Nikmati jutaan ebook, buku audio, majalah, dan banyak lagi dengan uji coba gratis

Hanya $11.99/bulan setelah uji coba. Batalkan kapan saja.

Alkimia
Alkimia
Alkimia
eBook370 halaman4 jam

Alkimia

Penilaian: 4 dari 5 bintang

4/5

()

Baca pratinjau

Tentang eBuku ini

Ada yang terkulai di meja,  seorang peneliti di Pabrik Farmasi, ahli dalam bidang riset dan pengembangan. Dua orang detektif ditugaskan dari Kepolisian, seorang Inspektur gagal yang tak pernah naik jabatan, dia dibantu detektif partikelir yang nyentrik.

Belum selesai meneliti kematian Apoteker bernama Wulan, seorang apoteker ditemukan nyaris tewas di kursi Taman di Kota Surabaya.  

BahasaBahasa indonesia
Tanggal rilis29 Jun 2019
ISBN9781393220626
Alkimia
Baca pratinjau
Penulis

Bernadi Malik

Bernadi Malik adalah seorang penulis, ceo pabrik novel baper & thriller, blogger di bernadimalik.com, penikmat seni dan fotografi, bernafas dan hidup di Indonesia, berjalan di muka bumi, pengagum alkimia dan filsafat bergelar apoteker, memposisikan diri di tengah-tengah, punya sifat humanis, pecinta sate kambing dan tongseng. Senang jalan-jalan dan menulis.

Baca buku lainnya dari Bernadi Malik

Terkait dengan Alkimia

E-book terkait

Kategori terkait

Ulasan untuk Alkimia

Penilaian: 3.875 dari 5 bintang
4/5

8 rating0 ulasan

Apa pendapat Anda?

Ketuk untuk memberi peringkat

Ulasan minimal harus 10 kata

    Pratinjau buku

    Alkimia - Bernadi Malik

    Bernadi Malik

    ALKIMIA

    Pembunuhan di Pabrik Farmasi

    Bernadimalik.com Publishing

    INDONESIA

    Bernadimalik.com

    Kontak manajemen : bernadi.apt@gmail.com

    www.bernadimalik.com/about

    www.facebook.com/bernadimalik

    Instagram : Bernadi Malik, Twitter : Bernadi Reloaded

    Hak Cipta © 2009 Penulis : Bernadi Malik

    Dipublikasikan di Google Books 10 Juni tahun 2019

    di Republik Indonesia

    Desain teks, layout oleh Bernadi Malik

    AWALNYA 

    Belum selesai Haji Jamal menyelesaikan kasus pertama, ia sudah dihadapkan pada pembunuhan kedua. Semuanya serba mendadak, dia menerima surat tugas dari Kapolri yang dibawa Inspekur Rajiv, penemuan mayat di laboratorium dan intimidasi yang  membawanya ke dua buah perusahaan farmasi besar yang ada di Indonesia. Haji Jamal harus menemukan motif pembunuhan, merangkai benang kusut kematian dua orang apoteker.

    Di rumah korban yang bernama Wulan, seorang perawan tua bergelar apoteker, ada sekantung marijuana yang di sembunyikan di balik lukisan, sandal seorang pria dan sebuah sabun mandi. Itu bertentangan dengan gambaran umum. 

    Herlina, dia apoteker di Farmatech Lab. ditemukan terbaring di Taman Bungkul, dia dalam pengaruh Diazepam, Sertralin dan Amfetamin. sekujur tubuhnya penuh luka. Di rumah sakit semakin jelas bahwa kedua orang itu terkait, apalagi ada sebuah ledakan yang mengincar nyawa Herlina.

    PROLOG

    Herlina seorang wanita yang tertutup sibuk dengan khayalan di dunia miliknya dan menghibur dirinya sendiri di depan sebuah kereta komuter, tempat ia bisa bercermin menatap bayangan wajah, tubuh miliknya dan orang-orang disekelilingnya menanti rasa hangat berubah dingin, pintu kereta dibuka ketika masuk ke dalam kereta, tempat ia bisa menasehati dirinya bahwa kesedihan pasti berlalu, kebahagiaan pasti datang sebagaimana setelah kesulitan pasti ada kemudahan.

    BAB 1  HAJI JAMAL

    "R ajiv, Panggil aku Tuan Haji, Haji Jamal, aku seorang penyelidik partikelir yang ditugaskan oleh Kepolisian Republik Indonesia, u huk uhuk. " Suaranya terdengar berfrekuensi rendah, ia batuk-batuk sambil mengepulkan asap aroma tembakau menusuk hidung dan menekan laring di belakang mulut, terlihat sebatang rokok yang ia letakkan di antara telunjuk dan jari tengah tangan kanannya.

    Ingat, selalu ada dua sisi antara tersurat dan tersirat, kau pernah lihat foto seorang wanita yang tewas memeluk bayi di puing-puing gempa Rajiv ? Sentimentil,  sekonyong-konyong dia ibu yang baik, korban alam, takdir, lalu ada seorang pria dengan analisis lain.  Hei..hei  bisa saja dia wanita simpanan, setelah selingkuh dengan kekasih prianya dia hamil lalu dikurung di apartemen murah, dikunjungi sekali tiga bulan.

    Inspektur Rajiv yang berada dihadapannya tersenyum, ia tahu bahwa pria berusia lima puluh empat tahun itu sedang berusaha membuatnya kagum.

    Kau Rajiv dari bagian pembunuhan kan ? tanya Haji Jamal. Ia kembali menghembuskan asap rokoknya keluar dari bibirnya yang monyong mengenakan kacamata baca bentuknya segi empat persegi panjang, ukuran dua kali empat sentimeter persegi panjang yang menempel nyaris jatuh di ujung hidungnya  yang bergerak-gerak naik turun sambil menghembuskan nafasnya.

    Fuuuh.

    Hembusan itu membunuh daya tarik Inspektur Satu, namanya Rajiv yang baru saja datang dari Kantor Polisi Daerah Jawa Timur. 

    Pagi tadi ia berjumpa Kapolda yang menugaskan dirinya menemui Haji Jamal di rumahnya di kawasan Jalan Darmo Kali. Ia segera berangkat meskipun tidak terlalu jauh dari kantornya ia bisa memaksa mobil Kijang bututnya melawan macet di depan Taman Bungkul. Sekarang dia harus menahan diri dan bersikap hormat pada pria yang ditunjuk oleh atasannya.

    Rajiv menunduk mengangguk sopan sambil menyeringai, senyum terpaksa.

    Jadi kau mau kupanggil siapa, Rajiv, inspektur atau komandan, pak atau kamerad, kawan, atau bung? dulu tahun 1945 panggilan Kamerad Rajiv, asing tapi eksotis bukan ? mereka menerjemahkan menjadi Kawan Rajiv, Setelah tahun 1965 kamerad identik dengan Uni Sovyet dan Partai Komunis Indonesia, sekarang di jaman milenial tahun 2018, hmm entahlah masyarakat sudah berubah sekarang, kata Haji Jamal sambil menarik nafas, dadanya mengembang lalu melanjutkan, Jadi kau mau kupanggil Kamerad Rajiv atau kawan Rajiv ? Hehe, atau apakah kau mau sarapan dulu? Sepertinya itu rutinitas tamu yang datang kesana.

    Eh, aku sudah sarapan tadi, jawab Inspektur Rajiv.

    Haji Jamal mendengus, dia berdiri dari kursi ruang tamu, ia mengenakan sarung berwarna hijau tua bermotif kotak-kotak, kemeja koko warna putih yang memiliki kancing di bagian tengah tertutup lapisan kain dan kepalanya mengenakan peci hitam.

    Tubuhnya gempal, beratnya 80 kilogram, tinggi 174 senntimeter, tadi dia duduk di sebuah kursi sofa di teras rumahnya yang dipenuhi tanaman Hibiskus, Soka dan Wijayakusuma. Di dekat kolam ada sebuah pohon mangga yang rindang buahnya menggantung berwarna hijau, dari samping sebelah kanan garasi mobil terdengar suara burung perkutut sesekali bersahut-sahutan menemani percakapan antara dua orang itu.

    Dua buah cangkir teh, sepotong kue bolu dan toples berisi biskuit tersaji di depan mereka., Haji Jamal membawa sendiri baki dari dapur.

    Tidak terimakasih Tuan, sahut Rajiv, aku lupa sampaikan bahwa anda dapat salam dari Kapolda dan permohonan maaf bahwa beliau tidak bisa berkunjung. Inspektur Rajiv menghela nafasnya ia merasa tubuhnya gerah terkena cuaca kota Surabaya, waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi tapi terik matahari diikuti hawa panas sepertinya menunjukkan pukul dua belas siang. 

    Haji Jamal duduk sambil melotot, dia berkata,  "Terimakasih tapi huh, aku tak suka pimpinanmu itu, dia masih berpikiran aku menggunakan metodologi klenik, mistik bahkan bantuan jin untuk menyelesaikan kasus-kasusku. Dasar, asal kau tahu  Kapolda semprul itu mengirimkan padaku burung perkutut...!" Haji Jamal berdiri, ia bangkit lagi dari kursinya.

    Lihat foto ini Rajiv, foto ketika aku mendapat penghargaan dari Kapolri dan Kapolda, sepertinya kau belum bertugas disini kan.

    Rajiv menatap sebuah foto tergantung di dinding, ia melihat Haji Jamal menerima sebuah plakat dari seorang perwira polisi yang membawa tongkat komando. Sepertinya itu Kapolda sebelumnya.Rajiv berkata,  Ya aku masih pendidikan mungkin ketika itu.

    Jadi kau masih anak muda, jadi aku berurusan dengan pemula. Hei, asal kau tahu saja aku bukan penggemar burung perkutut.

    Haji Jamal melanjutkan. Dia berkata, Barangkali kau punya ide memberikan aku kenang-kenangan kelak jika kasus ini selesai.

    Inspektur Rajiv menahan nafas menekan perut area pusar, ia berusaha menahan gelak tawa yang sejak tadi ia tahan di bagian belakang tenggoroknya.

    Kau dengar Rajiv baiklah tunggu sebentar aku ganti baju. Haji Jamal masuk ke dalam rumah, dia masuk kamar pribadinya di samping ruang tamu, ukuran 4 kali lima meter, ada ranjang spring bed lokal dilapis sprei putih. 

    Di depan lemari kaca ia  mengganti kaos putih dengan kemeja lengan pendek warna cokelat tua,dia mengambil dan mengenakan celana panjang kain berwarna hitam. Ia menyisir rambutnya ke arah kanan.

    Kulitnya berwarna cokelat tua, hidungnya pesek seperti orang asia, wajahnya lebar dan di lehernya terlihat tumpukan lapisan lemak. Senyumnya lebar dan giginya putih, matanya cenderung sipit karena tertutup lemak di kelopak bagian atas. Wajahnya ramah, punya senyum jenaka, membuat siapa saja yang menatapnya merasa nyaman dan bebas bercanda dengan Haji Jamal.

    Ayo kita berangkat, aku sudah selesai, kata Haji Jamal keluar dari dalam kamarnya, ia berjalan menuju pintu depan dan mengenakan sebuah sandal plastik berwarna cokelat tua.

    Rajiv mengikuti dari belakang ia takut banyak  bertanya dan tidak paham apa saja yang ada dibenak orang itu. Yang pasti ia memiliki koneksi dengan Kapolda, padahal jujur saja sebagai polisi ia belum pernah langsung berjumpa dengan Kapolda selain dalam kegiatan upacara dan apel bersama.

    Ia mengembuskan nafas dan meralat mungkin baru dua kali.

    Rajiv, tadi Irjen Haryanto menghubungiku, ucap Haji Jamal ia duduk di kursi tengah sebelah kiri, Kijang Inova milik Inspektur Rajiv. Ia berkata bahwa terjadi sebuah pembunuhan di Rumah Sakit Keluarga Indonesia. Aku sudah paham bahwa ia membutuhkan bantuanku, hmm....bukankah seorang pejabat memilik banyak pilihan dalam memilih detektif, kenapa aku yang dipilihnya. Rajiv, kau mendengarku Rajiv ? tanya Haji Jamal.

    Rajiv sebenarnya tak mendengar karena sibuk membuka pesan singkat yang ada di telepon seluler miliknya. Dia menjawab serampangan. Maaf aku tidak mendengar anda, Haji Jamal. Rajiv terdengar salah tingkah dan mencari-cari alasan.

    Huh,..panggil aku Tuan Haji Jamal, lengkap..jangan ada satu pun yang ketinggalan. Gertaknya sambil melotot.

    Ya...Tuan Haji Jamal. Maafkan aku, jawab Rajiv geli,

    Sebelumnya ia sudah mendengar dari rekannya di kantor bahwa Haji Jamal berulangkali membuat ulah dengan petugas dari kepolisian yang ditugaskan oleh Kapolda. Dia bahkan pernah menolak seorang asisten yang di kirim langsung oleh Kapolri.

    Kapolda Irjen Haryanto, semestinya tidak memilih aku dalam kasus ini. Tapi aku tak bisa menolaknya karena apa, kau tahu Rajiv ? tanya Haji Jamal.

    Ehm, tidak tahu Tuan, jawab Rajiv, berhati-hati tak ingin merusak suasana hati detektif itu lebih jauh.

    Mungkin aku memang pantas untuk mendapatkan tugas ini. Aku seorang detektif partikelir yang berpengalaman, hampir sepuluh kasus besar pembunuhan di Indonesia.

    Rajiv mengangguk-angguk, ia menahan diri untuk tidak tertawa lagi. Dia tak ingin menjawab karena ia sudah tahu reputasi pria di depannya. Haji jamal punya metode dan logika unik untuk memecahkan kasus pembunuhan yang melibatkan orang-orang dekat dan keluarga. Padahal ia bukan seorang berlatar belakang bidang hukum.

    Haji Jamal seorang pedagang kain di Pasar Turi, menjual kemeja pria, mukenah dan beberapa jenis jilbab. Ia juga memiliki sebuah toko kelontong  berukuran dua kali dua meter, lapaknya itu  terletak tepat di teras rumahnya jalan Darmo Kali.

    Haji Jamal adalah seorang ayah, dia suami yang memiliki sepuluh orang anak, putrinya yang paling tua masih berada di bangku sekolah menengah atas, sementara yang paling kecil saat ini berusia enam bulan. Dia selalu tertutup dan melindungi keluarganya, yang Rajiv tahu istrinya Nyai Sofia wanita yang bertubuh kecil dan lincah adalah putri Kyai Soleh dari Bangkalan, Madura.

    Satu jam setelah menembus macet sambil membunyikan sirine, Kijang Innova hitam milik polisi itu masuk ke dalam sebuah Pabrik Farmasi di Jalan Ahmad Yani Surabaya.

    Belok ke kanan menyeberang jalan seorang petugas satpam memberi aba-aba untuk lewat dan masuk ke dalam area parkir. Kendaraan terus masuk ke dalam dan belok kiri berhenti di teras bangunan berwarna putih.

    Di atap teras tersebut terdapat tulisan Astrolab Medicine, tulisan itu terlihat megah berwarna perak di timpa matahari. Mobil Innova yang mereka naiki terlihat lusuh diantara mobil mengkilat yang terparkir di halaman depan, sebuah mercedes E300, BMW X6 dan sebuah Porche Macan.

    Inspektur Rajiv turun dari pintu depan ia membuka pintu tengah menyaksikan Haji Jamal turun. Detektif senior itu masih lincah untuk ukuran pria berusia 55 tahun.

    Mereka berdua masuk ke dalam lobi, disana seorang wanita sudah siap menyambut. Wanita itu bernama Nesi, terlihat dari papan nama yang tertulis di dada kanannya. Ia mengucapkan selamat datang dan mengajak mereka berdua masuk ke dalam. Dari belakang tubuhnya tinggi semampai, pinggangnya kecil dan betisnya besar, ia  menggunakan stocking hitam nyaris tak ada cela. 

    Kita akan naik ke lantai dua, sebaiknya kita naik tangga saja karena siang ini biasanya lift penuh dan antri, ucap Nesi. Inspektur Rajiv mengangguk, mereka bertiga menaiki sebuah tangga dan tiba di lantai dua.

    Di sebelah kanan mereka terdapat pintu dari kaca dan di sebelah kiri mereka terlihat kaca tembus ke dalam beberapa ruangan laboratorium. Di sana puluhan orang sedang sibuk bekerja mengenakan pakaian putih dan tutup kepala.

    Selamat datang di Riset dan Pengembangan Astrolab, ucap Nesi sambil membuka pintu.   Anda sudah ditunggu oleh Ibu Susi, beliau adalah Manajer R&D yang bertugas disini.

    Inspektur Rajiv dan Haji Jamal masuk ke sebuah ruangan. Di dalamnya terdapat beberapa meja dan beberapa ruangan di pojokan. Luasnya kurang lebih dua puluh meter persegi. Sekilas Rajiv menghitung ada lima meja di bagian depan, tampaknya itu adalah tempat para kepala bagian yang memimpin tim kecil terdiri dari tiga sampai empat orang.

    Dari situ mereka membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan bertuliskan Manajer R&D. Seorang wanita  menyambut di dalam. Dia mengenakan kacamata, memiliki rambut sebahu. Ia mengenakan kemeja biru tua, dan mengenakan rok panjang dibawah lutut. Usianya diatas empat puluh tahun.

    Perkenalkan ini para petugas dari Polda Jatim. Nesi memperkenalkan mereka.

    Inspektur Rajiv menyalami wanita itu dan mempersilahkan Haji Jamal duduk di sofa sebelah kiri yang lebih luas.

    Selamat datang di Astrolab, ucap Ibu Susi, silahkan duduk Bapak-bapak.

    Namaku Haji Jamal. Pria itu memecah suasana. Panggil saja Haji Jamal.

    Rajiv menatap pria itu, merasa heran kenapa ia memanggil dengan tiga kata sementara wanita itu cukup memanggil Haji Jamal. Dia berkat, Saya Rajiv, dari Polda Jawa Timur.

    Baiklah darimana kita mulai, apakah saya atau anda ? tanya Ibu Susi. Ia menatap Haji Jamal yang terlihat mempersilahkan ia menjelaskan, tangannya terbuka menunjuk ke arah wajah Ibu Susi.

    Oke, kemarin seorang supervisor R&D, bawahanku ditemukan meninggal di Laboratorium. Kami sudah memeriksa tubuhnya dan melaporkan ke Polisi. Inspektur Rajiv apakah anda membawa laporan itu ? tanya wanita tersebut.

    Ya aku membawanya, jawab Rajiv mengeluarkan sebuah map berisi dokumen, map itu berwara cokelat muda dan bertuliskan kata rahasia di halaman depan. Ia memberikan kepada Haji Jamal yang terlihat sebal. Ini dokumen milik kami, maaf aku lupa memberikan kepada anda tadi.  

    Haji Jamal melotot, dia menatap Rajiv merasa tak percaya dengan apa yang ia lihat, seharusnya ia diberi dokumen itu kemarin namun kenapa ia baru menerimanya sekarang.

    BAB 2 LABORATORIUM RISET

    Sehari sebelumnya, petugas keamanan yang bertugas di pabrik Astrolab adalah Johan dan Rexy, mereka tahu bahwa di Laboaratorium R&D biasanya beberapa orang yang belum pulang mengurus beberapa sampel yang harus diteliti.

    Bukankah mereka mestinya sudah pulang, tanya Rexy yang bertugas jaga malam itu kepada Johan.  Mereka berdua naik ke lantai dua dan masuk ke ruang R&D mematikan lampu di luar lalu masuk ke dalam laboratorium.

    Di dalam laboratorium mereka a menemukan seorang wanita tengah tertidur di mejanya, dihadapan beberapa botol reagen, pewarna dan pH meter yang berkedip-kedip. Kepalanya terkulai ke atas meja ia duduk di sebuah kursi berlapis kain warna abu-abu. Suara alarm HPLC terdengar samar-samar tampaknya sejak tadi, saatnya sampel diambil dan dianalisa.

    Berlembar-lembar kertas bertumpuk di seberang mesin pencetak yang mencatat hasil penelitian. Rexy mengenal dari kejauhan itu adalah Wulan, supervisor peneliti di bagian itu.

    Hai Nona Wulan. Rexy memanggilnya sepertinya ia terlalu lelap tidur, Rexy mengetuk meja dengan senternya. Nona, apakah kau baik-baik saja ? Dia menatap wanita tak bergerak didepannya membuatnya merasa harus mengejutkannya. Brukkk..... Itu suara senter yang di ketuk ke atas meja. Tapi tak membuat wanita itu terkejut. Biasanya wanita itu akan langsung bangun jika mendengar para petugas masuk ke dalam ruangan. 

    Johan yang berada disamping Rexy segera mendekati Wulan memegang pergelangan tangan wanita itu. Kepalanya terlihat layu, ketika Johan sadar ia segera menarik tangannya tubuh wanita itu merosot dari kursinya dan terbanting ketanah. Seperti sebuah kertas yang tertiup angin.

    Suara keras menggema di dalam ruangan itu ketika tubuh wanita tersebut terbanting ke permukaan lantai yang licin. Ia mengenakan pakaian putih jas laboratorium, mulutnya tidak mengenakan masker sementara kepalanya mengenakan tutup kepala warna hijau. Ia tak bernafas pipinya menyentuh lantai tak ada gerakan di dadanya.

    Awas John, ucap rekannya, ia terlihat terkejut apalagi menyaksikan mulut Wulan yang mengeluarkan cairan seperti busa.

    Hei Rexy, ia tampaknya  tak sadarkan diri. Cepat kau panggil Ambulans. Johan menatap Rexy, ia melihat rekanya yang pucat, matanya melotot dan mulutnya maju kedepan tak sadar ia menggigit bibir bawahnya, tangannya menepuk-nepuk meja menenangakan dirinya  sendiri. 

    Tapi Rexy segera sadar ia berbicara di radio komunikasi, menghubungi posko keamanan di depan kantor, ia memerintahkan Andreas yang bertugas di posko depan untuk memanggil ambulans dan melaporkan kejadian ke Polisi. Suara Andreas yang berat menyahut penuh tanya

    Hai, apa yang terjadi, tanyanya penasaran, apakah ada yang pingsan disana?

    Rexy menjawab, Ah sudahlah cepat kau hubungi ambulans dan polisi. Ia gusar dan sebal. Lalu perhatiannya kembali kepada mayat didepannya.

    Jo, apakah ia sudah mati ? tanya Rexy.  Ia menunduk dan ikut jongkok di sebelah tubuh wanita itu, diseberangnya Johan memeriksa denyut nadi Wulan. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan menatap penuh pertanyaan kepada Rexy.

    Johan berkata,  Sepertinya ia sudah meninggal.

    Rexy berusaha tenang dan mengalihakan perhatian. Ok, tunggu aku matikan mesin yang berbunyi itu, katanya pada Johan.

    Kau tahu caranya ? tanya Johan menyaksikan Rexy masuk keruang instrumen yang ada dibagian tengah. Rexy melangkah maju  membuka pintu berdinding kaca menggeser ke arah kanan.

    Ya aku tahu. Ibu Susi pernah memberiku pengarahan. Rexy menurunkan sebuah sekring pengaman di balik pintu, sekring pengaman itu terdapat di dalam sebuah kotak terdiri dari dua tombol yang bisa diturunkan ketika keadaan darurat.

    Suara bergetar yang tadi ribut di lingkungan laboratorium berhenti secara otomatis.

    Mesin HPLC tersebut mengaktifkan mode mati, menyimpan data terakhir dan berada dalam mode standby.

    Suasana hening, tak ada alunan kipas dari cpu dan alat-alat yang berada didalam laboratorium, hanya ada suara kipas pendingin ruangan terdengar meniupkan angin. Rexy dan Johan tak berani bertindak lebih jauh, dua orang itu keluar dari dalam ruangan dan berjaga di pintu depan.

    Mereka menunggu, setelah tiga puluh menit di halaman pabrik Astrolab terlihat kerlap-kerlip lampu Ambulans dan dua buah mobil kijang Polisi.

    Sebuah mobil Ford Ranger membawa tim dari puslabfor, mereka sedang dalam perjalanan pulang dari Kota Malang dan mendapat laporan bahwa telah terjadi pembunuhan di Pabrik itu. Seorang dokter polisi, dr. Indra menyatakan bahwa Wulan telah tewas dan menemukan keanehan dari kematiannya.

    BAB 3 WAWANCARA

    Di dalam ruangan manajer riset dan pengembangan  Haji Jamal duduk menatap foto-foto wanita itu yang tergolek di lantai, ia sedang mengamati kemungkinan apa yang terjadi disekitarnya.

    Wulan, seorang Apoteker.. Ia membuka foto lain. Maaf foto ini di laboratorium yang mana.? tanya Haji Jamal. Ibu Susi menunjuk ke kiri, di balik kaca transparan ia bisa menyaksikan lima orang berada di dalam laboratorium tersebut. Di sana Haji Jamal. Ibu Susi menunjuk ke ruangan tepat di sebelahnya.  Mereka bisa menyaksikan beberapa orang berdiri, peneliti disana mereka tak peduli kepada aktivitas yang ada diluar ruangan.

    Tiga orang pria dan dua orang wanita mereka mengenakan jas praktikum warna putih, beberapa terlihat bercak cokelat yang menempel di kain warna putih. Mereka menggunakan buret untuk melakukan titrasi. Di bawahnya terlihat beberapa labu erlenmeyer yang tersusun rapi, cairan warna biru tua dan merah. Botol reagen warna cokelat tersusun rapi di lemari bagian belakang.

    Bolehkah kami masuk ke dalam dan memeriksa mereka ? tanya Inspektur Rajiv, ia memahami apa yang ada di benak Haji Jamal. Kesibukan di laboratorium mungkin bukan pemandangan yang menarik bagi seorang detektif.    Silahkan, Inspektur...maaf aku ada disini jika anda mencari aku. jawab Ibu Susi. Ia menjelaskan bahwa ia harus mengikuti rapat. Namun ia tidak lama dan akan kembali turun.

    Haji Jamal yang sejak tadi diam berkata kepadanya,  Aku memerlukan ruangan khusus untuk wawancara.

    Kami memiliki ruang rapat berkapasitas dua puluh orang. Apakah itu cukup untuk anda ? balas Ibu Susi. Dia menunjuk sebuah pintu di sebelah kanan. Mungkin itu ruangan yang ia maksud meski tidak jelas disana ada tiga buah pintu.

    Ya, sangat cukup, jawab Haji Jamal,  ijinkan kami bergerak di sekitar laboratorium ini dan wawancara.

    Silahkan, aku menghargai tugas anda untuk memeriksa irang-orang ini, jawab Ibu Susi. DIa berdiri dan membuka pintu ruangannya, lalu mempersilahkan kepada dua orang tamunya melangkah masuk kedalam ruangan laboratorium. Di dalam ruangan tersebut telah terjadi pembunuhan Wulansari seorang supervisor peneliti riset dan pengembangan.

    Haji Jamal berdiri disisi kiri Inspektur Rajiv, bau asam asetat yang menyengat hidung langsung membuatnya tidak nyaman. ia menatap kepada lima orang yang ada disana.

    Mereka sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Ada yang menggunakan buret, pH meter, atau menimbang bahan baku. Semuanya bergerak dan terlihat sibuk tak terlalu memperhatikan mereka, mereka meneteskan cairan, mengaduk dengan pengaduk seorang.

    Ehm,...di sini Wulan ditemukan tewas . Sahut Rajiv, dia menunjukkan sebuah ruangan di pojok, Rajiv membuka garis polisi dan membuka pintu. Di dalam ada sebuah  meja kerja di pojok.

    Letaknya di samping sebuah lemari berisi botol bahan kimia, Inspektur Rajiv menemukan sebuah stiker bertuliskan garis polisi yang di letakkan di atas meja. maaf sebentar. Rajiv membersihkan meja tersebut, mengambil potongan stiker dan plastik kuning panjang yang terlihat berserakan.

    Apakah sudah dibersihkan dan dicatat ? tanya  Haji Jamal.

    Ya sudah. Rajiv menjelaskan bahwa puslabfor sudah selesai dengan semua catatan yang ada di map nya. Menurut laporan ia menggenggam sebuah alat tulis, kata Rajiv. 

    Haji Jamal mengamati foto di tangannya, wanita itu matanya terpejam, rambutnya yang berwarna hitam pendek terlihat berantakan. Sebuah anting menempel seperti titik di telinganya, terbuat dari emas dan berlian. Ia mengenakan pakaian putih, tangan kirinya terjuntai menggantung di samping meja.

    Sebuah kamera Nikon dan selembar foto terletak di samping meja, rupanya ia mendokumentasi kegiatan di laboratorium tersebut.

    Lihatlah caranya menyusun penjepit kertas, warna hijau, terpisah dengan biru, kuning. Kau lihat dia memisahkan semua pinsil dengan pulpen dan pulpen tinta. Tak ada yang berserakan , dokumen tersusun rapi di samping sebelah kiri. Hmm, bandingkan dengan meja lain diluar sana.

    Rajiv tersenyum mengangguk mendengar penjelasan itu, dia bertanya, Apakah anda perlu memeriksa ruang instrumen ?

    Haji Jamal tersenyum ia mengangguk lalu bangkit dari kursinya dan masuk keruangan sebelah tempat beberapa instrumen diletakkan.

    Ruangan itu terpisah oleh pintu kaca yang bisa digeser ke arah kanan, ketika masuk mereka harus membuka sebuah pintu itu. Di dalam tempat itu terlihat dua orang sedang menunggu hasil pencetakan di mesin cetak komputer.

    Selamat siang tuan, ucap pria di dalam ruangan itu. Ia bernama Andi, tertulis di dadanya sebelah kanan. Ada yang bisa kami bantu ?

    Hmm, ya, aku memerlukan penjelasan tentang peralatan yang ketika itu aktif ketika Apoteker Wulan bekerja disini, ucap Haji Jamal dia mengetu-ngetukkan jarinya ke meja di depan mereka.Dia mengamati apakah meja itu terbuat dari kayu atau semen yang dituang membentuk meja panjang di bagian tengah laboratorium.

    Andi berkata,  Baiklah, bapak-bapak. didepan anda sebuah alat bernama High Performance Liquid Chromatography, Disebelahnya sebuah Densitometer, dan di pojok terdapat dua buah spektro fotometer. Di ujung sebelah kiri terdapat Spektrofotometer Infra merah dan ICPS. 

    Andi itu berhenti di depan HPLC, ia melanjutkan kalimatnya. Ini adalah alat yang digunakan ketika Ibu Wulan sedang meneliti malam itu, kami sedang melaksanakan pembakuan dan pengukuran kadar sirup obat batuk, mengukur kadar dextromethorpan yang ada di dalam sampel tersebut.

    Haji Jamal mengangguk-angguk, ia sibuk mengamati keadaan disekelilingnya.

    Andi, pria itu terlihat kurus, menggunakan sweater dan celana panjang hitam. Jas laboratoriumya warna putih dan terpercik sedikit bercak cokelat.

    Apakah suhu udara di ruang Instrumen ini memang lebih dingin ? Tanya Haji Jamal.

    "Ya benar, kami mengaturnya antara 17-21 derajat celcius. Bandingkan dengan ruangan diluar yang berkisar antara 22 sampai 25 derajat celcius.

    Menikmati pratinjau?
    Halaman 1 dari 1