kilat ke mobil manapun untuk bertepuk atau menadahkan tangan. Kadang menggosok kaca mobil dengan lap yang justru membuat kotor. Melihat rambut mereka yang menggumpal, kulit kelam bersisik, dan baju berwarna gelap yang lebih karena debu dan kotoran, ibu manapun akan dengan mudah tergiring untuk secara spontan membelai putra atau putrinya. Lalu diam-diam menghembuskan ucapan syukur bahwa yang di luar sana adalah anak-anak orang lain. Dan di tepian, gedung-gedung megah, kadang restoran dengan sistem full-service fine dine bertagihan sedikitnya satu juta per orang, tanpa sungkan berdiri menjulang.

Namun satu hal cukup mengherankan: di tengah begitu banyak masalah dan tekanan, bangsa ini tetap bertahan. Ketika banyak negara maju ambruk karena krisis global, Indonesia justru mengalami pertumbuhan ekonomi kendati kisarannya kecil. Demokrasi tercabik-cabik dan berdarah-darah di negeri ini, setidaknya jika dilihat dari catatan pelanggaran HAM yang menumpuk tak terselesaikan, tapi mengapa pula Indonesia oleh Freedom House justru dinobatkan menjadi negara demokratis terbesar ketiga setelah Amerika dan India? Nasionalisme dibilang meluntur dan warna merahnya telah menjadi pink, tapi mengapa stadiun-stadiun olahraga selalunya seakan hampir runtuh oleh sorak-sorai penonton yang membahana, membela tim-tim Indonesia yang tengah melawan negara lain entah itu sepak bola, bulu tangkis, dan cabang-cabang olahraga lainnya? Kaum miskin Indonesia disebut-sebut menguasai potongan kue terbesar penduduk negeri ini, namun kenapa bangsa ini –sekalipun terseok-seok- pada akhirnya selalu berhasil lepas dari krisis ekonomi global macam apapun?

Ini menjadi pertanyaan, apa yang sesungguhnya membuat Indonesia bisa terus lestari, mengabaikan apa yang terjadi? Nilai-nilai lebih apa yang sesungguhnya dimiliki oleh bangsa ini sehingga bisa tetap kuat sekalipun akarnya banyak tergerogoti? Beberapa orang –atau setidaknya satu orang, yakni saya- yakin ini semata karena karakter Indonesia sebagai meerwaarde Nusantara yang khas, yang diturunkan dari generasi ke generasi, abad demi abad, tanpa banyak pertimbangan dan pertanyaan. ‘Meerwaarde’, diksi yang pernah dengan penuh semangat dilontarkan Bung Karno dalam upayanya yang menggebu untuk mencari titik temu bagi kaum Nasakom yang berseteru dalam pertentangan ideologi, masihkah dimiliki Indonesia? Jika ya, maka meerwaarde yang seperti apa? Dalam wujud apa meerwaarde, nilai lebih, tersebut dapat diraba dan diformulasikan?

"Tentu saja karakter yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila, sebab bukankah itu dasar Negara kita, yang menjadi landasan baik dalam menentukan kebijakan hukum, ekonomi, publik, dan lain-lain perkara, serta solah-tingkah dan tindakan dalam ranah keseharian? Itulah meerwaarde Indonesia."

Yang lain tertawa, bahkan terpingkal-pingkal sampai menitikkan air mata.

"Kenapa tertawa, Jon? Pancasila itu rumusan, rangkuman telaah sempurna tentang kekuatan bangsa Nusantara, yang hasilnya lebih dari cukup untuk dijadikan platform bagi peri-gerak kehidupan bangsa Indonesia modern. Dan di atas segalanya, Pancasila itu sakti."

Tawa kian membahana.

"Sakti dari mana, Jum? Jonggol? Jika memang Pancasila sakti, kenapa pula ia bisa dijadikan mesin kekuasaan bagi rezim lampau? Jika Pancasila sesakti itu, mengapa pula kepahitan demi kepahitan masih saja kita rasakan? Pancasila itu sudah usang, Jum, sehingga para petinggipun sudah tak mau repot mengingat urutan sila-silanya, apalagi butir-butirnya. Lebih baik menghapal syair lagu cinta; itu bagus untuk obat awet muda. Kalau Pancasila bisa diibaratkan dengan gombal, secarik kain bekas untuk mengelap meja, sudah pasti ia selekasnya dibuang ke tempat sampah."

Ah, kau ini bicara sembarang, Jon. Jika memang Pancasila sudah sebegitu lapuk dan tak berguna, lalu mengapa ketika ia dibebeknunggingkan, amuk sontak menyeruak dari segenap penjuru negeri?

Jon ternganga.

Yah, itulah, Jum. Negeri ini memang serba bingung. Akupun. Demikian Si Jon, pencibir Pancasila, termangu-mangu, lalu melanjutkan dengan sedikit menerawang,Bisa jadi karena Indonesia adalah bangsa pemuja simbol.

Adakah yang salah dengan simbol, Jon?

Aku belum tahu, Jum. Mari kita bicarakan terlebih dahulu mengenai makna atau tak bermaknanya simbol itu sendiri. Kau pernah memikirkan tentang itu, Jum?

"Hmmm…., entahlah, Jon, karena terus terang saja aku ini tidak begitu pintar. Tapi baiklah, tak ada salahnya kucoba. Seperti yang dulu pernah kubaca, secara semiotik, simbol tak bisa lepas dari ranah pemikiran dimana ia diciptakan. Itu dikarenakan simbol memuat perspektif, nilai-nilai ideologis tertentu, dan atau konsep kultural masyarakat dari mana simbol itu muncul. Kode-kode kultural yang merupakan salah satu faktor konstruksi makna dalam sebuah simbol adalah aspek penting untuk mengetahui konstruksi pesan dalam tanda tersebut, di mana ini menjadi dasar terbentuknya ideologi dalam sebuah simbol. Sederhananya, seorang anak yang tumbuh dari kalangan menengah pada masyarakat urban tentunya akan memilih pesta ulang tahunnya dirayakan di hotel atau sedikitnya di Mc Donald, sebab McD adalah simbolisasi gaya Amerika yang modern dan keren. Pesta ultah di McD, bahkan dalam pikir anak bau kencur sekalipun, merupakan simbol ‘anak keren’.

Simbol adalah tanda atau isyarat yang mewakili suatu arti, kualitas, abstraksi, gagasan, dan obyek. Simbol memiliki muatan arti yang diberikan sesuai dengan kebiasaan dan atau persetujuan dan kesepakatan umum. Dengan pendekatan ini maka mudah dipahami mengapa Pancasila dalam wujudnya sebagai simbol yang pada suatu hari nan cerah terzalimi dengan cara dibebeknunggingkan oleh Zaskia Gothic, menyulut amarah masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Melecehkan Pancasila sebagai simbol yang memuat nilai-nilai kultural dan beragam kesepakatan bangsa Indonesia adalah melecehkan bangsa Indonesia itu sendiri.

Jadi, Jon, dengan perspektif ini, Pancasila adalah bangsa Indonesia itu sendiri pula. Seseorang akan membela diri ketika diserang atau berada dalam kondisi tertekan. Maka ketika Pancasila –yang merupakan ruh bangsa Indonesia- mendapat ancaman, rakyat Indonesiapun bereaksi. Si molek bening dan semlohai Zaskia ‘Eneng’ Gothic itupun berakhir pucat pasi ketika segala elemen bangsa mendesaknya ke sudut, bahkan mengancam memenjarakannya ketika ia ‘bermain-main’ dengan Pancasila yang sesungguhnya bukan semata simbol Negara, namun lebih dari itu simbol batin dari bangsa Indonesia itu sendiri.

Kira-kira seperti itulah pendapatku, Jon. Tentu saja kalau suka kau boleh menambahkan."

Jon, Pencibir Pancasila, mendadak berseri-seri seperti mendapatkan pencerahan. Ah, ya! Aku menemukan kaitan makna simbol dalam peristiwa kelahiran Jan Ethes Narendra.

Jum, Pembela Pancasila, berjengit. Cucu presiden itu? Ada apa dengannya? Bukankah masa-masa kebahagiaan pasangan presiden karena kelahiran cucu mereka sudah lama lewat?

"Bukan, Jum. Kebahagiaan nenek-kakek tak terlalu penting dibicarakan di sini, sebab itu adalah perkara manusiawi yang bakal dirasakan orang tua manapun di dunia. Yang menarik justru simbol-simbol yang bisa diinterpretasikan secara politik-sosial-budaya dari nama Jan Ethes Sri Narendra yang diberikan oleh Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Jokowi, ayah si jabang bayi. Dari awal, pemilihan nama yang sangat Indonesia –dalam hal ini Jawa- pada bayi yang lahir di tahun 2016 bisa dibilang simbol perjuangan melawan banjir nama Timur Tengah belakangan ini, melengkapi trend yang sudah lama berlaku sebelumnya, yakni nama berbau bule. Di suatu wilayah di Indonesia Timur, menemukan nama daerah di tengah belantara nama Barat seperti Angel, Angelina, Miracle, Andrew, dan lain-lain, sama sulitnya dengan mencari koin yang menggelinding di selokan. Nama asli yang pernah berjaya sebelum Belanda berkuasa seperti Toar atau Lumimuut, biasanya hanya muncul di buku sekolah serta diskusi sejarah. Maka pemilihan nama Nusantara bagi anak seseorang yang notabene public figure, kiranya boleh dianggap sebagai momentum pembalikan tren di atas, untuk kembali pada tradisi yang semula kita miliki.

Absennya nama Widodo, sang kakek yang masih berstatus sebagai manusia paling utama di Indonesia, di belakang nama bayi, adalah simbolisasi aklamasi publik dari orang tua si bocah bahwa Indonesia bukanlah negara monarki.  Seorang anak tidak mewarisi keuntungan dari ayah-ibu dan atau kakek-neneknya begitu saja. Keturunan presiden tidak lantas memiliki hak istimewa dalam politik atau bisnis. Ia tidak secara otomatis berhak mendapatkan proyek cuma-cuma mobil nasional, penguasaan atas komoditi cengkeh atau jeruk hingga taraf memiskinkan petani, dan sebagainya. Tiadanya nama keluarga di belakang Jan Ethes Sri Narendra –lagi-lagi- juga merupakan simbol pelestarian nilai-nilai tradisi. Rakyat Nusantara sama sekali tidak mengenal nama keluarga/fam/marga, hingga Belanda kemudian datang sebagai opresan dan mewajibkan penggunaan fam untuk memermudah pengawasan dan pencokokan terhadap kaum pribumi pemberontak, yang sebetulnya merupakan adopsi terhadap kebijakan represif Perancis ketika menjajah Belanda sebelumnya.

Dan yang tidak diketahui oleh

Menikmati pratinjau?
Halaman 1 dari 1