Anda di halaman 1dari 4

Definisi Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) atau Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) didefinisikan sebagai penyakit

paru kronik yang ditandai oleh hambatan aliran udara di saluran napas yang bersifat progressif nonreversibel atau reversibel parsial. PPOK dapat bermanifestasi dari bronkitis kronik, emfisema atau gabungan keduanya1. Bronkitis kronik didefinisikan sebagai kelainan saluran napas yang ditandai oleh batuk kronik berdahak minimal 3 bulan dalam setahun, sekurang-kurangnya dua tahun berturut turut, dan tidak disebabkan penyakit lainnya1. Emfisema didefinisikan sebagai suatu kelainan anatomis paru yang ditandai oleh pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal, disertai kerusakan dinding alveoli1. Sementara itu, definisi kerja PPOK menurut Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD) tahun 2010 adalah penyakit dengan efek ekstrapulmonal signifikan dengan karakteristik keterbatasan aliran udara yang tidak sepenuhnya reversibel. Keterbatasan aliran udara terjadi progresif dan berkaitan dengan respon inflamasi abnormal paru terhadap partikel atau gas berbahaya2. Epidemiologi Pada studi populasi di Inggris selama 40 tahun, didapati bahwa hipersekresi mukus merupakan suatu gejala yang paling sering terjadi pada PPOK, penelitian ini menunjukkan bahwa batuk kronis, sebagai mekanisme pertahanan akan hipersekresi mukus di dapati sebanyak 15-53% pada pria paruh umur, dengan prevalensi yang lebih rendah pada wanita sebanyak 8-22%3. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa menjelang tahun 2020 prevalensi PPOK akan meningkat sehingga sebagai penyebab penyakit tersering peringkatnya meningkat dari ke-12 menjadi ke-5 dan sebagai penyebab kematian tersering peringkatnya juga meningkat dari ke-6 menjadi ke-3. Di Eropa, tingkat kejadian PPOK tertinggi terdapat pada negara-negara Eropa Barat seperti Inggris dan Prancis, dan paling rendah pada negara-negara Eropa Selatan seperti Italia. Negara Asia Timur seperti Jepang dan China memiliki kejadian terendah PPOK, dengan jarak antara angka kejadian terendah dan tertinggi mencapai empat kali lipat4. Pada 12 negara Asia Pasifik, WHO menyatakan angka prevalensi PPOK sedang-berat pada usia 30 tahun keatas, dengan tingkat sebesar 6,3%, dimana Hongkong dan Singapura dengan angka prevalensi terkecil yaitu 3,5% dan Vietnam sebesar 6,7%. Indonesia sendiri belumlah memiliki data pasti mengenai PPOK ini sendiri, hanya Survei Kesehatan Rumah Tangga Depkes RI 1992 menyebutkan bahwa PPOK bersama-sama dengan asma bronkhial menduduki peringkat ke-6 dari penyebab kematian terbanyak di Indonesia1. Etiologi dan Faktor Resiko PPOK 1. Merokok Merokok sampai sekarang merupakan etiologi utama terjadinya PPOK. Hubungan inipun berkaitan langsung dengan jumlah rokok yang dihisap. Studi menunjukkan adanya perbaikan fungsi respirasi pada perokok yang berhenti merokok. Hubungan antara penurunan fungsi paru dengan intensitas merokok ini juga berkaitan dengan peningkatan kadar prevalensi PPOK seiring dengan pertambahan umur. Prevalansi merokok yang tinggi di kalangan pria menjelaskan penyebab tingginya prevalensi PPOK dikalangan pria. Sementara prevalensi PPOK dikalangan wanita semakin meningkat akibat peningkatan jumlah wanita yang merokok dari tahun ke tahun3.

Hal yang dapat membantu penilaian faktor resiko merokok pada PPOK antara lain : a. Riwayat merokok, dibagi atas : Perokok aktif Perokok pasif Bekas perokok b. Derajat berat merokok dengan Indeks Brinkman (IB), yaitu perkalian jumlah rata-rata batang rokok dihisap sehari dikalikan lama merokok dalam tahun : Ringan : 0-200 Sedang : 200-600 Berat : >600 2. Riwayat Pekerjaan Pada pekerja tambang, misalnya tambang batu bara, PPOK dapat terjadi disebabkan adanya inhalasi debu dari bahan tambang yang terakumulasi didalam paru dan dapat merusak jaringan paru. Respon inflamasi terhadap bahan asing inipun mengakibatkan terjadinya PPOK3.
3. Hiperresponsi Jalan Napas

Meskipun dianggap faktor resiko, hal ini semakin jarang diadaptasi karena sulit membedakannya dengan asma. Faktor resiko ini pertama sekali diajukan oleh Orie pada 1961 yang menganggap bahwa adanya hiperresponsi dan eosinofilia merupakan faktor penyebab terjadinya PPOK sehingga adanya riwayat alergi dan asma menjadi faktor resiko PPOK.3
4. Riwayat Infeksi Saluran Napas Bawah Berulang

Infeksi saluran pernafasan adalah faktor risiko yang berpotensi untuk perkembangan dan progresifitas PPOK pada orang dewasa. Dipercaya bahwa infeksi salur nafas pada masa anak-anak juga berpotensi sebagai faktor predisposisi perkembangan PPOK. Hal ini pertama diungkapkan oleh Fletcher dalam studi selama 8 tahun di Inggris pada tahun 1976, yang menjelaskan bahwa infeksi akut bronkopulmonar dapat menyebabkan penurunan fungsi paru dalam jangka pendek dan merupakan faktor penting dalam terjadinya eksaserbasi akut pada PPOK3.
5. Defisiensi Antitripsin Alfa 1

Alfa-1-antitripsin merupakan inhibitor protease yang diproduksi di hati dan bekerja menginhibisi neutrophil elastase di paru. Jika konsentrasi plasma alfa-1-antitripsin dibawah dari 1g/liter maka resiko berkemabangnya emfisema akan meningkat drastis dan menjadi PPOK. Defisiensi a1-antitripsin adalah satu-satunya faktor genetik yang berisiko untuk terjadinya PPOK. Hal ini pertama sekali dikemukakan oleh Laurell dan Eriksen pada 19633. 6. Polusi udara Beberapa peneliti melaporkan peningkatan gejala gangguan saluran pernafasan pada individu yang tinggal di kota daripada desa yang berhubungan dengan polusi udara yang lebih tinggi di kota. Meskipun demikian, hubungan polusi udara dengan terjadinya PPOK masih tidak bisa dibuktikan. Pemaparan terus-menerus dengan asap hasil industri dikatakan menjadi faktor risiko yang signifikan terjadinya PPOK pada kaum wanita di beberapa negara3,4.

Prognosis Prognosis pada pasien PPOK dapat dinilai dengan BODE Index, yang dikemukakan oleh Celli et al pada tahun 2004. BODE Index terdiri atas nilai FEV1/VEP1, jarak jalan yang dapat ditempuh dalam 6 menit, skala dispnea, dan indeks massa tubuh untuk menilai angka harapan hidup pasien PPOK. Skor yang didapat kemudian ditotalkan dan dibandingkan dengan kurva Kaplan-Meier berdasarkan hasil yang didapat5. Kuartil 1 jika skor total 0-2 Kuartil 2 jika skor total 3-4 Kuartil 3 jika skor total 5-6 Kuartil 4 jika skor total 7-10

Prognosis pada pasien PPOK sangat bergantung terhadap keberhasilan terapi untuk memperbaiki atau mempertahankan fungsi paru. Edukasi yang menyeluruh terhadap pasien dan keluarga pasien memegang peranan penting. Hal yang perlu diberitahukan kepada pasien adalah bahwa PPOK bersifat irreversibel, dan yang menjadi tujuan pengobatan adalah untuk mencegah progresifitas penyakit dan meningkatkan toleransi aktivitas pasien sebisa mungkin5. DAFTAR PUSTAKA 1. Penyakit Paru Obstruktif Kronis: Pedoman Praktis Diagnosis Dan Penatalaksanaan Di Indonesia. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2004. [http://www.klikpdpi.com/konsensus/konsensus-ppok/ppok.pdf] 2. Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease. Global Strategy for the Diagnosis, Management, and Prevention of Chronic Obstructive Pulmonary Disease. 2010. [http://www.goldcopd.org/Guidelines/guidelines-resources.html] 3. Macnee W. Chronic Bronchitis and Emphysema. In Seaton A, Seaton D, Leitch AG editors. Crofton and Douglass Respiratory Disease. Vol 1. 5th ed. London. Blackwell Science; 2000: Hal : 617-695. 4. Hasleton, P.S. Spencers Pathology of The Lung Fifth Edition. McGraw Hill.1996. pg : 598-599. 5. Bartolome R. Celli, M.D., Claudia G. Cote, M.D., Jose M. Marin, M.D., Ciro Casanova, M.D., Maria Montes de Oca, M.D., Reina A. Mendez, M.D., Victor Pinto Plata, M.D., and Howard J. Cabral, Ph.D .The Body-Mass Index, Airflow Obstruction, Dyspnea, and Exercise Capacity Index in Chronic Obstructive Pulmonary Disease.. N Engl J Med 2004; 350:1005-1012 . 2004