Anda di halaman 1dari 27

BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM

RUMAH SAKIT DUSTIRA/FAK KEDOKTERAN UNIVERSITAS JENDRAL ACHMAD YANI

CIMAHI
Nama Penderita Jenis Kelamin : Tn.Ahmad : Laki-laki Ruangan Umur : VIII : 60 tahun No.Cat. Med: 18.29.36 Agama Bangsa : Islam : Indonesia

Jabatan/Pekerjaan : Pensiunan bag.operasional DAMRI Nama & Alamat Keluarga : Marga mulya 268 RT/RW 07/08 Cimahi

Dikirim Oleh

: Keluarga

Tgl. Dirawat :12 Desember 2006

Jam : 16.00

Tgl. Diperiksa (Co-Ass) : 13 Desember 2006 Tgl. Keluar : 14 Desember 2006 Jam : 12.00

Keadaan waktu pulang : sembuh/perbaikan/pulang paksa/lain-lain Penderita meninggal pada tgl. : Jam :

Diagnosa/Diagnosa Kerja : Dokter : Hipertensive Heart Failure + dyspepsia Co-Ass : Hipertension heart disease- Mitral Insuffisiency- Myocardial Ischemia- Congestive heart failure Fc III

A. ANAMNESA (Auto/Hetero)
KELUHAN UTAMA : Sesak nafas

ANAMNESA KHUSUS : Pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan sesak nafas yang sering terjadi terutama saat beraktivitas berat yang pertama kali terjadi sekitar 3 bulan yang lalu.Keluhan selalu berulang setiap kali pasien melakukan aktivitas yang berat seperti olahraga lari. Keluhan tidak dirasakan membaik seiring berjalannya waktu. Keluhan sesak nafas berkurang ketika pasien beristirahat. Keluhan sesak nafas dsertai dengan kelelahan yang terjadi bersamaan dengan timbulnya sesak nafas. Keluhan sesak nafas tidak disertai dengan adanya pembengkakan kaki atau pembengkakan di daerah perut.

Keluhan sesak nafas disertai dengan kuit yang berwarna kebiru-biruan. Warna kebiru-biruan terutama terjadi Sekitar 2 bulan yang lalu penderita menglami perdarahan melalui hidungnya lalu dibawa ke puskemas oleh orang tuanya. Penderita tidak pernah menglamai demam selama terjadinya demam sesaat sebelum atau sesudah terjadinya perdarahan. Penderita tidak diketahui memilik riwayat penyakit jantung saat masa kanakkanak. Penderita juga tidak memiliki riwayat pengobatan penyakit paru yang lama

Lima jam sebelum masuk RS, penderita mengeluh sesak nafas yang dirasakan saat penderita sedang menyapu halaman rumah, kemudian penderita dibawa ke UGD RS dustira karena O2 di rumah penderita habis. Keluhan disertai nyeri di bagian tengah dada selama 10 menit dan nyeri di bagian ulu hati yang membaik dengan pemberian Cedocard 10 mg. Nyeri dada tidak disertai penjalaran ke bagian bahu kiri, rahang, lengan kiri atau punggung kiri. Keluhan sesak nafas tidak disertai dengan panas badan, suara mengi, dan tidak disertai dengan batuk berdahak dan darah.

Penderita sering cepat lelah dan sesak nafas apabila beraktivitas berat, yang pertama kali dirasakan sejak 4 tahun yang lalu. Keluhan sesak nafas makin sering dirasakan, bahkan saat penderita beraktivitas ringan seperti berjalan ke kamar mandi, dan dapat membaik dengan pemberian O2 dirumah. Penderita sehari-harinya merasa lebih nyaman tidur dengan posisi berbaring menggunakan 2-3 bantal serta duduk dengan kedua kaki menggantung. Penderita sering terbangun dari tidurnya karena sesak nafas. Keluhan juga disertai bengkak di kedua kaki dan tungkai , yang lebih terasa membengkak di siang hari, hal ini diketahui dari sepatunya yang terasa menyempit. Keluhan bengkak di kedua kaki dan tungkai, tidak disertai dengan bengkak di bagian tubuh lain seperti kelopak mata, muka, atau perut.

Penderita memiliki riwayat penyakit jantung dan hipertensi sejak 4 tahun yang lalu, semenjak itu, penderita berobat secara rutin ke Poli Jantung RS Dustira , dan diberi obat Cedocard 3X10 mg, Captopril 12,5 mg, Furosemide dan Letonal. Penderita terakhir kali dirawat pada tanggal 23 November 2006 selama 3 hari, dan pulang dengan perbaikan. Tensi rata-rata penderita adalah 140/90 mmHg. Penderita tidak mengetahui tensi tertingginya. Penderita tidak memiliki riwayat penyakit kencing manis dan penyakit asma. Tidak ada keluarga penderita yang memiliki riwayat penyakit jantung, hipertensi, kencing manis, maupun asma. Penderita tidak pernah merokok dan tidak pernah memiliki kadar kolesterol yang tinggi.

a.

Keluhan keadaan umum : Panas badan Tidur Edema Ikterus Haus Nafsu makan Berat badan : Tidak ada : Ada : Ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

Diare Obstipasi Tenesmi ad anum

: Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

Perubahan dalam BAB : Tidak ada Perubahan dalam miksi : Tidak ada Perubahan dalam haid :-

f. Keluhan tangan dan kaki : Rasa kaku Rasa lelah Nyeri otot/sendi Kesemutan/baal Patah tulang : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

b.

Keluhan organ kepala : Penglihatan Hidung Lidah Gangguan menelan Pendengaran Mulut Gigi Suara : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

Nyeri belakang sendi lutut: Tidak ada Nyeri tekan Luka/bekas luka Bengkak : Tidak ada : Tidak ada : Ada

g. Keluhan-keluhan lain : Kulit Ketiak : Tidak ada : Tidak ada

c.

Keluhan organ di leher : Rasa sesak di leher : Tidak ada

Pembesaran kelenjar : Tidak ada Kaku kuduk d. : Tidak ada

Keluhan kelenjar limfe : Tidak ada Keluhan kelenjar endokrin : 1. Haid 2. DM 3. Tiroid 4. Lain-lain :: Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

Keluhan organ di thorax : Sesak nafas Sakit dada Nafas berbunyi Batuk Jantung berdebar : Ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

e. Keluhan organ di perut : Nyeri lokal Nyeri tekan Nyeri seluruh perut : Ada : Ada : Tidak ada

ANAMNESA TAMBAHAN a. Gizi : kualitas kuantitas b. Penyakit menular c. Penyakit turunan d. Ketagihan e. Penyakit venerik : Cukup : Cukup : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

Nyeri berhubungan dengan : Makanan BAB Haid : Tidak ada : Tidak ada :-

Perasaan tumor di perut : Tidak ada Muntah-muntah : Tidak ada

B. STATUS PRAESEN
I. KESAN UMUM : a. Keadaan Umum Kesadarannya Watak Kesan sakit Pergerakan Tidur Tinggi badan Berat badan Keadaan gizi - Gizi kulit - Gizi otot Bentuk badan : Cukup : Cukup : Piknikus : Compos Mentis : Kooperatif : Tampak sakit sedang : Kurang aktif : Terlentang dengan 2 atau 3 bantal : 167 cm : 85 kg

Umur yang ditaksir : Sesuai Kulit : Turgor cukup

b. Keadaan Sirkulasi Tekanan darah kanan : 120/90 mmHg kiri Nadi : 120/90 mmHg

kanan : 93 x/menit, regular, equal, isi cukup kiri : 93 x/menit, regular, equal, isi cukup : 36,5 C : Tidak ada : Tidak ada

Suhu Keringat dingin Sianosis c. Keadaan Pernafasan : Tipe Frekwensi Corak

: Abdomino-thoracal : 30 x/menit : Tachipnoe

Hawa/bau nafas : Tidak ada kelainan Bunyi nafas : Tidak ada kelainan

II. PEMERIKSAAN KHUSUS : a. Kepala : 1. Tengkorak : - Inspeksi - Palpasi 2. Muka : - Inspeksi - Palpasi 3. Mata : Letak Kelopak mata Kornea Refleks kornea Pupil : Simetris : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : +/+ : Bulat, isokor : Simetris : Tidak ada kelainan : Simetris : Tidak ada kelainan

Reaksi konvergensi : +/+ Sklera Konjungtiva Iris Pergerakan Reaksi cahaya Visus Funduskopi 4. Telinga : Inspeksi Palpasi Pendengaran 5. Hidung : Inspeksi Sumbatan Ingus : Tidak ada kelainan : Tidak ada : Tidak ada : Simetris : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Ikterik -/: Anemis +/+ : Tidak ada kelainan : Normal ke segala arah : Direk +/+, Indirek +/+ : Tidak ada kelainan : Tidak dilakukan pemeriksaan

6. Bibir : Sianosis Kheilitis : Tidak ada : Tidak ada

Stomatitis angularis : Tidak ada Rhagaden Perleche 7. Gigi dan gusi : Tidak ada : Tidak ada : 87654321 12345678 87654321 12345678 8. Lidah : Besar Bentuk Pergerakan Permukaan 9. Rongga mulut : Hiperemis Lichen Aphtea Bercak 10. Rongga leher : Selaput lendir : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Basah, bersih O = caries dentis X = gigi tanggal

Dinding belakang pharynx : hiperemis Tonsil b. Leher : 1. Inspeksi : - Trakea - Kel.tiroid : Tidak ada deviasi : Tidak ada kelainan : T1- T2

- Pembesaran vena : Tidak ada - Pulsasi vena leher : Tidak nampak - Tekanan vena jugularis : JVP meningkat (5 + 3 cmH2O) 2. Palpasi : - Kel. getah bening :Tidak teraba membesar

- Kel. Tiroid - Tumor - Otot leher - Kaku kuduk c. Ketiak : Inspeksi : - Rambut ketiak - Tumor Palpasi :

: Tidak ada kelainan : Tidak ada : Tidak ada kelainan : Tidak ada

: Tidak ada kelainan : Tidak ada

- Kel. getah bening : Tidak teraba - Tumor d. Pemeriksaan Thorax : Thorax depan : Inspeksi : Bentuk umum : Simetris : Tidak ada

Diameter frontal - sagital : Diameter frontal > diameter sagital Sudut epigastrium : < 90 Sela iga Pergerakan Kulit Muskulatur Tumor Ictus cordis Pulsasi lain Pelebaran vena : Sela iga tidak melebar ,tidak menyempit : Simetris : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada : Terlihat di ICS V Linea axillaris anterior sinistra : Tidak ada : Tidak ada

Palpasi : Kulit Muskulatur Mammae : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan

Sela iga Paru- paru : Pergerakan

: Sela iga tidak melebar, tidak menyempit Kanan : Simetris kanan kanan = = Kiri kiri kiri

Vocal Fremitus : Normal

Ictus Cordis : Lokalisasi Intensitas Pelebaran Thrill : Melebar di ICS IV-V-VI Linea axillaris anterior sinistra : kuat angkat : Tidak ada : Tidak ada

Perkusi : Paru-paru : Suara perkusi : Sonor Kanan Kanan = Kiri Kiri

Batas paru-hepar : ICS VI Linea midclavicularis dextra Peranjakan : Satu sela iga

Jantung : Batas atas Batas kanan Batas kiri 4. Auskultasi Paru-paru : Suara pernafasan pokok : Vesikuler Kanan kanan Kiri kiri : ICS III Linea Parasternalis Sinistra : Linea sternalis dextra : ICS VI Linea axillaris anterior sinistra

Suara tambahan

: Ronkhi Wheezing

(+) (-)

(+) (-)

Vokal Resonansi : Normal

Jantung : Irama : Reguler

Bunyi jantung pokok : M1 > M2 T1 > T2 A1< A2 Splitting

P1 < P2 A2 > P2

: Bunyi jantung I : Tunggal Bunyi jantung II : keras / Wide splitting

Bunyi jantung tambahan : Tidak ada Bising jantung : Tidak ada : Tidak ada

Bisik gesek jantung Thorax belakang : Inspeksi : Bentuk Pergerakan Kulit Muskulator Palpasi : Sela iga Muskulatur

: Simetris : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan Kanan : Tidak melebar, tidak menyempit : Tidak ada kelainan kanan = kiri Kiri

Vocal Fremitus : Normal

Perkusi : Batas bawah Peranjakan Auskultasi : Suara pernafasan : Vesikuler, Suara tambahan : Ronkhi Wheezing Vokal resonance : Normal : : Satu sela iga

Kanan Vertebra Th X

Kiri Vertebra Th XI

Kanan (+) (+) (-) (-) Kanan =

Kiri

Kiri

10

e. Abdomen : Inspeksi : Bentuk Otot dinding perut Kulit : Cembung : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan

Pergerakan waktu nafas : Tidak ada kelainan Pergerakan usus Pulsasi Venektasi Palpasi : Dinding perut Nyeri tekan lokal : Lembut : Ada (regio epigastrium dan regio hipokandrium kanan) Nyeri tekan difus Nyeri lepas Defence Musculair Hepar : Teraba/tidak teraba Besar Konsistensi Permukaan Tepi Nyeri tekan Lien : Pembesaran Konsistensi Permukaan Incissura Nyeri tekan : Tidak teraba, ruang Traube kosong :::: Tidak ada : Tidak Teraba :::::: Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak terlihat : Tidak ada : Tidak ada

11

Tumor/massa : Tidak teraba Ginjal Nyeri tekan Perkusi : - Suara perkusi - Ascites Pekak samping Pekak pindah Fluid Wave : Tympani : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak teraba, Ballotement ginjal -/: Tidak ada

Auskultasi Bising usus Bruit Lain-lain : (+) Normal : Tidak ada : Tidak ada

f. CVA (Costovertebra Angle) : Nyeri ketok -/g. Lipat paha : Inspeksi : Tumor Kel.getah bening Hernia Palpasi : Tumor : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

Pembesaran kelenjar : Tidak ada Hernia : Tidak ada

Pulsasi A. femoralis : (+) Auskultasi : A. femoralis h. Genitalia i. Sakrum j. Rectum & anus : (+)

: Tidak dilakukan pemeriksaan : Tidak ada kelainan, edema (-) : Tidak ada kelainan atas : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Akral dingin : Tidak ada kelainan bawah Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Akral dingin Tidak ada kelainan

k. Extremitad (anggota gerak) : Inspeksi : Bentuk Pergerakan Kulit Otot

12

Edema Clubbing finger Palmar eritem

: Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Palpasi :

Nyeri tekan Tumor

: Tidak ada : Tidak ada

Edema (pitting/non pitting):edema pitting a.r. pretibial dan dorsum pedis -/Pulsasi arteri l. Sendi-sendi : Inspeksi : Kelainan bentuk Tanda radang Lain-lain Palpasi : Nyeri tekan Fluktuasi Lain-lain m. Neurologik : Refleks fisiologik : - KPR : +/+ - APR : +/+ Refleks patologik Rangsangan meningen Sensorik : : : -/Tidak ada +/+ : Tidak ada kelainan : Tidak ada : Tidak ada kelainan : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada kelainan : Tidak ada

13

III. PEMERIKSAAN PENUNJANG PEMERIKSAAN LABORATORIUM

DARAH Hb : 9,0gr/dL URINE Warna : Kuning Lekosit : 7700/mm3 Eritrosit : 4.6 jt/mm Trombosit: 11.000/ mm Hitung jenis : Basofil :0%

Bakteri : -

FAECES Warna : Kuning kecoklatan Bau : Indol skatol Konsistensi : Lunak Lendir Darah Parasit Eritrosit Lekosit : : : : : -

Kekeruhan : Jernih Bau BJ Reaksi Albumin Reduksi Urobilin Bilirubin Sedimen : Leukosit : 1-2/LPB Eritrosit : 1-2/LPB Kristal : sedikit : Amoniak : 1,015 : Asam : : : : + -

Eosinofil : 3 % Batang Segmen Limfosit Monosit :2% : 57 % : 33 % :5%

Telur cacing : Sisamakanan:-

kristal asam urat dan kristal jarum

LED : 1 jam pertama = 9 mm/jam 2 jam pertama = 19 mm/jam

PEMERIKSAAN LAINNYA EKG Sinus, takhikardia, Heart rate 125 Right axis deviation

14

Left ventrikel hipertrophy

15

IV. RESUME Penderita seorang laki-laki berumur 60 tahun, pekerjaan pensiunan bagian operasional DAMRI, sudah menikah, datang dengan keluhan utama sesak nafas. Pada anamnesis lebih lanjut, Lima jam SMRS, penderita mengalami dyspnea pada aktifitas ringan, disertai chest pain retrosternal dan nyeri epigastrium yang membaik dengan Cedocard 5mg. Chest pain tanpa penjalaran. Keluhan dyspnea tidak disertai febris, wheezing ataupun batuk berdahak dan darah. Sejak 4 tahun yang lalu, penderita sering merasa malaise dan fatigue karena aktivitas berat, yang makin berat dirasakan walaupun hanya beraktivitas ringan seperti ke kamar mandi, yang membaik dengan pemberian O2 dimiliki dirumah. Penderita mengalami orthopnea, dyspnea paroxismal (nocturnal),edema pretibial dan dorsum pedis tanpa disertai edema di bagian tubuh lain Riwayat penyakit kardiovaskuler dan hipertensi sejak 4 tahun yang lalu, berobat teratur dengan obat Cedocard 3X10mg, Captopril 12,5 mg, Furosemide, dan Letonal. Terakhir kali dirawat pada 23 november 2006 selama 3 hari, pulang dengan perbaikan. Tensi rata-rata 140/90 mmHg, tensi tertinggi tidak diketahui. Riwayat penyakit diabetes mellitus dan asma tidak dimiliki. Riwayat penyakit kardiovaskuler, hipertensi, asma maupun Diabetes mellitus pada keluarga penderita tidak dimiliki. Penderita tidak merokok dan tidak memiliki kadar kolesterol yang tinggi. Pada pemeriksaan fisik didapat, Keadaan umum Kesadaran : Compos mentis Kesan sakit : tampak sakit sedang Tekanan darah : 120/90 mmHg Nadi : 93 x/menit Pernafasan : 30 X/menit Suhu : 36,5 C Sianosis : Tidak ada Keringat dingin: Tidak ada Pucat : Tidak ada Pada pemeriksaan fisik lebih lanjut, 1. Kepala Muka : simetris Mata : sklera ikterik -/Konjungtiva anemis -/THT : Tonsil T1-T1 tenang, pharing tidak hiperemis 2. Leher

16

3.

4. 5.

6. 7.

KGB : Tidak teraba membesar JVP : meningkat (5+3 cmH20) Thorax depan : Bentuk dan gerak simetris Cor: Inspeksi : Ictus cordis terlihat di ICS VI Linea axillaris anterior sinistra Palpasi : Ictus cordis teraba, kuat angkat ICS VI Linea axillaris anterior sinistra Pelebaran tidak ada Thrill tidak ada Perkusi : Batas atas : ICS III, Linea parasternalis sinistra Batas kanan: Linea sternalis dextra Batas kiri : ICS VI, Linea axillaris anterior sinistra Auskultasi : BJ I-II reguler, BJ II wide splitting. Sistolik murmur grade II/VI, punctum max di apex Pulmo : VBS kanan =kiri Ronchi -/-, wheezing -/Thorax belakang: bentuk dan gerak simetris Pulmo : Ronchi basal basah halus +/+, wheezing -/Abdomen : Cembung Hepar : teraba 5 cm BAC, 4 cm BPX Konsistensi kenyal, permukaan rata, tepi tumpul, nyeri tekan (+) Lien : tidak teraba, ruang traube kosong. Ren : tidak teraba, Ballotement (-) Extremitas : edema pitting (pretibial dan dorsum pedis) +/+ Neurologik : tidak ada kelainan Pada pemeriksaan Laboratorium didapatkan : Darah : dalam batas normal Urine : dalam batas normal Faeces : dalam batas normal

V. DIAGNOSA BANDING Hypertension heart disease Mitral Insufficiency - Myocardial IschemiaCongestive Heart Failure Fc III

17

VI. DIAGNOSA KERJA Hypertension heart disease Mitral Insufficiency - Myocardial IschemiaCongestive Heart Failure Fc III

VII. USUL PEMERIKSAAN 1. 2. 3. 4. 5. EKG Foto thorax PA Echocardiografi Kimia darah (ureum, kreatinin,gula darah PP,gula darah sewaktu) SGOT,SGPT

VIII. PENGOBATAN Non farmakologi : Diet rendah garam Kurangi asupan cairan Istirahat posisi setengah duduk Farmakologi : O2 3-4 liter/menit ISDN 10 mg sublingual 3 x 1 Spironolakton 100 mg PO 1 x 1 Furosemide 10 mg/ml Inj 1 x 1 Captopril 12,5 mg 1 X 1

IX. PROGNOSIS Quo ad vitam : ad malam Quo ad functionam : ad malam

18

TINJAUAN PUSTAKA

Bentuk Gagal Jantung Gagal jantung curah tinggi dan curah rendah (high-output dan low-output) o Gagal jantung curah tinggi : gagal jantung dengan curah jantung meninggi Curah jantung tidak melebihi batas atas normal (walaupun meningkat dari pengukuran sebelum gagal jantung) tapi lebih mungkin dekat dengan batas atas normal. Terlihat pada pasien dengan gagal jantung dan hipertiroidisme, anemia, kehamilan, fistula arteriovenosa, beri-beri dan penyakit Paget. o Gagal jantung curah rendah : gagal jantung dengan curah jantung rendah. Curah jantung dalam keadaan normal pada saat istirahat (meskipun lebih rendah daripada sebelumnya) tapi tidak mampu meningkat secara normal selama pengerahan tenaga. Terjadi sekunder terhadap penyakit jantung iskemik, hipertensi,

kardiomiopati dilatasi, penyakit katup dan perikard. Gagal jantung akut dan kronik o Hanya menunjukkan saat atau lamanya gagal jantung terjadi dan berlangsung. o Gagal jantung akut : gagal jantung yang terjadi mendadak, misalnya pada : miokard infark yang luas, ruptur katup jantung. Gagal jantung akut biasanya bersifat sistolik, penurunan mendadak curah jantung sering menimbulkan hipotensi sistemik tanpa edema perifer. o Gagal jantung kronik : gagal jantung terjadi secara perlahan atau karena gagal jantungnya bertahan lama dengan pengobatan yang diberikan, misalnya pada penyakit-penyakit katup jantung, kardiomiopati atau gagal jantung akibat infark lama. Gagal jantung kiri dan kanan

19

o Adanya cairan bendungan di belakang ventrikel yang gagal merupakan petanda gagal jantung pada sisi mana yang terkena. o Adanya kongesti pulmonal pada infark ventrikel kiri, hipertensi, dan kelainankelainan pada katup aorta serta mitral menunjukkan gagal jantung kiri. o Gagal jantung kana : gambaran klinis : cairan yang terbendung akan berakumulasi secara sistemik, terlihat sebagai edema tungkai, asites, hepatomegali, serta efusi pleura. Gagal jantung backward dan forward o Gagal jantung backward : apabila ventrikel aggal untuk memompakan darah, maka darah akan terbendung dan tekanan di atrium serta vena-vena di belakangnya akan naik serta retensi garam dan air terjadi sebagai konsekuensi dari meningkatnya tekanan vena sistemik dan tekanan kapiler serta terjadinya transudasi cairan ke ruang interstitial. o Gagal jantung forward : manifestasi gagal jantung timbul akibat tidak cukupnya pengeluaran darah jantung (cardiac output) ke dalam peredaran darah sistemik sehingga terjadi pengurangan perfusi organ-organ vital beserta akibat-akibatnya. Menurut konsep ini, retensi garam dan air merupakan konsekuensi dari penurunan perfusi ginjal dan reabsorbsi natrium di tubulus proximal dan distal yang berlebihan akibat aktivasi sistem renin-angiotensialdosteron. Gagal jantung sistolik dan diastolik o Gagal jantung sistolik : gagal jantung yang terjadi sebagai akibat abnormalitas fungsi sistolik, yaitu ketidakmampuan ventrikel memompakan darah. Penyebab : gangguan kemampuan inotropik miokard. o Gagal jantung diastolic : abnormalitas kerja jantung pada fase diastolik yaitu kemampuan pengisian darah pada ventrikel (terutama ventrikel kiri) misalnya ada iskemi jantung yang mendadak, hipertrofi ventrikel kiri dan kardiomiopati restriktif. Tandanya : fungsi sistolik ventrikel biasanya normal.

20

Patofisiologi Gagal Jantung

Chronic Volume Or preassure load

Coronary Primary heart disease etc. myocardial damage obstruction

SV

CO

Blood Preassure

Sympathetic tone
Atrial preassure
Vasoconstriction (centeralization)

cathecholamines

Organ Perfusion Skeletal muscle Skin heat removal

Symptoms : Fatigue Sweating tachycardia

kidney
distension

Volume load

Remodellin g
Arrhytmia

ADH
Renin Angiotensin II
RPF falls more deeply than GFR

hypervolemia

Filtration fraction

Local endothelin TGF1FGF NO1PGI2

Aldosterone

GFR

Peritubular oncotic preassure

Salt and water retention

Salt and water resorption

Symptoms : Peripheral edema nocturia

Venous preassure
Systemic Pulmonary cappilary preassure

21

Manifestasi klinis Dyspnea Ortopnea (dyspnea pada posisi berbaring) : terjadi karena redistribusi cairan dari abdomen dan ekstremitas bawah ke dalam rongga dada yang menyebabkan penekanan pada diafragma. Sesak hilang bila pasien kembali pada posisi duduk. Pasien ini harus meniggikan kepalanya dengan cara tidur menggunakan beberapa buah bantal. Dyspnea paroksismal (nocturnal) : depresi pusat pernafasan selam tidur mungkin mengurangi ventilasi yang cukup, dan fungsi ventrikel yang semakin terganggu pada malam hari akibat berkurangnya rangsangan adrenergic pada miokard. Pernafasan cheyne-stokes (pernafasan periodik atau siklik) : perubahan PO2 dan PCO2 arteri (PO2 dan PCO2) merangsang pusat penekanan pernafasan sehingga menimbulkan hiperventilasi dan hipokapnia diikuti dengan apnea. Kelelahan, kelemahan dan berkurangnya kapasitas exercise : berkurangnya kemampuan jantung untuk menghantarkan oksigen ke otot yang sedang exercise. Gejala cerebral : pada pasien usia lanjut dengan arteriosklerosis serebral, penurunan perfusi serebral, hipoksemia arterial. Gejalanya berupa : bingung, kesulitan konsentrasi, gangguan mengingat, sakit kepala, insomnia dan kecemasan.

22

Temuan fisik Gagal jantung berat : tekanan nadi berkurang menunjukkan penuruan volume sekuncup. Gagal jantung akut : yang menonjol adalah hipertensinya Distensi vena jugularis : terjadi akibat peningkatan tekanan vena sistemik Bunyi jantung ketiga dan keempat (tidak spesifik) : terjadi pada gagal jantung berat disebabkan oleh berkurangnya jumlah unit kontraktil selama kontraksi yang lemah dan atau leh perubahan dalam volume akhir diastolik ventrikel. Ronki basah, krepitasi pada saat inspirasi : ditemukan dari asukultasi di basal paru pada pasien gagal jantung dengan peningkatan tekanan kapiler serta vena pulmonalis. Edema : biasanya terjadi pada daerah yang tergantung, terjadi pada tungkai bawah secara simetris terutama pada daerah pretibia dan mata kaki, timbul terutama pada malam hari pada pasien rawat jalan dan pada daerah sacrum pada pasien tirah baring. Hidrothorax (efusi pleura) : terjadi pada gagal jantung kongestif akibat peningkatan tekanan kapiler pleura dan transudasi cairan ke ruang pleura akibat peningkatan tekanan vena pleura, vena pulmonalis dan vena sistemik. Asites : akibat meningkatnya tekanan vena hepatika dan vena yang mendrainase peritoneum Hepatomegali kongestif : hati besar, lunak, berdenyut akhibat hipertensi vena sistemik. Ikterus : temuan lanjut pada gagal jantung kongestif akibat gangguan fungsi hati sekunder terhadap kongesti paru dan hipoksia hepatoseluler. Kaheksia : karena : o Meingkatnya konsentrasi sirkulasi dari TNF

23

o Meningkatnya

laju

metabolik

akibat

kerja

ekstra

otot

pernafasan,

meningkatnya kebutuhan oksigen dan jantung yang hipertrofi. Anoreksia : mual dan muntah karena penyebab sentral terhadap intoksikasi digitalis, hepatomegali kongestif, dan rasa penuh pada abdomen. Gangguan absorbsi usus karena kongesti vena intestinal Enteropati dengan kehilangan protein (jarang) terutama pada pasien gagal jantung kanan berat. Ekstremitas dingin, pucat, diaforetik (berkeringat berlebihan) akibat menurunnya aliran darah. Aliran urine berkurang dan urin mengandung albumin Impotensi dan depresi : gagal jantung yang berat yang berlangsung lama

Pemeriksaan Radiologis

Pembesaran ruang jantung tertentu Distensi vena pulmonal dan peningkatan corakan pembuluh darah paru Efusi pleura dan efusi interlobar

Diagnosis banding

Penyakit paru Vena varikosa, edema siklik, efek gravitasi : pada edema pergelangan kaki tapi tidak disertai hipertensi vena jugularis saat istirahat atau dengan penekanan diatas abdomen.

Penyakit ginjal : edema, tapi biasanya dapat dikenali dengan tes fungsi ginjala yang sesuai dan urinalisis, serta jarang berkaitan dengan peningkatan tekanan vena.

24

Sirosis hepatis : hepatomegali dan asites tapi tekana vena jugularisnya normal dan tidak ada reflux abdominojugularis yang positif (tekanan vena saat istirahat normal, namun menjadi tidak normal pada saat mengerahkan tenaga atau dengan memberikan tekanan pada abdomen.

Tata Laksana Gagal Jantung

Tata laksana gagal jantung didasarkan pada usaha untuk menentukan diagnosis yang tepat, menyingkirkan kelainan yang menyerupai gagal jantung sambil memberika pengobatan untuk mengurangi keluhan. Tindakan dan pengobatan pada gagal jantung ditunjukkan pada 4 aspek : 1. 2. 3. 4. Mengurangi beban kerja jantung Memperkuat kontraktilitas miokard Mengurangi kelebihan cairan dan garam Melakukan tindakan dan pengobatan khusus terhadap penyebab, faktor pencetus, dan kelainan yang mendasari.

25

DAFTAR PUSTAKA Kasper (ed). HARRISONS PRINCIPLES OF INTERNAL MEDICINE, 16th ed. New York : McGraw-Hill Companies Inc, 2005 Braunwald. Heart disease, textbook of Cardiovasculer medicine, Saunders Company,2002 Lang, Silbernagl. Color atlas of pathophysiology, Germany : Sttutgart New York, 2000 JNC VII express, The Seventh Report of the Joint National Committee. Prevention, detection,evaluation and treatment of high blood pressure. NIH publicatin, december 2003. JAMA and Archive journal, American journal Price, Sylvia A. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Edisi 6. Jakarta : EGC 2006 Huon H Gray et.al, Kardiologi, edisi keempat, Jakarta : Erlangga, 2005 Rilantono I.L dkk, Buku ajar Kardiologi ,cetakan ulang 2002. Jakarta : Gaya baru, 2002

26

Perhimpunan dokter spesialis penyakit dalam Indonesia, Standar pelayanan medik, edisi khusus 2005. PB PAPDI Modul Patologi klinik, cetakan ketujuh. Cimahi: laboratorium patologi klinik 2006

27