Nikmati jutaan ebook, buku audio, majalah, dan banyak lagi dengan uji coba gratis

Hanya $11.99/bulan setelah uji coba. Batalkan kapan saja.

Work & Holiday Visa Australia: Panduan Pejalan Indonesia
Work & Holiday Visa Australia: Panduan Pejalan Indonesia
Work & Holiday Visa Australia: Panduan Pejalan Indonesia
eBook191 halaman2 jam

Work & Holiday Visa Australia: Panduan Pejalan Indonesia

Penilaian: 4 dari 5 bintang

4/5

()

Tentang eBuku ini

Good day, mate!

Ini adalah satu dari sedikit karya yang tersedia, mengenai satu-satunya kesempatan bagi pejalan (traveler) Indonesia untuk melakukan perjalanan sekaligus bekerja di Australia dengan skema working and holiday visa – disingkat WHV.

Berbagai hal esensial dirangkum dalam 124 poin menarik. Mulai dari persyaratan administratif, tips-trik hidup dan bekerja, hingga pemahaman tentang kondisi historis-kultural-sosial-ekonomi-dan-politik di negeri kangguru.

  • Tahukah bahwa Anda bisa mengenyangkan perut di Australia dengan bujet $1-2?
  • Apakah ibu kota Australia? Sydney? Mari cek kembali buku teks geografi.
  • Dari manakah asal kata "kangguru"?
  • Adakah kata-kata unik yang khusus hanya digunakan di Australia?
  • Kota apakah yang paling cocok untuk saya tinggali?
  • Apa sajakah yang harus dipertimbangkan dalam memilih 'kos'?
  • Seberapa sulitkah bekerja di sana?
  • Berapa gaji minimumnya?
  • Destinasi apa saja yang harus dikunjungi?

Buku ini secara khusus menargetkan pembaca yang berminat "bekerja" DAN "berlibur" di Australia selama 1-2 tahun. Tetapi tidak menutup kemungkinkan juga memuat sebagian informasi relevan bagi mereka yang akan menginjakkan kaki pertama kalinya di negeri yang cukup terisolasi ini, seperti pejalan bujet atau pelajar misalnya.

Sejauh prinsipnya adalah menghemat bujet ketika berada di negeri koala, "no worries, mate", buku ini akan relevan bagi Anda!

BahasaBahasa indonesia
PenerbitLeo Daphne
Tanggal rilis16 Nov 2018
ISBN9781386896630
Work & Holiday Visa Australia: Panduan Pejalan Indonesia
Baca pratinjau

Terkait dengan Work & Holiday Visa Australia

Buku Terkait

Kategori terkait

Ulasan untuk Work & Holiday Visa Australia

Penilaian: 4 dari 5 bintang
4/5

1 rating0 ulasan

Apa pendapat Anda?

Ketuk untuk memberi peringkat

    Pratinjau buku

    Work & Holiday Visa Australia - Leo Daphne

    Pengantar ‘Bekerja dan Berlibur’

    Buku ini menjadi unik bukan semata destinasinya adalah Australia, tetapi karena tulisan ini juga memuat soal kemungkinan ‘bekerja’ di destinasi yang dijelajahi. Betul, ini adalah tulisan yang mengulas tentang ‘bekerja dan berlibur’ (secara legal) di Australia, dengan mengantongi ‘work and holiday visa’ (yang disingkat ‘WHV’).

    Faktanya, tidak banyak destinasi yang memberikan fasilitas ini. Per 2018, Australia masih menjadi satu-satunya destinasi yang memungkinkan pejalan (traveler) Indonesia untuk menjalani peran sebagai ‘working-holiday maker’, begitu istilah dalam Bahasa Inggrisnya.

    Sesuai nama programnya, WHV memungkinkan seseorang untuk ‘berlibur’ sekaligus juga ‘bekerja’, terserah sang empunya visa. Ada pejalan yang sepenuhnya menggunakan waktunya di Australia dengan bekerja untuk menabung Dollar, ada juga yang jalan-jalan atau sekadar tinggal di negeri tetangga kita ini. Motivasi seseorang dengan visa ini tentu bermacam-macam dan ada bahasan khusus tentangnya dalam buku ini.

    Namun begitu, tentunya visa ini ideal digunakan dengan melibatkan kedua aspek yang menjadi tajuk visa: bekerja DAN berlibur. Bukan bekerja ATAU berlibur.

    Prinsip itulah yang menjadi topik utama buku ini. Bahasan yang tidak berorientasi pada ‘bekerja’, pun bukan hanya ‘berlibur’. Melainkan keduanya. Pejalan yang bekerja, dan pekerja yang melakukan perjalanan (bujet). Itulah spirit dari tulisan ini.

    ––––––––

    Aspek ‘bekerja’

    Kesempatan bekerja memang tidak dapat dipungkiri merupakan daya tarik utama WHV. Menjelajah tempat asing, tapi di saat bersamaan bisa menghasilkan uang di sana untuk membiayai perjalanan. Terdengar ideal bagi pejalan, khususnya mereka -pejalan bujet- yang memiliki keterbatasan anggaran bukan?

    Bahkan jika mau jujur, kenyataannya tidak sedikit orang yang menggunakan kesempatan WHV sepenuhnya untuk bekerja. Sesumbar, sepertinya jauh lebih banyak pemegang WHV dengan motivasi ‘bekerja’ ketimbang ‘berlibur’. Menambang uang di negeri kangguru. Bahkan ada juga yang memandang WHV sebagai jembatan untuk mendapat pekerjaan dan kehidupan permanen di Australia yang memang menawarkan standar hidup serta pendapatan yang tinggi.

    Sebagai contoh, saya sempat bertemu orang Indonesia dengan WHV, yang sejak pertama kali mendarat di Australia terobsesi untuk mencari pekerjaan permanen, mendapat sponsor, dan tinggal selamanya di Australia. Motivasi tersebut tidak hanya ditemukan pada pejalan Indonesia saja, tetapi juga pejalan bangsa lain - termasuk dari negara maju. Tentunya itu sah-sah saja.

    Terkait motivasi tersebut, tulisan ini berusaha memfasilitasi banyak hal terkait dengan ‘bekerja di Australia’. Mulai dari tipikal peluang yang ada, tips mencari pekerjaan, hingga opini pribadi. Tujuannya untuk memberikan gambaran tentang apa yang akan dihadapi oleh pejuang WHV di negeri kangguru.

    Namun begitu, buku ini tidak berhenti pada moto Pak Jokowi, "Kerja, Kerja, Kerja...". Tidak sekadar membahas sisi pragmatis tentang menambang Dollar dan memperkaya diri. Sedikit meninggalkan kelekatan duniawi terhadap uang (*asik), tulisan ini mengajak pembacanya untuk mengingat kembali hakekatnya sebagai ‘pejalan’ di Australia, bukan sekadar ‘pekerja’. Seorang manusia yang hidup bukan hanya untuk pekerjaan dan uang, tetapi juga untuk sesuatu yang lebih dalam.

    Work to Live. Not Live to Work.

    ––––––––

    Tentang ‘berlibur’

    Ada preferensi semantik di sini. Sebenarnya saya lebih nyaman menggunakan kata melakukan ‘perjalanan’ (travel) ketimbang ‘berlibur’ seperti terjemahan kata ‘Holiday’ dalam WHV. Karena saya merasa kata ‘berlibur’ memiliki makna mirip seperti frasa ‘jalan-jalan’, yang terkesan intensinya adalah kesenangan, hura-hura, dan menghamburkan uang.

    Kenyataannya, saya melakukan perjalanan bukan dalam rangka mencari kesenangan (pleasure), tetapi lebih berorientasi pada memahami hidup dan menjejak selangkah lebih dekat menuju kebahagiaan (happiness). Dan tentu saja, tipe perjalanan dalam buku ini sangat jauh dari hura-hura atau menghamburkan uang.

    Bagi yang pernah membaca serial buku "Travel Hacks" saya sebelumnya (yang diterbitkan salah satu penerbit mayor), tema tulisan tentang perjalanan bujet ini relatif mirip. Ada tiga hal yang mendasari tulisan ini.

    Pertama, adalah konteks ‘perjalanan’ yang dibahas. Ini adalah tentang perjalanan (dengan) bujet (minimum), perjalanan bujet. Terlebih, tulisan ini akan sangat relevan bagi pejalan independen (tidak tergabung tur) dan pejalan tunggal ( solo traveler, tidak berkelompok). Dalam kata yang tidak diperhalus: ‘udah sendirian, ga ada duit lagi’. Tetapi jika kebetulan Anda tidak sendirian pun, rasanya buku ini masih dapat membantu.

    Kedua, atmosfer petualangan. Tema ini dapat ditemukan pada bahasan seperti menempuh jalur darat (termasuk melintasi gurun!) alih-alih terbang, trik meminimalisir biaya akomodasi dan makanan, serta tips lainnya. Namun begitu, perlu dicatat bahwa tidak akan ada bahasan tentang jadwal perjalanan (itinerary), daftar hotel dan restoran, atau harga tiket masuk ke atraksi tertentu – karena tentunya Anda yang lebih tahu selera perjalanan Anda, terlebih toh informasi tentang hal tersebut mudah didapatkan di era digital saat ini.

    Ketiga, ini adalah tentang ‘merasakan’ dan ‘meresapi’, bukan sekadar ‘melihat’. Diskusinya bukan hanya perihal destinasi yang harus dikunjungi, di mana hal tersebut hanyalah fraksi kecil dari tulisan ini dan sama sekali bukan esensi tulisan. Alih-alih, tulisan ini juga sedikit menyentuh topik mengenai sejarah, kondisi sosial-budaya, politik, dan hal-hal menarik ataupun penuh intrik dari masyarakat di sana. Sehingga orientasinya cukup berbeda dari tipe pejalan hippie yang cenderung mencari ‘seru-seruan yang murah’.

    ––––––––

    Penutup

    Kedua aspek bekerja dan berlibur dirangkum dalam poin-poin yang esensial, relevan, kadang pragmatis, kadang idealis, dan dihiasi info trivial yang mudah-mudahan unik dan menarik. Dibumbui penjelasan singkat untuk mendeduksi fenomena menarik yang mungkin ditemui di Australia. Plus, kadang ada opini jujur tentang sesuatu, seperti misalnya apakah suatu tempat menarik atau tidak, worth untuk dikunjungi atau tidak, dan semacamnya..

    Informasi berasal dari pengalaman pribadi*, sumber eksternal (situs web, ulasan, blog), serta obrolan dengan sesama pejalan dan warga lokal. Konten itu ditulis dalam urutan yang dibuka dari bab tentang sisi administratif/normatif dari WHV. Dilanjutkan mengenai aspek bekerja, tips dan trik selama di Australia, lalu disusul dimensi ‘perjalanan’, dan diakhiri dengan kesan penutup.

    Itulah ringkasan buku ini secara singkat, yang semoga saja bisa berguna bagi para calon pengejar dan pemegang WHV. Khususnya mereka yang memiliki orientasi cukup berimbang pada bekerja dan melakukan perjalanan. Atau secara umum, mereka yang akan melawat ke Australia. Baik itu untuk liburan jangka pendek, bekerja, pindah permanen ("for good"), belajar, mendapat beasiswa, apa pun.

    Namun perlu diingat, buku ini hanyalah semacam panduan dan testimoni. Anda masih harus memperkaya dengan referensi lain, melakukan riset sederhana, dan membuat rencana kasar sendiri – yang sesuai dengan preferensi Anda sendiri. Buku ini tidak pernah bermaksud mendikte, tetapi hanya sekadar membantu dan memandu Anda merakit pengalaman WHV yang berkesan dan se-personal mungkin.

    Akhir kata, bagi saya melakukan perjalanan bukanlah tentang memenuhi nazar, mencoret bucket list ‘negara yang dikunjungi’, atau hal obsesif lainnya. Pun begitu dengan bekerja, yang (idealnya) bukanlah sekadar menghasilkan uang. Keduanya merupakan suatu ‘pengalaman mental’, jika kata ‘spiritual’ dirasa terlalu berat.

    Setiap perjalanan adalah suatu perziarahan meditatif. Berkelana menuju suatu destinasi di luar sana untuk terkejut sekaligus terpesona dengan pengalaman baru. Meskipun begitu, para mistikus  sebenarnya telah memberi bocoran bahwa destinasi paling utama justru bermuara pada diri kita sendiri. Sosok individu yang dengan segala keterbatasannya berusaha menapak sejengkal lebih dekat dengan diri sendiri dan sesamanya, dan menyadari sebagai bagian dengan sang Semesta.

    "The farther the outward journey takes you, the deeper the inward journey must be"

    – Henri Nouwen

    "Semakin jauh perjalanan ke luar membawa Anda,

    semakin dalam perjalanan ke dalam (diri) harus dilakukan"

    Sekali lagi, yang lebih penting ini adalah tentang perjalanan Anda, bukan saya. Saya hanya memberi satu perspektif panduan lewat buku ini, dan Anda tentunya harus menciptakan perjalanan versi Anda sendiri.

    Kini pertanyaan pun beralih, apakah ‘perjalanan’ itu menurut Anda?

    ––––––––

    Fukuoka, 2018,

    Leo Daphne

    ––––––––

    *Sekadar disclaimer, sumber pengalaman pribadi dari buku ini didapat pada tahun 2016-2017. Jika Anda bermaksud menambah atau menginformasikan update dari informasi yang tidak lagi relevan, saya dengan terbuka menerimanya di alamat surel iamleodaphne@gmail.com atau akun Instagram @leodaphne

    Peta Australia

    D:\DOCS + Freelance\Freelance\Current Job\_Naskah Buku Draft Master\Australia Nulis Buku\Map Australia.jpg

    Sumber: http://www.simplemappr.net/

    Visa Bekerja dan Berlibur (WHV) Australia

    ––––––––

    1.  Perkenalan Work & Holiday Visa

    Secara resminya, Work and Holiday Visa (WHV) bertujuan untuk memberikan kesempatan pada kaum muda untuk melakukan ‘pertukaran budaya’ sekaligus mempererat hubungan negara yang menjalin kerja sama ini. Sesuai namanya bekerja dan berlibur, WHV memperbolehkan pejalan untuk tinggal selama 1 tahun di Australia dalam rangka bekerja dan/atau berlibur. Mau berlibur selama 1 tahun penuh, silakan. Jika lebih tertarik mendulang Dollar selama setahun pun boleh. Atau proporsi 50:50, 20:80, 80:20, terserah karena pejalan dibebaskan menggunakan waktunya.

    Dari kacamata pejalan (traveler), ini adalah visa yang memperbolehkan seseorang mengeksplor Australia sembari bekerja – yang uangnya bisa digunakan kembali untuk membiayai perjalanan.

    Definisi lain yang bisa disematkan di antaranya visa bagi yang tidak cukup kaya untuk hidup di negeri orang dalam waktu lama, sehingga mengharuskan pejalan untuk bekerja. Atau bisa juga visa bagi yang tidak terlalu pintar (*atau kurang beruntung demi memperhalus) untuk mendapat beasiswa plus biaya hidup di luar negeri. Tidak, saya tidak sedang mengejek sebagian dari Anda, karena saya pun masuk dalam salah satu kelompok itu. Mohon diterima dalam konteks bercanda, tanpa sensitivitas berlebih. Haha.

    Implikasinya sama, pejalan bisa merasakan tinggal di negara maju seperti Australia tanpa harus menguras rekening, karena ada kesempatan untuk bekerja selagi traveling. Atau bahkan sukur-sukur bisa menabung, sehingga ketika periode WHV selesai, pejalan justru bisa membawa sejumput Dollar untuk bekal hidup selanjutnya.

    Pada bab ini kita akan membahas tentang WHV, terutama dari sisi normatif atau administratif. Bagian yang bagi saya sebenarnya agak membosankan, karena bisa dengan mudah ditemukan di situs-situs terkait (seperti imigrasi kedua negara). Namun terlepas dari hal tersebut, ini adalah hal esensial yang harus dilalui demi mendapatkan WHV.

    ––––––––

    2.  Mengapa Australia? (Jawaban males tapi tak terbantahkan)

    Karena memang pilihannya hanya ada itu. Itu jawabannya sederhana, dan males-nya. Berbeda dengan negara lain khususnya negara maju, mereka memiliki banyak kerja sama WHV. Seperti Amerika Serikat, negara-negara Eropa, Jepang, Hong Kong, dan lainnya. Bahkan tetangga favorit kita, Malaysia, memiliki kerja sama WHV dengan Selandia Baru. Entah karena bagian dari Persemakmuran Inggris atau karena alasan lainnya.

    D:\DOCS + Freelance\Freelance\Current Job\_Naskah Buku Draft Master\Australia Nulis Buku\Foto\71 Kangguru, bahkan tidak jauh dari perkotaan.jpg

    Mudah-mudahan saja paragraf ini bisa berfungsi sebagai masukan inisiatif lain yang bisa dipertimbangkan Kementerian Luar Negeri terkait pemberdayaan pejalan muda Indonesia. Tentu dengan tanpa lupa mengapresiasi sederet prestasi yang telah mereka capai seperti gratis visa-el ke Jepang dan India (baik, kita sudahi catatan ‘sok’-diplomatiknya).

    Namun sekalipun negara maju memiliki lebih banyak pilihan, Australia tetap menjadi pilihan favorit para pejalan WHV dari seluruh dunia. Alasan yang paling lumrah adalah karena negeri ini memiliki standar upah yang jauh lebih baik dibanding negara asal mereka, bahkan termasuk jika dibandingkan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.

    Jadi ya, mengingat keterbatasan yang ada, maka hanya inilah satu-satunya destinasi bagi pemegang paspor Indonesia untuk bepergian sembari membiayai perjalanannya. Di negeri kangguru, Australia

    ––––––––

    3.  Yang bisa mengikuti WHV

    Visa ini tidak bisa didapatkan oleh semua orang. Hanya mereka yang memenuhi

    Menikmati pratinjau?
    Halaman 1 dari 1