Anda di halaman 1dari 37

III.

KEADAAN UMUM LOKASI PRAKTEK dan LOKASI MAGANG

A. Hutan Pendidikan Bengo-bengo Universitas Hasanuddin

1. Keadaan Biofisik a. Letak dan Luas Kawasan Hutan Pendidikan Universitas Hasanuddin terletak di Kabupaten Maros. Dari pusat ibukota Propinsi Sulawesi Selatan, kawasan hutan pendidikan tersebut berjarak sekitar 65 km, sedangkan dari pusat ibukota Kabupaten Maros berjarak sekitar 34 km. Kawasan ini dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam 30 menit dari Kota Makassar. Luas kawasan Hutan Pendidikan Universitas Hasanuddin berdasarkan SK.86/MENHUT-II/2005 seluas 1300 ha. Secara administratif pemerintahan, sebagian besar kawasan Hutan Pendidikan Universitas Hasanuddin berada di wilayah Desa Limapocoe, Kecamatan Cenrana (sebelumnya Kecamatan Camba), Kabupaten Maros. Berdasarkan kedudukan geografis, kawasan Hutan Pendidikan Universitas Hasanuddin terletak pada 119 4434 - 119 4617 Bujur Timur dan 04 587 - 05 0030 Lintang Selatan. Adapun batas-batas Hutan Pendidikan Universitas Hasanuddin, adalah sebagai berikut: (1) Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Timpuseng (2) Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Laiya (3) Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Kappang

(4) Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Ballocci Kabupaten Pangkep Berdasarkan hasil pengamatan dan pengukuran yang dilakukan oleh Fakultas Kehutanan, luas Hutan Pendidikan Unhas Bengo-Bengo adalah 1300 ha dengan pembagian wilayah kedalam tiga blok yaitu blok I 397 ha, Blok II seluas 457 ha, dan Blok III seluas 466 ha. Antara blok yang satu dengan blok yang lain dibatasi oleh jalan setapak yang kelak akan direncanakan menjadi jalan induk dan batas alam. Status hukum hutan pendidikan berdasarkan Keputusan Menteri

Kehutanan Nomor SK 86/MenhutII/2005 tentang perubahan keputusan Direktorat Jenderal Kehutanan Nomor 063/Kpts/BS/1/1980 tanggal 31 maret 1980 tentang Penunjukan Areal Hutan di Sekitar Sungai Camba Seluas 1.300 ha sebagai Hutan Pendidikan, menjadi penunjukan kawasan hutan lindung dan kawasan hutan produksi tetap seluas 1.300 ha di Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan sebagai kawasan hutan dengan tujuan khusus untuk menjadi hutan pendidikan Universitas Hasanuddin, ditetapkan di Jakarta,tanggal 4 Maret 2005. b. Topografi Pada umumnya kawasan Hutan Pendidikan Unhas Bengo-Bengo merupakan daerah bergelombang sampai bergunung. Berdasarkan peta topografi dengan skala 1 : 100.000 keadaan lapangan dapat digambarkan sebagai berikut : a. Daerah datar dengan kemiringan < 3 % terdapat pada sekitar jalan raya dan kampung disebelah Timur.

b. Daerah landai sampai berombak dengan kemiringan 3 % - 8 % terdapat di bagian tengah. c. Daerah berbukit dengan kemiringan 8 % - 25 % terdapat pada sebelah Timur Laut, Timur dan Selatan. d. Daerah bergunung dengan kemiringan > 25% terdapat di sebelah Barat dan Utara.

c. Tanah dan Geologi Menurut Lembaga Penelitian Tanah (LPT) Bogor (1967) keadaan tanah di Kawasan Hutan Pendidikan Universitas Hasanuddin sebagian besar terdiri dari bahan induk tuff dan batuan vulkan alkali dan hanya pada bagian Selatan dijumpai bahan induk dari batu gamping. berikut: (1) Alluvial dengan batuan induk endapan liat dan pasir pada daerah berombak. (2) Grumusol dengan batuan induk gamping dan tuff pada daerah bergelombang. (3) Regosol dengan batuan induk tuff vulkan pada daerah berbukit dan bergelombang. (4) Mediteran dengan batuan induk serpih tuff vulkan pada daerah berombak dan bergelombang. (5) Podsolik dengan endapan liat ber-tuff pada topografi berombak. (6) Kompleks mediteran, litosol, regosol, dengan batuan induk tuff vulkan alkali pada daerah berbukit dan bergunung. Penyebaran jenis tanahnya adalah sebagai

d. Iklim Umumnya tipe iklim di Indonesia ditetapkan menurut klasifikasi Schmit dan Ferguson yang berdasarkan atas perbandingan rata- rata bulan kering, bulan basah dan bulan lembab dengan pengklasifikasian sebagai berikut : (1) Bulan kering (bk) dengan curah hujan setiap bulan di bawah 60 mm (2) Bulan lembab (bl) dengancurah hujan setiap bulan antara 60-100 mm (3) Bulan basah (bb) dengan curah hujan setiap bulan lebih besar dari 100 mm Untuk mengetahui tipe iklim lokasi praktek maka terlebih dahulu dilakukan penghitungan jumlah bulan basah dan kering, seperti terlihat pada Tabel 1 dibawah ini. Tabel 1. Jumlah bulan basah, bulan kering dan bulan lembab selama 10 tahun terakhir di Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros
Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Jumlah Rata-Rata Jumlah Bulan Basah 4 8 8 2 5 6 1 2 6 4 46 4,6 Jumlah Bulan Kering 4 3 4 7 2 3 6 1 4 3 37 3,7 Jumlah Bulan Lembab 1 2 1 2 1 2 1 2 12 1,2

Sumber : Stasiun Klimatologi Kelas I Maros, 2011

Pada Tabel 1 terlihat bahwa, jumlah curah hujan perbulan di Kecamatan Cenrana menyebar setiap bulannya. Bulan Januari merupakan bulan terbasah sedangkan bulan September merupakan bulan terkering. Pada bulan November curah hujan menanjak terus hingga mencapai puncak tertinggi pada bulan Januari. Selama kurun waktu 10 tahun terakhir jumlah bulan basah 46 dengan rata- rata 4.6 kemudian bulan kering 37 dengan rata-rata 3,7 dan bulan lembab sebanyak 12 dengan rata- rata 1,2. Sehingga dari data tersebut dapat ditentukan nilai Q untuk mengetahui tipe iklim di Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros yaitu dengan rumus: Q= Q= = 80,43 % Makin kecil nilai Q maka makin basah suatu tempat dan makin besar nilai Q ratio maka makin kering suatu tempat. Berdasarkan penggolongan iklim dari Schmidt dan Ferguson, maka tipe iklim di Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros termasuk dalam tipe iklim D yaitu iklim sedang, dengan nilai Q ratio berkisar antara 60 % - 100 %. Klasifikasi tipe iklim menurut Schmidt dan Ferguson dapat dilihat pada Tabel 2 dibawah ini. Tabel 2. Klasifikasi iklim di Indonesia menurut Schmidt dan Ferguson
Kondisi Iklim Sangat Basah Basah Agak Basah Sedang Agak Kering Kering Tipe Iklim A B C D E F Nilai Q (%) 0 14,3 14,3 33,3 33,3 60 60 100 100 160 160 300

Sangat Kering Luar Biasa Kering

G H

300 700 > 700

e. Keadaan Biotis Vegetasi yang terdapat di Hutan Pendidikan Universitas Hasanuddin dahulunya sebagian besar berupa vegetasi padang rumput. Namun, pada tahun 1970/1971 dilakukan kegiatan reboisasi sehingga kawasan hutan ini menjadi hijau.Jenis tanaman yang ditanam pada kegiatan reboisasi yaitu pinus, akasia dan mahoni. Tanaman pinus di Hutan Pendidikan Universitas Hasanuddin menyebar dari bagian Selatan hingga ke bagian Utara dengan jumlah yang lebih sedikit di bagian Utara hutan pendidikan. Tanaman akasia terdapat pada bagian Utara hutan sedangkan tanaman Mahoni terdapat pada bagian Selatan yang berbatasan dengan jalan provinsi. Hutan alam di kawasan ini memiliki luas 512 ha atau sekitar 39% dari luas hutan pendidikan tersebut.Jenis-jenis yang paling banyak dijumpai di hutan alam adalah lento-lento (Arthrophyllum sp.), kemiri (Aleurites moluccana), mangga hutan (Buchanania arborescens), jabon (Anthocephalus cadamba), jambu-jambu (Eugenia sp.) dan beberapa jenis dari famili Moraceae seperti jenis Ficus sp. Kawasan hutan yang dikelola oleh masyarakat didominasi oleh tanaman jangka panjang seperti kemiri (Aleurites moluccana), aren (Arenga pinnata), bambu (Gigantochloa sp.), melinjo (Gnetum gnemon), pangi (Pangium sp.), cokelat (Theobroma cacao), kopi (Coffea sp.), mangga (Mangifera indica), dan

bahkan terdapat tegakan eboni (Diospyros celebica Bakh.) seluas + 21 ha yang dikelola oleh masyarakat di kawasan hutan Pallanro, Desa Rompegading.

2. Keadaan Sosial Ekonomi a. Penduduk Hutan Pendidikan Universitas Hasanuddin yang terletak di Kecamatan Cendrana memiliki 7 desa/kelurahan yang memiliki tingkat jumlah

kependudukan/kepadatan penduduk dengan luasan wilayah yang berbeda-beda. Adapun data kependudukan Kecamatan Cendrana dapat dilihat pada Tabel 3 dibawah ini. Tabel 3. Data Kependudukan desa di sekitar Hutan Pendidikan Universitas Hasanuddin, Kecamaatan Cendrana Kabupaten Maros
Luas Desa (Km2) Labuaja Lebbotengae Laiya Cendrana Baru Limampoccoe Rompegading Baji Pa'mai Jumlah 21,45 15,67 63,83 31,13 23,37 17,97 7,55 180,97 tangga 496 323 702 734 498 437 498 3688 1690 1202 3137 1754 3136 1947 1638 14504 Rumah Penduduk (Jiwa/Km2) 79 77 49 56 134 108 217 723 Kepadatan Penduduk

Sumber : Data Statistik, 2009

Pada Tabel 3 menunjukkan bahwa di Kecamatan Cendrana terdiri dari 7 desa/kelurahan dengan luas wilayah 180,97 Km2, jumlah rumah tangga 3.688,

jumlah penduduk 14.504 jiwa yang berarti setiap kepala keluarga menanggung rata-rata 3 orang anggota keluarga dan kepadatan penduduknya 723 Jiwa/Km2. Dilihat dari segi luas wilayah, Desa Laiya memiliki luas wilayah yang terbesar dengan luas sebesar 63,83 km2. Sedangkan desa yang memiliki luas wilyah terkecil adalah Desa Baji Pamai dengan luas wilyah sebesar 7,55

Km2.Dilihat dari segi jumlah penduduk,

Desa Limapoccoe memiliki jumlah

penduduk terbesar dengan jumlah penduduk 1.336 jiwa. Sedangkan desa yang memiliki jumlah penduduk yang terendah adalah desa Labbotange 1.202 jiwa. Dilihat dari segi kepadatan penduduk, Desa Baji Pamai memiliki tingkat

kepadatan penduduk yang tinggi sebesar 217 jiwa/km2 sedangkan desa Laiya yang memiliki tingkat kepadatan penduduk yang terendah sebesar 49 jiwa /km2. Data kependudukan Kecamatan Cendrana berdasarkan sebaran agamanya diperlihatkan pada tabel 4 dibawah ini Tabel 4. Data Penduduk Kecamatan Cendrana Berdasarkan Agama tahun 2009

Desa Labuaja Lebbotengae Laiya Cendrana Baru Limampoccoe Rompegading Baji Pa'mai

Islam 1558 1202 3137 1754 3136 1947 1638

Katholik -

Protestan 86 -

Hindu -

Sumber : Data Statistik, 2009

Menunjukkan bahwa dari ke tujuh desa/kelurahan yang terdapat pada Kecamatan Cendrana dengan sebaran jumlah penduduk yang bernedabeda.Sebagian besar penduduk di Kecamatan Cendranaadalah mayoritas agama Islam.Dimana Desa Laiya memiliki jumlah penduduk yang paling banyak beragama Islam. Sedangkan pada Desa Labuaja merupakan satusatunya desa yang memiliki penduduk beragama Protestan.

b. Mata Pencaharian Masyarakat Sebagian besar penduduk pada desa-desa disekitar Hutan Pendidikan Bengo-bengobermata pencaharian pada sektor pertanian, perkebunan, perikanan dan kehutanan. Adapun jenis-jenis usaha yang di kembangkan pada bidang peternakan seperti kegiatan beternak sapi, kerbau, kuda,

kambing,domba, babi, ayam, dan itik. Kegiatan pertanian/ perkebunan seperti tanaman padi, ubi jalar, ubi kayu, kacang tanah, kedelai, kopi, cengkeh, lada, cokelat, kemiri,jambu, jerul, mangga, pisang, rambutan, alpukat, jambu mente, dan belimbing. Selain itu masyarakat mengembangkan juga kegiatan industri rumah tangga dan hanya sedikit yang bergerak di bidang sektor jasa.Keadaan mengenai mata pencaharian penduduk pada desa-desa disekitar Kawasan Hutan Pendidikan Unhas dapat dilihat pada tabel 5 dibawah ini.

Tabel 5. Keadaan Kepala Keluarga di Desa-Desa Sekitar Hutan Pendidikan Bengo-Bengo Menurut Mata Pencaharian Utama
Jumlah Keluarga Menurut Mata pencaharian Utama No Desa/Kelurahan Petani 331 178 525 549 326 273 2.182 Industri/ Kerajinan 14 12 23 26 25 20 120 Dagang 27 16 25 22 2 22 132 Angkutan 4 7 5 15 6 11 48 Jasa 6 7 7 24 9 13 66 Lainnya 13 4 10 7 5 10 49

1 2 3 4 5 6 7

Labuaja Labbo Tengae Laiya Limampoccoe Rompe Gading Baji Pamai Cenrana Baru Jumlah

Sumber : Kantor Statistik, 2010

Pada Tabel 5 dapat diketahui bahwa pada umunya mata pencaharian penduduk di sekitar Kawasan Hutan Pendidikan adalah sebagian besar bekerja sebagai petani, yaitu sebanyak 2.182 orang, sedangkan yang lainnya sebagai pengusaha industri atau kerajinan sebanyak 120 orang, pedagang sebanyak 132 orang, di bidang angkutan sebanyak 48 orang dan di bidang jasa sebanyak 66 orang.

c. Pendidikan dan Kesehatan Fasilitas pendidikan di Kawasan Hutan Pendidikan Universitas Hasanuddin dinilai sudah cukup memadai, karena sudah tersedia SD, SMP, bahkan tingkat SMU.Hanya saja fasilitas belum menjangkau dusun-dusun yang jauh di sekitar Hutan Pendidikan. Selain itu, bagi mereka yang ingin melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi harus melanjutkan di Ibukota Propinsi (Makassar)

yang jaraknya kurang lebih 65 km (1,5 jam perjalanan) dengan menggunakan kendaraan. Sarana kesehatan yang ada boleh dikatakan belum memenuhi jumlah yang diharapkan bila dibandingkan dengan jumlah penduduknya. Saran kesehatan terdiri atas 2 puskesmas di Kecamatan Cenrana.

3. Kelembagaan Pengelolaan Hutan Pendidikan Unhas Hutan pendidikan Unhas Bengo-bengo ditetapkan berdasarkan SK. Direktur Jenderal Kehutanan No. 063/Kpts/B5/1/1980 tanggal 31 Maret 1980. Kawasan hutan pendidikan dalam status peruntukannya adalah kawasan hutan dengan tujuan khusus. Hutan Pendidikan Unhas dikelola bersama-sama oleh pihak-pihak terkait baik itu masyarakat maupun organisasi-organisasi profesi kehutanan. Struktur organisasi pengelolaan hutan pendidikan unhas dapat dilihat pada gambar 1.
Lembaga Pendukung (Wali Amanat) Ketua Jurusan Kehutanan

Tata Usaha

Program Studi

Hutan Pendidikan

Laboratorium

Badan Pengembang

Badan Pengelola

Gambar 1. Struktur Organisasi Hutan Pendidikan Universitas Hasanuddin Keterangan : _______ = Garis Komando = Garis Koordinasi

-----------

Tugas dan wewenang dari unsur-unsur sruktur tersebut adalah: 1. Badan Pengembangan Hutan Pendidikan merupakan lembaga yang

mempunyai fungsi sebagai litbang dengan tugas menyusun dan merumuskan konsep-konsep strategis yang diperlukan untuk pengembangan hutan pendidikan. Badan pengembangan hutan pendidikan mempunyai wewenang untuk memberikan saran dan masukan kepada badan pengelola hutan pendidikan secara aktif. 2. Badan Pengelola Hutan Pendidikan merupakan lembaga operasional yang mempunyai tugas dan wewenang melakukan perencanaan, pengelolaan dan pengamanan hutan pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Hubungan antara badan pengelola hutan pendidikan dan badan pengembangan hutan pendidikan adalah hubungan koordinasi. 3. Laboratorium Dan Program Studi. hutan pendidikan diharapkan berfungsi sebagai laboratorium lapangan untuk mendukung pengembangan pengetahuan teori dan praktek secara berimbang. Dalam pelaksanaan dilapangan harus melakukan koordinasi dengan badan pengelola hutan pendidikan dan mengikuti peraturan perencanaan yang telah ditetapkan oleh pengelola. Dengan demikian seluruh kegiatan laboratorium dan program studi dapat berlangsung secara sinergis. 4. Lembaga Pendukung (Wali Amanat) merupakan lembaga fungsional yang diharapkan dapat membantu mempercepat pencapaian tujuan pengelolaan hutan pendidikan. Wali Amanat mempunyai tugas dan fungsi memberikan

bantuan pemikiran dan finansial serta memfasilitasi kerjasama dengan pihak lain yang dapat mendukung pengembangan hutan pendidikan.

B. Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung

1. Kondisi Fisik a. Geologi dan Tanah Formasi geologi kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dikelompokkan menurut jenis batuan, yang didasarkan pada ciri-ciri litologi dan dominasi dari setiap satuan batuan. Formasi-formasi tersebut sebagai berikut : Formasi Balang Baru. Formasi balang baru terdiri dari perselingan serpih dengan batu pasir, batu lanau dan batu lempung, dengan struktur batuan berlapis, menyerpih dan turbidit. Bentuk formasi ini menyebar di bagian Utara yaitu di Kecamatan Mallawa. Satuan batuan ini adalah batuan sedimen. Batuan Gunung Api Terpropilitkan. Batuan ini terdiri dari breksi dan lava, menyebar pada bagian Selatan, yaitu Kecamatan Tanralili Kabupaten Maros. Lava umumnya bersifat andesitik, sebagian trakit dan basal. Formasi Mallawa. Formasi ini terdiri atas batu pasir kuarsa, batu lanau, batu lempung dan konglomerat, dengan sisipan atau lensa batubara. Penyebarannya berada di Kecamatan Watang Mallawa, di daerah Ammasangeng, dan Kecamatan Bantimurung. Batu pasir kuarsa umumnya bersifat rapuh dan kurang kompak, berlapis tipis. Batubara pada satuan batuan ini mempunyai ketebalan antara 0,5 - 1,5 meter.

Formasi Tonasa. Formasi ini terdiri dari batu gamping pejal, bioklastik, kalkarenit, koral dan kalsirudit bersisik. Di daerah Kecamatan Watang Mallawa batu gamping formasi tonasa ditemukan mengandung mineral glauconit dan napal dengan sisipan breksi batu gamping. Formasi Camba. Formasi ini terdiri dari perselingan batuan sedimen laut dan batuan gunung api, yaitu batu pasir tufaan berselingan dengan tufa, batu pasir, batu lanau dan batu lempung. Di beberapa tempat dijumpai sisipan napal, batu gamping dan batu bara. Batuan Gunung Api Formasi Camba. Batuan ini terdiri dari breksi, lava dan konglomerat. Breksi dan konglomerat terdiri dari pragment andesit dan basal, matriks dan semen tufa halus hingga pasiran. Batuan Gunungapi Baturape-Cindako. Batuan ini terdiri dari lava dan breksi gunung api, bersisipan tufa dan konglomerat. Breksi gunung api umumnya berkomponen kasar berupa basal dan sedikit andesit dengan ukuran fragment 15 - 60 cm, tersemen oleh tufa berbutir kasar hingga lapilli dan banyak mengandung firoksin. Batuan Terobosan. Batuan ini terdiri dari granodiorit, andesit, diorit, trakit dan basal piroksin. Batuan ini menyebar setempat-setempat dan menerobos batuan yang lebih tua di sekitarnya berupa retas, sill dan stok. Endapan aluvium. Batuan ini terdiri dari endapan aluvium sungai. Endapan aluvium sungai berupa bongkah, kerakal, kerikil, pasir dan lempung. Ada dua jenis tanah yang umum ditemukan pada kawasan karst MarosPangkep, dimana keduanya kaya akan kalsium dan magnesium. Tanah jenis

Rendolls mempunyai warna kehitaman karena tingginya kandungan bahan organik, ditemukan pada dasar lembah lereng yang landai, terutama di bagian Selatan dari karst Maros. Eutropepts merupakan jenis tanah turunan dari inceptisol, umumnya ditemukan pada daerah yang mempunyai kelerengan yang terjal dan puncak bukit kapur. Tanah ini sangat dangkal dan berwarna terang.

b. Topografi Sebagaimana pada umumnya kawasan dengan landskap karst, bentuk permukaan kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung bervariasi dari datar, bergelombang, berbukit sampai dengan bergunung. Bagian kawasan yang bergunung terletak pada sisi Timur Laut kawasan atau terletak pada blok Pegunungan Bulusaraung di Kecamatan Mallawa Kabupaten Maros dan Gunung Bulusaraung sendiri di Kecamatan Balocci Kabupaten Pangkep. Puncak tertinggi terletak pada ketinggian 1.565 m.dpl di sebelah Utara Pegunungan Bulusaraung. Puncak Gunung Bulusaraung sendiri terletak pada ketinggian 1.353 m.dpl. Sisi ini dicirikan oleh kenampakan topografi relief tinggi, bentuk lereng yang terjal dan tekstur topografi yang kasar. Daerah perbukitan dicirikan oleh bentuk relief dan tekstur topografi halus sampai sedang, bentuk lereng sedang sampai rendah, bentuk bukit yang tumpul dengan lembah yang sempit sampai melebar. Daerah perbukitan ini dapat dikelompokkan ke dalam perbukitan intrusi, perbukitan sedimen dan perbukitan karst. Kawasan dengan topografi dataran dicirikan oleh bentuk permukaan lahan yang datar sampai sedang dan sedikit bergelombang, relief rendah dan tekstur

topografi halus. Bentuk permukaan seperti ini banyak dijumpai di antara perbukitan karst yang berbentuk menara.

c. Iklim dan Hidrologi Berdasarkan perhitungan data curah hujan yang dikumpulkan dari beberapa stasiun yang ada disekitar kawasan Taman Nasional, ditemukan bahwa pada wilayah bagian Selatan terutama bagian yang berdekatan ibukota Kabupaten Maros, seperti Bantimurung termasuk ke dalam iklim D (Schmidt dan Ferguson) sedangkan Bengo-Bengo, Karaenta, Biseang Labboro, Tonasa dan Minasa Tene termasuk kedalam iklim tipe C, sementara pada bagian utara, terutama wilayah Kecamatan Camba dan Mallawa termasuk kedalam tipe B. Peta curah hujan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung memperlihatkan adanya empat zona curah hujan, yakni curah hujan 2.250 mm, 2.750 mm, 3.250 mm dan 3.750 mm. Curah hujan 2.250 mm sampai 2.750 mm berada dibagian timur kawasan taman nasional, dimana di wilayah inilah masyarakat banyak memanfaatkan kawasan hutan. Sebaliknya, curah hujan yang lebih tinggi yakni 3.250 mm sampai 3.750 mm, berada di bagian barat taman nasional dimana sekitar 75 % wilayah cakupannya merupakan arael karst. Di wilayah ini, pemanfaatan lahan oleh masyarakat dalam kawasan hutan relatif kecil karena kondisi tanah yang tidak memungkinkan. Sisanya 25 % yang berupa ekosistem non karst dan menyebar di bagian selatan, juga banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai lahan pertanian. Tingginya pemanfaatan lahan areal taman nasional oleh masyarakat pada wilayah yang mempunyai curah hujan tinggi, adalah merupakan ancaman

terhadap sumberdaya lahan di wilayah taman nasional, terutama kaitannya dengan erosi tanah. Kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung merupakan bagian dari hulu beberapa sungai besar di Sulawesi Selatan. Sisi sebelah Timur antara lain merupakan hulu Sungai Walanae yang merupakan salah satu sungai yang mempengaruhi sistem Danau Tempe. Pada bagian Barat terdapat Sungai Pangkep dan Sungai Bone di Kabupaten Pangkep, Sungai Pute dan Sungai Bantimurung di Kabupaten Maros. Sungai Bantimurung adalah merupakan sumber pengairan persawahan di Kabupaten Maros serta dimanfaatkan untuk pemenuhan air bersih bagi masyarakat Kota Maros. Disamping itu, juga ditemukan beberapa mata air dan sungai-sungai kecil, terutama di wilayah karst, serta aliran air bawah tanah/danau bawah tanah pada sistem perguaan. Mata air berdebit besar dijumpai pada batu gamping pejal dengan debit 50 - 250 l/dtk, sedang mata air yang muncul di batuan sedimen terlipat dan batuan gunung api umumnya kurang dari 10 l/dtk. Fluktuasi debit air sungai-sungai besar dari dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung sampai saat ini masih relatif stabil sepanjang tahun, namun berbeda dengan debit pada sungai di permukaan karst.

2. Kondisi Biotis a. Ekosistem Kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dibagi ke dalam tiga tipe ekosistem utama, yaitu ekosistem hutan di atas batuan karst (forest over limestone/ hutan di atas batu gamping) atau lebih dikenal dengan nama ekosistem karst, ekosistem hutan dataran rendah, serta ekosistem hutan pegunungan bawah.

Batas ketiga tipe ekosistem ini sangat jelas karena hamparan batuan karst yang berdinding terjal dengan puncak menaranya yang relatif datar, sangat berbeda dengan topografi dataran rendah yang mempunyai topografi datar sampai berbukit, serta kondisi ekosistem hutan pegunungan yang ditandai oleh bentuk relief yang terjal atau terkadang bergelombang. Pada kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, terdapat dua lokasi ekosistem karst yang saling terpisah, yaitu di wilayah Maros-Pangkep pada bagian barat taman nasional, dan di ujung Utara, yakni di wilayah Mallawa. Para ahli geologi membedakan kedua kelompok karst ini, yakni yang pertama dikenal dengan kelompok Pangkajene dan yang kedua disebut kelompok pegunungan bagian Timur. Kedua lokasi ini merupakan wilayah penyebaran vegetasi bukit karst (vegetasi bukit kapur) dan lainnya merupakan areal penyebaran vegetasi hutan dataran rendah. Geomorfologi karst Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung berbentuk karst menara (pada beberapa referensi disebut sebagai The Spectacular Tower Karst), yang merupakan satu-satunya di Indonesia dan berbeda dengan tempat-tempat lain yang pada umumnya berbentuk karst kerucut (conicall hill karst) atau peralihan antara karst menara dan kerucut. Seperti pada umumnya kawasan karst, ekosistem karst Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung memiliki sangat banyak gua dengan ornament stalagtit dan stalagmit serta ornamen endokarst lainnya.

b. Kondisi Flora Jenis flora yang terdapat di dalam Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung sangat beraneka ragam dan di antaranya terdapat jenis-jenis dominan

seperti palem wanga (Piqafetta filaris dan Arenga sp.) yang tidak dijumpai lagi pada ketinggian di atas 1.000 m.dpl. Jenis kayu-kayuan antara lain terdiri dari uru (Elmerillia sp.), cemara (Casuarina sp.), ares (Duabanga moluccana),kluwak (Pangium edule), termasuk dijumpai tegakan murni karet (Eucalyptus deglupta). Pada hutan pegunungan bawah dijumpai damar (Agathis philippinensis), berbagai jenis bambu dan rambong beringin (Ficus sumatrana). Batuan kapur ditemukan pada kompleks Pegunungan Bulusaraung, hutan pendidikan Bengo-Bengo dan formasi hutan di Kecamatan Camba dan Mallawa, serta sedikit di bagian Selatan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Berdasarkan hasil eksplorasi, diketahui bahwa pada hutan dataran rendah tersebut dihuni oleh jenis-jenis bitti (Vitex cofassus), nyatoh (Palaquium obtusifolium), cendrana (Pterocarpus indicus), beringin (Ficus spp), kepuh (Sterculia foetida), dao (Dracontomelon dao), kemiri (Aleurites

moluccana),bayur(Pterospermum celebicum), dahu (Dracontomelum mangiferum, aren (Arenga pinnata), sono (Colona sp.), kenanga (Cananga odoratum), ares (Duabanga moluccana), jambul(Zizigium cumini), sukun, nangka,

GenusArtocarpus spp., kayu hitam (Diospyros celebica), gooseberry (Buchanania arborescens), jabon (Anthocephalus cadamba), pala (Myristica sp.), darah-darah (Knema sp.),dannyamplung (Calophyllum inophyllum). Masih sangat banyak potensi fauna yang belum berhasil diidentifikasi dengan baik di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kegiatan eksplorasi, identifikasi dan inventarisasi masih perlu lebih sering dilakukan, baik oleh pengelola, peneliti maupun pihak-pihak yang berkepentingan lainnya.

Dihimpun dari berbagai sumber yang dapat dipercaya serta hasil dari kegiatan identifikasi jenis yang dilakukan oleh Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung sendiri pada tahun 2008. Terdapat juga 302 species tumbuhan alam telah terdaftar pada kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang terdiri dari 2 family kelas Monocotyledonae dan 43 family kelas Dicotyledonae. Dari 302 species tumbuhan alam yang telah terdaftar pada Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, 1 species diantaranya adalah species tumbuhan alam yang dilindungi undang-undang, 1 species diantaranya adalah species tumbuhan alam yang termasuk dalam Appendix II CITES, dan 1 species diantaranya adalah species tumbuhan alam yang termasuk dalam Appendix III CITES. Suatu hal yang cukup unik dari keberadaan tumbuhan alam tersebut adalah adanya 43 species/ sub species tumbuhan alam dari marga Ficus. Jenisjenis Ficus ini adalah makanan utama bagi banyak jenis satwa liar termasuk pula yang paling umum Kera Hitam Sulawesi/ Dare (Macaca maura).

c. Kondisi Fauna Jenis mamalia yang telah berhasil diidentifikasi di dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung antara lain beberapa jenis kelelawar, Kera Hitam Sulawesi, Tarsius, Kuskus Beruang, Kuskus Sulawesi, Musang Sulawesi, Babi Hutan dan Rusa. Kelelawar adalah jenis penting yang karena kedudukannya dalam ekosistem, satwa ini digolongkan sebagai Key stone species (Primarck, 1993). Menjelaskan bahwa keluarga kelelawar terdiri dari hampir 200 jenis, dimana 25% diantaranya adalah genus Pteropus. Jenis-jenis dari genus ini mempunyai peranan yang penting, dan mungkin hanya mereka yang melakukan

penyerbukan dan penyebaran biji dari kurang lebih 100 jenis tumbuhan di daerah tropis. Di samping itu, kelelawar membawa sisa-sisa makanan ke dalam gua yang sangat dibutuhkan oleh organism penghuni gua lainnya. Kuskus merupakan satusatunya komponen mamalia Irian-Australia yang sebarannya sampai ke kawasan Sulawesi (batas bagian Barat). Wirawan (1993) menginformasikan bahwa kuskus yang berada di Karaenta adalah jenis endemik Sulawesi, yakni Kuskus Sulawesi

(Strigocuscuscelebencis) dan Kuskus Beruang (Ailurops ursinus). Musang Sulawesi (Macrogalidia musschenbroeckii) adalah satwa yang terdiri dari satu genera dengan satu species, dan merupakan satwa endemik Sulawesi. Wirawan (1993) melaporkan bahwa Mastura (1993) telah menemukan satwa ini di wilayah Karaenta. Panjang kepala dan badannya kira-kira 1 meter, dengan panjang ekor 0,6 meter. Bagian tubuh atas (punggung) berwarna coklat muda sampai coklat tua, bagian bawah putih dengan dada kemerah-merahan dan bercak-bercak coklat di sisi kiri dan kanan badannya. Strip coklat dan coklat muda melingkari ekor. Musang ini memakan mamalia kecil dan buah-buahan. Tarsius adalah merupakan primata terkecil di dunia. Wirawan (1993) melaporkan bahwa ia pernah melihat Tarsius di wilayah Karaenta. Walaupun hanya melihat 1 ekor, namun berdasarkan suara-suaranya ia yakin jika populasinya lebih dari satu. Hal ini diperkuat oleh seorang pegawai PPA di Karaenta yang pernah mengantar ahli Tarsius ke lokasi di mana satwa ini berada. Ada 2 species Tarsius yang hidup di Sulawesi, namun belum ada informasi tentang jenis apa yang ada di wilayah Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung

pada saat itu. Panjang kepala dan badan satwa ini berkisar antara 8,5-16,0 cm, sedangkan ekornya bervariasi antara 13,5-27,0 cm. Kera mungil ini memiliki mata bulat yang besar, serta jari-jari yang panjang untuk berpegangan. Mereka hidup di pohon dan mencari makan (serangga dan binatang kecil lainnya) di malam hari. Dalam beberapa eksplorasi antara tahun 2007 hingga 2008, jenis ini banyak didokumentasikan dengan menggunakan kamera. Tim eksplorasi kawasan karst IPB untuk kelompok Mamalia yang dipimpin oleh A. Haris Mustari pada bulan Agustus 2007 untuk pertama kali berhasil mendokumentasikan keberadaan Tarsius di dalam Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Cahyo Alkantana dalam sebuah seminar kegiatan speleologi yang di selenggarakan oleh HIKESPI bekerja sama dengan Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung pada tanggal 16 Agustus 2007, menginformasikan bahwa menemukan Tarsius di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung sangat mudah dan tidak sesulit di wilayah Sulawesi Utara dan Tengah. Pada bulan Maret tahun 2008, beberapa orang staf Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung berhasil menemukan salah satu sarangnya dan berhasil membuat dokumentasi yang menarik. Meskipun belum ada laporan tentang species tikus yang ada di wilayah Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, namun Whitten et al (1987) menginformasikan adanya sebaran tikus yang cukup luas di Sulawesi. Ada 18 jenis tikus endemik di Sulawesi, dan tidak tertutup kemungkinan bahwa ada diantara jenis-jenis tersebut yang juga hidup dalam wilayah Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Berbagai jenis burung dapat ditemukan di dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Achmad (2000) pernah melaporkan jenis-jenis burung yang ada dalam kawasan Taman Nasional BantimurungBulusaraung. Jenis-jenis yang ditemukan di kawasan ini antara lainRangkong Sulawesi (Rhyticeros cassidix), Kangkareng Sulawesi (Penelopides exarhatus), Elang, Kutilang (Pycnonotus aurigaster), Kurcica (Saxicola caprata), Raja Udang (Halcyon chloris), Punai (Treron sp.), Pelatuk (Dendrocarpus teiminkii), Srigunting (Dicrurus hottentotus), Walet (Collocalia spp.), Burung hantu (Otus manadensis), Burung pipit 3 jenis (Loncura molucca, Loncura malacca, dan Loncura vallida), Burung tekukur (Micropaga amboinensis), Capili (Turacaena manadensis), Kakaktua Putih Jambul Kuning (Cacatua sulphurea), Kakaktua Hijau Danga (Tanignatus sumatranus), serta Ayam Hutan (Ghallus gallus). Kelompok Pemerhati Herpetofauna (KPH) Phyton HIMAKOVA Institut Pertanian Bogor melakukan survey keanekaragaman herpetofauna sebagai bagian dari program Konservasi Herpetofauna di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Survei ini dilakukan selama 2 bulan, yakni pada bulan Juli sampai Agustus 2007. Berdasarkan hasil survei ditemukan 37 jenis herpetofauna, yang terdiri dari 24 jenis reptil dan 13 jenis katak, termasuk 3 jenis yang belum teridentifikasi. Di antara jenis yang dijumpai, termasuk jenis-jenis endemik Sulawesi seperti Kodok Bufo celebensis dan Rana celebensis, serta reptil endemik seperti Ular Kepala Dua (Cylindrophis melanotus), Calamaria muelleri dan Cicak Hutan (Cyrtodactylus jellesmae). Kadal akuatik yang disebut Soa-soa

(Hydrosaurus amboinensis) dapat dijumpai berjemur di batu-batu besar sepanjang

sungai di Pattunuang. Di Bontosiri (Pegunungan Bulusaraung), katak jenis Limnonectes modestus meletakkan telurnya di daun-daun pada tumbuhan bawah sepanjang sungai, dan terkadang terdapat jantan yang sedang menjaga telurnya. Jenis lain yang dapat dijumpai adalah kadal terbang (Draco sp.) yang sering diawetkan dan dijual sebagai souvenir. Mattimu (1977) melaporkan bahwa ada 103 jenis kupu-kupu yang ia temukan di hutan wisata Bantimurung, dengan jenis endemik antara lain adalahPapilio blumei, P. polites, P.sataspes, Troides haliphron, T. helena,T. hypolitus, dan Graphium androcles. Achmad (1998) telah meneliti secara khusus habitat dan pola sebaran kupu-kupu jenis komersil di hutan wisata Bantimurung selama satu tahun. Ia juga menginformasikan bahwa kupu-kupu jenis Troides haliphron dan Papilio blumei adalah dua jenis endemik yang mempunyai sebaran yang sangat sempit, yakni hanya pada habitat berhutan di pinggiran sungai. Sampai dengan tahun 2008, pada kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung telah terdaftar sebanyak 356 species satwa liar. Daftar jenis satwa liar tersebut dihimpun dari berbagai sumber yang dapat dipercaya serta hasil dari kegiatan identifikasi jenis yang dilakukan oleh Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung sendiri. Jenis-jenis satwa liar tersebut terdiri dari 6 species Mamalia, 73 species Aves, 7 species Amphibi, 19 species Reptilia, 224 species Insecta, serta 27 species Collembola, Pisces, Moluska dan lain sebagainya. Dari 356 species satwa liar yang telah terdaftar pada Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, 30 species diantaranya adalah species satwa liar yang dilindungi undang-undang, 1 species diantaranya adalah species satwa liar yang

termasuk dalam Appendix I CITES, 9 species diantaranya adalah species satwa liar yang termasuk dalam Appendix II CITES, dan 1 species diantaranya adalah species satwa liar yang termasuk dalam Appendix III CITES. 3. Keadaan Sosial Ekonomi a. Penduduk Kawasan Taman NasionalBantimurung Bulusaraung berada di dalam tiga wilayah administrasi kabupaten.Kawasan taman nasional ini terletak di dalam 10 wilayah administrasi kecamatan dan40 wilayah administrasi kelurahan/desa. Secara keseluruhan di tiap kecamatan yangberbatasan dengan kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung terdapatpopulasi penduduk sebanyak 171.785 jiwa yang terdiri dari 83.286 jiwa pria dan88.499 jiwa wanita. Kepadatan populasi penduduk rata-rata di seluruh wilayahkecamatan sebanyak 97 jiwa/Km2. Dari setiap kecamatan, kepadatan populasipenduduk tertinggi berada di Kecamatan Minasa Tene Kabupaten Pangkep danKecamatan Simbang Kabupaten Maros, sedangkan kepadatan populasi pendudukterendah berada di Kecamatan Tellu Limpoe Kabupaten Bone dan KecamatanTompobulu Kabupaten

Maros.Kecamatan Minasa Tene Kabupaten Pangkep dihuni oleh banyak populasimanusia karena di wilayah ini terdapat pusat-pusat perindustrian dan perdagangan.Sebagian wilayah Kecamatan Minasa Tene juga sangat dekat dengan wilayahIbukota Kabupaten Pangkep. Di kecamatan ini terdapat pusat pemukiman perusahaan pertambangan milik PT. Semen Tonasa yang berkapasitas cukup besar.

Berbeda dengan Kecamatan Minasa Tene, Kecamatan Simbang Kabupaten Marosjuga memiliki kepadatan populasi penduduk yang cukup tinggi karena di wilayah initelah lama berkembang kegiatan-kegiatan pariwisata, kegiatan pertanian yangintensif serta kegiatan-kegiatanpelayanan jasa. Pada kecamatan inijuga terdapat markas sebuah batalyoninfanteri milik TNI Angkatan Darat.Kantor Balai Taman NasionalBantimurung Bulusaraung juga beradadi dalam wilayah administrasiKecamatan Simbang. Adapun kondisi kependudukan di Kecamatan Tellu Limpoe Kabupaten Bonedan Kecamatan Tompobulu Kabupaten Maros yang cukup rendah, diasumsikankarena bentuk topografi yang berbukit dan bergunung, fasilitas infrastruktur yangminim, serta tingkat aksesibilitasnya yang rendah. Kondisi kependudukan diuraikan pada tabel 6 dibawah ini. Tabel 6. Kondisi Kependudukan pada Wilayah-wilayah di sekitar Taman NasionalBantimurung Bulusaraung Tahun 2006
Penduduk Kabupaten/ No. Kecamatan (Jiwa) A. 1. 2. 3. 4. 5. 6. MAROS Bantimurung Simbang Cendrana Camba Mallawa Tompobulu 13.640 10.667 6.576 6.858 5.687 7.121 14.333 11.251 7.570 7.283 6.043 6.572 27.973 21.918 14.146 14.121 11.730 13.693 95 95 87 94 94 108 173.70 105.31 180.97 145.36 235.92 287.66 161 208 78 97 50 48 (Jiwa) (Jiwa) Ratio (Km )
2

Luas Kepadatan Sex Wilayah (Jiwa/Km2)

Pria

Wanita

Jumlah

B. 1. 2. 3. C. 1.

PANGKEP Balocci Minasa Tene Tondong Tallasa BONE Tellu limpoe Jumlah 6.327 83.286 6.626 88.499 12.953 171.785 95 94 318.10 1.778.18 41 97 8.008 13.835 4.567 8.286 15.589 4.966 16.294 29.424 9.533 97 89 92 143.48 76.48 111.20 114 385 86

NasSumber : BPS, 2007Bulusaraung

44

Kondisi pendidikan masyarakat pada wilayah-wilayah di sekitar kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung sampai dengan tahun 2006 dapat dianggap masih cukup rendah. Prosentase jumlah pelajar dari total populasi penduduk hanya sebesar 19,07%. Sebagai bahan perbandingan, jumlah populasi masyarakat seluruh Kabupaten Maros yang berada dalam usia sekolah (dengan asumsi usia 5 hingga 19 tahun) sebanyak 102.836 jiwa atau 34,56% dari total populasi 297.618 jiwa. Dengan menggunakan angka prosentase populasi penduduk seluruh Kabupaten Maros yang berada dalam usia sekolah, dibandingkan dengan prosentase jumlahpelajar dari total populasi penduduk di sekitar kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang hanya sebanyak 19,07%, maka terdapat sekitar 55% atau lebih dari separuh penduduk usia sekolah yang tidak bersekolah di sekitar kawasan taman nasional. Kenyataan yang demikian ini dapat digunakan sebagai salah satuperingatan atau indikasi bahwa tekanan terhadap kawasan taman nasional masihakan tetap tinggi hingga dua atau tiga dekade yang akan datang. Populasi penduduk ini sebagian besar masih akan menggantungkan kebutuhan ekonominya dari bidang-bidang pertanian (yang

membutuhkan lahan), yang disebabkan oleh lemahnya dayasaing untuk memperoleh jenis pekerjaan lain yang mempersyaratkan pendidikan. Tabel 7. Kondisi Pendidikan Masyarakat pada Wilayah-wilayah di sekitar TamanNasional Bantimurung Bulusaraung Tahun 2006
Populasi Kabupaten/ No. Kecamatan (Jiwa) A. 1. 2. 3. 4. 5. 6. B. 1. 2. 3. MAROS Bantimurung 27.973 Simbang 21.918 Cendrana 14.146 Camba 14.121 Mallawa 11.730 Tompobulu 13.683 PANGKEP Balocci 16.294 Minasa Tene 29.424 Tondong 9.533 Tallasa C. 1. BONE 12.953 Tellu limpoe Jumlah
Sumber : BPS, 2007

Jumlah Pelajar (Orang)

Prosentase Pelajar dari

Penduduk TK SD SLTP SMA Juml.

Populasi

270 210 157 269 92 0

3666 2985 1880 1673 1577 1637

1.606 687 380 530 375 353

808 62 0 487 147 0

6.350 3.944 2.397 2.959 2.191 1.990

22.70 17.99 16.94 20.95 18.68 14.53

162 186 191

2443 3610 1083

973 1.137 307

523 263 91

4.101 5.196 1.672

25.17 17.66 17.54

20

1813

130

1.963

15.15

171.785

1.557

22.347

6.478

2.381

32.763

19.07

Masyarakat Kabupaten Maros, Pangkep dan Bone yang bermukim di sekitarTaman Nasional Bantimurung Bulusaraung pada umumnya merupakan Etnis Bugis-Makassar yang menganut agama Islam. Kabupaten Maros dan

Pangkep merupakandaerah peralihan antara wilayah etnis Bugis dengan wilayah etnis Makassar,sehingga masyarakat yang berada di wilayah tersebut umumnya mampu berbahasaBugis dan Makassar. Pada beberapa kecamatan di Kabupaten Maros dan Pangkep,terdapat komunitas yang menggunakan bahasa Dentong dan bahasa Makassarberdialek Konjo. Sistem kepercayaan dan budaya masyarakat Maros, Pangkep danBone sangat dipengaruhi oleh nilainilai budaya Bugis-Makassar dan Islam. Nilai-nilaibudaya yang berlaku masih dijunjung tinggi oleh masyarakat di wilayah tersebut.

4. Aksesibilitas Kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dapat dicapai melaluidua arah, yaitu dari arah Selatan (Bantimurung) dan dari arah Barat (Balocci). Sisi Selatan atau tepatnya obyek wisata Air Terjun Bantimurung berjarak 42 Km dari Kota Makassar, Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan. Jarak ini dapat ditempuh selama 60 menit. Untuk pengunjung yang berasal dari luar provinsi atau pengunjung manca negara, kawasan Bantimurung berjarak 21 Km dari Bandar Udara Internasional Hasanuddin atau dapat dicapai dalam waktu 30 menit. Tersedia banyak fasilitas angkutan umum untuk dapat mencapai lokasi ini sepanjang hari.

5. Manajemen Pengelolaan a. Tugas dan Fungsi Menurut Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. 03/Menhut-II/2007 tanggal 1 Februari 2007 Kelembagaan Balai Taman Nasional Bali Barat

tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Taman Nasional yang dipimpin oleh seorang Kepala Balai. Dalam melaksanakan tugasnya Kepala Balai dibantu oleh : 1. Kepala Sub Bagian Tata Usaha Mempunyai tugas : melaukan urusan tata persuratan, ketatalaksanaan, keuangan, perlengkapan, kearsipan, rumah tangga, perencanaan,

kerjasama, data, pemantauan dan evaluasi, pelaporan serta kehumasan. 2. Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Mempunyai tugas : melakukan penyusunan rencana dan anggaran, evaluasi dan pelaporan. Bimbingan teknis, pelayanan, dan pemberdayaan masyarakat, pengelolaan kawasan, perlindungan, pengawetan,

pemanfaatan lestari, pengamanan dan pengendalian kebakaran hutan, pemberantasan penebangan dan peredaran kayu, tumbuhan dan satwaliar secara illegal serta pengelolaan sarana prasarana, promosi, binawisata alam dan bina cinta alam, penyuluhan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya serta kerjasama di bidang pengelolaan kawasan TN 3. Kelompok Kerja (Pokja) terdiri dari : Kepegawaian dan Umum Perlengkapan dan Rumah Tangga Keuangan Perencanaan dan pemolaan Pemanfaatan dan keanekaragaman Hayati (Kehati) Penyidikan dan Perlindungan

4. Kelompok Jabatan Fungsional konservasi terdiri dari: - Polisi Kehutan (Polhut) - Pengendali Ekosistem Hutan (PEH - Penyuluh Kehutanan b. Struktur Organisasi Pengelolaan TN Babul
KEPALA BALAI KEPALA SUB BAGIAN TU POKJA KEPEGAWAIAN DAN UMUM

KEPALA SPTN WIL I

KEPALA SPTN WIL II

POKJA PERLENGKAPAN DAN RT

POKJA KEUANGAN

RESORT MINASA TENE

RESORT MALLAWA

RESORT CAMBA

POKJA PERENCANAAN DAN PEMOLAAN

RESORT BALLOCCI RESORT PATTUNUANG - KARAENGTA RESORT TONDUNG RESORT BANTIMURUNG BULUSARAUNG

POKJA PEMANFAATAN DAN KEHATI

POKJA PENYIDIKAN DAN PERLINDUNGAN

TALLASA
PEJABAT FUNGSIONAL

Gambar 2. Struktur Organisasi Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung

6.

Sumberdaya Manusia Sumberdaya manusia adalah satu hal yang sangat penting dalam

menjalankan kegiatan atau rencana yang dilaksanakan oleh sebuah instansi. Banyak tidaknya sumberdaya manusia dalam sebuah instansi akan sangat mendukung rencana yang akan dilaksanakan oleh instansi tersebut.adapun data rekapitulasi sebaran pegawai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung berdasarkan jabatan diperlihatkan pada Tabel 8. Tabel 8. Rekapitulasi Sebaran PNS/CPNS Berdasarkan Jabatan Pada Balai TN Babul
Tingkat Pendidikan S3 No Uraian K NK K NK K NK S2 Sarjana Sarmud SLTA SLTP SD Jumlah

PNS / CPNS Pegawai Funsional a. Polhut

12

1 12

2 2

2 -

1 -

8 1

14 -

27 1 15

b. Penyuluh 2 c. PEH

Pegawai harian a. 3 Honor 0 1 15 6 3 3 9 12 29 2 2 2 3 16 71

b. Upah/Magang Jumlah

Sumber : Data Statistik TN Babul, 2011

Dari Tabel 8 menunjukkan bahwa dari segi status kepegawaian, tingkat pendidikan dan golongan (ruang). Jumlah pegawai Taman Nasional Bantimurung

Bulusaraung sebanyak 64 orang. Untuk jabatan struktural 4 oang, non struktural 11 orang, dan 49 orang fungsional. Berdasarkan tingkat pendidikannya, data pegawai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung disajikan pada tabel 9. Tabel 9. Data Pegawai Berdasarkan Tingkat Pendidikan Pada TN Babul
Jabatan Struktural Unit No Kerja IIIA IVA Polhut Polhut Calon PEH PEH Penyuluh Kepegawaian Kantor 1 Balai Seksi 2 PTN Wil.I Seksi 3 PTN Wil.II Jumlah 1 3 28 2 14 2 1 1 1 11 64 1 15 1 3 1 21 1 8 1 1 1 12 1 1 5 10 1 1 1 1 10 33 Komputer Calon Calon Analisis Pranata Struktural Calon Calon Non Jumlah Fungsional

Sumber : Data Statistik TN Babul, 2011

Berdasarkan

golongan,

pegawai

Taman

Nasional

Bantimurung

Bulusaraung terdiri dari berbagai golongan. Adapun data rekapitulasi pegawai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung diperlihatkan pada Tabel 11 dibawah ini.

Tabel 10. Rekapitulasi Sebaran PNS/CPNS Berdasarkan Golongan Pada Balai TN Babul
Unit No Kerja Kantor 1 Balai SPTN 2 Wil.I SPTN 3 Wil.II Jumlah 0 0 0 1 0 2 9 7 20 3 7 4 11 0 0 0 0 64 1 2 5 2 3 2 5 20 1 2 2 1 1 3 10 1 2 7 3 13 3 2 3 34 E D C B A D C B A D C B A D C B A GOLONGAN IV GOLONGAN III GOLONGAN II GOLONGAN I Jum

Sumber : Data Statistik TN Babul, 2011

Tabel 10 menunjukkan bahwa berdasarkan tingkat golongannya, jumlah pegawai yang terdapat pada kantor Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung sebanyak 34 orang dengan tingkat golongan terbanyak yaitu golongan IIIA dengan jumlah 23 orang, pada kantor SPTN Wilayah I dengan jumlah pegawai 10 orang didominasi oleh golongan IIA dengan jumlah 3 orang, sedangkan kantor SPTN Wilayah II dengan jumlah pegawai 20 orang didominasi oleh golongan IIIB dan IIA sebanyak 4 orang. Dengan demikina rata-rata tingkat golongan pegawai pada Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung adalah golongan A. 7. Perundang undangan Perangkat lunak sebagai kebijakan dasar yang merupakan landasan hukum pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Balai Taman Nasional Bantimurung

Bulusaraung terdiri dari berbagai peraturan perundang-undangan yaitu :

1. Undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan ekosistemnya 2. Surat keputusan Menteri Kehutanan No. 441 tahun 1990 tentang Pengenaan iuran dan pungutan usaha di hutan wisata, taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata laut 3. Surat keputusan Menteri kehutanan Nomor 878 tahun 1992 tentang tariff pungutan ke hutan wisata, taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata laut 4. Undang-undang nomor 5 tahun 1994 tenatng konservasi sumberdaya hayati 5. Peraturan pemerintah nomor 18 tahun 1994 tentang pengusahaan pariwisata alam di zona pemenfaatan taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam 6. Syarat keputusan menteri kehutanan nomor 167 tahun 1996 tentang saran dan prasarana pengusahaan pariwisata alam di kawasan pelestarian alam 7. Keputusan menteri kehutanan nomor 446/KPTS-II/1996 tentang tata cara permohonan, pemberian dan pencabutan izin pengusaha pariwisata alam 8. Surat keputusan menteri kehutanan nomor 447 tahun 1996 tentang pembinaan dan pengawasan pengusahaan pariwisata alam 9. Peraturan pemerintah nomor 68 tahun 1998 tentang kawasan suaka alam dan kawasan pelstarian alam 10. Peraturan pemerintah nomor 7 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa

11. Undang-undang nomor 41 tahun 1999 tentang kehutanan 12. Peraturan pemerintah nomor 34 tahun 2002 tentang tata hutan dan penyusunan rencana pengelolaan hutan, pemanfaatan hutan dan

penggunaan kawsan hutan 13. Surat keputusan menteri kehutanan nomor SK 398/menhut-II/2008 tanggal 18 Oktober 2004 tentang penetapan taman nasional bantimurung bulusaraung 14. Undang-undang nomor 26 tahun 2007 tentang penataan ruang 15. Undang-undang nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup 16. Undang-undang nomor 10 tahun 2009 tentang kepariwisataan

8. Visi, Misi dan Prinsip Pengelolaan Visi Terwujudnya pengelolaan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang mantap, serasi dan seimbang dengan dukungan kelembagaan yang efektif Misi 1. Memantapkan status kawasan dan pengelolaan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya 2. Mengoptimalkan perlindungan hutan dan penegakan hokum 3. Mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya berdasarkan prinsip kelestarian 4. Mengembangkan kelembagaan dan kemitraan dalam rangka pengelolaan sumberdaya alam hayati dn ekosistemnya

Prinsip Prinsip utama : konservasi, partisipasi masyarakat dan ekonomi Prinsip penunjang : edukasi dan wisata