Anda di halaman 1dari 19

2.

2 Metode Perancangan Sistematis Metode perancangan sistematis adalah suatu metode pemecahan masalah teknik dengan menggunakan tahap demi tahap analisis dan sintesis. Analisis adalah penguraian suatu sistem yang kompleks menjadi elemen-elemen dan mempelajari karakteristik masing-masing elemen tersebut beserta kolerasinya. Sintesis adalah penggabungan elemen-elemen yang sudah diketahui karakteristiknya untuk menciptakan suatu sistem baru. Pada metode perancangan sistematis, suatu tahap merupakan kelanjutan dari tahap sebelumnya dan menjadi acuan bagi tahap berikutnya.Dengan tahap-tahap itu informasi yang bersifat kuantitatif diproses menjadi data yang bersifat kualitatif, dngan kata lain hasil suatu langkah baru selalu lebih nyata dari langkah-langkah sebelumnya. Pada kenyataannya kondisi ini tidak selalu tercapai sehingga seringkali dibutuhkan pengulangan kerja (interasi). Prosedur pemecahan masalah secara umum dapat ditunjukkan dalam skema pada gambar 2.1 dibawah ini.

Merancang merupakan suatu usaha untuk memenuhi permintaan yang dianggap cara paling sesuai untuk dilakukan. Merancang sebagai kegiatan teknik yang meliputi berbagai segi kehidupan manusia, tergantung pada penemuan dan hukum-hulum dari ilmu pengetahuan dan teknologi.

Merancang juga dapat membuat suatu keadaan yang dapat mengaplikasikan hukum-hukum tersebut menjadi suatu produk yang berdaya guna. Dalam merancang banyak dilibatkan berbagai disiplin ilmu seperti matematika, fisika, thermodinamika, mekanika, teknik produksi, ilmu logam dan lain sebagainya. Selain itu dalam merancang perlu juga dipelajari adanya keterkaitan yang ada pada sistem benda teknik yang akan dirancang, diantaranya : a. Kaitan fungsi (Functional Interrelationship) Maksud dari kaitan fungsi ini adalah keterkaitan antara masukan dan keluaran dari suatu sistem untuk melakukan kerja tertentu yang berhubungan dengan lingkungan sekitarnya. b. Kaitan kerja (Physical Interrelationship) Maksud dari kaitan kerja ini adalah adanya hubungan dimana kerja yang dilakukan adalah bagian dari proses fisika. Prosesfisika ini berdasarkan pada efek fisik. Adapun efek fisika ini dapat digambarkan secara kuantitatif yang artinya hukum fisika menentukan banyaknya efek fisika yang terlibat. Fenomena kimia dan biologi termasuk didalamnya. c. Kaitan Bentuk (Form Interrelationship) Maksud dari kaitan bentuk ini adalah perwujudan nyata dari bentuk dasar dan bahan menjadi suatu struktur bangunan, lengkap dengan penataan lokasi serta pemilihan gerak kinematika. d. Kaitan sistem (System Interrelationship) Maksud dari kaitan sistem ini bahwa bentuk teknik hasil rancangan merupakan suatu system yang berinteraksi dengan sistem yang lebih menyeluruh, yaitu lingkungan yang ada disekitarnya.

Langkah-langkah dalam metode perancangan sistematis ini dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat) tahap utama, antara lain Penjabaran Tugas, Perancangan Konsep, Perancangan Wujud dan Perancangan Terinci.

2.3 VDI 2221 Pada dasarnya tugas utama seorang sarjana teknik (Mesin) adalah menerapkan ilmu pengetahuan (Scientific Knowledge)nya untuk memperoleh suatu solusi ( pemecahan bagi masalah-masalah teknik), kemudian mengembangkan solusi tersebut menjadi solusi optimal untuk mengatasi kendala-kendala materi, teknologi dan ekonomi.

Maka dari itu dalam upaya memenuhi tugas tersebut tentu saja diperlukan suatu pola berpikir (bertindak) sistematik, kreatif yang diformulasikan dalam metode bekerja. Penggunaan metode demikian akan membantu sarjana teknik mesin dalam berinteraksi dengan kalangan disiplin ilmu lainnya, secara bersama-sama memecahkan masalah-masalah actual yang ada dilingkungannya. Mendesain berarti menjabarkan ide yang dimiliki untuk menyelesaikan suatu masalah. Dengan diperolehnya ide diperlukan suatu metode yang dapat dipergunakan untuk mewujudkan ide tersebut hingga menghasilkan sebuah karya yabg riil dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Hal ini mendorong Persatuan Insinyur Jerman (Verein Deutscher Ingenieure/VDI) membuat suatu metode perancangan produk yang dikenal dengan metode VDI 2221. Metode tersebut adalah Pendekatan Sistematik terhadap Desain untuk Sistem Teknik dan Produk Teknik ( Systematic Approach To The Design Of Technical System And Product) yang dijabarkan oleh G. Pahl dan W. Beitz. Di dalam skripsi ini penulis mencoba menjelaskan dan menjabarkan VDI 2221 agar lebih mudah dimengerti, kemudian menerapkannya untuk mendesain Meja Kerja yang dapat diatur ketinggiannya

2.3.1 Tujuan VDI 2221 Persaingan yang terjadi dalam membuat sistem dan produk teknik sangat ditentukan oleh ketepat-gunaan / efektivitasproses desainnya. Berbagai kebutuhan harus disesuaikan terhadap perusahaan, situasi pasar dan perkembanganteknologi. Ketiga macam kriteria tersebut harus dapat diatasi oleh suatu metode / sistem desain. VDI 2221 bersama dengan prinsip prinsip desain umum yang berlaku hingga saat ini membentuk suatu pedoman / metode yang tidak terkait kepada salah satu cabang industri tertentu. Tujuan yang ingin dicapai ialah merumuskan dan mengarahkan berbagai macam metode desain yang berkembang pesat akibat kegiatan riset. Diharapkan seorang pemakai dapat dengan cepat menguasai metode ini tanpa harus mempelajari secara terinci.

2.3.2 Langkah langkah kerja dalam VDI 2221 Secara keseluruhan langkah kerja yang terdapat dalam VDI 2221 terdiri dari 7(tujuh) tahap, yang dikelompokkan menjadi 4(empat) fase yaitu : 1. Penjabaran Tugas (Clarification of Task) Penjabaran Tugas ini meliputi informasi mengenai permasalahan dan kendala-kendala yang dihadapi. Kemudian disusun suatu daftar persyaratan mengenai rancangan yang akan dibuat. 2. Penentuan Konsep Rancangan (Conceptual Design) Pada Penentuan Konsep Rancangan ini meliputi tiga langkah kerja yaitu: 2.1 Menentukan Fungsi dan Strukurnya. 2.2 Mencari Prinsip Solusi dan strukturnya. 2.3 Menguraikan menjadi Varian yang dapat di Realisasikan. 3. Perancangan Wujud (Embodiment Design) Pada Perancangan Wujud ini dimulai dengan menguraikan rancanganke dalam modul-modul yang diikuti oleh desain awal dan desain jadi. 4. Perancangan Rinci (Detail Design)

Perancangan Rinci ini merupakan proses perancangan dalam bentuk gambar. Yang meliputi gambar yang tersusun dan gambar yang detail termasuk daftar komponen, spesifikasi bahan, toleransi dan lain sebagainya. Pada fase ini semua pekerjaan didokumentasikan sehingga pembuatan produk dapat dilaksaanakan oleh operator atau insinyur lain yang ditumjuk. Langkah-langkah kerja yang dikelompokkan dalam 4(empat)fase diatas dapat digambarkan dalam diagram alir berikut ini:

2.3.2.1 Penjabaran Tugas (Clarification of Task) Secara keseluruhan langkah kerja yang yang terdapat didalam VDI 2221 terdiri dari 7(tujuh) tahap, yang menghasilkan 7(tujuh) hasil pekerjaan.

Ketujuh langkah tersebut adalah : 2.3.2.1 Penjabaran Tugas (Clarification of Task) Pada langkah kerja Penjabaran Tugas ini dilakukan perumusan dan daftar persyaratan yang disesuaikan dengan kehendak konsumen dan perancang, yang diharapkan dipenuhi oleh solusi akhir. Informasi ini akan menjadi acuan penyusunan spesifikasi. Spesifikasi adalah daftar yang berisi persyaratan yang diharapkan mampu dipenuhi oleh konsep

yang sedang dibuat. Untuk mempermudah penyusunan spesifikasi, dapat dilakukan dengan meninjau aspek-aspek tertentu, seperti aspek geometri, kinematika, gaya, energi dan sebagainya. Dari aspek-aspek tersebut dapat diuraiakan syarat-syarat yang bersangkutan, selanjutnya merumuskan tugas yang harus dihadapi sehingga menjadi sesuai dengan kacamata seorang desainer. Spesifikasi ini merupakan suatu dokumen penting yang menjadi dasar dalam melaksanakan langkah kerja lainnya. Oleh karena itu spesifikasi harus selalu ditinjau dan diperbaharui. Untuk mempermudah pada tahap pekerjaan yang berikutnya, spesifikasi harus dilakukan secara teratur dan sistematik. Format dan daftar spesifikasi ditunjukkan pada tabel 2.1

Setelah spesifikasi diperoleh, maka dilakukan langkah-langkah abstraksi dan formulasi, yang bertujuan untuk menentukan bagian mana dari spesifikasi tersebut yang merupakan bagian penting dan berlaku umum. Pada saat melakukan langkah-langkah abstraksi dan formulasi, hal penting yang harus diperhatikan adalah membedakan sebuah persyaratan, apakah sebagai suatu tuntutan (Demand) atau keinginan (Wishes) Demand (Keharusan) adalah persyaratan yng harus terpenuhi pada setiap kondisi, atau dengan kata lain apabila persyaratan itu tidak terpenuhi maka perancangan dianggap tidak benar/gagal. Whises adalah persyaratan yang diinginkan apabila memungkinkan. Sebagai contoh suatu persyaratan membutuhkan biaya yang tinggi tanpa memberi pengaruh teknik yang besar, maka persyaratan tersebut dapat dihilangkan/diabaikan. Langkah kerja ini dilakukan perumusan kehendak yang disesuaikan dengan kehandak konsumen dan atau bagian Perencanaan Hasil Produksi (Product Planning Department) Pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan meliputi : a) Mengumpulkan informasi / data yang berhubungan dengan perencanaan, memeriksa kendala apa saja yang dihadapi.

b) Memeriksa kehendak-kehendak yang lain yang dapat menunjang pekerjaan. c) Menambah kehendak tertentu perusahaan d) Merumuskan tugas yang dihadapi sehingga menjadi sesuai dengan kacamata desainer. Hasil kerja yang diperoleh ialah Daftar Kehendak/requirementlist. Daftar kehendak ini harus tidak terikat dengan solusi (pemecahan).

requirement list Daftar kehendak merupakan dokumen penting, merupakan dasar dalam melaksanakan langkah kerja lainnya. Oleh sebab itu daftar kehendak harus selalu ditinjau ulang maupun diperbaharui. Penemuan penting dapat timbul dalam prosesdesain sebagai akibat modifikasi atau penambahan daftar kehendak.

Pentingnya daftar kehendak menyebabkan penanganannya harus teratur dan sistematik. Daftar kehendak yang sudah ditangani secara teratur dan sistematik dalam suatu format dinamakan Spesifikasi. Setelah spesifikasi diperoleh dilakukan langkah2 abstraksi dan formulasi. Tujuan dari abstraksi adalah untuk menentukan bagian mana dari spesifikasi yang yang merupakan bagian penting dan berlaku umum. Abstraksi dan formulasi akan mempermudah menentukan fungsi dan struktur fungsi. Abstraksi dan formulasi ialah sebagai berikut: 1. Keinginan / whises dihilangkan. 2. Keharusan-keharusan / Demands yang tidak menentukan fungsi untuk sementara dibuang. 3. Besaran kuantitatif diganti menjadi besaran kualitatif. 4. Formulasikan abstraksi 1-3. 5. Formulasikan abstraksi 4 menjadi solusi.

2.3.2.2 Penentuan Konsep Rancangan (Conceptual Design) Adapun yang dibahas dalam perancangan konsep ini meliputi, pembuatan struktur fungsi, pencarian dan kombinasi prinsip solusi, pemilihan kombinasi yang sesuai, pembuatan variankonsep,serta evaluasi.

2.3.2.2.1 Menentukan Fungsi dan Strukturnya (DetermineFunction and Their Structures) 2.3.2.2.1.1 Struktur Fungsi Keseluruhan (Overalle Function) Setelah masalah utama diketahui, kemudian dibuat struktur fungsi secara keseluruhan. Struktur fungsi ini digambarkan dengan blok diagram yang menunjukkan hubungan input dan output. Input dan output berupa aliran energi, material atau sinyal.

2.3.2.2.1.2 Sub Fungsi Apabila fungsi keseluruhan cukup rumit, maka cara untuk mengantisipasinya adalah membagi menjadi beberapa sub fungsi seperti pada gambar 2.4 dibawah ini. Pembagian ini akan memberikan keuntungan : - Memberikan kemungkinan untuk melakukan pencarian solusi lebih lanjut. - Memberikan beberapa buah kemungkinan solusi dengan melihat kombinasi solusi sub fungsi.

Pada saat pembuatan struktur fungsi, harus dibedakan antara perancangan murni (original design) dengan perancangan ulang (adaptive design).

Pada perancangan murni yang menjadi dasar struktur fungsi adalah spesifikasi dan masalah utama, sedang pada perancangan ulang perancangan dimulai dari struktur fungsi yang kemudian dianalisis. Analisis ini akan memberikan kemungkinan bagi pengembangan variasi solusi sehingga diperoleh solusi baru.

Pada langkah ini dilakukan : - Menentukan fungsi-fungsi Pada mulanya fungsi keseluruhan, kemudian apabila perlu fungsi bagian (sub functions). Fungsi ini kemudian disusun menjadi struktur-struktur fungsi, yang merupakan dasar untuk mencari prinsip solusi. Hasil kerja yang diperoleh ialah : Satu atau beberapa Struktur fungsi/Function structure. Struktur fungsi biasanya berupa gambar-gambar atau diagram-diagram sederhana.

2.3.2.2 Mencari Prisip Solusi dan Strukturnya. 2.3.3.2 Penentuan Konsep Rancangan (Conceptual Design) Adapun yang dibahas dalam perancangan konsep ini meliputi, pembuatan struktur fungsi, pencarian dan kombinasi prinsip solusi, pemilihan kombinasi yang sesuai, pembuatan varian konsep,serta evaluasi.

2.3.3.2.1 Menentukan Fungsi dan Strukturnya (DetermineFunction and Their Structures) 2.3.3.2.1.1 Struktur Fungsi Keseluruhan (Overalle Function)

Setelah masalah utama diketahui, kemudian dibuat struktur fungsi secara keseluruhan. Struktur fungsi ini digambarkan dengan blok diagram yang menunjukkan hubungan input dan output. Input dan output berupa aliran energi, material atau sinyal. 2.3.3.2.1.2 Sub Fungsi

Apabila fungsi keseluruhan cukup rumit, maka cara untuk mengantisipasinya adalah membagi menjadi beberapa sub fungsi seperti pada gambar 2.4 dibawah ini. Pembagian ini akan memberikan keuntungan : - Memberikan kemungkinan untuk melakukan pencarian solusi lebih lanjut. - Memberikan beberapa buah kemungkinan solusi dengan melihat kombinasi solusi sub fungsi. Pembuatan Subfungsi Pada saat pembuatan struktur fungsi, harus dibedakan antara perancangan murni (original design) dengan perancangan ulang (adaptive design).

Pada perancangan murni yang menjadi dasar struktur fungsi adalah spesifikasi dan masalah utama, sedang pada perancangan ulang perancangan dimulai dari struktur fungsi yang kemudian dianalisis. Analisis ini akan memberikan kemungkinan bagi pengembangan variasi solusi sehingga diperoleh solusi baru.

Pada langkah kerja ini dilakukan : a. Mencari prinsip solusi untuk seluruh fungsi bagian maupun fungsi bagian yang terpenting dari struktur fungsi. b. Memilih efek-efek fisika, kimia dan lain-lain dalam upaya memperoleh prinsip solusi. Pengaruh-pengaruh diatas harus dapat direalisasikan ketika mencapai tahap desain keseluruhan (embodiment design)

Hasil kerja yang diperoleh ialah : Prinsip solusi (Principle solution), biasanya berbentuk sketsa, diagram, sirkuit atau diskripsi. 2.3.2.2.2 Mencari Prinsip Solusi dan Strukturnya. Dasar-dasar pemecahan masalah diperoleh dengan mencari prinsip-prinsip solusi dari masingmasing sub fungsi. Dalam tahap ini dicari sebanyak mungkin variasi solusi. Metode pencarian prinsip pemecahan masalah menurut Pahl-eitz dibagi kedalam 3(tiga) kategori yaitu :

a. Metode Konvesional

Metode ini meliputi pencarian dalam literatur, text book, jurnal-jurnal teknik dan brosur yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan. Menganalisa gejala alam atau tingkah laku makhluk hidup dengan membuat analogi atau dibuat suatu model ini dapat mewakili karakteristik dari produk.

b. Metode Intuitif

Solusi dengan intuisi ini datang setelah periode pencarian dan pemikiran panjang, solusi ini kemudian dikembangkan dan diperbaiki. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kemampuan intuisi ini antara lain dengan banyak melakukan diskusidengan orang lain.

c. Metode Kombinasi

Metode ini mengkombinasikan kemungkinan solusi yang ada. Metode yang dapat igunakan adalah metode bentuk matrik, dimana sub fungsi dan prinsip solusi dimasukkan dalam kolom dan baris.

Secara sistematis sesuai dengan struktur fungsi. Jika ada sejumlah m1 prinsip solusi untuk fungsi F1, m2 prinsip solusi untuk sub fungsi F2, dan seterusnya mn prinsip solusi untuk sub fungsi Fm maka setelah dilakukan untuk memenuhi fungsi keseluruhan(Overall Function), prinsip-prinsip solusi harus dikombinasikan. Kombinasi secara teoritis akan dapat diperoleh sejumlah N varian konsep solusi, dimana : N = m1 x m2 x ......xmn

2.3.2.2.3Mengurai menjadi varian yang dapat direalisasi Apabila kombinasi yang ada terlalu banyak maka untuk memilih kombinasi terbaik menjadi lama. Agar tidak terjadi hal tersebut, maka apabila memungkinkan jumlah kombinasi harus dikurangi. Prosedur yang dilakukan adalah dengan mengeleminasi dan memilih yang terbaik. Dibawah ini ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan diantaranya : -Kesesuaian dengan fungsi keseluruhan. -Terpenuhinya demand yang tercantum dalam daftar spesifikasi. -Dapat dibuat atau diwujudkan. -Pengetahuan atau informasi tentang konsep yang bersangkutan memadai. -Kebaikan dalam kinerja dan kemudahan produksi. -Kemudahan dirakit -Kemudahan perawatan

-Faktor biaya -Segi keamanan dan kenyamanan. -Kemungkinan Pengembangan lebih lanjut 2.3.2.2.3.1 Pembuatan Varian Konsep Informasi lebih lanjut sangat diperlukan untuk pembuatanvarian konsep yang akan dilakukan.

Informasi ini dapat diperoleh dari: 1. Gambar atau sketsa untuk melihat kemungkinankeserasian. 2. Perhitungan kasar berdasarkan asumsi yang dipakai. 3. Pengujian awal berupa pengujian model untuk menemukan sifat utama atau pendekatan kuantitatif untuk persyaratan kualitatif mengenai kinerja dari suatu produk jadi. 4. Konstruksi model untuk visualisasi dan analisis.

5. Analogi model dan simulasi yang sering dilakukan dengan bantuan komputer. 6. Penelitian lebih lanjut dari literatur. 2.3.2.2.3.2 Evaluasi Evaluasi berarti menentukan nilai, kegunaan atau kekuatan yang kemudian dibandingkan dengan sesuatu yang dianggapa ideal. Dalam keteknikan, salah satu metode yang biasa dipakai adalah metode VDI 2225. Secara garis besar, langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut : 1. Menentukan kriteria evaluasi (Identification of evaluationcriteria ) yang didasarkan pada spesifikasi yang dibuat. 2. Pemberian bobot kriteria (Weighing of evaluation criteria) Langkah ini merupakan kriteria yang dipilih yang mempunyai tingkat pengaruh yang berada pada tingkat varian konsep. Sebaiknya evaluasi dititikberatkan pada sifat utama yang diinginkan pada solusi akhir. 3. Menentukan parameter kriteria evaluasi (Compilingparameter) Agar perbandingan setiap varian kosep dapat dilihat dengan jelas, maka dipilih suatu parameter atau besaran yang dipakai oleh varian konsep. 4. Memasukkan nilai parameter (Assesing value), sebaiknya harga yang dimasukkan adalah harga nomonal, tetapi apabila hal itu tidak dimungkinkan, maka VDI 2225 memberikan harga korelasi dan harga kualitatif tersebutsebagai contoh ditunjukkan pada tabel 2.2 (Ref; G.PahlW.Bits, hal 350)

5. Menentukan nilai keseluruhan varian konsep (Determining Overall Weighing Value/OWV) Nilai keseluruhan untuk varian konsep dapat dihitung dengan rumus : OWV = --W1 Vv Dimana : W1 = bobot kriteria evaluasi ke j Vv = nilai kriteria evaluasi ke j

6. Memperkirakan ketidakpastian evaluasi (Evaluationuncertainities) Kesalahan evaluasi bisa disebakan oleh beberapa hal, diantaranya : - Kesalahan subyektif, seperti kurangnya informasi. - Kesalahan perhitungan parameter. 7. Apabila terdapat nilai OWV yang berdekatan dari 2(dua)varian konsep, maka akan dilakukan evaluasi titik lemah (Weak spot) Dengan menggunakan metode evaluasi diatas, maka diharapkan akan diperoleh solusi yang cukup memuaskan. 2.3.2.3 Peranjangan Wujud Perancangan wujud dimulai dengan konsep produk teknik, kemudian dengan menggunakan kriteria teknik dan ekonomi, perancangan dikembangkan dengan menguraikan struktur fungsi kedalam struktur modul untuk memperoleh elemen-elemen pembangun struktur fungsi yang memungkinkan dapat dimulainya perancangan yang lebih rinci.

Langkah ini dapat menjadi umpan balik pada langkah sintesis untuk pencarian alternative solusi yang lebih baik. Analisa diikuti evaluasi dimana dapat timbul kemungkinan perlu dibuatnya model atau protipe untuk dapat mengukur kinerja,kualitas, kemudahan dan beberapa kriteria lain dari hasil perancangan.

Tahap Perancangan Wujud ini meliputi beberapa langkah perancangan, yaitu menguraikan menjadi modul-modul, memberi bentuk pada mudul, memberi bentuk pada seluruh modul. 2.3.2.3.1 Mengurai menjadi modul-modul Pada langkah kerja ini, prinsip-prinsip solusi yang diperoleh pada langkah sebelumnya dikombinasikan sehingga menjadi struktur modul.

Hasil kerja yang diperoleh ialah : Struktur modul/Module Structure. Berbeda dengan struktur fungsi atau prinsip solusi, strukturmodul merupakan bentuk awal dari peralihan solusi menjadi system bagian (sub systems) dan bagian-bagian (system elemen). Struktur modul biasanya berbentuk gambar-gambar, diagram alir, diagram sirkuit atau diagram alir perangkat lunak (softwareflowchart) 2.3.2.3.2 Memberi bentuk pada modul Pada langkah kerja ini dilakukan mengembangkan rancangan/layout dari modul-modul.Ukuranukuran geometri dan perincian-perincian lainnya mula-mula dicantumkan pada modul-modul utama, terbatas hanya untuk memperoleh modul yang terbaik. Hasil kerja yang diperoleh adalah : Rancangan awal dari modul-modul utama (key modules) Perancangan awal berbentuk : Gambar-gambar berskala, diagram sirkuit dan sebagainya. 2.3.2.3.3 Memberi bentuk pada seluruh modul. Pada langkah kerja ini rancangan awal yang diperoleh pada langkah kerja sebelumnya disempurnakan dengan cara menambahkan informasi rinci mengenai perakitan dan komponen yang dipakai. Kadang-kadang dapat pula diperolehmodul baru dalam melakukan pekerjaan ini, setelah dilakukan pemeriksaan, misalnya pemeriksaan terhadap standart. Hasil kerja yang diperoleh ialah : Rancangan keseluruhan.

Rancangan berupa semua informasi penting mengenai konfigurasi pelaksanaan produksi. Bentuk-bentuk utamadari rancangan ialah : gambar-gambar berskala, daftar komponen utama, diagram alir instrumen dan sebagainya. 2.3.2.4 Perancangan Rinci Tahap ini merupakan akhir metode perancangan sistematis yang berupa presentasi hasil. Pada langkah kerja ini, dilakukan pekerjaan-pekerjaan : Merinci gambar akhir, termasuk gambar terperinci mengenai tiap-tiap bagian/ elemen dari produk, kekasaran permukaan, toleransi dan sebagainya.

Merinci setiap data perakitandan data-data lain yang berhubungan dengan persiapan produksi/pembuatan.

Hasil kerja yang diperoleh : Dokumentasi produk (Produk document) Dokumentasi produk berbentuk : gambar rincian, daftar komponen, data-data perakitan, pemeriksaan, transportasi unjuk kerja dan sebagainya. Pada setuap langkah kerja diatas, beberapa variasi solusi dianalisa dan apabila perlu diperiksa/ diuji dalam bentuk model/prototype, kemudian dievaluasikan kembali. Kegatan seleksi, optimasi dan pengambilan keputusan terjadi pada tiap langkah kerja. Perlu dirinci lebih lanjut.

Pada akhir tahap ini dievaluasi kembali untuk melihat apakah produk mesin atau sistem teknik tersebut benar-benar sudah memenuhi spesifikasi dan semua gambar-gambar dokumen produk lainnya telah selesai dan lengkap BAB III KONSEP PERANCANGAN Perancangan Meja Kerja yang dapat diatur ketinggiannya ( Height Adjustment Table )

3.1 Tugas Merancang Meja Kerja yang mampu memberikan rasa nyaman kepada si pemakai.

3.2 Penjabaran Tugas ( Clarification of Task ) 3.2.1 Latar belakang Perancangan Pada umumnya orang yang bekerja di kantor menghabiskan lebih banyak waktunya di belakang meja. Suatu hal yang dilakukan secara rutin selama bertahun tahun itu pastilah menimbulkan kejenuhan. Namun disisi lain, tuntutan beban kerja seringkali membuat seorang karyawan tak bisa mengambil jeda dan tanpa sadar waktupun berlalu dengan cepat. Berangkat dari masalah tersebut diatas maka penulis merancang meja kerja yang nyaman

digunakan agar pemakainya tidak merasa cepat lelah karena hal ini dapat mempengaruhi produktivas kerja. Disini fungsi yang lebih diutamakan, baru kemudian desain mengikuti fungsi tersebut, Meski nyaman digunakan meja kerja harus disesuaikan dengan suasana kerja yang memang harus dilakukan si pemakai untuk menunjang pekerjaan. 3.2.2 Daftar Kehendak Sebelum kita mencapai spesifikasi, kita belum mengetahui gambaran secara garis besar mengenai bagaimanakah bentuk meja kerja yang dapat diatur ketinggiannya dan apa yang akan dicapai dengan adanya meja kerja tersebut. Oleh sebab itu disusunlah daftar kehendak. Daftar kehendak mula-mula dicantumkan secara acak kemudian disusun secara sistematik dan akhirnya dicantumkan ke dalam suatu format yang disebut spesifikasi. Tahap pertama dikumpulkan ide-ide yang dikehendaki, yang keadaannya masih belum teratur, ide-ide tersebut sebagai berikut: a. Meja nyaman digunakan. b. Meja dapat diatur ketinggiannya. c. Mudah dirakit dan dibongkar. d. Hemat ruang, meja tidak menyita banyak tempat. e. Komponen pelengkap mudah diganti, ringkas dan ringan. f. Biaya pembuatan tidak mahal. g. Dalam pembuatannya banyak menyerap tenaga kerja. h. Ketergantungan terhadap tehnologi luar negeri seminimal mungkin. i. Dapat dibuat secara massal. j. Gaya dan momen digunakan seefisien mungkin. k. Di usahakan tidak terlalu kompleks. l. Pengoperasiannya relatif mudah. m. Dapat dioperasikan oleh satu orang. n. Aman bagi pengguna. o. Perawatan mudah.

p. Memenuhi kriteria keindahan. q. Dapat dikembangkan sesuai kebutuhan. r. Mudah di pindah-pindahkan. s. Dapat dibuat dibengkel menengah. t. Bila terjadi kerusakan dapat diperbaiki ditempat. u. Rangka harus kokoh. v. Tahan terhadap korosi. w. Bahan tersedia di dalam negeri. Tabel Daftar Kehendak Meja Kerja Seluruh data yang berkaitan dengan tugas, yaitu tujuan pemecahan, sifat yang harus dimiliki, Didefinisinikan secara lengkap dan jelas menjadi daftar kehendak seperti pada pada tabel 3.1 berikut ini : 3.2.3 Abstraksi Meja Kerja Setelah daftar kehendak selesai dibuat, maka dilakukan abstraksi I dan II langkah demi langkah untuk mendefinisakan kemasan pokoknya hasil dari abstraksi daftar kehendak yang dapat dilihat pada sub bab berikut ini : 3.2.2.1 Abstraksi I dan II Meja Kerja Pada abstrak I seluruh keinginan pada daftar kehendak dihilangkan untuk sementara waktu. Pada abstrak II keharusan yang tidak memiliki hubungan langsung pada fungsi dan kendala pokok dapat diabaikan. Hasil dari abstraksi I dan II dapat dilihat pada tabel 3.2. 3.2.3.2 Abstraksi III Meja Kerja

Abstraksi III mentransformasikan data kuantitatif menjadi data kualitatif yang penting. Dari pengabstraksian yang ketiga ini, maka dapat disimpulkan bahwa meja kerja yang diinginkan adalah : a. Sebuah meja kerja yang dapat dinaik-turunkan.

b. Ukuran proporsional c. Nyaman digunakan d. Memenuhi kriteria keindahan. e. Biaya pembuatan tidak mahal.

3.2.3.3 Abstraksi IV Meja Kerja Pada abstraksi IV merupakan langkah lanjutan dengan memformulasikan abstraksi III menjadi bentuk yang lebih umum. Hasil abstraksi IV adalah meja kerja yang dapat dinaik-turunkan ketinggiannya, dengan ukuran yang proportional dan nyaman digunakan serta memenuhi kriteria keindahan dengan biaya pembuatan yang tidak mahal.

3.2.3.4 Abstraksi V Meja Kerja Pada Abstraksi V ini merupakan langkah menetralisasi seluruh masalah dengan memformulasikan tugas menjadi bebas solusi. Hasil Abstraksi V adalah Meja Kerja yang memenuhi standar ukuran yang dibutuhkan industri. 3.2.4 Struktur Fungsi Struktur Fungsi didefinisikan sebagai hubungan secara umum antara input dan output suatu sistem teknik yang akan menjalankan satu tugas tertentu, sedangkan fungsi keseluruhan adalah kegunaan dari suatu alat tersebut. Fungsi keseluruhan ini kemudian diuraikan menjadi beberapa sub fungsi yang mempunyai tingkat kesulitan lebih rendah. Sehingga sub fungsi merupakan tugas yang harus dijalankan oleh komponen-komponen yang menyusun alat tersebut. Rangkaian dari beberapa sub fungsi untuk menjalankan suatu tugas keseluruhan disebut sebagai struktur fungsi. Tujuan menetapkan stuktur fungsi adalah untuk memperoleh suatu definisi yang jelas dari sub

sistem yang ada sehingga dapat diuraikan secara terpisah. 3.2.4.1 Fungsi Keseluruhan Fungsi ini digambarkan dengan diagram balok yang menunjukkan hubungan antara masukan dan keluaran dimana masukan dan keluaran tersebut berupa aliran energi, material dan sinyal.