Anda di halaman 1dari 4

BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Masalah pengangguran merupakan salah satu masalah yang cukup rumit yang dihadapi setiap negara, khususnya negara berkembang seperti Indonesia. Tahun 2004 persentase pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 9,86% dari total angkatan kerja yang ada, meningkat menjadi 10,26% pada tahun 2005, kemudian meningkat lagi menjadi 10,27% pada tahun berikutnya. Tahun 2007 persentase tersebut menurun menjadi 9,10%, tahun 2008 menjadi 8,39% dan tahun 2009 telah menjadi 7,51%. Namun angka pengangguran ini masih cukup tinggi jika dbandingkan dengan kondisi ketika perekonomian tidak lagi mampu menyediakan kesempatan kerja. Untuk mengatasi masalah pengangguran ini, pemerintah telah melakukan berbagai langkah kebijakan. Pada tanggal 8 Desember 2005, Presiden Susilo Bambang Yodoyono telah mencanangkan Gerakan Penanggulangan Pengangguran(GPP). Selain itu, untuk meransang kesempatan kerja baru yang lebih banyak, pemerintah juga melakukan usaha perbaika kondisi iklim investasi melalui intruksi Presiden No. 03 Tahun 2006, dan kebijakan kebijakan lainnya. Namun pada kenyataannya, angka pengangguran yang masih tinggi menggambarkan bahwa kebijakan kebijakan untuk mengatasi masalah pengangguran masih harus lebih ditingkatkan. Perekonomian Nasional dipengaruhi oleh banyaknya tenaga kerja yang terserap pada sektorsektor perekonomian. Jumlah tenaga kerja yang mengisi sektorsektor perekonomian tersebut dapat menjadi salah satu potensi sektor sektor perekonpmian. Semakin banyak jumlah tenaga kerja yang terserap disuatu sektor, dapat dikatakan sektor tersebut bukan hanya penyumbang dalam pembentukan produk nasional maupun regional, tetapi juga memberikan lapangan kerja bagi penduduk. Sektor pertanian masih merupakan penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia. Pada tahun 2004 2009 sektor pertanian mampu menyerap tenaga kerja sekitar 40 41 juta jiwa. Sektor perdangangan mampu menyerap sekitar 19 21 juta jiwa tenaga kerja, diikuti sektor industri yang mampu menyerap sekitar 11 12 juta jiwa tenaga kerja. Ketersediaan dan penyerapan tenaga kerja setiap sektor di berbagai daerah di Indonesia tentunya berbedabeda, yang disebabkan oleh kondisi kependudukan dan perencanaan pembangunan disetiap daerah yang juga berbeda. Pendidikan merupakan salah satu motor penggerak untuk menjauhkan masyarakat dari keterbelakangan pengetahuan dan sarana untuk mengembangkan potensi sumber daya manusia Indonesia agar dapat meningkatkan kesejahteraan hidup. Melalui pendidikan, masyarakat dibekali berbagai ilmu pengetahuan maupun ketrampilan sebagai bekal untuk terjun ke dunia kerja. Dengan kualitas sumber daya manusia yang baik, masyarakat diharapkan mampu memenuhi segala kebutuhan akan tenaga kerja yang ada, lebih dari itu bahkan juga mampu menciptakan usaha kreatif yang membuka lapangan kerja.

Pemerintah telah melakukan berbagai langkah kebijakan berkaitan dengan tujuan peningkatan sumber daya manusia Indonesia. Dimulai dari Wajib Belajar 6 dan 9 tahun, Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA) yang dimulai sejak tahun 1996, Bantuan Operasional Sekolah (BOS) pada tahun 2005, dan program program pendidikan lainnya. Untuk tahun 2009, anggaran yang ditetapkan pemerintah untuk pendidikan adalah sebesar 207,4 triliun atau sebesar 20% dari APBN. Sebelumnya, dana yang digunakan pemerintah untuk pendidikan relatif kecil namun terus mengalami peningkatan, yaitu 5,5% dari APBN untuk tahun 2004, menjadi 8,1% pada tahun 2005, sekitar 10% untuk tahun 2006 dan 2007, kemudian menjadi 18,5% untuk tahun 2008. Besarnya anggaran ini membuktikan besarnya perhatian dan keseriusan pemerintah dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Sepanjang tahun 2003 2008, telah terjadi peningkatan pada jumlah lulusan disetiap jenjang pendidikan, kecuali untuk lulusan pendidikan tinggi. Tahun 2003/2004 tercatat jumlah lulusan wajib belajar 9 tahun adalah sebesar 2.301.584 orang, kemudian meningkat menjadi 2.508.789 orang pada tahun 2007/2008, lulusan pendidikan menengah juga meningkat dari 1.590.768 orang menjadi 1.729.077 orang, sedangkan lulusan pendidikan tinggi menurun dari 683.376 orang menjadi 292.485 orang. Semakin banyaknya masyarakat Indonesia yang menyelesaikan pendidikan dapat menjadi indikasi bahwa telah terjadi peningkatan pada kualitas sumber daya manusia Indonesia. Dengan semakin tinggi pendidikan maka semakin tinggi keahlian seseorang yang tentu diharapkan berdampak pada meningkatnya produktifitas kerjanya. Semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat, maka semakin beragam bidang keahlian yang dikuasai. Karena hal ini, masyarakat dengan pendidikan menegah dan tinggi cenderung lebih terserap sebagai karyawan ataupun tenaga ahli disektor industri, konstruksi, perdagangan, pengangkutan, keuangan dan jasa pelayanan (sektor sekunder dan tersier). Demikian sebaliknya, masyarakat yang berpendidikan rendah akan cenderung lebih banyak terserap sebagai tenaga kerja terampil di sektor pertanian dan pertambangan (sektor primer).

Perincian Pendapatan dan Hibah (1+2)

APDN 949,66

APBN-P

Realisasi semester I

1. Penerimaan dalam negeri (a+b) a. Penerimaan perpajakan b. Penerimaan negara bukan pajak 2. Hibah Belanja negara (a+b)

948,15 742,74 205,41 1,51 1.047,67

a. Belanja pemerintah pusat b. Transfer ke daerah Surflus atau Defisit Anggaran (a+b)

725,24 322,42 -98,01

Pembiayaan (i+ii)

98,01

i. ii.

Pembiayaan dalam negeri Pembiayaan luar negeri

107,89 -9,88

Sumber data : Kementrian keuangan