Anda di halaman 1dari 42

LAPORAN KASUS

KEPANITRAAN KLINIK SENIOR

TUMOR MEDULA SPINALIS + PARAPARESE INFERIOR FLACCID TIPE SENTRAL + INKONTINENSIA URIN DAN ALVI

Oleh: Herka Pratama Putra S. Ked (04108705032) Shahmila Serangan (04018705098)

Pembimbing : Dr. H. Hasnawi, SpS(K)

BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAF (NEUROLOGI) FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA RSMHPALEMBANG 2012

HALAMAN PENGESAHAN
Laporan Kasus

TumorMedula Spinalis + Paraparese Inferior Flaccid Tipe Sentral + Inkontinensia Urin dan Alvi

Oleh: Herka Pratama Putra S. Ked (04108705032) Shahmila Serangan (04018705098)

Telah diterima sebagai salah satu syarat kepanitraan klinik senior periode13 Februari 12 Maret 2012 di Bagian NeurologiFakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya / RSMH Palembang.

Palembang, Pembimbing

Februari 2012

Dr. H.Hasnawi, SpS(K)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat-Nya kepada penulis hingga dapat menyelesaikan laporan kasus ini. Laporan kasus ini dibuat untuk memenuhi sebagian syarat-syarat kepaniteraan klinik senior di bagian Ilmu Kedokteran Saraf. Dengan disusunnya laporan kasus ini, diharapkan bisa sedikit memberikan gambaran Space occupying Lesion di Medula Spinalis, khususnya untuk mengetahui cara penegakan diagnosis dan penatalaksaannya bagi dokter umum. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Dr. H. Hasnawi, Sp. S (K), Selaku pembimbing penyusunan laporan kasus ini dengan memberikan bimbingan dan nasehat dalam penyelesaian laporan kasus ini. Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada teman-teman, serta staf bagian saraf, dan semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan kasus ini. Dengan menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kelemahan yang terdapat dalam penulisan laporan kasus ini, kritik dan saran sangat diharapkan untuk perbaikan penulisan selanjutnya. Semoga tulisan ini bermanfaat.

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ ii KATA PENGHANTAR ................................................................................. iii DAFTAR ISI .................................................................................................. iv BAB I PENDAHULAUN ............................................................................... 1 BAB II LAPORAN KASUS .......................................................................... 2 I. Identikasi............................................................................................. 2 II. III. IV. V. VI. VII. VIII. IX. X. Anamnesa ............................................................................................ 2 Pemeriksaan Fisik .............................................................................. Pemeriksaan Penunjang .................................................................... Pemeriksaan Khusus.......................................................................... Diagnosis Banding .............................................................................. Diagnosa .............................................................................................. Pengobatan ......................................................................................... Rencana Pemeriksaan ........................................................................ Prognosa ..............................................................................................

BAB III TINJAUAN PUSTAKA .................................................................. I. Tumor Medulla Spinalis .................................................................... II. III. Paraparese .......................................................................................... Inkontinensia Urin dan Alvi ..............................................................

BAB IV KESIMPULAN ................................................................................ DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................

BAB I PENDAHULUAN

Tumor medula spinalis memang merupakan salah satu penyakit yang jarang terjadi dan karena itulah banyak masyarakat yang belum mengetahui gejala-gejala serta bahaya dari penyakit ini. Pada umumnya, penderita yang datang berobat ke dokter atau ke rumah sakit sudah dalam keadaan parah (stadium lanjut) sehingga cara penanggulangannya hanya bersifat life-saving.1 Jumah kasus tumor medula spinalis di Amerika Serikat mencapai 15% dari total jumlah tumor yang terjadi pada susunan saraf pusat dengan perkiraan insidensi sekitar 0,5-2,5 kasus per 100.000 penduduk per tahun. Jumlah penderita pria hampir sama dengan wanita dengan sebaran usia antara 30 hingga 50 tahun. Diperkirakan 25% tumor terletak di segmen servikal, 55% di segmen thorakal dan 20% terletak di segmen lumbosakral. Sementara di Indonesia sendiri, belum ada
2,3

Tumor medula spinalis terbagi menjadi dua, yaitu tumor primer dan tumor sekunder. Tumor primer merupakan tumor yang berasal dari medula spinalis itu sendiri sedangkan tumor sekunder merupakan anak sebar (mestastase) dari tumor di bagian tubuh lainnya. Tumor medula spinalis umumnya bersifat jinak (onset biasanya gradual) dan dua pertiga pasien dioperasi antara 1-2 tahun setelah onset gejala. Gejala pertama dari tumor medula spinocerebellar penting diketahui karena dengan tindakan operasi sedini mungkin, dapat mencegah kecacatan.1,3

BAB II LAPORAN KASUS

I.IDENTIFIKASI Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Agama MRS Tanggal

: Tn. RK : 27 Tahun : Laki - laki : OKI : Islam : 9 Desember 2011

II. ANAMNESA (Autoanamnesa) Penderita dirawat di bagian syaraf RSMH karena tidak bisa berjalan yang disebabkan kelemahan pada kedua tungkai yang terjadi secara perlahan-lahan. 3 bulan sebelum masuk rumah sakit, penderita mengalami kelemahan pada kedua tungkai setelah jatuh terduduk saat memindahkan motor.Penderita mengeluh semakin lama semakin berat disertai dengan nyeri pinggang sebelah kanan namun penderita masih bisa berjalan + 20m.Penderita merasa terdapat benjolan di punggung kanan bawah, sebesar telur puyuh, nyeri tekan ada, permukaan halus, konsistensi kenyal, immobile yang semakin

membesar.Penderita tidak merasa saat BAK dan BAB. + 3 minggu sebelum masuk rumah sakit, kedua tungkai penderita tidak dapat digerakkan, penderita sudah tidak dapat berjalan lagi. Sehari-hari hanya berada di tempat-tidur.Gangguan sensibilitas berupa rasa kebas dan gangguan baal mulai dirasakan dari kedua kaki hingga ke daerah perut.BAB dan BAK masih tidak terasa. Riwayat trauma jatuh terduduk ada. Riwayat demam tidak ada.Riwayat batuk lama tidak ada.Riwayat kontak dengan penderita TB tidak ada. Penyakit seperti ini diderita untuk pertama kalinya.

III. PEMERIKSAAN FISIK

Status Internus Tanda Vital Kesadaran: Compos mentis GCS = 15 (E:4, M:6, V:5) Tekanan Darah: 120/ 80 mmHg Nadi: 84 x/m Pernapasan: 16 x/m Suhu Badan: 36,5 C Berat Badan: 45 kg Tinggi Badan: 164 cm

Pemeriksaan Sistem Kepala & leher Thoraks Jantung Paru Abdomen

: JVP 5-2 cmH2O : : HR : 84 kali/menit, murmur (-), gallop (-) : Vesikuler (+) normal, rhonki (-), wheezing (-) : Datar, lemas, hepar dan lien tidak teraba, timpani, BU (+) normal

Genitalia Ekstremitas Status Psikiatrikus Sikap Perhatian : kooperatif : ada

: Tidak diperiksa : edema (-), deformitas (-)

Ekspresi Muka Kontak Psikis

: wajar : ada

Status Neurologikus KEPALA Bentuk Ukuran Simetris : brachiocephali : normocephali : simetris Deformitas Fraktur Nyeri fraktur : tidak ada : ada : tidak ada

Hematom Tumor

: tidak ada : tidak ada

Pembuluh darah Pulsasi

:pelebaran (-) : tidak ada

LEHER Sikap Torticolis Kakukuduk : lurus : tidak ada : tidak ada Deformitas Tumor Pembuluhdarah : tidak ada : tidak ada : pelebaran (-)

SYARAF-SYARAF OTAK

N. Olfaktorius Penciuman Anosmia Hyposmia Parosmia

Kanan tidak ada kelainan tidak ada tidak ada tidak ada

Kiri tidak ada kelainan tidak ada tidak ada tidak ada

N.Opticus Visus Campus visi

Kanan 6/6 V.O.D

Kiri 6/6 V.O.S

Anopsia Hemianopsia Fundus Oculi Papil edema Papilatrofi Perdarahan retina

tidak ada tidak ada

tidak ada tidak ada

tidak ada tidak ada tidak ada

tidak ada tidak ada tidak ada

Nn. Occulomotorius, Trochlearis dan Abducens Kanan Diplopia Celah mata Ptosis Sikap bola mata Strabismus Exophtalmus Enophtalmus Deviation conjugae tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada ada tidak ada tidak ada Kiri tidak ada tidak ada tidak ada

Gerakan bola mata

Pupil Bentuknya Besarnya Isokor/anisokor Midriasis/miosis Reflekscahaya - Langsung - Konsensuil - Akomodasi Argyl Robertson (+) (+) (-) tidak ada (+) (+) (-) tidak ada tidak ada bulat 3 mm isokor tidak ada bulat 3 mm

N.Trigeminus Motorik Menggigit Trismus

Kanan

Kiri

tidakadakelainan tidakadakelainan

Refleks kornea

tidakadakelainan

Sensorik Dahi Pipi Dagu tidakadakelainan tidakadakelainan tidakadakelainan

N.Facialis Motorik Mengerutkandahi Menutupmata Menunjukkangigi Lipatannasolabialis BentukMuka - Istirahat - Berbicara/bersiul Sensorik 2/3 depan lidah Otonom - Salivasi - Lakrimasi - Chvosteks sign

Kanan

Kiri

tidak berkerut lagofthalmus

tidakadakelainan tidakadakelainan

tidakadakelainan tidakadakelainan

tidakadakelainan tidakadakelainan

tidakadakelainan

tidakadakelainan tidakadakelainan tidak ada tidak ada

N. Statoacusticus N. Cochlearis Suara bisikan Detik arloji Tes Weber Tes Rinne belum bisa dinilai belum bisa dinilai belum bisa dinilai belum bisa dinilai

N. Vestibularis Nistagmus Vertigo tidak ada tidak ada

N. Glossopharingeusdan N. Vagus Arcuspharingeus Uvula Gangguan menelan Suara serak/sengau Denyut jantung Refleks Muntah Batuk Okulo kardiak Sinus karotikus tidakadakelainan tidakadakelainan tidakadakelainan tidakadakelainan tidakadakelainan tidakadakelainan tidakadakelainan tidak ada kelainan tidak ada kelainan

Sensorik 1/3 belakang lidah tidakadakelainan

N. Accessorius Mengangkatbahu Memutarkepala simetris tidakadakelainan

N. Hypoglossus Mengulur lidah Fasikulasi Atrofipapil Disartria tidak ada kelainan tidak ada tidak ada tidak ada

MOTORIK LENGAN Gerakan Kekuatan

Kanan Cukup 5

Kiri Cukup 5

Tonus

Normal

Normal

Refleks fisiologis Biceps Triceps Radius Ulna Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal

Refleks patologis Trofik Hoffman Ttromner Leri Meyer tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada. tidak ada tidak ada

TUNGKAI Gerakan Kekuatan Tonus Klonus Paha Kaki

Kanan Kurang 1 Menurun

Kiri Kurang 4 Menurun

tidak ada tidak ada

tidak ada tidak ada

Refleks fisiologis KPR APR Menurun Menurun Menurun Menurun

Refleks patologis Babinsky Chaddock Oppenheim Gordon Schaeffer Rossolimo Mendel Bechterew tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada

Refleks Kulit Perut Atas Tengah Bawah Reflekscremaster Trofik : tidakadakelainan : tidakadakelainan : tidakadakelainan : tidakadakelainan : tidakadakelainan

SENSORIK Belum bisa dinilai

FUNGSI VEGETATIF Miksi Defekasi Ereksi : Inkontinensia Urin : Inkontinensia Alvi : tidakadakelainan

KOLUMNA VERTEBRALIS Kyphosis Lordosis Gibbus Deformitas Tumor : belum bisa dinilai : belum bisa dinilai : belum bisa dinilai : belum bisa dinilai : belum bisa dinilai

Meningocele Hematoma Nyeri ketok

: belum bisa dinilai : belum bisa dinilai : belum bisa dinilai

GEJALA RANGSANG MENINGEAL Kaku kuduk Kerniq Lasseque Brudzinsky Neck Cheek Symphisis Leg I Leg II : tidak ada :tidak ada :tidak ada :tidak ada :tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada

GAIT DAN KESEIMBANGAN Gait Ataxia Hemiplegic Scissor Propulsion Histeric Limping Steppage : belum bisa dinilai : belum bisa dinilai : belum bisa dinilai : belum bisa dinilai : belum bisa dinilai : belum bisa dinilai :belum bisa dinilai KeseimbangandanKoordinasi Romberg Dysmetri - jari-jari - jarihidung : belum bisa dinilai : belum bisa dinilai : belum bisa dinilai : belum bisa dinilai

- tumit-tumit : belum bisa dinilai Rebound phenomen : belum bisa dinilai Dysdiadochokinesis : belum bisa dinilai Trunk Ataxia Limb Ataxia : belum bisa dinilai : belum bisa dinilai

Astasia-Abasia: belum bisa dinilai

GERAKAN ABNORMAL Tremor Chorea Athetosis : tidak ada : tidak ada : tidak ada

Ballismus Dystoni Myocloni FUNGSI LUHUR

: tidak ada : tidak ada : tidak ada

Afasiamotorik : tidak ada Afasiasensorik : tidak ada Apraksia Agrafia Alexia Afasia nominal : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan Laboratorium Hematologi (21 Februari 2012)

1) 2) 3) 4) 5) 6)

Hemoglobin Hematokrit Eritrosit. Trombosit Leukosit Diff. Count - Basofil : 0 - Eosinofil : 2 - Batang : 0 - Segmen : 72 - Limfosit : 23 - Monosit : 3

: 11,7g/dl : 36 vol% : 4.100.000 : 398.000 / mm3 : 7400/ mm3 : (N: 0-1) (N: 1-3) (N: 2-6) (N: 50-70) (N: 20-40) (N: 2-8)

( N: 12-16 g/dl ) ( N: 37-43 vol% ) ( N: 4,5-5,5 juta) ( N: 200000-500000/ mm ) ( N: 5000-10000/ mm )

Kimia Klinik: 1) 2) BSS Ureum : 142 mg/dl : 26 mg/dl (N: 15-39 mg/dl)

3) 4) 5) 6)

Creatinin Calsium Natrium Kalium

: 0,9 mg/dl

(N: 0,9-1,3 mg/dl)

: 2,26 mmol/l (N: 6,0-7,8 g/dl) : 139 mmol/l (N: 135-155) : 4,0 mmol/l : 20 : 44 : 125 mg/dl : 18 : 15 : 44 mg/dl : 76 mg/dl (N: 3,5-5,5)

7) CK-MB 8) CK-NAK 9) Trigliseride 10) SGOT 11) SGPT 12) HDL-Kol 13) LDL-Kol

V. PEMERIKSAAN KHUSUS Rontgen foto thoraks PA Rontgen V.Thoracal AP/Lat Ct-Scan Lumbar : Radiologis tidak tampak kelainan Thorax : Tampak lesi litik pada corpus v.thoracal 12 : Distruksi dari procesus spinous L3 dan massa setinggi procesus spinous L3 dengan infiltrasi ke spinal cord :

MRI Lumbar

RINGKASAN ANAMNESA

Penderita dirawat di bagian syaraf RSMH karena tidak bisa berjalan yang disebabkan kelemahan pada kedua tungkai yang terjadi secara perlahan-lahan. 3 bulan sebelum masuk rumah sakit, penderita mengalami kelemahan pada kedua tungkai setelah jatuh terduduk saat memindahkan motor.Penderita mengeluh semakin lama semakin berat disertai dengan nyeri pinggang sebelah kanan namun penderita masih bisa berjalan + 20m.Penderita merasa terdapat benjolan di punggung kanan bawah, sebesarnyeri tekan, permukaan halus, konsistensi kenyal, immobile yang semakin membesar.Penderita tidak merasa saat BAK dan BAB. + 3 minggu sebelum masuk rumah sakit, kedua tungkai penderita tidak dapat digerakkan, penderita sudah tidak dapat berjalan lagi. Sehari-hari hanya berada di tempat-tidur.Gangguan sensibilitas berupa rasa kebas dan gangguan baal mulai dirasakan dari kedua kaki hingga ke daerah perut.BAB dan BAK masih tidak terasa. Riwayat trauma jatuh terduduk ada. Riwayat demam tidak ada.Riwayat batuk lama tidak ada.Riwayat kontak dengan penderita TB tidak ada. Penyakit seperti ini diderita untuk pertama kalinya.

PEMERIKSAAN Status Generalis Kesadaran: Compos mentis; GCS = 15 (E:4, M:6, V:5) Tekanan Darah: 120/ 80 mmHg Pernapasan: 16 x/m Nadi: 84 x/m Suhu Badan: 36.5C

Status Neurologikus

Nn. Craniales N. III : Pupil bulat, isokor, diameter 3 mm, refleks cahaya +/+

Gerakan bola mata:

Kanan

Kiri

Fungsi Motorik Lengan kanan Gerakan Kekuatan Tonus Klonus Refleks fisiologis Refleks patologis normal tidak ada normal tidak ada cukup 5 normal Lengan kiri Tungkai kanan cukup 5 normal kurang 1 normal tidak ada menurun tidak ada Tungkai kiri kurang 4 normal tidak ada menurun tidak ada

Fungsi Sensorik

: Hipestesia mulai ujung jari kaki sampai dengan lipatan paha.

Fungsi Luhur Fungsi Vegetatif GRM Gerakan Abnormal

: Tak ada kelainan :Inkontinensia Urine et alvi (+) : Tidak ada : Tidak ada

Gait dan Keseimbangan : Belum dapat dinilai

VI. DIAGNOSIS BANDING Diagnosa Banding Etiologi 1. Kontusio medullae Pada gejala: Gejala: Riwayat Trauma Riwayat trauma (+) penderita ditemukan

Kelemahan permanen

bersifat

akut

dan Kelemahan bersifat akut permanen

dan

Jadi kemungkinan kontusio medullae belum dapat disingkirkan.

2. Myelitis Gejala: Riwayat Demam

Pada penderita ditemukan gejala: Riwayat demam (-)

Kaku kuduk dan tubuh bagian Tidak terdapat kaku kuduk dan belakang nyeri tubuh bagian belakang nyeri Paraparese inferior flaksid (asimetris)

Kelainan motorik asimetris Jadi kemungkinan myelitis dapat disingkirkan.

3. Subdural Hematom spinalis Gejala: Riwayat Trauma

Pada penderita ditemukan gejala: Riwayat trauma (+)

Kelemahan bersifat kronik progresif

Kelemahan bersifat akut dan permanen

Jadi kemungkinan subdural hematom spinalis belum dapat disingkirkan.

VII. DIAGNOSA Diagnosis Klinik : Paraparese Inferior flaccid + Hipestesia mulai ujung jari kaki sampai dengan lipatan paha + Inkontinensia Urine et alvi Diagnosa Topik : Lesi transversal parsial Medulla spinalis setinggi segmen L3-4 Diagnosa Etiologi : Tumor Medula Spinallis

VIII. PENGOBATAN IVFD NaCl 0,9 % gtt xx/m Vit B1 B6 B12 3 x 1 tab Na didofenac 2 x 50mg Diet TKTP Fisioterapi

IX. RENCANA PEMERIKSAAN Konsul Bedah Saraf

X. PROGNOSA Quo ad Vitam Quo ad Functionam : bonam : dubia ad bonam

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 DEFINISI Tumor medula spinalisadalah tumor di daerah spinal yang dapat terjadi pada daerah cervical pertama hingga sacral, yang dapat dibedakan atas tumor primer dan sekunder. Tumor primer adalah tumor yang jinak yang berasal dari tulang ,serabut saraf, selaput otak dan jaringan otak dan tumor yang ganas yang berasal dari jaringan saraf dan sel muda seperti Kordoma. Tumor sekunder merupakan anak sebar (metastase) dari tumor ganas di daerah rongga dada, perut, pelvis dan tumor payudara.1

3.2 EPIDEMIOLOGI Di Indonesia. jumlah penderita tumor medula spinalis belum diketahui secara pasti. Jumah kasus tumor medula spinalis di Amerika Serikat mencapai 15% dari total jumlah tumor yang terjadi pada susunan saraf pusat dengan perkiraan insidensi sekitar 0,5-2,5 kasus per 100.000 penduduk per tahun. Jumlah penderita pria hampir sama dengan wanita dengan sebaran usia antara 30 hingga 50 tahun. Diperkirakan 25% tumor terletak di segmen servikal, 55% di segmen thorakal dan 20% terletak di segmen lumbosakral.2,3 Tumor intradural intramedular yang tersering adalah ependymoma, astrositoma dan hemangioblastoma. Ependimoma lebih sering didapatkan pada orang dewasa pada usia pertengahan(30-39 tahun) dan jarang terjadi pada usia anak-anak. Insidensi ependidoma kira-kira sama dengan astrositoma. Dua per tiga dari ependydoma muncul pada daerah lumbosakral.6 Diperkirakan 3% dari frekuensi astrositoma pada susunan saraf pusat tumbuh pada medula spinalis.Tumor ini dapat muncul pada semua umur, tetapi yang tersering pada tiga dekade pertama. Astrositoma juga merupakan tumor spinal intramedular yang tersering pada usia anak-anak, tercatat sekitar 90% dari tumor intramedular pada anak-anak dibawah umur 10 tahun, dan sekitar 60% pada remaja. Diperkirakan 60% dari astrositoma spinalis berlokasi di segmen servikal dan servikotorakal.Tumor ini jarang ditemukan pada segmen torakal, lumbosakral

atau pada conus medularis.Hemangioblastoma merupakan tumor vaskular yang tumbuh lambat dengan prevalensi 3% sampai 13% dari semua tumor intramedular medula spinalis. Rata-rata terdapat pada usia 36 tahun, namun pada pasien dengan von Hippel-Lindau syndrome (VHLS) biasanya muncul pada dekade awal dan mempunyai tumor yang multipel. Rasio laki-laki dengan perempuan 1,8 : 1.4,5 Tumor intradural ekstramedular yang tersering adalah schwanoma, dan meningioma.Schwanoma merupakan jenis yang tersering (53,7%) dengan insidensi laki-laki lebih sering dari pada perempuan, pada usia 40-60 tahun dan tersering pada daerah lumbal.Meningioma merupakan tumor kedua tersering pada kelompok intradural-ekstramedullar tumor.Meningioma menempati kira-kira 25% dari semua tumor spinal. Sekitar 80% dari spinal meningioma terlokasi pada segmen thorakal, 25% pada daerah servikal, 3% pada daerah lumbal, dan 2% pada foramen magnum.4,5

3.3 KLASIFIKASI Berdasarkan asal dan sifat selnya, tumor pada medula spinalis dapat dibagi menjadi tumor primer dan tumor sekunder. Tumor primer dapat bersifat jinak maupun ganas, sementara tumor sekunder selalu bersifat ganas karena merupakan metastasis dari proses keganasan di tempat lain seperti kanker paru-paru, payudara, kelenjar prostat, ginjal, kelenjar tiroid atau limfoma. Tumor primer yang bersifat ganas contohnya adalah astrositoma, neuroblastoma, dan kordoma, sedangkan yang bersifat jinak contohnya neurinoma, glioma, dan ependimoma.1 Berdasarkan lokasinya, tumor medula spinalis dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu tumor intradural dan ekstradural, di mana tumor intradural itu sendiri dibagi lagi menjadi tumor intramedular dan ekstramedular. Macam-macam tumor medula spinalis berdasarkan lokasinya dapat dilihat pada Tabel 1.

Gambar 2.1 (A) Tumor intradural-intramedular, (B) Tumor intraduralekstramedular, dan (C) Tumor Ekstradural Sumber: http://www.draryan.com/Portals/0/spinal%20cord%20tumors.jpg

Tabel 1. Tumor Medula Spinalis Berdasarkan Gambaran Histologisnya


Ekstra dural Intradural ekstramedular Intradural intramedular

Chondroblastoma Chondroma Hemangioma Lipoma Lymphoma Meningioma Metastasis Neuroblastoma Neurofibroma Osteoblastoma Osteochondroma Osteosarcoma Sarcoma Vertebral hemangioma

Ependymoma, tipe myxopapillary Epidermoid Lipoma Meningioma Neurofibroma Paraganglioma Schwanoma

Astrocytoma Ependymoma Ganglioglioma Hemangioblastoma Hemangioma Lipoma Medulloblastoma Neuroblastoma Neurofibroma Oligodendroglioma Teratoma

3.4 ETIOLOGI DAN PATOGENESIS Penyebab tumor medula spinalis primer sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Beberapa penyebab yang mungkin dan hingga saat ini masih dalam tahap penelitian adalah virus, kelainan genetik, dan bahan-bahan kimia yang bersifat karsinogenik. Adapun tumor sekunder (metastasis) disebabkan oleh selsel kanker yang menyebar dari bagian tubuh lain melalui aliran darah yang kemudian menembus dinding pembuluh darah, melekat pada jaringan medula spinalis yang normal dan membentuk jaringan tumor baru di daerah tersebut.7 Patogenesis dari neoplasma medula spinalis belum diketahui, tetapi kebanyakan muncul dari pertumbuhan sel normal pada lokasi tersebut.Riwayat genetik kemungkinan besar sangat berperan dalam peningkatan insiden pada anggota keluarga (syndromic group) misal pada neurofibromatosis.Astrositoma dan neuroependimoma merupakan jenis yang tersering pada pasien dengan neurofibromatosis tipe 2 (NF2), di mana pasien dengan NF2 memiliki kelainan pada kromosom 22. Spinal hemangioblastoma dapat terjadi pada 30% pasien dengan Von Hippel-Lindou Syndrome sebelumnya,yang merupakan abnormalitas dari kromosom 3.6

3.5 MANISFESTASI KLINIS Menurut Cassiere, perjalanan penyakit tumor medula spinalis terbagi dalam tiga tahapan3, yaitu: Ditemukannya sindrom radikuler unilateral dalam jangka waktu yang lama Sindroma Brown Sequard Kompresi total medula spinalis atau paralisis bilateral

Keluhan pertama dari tumor medula spinalis dapat berupa nyeri radikuler, nyeri vertebrae, atau nyeri funikuler. Secara statistik adanya nyeri radikuler merupakan indikasi pertama adanya space occupying lesion pada kanalis spinalis dan disebut pseudo neuralgia pre phase. Dilaporkan 68% kasus tumor spinal sifat

nyerinya radikuler, laporan lain menyebutkan 60% berupa nyeri radikuler, 24% nyeri funikuler dan 16% nyerinya tidak jelas3. Nyeri radikuler dicurigai disebabkan oleh tumor medula spinalis bila: Nyeri radikuler hebat dan berkepanjangan, disertai gejala traktus piramidalis Lokasi nyeri radikuler diluar daerah predileksi HNP seperti C5-7, L3-4, L5 dan S1

Tumor medula spinalis yang sering menyebabkan nyeri radikuler adalah tumor yang terletak intradural-ekstramedular, sedang tumor intramedular jarang menyebabkan nyeri radikuler. Pada tumor ekstradural sifat nyeri radikulernya biasanya hebat dan mengenai beberapa radiks.3 Tumor-tumor intrameduler dan intradural-ekstrameduler dapat juga diawali dengan gejala TTIK seperti: hidrosefalus, nyeri kepala, mual dan muntah, papiledema, gangguan penglihatan, dan gangguan gaya berjalan. Tumor-tumor neurinoma dan ependimoma mensekresi sejumlah besar protein ke dalam likuor, yang dapat menghambat aliran likuor di dalam kompartemen subarakhnoid spinal, dan kejadian ini dikemukakan sebagai suatu hipotesa yang menerangkan kejadian hidrosefalus sebagai gejala klinis dari neoplasma intraspinal primer.5 Bagian tubuh yang menimbulkan gejala bervariasi tergantung letak tumor di sepanjang medula spinalis. Pada umumnya, gejala tampak pada bagian tubuh yang selevel dengan lokasi tumor atau di bawah lokasi tumor. Contohnya, pada tumor di tengah medula spinalis (pada segmen thorakal) dapat menyebabkan nyeri yang menyebar ke dada depan (girdleshape pattern) dan bertambah nyeri saat batuk, bersin, atau membungkuk. Tumor yang tumbuh pada segmen cervical dapat menyebabkan nyeri yang dapat dirasakan hingga ke lengan, sedangkan tumor yang tumbuh pada segmen lumbosacral dapat memicu terjadinya nyeri punggung atau nyeri pada tungkai.7 Berdasarkan lokasi tumor, gejala yang muncul adalah seperti yang terihat dalam Tabel 2 di bawah ini.

Tabel 2. Tanda dan Gejala Tumor Medula Spinalis Lokasi Foramen Magnum Tanda dan Gejala Gejalanya aneh, tidak lazim, membingungkan, dan tumbuh lambat sehingga sulit menentukan diagnosis. Gejala awal dan tersering adalah nyeri servikalis posterior yang disertai dengan hiperestesia dalam dermatom vertebra servikalis kedua (C2). Setiap aktivitas yang meningkatkan TIK (misal ; batuk, mengedan, mengangkat barang, atau bersin) dapat memperburuk nyeri. Gejala tambahan adalah gangguan sensorik dan motorik pada tangan dengan pasien yang melaporkan kesulitan menulis atau memasang kancing. Perluasan tumor menyebabkan kuadriplegia spastik dan hilangnya sensasi secara bermakna. Gejala-gejala lainnya adalah pusing, disartria, disfagia, nistagmus, kesulitan bernafas, mual dan muntah, serta atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius. Temuan neurologik tidak selalu timbul tetapi dapat mencakup hiperrefleksia, rigiditas nuchal, gaya berjalan spastik, palsi N.IX hingga N.XI, dan kelemahan ekstremitas. Servikal Menimbulkan tanda-tanda sensorik dan motorik mirip lesi radikular yang melibatkan bahu dan lengan dan mungkin juga menyerang tangan. Keterlibatan tangan pada lesi servikalis bagian atas (misal, diatas C4) diduga disebabkan oleh kompresi suplai darah ke kornu anterior melalui arteria spinalis anterior. Pada umumnya terdapat kelemahan dan atrofi gelang bahu dan lengan. Tumor servikalis yang lebih rendah (C5, C6, C7) dapat menyebabkan hilangnya refleks tendon ekstremitas atas (biseps, brakioradialis, triseps). Defisit sensorik membentang sepanjang tepi radial lengan bawah dan ibu jari pada kompresi C6, melibatkan jari tengah dan jari telunjuk pada lesi C7, dan lesi C7 menyebabkan hilangnya sensorik jari telunjuk dan jari tengah.

Torakal

Seringkali dengan kelemahan spastik yang timbul perlahan pada ekstremitas bagian bawah dan kemudian mengalami parestesia. Pasien dapat mengeluh nyeri dan perasaan terjepit dan tertekan pada dada dan abdomen, yang mungkin dikacaukan dengan nyeri akibat gangguan intratorakal dan intraabdominal. Pada lesi torakal bagian bawah, refleks perut bagian bawah dan tanda Beevor (umbilikus menonjol apabila penderita pada posisi telentang mengangkat kepala melawan suatu tahanan) dapat menghilang.

Lumbosakral Suatu situasi diagnostik yang rumit timbul pada kasus tumor yang melibatkan daerah lumbal dan sakral karena dekatnya letak segmen lumbal bagian bawah, segmen sakral, dan radiks saraf desendens dari tingkat medula spinalis yang lebih tinggi. Kompresi medula spinalis lumbal bagian atas tidak

mempengaruhi refleks perut, namun menghilangkan refleks kremaster dan mungkin menyebabkan kelemahan fleksi panggul dan spastisitas tungkai bawah. Juga terjadi kehilangan refleks lutut dan refleks pergelangan kaki dan tanda Babinski bilateral. Nyeri umumnya dialihkan keselangkangan. Lesi yang melibatkan lumbal bagian bawah dan segmen-segmen sakral bagian atas menyebabkan kelemahan dan atrofi otot-otot perineum, betis dan kaki, serta kehilangan refleks pergelangan kaki. Hilangnya sensasi daerah perianal dan genitalia yang disertai gangguan kontrol usus dan kandung kemih merupakan tanda khas lesi yang mengenai daerah sakral bagian bawah. Kauda Ekuina Menyebabkan gejala-gejala sfingter dini dan impotensi. Tndatanda khas lainnya adalah nyeri tumpul pada sakrum atau perineum, yang kadang-kadang menjalar ke tungkai. Paralisis flaksid terjadi sesuai dengan radiks saraf yang terkena dan terkadang asimetris.

3.5.1

Tumor Ekstradural

Sebagian besar merupakan tumor metastase, yang menyebabkan kompresi pada medula spinalis dan terletak di segmen thorakalis. Nyeri radikuler dapat merupakan gejala awal pada 30% penderita tetapi kemudian setelah beberapa hari, minggu/bulan diikuti dengan gejala mielopati. Nyeri biasanya lebih dari 1 radiks, yang mulanya hilang dengan istirahat, tetapi semakin lama semakin

menetap/persisten, sehingga dapat merupakan gejala utama, walaupun terdapat gejala yang berhubungan dengan tumor primer. Nyeri pada tumor metastase ini dapat terjadi spontan, dan sering bertambah dengan perkusi ringan pada vertebrae, nyeri demikian lebih dikenal dengan nyeri vertebrae.

a. Tumor Metastasis Keganasan Ekstradural5 Memiliki ciri-ciri sebagai berikut: Sebagian besar tumor spinal (>80 %) merupakan metastasis keganasan terutama dari paru-paru, payudara, ginjal, prostat, kolon, tiroid, melanoma, limfoma, atau sarkoma. Yang pertama dilibatkan adalah korpus vertebra. Predileksi lokasi metastasis tumor paru, payudara dan kolon adalah daerah toraks, sedangkan tumor prostat, testis dan ovarium biasanya ke daerah lumbosakral. Gejala kompresi medula spinalis kebanyakan terjadi pada level torakal, karena diameter kanalisnya yang kecil (kira-kira hanya 1 cm).

Gejala akibat metastasis spinal diawali dengan nyeri lokal yang tajam dan kadang menjalar (radikuler) serta menghebat pada penekanan atau palpasi.

3.5.2

Tumor Intradural-Ekstramedular3 Tumor ini tumbuh di radiks dan menyebabkan nyeri radikuler kronik

progresif. Kejadiannya 70% dari tumor intradural, dan jenis yang terbanyak adalah neurinoma pada laki-laki dan meningioma pada wanita.

a. Neurinoma (Schwannoma) Memiliki karakteristik sebagai berikut: Berasal dari radiks dorsalis Kejadiannya 30% dari tumor ekstramedular 2/3 kasus keluhan pertamanya berupa nyeri radikuler, biasanya pada satu sisi dan dialami dalam beberapa bulan sampai tahun, sedangkan gejala lanjut terdapat tanda traktus piramidalis 39% lokasinya disegmen thorakal

b. Meningioma Memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 80% terletak di regio thorakalis dan 60% pada wanita usia pertengahan Pertumbuhan lambat Pada 25% kasus terdapat nyeri radikuler, tetapi lebih sering dengan gejala traktus piramidalis dibawah lesi, dan sifat nyeri radikuler biasanya bilateral dengan jarak waktu timbul gejala lain lebih pendek 3.5.3 Tumor Intradural-Intramedular3,6 Lebih sering menyebabkan nyeri funikuler yang bersifat difus seperti rasa terbakar dan menusuk, kadang-kadang bertambah dengan rangsangan ringan seperti electric shock like pain (Lhermitte sign).

a. Ependimoma

Memiliki karakteristik sebagai berikut:


Rata-rata penderita berumur di atas 40 tahun Wanita lebih dominan Nyeri terlokalisir di tulang belakang Nyeri meningkat saat malam hari atau saat bangun Nyeri disestetik (nyeri terbakar) Menunjukkan gejala kronis Jenis miksopapilari rata-rata pada usia 21 tahun, pria lebih dominan

b. Astrositoma Memiliki ciri-ciri sebagai berikut:


Prevalensi pria sama dengan wanita Nyeri terlokalisir pada tulang belakang Nyeri bertambah saat malam hari Parestesia (sensasi abnormal)

c.

Hemangioblastoma Memiliki karakter sebagai berikut:


Gejala muncul pertama kali saat memasuki usia 40 tahun Penyakit herediter (misal, Von Hippel-Lindau Syndrome) tampak pada 1/3 dari jumlah pasien keseluruhan.

Penurunan sensasi kolumna posterior Nyeri punggung terlokalisir di sekitar lesi

3.6 Diagnosis7 Selain dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik, diagnosis tumor medula spinalis dapat ditegakkan dengan bantuan pemeriksaan penunjang seperti di bawah ini. a. Laboratorium

Cairan spinal (CSF) dapat menunjukkan peningkatan protein dan xantokhrom, dan kadang-kadang ditemukan sel keganasan. Dalam mengambil dan memperoleh cairan spinal dari pasien dengan tumor medula spinalis harus berhati-hati karena blok sebagian dapat berubah menjadi blok komplit cairan spinal dan menyebabkan paralisis yang komplit. b. Foto Polos Vertebrae Foto polos seluruh tulang belakang 67-85% abnormal. Kemungkinan ditemukan erosi pedikel (defek menyerupai mata burung hantu pada tulang belakang lumbosakral AP) atau pelebaran, fraktur kompresi patologis, scalloping badan vertebra, sklerosis, perubahan osteoblastik (mungkin terajdi mieloma, Ca prostat, hodgkin, dan biasanya Ca payudara. c. CT-scan CT-scan dapat memberikan informasi mengenai lokasi tumor, bahkan terkadang dapat memberikan informasi mengenai tipe tumor. Pemeriksaan ini juga dapat membantu dokter mendeteksi adanya edema, perdarahan dan keadaan lain yang berhubungan. CT-scan juga dapat membantu dokter mengevaluasi hasil terapi dan melihat progresifitas tumor. d. MRI Pemeriksaan ini dapat membedakan jaringan sehat dan jaringan yang mengalami kelainan secara akurat. MRI juga dapat memperlihatkan gambar tumor yang letaknya berada di dekat tulang lebih jelas dibandingkan dengan CT-scan. 3.7 Diagnosis Banding6 Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) Lumbar (Intervertebral) Disk Disorders Mechanical Back Pain Brown-Sequard Syndrome

Infeksi Medula Spinalis Cauda Equina Syndrome

3.8 Inkontinensia Urin dan Alvi I.Definisi Inkontinensia urin menurut International Continence Society didefinisikan sebagai keluarnya urin secara involunter yang menimbulkan masalah sosial dan hygiene serta secara objektif tampak nyata II. Klasifikasi Inkontinensia urin diklasifikasikan kepada 3 tipe yaitu Transient Incontinence, True Incontinence / Established Incontinence dan

Inkontinensia fungsional. a. Transient Incontinence12,13,15,17

Inkontinensia transien sering terjadi pada usila.Jenis inkontinesia ini mencakup sepertiga kejadian inkontinensia pada masyarakat dan lebih dari setengah pasien inkontinensia yang menjalani rawat inap.Penyebabnya sering disingkat menjadi DIAPPERS (tabel 1.1).

Tabel 1.1 Penyebab-penyebab inkontinensia transien (reversibel)

Delirium / confusional state Infection urinary (symptomatic) Atrophic urethritis / vaginitis Pharmaceuticals Psychological Excessive urine output (cardiac, DM)

Restricted mobility Stool impaction

Diadaptasi dari After Du Beau, Resnick, N.M : Evaluation of the causes and severity of geriatricincontinence. Urol Clin Nort Am 1991; 18(2):243256

b.True Incontinence / Established Incontinence Jika kebocoran menetap setelah penyebab inkontinensia transien dihilangkan, perlu dipertimbangkan penyebab inkontinensia yang berasal dari traktus urinarius bagian bawah.13,15,16

True incontinence dapat diklasifikasikan menjadi : Stress incontinence15,17,18 Genuine stress incontinence (GSI) terjadi saat tekanan intravesikal melebihi tekanan maksimum uretra tanpa disertai aktivitas detrusor yang menyertai peningkatan tekanan intra abdominal. Peningkatan tekanan intra abdominal biasanya terjadi saat batuk, bersin, tertawa dan aktivitas fisik tertentu (contoh : mengedan). GSI dapat terjadi karena penurunan leher kandung kemih dan uretra bagian proksimal, hilangnya tahanan uretra atau keduanya (paling sering). Tekanan uretra yang rendah didefinisikan sebagai suatu kondisi dimana tekanan uretra maksimum kurang dari 20cmH2O atau Valsava leak pressure kurang dari 60cm H2O. Overflow incontinence1,2,15 Terjadi karena kandung kemih mengalami distensi secara berlebihan hingga ke titik dimana tekanan intravesikal melebihi tahanan uretra

i.

ii.

(tahanan outlet), tetapi tanpa disertai dengan adanya aktivitas detrusor atau relaksasi outlet. Kondisi ini bisa terjadi karena dua hal :

1. Obstruksi outlet kandung kemih contoh Benign Prostat Hyperplasia pada pria, stenosis uretra pada wanita, kontraktur leher kandung kemih, pasca operasi anti inkontinen seperti pubovaginal sling atau bladder neck suspension. 2. Kandung kemih atoni seperti pada diabetic autoneuropathy, spinal cord trauma, herniated lumbar disc, peripheral neuropathy. Urge incontinence15,17,18

iii.

Tipe inkontinensia ini ditandai dengan adanya keinginan berkemih yang kuat secara mendadak tetapi disertai dengan ketidakmampuan untuk menghambat reflex miksi, sehingga pasien tidak mampu mencapai toilet pada waktunya. Riwayat kondisi ini khas dengan adanya gejala overactive bladder (frekuensi, urgensi) serta faktor-faktor presipitasi yang dapat diidentifikasi, seperti cuaca dingin, situasi yang menekan, suara air mengalir. Urge incontinence dapat disebabkan oleh karena detrusor myopathy, neuropathy atau kombinasi dari keduanya. Bila penyebabnya tidak diketahui maka disebutdengan idiopathic urge incontinence. Reflex incontinence15

iv.

Hilangnya inhibisi sentral dari jaras aferen atau eferen antara otak dan sacralspinal cord.Kondisi ini terjadi sebagai akibat kelainan

neurologis susunan syarafpusat.Merupakan suatu bentuk inkontinensia

dengan keluarnya urin (kontraksidetrusor involunter) tanpa suatu bentuk peringatan atau rasa penuh (sensasi urgensi). Biasanya terjadi pada pasien stroke, Parkinson, tumor otak, SCI atau multiple sclerosis.Adanya relaksasi uretra yang tidak tepat atau beberapa bentuk abnormalitas sfingter diduga merupakan penyebab terjadinya hal ini. Mixed Incontinence18

v.

Merupakan inkontinensia urin kombinasi antara stress dan urge incontinence. Pada kondisi ini outlet kandung kemih lemah dan detrusor bersifat overactive. Jadi pasien akan mengeluhkan adanya keluarnya urin saat terjadi peningkatan tekanan intra abdominal disertai dengan keinginan kuat untuk berkemih. Penyebab yang paling sering adalah kombinasi hipermobilitas uretra dan intabilitas detrusor.Salah satu contoh klasik keadaan ini tampak pada pasien meningomyelocele disertai dengan leher kandung kemih yang inkompeten dan detrusor hyperreflexic. Total incontinence15

vi.

Kondisi ini terjadi pada dua situasi : 1. Saat terdapat abnormalitas kongenital traktus urinarius bagian bawah, contoh insersi ureter ektopik dibawah sfingter eksternal. Pasien mengeluhkan adanya dribbling urin secara terus menerus. 2. Pasca operasi (lebih sering) contoh vagino-vesical fistula, pasca TURP, pasca prostactetomy radikal. Terjadi kebocoran terus menerus dan kandung kemih tidak lagi mampu untuk melakukan fungsi penyimpanan.

3.2.3

Inkontinensia fungsional 1,2

Inkontinensia fungsional terutama terjadi pada usila dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan, mobilitas, deksteritas manual, faktor medis serta motivasi sehingga seseorang mengalami gangguan saat ingin berkemih. Faktor-faktor ini penting untuk diingat, karena perbaikan kecil faktor tersebut akan menyebabkan membaiknya inkontinensia dan status fungsional. Kenyataannya, setelah dokter mengesampingkan penyebab inkontinensia yang bersifat sementara dan lesi yang serius pada traktus urinarius, perhatian pada faktor-faktor ini sering diperlukan untuk pemeriksaan selanjutnya. Terapi fisik dengan memperbaiki kelainan mobilitas dan penyesuaian lingkungan dapat memperbaiki fungsi berkemih dengan cukup baik 3.8 Penatalaksanaan10 Penatalaksanaan untuk sebagian besar tumor baik intramedular maupun ekstramedular adalah dengan pembedahan. Tujuannya adalah untuk

menghilangkan tumor secara total dengan menyelamatkan fungsi neurologis secara maksimal. Kebanyakan tumor intradural-ekstramedular dapat direseksi secara total dengan gangguan neurologis yang minimal atau bahkan tidak ada post operatif. Tumor-tumor yang mempunyai pola pertumbuhan yang cepat dan agresif secara histologis dan tidak secara total dihilangkan melalui operasi dapat diterapi dengan terapi radiasi post operasi.1

Terapi yang dapat dilakukan pada tumor medulla spinalis adalah : a. Deksamethason: 100 mg (mengurangi nyeri pada 85 % kasus, mungkin juga menghasilkan perbaikan neurologis).

b. Penatalaksanaan berdasar evaluasi radiografik

Bila tidak ada massa epidural: rawat tumor primer (misalnya dengan sistemik kemoterapi); terapi radiasi lokal pada lesi bertulang; analgesik untuk nyeri.

Bila ada lesi epidural, lakukan bedah atau radiasi (biasanya 30004000 cGy pada 10x perawatan dengan perluasan dua level di atas dan di bawah lesi); radiasi biasanya seefektif seperti laminektomi dengan komplikasi yang lebih sedikit.

c.Penatalaksanaan

darurat

(pembedahan/

radiasi)

berdasarkan

derajatblok dan kecepatan deteriorasi bila > 80 % blok komplit atau perburukan yang cepat: penatalaksanaan sesegera mungkin (bila merawat dengan radiasi, teruskan deksamethason keesokan harinya dengan 24 mg IV setiap 6 jam selama 2 hari, lalu diturunkan (tappering) selama radiasi, selama 2 minggu. bila < 80 % blok: perawatan rutin (untuk radiasi, lanjutkan deksamethason 4 mg selama 6 jam, diturunkan (tappering) selama perawatan sesuai toleransi.

d. Radiasi Terapi radiasi direkomendasikan umtuk tumor intramedular yang tidak dapat diangkat dengan sempurna. Dosisnya antara 45 dan 54 Gy.

e.

Pembedahan Tumor biasanya diangkat dengan sedikit jaringan sekelilingnya dengan teknik myelotomy. Aspirasi ultrasonik, laser, dan mikroskop digunakan pada pembedahan tumor medula spinalis.

Indikasi pembedahan:

Tumor dan jaringan tidak dapat didiagnosis (pertimbangkan biopsi bila lesi dapat dijangkau). Catatan: lesi seperti abses epidural dapat terjadi pada pasien dengan riwayat tumor dan dapat disalahartikan sebagai metastase. Medula spinalis yang tidak stabil (unstable spinal). Kegagalan radiasi (percobaan radiasi biasanya selama 48 jam, kecuali signifikan atau terdapat deteriorasi yang cepat); biasanya terjadi dengan tumor yang radioresisten seperti karsinoma sel ginjal atau melanoma. Rekurensi (kekambuhan kembali) setelah radiasi maksimal. 3.9 Komplikasi6,8 Komplikasi yang mungkin pada tumor medula spinalis antara lain: Paraplegia Quadriplegia Infeksi saluran kemih Kerusakan jaringan lunak Komplikasi pernapasan Komplikasi yang muncul akibat pembedahan adalah: Deformitas pada tulang belakang post operasi lebih sering terjadi pada anak-anak dibanding orang dewasa. Deformitas pada tulang belakang tersebut dapat menyebabkan kompresi medula spinalis. Setelah pembedahan tumor medula spinalis pada servikal, dapat terjadi obstruksi foramen Luschka sehingga menyebabkan

hidrosefalus.

3.10 Prognosis Tumor dengan gambaran histopatologi dan klinik yang agresif mempunyai prognosis yang buruk terhadap terapi.Pembedahan radikal mungkin dilakukan pada kasus-kasus ini. Pengangkatan total dapat menyembuhkan atau setidaknya

pasien dapat terkontrol dalam waktu yang lama. Fungsi neurologis setelah pembedahan sangat bergantung pada status pre operatif pasien. Prognosis semakin buruk seiring meningkatnya umur (>60 tahun).8

BAB 3 KESIMPULAN

Tumor medula spinalisadalah tumor di daerah spinal yang dapat terjadi pada daerah cervical pertama hingga sacral. Tumor medula spinalis dapat dibagi menjadi tiga kelompok, berdasarkan letak anatomi dari massa tumor. Pertama, kelompok ini dibagi dari hubungannya dengan selaput menings spinal, diklasifikasikan menjadi tumor intradural dan tumor ekstradural.Selanjutnya, tumor intradural sendiri dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu tumor yang tumbuh pada substansi dari medula spinalis itu sendiri (tumor intramedular) serta tumor yang tumbuh pada ruang subarachnoid (ekstramedular). Tumor-tumor intrameduler dan intradural-ekstrameduler dapat juga diawali dengan gejala TTIK seperti: hidrosefalus, nyeri kepala, mual dan muntah, papiledema, gangguan penglihatan, dan gangguan gaya berjalan. Tumor-tumor neurinoma dan ependimoma mensekresi sejumlah besar protein ke dalam likuor, yang dapat menghambat aliran likuor di dalam kompartemen subarakhnoid spinal, dan kejadian ini dikemukakan sebagai suatu hipotesa yang menerangkan kejadian hidrosefalus sebagai gejala klinis dari neoplasma intraspinal primer. Gejala umum akibat adanya kompresi, antara lain nyeri, perubahan sensori dan gangguan motorik.

Cairan spinal, Computed Tomographic (CT) myelography, dan MRI spinalis merupakan tes yang paling sering digunakan dalam mengevaluasi pasien dengan lesi pada medula spinalis. MRI merupakan modalitas pencitraan primer untuk penyebaran ke medula, reduksi ruang CSF disekitar tumor. Cairan spinal (CSF) dapat menunjukkan peningkatan protein dan Santokhrom, dan kadangkadang ditemukan sel keganasan. Dalam mengambil dan memperoleh cairan spinal dari pasien dengan tumor medula spinalis harus berhati-hati karena blok sebagian dapat berubah menjadi blok komplit cairan spinal dan menyebabkan paralisis yang komplit.

Penatalaksanaan untuk sebagian besar tumor baik intramedular maupun ekstramedular adalah dengan pembedahan. Tujuannya adalah untuk

menghilangkan tumor secara total dengan menyelamatkan fungsi neurologis secara maksimal.

DAFTAR PUSTAKA 1. Hakim, A.A. 2006. Permasalahan serta Penanggulangan Tumor Otak dan Sumsum Tulang Belakang. Medan: Universitas Sumatera Utara 2. Huff, J.S. 2010. Spinal Cord Neoplasma. [serial online].

http://emedicine.medscape.com/article/779872-print. [1 April 2011]. 3. Japardi, Iskandar. 2002. Radikulopati Thorakalis. [serial online]. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1994/1/bedahiskandar%20japardi43.pdf. [1 April 2011]. 4. American Cancer Society. 2009. Brain and Spinal Cord Tumor in Adults. [serial online]. http://www.cancer.org/acs/groups/cid/documents/ webcontent/003088-pdf. [4 April 2011]. 5. Mumenthaler, M. and Mattle, H. 2006. Fundamental of Neurology. New York: Thieme. Page 146-147. 6. Harrop, D.S. and Sharan, A.D. 2009. Spinal Cord Tumors - Management of Intradural Intramedullary Neoplasms. [serial online].

http://emedicine.medscape.com/article/249306-print. [1 April 2011]. 7. National Institute of Neurological Disorders and Stroke. 2005. Brain and Spinal Cord Tumors - Hope Through Research. [serial online]. http://www.ninds.nih.gov/disorders/brainandspinaltumors/detail_brainands pinaltumors.htm. [1 April 2011]. 8. Satyanegara. 2010. Ilmu Bedah Saraf. Edisi IV. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama