Nikmati jutaan buku, buku audio, majalah, dan banyak lagi

Hanya $11.99/bulan setelah uji coba. Batalkan kapan saja.

Menumpas Setan Alas Setro Gondomayit

Menumpas Setan Alas Setro Gondomayit

Baca pratinjau

Menumpas Setan Alas Setro Gondomayit

peringkat:
1/5 (1 peringkat)
Panjangnya:
195 halaman
1 jam
Dirilis:
13 Des 2020
ISBN:
9781393872740
Format:
Buku

Deskripsi

Panji memerintah dengan arif bijaksana sehingga negri Jenggala menjadi adil dan makmur.  Meskipun demikian dia menemukan sedikit petunjuk ada ketidakberesan dalam pemerintahannya.   Dia lantas membentuk dua kesatuan pasukan untuk mencari dan mengatasi gerombolan pengacau keamanan yang bekum diketahui pasti.  Tidak lama kemudian kedua kesatuan pasukan itu lenyap.  Panji lantas terpaksa mencari cara mengatasi musuh yang tidak terlihat bagaikan setan tersebut.  Akhirnya dtemukan orang yang tepat untuk memimpin pasukan baru ini.   Tidak mudah mengatasi setan tersembunyi itu.  Dengan pertolongan Tuhan dan bantuan alam semesta didapatlah keterangan yang berharga.  Bagaimana selanjutnya?  Temukan keseruannya di dalam buku ini.  

Dirilis:
13 Des 2020
ISBN:
9781393872740
Format:
Buku

Tentang penulis

Bambang Udoyono is a writer, a tourist guide and a tour leader.  He conducts inbound tours to Indonesia and outbound tours abroad. He writes books on tourism, English, and culture.  Based on his experience he writes this book.


Terkait dengan Menumpas Setan Alas Setro Gondomayit

Buku Terkait

Kategori terkait

Pratinjau Buku

Menumpas Setan Alas Setro Gondomayit - Bambang Udoyono

Kemampuan bumi berkomunikasi dsisebutkan dalam di Al Qur’an :

Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. (QS. Al Zalzalah: 4-5)

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung. Maka, semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (QS. Al-Ahzab: 72).

1.Pembunuhan misterius di Tanggul Angin.

SETELAH PERANG BESAR dengan Sabrang Angin Panji naik tahta menggantikan ayahnya.  Dia didampingi istrinya Candra Kirana yang cantik jelita, cerdas dan solehah.  Sebagai patihnya dia menunjuk panglima yang dulu sangat berjasa dalam perang besar melawan tentara Sabrang Angin, yaitu Senapati Ranangggana. Sedangkan semua pahlawan dalam perang tersebut diberinya jabatan penting di istana atau menjadi penguasa wilayah. 

Panji mengadakan pertemuan rutin untuk membahas permasalahan kenegaraan setiap awal bulan.  Pada pertemuan itu patih dan semua penguasa wilayah dan semua mentri memberi laporan yang selalu baik. Namun Panji sering mendapat bisikan dari dua pembantu setianya Mbilung dan Kacuk bahwa ada desas desus di masyarakat. Konon ada pembunuhan, tawuran dan perang antar setan.  Awalnya Panji tidak menganggap serius omongan mereka tapi akhirnya dia merasa perlu menyelidiki kebenaran cerita itu setelah dia mendengar dua orang prajurit jaga malam yang berbisik bisik.

PANJI TERBANGUN DARI tidurnya tidak lama setelah tengah malam dalam suasana sangat gelap.  Tidak ada satupun lampu minyak di kamar itu.  Namun ada cahaya yang tidak terlalu terang dari obor yang dinyalakan di halaman rumah.  Sejenak dia masih berbaring meskipun kesadarannya sudah penuh.  Tangannya menyenggol istrinya Candra Kirana yang masih tidur di sisinya.  Pelan pelan dia bangkit duduk sebentar lalu membaca doa memuji Allah yang sudah menghidupkannya sesudah mematikannya.  Kemudian dia berjalan menuju ke jendela.  Ada celah kecil yang bisa dia pakai menengok keluar.  Tidak jauh dari kamarnya terlihat gardu penjagaan yang masih baru, agaknya dibuat beberapa hari sebelum kedatangannya ke desa Sukapura di lereng gunung Bromo yang asri dan dingin.

Malam itu Panji menginap di rumah Akuwu desa Sukapura setelah siangnya dia datang langsung dari ibukota. Tidak lama setelah naik tahta dia tengah dalam perjalanan untuk melihat keadaan negrinya.  Sengaja Panji berkelana ke desa desa dan kota kota di negrinya untuk memantau keadaan negrinya dan untuk membangkitkan semangat rakyatnya yang sebagian masih trauma karena perang besar dengan negri Sabrang Angin yang memakan banyak korban jiwa dan harta benda. Akuwu atau kepala desa Sukapura memiliki rumah yang paling besar dan paling megah di desa itu sehingga disiapkan untuk menerima kedatangan Panji yang sudah menjadi raja.

Panji yang sudah terbiasa bangun di sepertiga malam terakhir untuk beribadah malam itu ingin melihat suasana di sekitarnya.  Pelan pelan dia membangunkan istrinya lalu mengambil pedang pendek yang selalu ada di sisinya jika dia tidur. Berdua mereka melangkah pelan keluar rumah. 

Suasana malam sangat hening.  Udara dingin segera menyergap mereka ketika pintu terbuka.  Panji dan Candra Kirana melangkah pelan dengan tanpa bersuara.  Melihat ke sekeliling nampaklah tiga gardu penjagaan. Satu ada di depan rumah, dua di kiri kanan.  Ada satu lagi di belakang tapi tidak nampak. Panji berjalan menuju gardu yang di depan rumah.  Sepuluh orang prajurit dan seorang kepala yang berjaga di sana ternyata tidur semua sedangkan seharusnya mereka tidur bergiliran.  Timbul pikiran usil Panji.  Dia ingin memindahkan salah seorang ke bawah pohon bambu di seberang rumah Akuwu.  Ketika Paji mendekat mendadak salah seorang yang sedang tidur pulas berbicara sendiri dalam tidurnya.

‘Siapa yang membunuh Suta di Tanggulangin? Dia orang baik. Dia tidak bersalah kenapa dibunuh?  Pasti pembunuhnya orang jahat yang ketahuan oleh Suta. Jadi dia dibunuh’

Panji menyimak prajurit itu dengan harapan dia akan berbicara lebih banyak lagi. Tapi harapannya tidak terkabul. Prajurit itu meneruskan tidurnya dengan dengkuran yang makin keras. Ditunggu beberapa saat tapi prajurit itu tetap tidur.  Maka Panji memberi isyarat kepada istrinya agar tetap diam.  Dia lalu memijat bagian tertentu di kepala dan leher orang itu.  Akibatnya si prajurit tidur makin lelap.  Pelan pelan Panji mengangkatnya.  Dia melangkah menuju pohon bambu yang tumbuh lebat di seberang halaman rumah Akuwu.  Prajurit itu diam saja ketika Panji meletakkan tubuhnya di sana.  Tak seorangpun tahu keusilan Panji kepada anak buahnya.  Persis seperti ulahnya beberapa tahun lalu ketika dia masih belajar di padepokan Liyangan. Candra Kirana tersenyum melihatnya.  Panji lantas menuntun istrinya masuk kembali ke rumah.

Itu tadi teguran halus kepada mereka.  Seharusnya mereka tidur bergantian tapi malah tidur semua

Inggih Radyan, apakah mereka akan dihukum besok?

Tidak perlu, tapi aku akan bertanya kepada mereka besok subuh tentang keadaan malam ini. Sekarang mari kita sholat tahajud dulu

Inggih Radyan

Setelah agak lama mereka beribadah di dalam kamar yang cukup besar itu, terdengar suara Akuwu dan beberapa orang di pendopo depan yang dijadikan tempat solat.  Panji dan Candra Kirana segera keluar menemui mereka untuk solat berjamaah.  Melihat Panji keluar kamar segera saja Akuwu dan anak buahnya dan keluarganya menyambut dengan salam.

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh

Wa Alaikum salam wa rohmatullahi wa barokatuh

Akuwu, saya mau melihat anak buah saya dulu

Silahkan Radyan

Panji berjalan menuju ke gardu. Di sana mereka masih tertidur pulas semua. Panji menggoyangkan badan kepala prajurit yang bernama Dadap.  Ketika terbangun Dadap sangat terkejut. Dia segera duduk bersimpuh di tanah sambil menyembah dan memohon maaf.

Mohon maaf Dyan Panji.  Saya salah.  Saya siap dihukum

Bagus.  Sikapmu sudah benar. Kalau kamu berbuat salah, mengaku saja, jangan membela diri, dan siap menerima hukuman

Inggih Dyan Panji, saya siap dan ikhlas dihukum

Berapa anak buahmu?

Semuanya empat puluh orang.  Di gardu ini sepuluh orang, di gardu lain masing masing sepuluh

Aku lihat di sini cuma sembilan orang, ke mana yang satu? Apa yang terjadi semalam?

Dadap terkejut. Dia segera bangkit menengok ke gardu. Ketika menyadari hanya ada sembilan orang di sana, jadi ada satu orang yang hilang dia menjadi bingung. Sesaat dia diam, tidak tahu harus berbuat apa. Mendadak dari pohon bambu yang lebat dan gelap terdengar teriakan.

Semua orang kaget. Dadap segera melolos pedangnya.  Dia menggebrak anak buahnya yang masih tidur semua.  Mereka kaget dan segera terbangun.  Lebih kaget lagi melihat Panji, Dadap dan Akuwu serta anak buahnya sudah berdiri di depan mereka. Apalagi Dadap memegang pedang yang siap tempur.  Dadap berteriak menggertak mereka.

Bangun, cepat.  Siapkan diri kalian!

Dengan jantung berdebar dan muka pucat dan pikiran bingung mereka melolos pedang dan bersiap di belakang Dadap.  Suara teriakan dari pohon bambu masih terdengar keras membuat mereka semakin bingung.

Ampun, ampun. Ampuni aku 

Demikian suara teriakan itu. Lalu terdengar jeritan keras. Di tengah kebingungan dan ketegangan itu Panji lalu memberi aba aba kepada para prajurit. 

Ikuti aku, maju pelan pelan

Tidak lama kemudian beberapa prajurit yang berjaga di gardu lain ikut bergabung. Tapi Dadap menyuruh mereka kembali ke gardunya.

Kembali ke gardu kalian.  Siapa tahu ini pancingan agar semua orang ke sini dan gardu kalian kosong.  Siagakan semua orang!

Bagus, pintar kamu 

Panji memuji Dadap,  lalu dia memberi isyarat agar mereka mengikutinya. Dadap dan anak buahnya segera mengitari Panji untuk melindunginya dari segala kemungkinan. Akuwu dan anak buahnya membawa obor.  Terlihat seorang prajurit terbaring di bawah pohon bambu sambil mengigau.

Ampun, mohon maaf

Dadap maju lalu menggoyangkan badan anak buahnya.

Bangun, bangun kamu!

Prajurit itu segera terbangun.  Dia kaget dan bingung ketika menyadari dia dikellilingi banyak orang termasuk Panji.  Segera dia duduk bersimpuh dan menyembah Panji.

Mohon maaf Dyan Panji

Kenapa kamu tidur di sini?  Apa yang terjadi ? Kenapa kamu berteriak?

Panji bertanya kepada dia.

Mohon maaf, saya tidak tahu kenapa saya jadi tidur di sini.  Tadi saya bermimpi dimarahi oleh Dyan Panji karena saya tidur ketika sedang bertugas jaga

Jadi kamu memang tidur?

Mohon maaf, iya Dyan Panji, saya siap dihukum

Kali ini aku beri maaf kamu.  Sudah cepat ambil wudhu, sebentar lagi subuh

Inggih Dyan Panji

Dadap bernapas lega karena Panji tidak menghukumnya dan anak buahnya ditemukan selamat.  Dia lalu bergabung dengan Panji dan yang lainnya untuk solat subuh berjamaah di pendopo rumah Akuwu yang dijadikan tempat solat.

Pagi itu Panji dan rombongannya meneruskan perjalanan setelah dijamu makan pagi dengan sederhana oleh Akuwu.  Panji merasa puas dengan kunjungannya ke desa Sukapura itu yang dinilainya baik.  Namun ada satu hal yang menjadi catatannya yaitu isi igauan prajurit malam itu.

Sebenarnya Panji merencanakan mengunjungi beberapa daerah tapi melihat kemampuan prajuritnya yang mengecewakan malam itu maka dia membuat pertimbangan.  Kejadian igauan prajurit semalam membuat perasaannya tidak enak. Dia merasa ada sesuatu kejadian yang masih tersembunyi.  Intuisinya yang tajam mengatakan ada masalah dengan keamanan.  Agaknya masih ada gerombolan liar yang mengacaukan keamanan di beberapa daerah.  Meskipun belum ada bukti yang kuat dia yakin intuisinya selalu benar. Karena itu dia memutuskan untuk segera pulang hari itu juga.

Rombongan pasukan berkuda itu menarik perhatian seluruh warga desa. Meskipun Panji tidak memakai pakaian kebesaran dan hanya memakai pakaian sederhana yang ringkas, keanggunan rombongan itu masih sangat terasa. Apalagi ditambah kecantikan Candra Kirana yang jauh di atas rata rata membuat semua orang kagum sekali.  Kuda kuda pilihan yang besar dan gagah membuat pasukan berkuda itu sangat mengesankan.  Ketika mereka lewat semua orang duduk bersimpuh sambil menyatukan kedua tangan di depan dada atau di depan wajahnya.  Panji merasa haru melihat sambutan rakyatnya yang tulus dan lugu.  Sepanjang jalan dia dan Candra Kirana melambaikan tangannya.

Keberangkatan rombongan Panji tidak lepas dari tatapan mata tajam dari seseorang.  Wajahnya halus lembut tapi tatapannya sangat tajam.  Melihat Panji dan pasukan pengawalnya berangkat dia nampak agak terkejut. Sesaat kemudian dia buru buru berlari menuju ke suatu tempat. 

Desa Sukapura tidak terlalu jauh dari ibu  kota.  Perjalanan berkuda tidak memakan waktu terlalu lama.  Menjelang ashar rombongan Panji sudah memasuki ibukota dan langsung menuju ke masjid besar yang terletak di sebelah barat alun alun.  Jamaah ashar terkejut ketika melihat kedatangan rombongan Panji.  Mereka segera duduk dengan kedua tangan menyembah dan mengucap salam. Panji yang berkuda paling depan bersama Candra Kirana membalas salam mereka.

Tidak lama kemudian di masjid agung itu sudah berkumpul semua petinggi negara.  Senapati Rananggana sudah naik menjadi patih namun masih merangkap jabatan sebagai senapati atau pimpinan tertinggi tentara Kahuripan. Selesai solat Ashar Panji berbisik kepada patihnya yang duduk di sebelahnya.

Paman Patih, nanti malam kita berbincang tentang beberapa masalah

Inggih Dyan Panji

Sendiri saja paman patih, tidak perlu ada orang lain

Inggih Ra Dyan

Malam itu Patih Rananggana menghadap raja Panji Jayeng sabrang di kediaman pribadinya di dalam istana Jenggala.  Tidak seorangpun menemaninya.  Tidak juga pengawalnya yang menunggu di luar gerbang istana bersama para pengawal istana.

Setelah saling mengucapkan salam Panji langsung berbicara ke pokok persoalan.

Paman Patih, mungkin paman bertanya dalam hati mengapa aku pulang hari ini dan tidak melanjutkan perjalanan yang sudah direncanakan

Inggih Radyan, apa yang terjadi?

Kemarin aku berangkat ke desa Sukapura di lereng gunung Bromo yang udaranya dingin sekali.  Perjalanan ke sana lancar dan aman. Kami diterima dengan baik oleh seluruh warga desa dan Akuwu.  Malamnya kami menginap di rumah Akuwu.  Nah di tengah malam aku terbangun.  Aku kemudian menengok keluar, ke penjagaan. Ternyata semua prajurit tertidur pulas, termasuk si Dadap kepalanya

Patih Rananggana terkejut.

Mereka tidur semua?

Ya, mungkin karena kelelahan setelah seharian berkuda dari sini. Tapi mestinya yang tidur bergiliran, jangan semua tidur.  Jadi aku sangat kecewa dengan kemampuan mereka. Dalam keadaan demikian bagaimana kalau ada serangan mendadak?

Radyan Panji, sebaiknya kita segera mengganti kepala pasukan pengawal raja

Itu baik, tapi tidak cukup. Kita harus segera memperkuat pasukan tentara kita karena tantangan ke depan akan semakin berat.  Ancaman dari negri sendiri maupun dari mancanegara mangkin hari semangkin kuat. Jadi kita juga harus semangkin kuat

Inggih Radyan

"Baiklah aku perintahkan kepada paman sebagai senapati untuk menambah persenjataan kita dan menambah latihan dengan berbagai macam ketrampilan.

Anda telah mencapai akhir pratinjau ini. untuk membaca lebih lanjut!
Halaman 1 dari 1

Ulasan

Pendapat orang tentang Menumpas Setan Alas Setro Gondomayit

1.0
1 peringkat / 1 Ulasan
Apa pendapat Anda?
Penilaian: 0 dari 5 bintang

Ulasan pembaca

  • (1/5)
    katanya gratis 30 hari. pas dicoba gak bisa. gimana mau beli kalau gak bisa liat kwalitas isinya