Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS PERCOBAAN 5 GRAVIMETRI

Disusun oleh : Golongan II / Kelompok C Arini Rufaida Nevia Sekti Putri G. Rizki Puspitasari Wimala Permatasari Dedy Iskandar (G1F010028) (G1F010029) (G1F010031) (G1F010032) (G1F010034)

LABORATORIUM KIMIA FARMASI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN FARMASI PURWOKERTO 2011

PERCOBAAN 5 GRAVIMETRI

I. TUJUAN Menetapkan kadar dengan konsep pemisahan logam-logam secara gravimetri dan menentukan kandungan tembaga di dalam sulfatnya. II.ALAT DAN BAHAN Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah gelas beaker ( 50mL, 250mL, 1000mL), gelas ukur, gelas arloji, spatula, kertas saring, dan batang pengaduk. Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah aquadest, aseton, CuSO4.5H2O, Zink, HCl encer. III. DATA PENGAMATAN

DATA PENGAMATAN KELOMPOK 1 Berat Beaker glass 50 mL Berat Beaker glass 50 mL + 2 gram CuSO4 Berat Beaker glass 50 mL + sisa CuSO4 Massa analit dalam beaker glass 250 Ml = 344,451 gram = 36,451 gram = 34,951 gram = (Berat Beaker glass 50 mL + 2 gram CuSO4) (Berat Beaker glass 50 mL + sisa CuSO4) = 36,451 gram 344,951 gram = 1,5 gram Beaker glass 250 mL + endapan (sampel) Berat Kertas saring Berat Kertas saring + endapan sampel Berat sampel Massa beaker glass tanpa sampel Persentase Cu dalam garam terhidratnya = 113,425 gram = 0,701 gram = 3,344 gram = 3,344 gram 0,701 gram = 2.643 gram = 108,269 gram = = = 176,2 %

DATA PENGAMATAN KELOMPOK 2 Berat Beaker glass 100 mL Berat Beaker glass 100 mL + 2 gram CuSO4 Berat Beaker glass 100 mL + sisa CuSO4 Massa analit dalam beaker glass 250 mL = 47,773 gram = 49,779 gram = 48,268 gram = (Berat Beaker glass 100 mL + 2 gram CuSO4) (Berat Beaker glass 50 mL + sisa CuSO4) = 49,779 gram - 48,268 gram = 1,511 gram Beaker glass 250 mL + endapan (sampel) Berat Kertas saring Berat Kertas saring + endapan sampel Berat sampel Massa beaker glass tanpa sampel Persentase Cu dalam garam terhidratnya = 106,243 gram = 0,557 gram = 2,488 gram = 2,488 gram - 0,557 gram = 1,931 gram = 104,270 gram =

= = 127,79 %

DATA PENGAMATAN KELOMPOK 3 Berat Beaker glass 50 mL Berat Beaker glass 50 mL + 2 gram CuSO4 Berat Beaker glass 50 mL + sisa CuSO4 Massa analit dalam beaker glass 250 mL = 34,45 gram = 36,447 gram = 34,897 gram = (Berat Beaker glass 50 mL + 2 gram CuSO4) (Berat Beaker glass 50 mL + sisa CuSO4) = 36,447 gram - 34,897 gram = 1,55 gram Berat Kertas saring Berat Kertas saring + endapan sampel Berat sampel = 0,414 gram = 2,851 gram = 2,851 gram - 0,414 gram = 2,437 gram

Persentase Cu dalam garam terhidratnya

= = = 157,23 %

DATA PENGAMATAN KELOMPOK 4 Berat Beaker glass 50 mL Berat Beaker glass 50 mL + 2 gram CuSO4 Berat Beaker glass 50 mL + sisa CuSO4 Massa analit dalam beaker glass 250 Ml = 33,259 gram = 35,262 gram = 33,757 gram = (Berat Beaker glass 50 mL + 2 gram CuSO4) (Berat Beaker glass 50 mL + sisa CuSO4) = 35,262 gram - 33,757 gram = 1,505 gram Beaker glass 250 mL + endapan (sampel) Berat Kertas saring Berat Kertas saring + endapan sampel Berat sampel Massa beaker glass tanpa sampel Persentase Cu dalam garam terhidratnya = 113,425 gram = 0,402 gram = 2,730 gram = 2,730 gram - 0,402 gram = 2.328 gram = 111,072 gram = = = 154,684 %

PERHITUNGAN STANDAR DEVIASI 176,2 ( 22,225 ) 493,950 685,654 10,595 0,497

127,79 153,975 26,185 157,23 154,68 3,255 0,705

Jadi, kadar Cu dalam CuSO4 adalah 153,975%

IV. PEMBAHASAN Monografi Bahan 1. Tembaga(II) sulfat anhidrat P CuSO4 ; BM 159,60 o Pemerian serbuk putih atau keabuan, bebas dari sedikit warna biru o Kelarutan larut dalam air o Tembaga(II) sulfat P CuSO4 5H2O; BM 249,68, murni pereaksi 2. Asam sulfat H2SO4 BM 98,67 o Pemerian cairan jernih , seperti minyak,tidak berwarna, bau sangat tajam dan korosif. Bobot jenis lebih kurang 1,84. o Kelarutan bercampur dengan air dan dengan etanol, dengan menimbulkan panas. 3. Zink ; Zn BA 65,38; murni pereaksi. 4. Asam klorida HCl; BM 36,46 o Pemerian cairan tidak berwarna; berasap; bau merangsang. Jika diencerkan dengan 2bagian volume air, asap hilang. Bobot jenis lebih kurang 1,18. 5. Aqquadest H2O BM 18,02 o Pemerian cairan jernih tidak berwaran ; tidak berbau o pH antara 5,0 7,0 6. Aseton C3H6OH ; BM 58,08 o Pemerian cairan transparan, tidak berwarna, mudah menguap; bau khas. Larutan netral terhadap kertas lakmus o Kelarutan dapat bercampur dengan air, dengan etanol, dengan eter dan dengan kloroform. (Anonim,1995) Gravimetri adalah metode analisis kuntitatif unsur atau senyawa berdasarkan bobotnya yang diawali dengan pengendapan dan diikuti dengan pemisahan dan pemanasan endapan dan diakhiri dengan penimbangan. Berat unsur dapat dihitung berdasarkan rumus senyawa dan berat atom unsur-unsur atau senyawa yang dikandung dilakukan dengan berbagai cara, seperti : metode pengendapan; metode penguapan; metode elektroanalisis; atau berbagai macam cara lainya. Pada prakteknya dua metode pertama adalah yang terpenting, metode

gravimetri memakan waktu yang cukup lama, adanya pengotor pada konstituen dapat diuji dan bila perlu faktor faktor pengoreksi dapat digunakan. Dalam analisis gravimetri meliputi beberapa tahap sebagai berikut : a) Pelarutan sampel (untuk sampel padat). b) Pembentukan endapan dengan menambahkan pereaksi pengendap secara berlebih agar semua unsur atau senyawa diendapkan oleh pereaksi (Khopkar,1999). Pada dasarnya pemisahan zat dengan gravimetri dilakukan dengan cara sebagai berikut. Mula-mula cuplikan dilarutkan dalam pelarutnya yang sesuai, lalu ditambahkan zat pengendap yang sesuai. Endapan yang terbentuk disaring, dicuci, dikeringkan atau dipijarkan, dan setelah itu ditimbang. Kemudian jumlah zat yang ditentukan dihitung dari faktor stoikiometrinya. Hasilnya disajikan sebagai persentase bobot zat dalam cuplikan semua (Rivai,1994). Suatu metode analisis gravimetri biasanya didasarkan pada reaksi kimia seperti aA + R AaRr dimana a molekul analit, A, bereaksi dengan r molekul reagennya R. Produknya, yakni AaRr, biasanya merupakan suatu substansi yang sedikit larut yang bias ditimbang setelah pengeringan, atau yang bisa dibakar menjadi senyawa lain yang komposisinya diketahui, untuk kemudian ditimbang. Untuk memperoleh keberhasilan pada analisis secara gravimetri, maka harusmemperhatikan tiga hal berikut : 1. Unsur atau senyawa yang ditentukan harus terendapkan secara sempurna. 2. Bentuk endapan yang ditimbang harus diketahui dengan pasti rumus molekulnya. 3. Endapan yang diperoleh harus murni dan mudah ditimbang (Rivai,1994). Pengendapan dilakukan pada suhu tertentu dan pH tertentu yang merupakan kondisi optimum reaksi pengendapan. Tahap analisa gravimetri paling penting, yaitu: a) Penyaringan endapan. b) Pencucian endapan, dengan cara menyiram endapan di dalam penyaring dengan larutan tertentu. c) Pengeringan endapan sampai mencapai berat konstan. d) Penimbangan endapan. e) Perhitungan (Rivai,1994).

Metode Dalam Analisis Gravimetri a. Metode Pengendapan Suatu sampel yang akan ditentukan secara gravimetri mula-mula ditimbang secara kuantitatif, dilarutkan dalam pelarut tertentu kemudian diendapkan kembali

dengan reagen tertentu. Senyawa yang dihasilkan harus memenuhi syarat yaitu memiliki kelarutan sangat kecil sehingga bisa mengendap kembali dan dapat dianalisis dengan cara menimbang. Endapan yang terbentuk harus berukuran lebih besar dari pada pori-pori alat penyaring (kertas saring), kemudian endapan tersebut dicuci dengan larutan elektrolit yang mengandung ion sejenis dengan ion endapan. Hal ini dilakukan untuk melarutkan pengotor yang terdapat dipermukaan endapan dan memaksimalkan endapan. Endapan yang terbentuk dikeringkan pada suhu 100-130 derajat celcius atau dipijarkan sampai suhu 800 derajat celcius tergantung suhu dekomposisi dari analit. Pengendapan kation misalnya, pengendapan sebagai garam sulfida, pengendapan nikel dengan DMG, pengendapan perak dengan klorida atau logam hidroksida dengan mengatur pH larutan. Penambahan reagen dilakukan secara berlebihan untuk memperkecil kelarutan produk yang diinginkan. Pembentukan endapan dibedakan menjadi 2 macam yaitu: 1. Endapan dibentuk dengan reaksi antar analit dengan suatu pereaksi, biasanya berupa senyawa baik kation maupun anion. Pengendapan dapat berupa anorganik maupun organik. 2. Endapan dibentuk cara elektrokimia (analit dielektrolisa), sehingga terjadi logam sebagai endapan, dengan sendiri kation diendapkan (Shofian, 2010). Untuk mendapatkan endapan sesuai dengan yang diinginkan dan hasilnya bagus, maka perlu ditentukan terlebih dahulu kaadaan optimumnya, maka harus mengikuti aturan sebagai berikut : a. Pengendapan harus dilakukan pada larutan encer, yang bertujuan untuk memperkecil kesalahan akibat koresipitasi. b. c. Peraksi dicampur perlahan-lahan dan teratur dengan pengadukan tetap. Pengendapan dilakukan pada larutan panas bila endapan yang terbentuk stabil pada temperatur tinggi. d. Endapan kristal biasanya dibentuk dalam waktu yang lama dengan menggunakan pemanas uap untuk menghindari adanya koprespitasi. e. f. Endapan harus dicuci dengan larutan encer. Untuk menghindari postpresipitasi atau kopresipitasi sebaiknya dilakukan pengendapan ulang (Shofian, 2010)

Pengotor Endapan

Dalam proses pengendapan sering terjadi pengotor endapan yang disebabkan oleh terbentuknya zat lain yang juga membentuk endapan dengan pereaksi yang digunakan, sehingga diperoleh hasil yang lebih besar dari yang sebenarnya. Kesalahan ini kadang dimbangi dengan kelarutan zat dalam pelarut yang digunakan. Zat pengotor tersebut dapat dibedakan menjadi dua, yaitu : 1. Pengotoran karena pengendapan sesungguhnya adalah: Pengendapan bersama (simultaneous precipitation). Kotoran mengendap bersama waktu dengan endapan analit. Contoh: Al(OH) sebagai pengotor Fe(OH)3. Pengendapan susulan (post precipitation).

2. Pengotoran karena terbawa (Co-precipitation). Pengotoran ini tidak mengendap melainkan hanya terbawa oleh endapan analit. Kotoran isomorf dan dapat campur dengan inang ini dapat terjadi bila bahan pengotoran dan endapan mempunyai kesamaan tipe rumus molekul maupun bentuk molekul. Kotoran larut dalam inang dimana zat sendiri larut dalam zat padat lalu ikut terbawa sebagai kotoran. Contohnya Ba(NO3)2 dan KNO3 yang larut dalam BaSO4 pada kedua jenis pengotoran diatas kotoran tersebar diseluruh kristal. Kotoran teradsorpsi pada permukaan endapan. Terjadi karena gaya tarik menarik antara ion yang teradsorpsi dan ion-ion lawannya pada permukaan endapan. Kotoran teroklusi oleh inang (terkurung). Dapat terjadi apabila kristal tumbuh terlalu cepat dari butirn kecil menjadi besa dalam hal ini ion tidak sempat dilepaskan, tetapi sudah tertutup dalam Kristal (Salila, 2009). Usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi zat pengotor tersebut adalah : 1. Sebelum membentuk endapan dengan jalan menyingkirkan bahan-bahan yang akan mengotori. 2. Selama membentuk endapan. Endapan hanya terbentuk bila larutan yang bersangkutan lewat jenuh terhadap endapan tersebut yaitu larutan mengandung zat itu melebihi konsentrasi larutan jenuh, dengan tahap-tahap sebagai berikut: Tahap I: Pada pengembangan ialah nukleai dalam hal ini ion-ion dari molekul yang akan diendapkan mulai terbentuk inti yaitu pasangan beberapa ion menjadi butir-butir miniskus (sangat kecil).

Tahap II: Pertumbuhan kristal yaitu inti tersebut menarik molekul lain sehingga dari kumpulan hanya beberapa molekul tumbuh menjadi butiran lebih besar.

b.

Metode Penguapan Digunakan untuk menetapkan komponen-komponen dari suatu senyawa yang relatif mudah menguap. Yaitu dengan cara : Pemanasan dalam udara atau gas tertentu Penambahan pereaksi sehingga mudah menguap (Salila, 2009). Zat-zat yang relatif mudah menguap bisa diabsorpsi dengan suatu absorben yang sesuai dan telah diketahui berat tetapnya.Untuk penentuan kadar air suatu kristal dalam senyawa hidrat, dapat dilakukan dengan memanaskan senyawa pada suhu 110O- 130O C. Berkurangnya berat sebelum pemanasan menjadi berat sesudah pemanasan merupakan berat air kristalnya. Asal senyawa tidak terurai oleh pemanasan. Atau bisa juga menggunakan zat pengering seperti CaCl2 dan Mg(ClO4)2. Contoh dari metode penguapan ini adalah : Penentuan CO2 dalam senyawa karbonat dapat dilakukan dengan penambahan HCl berlebih, kemudian dipanaskan, gas CO2 yang sudah terjadi dialirkan dalam larutan alkali yaitu KOH (25-30%) atau larutan CaOH2 yang telah diketahui beratnya. Penentuan NH3 dalam garam Amonium, yaitu garam ditambahkan larutan alkali kuat berlebih dan dipanaskan. Gas NH3 yang terjadi dialirkan dalam larutan standar asam berlebih kemudian kelebihannya dititrir dengan larutan standar basa. Penentuan Nitrogen dalam protein, mula-mula senyawa didestruksi dengan H2SO4 pekat. Hasilnya ditambahkan basa berlebih dan dipanaskan. Selanjutnya kelebihan asam dititrir dengan larutan standar basa. Penentuan unsur Natrium atau Kalium, yaitu larutan itu diuapkan dengan H2SO4 sampai kering. Kemudian sisanya berupa garam sulfat ditimbang. Dan segitulah berat unsur yang dicari. Unsur-unsur lain yang mengganggu seperti Si, dapat ditentukan dengan memanaskan cuplikan bersama H2SO4 dan HF dalam krus platina. Dimana Si berubah menjadi SiF4 yang menguap, sesuai persamaan SiO2 + 6HF H2SiF6 + 2H2O H2SiF6 SiF4 + 2HF

c.

Metode Elektrolisis Metode elektrolisis dilakukan dengan cara mereduksi ion-ion logam terlarut menjadi endapan logam. Ion-ion logam berada dalam bentuk kation apabila dialiri dengan arus listrikndengan besar tertentu dalam waktu tertentu maka akan terjadi reaksi reduksi menjadi logam dengan bilangan oksidasi 0. Endapan yang terbentuk selanjutnya dapat ditentukan berdasarkan beratnya, misalnya mengendapkan tembaga terlarut dalam suatu sampel cair dengan cara mereduksi. Cara elektrolisis ini dapat diberlakukan pada sampel yang diduga mengandung kadar logam terlarut cukup besar seperti air limbah. Suatu analisis gravimetri dilakukan apabila kadar analit yang terdapat dalam sampel relatif besar sehingga dapat diendapkan dan ditimbang. Apabila kadar analit dalam sampel hanya berupa unsurpelarut, maka metode gravimetri tidak mendapat hasil yang teliti. Sampel yang dapat dianalisis dengan metode gravimetri dapat berupa sampel padat maupun sampel cair Prinsipnya senyawa ion yang akan diendapkan dipisahkan secara elektrolisis pada elektrode-elektrode yang sesuai. Sehingga jika elektrolisisnya cermat dapat terhindar dari peristiwa kopresipitasi dan post-presipitasi.

Kesalahan Dalam Analisis Gravimetri 1. Kesalahan yang sering terjadi pada metode analisis gravimetri adalah pembentukan endapan, pemurnian (pencucian), pemanasan atau pemijaran dan penimbangan. 2. Pada pembentukan endapan kadang mengandung zat lain yang juga membentuk endapandengan pereaksi yang digunakan, sehingga diperoleh hasil yang lebih besar dari yang sebenarnya. Kesalahan ini kadang dimbangi dengan kelarutan zat dalam pelarut yang digunakan. 3. Pada proses pemurnian (pencucian endapan), dengan melakukan pencucian bukan hanya zat pengotor sajayang larut tetapi juga zat yang dianalisis juga ikut larut, meskipun kelarutannya jauh lebih kecil. Dengan demikan penggunaan pencuci harus sedemikan kecil supaya kehilangan zat yang dianalisis masih dapat diabaikan, artinya masih lebih kecil dari pada sensitivitas timbangan yang digunakan. 4. Pada proses pembakaran atau pemijaran kadang terjadi pelepasan air yang tidak sempurna atau sifat zatyang diendapkan yang mudah menguap (volatil).

5. Hal yang penting juga adalah adanya beberapa endapan yang mudah tereduksi oleh karbon bila disaringdengan kertas saring seperti perak klorida, sehingga harus disaring dengan menggunakan cawan penyaring (berpori) dapat juga terjadi kelebihan pemijaran sehingga terjadi dekomposisi sehingga komposisi zat tidak tentu. 6. Kesalahan juga terjadi dari suatu endapan yang telah dipijarkan akan mengalami penyerapan air atau gaskarbondioksida selama pendinginan sehingga hasil

penimbangan menjadi lebih besar dari yang seharusnya, ini dihindari dengan alat penggunaan penutup cawan yang rapat dan desikator yang cukup baik selama pendinginan.

Percobaan ini diawali dengan menimbang 2 gram CuSO4 dan diletakkan dalam gelas beaker 50 mL, kemudian ditimbang dan dicatat massanya. CuSO4 sebanyak 1,5 gram dipindahkan ke dalam gelas beaker 250 ml, timbang ulang gelas beaker 50 ml yg berisi sisa garam tembaga dan dicatat massanya. Massa kedua dikurangkan terhadap massa pertama maka akan diperoleh massa sampel dalam gelas beaker 250 mL dan dicatat hasil yang diperoleh. Tambahkan 50 mL H2SO4 ke dalam gelas beaker 250 mL sambil dipanaskan dan diaduk sampai CuSO4 larut. Pemanasan bertujuan agar kelarutan meningkat seiring meningkatnya temperatur. Penambahan H2SO4 secara perlahan pada larutan yang sudah diencerkan bertujuan untuk mencegah endapan terjadi terlalu cepat. Karena jika endapan terjadi terlalu cepat menyebabkan endapan yang diperoleh kecil permukaannya. Ini dikarenakan proses pembentukan inti lebih cepat dibanding laju pertumbuhan inti. Logan Zn sebanyak 1,2 gram dimasukkan ke dalam larutan, ditutup dengan gelas arloji dan dibuka tutupnya setiap beberapa saat untuk mengaduk larutan. Penambahan Zn berfungsi agar semua ion tembaga dalam larutan dapat diubah menjadi logamnya. Karena Zn merupakan reduktor yang lebih kuat daripada Cu sehingga penambahan Zn dapat menyebabkan terjadinya reaksi substitusi yang mereduksi Cu menjadi logamnya, sedangkan Zn akan berikatan dengan ion SO42-. Apabila larutan tidak berwarna masih melepaskan gas berarti reaksi belum sempurna, maka ditambahkan 2 mL HCl encer dengan pengadukan dan dipanaskan hingga gasnya habis. Penambahan larutan HCl pada percobaan ini berfungsi sebagai pelarut sampel. Logam tembaga yang mengendap dipisahkan dengan cara dekantasi yaitu dengan memisahkan antara larutan dan endapan yang terbentuk, larutan sisa dibuang dan endapan kemudian dicuci dengan akuades sambil diaduk beberapa menit sebanyak dua kali,

selanjutnya dilakukan pencucian menggunakan 15 mL aseton. Pencucian endapan dimaksudkan untuk membersihkan endapan dari cairan induknya yang selalu terbawa. Adanya cairan ini pada pemanasan akan meninggalkan bahan-bahan yang tidak mudah menguap, karenanya endapan harus dicuci sebersih mungkin. Proses pencucian menggunakan akuades serta aseton karena tidak melarutkan endapan serta tidak menyebabkan peptisasi dan sifatnya mudah menguap. Setelah itu dikeringkan aseton sisa dengan evaporasi dengan bantuan pemanasan dalam gelas beaker 1000 mL (dalam prosedur percobaan evaporasi seharusnya menggunakan gelas beaker 400 mL) yang berisi air panas serta tambahkan 1 mL HCl encer untuk mencegah pengendapan air sadah. Dipanaskan hingga kering dan bau aseton tidak tercium lagi. Didinginkan dan ditimbang bersama beaker gelasnya. Massa gelas beaker beserta sampel tembaga dicatat dan pindahkan sampel dalam kertas saring dan ditentukan berat sampel dengan menimbang massa gelas beaker tanpa sampel.

REAKSI DAN STOIKIOMETRI Zn(s) M R S 0,02 0,009 0,011 + CuSO4(aq) 0,009 0,009 Cu(s) 0,009 0,009 + ZnSO4 0,009 0,009

Diketahui : massa Zn = 1,2 gram Ar Zn = 65,41 gram/mol massa CuSO4 = 1,5 gram Mr CuSO4 = 159,62 gram/mol Ar Cu = 63,55 gram/mol

Penyelesaian : mol Zn = mol CuSO4 = massa endapan Cu =

Hasil percobaan dan perhitungan didapatkan kadar Cu dalam CuSO4 sebesar 153,975% hasil ini kurang sesuai dengan literatur (Farmakope Indonesia III, 1979)

yang menyebutkan bahwa kadarnya adalah tidak kurang dari 98,5% dan tidak lebih dari 101,0%. Perbedaan ini disebabkan kurangnya ketelitian praktikan dalam melakukan percobaan.

V. KESIMPULAN

a. Analisis gravimetri merupakan salah satu bentuk analisis kuantitatif yang dilakukan dengan proses penimbangan. Dalam analisis Gravimetri terdapat tiga metode yang digunakan yaitu : metode pengendapan, metode penguapan, dan metode elektrolisis b. Untuk metode pengendapan prinsip kerjanya yaitu senyawa yang akan dianalisis diendapkan dengan menambahkan pereaksi yang sesuai dan selanjutnya dipisahkan endapannya dengan cara dekantasi. c. Hasil yang diperoleh kadar Cu dalam CuSO4 adalah sebesar 153,975% dan

hasil ini kurang sesuai dengan literature (Farmakope Indonesia III, 1979) yang menyebutkan bahwa kadarnya adalah tidak kurang dari 98,5% dan tidak lebih dari 101,0%. Perbedaan ini disebabkan kurangnya ketelitian praktikan dalam melakukan percobaan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1979, Farmakope Indonesia III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia : Jakarta Anonim, 1995, Farmakope Indonesia IV, Departemen Kesehatan Republik Indonesia : Jakarta

Anonim,

2011,

Analisis

Gravimetri,

http://www.scribd.com/doc/52895684/Analisis-

Gravimetri-adalah-suatu-bentuk-analisis-kuantitatif-yang-berupa-penimbangan, Diakses tanggal 31 Desember 2011

Irawati,

2008,

Analisis

Gravimetri,

http://www.scribd.com/doc/31589496/Analisis-

Gravimetri. 17/06/2008, Diakses tanggal 31 Desember 2011

Salila, Musrin, 2009, Analisis Gravimetri, http://www.scribd.com/doc/24485076/AnalisisGravimetri-Oleh-Musrin-Salila.17/05/2008, Diakses tanggal 31 Desember 2011

Siztkreig, 2009, Kimia Makalah Gravimetri, http://sitzkriegawan.blogspot.com/2009/05/kimia-makalah-gravimetri.html, Diakses tanggal 31 Desember 2011

Shofian, 2010, Analisis Gravimetri, http://forum.um.ac.id/index.php?topic=23812.0, Diakses tanggal 31 Desember 2011

Widiarto, Sonny, 2009, Gravimetri, http://blog.unila.ac.id/widiarto/files/2009/10/gravimetri1.pdf, Diakses tanggal 31 Desember 2011

X3-PRIMA, 2009, Gravimetri, http://www.x3-prima.com/2009/05/gravimetri.html, Diakses tanggal 31 Desember 2011

Zulfikar, 2010, Gravimetri, http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimiakesehatan/pemisahan-kimia-dan-analisis/gravimetri/, Diakses tanggal 31 Desember 2011