PROGRAM STUDI D IV BIDAN PENDIDIK SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KARYA HUSADA SEMARANG Karya Tulis Ilmiah, Juni

2012 Asih Wijayanti* Fery Agusman** Ristiana Triwik MD ABSTRAK ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PADA IBU BERSALIN YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMILIHAN MEDIS OPERASI WANITA DI RSUP DR KARIADI TAHUN 2012 Xi + 70 halaman +12 tabel + 5 lamp Langkah kebijakan pembangunan keluarga berencana diarahkan untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk dan meningkatkan keluarga kecil berkualitas, dengan mengendalikan tingkat kelahiran penduduk melalui upaya memaksimalkan akses dan kualitas pelayanan KB, terutama bagi keluarga miskin dan rentan serta daerah terpencil, meningkatkan komunikasi, informasi, dan edukasi, bagi pasangan usia subur tentang kesehatan reproduksi, melindungi peserta KB dan dampak negatif pengguna alat kontrasepsi. Tujuan dari penelitian ini adalah Mengetahui faktor-faktor pada ibu bersalin yang berhubungan dengan pemilihan Medis Operasi Wanita di RSUP Dr Kariadi Tahun 2012 Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan deskriptif korelasi yaitu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskriptif tentang suatu keadaan atau objektif dan mencari hubungan antara dua variable. Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah ibu bersalin di Ruang Kebidanan RSUP Dr Kariadi Semarang sejumlah 180 orang yang diambil dengan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Dari hasil olah data didapatkan ada hubungan antara usia dengan pemilihan MOW pada ibu bersalin, yaitu didapatkan X2 hitung 24,754 dan X2 tabel 5,591, ada hubungan antara paritas dengan pemilihan MOW pada ibu bersalin, yaitu didapatkan X2 hitung 46,250 dan X2 tabel 5,591. Tidak ada hubungan antara pendapatan keluarga dengan pemilihan MOW pada ibu bersalin, yaitu didapatkan X2 hitung 0,010 dan X2 tabel 3,481, dan ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan pemilihan MOW pada ibu bersalin, yaitu didapatkan X2 hitung 10,464 dan X2 tabel 5,591.

Kata Kunci : ibu bersalin dan pemilihan medis operasi wanita Daftar pustaka : 25 (2001 – 2011). * : Mahasiswa Prodi D-IV Kebidanan STIKES Karya Husada Semarang ** : Dosen Prodi D-IV Kebidanan STIKES Karya Husada Semarang LATAR BELAKANG Indonesia merupakan Negara berkembang dengan jumlah penduduk kira-kira lebih dari 200 juta, termasuk dalam Negara-negara yang paling banyak jumlah penduduknya. Penduduknya mendiami daerah-daerah di berbagai pulau yang tersebar tidak merata di seluruh wilayah Indonesia, selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Jumlah penduduk yang besar ini menimbulkan berbagai masalah seperti kekurangan pangan dan gizi sehingga mengakibatkan kesehatan yang buruk, pendidikan yang rendah, kurangnya lapangan pekerjaan, tingkat kematian dan kelahiran tinggi, khususnya di Negara berkembang (Wiknjosastro, 2003). Semakin tinggi pertumbuhan penduduk semakin besar usaha yang diakukan untuk mempertahankan kesejahteraan rakyat. Apabila hal ini di biarkan, maka pendidikan generasi mendatang akan terpuruk sehingga menghasilkan banyak pengangguran dan mutu tenaga kerja Indonesia dengan produktivitas yang tidak baik.

2010). lebih tinggi dari hasil proyeksi sebanyak 234 juta jiwa dan merupakan jumlah penduduk terbesar ke empat di dunia setelah China. bagi pasangan usia subur tentang kesehatan reproduksi. dengan mengendalikan tingkat kelahiran penduduk melalui upaya memaksimalkan akses dan kualitas pelayanan KB. Apabila kondisi ini terus berlangsung dikhawatirkan selain sasaran program tidak tercapai juga berbagai upaya mengatasi permasalahan yang masih dihadapi menjadi terhambat.45 %. 2010).3875%. melindungi peserta KB dan dampak negatif pengguna alat kontrasepsi. kondom maupun suntikan (BKKBN.18%.37 % (BKKBN Prov Jateng.155. dan MOW/MOP. Program ini dinilai berhasil menekan tingkat pertumbuhan penduduk Indonesia.49% atau lebih tinggi dibanding periode 1990-2000 yang hanya mencapai 1.05%. mandiri. Laju pertumbuahn penduduk 2000-2010 mencapai 1. 2010). Dampaknya adalah semakin sulit bagi pemkab/pemkot untuk mengelola daerahnya masing-masing (BKKBN. Di propinsi Jawa Tengah pada tahun 2010. Salah satu permasalahan yang dihadapi pembangunan bidang kependudukan dan keluarga berencana antara lain adalah masih rendahnya pemakaian metode kontrasepsi jangka panjang (MJKP) seperti IUD. Hal ini didukung dengan data BKKBN tahun 2010 tercatat di Indonesia terdapat 5. memiliki jumlah anak yang ideal. akseptor AKDR sebanyak 10. 2011). 2003). Angka ini masih di bawah target tahun 2010 sebesar 80% (Dinkes Prov Jateng. Metode Kontrasepsi Jangka Panjang lebih ditekankan karena MKJP dianggap lebih efektif dan lebih mantap dibandingkan dengan alat kontrasepsi pil. Pelayanan KIE dan Konseling KB di rumah sakit salah satunya diarahkan pada terciptanya penanganan . Peserta mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2009 sebesar 78. maju. Angka tersebut mengalami penurunan 2 tahun belakangan ini yaitu dari Jumlah peserta KB MOW/ MOP tahun 2009 sebesar 5. meningkatkan komunikasi. berwawasan ke depan. bertanggung jawab. akseptor implant sebanyak 9. ekonomis. akseptor pil sebanyak 17. 2010). Keuntungan yang terdapat dalam Medis Operasi Wanita (MOW) belum bisa membuat akseptor KB memilih metode ini. harmonis dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (Wiknjosastro. Dari segi kualitas. Walaupun target pencapaian peserta KB aktif belum terealisasi. cakupan peserta KB aktif 79.21%. Hal ini dapat dilihat dari jumlah penduduk Indonesia yang berdasarkan hasil sementara Sensus Penduduk Indonesia tahun 2010 sebanyak 237.761 jiwa peserta KB aktif dengan rincian peserta akseptor suntik sebanyak 56. Kualitas penduduk Indonesia yang masih rendah ini terjadi hampir di seluruh wilayah baik di daerah padat maupun di daerah jarang penduduk (Depkes. Implant.42% dan tahun 2008 sebesar 5. Langkah kebijakan pembangunan keluarga berencana diarahkan untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk dan meningkatkan keluarga kecil berkualitas.63%. Paradigma baru program Keluarga Berencana Nasional telah diubah visinya dari mewujudkan NKKBS menjadi visi untuk mewujudkan “Keluarga Berkualitas tahun 2015".6 juta jiwa. Pemerintahan kabupaten/kota belum sepenuhnya menaruh perhatian besar terhadap pembangunsn berwawasan kependudukan termasuk program KB (BKKBN. dan Amerika Serikat. 2010). RSUP DR Kariadi Semarang juga berpartisipasi aktif dalam melaksanakan program keluarga berencana melalui PKBRS dangan Pelayanan KB Paripurna. dan relatif aman serta tidak memerlukan keterlibatan nyata yang terus menerus dari pihak pemakai (Pendit. Hal ini dapat dilihat data dari Dinkes Kota Semarang.78%.65%. Jumlah peserta KB baru MOW/MOP kota Semarang bulan Januari-Agustus tahun 2010 sebesar 5.Badan pusat stastistik mencatat bahwa laju pertumbuhan penduduk Indonesia selama periode 2000-2010 lebih tinggi dibanding periode 1990-2000. Pemerintah sudah berupaya mengatasi laju pertumbuhan penduduk yang cepat ini dengan mencanangkan program KB yang dimulai sejak tahun 1970. 2007). namun sasaran peserta KB baru MKJP Jawa Tengah tahun 2010 sudah dapat terealisasi yaitu sebesar 110%. Jumlah yang besar ini kualitasnya relatif masih rendah. sehat. terutama bagi keluarga miskin dan rentan serta daerah terpencil. Keluarga yang berkualitas adalah keluarga yang sejahtera. India. Medis Operatif Wanita sebagai salah satu Metode Kontrasepsi Jangka Panjang merupakan salah satu metode KB yang paling efektif.31% dan akseptor MOW sebanyak 6. Meski program ini cenderung bersifat persuasif ketimbang dipaksakan. penduduk Indonesia menempati urutan ke-108 dari 188 negara di dunia. informasi. dan edukasi. bersifat permanen.

Hasil Penelitian Penelitian ini untuk mengetahui tentang analisis faktor-faktor pada ibu bersalin yang berhubungan dengan pemilihan medis operasi wanita di RSUP Dokter Kariadi Semarang Tahun 2011. peneliti melakukan studi pendahuluan di Ruang Kebidanan RSUP Dr. Sampel terdiri dari 180 orang. bivariat dan multtivariat. IUD 14. pendapatan keluarga dan tingkat pendidikan dengan pemilihan MOW dan analisa multivariat menggunakan faktor-faktor usia. Dari uraian di atas perlu dilakukan pengkajian kembali pada faktor usia.34%. paritas. dengan jumlah sampel sebesar 180 responden. dilakukan Pramundari dengan judul “Studi Deskriptif Faktor-Faktor yang Berpengaruh dalam Penggunaan Kontrasepsi MOW di Wilayah Puskesmas Tanggungharjo Kabupaten Grobogan Tahun 2003-2004”. pendapatan keluarga dan tingkat pendidikan. Berdasarkan data-data tersebut di atas. METODE PENELITIAN Metode Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan deskriptif korelasi dengan pendekatan waktu cross sectional. Data penelitian ini diperoleh dari hasil penelitian dengan menggunakan kuesioner yang telah di isi oleh responden. Alasan sebagian besar akseptor memilih MOW adalah karena sudah tidak ingin memiliki anak lagi.KB Mantap (MOW/MOP) dan penanganan KB pasca persalinan dan pasca keguguran.24%. masing-masing pendidikan terakhirnya adalah SD dan SMU. Suntik dipilih 2 pasien.36%. dari 10 pasien pasca persalinan dengan klasifikasi paritas primipara ada 5 pasien. Hal tersebut didukung oleh penelitian yang.38% rnengalami penurunan dari tahun sebelumnya dan tahun 2010 menurun kembali menjadi 13. pada tahun 2008 rnengalami peningkatan sebesar 16.36% (Data Poli KBRSDK. serta keduanya beragama Islam. Peserta KB baru MOW pada tahun 2010 tersebut hanya tercapai 50. dan MOW 13.1. Pada tahun 2007 rnengalami penurunan menjadi 4. Implant 0. Tahun 2010 RSUP DR. dan 1 pasien grandemultipara. faktor kesehatan umum. Kemudiaan. pada tahun 2009 peserta KB baru MOW menjadi sebesar 13. 2011). Dari data tersebut dapat diketahui bahwa peserta KB baru MOW berada di urutan ketiga dari bawah dan masih lebih rendah dibandingkan yang menggunakan kontrasepsi suntik. kondom 33. multipara ada 4 pasien. paritas.54%. akseptor dengan paritas lebih dari 2. Pasien yang memilih MOW tersebut mengatakan bahwa memutuskan menggunakan MOW karena sudah disetujui suami.5%. pendapatan keluarga di atas 1 juta serta tidak ingin memiliki anak lagi karena masing-masing pasien sudah memiliki 3 anak dan 5 anak. Peserta KB baru MOW di RSUP Dr Kariadi dari tahun 2006-2010 terdapat perubahan setiap tahunnya. Alat kontrasepsi yang dipilih pasien yaitu kondom sebanyak 4 pasien.22% dari seluruh ibu bersalin yang memenuhi syarat (dengan indikasi paritas lebih dari 2 dan usia lebih dari 26 tahun) untuk dilakukan MOW. Dianalisis dengan uji statistic non parametric dengan chi square. Hasil penelitian disajikan dalam tiga bagian yaitu analisa univariat. pendapatan keluarga dan tingkat pendidikan yang paling berhubungan terhadap pemilihan MOW. HASIL PENELITIAN 4.77%. Suntik 28. Dari 2 pasien yang memilih MOW tersebut dapat diketahui bahwa mereka berusia 30 tahun dan 42 tahun. kondom. 2007). IUD dipilih 2 pasien dan 2 pasien sisanya memilih MOW. akseptor dengan tingkat pendapatan cukup dan akseptor yang mendapat dukungan oleh suami.97%. Pada tahun 2006 peserta KB baru MOW sebesar 10.86%. dan IUD. Pil 7. Namun. akseptor dengan tingkat pendidikan menengah ke atas. Disamping itu efek samping yang merugikan dari suatu alat kontrasepsi juga berpengaruh dalam menyebabkan bertambah atau berkurangnya akseptor suatu alat kontrsepsi. . paritas pendapatan dan tingkat pendidikan dalam memilih Medis Operasi Wanita sehingga Penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul "Analisis Faktor-Faktor pada Ibu Bersalin yang Berhubungan dengan Pemilihan Medis Operasi Wanita di RSUP Dr Kariadi Tahun 2012". hasilnya akseptor yang paling banyak menggunakan kontrasepsi MOW adalah akseptor dengan umur lebih dari 30 tahun. sedangkan analisa bivariat mencakup variabel usia. Banyak hal yang mempengaruhi akseptor dalam memilih alat kontrasepsi antara lain adalah faktor pribadi. Untuk analisa univariat yang mencakup variabel usia. serta faktor budaya (Pendit. Kariadi Semarang pada tanggal 4 Maret 2011. faktor ekonomi dan aksesibilitas. paritas.15%. Kariadi memiliki prosentase pencapaian peserta KB baru pasca persalinan menurut jenis kontrasepsinya yaitu.

3% 100% Dari tabel 4. Tabel 4.8%).2 menunjukkan bahwa jumlah responden terbanyak adalah dalam usia reproduksi sehat sebaayak 101 responden (56. Reproduksi sehat 3. e. sedangkan yang berusia tua sebanyak 72 responden (40.4. Tidak Jumlah Frekuensi 43 137 180 Prosentase 23. Jumlah Responden Berdasarkan Usia Ibu Bersalin Tabel 4. Ibu bersalin yang tidak memilih MOW paling banyak pada usia reproduksi sehat yaitu.0% 100% Dari tabel 4. Di atas UMR 93 2.1 Distribusi Responden Berdasarkan Pemilihan MOW di RSUP Dokter Kariadi Semarang No. antara 20-30 tahun sebanyak 89 responden (49. Pendidikan 1. Usia muda 2.2%).3% 3. Jumlah Responden Berdasarkan Pemilihan MOW Tabel 4.9%).7%) dan paling sedikit adalah tingkat pendidikan lanjutan yaitu 9 responden (10. . Ya 2. menunjukkan bahwa responden yang terbanyak adalah responden dengan pendapatan keluarga di atas UMR yaitu 93 responden (51.2 Distribusi Responden Berdasarkan Usia Ibu bersalin di RSUP Dokter Kariadi semarang No.1 menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak memilih MOW yaitu 137 responden (76.6 menunjukkan bahwa ibu yang memilih MOW paling banyak berusia tua yaitu sebanyak 31 responden (17. Multipara 3. Analisa Univariat a.9% 100% 2. Menengah 3. Dari tabel 43 menunjukkan bahwa jumlah responden terbanyak adalah responden dengan multipara yaitu 105 responden (58.4 Distribusi Responden Berdasarkan Pendapatan Keluarga di RSUP Dokter Kariadi Semarang No.1%). Dasar 2. kemudian primipara yaitu 68 responden (37. sedangkan yang memilih MOW hanya 43 responden (23. dan berusia muda tidak ada yang memilih MOW.5 menunjukkan bahwa jumlah responden terbanyak adalah tingkat pendidikan dasar yaitu SD dan SMP sebanyak 86 responden (47.1% 100% d.5 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di RSUP Dokler Kariadi Semaraog No.6% 10.9% 76. grandemultipara Jumlah F 68 105 7 180 % 37.3%).9%) b.7%).3%). Jumlah Responden Berdasarkan Paritas Ibu bersalin Tabel 4.8% 58.8%). Pendapatan Frekuensi 1. Analisa Bivariat a.7%). Jumlah Responden Berdasarkan tingkat Pendidikan .1.1% 40. t %).8% 41. Dari tabel 4.9%). kemudian responden dengan pendapatan keluarga di bawah UMR sebanyak 87 responden (48.0%) dan paling sedikit adalah usia muda yaitu 7 responden (3. Pemilihan MOW 1.9% 56. kemudian berusia tua 44 responden (22.6% 100% Dari tabel 4. Di bawah UMR 87 Jumlah 180 Prosentase 51. Jumlah Responden Berdasarkan Pendapatan Keluarga Tabel 4.7% 48.9%). Lanjutan Jumlah Frekuensi 86 75 19 180 Prosentase 47. Paritas Ibu Bersalin 1. dan yang paling sedikit adalah grandemultipara sebanyak 7 responden (3. dan paling sedikit berusia muda yaitu 7 responden (3. c. Hubungan Usia Ibu Bersalin dengan Pemilihan MOW Dari tabel 4. Usia Ibu Bersalin 1. sedangkan untuk tingkat pendidikan menengah sebanyak 75 responden (41. kemudian yang berada dalam reproduksi sehat sebanyak 12 responden (6.2%). Primipara 2. Usia tua Jumlah Frekuensi 7 101 72 180 Prosentase 3.3 Distribusi Responden Berdasarkan Paritas Ibu Bersalin di RSUP Dokter Kariadi Semarang No.4%).6%).

4 101 56.9 137 76.8 Tabel Silang Pendapatan Keluarga dengan Pemilihan MOW di RSUP Dokter Kariadi Semarang N o.2 87 48.481. Dari hasil perhitungan menggunakan SPSS versi 17.9 43 23.9%) dan paling sedikit pada primipara yaitu 1 responden (0. Dari hasil perhitungan menggunakan SPSS versi 17.9 93 51. 2. ibu yang memilih MOW paling banyak di atas UMR yaitu 23 responden (1.6 35 19.0.6 Tabel Silang Usia Ibu Bersalin dengan Pemilihan MOW di RSUP Dokter Kariadi Semarang N o Usia Ibu Bersalin Ya f 1. 2.8 105 58. Hubungan Paritas dengan Pemilihan MOW Pada Tabel 4. grandemultipara 7 responden (3. dengan derajat kebebasan 2 serta level signifikan 5%. Kariadi Semarang dibuat tabel kontingensi 3x2. primipara 67 responden (37. yang artinya ada hubungan antara usia ibu bersalin dengan pemilihan MOW.0 7 3.6%). b. maka didapatkan harga x2 hitung 0. Pendapatan keluarga Ibu yang tidak memilih MOW paling banyak di atas UMR yaitu 70 responden (38. Tabel 4.1 180 100 ditolak dan Ha diterima.9 7 3.1 Jumlah f % 68 37.3 7 3. Untuk mengetahui hubungan antara pendapatan keluarga dengan pemilihan MOW di RSUP Dokter Kariadi Semarang dibuat tabel kontingensi 2x2.250 > x2 tabel 5. Maka dapat disimpulkan Ho ditolak dan Ha diterima.0 137 76. Usia muda Reproduksi Sehat Usia tua Jumlah 0 12 31 43 Pemilihan MOW Tidak Jumlah % f % f % 0. Tingkat Pendidikan Dasar Menengah Lanjutan Jumlah f 29 9 5 43 Ya % 16 5 2.8%).1 17. dengan p value 0.05.9 180 100 Tabel di atas menunjukkan bahwa bahwa pendapatan keluarga.0. dengan p value 0.1 67 37. Maka dapat disimpulkan Ho . Pendapatan Keluarga Di atas UMR Multipara Jumlah Ya f 23 20 43 Pemilihan MOW Tidak Jumlah % f % f % 12.9 Tabel Silang tingkat Pendidikan dengan Pemilihan MOW di RSUP Dokter Kariadi Semarang Pemilihan MOW No. Dan hasil perhitungan menggunakan SPSS versi 17. 2. 3. d.9 6. Hubungan Pendapatan Keluarga dengan Pemilihan MOW Tabel 4. dengan derajat kebebasan 2 serta level signifikan 5%.1 180 100 Untuk mengetahui hubungan antara usia ibu bersalin dengan pemilihan MOW di RSUP Dokter.2 70 38.7 11.0.8 70 38.754 > x2 tabel 5. 1.9 0 0.591.4%).9%).591. Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Pemilihan MOW Tabel 4. Paritas Ibu yang tidak memilih MOW paling banyak pada multipara yaitu 70 responden (38.4 7 3. 1.05.8 76 Jumlah f 86 75 19 180 % 48 42 11 100 Untuk rnengetahui hubungan antara Paritas Ibu bersalin dengan pemilihan MOW di RSUP Dokter Kariadi Semarang dibuat tabel kontingensi 3x2.921 > 0. c. dan di bawah UMR sebanyak 20 responden (11. maka didapatkan harga x2 hitung 46.0 23.000 < 0.05.2%) dan tidak ada responden yang tidak: memilih MOW pada grandemultipara. 3.7 menunjukkan bahwa Paritas Ibu yang memilih MOW paling banyak yaitu multipara 35 responden (19. dengan p value 0.3 23.1%).2%).7 89 49.2 41 22. 3.000 < 0.8 72 40. 2.Tabel 4. Pemilihan MOW.9%) dan di bawah UMR sebanyak 67 responden(37.7 Tabel Silang Paritas dengan Pemiiihan MOW di RSUP Dokter Kariadi Semarang N o 1.9 137 76. Maka dapat disimpulkan Ho diterima dan Ha ditolak. Paritas Primipara Multipara Grandemultipara Jumlah Ya f % 1 0.8 24 Tidak f 57 66 14 137 % 32 37 7. yang artinya ada hubungan antara Paritas ibu bersalin dengan.010 < x2 tabel 3.9 Pemilihan MOW Tidak f % 67 37. dengan derajat kebebasan 1 serta level signifikan 5%. maka didapatkan harga x2 hitung 24. yang artinya tidak ada hubungan antara pendapatan keluarga dengan pemilihan MOW.

Di b.0 %) dan pendidikan lanjutan sebanyak 5 responden (2.8%). Seorang wanita yang baru melahirkan mungkin mengandalkan efek kontrasepsi dan menyusui atau memilih metode komplementer yang dapat digunakan sewaktu menyusui.9 menunjukkan bahwa ibu yang memilih MOW paling banyak berpendidikan dasar yaitu sebanyak 29 responden (16.591.0. Informasi yang diperoleh dari penyedia layanan dan sumber lain dapat menyesatkan atau sensasional dengan persepsi negatifnya diperbesar sedangkan sifat positif diabaikan. Dari hasil perhitungan menggunakan SPSS versi 17.2. yang artinya ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan pemilihan MOW.7%). Maka dapat disimpulkan Ho ditolak dan Ha diterima.8%).05. sedangkan yang berusia tua sebanyak 72 responden (40. Hal ini disebabkan beberapa faktor antara lain usia anak terkecil.0%) dan berusia . Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan dengan pemilihan MOW di RSUP Dokter Kariadi Semarang dibuat tabel. Pengaruh petugas kesehatan juga memengaruhi pemikiran kontrasepsi. pengaruh petugas kesehatan dan kesalahan persepsi mengenai suatu metode. maka didapatkan harga x2 hitung 10.1%).Dari tabel 4. 1. Pemilihan MOW Dari hasil penelitian didapatkan sebagian besar ibu bersalin tidak mernilih MOW yaitu sebanyak 137 responden (76.005 < 0. Informasi dan anjuran petugas kesehatan sedikit banyak memberikan pemahaman baru terhadap akseptor dalam hal ini ibu bersalin karena petugas kesehatan dianggap memiliki pengetahuan yang baik tentang metode kontrasepsi sehingga saran yang diberikan disesuaikan dengan keadaan akseptor itu sendiri. Banyak klien membuat keputusan mengenai kontrasepsi berdasarkan informasi yang salah yang diperoleh dari teman dan keluarga atau dari kampanye pendidikan yang membingungkan. hal ini menunjukkan masih rendahnya kesadaran akseptor dalam hal ini ibu bersalin dalam memilih salah satu Metode Kontrasepsi Jangka Panjang yaitu Medis Operasi Wanita (MOW). Analisa Univariat a. dan paling sedikit tingkat pendidikan lanjutan yaitu 14 respnden (7. bivariat dan multivariat. maka penulis akan melakukan pembahasan yang disajikan dalam tiga bagian yaitu analisa univariat. Usia Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar responden tergolong dalam reproduksi sehat yaitu 20-30 tahun sejumlah 101 responden (56. Rumor pada metode steril menyebutkan bahwa pelaksanaan operasi steril pada wanita adalah dengan mengangkat seluruh rahim sehingga banyak wanita merasa takut melakukan Medis Operasi Wanita.1%). dengan derajat kebebasan 2 serta level signiftkan 5%. Pembahasan Setelah didapat hasil penelitian sesuai dengan judul "Analisis Faktor-Faktor Pada Ibu Bersalin yang Berhubungan Dengan Pemilihan Medis Operasi Wanita di RSUP Dokter Kariadi Semarang Tahun 2011”. berpendidikan menengah sebanyak 9 responden (5.7%). dengan p value 0.1%). Ibu yang tidak memilih MOW paling banyak memiliki tingkat pendidikan menengah yaitu 66 responden (36. sebagian pasangan dengan anak yang masih kecil dan tidak lagi menginginkan anak menunda pemakaian metode kontrasepsi permanen sampai mereka cukup yakin bahwa anak mereka akan bertahan hidup. kemudian tingkat pendidikan dasar 57 responden (31. Usia anak terkecil suatu pasangan dapat memengaruhi pemilihan metode kontrasepsi. 4. kontingensi 3x2.464 > x2 tabel 5. daerah-daerah tempat angka kematian bayi tinggi.

keluarga dalam status ekonomi lebih baik akan lebih mudah tertutupi dibanding dengan status ekonomi rendah. Paritas adalah angka-angka yang menunjukkan kehamilan yang pernah dilalui ibu serta status terminasi kehamilan tersebut atau persalinannya (Manuaba. tingkat kemantapan dan kekuatan akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Semakin sering ibu bersalin maka resiko yang menyertai ibu pun semakin tinggi. Hal tersebut didukung pernyataan Sukmadinata (2003) yang menyebutkan pengalaman seseorang tentang berbagai hal yang diperoleh dari lingkungan merupakan faktor eksternal yang mempengaruhi pemahaman dan pengetahuan. Paritas Dalam penelitian ini paritas ibu bersalin terbesar adalah yaitu yang sudah bersalin 2 sampai 4 kali sebanyak 105 responden (58. 2008). Dalam pembahasan ini UMR yang digunakan adalah UMR Kota Semarang sebesar Rp. Pernyataan tersebut sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa keluarga yang berpendapatan tinggi lebih memilih menggunakan alat kontrasepsi yang berbiaya mahal tapi dengan efektifitas tinggi dan keluarga yang berpendapatan rendah lebih memilih alat kontrasepsi dengan biaya yang terjangkau (Wiknjosastro. Penghasilan keluarga yaitu banyaknya uang yang didapat oleh anggota keluarga yang bekerja. Jadi. 2001). artinya d. Sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (2003) yang menyatakan bahwa semakin cukup umur. Ini menunjukkan sudah banyak ibu yang mengandung dan melahirkan anak di usia reproduksi sehat. Dari hasil penelitian ini mayoritas berada di usia reproduksi sehat.-. sehingga dari data tersebut di atas diharapkan dari usia yang sudah dewasa dapat memberikan tingkat pemahaman yang tebih baik terhadap pemiiihan alat kontrasepsi.c. Pengalaman erat hubungannya dengan informasi yang seorang dapatkan.323. Hal ini menunjukkan sebagian besar responden bersalin dalam usia reproduksi sehat. Hal ini akan mempengaruhi akseptor dalam memilih metode kontrasepsi.9%). sehingga dengan meningkatnya pergaulan seseorang maka semakin besar info yang didapatkan.9%). kejadian "4 terlalu" dapat ditekan serendah mungkin (Saifudin. Namun program BKKBN "dua anak lebih baik" juga tidak tampak keberhasilannya karena kategori multipara dengan jumlah terbanyak bukan hanya yang bersalin 2 kali tetapi termasuk juga yang sudah bersalin 3 dan 4 kali. Ibu bersalin sudah mampu mengemban perannya sebagai ibu juga sudah sadar akan pentingnya kesehatan dalam reproduksinya. 2601). 961.3%). muda hanya 7 responden (3.8%) dan grandemultipara 7 responden (3. Dalam memenuhi kebutuhan pokok ataupun sekunder.7%). . Ini menunjukkan bahwa jumlah ibu bersalin di RSUP Dokter Karidadi Semarang yang termasuk pada grandemultipara yaitu bersalin lebih dari 4 kali sudah sangat sedikit. grandemultipara lebih besar resikonya daripada multipara dan multipara juga memiliki reiko lebih tinggi daripada primipara Pendapatan Keluarga Data hasil penelitian didapatkan bahwa pendapatan keluarga ibu bersalin terbesar berada di atas UMR yaitu sebanyak 93 responden (51. primipara 68 responden (37.

Sebaliknya pendidikan yang rendah akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan (Nursalam.SMP sejumlah 47. Penggunaan metode kontap MOW paling banyak diminati pada masa usia tua yaitu > 30 tahun dibanding pada usia yang lain karena pada usia ini sudah mempunyai kesiapan fisik dan mental. yang pada akhirnya mempengaruhi keinginan memilih MOW. Tingkat Pendidikan Dari hasil penelitian didapatkan responden berlatar belakang pendidikan dasar atau SD .-. Usia lebih dari 30 tahun adalah fase mengakhiri kehamilan.e. dengan x2 hitung sebesar 24. Analisa Bivariat a. Dari hasil penelitian ini mayoritas ibu bersalin di RSUP Dokter Kariadi berpendidikan dasar yaitu SD dan SMP. Dalam keluarga responden rata-rata memiliki dua sumber penghasilan baik dari suami maupun istri. Pendidikan diperlukan untuk mendapat informasi misalnya ada hal-hal yang menunjang kesehatan. memudahkan mereka memiliki pelayanan kesehatan di tempat tinggalnya dan alat kontrasepsi yang akan mereka pakai. Hal ini sesuai dengan hipotesa yang ditetapkan yang mengatakan adanya hubungan antara usia dengan pemilihan MOW. namun bukan berarti mereka tidak bisa merespon informasi dengan baik terhadap informasi yang datang pada mereka.6% berpendidikan lanjutan. Ibu yang bersalin di RSUP Dokter Kariadi memiliki pendapatan keluarga di atas Rp.591. Kondisi tersebut mempengaruhi pengetahuan responden. maka makin mudah untuk menerima informasi sehingga semakin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya.754 dan x2 tabel dengan derajat kebebasan 2 sebesar 5. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang. 2001). Banyaknya media dan informasi yang tersedia. Prioritas penggunaan alkon adalah metode kontrasepsi efektif (terutama kontap). sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa usia seorang wanita dapat mempengaruhi kecocokan dan akseptabilitas metode-metode kontrasepsi tertentu terbukti dalam penelitian ini.8% dan hanya 10. hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden tingkat pendidikannya rendah. kontrasepsi pasca melahirkan mereka dapatkan dengan bantuan program pemerintah yang dapat diperoleh secara gratis. 2. Pengalaman yang mereka peroleh dari lingkungan kehidupan juga akan menambah informasi yang mereka dapat. Hubungan Usia dengan Pemilihan MOW Berdasarkan hasil uji statistik yang dilakukan menunjukkan adanya hubungan antara usia degan pemilihan MOW. 961. sehingga pemerintah membantu untuk keluarga yang tidak mampu dalam melaksanakan program keluarga berencana. wanita yang berusia muda menghindari penggunaan kontrasepsi mantap karena sterilisasi wanita merupakan metode yang cocok bagi wanita perimenopouse yang . Bagi masyarakat dengan status ekonomi kurang atau rendah statusnya berfikir bahwa membatasi anak dengan keluarga berencana sangat membantu untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Biaya hidup yang tinggi di kota Semarang menyebabkan penghasilan mereka diutamakan untuk memenuhi kebutuhan pokok terlebih dahulu.323.

dan sebagainya. diabetes mellitus. namun. bukan berarti ibu berusia tua juga lebih memilih MOW karena alasan tertentu seperti ingin memiliki anak kembali. Hal tersebut sesuai anjuran Pendit (2007) bahwa pada wanita dengan paritas dua atau lebih sebaiknya mengakhiri kesuburan. Sedangkan pada akseptor dengan paritas 1. Pendit dalam bukunya juga menyebutkan dalam suatu survey terhadap pasangan di Brazil. Hubungan Pendapatan Keluarga dengan Pemilihan MOW Berdasarkan hasil uji statistik yang dilakukan menunjukkan tidak adanya hubungan antara pendapatan keluarga dengan pemilihan MOW. Para ibu bersalin sudah meningkat kesadarannya dalam memelihara kesehatan reproduksinya saat ini dan di masa yang akan datang.481. Hal ini tidak sesuai dengan hipotesa yang ditetapkan yang mengatakan adanya hubungan antara pendapatan keluarga dengan pemilihan MOW. 2001). hipertensi ataupun status kesehatan yang akan membahayakan kesehatan ibu dan janin.010 dan x2 tabel dengan derajat kebebasan 1 sebesar 3. biaya dicantumkan sebagai kendala utama dalam sterilisasi. tidak lagi menginginkan anak (Pendit. Selain salah satu syarat melakukan MOW adalah paritas ibu > 2. Hal ini sesuai dengan hipotesa yang ditetapkan yang mengatakan adanya hubungan antara paritas dengan pemilihan MOW dengan x2 hitung sebesar 46. 2007). 2007).591. 2003).b. Hubungan antara pendapatan keluarga dengan pemilihan dari kontrasepsi yang akan digunakan dipengaruhi oleh biaya yang akan dikeluarkan seperti misalnya biaya hanya satu kali atau serangkaian biaya ringan selama beberapa waktu. maka pemilihan MOW pun semakin rendah. Ini disebabkan c. Dalam penelitian ini. ibu dengan paritas minimal 2 sudah banyak yang memilih MOW sebagai metode kontrasepsi yang digunakan. Hubungan Paritas dengan Pemilihan MOW Berdasarkan hasil uji statistik yang dilakukan menunjukkan adanya hubungan antara paritas responden dengan pemilihan MOW. Akseptor sering beralasan karena tidak mempunyai cukup uang untuk membeli obat. Namun. dengan x2 hitung sebesar 0. membayar transportasi. Keluarga yang memiliki penghasilan tinggi akan lebih memperhatikan kesehatan anggota keluarganya termasuk untuk mendapatkan pelayanan kontrasepsi (Notoatmodjo. Mayoritas ibu bersalin yang memilih MOW di RSUP Dokter Kariadi Semarang adalah ibu dengan multipara. ibu bersalin usia muda di RSUP Dokter Kariadi Semarang tidak ada yang memilih MOW. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan salah satu studi pada orang Indian Quecha di Peru yang mendapat hubungan yang signifikan antara pendapatan dan keputusan dalam mendapatkan hubungan yang signifikan antara pendapatan dan keputusan dalam memilih kontrasepsi (Pendit. alasan mereka menggunakan metode Medis Operasi Wanita (MOW) adalah alasan kesehatan dari ibu seperti penyakit jantung. Hal ini berarti semakin muda usia ibu bersalin. . Paritas termasuk dalam indikasi obstetrik dalam sterilisasi yaitu keadaan dimana resiko kehamilan berikutnya meningkat (Siswosudarmo. karena responden sudah merasa cukup dengan anak yang mereka miliki.250 dan x2 tabel dengan derajat kebebasan 2 sebesar 5.

Tingkat pendidikan tidak saja memengaruhi kerelaan menggunakan keluarga berencana tetapi juga pemilihan suatu metode kontrasepsi. Hal ini sesuai pernyataan Notoatmodjo (2007) bahwa yang berpendidikan tinggi maka seseorang akan cenderung untuk mendapatkan informasi baik dari orang lain maupun dari media massa. Dengan pendidikan yang diikuti. Instrumen dalam pengumpulan data hanya menggunakan kuesioner yang menanyakan faktor-faktor tertentu saja 5.3. tidak melanjut ke semua faktor. Hal ini dapat disebabkan pelayaaan kontrasepsi MOW bisa didapatkan dengan gratis di RSUP Dokter Kariadi karena sebagian besar ibu yang memutuskan melakukan MOW setelah persalinan selain masih dirawat. Penelitian hanya mengetahui hubungan tentang faktor-faktor pada ibu bersalin yang berhubungan dengan pemilihan MOW. dengan x2 hitung sebesar 10.d. persalinan. Pendit (2007) menyebutkan bahwa beberapa studi dihipotesiskan bahwa wanita yang berpendidikan menginginkan keluarga berencana yang efektif tetapi tidak ada untuk mengambil resiko yang terkait dengan sebagian metode kontrasepsi modern. Keterbatasan 1. Orang yang berpendidikan tinggi akan memberikan respon yang lebih rasional terhadap info yang datang dan akan berpikir sejauh mana keuntungan yang akan mereka peroleh dengan gagasan tersebut. namun mereka memberi respon yang lebih rasional terhadap info yang datang. Penelitian ini hanya terbatas pada variabel faktor-faktor yang diteliti. ibu juga memiliki jaminan kesehatan sehingga tidak ada biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan pelayanan kontrasepsi Medis Operasi Wanita (MOW) dalam hal ini sesuai keadaan saat ini dengan adanya program jaminan persalinan (jampersal) yang menanggung biaya dan masa kehamilan. Hubungan tingkat Pendidikan dengan Pemilihan MOW Berdasarkan hasil uji statistik yang dilakukan menunjukkan adanya hubungan antara tingkat pendidikan ibu bersalin dengan pemilihan MOW. seseorang akan mengalami perkembangan berupa perubahan pola perilaku dan aspek kepribadian tertentu. Variabel tertentu (usia dan paritas) dikategorikan tidak sesuai dengan persyaratan pelaksanaan MOW karena peneliti ingin mengetahui dari semua . Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh dalam memberikan respon terhadap sesuatu yang datang dari luar. 4.591. Meskipun mereka berpendidikan rendah. Hasil penelitian ini adalah tidak ada hubungan antara pendapatan keluarga dengan pemilihan MOW. mayoritas yang memilih MOW adalah ibu bersalin yang berpendidikan dasar yaitu SD dan SMP. 2. sebagai hasil usaha dari individu yang bersangkutan sehingga semakin tinggi pendidikan seseorang semakin baik pula perilakunya. Hal ini sesuai dengan hipotesa yang ditetapkan yang mengatakan adanya hubungan antara pendidikan dengan pemilihan MOW.464 dan x2 tabel dengan derajat kebebasan 2 sebesar5. Semakin banyak informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan yang didapat tentang kesehatan ibu bersalin di RSUP Dokter Kariadi Semarang. Hal ini berarti teori yang menyatakan pendidikan adalah salah satu faktor yang menentukan perilaku seseorang terbukti dalam penelitian ini. nifas hingga penggunaan alat kontrasepsi setelah melahirkan. 3. Tempat yang digunakan hanya di RSUP dr Kariadi Semarang 4.

Profil Kesehatan 2008. 5. 2009.010 dan X2 tabel 3.7%).go.id.1. Profil Kesehatan 2009. 8. Terdapat hubungan antara paritas dengan pemilihan MOW pada ibu bersalin. Profil Kesehatan 2009. pendapatan keluarga dan tingkat pendidikan didapatkan yang paling dominan berhubungan dengan pemilihan MOW adalah variabel usia dengan nilai Exp(B)1.591.id (2 Maret 2011) Dinkes Kota Semarang. http. 7.go. 2001 Riset Keperawatan Teknik Penulisan llmiah. Profil Kesehatan 2008. 2008.//www. yaitu didapatkan X2 hitung 10. yaitu didapatkan X2 hitung 0. Ibu bersalin sebagian besar tidak memilih MOW yaitu sebanyak 137 responden (76. 2010.dinkesprovjawatengah. BKKBN. DAFTAR PUSTAKA Alimul.go.go. Saran Penulis bermaksud menyampaikan saran . Ibu bersalin yang paling banyak berusia reproduksi sehat sejumlah 101 responden (56. A.591. Hal ini dapat dilakukan dengan terlebih dahulu memberi pengetahuan atau sosialisasi dengan tennga kesehatan lainnya Bagi Institusi Pendidikan Institusi pendidikan bisa menggunakan hasil penelitian ini sebagai referensi untuk acuan dalam pengembangan penelitian selanjutnya tentang pemilihan MOW sehingga mahasiswa dapat meningkatkan kemampuan dalam melakukan research bidang Keluarga Berencana Bagi Peneliti Diharapkan bagi peneliti selanjutnya dapat mengembangkan penelitian ini dengan meneliti faktor-faktor lain yang belum diteliti baik menggunakan kontrol variabel maupun tidak menggunakan kontrol variabel yang berhubungan dengan pemilihan Medis Operasi Wanita. 9. Tidak ada hubungan antara pendapatan keluarga dengan pemilihan MOW pada ibu bersalin.754 dan X2 tabel 5. 3.591 . (28 Feb 2011) Dinkes Prov. yaitu didapatkan X2 hitung 46.//www.481. 10. Penggunaan DAK Bidang Keluarga Berencana hltp://www. Ibu bersalin yang memiliki pendapatan keluarga di atas UMR sejumlah 93 responden (51. http.//www. 4. Saran yang dapat disampaikan adalah: 1. Jateng. Bagi Rumah Sakit Perlunya ditingkatkan sosialisasi tentang metode MOW sebagai salah 2. paritas. KESIMPULAN DAN SARAN 5.id.1 %) 2. Ibu bersalin terbanyak berpendidikan dasar yaitu 86 responden (47.041E9.464 dan X2 tabel 5. http. Jateng. 5. 2011. Terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan pemilihan MOW pada ibu bersalin.250 dan X2 tabel 5.dinkeskotasemarang.8 %) 6. (28 Feb 2011) Dinkes Kota Semarang.dinkesprovjawatengah.kategori sesuai dalam definisi operasional yang ditampilkan. 2003. Semarang: BKKBN BKKBN. 2008.dinkeskotasemarang. H Aziz. Evaluasi Pelaksanaan Program KB Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011.bkkbn.3%). Terdapat hubungan antara usia dengan pemilihan MOW pada ibu bersalin.2.saran pada pihak yang terkait sehubungan pemilihan Medis Operas wanita (MOW) di RSUP Dokter Kariadi Semarang tahun2011. Jakarta: Salemba Medika Azwar. Paritas ibu bersalin yang terbesar adalah multipara yaitu sejumlah 105 responden (58. yaitu didapatkan X2 hitung 24. satu alat kontrasepsi jangka panjang dan metode KB pasca persalinan kepada ibu bersalin. Metodologi penelitian Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Dan uji regresi logistik pada variabel usia. Batam: Bina Rupa Aksara.//www. . http.1 %) 3.id (28 Feb 2011) .id (28 Feb 2011) Dinkes Prov. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di RSUP Dokter Kariadi Semarang pada bulan 2011 maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1.go. 2009.

2003. Hanafi. Ragam Metode Kontrasepsi. 2003. 2001. Ilmu Kebidanan. Abdul Bari. Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana. Jakarta: Rineka Cipta Notoatmodjo. 2007. dan instrumen penelitian. 2008. Modul Analisis Data. Jakarta: Rineka Cipta Nursalam. 2003. Promosi Kesehatan dan Ilmu perilaku. thesis. 2007. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pedoman skripsi. Keluarga berencana dan Kontrasepsi.go. Jakarta: Salemba Nursalam. Jakarta. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan.Hartanto. Braten. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. Konsep Penerapan Metode Ilmu Keperawatan dan Pedoman. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo Wiknjosastro. 2003. Jakarta. Metode penelitian untuk Pendidikan. Jakarta: Salemba Medika Pendit. Kebijakan Kementerian Kesehatan dalam Pelayanan KB di Rumah Sakit. Jakarta: HOC Notoatmodjo. Sukmadinata. http://www. Landasan Psikologi proses pendidikan Remaja. Karya Tulis Ilmiah. Jakarta: FKM Ul Kemenkes RI 2010. Bandung: Atfabeta. 2002. 2005. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. 2001. Teknologi Kontrasepsi. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo Siswosudarmo. Notoatmodjo. 2001. Jakarta: JNPKKR-POGI . Bandung: Rosdakarya Wiknjosaatro. Yogyakarta : Gajah Mada Sugiyono. 2008. Ilmu Kebidanan. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : EGC Pramundari (2004).id (2 Maret 2011) Manuaba. Pustaka Sinar Harapan Hastono.depkes. Soekidjo. Studi Deskriptif Faktorfaktor yang berpengaruh dalam Penggunaan Kotrasepsi MOW di wilayah Puskesmas Tanggungharjo Kabupaten Ggrobogan Tahun 20032004. 2001. Semarang: Politeknik Kesehatan DepKes Semarang Saifuddin. Hanifa.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful