Nikmati jutaan buku, buku audio, majalah, dan banyak lagi

Hanya $11.99/bulan setelah uji coba. Batalkan kapan saja.

Excellent Insight: Motivasi Diri dan Tips Wirausaha

Excellent Insight: Motivasi Diri dan Tips Wirausaha

Baca pratinjau

Excellent Insight: Motivasi Diri dan Tips Wirausaha

peringkat:
4/5 (15 peringkat)
Panjangnya:
384 halaman
4 jam
Dirilis:
18 Sep 2018
Format:
Buku

Deskripsi

Pernah menjadi korban bully di sekolah? Minder pada latar belakang keluarga dan kehidupan kita? Punya keinginan tertentu namun takut menjalankannya? Ingin wirausaha namun khawatir gagal? Terlibat hutang? Mendapatkan gaji yang rasanya tidak pernah cukup untuk membiayai hidup?
Buku ini bercerita tentang bagaimana kita bisa menyiasati kekurangan hidup yang kita alami.
Excellent Insight beranjak dari latar belakang pemikiran bahwa sebenarnya kehidupan yang kita jalani bisa kita ubah dengan mengubah mindset kita. Mengubah pola pikir. Perubahan itu salah satunya datang dengan cara membaca pengalaman dan pemikiran berbeda, yang mungkin selama ini sudah kita ketahui namun kita abaikan karena kita terlalu sibuk pada keseharian kita.
Buku ini diberi judul “Excellent Insight” dalam arti bahwa pencerahan yang diberikan dalam kumpulan tulisan ini diupayakan menjadi yang terbaik. Tulisan-tulisan dalam Excellent Insight lebih banyak berbicara soal pengalaman, karena dari pengalaman itu bisa dipetik faedahnya. Jika ada pengalaman berupa kesalahan, rekan yang lain bisa menghindarinya dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Jika ada manfaat, manfaat itu bisa digunakan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Kumpulan tulisan ini merupakan sebuah kontribusi kecil dalam ikhtiar memajukan masyarakat Indonesia. Sekecil apapun itu, jika memang bermanfaat, harapannya bisa bermanfaat untuk masyarakat banyak. 

Dirilis:
18 Sep 2018
Format:
Buku

Tentang penulis


Terkait dengan Excellent Insight

Buku Terkait

Pratinjau Buku

Excellent Insight - Fajar Mukharom

Sugianto

1

You are What You Read

You are what you eat mungkin sudah terdengar biasa. Kalau kamu kelihatan gendut, periksa makanan kamu. Kalau kamu sering merasa masuk angin dan mudah lelah, lesu, letih dan lemas (all of them are sarua keneh :-P), periksa pola makan kamu. Saya tidak ingin membahas hal itu. Saya sekedar ingin membahas, bahwa bukan hanya pola dan jenis makanan yang menentukan penampilan maupun proporsi tubuh kita, melainkan juga bacaan yang kita konsumsi untuk keperluan otak, pikiran dan mental kita.

Kadang kita ini sudah merasa dewasa namun tidak dibarengi kemampuan menyaring bacaan yang bagus untuk kebaikan mental dan pikiran kita. Kadang kita jadi sewot, marah dan heboh sendiri karena bacaan yang belum kita verifikasi kebenarannya.

Saya senang membaca tulisan profesor Rhenald Kasali. Ia tidak takut konfrontasi, sepanjang argumentasi dan fakta yang ia miliki benar adanya. Saya tidak selalu sependapat dengan tulisannya, namun itu hal yang wajar. Kita bisa sepakat untuk tidak sepakat…

Salah satu tulisannya yang terakhir saya baca adalah Mengapa kita membiarkan orang-orang yang berbuat baik disingkirkan. Mengapa kita diam saja jika ada orang-orang yang hendak memperbaiki keadaan kemudian mengalami kendala.

Tulisan yang bagus membawa dampak yang menyenangkan. Membahagiakan. Mencerahkan. Semestinya kita memasukkan bacaan-bacaan bagus yang bisa mendidik dan memperbaiki kualitas kehidupan kita, sebanyak mungkin kedalam diri kita. Agar kita tidak selalu menjadi orang yang pesimis, merasa menjadi orang paling gagal dan merasa tidak ada kemungkinan untuk memperbaiki keadaan maupun suasana.

Kita punya hak untuk memilih dan memilah bacaan yang baik bagi kita, sama seperti halnya kita memilih dan memilah makanan apa yang hendak masuk kedalam tubuh kita. Apakah itu dalam bentuk makanan yang kelihatan enak namun berdampak buruk bagi kesehatan atau makanan yang kelihatannya kurang menarik selera namun baik bagi kita. Jika perlu, kita bisa memilih pilihan yang terbaik : makanan yang enak dan menggugah selera, sekaligus menyehatkan badan kita.

Jangan biarkan diri kita diracuni pikiran-pikiran yang bersumber dari bacaan yang tidak menyehatkan kita. Sehat atau sakit adalah pilihan, tinggal bagaimana kita memilih jalan yang hendak kita lalui.

Jika perlu, disaat orang lain pesimis, kita tetap bisa optimis, tentu saja dengan nalar, fakta dan logika yang masuk akal. Bukan sekedar optimis tanpa pertimbangan. Jika kita tidak mampu membantu, minimal kita tidak menyulitkan orang lain.

Saya sering juga memperhatikan share di FB, ada juga ya orang yang hidupnya heboooh banget. Cukup melihat berita atau sampah-sampah :-P yang dishare di timeline-nya, sedikit banyak kita bisa punya gambaran bagaimana tingkat kedewasaan dan kaliber pola pikir yang bersangkutan.

Benar, asumsi bisa jadi menipu. Pandangan kita terhadap seseorang belum tentu selaras dengan penampilan luar, namun sedikit banyak ada gambaran yang bisa menjadi asumsi awal. Bukankah akan menjadi sesuatu yang merugikan jika ada pihak yang membutuhkan kompetensi kita namun jadi urung melakukannya karena melihat profile dan sikap yang kita tampilkan, hasil dari cerminan bacaan dan konsumsi pikiran kita. Ada perusahaan yang ingin merekrut kita atau menggunakan layanan kita namun batal melakukannya karena melihat posting-posting kita di media sosial.

Tidak usah menyalahkan pihak lain untuk beban dan kesulitan hidup yang kita alami. Kita bisa dan fleksibel untuk memilih asupan yang terbaik bagi tubuh, kesehatan dan mental kita. Pilihlah asupan yang baik, yang mencerahkan sekaligus mencerdaskan, agar hasil akhir yang kita dapatkan juga hasil yang baik bagi kita maupun lingkungan kita.

Hidup kita milik kita, susah maupun senang, kita juga yang menjalaninya.

Referensi bacaan menarik

The story of Basecamp

Rhenald Kasali : Dul

What It Means to Be Enough

Action

Coba buat list bacaan-bacaan menarik yang bisa mencerahkan dan memberikan semangat perbaikan bagi kita. Saya biasanya menyimpan link menarik melalui RSS Feeds atau kadang cukup copy-paste link menarik ke account Telegram/WA diri sendiri, atau bahkan kirim link tersebut email ke diri sendiri :-)

2

Sampai Kapan?

Tiap kali melakukan proses review internal yang kemudian berujung pada beberapa keputusan besar, saya biasanya mengajukan pertanyaan yang mirip dari waktu ke waktu, yaitu Sampai Kapan?

Saat pertama kali memutuskan untuk kuliah Manajemen Informatika di tahun 1996, saat itu saya bekerja sebagai operator produksi di salah satu pabrik yang ada di Cikarang, Bekasi. Karena situasi pekerjaan, saya kerap bertanya dalam hati, Sampai kapan saya bekerja seperti ini. Bukan saya bermaksud tidak bersyukur pada pekerjaan yang saya jalani. Bekerja sebagai operator produksi bagi seorang lulusan SMA seperti saya saat itu tetap merupakan pengalaman yang menyenangkan. Hanya saja, pekerjaannya menyita waktu dan tenaga. Capek sekali.

Setiap hari saya bekerja sebagai tenaga pembersih mur/baut (T-Nut). Tugasnya mengeringkan oli dari baut melalui mesin pengering. Berat baut per hakko (kotak) sekitar 20-25 kg. Setiap 1 shift saya bisa mengangkat antara 50-100 hakko. Saat usia saya masih 20-an, saya sudah merasakan bagaimana pinggang saya rasanya mau patah (hiperbola :-P ) tiap kali selesai bekerja. Setahun-dua tahun saya bekerja sebagai operator saya jadi semakin banyak berpikir. Jika diusia muda saja saya sudah sedemikian capek, bagaimana jika kelak diusia tua saya masih terus bekerja dengan tenaga seperti itu?

Pemikiran seperti ini yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk kuliah sambil kerja di tahun 1996. Tambah capek, iya, karena siang kuliah dan malam bekerja atau sebaliknya (karena saya bekerja shift). Meski tambah capek, keputusan saya mengambil kuliah untuk meningkatkan kualitas kehidupan memberikan hasil yang baik sesuai dengan apa yang saya rencanakan. Minimal saya bisa pindah kerja, ke tempat yang baru sesuai dengan latar belakang pendidikan kuliah yang saya jalani. Saya bisa bekerja memanfaatkan keahlian, tidak sekedar menggunakan tenaga robot seperti sebelumnya.

Ketika mengambil keputusan untuk resign dari kantor di tahun 2009, pertimbangan utama adalah karena saya terlalu lelah bekerja ulang-alik Bekasi Tanjung Priok. Sedemikian lelah baik fisik maupun psikologis, sampai-sampai saya bertanya, Sampai kapan saya harus bekerja mengukur jalan? menghabiskan waktu diperjalanan berangkat maupun pulang kerja.

Saat hendak resign, saya tidak memiliki masalah terhadap pekerjaan saya pribadi. Saya menyenangi pekerjaan saya. Namun manusia punya banyak keinginan dan juga punya banyak kebutuhan. Saat itu klien yang membutuhkan keahlian dan jasa saya dibidang setup server sudah mulai banyak. Training yang diselenggarakan setiap akhir pekan juga sudah memberikan buffer pendapatan yang cukup baik. Disisi lain, pendapatan dari gaji saya sebagai supervisor IT bisa dibilang selalu ngepas setiap bulan. Jika demikian halnya, sampai kapan saya bisa bertahan bekerja dan kapan waktunya saya bisa mencapai cita-cita yang saya inginkan.

Saya berhitung-hitung, dengan kenaikan gaji 30-50% saja, potensi pendapatan saya dari gaji masih belum sebanding dengan pendapatan saya diluar gaji. Belum sebanding dengan pendapatan rata-rata non gaji yang saya dapatkan dari pekerjaan setup server, mengajar training dan pendapatan online. Saya bahkan sudah membandingkannya dengan pendapatan rata-rata selama beberapa bulan, agar saya tidak terjebak pada trend sesaat, pada kesenangan mendapatkan penghasilan lebih besar dari gaji yang bisa saja hanya bisa saya dapatkan selama beberapa waktu saja.

Dengan mempertimbangkan pada banyak hal saya tuliskan pada tulisan persiapan sebelum berhenti kerja, saya akhirnya memutuskan untuk resign di tahun 2010. Keputusan ini merupakan salah satu keputusan besar dalam hidup saya dan ternyata menjadi salah satu keputusan terbaik saya sampai dengan saat ini.

Jika kita bekerja, dimanapun dan dalam posisi apapun, cobalah tanyakan pada diri kita, Apakah kita mau bekerja dalam posisi dan pekerjaan yang sama, bertahun-tahun lamanya?. Apakah ada peluang bagi kita untuk naik posisi, memperbaiki tingkat pendapatan dan kualitas kehidupan kita? Apakah tidak ada peluang untuk memperbaiki atau meningkatkan kehidupan kita ataukah kita yang terlalu abai pada masa depan dan pekerjaan kita?

Jangan terbuai pada kenyamanan semu. Jangan menutupi diri pada kenyataan. Kadang adakalanya kita (termasuk saya) berusaha meyakinkan diri bahwa segala pekerjaan dan kehidupan kita baik-baik saja, padahal didalamnya keropos, beresiko dan jika terjadi perubahan yang tidak diinginkan, kita bahkan belum sempat memikirkan antisipasinya.

Jangan sampai kita menyesali tahun-tahun yang telah berlalu. Jangan sampai kita menyesali eksekusi keputusan yang terlambat kita lakukan. Jangan sampai kita menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang diberikan. Jangan sampai kita menyesali pada kehidupan yang dijalankan. Jangan pernah menyesali kekurangan dan keterbatasan hidup.

Hidup kita milik kita, susah senang, kita juga yang menjalaninya.

Referensi bacaan/video menarik

Story of Tokopedia and Hard Earned Lessons On Building A Startup

Jack Ma Inspiring Speech

Reboot your Life

Reset your Life

Action

Coba review kehidupan kita saat ini, apakah sudah sesuai dengan harapan atau belum? Apakah kita masih berjuang untuk mengatasi hal-hal essensial/mendasar ataukah kita sudah pada fase menikmati hidup?

Jika kita masih dalam tahap memenuhi kebutuhan essensial, coba tanyakan ke diri sendiri, mau sampai kapan? Apakah ada alternatif lain yang positif yang bisa membawa kita ke arah perbaikan? Jangan-jangan kita selama ini terlena dan membiarkan berbagai kesempatan terlewatkan.

3

Memberi Batas

Jika kita pernah mencoba menelusuri pengalaman hidup, mungkin kita akan menjumpai beberapa kesulitan hidup yang kita alami ternyata bermula dari sikap kita yang tidak tegas dan tidak memberi batas yang jelas.

Apa yang dimaksud dengan memberi batas? Frasa memberi batas yang saya maksud sebenarnya erat terkait dengan cara pandang seseorang dalam menyikapi hidup dan dalam mengatur kehidupannya.

Berapa banyak orang yang berat menjalani hari-harinya hanya karena dia tidak memberi batas. Berapa banyak orang yang bertahun-tahun hidup dalam dilema karena tidak memberi batas. Menyesal berkepanjangan karena tidak memberi batas. Menunggu tanpa kepastian karena tidak memberi batas. Tersiksa dan menjadi korban karena tidak memberi batas.

Jika hidup kita ini milik kita, lantas mengapa kita membiarkan diri kita disandera oleh keadaan dan oleh situasi yang secara tak sengaja kita ciptakan sendiri?

Jika anda anda korban kekerasan dalam rumah tangga, baik anda sebagai wanita korban ataupun laki-laki korban (ada juga lho. Jangan anggap semua korban KDRT itu hanya wanita), mengapa anda tidak memberi batas toleransi yang dapat diterima untuk kemudian anda berkata tidak? Apakah terlalu takut untuk memberi batas? Apakah terlalu takut sengsara dalam hidup lantas membiarkan diri disengsarakan orang lain tanpa batas?

Saya membenci pelaku KDRT tapi saya juga sebal pada korban yang tidak memberi batas toleransi perlakuan yang bisa diterima. Jika sering kena tampar, beri batasan berapa kali ditampar untuk kemudian memutuskan untuk melawan. Jangan menunggu dibunuh atau disiksa sehingga merana seumur hidup untuk kemudian menyesal sendiri atau disesali banyak orang.

Saya sering trenyuh mendengar pembantu rumah tangga atau TKW Indonesia disiksa oleh majikan yang tak berperikemanusiaan hingga sukar terbayangkan bagaimana perlakuannya. Selain karena majikan yang miring otaknya, hal ini juga bisa dipicu karena korban tidak memberi batas perlakuan wajar yang bisa diterima. Berilah batasan, ingat selalu bahwa hidup kita adalah milik kita. Bekerja pada orang lain tidak berarti kita menggadaikan hidup kita.

Apakah memberi batas hanya terbatas pada sesuatu yang menyiksa secara fisik? Tidak selalu.

Pernahkah anda merasa jengkel karena menunggu teman yang janjian namun tak kunjung tiba? Berilah batas waktu yang wajar yang bisa anda terima untuk menunggunya. Jika setelah itu tak ada perkembangan, lepaskan janji itu. Tak usah merasa bersalah karena kita sudah memberi batas waktu yang wajar. Dalam hidup, adakalanya kita harus memilih. Daripada menunggu tanpa kepastian dan kemudian berakhir dengan rasa jengkel lebih baik kita beri batas waktu dan kemudian menentukan keputusan berikutnya dengan ringan.

Sebelum saya menggunakan prinsip memberi batas, saya sering tersandera jika janji bertemu dengan teman atau dengan orang lain. Berjam-jam saya menunggu untuk kemudian jengkel dan sebal karena rekan saya ingkar janji atau sangat terlambat untuk datang sesuai janji. Sekarang saya bisa dengan leluasa menentukan batasan yang bisa saya sesuaikan sendiri. Adakalanya saya menentukan batas waktu, jika 30 menit ditunggu tidak datang, saya tinggalkan. Jika 3 kali konfirmasi terlambat tapi masih belum datang-datang, saya tinggalkan.

Batasan waktu yang ditentukan fleksibel sesuai dengan pertimbangan kita. Tak usah cemas bahwa orang yang janjian akan marah karena kita tinggalkan setelah batas waktu terlewati. Anda mau disandera oleh orang lain atau menjalani hidup sesuai dengan pertimbangan anda, itu intinya.

Ingat baik-baik bahwa memberi batas yang saya sarankan dan saya maksudkan tidak dalam bentuk mengajak konflik dengan orang lain. Point dari yang saya maksudkan adalah bahwa kita bisa menentukan batasan-batasan tertentu untuk hal-hal yang selama ini menjadi sumber kejengkelan, stress berkepanjangan, dilema tak berkeputusan dan derita tiada akhir  yang kita alami. Jika kita bisa berkomitmen, orang lain akan menghargai kita. Percayalah. Selama pengalaman saya menerapkan prinsip memberi batas, hampir tak ada konflik yang aneh-aneh terkait dengan prinsip ini.

Prinsip memberi batas bisa diterapkan pada hampir semua persoalan hidup sehari-hari. PDKT sudah lama tapi tak mendapat respon, tentukan saja batas waktu sampai kapan anda harus menunggu. Ajakan menikah tak disambut, beri saja batasan waktu. Interview perusahaan sudah lama tapi tak mendapat konfirmasi dan menunggu tanpa kepastian kerja, tentukan saja batas waktunya. Dipanggil interview sejak pagi tapi hingga siang belum ada tindak lanjut, tentukan saja batas waktu sampai kapan anda bertahan. (eits, ini bukan pengalaman pribadi, kali aza ada yang begitu)

Anda menjadi korban intimidasi, tentukan berapa kali anda harus diintimidasi untuk kemudian berbalik menolaknya. Tidak betah kerja karena gaji tidak sesuai, tentukan saja batasan gaji yang ingin dicapai dan kapan waktu yang diinginkan. Anda sering dilecehkan, diejek dan dihinakan, berilah batasan yang bisa anda terima.

Jangan biarkan anda terombang-ambing dalam dilema dan ketidakpastian. Ingatlah, hidup kita adalah milik kita. Susah senang, kita juga yang menjalaninya…

Referensi bacaan menarik

Rehat Sejenak untuk Hasil yang Lebih Baik

Saying No

10 Guilt-Free Strategies for Saying No

Action

Jangan merasa bersalah (do not feeling guilty) jika kita menolak melakukan sesuatu jika memang hal itu kita anggap benar.

Jangan katakan Ya jika ingin berkata tidak. Berikan batas jika kita mengharapkan sesuatu atau menunggu sesuatu atau melakukan sesuatu.

Sayangi diri sendiri, jangan buat diri sendiri menderita hanya karena ingin membuat senang orang lain. Membuat orang lain senang tidak harus membuat diri sendiri menderita.

4

Tersandung Kesuksesan

Anda mungkin pernah mengalami situasi yang dilematis dan memusingkan : menentukan bidang dan pekerjaan apa yang hendak dijadikan sebagai titik fokus.

Hendak fokus dibidang A, ternyata sudah ada orang yang sukses disitu. Hendak fokus dibidang B, ternyata sudah ada yang menguasai dan populer disitu. Hendak fokus di bidang C, ternyata sudah ada pionir yang sukses disitu. Lantas harus fokus dimana dan mengerjakan apa agar bisa sukses?

Jawabannya adalah, terus berkarya dan kembangkan kemampuan. Nantinya kreativitas dan kesuksesan akan datang dengan berbagai cara. Nggak percaya? Ini bukan kata saya tapi kata si Sergey Brin.

Sergey Brin, salah seorang pendiri Google-ketika ditanya mengenai perjalanan dan bagaimana cara dia sukses-menjawab bahwa ia melakukan apa yang bisa ia lakukan :

Semakin sering saya melakukan sesuatu, semakin sering saya tersandung masalah. Semakin sering saya tersandung masalah, semakin besar kemungkinan saya tersandung pada kesuksesan, begitu kira-kira ucapannya di buku Kisah Sukses Google.

Asal tahu saja, Sergey Brin dan Larry Page sendiri bukan ujug-ujug alias tiba-tiba sukses dengan Google. Sebelum membuat Google, Sergey Brin dan Larry Page punya prestasi sendiri dibidang yang mereka minati. Mereka memiliki cukup banyak proyek pribadi sesuai dengan minat mereka. Ada yang berhasil dan ada yang gagal. Kesemuanya menjadi bekal yang baik ketika mereka mulai membangun Backrub, cikal bakal Google.

Kisah diatas mestinya bisa menjadi inspirasi bagi kita bahwa kesuksesan bisa datang dengan berbagai cara. Tidak usah membatasi bagaimana kesuksesan akan mendatangi kita.

Ada kalanya seorang sarjana pertanian sukses menjadi pengusaha dibidang busana anak-anak, atau seorang insinyur mesin justru sukses dibidang alat tulis kantor.

Jangan menunggu kesuksesan datang pada kita. Bukalah jalan kesemua arah yang mungkin agar peluang kesuksesan semakin besar pula. Bergabung dengan komunitas, mengembangkan inisiatif pribadi, menjadi pribadi yang ekstrovert dan supel merupakan bagian dari upaya membuka jalan kearah kesuksesan.

Jika anda senang menulis, tulislah berbagai topik yang diinginkan, nanti akan terlihat topik apa yang anda dan pembaca sukai. Jika anda menjadi seorang musikus, tidak ada yang melarang anda menjadi seorang blogger atau menjadi seorang yang senang berkebun. Ada banyak pengalaman yang menunjukkan bahwa hobby atau kegiatan sampingan bisa menjadi sumber pendapatan utama atau bisa menjadi pembuka kearah kesuksesan.

Jika mengingat perjalanan Excellent, saya bahkan tidak terpikir membuat perusahaan saat saya lulus sekolah maupun lulus kuliah. Excellent terbentuk dari hobi menulis di blog, yang kemudian membuka peluang usaha untuk jasa training dan freelancer, sampai akhirnya penghasilan dari kegiatan tersebut bisa menjadi pengganti gaji bekerja di perusahaan dengan waktu yang lebih fleksibel dan ritme pekerjaan yang lebih menyenangkan.

Saat briefing di Excellent, salah satu kalimat favorit saya adalah : Lakukan apa saja, usahakan apa saja dan coba apa saja, sepanjang itu positif dan bukan kriminal. Kita tidak tahu sisi mana yang akan membawa jalan hidup kita, namun jika kita terus berusaha, nanti seperti air yang akan menemukan jalan untuk mengalir dan keluar dari kesulitan.

Terus berkarya, berinisiatif dan mencoba hingga kesuksesan datang entah bagaimana caranya. Jangan menunggu, karena kita semua tahu kita tidak hidup selamanya…

Referensi bacaan menarik

Jangan Menyerah pada Kekurangan Hidup

How Nathan Barry grew ConvertKit from zero to $125,000+ in monthly recurring revenue

Action

Pada artikel sebelumnya kita sudah membaca pentingnya bacaan yang menarik untuk pikiran kita. Sudah diingatkan mengenai introspeksi sampai kapan kita dalam kondisi yang sama. Sudah diberikan tips dalam memberi batas. Kali ini melangkah satu tahap kedepan, coba review apa saja yang sudah kita lakukan agar bisa sukses sesuai ukuran kita?

Apakah sudah berusaha meningkatkan kemampuan kita? meningkatkan penghasilan kita? memperluas pergaulan kita? Jangan lekas berpuas diri untuk keadaan saat ini, karena siapa tahu kita masih bisa meningkatkan kualitas kehidupan kita.

Jika ada referensi bacaan menarik dan belum sempat terbaca, coba sempatkan membaca. Artikel-artikel tersebut saya pilih karena saya mendapatkan inspirasi dari pengalaman dan tips yang dimuat didalamnya

5

Excellent Kaizen

Catatan : Tulisan ini agak panjang, lebih mirip seperti novel :-) dan merupakan update dari tulisan yang pernah dipublikasikan di blog.

Kaizen (改善) merupakan istilah yang sering sekali digunakan di Excellent. Mungkin jadi semacam motto pengingat buat seluruh team. Kaizen sendiri merupakan istilah dalam bahasa Jepang yang bermakna perbaikan berkesinambungan. Filsafat kaizen berpandangan bahwa hidup kita hendaknya fokus pada upaya perbaikan terus-menerus. Pada penerapannya dalam perusahaan, kaizen mencakup pengertian perbaikan berkesinambungan yang melibatkan seluruh pekerjanya, dari manajemen tingkat atas sampai manajemen tingkat bawah.

Saya pertama kali mendengar istilah ini saat dulu bekerja sebagai operator produksi di salah satu perusahaan PMA Jepang, PT. Ochiai Menara Indonesia, berbarengan dengan istilah-istilah semacam Quality Control Circle (QCC), Total Quality Management (TQM) dan lain-lain.

Salah satu contoh mekanisme penerapan Kaizen di Excellent adalah pembahasan yang dilakukan saat kami seluruh team Excellent melakukan brainstorming luar kota di Mahoni Homestay Jogja beberapa waktu yang lalu, yaitu terkait persiapan modul training di Excellent.

Selama ini kebijakan yang berlaku di Excellent, semua modul dicetak manual menggunakan printer warna. Jika peserta training ada 10 orang, akan disiapkan print modul sebanyak 11 buah, satu diantaranya adalah untuk instruktur. Proses print disesuaikan

Anda telah mencapai akhir pratinjau ini. untuk membaca lebih lanjut!
Halaman 1 dari 1

Ulasan

Pendapat orang tentang Excellent Insight

4.1
15 peringkat / 2 Ulasan
Apa pendapat Anda?
Penilaian: 0 dari 5 bintang

Ulasan pembaca

  • (5/5)
    Keren bukunya, sangat termotivasi untuk saya seorang pemuda yang bergelut dibidang IT juga.
  • (5/5)

    1 person found this helpful

    Bagi yang suka games Buruan bergabung di Sport165,net dan Menangkan permainannya serta Jackpot 100%, Cukup 1 user id saja anda bisa banyak bermain game. Modal perdana kurang beruntung? tenang kami ganti dgn Bonus Welcome Cashback 100%, Pelayanan cepat, aman & terbaik!, Cs kami siap melayani Anda 24 jam nonstop!!!
    Untuk info lebih lanjut bisa hub cs kami di livechat/Wa : +855973475903 | Kode Referal :KELLYBOLA silahkan bisa di cek ke TKP dan buktikan sekarang juga. . .

    1 person found this helpful