Anda di halaman 1dari 28

Kata Pengantar

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan YME, karena dengan limpahan nikmat serta karuniaNya kita dapat melaksanakan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari, sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa umat islam dari jaman kebodohan menuju jaman islami yang mampu menciptakan teknologiteknologi canggih sesuai ajaran islam. Laporan Praktik Permesinan ini, disusun sebagai bukti bahwa saya telah memenuhi tugas mata pelajaran dari guru pembimbing. Dan sebagai tanda bahwa saya telah

mengerjakan JOB yang diberikan oleh guru pembimbing.Serta merupakan tugas akhir semester genap. Laporan Praktik Pemesinan ini, tidak akan selesai jika tanpa bantuan dari pihakpihak lain, oleh karena itu saya mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada: Semua pihak yang terkait dalam penyusunan Laporan praktek ini. Laporan ini dibuat oleh seseorang manusia yang tidak luput dari sebuah kesalahan, dan sedikit banyak nya dari saya sebagai penyusun utama meminta kritik dan saran yang membangun untuk penyempurnaan Laporan Praktik Pemesinan ini terimakasih.

jakarta, 7 juli 2012 Penyusun

Nanang Wahdiat

DAFTAR ISI Kata Pengantar ................................................................................... Daftar Isi.............................................................................................. Bab I .................................................................................................... Pendahuluan ................................................................................. A.Latar Belakang ...................................................................... B.Tujuan Praktek ...................................................................... C.Tujuan Laporan ..................................................................... Bab II LANDASAN TEORI. .... A.Plat baja............ B.Metalorgi gas. C.Kampuh las D.Macam-macam hasil pengelasan E.Jenis sambungan las. F.Teknik pengelasan.. BabIII .. Penutup ......................................................................................... A.Kesimpulan ........................................................................... DAFTAR PUSTAKA. 4 4 13 15 17 18 21 23 23 23 24 1 2 3 3 3 3 3

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Laporan ini ditulis sebagai bahan informasi bagi adik-adik kelas berikutnya agar dapat lebih mudah memahami pelajaran yang diberikan oleh dosen pengampu. Selain itu laporan ini juga dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam melakukan praktek-praktek berikutnya dan langkah-langkah kerja dalam melakukan praktek untuk membuat benda kerja yang sama. Tujuan Praktek Tujuan dari dilakukannya praktek selama ini adalah : Agar mahasiswa mengetahui bagaimana cara pengoperasian mesin,proses kerja mesin,dan benda-benda apa saja yang bisa dikerjakan dan dihasilkan oleh mesin tersebut. Selain itu agar mahasiswa setelah lulus dari universitas pancasila, peserta didik mempunyai ketrampilan serta dapat bersaing di dunia industri dengan bakat ketrampilan yang diperolehnya sewaktu di universitas pancasila.

Tujuan Laporan Tujuan dari ditulisnya laporan ini adalah sebagai bahan referensi dalam melakukan kegiatn praktek dengan menggunakan las listrik. Selain itu juga sebagai media informasi untuk mengetahui lebih dalam tentang las listrik

BAB II LANDASAN TEORI

2.1. Pelat Baja St 37 Pelat baja merupakan lembaran baja dengan ketebalan yang relatif kecil dibandingkan ukuran panjang dan lebar lembarnya. Lembaran baja setelah dirol mumpunyai sifat-sifat yang mudah dilas dan dibentuk. Dalam konstuksi baja, plat baja banyak digunakan untuk konstruksi jembatan. Pelat baja St 37 merupakan bahan bangunan yang sangat kuat dan liat dengan struktur butir yang halus, dan dapat dilakukan pengerjaan dalam keadaan panas maupun pengerjaan dingin. Arti dari St itu sendiri adalah singkatan dari Steel (baja) sedangkan angka 37 berarti menunjukkan batas minimum untuk kekuatan tarik 37 km/mm2.

2.2. Pengelasan Pengelasan adalah proses penyambungan antara dua bagian logam atau lebih dengan menggunakan energi panas. Menurut Deustche Industry Normen (DIN), pengelasan adalah ikatan metalurgi pada sambungan logam paduan yang terjadi dealam keadaan lumer atau cair,

dengan kata lain pengelasan adalah penyambungan setempat dari dua logam dengan mengguanakan energi panas. Pengelasan merupakan salah satu bagian yang tak terpisahkan dari proses manufaktur. Pengelasan adalah salah satu teknik penyambungan logam dengan cara mencairkan sebagian logam induk dan logam pengisi dengan atau tanpa tekanan dan dengan atau tanpa logam tambahan dan menghasilkan sambungan yang kontinu.

2.2.1. Las Listrik Las listrik yaitu penyambungan dua buah logam atau lebih menjadi satu dengan jalan pelelehan atau pencairan dengan busur nyala listrik. Jadi las listrik atau las busur listrik merupakan proses penyambungan logam dengan memanfaatkan tenaga listrik sebagai sumber panasnya. Pengelasan dengan mengguanakan tenaga listrik sebagai sumber panas dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu las tahanan listrik dan las busur nyala listrik. Las tahanan listrik adalah proses pengelasan yang dilakukan dengan jalan mengalirkan arus listrik melalui bidang atau permukaan-permukaan benda yang akan disambung. Tahanan yang ditimbulkan oleh arus listrik pada bidang-bidang sentuhan yang menimbulkan panas dan berguana untuk mencairkan permukaan yang akan disambung. Pengelasan jenis ini sering digunakan pada industri-industri yang besar, karena kapasitas pengelasannya besar dan membutuhkan peralatan yang mahal maka cocok untuk produksi massa.

Las busur nyala listrik adalah proses pengelasan yang dilakukan dengan jalan mengubah arus listrik menjadi panas untuk melelehkan atau mencairkan permukaan benda yang akan disambung dengan membangkitkan busur nyala listrik melalui sebuah elektroda. Terjadinya aliran arus listrik dari elektroda ke benda kerja terjadi karena benda kerja disambung dengan salah satu kutub listrik dari sumber listrik yang digunakan untuk proses pengelasan. Pengelasan jenis ini cukup sederhana dan tidak memerlukan peralatan yang mahal dan fleksibel dan sering dipakai dibengkel-bengkel besar dan kecil.

Gambar 2.1 Contoh mesin las arus AC.

Jenis Elektroda Bagian terpenting dalam las busur listrik adalah elektroda las. Jenis elektroda yang dipergunakan kan menentukan hasil pengelasn sehingga sangat penting untuk mengetahui sifat dan jenis dari masing-masing elektroda sebagai dasar pemilihan elektroda yang tepat. Macam-

macam jenis elektroda sangat banyak. Berdasarkan selaput pelindungnya elektroda dibedakan menjadi dua macam yaitu elektroda polos dan elektroda terbungkus. Elektroda terbungkus terdiri dari bagian inti dan zat pelindung atau fluks. Selaput yang ada pada elektroda jika terbakar kan menghasilkan CO2 yang berfungsi untuk melindungi cairan las, busur listrik dan sebagian benda kerja dari udara luar. Tipe elektroda yang digunakan dalam penelitian ini adalah RD 260 (D 4313). Untuk kode yang diberikan pada tipe elektroda tersebut diatas yaitu huruf D yang diikuti oleh empat angka dibelakangnya. Untuk arti masing-masing kode elektroda adalah : a) Untuk huruf D b) Untuk angka 43 : Menyatakan elektroda untuk las busur listrik : Menyatakan nilai tegangan tarik minimum hasil pengelasan yaitu 43 kg/mm2. c) Untuk angka 1 : menyatakan posisi pengelasan, angka 1 dapat digunakan untuk pengelasan semua posisi. d) Untuk angaka 3 : Menyatakan elektroda dengan penembusan dangkal dan bahan dari selaput titania.

Jenis Fluks

Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan fluks tersebut adalah dari oksidasioksidasi logam, karbonat, silikat, florida, zat organik, baja paduan dan serbuk besi. Adapun jenis bahan fluks yang digunakan adalah sebagai berikut : 1. Jenis Oksida Titan. Jenis ini juga disebut rutil atau titania dan berisi banyak Ti O 2 didalamnya. Busurnya dihasilkan oleh elektroda yang terbungkus denga fluks. Jenis ini tidak terlalu kuat, penetrasi atau penembusan cairan logamnya dangkal dan menghasilkan manik yang halus. Karena itu jenis ini tepat untuk pengelasan pelat-pelat tipis atau untuk pengelasan terakhir pada pengelasan pelat tebal.

2. Jenis Titania Kapur. Jenis ini mengandung rutil dan kapur. Disamping punya sifat seperti jenis oksida titan, akan tetapi jenis ini menghasilkan manik yang halus walaupun penetrasinya dangkal. Hasil pengelasannya mempunyai sifat mekanis yang baik. Pengelasan ini dapat dilakukan pada semua posisi, terutama tegak dan posisi diatas kepala. 3. Jenis Ilmenit. Jenis ini terletak diantara jenis elektroda diatasnya, bahan fluks utamanya adalah Ilmenit (Fe Ti O2). Busur-busur yang dihasilkan sangat kuat sehingga penetrasinya dalam. Derajat dari terak cukup tinggi sehingga dapat menghasilkan sambungan dengan sifat mekanis yang tinggi. Karena sifat-sifatnya yang mencakup penggunaan yang luas, maka elektroda ini dianggap sebagai elektroda serba guna.

4. Jenis Hidrogen Rendah. Nama lain dari jenis ini adlah jenis kapur, Karena bahan utamanya adalah kapur dan fluorat. Jenis ini menghasilkan sambungan dengan kadar nitrogen rendah sehingga ketangguhannya baik. Digunkan untuk konstruksi yang memerluakan tingkat pengamanan tinggi, seperti untuk konstruksi pelat-pelat tebal dan bejana tekan. 5. Jenis selolusa. Bahan ini berisi 30 % bahan organik yang dapat menghasilkan gas dengan volume yang besar. Busurnya kuat dan penetrasinya dalam, terak yang terbentuk hanya sedikit akan tetapi manik yang dihasilkan kurang halus. 6. Jenis Oksidasi Besi. Bahan utama adalah oksidasi besi. Busur yang dihasilkan terpusatkan dan penetrasinya dalam, karena itu baik untuk pengelasan sudut horizontal. 7. jenis Serbuk Oksidasi. Bahan utamanya meliputi 15 - 50 % silicon dan serbuk besi. Pemindahan butir-butir cairan berupa semburan halus dan tidak banyak percikan, kecepatan pengisian sangat tinggi, banyak digunakan untuk pengelasan sudut horizontal dan pengelasan gaya berat. 8. Jenis Serbuk Besi Titania. Bahan jenis ini adalah serbuk besi dan titania. Busur yang sedang menghasilkan manik yang halus. Efisiensi pengelasan tinggi dan sangat baik untuk pengelasan sudut horizontal satu lapis.

9. Jenis-jenis Fluks lainnya. Misalnya : Jenis lempung silikat, talek dll.

Pada pengelasan ini Fluks yang digunakan adalah jenis Oksida Titan. Jenis ini juga disebut rutil atau titania dan berisi banyak Ti O2 didalamnya. Busurnya dihasilkan oleh elektroda yang terbungkus denga fluks. Jenis ini tidak terlalu kuat, penetrasi atau penembusan cairan logamnya dangkal dan menghasilkan manik yang halus. Karena itu jenis ini tepat untuk pengelasan pelat-pelat tipis atau untuk pengelasan terakhir pada pengelasan pelat tebal. Prinsip Kerja Las Busur Listrik Pengelasan dengan las busur ini merupakan pelelehan dengan nyala bususr listrik, yang diperoleh dengan cara mendekatkan olektroda las kebenda kerja pada jarak beberapa millimeter, sehingga terjadi aliran arus listrik dari elektroda kebenda kerja karena adanya perbedaan tegangan antara elektroda danbenda kerja. Jarak antara elektroda dan bebda kerja disebut dengan panjang busur nyata. Suhu busur ini bisa mencapai 5000 OC, sehingga mampu melelehkan elektroda dan benda kerja untuk membentuk paduan.

Las Asetilin. Asetilin diperoleh lewat reaksi kimia dalam benrtuk gas. Karena berbentuk gas, maka asetilin memerlukan perlakuan khusus, terutama dalam penyimpanan dan penggunaannya. Agar lebih fleksibel dalam penggunaannya gas asetilin disimpan dalam tabung, yang dapat dipindah-pindah dan mudah penggunaannya. Asetilin tidak berwana dan tidak berbau, kalau asetilin yang sering kita jumpai hal ini disebabkan karena terdapatnya kotoran belerang dan

fosfor. Asetilin merupakan gas mudah terbakar atau meledak akibat kenaikan tekanan dan temperature. Terbakarnya atau meledaknya asetilin juga sangat mungkin disebabkan oleh yang lain misalnya kotoran katalisator, kelembaban, sumber-sumber penyalaan, kualitas tabung tempat penyimpanan yang tidak baik seperti poengelasan sambungan tabung yang tidak baik atau bahan yang tidak kuat menahan tekanan kerja. Karena lasan-alasan tersebut maka tekanan kerja pembangkit gas asetilin hanya diijinkan sampai pada tekanan 1,5 kg/cm2. penyimpanan gas asetilin kedalam tabung-tabung baja dilakukan dengan tekanan kerja lebih dari 2 kg/cm2. temperature kritis untuk gas asetilin yaitu sebesar 39,5 OC. Tabel 2.3. Pengelasan logam, dengan Las Asetilin

Logam induk Baja karbon Netral

Jenis nyala api

Fluks Tidak perlu

Logam pengisi Baja karbon rendah Besi cor abu-abu Perunggu Perunggu Nikel Monel Tembaga Perungu

Besi cor abu-abu

Netral Oksidasi lemah

Perlu Perlu Perlu Tidak perlu Tidak perlu Tidak perlu Perlu

Besi cor maliable Nikel Paduan Ni-Cu Tembaga Perungu

Oksidasi lemah Karburasi Netral atau Karburasi lemah Netral Netral atau karburasi lemah

Kuningan

Oksidasi

Perlu

Kuningan

Kawat las Jenis kawat las yang biasa diguanakan pada pengelasan asetilin adalah kawat las tanpa pelindung oksidasi (Bare Welding Rod) Table 2.4. kawat las tanpa pelindung Oksidasi jenis logam baja

Tipe RG 65 RG 60 RG 45

Kuat tarik Minimum (ksi) 67 60 45

Pemuluran 16 20 -

Penggunaan kawat las GR 65, RG 60, RG 45 memerlukan nyala api jenis netral atau nyala dengan nyala asetilin sedikit dibanding gas oksigen (nyala oksidasi). Karena tidak adanya perlindungan oksidasi (fluks), maka seringkali pengelasan disertai dengan pemakaian borak atau fluks lepas untuk mencegah terjadinya oksidasi berlebihan pada bahan las.

Prinsip Kerja Pengelasan dengan las asetilin merupakan pelelehan dengan nyala api yang diperoleh dengan cara penyampuran antara gas asetilin dengan oksigen dan api sebagai media panas.

Penyampuran gas dilakukan didalam brander pengelasan, dengan cara pengaturan nyala api pada katup-katup dibrander. Komposisi penyempurnaan dapat di sesuaikan dengan nyala api yang dihasilkan.

2.2.3. Pengelasan Pelat Baja Karbon Rendah baja karbon rendah yang juga disebut baja lunak, baja lunak ini adalah baja mudah dilas, dapat dilas dengan semua cara pengelasan yang ada di dalam praktek dan hasilnya akan baik bila persiapannya sempurna dan persyaratannya dipenuhi. Baja karbon rendah memiliki sifat kepekaan retak las atau weldability yang baik dibandingkan dengan baja karbon sedang dan baja karbon tinggi.tetapi retak las pada baja ini dapat terjadi dengan mudah pada pengelasan pelat tebal atau bila didalam baja tersebut terdapat belerang bebas yang cukup tinggi. Retak las yang mungkin terjadi pada pengelasan pelat tebal dapat dihindari dengan pemanasan mula atau dengan menggunakan elektroda hydrogen rendah.

Baja Karbon Rendah

Proses Pengelasan

I
Pelat, tebal < 4 mm

Baja Karbon Rendah Pemanasan Mula

II
Pelat, tebal > 4 mm Proses Pengelasan Pemanasan Pasca Las

Gambar 2.2. Bagan pengelasan Baja Karbon Rendah Untuk Ketebalan Berbeda

2.2.4. Sifat Mampu Las dari Baja Kabon Rendah Faktor-faktor yang sangat mempengaruhi mampu las dari baja karbon renda adalah kekuatan tarik dan kepekaan terhadap retak las. Kekuatan tarik pada baja karbon rendah dapat dipertinggi dengan menurunkan kadar karbon (C) dan menaikkan kadar mangan (Mn). Suhu transisi dari kekuatan tarik menjadi turun dengan naiknya harga perbandingan Mn/C. Baja karbon rendah kepekaan retak las yang rendah bila dibandingkan dengan baja karbon lainya atau baja karbon paduan. Tetapi las pada baja ini dapat terjadi dengan mudah pada pengelasan pelat tebal atau didalam baja tersebut terdapat belerang bebas yang cukup tinggi.

2.3. Metalurgi Las Seperti telah diuraikan diatas pengelasan adalah proses penyambungan antara dua bagian logam atau lebih dengan menggunakan energi panas. Karena proses ini maka logam disekitar pengelasan mengalami pemanasan dan pendinginan cepat yang menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan metalurgi, deformasi, dan tegangan-tegangan termal. Hal ini sangat erat hubungannya ketangguahan cacat las retak dan lain sebagainya yang pada umumnya mempunyai pengaruh yang fatal terhadap keamanan dari konstruksi yang akan dilas.

2.3.1. Sifat Fisik dan Mekanis Mengadakan penelitian sifat-sifat fisik suatu logam sangat penting untuk mempelajari struktur mikro logam. Sifat-sifat fisik suatu logam meliputi kerapatan (densitas), sifat-sifat termal, konduktivitas listrik, dan sifat magnetik. Penguji mekanik yang biasa dilakukan seperti uji trik, kekerasan, impact (benturan), creep (pemuluran) dan fatigue (kelelehan) bertujuan untuk memeriksa kualitas produk yang dihasilkan berdasarkan suatu standar spesifikasi. Sifat-sifat mekanik meliputi kekuatan tarik, kekerasan, keuletan, ketangguahan dan kelelehan.

2.3.2. Struktur Mikro Pada umumnya struktur mikro dari baja tergantung dar kecepatan pendinginannya dari suhu daerah austenit samapai ke suhu kamar. Karena perubahan struktur ini maka dengan sendirinya sifat-sifat mekanik yang dimiliki juga berubah. Hubungan antara kecepatan pendinginan dan satruktur mikro yang terbentuk biasanya digambarkan dalam diagram yang menghubungkan waktu, suhu transformasi yang bahasa inggrisnya adalah Continuous Cooling Transformation dan disingkat CCT.

Gambar 2.3. Diagram Pendinginan Kontinu atau Diagram CCT 2.4. Kampuh Las Pada sub ini akan dibahas mengenai klasifikasi sambungan las dan bentuk alur kampuh las yang dibatasi pada kampuh V. Kampuh las merupakan bagian dari logam induk yang nantinya akan diisi oleh logam las, kampuh las awalnya adalah berupa kubungan las yang kemudian diisi dengan logam las. Sambungan las dengan menggunakan alur kampuh dikategorikan kedalam sambungan las tumpul. Sambungan las tumpul adalah jenissambungan paling efisien. Sambungan ini dibagi menjadi dua yaitu sambungan penetrasi penuh dan sambungan penetrasi sebagian. Seperti pada gambar 2.6.

Jenis lasan Lasan Penetrasi penuh tanpa pelat penahan

Lasan dengan alur Lasan Penetrasi penuh dengan pelat penahan

Lasan Penetrasi sebagian

Jenis Alur Persegi (I)

V tunggal (V)

Tirus tunggal (V)

U tunggal (U)

V ganda (X)

Tirus ganda (K)

U ganda

(H) (DU)

J tunggal (J)

J ganda (D)

Gambar 2.6. Alur Sambungan las tumpul Pada dasarnya dalam memilih bentuk kampuh harus menuju kepada penurunan masukan panas dan penurunan logam las sampai kepada harga terendah dan tidak menurunkan mutu sambungan. Untuk kampuh-kampuh las pada saat pembakarannya dapat mengisi pada seluruh tebalnya pelat. Sebelum pengelasan dilaksanakan kampuh las harus melalui proses pengerjaan awal. Karat, minyak, cat harus dihilangkan. Untuk memperoleh pembakaran yang baik, pada kampuh V dipakai elektroda dengan diameter yang kecil atau disesuaikan dengan besar sudut kampuh dan tebal pelat yang akan dilas.

2.5 Macam-macam hasil pengelasan

2.6 Jenis-jenis Sambungan Las Jenis sambungan tergantung pada faktor-faktor seperti ukuran dan profil batang yang bertemu di sambungan, jenis pembebanan, besarnya luas sambungan yang tersedia untuk pengelasan,

dan biaya relatif dari berbagai jenis las. Sambungan las terdiri dari lima jenis dasar dengan berbagai macam variasi dan kombinasi yang banyak jumlahnya. Kelima jenis dasar ini adalah sambungan sebidang (butt), lewatan (lap), tegak (T), sudut, dan sisi, seperti yang diperlihatkan pada Gambar 6.16.

1) Sambungan Sebidang Sambungan sebidang dipakai terutama untuk menyambung ujung-ujung plat datar dengan ketebalan yang sama atau hampir sarna. Keuntungan utama jenis sambungan ini ialah menghilangkan eksentrisitas yang timbul pada sambungan lewatan tunggal seperti dalam Gambar 6.16(b). Bila digunakan bersama dengan las tumpul penetrasi sempurna (full penetration groove weld), sambungan sebidang menghasilkan ukuran sambungan minimum dan biasanya lebih estetis dari pada sambungan bersusun. Kerugian utamanya ialah ujung yang akan disambung biasanya harus disiapkan secara khusus (diratakan atau dimiringkan) dan dipertemukan secara hati-hati sebelum dilas. Hanya sedikit penyesuaian dapat dilakukan, dan potongan yang akan disambung harus diperinci dan dibuat secara teliti. Akibatnya, kebanyakan sambungan sebidang dibuat di bengkel yang dapat mengontrol proses pengelasan dengan akurat. 2) Sambungan Lewatan Sambungan lewatan pada Gambar 6.17 merupakan jenis yang paling umum. Sambungan ini mempunyai dua keuntungan utama: Mudah disesuaikan. Potongan yang akan disambung tidak memerlukan ketepatan dalam pembuatannya bila dibanding dengan jenis sambungan lain. Potongan tersebut dapat digeser untuk mengakomodasi kesalahan kecil dalam pembuatan atau untuk penyesuaian panjang. Mudah disambung. Tepi potongan yang akan disambung tidak memerlukan persiapan khusus dan biasanya dipotong dengan nyala (api) atau geseran. Sambungan lewatan menggunakan las sudut sehingga sesuai baik untuk pengelasan di bengkel maupun di lapangan. Potongan yang akan disambung dalam banyak hal hanya dijepit (diklem) tanpa menggunakan alat pemegang khusus. Kadang-kadang potongan-potongan diletakkan ke posisinya dengan beberapa baut

pemasangan yang dapat ditinggalkan atau dibuka kembali setelah dilas. Keuntungan lain sambungan lewatan adalah mudah digunakan untuk menyambung plat yang tebalnya berlainan. 3) Sambungan Tegak Jenis sambungan ini dipakai untuk membuat penampang bentukan (built-up) seperti profil T, profil 1, gelagar plat (plat girder), pengaku tumpuan atau penguat samping (bearing stiffener), penggantung, konsol (bracket). Umumnya potongan yang disambung membentuk sudut tegak lurus seperti pada Gambar 6.16(c). Jenis sambungan ini terutama bermanfaat dalam pembuatan penampang yang dibentuk dari plat datar yang disambung dengan las sudut maupun las tumpul. 4) Sambungan Sudut Sambungan sudut dipakai terutama untuk membuat penampang berbentuk boks segi empat seperti yang digunakan untuk kolom dan balok yang memikul momen puntir yang besar.

5) Sambungan Sisi Sambungan sisi umumnya tidak struktural tetapi paling sering dipakai untuk menjaga agar dua atau lebih plat tetap pada bidang tertentu atau untuk mempertahankan kesejajaran (alignment) awal. Seperti yang dapat disimpulkan dari pembahasan di muka, variasi dan kombinasi kelima jenis sambungan las dasar sebenarriya sangat banyak. Karena biasanya terdapat lebih dari satu cara untuk menyambung sebuah batang struktural dengan lainnya, perencana harus dapat memilih sambungan (atau kombinasi sambungan) terbaik dalam setiap persoalan.

2.7 Teknik Pengelasan Posisis pengelasan dibawah tangan Pengelasan di bawah tangan adalah proses pengelasan yang dilakuakan dibawah tangan dan benda kerja terletak diatas bidang datar.Sudut ujung pembakar(brander)terletak diantara 60 derajat dan kawat pengisi (filter rod) dimiringkan dengan sudut antara 30-40 derajat dengan benda kerja.Kedudukan ujung pembakar ke sudut sambungan dengan jarak 2-3 mm agar terjadi panasmaksimal pada sambungan.Pada sambungan sudut luar,nyala diarahkan ketengah sambungan dengan gerakan yang lurus. Posisi pengelasan datar (horizontal) Pada posisi ini benda kerja berdiri tegak sedangkan pengelasan dilakuakan dengan arah mendatar sehingga cairan las cenderung mengalir kebawah,untuk itu ayunan brender sebaiknya sekecil mungkin.Kedudukn benda kerja terhadap brender menyudut 70 derajat dan miring kira-kira 10 derajat dibawah garis mendatar,sedangkan kawat pengisi dimiringkan pada sudut 10 derajat diatas garis mendatar. Posisi pengelasan tegak(vertical) Pada pengelasan dengan posisi tegak,arah pengelasan berlangsung ke atas atau kebawah.Kawat pengsisi ditempatkan antara nyala api dan tempat smbungan yang bersudut 45 derajat-60 derajat dan sudut brender sebesar 80 drajat.

Posisi pengelasan diatas kepala(overhead) Pengelasan dengan posisi ini adalah yang paling sulit dibnadingan dengan posisi lainnya dimana benda kerja berada diatas kepala dan pengelasan dilakuakan dibawahnya.Pada pengelasan posisi ini sudut brender dimiringkan 10 derajat dari garis vertical sedangakan kawat pengisi berada dibelakangnya bersudut 45-60 derajat. Pengelasan arah kekiri(maju) Cara pengelasan ini paling banyak digunakan dimana nyala api di arahkan ke kiri dengan membentuk sudut 60 derajat dan kawat las 30 derajat terhadap benda kerja sedngkan sudut melintangnya tegak lurus terhadap arah pengelasan.Cara ini bnyak digunakan karena cara pengelasanna mudah dan tidak membutuhkan posisi yang sulit saat mengelas. Pengelasan arah kekanan(mundur) Cara pengelasan ini adalah arahnya kebalikan daripada arah pengelasan kekikri.Pengelasan dengan cara ini diperlukan untuk pengelasn baja yang tebalya 4,5 mm ke atas.

BAB IV PENUTUP

A.Kesimpulan Setelah penulis membaca dari semua referensi yang di dapatkan dan dari penyusunan laporan ini maka penulis dapat menyimpulkan bahwa: Penulis dapat meketahu macam-macam las,teknik pengelasan,jenis-jenis nyala api,dan hal-hal yang berkaitan dengan las listrik. B.Saran Bagi pembaca setelah membaca laporan praktek ini semoga dapat berguna ,karena suatu saat nanti kita akan memperaktekannya sehingga kita harus mempelajari tentang las.

DAFTAR PUSTAKA

ASTM D 638-90, 1981, Annual Book of ASTM Standart American Society for Testing Material, Phala deapia Bintoro. G. A, 1999, Dasar-dasar Pekerjaan Las, Kanisius Yogyakarta George E. Dieter 1993, Metalurgi Mekanik, Erlangga, Jakarta G. L. J. Van Vliet, Both, W, 1984, Teknologi Untuk Bangunan Mesin Bahan-bahan I, Erlangga Jakarta Heri Sonawan, Rochim Suratman 2004, Pengantar Untuk Memahami Proses Pengelasan Logam, CV ALFABETA, Bandung Hari Amanto, Drs1999, Ilmu Bahan, Bumi Angkasa Loa. W. Darmawan, prof. Ir, Konstruksi Baja 1, 1984, Badan Penerbit Pekerjaan Umum Tata Surdia, Shinroku Saito 2000, Pengetahuan Bahan Teknik, Pradya PAramita Wiryo Sumarto, Thosie Okumura, 1979, Teknologi Pengelasan logam, Pradya Paramita Jakarta http://www.scribd.com/doc/30100374/laporan-permesinnan