Anda di halaman 1dari 9

ROAD MAP PENGEMBANGAN INDUSTRI PENGOLAHAN CRUDE PALM OIL (CPO) DI INDONESIA

Pendahuluan Indonesia sebagai produsen terbesar dunia minyak kelapa sawit, sampai saat ini masih mendapatkan nilai tambah terkecil dari produksi minyak kelapa sawit karena sebagian besar minyak sawit masih diekspor dalam bentuk crude palm oil (CPO) atau dalam bentuk olahannya yang sederhana seperti minyak goreng. Padahal nilai tambah dari industri hilir CPO ini sangat besar. Selama ini Malaysia telah mendahului Indonesia dalam pengolahan minyak sawit dan ekspor minyak sawit Malaysia sebagian besar berupa produk olahan turunan CPO. Mengingat peranan minyak sawit dalam pasokan minyak konsumsi dunia makin lama makin besar maka peluang pasar bagi CPO dan olahnnya makin besar. Demikian juga potensi Indonesia untuk menjadi produsen CPO masih besar karena masih didukung oleh ketersediaan lahan untuk pengembangan. Namun diperlukan upaya untuk mendapatkan nilai tambah yang lebih besar dari minyak kelapa sawit tidak hanya sekedar mengekspor dalam bentuk CPO. Upaya pengembangan industri pengolahan CPO tidak bisa berjalan begitu saja tanpa dukungan Pemerintah karena tuntuan pasar selama ini menyebabkan lebih menguntungkan untuk mengeksor CPO daripada mengolahnya didalam negeri. Untuk itu, Departemen Perindustrian belum lama ini meluncurkan kebijakan berupa rencana pengembangan industri pengolahan CPO yaitu berupa Road Map pengembangan industri pengolahan CPO. Pada dasarnya Pemerintah ingin mendorong tumbuhnya klaster industri minyak kelapa sawit dibeberapa daerah yang selama ini menjadi sentra produksi CPO seperti provinsi Sumatera Utara, Riau dan Kalimantan Timur. Menurut Direktur Jenderal Industri Agro dan Kimia Depperin Benny Wachjudi pemerintah telah menetapkan tiga lokasi klaster untuk revitalisasi industri hilir CPO (crude palm oil/minyak sawit mentah) di luar Jawa yakni Sumatra Utara, Riau, dan Kalmantan Timur. Revitalisasi industri hilir minyak sawit mentah (CPO/crude palm oil) diperkirakan akan membutuhkan investasi US$2 miliar-US$2,5 miliar secara bertahap hingga 5 tahun ke depan. Modal kerja tersebut diperlukan untuk pendirian pabrik-pabrik baru di dalam klaster, peremajaan kapasitas menganggur, peningkatan teknologi dan riset hasil industri untuk mendongkrak variasi produk, hingga perbaikan sarana infrastruktur vital. Dalam roadmap industri hilir CPO Departemen Perindustrian terungkap, pada 2015 (jangka menengah) ekspor produk hilir CPO akan ditingkatkan dari 30% menjadi 50%. Page1 Menurut Direktur Jenderal Industri Agro dan Kimia, konsep klaster oleokimia di Sumut sudah tersusun dan akan disusul Kaltim serta Riau. Untuk itu, peraturan presiden tentang klaster industri berbasis pertanian dan oleokimia diharapkan bisa terbit pada 10 Januari 2010.
PT.MATASERV BISNISINDO - Business Information, Market Research & Feasibility Study Services Ph. (021) 36086339

Berikut ini road map pengembangan indutri CPO yang disusun oleh Departemen Perindustrian Permasalahan Yang Dihadapi Industri CPO Departemen Perindustrian menilai pentingnya mengembangkan industri pengolahan CPO didalam negeri karena akan memberikan manfaat yang lebih luas kepada ekonomi nasional. Pemanfaatan pengembangan CPO sebagai bahan baku industri dapat memberikan efek berganda meliputi : a) Pertumbuhan sub sektor ekonomi lainnya, b) pengembangan wilayah industri, c) Proses alih teknologi, d) perluasan lapangan kerja, e) Perolehan devisa, f) Peningkatan penerimaan pajak. Permasalahan yang dihadapi oleh industri CPO antara lain : Pasokan CPO untuk industri dalam negeri kurang terjamin karena sebagian besar diekspor dikarenakan harga ekspor yang jauh lebih menarik, sehingga mengakibatkan utilisasi kapasitas produksi industri hilir CPO tidak optimal; Industri CPO dengan industri hilirnya tidak terintegrasi; CPO di dalam negeri dikenakan PPN 10 persen sedangkan untuk ekspor PPN 0 persen; Infrastruktur pendukung industri CPO dan turunannya antara lain pelabuhan curah cair dan jalan akses masih belum memadai; Pasokan gas bumi dan suplai listrik belum optimal; Penguasaan R & D produk hilir turunan CPO masih lemah; Adanya kampanye negatif khususnya terkait dengan masalah lingkungan; Fluktuasi harga CPO menyebabkan produk turunan CPO nonpangan yaitu biodiesel tidak mampu bersaing secara keekonomian dengan BBM subsidi; Peraturan daerah yang kurang mendukung pengembangan industri CPO antara lain berupa pungutan dan retribusi; Pabrik minyak goreng masih terkonsentrasi di Sumatera danJawa, sehingga menyebabkan tingginya harga minyak goreng di beberapa daerah wilayah Indonesia. Karena industri berbasis CPO memiliki keterkaitan kuat secara horizontal dan vertikal mulai dari hulu sampai hilir, maka pendekatan klaster dapat digunakan sebagai cara untuk pengembangan industri CPO. Namun demikian, industri berbasis CPO di Indonesia belum sepenuhnya terintegrasi antara industri hulu dan hilir. Potensi bahan baku yang tinggi sebaiknya dimanfaatkan untuk pengembangan industri hilirnya, karena mempunyai nilai tambah yang tinggi dan menimbulkan efek ganda (multipler effect) yang sangat signifikan. Dari sisi geografis dan ketenaga kerjaan, Indonesia mempunyai keunggulan yang menjadi potensi untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit maupun industri CPO. Dari sisi daya saing bahan baku, Indonesia mempunyai ketersediaan bahan baku yang tinggi mengingat lahan perkebunan kelapa sawit nasional paling luas di dunia.
PT.MATASERV BISNISINDO - Business Information, Market Research & Feasibility Study Services Ph. (021) 36086339

Page1

Disisi lain, Malaysia diperkirakan akan mengalami titik jenuh karena lahan semakin sempit, kecuali dapat meningkatkan roduktivitas yang fantastis. Rencana perluasan kebun sawit Indonesia diharapkan dapat meningkatkan peran Indonesia dalam perkelapa sawitan dunia. Disisi lain Malaysia sebagai produsen CPO kedua di dunia tidak lagi memiliki lahan pengembangan yang baru, yang ada hanyalah peningkatan produktivitas yang rata-rata 3 %. Pengembangan turunan minyak sawit dimasa yang akan datang mempunyai prospek yang sangat baik. Dalam rangka pengembangannya, perlu didukung oleh seluruh pemangku kepentingan mulai dari budidaya tanaman, proses produksi dan pemasaran. Upaya ini perlu didukung pula oleh lembaga terkait seperti Litbang, SDM, penyedia mesin dan peralatan serta Perbankan/Permodalan. Oleh karena itu, dalam rangka mewujudkan upaya peningkatan produksi CPO serta ekspor produk turunan CPO baik dalam jenis, volume dan nilai ekspor melalui pengembangan industri hilir CPO dan mengisi kekosongan kapasitas produksi industri hilir yang telah ada (existing industry) maka perlu disusun roadmap pengembangan klaster industri CPO. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) sebagaimana dituangkan dalam Kebijakan Pembangunan Industri Nasional telah menetapkan bahwa industri berbasis CPO sebagai industri prioritas pengembangannya dapat dilakukan dengan pendekatan klaster. Pengelompokkan Industri CPO Dan Turunannya Pemanfaatan CPO untuk produk olahan diantaranya oleh industri pangan dan industri non pangan. Industri pangan misalnya industri minyak goreng, margarin, shortening, cocoa butter substitutes, dan vegetable ghee, sedangkan industri non pangan seperti oleokimia (fatty acid, fatty alcohol, gliserin) dan biodiesel. Hingga saat ini terdapat sekitar 23 jenis produk turunan CPO yang telah diproduksi di Indonesia. Kondisi Industri Inti, Pendukung dan industri yang terkait dengan CPO adalah sbb: Industri Inti yang sudah berkembang yaitu industri CPO dan industri minyak inti sawit (PKO) Industri Terkait yang sudah mulai berkembang antara lain turunan CPO : Stearine, RBD PO, RBD Palm Olein, Margarine, Shortening, RBD Palm Stearine, CBS/CBE, Creaming Fats, Vegetable Ghee. Demikian juga industri terkait dari inti sawit antara lain : Fatty Alkohol dan Fatty Acid. Industri terkait yang belum berkembang adalah Palm Kernel Cake, Crude Palm Fatty Acid, RBD Palm Kernel Stearin, Metalic Salt, Polyetoxylat Derivatives, Fatty Amines, Fatty Amida, Soaps, Pakan Ternak, Gliserol, Gliserine. Industri Pendukung yang sudah berkembang adalah industri mesin peralatan PKS, industri mesin peralatan minyak goreng sawit, tangki timbun, pipanisasi, industri kemasan, lembaga penelitian PPKS. Industri pendukung yang belum berkembang adalah industri mesin peralatan turunan CPO, industri Fine chemicals, Industri Asam Phospat, usaha pembibitan, lembaga penelitian dll Page1

Kelompok Industri Hulu

PT.MATASERV BISNISINDO - Business Information, Market Research & Feasibility Study Services Ph. (021) 36086339

Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia yang berperan dalam pertumbuhan ekonomi nasional, dengan kontribusinya yang cukup besar dalam menghasilkan devisa dan penyerapan tenaga kerja. Perkembangan industri pengolahan CPO dan turunannya di Indonesia adalah selaras dengan pertumbuhan areal perkebunan dan produksi kelapa sawit sebagai sumber bahan baku. Perkebunan kelapa sawit menghasilkan buah kelapa sawit / tandan buah segar (hulu) kemudian diolah menjadi minyak sawit mentah (hilir perkebunan sawit dan hulu bagi industri yang berbasiskan CPO). Disamping menghasilkan produk CPO, pengolahan tandan buah segar (TBS) juga menghasilkan produk PKO (Palm Kernel Oil). Produksi PKO meningkat seiring dengan meningkatnya produk CPO, yakni sekitar 20% dari CPO yang dihasilkan. Kelompok Industri Antara Dari minyak kelapa sawit (CPO) dan minyak inti sawit (PKO) dapat diproduksi berbagai jenis produk antara sawit yang digunakan sebagai bahan baku bagi industri hilirnya baik untuk kategori pangan ataupun non pangan. Diantara kelompok industri antara sawit termasuk didalamnya industri olein, stearin, oleokimia dasar (fatty acid, fatty alcohol, fatty amines, methyl esther, glycerol) Kelompok Industri Hilir Dari produk antara sawit dapat diproduksi berbagai jenis produk yang sebagian besar adalah produk yang memiliki pangsa pasar potensial, baik untuk pangsa pasar dalam negeri maupun pangsa pasar ekspor. Pengembangan industri hilir sawit perlu dilakukan mengingat nilai tambah produk hilir sawit yang tinggi. Jenis industri hilir kelapa sawit spektrumnya sangat luas, hingga lebih dari 100 produk hilir yang telah dapat dihasilkan pada skala industri. Namun baru sekitar 23 jenis produk hilir (pangan dan non pangan) yang sudah diproduksi secara komersial di Indonesia. Beberapa produk hilir turunan CPO dan PKO yang telah diproduksi diantaranya untuk kategori pangan : minyak goreng, minyak salad, shortening, margarine, Cocoa Butter Substitute (CBS), vanaspati, vegetable ghee, food emulsifier, fat powder, dan es krim. Adapun untuk kategori non pangan diantaranya adalah : surfaktan, biodiesel, dan oleokimia turunan lainnya. Kapasitas terpasang industri oleokimia dasar dunia jauh lebih besar dari kebutuhan oleokimia dunia. Namun permintaan dunia akan produk oleokimia terus meningkat dari tahun ke tahun. Kenaikan permintaan oleokimia dunia dengan laju rata-rata sekitar 5% pertahun. Produsen oleokimia dasar sebagian besar berada di wilayah Asia. Sedangkan pertumbuhan produksi oleokimia dasar di wilayah Asia sekitar 7,1 % pertahun, disusul oleh wilayah Amerika 2,4 %, dan Eropa 1,3 %. Secara menyeluruh pertumbuhan produksi oleokimia dunia hingga tahun 2010 mencapai 3,7 % pertahun. Sasaran Yang Akan Dicapai Page1
PT.MATASERV BISNISINDO - Business Information, Market Research & Feasibility Study Services Ph. (021) 36086339

Dalam rangka pengembangan industri CPO yang bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah produk, investasi, perolehan devisa, serta penyerapan tenaga kerja maka Departemen Perindustrian telah metetapkan sasaran pengembangan industri CPO sebagai berikut : Sasaran Jangka Menengah (2010-2014) Terbentuknya klaster industri pengolahan CPO dan turunannya di Sumut dan Riau; Iklim usaha dan investasi yang kondusif Sasaran Jangka Panjang (2015-2025) Memperluas pengembangan produk akhir; Terbentuknya centre of excellence industri oleokimia; Penguasaan pasar; Pemantapan industri berwawasan lingkungan; Terintegrasinya industri turunan kelapa sawit di Kaltim, Kalbar, Kalteng dan Papua.

Strategi Dan Kebijakan Pemerintah menetapkan pengembangan industri CPO melalui pendekatan klaster dan arah Pengembangan industri turunan CPO adalah untuk peningkatan nilai tambah. Adanya klaster industri berbasis CPO diharapkan memperkuat keterkaitan pada semua tingkatan rantai nilai (value chain) dari industri hulunya, mampu meningkatkan nilai tambah sepanjang rantai nilai dengan membangun visi dan misi yang selaras sehingga mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi dan jenis sumber daya yang digunakan dalam industri, dan memfokuskan pada penggunaan sumber-sumber daya terbarukan (green product) Indikator Pencapaian Menurut Road map Departemen Perindustrian tersebut indikator pencapaian sasaran pengembangan industri CPO ditandai dengan : Meningkatnya investasi baru dan perluasan usaha industri berbasis CPO. Terpenuhinya pemenuhan kebutuhan dalam negeri akan produk-produk oleokimia dasar dan turunannya. Meningkatnya kapasitas industri oleokimia dasar dan turunannya. Tahapan Implementasi Beberapa langkah yang telah dilakukan berkaitan dengan pengembangan klaster industri CPO : Tahap diagnostik yaitu mengidentifikasikan kekuatan dan kelemahan klaster serta menyusun strategi pengembangan prioritas yang diarahkan pada industri oleokimia dan industri surfaktan. Sosialisasi dan mobilisasi pembentukan klaster CPO kepada pemerintah setempat dan pelaku usaha di daerah yang telah ditetapkan untuk dikembangkan menjadi lokasi pengembangan klaster industri berbasis CPO diantaranya melalui pembentukan Working Group Industri CPO di daerah tersebut.
PT.MATASERV BISNISINDO - Business Information, Market Research & Feasibility Study Services Ph. (021) 36086339

Page1

Kerjasama penelitian dan pengembangan antara dunia usaha dengan lembaga penelitian /perguruan tinggi. Pembuatan Pilot Plant pengembangan industri turunan CPO. Pembentukan Dewan Sawit Nasional yang merupakan gabungan dari seluruh pemangku kepentingan di bidang industri sawit.

Program / Rencana Aksi Jangka Menengah (2010-2014) Menjalin kerjasama di antara industri CPO dan turunannya dengan industri/institusi pendukung/terkait; Integrasi industri pengolahan CPO dan turunannya; Pengembangan industri turunan CPO ke arah industri surfaktan, industri pelumas dan biodiesel; Menjalin kerjasama R&D antara lembaga penelitian, perguruan tinggi dan industri; Meningkatkan kualitas produk sesuai SNI; Mengembangkan industri mesin peralatan; Mengembangkan industri bahan penolong; Meningkatkan kualitas SDM melalui penyusunan dan penerapan SKKNI industri kimia berbasis kelapa sawit; Mendorong peran lembaga keuangan dalam penyediaan layanan kredit dan permodalan dengan suku bunga rendah; Mendorong peran lembaga terkait dalam pemasaran; Promosi investasi; Pengembangan infrastruktur; Peningkatan koordinasi dan sinergi instansi terkait dalam penetapan kebijakan; Kebijakan insentif mendukung pengembangan industri; Penghapusan Perda yang menghambat pengembangan industri; Terbentuknya Badan Otorita Pengembangan Investasi.

Jangka Panjang (2015-2025) Diversifikasi produk oleokimia yang bernilai tambah tinggi; Inovasi produk dan teknologi melalui peningkatan R & D; Pemberian insentif bagi pelaku R&D pengembangan produk turunan kelapa sawit; Penguatan linkage antara industri kecil menengah dengan industri besar dalam rangka alih teknologi; Mendorong kegiatan penelitian pasar (market research) guna mencari orientasi dan sasaran pasar yang baru dan bernilai tambah tinggi; Peningkatan kegiatan riset teknologi industri dan rekayasa produk kimia turunan kelapa sawit yang terintegrasi; Pemenuhan pasar di dalam negeri dan perluasan pasar ekspor; Penyediaan fasilitas promosi dan pemasaran;
PT.MATASERV BISNISINDO - Business Information, Market Research & Feasibility Study Services Ph. (021) 36086339

Page1

Pengembangan teknologi proses yang efisien dan berwawasan lingkungan; Penerapan manajemen penanganan Dampak Keselamatan, Keamanan, Kesehatan dan Lingkungan Hidup (K3L) di lingkungan industri kimia berbasis kelapa sawit.

Kerangka Pengembangan Industri Pengolahan CPO Pengembangan industri CPO dibagi dalam 3 kelompok industri yaitu industri inti, industri pendukung dan industri terkait, masing-masing terdiri dari: Industri Inti : Oleokimia, bio diesel, Minyak goreng , Margarine Industri Pendukung : CPO; PKO; Kemasan; Bahan Kimia; Bleaching Earth; Karbon Aktif; Mesin & Peralatan Industri Terkait :Pembersih; Tinta; Pewarna; Cat; Surfactant; Varnish; Plasticizer; Plastik; Pelumas; Shortening; Sabun; Farmasi; Kosmetik; Produk Perawatan Tubuh; Makanan Sasaran Jangka Menengah 2010 2014 Terbentuknya klaster industri pengolahan CPO dan turunannya di Sumut dan Riau; Iklim usaha dan investasi yang kondusif Sasaran Jangka Panjang 2015 2025 Memperluas pengembangan produk akhir; Terbentuknya centre of excellence industri oleokimia Penguasaan pasar; Pemantapan industri berwawasan lingkungan; Terintegrasinya industri turunan kelapa sawit di Kaltim, Kalbar, Kalteng dan Papua

Strategi Strategi pengembangan industri CPO dikelompokkan dalam dua arah yaitu pengembangan sektor usaha dan teknologi Sektor : Diversifikasi produk kearah oleokimia dan turunannya, meningkatnya jaminan pasokan CPO untuk industri dalam negeri, ekspansi ekspor. Teknologi : Adaptasi teknologi dengan lisensi dari sumber MNC dan mendorong kemampuan pengembangan indigenous R&D. Pokok-pokok Rencana Aksi Jangka Menengah ( 2010 2014) Page1 Menjalin kerjasama di antara industri CPO dan turunannya dengan industri/institusi pendukung/terkait; Integrasi industri pengolahan CPO dan turunannya;
PT.MATASERV BISNISINDO - Business Information, Market Research & Feasibility Study Services Ph. (021) 36086339

Pengembangan industri turunan CPO ke arah industri surfaktan, industri pelumas dan biodiesel; Menjalin kerjasama R&D antara lembaga penelitian, perguruan tinggi dan industri; Meningkatkan kualitas produk sesuai SNI; Mengembangkan industri mesin peralatan; Mengembangkan industri bahan penolong; Meningkatkan kualitas SDM melalui penyusunan dan penerapan SKKNI industri kimai berbasis kelapa sawit; Mendorong peran lembaga keuangan dalam penyediaan layanan kredit dan permodalan dengan suku bunga rendah; Mendorong peran lembaga terkait dalam pemasaran. Promosi investasi; Pengembangan infrastruktur; Peningkatan koordinasi dan sinergi instansi terkait dalam penetapan kebijakan; Kebijakan insentif mendukung pengembangan industri; Penghapusan Perda yang menghambat pengembangan industri; Terbentuknya Badan Otorita Pengembangan Investasi.

Pokok-pokok Rencana Aksi Jangka Panjang ( 2015 2025) Diversifikasi produk oleokimia yang bernilai tambah tinggi; Inovasi produk dan teknologi melalui peningkatan R & D; Pemberian insentif bagi pelaku R&D pengembangan produk turunan kelapa sawit; Penguatan linkage antara industri kecil menengah dengan industri besar dalam rangka alih teknologi; Mendorong kegiatan penelitian pasar (marker research) guna mencari orientasi dan sasaran pasar yang baru dan berniali tambah tinggi; Peningkatan kegiatan riset teknologi industri dan rekayasa produk kimia turunan kelapa sawit yang terintegrasi; Pemenuhan pasar di dalam negeri dan perluasan pasar ekspor; Penyediaan fasilitas promosi dan pemasaran; Pengembangan teknologi proses yang efisien dan berwawasan lingkungan; Penerapan manajemen penanganan Damapak Keselamatan, Keamanan, Kesehatan dan Lingkungan Hidup (K3L) di lingkungan industri kimia berbasis kelapa sawit.

Unsur Penunjang Periodesasi Peningkatan Teknologi Page1 a. Inisiasi (2004 2009) : Pilot project untuk Mini Plant (scale-up) dari sumber indigenous teknologi, lisensi untuk produk hilir;

PT.MATASERV BISNISINDO - Business Information, Market Research & Feasibility Study Services Ph. (021) 36086339

b. Pengembangan Cepat (2010 2014) : Modifikasidan pengembangan teknologi mandirin melalui R&D; c. Matang (2015 2025) : Industry & Technology Upgrading, pengembangan biomassa dan bioteknologi. Pasar a. Meningkatkan promosi ke negara-negara Asia dan Afrika dalam rangka kerjasasama NonBlok dan Selatan-Selatan; b. Memanfaatkan potensi pasar dalam negeri. SDM (Sumber Daya Manusia) a. Meningkatkan kemampuan SDM dibidang oleokimia, bio teknologi dan biomassa; b. Meningkatkan peranan Litbang dan Perguruan Tinggi untuk meningkatkan mutu produk. Infrastruktur a. b. c. d. Pengembangan fasilitas pelabuhan dan tangki timbun (a.l. Papua dan Kalimantan Timur); Insentif kredit bagi petani sawit; Memberikan insentif perpajakan untuk investasi baru selama 3 tahun pertama; Mengenakan Pajak Ekspor CPO.

PT.MATASERV BISNISINDO - Business Information, Market Research & Feasibility Study Services Ph. (021) 36086339

Page1