KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga revisi dan penyusunan kembali ”Kebijakan Obat Nasional (KONAS)” telah dapat diselesaikan. Kemajuan teknologi membawa perubahan yang radikal dibidang farmasi khususnya obat. Globalisasi yang ditandai dengan entry barrier perdagangan internasional yang semakin tipis menyebabkan produk farmasi secara cepat dapat tersebar ke seluruh pelosok tanah air, dan pada saat yang sama kecenderungan tingkat konsumsinya terus meningkat. Dengan telah tersusunnya KONAS, dapat menjadi landasan, arah dan pedoman penyelenggaraan pembangunan kesehatan khususnya dibidang obat, yang meliputi pembiayaan, ketersediaan, pemerataan dan keterjangkauan obat, seleksi obat esensial, penggunaan obat rasional, pengawasan, penelitian dan pengembangan, pengembangan sumber daya manusia dan pemantauan serta evaluasi. Kesemuanya ini merupakan upaya dalam mewujudkan Visi Depkes yaitu "Masayarakat Yang Mandiri Untuk Hidup Sehat” serta Misi Depkes yaitu "Membuat Rakyat Sehat.” Dengan diterbitkannya KONAS dalam bentuk buku diharapkan dapat memberikan informasi yang menjangkau seluruh penyelenggara

1

kesehatan, baik pemerintah pusat, propinsi dan kabupaten/kota, maupun masyarakat dan dunia usaha, serta pihak lain yang terkait.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu memberikan petunjuk dan kekuatan kepada kita semua dalam melaksanakan pembangunan kesehatan dengan menyediakan pelayanan kesehatan yang bermutu bagi semua orang, guna memperoleh derajat kesehatan yang setinggitingginya, sebagai perwujudan hak asasi manusia.

Jakarta,

September 2006

Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan

Drs. Richard Panjaitan, Apt, SKM NIP 470 034 655

2

SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

Kesehatan adalah hak asasi manusia dan setiap penduduk berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal sesuai dengan kebutuhan tanpa memandang kemampuan membayar. Dalam upaya pelayanan kesehatan, ketersediaan obat dalam jenis yang lengkap, jumlah yang cukup, terjamin khasiatnya, aman, efektif dan bermutu, dengan harga terjangkau serta mudah diakses adalah sasaran yang harus dicapai. Kemajuan teknologi telah membawa perubahan yang radikal dibidang farmasi dan alat kesehatan. Globalisasi yang ditandai dengan entry barrier perdagangan internasional yang semakin tipis menyebabkan produk farmasi dan alat kesehatan secara cepat dapat tersebar ke seluruh pelosok tanah air. Pada saat yang sama kecenderungan tingkat konsumsi produk farmasi dan alat kesehatan terus meningkat. Obat merupakan salah satu komponen yang tak tergantikan dalam pelayanan kesehatan. Obat adalah bahan atau paduan bahan-bahan yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi termasuk produk biologi. Akses terhadap obat terutama obat esensial merupakan salah satu hak azasi manusia. Dengan demikian penyediaan

3

obat esensial merupakan kewajiban bagi pemerintah dan lembaga pelayanan kesehatan baik publik maupun swasta. Kebijakan Pemerintah terhadap peningkatan akses obat telah ditetapkan antara lain dalam Undang-Undang No 23 tentang Kesehatan, Peraturan Pemerintah, Indonesia Sehat 2010, Sistem Kesehatan Nasional (SKN) dan Kebijakan Obat Nasional (KONAS). Dalam subsistem Obat dan Perbekalan Kesehatan dalam SKN, penekanan diberikan pada ketersediaan obat, pemerataan termasuk keterjangkauan dan jaminan keamanan, khasiat dan mutu obat. KONAS dapat menjadi landasan, arah dan pedoman

penyelenggaraan pembangunan kesehatan khususnya dibidang obat yang meliputi pembiayaan, ketersediaan, pemerataan dan

keterjangkauan obat, seleksi obat esensial, penggunaan obat rasional, pengawasan, penelitian dan pengembangan, pengembangan sumber daya manusia dan pemantauan serta evaluasi. Penyusunan KONAS ini dilakukan dengan peran aktif berbagai pihak di pusat dan daerah, lintas sektor, lembaga swadaya masyarakat, dunia usaha, organisasi profesi, akademisi dan para pakar. Pada kesempatan ini, saya selaku Menteri Kesehatan

menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak atas perhatian, bantuan dan masukan serta kontribusinya dalam penyusunan KONAS tersebut.

4

September 2006 5 . Jakarta.Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tuhan Yang Maha Esa memberikan ridho serta kemudahan untuk "Membuat Rakyat Sehat” dalam mewujudkan "Masyarakat Yang Mandiri Untuk Hidup sehat”.

Strategi IV. Pengawasan Obat 43 G. Latar belakang B. Tujuan C.DAFTAR ISI KATA PENGANTAR SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN DAFTAR ISI I. POKOK-POKOK DAN LANGKAH-LANGKAH KEBIJAKAN 31 A. Pembiayaan Obat 31 B. Penelitian Dan Pengembangan 45 6 . Seleksi Obat Esensial 39 E. Perkembangan B. LANDASAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI A. Penggunaan Obat Yang Rasional 41 F. PENDAHULUAN A. Landasan Kebijakan B. III. Tantangan i iii vii 5 5 3 10 11 15 21 23 26 26 27 II. Ketersediaan dan Pemerataan Obat 33 C. Ruang Lingkup ANALISIS SITUASI dan KECENDERUNGAN A. Peluang D. Keterjangkauan 36 D. Permasalahan C.

PENUTUP 46 47 49 7 .H. Pemantauan Dan Evaluasi V. Pengembangan Sumber Daya Manusia I.

6. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3671). Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 67. 7. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 100. perlu ditetapkan kembali Kebijakan Obat Nasional dengan Keputusan Menteri. 3. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 138). Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 10. bahwa sehubungan dengan pertimbangan huruf a. Undang-Undang Obat Keras ( Staatsblad 1949 Nomor 419 ). b. : 1. 5. baik internal maupun eksternal.KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 189/MENKES/SK/III/2006 TENTANG KEBIJAKAN OBAT NASIONAL MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3495). sejalan dengan Sistem Kesehatan Nasional. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3452). 4. perlu diambil langkah kebijakan di bidang obat secara nasional. Tambahan Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 3698). Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Mengingat 8 . Menimbang : a.. bahwa dalam rangka mengantisipasi berbagai perubahan dan tantangan strategis. 2.

Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952). 9. 8.Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54. 9 . Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1575/Menkes/Per/ XI/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 131/Menkes/SK/II/2004 tentang Sistem Kesehatan Nasional.

: Kebijakan Obat Nasional dimaksud Diktum Kesatu sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan ini. Keempat Keenam Ditetapkan di JAKARTA Pada tanggal 27 Maret 2006 10 . pemerataan. maka Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 47/Menkes/SK/II/1983 tentang Kebijaksanaan Obat Nasional dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi.MEMUTUSKAN: Menetapkan : Kesatu Kedua Ketiga : KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN TENTANG KEBIJAKAN OBAT NASIONAL. dan keterjangkauan obat secara berkelanjutan. : Dengan ditetapkannya Keputusan ini. : Kebijakan Obat Nasional sebagaimana dimaksud Diktum Kedua agar digunakan sebagai pedoman bagi semua pihak yang terkait dalam rangka ketersediaan. : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Obat merupakan salah satu komponen yang tak tergantikan dalam pelayanan kesehatan. pencegahan. Obat berbeda dengan komoditas perdagangan lainnya. karena selain merupakan komoditas perdagangan. adil dan merata. Akses terhadap obat terutama obat esensial merupakan salah satu hak azasi manusia. obat juga memiliki fungsi sosial. peningkatan kesehatan dan kontrasepsi termasuk produk biologi. KEBIJAKAN OBAT NASIONAL 2006 i . Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010 antara lain meningkatkan kesadaran. LATAR BELAKANG Pokok-pokok rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010. menggariskan arah pembangunan kesehatan yang mengedepankan paradigma sehat. Kebijakan Pemerintah terhadap peningkatan akses obat diselenggarakan melalui beberapa strata kebijakan yaitu Undang-Undang sampai Keputusan Menteri Kesehatan yang mengatur berbagai ketentuan berkaitan dengan obat. kemauan dan kemampuan hidup sehat dan memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan bermutu. pemulihan. penyembuhan.Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 189/MENKES/SK/III/2006 Tanggal 27 Maret 2006 KEBIJAKAN OBAT NASIONAL I. PENDAHULUAN A. Obat adalah bahan atau paduan bahan-bahan yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis. Dengan demikian penyediaan obat esensial merupakan kewajiban bagi pemerintah dan lembaga pelayanan kesehatan baik publik maupun swasta.

Namun demikian. Kebijakan Obat Nasional selanjutnya disebut KONAS adalah dokumen resmi berisi pernyataan komitmen semua pihak yang menetapkan tujuan dan sasaran nasional di bidang obat beserta prioritas. Dalam subsistem tersebut penekanan diberikan pada ketersediaan obat. Beberapa negara berkembang telah memanfaatkan obat tradisional dalam pelayanan kesehatan. Salah satu subsistem SKN 2004 adalah Obat dan Perbekalan Kesehatan. pemerataan termasuk keterjangkauan dan jaminan keamanan. yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan No. arah dan pedoman penyelenggaraan pembangunan kesehatan bagi seluruh penyelenggara kesehatan. propinsi dan kabupaten/kota. serta pihak lain yang terkait. baik pemerintah pusat. Dengan demikian KONAS merupakan bagian integral dari SKN 2004. salah satunya adalah bidang pelayanan kesehatan. maupun masyarakat dan dunia usaha. 47/Menkes/SK/II/1983 tentang Kebijaksanaan Obat Nasional dengan menetapkan Kebijakan Obat Nasional yang baru.SKN 2004 memberikan landasan. Hal ini mengakibatkan penyediaan dan atau pengelolaan anggaran untuk pengadaan obat esensial yang diperlukan masyarakat di sektor publik menjadi tanggung jawab KEBIJAKAN OBAT NASIONAL 2006 ii . mengakibatkan beberapa peran pemerintah pusat dialihkan kepada pemerintah daerah sebagai urusan wajib dan tugas pembantuan. strategi dan peran berbagai pihak dalam penerapan komponen-komponen pokok kebijakan untuk pencapaian tujuan pembangunan kesehatan. terutama dalam pelayanan kesehatan strata pertama. Menindak lanjuti kebijakan tersebut perlu dilakukan perbaikan terhadap kebijakan obat nasional yang telah ada. pada umumnya efektivitas dan keamanannya belum didukung oleh penelitian yang memadai. Penggunaan obat tradisional di Indonesia merupakan bagian dari budaya bangsa dan banyak dimanfaatkan masyarakat.. Mengingat hal itu dan menyadari Indonesia sebagai mega senter tanaman obat di dunia perlu disusun Kebijakan Nasional Obat Tradisional terpisah dari KONAS ini. khasiat dan mutu obat. Penerapan otonomi daerah pada tahun 2000 berdasarkan UU 22/1999. yang diperbaharui dengan UU 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah.

perbatasan. Keterjangkauan dan penggunaan obat yang rasional merupakan bagian dari tujuan yang hendak dicapai. Semua obat yang beredar harus terjamin keamanan. Keamanan. Bersamaan dengan itu masyarakat harus dilindungi dari salah penggunaan dan penyalahgunaan obat. Untuk daerah-daerah terpencil. B. kepulauan dan daerah rawan bencana.pemerintah daerah yang sebelumnya merupakan tanggung jawab pemerintah pusat. 3. perlu dikembangkan sistem pengelolaan obat secara khusus. dan keterjangkauan obat. khasiat dan mutu semua obat yang beredar serta melindungi masyarakat dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan obat. pemerataan. agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. khasiat dan mutu obat. TUJUAN KONAS dalam pengertian luas dimaksudkan untuk meningkatkan pemerataan dan keterjangkauan obat secara berkelanjutan. Ketersediaan. Pelaksanaan otonomi daerah telah membawa perubahan mendasar yang perlu dicermati agar ketersediaan obat esensial bagi masyarakat tetap terjamin. Penggunaan obat yang rasional. terutama obat esensial. Pemilihan obat yang tepat dengan mengutamakan penyediaan obat esensial dapat meningkatkan akses serta kerasionalan penggunaan obat. KEBIJAKAN OBAT NASIONAL 2006 iii . 2. khasiat dan mutunya agar memberikan manfaat bagi kesehatan. Dengan demikian tujuan KONAS adalah menjamin : 1. Namun pemerintah pusat masih mempunyai kewajiban untuk penyediaan obat program kesehatan dan persediaan penyangga (buffer stock) serta menjamin keamanan.

Obat juga dapat merugikan kesehatan bila tidak memenuhi persyaratan atau bila digunakan secara tidak tepat atau disalahgunakan.2 % per tahun pada periode tahun 2000-2005 menjadi 0. maka angka pertumbuhan penduduk akan turun dari 1. keterjangkauan obat. PERKEMBANGAN Penggunaan obat bagi kesehatan dan kesejahteraan ditujukan bagi masyarakat Indonesia yang saat ini berjumlah 219 juta jiwa. diagnosis. Obat sebagai salah satu unsur yang penting dalam upaya kesehatan.79 % per tahun pada periode 2005-2025. Tuntutan aspek teknologi dan ekonomi tersebut semakin besar dengan adanya globalisasi. obat sebagai produk industri farmasi tidak lepas dari aspek teknologi dan ekonomi. ANALISIS SITUASI DAN KECENDERUNGAN. pencegahan. mulai dari upaya peningkatan kesehatan. KEBIJAKAN OBAT NASIONAL 2006 iv . II. dan diproyeksikan pada tahun 2020 akan berjumlah sekitar 252 juta jiwa dengan kecenderungan-kecenderungan sebagai berikut. penggunaan obat rasional. namun tuntutan ini pada dasarnya dapat diperkecil sedemikian rupa sehingga kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi sedangkan industri farmasi dapat berkembang secara wajar. Disamping merupakan unsur yang penting dalam upaya kesehatan. penelitian dan pengembangan. pengobatan dan pemulihan harus diusahakan agar selalu tersedia pada saat dibutuhkan. pengembangan sumber daya manusia dan pemantauan serta evaluasi. RUANG LINGKUP Ruang lingkup KONAS meliputi pembangunan di bidang obat untuk menjamin terlaksananya pembangunan kesehatan dalam upaya mendapatkan sumber daya manusia berkualitas. ketersediaan dan pemerataan. pengawasan. KONAS mencakup pembiayaan. seleksi obat esensial .C. A. Dari komposisi penduduk. Apabila tingkat kelahiran dan tingkat kematian terus menurun mengikuti laju penurunan tingkat fertilitas dan mortalitas.

Proyeksi angka Umur Harapan Hidup (UHH) tahun 2005 adalah 69. Namun keberhasilan beberapa intervensi yang dilakukan di beberapa daerah tersebut belum sempat diperluas.000 kelahiran hidup.3 per 1. Kalimantan Timur. Akses masyarakat terhadap obat esensial dipengaruhi oleh empat faktor utama. Sebelum diberlakukannya otonomi daerah.000 kelahiran hidup dan tahun 2025 diperkirakan menjadi 15. harga yang terjangkau.8 % pada tahun 2020.5 per 1. serta peningkatan jumlah segmen angkatan kerja dan usia lanjut secara bermakna di tahun 2025. penggunaan dan sebagainya. Prevalensi kurang energi kalori (KEK) pada Balita tahun 2005 diproyeksikan sebesar 23 % dan tahun 2025 menjadi 17 %. Angka Kematian Ibu (AKI) tahun 2005 sebesar 262 per 100.7 tahun. pemerataan dan keterjangkauan. diperkirakan 50-80 % dari masyarakat Indonesia memiliki akses terhadap obat esensial. Evaluasi penerapan KONAS pada tahun 1997 menunjukkan kerasionalan penggunaan obat relatif lebih baik. pembiayaan. Kalimantan Barat dan Sumatera Barat dan telah menampakkan hasil pada tahun 1991. Jawa Timur. telah terjadi krisis ekonomi yang memberikan dampak negatif pada pelaksanaan kerasionalan penggunaan obat.000 kelahiran hidup. sistem suplai. Beberapa intervensi terhadap kepatuhan penggunaan obat yang rasional telah dilakukan di beberapa daerah seperti di Provinsi Nusa Tenggara Barat.9 % dari jumlah penduduk seluruhnya dan diproyeksikan akan menjadi 76.000 kelahiran hidup dan tahun 2025 diperkirakan menjadi 102 per 100. yang perubahannya diperkirakan akan mulai terlihat sejak tahun 2005 ini. Jumlah tenaga kerja tahun 2000 sebesar 69. pembiayaan yang berkelanjutan. Angka Kematian Bayi (AKB) tahun 2005 sebesar 32.terjadi kecenderungan penurunan jumlah penduduk usia muda dan balita.0 tahun dan tahun 2025 diperkirakan menjadi 73. dan sistem pelayanan kesehatan beserta sistem suplai yang dapat menjamin ketersediaan. Regulasi bidang obat mencakup aspek persyaratan produk. yaitu penggunaan obat yang rasional. proses produksi. Penerapan regulasi KEBIJAKAN OBAT NASIONAL 2006 v .

1987. Untuk menjamin obat yang memenuhi persyaratan telah disusun standar komoditi yang berkembang dinamis mencakup standar keamanan. Sementara itu suplai obat sektor swasta dijamin mulai dari Industri. dan 2002. dan lebih dari 90% obat yang diresepkan di Puskesmas merupakan obat esensial. Peran dan fungsi Sarana Penyimpanan Sediaan Farmasi Pemerintah sejak desentralisasi mengalami perubahan akibat sudut pandang yang berbeda dari pemerintah daerah (pemda) terhadap peran lembaga ini. dan direvisi secara berkala pada tahun 1983. Sedangkan untuk masyarakat berpenghasilan rendah disubsidi melalui pengadaan obat di pelayanan kesehatan dasar. 1998. Hasil survei ketersediaan dan penggunaan obat menunjukkan bahwa sebelum maupun selama masa krisis ekonomi di Indonesia antara tahun 19972002. pemerintah telah menetapkan harga obat esensial untuk pelayanan kesehatan. khasiat dan mutu. 1990.secara umum dapat dikatakan telah berjalan baik terutama sebelum era desentralisasi. Untuk menjamin keterjangkauan obat esensial. Selain itu telah disusun standar proses produksi yaitu Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). ketersediaan obat esensial di Puskesmas mencapai lebih dari 80%. DOEN digunakan sebagai dasar penyediaan obat di pelayanan kesehatan publik. Hal ini ditunjukkan dengan peresepan obat esensial di rumah sakit pemerintah KEBIJAKAN OBAT NASIONAL 2006 vi . Apotek dan Toko Obat. Tingginya penggunaan obat esensial pada pelayanan kesehatan dasar khususnya puskemas tidak diikuti oleh sarana pelayanan kesehatan lain. Sebelum desentralisasi. Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) telah disusun sejak tahun 1980. 1994. obat esensial di sektor publik dijamin ketersediaannya oleh pemerintah melalui sistem suplai dengan keberadaan Sarana Penyediaan Sediaan Farmasi Pemerintah. Pedagang Besar Farmasi (PBF).

B. dan apotek kurang dari 47%. impor. PERMASALAHAN Dari sudut keterjangkauan secara ekonomis. karena kurang tersedianya tenaga pengelola yang KEBIJAKAN OBAT NASIONAL 2006 vii . Penelitian di atas juga membandingkan harga obat nama dagang dan obat generik menunjukkan bahwa obat generik bukan yang termurah. Dewasa ini sebagian Sarana Penyimpanan Sediaan Farmasi Pemerintah kurang berfungsi. rumah sakit swasta 49%. Mekanisme penetapan harga obat di sektor swasta saat ini diserahkan kepada pasar. Ketersediaan narkotika untuk kebutuhan pelayanan kesehatan diperoleh melalui produksi. Penelitian WHO menunjukkan perbandingan harga antara satu nama dagang dengan nama dagang yang lain untuk obat yang sama. maka diperlukan kebijakan pemerintah tentang pengaturan harga obat esensial.kurang dari 76%. harga obat di Indonesia umumnya dinilai mahal dan struktur harga obat tidak transparan. berkisar 1 : 2 sampai 1 : 5. Keadaan di atas menunjukkan bahwa konsep obat esensial belum sepenuhnya dipahami dan diterapkan. Survai dampak krisis ekonomi terhadap biaya obat dan ketersediaan obat esensial antara 1997 – 2002 menunjukkan bahwa biaya resep rata-rata di sarana pelayanan kesehatan sektor swasta jauh lebih tinggi dari pada di sektor publik yang menerapkan pengaturan harga dalam sistem suplainya . dan distribusi oleh perusahan farmasi yang ditunjuk pemerintah. Tetapi secara umum obat generik lebih murah dari obat dengan nama dagang. Mengingat obat bukan komoditi perdagangan biasa dan sangat mempengaruhi kehidupan manusia.

diperlukan upaya dari seluruh pemangku kepentingan (stake holder) untuk mengantisipasinya. Sebelum pelaksanaan desentralisasi. namun sebagian besar bahan baku masih di impor. Karena itu. alokasi anggaran pemerintah untuk obat hanya 20 % dari seluruh belanja obat nasional. ketersediaan obat esensial generik berkisar antara 80-100 %. Karena itu perlu dilakukan revitalisasi fungsi pengelolaan obat di Kabupaten/Kota sekaligus disesuaikan namanya menjadi Sarana Penyimpanan Sediaan Farmasi Pemerintah Kabupaten/Kota untuk lebih mengedepankan fungsinya. anggaran tersebut mampu mencakup sekitar 70 % dari jumlah penduduk. namun di era desentralisasi kepatuhan terhadap pengadaan obat esensial generik semakin menurun. Namun dengan sistem pengelolaan obat yang efektif dan efisien di sektor publik. termasuk anggaran untuk obat.kompeten. struktur organisasi yang tidak menunjang. Sampai saat ini tercatat sekitar 13. Di sektor publik terutama di sarana pelayanan kesehatan dasar. Sekitar 400 jenis obat tercantum dalam DOEN. Alokasi anggaran pemerintah untuk kesehatan selama ini tergolong rendah.000 merek obat yang beredar di pasaran. dan 220 jenis obat diantaranya tersedia dalam bentuk obat esensial generik. Memperhatikan perkembangan industri farmasi multinasional yang cenderung melakukan penggabungan serta penerapan Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs) dikhawatirkan industri farmasi nasional akan semakin sulit untuk bersaing dipasar domestik sekalipun. KEBIJAKAN OBAT NASIONAL 2006 viii . Ketergantungan terhadap impor bahan baku obat ini dapat menyebabkan tidak stabilnya penyediaan obat nasional dan mengakibatkan fluktuasi harga obat. telah dapat memproduksi 98 % kebutuhan obat nasional. Ketersediaan obat didukung oleh industri farmasi yang berjumlah sekitar 204 dan 90 % berlokasi di pulau Jawa. Walaupun sudah ada keputusan pemerintah yang menyatakan bahwa pengadaan obat bersumber APBD maupun APBN harus dalam bentuk esensial generik. dana operasional kurang memadai dan sistem informasi yang tidak berjalan baik.

penggunaan antimikroba yang tidak tepat. Survei di sarana pelayanan kesehatan menunjukkan bahwa ketidak-rasionalan penggunaan obat masih tinggi.. Saat ini.85 per kapita. jauh di bawah rekomendasi WHO yaitu US$ 2 per kapita. Anggaran obat untuk pelayanan kesehatan dasar di daerah sangat berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya.000.Anggaran obat untuk pelayanan kesehatan dasar sebelum desentralisasi disediakan oleh pemerintah pusat melalui dana Instruksi Presiden (INPRES). penggunaan obat non esensial.. Walaupun demikian pemerintah pusat tetap bertanggung jawab membantu kabupaten/kota menyediakan obat untuk keperluan bencana dan kekurangan obat. Saat ini dana pemerintah untuk kesehatan telah dimasukkan ke dalam Dana Alokasi Umum (DAU). penggunaan injeksi secara berlebihan. dengan biaya yang terjangkau. ketidakpatuhan pasien (non-compliency) dan pengobatan sendiri secara tidak tepat. 5. Pemerintah pusat sejak tahun 2002 menyediakan dana obat di pelayanan kesehatan dasar untuk masyarakat miskin. untuk jangka waktu pengobatan yang sesuai. karena adanya perbedaan visi dan persepsi Pemda tentang kesehatan. Seluruh dana yang tersedia dari pemerintah didistribusikan kepada fasilitas kesehatan baik milik pemerintah maupun swasta yang ditunjuk. Dana tersebut berasal dari Program PKPS-BBM dengan nilai sekitar Rp. Ketidak-rasionalan penggunaan obat yang sering terjadi adalah polifarmasi. Berdasarkan data yang terkumpul saat ini dana penyediaan obat per kapita kabupaten / kota untuk pelayanan kesehatan dasar rata-rata kurang dari Rp. pengalokasian dana pengadaan obat untuk pelayanan kesehatan dasar ditentukan sendiri oleh masing-masing kabupaten/kota. dengan dosis yang tepat. 160 milyar per tahun. Dalam pengobatan yang rasional pasien menerima obat yang sesuai dengan kebutuhan klinisnya. KEBIJAKAN OBAT NASIONAL 2006 ix . yang besarnya secara berangsur telah ditingkatkan mencapai US$ 0. karena itu anggaran obat untuk pelayanan kesehatan dasar di daerah menjadi tanggung jawab pemda. penulisan resep yang tidak sesuai dengan pedoman klinis.

keamanan penggunaan obat dan efisiensi biaya obat. dan malaria. diperkirakan akan meningkat. C. kanker dan kelainan endokrin diperkirakan akan semakin bertambah. Kasus penyakit campak. KEBIJAKAN OBAT NASIONAL 2006 x . seperti penyakit kardiovaskuler. strata ketiga (rumah sakit kelas B pendidikan dan kelas A) dan farmasi komunitas (apotek). Kasus diare akan sedikit bertambah. PELUANG Keberadaan industri farmasi yang jumlahnya sekitar 204 merupakan suatu potensi besar untuk meningkatkan ketersediaan obat terutama obat esensial. Kenyataan selama ini menunjukkan bahwa praktik pelayanan kefarmasian belum terlaksana sebagaimana mestinya dihampir semua Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) strata kedua (rumah sakit kelas C dan B non pendidikan).Dalam jangka panjang kecenderungan prevalensi penyakit menular antara lain Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA). Sedangkan HIV / AIDS dan penyakit-penyakit yang baru muncul (new emerging infection diseases) akan menjadi permasalahan baru. pemerataan dan profesionalisme tenaga farmasi yang masih kurang. ketersediaan obat. Sampai saat ini 67 industri yang telah memproduksi obat esensial generik. Kecenderungan prevalensi penyakit tidak menular dimasa mendatang. Tuberkulosis (TB) paru. dengan upaya imunisasi yang berkesinambungan diperkirakan akan menurun. Pelayanan kefarmasian yang belum mengikuti pelayanan kefarmasian yang baik tidak hanya disebabkan oleh sistem pengelolaan obat. Kasus penyakit schistosomiasis masih menghadapi masalah yang sama seperti saat ini. serta meningkatkan kualitas hidup pasien harus mengikuti praktek pelayanan kefarmasian yang baik (Good Pharmacy Practices) sebagaimana yang dianjurkan oleh WHO. Pelayanan kefarmasian yang merupakan bagian dari pelayanan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan penggunaan obat yang rasional. tetapi juga karena ketersediaan.

semakin terkonsentrasi di lima negara industri. propinsi sampai daerah baik di sektor publik dan swasta merupakan potensi untuk menjamin ketersediaan obat. Selama satu setengah dekade terakhir produksi farmasi di dunia.Rantai distribusi yang tersedia mulai dari pusat. Bersamaan dengan itu kesenjangan akses obat antara negara maju dengan negara miskin semakin KEBIJAKAN OBAT NASIONAL 2006 xi . pengalokasian dana. TANTANGAN. Kerasionalan penggunaan obat tidak terbatas pada sarana pelayanan kesehatan. Sepuluh perusahaan transnasional terbesar menguasai hampir setengah penjualan di dunia. dan keterjangkauan obat esensial serta penggunaan obat yang rasional. Penduduk di perkotaan lebih banyak menggunakan obat yaitu sebesar 85. pengawasan dan pengendalian obat. Pemerintah mempunyai aparat dan perangkat untuk meningkatkan ketersediaan.04 % dibandingkan penduduk pedesaan sebesar 83.02 % . Demikian juga tersedianya pendidikan D-3 dan menengah farmasi akan dapat menghasilkan tenaga Asisten-Apoteker yang sangat diperlukan di pelayanan kesehatan dasar. tetapi juga pada pengobatan sendiri. Penduduk Indonesia yang berjumlah 219 juta merupakan pangsa pasar yang besar untuk pemasaran obat. Produksi. Setiap tahunnya perguruan tinggi farmasi menghasilkan sekitar 2000 orang Apoteker. Meningkatnya jumlah perguruan tinggi farmasi di Indonesia dapat dimanfaatkan untuk mengisi kebutuhan tenaga Apoteker. perdagangan dan penjualan obat di dunia semakin didominasi oleh sejumlah kecil perusahaan transnasional. pemerataan. Data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan bahwa 83.88% penduduk yang melakukan pengobatan sendiri. Desentralisasi merupakan peluang bagi daerah untuk meningkatkan kualitas pelayanan. pengelolaan obat yang sesuai dengan kebutuhan spesifik masing-masing daerah. D. yang meningkat dengan kecepatan empat kali lipat dari pertumbuhan pendapatan dunia.

Dalam jangka panjang hingga tahun 2025 ketersediaan dan akses obat akan dipengaruhi oleh peran industri farmasi skala global dan distribusi penyakit menular dan tidak menular berlingkup global yang patut diperhitungkan Indonesia sejak saat ini. regulasi makin berkembang dengan upaya harmonisasi persyaratan teknis dalam pengendalian dan pengawasan obat yang diprakarsai negara-negara industri. Perjanjian TRIPs memperpanjang waktu perlindungan hak paten yang berarti memperpanjang hak monopoli dari industri inovator transnasional. perampingan proses registrasi dan harmonisasi persyaratan teknis. dan Pelaksanaan Paten oleh Pemerintah untuk menjamin ketersediaan dan keterjangkauan obat di Indonesia. Kecanggihan teknis (persyaratan tehnis yang sangat ketat) yang tidak diperlukan harus diwaspadai agar tidak berpengaruh terhadap akses obat esensial.jauh. penghapusan tariff dan non tariff barrier. yaitu Agreement on Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs). the Agreement on the Application of Sanitary and Phytosanitary Measures (SPS). yang tumbuh cepat dalam keadaan pasar domestik yang sangat kompetitif. Untuk itu pemerintah harus memanfaatkan peluang yang ada dalam TRIPs seperti Lisensi Wajib. sementara itu volume produksi obat yang besar dan lebih murah terjadi di dua negara Asia berpenduduk terpadat. yang akan memberikan dampak negatif pada keterjangkauan obat oleh masyarakat. the Agreement on Technical Barriers to Trade (TBT). Pada tahun 1994 Indonesia telah meratifikasi perjanjian WTO (World Trade Organization). KEBIJAKAN OBAT NASIONAL 2006 xii . dimana diantaranya terdapat lima perjanjian yang relevan dengan bidang kesehatan. Perjanjian WTO membawa implikasi berupa perlindungan hak paten. Pada era globalisasi sekarang ini. the General Agreement on Tariffs and Trade (GATT). Disatu pihak keadaan ini memberikan beban pada pengendalian dan pengawasan obat dan dilain pihak memaksa industri farmasi domestik untuk meningkatkan daya saingnya. dan the General Agreement on Trade in Services (GATS).

Sebagian masyakat Indonesia tinggal di daerah terpencil. Pemerintah dan sarana pelayanan kesehatan bertanggung jawab untuk menjamin agar pasien mendapat pengobatan yang rasional. 3. ekonomi dan sosial politik. Berkenaan dengan itu Indonesia harus siap menghadapi kemungkinan tersebut dengan kemampuan pengkajian teknis ilmiah. III. LANDASAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI A. Pemerintah perlu memiliki strategi untuk memperkecil dampak dari ancaman tersebut. Obat harus diperlakukan sebagai komponen yang tidak tergantikan dalam pemberian pelayanan kesehatan. Pemerintah bertanggung jawab atas ketersediaan. 2. Menghadapi ancaman tersebut. maka diperlukan penyesuaian pengelolaan obat sesuai dengan karateristik masing-masing daerah. LANDASAN KEBIJAKAN Untuk mencapai tujuan KONAS ditetapkan landasan kebijakan yang merupakan penjabaran dari prinsip dasar SKN. dan yang menimbulkan beban tambahan bagi perusahaan domestik serta bagi konsumen. Dalam kaitan ini aspek teknologi dan ekonomi harus diselaraskan dengan aspek sosial dan ekonomi. yaitu : 1. pengendalian dan pengawasan obat harus senantiasa diperkuat kemampuan dan kapasitasnya sejalan dengan perkembangan Iptek.Harmonisasi persyaratan teknis membawa implikasi akan adanya persyaratan teknis terkini yang makin canggih yang mungkin tidak mendesak. wilayah perbatasan dan sebagian lagi tinggal di daerah rawan bencana. Perdagangan bebas juga membawa implikasi pada pengendalian dan pengawasan obat berupa ancaman akan lolosnya obat yang tidak memenuhi standar. keterjangkauan dan pemerataan obat esensial yang dibutuhkan masyarakat. Keterjangkauan obat dapat dipandang dari sudut geografis. KEBIJAKAN OBAT NASIONAL 2006 xiii . Dengan pola penyebaran penduduk seperti tersebut di atas.

yaitu penggunaan obat yang rasional. daerah tertinggal. KEBIJAKAN OBAT NASIONAL 2006 xiv . efisien dan akuntabel pada sektor publik dan swasta. independen dan transparan. khususnya model dan bentuk pengelolaan obat sektor publik di daerah terpencil. Pemerataan dan Keterjangkauan Obat Esensial Akses obat esensial bagi masyarakat secara garis besar dipengaruhi oleh empat faktor utama. Ketersediaan. Tugas pengawasan dan pengendalian yang menjadi tanggung jawab pemerintah dilakukan secara profesional. STRATEGI 1. Pemerintah melaksanakan pembinaan. Penerapan sistem pengadaan dalam jumlah besar (bulk purchasing) atau pengadaan bersama (pool procurement) disektor publik. bertanggung jawab. Pengembangan dan evaluasi terus-menerus. Berdasarkan pola pemikiran di atas ketersediaan. b. 5.4. dan keterjangkauan obat esensial dicapai melalui strategi berikut : a. Pemerintah memberdayakan masyarakat untuk terlibat dalam pengambilan keputusan pengobatan. Disertai distribusi obat yang efektif. sedangkan pelaku usaha di bidang obat bertanggung jawab atas mutu obat sesuai dengan fungsi usahanya. pengawasan dan pengendalian obat. B. Sistem pembiayaan obat berkelanjutan. Rasionalisasi harga obat dan pemanfaatan obat generik. harga yang terjangkau. pendanaan yang berkelanjutan. dan sistem kesehatan serta sistem penyediaan obat yang dapat diandalkan. lengkap dan tidak menyesatkan. c. d. pemerataan. baik sektor publik maupun sektor swasta mengacu pada UU Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang dijabarkan dalam berbagai bentuk Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM). Masyarakat berhak untuk mendapatkan informasi obat yang benar. daerah perbatasan dan daerah rawan bencana.

Penerapan standar proses dan standar komoditi obat secara ketat sebagai sarana pembatasan jenis dan jumlah obat yang beredar. khasiat dan mutu obat beredar. Penilaian keamanan. e. produksi. Pengawasan dan pengendalian obat mulai dari impor. d. Adanya dasar hukum dan penegakan hukum secara konsisten. merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan. Untuk mencapai maksud tersebut dilakukan strategi sebagai berikut : a. 2. f. distribusi dan pelayanan obat merupakan suatu kesatuan yang utuh. c.e. serta perlindungan masyarakat dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan obat . dengan efek jera yang tinggi untuk setiap pelanggaran. akuntabel secara transparan dan independen. pembinaan. Memanfaatkan skema dalam TRIPs seperti Lisensi Wajib dan Pelaksanaan Paten oleh Pemerintah. sarana distribusi. ekspor. sehingga terhindar dari penggunaan obat yang tidak memenuhi standar. KEBIJAKAN OBAT NASIONAL 2006 xv . produksi hingga ke tangan pasien. Jaminan keamanan. Pemberdayaan masyarakat melalui penyediaan dan penyebaran informasi terpercaya. Penyempurnaan ketentuan sarana produksi. Penyiapan peraturan yang tepat untuk menjamin ketersediaan dan keterjangkauan obat. dan sarana pelayanan obat. g. dilakukan dengan kompetensi tinggi. pengawasan dan pengendalian (binwasdal) impor. khasiat dan mutu melalui proses pendaftaran. Penyempurnaan dan pengembangan berbagai standar dan pedoman. b.

Penerapan pendekatan farmako ekonomi melalui analisis biaya-efektif dengan biaya-manfaat pada seleksi obat yang digunakan di semua tingkat pelayanan kesehatan. Salah satu masalah yang mendasar atas terjadinya penggunaan obat yang tidak rasional adalah informasi yang tidak benar. KEBIJAKAN OBAT NASIONAL 2006 xvi . informasi dan edukasi (KIE). Berdasarkan hal-hal tersebut diatas upaya untuk penggunaan obat yang rasional dilakukan melalui strategi berikut : a. Penerapan Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) dalam setiap upaya pelayanan kesehatan. baik perorangan maupun masyarakat. baik pelayan kesehatan maupun masyarakat mendapatkan informasi yang benar. Pemberdayaan masyarakat melalui komunikasi. Oleh karena itu perlu dijamin agar pengguna obat.3. d. e. tidak lengkap dan menyesatkan. Penggunaan obat yang rasional Pengembangan serta penerapan pedoman terapi dan kepatuhan terhadap Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN). Penerapan pelayanan kefarmasian yang baik. b. Pengadaan obat di sarana kesehatan dan skema JKN mengacu pada DOEN. c. merupakan dasar dari pengembangan penggunaan obat yang rasional. lengkap dan tidak menyesatkan. melalui pemanfaatan pedoman terapi dan formularium berbasis bukti ilmiah terbaik.

terutama masyarakat miskin dapat memperoleh obat esensial setiap saat diperlukan. adalah bila semua anggota masyarakat dicakup oleh Sistem Jaminan Sosial Nasional. dan memenuhi kekurangan obat di kabupaten/kota. Pembebanan retribusi yang mungkin dikenakan kepada pasien di Puskesmas harus dikembalikan sepenuhnya untuk pelayanan kesehatan termasuk untuk penyediaan obat. POKOK-POKOK DAN LANGKAH-LANGKAH KEBIJAKAN A. 5. 4. Langkah Kebijakan : 1. Penyediaan anggaran obat yang cukup yang dialokasikan dari Dana Alokasi Umum (DAU) dan dari sumber yang lain. Salah satu upaya untuk menjamin pembiayaan obat bagi masyarakat. 3. PEMBIAYAAN OBAT Sasaran : Masyarakat. Pengembangan mekanisme pemantauan pembiayaan obat sektor publik di daerah. Hal utama yang menjamin tersedianya obat esensial bagi masyarakat adalah terjaminnya pembiayaan yang memadai secara berkelanjutan. Penyediaan biaya yang memadai dari pemerintah sangat menentukan ketersediaan dan keterjangkauan obat esensial oleh masyarakat. Penetapan target pembiayaan obat sektor publik secara nasional (WHO menganjurkan alokasi sebesar minimal US $ 2 per kapita). Pelayanan kesehatan termasuk pelayanan obat semakin tidak terjangkau bila sarana pelayanan kesehatan sektor publik dijadikan sebagai sumber pendapatan daerah. Penyediaan anggaran Pemerintah dalam pengadaan obat buffer stock nasional untuk kepentingan penanggulangan bencana. 6. Penerapan skema JKN ? dan sistem jaminan pemeliharaan kesehatan lainnya harus menyelenggarakan pelayanan kesehatan paripurna. Penyediaan anggaran obat untuk program kesehatan nasional.IV. 2. 7. KEBIJAKAN OBAT NASIONAL 2006 xvii .

dalam rangka perdagangan obat internasional untuk pengembangan produksi dalam negeri. Penerimaan bantuan obat dari donor untuk menghadapai keadaan darurat. sifatnya hanya sebagai pelengkap. B. Langkah Kebijakan : 1. Mekanisme penerimaan obat bantuan harus mengikuti kaidah internasional maupun ketentuan dalam negeri. KEBIJAKAN OBAT NASIONAL 2006 xviii . 2. Kemandirian tidak mungkin dicapai dalam pasar yang mengglobal. Ketersediaan dan pemerataan peredaran obat. keterjangkauan dan pemerataan obat yang berkelanjutan. baik sektor publik maupun sektor swasta. terutama obat esensial secara nasional harus dijamin oleh pemerintah. terutama obat esensial senantiasa tersedia.8. keterjangkauan dan pemerataan obat. Peningkatan ekspor obat untuk mencapai skala produksi yang lebih ekonomis untuk menunjang perkembangan ekonomi nasional. Pemberian insentif kepada industri obat jadi dan bahan baku dalam negeri tanpa menyimpang dari dan dengan memanfaatkan peluang yang ada dalam perjanjian WTO. KETERSEDIAAN DAN PEMERATAAN OBAT Sasaran : Obat yang dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan. Pemerintah perlu memberi kemudahan pada industri lokal yang layak teknis dan yang dapat menunjang perekomian nasional melalui berbagai upaya dan dengan memanfaatkan peluang yang ada. serta memfasilitasi proses sertifikasi internasional. Peningkatan kerjasama regional. Sarana dan prasarana yang telah dikembangkan pada waktu yang lalu seperti Gudang Farmasi Kabupaten/Kota perlu direvitalisasi guna menunjang ketersediaan. Pemerintah mengupayakan pengakuan internasional atas sertifikasi nasional. Sementara itu efisiensi dan efektivitas sistem distribusi perlu ditingkatkan terus untuk menunjang ketersediaan. 3.

Peningkatan pelayanan kefarmasian melalui peningkatan profesionalisme tenaga farmasi sesuai dengan standar pelayanan yang berlaku. perbatasan. Penerapan pengelolaan obat yang baik di Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota. keterjangkauan dan pemerataan peredaran obat. Pengembangan dan produksi fitofarmaka dari sumber daya alam Indonesia sesuai dengan kriteria khasiat dan keamanan obat. b. Peningkatan efektivitas dan efisiensi distribusi obat melalui regulasi yang tepat untuk ketersediaan. Penerapan prinsip efisiensi dalam pengadaan obat. Penyusunan pedoman pengadaan obat untuk keadaan darurat yang ditinjau kembali secara berkala. Penyediaan obat di daerah terpencil. 5. Penerapan prinsip transparansi dalam pengadaan obat sektor publik. e. mutu dan waktu penyerahan obat. Penyediaan obat dalam keadaan darurat a. 7. Pengembangan mekanisme pemantauan ketersediaan obat esensial dan langkah-langkah perbaikan. 8. KEBIJAKAN OBAT NASIONAL 2006 xix . jenis. Pengadaan obat untuk keadaan darurat mengikuti pedoman yang ada dan pemerintah mengambil langkah-langkah untuk menjamin ketepatan jumlah. serta menerapkan pengadaan bersama dan pengadaan dalam jumlah besar di kabupaten/kota. Pemberian insentif untuk pelayanan obat di daerah terpencil. Pembentukan Instalasi Farmasi di Propinsi dan Kabupaten/Kota pemekaran serta pemberdayaan Gudang Farmasi Kabupaten/Kota sebagai unit pengelola obat dengan memanfaatkan sistem informasi pengelolaan obat yang efektif dan efisien. 6. dengan berpedoman pada DOEN. 9. Pemanfaatan peluang skema Lisensi Wajib dan Pelaksanaan Paten oleh Pemerintah untuk memenuhi keperluan obat disektor publik (pararel impor ?) 10. c. d. dan rawan bencana serta orphan drug diatur secara khusus oleh pemerintah. c. Ketersediaan obat sektor publik: a. 11.4. b. Pengorganisasian suplai obat dalam keadaan darurat harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

antara lain dengan penyusunan kebijakan mengenai harga obat. Untuk mendapatkan harga yang lebih terjangkau di sektor publik. Langkah Kebijakan : 1. Dari arah permintaan diupayakan melalui penerapan Konsep Obat Esensial dan penggunaan obat generik. Sementara itu penerapan skema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dapat meningkatkan keterjangkauan obat. Penerapan Konsep Obat Esensial dan penggunaan obat generik dilakukan melalui berbagai upaya. pengaturan. Pemasyarakatan Konsep Obat Esensial dalam pelayanan kesehatan baik sektor publik maupun swasta. terutama obat esensial dan pengembangan sistem informasi harga serta menghindarkan adanya monopoli.C. c. Peningkatan penerapan Konsep Obat Esensial dan Program Obat Generik: a. KETERJANGKAUAN Sasaran : Harga obat terutama obat esensial terjangkau oleh masyarakat. yaitu dari arah permintaan pasar dan dari arah pemasok. terutama obat esensial bagi masyarakat. Penerapan DOEN di seluruh sarana pelayanan kesehatan. Oleh karena akses terhadap obat esensial merupakan salah satu hak asasi manusia. Pengintegrasian DOEN kedalam kurikulum pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan. KEBIJAKAN OBAT NASIONAL 2006 xx . di lakukan melalui pengadaan dalam jumlah besar atau pengadaan bersama. maka obat esensial selayaknya dibebaskan dari pajak dan bea masuk. b. Upaya untuk keterjangkauan atau akses obat di upayakan dari dua arah. Dari segi pasokan ditempuh berbagai upaya. Oleh karena itu penerapan JKN harus terus diupayakan semaksimal mungkin. pengelolaan obat di sektor publik. antara lain promosi penggunaan obat generik di setiap tingkat pelayanan kesehatan.

2. Pemasyarakatan obat generik secara konsisten dan berkelanjutan. e. 5. b. 7. Pengembangan sistem informasi harga obat. Pengembangan sistem pengadaan obat sektor publik yang efektif dan efisien. Pengendalian harga obat generik dengan memanfaatkan informasi harga obat internasional. terapi dan rehabilitasi yang diupayakan tersedia pada unit pelayanan kesehatan sesuai dengan fungsi dan KEBIJAKAN OBAT NASIONAL 2006 xxi . c. 6. 4. Pemanfaatan pendekatan farmako-ekonomik di unit pelayanan kesehatan untuk meningkatkan efisiensi. Melaksanakan lisensi wajib obat-obat yang sangat diperlukan sesuai dengan Undang-undang yang berlaku. 8. Membandingkan harga di perkotaan maupun pedesaan. f. dan di sarana pelayanan kesehatan sektor publik dan swasta. Menilai dampak kebijakan yang telah dilaksanakan mengenai harga obat.d. 3. Penghapusan pajak dan bea masuk untuk obat esensial. mencakup upaya diagnosis. Pemberian insentif kepada sarana dan tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan obat esensial. D. profilaksis. Obat esensial adalah obat terpilih yang dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan. Membandingkan harga dengan harga di negara lain. SELEKSI OBAT ESENSIAL Sasaran : Tersedianya Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) sesuai perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat digunakan dalam pelayanan kesehatan secara luas. Pelaksanaan evaluasi harga secara periodik dalam rangka mengambil langkah kebijakan mengenai harga obat esensial dengan : a. Pengaturan harga obat esensial untuk menjamin keterjangkauan harga obat.

Pelaksanaan revisi DOEN dilakukan secara periodik paling tidak setiap 3-4 tahun dengan melalui proses pengambilan keputusan yang sama. KEBIJAKAN OBAT NASIONAL 2006 xxii . Pemilihan obat esensial harus terkait dengan pedoman terapi atau standar pengobatan yang didasarkan pada bukti ilmiah terbaik. dan dengan harga yang terjangkau. klinisi dan ahli kesehatan masyarakat dari berbagai strata sarana pelayanan kesehatan dan lembaga pendidikan tenaga kesehatan. Langkah Kebijakan : 1. Agar sistem pelayanan kesehatan berfungsi dengan baik. farmakolog. Proses dalam pemilihan obat esensial merupakan hal yang sangat krusial. Pelaksanaan seleksi obat esensial dilakukan melalui penelaahan ilmiah yang mendalam dan pengambilan keputusan yang transparan dengan melibatkan apoteker. obat esensial harus selalu tersedia dalam jenis dan jumlah yang memadai. 2. Penyebarluasan DOEN kepada sarana pelayanan kesehatan sampai daerah terpencil. daftar dan pedoman klinis yang berbeda untuk setiap tingkat pelayanan yang diperbaharui secara berkala.tingkatnya. baik dalam bentuk media cetak maupun elektronik. mutu terjamin. Oleh karena itu proses pemilihan harus memperhatikan adanya konsultasi. Daftar obat esensial yang ditentukan sepihak tidak akan mencerminkan kebutuhan nyata dan tidak diterima oleh tenaga kesehatan. 4. bentuk sediaan yang tepat. lembaga pendidikan tenaga kesehatan. pemilihan yang terkait dengan pedoman klinis berbasis bukti ilmiah terbaik. 3. informasi yang memadai. kriteria pemilihan yang jelas. transparansi.

Pendidikan berkelanjutan sebagai persyaratan pemberian izin menjalankan kegiatan profesi. 3. Pada umumnya penggunaan obat di sarana pelayanan kesehatan belum rasional. Pemilihan obat dengan acuan utama DOEN. agar dapat dipilih strategi yang tepat. Untuk mengatasi permasalahan penggunaan obat yang tidak rasional perlu dilakukan pemantauan penggunaan obat agar dapat diketahui tipe ketidakrasionalan. dan layak untuk dilaksanakan. Pengawasan. 2. penyebab penggunaan obat yang tidak rasional. besarnya permasalahan. PENGGUNAAN OBAT YANG RASIONAL Sasaran : Penggunaan obat dalam jenis.E. dosis dan jumlah yang tepat dan disertai informasi yang benar. 5. bentuk sediaan. 6. Penyusunan pedoman terapi standar berdasarkan bukti ilmiah terbaik yang di revisi secara berkala. Upaya penggunaan obat secara rasional harus dilaksanakan secara sistematis di semua tingkat pelayanan kesehatan dengan menggunakan strategi yang telah terbukti berhasil. Pembentukan dan atau Pemberdayaan Komite Farmasi dan Terapi di rumah sakit. efektif. audit dan umpan balik dalam penggunaan obat. 4. KEBIJAKAN OBAT NASIONAL 2006 xxiii . lengkap dan tidak menyesatkan. Penggunaan obat yang rasional merupakan salah satu langkah untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik. Langkah Kebijakan : 1. Pembelajaran farmakoterapi berbasis klinis dalam kurikulum S1 tenaga kesehatan.

9. serta meningkatkan kepatuhan penggunaan obat. PENGAWASAN OBAT Sasaran : 1. 11.7. 8. informasi dan edukasi masyarakat yang harus ditangani secara lintas sektor dan lintas program. Regulasi dan penerapannya untuk penggunaan dan penulisan resep obat . khasiat. Pengawasan obat merupakan tugas yang kompleks yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan yaitu pemerintah. pengusaha dan masyarakat. KEBIJAKAN OBAT NASIONAL 2006 xxiv . hubungan internasional. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh lembaga pemerintah untuk melakukan pengawasan. Obat yang beredar harus memenuhi syarat keamanan. 2. akses terhadap ahli. dan mutu. khasiat. Masyarakat terhindar dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan obat. dan transparan. independen. dan mutu serta keabsahan obat dalam rangka melindungi masyarakat terhadap penyalahgunaan dan salah penggunaan obat sebagai akibat dari kurangnya pengetahuan. Penyediaan informasi obat yang benar. sumber daya manusia dan sumber daya keuangan yang memadai. Pendidikan dan pemberdayaan masyarakat untuk menggunakan obat secara tepat dan benar. informasi dan edukasi yang efektif dan terus menerus kepada tenaga kesehatan dan masyarakat melalui berbagai media. Sasaran pengawasan mencakup aspek keamanan. menghindarkan insentif pada 10. antara lain adanya dasar hukum. laboratorium pemeriksaan mutu yang terakreditasi. F. Promosi penggunaan obat yang rasional dalam bentuk komunikasi. Regulasi untuk menunjang penerapan berbagai langkah kebijakan penggunaan obat yang rasional. lengkap dan tidak menyesatkan melalui pusat-pusat informasi di sarana-sarana pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta.

13. PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN Sasaran : Peningkatan penelitian dibidang obat untuk menunjang penerapan KONAS. Pengembangan peran serta masyarakat untuk melindungi dirinya sendiri dari obat yang tidak memenuhi syarat. ketersediaan dan pemerataan. penelitian dan pengembangan. KEBIJAKAN OBAT NASIONAL 2006 xxv . 9. 8.Langkah Kebijakan : 1. Pemantauan promosi obat Surveilans dan vijilan paska pemasaran Penilaian kembali terhadap obat yang beredar. Peningkatan kerjasama regional maupun internasional Pengawasan obat palsu dan obat seludupan (tidak absah). Pembentukan Pusat Informasi Obat di pusat dan daerah untuk intensifikasi penyebaran informasi obat. seleksi obat esensial. 7. 3. dan obat ilegal melalui upaya komunikasi. 5. penggunaan obat rasional. pengembangan sumber daya manusia dan pemantauan serta evaluasi. pengawasan. 4. 6. keterjangkauan. dan edukasi. 11. Penilaian dan pendaftaran obat Penyusunan dan penerapan standar produk dan sistim mutu Perizinan dan sertifikasi sarana produksi dan distribusi Inspeksi sarana produksi dan sarana distribusi Pengujian mutu dengan laboratorium yang terakreditasi. 12. 10. obat palsu. G. informasi. Penelitian dan pengembangan obat bertujuan untuk menunjang pembangunan dibidang obat yang mencakup kajian terhadap pembiayaan. 2. Peningkatan sarana dan prasarana pengawasan obat serta pengembangan tenaga dalam jumlah dan mutu sesuai dengan standar kompetensi.

kompetensi maupun pemerataan. KEBIJAKAN OBAT NASIONAL 2006 xxvi . PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA Sasaran : Tersedianya Sumber Daya Manusia (SDM) yang menunjang pencapaian tujuan KONAS. 2. Melakukan identifikasi penelitian yang relevan dan penyusunan prioritas dengan mekanisme kerja yang erat antara penyelenggara upaya-upaya pembangunan di bidang obat dengan penyelenggara penelitian dan pengembangan. propinsi dan pusat. 3. Tersedianya SDM farmasi di puskesmas. apotek serta toko obat sangat diperlukan. industri farmasi. berkelanjutan disesuaikan dengan perkembangan Iptek. Membina dan membantu penyelenggaraan penelitian yang relevan dan diperlukan dalam pembangunan di bidang obat.Langkah Kebijakan : 1. GFK yang sebelumnya telah ada di setiap Kabupaten/Kota dikembangkan menjadi Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota (IFK). Untuk itu perlu dilakukan upaya peningkatan dan pengembangan SDM kesehatan secara sistematis. Untuk itu dibutuhkan SDM dengan jumlah yang cukup dan kompeten. Disamping itu diperlukan apoteker sebagai administrator di kabupaten/kota. rumah sakit baik pemerintah maupun swasta. H. pedagang besar farmasi (PBF). Meningkatkan kerjasama lintas sektor dan dengan luar negeri di bidang penelitian dan pengembangan obat serta meningkatkan koordinasi dan sinkronisasi penyelenggaraan penelitian antara berbagai lembaga dan perorangan yang melakukan penelitian di bidang obat. dilengkapi dengan sistem informasi yang dapat diandalkan. SDM yang diperlukan untuk berbagai lembaga di atas harus memadai dari segi jumlah.

I. 5. Penyusunan rencana kebutuhan tenaga farmasi. mengukur dampak (outcome). mengevaluasi pengaruh (impact) pada kelompok sasaran. Pengintegrasian KONAS kedalam kurikulum pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan. Penerapan KONAS memerlukan pemantauan dan evaluasi secara berkala. guna mengetahui hambatan dan penetapan strategi yang efektif. 2. Kegiatan pemantauan dan evaluasi merupakan bagian tidak terpisahkan dari kegiatan pengembangan kebijakan. Dari pemantauan kebijakan akan dapat dilakukan koreksi yang dibutuhkan. melaporkan luaran (output). PEMANTAUAN DAN EVALUASI Sasaran : Menunjang penerapan KONAS melalui pembentukan mekanisme pemantauan dan evaluasi kinerja serta dampak kebijakan.Langkah Kebijakan : 1. Hal ini penting untuk melakukan antisipasi atau koreksi terhadap perubahan lingkungan dan perkembangan yang begitu kompleks dan cepat yang terjadi di masyarakat. 3. Peningkatan kerjasama nasional. memberikan rekomendasi dan penyempurnaan kebijakan. Penyediaan dan penempatan tenaga farmasi secara merata sesuai dengan kebutuhan di setiap daerah dan jenjang pelayanan kesehatan. KEBIJAKAN OBAT NASIONAL 2006 xxvii . Pengintegrasian KONAS ke dalam kurikulum pendidikan berkelanjutan oleh organisasi profesi kesehatan. Sedangkan evaluasi kebijakan dimaksudkan untuk mendapatkan informasi tentang penyelenggaraan. 4. regional dan internasional untuk pengembangan SDM.

ketekunan.Langkah Kebijakan : 1. pengendalian dan evaluasi. paling lama setiap 5 tahun. berinteraksi. KONAS dipergunakan sebagai pedoman dan arah dalam bertindak dari berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) dibidang obat di Indonesia KONAS merupakan sistem terbuka. regional dan global yang dinamis. kompetensi. 2. dan ketulusan segenap pemangku kepentingan (stakeholders) di bidang obat. 3. Pemanfaatan hasil pemantauan dan evaluasi untuk : a. V. dedikasi. pengawasan. c. penggerakan. baik penyesuaian pilihan kebijakan maupun penetapan prioritas. integritas. Bahan pembahasan dengan berbagai badan internasional maupun donor luar negeri. pemantauan. Pelaksanaan dan indikator pemantauan mengikuti pedoman WHO dan dapat bekerjasama dengan WHO atau pihak lain untuk membandingkan hasilnya dengan negara lain. etika. Tindak lanjut berupa penyesuaian kebijakan. nasional. kerja keras. P E N U T U P Keberhasilan pelaksanaan KONAS sangat tergantung pada moral. KEBIJAKAN OBAT NASIONAL 2006 xxviii . Pelaksanaan KONAS memerlukan pengorganisasian. Negosiasi dengan instansi terkait. b. Pemantauan dan evaluasi dilakukan secara berkala. interelasi dan interdependensi yang sinergis dengan lingkungan strategis baik di tingkat lokal.

KONTRIBUTOR Kebijakan Obat Nasional (KONAS) ini berhasil disusun atas partisipasi aktif dari berbagai pihak. 4) Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. 7) Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM). 6) Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan. 9) Deputi Pengawasan Obat Tradisional. 3) Direktur Jenderal Pelayanan Medik. Psikotropika dan Zat Adiktif Badan POM. : SAM Bidang Teknologi Kesehatan dan Farmasi. 2) Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. Ketua Wakil Ketua Pelaksana Sekretaris . tentang Susunan Keanggotaan Tim Penyusunan Kebijaksanaan Obat Nasional : Penanggung Jawab Tim Pengarah. 13) SAM Bidang Penyehatan Lingkungan dan Epiodemiologi. 12) SAM Bidang Pembiayaan dan Ekonomi Kesehatan. 14) SAM Bidang Pelayanan Kesehatan Masyarakat Rentan. 11) Staf Ahli Menteri (SAM) Bidang Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Desentralisasi. 5) Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 8) Sekretaris Utama Badan POM. : 1) Sekretaris Direktorat Jenderal Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan. : Deputi Bidang Pengawasan Produk Terapetik dan Narkotika. Ketua Anggota : Menteri Kesehatan : Direktur Jenderal Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan : 1) Sekretaris Jenderal Departemen Kesehatan RI. 2) Direktur Penilaian Obat dan KEBIJAKAN OBAT NASIONAL 2006 xxix Tim Pelaksana. Kosmetik dana Produk Komplimen Badab POM. Antara lain : Tim KONAS berdasarkan Kepmenkes Nomor 1273/Menkes/SK/XII/2004. 10) Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya Badan POM.

: 1) Drs. 2) Dra. 4) Drs. Drs. Slamet Soesilo. MARS. Apt. 2) Direktur Bina Farmasi Komunitas dan Klinik. 3) Direktur Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan.00. Apt. Richard Panjaitan. Apt. Dra. 7) Kepala Biro Perencanaan dan Anggaran Depkes. ME.I. : 1) Drs. 5) Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Produk Terapetik Badan POM. Apt. 8) Kepala Pusat Kajian Pembangunan Kesehatan Depkes. M Nur Ginting. Bahdar Djohan Hamid. Apt. Apt. H. Sri Suryawati. 2) Drs.Produk Biologi Badan POM. T. Slamet Soesilo. 6) Direktur Standardisasi Produk Terapetik Badan POM. Charles JP Siregar. Dra. Apt (Konsultan).158 : Koordinator Anggota : Drs. Purwadi. 9) Kepala Biro Hukum dan Organisasi. MM. Sekretariat Tim Penyusunan KONAS berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan Nomor HK. 3) Dra. M. Sri Suryawati. Apt. KEBIJAKAN OBAT NASIONAL 2006 xxx . 2) Prof. (Konsultan) 6) DR. Nasirah Bahaudin.157 : Ketua Anggota : Drs. MBA. 2) Drs. DR. (Konsultan). Apt. Apt. SKM. Konsultan Tim Kecil Penyusunan KONAS berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan Nomor HK.Kes. Bayu Teja Muliawan. Drs.Kes. 3) Drs. Abdullah Achmad. Anggota : 1) Direktur Bina Penggunaan Obat Rasional. Charles JP Siregar. MPharm. Elly Zardania. 3) DR. 3) Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi dan Obat Tradisional. M.00. : 1) Drs. 4) dr.I. Apt. MM. H. Apt. Apt. Apt. MPharm.DJ. Apt. 4) Direktur Bina Produksi dan Dan Distribusi Alat Kesehatan. Sekretariat : 1) Drs. MM. ME. Apt. 5) Prof DR. Udjianto. Dwidjo Susono. Chusun.DJ. SE. Purwadi. 5) Dra.

GPF) LSM yang bergerak dalam perlindungan konsumen. para Pejabat Eselon-III selektif . Direktur Utama Rumah Sakit. Kuswati Ningsih. Apt. DR. Slamet Soesilo. Apt. Penggunaaaan Obat Rasional. Zaenal Komar. 6) Indah Susanti.Kes. Sukarni. SSi. Direktur Utama RS Cipto Mangun Kusumo Jakarta. Bayu Teja Muliawan. Apt. 5) Riani Triesnawati. Kadinkes Kota Bekasi. Apt. Rida Wurjati. Pejabat Eselon-I. perwakilan Perguruan Tinggi (Fakultas Kedokteran dan Fakultas Farmasi) Seminar/Lokakarya Nasional : Drs. 3) Drs. Kadinkes Kota Depok. MA. Kadinkes Kabupaten Lombok Tengah. 4). Charles JP Siregar. Haryono. 6) Dra. Sri Suryawati. 2) Drs. Kepala Dinas Kesehatan /Pejabat Bidang Kefarmasian di Dinas Kesehatan Propinsi seluruh Indonesia. DR. MM. 4) Mindawati. MPharm. Direktur Rumah Sakit Daerah terpilih. Kadinkes Kabupaten Cianjur. SE. 2). Daftar Obat Esensial Nasional : Konsep dan proses up-datingnya.Staf Apt. Di luar Depkes : Perwakilan Asosiasi di bidang kesehatan (IDI. Apt. Kepala Dinas Kesehatan Propinsi se Indonesia. 3) Pembiayaan : Pembiayaan Pengobatan Di Institusi Pelayanan Publik Pasca Desentralisasi dan Revitalisasi Gudang Farmasi Kabupaten. Kadinkes Kabupaten Pasuruan. Dalam proses penyusunan juga melibatkan berbagai pihak dalam tahapan workshop/seminar/lokakarya sebagai berikut : Workshop Workshop dengan pokok bahasan 1). Drs. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten terpilih. PAFI. Dra. Peneliti Utama Bidang Kesehatan. 8) Dra. SSi. Prof. Masalah Distribusi Obat Illegal & Peredaran Obat Palsu Jajaran Depkes : Menteri Kesehatan. Kadinkes Kabupaten Cirebon. MSi. Apt. Direktur RS KEBIJAKAN OBAT NASIONAL 2006 xxxi . Kadinkes Kabupaten Kolaka. : 1) Dra. Apt. Sudin Kesehatan Kota Jakarta Selatan. Kadinkes Kabupaten Sleman. Apt. M. 7) Drs. Apt. PDGI. Komite Medik Rumah Sakit pemerintah dan swasta. ISFI. Kadinkes Kota Balikpapan. Pejabat Eselon-I.

Direktur Operasional PT ASKES (Persero). Direktur RS PKU Muhammadyah Yogyakarta. MPH. Direktur RSUP dr. Prof. IDI. Direktur JPKM – Ditjen Binkesmas Depkes RI. PERDHAKI.dr. Departemen Farmasi Fakultas MIPA Unpad Bandung. ISFI. dr. PDGI. Djamil Padang. gelar. PAFI. Direktur RS Kanker Dharmais Jakarta. M. PhD (Pengelola Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM). Soetomo Surabaya . jabatan maupun nama instansi. Gabungan Pengusaha Farmasi. Sardjito Yogyakarta. LBH Kesehatan Dan semua pihak yang telah membantu penyusunan KONAS yang tidak dapat disebutkan satu per satu Mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan nama. Fakultas Farmasi Universitas Pancasila Lenteng Agung. Direktur RS dr. Wahidin Soediro Hoesodo Makassar. YLKI. Direktur RS dr. Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Surabaya. Ketua Departemen Farmasi Fakultas MIPA Universitas Indonesia Depok. KEBIJAKAN OBAT NASIONAL 2006 xxxii . dr. Hasan Sadikin Bandung. Hisfarsi. Laksono Trisnantoro. Hasbullah Thabrany. Direktur RS Bethesda Yogyakarta. Departemen Farmasi Fakultas MIPA ITB. Direktur RS dr. Direktur RS Adam Malik Medan. Direktur RSUD Prof Soekarjo Jawa Tengah. Asosiasi Fakultas Farmasi. Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. MSc. DRPH (FKM –UI). Fakultas Farmasi Universitas Tujuh Belas Agustus Jakarta. Prof.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful