Anda di halaman 1dari 57

BAB III PELAT

A. PENGERTIAN PELAT 1. Merupakan komponen struktur, dimana perbandingan antara tinggi/tebal nya dengan lebarnya kurang dari satu 2. Beban yang bekerja tegak lurus pada bidang struktur tersebut 3. Pelat beton bertulang sangat kaku, dan umumnya digunakan/difungsikan sebagai diafragma/unsur pengaku horizontal yang sangat bermanfaat untuk mendukung ketegaran balok portal 4. Beban yang bekerja pada pelat umumnya diperhitungkan terhadap beban gravitasi (beban mati dan/atau beban hidup) 5. Dalam perhitungan lebar pelat dianggap satu meter

D. Sistem penulngan pelat 1. Pelat satu arah (one way slab) 2. Pelat dua arah (two way slab)

a. b. c. d.

Sistem Sistem Sistem Sistem

pelat dengan balok lantai flat slab lantai grid lajur balok

a. Sistem plat dengan balok

b.Sistem flat slab

c. Sistem lantai grid

Sistem lajur balok

1) Pelat satu arah (one way slab) a. Konstruksi pelat satu arah Pelat hanya menahan momen satu arah/momen yang dominan satu arah. Contoh pelat kantilever, pelat dengan tumpuan dua tumpuan, pelat dengan empat tumpuan dengan perbandingan lebar lebih dari dua Karena momen lentur hanya bekerja satu arah, yaitu sejajar bentang (l), maka tulangan pokoknya satu arah yang sejajar dengan bentangnya (l) Agar tulangan pokok posisinya tidak berubah maka dipasang tulangan bagi tegak lurus dengan tulangan pokok Tulangan pokok dipasang dekat tepi luar beton, dan tulangan bagi dipasang pada bagian dalam, dan diikat dengan bendrat. Bendrat juga berfungsi penahan retak beton akibat suhu.

DIAGRAM ALIR UNTUK MENGHITUNG PELAT

TUMPUAN PELAT Untuk merencanakan pelat yang perlu diperhatikan bukan hanya pembebanan saja, tetapi juga jenis tumpuan dan jenis penghubung di tempat tumpuan Jenis tumpuan plat sbb :

a. Plat ditumpu balok monolit

b. Pelat ditumpu balok/tembok tidak monolit

c.

Pelat ditumpu kolom secara langsung (cendawan)

Jenis perletakan pelat pada balok Kekakuan hubungan antara pelat dan konstruksi pendukungnya (balok) menjadi salah satu bagian dari perencanaan pelat 1) Terletak bebas jika pelat diletakkan begitu saja di atas pelat/balok Tidak dicor bersamasama Pelat dapat berotasi 2) Terjepi elastis Jika pelat dicor bersamasama dengan balok Balok cukup kecil Balok tidak cukup kuat mencegah terjadinya rotasi

3) Terjepit penuh Jika pelat dicor bersamasama secara monolit dengan balok Ukuran balok cukup besar Sehingga balok cukup mampu mencegah terjadinya rotasi pelat

BENTANG THEORITIS ( l )

l=L+a

b 2h l = L + 100 b > 2h l = L + 100

Bentang teoritis menurut SNI 03-2847-2002, Ps 10.7 h L l as

l_= L+h l l as

h L
50 mm 50 mm

L 3.00 m l=L L > 3.00 m l = L + 2x50 mm

DISTRIBUSI GAYA-GAYA DALAM PLAT SATU ARAH Gaya dalam pelat satu arah dihitung dengan prinsip-prinsip mekanika teknik, baik statis tertentu maupun statis tak tentu dengan prinsip-prinsip keseimbangan sbb

SKSNI T15-1991-03 mengijinkan menghitung distribusi gaya dengan methode koefisien momen. Dengan ketentuan sbb :

Tabel koefien momen

Tabel koefien momen (lanjutan)

TEBAL MINIMAL PELAT Tebal pelat minimal (h) Sesuai dengan Pasal 11.5.2.3 SNI 03-2847-2002, tebal minimal pelat satu arah adalah sbb :

TUMPUAN

Dua tumpuan sederhana

Satu ujjung menerus

Dua ujung menerus

Kantilever

PENUTUP BETON TULANGAN

PERHITUNGAN TULANGAN Syarat-syarat yang harus dipenuhi

DIGRAM ALIR, DESAIN PENAMPANG TULANGAN TUNGGAL


Mulai

Diketahui : fc, fy Asumsikan tinggi penampang, merujuk pada persyaratan lendutan Asumsikan

TDK

YA

Pilth tulangan aktual


Analisa dengan diagram

Asumsikan d baru

Hitung Momen desain luar rencana Mn Akibat beban luar dan berat sendiri

Selesai

Atau

Anggap = 0,5b

PLAT DENGAN TULANGAN POKOK SATU ARAH

Daerah lapangan

POTONGAN

1. Tulangan bagi 2. Tegak lurus terhdp tul pokok 3. Posisi di atas pada lapisan kedua 4. Simbul dua segitiga terbalik

TAMPAK ATAS

1. Tulangan pokok 2. Posisi di atas lapisan kesatu 3. Simbul segitiga terbalik

PELAT DUA TUMPUAN l/4


Tumpuan Lapangan

l/4
Tumpuan Keterangan : 1. Tul pokok tumpuan, posisi di atas lapis pertama Tul pokok lapangan, posisi dibawah, lapis pertama Tul bagi utk tul pokok tumpuan, posisi di atas lapis kedua Tul bagi untk tul pokok lapangan, posisi di bawah lapis kedua

POT
1 1

2.

3 2 4

3.

4.

TAMPAK ATAS

POLA DAN SYARAT PENULANGAN PELAT

S 4/3 diameter max agregat

Tulangan bagi s5h s 450 mm

LUAS TULANGAN MINIMAL PELAT a. Tulangan utama/pokok fc 31,36 Mpa .As = 1,4/fy. b . d fc > 31,36 Mpa b. Tulangan bagi/susut dan suhu

Selanjutnya dihitung dengan diagram desain tulangan tunggal

(satu ujung menerus)

5.Hitung tulangan

PELAT DUA ARAH (Two way slab) 1. Pelat menahan momen dua arah, arah lx dan arah ly, lx arah pendek dan ly arah panjang. 2. Karena harus menahan dua arah momen, maka tulangan pokok juga dipasang dua arah, arah lx dan arah ly. 3. Tulangan lapangan sudah membentuk anyaman antara tulangan arahn lx dan ly. Untuk tulangan tumpuan harus dipasang tulangan bagi 4. Tulangan arah lx dipasang pada bagian luar, sedangkan tulangan arah ly dipasang pada bagian dalam 5. Tebal minimal pelat dua arah bisa merujuk tabel di bawah ini

BEBAN PADA PLAT DUA ARAH

0,25 ly 0,50 lx

0,50 ly ly-lx

0,25 ly 0,50 lx

1/10.lx
0,25 lx

0,50 lx

0,25 lx

1/10.lx

1/10.lx

1/10.lx

0,25 ly 0,50 lx

0,50 ly ly-lx

0,25 ly 0,50 lx

1/10.lx
0,25 lx

0,50 lx

0,25 lx

1/10.lx

1/10.lx

1/10.lx

1/5 lx

1/5 lx

1/5.lx

1/5.lx