Temukan buku favorit Anda berikutnya

Jadilah anggota hari ini dan baca gratis selama 30 hari
Tuhan Mencintaimu

Tuhan Mencintaimu

Baca pratinjau

Tuhan Mencintaimu

peringkat:
4.5/5 (21 peringkat)
Panjangnya:
260 pages
4 hours
Dirilis:
Oct 17, 2018
ISBN:
9780463589854
Format:
Buku

Deskripsi

[EN] This book is a compilation of Markus Marlon's writings which he shared through mailing lists and Blackberry Messenger groups between 2010 and 2012.
[ID] Buku ini merupakan kumpulan tulisan Markus Marlon yang dulu kerap dibagikannya kepada teman dan relasi melalui mailing list dan grup BBM antara tahun 2010 dan 2012.

Dirilis:
Oct 17, 2018
ISBN:
9780463589854
Format:
Buku

Tentang penulis

Markus Marlon is an Indonesian Catholic priest.


Terkait dengan Tuhan Mencintaimu

Buku Terkait

Pratinjau Buku

Tuhan Mencintaimu - Markus Marlon

Mengharukan

Delete

Sementara mengadakan perjalanan ke Pulau Bunaken, ada sms-sms berbau terror yang menyakitkan hati. Sms-sms itu ku-save dan kadang-kadang saya baca kembali. Hal itu saya buat berkali-kali. Ini juga yang menyakitkan. Kemudian secara tidak sengaja, saya membaca tulisan yang tertera di palka, Jangan membaca berulang kali sms yang menyakitkan. Delete! Agar batin tidak tersiksa. Pada saat itu juga, saya delete pesan singkat tersebut dan tidak lama kemudian, saya boleh menikmati rekreasi di Pulau Bunaken dengan gembira hati.

Menghapus, remove, delete merupakan pengalaman yang sering kita lakukan. Kalau kita menghapus tulisan di komputer dengan mudah kita delete. Jika kita menghapus tulisan di whiteboard dengan mudah kita erase. Dengan menghapus tulisan atau gambar di komputer dan di whiteboard tersebut, tidak ada beban sama sekali dalam diriku. Namun amat lain jika kita harus me-remove nama-nama orang dalam alamat BBM, YM, e-mail maupun hand phone. Mereka adalah nama-nama pribadi yang pernah bersahabat dengan kita dan tidak lama lagi tidak akan ada komunikasi lagi. Setiap perpisahan pasti menyakitkan.

Putu Wijaya pernah menulis di majalah Jakarta-Jakarta tentang remove. Pada zaman itu, orang-orang masih akrab komunikasi lewat korespondensi. Ketika seseorang membuka buku alamat, ia mulai merenungkan nama-nama yang tertera dalam buku tersebut. Satu per satu, ia mulai ingat kembali nama-nama orang yang sering dikirimi surat. Ada yang enak diajak komunikasi, namun juga ada orang yang tidak pernah membalas jika dikirimi surat. Akhirnya pemilik buku alamat itu pun mulai ambil tip-ex dan me-remove nama-nama tersebut. Setiap kali menghapus satu nama, ia menitikkan air mata, karena persahabatan yang telah dialami selama ini. Ritual penghapusan nama-nama dalam buku alamat bagaikan perpisahan yang tidak mungkin akan berjumpa lagi. Sahabat yang dulu dikirimi surat, kini tidak akan ada lagi komunikasi.

Penghapusan pribadi juga dialami oleh Fouquet. Ia adalah menteri keuangan dari Louis XIV (1710–1774) sang Raja Matahari, Le Roi Soleil. Sang raja ini adalah pria angkuh dan arogan yang selalu ingin menjadi pusat perhatian. Ia tidak menghendaki adanya matahari kembar. Suatu kali, Fouquet itu mengadakan pesta yang luar biasa hebat. Ia membuat pesta itu, supaya nama sang raja semakin besar dan semakin bersinar. Namun sangat disayangkan bahwa pesta itu malah menjadikan sang menteri lebih popular. Tentu saja raja langsung marah dan memerhentikan dirinya dari menteri keuangan dan dituduh korupsi. Ia di-delete, dan mengangkat bendahara istana yang baru yakni, Jean-Baptiste Colbert seorang yang amat kikir dan pribadinya pun tidak menarik serta pesta-pesta kenegaraan yang ia buat paling membosankan di Paris.

Bagaimana rasanya jika dalam hidup ini diri kita dianggap tidak ada, meaningless dan nothing. Dalam kerumunan orang, kita tidak disapa, dalam meeting, kita tidak dianggap ada, dalam pergaulan kita tidak dianggap manusia. Sungguh menyakitkan. Dr Sam Ratulangie (1890–1949) memperkenalkan motto-nya, Si Tou Timou Tumou Tou , artinya: Manusia hidup untuk menghidupi (sesama) manusia. Bila kita gabungkan kedua filsafat tersebut, maka kita mendapatkan Aku ada untuk Engkau! Kita juga bisa merujuk pemikiran Martin Buber (1878–1965) tentang relasi I–Thou . Bagi orang Jawa, relasi antarsesama itu menjadi bermakna karena merasa diri diuwongke, yang berarti: dimanusiakan, dihargai, dianggap ada bahkan dianggap penting. Relasi manusia yang saling menghidupkan, bukan saling men-delete.

Bulan Maret 2011 saya singgah di di kota Tembagapura. Tembagapura merupakan kota terpencil di pedalaman provinsi Papua yang dibangun oleh Freeport Indonesia pada tahun 1970–1972. Film Denias, Senandung di Atas Awan juga mengambil lokasi kota ini. Saya dekati kerumunan anak-anak SD yang sementara istirahat siang. Mereka adalah anak-anak dari para karyawan PT. Freeport Indonesia. Ketika saya masuk dalam kerumunan anak-anak, mereka meneriaki salah seorang teman mereka yang bernama James Bond. Kemudian saya bertanya, Adakah dari kalian yang bernama James Bond?

Tiba-tiba, anak yang paling besar mulai membuka sebuah mop Papua. Ia bercerita bahwa James ini adalah orang yang suka pinjam uang di warung sekolah. Pemilik warung menulis bon, setiap kali James ini mengambil barang-barang dagangan. Lama-lama, kertas bon itu semakin banyak dan menumpuk. Itulah sebabnya, James dijuluki oleh teman-temannya James Bond. Tentu saja hutang yang menumpuk itu menjadikannya sebagai beban. Ia menjadi tidak konsentrasi dalam kegiatan belajar-mengajar. Untunglah ada seorang ibu guru yang prihatin dengan situasi anak didiknya. Ia menemui pemilik warung dan membayar lunas hutang-hutang James Bond itu. Setelah dibayar, ibu guru itu lalu menyobek kertas-kertas nota bon itu. Hutangnya telah dihapus, di-delete, di-remove. Kini James Bond sudah ringan dan kini namanya diganti dengan nama James Delete.

Sebagai manusia, tentu kita memiliki pengalaman-pengalaman yang menyakitkan. Banyak salah dan dosa yang telah dibuat oleh manusia. Pemazmur menulis, Jika Engkau, ya Tuhan mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? (Mzm 130: 3). Bon kita terlalu banyak menumpuk. Tuhan sendiri telah membayar lunas (I Kor. 6: 20).

Setelah dua hari men-delete dan me-remove dari BBM yang tidak pernah menanggapi sms-sms ku, kini nama itu muncul lagi dan minta di-invite. Di sini, muncullah dilema dalam hatiku. Kalau saya accept, maka fotonya akan terpampang terus dan tidak pernah ada komunikasi dan kalau saya ignore, tentu tidak enak hati . Jalan tengahnya adalah pending saja. Kemudian dalam hati saya pun berkata, Medio tutissimus ibis yang berarti: yang paling aman adalah apabila engkau berjalan di tengah. Ya, pending saja!!! Mungkin bisa satu hari, satu minggu mungkin satu bulan, satu tahun dan bahkan selama-lamanya. Wallahualam bissawab!

Aduh!!!

Awal Januari 2012, saya menyempatkan diri pasiar (jalan-jalan) ke kota Ambon. Sampai di Biara MSC, Pater Wim Zomer (1938–2012) yang memiliki motto hidup Non recuso laborem (artinya: aku tidak pernah menolak pekerjaan) berkata, Kalau belum makan rujak di pantai Natsepa, berarti Marlon belum melihat kota Ambon.

Siang itu, sengaja saya hendak membuktikan sedapnya rujak pantai Natsepa. Memang benar adanya, rasanya enak, khas dan sadap (sedap) sekali. Pantai penuh sesak dengan orang berenang di pantai dan banyak juga yang menikmati rujak di gazebo-gazebo. Para penikmat rujak itu begitu menjiwai nikmatnya rujak dan setiap kali menelan satu sendok, dia berkata, Aduh, enak sekali! Trus saya juga tidak mau kalah, "Aduh, enak tenan! "

Rasa aduh di sini merupakan ungkapan kekaguman atas rasa yang enak dan mungkin tiada tara rasanya, sehingga tidak ada kata yang muncul selain kata itu. Namun ternyata rasa nikmat dan suara-suara aduh itu pun mulai berkurang. Setelah orang makan lagi dua porsi rujak, maka suara aduh itu pun hampir tidak terdengar lagi. Mungkin kita jadi ingat akan prinsip ekonomi yang berbicara tentang hukum Gossen. Hermann Heinrich Gossen ( 1810–1858), seorang ahli ekonomi dari Jerman mengatakan bahwa tingkat kepuasan seseorang dilihat dari kenikmatannya. Bungkusan rujak pertama, terasa enak dan memunculkan kata, Aduh . Bungkusan rujak kedua, orang sudah merasa agak kenyang, sehingga tidak ada kata yang terucap dan bungkusan rujak ketiga sudah menjadi kenyang sehingga yang muncul adalah, "Aduh, pedes sekali, perut mules terlalu kenyang! "

Kemudian, setelah menikmati rujak dan melihat pemandangan alam pantai Natsepa yang indah, saya melanjutkan perjalanan ke desa Waai. Di desa Waai ini ada sumber air panas untuk pemandian. Panasnya air itu hampir sama dengan yang ada di Tataaran–Tondano, Wale Pepetaupan–Sonder, Karumenga–Langowan, Kinali–Kawangkoan dan Ranopaso–Tondano Barat, (Minahasa, Sulawesi Utara) maupun di pemandian air panas Guci di kaki Gunung Slamet, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Ketika pertama kali mencelupkan kaki dan mencebur di kolam air panas itu, saya berteriak, Aduh nikmat sekali ! tetapi entah karena apa tiba-tiba kakiku menginjak bekas kaca dan saya pun berteriak, Aduh, sakit sekali kakiku luka! Dalam waktu hampir bersamaan, ke-aduh-anku itu memiliki makna ganda: nikmat dan sakit.

Belum lama ini, saya ingin sekali membuat tattoo di lengan sebelah kiri, di Triple A Tattoo Studio, Manado. Bagaikan pasien yang sedang menunggu giliran diperiksa, saya pun duduk di ruang tunggu. Di ruang praktek, ada seorang nyong-nyong, yang sedang di-tattoo punggungnya. Pemuda ini minta digambarkan seekor singa. Tukan tattoo mulai menusuk-nusuk punggung pemuda itu. Tetapi pemuda itu berteriak, Aduh sakit, bapak sedang melukis apa? Dengan tenang tukang tattoo itu berkata, Saya sedang melukis hidung singa. Pemuda itu pun berteriak, Tidak usah dilukis saja itu hidung singa. Lukis yang lain saja! Kemudian, sang tukang lukis mulai menusuk-nusuk punggung pemuda tersebut. Pemuda itu pun berteriak lagi, Aduh, sakit sekali, bapak sedang melukis apa? tukang tattoo itu pun berkata, Saya sedang melukis telinga dan dan kaki singa. Kemudian, pemuda itu pun berkata, Biarkanlah singa ini tanpa telinga dan kaki, dari pada saya mengaduh terus karena kesakitan.

Pada akhirnya, pemuda itu pun tidak pernah mendapatkan lukisan tattoo di punggungnya dan tukang tattoo pun tidak pernah menyelesaikan gambar singa. Terkadang, orang menolak rasa sakit dengan mengeluh, Aduh! Selama masih hidup di dunia ini, orang tentu berharap bahwa penyakit dan penderitaan hinggap pada dirinya.

Ungkapan bahasa Latin, proh dolor! yang berarti wahai derita! mirip-mirip dengan ungkapan aduh . Namun ungkapan aduh di sini memiliki makna dolorosus yang berarti: berduka-cita, duka-nestapa dan sedih. Jika mendengar kata dolorosus, perasaan saya langsung teringat akan prosesi di Larantuka pada hari Paskah tahun 2011. Perarakan patung Bunda Maria mater dolorosa atau Tuan Ma mengelilingi kota Larantuka. Wajah Bunda Maria nampak sedih. Kemudian setiap perhentian atau stasi, seorang gadis cilik berperan sebagai Veronika membawakan lagu ratapan dalam bahasa Latin yang disebut dengan oves omnes. Lagu yang memilukan. Mendengar ratapan itu, saya hampir menitikkan air mata dan mengaduh. Saya sedih dan mengaduh ketika merenungkan Yesus yang akan disalibkan dan berjalan menuju puncak Golgota. Itulah via dolorosa, jalan penderitaan.

Kata aduh biasanya juga muncul bersamaan dengan desahan. Orang mendesah karena lelah, orang mendesah karena merasa tidak puas dengan situasi. Luo Guan Zhong dalam Sam Kok atau The Romance of Three Kingdom, melukiskan sebuah desahan yang diucapkan oleh Liu Bang, "Heh, aduh pengumuman apa lagi ini! " Rasa kesal bercampur dengan tidak puas akan menimbulkan desahan bahkan keluhan. Apa yang dikeluhkan Liu Bang ini berarti dirinya tidak menerima apa yang ada saat itu dan secara tidak sadar akan membawa-bawa beban negatif dalam pikirannya. Dari ketidakpuasan itu maka ketiga orang ksatria saling menyalahkan dan berkelahi. Namun pada akhirnya para kstaria itu bersumpah di bawah pohon persik dan berjanji untuk menegakkan kebenaran. Daripada mengeluh dan mendesah serta mengaduh, lebih baik berbuat.

Membaca kisah Sam Kok, saya berniat untuk hidup sepertiLiu Bang yang luar biasa. Keluhan yang diucapkan Liu Bang ini memacu dirinya untuk membentuk paguyuban tiga pendekar yang berhasil membasmi kebatilan. Mengaduh, mendesah, berkeluh kesah itu tidak ada artinya sama sekali.

Tiga jam berkutat di depan laptop memang merupakan pekerjaan yang membosankan. Selain punggung sakit karena duduk terus, mata juga mulai berat. Dan tidak saya sadari desahan pun muncul dari bibirku, "Aduh, capek dech!!!.

Jumpa

Awal bulan Januari 2012, saya sengaja mengunjungi kota Ambon dan salah satunya ingin berjumpa dengan Mgr. Andreas Sol MSC. Tatkala saya ungkapkan tentang hari pentahbisan saya, Mgr. Andreas langsung teringat peristiwa itu. Perjumpaan yang beberapa menit itu ternyata bisa membuka takbir kisah-kisah yang luar biasa. Seolah-olah tirai masa lalu terbuka lebar dan Mgr. Sol berbicara dengan suara lantang tentang pengalamannya sewaktu berkarya sebagai uskup. Pertama-tama berbicara tentang sejarah Maluku, kemudian Perpustakaan Rumpius yang merupakan harta tidak ternilai harganya bagi Maluku. Apa yang dituturkan itu, bagi saya bagaikan menonton film kehidupan. Energi positif yang disebarkan oleh Mgr. Sol telah memberikan daya dorong yang positif pula terhadap orang yang dijumpai.

Pengalaman perjumpaan memiliki banyak dimensinya. Ketika saya berjalan-jalan di kota Manado dan berjumpa dengan kerumunan orang atau pembeli toko di Gramedia, tidak ada getar-getar hati dalam diriku. Semua berjalan biasa-biasa saja. Kemudian, ada perjumpaan yang menyakitkan. Suatu kali ada seorang ibu yang kedapatan sakit parah. Selama bertahun-tahun, ibu itu tergolek di ranjang yang pengap. Di wajahnya terlihat ada rasa dendam. Ketika saya mengunjunginya, ibu itu men-sharing-kan pengalamannya sendiri tanpa diminta, Setiap subuh, saya hampir pasti sesak nafas, karena hari ini akan berjumpa dengan menantuku. Dada menjadi sesak dan hati terasa pedih! Perjumpaan-perjumpaan dari ibu dan menantu ini merupakan perjumpaan yang tidak produktif. Dua orang yang memiliki rasa saling membenci yang berjumpa akan menguras energi. Perjumpaan yang mungkin hanya beberapa saat saja, rasanya begitu lama. Konon kabarnya, setelah ada perdamaian antara ibu dan menantu itu, secara berangsur-angsur ibu itu mengalami kesembuhan yang sangat berarti. Gunawan Mohamad dalam Catatan Pinggir yang berjudul Kunthi berkisah tentang perjumpaan yang mengharukan antara Kunthi dan anaknya, Karna. Keharuan yang sangat mendalam melingkupi perjumpaan di senja hari itu. Dalam perjumpaan itu, Kunthi membuka rahasia, bahwa Karna adalah anak kandung sendiri. Menjelang perang tanding antara Karna dan Arjuna, sang bunda intervensi, supaya Karna mengalah melawan Pandawa Lima. Perjumpaan yang pertama dan terakhir dengan sang bunda ini bagi Karna sungguh merupakan pengalaman yang amat berharga sekaligus menyedihkan.

Film yang berjudul Ben Hur, mengajak kita berefleksi tentang makna perjumpaan. Pada waktu itu Judah Ben Hur sebagai tawanan atau lebih tepat akan dijadikan budak digiring menuju suatu tempat yang tangan dan kakinya diborgol. Ben Hur mengalami keputusasaan yang amat mendalam. Namun pengalaman perjumpaan dengan Yesus—yang ia tidak kenal itu—membuat dirinya memiliki semangat untuk bertahan dan akhirnya menjadi pembebas bagi adiknya: Esther dan ibunya: Miriam. Wajah dan sinar mata-Nya yang teduh memberikan kesejukan bagi Ben Hur untuk bertahan dalam tekanan kekuasaan bangsa Romawi. Perjumpaan Yesus yang sudah bangkit dengan para murid di Emaus. Hati para murid menjadi semangat dan berkobar-kobar (Luk 24: 32). Zhakeus, si pemungut cukai juga mengalami hal yang sama. Perjumpaan dengan Yesus bahkan sudi mampir ke rumahnya membawa perubahan dalam dirinya. (Luk 19: 1–10). Samuel Willard Crompton dalam 100 Hubungan Yang Berpengaruh di dalam Sejarah Dunia, hendak memperlihatkan bahwa perjumpaan antara dua orang yang memiliki visi yang sama bisa menggoncang dunia. Kolaborasi antara dua orang yang berpikir secara positifmenghasilkan sesuatu yang luar biasa. Mereka itu adalah: Kubilai Khan (1215–1294) dan Marco Polo (1254–1324), Paus Yulius II (1443–1513) dan Michelangelo (1475–1564) dan tentunya masih banyak lagi perjumpaan-perjumpaan yang menghasilkan buah-buah berlimpah.

Orang Jawa memiliki peribahasa Witing tresno jalaran saka kulina yang berarti ‘orang bisa saling mencintai karena sering berjumpa’. Saya pernah tinggal satu tahun di suku Muyu, pedalaman Merauke. Saya heran ada seorang guru asli Manado yang jatuh cinta dengan orang pedalaman. Dia mengatakan bahwa perjumpaan yang terjadi setiap hari membuat dirinya tergetar hatinya dan kini mereka berdua sudah membangun bahtera cinta. Ada juga seorang karyawan, gadis yang bertugas di ruang receptionist pada sebuah perusahaan. Gadis ini pada awalnya tidak ada hati sama sekali terhadap seorang duda tua yang datang ke kantor melewati meja penerima tamu. Perjumpaan setiap hari di awal pagi membuat kedua anak manusia itu tergetar. Kemudian sang duda berkata, "Memang ada kata romantik yang berbunyi: first love never dies, tetapi perjumpaan-perjumpaan yang kami alami semakin membuat cinta kami bersemi dan bertumbuh. "

Perjumpaan-perjumpaan masa lalu, seperti masa sekolah maupun masa-masa bermain meninggalkan kesan yang mendalam. Masa pendidikan dan pembinaan bagi para murid adalah masa yang amat berat. Pengalaman dimarahi guru dan mendapat nilai merah membuat murid menjadi marah kepada gurunya. Bahkan beberapa guru dan dosen dijuluki killer. Namun setelah murid-murid ini menjadi orang dan berjumpa dengan sang guru, pujian dan ucapan syukurlah yang disampaikan kepadanya. Pengajaran yang keras dan kejam dari para guru dianggap sebagai grace in disguise. Mantan murid pun berkata, Jika dulu kami-kami ini tidak dididik secara keras oleh bapak dan ibu guru, tentunya tidak akan menjadi orang seperti sekarang ini! Pengalaman masa lalu yang barangkali penuh duka itu pun terbayar tatkala melihat hasil yang kini sudah dinikmati. Peribahasa, Kemarau setahun dibayar dengan hujan satu hari, agaknya tepat untuk memahami makna ini. Ada rasa damai dan sejuk.

Sementara menulis artikel ini dari jauh terdengar lagu dangdut yang dilantunkan oleh Masyur Subhawannur. Syairnya kira-kira demikian, Bukan perpisahan yang kutangisi, hanya perjumpaan yang kusesali. Hal yang pasti dari perjumpaan adalah perpisahan. Sebelum berjumpa kita harus menyiapkan diri untuk berpisah.

Terkadang dua anak manusia yang telah berjumpa dan saling menyayangi—karena sesuatu hal—terpaksa harus berpisah. Laki-laki itu berkata lirih, mengutip kata-kata Rhoma Irama, Kau yang mulai - kau juga yang mengakhiri. Kau yang berjanji, kau yang mengingkari Tambahnya lagi dengan kata-katanya sendiri, Kalau tahu begini, lebih baik dulu aku tidak jumpa!

Nyaman

Waktu saya berlibur di kampung halaman, desa Playen, Gunung Kidul, saya sempat meminta Mbok Ngadirah menyeterikakan kemejaku yang lusuh. Mbok Ngadirah yang adalah pembantu setia keluargaku kemudian mulai membakar arang. Setelah beberapa saat, saya baru sadar ternyata Mbok Ngadirah ini menyeterika

Anda telah mencapai akhir pratinjau ini. Daftar untuk membaca lebih lanjut!
Halaman 1 dari 1

Ulasan

Pendapat orang tentang Tuhan Mencintaimu

4.5
21 peringkat / 0 Ulasan
Apa pendapat Anda?
Penilaian: 0 dari 5 bintang

Ulasan pembaca