Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Superalloy atau biasa disebut high-performance alloy, adalah sebuah paduan dua logam atau lebih mempunyai sifat kekuatan mekanik yang sangat baik dan ketahanan mulur pada suhu tinggi, stabilitas permukaan yang baik, dan korosi serta ketahanan oksidasi. Superaloy biasanya memiliki matriks dengan struktur berpusat muka austenitik kristal kubik. Dasar elemen paduan pada superalloy umumnya adalah nikel, kobalt, nikel atau besi. Superalloy berbasis nikel banyak digunakan di dalam mesin pesawat terbang dan turbin gas pembangkit listrik sebagai material turbin blade karena memilki kemampuan untuk mempertahankan kekuatan struktur (creep, fatigue) dan kestabilan permukaan (oksidasi, korosi) pada suhu tinggi. Sifat - sifat mekanis pada superalloy dipengaruhi oleh struktur mikro. Untuk mengetahui struktur mikro yang terdapat pada superalloy perlu diadakan pengujian yaitu dengan uji metalografi.

1.2 Perumusan Masalah Dalam penulisan ini penulis melakukan perumusan permasalahan, yaitu mengenai bagaimana cara melakukan teknik metalografi pada logam superalloy.

. 1.3 Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan ini adalah untuk menambah wawasan mengenai teknik metalografi pada superalloy.

1.4 Manfaat Penulisan Beberapa manfaat dari penulisan ini, yaitu : 1. Menambah pengetahuan dan pengalaman belajar mengenai teknik

penulisan yang baik dan benar. 2. Mendapatkan ilmu di bidang mesin, khususnya pada hal-hal yang berkaitan dengan teknik metalografi. 3. Mengetahui secara lebih dalam sifat-sifat dan karakteristik superaloy.

1.5 Metode Pengumpulan data Dalam penyusunan karya tulis ini, penulis memperoleh data dan informasi dari internet yang berhubungan dengan judul karya tulis ini serta permasalahan yang ada.

1.6. Pembatasan Masalah Dalam penyusunan karya tulis ini, permasalahan yang akan dibahas hanya teknik metalografi yang dilakukan pada superalloy.

1.7. Sistematika Penulisan Pada penulisan karya tulis ini, terdiri dari 4 bab yaitu : 1. BAB I Pendahuluan Dalam bab ini berisi latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, dari sistematika penulisan. 2. BAB II Tinjauan Pustaka Pada bab ini dibahas mengenai pokok dari metalografi pada superalloy. 3. BAB III Analisa dan Pembahasan Bab ini membahas tentang permasalahan berupa tahapan-tahapan melakukan metalografi pada superalloy. 4. BAB IV Kesimpulan dan Saran Kesimpulan dan saran dari penulis tentang pembahasan dari karya tulis ini. dalam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Superalloy

Superalloy atau biasa disebut high-performance alloy, adalah sebuah paduan dua logam atau lebih mempunyai sifat kekuatan mekanik yang sangat baik dan ketahanan mulur pada suhu tinggi, stabilitas permukaan yang baik, dan korosi serta ketahanan oksidasi. Superaloy biasanya memiliki matriks dengan struktur berpusat muka austenitik kristal kubik. Dasar elemen paduan pada superalloy umumnya adalah nikel, kobalt, nikel atau besi.

Superalloy biasanya terdiri dari matriks austenitic yang kristal strukturnya adalah FCC kemudian ditambahkan dengan logam Nikel dan Cobalt atau paduan lain sepert Iron-nickel. Material superalloy saat ini lebih banyak diaplikasikan dibidang dirgantara dan industri pembangkit energi, salah satu contohnya adalah superalloy sbagai material yang digunakan untuk membuat Turbin Blade mesin pesawat jet. Jenis-jenis superalloy yang ada di pasaran bisa yang biasa kita temui adalah Hastelloy, Inconel, Waspaloy, Rene Alloys, Haynes alloys, Incoloym MP98T, TMS Alloys dan sebagainya.

Gambar 2.1. Skema sederhana tentang bagaimana mekanisme penguatan superalloy berbasis Nikel 8(a) interaksi dislokasi dengan fase , sebuah fase kristalin yang koheren (b) struktur yang terbentuk setelah proses penguatan dangan cara larutan padat dengan Molybdenum (c) Penguatan dengan Carbide di batas butir (d) Fasa halus untuk penguatan suhu rendah

Gambar 2.2. Kristal struktur dari fase (kiri) dan fase (kanan)

Gambar 2.3. Mikrostruktur dari single kristal superalloy berbasis nickel setelah proses heat treatment. Terlihat pada gambar di atas fase terendap (precipitate) pada matriks

Salah satu aplikasi dari superalloy adalah Turbin Blade. Turbin Blade yang dibuat dari superalloy berbasis Nikel Superalloy pada umumnya digunakan untuk pembuatan turbin gas yang dalam pemakaiannya selalu terkena suhu tinggi. Oleh karena itu dibutuhkan material yang tidak hanya mempunyai kekuatan tinggi namun juga ketahanan creep yang mumpuni maupun ketahanan korosi dan oksidasi. Aplikasi lainnya dari penggunaan material superalloy ini yaitu sebagai material bodi pesawat luar angkasa, kapal selam, reaktor nuklir, mobil berdaya besar, dan heat exchanger.

Gambar 2.4. Turbine Blade

2.2. Sifat Mekanis dan Kekuatan Superalloy Kekuatan mekanik dari superalloy bahkan pada suhu tinggi disebabkan dengan adanya mekanisme penguatan material dengan cara penguatan larutan padat atau solid solution strengthening. 2.1.1 Ketahanan Deformasi pada Suhu Tinggi (Creep) Kekuatan creep ditentukan oleh dislokasi yang bergerak aktif pada suhu tinggi. Untuk superalloy berbasis nikel, terbentuk fasa gamma Ni3(Al,Ti) tidak hanya berfungsi sebagai penguat namun juga penahan laju dislokasi. Penambahan aluminium dan titanium ini yang menyebabkan terbentuknya fase gamma tersebut. Supaya optimal, dalam artian bahwa ukuran dan penyebaran dari fasa gamma ini harus dikontrol yaitu dengan metode heat treatment.

Gambar 2.5.Kurva creep dan relevan mikrostruktur dari superalloy single crystal berbasis nickel

Gambar 2.6. Superalloy berbasis nikel, TMS82 pada saat tahap awal proses primary creep. Pita-pita hitam halus gambar di atas adalah pergerakan dislokasi yang melewati endapan/fasa kedua (precipitate) dan matriks.

Gambar 2.7. Mikrostruktur dari superalloy berbasis nickel setelah 1000 jam pada suhu 1000 C. Terlihat dalam gambar, terjadi lapisan tipis oksida di permukaan, penambahan massa oksida superalloy sangatlah rendah/kecil.

Gambar 2.8. Penambahan Aluminide dan titanium sebagai bahan pelapis pada superalloy berbasis nikel

BAB III ANALISA DAN PEMBAHASAN

3.1. Tahap Uji Metalografi pada Superalloy Ada beberapa tahapan dalam melakukan uji metalografi pada superalloy. Tahapan-tahapannya yaitu : 1. Persiapan sampel 2. Pemotongan sampel 3. Mounting Spesimen 4. Curing 5. Gerinding dan Polishing 6. Etsa 7. Menganalisa Spesimen 3.1.1. Persiapan Sampel Untuk membuat persiapan lebih mudah dilakukan, pertama kita sketsa posisi di mana sampel akan dipotong. Sebagai contoh, kita ingin memotong baling-baling diatas. Dalam hal ini, kita memilih posisi di Leading Edge (baling-baling bagian depan), bagian Tengah, dan juga Trailing Edge (akhir baling-baling bagian).

Gambar 3.1. Lokasi Pemotongan Sampel

3.1.2. Pemotongan Sampel

Gambar 3.2. Sampel yang Telah Dipotong

Dari gambar di atas, kita melihat baling-baling (vane) dan Blade yang telah dipotong. Metode pemotongan biasanya menggunakan gergaji intan, atau menggunakan kawat potong karena blade dan baling-baling memiliki

kekerasan yang tinggi sehingga sangat sulit untuk dipotong.

3.1.3. Mounting pada Spesimen Spesimen yang telah dipotong kemudian akan dibingkai (mounting) dengan menggunakan resin (dengan penambahan hardener untuk curing). Mounting bertujuan agar memudahkan pengoperasian proses selanjutnya (mudah untuk dipegang).
10

Gambar 3.3. Resin dan Hardener untuk Bahan Mounting

3.1.4. Curing

Sampel yang telah dimounting didiamkan setelah sekitar setengah sampai satu jam setelah proses mounting. Sampel ini kemudian akan terus dilakukan proses grinding dan polishing

3.1.5. Grinding and Polishing

Spesimen kemudian digerinda menggunakan kertas silika karbida, dimulai dengan grit 100 sampai 1500 (atau tergantung pada kebutuhan). Setelah permukaan spesimen menjadi halus, spesimen kemudian dipoles menggunakan bubur dari Al2O3 (atau alternatif). Permukaan akan terlihat seperti cermin. Kemudian segera dietsa untuk tidak dibiarkan terbentuknya oksida di permukaan.

11

Gambar 3.4. Cairan Alumina(Al2O3 ) untuk Proses Polishing

3.1.6. Etching

Etsa yang digunakan untuk setiap paduan berbeda (lihat tabel). Prinsip etsa adalah untuk "memakan" beberapa batas butir dan matriks pada spesimen. Misalnya, untuk etsa paduan Aluminium etsa berbeda dengan untuk etch Stainless Steel. Untuk contoh nikel dan nickel-base and cobalt-base alloys, dengan ketahanan korosi unggul, yang dietsa menggunakan Waterless Kallings, Glyceregia, Acetic Glyceregia dan Ralphs. Jika etsa biasanya digunakan untuk sangat tahan suhu paduan stainless dan tinggi tidak bekerja, HCL + H2O2 dapat digunakan. Paduan ini biasanya harus dietsa secara perlahan. Tantangan dengan paduan ini adalah untuk menutup kecenderungan alami mereka untuk menyesuaikan diri cepat dengan adanya oksigen. Untuk secara efektif dalam memproses nilai, etsa harus dilakukan segera setelah pemolesan akhir. Pembilasan, pengeringan dan etsa harus dilakukan tanpa penundaan. Ketika etsa paduan ini sangat tahan, ETSA harus disiapkan sebelum proses polishing. Perencanaan ini sebelumnya akan meminimalkan panjang
12

waktu antara polishing dan etching, sehingga memungkinkan evaluasi struktur mikro lebih efektif. Sampel harus dipoles dan dietsa secara individual daripada diproses dalam tumpukan. Table 1 List of Etchants Etchant No. 1 3 4 6 7 Etchant Name Nital (2%) Picral (5%) Oxalic acid Nital (5%) HCl in alcohol Ferric Chloride Marble's Reagent Viella's Composition 2cc HNO3 + 98cc Ethyl alcohol 5gr Picric acid + 100cc Ethyl alcohol 10gr oxalic acid + 10cc H2O 5cc HNO3 + 95cc Ethyl alcohol 15cc HCl + 100cc Ethyl alcohol 5g Ferric Chloride + 50cc HCl +100cc H2O 4g CuSO4 + 20cc HCl + 20cc H2O 5cc HCl + 2gr Picric acid + 100cc Ethyl alcohol 100cc HCl + 3cc HNO3 + 100cc Methyl alcohol 10gr CRO3 + H2O 2cc H2SO4 + 98cc H2O 12cc H3PO4 + 41cc HNO3 + 47cc H2SO4 Remarks Immersion Immersion Electrolytic at 200/400 Ma. Immersion Do Not Store Immersion Use Fresh Swab - Use Under Hood Do Not Store Immersion or Swab Immersion or Swab ASTM E 407 Designation 74 Nital 76 Picral

74 Nital

25 Marble's 80 Vilella's (ASTM contains 1gr Picric) 12 Aqua Regia

10

11 12

Aqua Regia in alcohol Chromic acid 2% H2SO4

Immersion Electrolytic at 200/400 Ma. Use Electrolytic Under Hood 200/400 Ma. Use Electrolytic Under Hood 200/400 Ma.

13

15

13

18

Acetic Glyceregia (Mixed Acids) Waterless Kalling's

19

15cc HCl + 10cc HNO3 + 10cc Acetic Acid + 2/3 Drops Glycerine 5gr CuCl2 + 100cc HCl + 100cc Ethyl alcohol

Use Fresh Under Hood Swab - Do Not Store Immersion or Swab Swab Handle with care - HF cause serious burns - Use in plastic container HF attacks glass Use Under Hood Electrolytic 5 to 7 amps Use Fresh Under Hood Swab - Do Not Store 95 Kalling's 2

22

HF + HNO3

1 to 3cc HF + 2 to 6cc HNO3 + 100cc H20

23

HNO3 + H2O

75cc HNO3 + 25cc H20 15cc HCl +10cc Glycerol + 5cc HNO3 100cc H2O + 200cc methyl alcohol + 100cc HCl + 2gr CuCl2 + 7gr FeCl2 + 5cc HNO3 10% Sodium meta-Bisulfate in distilled water 20ml HCl + 4ml H2O2 (3%)

26

Glyceregia

87 Glyceregia

28

Ralph's

Swab

29 30

Special #4 Special #5

Immersion Swab

Note: Please see ASTM for proper handling of all chemicals.

14

Table 2 List of Alloys

Type 403, 405, 410, 420, TrimRite, Trinamet stainless

Etchant

Applications General Structure grain size, carbides, martensite and ferrite General structure grain boundaries, carbides and martensite General Structure grain size, carbides, martensite and ferrite Excellent sulfide retention General Structure grain boundaries, grain size, carbide precipitation General Structure grain boundaries, grain size, carbide precipitation General Structure grain boundaries, grain size. Excellent sulfide retention. Similar to #11 but sulfides attacked General Structure General Structure grain boundaries and grain size

Special Notes

10, 28, 19

440A, 440B, 440C

10, 26

10, 19 416 28 304, 304L, 309, 310, 316, 347 10, 26, 4, 12, 28

20Cb-3 stainless

10, 26, 4

28 303 26, 10 430F, 430FR 430 Chrome Core 18FM, Chrome Core 12FM, Chrome Core 13FM, Chrome Core 13XP 10, 19, 18 6, 26, 10

19, 26

General Structure

15

Custom 450, Custom 455, Custom 465, Custom 475, Custom 630, 15Cr5Ni, Carpenter 13-8 21Cr-6Ni-9Mn, 22Cr13Ni-5Mn

28

General Structure martensite and austenite General Structure grain boundaries, grain size, carbide precipitation General Structure, including size and grain boundaries Gamma prime precipitates banding and depletion General structure including grain size and grain boundary precipitate. General structure including grain size and grain boundary precipitate. Gamma prime precipitates banding and depletion General Structure, including size and grain boundaries Gamma prime precipitates banding and depletion Generally 19 is more effective for aged material and 15 for solution treated material for general structure and grain size.

28, 19, 26

Pyromet A-286, Pyromet V-57

19, 26, 9

13 NCF 3015(1), Nickel 200/201, ThermoSpan, Pyromet 720, Carpenter Alloy 925

19, 26

19. 26 Pyromet 706, 718, and 901 13

19, 26, 15 Pyromet 860 13

Waspaloy

19, 26, 15

General Structure, including size and grain boundaries

16

13

Gamma prime precipitates banding and depletion General Structure General Structure General Structure General Structure Fresh sample needed. Should prepare one sample at a time. Use of Differential Interference Contrast (DIC) would help. Fresh sample needed. Should prepare one sample at a time. Use of Differential Interference Contrast (DIC) would help. Use 18 in the annealed condition

Pyromet 680 Pyrowear 675 Ti Base Alloys MP35N(2), Alloy 2 (AMS 5842)(3), MP35N LTi

19, 26, 18 10 22, 23 30

BioDur Carpenter CCM, BioDur CCM Plus alloy

30

General Structure

Pyromet 625, Custom Age 625 PLUS

26, 18, 19

General Structure

BioDur 108 Nickel Copper 400 Nimark 200/250/300, Carpenter Ferrium S53(4) AerMet 310/340 AerMet 100 18Ni - 200 Maraging Steel, 18Ni - 250 Maraging Steel, 18Ni 300 Maraging Steel Cr-Fe, Glass Sealing 18, Glass Sealing 27, 430F, 446 Kovar alloy Core Irons Fe and Si Core Irons

26 28 28 19, 29 19, 29 12

General Structure General Structure General Structure General Structure General Structure Prior austenitic grain boundaries General Structure, grain size General Structure General Structure General Structure
17

11, 26, 28, 7, 8 28, 26, 19 6, 11, 7 11, 7

Ni-Cr-Fe - 22-3, 45-5, 42-6 Co-Fe Hy-Sat Alloy 27, Co-Fe-V Remendur, Hiperco 50 Fe-Cr-Al, No. 1 JR alloy Types 1 and 2 W1, O2, L6, D3, A2, A6, D2, T1, M2, M4, M42, H11, H12, H13, H21, M50 52100

28, 26, 19

General Structure

26, 28, 19

General Structure

7, 11, 28, 26, 19 1, 6, 3, 11 10 1

General Structure General Structure Prior austenitic grain boundaries General Structure

CATATAN: etsa tercantum dalam urutan preferensi. Semua etsa harus digunakan pada permukaan yang baru dipoles. Agar meningkatkan kekuatan, etsanya adalah: Nital, Villelas, Ralph, Glyceregia, Acetic Glyceregia, Waterless yang Kalling, dan Asam klorida + Hidrogen Fero.

3.1.6. Analisa Spesimen

Gambar 3.4. Spesimen yang Dianalisa Oleh Mikroskop Elektron

18

Gambar 3.5. Sampel yang dilihat dengan mikroskop

Dari gambar, kita dapat melihat korosi pada lapisan luar logam. Dan korosi juga sudah melewati batas butir dan juga akan akan lulus butir lain. Tingkat korosi dapat diukur dengan mengukur kedalaman skala korosi dan skala interdifusi mendalam. Dalam hal ini, kita dapat mengidentifikasi bagaimana melindungi logam ini, jadi hal ini tidak terjadi lagi.

3.2 Proses Pembuatan Peniti

19

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan Dari pembahasan sebelumnya yang telah diterangkan pada BAB III, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Tahapan-tahapan dalam uji metalografi superalloy yaitu : 1. Persiapan sampel 2. Pemotongan sampel 3. Mounting Spesimen 4. Curing 5. Gerinding dan Polishing 6. Etsa 7. Menganalisa Spesimen

2. Untuk contoh nikel dan nickel-base and cobalt-base alloys, dengan ketahanan korosi unggul, yang dietsa menggunakan Waterless Kallings, Glyceregia, Acetic Glyceregia dan Ralphs. Jika etsa biasanya digunakan untuk sangat tahan suhu paduan stainless dan tinggi tidak bekerja, HCL + H2O2 dapat digunakan

20

DAFTAR PUSTAKA

www.georgevandervoort.com diakses pada tanggal 22 februari 2012 http://knol.google.com/k/metallography-metalografi diakses pada tanggal 25 februari 2012 http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2132740&page=23 diakses pada tanggal 25 februari 2012 http://en.wikipedia.org/wiki/Superalloy diakses pada tanggal 25 februari 2012

21

TEKNIK METALOGRAFI PADA SUPERALLOY

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Metalografi dan Difraksi Jurusan Teknik Mesin Universitas Sriwijaya

Oleh :

Andrianto ( 03081005096 )

JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SRIWIJAYA INDRALAYA 2012

22

23