Anda di halaman 1dari 15

SESI

Biaya Modal
TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Memahami sumber-sumber dana 2. Menentukan biaya masing-masing jenis modal 3. Menghitung biaya modal rata-rata tertimbang 4. Menggunakan biaya modal rata-rata tertimbang marjinal

Tujuan Instruksional Khusus

Menjelaskan konsep biaya modal dan menghitung biaya modal, Menyebutkan kegunaan biaya modal rata-rata tertimbang dan mengkalkukasikan besarnya modal rata-rata tertimbang Biaya modal individu : Obligasi, Saham Biasa, Saham Preferen, Laba Ditahan dan Biaya modal rata-rata tertimbang serta marjinalnya. 300 menit Weston & Copeland, Sundjaja & Barlian, Block & Hirt

Sub Pokok Bahasan

Estimasi Waktu Daftar Bacaan

20

SUMBER PENDANAAN
Secara umum ada dua jenis sumber dana yang paling sering digunakan, yaitu hutang dan saham. Hutang bisa terdiri atas hutang dagang, hutang bank atau hutang melalui obligasi. Pemberi hutang memperoleh kompensasi berupa bunga. Sedangkan Saham merupakan bentuk penyertaan. Saham bisa berupa private placement (penempatan dana tidak melalui pasar modal), bisa juga dengan membeli saham yang diperjualbelikan di pasar sekunder, misal di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Obligasi ( Bond )
Obligasi adalah surat berharga atau sertifikat yang berisi kontrak antara pemberi dana (dalam hal ini investor) dengan yang diberi dana (emiten). Jadi surat obligasi adalah selembar kertas yang menyatakan bahwa pemilik kertas tersebut telah membeli hutang perusahaan yang menerbitkan obligasi. Penerbit membayar bunga atas obligasi tersebut pada tanggal-tanggal yg telah ditentukan secara periodik, dan pada akhirnya menebus nilai utang tersebut pada saat jatuh tempo dengan mengembalikan jumlah pokok pinjaman ditambah bunga yg terutang. Pada umumnya, instrumen ini memberikan bunga yang tetap secara periodik. Bila bunga dalam sistem ekonomi menurun, nilai obligasi naik;dan sebaliknya jika bunga meningkat, nilai obligasi turun.

Kaitannya dengan obligasi, maka dikenal istilah-istilah berikut :

Face value atau nilai pari, menunjukkan besarnya nilai obligasi yang dikeluarkan. 2. Jatuh Tempo, merupakan tanggal ditetapkannya emiten obligasi harus membayar kembali uang yang telah dikeluarkan investor pada saat membeli obligasi. Jumlah uang yang harus dibayar sama besarnya dengan nilai pari obligasi. Tanggal jatuh tempo tersebut tercantum dalam sertifikat obligasi. 3. Bunga atau kupon, merupakan pendapatan (yield) yang diperoleh pemegang obligasi, yang mana periode waktu pembayarannya dapat berbeda-beda misalnya ada yang membayar sekali dalam tiga bulan, enam bulan atau sekali dalam setahun.

1.

21

Obligasi Konversi ( Convertible Bond )


Obligasi konversi, sekilas tidak ada bedanya dengan obligasi biasa, misalnya, memberikan kupon yang tetap, memiliki waktu jatuh tempo dan memiliki nilai pari. Hanya saja, obligasi konversi memiliki keunikan, yaitu bisa ditukar dengan saham biasa. Pada obligasi konversi selalu tercantum persyaratan untuk melakukan konversi. Misalnya, setiap obligasi konversi bisa dikonversi menjadi 3 lembar saham biasa setelah 1 Januari 2005. Persyaratan ini tidak sama diantara obligasi konversi yang satu dengan yang lainnya. Obligasi konversi sudah dikenal di pasar modal Indonesia. Untuk kalangan emiten swasta, sebenarnya obligasi konversi lebih dulu populer daripada obligasi. Kecenderungan melakukan emisi obligasi di bursa Indonesia mulai menunjukkan aktivitas yang meningkat sejak tahun 1992, sedang obligasi konversi sudah memasuki pasar menjelang akhir tahun 1990.

Saham Biasa ( Common Stocks )


Di antara surat-surat berharga yang diperdagangkan di pasar modal, saham biasa adalah yang paling dikenal masyarakat. Di antara emiten (perusahaan yang menerbitkan surat berharga), saham biasa juga merupakan yang paling banyak digunakan untuk menarik dana dari masyarakat. Jadi saham biasa paling menarik, baik bagi investor maupun bagi emiten. Secara sederhana, saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan. Wujud saham adalah, selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan kertas tersebut. Jadi sama dengan menabung di bank. Setiap kali seseorang menabung, maka orang tersebut akan mendapat slip yang menjelaskan bahwa dia telah menyetor sejumlah uang. Bila seseorang membeli saham, maka orang tersebut akan menerima kertas yang menjelaskan bahwa dia memiliki perusahaan penerbit saham tersebut.

Saham Preferen ( Preferred Stocks )


Saham Preferen merupakan saham yang memiliki karakteristik gabungan antara obligasi dan saham biasa, karena bisa menghasilkan pendapatan tetap (seperti bunga obligasi),

22

tetapi juga bisa tidak mendatangkan hasil seperti yang dikehendaki investor. Saham preferen serupa dengan saham biasa karena dua hal, yaitu: mewakili kepemilikan ekuitas dan diterbitkan tanpa tanggal jatuh tempo yang tertulis di atas lembaran saham tersebut; dan membayar dividen. Sedangkan persamaan antara saham preferen dengan obligasi terletak pada tiga hal: ada klaim atas laba dan aktiva sebelumnya; dividennya tetap selama masa berlaku (hidup) dari saham; memiliki hak tebus dan dapat dipertukarkan (convertible) dengan saham biasa. Oleh karena saham preferen diperdagangkan berdasarkan hasil yang ditawarkan kepada investor, maka secara praktis saham preferen dipandang sebagai surat berharga dengan pendapatan tetap dan karena itu akan bersaing dengan obligasi di pasar. Walaupun demikian, obligasi perusahaan menduduki tempat yang lebih senior dibanding dengan saham preferen

BIAYA MODAL INDIVIDUAL


Faktor-faktor yang mempengaruhi biaya modal
Ada beberapa factor yang mempengaruhi biaya modal, antara lain: Kondisi ekonomi secara umum (General economic conditions) , yang secara umum dapat mempengaruhi suku bunga Kondisi pasar (Market condition), yang mempengaruhi premi risiko Keputusan transaksi operasional (Operating decisions), yang mempengaruhi risiko bisnis Keputusan Keuangan (Financial decisions), yang mempengaruhi risiko keuangan Jumlah pendanaan (Amount of financing), yang mempengaruhi biaya emisi dan harga pasar sekuritas. Risiko bisnis merupakan risiko dimana perusahaan tidak dapat menutup biaya

operasional perusahaan, seperti pembayaran upah/gaji, pembelian bahan baku. Risiko keuangan merupakan risiko suatu perusahaan tidak dapat menutup kewajiban keuangan, seperti pembayaran bunga, biaya sewa guna usaha, dan dividen saham preferen. Hubungan antara biaya modal dengan kondisi tersebut dapat diformulasikan sebagai berikut:

23

Biaya modal = Biaya bebas risiko + Premi risiko bisnis + Premi risiko keuangan

Biaya modal adalah tingkat pengembalian yang harus dihasilkan perusahaan atas
investasi proyek untuk mempertahankan nilai perusahaan. Secara sederhana,biaya modal dapat diartikan sebagai tingkat keuntungan yang disyaratkan. Semakin tinggi risiko, maka semakin tinggi tingkat keuntungan yang disyaratkan. Jika risiko konstan: Pelaksanaan proyek dengan tingkat pengembalian di atas biaya modal akan meningkatkan nilai perusahaan; Pelaksanaan proyek dengan tingkat pengembalian di bawah biaya modal akan menurunkan nilai perusahaan.

Kegunaan menentukan biaya modal rata-rata tertimbang


Biaya modal dihitung atas sumber dana jangka panjang yang tersedia bagi perusahaan, sebab sumber tersebut menyediakan pembiayaan yang permanen. Hutang dagang dan akrual tidak dimasukkan ke dalam perhitungan biaya modal. Alasannya adalah karena untuk analisis penganggaran modal, hutang dagang dan sejenisnya dikurangkan dari aktiva lancar. Hal ini sesuai dengan prinsip pembiayaan yang menyarankan agar menggunakan sumber dana yang umur jatuh temponya lebih panjang dari umur proyek (investasi). Biaya modal digunakan sebagai discount rate untuk perhitungan analisis penganggaran modal (investasi aktiva tetap) dalam analisis NPV atau IRR. Discount rate tersebut sering juga disebut sebagai biaya modal rata-rata tertimbang (weighted average cost of capital) . Biaya modal pada dasarnya merupakan biaya modal rata-rata tertimbang dari biaya modal individual. Untuk menghitung biaya modal rata-rata tertimbang tersebut kita harus melakukan beberapa langkah: Langkah-langkah menghitung biaya modal rata-rata tertimbang 1. Mengidentifikasi sumber-sumber dana 2. Menghitung biaya modal individual (biaya modal untuk setiap sumber dana) 3. Menghitung proporsi dari masing-masing sumber dana 4. Menghitung rata-rata tertimbang dengan menggunakan proporsi dana sebagai

24

pembobot

Biaya Modal Hutang (k d )


Biaya modal hutang merupakan tingkat keuntungan yang disyaratkan yang berkaitan dengan penggunaan hutang. Karena bunga bisa dipakai sebagai pengurang pajak, maka biaya modal hutang yang sesungguhnya dihitung setelah pajak. Misalkan suatu perusahaan menerbitkan obligasi dengan kupon bunga 10%, dan tarif pajak yang dikenakan sebesar 40%, maka biaya modal hutang setelah pajak (kd) adalah 10% x (1-0,4) = 6%. Misalkan perusahaan menerbitkan obligasi dengan dengan kupon bunga 20% dengan nilai nominal Rp1 juta selama sepuluh tahun. Biaya emisi obligasi dan lainnya adalah Rp50.000 perlembar obligasi. Berdasarkan informasi tersebut, biaya modal hutang yang dibayarkan sebesar 21%. Arus kas yang berkaitan dengan emisi obligasi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut ini. C1 C2 C13 C10 Net CF = ----------- + ----------- + ---------- + + ----------- + Nilai nominal (1+kd)1 (1+kd)2 (1+kd)3 (1+kd)10

.Rumus 2.1a 200.000 200.000 200.000 200.000 950.000 = ----------- + ----------- + ---------- + + ----------- + 1.000.000 (1+kd)1 (1+kd)2 (1+kd)3 (1+kd)10

Kas masuk bersih yang diterima perusahaan adalah Rp1.000.000 Rp50.000 = Rp950.000. Biaya modal hutang (kd) sebelum pajak adalah21%, menggunakan tehnik perhitungan IRR. Cara lain dengan menggunakan formula sebagai berikut:

p f C + n Kd = p + f 2
.Rumus 2.1b

25

50000 200000 + 10 Kd := 10000000 950000 + 2

= 0,21

notasi: C bunga tahunan yang dibayar P nilai nominal obligasi f nilai pasar n umur jatuh tempo obligasi Bunga bisa dipakai sebagai pengurang pajak. Karena itu faktor pajak bisa dimasukkan agar diperoleh biaya modal hutang setelah pajak. Biaya modal hutang setelah pajak (tarif pajak 40%) dihitung sebagai. kd* kd* = kd (1 T) = 21% (1 0,4) = 12,6% .Rumus 2.2

Biaya Modal Saham Preferen


Saham preferen mempunyai karakteristik gabungan antara hutang dengan saham, karena merupakan bentuk kepemilikan (saham), tetapi dividen yang dibayarkan mirip dengan bunga karena bersifat tetap (pada umumnya). Perhitungan biaya modal saham preferen adalah sebagai berikut:

Dividend Required rate k p = ----------------------------.Rumus 2.3 Market Price Flotation Cost


Rumus 2.3 merupakan biaya modal saham preferen berdasarkan harga pasar bersih, bila berdasarkan harga saham preferen :

Biaya saham preferen, k p = -----------------------------

Dividen saham preferen, Dp


.Rumus 2.4

Harga saham preferen, P

26

Ilustrasi: perusahaan menerbitkan saham preferen dengan harga bersih Rp420 dan memberikan dividen sebesar Rp50, maka biaya modal saham preferen Dp 50

Biaya saham preferen, k p = ------- = ------- = 0,119 atau 11,90% P 420

BIAYA MODAL EKUITAS


Ada dua jenis pembiayaan pada ekuitas, yaitu laba ditahan ( retained earnings) yang berasal dari pembiayaan internal dan penerbitan saham biasa baru (new shares of

common stock) yang merupakan pembiayaan eksternal. Biaya modal saham dihitung
dengan mempertimbangkan biaya kesempatan (opportunity cost) yang tidak bisa diamati secara langsung. Oleh karenanya, ada beberapa pendekatan dalam menghitung biaya modal ekuitas.

Biaya modal ekuitas internal


Pertimbangan yang dilakukan untuk menghitung biaya modal ekuitas yang berasal dari pembiayaan internal adalah : Manajemen harus menahan laba yang diperoleh hanya jika perusahaan memperoleh pendapatan yang sama besarnya dengan peluang investasi terbaik dari pemegang saham pada tingkat risiko yang sama.

Biaya modal ekuitas internal sama dengan biaya kesempatan dari dana pemegang saham, metode yang dapat digunakan adalah Model pertumbuhan dividen (Dividend growth model) dan Capital Asset Pricing Model

D1 Ks = -------- + g P0

.Rumus 2.5 Dividend growth model

Tingkat pertumbuhan bisa dihitung dengan menggunakan formula berikut.

27

growth = ( 1 Dividend Payout Ratio ) ( Return on Equity ) .Rumus 2.6

Persamaan di atas mengatakan bahwa tingkat pertumbuhan merupakan fungsi dari pembayaran dividen dan return on equity. Jika perusahaan membayarkan dividen yang kecil (yang berarti menanamkan sebagian besar labanya kembali ke perusahaan), tingkat pertumbuhan diharapkan menjadi lebih tinggi. Dengan kata lain, tingkat pertumbuhan akan semakin kecil jika dividen yang dibayarkan semakin besar. Ilustrasi: Harga pasar saham biasa Rp600 dan emiten baru saja membayar dividen sebesar Rp30 per saham dengan tingkat pertumbuhan yang diharapkan 10%. 30 Biaya modal ekuitas internal, Ks = -------- + 0,1 = 0,155 atau 15,5%. 600

Ks = RF + (Rm RRF) Model

.Rumus 2.7 Capital Asset Pricing

Ilustrasi: Risiko sistimatis dari saham () 1,2 dan tingkat keuntungan investasi bebas risiko (RF), biasanya digunakan tingkat bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 5% dan tingkat keuntungan pasar yang diharapkan 13%. Untuk tingkat keuntungan pasar, dapat menggunakan tingkat keuntungan dari portofolio pasar. Contoh portofolio pasar yang bisa digunakan adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk kasus di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Biaya modal ekuitas internal, Ks = 5% + 1,2(13%-5%) = 14,6%

28

Biaya modal ekuitas ekternal


Jika perusahaan menerbitkan saham baru, biaya emisi (flotation cost) akan muncul. Biaya tersebut dipakai untuk membayar biaya yang berkaitan dengan penerbitan saham, seperti biaya akuntan, mencetak saham, dan lainnya. Penerimaan kas bersih dengan demikian akan lebih kecil setelah biaya emisi tersebut dimasukkan.

Untuk emisi saham biasa baru, maka harga pasar saham disesuaikan dengan biaya emisi (flotation cost) sehingga diperoleh harga pasar bersih (P0 - F). D1 Kn = ---------- + g (P0 F) Ilustrasi:

.Rumus 2.8 new common share

Harga pasar saham biasa Rp600 dan dividen tahun pertama sebesar Rp30 per saham dengan tingkat pertumbuhan yang diharapkan 10%. Bila perusahaan menerbitkan saham baru dikenakan biaya emisi sebesar 12%. 30 (1+0,1) Biaya modal ekuitas eksternal, Kn = --------------------- + 0,1 = 0,1625 600 (0,12)600

Beberapa pendekatan harga pasar


Beberapa pendekatan dapat digunakan untuk menemukan struktur modal yang tepat. Struktur modal yang tepat adalah kombinasi dari hutang dan ekuitas yang memaksimumkan nilai perusahaan, dan pada saat yang sama mempertahankan biaya modal keseluruhan relatif rendah. Berikut pendekatan yang berbeda dengan sebelumnya yakni Net Operating Income Approach dan Net Income Approach. Net Operating Income Approach: Pendekatan ini menuyimpulkan bahwa tidak ada

masalah bagaimana perusahaan mengkombinasikan struktur modal. Nilai perusahaan tidak ditentukan oleh tepatnya menata neraca bagian kanan (modal). Lebih lanjut, biaya modal

29

keseluruhan tidak akan berubah

dengan perubahan struktur modal. Oleh karenya, nilai

perusahaan ditentukan oleh kapitalisasi EBIT.

Ilustrasi 2.1 Menghitung nilai pasar perusahaan pendekatan NOI PT.Imut2 memiliki Rp400.000 hutang dengan bunga 7%. Biaya modal perusahaan sebesar 12% dan EBIT diharapkan sebesar Rp120.000. Pendapatan pemegang saham = Rp120.000 - Rp28.000 (7% bunga) = Rp92.000. Total nilai pasar = Rp120.000 / 0,12 = Rp1.000.000 Nilai pasar saham = Rp1.000.000 - Rp400.000 = Rp600.000 Biaya ekuitas = Rp92.000 / Rp600.000 = 15,3%

Net Income Approach: Perbeda dengan Net Operating Income Approach, Net Income Approach menyimpulkan bahwa struktur modal suatu perusahaan mempunyai pengaruh besar pada nilai perusahaan. Oleh karenanya, penggunaan leverage akan merubah keduanya, biaya modal dan nilai perusahaan. Net income dikapitalisasi will change both the cost of capital and the value of the firm. Net Income is capitalized dengan cara yang sama pada nilai pasar perusahaan.

Ilustrasi 2.2 Menghitung nilai pasar perusahaan pendekatan NI Mengacu pada ilustrasi 2.1. Nilai pasar saham = Rp92.000 / 15,3% = Rp601.307 Nilai total = Rp601.307 + Rp400.000 = Rp1.001.307 Biaya modal keseluruhan = Rp120.000 / Rp1.001.307 = 12%

Franco Modigliani and Merton Miller (MM) telah memberikan pedoman antara Net Operating Income Approach dan Net Income Approach. Modigliani and Miller menyimpulkan bahwa struktur modal bukan merupakan faktor utama dalam menentukan nilai perusahaan. Nilai ditentukan oleh keputusan investasi dan operasi yang menghasilkan arus kas. Namun, Mike Jenson, pendiri the Journal of Financial Economics, menyatakan bahwa setiap kali suatu perusahaan membuat perubahan pada struktur modal, maka perubahan tersebut akan memberi suatu signal pada investor. Signal ini mempengaruhi penilaian. Contoh, ketika Gubernur Bank Indonesia menyatakan sesuatu tentang suku bunga, sebuah signal terkirim ke pasar dan penilaian secara cepat berubah. Oleh

30

karenanya, perubahan struktur modal mempunyai dampak pada nilai suatu perusahaan.

Jenson juga mencatat bahwa manajer cenderung menjaga modal dan meminimalkan pembagian dividen kepada pemegang saham. Hal ini disebut pendanaan "pecking order" dimana manajer lebih menyukai sumber modal internal daripada sumber modal eksternal. Secara spesifik, perusahaan mempunyai urut-urutan preferensi dalam penggunaan dana. Skenario urutan dalam Pecking Order Theory adalah sebagai berikut ini. 1. Perusahaan memilih pendanaan internal. Dana internal tersebut diperoleh dari laba (keuntungan) yang dihasilkan dari operasi perusahaan. 2. Perusahaan menghitung target rasio pembayaran didasarkan pada perkiraan kesempatan investasi. 3. Karena kebijakan dividen yang konstan (sticky), digabung dengan fluktuasi keuntungan dan kesempatan investasi yang tidak bisa diprediksi, akan menyebabkan aliran kas yang diterima oleh perusahaan akan lebih besar dibandingkan dengan pengeluaran investasi pada saat-saat tertentu, dan akan lebih kecil pada saat yang lain 4. Jika pendanaan eksternal diperlukan, perusahaan akan mengeluarkan surat berharga yang paling aman terlebih dulu. Perusahaan akan memulai dengan hutang, kemudian dengan surat berharga campuran (hybrid) seperti obligasi konvertibel, kemudian saham preferen dan saham sebagai pilihan terakhir. Pecking order theory tersebut tidak mengindikasikan target struktur modal. Teori tersebut menjelaskan urut-urutan pendanaan. Manajer keuangan tidak memperhitungkan tingkat hutang yang optimal. Kebutuhan dana ditentukan oleh kebutuhan investasi. Teori pecking order bisa menjelaskan kenapa perusahaan yang mempunyai tingkat keuntungan yang tinggi justru mempunyai tingkat hutang yang lebih kecil

31

BIAYA MODAL RATA-RATA TERTIMBANG (WACC) Biaya modal rata-rata tertimbang (weighted average cost of capital) bermanfaat bagi perusahaan untuk menghitung cut off rate dari suatu proyek yang menggunakan kriteria investasi IRR dalam menentukan diterima atau ditolaknya usulan proyek tersebut atau sebagai discount rate bila analis menggunakan kriteria NPV. Ada 3 langkah dalam menghitung WACC, yaitu mengidentifikasi sumber-sumber dana, menghitung biaya modal individu dan proporsi dari masing-masing sumber dana. Idealnya, nilai pasar yang sebaiknya dipakai sebagai dasar perhitungan proporsi sumber dana, tetapi informasi nilai pasar tidak tersedia dengan mudah. Oleh karenanya, salah satu alternatif adalah menggunakan nilai buku. Nilai buku bisa diambil dari neraca keuangan perusahaan. Saham biasa masuk dalam kategori ekuitas, shareholders equity (saham biasa + laba yang ditahan + agio). Ilustrasi: Perusahaan menggunakan sumber dana berasal dari hutang dan saham. Jumlah hutang obligasi Rp80juta dengan biaya modal hutang sebelum dikenakan pajak sebesar 10% dan jumlah ekuitas Rp120juta dengan tingkat keuntungan yang disyaratkan oleh pemegang saham sebesar 12%. Tarif pajak 30%. No 1 2 Struktur Modal Hutang Ekuitas Komposisi Rp. 80.000.000 Rp. 120.000.000 Rp. 200.000.000 Proporsi 0,4 0,6 1,0 Biaya Modal 0,1 (1-0,3) 0,12 WACC 0,028 0,072 0,100

WACC = W d K d (1-T) + W e K e WACC = (0,4)(0,1)(1-0,3) + (0,6)(0,12) = 0,10

32

BIAYA MODAL MARJINAL (MCC) Biaya modal rata-rata tertimbang akan berubah bila salah satu komponen dari biaya modal berubah. Hal ini bisa terjadi ketika perusahaan menambah sejumlah besar modal, sehingga investor berpikir bahwa perusahaan akan semakin berisiko. Perubahan dari biaya modal rata-rata tertimbang karena adanya peningkatan jumlah modal disebut biaya modal marjinal (marginal cost of capital). Biaya modal marjinal berbeda dengan biaya modal rata-rata. Biaya modal marjinal merupakan biaya modal yang diperoleh sebagai akibat bertambahnya modal yang diperoleh perusahaan. Sebagai contoh, misal perusahaan menggunakan dua jenis hutang, pertama dengan nilai Rp100 juta dengan tingkat bunga 15%, kedua dengan nilai Rp200 juta dengan tingkat bunga 15%. Misalkan perusahaan melakukan pinjaman lagi sebesar Rp150 juta dengan tingkat bunga 18%. Biaya modal hutang marjinal adalah 18%, karena biaya tersebut merupakan biaya modal yang diperoleh dengan masuknya modal baru. Sedangkan biaya modal hutang rata-rata adalah (15% + 15% + 18%) / 3 = 16%.

Dalam perhitungan biaya modal, biaya modal marjinal adalah biaya modal yang relevan, karena biaya tersebut mencerminkan biaya di masa mendatang (yang akan diperoleh). Biaya modal rata-rata mencerminkan informasi masa lampau, yang tidak relevan lagi. Tetapi dalam beberapa situasi, perusahaan tetap menggunakan biaya modal masa lampau, karena alasan mudah dilakukan berdasarkan data laporan keuangan, yang berarti perusahaan menghitung biaya modal dengan menggunakan data masa lampau.

Proyek yang diterima (IRR > WACC)

MCC

IRR proyek 1

IRR proyek 2

IRR proyek 3

33

DISKUSI KELAS
1. Jelaskan secara argumentatif, mengapa seorang investor meminta tingkat pengembalian (rate of return) yang lebih tinggi untuk investasi pada proyek pengeboran minyak dibanding investasi pada proyek properti? 2. Jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengembalian yang diharapkan (required rate of return) oleh investor? 3. Jelaskan faktor-faktor yang menentukan besarnya biaya modal rata-rata tertimbang (weighted cost of capital)? 4. Sebutkan perbedaan biaya modal rata-rata dengan biaya modal marjinal? 1. Harga pasar saham biasa Rp 60. Deviden baru saja dibayar sebesar Rp.3 dan diperkirakan tingkat pertumbuhan 10%. Berdasarkan informasi tersebut saudara diminta untuk menentukan besarnya biaya modal saham biasa. 2. Beta saham diestimasikan sebesar 1,2. Tingkat investasi bebas risiko (risk-free rate asset) 5% dan diperkirakan return pasar 13%. Berdasarkan informasi tersebut saudara diminta untuk menentukan besarnya biaya ekuitas. 3. PT.Imut2 memiliki struktur modal sebagai berikut: Hutang (obligasi) Rp. 80.000.000 Saham preferen Rp. 20.000.000 Ekuitas Rp. 100.000.000 Pajak 40% dan Biaya modal masing-masing: Obligasi 10,00% Saham preferen 11,90% Laba ditahan 15,00% Saham baru 16,25% Berdasarkan informasi tersebut hitung besarnya biaya modal rata-rata tertimbang bila saudara memanfaatkan a) Laba ditahan atau b) menerbitkan saham biasa baru.

SOAL TEORI

SOAL APLIKASI

34