Anda di halaman 1dari 27

Anggota penelitian :

1. Hafni Sutiyaningsih

09411.132

2. Hepi Nur Suwaidah

09411.141

3. Ike Hidayati Fitrianingrum

09411.151

A.

PENDAHULUAN

Riset

Operasi

adalah

metode

untuk

memformulasikan

dan

merumuskan

permasalahan sehari-hari baik mengenai bisnis, ekonomi, sosial maupun bidang

lainnya ke dalam pemodelan matematis untuk mendapatkan solusi yang optimal.

Bagian

terpenting

dari

Riset

Operasi

adalah

bagaimana

menerjemahkan

permasalahan

sehari-hari

ke

dalam

model

matematis.

Faktor-faktor

yang

mempengaruhi pemodelan harus disederhanakan dan apabila ada data yang kurang,

kekurangan tersebut dapat diasumsikan atau diisi dengan pendekatan yang bersifat

rasional. Dalam Riset Operasi diperlukan ketajaman berpikir dan logika. Untuk

mendapatkan solusi yang optimal dan memudahkan kita mendapatkan hasil, kita

dapat menggunakan komputer. Software yang dapat digunakan antara lain: LINDO

(Linear, Interactive and Discrete Optimizer) dan POM For dan masih banyak lagi.

Pada pembahasan ini, peneliti akan menggunakan salah satu dari materi

Opearsi Riset yaitu Metode Transportasi. Metode Transportasi merupakan suatu

metode

yang

digunakan

untuk

mengatur

distribusi

dari

sumber-sumber

yang

menyediakan produk yang sama ke tempat tempat yang membutuhkan secara optimal

dengan biaya yang terminimal . Alokasi produk ini harus diatur sedemikian rupa

karena terdapat perbedaan biaya-biaya alokasi dari satu sumber atau beberapa sumber

ke tempat tujuan yang berbeda.

Tabel awal dapat dibuat dengan dua metode, yaitu:

1. Metode North West Corner (NWC) => dari pojok kiri atas ke pojok kanan bawah

Kelemahan : tidak memperhitungkan besarnya biaya sehingga kurang efisien.

2. Metode biaya terkecil => mencari dan memenuhi yang biayanya terkecil dulu.

Lebih efisien dibanding metode NWC.

Setelah tabel awal dibuat, tabel dapat dioptimalkan lagi dengan metode:

1. Stepping Stone (Batu Loncatan)

2. Modified Distribution Method (MODI)

Selain

metode-metode

di

atas

masih

ada

satu

metode

yang

lebih

sederhana

penggunaannya yaitu metode Vogel’s Approximation Method (VAM).

di atas masih ada satu metode yang lebih sederhana penggunaannya yaitu metode Vogel’s Approximation Method (V

B. DISKRIPSI PENELITIAN

Pada masa global dan “cepat” seperti saat ini, semakin banyak kebutuhan yang

diperlukan

oleh

setiap

individu

dalam

siklus

hidupnya.

Pemenuhan

kebutuhan

tersebut, utamanya yang berupa barang, disambut luar biasa oleh para penggerak

bisnis dengan melakukan proses produksi. Di sisi lain, mereka juga menghadapi

permasalahan dalam mendistribusikannya kepada konsumen.

Menurut American Marketing Association dalam Swastha

2008, saluran

distribusi merupakan suatu struktur unit organisasi dalam perusahaan atau luar

perusahaan yang terdiri atas agen, dealer, pedagang besar dan pengecer, dimana

sebuah komoditi, produk, atau jasa dipasarkan. Untuk itu, mereka harus menemukan

solusi

agar

barang

sehingga

keuntungan

dapat

yang

menjangkau

konsumen

didapat

lebih

banyak

dengan

meminimalkan

biaya

dan

konsumen

pun

berkenan

membeli karena harga jualnya tidak melampaui harga pasaran.

Secara garis besar, pendistribusian dapat diartikan sebagai kegiatan pemasaran

yang berusaha memperlancar dan mempermudah penyampaian barang dan jasa dari

produsen

kepada

konsumen,

sehingga

penggunaannya

sesuai

dengan

yang

diperlukan (jenis, jumlah, harga, tempat, dan saat dibutuhkan). Dengan kata lain,

proses distribusi merupakan aktivitas pemasaran yang mampu:

1. Menciptakan nilai tambah produk melalui fungsi-fungsi pemasaran yang

dapat

merealisasikan

kepemilikan.

kegunaan/utilitas

bentuk,

tempat,

waktu,

dan

2. Memperlancar arus saluran pemasaran (marketing channel flow) secara fisik

dan

non-fisik.

Yang

dimaksud

dengan

arus

pemasaran

adalah

aliran

kegiatan yang terjadi di antara lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat di

dalam proses pemasaran. Arus pemasaran tersebut meliputi arus barang

fisik, arus kepemilikan, arus informasi, arus promosi, arus negosiasi, arus

pembayaran,

arus

pendanaan,

arus

penanggungan

risiko,

dan

arus

pemesanan.

Dalam pelaksanaan aktivitas-aktivitas distribusi, perusahaan kerapkali harus bekerja

sama dengan berbagai perantara (middleman) dan saluran distribusi (distribution

channel) untuk menawarkan produknya ke pasar.

Pada

organisasi

bisnis,

riset

operasi

berperan

dalam

memaksimalkan

keuntungan atau meminimalkan biaya yang ada di perusahaan. Selain itu, menurut

Siang(2009:3), riset operasi juga

memberikan solusi dalam permasalahan distribusi.

Distribusi bukan sekedar “bagaimana mengantar barang ke konsumen” , karena

distribusi banyak mencakup hal kompleks lain seperti lokasi dan ukuran gedung,

pusat distribusi, mikro distribusi, kebijakan distribusi, logistik dan sistem distribusi.

Seperti yang telah dijabarkan di atas, bagian terpenting dari Riset Operasi

adalah

bagaimana

menerjemahkan

permasalahan

sehari-hari

ke

dalam

model

matematis. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemodelan harus disederhanakan dan

apabila ada data yang kurang, kekurangan tersebut dapat diasumsikan atau diisi

dengan pendekatan yang bersifat rasional. Dan untuk menyelesaikan permasalahan

distribusi

di

Transportasi.

atas,

riset

operasi

“menyediakan”

metode

solusi

yaitu

Metode

Metode transportasi adalah suatu metode yang digunakan untuk mengatur

distribusi dari sumber-sumber yang menyediakan produk yang sama, ke tempat-

tempat yang membutuhkan secara optimal. Metode transportasi berhubungan dengan

distribusi suatu produk tunggal dari beberapa sumber, dengan penawaran terbatas,

menuju ke beberapa tujuan dengan permintaan tertentu. Asumsi dasar model ini

adalah biaya transport pada suatu rute tertentu proporsional dengan banyaknya unit

yang dikirimkan. Pada model transportasi, yang harus diperhatikan adalah bahwa total

kuantitas pada seluruh baris harus sama dengan total kuantitas pada seluruh kolom,

jika tidak, maka perlu ditambahkan kuantitas dummy.

Jadi, kita dapat mengetahui bahwa metode transportasi secara garis besar,

yaitu:

1. Merupakan salah satu bentuk dari model jaringan kerja (network).

2. Suatu model yang berhubungan dengan distribusi suatu barang tertentu

dari sejumlah sumber (sources) ke berbagai tujuan (destinations).

3. Setiap

sumber

mempunyai

sejumlah

barang

untuk

ditawarkan

(penawaran) dan setiap destinasi mempunyai permintaan terhadap barang

tersebut.

4. Terdapat biaya transportasi per unit barang dari setiap rute (dari sumber ke

destinasi).

5. Suatu destinasi dapat

sumber.

memenuhi permintaannya dari satu

atau lebih

Dan jika disederhanakan, karakteristik dari metode Transportasi, yaitu:

1. Suatu barang dipindahkan (transported), dari sejumlah sumber ke tempat

tujuan dengan biaya seminimum mungkin.

2. Atas barang tersebut tiap sumber dapat memasok suatu jumlah yang tetap

dan tiap tempat tujuan mempunyai jumlah permintaan yang tetap.

Tujuan Metode Transportasi

1.

Biaya distribusi dapat ditekan seminimal mungkin.

 

2.

Berguna

untuk

memecahkan

permasalahan

distribusi

(alokasi

hasil

produksi).

3.

Memecahkan permasalahan bisnis lainnya, seperti yang berkaitan dengan

pengiklanan, alokasi dana untuk investasi dsb.

Metode transportasi dimulai dengan penentuan solusi awal. Tabel solusi awal

dapat dibuat dengan dua metode, yaitu :

1. Metode North West Corner (NWC)

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

a. Mulai pada pojok kiri atas (barat laut table) dan alokasikan sebanyak

mungkin tanpa menyimpang dari batasan penawaran dan permintaan.

b.

Hilangkan

baris

atau

kolom

yang

tidak

dapat

dialokasikan

lagi,

kemudian alokasikan sebanyak mungkin ke kotak didekat baris atau

kolom yang tidak dihilangkan, jika kolom atau baris sudah dihabiskan,

pindahkan secara diagonal kekotak berikutnya.

c. Lanjutkan dengan cara yang sama sampai semua penawaran telah

dihabiskan dan keperluan permintaan telah dipenuhi.

Kelemahan dari metode ini adalah tidak memperhatikan besar atau kecil

nya biaya.

2. Metode biaya terkecil (Least Cost Method)

Solusi awal yang didapat dengan menggunakan Metode Ongkos Terkecil

lebih baik dari Northwest Corner ,sebab penyelesaian pada metode ini

sudah melibatkan faktor biaya.

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

a. Pilih variable Xij (kotak) dengan biaya transport (cij) terkecil dan

alokasikan sebanyak mungkin. Ini akan menghabiskan baris i atau

kolom j.

b. Dari kotak-kotak sisanya yang layak (yaitu yang tidak terisi atau

dihilangkan) pilih cij terkecil dan alokasikan sebanyak mungkin.

Lanjutkan

c. proses

terpenuhi.

ini

sampai

semua

penawaran

dan

permintaan

Setelah tabel solusi awal dibuat, tabel dapat dioptimalkan dengan beberapa

metode. Diantaranya, metode Stepping Stone (Batu Loncatan), VAM dan Modified

Distribution Method (MODI). Namun dari beberapa metode tersebut, metode VAM (

Vogel

Approxmation

metode

)

yang

lebih

sederhana

dan

efektif

dalam

penggunaannya. Dengan pertimbangan itu, peneliti menggunakan metode North West

Corner (NWC), Metode Biaya Terkecil (Least Cost Method), dan VAM ( Vogel

Approxmation metode ) untuk menghitung biaya alokasi dan untuk mengetahui

perbandingan antara ketiga metode tersebut manakah yang hasilnya lebih optimal.

Dari penjabaran di atas, peneliti bermaksud melakukan observasi dengan

mencoba melihat permasalahan disekeliling yang memiliki kendala dan nanti nya bisa

diselesaikan dengan metode transportasi.

Pada masa ini masyarakat digerakkan untuk mampu menciptakan lapangan

kerja sendiri sebagai solusi atas membludaknya jumlah pengangguran dan sempitnya

lapangan pekerjaan yang ada. Salah satu wujud usaha tersebut adalah home industri

yang

berpotensi

menjadi

pabrik.

Usaha

ini

mampu

menyerap

tenaga

kerja

di

sekitarnya dan menambah keahlian mereka serta menggerakkan roda perekonomian

yang notabene lokasinya berada di daerah pinggiran bahkan pedesaan.

Kekayaan alam Indonesia sangatlah berlimpah, hampir setiap tempat memiliki

kekayaan alam dan sebenarnya bisa dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai

jual yang tinggi. Benda-benda yang selama ini dianggap tidak bisa dijadikan produk

berdaya jual, bisa berubah menjadi bisnis yang menjanjikan.

Selain memanfaatkan alam sekitar untuk berwirausaha, beberapa tetangga

yang menjadi karyawan, pasti akan diajari cara membuat barang-barang yang akan

diproduksi. Meski tergolong usaha kecil, namun jika jumlah home industry meningkat

tentu masalah pengangguran akan lebih teratasi dan alam sekitar pun akan lebih terasa

manfaatnya. Jika home industri terus berkembang dan masyarakat berfikir pada home

industri maka sudah bisa dipastikan pengangguran akan berkurang dan taraf hidup

meningkat.

Krisis global yang menimpa dunia sejak akhir tahun lalu menyebabkan

Indonesia juga sudah mulai terkena dampak yang cukup signifikan. Hal ini terutama

dengan semakin sempitnya lapangan pekerjaan dan tingginya gelombang PHK di

perusahaan-perusahaan yang berbasis ekspor. Hal ini menyebabkan banyak orang

mulai berpikir untuk mencari alternatif lain berupa wirausaha.

Namun, dengan berkembangnya waktu, mulai dirasa perlu untuk mencari

tambahan pemasukan guna memenuhi kebutuhan hidup yang semakin meningkat.

Ibu-ibu rumah tangga dan para mantan karyawan ini mulai melirik berbagai potensi

home industry yang masuk dalam skala Usaha Kecil dan Menengah.

Berbagai inovasi di ciptakan dengan membuat berbagai bentuk kreasi hasil

home industry, salah satunya yang paling marak adalah usaha di sector makanan dan

minuman. Antara lain: membuat donat, coklat, roti unyil, minuman kemasan dari

lidah buaya, rumput laut, dan sebagainya. Dari semula iseng-iseng, ternyata home

industry ini malah sudah mulai mendapat tanggapan pasar yang cukup baik.

Salah satu usaha home industri yang cukup menarik perhatian kami adalah

Pabrik Roti Mariana Bakery yang dikelola oleh Ibu Lina. Pabrik Roti Mariana Bakery

merupakan rintisan dari home indutri yang saat ini sudah berkembang berskala besar

karena memiliki 2 pabrik pendamping sebagai pendukung produksi. Saat berkunjung

ke tempat produksi Mariana Bakery, peneliti disambut hangat oleh sang pemilik.

Beliau bernama lengkap Lina Mariana, sosok ibu rumah tangga yang berada dibalik

lezatnya produk Mariana Bakery. Dengan ramah beliau mengajak peneliti melihat-

lihat lokasi produksi di Desa Kwangsen RT 08 di daerah jiwan kota Madiun. Beliau

juga menceritakan bahwa usaha ini hanyalah usaha kecil yang beliau kembangkan

bersama sang suami setelah mengikuti suatu pelatihan demo pembuatan roti.

Jenis

roti yang diproduksi oleh Mariana Bakery ada beberapa macamnya,

diantaranya pia isi coklat, roti isi dengan berbagai pilihan rasa nanas, pandan, coklat,

dan stroberi (secara umum disebut bakery) dan cake berukuran kecil dengan toping

krim manis yang biasanya dipesan untuk acara pernikahan.

Dalam berproduksi, di pabrik yang dikelola oleh Ibu Lina, terdapat sekitar 15

orang

pegawai

yang

kebanyakan

ibu

rumah

tangga

dan

notabene

merupakan

penduduk disekitar tempat produksi tersebut. Ada yang bekerja untuk menimbang

bahan-bahan dasar seperti tepung dan lain-lain, mengaduk adonan, mengolah adonan

dan membentuknya menjadi roti serta meng-oven semua hasil adonan tersebut. Jam

kerja di pabrik roti ini dimulai pada pukul 7 pagi dan berakhir pada pukul 4 sore

dengan waktu istirahat siang ketika waktu dhuhur. Dalam sehari, mereka mampu

mengolah sekitar 5 sak dasar yang nanti menjadi (kurang lebih) 10.000 biji roti yang

secara keseluruhan tidak secara langsung diedarkan ke konsumen.

Sebenarnya

pabrik

roti

yang

baru

rilis

sekitar

tahun

2010

ini

sudah

memasarkan roti buatannya, namun diproduksi oleh 2 pabrik yang sekarang dikelola

oleh saudara beliau sejak tahun 1998 lalu. Dengan modal yang didapat melalui

peminjaman, beliau memutuskan untuk membuat lokasi baru agar produknya bisa

terjangkau masyarakat secara luas. Jadi sebenarnya, terdapat 3 buah pabrik yang

berada dibawah naungan Mariana Bakery meski dikelola oleh orang yang berbeda

tetapi saling berhubungan.

Selama masa merintis hingga sekarang ada beberapa kendala yang dihadapi

oleh Ibu Lina. Karena terletak di daerah desa dengan daya beli konsumen yang

rendah, Bu Lina dihadapkan pada kendala yaitu mencari target konsumen yang baru

untuk menambah income usahanya. Disinilah masalah pendistribusian produk Ibu

Lina bermula.

Untuk memasarkan roti produksi nya, agar dapat menjangkau konsumen yang

lebih luas, ibu Lina dibantu oleh distributor - distributor dan mobil box yang siap

mengedrop roti nya ke semua tempat. Jika para distributor hanya “bertebaran” di

daerah sekitar Madiun dan karisidenan, maka rute mobil box tersebut bisa mencapai

daerah Bojonegoro, Cepu, Blora dan Tuban.

Proses pendisribusian tersebut mungkin membuat daya jangkau produk roti

Mariana

Bakery

terhadap

konsumen

semakin

luas,

namun

di

sisi

lain

juga

memunculkan biaya produksi tambahan. Apalagi jika barang kembali (dikenal dengan

istilah BS), roti yang dikembalikan adalah setengah dari jumlah barang. Hal ini tentu

saja mampu menimbulkan kerugian. Untuk itu perlu dicari solusi agar proses

pendistribusian tetap berjalan dan biaya produksi bisa optimal dan mengurangi resiko

kerugian. Hal ini berusaha peneliti dapatkan solusinya melalui metode transportasi

dengan mengunakan NWC, Metode Biaya Terkecil dan VAM.

C.

PENGAMATAN

Pada

ulasan

sebelumnya,

peneliti

telah

memaparkan

bahwa

observasi

dilakukan di sebuah tempat produksi roti, Mariana Bakery milik Ibu Lina Mariana.

Usaha home industri yang drintis sejak 1998 yang kini berkembang menjadi sebuah

pabrik yang mampu menyerap tenaga kerja disekitar lingkungan produksi.

Proses produksi dibagi menjadi beberapa tahapan, yaitu penimbangan bahan

dasar, pengadukan adonan, pembentukan, pemanggangan dan pengemasan. Proses ini

dikerkjakan oleh sekitar 15 orang pegawai dengan jam kerja antara pukul 7 pagi

sampai 4 sore. Sekali berproduksi, mereka mampu menghasilkan 10.000 roti.

Produk yang dihasilkan (produk unggulan) adalah pia isi coklat, roti isi selai

dengan berbagai pilihan rasa nanas, pandan, coklat, dan stroberi (secara umum disebut

bakery) dan cake berukuran kecil dengan toping krim manis yang biasanya dipesan

untuk acara pernikahan.

Bahan-bahan

yang

digunakan

juga

berkualitas

sehingga

sehat

untuk

dikonsumsi. Meski harga bahan seperti telur, tepung terigu, gula sangat sensitif dalam

hal kenaikan harga, namun sang pemilik tetap berusaha memberikan yang terbaik agar

tidak mengecewakan konsumen.

Dengan dibantu oleh 10 distributor aktif dan mobil box, produksi bisa

terdistribusi ke daerah Madiun, Karisidenan Madiun, Tuban, Blora, Cepu dan Tuban.

Meski produk mulai dikenal dan dijangkau oleh konsumen, namun biaya yang muncul

akibat proses pendistribusian menjadi kendala tersendiri bagi Ibu Lina. Apalagi, hal

tersebut juga berpengaruh terhadap harga jual kepada konsumen. Untuk itu peneliti

ingin mengetahui biaya optimal dari pengalokasian hasil produksi tersebut.

Pengamatan dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu pada tanggal 1, 2 dan 10 Juli.

Pengamatan dimulai dengan pengumpulan data produksi dan profil lengkap usaha

tersebut, kendala yang dialami, proses dan hasil produksi, pendistribusian dan alokasi

biaya.

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, proses pendisribusian tersebut

mungkin membuat daya jangkau produk roti Mariana Bakery terhadap konsumen

semakin luas, namun di sisi lain juga menambah biaya produksi. Untuk itu perlu

dicari solusi agar proses pendistribusian tetap berjalan dan biaya produksi bisa

optimal

dan

mengurangi

resiko

kerugian

dengan

memperhatikan

pengalokasina

produk dan biaya.

 
 

Sistem

pendistribusian

yang

Ibu

Lina

gunakan

masih

berdasarkan

kepercayaan. Awalnya, ketika para distributor membutuhkan barang atau produk roti

mereka akan datang ke lokasi produksi secara kontinu untuk mengambil sejumlah

produk roti sesuai kebutuhan mereka.

Dalam permasalahan ini peneliti hanya akan mengambil 3 distributor yang

menaungi 3 area dari beberapa distributor yang bekerjasama dengan Ibu Lina yaitu

Area H (Madiun), Area I (se Eks-Karisedenan), Area J (rute luar kota dengan mobil

box yaitu

Bojonegoro, Tuban, Cepu, dan Blora). Pemilihan ini dilakukan pada

distributor dengan jumlah pengambilan produk banyak. Dan dengan tiga macam jenis

roti yaitu pia, bakery dan cake sebagai produk yang akan didistribusikan. Produksi

dilakukan oleh 3 buah pabrik milik Mariana Bakery yaitu Pabrik A, B dan C (yang

beralamat di Desa Kwangsen di daerah Jiwan kota Madiun hanya berbeda lokasi

 

namun

peneliti

dalam

mengumpulkan

data

berfokus

di

lokasi

RT

08

karena

narasumber berdomisili di sana).

 

D.

LAPORAN DATA

Data-data

yang

peneliti

dapatkan,

dikumpulkan

bersamaan

dengan

proses

pengamatan dengan metode observasi langsung dan tanya jawab. Data data yang

peneliti peroleh selama tiga kali kunjungan kemudian dikumpulkan dan diolah

sehinggga siap diselesaikan dengan metode Transportasi. Jadi, semua hal atau data

peneliti sampaikan disini lebih disederhanakan untuk fokus ke pembahasan yang

berujung pada pemanfaatan Metode Transportasi.

Berikut ini adalah kumpulan data yang diperlukan untuk pengerjaan dengan

metode Transportasi yang berhasil peneliti dapatkan, diantaranya:

a. Mariana Bakery adalah sebuah usaha home industri yang berkembang menjadi

usaha pabrik roti rumahan dengan jenis produk unggulan yaitu pia isi coklat, roti

isi dengan berbagai pilihan rasa nanas, pandan, coklat, dan stroberi (secara umum

disebut bakery) dan cake berukuran kecil dengan toping krim manis yang

biasanya dipesan untuk acara pernikahan.

b. Mariana Bakery memiliki 3 buah pabrik yang berlokasi di tiga tempat yang

berbeda namun masih dalam suatu wilayah dengan jarak tempuh yang terjangkau.

c. Proses memulai usaha tersebut adalah dengan modal yang didapat dengan cara

meminjam dan menyerap tenaga kerja di sekitar lingkungan produksi yang rata-

rata adalah ibu rumah tangga.

d. Usaha dirintis dengan minat pribadi dan didukung adanya pelatihan demo roti.

e. Kendala yang dihadapi berkaitan dengan pendistribusian.

1. Konsumen dengan daya beli yang rendah terhadap produk roti di sekitar

tempat produksi.

2. Tenaga pendistribusian dan transportasi yang menambah pengeluaran biaya

produksi.

f. Bahan dasar yang digunakan dalam pembuatan roti adalah:

Tepung terigu, gula, ragi roti, wijen, mentega, telur, selai aneka rasa, minyak

goreng, garam dan bubuk coklat.

Secara terpisah, bahan-bahan yang digunakan untuk membuat produk adalah :

1. Pia isi coklat

a. Tepung terigu

b. Minyak goreng

c. Ragi Roti

d. Garam

e. Wijen

f. Bubuk Coklat

g. Gula

h. Telur

2. Bakery dan Cake

a. Tepung terigu

b. Garam

c. Gula

d. Ragi Roti

e. Mentega

f. Telur

g. Proses distribusi dimulai dengan datangnya para distributor ke tempat produksi

untuk

mengambil

sejumlah

produk

kemudian

dengan

kendaraan

mereka

mengantarkan (mengedrop) roti-roti tersebut ke sejumlah toko- toko yang ada di

wilayah edar (rute) masing-masing distributor.

h. Harga jual tiap bungkus roti ke distributor

NO

Jenis Produk

Harga

(roti)

(bungkus)

 

1 Pia

Rp. 400

 

2 Bakery

Rp. 900

 

3 Cake

Rp. 1400

Nantinya para distributor akan menjual produk tersebut dengan harga yang

bervariasi namun tetap sesuai standar jual.

i. Mengenai keuntungan produksi dan penghasilan tiap bulan Ibu Lina kurang

berkenan menjawab.

j. Berikut ini adalah data mengenai kapasitas produksi dan kebutuhan gudang serta

biaya pendistribusian yang dikeluarkan.

Data-data diatas dapat disusun ke dalam tabel

Tabel 1 . Produksi Pabrik Roti “Mariana Bakery”

Pabrik

Kapasitas Produksi tiap bulan

Pabrik A

1500

Pabrik B

5000

Pabrik C

1000

Jumlah

7500

Tabel 2. Kapasitas Kebutuhan Area

Distributor

Area H

Area I

Area J

Jumlah

Kebutuhan produksi tiap bulan

3500

2500

1500

7500

Tabel. 3. Biaya untuk Mendistribusikan Barang dari Pabrik ke Distributor

Biaya (Rp) Ke Area I

Dari

Ke Area H

Ke Area J

Pabrik A (Produk Pia) Pabrik B (Produk Roti Selai) Pabrik C (Produk cake)

18000

30000

50000

12000

20000

65000

16000

36000

34000

E. ANALISA DATA

Setelah semua data-data terkait dengan usaha rumahan Ibu Lina Mariana

untuk penelitian telah terkumpul dan tersusun dalam tabel, maka langkah selanjutnya

adalah mengalokasikan produk dari pabrik-pabrik ke area - area. Pengalokasian

produk secara optimal dapat diatasi dengan menggunakan berbagai cara salah satunya

dengan

menggunakan

metode

transportasi.

Metode

transportasi

dimulai

dengan

penentuan solusi awal. Tabel solusi awal dapat dibuat dengan dua metode yaitu North

West Corner (NWC) dan Biaya Terkecil ( Least Cost Method ).

. Berdasarkan langkah-langkah pemecahan masalah transportasi yang sudah

dijabarkan pada bab sebelumnya, peneliti dapat menganalisis data dari permasalahan

yang ada yaitu sebagai berikut:

Tabel Awal Transportasi

Ke Kapasitas Area H (Rp) Area I (Rp) Area J (Rp) Dari Pabrik Pabrik A
Ke
Kapasitas
Area H (Rp)
Area I (Rp)
Area J (Rp)
Dari
Pabrik
Pabrik A
18000
30000
50000
1500
Pabrik B
12000
20000
65000
5000
Pabrik C
16000
36000
34000
1000
Kebutuhan
3500
2500
1500
7500
Area

Setelah data tersusun dalam table awal transportasi, maka langkah

elanjutnya adalah mengalokasikan produk dari pabrik-pabrik ke distributor-

distributor. Pedoman NWC yang merupakan prosedur alokasi sistematis pertama

adalah pedoman sudut barat laut, maka dari data diatas diperoleh tabel sebagai

berikut :

Tabel Metode NWC Area H Area I Area J Ke Kapasitas (Dalam Ribuan (Dalam Ribuan
Tabel Metode NWC
Area H
Area I
Area J
Ke
Kapasitas
(Dalam Ribuan
(Dalam Ribuan
(Dalam Ribuan
Dari
Pabrik
Rupiah)
Rupiah)
Rupiah)
18
30
50
Pabrik A
1500
1500
12
20
65
Pabrik B
5000
2000
2500
500
16
36
34
Pabrik C
1000
1000
Kebutuhan
3500
2500 1500
7500
Area

Ket: 1. Pabrik A = Produk Pia

2. Pabrik B = Produk Roti Selai

3. Pabrik C = Produk Cake

Dalam penggunaan metode NWC, biaya yang dikeluarkan:

(1500.18) + (2000.12) + (2500.20) + (500.65) + (1000.34)

= 167500

= Rp. 167.500.000

Pembuktian Metode NWC dengan menggunakan TORA

+ (2000.12) + (2500.20) + (500.65) + (1000.34) = 167500 = Rp. 167.500.000 Pembuktian Metode NWC

Karena biaya masih bisa ditekan secara optimal, maka untuk

penyelesaian selanjutnya digunakan Metode Biaya Terkecil:

Tabel Metode Biaya Terkecil

Area H Area I Area J Ke Kapasitas (Dalam Ribuan (Dalam Ribuan (Dalam Ribuan Dari
Area H
Area I
Area J
Ke
Kapasitas
(Dalam Ribuan
(Dalam Ribuan
(Dalam Ribuan
Dari
Pabrik
Rupiah)
Rupiah)
Rupiah)
18
30
50
Pabrik A
1500
1000
500
12
20
65
Pabrik B
5000
3500
1500
16
36
34
Pabrik C
1000
1000
Kebutuhan
3500
2500
1500
7500
Area

Ket: Pabrik A = Produk Pia

Pabrik B = Produk Roti Selai

Pabrik C = Produk Cake

Dalam penggunaan metode Biaya Terkecil, biaya yang dikeluarkan:

(3500.12) + (1000.30) + (1500.20) + (500.50) + (1000.34)

= 125000

= Rp 125.000.000

Pembuktian Metode Least Cost dengan menggunakan TORA

+ (1500.20) + (500.50) + (1000.34) = 125000 = Rp 125.000.000 Pembuktian Metode Least Cost dengan

Penyelesaian yang lain adalah menggunakan Metode VAM ( Vogel’s

Approximation Method ). Metode ini merupakan metode yang lebih mudah dan

lebih cepat untuk mengatur alokasi dari beberapa sumber ke daerah tujuan.

Tabel Metode VAM

Perbedaan Ke Kapasitas Area H (Rp) Area I (Rp) Area J (Rp) Baris Dari Pabrik
Perbedaan
Ke
Kapasitas
Area H (Rp)
Area I (Rp)
Area J (Rp)
Baris
Dari
Pabrik
Pabrik A
18
30
50
1500
30-18 = 12
Pabrik B
12
20
65
5000
20-12= 8
Pabrik C
16
36
34
1000
34-16=18
Kebutuhan
3500
2500
1500
Area
Perbedaan
16-12
30-20
50-34
Kolom
=
4
=10
=16
X CH = 1000
Hilangkan
baris C
Area H (Rp) Area I (Rp) Area J (Rp) Kapasitas Perbedaan Ke Pabrik Baris Dari
Area H (Rp)
Area I (Rp)
Area J (Rp)
Kapasitas
Perbedaan
Ke
Pabrik
Baris
Dari
Pabrik A
18
30
50
1500
30-18 = 12
Pabrik B
12
20
65
5000
20-12= 8
Kebutuhan
Area
3500 – 1000
= 2500
2500
1500
Perbedaan
18-12
30-20
50-
34
Kolom
=
6
=10
=16
X AJ = 1500
Hilangkan
kolom J
Perbedaan Ke Kapasitas Area H (Rp) Area I (Rp) Baris Dari Pabrik 1500 – 1500
Perbedaan
Ke
Kapasitas
Area H (Rp)
Area I (Rp)
Baris
Dari
Pabrik
1500 – 1500
= 0
30-18 = 12
Pabrik A
18
30
Pabrik B
12
20
5000
20-12= 8
Kebutuhan
2500
2500
7500
Area
Perbedaan
18-12
30-20
Kolom
= 6
=10
X AH = 0
Hilangkan
baris A
Perbedaan Ke Kapasitas Area H (Rp) Area I (Rp) Baris Dari Pabrik Pabrik B 12
Perbedaan
Ke
Kapasitas
Area H (Rp)
Area I (Rp)
Baris
Dari
Pabrik
Pabrik B
12
20
5000
20-12= 8
Kebutuhan
2500
2500
Area
X BH = 2500
X BI = 2500

Biaya

= (16 x 1000) + (50 x 1500) + (18 x 0) + (12 x 2500) + (20 x 2500)

= 16000 + 75000 + 0 + 30000 + 50000

= 171000

= Rp. 171.000.000

Pembuktian Metode VAM dengan menggunakan TORA

+ (20 x 2500) = 16000 + 75000 + 0 + 30000 + 50000 = 171000

F. KESIMPULAN PENELITIAN

Dari data di atas peneliti dapat menyimpulkan bahwa hasil yang paling optimal

adalah menggunakan metode dengan biaya terkecil ( Least Cost Method ) dengan biaya

Rp. 125.000.000,- lebih kecil dibandingkan menggunakan North West Corner (NWC)

dengan biaya Rp. 167.500.000,- dan VAM ( Vogel Approxmation metode ) dengan

biaya Rp. 171.000.000

. Jadi biaya alokasi usaha Roti Mariana Bakery yang paling

optimal adalah Rp. 125.000.000

Note :

Meskipun terasa janggal karena seharusnya VAM menghasilkan biaya lebih kecil

(optimal) namun peneliti telah memeriksanya dengan TORA dan hasilnya benar.

Karena berdasarkan observasi berdasarkan pengamatan nyata dan tidak direkayasa

maka peneliti tampilkan hasilnya secara apa adanya. Secara garis besar, peneliti

simpulkan

bahwa

permasalahan

yang

setiap

metode

dikupas

oleh

permasalahan khusus.

memiliki

keunggulan

penulis

diatas

dapat

masing-masing.

Dan

dikategorikan

sebagai

LAMPIRAN DATA FOTO

LAMPIRAN DATA FOTO Kediaman Keluarga Ibu Lina Mariana (Founder Mariana Bakery) di Desa Kwangsen RT. 08,

Kediaman Keluarga Ibu Lina Mariana (Founder Mariana Bakery) di Desa Kwangsen RT. 08, Kec. Jiwan, Kab. Madiun, beserta gudang penyimpanan tepung

Kec. Jiwan, Kab. Madiun, beserta gudang penyimpanan tepung Pabrik Roti Mariana Bakery beserta mobil box yang

Pabrik Roti Mariana Bakery beserta mobil box yang dipakai untuk pengiriman barang yang ada diluar kota

mobil box yang dipakai untuk pengiriman barang yang ada diluar kota Ruangan pembuatan Roti Pabrik Roti

Ruangan pembuatan Roti Pabrik Roti Mariana Bakery

Proses pencetakkan Roti yang dilakukan para pekerja Pabrik Roti Mariana Bakery Produk Roti Mariana Bakery

Proses pencetakkan Roti yang dilakukan para pekerja Pabrik Roti Mariana Bakery

Roti yang dilakukan para pekerja Pabrik Roti Mariana Bakery Produk Roti Mariana Bakery setengah jadi, Produk

Produk Roti Mariana Bakery setengah jadi, Produk roti cake tidak bisa kami lampirkan karena pada saat observasi mereka belum memproduksi roti cake.

Proses peng-oven-an Roti Mariana Bakery Hasil Roti setelah dioven dan siap dikemas.

Proses peng-oven-an Roti Mariana Bakery

Proses peng-oven-an Roti Mariana Bakery Hasil Roti setelah dioven dan siap dikemas.

Hasil Roti setelah dioven dan siap dikemas.

Proses pengemasan Roti Mariana Bakeri. Roti Mariana Bakeri yang siap kirim.

Proses pengemasan Roti Mariana Bakeri.

Proses pengemasan Roti Mariana Bakeri. Roti Mariana Bakeri yang siap kirim.

Roti Mariana Bakeri yang siap kirim.

Beberapa distributor Roti Mariana Bakery

Beberapa distributor Roti Mariana Bakery