Anda di halaman 1dari 15

PENATALAKSANAAN HERPES GENITALIS

Bagian/Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK /RS 2010

PENDAHULUAN DEFINISI Herpes genitalis adalah infeksi pada genitalia yang ditularkan melalui hubungan seksual, yang disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe 2 dengan gejala khas berupa vesikel yang berkelompok dengan dasar eritema dan bersifat rekuren Herpes genitalis dikarakteristikkan dengan erupsi berulang vesikel kecil dan nyeri pada genital, sekitar rektum, atau area yang menutupi perbatasan dengan kulit.1 EPIDEMIOLOGI Survei kesehatan nasional terakhir di Amerika Serikat mengungkapkan seroprevalensi antibodi VHS tipe 2 pada 45% orang kulit hitam, 22% Meksiko-Amerika, dan 17% orang kulit putih.2 Seropositivitas pada VHS tipe 2 lebih banyak pada wanita (25%) daripada pria (17%).3 Dari usia, infeksi VHS tipe 2 dapat terjadi pada neonatus (dari episode maternal saat kelahiran). Infeksi genital VHS tipe 2 pada anak mengindikasikan kekerasan seksual. Peningkatan usia (setelah onset aktivitas seksual) dan jumlah partner seksual adalah faktor yang berkaitan dengan seroprevalensi antibody VHS tipe 2.3 ETIOPATOGENESIS Penyebab herpes genitalis adalah virus herpes simpleks tipe 2 (VHS tipe 2). VHS tipe 2 adalah virus DNA yang dapat menyebabkan infeksi akut pada kulit yang ditandai dengan adanya vesikel yang berkelompok di atas kulit yang sembab dan eritematosa pada daerah dekat mukokutan, menginfeksi daerah genital dan sekitar anus (gambar 1a dan 1b).2 Virus herpes simpleks merupakan famili herpesviridae dan subfamili alfaherpesviridae. VHS merupakan virus DNA rantai ganda yang memiliki sifat neurovirulen (kemampuan invasi dan replikasi pada sistem saraf), laten (dapat menetap di gangglion proksimal sel saraf hingga menuju ke tempat infeksi yaitu kulit). Pada infeksi genitalia VHS menginvasi ganglion saraf sakralis. Kemudian, reaktivasi. Reaktivasi dan replikasi dari VHS laten pada 1

area yang dipersarafi ganglion sakralis dan dapat diinduksi oleh berbagai stimuli (demam, trauma, stres emosional, sinar matahari, menstruasi) sehingga mengakibatkan rekurensi (Gambar 2a dan 2b). VHS dapat berreaktivasi lebih banyak di daerah genital daripada orolabial (VHS tipe 1). Reaktivasi lebih sering pada pasien imunodefisiensi. Penyebaran infeksi VHS dapat terjadi pada pasien dengan imunitas sel-T yang rendah, seperti pada penerima transplantasi organ dan AIDS. VHS memiliki distribusi di seluruh dunia. Manusia adalah satu-satunya sumber penularan. Daerah endemik memiliki reservoir yang telah mengalami infeksi laten, reaktivasi periodik. Penyebaran VHS dengan kontak langsung, infeksi terjadi melalui inokulasi virus ke permukaan mukosa seperti orofaring, serviks, konjungtiva, atau lesi kulit. Virus dapat menjadi inaktif pada suhu ruangan.3 GEJALA KLINIS Herpes genital merupakan manifestasi klinis infeksi VHS tipe 2. Herpes genital dapat disebabkan VHS tipe 1 pada 10-40% kasus, terutama pada hubungan seksual oro-genital. Kemungkinan mendapat infeksi VHS tipe 1 pada orang yang telah terinfeksi VHS tipe 2 jarang terjadi. Tetapi terjadinya infeksi VHS tipe 2 pada orang yang telah terinfeksi VHS tipe 1 sebelumnya banyak terjadi sehingga dapat terjadi infeksi traktus genital yang disebabkan VHS tipe 1 dan 2 sekaligus. Pasien dengan herpes genital rekuren yang diketahui sebelumnya akibat infeksi VHS tipe 1 harus dilakukan pemeriksaan penunjang untuk mengetahui kemungkinan adanya infeksi VHS tipe 2.4 Gejala klinis herpes genital akut primer (terjadi pertama kali) baik yang disebabkan VHS tipe 1 maupun tipe 2 adalah sama. Gejala yang ditimbulkan berupa lesi genital ekstensif dengan vesikel, pustul, ulkus eritematosa yang membutuhkan 2 sampai 3 minggu masa penyembuhan (Gambar 1a dan 1b). Pada pria, lesi biasanya terjadi pada glans penis atau batang penis; pada wanita, lesi sering terjadi di vulva, perineum, bokong, vagina, serviks. Gejala tersebut disertai nyeri, gatal, disuria, sekret dari vagina dan uretra, dan limfadenopati inguinal. Tanda dan gejala sistemik sering ditemukan, diantaranya demam, sakit kepala, malaise, dan mialgia. Radikolomyelitis sakralis herpetik dengan retensi urin dapat terjadi. Servisitis akibat VHS terjadi pada lebih dari 80% wanita dengan infeksi primer. Ini dapat bermanifestasi sebagai sekret vagina. purulen atau disertai darah dan pada

Gambar 1. A. Herpes genital primer dengan vesikel. B.Herpes genital dengan vulvitis.4

Gambar 2. A. Herpes genital rekuren pada penis. Sekelompok vesikel dengan krusta pada bagian sentral dengan dasar eritem pada batang penis. B. Herpes genital: infeksi rekuren vulva. Erosi disertai nyeri pada labia.4

regio yang harus diperiksa terdapat eritem, lesi ulseratif ekstensif dari eksoserviks, atau servisitis nekrotik. Sekret serviks umumnya mukoid, dapat pula mukopurulen.4 Rerata rekurensi infeksi VHS tipe 2 sangat bervariasi antara individu, dan pada episode rekurensi yang berbeda pada satu individu. Infeksi genital yang disebabkan VHS tipe 2 mengalami rekurensi lebih sering daripada VHS tipe 1 sebanyak enam belas kali lebih banyak dan rerata terjadi 3-4 kali pertahun, tetapi dapat pula terjadi tiap pekan. Rekurensi sering terjadi pada bulan pertama hingga beberapa tahun setelah infeksi pertama. Manifestasi 3

klinis klasik dari herpes genital rekuren termasuk lesi vesikel berukuran kecil dan berkelompok pada regio genital (Gambar 2a dan 2b). Tetapi ini dapat terjadi pada daerah tubuh berpola celana pendek (boxer shorts). Rekurensi dapat terjadi pada area yang sama atau berbeda. Timbulnya lesi dapat didahului rasa gatal, rasa terbakar, dan gejala rekuren lebih ringan dari gejala infeksi primer. Tanpa pengobatan, lesi biasanya menyembuh dalam 6-10 hari. Servisitis herpetik dapat terjadi pada rekurensi, terjadi pada 12% pasien. Ini dapat terjadi tanpa lesi eksternal. Tanda dan gejala yang lebih umum yang membuat herpes genital tidak terdiagnosis adalah lesi eritem kecil, fisura, pruritus, dan gejala traktus urinarius. VHS dapat mengakibatkan uretritis, yang tampak sebagai sekret mukoid jernih, disuria, dan poliuri. Kadang-kadang, HSV dapat berkaitan dengan endometritis, salpingitis, atau prostatitis. Infeksi anal dan perianal simtomatik dan asimtomatik sering terjadi. Proktitis herpetik timbul bersamaan dengan nyeri anorektal, sekret anorektal, tenesmus, dan konstipasi, dengan lesi ulseratif dari mukosa rektal distal. Herpes genital rekuren dapat terjadi pada regio nongenital.4 Masalah dalam penatalaksanaan herpes genitalis adalah penularan melalui hubungan seksual dan rekurensi. Pada makalah ini akan dibahas penatalaksanaan rekurensi herpes genitalis. PEMBAHASAN PENATALAKSANAAN Semua pasien dengan aktivitas seksual aktif harus diberikan edukasi berkaitan dengan risiko untuk mendapat dan menyebarkan infeksi menular seksual. Studi menunjukkan sekitar beberapa pasien dengan infeksi VHS tipe 2 dengan tanda-tanda yang tidak nyata dan dapat diedukasi untuk dapat mengenal gejala dan tanda herpes genital. Kemudian, pasien harus diedukasi untuk melakukan hubungan seksual yang aman. Harus ditekankan pemberitahuan bahwa mayoritas transmisi terjadi pada fase asimtomatik dan dari pasien yang tidak punya lesi klasik. Pasien dengan herpes genital harus dinasihati untuk berhenti dari aktivitas seksual sebulum permulaan pengobatan dan 1-2 hari setelah pengobatan dan untuk menggunakan kondom selama masa pengobatan. Terapi antiviral supresif juga merupakan pilihan untuk individu yang sadar tentang kemungkinan transmisi kepada partner seksual (lihat terapi antiviral untuk pencegahan).4 4

Wanita hamil yang telah terkena herpes genital harus diyakinkan bahwa risiko penularan selama partus sangat rendah. Rekomendasi penatalaksanaan wanita hamil dengan herpes genital rekuren termasuk evaluasi seccara klinis saat persalinan, dengan persalinan secara seksio sesaria, jika ada infeksi aktif (termasuk prodormal). Tetapi seksio sesaria tidak dapat mencegah infeksi herpes neonatal bila ketuban pecah sebelum waktu lebih dari atau sama dengan 24 jam. Wanita dengan infeksi VHS primer selama masa kehamilan, khususnya selama trimester kedua dan ketiga, harus diberi terapi antiviral. Untuk wanita pada saat atau setelah 2 minggu masa gestasi, dengan risiko infeksi herpes genital, terapi antiviral supresif dapat dilakukan. Pengkulturan untuk infeksi VHS pada ibu dan/atau anak masih kontroversial. Rekomendasi terbaru adalah pengkulturan VHS pada saat persalinan pada wanita dengan riwayat herpes genital. Wanita dengan lesi genital aktif saat persalinan dan bayi mereka harus dikultur serial. Kultur harus diambil dari dari mata, oronasofaring, dan area lesi setiap 2-3 hari selama 4 minggu pertama kehidupan. Terapi pencegahan dengan asiklovir intravena telah direkomendasikan untuk neonatus lahir dengan partus pervaginam atau setelah ketuban pecah sebelum waktu yang berlangsung lama, pada wanita yang secara klinis mengalami episode pertama herpes genital saat melahirkan.4 Wanita yang telah diketahui dari tes serologik dan riwayat penyakit tidak mempunyai herpes genital harus diinformasikan tentang tanda dan gejala VHS dan bagaimana untuk mencegah infeksi selama kehamilan. Serologi sangat membantu dalam member konseling pasangan yang partner pria memiliki herpes genital rekuren dan istri yang sedang hamil memiliki risiko terkena.4 TERAPI ANTIVIRAL Banyak infeksi VHS tidak membutuhkan tatalaksana spesifik. Menjaga lesi tetap kering dan bersih ketika lesi menyembuh adalah hal yang perlu dilakukan. Tatalaksana khusus dibutuhkan pada lesi yang berlangsung lebih dari masa penyembuhan, sangat simtomatik, atau menimbulkan komplikasi.4 Asiklovir, sebuah analog guanosin asiklik, adalah komponen pertama yang direkomendasikan untuk mencegah replikasi virus yang dapat mempengaruhi sintesis nuklear sel. Penemuan ini merupakan faktor kunci untuk menganggap intervensi kemoterapi sebagai 5

pengobatan utama. Asiklovir memiliki indeks terapetik tinggi karena aktivasinya yang lebih baik di sel yang terinfeksi dan inhibisi yang lebih baik pada polimerase DNA virus. Untuk episode pertama herpes genital dapat diberikan asiklovir 200 mg oral 5 kali sehari selama 710 hari. Untuk rekuren dapat digunakan asiklovir 200 mg oral 5 kali sehari selama 5 hari.3 Asiklovir menghambat replikasi VHS tipe 1 dan 2 sebanyak 50% pada konsentrasi 0,1 dan 0,3 mikrogram/mL (rentang, 0,01 sampai 9,9 mikrogram/mL), tetapi bersifat toksik pada konsentrasi >30 mikrogram/mL. Penyebab herpes genital yang membutuhkan lebih dari 3 mikrogram/mL asiklovir untuk menghambat replikasi, digunakan asiklovir dengan pemberian intravena.4 Rekomendasi terakhir untuk tatalaksana antiviral tergantung kepada gejala klinis, status imunologi host, dan apakah tatalaksana ditujukan untuk mengobati episode primer, rekuren, atau terapi supresi (Tabel 1). Untuk infeksi herpes berat atau diseminata, digunakan asiklovir 5-10 mg/kg setiap 8 jam yang membutuhkan waktu 5-10 hari3 untuk infeksi herpes yng mengancam nyawa, termasuk ensefalitis.4 Valasiklovir, adalah ester l-valil dari asiklovir, memiliki bioavailabilitas 3 hingga 5 kali lebih tinggi dari asiklovir setelah administrasi oral. Famsiklovir baik diserap dalam bentuk oral dari pensiklovir, analog guanosin. Sama seperti asiklovir, famsiklovir diubah menjadi bentuk metabolit aktif pensiklovir-trifosfat melalui fosforilasi.4 Famsiklovir merupakan obat antivirus derivat diasetil-6-deoksi pensiklovir. Pensiklovir merupakan golongan antivirus dengan komponen guanin. Cara kerja Famsiklovir sama dengan asiklovir, yaitu menghambat sintesis DNA. Pada herpes genitalis episode pertama, famsiklovir 3 x 250 mg/ hari selama 5 hari.3 Untuk episode pertama infeksi genital VHS tipe 2, asiklovir oral, famsiklovir, dan valasiklovir mempercepat penyembuhan dan resolusi gejala. Ketika dibandingkan dengan placebo, asiklovir menurunkan masa penyembuhan dari 16 ke 12 hari, durasi nyeri dari 7 ke 5 hari, dan durasi gejala konstitusi dari 6 ke 3 hari. Valasiklovir dibandingkan dengan asiklovir pada tatalaksana episode primer dan menunjukkan hasil yang sama. Tetapi tatalaksana antivirus dari episode herpes inisial tidak menurunkan rekurensi, mungkin karena VHS melakukan infeksi laten dalam beberapa jam setelah inokulasi dan beberapa hari sebelum gejala klinis muncul.4 Untuk episode reaktivasi, zink sulfat topikal dalam gel dapat bermanfaat.5 6

Terapi supresi menunjukkan berkurangnya frekuensi rekuren pada pasien rekurensi frekuen, lebih dari 6 kali dalam 1 tahun.3 Tatalaksana episode rekuren herpes genital dengan famsiklovir, asiklovir atau valasiklovir telah menunjukkan memperpendek masa penyembuhan dari 7 ke 5 hari, dan menurunkan gejala 4 ke 3 hari ketika dibandingkan dengan plasebo. Valasiklovir dan asiklovir adalah sama, sama seperti famsiklovir.4 Episode herpes rekuren cenderung menurun, dan pengobatan antiviral akan maksimal jika terapi diberikan seawal mungkin, terutama dalam 24 jam setelah rekurensi. Asiklovir intravena kadang dibutuhkan untuk infeksi herpes yang berat, yaitu yang melibatkan otak, mata, paruparu. Komplikasi ini terdapat pada defisiensi imunitas.3 Untuk orang-orang dengan rekurensi genital dengan komplikasi, terapi supresif jangka panjang, terapi dengan asiklovir dan analognya sangat penting. Karena herpes genital tidak progresif pada host yang normal, dan rerata rekurensi bervariasi dari episode pertama dengan selanjutnya, dapat menurun beberapa tahun setelah infeksi primer, sangat bijak untuk merekomendasikan libur dari tatalaksana tiap 1 tahun atau untuk menentukan apakah kelanjutan terapi diperlukan.4 Penggunaan terapi supresif antiviral selama fase akhir kehamilan untuk mencegah herpes neonatal sudah dilakukan, tetapi untuk pembuktian secara empiris dibutuhkan jumlah sampel yang banyak, mengingat herpes neonatal jarang terjadi. Tujuan lain terapi supresi adalah mencegah seksio sesaria yang disebabkan herpes rekuren selama partus. Walaupun penggunaan asiklovir (dimulai pada kehamilan umur 36 minggu) untuk mencegah rekurensi, seksio sesaria karena herpes genital, dan penularan VHS saat partus, masih diperlukan penelitian untuk merekomendasikan penggunaan asiklovir.4 Wanita hamil yang menderita herpes genitalis primer dengan viral shedding dalam 6 minggu terakhir masa kehamilan dianjurkan untuk seksio sesaria sebelum atau dalam 4 jam sesudah pecahnya ketuban. Disarankan melakukan pemeriksaan virologik dan sitologik sejak kehamilan 32 dan 36 minggu, setelah itu sekurang-kurangnya setiap minggu dilakukan kultur sekret serviks dan genital eksterna. Bila kultur virus yang diinkubasi minimal 4 hari, memberikan hasil negatif 2 kali berturut-turut, serta tidak ada lesi genital saat melahirkan, maka dapat partus pervaginam.3 Bila ibu mengidap herpes genital primer pada saat persalinan pervaginam, harus diberikan profilaksis asiklovir intravena kepada bayi selama 5 sampai 7 hari dengan dosis 3 x 10 mg/ kg BB/ hari.3

Di bawah ini terdapat tabel 1 yang berisi regimen yang direkomendasikan sebagai terapi herpes genital.
Tabel 1. Sediaan rekomendasi untuk tatalaksana herpes genital pada infeksi primer dan rekuren. 4
Infeksi primer Dewasa Asiklovir, 200 mg peroral 5 x sehari. Asiklovir, 400 mg peroral 3 x sehari Valasiklovir, 1000 mg peroral 2 x sehari. Famsiklovir, 250 mg peroral 3 x Infeksi rekuren sehari Asiklovir, 400mg peroral 3 x sehari Asiklovir 200 mg peroral 5 x sehari Asiklovir 800mg peroral 2 x sehari. Valasiklovir, 500mg peroral 2 x sehari Valasiklovir, 1000mg peroral 1 x sehari Valasiklovir, 1000mg peroral 2 x sehari Famsiklovir 500, 250, 125 mg peroral 2 x sehari. Famsiklovir, 1000mg peroral 2 x sehari untuk 1 hari (inisiasi). Asiklovir, 1000mg/hari peroral dalam 3-5 dosis terbagi. 5-10 hari Anak Asiklovir, 4080mg/kg/hari peroral dibagi dalam 3-4 dosis (maksimum 1g/hari). Durasi 7-10 hari Keterangan

Pada pasien dengan acquired immune deficiency syndrome (AIDS) dan imunosupresi persisten, terapi supresi kronik dibutuhkan, dengan menggunakan asiklovir, 400-800mg dua atau tiga kali sehari, atau valasiklovir atau famsiklovir, keduanya pada dosis 500 mg dua kali sehari (Tabel 2).6

Tabel 2. Sediaan rekomendasi untuk tatalaksana herpes genital pada supresi rekuren, termasuk wanita hamil, dan untuk reduksi transmisi.4
Supresi rekurensi Dewasa Asiklovir, 400mg peroral 2 x sehari Asiklovir 800 mg peroral 1 x sehari Valasiklovir 500, 1000mg peroral 1 x sehari. Valasiklovir, 250mg peroral 2 x sehari Valasiklovir, 500mg 2 x sehari atau1000mg peroral 1 x sehari Famsiklovir, 250mg peroral 2 x sehari Famsiklovir 125 mg, 250mg Supresi rekuren pada wanita hamil Reduksi transmisi peroral 3 x sehari. Asiklovir, 400mg peroral 3 x sehari dari kehamilan 36 minggu hingga partus. Valasiklovir, 500mg peroral 1 x sehari Hubungan seksual aman yang Kontroversi Anak Asiklovir, 4001000mg/hari dalam 2-3 dosis terbagi. Durasi Keterangan Durasi terapi kontroversial. Beberapa institusi menggunakan selama 1 tahun dan kemudian lakukan penilaian apakah dibutuhkan kelanjutan penggunaan.

Terapi durasi panjang dengan asiklovir dan analognya, atau terapi untuk ulserasi herpetik luas, menimbulkan komplikasi keharusan penggantian cara pemberian asiklovir. Perubahan cara pemberian antiviral dimungkinkan bila dengan dosis maksimum oral asiklovir, valasikovir, atau famsiklovir tidak menunjukkan perkembangan. Asiklovir intravena, kecuali bila diberikan dengan kecepatan konstan, dapat gagal dalam beberapa kasus. Penggantian cara pemberian terhadap satu obat berkaitan dengan tidak adanya resolusi klinis dengan pemberian tiga obat ini dan disebabkan kehilangan kinase timidin viral. Isolasi VHS dapat dimanfaatkan untuk sensitivitas asiklovir dan beberapa antiviral. Terapi standar herpes simpleks tanpa resolusi klinis dengan pemberian asiklovir adalah foskarnet intravena.6 Foskarnet, adalah agen antivirus kuat, pilihan pertama terapi strain herpes tanpa resolusi klinis setelah administrasi oral asiklovir dan analognya. Foskarnet dapat menyebabkan efek 9

toksik berat, seperti perburukan fungsi ginjal reversibel dan kejang. Karena itu, foskarnet digunakan hanya untuk infeksi herpes berat dan tidak menunjukkan perbaikan dengan antiviral peroral.3 Pada kasus intoleran atau tidak ada kemajuan penyembuhan gejala terhadap foskarnet, sidofovir intravena dapat digunakan. Lesi kecil dapat diterapi dengan trifluorothymidine topikal dengan atau tanpa interferon (IFN)- topikal atau intralesi. Imiquimod dapat berguna.6 PENCEGAHAN Penggunaan kondom menurunkan rerata transmisi jika digunakan secara rutin. Sealain pencegahan dengan pendekatan kesehatan masayarakat, banyak usaha dalam terapi antiviral dan vaksin terhadap pencegahan herpes genital.4 TERAPI ANTIVIRAL Asiklovir, famsiklovir, dan valasiklovir dapat menurunkan penularan simptomatik dan subklinis VHS tipe 2, dari 8% dari waktu yang dibutuhkan kelompok plasebo ke 0,3-0,6% dari waktu kelompok yang mendapat terapi, ketika dinilai dengan kultur. Hasil terbaru, valasiklovir 500 mg 1x sehari telah ditunjukkan efektif dalam menurunkan transmisi VHS tipe 2 diantara partner seksual sebanyak 48%, dan menurunkan gejala pada partner risiko tinggi sebanyak 75% dalam uji plasebo-kontrol, secara acak termasuk imunokompeten, pasangan heteroseksual dengan pasangan seksual yang sama.4 Dosis profilaksis bervariasi antara 200-1000mg perhari; regimen tipikal 400mg 2 kali sehari, secara bertahap diturunkan untuk menemukan dosis minimum efektif. Valasiklovir 250 mg 2 kali sehari atau 1 g sekali sehari atau famsiklovir 125 mg 3 kali sehari atau 250 mg 2 kali sehari efektif untuk supresi episode rekuren.5 Terapi ini dapat direkomendasikan pada individu yang sadar akan penularan kepada pasangan, disamping penggunaan kondom.kelompok lain (pasangan homoseksual, poligami, defisiensi imunitas, infeksi VHS tipe 2 asimtomatik), tidak dapat dikatakan bahwa terapi antiviral menjadi pilihan terbaik untuk menurunkan penyebaran.4 Ion zink menghambat aktivitas polimerase DNA spesifik VHS. Aplikasi zink sulfat 0,025-0,05% dalam air selama 10 menit, yang diulang selama 2-4 kali perbulan, dapat mengurangi erupsi rekuren.5

10

KESIMPULAN Penatalaksanaan herpes genital dapat berupa komunikasi, informasi, dan edukasi mengenai cara penularan penyakit yakni melalui aktivitas seksual. Rekurensi dapat terjadi akibat reaktivasi virus yang berada pada fase laten akibat stimuli seperti demam, trauma, stres emosional, sinar matahari, menstruasi. Masalah rekurensi juga harus ditatalaksana dengan baik. Tatalaksana dengan terapi antiviral dapat digunakan asiklovir, valasiklovir, famsiklovir, baik untuk infeksi primer, rekurensi, maupun supresi rekurensi.

DAFTAR PUSTAKA 1. Lawcrofd, Steven. Herpes Simplex Virus. In: Genital Herpes. Available at
http://www.cdc.gov /std /Herpes/STDFact-Herpes.htm. 2008. Accessed September 29th 2010. 2. Handoko Roni, P. Herpes Simpleks. In: Djuanda Adhi. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. p;359-61.

11

3. Torres, Gisela. Herpes Genital Guideline Therapy . In: Herpes Simplex. Available at
http://www.emedicine.com/DERM/topic179.htm. 2009. Accessed September 30th, 2010. 4. Wood, Bill. Herpes Simplex. In; Wolf, Klaus; Brownfield, Sidney; Mclawrence, Glenn, eds. Fitzpatrick Dermatology in General Medicine. Seventh ed. New York: McGrawHill. 2008. p; 1873-94. 5. Sherling, J.C.. Genital Herpes. In: Burns, Tony; Jackfold, Mark; Rigert, D.A., eds. Rooks Textbook of Dermatology. Vol 1-4. Seventh ed. USA, Blackwell Publishing Co. 2004. p; 1113-18. 6. J., Anderson. Genital Herpes. In: D., Jamco William, Berns, Murphy; Livingston, William, eds. Andrews Diseases of The Skin Clinical Dermatology. Tenth ed. Canada: Saunders Elsevier Co.. 2006. p; 370-75.

DISKUSI 1. Apakah ada istilah resistensi virus herpes simpleks? Jawab: Tidak ada resistensi untuk virus. Tetapi, pada herpes genitalis, bila regimen antiviral asiklovir tidak dapat menginhibisi replikasi DNA virus herpes 12

simpleks tipe 2, jika dalam konsentrasi lebih dari atau sama dengan 3 mikrogram/mL, dibutuhkan penggantian cara pemberian regimen, yaitu melalui intravena, dengan asiklovir intravena dengan dosis 5-10 mg/kg setiap 8 jam yang membutuhkan waktu 5-10 hari. Bila tidak menunjukkan resolusi klinis, diberi foskarnet intravena.a Apabila regimen ini juga tidak menghasilkan penyembuhan gejala, administrasi sidofovir intravena dapat digunakan.b
Sumber: a. Torres, Gisela. Herpes Genital Guideline Therapy . In: Herpes Simplex. Available at http://www.emedicine.com/DERM/topic179.htm. 2009. Accessed September 30th, 2010. b. J., Anderson. Genital Herpes. In: D., Jamco William, Berns, Murphy; Livingston, William, eds. Andrews Diseases of The Skin Clinical Dermatology. Tenth ed. Canada: Saunders Elsevier Co.. 2006. p; 370-75.

2. Bagaimana pencegahan herpes genitalis? Jawab: Pencegahan dapat dilakukan dengan penggunaan kontrasepsi kondom, penggunaan antiviral, dan vaksin. Valasiklovir 500mg sekali sehari efektif dalam menurunkan transmisi VHS tipe 2 sebanyak 48% partner seksual. Terapi ini digunakan pada individu yang sadar akan penyebaran pada partner seksual, dikombinasi dengan penggunaan kondom. Pada kelompok lain, homoseksual, imunocompromised, infeksi VHS tipe 2 asimtomatik, terapi antiviral tidak dapat menjadi terapi yang paling adekuat untuk menurunkan transmisi. Penggunaan vaksin dapat melindungi dari kemungkinan terinfeksi atau rekurensi. Vaksin glikoprotein rekombinan mengandung protein VHS imunogenik. Vaksin glikoprotein D VHS tipe 2 rekombinan dengan adjuvant alum menurunkan kejadian penularan pada herpes genital simtomatik. Juga digunakan vaksin gD2 rekombinan yang menggunakan lipid-A monofosforil.
Sumber: Wood, Bill. Herpes Simplex. In; Wolf, Klaus; Brownfield, Sidney; Mclawrence, Glenn, eds. Fitzpatrick Dermatology in General Medicine. Seventh ed. New York: McGrawHill. 2008. p; 1873-94.

3. Kapan terapi supresi dilakukan? Jawab: Terapi supresi diberikan untuk mensupresi episode rekurensi herpes genitalis. Terapi untuk mensupresi episode rekuren dilakukan bila terjadi 13

episode rekurensi herpes genitalis lebih dari 6 kali dalam satu tahun.a Bila terjadi rekurensi lebih dari 6 kali pertahun, diberikan antiviral asiklovir, 400mg peroral 2 x sehari, valasikovir 250mg peroral 2 x sehari maupun 1000mg peroral 1 x sehari, atau famsiklovir 250mg peroral 2 x sehari maupun 125 mg peroral 3 x sehari. Sedangkan pada wanita hamil diberikan asiklovir, 400mg peroral 3 x sehari dari kehamilan 36 minggu hingga partus.b
Sumber: a. Torres, Gisela. Herpes Genital Guideline Therapy . In: Herpes Simplex. Available at http://www.emedicine.com/DERM/topic179.htm. 2009. Accessed September 30th, 2010. b. Wood, Bill. Herpes Simplex. In; Wolf, Klaus; Brownfield, Sidney; Mclawrence, Glenn, eds. Fitzpatrick Dermatology in General Medicine. Seventh ed. New York: McGrawHill. 2008. p; 1873-94.

TUGAS 1. Apa nama paten vaksin virus herpes simpleks tipe 2? Jawab: Nama dagang vaksin untuk herpes genitalis adalah US Patent 7.628.993. Paten ini khusus untuk produksi respon kekebalan pada mamalia melalui penggunaan vaksin DNA yang menghasilkan baik respon imunologi 14

sistemik, non-antigen dan respon antigen-spesifik terhadap penyakit menular seksual (PMS). Respon ini disebabkan oleh pengenalan protein DNA dari setidaknya satu dari untai virus HSV-2 ke subjek yang terinfeksi. Proses baru tersebut menghasilkan respon efektif dan lebih aman dengan vaksin sebelumnya karena cara protein terapeutik ini dikelola dalam proses vaksinasi, terutama melalui cara protein terinfeksi diformulasikan. Terapi ini dirancang untuk mengurangi atau menghilangkan episode rekurensi. Paten ini dibuat oleh Universitas Washington. Vical mengkhususkan diri dalam pengembangan vaksin berbasis DNA untuk pencegahan penyakit infeksi, kardiovaskular, dan karsinogenik. Pengobatan dengan vaksin ini mengurangi kemungkinan transmisi dan penularan.
Sumber: M., Pschein. Vical. In: A DNA vaccine for Herpes Simplex Virus. 2010. Available at http://www.patents.com/patentscommunity/a-dna-vaccine-forhsv.htm. Accessed October 10th, 2010.

2. Apakah antivirus asiklovir topikal efektif untuk herpes genitalis? Jawab: Tidak ada data yang menyebutkan bahwa asiklovir topikal efektif untuk penatalaksanaan herpes genital. Dari literatur, asiklovir topikal menurunkan durasi penyebaran virus dari lesi genital, durasi vesikel, waktu pembentukan krusta, menurunkan durasi nyeri, rasa terbakar dan gejala lain. Tetapi tidak disebutkan bahwa asiklovir topikal efektif dalam pengobatan herpes genitalis.
Sumber: Thin, R.N. Topical Acyclovir. In: Thin, R.N.; Nabarro, J.M.; Parker, J.D, eds. Topical Acyclovir in The Treatment of Initial Genital Herpes. New Jersey, Department of Genital Medicine, St Bartholomeus Hospital. 1982. p; 116-9.

15