Anda di halaman 1dari 95

Pendahuluan

PENDAHULUAN

A. Deskripsi Singkat Di Indonesia tugas untuk memungut dan mengamankan penerimaan negara dari sektor impor atau ekspor menjadi tugas dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Kegiatan lalu lintas barang impor atau ekspor dapat dijadikan alasan bagi suatu negara untuk memungut bea dan pajak untuk kepentingan kas negara. Untuk

memudahkan penetapan tarif atas barang impor , barang harus diklasifikasi dalam satu sistem klasfikasi barang , dimana jenis barang yang ada di dunia ini disusun dan dikelompokkan secara sistematis dengan tujuan untuk mempermudah penarifan perdagangan. Sistem klasifikasi barang adalah suatu daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis dengan tujuan untuk mempermudah penarifan perdagangan. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang bertugas mengawasi pemasukan dan pengeluaran barang ke dan dari wilayah negara Republik Indonesia. Oleh karena itu setiap pegawai Bea dan Cukai seyogyanya mengetahui jenis dan jumlah setiap barang yang masuk maupun keluar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia

B. Tujuan Instruksional Umum Setelah mempelajari bahan ajar ini, para Mahasiswa mampu mengklasifikasi

berbagai jenis barang berdasarkan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia dengan benar.

C. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mempelajari bahan ajar ini para Mahasiswa mampu: 1. menjelaskan Harmonized System 2. menjelaskan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia 3. menjelaskan Asean Harmonized Tariff Nomenclature

Pendahuluan

4. menjelaskan pengelompokan barang berdasarkan Harmonized System 5. menjelaskan jenis catatan dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia 6. menjelaskan dan menerapkan Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System dalam mengklasifikasi barang 7. menerapkan tahapan dalam mengklasifikasi Barang 8. membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang 9. menjelaskan catatan penting dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia

Harmonized System

KEGIATAN BELAJAR I HARMONIZED SYSTEM

A. Tujuan Intruksional Khusus Setelah mempelajari Bab 1 bahan ajar ini, para Mahasiswa mampu menjelaskan: 1. sejarah Sistem Klasifikasi di Indonesia 2. alasan penggunaan 3. tujuan Harmonized System 4. publikasi pelengkap Harmonized System 5. sistem pengkodean

B. Uraian Klasifikasi barang adalah suatu daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis dengan tujuan untuk mempermudah pentarifan, transaksi perdagangan, pengangkutan dan statistik. Berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undangundang Kepabenan Indonesia Nomor 10 tahun 1995 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang no. 17 tahun 2006, penetapan klasifikasi barang diatur

lebih lanjut oleh Menteri Keuangan. Pada saat ini sistem pengklasifikasian barang di Indonesia didasarkan pada Harmonized System dan dituangkan dalam bentuk suatu daftar tarif yang kita kenal dengan sebutan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia.

1. Sejarah Sistem Klasifikasi di Indonesia Sebelum a. diberlakukannya Harmonized System, Indonesia telah menggunakan beberapa sistem klasifikasi untuk barang impor, yaitu: Sistem Jenewa (Geneve Nomenclature), yang berlaku sejak kemerdekaan Republik Indonesia sampai dengan 31 Desember 1972. b. Sistem Brussel (Brussel Tariff Nomenclature atau BTN), mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 1973 sampai dengan 30 Juni 1975.

I.1

Harmonized System

c.

Sistem Brussel Edisi 1975 (BTN 1975).

Penetapan tarif ini merupakan

penyempurnaan dari penetapan tarif sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 Juli 1975 sampai dengan 30 september 1980. d. Sistem Customs Cooperation Council (CCCN). Pada dasarnya sistem

pentarifan ini sama dengan sistem sebelumnya, hanya pada sistem CCCN ini terdapat penyempurnaan sistem penomoran pada sub-pos dari dua digit menjadi tiga digit atau semula 6 digit menjadi 7 digit. Sistem CCCN ini mulai diberlakukan pada tanggal 1 Oktober 1980 sampai dengan 31 Maret 1985.

e.

Sistem CCCN Edisi 1985 (CCCN 1985). Sistem ini merupakan penyempurnaan dari sistem CCCN sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 April 1987 sampai dengan 31 desember 1988.

f.

Sistem Harmonisasi (Harmonized System). Sistem ini diterapkan di Indonesia berdasarkan PP No. 26 tahun 1988 dan diwujudkan dalam bentuk Buku Tarif Bea Masuk Indonesia 1989 dan dinyatakan berlaku mulai tanggal 1 Januari 1989 dan dinyatakan berlaku mulai tanggal 1 Januari 1989. Selanjutnya mulai 1 januari 1996 menggunakan BTBMI dengan HS versi 1996, mulai tanggal 1 Mei 2003 menggunakan BTBMI dengan HS versi 2002 dan BTBMI 2004 berdasarkan ASEAN Harmonised Tariff Nomenclature dengan HS tetap versi 2002. Saat ini menggunakan HS versi 2007 mulai 1 Januari tahun 2007

2. Alasan Penggunaan Sejak tahun 1970, Customs Cooperation Council (CCC) yang sekarang dikenal dengan nama World Customs Organisation (Organisasi Pabean Dunia) telah membentuk suatu kelompok studi yang berusaha untuk menciptakan suatu nomenklatur klasifikasi barang yang tidak semata-mata untuk keperluan pabean, tetapi juga digunakan untuk kepentingan lain seperti statistik, pengangkutan, dan negosiasi perdagangan. Pada akhir tahun 1986, kelompok studi tersebut berhasil menyusun suatu nomenklatur (daftar klasifikasi barang berdasarkan kelompok-kelompok) yang dinamakan Harmonized Commodity Description and Coding System atau lebih dikenal dengan sebutan Harmonized System (HS). Untuk memberikan kekuatan hukum yang pasti, nomenklatur tersebut disahkan dalam suatu konvensi yang dikenal dengan nama Konvensi HS.

I.2

Harmonized System

Pada awalnya, konvensi HS ditandatangani oleh 70 negara yang sebagian besar adalah negara Eropa. Namun sekarang hampir seluruh negara di dunia telah meratifikasi konvensi ini, termasuk Indonesia yang telah meratifikasi konvensi HS dengan Keppres Nomor 35 tahun 1993. tanggal 1 Januari 1989. Meskipun baru meratifikasi pada tahun

1993, sebenarnya Indonesia telah menggunakan BTBMI berdasarkan HS sejak

3. Tujuan Harmonized System Adanya perbedaan sistem klasifikasi tarif antara negara di dunia,

mengakibatkan timbulnya kesulitan dalam mengantisipasi kemajuan teknologi, perkembangan masyarakat industri dan pola perdagangan Internasional. Menyadari hal yang demikian WCO pada tanggal 14 Juni 1983 meluncurkan HS yang mulai berlaku secara internasional pada tanggal 1 Januari 1988, dengan tujuan: a. Memberikan keseragaman dalam daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis, untuk penetapan Tarif Pabean secara mendunia. b. Memudahkan pengumpulan, pembuatan dan analisis Statistik perdagangan dunia, dan; c. Memberikan Sistem Internasional yang resmi untuk pemberian Kode, Pen seperti tarif jelasan dan penggolongan barang untuk tujuan perdagangan

pengangkutan, keperluan pengangkutan, dokumentasi dan sebagainya. d. Memperbaharui sistem klasifikasi barang sebelumnya, untuk memberikan perhatian kepada perkembangan teknologi dan masyarakat industri serta pola perdagangan Internasional. Mengapa HS dijadikan dasar klasifikasi secara internasional? Ada beberapa keuntungan yang didapat setiap negara yang mengadopsi HS sebagai pedoman klasifikasi barang, yaitu: a. HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional. b. c. HS menggunakan dasar yang seragam untuk keperluan pentarifan secara internasional. Menggunakan bahasa pabean sehingga dapat dengan mudah dimengerti oleh importir, eksportir, produsen, pengangkut, dan aparat bea dan cukai.

I.3

Harmonized System

d. e.

Sederhana dan memberikan kepastian dalam hal aplikasi dan interpretasi yang benar dan sama untuk keperluan negosiasi. Merupakan kumpulan data yang seragam secara internasional sehingga dapat digunakan untuk mendukung analisis dan statistik perdagangan internasional.

HS telah dibuat sedemikian rupa sehingga standard klasifikasi barang dan sistem kode penomoran barang dapat dijadikan acuan untuk berbagai kebutuhan oleh berbagai lembaga internasional yang berkaitan dengan perdagangan, misalnya: a. World Customs Organization (WCO). b. The International Chamber or Shipping (ICS). c. The International Air Transport Association (IATA). d. The International Union Railway (IUR). e. The Standard International Trade Classificatioan (SITC) 4. Publikasi Pelengkap HS Harmonized System mempunyai beberapa publikasi pelengkap yang digunakan untuk lebih mempermudah klasifikasi barang. Publikasi-publikasi tersebut juga diterbitkan oleh WCO. Publikasi dimaksud adalah: a. The Explanatory Notes to the Harmonized System (EN) Explanatory Notes bukan merupakan bagian yang integral dari HS, namun sebagaimana disetujui WCO, explanatory notes merupakan interpretasi resmi (official interpretation) dari HS pada level internasional dan merupakan pelengkap yang sangat penting dari HS. Explanatory Notes adalah referensi yang sangat diperlukan untuk mendapatkan interpretasi yang benar dari HS. Karena pentingnya Explanatory Notes ini, sebagian anggota WCO mensahkannya sebagai dokumen yang berkekuatan hukum. Seiring perkembangan teknologi, Explanatory Notes juga mengalami perubahan

(amandemen) untuk menyesuaikan isinya dengan struktur HS. Untuk itu membaca Explanatory Notes harus selalu disesuaikan dengan konteksnya dalam HS. Explanatory Notes yang digunakan saat ini adalah edisi keempat (tahun 2007) yang terdiri dari lima volume, yaitu Vol. 1 (Bab 1 28), Volume 2 (Bab 29- 43), Volume 3 (Bab 44 70), Volume 4 (Bab 71 84) dan Volume 5 (Bab 85 97).

I.4

Harmonized System

b. The Alphabetical Index Untuk mempermudah mengklasifikasikan suatu barang pada pos-pos atau sub-sub pos dalam nomenklatur HS atau Explanatory Notes, WCO juga menerbitkan buku indeks yang dikenal dengan nama the Alphabetical Index. Alphabetical Index terdiri dari dua volume, yaitu Volume I (A L) dan Volume II (M Z). c. Publikasi Publikasi lain yang merupakan pelengkap HS adalah the Compendium of Classification Opinions, the Harmonized System Commodity Data Base (dalam bentuk CD-ROM), Dispute Settled Classification Opinion, the Training Modules, dan Correlation Tables. 5. Sistem Pengkodean Harmonized System mempunyai dua karakteristik yang sangat mendasar, yaitu: a. Multipurpose nomenclature HS yang mempunyai 6 digit penggolongan, dirancang tidak hanya untuk keperluan kepabeanan, namun juga dipergunakan secara internasional dalam bidang lain seperti negosiasi perdagangan, pengangkutan, 5egara5ic, dan sebagainya. Masing-masing negara penandatangan konvensi (contracting party) dapat mengembangkan penggolongan 6-digit tersebut menjadi kelompok yang lebih spesifik sesuai dengan kebijaksanaan ekonomi dan industrinya. Dengan tetap berdasar kepada HS 6-digit, semua negara mempunyai kesatuan persepsi tentang pengklasifikasian suatu barang. b. Structured nomenclature HS adalah nomenklatur yang terdiri dari 21 Bagian, 96 Bab (+ Bab 77), dan 1.241 pos. HS yang tersusun dari pos dan sub-pos, bersama dengan Ketentuan Umum Menginterpretasi, Catatan Bagian, Catatan Bab, dan Catatan Sub-Pos, merupakan pedoman mengklasifikasi barang yang sistematik dan seragam. Ada tiga Bab yang belum digunakan dalam HS yang ada saat ini, yaitu Bab 77, 98, dan 99. Bab 77 dipersiapkan untuk keperluan di masa mendatang, sedangkan Bab 98 dan

I.5

Harmonized System

99 digunakan untuk keperluan khusus bagi masing-masing contracting party, misalnya untuk barang pos atau peralatan pelayaran. Indonesia juga menggunakan Bab 98 untuk keperluan ekspor barang tertentu yang pada bulan April 1999 dicabut kembali. Seperti telah disinggung sebelumnya, Harmonized System mempunyai tiga bagian utama atau integral, yaitu: 1) Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System (General Rules for the Interpretation of the HS). Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan bagian terpenting yang harus dipahami sebelum melangkah lebih jauh untuk meng klasifikasikan barang menggunakan HS. KUM HS berisi enam prinsip dasar yang harus dipatuhi dalam mengklasifikasi barang. Mengingat pentingnya memahami KUM HS, bagian ini akan dibahas tersendiri. 2) Catatan Bagian, Catatan Bab, dan Catatan Sub-Pos. 3) Pos (4-digit) dan Sub-pos (6-digit) yang disusun dengan sistematik. HS menggunakan kode nomor dalam mengklasifikasikan barang. Kode-kode nomor tersebut mencakup uraian barang yang tersusun secara sistematis. Sistem penomoran dalam HS terbagi menjadi Bab (2-digit), pos (4-digit), dan sub-pos (6digit) dengan penjelasan sebagai berikut:

01 __

01

10 Bab (Chapter) 1 Pos (Heading) 01. 01 Sub-pos (Sub-heading) 0101. 10

_______ ______________

1) Dua angka pertama untuk menunjukkan pada bab

mana barang itu

diklasifikasikan. Pada contoh di atas, barang dimaksud diklasifikasikan pada Bab 1. 2) Empat angka pertama menunjukkan Pos atau Heading dalam setiap bab. Pada contoh di atas, barang dimaksud diklasifikasikan pada pos 01.01. 3) Enam angka pertama menunjukkan Sub Pos dalam setiap Pos. Pada contoh di atas, barang dimaksud diklasifikasikan pada sub-pos 0101.10. Untuk keperluan nasional, Indonesia menggunakan sistem penomoran 10

I.6

Harmonized System

digit dalam BTBMI yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari sub-sub pos dalam HS. Penjelasan mengenai hal ini akan dibahas lebih rinci pada penjelasan berikutnya.

C. Rangkuman a. Klasifikasi barang adalah suatu daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis dengan tujuan untuk mempermudah pentarifan transaksi perdagangan, pengangkutan dan statistik. Berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undang-undang Kepabenan Indonesia Nomor 10 tahun 1995 sebagaimanan telah diubah dengan Undang-undang no. 17 tahun 2006. Pada saat ini

sistem pengklasifikasian barang di Indonesia didasarkan pada Harmonized System dan dituangkan dalam bentuk suatu daftar tarif yang kita kenal dengan sebutan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. b. Perbedaan sistem klasifikasi tarif antara negara di dunia, mengakibatkan timbulnya kesulitan dalam mengantisipasi kemajuan teknologi, perkembangan masyarakat industri dan pola perdagangan Internasional. WCO meluncurkan HS yang mulai berlaku secara internasional pada tanggal 1 Januari 1988. HS menggunakan kode nomor dalam mengklasifikasikan barang. c. Kode nomor tersebut mencakup uraian barang yang tersusun secara sistematis. Untuk keperluan nasional, Indonesia menggunakan sistem penomoran 10 digit dalam BTBMI yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari sub-sub pos dalam HS.

D. Latihan 1

I.7

Harmonized System

Pertanyaan 1. Apa yang dimaksud dengan Harmonized 1. System ? 2. Landasan hukum penggunaan Harmonized 2. System sebagai dasar Sistem

Jawaban

pengklasifikasian pada BTBMI 3. Apa tujuan Harmonized System 3.

4. Bagaimana sistem penomoran Harmonized 4. System ? 5. Sebutkan bahan publikasi yang merupakan 5. pelengkap HS ?

I.8

Buku Tarif Bea Masuk Indonesia

KEGIATAN BELAJAR II BUKU TARIF BEA MASUK INDONESIA

A. Tujuan Instruksional Setelah mempelajari bab II, para

Mahasiswa mampu menjelaskan: 1. dasar hukum penggunaan 2. struktur 3. kode penomoran dan pentakikan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia

B. Uraian 1. Dasar Hukum Pada akhir tahun 1995, Pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat telah berhasil membahas dan menyetujui Rancangan Undang-Undang Kepabeanan, yang kemudian dikenal dengan nama Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan saat ini telah diamandemend dengan UU no. 17 tahun 2006 . Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang ini menyebutkan bahwa Untuk penetapan tarif Bea Masuk, dan Bea Keluar barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi barang. Selanjutnya berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undang-undang tersebut, penetapan klasifikasi barang ditentukan oleh Menteri Keuangan. Pengaturan lebih lanjut penentuan klasifikasi barang dilakukan dengan memperhatikan: a. b. c. Upaya peningkatan daya saing produk Indonesia dipasar Internasional. Perlindungan terhadap konsumen dalam negeri. Pengurangan hambatan dalam perdagangan Internasional guna mendukung terciptanya perdagangan bebas.

II.1

Buku Tarif Bea Masuk Indonesia

d.

Pemenuhan perjanjian serta kesepakatan Internasional. Atas dasar pertimbangan di atas, Pemerintah menerbitkan Keputusan

Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 440/KMK.05/1996 tanggal 21 Juni 1996 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Besarnya Tarif Bea Masuk Atas Barang Impor. Dalam Pasal 1 Keputusan ini disebutkan Untuk penetapan tarif Bea Masuk, barang barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi The Harmonized

sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1993 tentang Pengesahan International Convention Commodity Description and Coding System beserta protocol-nya. Indonesia telah menjadi anggota World Customs Organization, yang sebelumnya dikenal dengan nama Customs Cooperation Council sejak tanggal 30 April 1957. Sebagai anggota WCO, Indonesia telah menunjukkan peran serta yang aktif dalam kegiatan WCO dan telah banyak menarik manfaat dari organisasi ini. Berbagai bantuan teknis dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan sistem dan prosedur kepabeanan Internasional, telah diterima oleh Indonesia. Berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 35 tahun 1993, Indonesia telah menjadi Contracting Party dari International Convention on the Harmonized Commodity Description and Coding Sistem. Sebagai tindak lanjutnya , berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 81/KMK.05/1994 tanggal 16 Maret 1994 telah ditetapkan bahwa terhitung sejak 1 April 1994 , struktur Klasifikasi barang dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI) mengacu kepada sistem klasifikasi dari HS Convention. Berdasarkan Artikel XVI HS Convention, World Customs Organization telah mengesahkan amandemen lampiran konvensi, yang semula mempergunakan HS versi 1992, menjadi HS versi 1996. Menindaklanjuti adanya amandemen HS 1996 tersebut, Pemerintah pada tanggal 29 Desember 1995 telah mengeluarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 639/KMK. 01/1995 yang merupakan: a. Dasar penggunaan sistem klasifikasi barang berdasarkan HS versi 1996. b. Dasar penetapan besarnya tarif bea masuk (bea bersama bea masuk) untuk barang bersangkutan. c. Penyempurnan Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Republik masuk tambahan dilebur

Indonesia Nomor 26 Tahun 1988 tentang Perubahan dan Tambahan atas

II.2

Buku Tarif Bea Masuk Indonesia

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia

Nomor 6 Tahun 1969 tentang

Pembebasan atas Impor dan Perubahan atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 1986 tentang Bea Masuk Tambahan Atas Barang Impor. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 639/KMK.01/1995 di atas selanjutnya dijabarkan dalam bentuk penerbitan BTBMI edisi tahun 1996. Hingga saat ini BTBMI 1996 dimaksud telah beberapa kali diubah atau direvisi sesuai dengan perkembangan kebijaksanaan nasional. BTBMI terakhir dengan BTBMI tahun 2007 menggunakan HS versi 2007 berdasarkan AHTN.

2. Struktur Pada bab terdahulu kita telah mempelajari gambaran umum tentang Harmonized System. Sekarang kta akan mempelajari tentang BTBMI. BTBMI

adalah buku tarif bea masuk yang digunakan di Indonesia semenjak 1989 yaitu, beberapa tahun sebelum Indonesia meratifikasi HS Convention dan saat ini yang berlaku adalah BTBMI 2007 berdasarkan AHTN. BTBMI tidak lain adalah HS yang dimodifikasi atau dijabarkan lebih lanjut untuk digunakan dalam pentarifan dan penanganan barang impor ke Indonesia. BTBMI mempunyai struktur sebagai berikut:

a. Kolom: 1) Kolom pertama adalah kolom Pos/Subpos/Pos Tarif yang mencantumkan nomor pos/subpos sebagai berikut : a) 4 (empat) dan 6 (enam) digit pertama berasal dari teks Harmonized SystemWorld Customs Organization (HS-WCO); b) c) 8 (delapan) digit berasal dari teks AHTN; 10 (sepuluh) digit merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia, kecuali: (1) yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8711.10.11.00 ) berasal dari teks AHTN; (2) yang 4 digit terakhirnya 00.00 ( misalnya 8713.10.00.00) berasal dari teks HS WCO.

II.3

Buku Tarif Bea Masuk Indonesia

(3) 4 (empat), 6 (enam) dan 10 (sepuluh) digit pada bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia.

2) Kolom kedua adalah kolom Uraian Barang dalam bahasa Indonesia yang disusun dengan pola sebagai berikut: a) Uraian barang pada pos (4 digit) dan subpos (6 digit) merupakan terjemahan dari teks HS-WCO; b) Uraian barang pada subpos ASEAN (8 digit) merupakan terjemahan dari teks AHTN; c) Uraian barang pada pos tarif nasional (10 digit) merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia, kecuali : yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8708.99.11.00 berasal dari teks AHTN; yang 4 digit terakhirnya 00.00 ( misalnya 8713.10.00.00) berasal dari teks HS WCO. d) Khusus uraian barang dalam bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia.

3) Kolom ketiga adalah kolom Description of Goods dalam bahasa Inggris yang disusun dengan pola sebagai berikut : a) Uraian barang pos (4 digit) dan subpos (6 digit) merupakan teks HS-WCO dalam bahasa Inggris; b) Uraian barang pada subpos ASEAN (8 digit) merupakan teks AHTN dalam bahasa Inggris; c) Uraian barang pada pos tarif nasional (10 digit) merupakan terjemahan dari teks bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris, kecuali : (1) yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709.10.21.00 ) merupakan teks AHTN; (2) yang 4 digit terakhirnya 00.00 ( misalnya 8709.11.00.00 ) merupakan teks asli d) HS WCO. e) Khusus uraian barang dalam bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia.

II.4

Buku Tarif Bea Masuk Indonesia

4) Kolom keempat adalah kolom Bea Masuk Umum yang mencantumkan pembebanan tarif bea masuk atas barang impor berlaku umum berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 547/KMK.01/2003 tanggal 18 Desember 2003; 5) Kolom kelima adalah kolom Bea Masuk CEPT yang mencantumkan pembebanan tarif bea masuk yang berlaku untuk impor barang dari negaranegara ASEAN dalam rangka Skema CEPT berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 546/KMK.01/2003 tanggal 18 Desember 2003; 6) Kolom keenam adalah kolom PPN yang mencantumkan pembebanan tarif PPN berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000; 7) Kolom ketujuh adalah kolom PPnBM yang mencantumkan pembebanan tarif PPnBM yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 569/KMK.04/2000 dan Nomor 570/KMK.04/2000 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 39/KMK.03/2003 tanggal 28 Januari 2003 dan Nomor 355/KMK.03/2003 tanggal 11 Agustus 2003; 8) Kolom kedelapan adalah kolom Larangan/Pembatasan yang mencantumkan ketentuan larangan atau pembatasan barang impor berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 230/MPP/KEP/7/1997 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 62/MPP/KEP/02/2001 dan tata niaga impor dan peredaran bahan berbahaya tertentu ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 254/MPP/KEP/7/2000, serta ketentuan instansi teknis lainnya; 9) Kolom kesembilan adalah kolom Keterangan yang disediakan untuk mencantumkan keterangan tambahan yang dianggap perlu dan ketentuan lain yang belum ditampung pada kolom-kolom sebelumnya. a) Pencantuman tanda strip (-) pada kolom pembebanan tarif ditujukan untuk hal-hal sebagai berikut:

II.5

Buku Tarif Bea Masuk Indonesia

(1) Tanda strip (-) pada kolom Bea Masuk CEPT berarti komoditi pada pos tarif bersangkutan tidak termasuk dalam skema CEPT; (2) Tanda strip (-) pada kolom PPN atau PPnBM berarti komoditi pada pos tariff bersangkutan tidak dikenakan pembebanan PPN atau PPnBM. b) Pencantuman tanda asterisk (*) pada kolom pembebanan tarif ditujukan untuk hal-hal sebagai berikut: (1) Pencantuman tanda satu asterisk (*) pada kolom Bea Masuk Umum berarti pembebanan impornya mengikuti tarif pada pos tarif 87.01 sampai dengan 87.05; (2) Pencantuman tanda satu asterisk (*) pada kolom PPN, PPnBM dan Larangan/Pembatasan berarti pengenaan PPN, PPnBM dan

pemberlakuan ketentuan larangan/pembatasan berlaku hanya terhadap sebagian jenis barang atau sebagian kelompok barang dalam pos tarif bersangkutan;

c) Catatan Penjelasan

Tambahan

(SEN)

merupakan

pedoman

dalam

menginterpretasikan pengertian maupun istilah teknis barang yang tercantum dalam Subpos pos tarif tertentu. Apabila terdapat keraguan dalam menginterpretasikan teks yang tercantum dalam Catatan Penjelasan Tambahan (SEN), maka yang mengikat secara hukum adalah teks asli SEN dalam bahasa Inggris. Nomor Pos tarif (10-digit) dan uraiannya, besarnya BM, PPN, dan PPnBM ditetapkan oleh Menteri Keuangan. PTNI (Peraturan Tata Niaga Impor) ditetapkan oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Perlu diingat bahwa selain BM yang tercantum dalam BTBMI, terdapat juga BM Anti Dumping yang ditetapkan tersendiri oleh Menteri Keuangan. Bea Masuk Anti Dumping berlaku di Indonesia sejak tanggal 1 April 1996 berlandaskan Undang-Undang Nomor 17 tahun 2006 dan Undang-Undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan sesuai pasal 18, 19 dan 20.

3. Kode Penomoran dan Pentakikan a. Sistem Penomoran

II.6

Buku Tarif Bea Masuk Indonesia

Sistem penomoran klasifikasi dalam BTBMI menggunakan 10-digit dengan susunan 6 digit pertama mengacu pada konvensi HS, 2 digit selanjutnya mengacu kepada AHTN dan 2 digit terakhir adalah pecahan pos system nasional. Untuk memahami system penomoran tersebut, perhatikan contoh berikut:

0705.11.00.00

Selada kubis (selada bongkahan)

1) Dua digit pertama (07) menunjukkan Bab. Bab 07 : Sayuran, akar dan bonggol tertentu yang dapat dimakan. 2) Empat digit pertama (0705) menunjukkan Pos. Pos 07.05: Selada (Lactuca sativa) dan chicory (Chicorium spp.), segar atau dingin. 3) Enam digit pertama (0705.10) menunjukkan Sub-pos yaitu selada. Sub-pos 0705.10 dipecah menjadi 0705.11 dan 0705.19: 0705.10: - Selada 4) Sepuluh digit pertama (0705.11.00.00) menunjukkan Pos Tarif 0705.19.00.00 : - - Lain-lain)

b. Sistem Takik Selain menggunakan sistem nomor, HS/BTBMI juga menggunakan sistem takik (dash, -) untuk mengklasifikasi barang, dengan penjelasan sebagai berikut: 1) Pos (4-digit) tidak diberi takik. 2) Penggunaan satu takik (-) dimulai pada uraian Sub-pos (6-digit). 3) Bila uraian pada butir b dipecah, digunakan dua takik (- -). 4) Bila uraian pada butir c dipecah lagi, digunakan tiga takik (- - -), demikian seterusnya sehingga diperoleh pengelompokan barang yang lebih rinci. Di bawah ini disajikan contoh sistem takik dengan menggunakan contoh yang sudah ada (pos tarif 0705.11.000):

07.05 Selada (Lactuca sativa) dan chicory (Chicorium spp.), segar atau dingin). 0705.10 - Selada Ingat, dalam HS/BTBMI sub-pos 0705.10 tidak dicantumkan karena sub-pos tersebut dipecah lagi menjadi sub-pos 0705.11 dan 0705 19.

II.7

Buku Tarif Bea Masuk Indonesia

0705.11.00.00

-- Selada kubis (selada bongkolan).

Apabila pos tarif 0705.11 dipecah lagi menjadi pos tarif yang lebih rinci, khusus untuk negara Indonesia, maka digunakan pemecahan menggunakan tiga takik pada digit 9 dan 10, misalnya: 0705.11.00.10 - - - Segar 0705.11.00.20 - - - Dingin Namun apabila ASEAN misalnya akan membagi dari subpos 0705.11. maka: 0705.11.10.00 - - - Segar 0705.11.20.00 - - - Dingin Perlu diperhatikan bahwa kadang-kadang nomor sub-pos atau pos tarif yang dipecah lebih lanjut tidak dicantumkan secara eksplisit dalam BTBMI, contoh: 1) sub-pos 0705.10, dalam BTBMI tidak dicantumkan (hanya dicantumkan uraian barangnya yaitu: - selada) karena sub-pos tersebut dipecah lebih lanjut menjadi 0705.11 dan 0705.19. 2) Dalam HS/BTBMI hanya ada dua jenis barang, yaitu barang tertentu dan lainlain. Kedua jenis barang tersebut dapat dipecah kembali lagi menjadi dua

kelompok di atas (barang tertentu dan lain-lain) yang lebih spesifik. 3) Setiap kelompok barang di atas (baik dalam pos, sub-pos, maupun pos tarif) dibagi atau dirinci dengan dua cara, yaitu barang tertentu A - barang tertentu B atau barang tertentu A - barang lainnya (lain-lain). Contoh: Barang tertentu A - barang tertentu B : Pos 07.07 (Ketimun dan ketimun acar, segar atau dingin) dibagi menjadi ketimun dan ketimun acar saja. Barang tertentu A - barang lainnya (lain-lain). Pos 07.01 (Kentang, segar atau dingin) dibagi menjadi bibit dan lain-lain. 4) Bila pos dipecah menjadi sub-sub pos, perhatikan digit kelima dan keenam. Barang tertentu mempunyai kode 10, 20, 30, ..., 80. Pemecahan pos tarif (10-digit) juga mengikuti pola di atas. Mari kita lihat contoh berikut: 39.01 3901.10 3901.10.30.00 3901.10.90 -Polimer dari etilena, dalam bentuk asal. - Polietilena berat jenis kurang dari 0,94: - Dalam bentuk cair atau pasta - Lain-lain

II.8

Buku Tarif Bea Masuk Indonesia

3901.10.90.10 3901.10.90.90 3901.20.00.00

- Butiran - Lain-lain - Polietilena dengan berat jenis 0,94 atau lebih

Untuk pemecahan pos tarif, perhatikan dua digit terakhir. 5) Barang tertentu mempunyai kode 10, 20, ..., 30; 6) Barang lainnya (lain-lain) diberi kode 90. 7) Bila kode 10 dipecah lagi menjadi lebih rinci, digunakan digit kesembilan, yaitu menjadi 11, 12, ..., 19. 8) Demikian juga kode 90 bila dipecah menjadi 91, 92, ..., 99. 4. Arti kata lain-lain Dalam klasifikasi BTBMI dengan sistem HS kata Lain-lain, berfungsi untuk menampung barang yang belum disebut pada uraian jenis barang sebelumnya. Kata lain-lain terdapat pada Bab, Pos, Sub-Pos dan Pos Tarif Nasional Untuk dapat memahami arti kata Lain-lain , perhatikan hal-hal berikut ini: a. bandingkan kelompok barang lain-lain dimaksud dengan kelompok barang yang setara. b. apabila kata lain-lain dimaksud terdapat pada bab, bandingkan dengan uraian barang pada bab-bab terdahulu. c. apabila kata lain-lain dimaksud terdapat pada pos, bandingkan dengan uraian barang pada pos-pos terdahulu dalam bab yang sama. d. apabila kata lain-lain dimaksud terdapat pada sub-pos, bandingkan dengan uraian barang pada sub-sub pos terdahulu, dalam pos yang sama. e. apabila kata lain-lain dimaksud terdapat pada pos tarif, bandingkan dengan uraian barang pada pos-pos tarif terdahulu, pada sub-pos yang sama. Metode di atas dapat difahami dengan lebih mudah apabila kita dapat menggambarkannya dalam bentuk diagram pohon, sehingga akan jelas kelompok barang mana yang akan dibandingkan dengan barang lain-lain barang lain-lain yang ingin kita ketahui. Di bawah ini disajikan mengetahui kelompok barang yang termasuk lain-lain dengan menggunakan metode diagram pohon dengan contoh sebagai berikut: A A1

II.9

Buku Tarif Bea Masuk Indonesia

A2 Lain-lain (1) B1 B2 Lain-lain (2) C1 C2 Lain-lain (3)

a. Barang A dibagi menjadi barang A1, A2, dan Lain-lain (1); b. Barang Lain-lain (1) dibagi menjadi barang B1, B2, dan Lain-lain (2). c. Barang Lain-lain (2) dibagi menjadi barang C1, C2, dan Lain-lain (3).

Cara membaca: a. Lain-lain (3): barang selain C1 dan C2, yang termasuk dalam Lain-lain (2). b. Lain-lain (2): barang selain B1 dan B2, yang termasuk dalam Lain-lain (1). c. Lain-lain (1): barang selain A1 dan A2, yang termasuk dalam barang A. Jadi, Lain-lain (3) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan A2, selain B1 dan B2, selain C1 dan C2. Lain-lain (2) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan A2, selain B1 dan B2. Lain-lain (3) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan A2. Dengan sedikit latihan menggunakan BTBMI, pengertian kata lain-lain tersebut akan dapat dengan mudah dimengerti. Dalam diktat ini pengertian lain-lain dibatasi pemahamannya sebatas berkaitan dengan uraian jenis barang pada judul Bab, Pos, Sub-pos maupun Pos tarif nasional, tanpa dikaitkan dengan catatan Bagian, catatan Bab, maupun catatan Sub-pos. Di bawah ini disajikan beberapa contoh pengertian kata lain-lain yang terdapat dalam BTBMI: a. Judul Bab Bab 63: Barang tekstil sudah jadi lainnya .... Secara singkat makna kata lainnya berfungsi untuk menampung barang tekstil sudah jadi yang belum disebutkan pada bab-bab sebelumnya dalam Bagian XI. Secara lebih rinci judul bab tersebut dapat diuraikan menjadi Tekstil dan barang tekstil, selain yang telah disebutkan pada Bab 50 sampai dengan

II.10

Buku Tarif Bea Masuk Indonesia

Bab 62. b. Judul Pos Pos 01.06: Binatang hidup lainnya. Kata lainnya dalam pos ini berfungsi untuk menampung binatang hidup yang belum disebutkan pada pos-pos sebelumnya. Secara lebih rinci uraian pos tersebut dapat diuraikan menjadi: Binatang hidup, 1) selain kuda, keledai, bagal dan hinnies, selain binatang sejenis lembu, selain babi 2) selain biri-biri dan kambing 3) selain unggas dari jenis: ayam spesies Gallus domesticus, bebek, kalkun dan ayam mutiara c. Judul Sub Pos Sub-pos 0102.90 : - Lain-lain Kata lain-lain dalam sub-pos ini berfungsi untuk menampung binatang sejenis lembu, hidup yang belum disebutkan pada sub-sub pos sebelumnya. Secara lebih rinci uraian dalam sub-po stersebut dapat diuraikan menjadi: Binatang hidup 1) selain kuda, keledai, bagal dan hinnies, 2) termasuk binatang sejenis lembu, namun bukan untuk bibit

C. Rangkuman

1. Indonesia telah menjadi Contracting Party dari International Convention on the Harmonized Commodity Description and Coding Sistem. berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 35 tahun 1993. Sebagai tindak lanjutnya struktur Klasifikasi barang dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI)

II.11

Buku Tarif Bea Masuk Indonesia

mengacu kepada sistem klasifikasi dari HS Convention 2. Sistem penomoran klasifikasi dalam BTBMI menggunakan 10-digit dengan susunan 6 digit pertama mengacu pada konvensi HS dan 2 digit terakhir adalah pecahan pos tarif nasional. Selain menggunakan sistem nomor, HS/BTBMI juga menggunakan sistem takik (dash, -) untuk mengklasifikasi barang 3. Dalam klasifikasi BTBMI dengan sistem HS kata Lain-lain, berfungsi untuk menampung barang yang belum disebut pada uraian jenis barang sebelumnya. Kata lain-lain terdapat pada Bab, Pos, Sub-Pos dan Pos Tarif Nasional.

Dengan sedikit latihan menggunakan BTBMI, pengertian kata lain-lain tersebut akan dapat dengan mudah dimengerti D. LATIHAN

1. Menjawab Pertanyaan

Pertanyaan 1. Pasal berapa dalam Undang-undang no. 10 1. tahun 1995 sebagaimana telah diamandemen dengan Undang-undang no. 17 tahun 2006 yang berkaitan dengan klasifikasi barang ?

Jawaban

2. Apa isi Buku Tarif Bea Masuk Indonesia ?

2.

3. Apa yang dimaksud dengan sistem pentakikan 3. dalam penomoran HS ?

4. Bagaimana cara membaca pengertian kata Lain-lain dalam BTBMI ?

4.

5. Pada digit ke berapa angka yang dapat diubah oleh ASEAN dan Indonesia ?

2. Betul atau Salah.

II.12

Buku Tarif Bea Masuk Indonesia

a. Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah. 1) ( B-S) Untuk mengklasifikasi barang diperlukan data

mengenai nama, jenis dan spesifikasi lainnya secara akurat. Informasi mengenai barang tersebut dapat kita peroleh melalui : kondisi fisik, brosur, sertificate of analysis, label kemasan dan data lainnya.

2)

(B-S )

Customs Cooperation Council di Brussels pada

tanggal 14 Juni 1983 menghasilkan Konvensi Internasional tentang The Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) dan mulai berlaku di Indonesi sejak tanggal 1 Januari 1988 3) (B-S) HS bersifat harmonis karena standard

klasifikasi dan sistem kode penomoran barang digunakan untuk berbagai kepentingan, seperti Pabean, statistik, perdagangan internasional dan pengangkutan laut, udara dan kereta api. Salah satu tujuan HS adalah untuk memberikan ketidak seragaman secara internasional penggolongan barang dalam tarif pabean 4) (B-S ) Apabila terdapat perbedaan sistem klasifikasi

pada setiap negara akan memperpanjang waktu untuk penetapan bea masuk dan pengeluaran barang impor di pelabuhan. Fungsi dasar HS adalah untuk memberikan

keseragaman dalam mengklasifikasi barang guna memberikan kemudahan pada perdagangan internasional 5) (B-S) Ditinjau dari fungsi pengklasifikasian, struktur

HS terdiri dari : KUM HS ; Catatan Bagian, Bab dan Subheading ; Heading, sub-heading dan penomoran hingga ke

II.13

Buku Tarif Bea Masuk Indonesia

Pos tarif (10 digit). Kekuatan hukumnya yang utama adalah catatan dan uraian barangnya. b. Pilihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut a, b, c, atau d ) 1. Untuk penetapan tarif bea masuk, barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi barang. Bunyi kalimat diatas sesuai dengan UU no. 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaiman telah diubah dengan UU no. 17 tahun 2006 pada : a. pasal 14 b. pasal 15 c. pasal 16 d. pasal 17 2. The Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) mulai berlaku secara internasional sejak : a. tanggal 1 Januari 1989 b. tanggal 1 Agustus 1988 c. tanggal 31 Januari 1988 d. tanggal 11 Januari 1989 3. Untuk mengklasifikasi barang, dikenal prosedur umum untuk mengklasifikasi barang. Prosedur tahap pertama dalam mengklasifikasi barang ialah ......... a. memahami BTBM b. mengidentifikasi jenis barang c. menentukan klasifikasi dalam BTBMI d. menentukan bea masuk

4.

Penetapan jenis barang dilakukan dalam rangka ......... a. deskripsi barang b. melihat bab terkait

II.14

Buku Tarif Bea Masuk Indonesia

c. penetapan tarif dan harga barang d. menentukan pajak 5. Pencantuman besarnya Bea Masuk pada Buku Tarif Bea Masuk Indonesia : a. mengikuti surat Keputusan Menteri Keuangan RI b. besaran bea masuk tetap sepanjang masa c. selalu berubah sesuai keadaan d. berpatokan kepada WCO dalam digit ke 5 dan 6

6.

The Harmonized Commodity Description and Coding System atau HS, diterbitkan oleh.. a. WTO b. WCO c. CCC d. CTI

7.

Untuk penetapan tarif bea masuk, saat ini Indonesia menggunakan Harmonized System berdasarkan Harmonized System versi 2007 dan .... a. Convensi Tariff Nomenclature b. Asean Harmonized Tariff Nomenclature c. Asean tariff commodity d. Internasional Tariff Nomenclature

8.

Sistem penomoran dalam BTBMI 2007 selain digunakan untuk keperluan klasifikasi dan pembebanan tariff bea masuk atas barang impor, dapat digunakan juga untuk .. a. klasifikasi barang ekspor b. pungutan yang berkaitan dengan ekspor c. statistik dan perdagangan d pernyataan a, b dan c benar

9.

Buku Tarif Bea Masuk Indonesia menggunakan HS versi 2007

II.15

Buku Tarif Bea Masuk Indonesia

diberlakukan sejak tanggal : a. 1 Januari 2002 b. 1 April 2003 c. 1 Januari 2004 d 1 Januari 2007 10. Lajur yang menunjukan besarnya tarif Bea Masuk pada BTBMI ada 2 buah, lajur CEPT digunakan bagi barang yang memiliki form D dan berasal dari negara a. Malaysia b. ASEAN c. Jepang d. Eropa

II.16

Asean Harmonized Tariff Nomenclature

KEGIATAN BELAJAR III ASEAN HARMONIZED TARIFF NOMENCLATURE

A. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mempelajari Bab III, Mahasiswa mampu menjelaskan: 1. Latar belakang terjadinya Asean Harmonized Tariff Nomenclature (AHTN) 2. Sasaran AHTN

3. Struktur
B. Uraian 1. Latar Belakang Dengan adanya Amandemen Harmonized System Tahun 2002, Menteri Keuangan R.I. telah menetapkan kebijakan sistem klasifikasi dan pos tarif atas barang impor yang baru sesuai dengan Amandemen HS 2002 melalui keputusan nomor 96/KMK.01/2003 tanggal 13 Maret 2003 yang secara efektif mulai diberlakukan pada tanggal 1 Mei 2003. Keputusan Menteri Keuangan tersebut merupakan dasar Buku Tarif Bea Masuk Indonesia 2003. Dalam perkembangan terakhir, sehubungan dengan telah ditandatanganinya Protocol Governing the Implementation of the ASEAN Harmonized Tariff

Nomenclatur (AHTN) oleh Menteri Keuangan, maka seluruh negara anggota ASEAN diwajibkan memberlakukan struktur klasifikasi AHTN. AHTN mempunyai struktur 8 digit (berbeda dengan struktur klasifikasi pada BTBMI 2003). Struktur klasifikasi AHTN ini berlaku seragam untuk seluruh negara ASEAN. Indonesia akan menerapkan AHTN dengan menambahkan dua digit terakhir untuk keperluan statistik, sehingga yang akan diberlakukan adalah struktur klasifikasi berbasis AHTN dengan komposisi 10 digit. BTBMI 2004 yang berbasis AHTN disusun atas dasar adanya kesepakatan

III.1

Asean Harmonized Tariff Nomenclature

ASEAN untuk menyusun common harmonized tariff nomenclature. Latar belakang AHTN itu sendiri antara lain adalah adanya: a. Kerjasama ASEAN di bidang Kepabeanan b. Forum Pertemuan Tingkat ASEAN c. Pertemuan Pembahasan AHTN Protocol Government on the implementation of AHTN: a. Disahkan oleh Menteri Keuangan ASEAN pada 7 th ASEAN Finance Ministers Meeting yang diselenggarakan di Manila pada tanggal 7 s.d. 8 Agustus 2003. b. Memuat ketentuan pokok pelaksanaan AHTN, salah satunya menegaskan bahwa AHTN dilaksanakan selambat-lambatnya 1 Januari 2004. 2. Sasaran AHTN Hal-hal yang harus diperhatikan dalam Protocol : a. AHTN adalah sistem klasifikasi barang yang diterapkan secara seragam pada negara anggota ASEAN yang dilaksanakan dengan prinsip Transparacy, Consistency, Effisince dan Appeals. b. Salah satu kewajiban negara anggota ASEAN adalah harus menerapkan AHTN sampai dengan tingkat 8-digit untuk tarif semua transaksi perdagangan, untuk pengumpulan data statistik dan tujuan lainnya. c. Negara-negara anggota ASEAN dapat memecah AHTN pada level 8-digit untuk pengumpulan data statistik atau tujuan non-tarif lainnya. ASEAN Harmonized Tariff Nomenclature (AHTN) adalah harmonisasi sistem klasifikasi barang yang akan diberlakukan di negara-negara anggota ASEAN mulai tanggal 1 Januari 2004. AHTN adalah pengembangan dari sistem klasifikasi barang berdasarkan HS berupa penambahan 2 digit setelah 6-digit HS melalui prinsip : a. b. c. d. Nilai perdagangan dipakai sebagai kriteria (US $ 1 juta/tahun) Menghilangkan pos tarif untuk kepentingan importir Menghindarkan pos tarif pemakaian akhir (end-use) Menggunakan prosedur kepabeanan yang normal untuk kasus khusus

III.2

Asean Harmonized Tariff Nomenclature

(misal; larangan, pembebasan diplomatik) e. Mengelompokkan ke dalam satu pos tarif bila bea masuk untuk sejumlah produk tertentu sama f. Menyederhanakan uraian barang dan ketentuan dalam Catatan Penjelasan Tambahan/ Suplementary Explanataory Notes (SEN)

3.

Sasaran Penerapan AHTN

a. Mempermudah dan menyederhanakan transaksi perdagangan di ASEAN b. Membuat ketentuan yang jelas dan transparan yang mengatur penerapan AHTN, Catatan Penjelasan, serta amandemen c. Meningkatkan transparansi dalam proses klasifikasi barang di ASEAN d. Menciptakan Nomenklatur yang sesuai dengan standar internasional e. Menyederhanakan Nomenklatur

4.

Struktur BTBMI 2004 Sedangkan penerapan pada AHTN, sistem klasifikasi barang impor negara

ASEAN sepakat untuk menggunakan 2-digit tambahan untuk keperluan nasional, sehingga BTBMI 2004 mempunyai struktur 10-digit.

XXXX.XX.XX.XX

6-digit Subpos HS WCO Subpos ASEAN

Pos tarif nasional

Hal-hal yang berkaitan dengan struktur tarif dan uraian barang, dan termasuk besarnya pembebanan tarif Bea Masuk pada 2-digit pos tarif nasional tersebut tetap terikat pada 8-digit subpos ASEAN termasuk perubahannya. Materi pokok BTBMI-2004 terdiri atas :

III.3

Asean Harmonized Tariff Nomenclature

a.

Sistem klasifikasi barang impor ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 545/KMK.01/2003 Desember 2003; tanggal 18

b.

Pembebanan tarif

bea masuk atas barang impor

yang ditetapkan Nomor

berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia 547/KMK.01/2003 tanggal 18 Desember 2003; c.

Pembebanan tarif bea masuk atas barang impor dalam rangka skema Common Effective Preferential Tariff (CEPT) for AFTA ditetapkan Indonesia

berdasarkan Lampiran Keputusan Menteri Keuangan Republik Nomor 546/KMK.01/2003 tanggal 18 Desember 2003; d. Besarnya pembebanan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) berdasarkan Undang-undang Nomor 8 tahun 1983 tentang Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Mewah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tambahan Lembaran Negara beberapa kali diubah terakhir tahun 2000 (Lembaran Negara 128, Tambahan Lembaran e. Nomor dengan

ditetapkan Pajak

Penjualan atas Barang Tahun 3264) 1983 Nomor Nomor 51, telah 18 sebagaimana

Undang-undang

Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor

Negara Nomor 3986); Indonesia Nomor telah Keuangan

Pembebanan tarif Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik 569/KMK.04/2000 dan Nomor 570/KMK.04/2000 beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Republik Indonesia Nomor 39/KMK.03/2003 dan Nomor 355/KMK.03/2003 tanggal 11

sebagaimana Menteri

tanggal 28 Januari 2003 Agustus 2003; lain diubah

f.

Ketentuan larangan/pembatasan impor barang tertentu yang antara Nomor 230/MPP/KEP/7/1997 sebagaimana telah beberapa kali

ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan

terakhir dengan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 751/MPP/KEP/11/2002 berbahaya tertentu Perindustrian dan Juni 2003 dan tata niaga impor dan peredaran bahan berdasarkan Keputusan Menteri

ditetapkan

Perdagangan Nomor 418/MPP/KEP/6/2003 tanggal 17

serta peraturan instansi teknis lainnya;

III.4

Asean Harmonized Tariff Nomenclature

g.

Catatan Penjelasan Tambahan (Supplementary Explanatory Notes/SEN) yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Masuk Indonesia 2004 digunakan sebagai pelengkap penjelasan teknis terhadap barang-barang tertentu yang BTBMI 2004. Tabel III-1 Perbandingan Struktur Klasifikasi dan Pos Tarif Buku Tarif Bea dalam untuk memberikan diuraikan

BTBMI 2003 21 Bagian Bab Pos (4 digit) Subpos WCO (6 digit) Subpos AHTN (8 digit) Pos Tarif (9 digit) Pos Tarif (10 digit) 7.548 98 1.247 5.225

BTBMI 2004 21 98 1.247 5.225 10.689 11.165

Tabel III-2 Perbandingan Struktur Tarif Bea Masuk Umum

Bea Masuk (%) 0

BTBMI 2003

BTBMI 2004

2.333 1.638 21.70% 4.338 3.477 46.07% 1.709 1.173 15.54%

20,90 % 38,85 % 15,31 %

10

III.5

Asean Harmonized Tariff Nomenclature

15 984 20 25 30 35 40 45 50 60 65 70 75 80 90 170 Rp. 430/kg Rp. 550/kg Rp. 700/kg (*) Total 145 36 5 5 12 16 3 4 3 2 1 3 3 23 5 1 6 3 7.548 13.04% 1.92% 0.48% 0.07% 0.07% 0.16% 0.21% 0.04% 0.05% 0.04% 0.03% 0.01% 0.04% 0.04% 0.30% 0.07% 0.01% 0.08% 0.04% 100,00 %

1.569

14,05 %

307 340 11 24 115 190 11 18 8 16 5 74 6 48 20 1 5 17 11.165

2,75% 3,05% 0,10% 0,21% 1,03% 1,70% 0,10% 0,16% 0,07% 0,14% 0,05% 0,66% 0,05% 0,43% 0,18% 0,01% 0,05% 0,15% 100,00 %

(*) pos tarif yang pembebanan bea masuk-nya mengikuti jenis barangnya (8706.00, 8707.10 dan 8707.90)

III.6

Asean Harmonized Tariff Nomenclature

Tabel III-3 Perbandingan Struktur Tarif Bea Masuk CEPT

Bea Masuk (%) 0 2.5 5 Total

BTBMI 2003

BTBMI 2004

4.037 304 3.088 119 7.548

53.48% 4.03% 40.91% 1.58% 100,00%

5.091 505 5.432 137 11.165

45.60% 3.04% 48.65% 1.23% 100,00%

Tabel III-4 Format BTBMI 2004

Bea Masuk Pos/Subpos Heading/ Subheading Import Duty URAIAN BARANG DESCRIPTION OF GOODS Umum General C E P T

PajakTax

Larangan/ Pembatasan Prohibited/ Restricted Ket.

PPN VAT

PPnBM Sales Tax On

C. Rangkuman

III.7

Asean Harmonized Tariff Nomenclature

BTBMI 2004 yang berbasis AHTN disusun atas dasar adanya kesepakatan ASEAN untuk menyusun common harmonized tariff nomenclature. Latar belakang AHTN itu sendiri antara lain adalah adanya: kerjasama ASEAN di bidang kepabeanan, forum pertemuan tingkat ASEAN dan pertemuan pembahasan AHTN Catatan Penjelasan Tambahan (Supplementary Explanatory Notes/SEN) yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Buku Tarif Bea Masuk Indonesia 2004 digunakan sebagai pelengkap untuk memberikan penjelasan teknis terhadap barang-barang tertentu yang diuraikan dalam BTBMI 2004.

D. Latihan 4

Pertanyaan 1. Sebutkan alasan adanya AHTN ? 2. Jelaskan Indonesia ? 3. Sebutkan yang dimaksud dengan SEN ? 4. Bagaimana engklasifikasi ? 5. Jelaskan perbedaan struktur BTBMI 2004 dengan BTBMI sebelumnya dalam hal bea masuk ? 5. pemanfaatan SEN dalam 3. 4. manfaat adanya AHTN bagi 1. 2.

Jawaban

III.8

Pengelompokan Barang Menurut Harmonized System

KEGIATAN BELAJAR IV PENGELOMPOKAN BARANG MENURUT HARMONIZED SYSTEM

A. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mempelajari Bab IV, Mahasiswa

mampu menjelaskan: 1. gambaran umum perbagian dari Harmonised System 2. hubungan antar bab 3. pengelompokan bab berdasarkan Harmonized System

B. Uraian

1. Gambaran Per Bagian Dalam Harmonized System (HS), barang dikelompokkan dalam 96 bab (dan bab 77 sebagai persiapan masa mendatang) yang dikelompokkan dalam 21 bagian. Pengelompokan tersebut berdasarkan urutan tingkat pengerjaannya, yaitu bahan baku (raw material), bahan yang tidak atau belum dikerjakan (unworked products), barang setengah jadi (semi-finished products), dan barang jadi (finished products). Sebagai contoh, binatang hidup diklasifikasikan pada Bab 1, jangat dan kulit binatang pada Bab 41, sepatu dari kulit binatang pada Bab 64. pengelompokan barang dalam HS/BTBMI. Bagian I mencakup binatang hidup dan produk dari binatang (daging, ikan, produk susu, telur, madu, produk yang dapat dimakan lainnya, dan produk yang tidak dapat dimakan). Namun beberapa jenis minyak dan lemak dikeluarkan dari bagian I dan diklasifikasikan pada bab 15, demikian juga halnya dengan jangat, kulit, bulu dan barang terbuat daripadanya (diklasifikasikan pada bagian VIII). Bab 1 sampai dengan bab 24 (Bagian I sampai dengan Bagian IV) mencakup produk-produk pertanian Urutan

pengelompokan ini juga berlaku untuk bab dan pos. Di bawah ini disajikan urutan

IV.1

Pengelompokan Barang Menurut Harmonized System

dalam arti luas. Bagian II mencakup produk sayuran, baik yang bisa dimakan atau tidak (tanaman, biji-bijian, sayuran, buah, sereal, tepung, dsb.), kecuali beberapa jenis minyak dan lemak tertentu (bab 15) dan kayu (bab 44). Produk-produk yang termasuk bagian I dan II belum mengalami proses pengerjaan kecuali sampai tahap tertentu (dengan beberapa pengecualian). Terhadap produk yang telah mengalami proses lebih lanjut diklasifikasikan pada bab 19, bab 20 atau bab 21. Contohnya, produk makanan siap saji yang diawetkan diklasifikasikan pada Bagian IV. Bagian III hanya terdiri dari bab 15 yang mencakup lemak dan minyak hewani dan nabati dan produk terbuat daripadanya (misalnya malam/wax). Minyak pada Bab II baik dalam keadaan mentah, telah diproses, misalnya minyak goreng atau margarine yang siap dikonsumsi. Umumnya minyak tidak menguap, karena minyak nabati yang mudah menguap masuk Bab 33 sebagai minyak atsiri. Bagian IV mencakup produk minuman, minuman keras, cuka,dan tembakau, bersama-sama dengan produk industri makanan yang tidak dicakup bab-bab sebelumnya. Bab 16 meliputi daging atau ikan yang telah mengalami proses lebih lanjut, diantaranyadi goreng, dikukus atau diawetakan secara permanen. Bab 17 meliputi gula dan bahan lainnya seperti sirop, madu tiruan dan karamel. Berbagai jenis gula yang murni secara kimiawi diklasifikasikan pada Bab 29. Demikian juga bahan pemanis tiruan masuk Bab 29, seperti saccharin dan dulcin.

Hubungan Bagaian I Dengan Bagian IV: Bagian I & II Diproses lebih lanjut > Bagian IV

*Bab 2 Bab 3

(Daging) (Ikan)

>

Bab 16

*Bab 4 (Susu) Bab 10 (Serealial) Bab 11 (Produk gilingan)

>

Bab 19

IV.2

Pengelompokan Barang Menurut Harmonized System

*Bab 7

(Sayuran)

>

Bab 20

Bab 8 (Buah-Buahan) Bagian V mencakup produk mineral, baik sumber mineral anorganik seperti tanah, batuan pada Bab 25 atau bijih logam pada Bab 26 , dan sumber bahan organik pada Bab 27 seperti batu bara, dan minyak bumi. Kecuali kalau susunannya mensyaratkan lain, maka Bab 25 meliputi produk tambang, seperti garam, belerang dan batuan lainnya hanya dalam keadaan

mentah (crude), telah dicuci, hancur, hasil tumbuk, hasil gilingan atau saringan. Hasil pertambangan yang telah diolah secara lain, misalnya dimurnikan

sebagai bahan kimia anorganik masuk Bab 28, sedangkan apabila merupakan hasil bentukan atau pahatan masuk Bab 68 dan kalau bahan tersebut merupakan hasil pembakaran maka masuk Bab 69. Batu-batuan setengah permata digolongkan pada Bab 71. Bagian VI mencakup produk-produk kimia, baik yang berbentuk asal (primary form) maupun produk-produk industri kimia seperti produk farmasi, pupuk, sabun, kosmetik, cat, bahan peledak, dan lain-lain. Bagian VII mencakup plastik dan produk dari plastik (bab 39) dan karet dan produk dari karet (bab 40). Komoditi plastik, karet buatan serta barang dari plastik dan karet buatan banyak diimpor Indonesia. Sesuai dengan kemajuan teknologi, maka produk barang-barang tersebut semakin bervariasi dan bertambah jenisnya. Karena kemajuan teknologi pembuatan barang, maka pengenalan dan proses pengidentifikasi barang tersebut semakin sulit, khususnya dalam rangka klasifikasi barang. Bagian VII mencakup plastik/barang dari plastik serta karet/barang dari karet. Bagian ini terdiri dari 2 bab, yaitu bab 39 (Plastik dan Barang Dari Plastik) dan bab 40 (Karet dan Barang Dari Karet). permata atau batu

Struktur dalam Bab 39 secara garis besar adalah:

IV.3

Pengelompokan Barang Menurut Harmonized System

BAB 39 Plastik dan barang dari plastik

BAB 40 Karet dan barang dari karet

Sub-bab 1 3901-3911 3912-3913 3914 : Polimer buatan : Polimer alami : penukar ion 4001-4002 4003 4004 4005 Sub-bab 2 3915 3916-3921 3922-3924 : Sisa, reja.... : Barang setengah jadi : Barang jadi 4006 :Tidak divulkasnisasi : Bahan karet : Karet pugaran : Sisa, Reja : Coumpond

4007-40016 : Barang setengah jadi 4017 : Karet keras

Bagian VIII mencakup produk-produk tertentu yang berasal dari binatang seperti jangat dan kulit (bab 41), barang dari kulit atau usus binatang (bab 42), kulit berbulu, termasuk kulit berbulu imitasi (bab 43). Perlu dicatat bahwa pos 42.01 dan 42.02 juga mencakup produk-produk tertentu terbuat bukan dari kulit. Bagian IX mencakup produk yang berasal dari tumbuhan, seperti kayu dan barang dari kayu (bab 44), gabus dan barang dari gabus (bab 45), dan barang kerajinan tangan (bab 46). Namun, beberapa produk seperti furniture diklasifikasikan di bab lain (bab 94). Bagian X juga masih mencakup produk yang berasal dari tumbuhan, yaitu pulp (bab 47), kertas, kertas karton dan barang terbuat daripadanya (bab 48), dan produk industri percetakan (bab 49). Bagian XI mencakup produk tekstil mulai dari sutera (bab 50) sampai dengan pakaian dan permadani (bab 63). Bahan dasar tekstil adalah serat. Serat bila diproses akan menjadi benang, kemudian dari benang menjadi kain atau produk tekstil lainnya. Serat dapat berasal dari tumbuhan, hewani, mineral dan buatan manusia. Serat dari tumbuhan atau disebut serat nabati, misalnya serat kapas, flaks, rami, henneps, goni dan sisal. Serat yang berasal dari hewan misalnya bulu domba atau bulu anak domba, bulu unta, bulu kelinci, bulu kambing Angora (Mohair) dan

IV.4

Pengelompokan Barang Menurut Harmonized System

sutera. Serat buatan manusia atau man made fiber terbagi dua, yaitu serat sintetik dan serat artificial (tiruan). Serat buatan adalah serat hasil industri kimia. Untuk memahami ini lihat Catatan 1 Bab 54. Istilah sintetik digunakan dalam hubungan bahan polimer seperti poliamida, poliester, poliurethan dan lainnya, sedangkan serat tiruan digunakan dalam hubungan untuk bahan dari rayon viskosa, asetat sellulosa, dan semacam itu. Melalui data nomor benang, bisa dilihat besar atau kecilnya suatu benang. Ada dua sistem yang dipakai dalam penomoran benang, yaitu : a. b. Sistem penomoran benang langsung (Direct Yarn Number) Sistem penomoran benang tidak langsung (Indirect Yarn Number) Kain yang terbuat dari benang dengan cara tenun, dibuat dengan mesin tenun melalui cara menyilangkan kelompok benang satu terhadap yang lain. Benang tersebut biasa disebut sebagai lusi dan pakan, benang pakan kalau dalam mesin rajut adalah yang bergerak menyilang benang lusi atau sesuai arah lebar kain. Kain rajut dibuat dengan jalan menjeratkan benang satu dengan yang lain atau pada benang itu sendiri, contohnya kaos, T shirt dan kain katun (lihat Bab 60 tentang jenis kain ini). Bagian XII mencakup produk alas kaki (bab 64), tutup kepala (bab 65), payung, tongkat jalan, dll. (bab 66), juga produk-produk tertentu dari bulu, bunga buatan, dan barang dari rambut manusia (bab 67). Bagian XIII mencakup produk-produk yang diperoleh dari batu, gips, plaster, semen, dll. (bab 68), keramik (bab 69), dan kaca/barang dari kaca (bab 70). Bagian XIV mencakup hanya bab 71 yaitu mencakup mutiara dan batu mulia, logam mulia, perhiasan, dan uang logam. Bagian XV mencakup logam tidak mulia dan barang terbuat daripadanya. Namun demikian bagian ini tidak mencakup barang dari logam dasar yang termasuk dalam bab-bab di belakangnya (seperti mesin dan kendaraan). Bagian XVI mencakup mesin, peralatan mekanik, dan peralatan listrik. Bagian ini mempunyai pos dan sub-pos yang sangat besar dibandingkan dengan bagian lainnya. Bagian XVII mencakup kendaraan, pesawat terbang, dan alat transportasi lainnya (kereta api, kapal laut, pesawat ruang angkasa, dll.).

IV.5

Pengelompokan Barang Menurut Harmonized System

Bagian XVIII mencakup perlatan optik, fotografi, sinematografi, ukuran, kontrol, medis, atau bedah (bab 90), jam (bab 91), dan perlatan musik (bab 92). Bagian XIX hanya terdiri dari bab 93 yang mencakup senjata dan amunisi. Bagian XX mencakup furniture, lampu, perlengkapan penerangan, papan nama iluminasi, dan bangunan prefabrikasi (bab 94), mainan, peralatan permainan, dan peralatan olahraga (bab 95), dan bermacam-macam barang hasil pabrik (bab 96). Bagian XXI hanya terdiri dari bab 97 yang mencakup hasil karya seni, barang kegemaran kaum pengumpul, dan barang antik.

2. Hubungan Antar Bab Apabila kita mempelajari Bab demi Bab Harmonized System, akan kita dapati bahwa terdapat keterkaitan antara bab tertentu dengan bab atau beberapa bab lainnya. Hal ini dapat difahami mengingat antara bab satu dengan bab lainnya kadang-kadang mencakup barang yang mengandung bahan yang sama atau merupakan proses lebih lanjut dari barang dalam bab sebelumnya. Selain itu, judul bab dalam HS sebagian besar bersifat umum. Perlu diingat bahwa judul bab bukan merupakan uraian yang bersifat mengikat secara hukum. Dengan demikian dapat dimengerti apabila suatu barang yang sepintas termasuk dalam suatu bab ternyata diklasifikasikan pada bab lain. Sebagai contoh, di bawah ini disajikan gambaran keterkaitan antar bab dalam HS: a. Bab 1 mencakup antara lain binatang hidup. Namun kuda hidup yang digunakan dalam sirkus tidak klasifikasikan pada bab 1, melainkan pada bab 95 (pos 95.08). b. Daging pada Bab 2 hanya terhadap pengolahan terbatas seperti : segar, dingin, diasap dan dipanggang. Produk yang dikemas dalam kedap udara dan lebih jauh selain pengolahan dari Bab 2 maka mengalami pengolahan

diklasifikasikan pada bab 16. c. Bab 6 meliputi semua tanaman hidup yang umumnya dimaksud untuk dijual oleh tukang bibit atau yang bergerak dibidang hortikultura yang serasi untuk ditanam atau dijadikan pajangan. Pada Bab 6 tidak termasuk benih, buah atau buah berbonggol dan umbi-umbian tertentu. Sayuran atau buah yang diawetkan dengan cuka atau dengan cara lain misalnya masuk Bab 20.

IV.6

Pengelompokan Barang Menurut Harmonized System

d. Kembang gula (sugar confectionery) diklasifikasikan pada bab 17. Tetapi apabila kembang gula tersebut mengandung kokoa, maka harus diklasifikasikan olahan makanan mengandung kokoa pada bab 18 (pos 18.06). Bahan kimia etilena diklasifikasikan pada Bab 29 (bahan kimia organik). Namun apabila etilene terpolimerisasi menjadi polietilena dengan jumlah unit monomer (n) 5 atau lebih, maka harus diklasifikasikan pada Bab 39 (plastik). Barang dari plastik diklasifikasikan pada Bab 39. Bila sudah berbentuk barang yang khusus dibuat untuk keperluan tertentu, barang tersebut diklasifikasikan di bab-bab lain. Sebagai contoh, frame kacamata dari plastik (bab 90), kotak jam dari plastik (bab 91), furniture dari plastik (bab 94), dan sebagainya. e. Mesin dan peralatan mekanis diklasifikasikan pada bab 84 sedangkan mesin dan peralatan listrik diklasifikasikan pada bab 85. Namun demikian, beberapa mesin dan peralatan tertentu tetap diklasifikasikan pada bab 84 meskipun elektrik, seperti mesin dengan motor listrik, mesin pada pos 84.03 (electric central heating boiler) dan pos 84.19 (wood dryer), dan beberapa mesin lainnya.

Contoh di atas adalah sebagian kecil contoh keterkaitan antar bab dalam HS. Adalah tidak mungkin untuk menggambarkan dengan rinci keterkaitan antas bab dalam diktat ini. Untuk mengetahui keterkaitan antara bab satu dengan bab lainnya, kita dapat melihat di catatan bab maupun catatan bagian. catatan bab maupun catatan bagian merupakan Untuk itu membaca sebelum kita

kewajiban

mengklasifikasikan suatu barang pada pos tertentu.

3. Pengelompokan Bab Bagian I Binatang Hidup; Produk Hewani

IV.7

Pengelompokan Barang Menurut Harmonized System

Bab 1. Binatang hidup 2. Daging & sisanya yang dapat dimakan 3. Ikan dan udang-udangan, binatang lunak dan binatang air lainnya yang tidak bertulang belakang 4. Produk pabrik susu; telur unggas; madu alam; produk hewani yang dapat dimakan, tidak dirinci atau termasuk dalam pos lain. 5. Produk hewani, tidak dirinci atau termasuk dalam pos lainnya

Bagian II Produk Nabati Bab 6. Pohon hidup dan tanaman lainnya; umbi akar dan yang semacam itu; bunga potong dan daun untuk hiasan 7. Sayuran, akar dan bonggol tertentu yang dapat dimakan 8. Buah & buah berbatok yang dapat dimakan; kulit dari buah jeruk dan melon 9. Kopi, teh, mate dan rempah-rempah 10. Gandum-ganduman 11. Produk industri penggilingan ; malti ; pati; inulin ; gluten gandum. 12. Biji mengandung minyak dan buah mengandung minyak ; bermacammacam butir, biji dan buah; tanaman industri atau obat ; jerami dan makanan ternak. 13. Lak, getah, damar dan air, ekstrak nabati lainnya 14. Bahan nabati untuk anyam-anyaman; produk nabati tidak dirinci atau termasuk pos lainnya

IV.8

Pengelompokan Barang Menurut Harmonized System

Bagian III Minyak dan lemak hewani atau nabati dan Produk disosiasinya; lemak olahan yang dapat dimakan; Malam hewani atau nabati Bab 15 (Judul Bab sama dengan Bagian)

Bagian IV Bahan makanan olahan; minuman, minuman keras Dan cuka, tembakau dan tembakau pengganti, buatan Bab 16. Olahan dari daging, dari ikan atau dari udang-udangan, binatang lunak atau dari binatang air yang tidak bertulang belakang 17. Gula dan kembang gula 18. Kakao & olahan kakao 19. Olahan dari gandum-ganduman, tepung, pati atau susu; produk industri kue. 20. Olahan dari sayuran, buah, kacang atau bagian lain dari tanaman. 21. Bermacam-macam olahan yang dapat dimakan 22. Minuman, minuman keras dan cuka 23. Ampas, dan sisa dari industri makanan; olahan makanan hewan 24. Tembakau dan tembakau pengganti buatan.

Bagian V Produk mineral Bab 25. Garam; belerang; tanah dan batu; bahan plester; kapur dan semen. 26. Bijih logam, terak dan abu 27. Bahan bakar mineral, minyak mineral dan produk sulingannya; bahan mengandung bitumen; malam mineral

IV.9

Pengelompokan Barang Menurut Harmonized System

Bagian VI Produk industri kimia dan industri yang ada hubungannya dengan industri kimia Bab 28. Bahan kimia anorganik; senyawa organik atau organik dari logam mulia, dari logam tanah langka, dari unsur radio aktif dan dari isotop 29. Bahan kimia organik 30. Produk farmasi 31. Pupuk 32. Ekstrak bahan samak atau bahan celup; bahan samak dan turunannya; bahan celup, pigmen dan bahan pewarna lainnya; cat dan vernis; dempul dan damar lainnya; tinta 33. Minyak atsiri dan resinoida; wangi-wangian, kosmetika atau preparat pewangi 34. Sabun bahan organik penggiat permukaan, preparat pencuci, preparat pencuci, preparat pelumas, malam tiruan, malam olahan, preparat pelumas atau pembersih, lilin dan barang semacam itu, pasta untuk membuat model, malam untuk mencetak gigi dan preparat untuk gigi dengan bahan dasar gips. 35. Zat albumina ; modifikasi pati ; perekat ; enzim 36. Bahan peledak; produk piroteknik; korek api; paduan piroforik; olahan tertentu yang mudah terbakar 37. Barang fotografi atau sinematografi 38. Aneka produk kimia

Bagian VII Plastik dan barang dari plastik ; Karet dan barang dari karet Bab 39. Plastik dan Barang dari plastik 40. Kulit dan Barang dari Kulit

Bagian VIII

IV.10

Pengelompokan Barang Menurut Harmonized System

Jangat dan kulit mentah, kulit samak, kulit berbulu dan barang daripadanya; saddlery dan harness; barang untuk bepergian, tangan dan kemasan semacam itu; dari usus binatang (selain benang ulat sutra)
Bab 41. Jangat dan kulit mentah (lain dari kulit berbulu) dan kulit samak 42. Barang dari kulit samak; pelana termasuk perlengkapan dan pakaian kuda; barang untuk bepergian, tas tangan dan wadah yang semacam itu; barang dari usus hewan (lain dari pada usus ulat sutera) 43. Kulit berbulu dan kulit berbulu tiruan

Bagian IX

Kayu dan barang dari kayu; arang kayu; gabus dan barang dari gabus; barang dari jerami, dari rumput esparto atau dari bahan anyaman lainnya; dan barang anyaman
Bab 44. Kayu dan barang dari kayu; arang kayu 45. Gabus dan barang dari gabus 46. Barang dari jerami, dari rumput esparto atau dari bahan anyaman lainnya; keranjang dan barang anyaman

Bagian X

Pulp dari kayu atau dari bahan selulosa berserat lainnya; Kertas atau kertas karton yang dipulihkan (sisa dan skrap); kertas dan kertas karton serta barang daripadanya
Bab 47. Pulp dari kayu atau dari bahan sellulosa berserat lainnya, kertas atau kertas karton (bekas dan sisa) yang diperoleh 48. Kertas dan kertas karton; barang dari pulp kertas, dari kertas atau kertas karton 49. Barang cetakan, surat kabar, gambar dan produk lainnya dari industri

IV.11

Pengelompokan Barang Menurut Harmonized System

percetakan; naskah tulisan tangan, naskah ketikan dan rencana

Bagian XI Tekstil dan Barang dari Tekstil Bab 50. Sutera 56. Gumpalan, kain kempa dan bukan tenunan; benang khsusu; benang 51. Wool, bulu hewan halus atau kasar; benang bulu kuda dan kain tenunan pintal, tali tambang dan kabel dan barang-barangnya 57. Permadani dan tekstil penutup lantai lainnya 52. Kapas 53. Serat tekstil dari nabati lainnya ; 58. Kain tenunan khusus; kain tekstil berjumbai; renda; permadani; hiasan; sulaman benang kertas dan tenunan dari 59. Kain tekstil diresapi, dilapisi, ditutupi benang kertas 54. Filamen buatan atau dibuat berlapis-lapis; barang tekstil dari jenis yang cocok untuk digunakan dalam industri 55. Serat staple buatan 60. Kain rajutan atau kain kaitan

61. Barang dan perlengkapan pakaian, rajutan atau kaitan 62. Barang dan perlengkapan pakaian, tidak dirajut atau dikait 63. Barang tekstil sudah jadi lainnya, setelan; pakaian bekas dan barang tekstil bekas; gombal

IV.12

Pengelompokan Barang Menurut Harmonized System

Bagian XII

Alas kaki, tutup kepala, payung, payung panas, tongkat jalan," tongkat duduk, cambuk, pecut dan bagiannya;" bulu unggas olahan dan barang dibuat daripadanya; bunga tiruan; barang dari rambut manusia

Bab 64. Alas kaki, pelindung kaki dan yang semacam itu ; bagian dari barang semacam 65. Tutup kepala dan bagiannya 66. Payung, payung panas, tongkat jalan, tongkat duduk, cambuk, pecut dan bagiannya 67. Bulu unggas dan bulu unggas olahan serta barang terbuat dari bulu unggas atau bullu unggas tiruan; bunga tiruan; barang dari rambut manusia

Bagian XIII

Barang dari batu, plester, semen, asbes, mika atau" dari bahan semacam itu; produk keramik; kaca dan barang dari kaca
Bab 68. Barang dari batu, gips, semen, asbes, mika atau bahan semacam itu 69. Produk keramik 70. Kaca dan barang dari kaca

Bagian XIV

Mutiara alam atau mutiara budidaya, batu mulia atau batu semi mulia," logam mulia, logam mulia kerajang,dan barang daripadanya; perhiasan imitasi; koin. Mutiara alam dan mutiara budidaya, batu permata

IV.13

Pengelompokan Barang Menurut Harmonized System

Bab 71 (Judul Bab sama dengan judul Bagian)

Bagian XV Logam tidak mulia dan barang dari logam tidak mulia BAB 72. Besi dan baja 73. Barang dari besi dan baja 74. Tembaga dan barang terbuat dari tembaga 75. Nikel dan barang terbuat dari nikel 80. Timah dan barang terbuat dari timah 76. Aluminium dan barang terbuat dari 81. Logam tidak mulia lainnya; sermet; aluminium 82 Perkakas, peralatan, barang tajam,sendok dan garpu, dari logam tidak mulia; bagian bagiannya dari logam tidak mulia barangnya 83 Bermacam-macam barang dari logam tidak mulia 78. Timah hitam dan barang terbuat dari timah hitam 79. Seng dan barang terbuat dari seng

Bagian XVI Mesin dan peralatan mekanis; perlengkapan elektris; bagian daripadanya; perekam dan pereproduksi suara, perekam dan pereproduksi gambar dan suara televisi, dan bagian serta aksesori dari barang tersebut
Bab 84. Reaktor nuklir, ketel uap, mesin dan pesawat mekanik; bagiannya 85. Mesin dan alat listrik serta bagiannya; pesawat perekam dan pesawat reproduksi suara, pesawat perekam dan reproduksi gambar dan suara untuk televisi, dan bagian serta perlengkapan dari barang yang semacam itu

Bagian XVII

Kendaraan, kendaraan udara, kendaraan air

IV.14

Pengelompokan Barang Menurut Harmonized System

dan perlengkapan pengangkutan yang berkaitan


Bab 86. Lokomotif kereta api atau trem, kendaran yang bergerak diatas rel dan bagiannya; alat pemasang dan perlengkapan rel kereta api atau trem dan bagiannya; perlengkapan isyarat lalu lintas mekanik dari segala jenis (termasuk elektronik) 87. Kendaraan selain yang begerak diatas rel kereta api atau trem, dan bagian serta perlengkapannya 88. Kapal udara, pesawat ruang angkasa, serta bagiannya 89. Kapal, bahtera, dan bangunan terapung

Bagian XVIII Instrumen dan aparatus optis, fotografi, sinematografi, pengukur, pemeriksa, presisi, medis dan bedah; jam dan arloji; instrumen musik; bagian dan aksesorinya
Bab 90. Alat dan aparat optik, fotografi, sinematografi, ukur, peneliti, presisi, kedokteran dan bedah; bagian dan perlengkapannya 91. Lonceng dan arloji dan bagiannya 92. Instrumen musik ; bagian dan perlengkapan dari barang seperti itu

BAGIAN XIX

Senjata dan amunisi; bagian dan aksesorinya


Bab 93 (judul sama dengan judul Bagian)

IV.15

Pengelompokan Barang Menurut Harmonized System

BAGIAN XX Bermacam-macam barang hasil pabrik BAB 94. Perabot rumah; kasur tempat tidur, kasur, lapik kasur, bantal dan kelengkapannya; lampu dan perlengkapan penerangan, tidak dirinci atau termasuk dalam pos manapun; isyarat iluminasi, papan nama iluminasi dan semacam itu; bangunan prefabrikasi 95. Mainan, keperluan permainan dan keperluan olah raga; bagian dan kelengkapannya 96. Bermacam-macam barang hasil pabrik lain

Bagian XXI

Karya seni, barang kolektor dan barang antik


Bab 97 (Judul Bab sama dengan Bagian)

C. Rangkuman BTBMI terdiri dari 21 Bagian, Bab 1 sampai dengan 77 dan bab 78 sampai dengan bab 98. Urutan pengelompokan barang umumnya didasarkan atas bahan dasar, proses setengah jadi dan barang jadi. Pengelompokan barang ini berawal dari binatang, hewani, nabati mineral dan selanjutnya kepada bahan kimia dan produknya. Terakhir dengan mesin, kendaraan, barang presisi, barang untuk kemanan dan barang kelontong. Pemahaman pengelompokan barang akan mempermudah dan mempercepat dalam mengklasifikasi.Sebaiknya seorang klasifikator yang bak akan memahami pengelompokan jenis barang dalam BTBMI

IV.16

Pengelompokan Barang Menurut Harmonized System

D. LATIHAN 4

Pertanyaan 1. Sebutkan pos saja untuk barang mentega dan margarin ? 1.

Jawaban

2. Daging sapi yang diolah sederhana masuk pos berapa ? Bagaimana bila telah dikukus masuk Bab berapa ?

2.

3. Sebutkan posnya saja batu pualam yang masih bongkahan dan yang telah jadi ubin ?

3.

4. Sebutkan pengelompokan bahan kimia pada Bagian VI BTBMI 4.

5. Sebutkan Bagian dan Bab dari mesin dan barang elektronik

5.

IV.17

Jenis Catatan

KEGIATAN BELAJAR V JENIS CATATAN

A. Tujaun Instruksional Khusus

Setelah

mempelajari

bab

V,

para

Mahasiswa mampu menjelaskan jenis catatan definitif, eksklusif, ilustratif dan penjelasan dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia.

B. Uraian Disamping Ketentuan Umum untuk Menginterpretasi Harmonized System, catatan dalam HS merupakan bagian integral yang harus diperhatikan benar-benar. Catatan tersebut mempunyai kekuatan hukum sama seperti uraian pos atau sub-pos. Harmonized System mempunyai catatan bagian, catatan bab, dan catatan sub-pos. Catatan-catatan tersebut dapat dibagi berdasarkan jenisnya, yaitu catatan definitif, eksklusive, illustratif dan penjelasan:

1. Catatan Definitif Catatan yang menjelaskan pengklasifikasian suatu barang pada pos atau sekumpulan pos tertentu. Contoh: Catatan 4 Bab 30: Pos no. 30.04 hanya berlaku untuk hal berikut ini, yang harus diklasifikasikan dalam pos tersebut dan tidak dalam pos lainnya dari Nomenklatur ini: a. Catgut bedah steril, bahan jahit bedah steril yang semacam itu dan perekat kertas steril untuk penutup luka bedah; b. Laminaria steril dan laminaria steril yang dapat menggembung; c. Hemostatik bedah atau gigi steril yang dapat menyerap; d.

V.1

Jenis Catatan

e. f.

g. h. Preparat kontrasepsi kimia dengan bahan dasar hormon atau pembunuh sperma. 2. Catatan Eksklusif Catatan yang mengeluarkan barang tertentu dari suatu pos atau sub-pos dan memasukkannya dalam pos atau sub-pos tertentu lainnya. Contoh: Catatan 1 Bab 2: Bab ini tidak meliputi: a. Produk dari jenis yang diuraikan dalam pos No. 02.01 sampai dengan 02.08, atau 02.10, yang tidak layak atau tidak sesuai untuk konsumsi manusia; b. Usus, kandung kemih atau perut dari binatang (pos No. 05.04) atau darah binatang (pos No. 05.11 atau 30.02); atau c. Lemak hewani, selain produk dari pos No. 02.09 (Bab 15). 3. Catatan Ilustratif Catatan yang memberikan gambaran terhadap pengertian atau istilah yang perlu dijabarkan lebih lanjut. Contoh : Catatan 3 Bab 42: Untuk keperluan pos no. 42.03, istilah barang pakaian dan perlengkapan pakaian berlaku, antara lain, untuk sarung tangan (termasuk sarung tangan olah raga), apron dan pakaian pelindung lainnya, tali penahan celana, ikat pinggang, tali sandang dan semua jenis gelang, tetapi tidak termasuk arloji tangan (pos no. 91.13). 4. Catatan Lain-lain Catatan teknis.Contoh: a. Catatan 2 Bab 3: Dalam Bab ini pengertian pellet adalah produk-produk yang telah diaglomerasi baik secara langsung dengan cara dikompresi atau dengan penambahan sejumlah kecil bahan pengikat. yang menguraikan pengertian-pengertian yang bersifat

V.2

Jenis Catatan

b. Catatan 1 Bab 9: Campuran dari produk dimaksud dalam pos no. 09.04 sampai dengan 09.10 harus diklasifikasikan sebagai berikut: 1) Campuran dua produk atau lebih dari pos yang sama harus digolongkan dalam pos itu; 2) Campuran dua produk atau lebih dari pos yang berlainan harus digolongkan dalam pos no. 09.10. Tambahan dari bahan lainnya ke dalam produk dari pos no. 09.04 sampai dengan 09.10 (atau campuran seperti yang dimaksud dalam (a) atau (b) di atas) tidak mempengaruhi penggolongannya asalkan.. c. Catatan 2 Bagian XV: Dalam seluruh Nomenklatur, istilah bagian untuk pemakaian umum berarti: 1) Barang dari pos no. 73.07, 73.12, 73.15, 73.17 atau 73.18 dan barang semacam itu dari logam tidak mulia lainnya; 2) Pegas dan lembaran untuk pegas, dari logam tidak mulia, selain pegas untuk lonceng atau arloji (pos no. 91.14); dan 3) Barang dari pos no. 83.01, 83.02, 83.08, 83.10 dan bingkai serta kaca dari logam tidak mulia, dari pos no. 83.06. Dalam Bab 73 sampai dengan 76 dan 78 sampai dengan 82 (tetapi bukan dalam pos no. 73.15) apa yang disebut bagian dari barang tidaklah termasuk uraian tentang bagian untuk pemakaian umum seperti diuraikan di atas. Dengan memperhatikan ketentuan dalam ayat di atas dan Catatan 1 Bab 83, barang dari Bab 82 atau 83 tidak termasuk dari Bab 72 sampai dengan 76 Bab 78 sampai dengan 81. Membaca dengan teliti dan memahami catatan-catatan di atas, termasuk KUM HS, Explanatory Notes, dan uraian pada pos, sub-pos, dan pos tarif yang berkaitan dengan barang yang akan diklasifikasikan merupakan syarat mutlak yang harus dilakukan agar klasifikasi yang dilakukan benar-benar akurat. Mengklasifikasi barang tidak dapat dilakukan dengan hanya sekedar mencari satu pos tertentu saja. Untuk beberapa hal cara seperti ini mungkin berhasil namun labih banyak risiko kegagalannya. Tatacara mengklasifikasi harus diikuti dengan urut agar

V.3

Jenis Catatan

benar-benar diperoleh hasil yang akurat. C. Rangkuman Catatan merupakan pintu gerbang dalam memasuk bagian dan bab dalam BTBMI. Secara garis besarnya pintu gerbang tersebut akan mengatur tentang suatu barang yang boleh dimasukan, dikeluarkan, atau dikeluarkan sebagian serta penjelasan lainyya. Hal ini diperlukan agar jangan sampai salah dalam menempatkan pengelompokan barang sesuai Harmonized system. Secara singkat jenis catatan tersebut meliputi, catatan definitive, eksklusive, illustratif, dan penjelasan. D. Latihan 5

No Pertanyaan 1. Sebutkan contoh catatan definitif pada Bab 39 ? 2 Sebutkan contoh catatan ekslusif pada Bab 71 ? 3 Sebutkan catatan ilustratif pada pada Bagian VIII ? 4 Sebutkan jenis catatan apa pada catatan 4 bab 30 5 Sebutkan jenis catatan lain nya pada bab 30 selain catatan pada soal no. 4

Jawaban

V.4

Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System

KEGIATAN BELAJAR VI KETENTUAN UMUM UNTUK MENGINTERPRETASI HARMONIZED SYSTEM

A. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mempelajari Bab VI, para Mahasiswa mampu mempraktikan Ketentuan Umum untuk

Menginterpretasi Harmonized System nomor 1, 2a, 2b, 3a, 3b, 3c, 4, 5a, 5b dan 6 dengan benar.

B. Uraian Materi

1. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System Nomor 1 Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan pintu gerbang untuk memasuki klasifikasi barang. Mengingat begitu

kompleksnya teknik klasifikasi barang, KUM HS mutlak diperlukan sebagai pedoman dasar yang tidak boleh ditinggalkan. Setiap kali melakukan kegiatan klasifikasi

barang, sadar atau tidak, salah satu ketentuan dalam KUM HS harus dipergunakan. Untuk itu, marilah kita pelajari satu-persatu enam butir KUM HS tersebut. KUM HS 1 : Judul Bagian, Bab dan Sub-bab hanya dimaksudkan untuk memudahkan referensi saja; untuk tujuan hukum, klasifikasi harus ditentukan menurut uraian yang terdapat dalam pos dan berbagai Catatan Bagian atau Bab yang berkaitan serta menurut ketentuan-ketentuan berikut ini, asalkan pos atau Catatan tersebut tidak menentukan lain : Penjelasan: HS adalah nomenklatur yang bersifat sistematik. Namun mengingat

VI.1

Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System

banyaknya jenis barang, tidak mungkin semua jenis barang dapat dicakup dengan persis pada setiap bab. Contohnya, sutera adalah produk hewani, tetapi karena sifatnya yang khusus dalam HS tidak diklasifikasikan pada bab 5 (produk hewani tidak dirinci atau termasuk dalam pos lainnya), tetapi diklasifikasikan khusus pada bab 50. Uraian pada bab hanya untuk referensi saja, tidak mempunyai kekuatan hukum. Karena itu perlu diingat agar selalu mempertimbangkan semua bab atau pos yang mungkin mencakup suatu barang. Yang mempunyai kekuatan hukum adalah pos (heading), catatan bagian, catatan bab, dan catatan sub-pos. Uraian pos dan catatan-catatan tersebut merupakan pertimbangan utama. Apabila pos dan catatancatatan tersebut tidak menentukan lain, dalam hal KUM HS 1 tidak bisa digunakan barulah digunakan KUM HS 2, 3, 4, dan 5. Contohnya, catatan 2 Bab 31 Batasan ini tidak boleh

menjelaskan pos 31.02 hanya untuk produk tertentu. diperluas dengan menggunakan KUM HS 2(b). Gambar V.1. Keledai

Spesifikasi keledai : a. jenis keledai b. umur 2 tahun c. dapat mendemontrasikan beberapa

permainan dalam pertunjukan sirkus Pengklasifikasian apakah pada bab 1 atau bab 95
Perhatikan gambar keledai yang biasa

digunakan untuk sirkus.

Bagaimana pengklasifikasiannya bila keledai tersebut diimpor oleh grup sirkus dari jerman ?
2. KUM HS 2 KUM HS 2 a :

VI.2

Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System

Setiap referensi untuk suatu barang dalam suatu pos harus dianggap meliputi juga referensi barang tersebut dalam keadaan tidak lengkap atau belum rampung, asalkan pada saat diajukan, barang yang tidak lengkap atau belum rampung

tersebut memiliki karakter utama dari barang itu dalam keadaan lengkap atau rampung. Referensi ini harus dianggap juga meliputi refensi untuk barang tersebut dalam keadaan lengkap atau rampung (atau yang berdasarkan ketentuan ini dapat digolongkan sebagai lengkap atau rampung) yang diajukan dalam keadaan belum dirakit atau terbongkar. Penjelasan: Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung, asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai barang lengkap atau rampung Sebagai contoh beberapa set sepeda yang diimpor dalam keadaan terurai, dan tiap setnya tidak ada sadel dan ban dalamnya. Namun tetap dianggap set sepeda karena sifat utamanya sebagai sepeda telah dimiliki. Gambar V.2. Sepeda

Spesifikasi : Sepeda merk :Bamby a. Ada alat perubah kecepatan b. memiliki laher dalam as ban c. bisa dikendarai oleh orang tua maupun anak-anak namun tidak ada spakboard
Perhatikan gambar sepeda diatas. Bagaimana pengklasifikasiannya bila sepeda tersebut : a) tidak dicat terurai Contoh kasus : Kertas karton dalam bentuk lembaran, ada 6 bidang ukuran 20 x 15 cm digunakan sebagai box atau kemasan makanan kecil ,b) tidak ada sadelnya c) dalam keadaan

VI.3

Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System

KUM HS 2 b : Setiap referensi untuk suatu bahan atau zat dalam pos, harus dianggap juga meliputi referensi untuk campuran atau kombinasi dari bahan atau zat itu dengan bahan atau zat lain. Setiap referensi untuk barang dari bahan atau zat tertentu harus dianggap juga meliputi referensi untuk barang yang sebagian atau seluruhnya terdiri dari bahan atau zat tersebut. Barang yang terdiri lebih dari satu jenis bahan atau zat harus diklasifikasikan sesuai prinsip dari Ketentuan 3. Penjelasan: Campuran atau kombinasi dua atau lebih bahan atau zat diklasifikasikan berdasarkan KUM HS 1. Sebagai contoh suatu susu yang telah ditambah sedikit vitamin, maka pengklasifikasiannya tetap sebagai susu. Mengapa demikian ? karena sifat sebagai susunya tidak berubah. Ingat, ketentuan ini hanya berlaku apabila pos atau catatan bagian atau catatan bab tidak menentukan lain. Contoh, pos 15.03 (lard oil, ...tidak diemulsi atau dicampur...); karena uraian posnya sudah menyebutkan bahwa produk dalam pos tersebut tidak dicampur, maka KUM HS 2(b) tidak berlaku. Apabila tambahan atau campuran bahan atau zat menghilangkan sifat barang seperti diuraikan pada pos, KUM HS 2(b) tidak dapat digunakan (harus digunakan KUM HS 3). Gambar V.3. Tutup botol terpasang pada botol

Spesifikasi tutup botol : Terbuat dari gabus; bagian luarnya dilapisi plastik. Bagaimana

pengklasifikasian tutup botol tersebut, apakah pada bab 45 atau bab 39. Perhatikan sumbat botol
diatas, bagaimana bila sumbat botol bagian atas dilapis plastik ?

Contoh kasus Minuman susu yang berisi vitamin C

VI.4

Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System

3. KUM HS 3 :
Apabila dengan menerapkan Ketentuan 2 (b) atau untuk berbgaia alasan lain, barang yang dengan pertimbangan awal dapat diklasifikasikan dalam dua pos atau lebih, maka klasifikasiannya harus diberlakukan sebagai berikut: Penjelasan: KUM HS 3 hanya dipergunakan bila KUM HS 2 tidak bisa dipergunakan. Penggunaan KUM HS 3 harus urut dari KUM HS 3(a), KUM HS 3(b), baru kemudian KUM HS 3(c). Sekali lagi diingatkan, KUM HS 3 baru dipergunakan apabila uraian pos, catatan bagian, atau catatan bab tidak menentukan lain. Contoh, catatan 4(b) bab 97 menentukan bahwa barang yang dirinci pada pos 97.01 sampai dengan 97.05 dan juga dirinci pada pos 97.06, harus diklasifikasikan pada pos terdahulu awal (berarti bertentangan dengan KUM HS 3c ). Dalam hal ini KUM HS 3(c) tidak berlaku. KUM HS 3 a : Pos yang memberikan uraian yang paling spesifik, harus lebih diutamakan dari pos yang memberikan uraian yang lebih umum. Namun demikian, apabila dua pos atau lebih yang masing-masing pos hanya merujuk kepada bagian dari bahan atau zat yang terkandung dalam barang campuran atau barang komposisi,atau hanya merujuk kepada bagian dari bahan atau zat terkandung dalam campuran atau barang komposisi atau hanya merujuk kepada bagian dari barang dalam set yang disiapkan untuk penjualan eceran, maka pos-pos tersebut harus dianggap setara sepanjang berkaitan dengan barang tersebut, walaupun salah satu dari pos tersebut memberikan uraian yang lebih lengkap atau lebih tepat. Penjelasan: Pos dengan uraian lebih spesifik lebih diutamakan dari pos dengan uraian yang lebih umum. Pos yang menyebutkan nama barang lebih diutamakan dari pos yang menyebutkan kelompok barang. Contoh shavers/hair clippers diklasifikasikan pada pos 85.10, bukan pada pos 85.09 (self-contained motor). Saringan oli walau sebagai bagian dari mesin pada pos 8409, namun diklasifikasikan pada pos 8421 pada saringan yang uraian barangnya lebih rinci. Pos yang menyebutkan barang yang disebutkan secara rinci lebih diutamakan dari pos yang menyebutkan bagian suatu barang. Contoh, tufted textile

VI.5

Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System

for motor cars diklasifikasikan pada pos 57.03, bukan pada pos 87.08. Apabila dua atau lebih pos menguraikan hanya bagian dari bahan atau zat yang terkandung dalam suatu barang campuran atau komposit, atau bagian dari item dalam satu set barang untuk penjualan eceran, maka KUM HS 3(a) tidak berlaku dan digunakan KUM HS 3(b) atau 3(c), meskipun salah satu pos lebih rinci dari pos lainnya. KUM HS 3 b : Barang campuran dan barang komposisi yang terdiri dari bahan yang berbeda atau yang dibuat dari komponen yang berbeda, serta barang yang disiapkan dalam set untuk penjualan eceran, yang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi 3 (a), harus diklasifikasikan berdasarkan bahan atau komponen yang memberikan karakter utama barang tersebut, sepanjang kriteria ini dapat diterapkan. Penjelasan: KUM HS 3(b) hanya berlaku untuk campuran, barang komposit yang terdiri dari bahan yang berbeda, barang komposit yang terdiri dari komponen yang berbeda, dan barang yang dikemas dalam bentuk set untuk penjualan eceran, dan bila KUM HS 3(a) tidak bisa digunakan. Yang dimaksud dengan karakter utama (Essential character) pada KUM HS ini mengacu pada bahan atau komponen, kemasan, jumlah, berat atau nilai, dan bahan utama yang berkaitan dengan penggunaan barang. KUM HS 3(b) berlaku juga untuk komponen yang terpisah, asalkan satu sama lain adapted to the other, mutually complementary, dan bersama-sama membentuk barang jadi yang secara normal tidak diperdagangkan terpisah. Contoh, rak bumbu dengan beberapa botol tempat bumbu kosong. Yang dimaksud dengan barang dikemas dalam bentuk set untuk penjualan eceran yaitu: a. Paling sedikit dua produk yang berbeda pos (sembilan sendok bukan set). b. Beberapa produk/barang bersama-sama untuk keperluan/kegiatan tertentu. c. Bisa langsung dijual tanpa perlu dibungkus/dikemas kembali (contoh, ready-toeat-meal). Contoh set: hairdressing set yang terdiri dari electric hair clipper (85.10), sisir

(96.15), gunting (82.13), sikat (96.03), dan handuk dari tekstil (63.02), dikemas dalam tas kulit (42.02) diklasifikasikan pada pos 85.10 (berdasarkan komponen

VI.6

Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System

yang memberikan sifat utama). KUM HS 3(b) tidak berlaku untuk barang yang terdiri dari beberapa bagian yang dikemas terpisah (baik kemasan yang biasa digunakan maupun tidak), dalam proporsi tertentu untuk keperluan industri (contoh, minuman). Perhatikan mie instan yang sudah mask diatas. Tahukah Saudara ketika belum dimasak yang bungkusannya terdiri dari : mie, saus, kecap, bumbudan bahan lainnya. Bagaimana Saudara mengklasifikasi bila dalam keadaan mentah atau dalam bungkusan ? KUM HS 3 c: Apabila barang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi 3 (a) atau 3(b), maka barang tersebut harus diklasifikasikan dalam pos tarif terakhir berdasarkan urutan penomorannya di antara pos tarif yang mempunyai

pertimbangan yang setara. Penjelasan: Bila KUM HS 3(a) dan 3(b) tidak dapat digunakan, barang diklasifikasikan pada pos terakhir. Contohnya, suatu bingkai berbentuk bujur sangkar yang 2 sisi terbuat dari kayu dan dua sisi lainnya terbuat dari logam. Bingkai ini ditinjau dari bahan baku memiliki bahan yang sama dan seimbang antara pos 44.14 dan pos 83.06, namun karena menurut KUM HS 3c, maka bingkai tersebut harus diklasifikasikan pada pos terakhir, yaitu pos 83.06.

Gambar V.4 Van Belt Spesifikasi barang : a. Van belt merk : :Ando b. mengandung bahan plastik dan karet yang sama tebal c. memiliki kekuatan sama pada lapisan karet dan plastik Perhatikan vanbelt ini, bagaimana pengklasifikasiannya bila terbuat dari bahan plastik dan karet yang sama tebalnya ?

VI.7

Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System

4. KUM HS 4: Barang yang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi diatas, harus diklasifikasikan ke dalam pos yang sesuai untuk barang yang paling menyerupai. Penjelasan: a. KUM HS 4 baru digunakan apabila KUM HS 1 sampai dengan KUM HS 3 tidak dapat digunakan. Berdasarkan KUM HS 4, klasifikasi berdasarkan barang yang sifatnya paling sesuai (misalnya uraian barangnya, sifatnya, tujuannya). b. Ketentuan ini mengenai barang-barang yang tidak dapat diklasifikasikan ke

dalam salah satu pos dalam HS, karena tidak ada uraian yang sesuai (misalnya yang baru muncul di pasaran dunia). Ketentuan ini menetapkan bahwa barangbarang tersebut harus digolongkan kedalam pos memiliki persamaan terbanyak. c. Pada waktu menerapkan ketentuan No.4, barang yang akan diklasifikasikan harus diperbandingkan dengan uraian barang dalam beberapa pos HS yang memiliki kesamaan jenis atau karakternya. Hal tersebut dilakukan untuk meneliti pada pos mana yang memiliki unsur kesamaan terbanyak. d. Persamaan dapat tergantung dari beberapa faktor seperti nama, sifat, penggunaan, dan seterusnya. Perlu diingatkan, KUM HS 4 baru digunakan apabila benar-benar tidak ada lagi data atau informasi yang dapat diperoleh untuk mengidentifikasi barang dimaksud. Untuk itu, sebelum memutuskan menggunakan KUM HS 4, sangat disarankan untuk mencari lebih dulu informasi tentang barang dimaksud dari berbagai sumber yang ada, seperti literatur, data teknis, internet, dan sebagainya. atas barang yang

5. KUM HS 5 : Sebagai tambahan dari aturan di atas, Ketentuan berikut ini harus diberlakukan terhadap barang tersebut di bawah ini: Tas kamera, tas instrumen musik, koper senapan, tas instrumen gambar, kotak kalung dan kemasan semacam itu, dibentuk secara khusus atau pas untuk menyimpan barang atau perangkat barang tertentu, cocok untuk penggunaan jangka panjang dan diajukan bersama barangnya, harus diklasifikasikan menurut barangnya, apabila kemasan tersebut memang biasa dijual dengan barang tersebut.

VI.8

Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System

Namun demikian, ketentuan ini tidak berlaku untuk kemasan yang memberikan seluruh karakter utamanya; Penjelasan: KUM HS 5(a) berlaku untuk Peti (cases), kotak (boxes), dan tempat semacam itu yang: a. khusus dibuat untuk barang tertentu. b. digunakan untuk jangka waktu lama. c. dimasukkan bersama barangnya (bila dimasukkan terpisah diklasifikasikan pada pos tersendiri). d. biasa dijual bersama dengan barangnya. e. tidak memberikan sifat utama.

Contoh: tempat perhiasan, tempat teleskop, tempat alat musik, tempat senjata, dan sebagainya. Gambar V.5. Gitar disertai kemasannya

Spesifikasi barang : a. gitar dengan kemasannya b. merk :Refly c. Terbuat dari karet yang dilapisi tekstil tebal

Perhatikan gambar guitar dan kemasannya diatas. Bagaimana Saudara mengklasifikasiguitar beserta kemasan diatas ?

VI.9

Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System

KUM HS 5 b : Berdasarkan aturan dari ketentuan nomor 5 (a) di atas, bahan pembungkus dan kemasan pembungkus yang diajukan bersama dengan barangnya harus diklasifikasikan menurut barangnya, apabila bahan atau kemasan pembungkus tersebut memang biasa untuk membungkus barang tersebut. Namun demikian ketentuan ini tidak mengikat apabila bahan atau kemasan pembungkus tersebut secara nyata cocok untuk dipakai berulangulang. Penjelasan: Mengacu pada KUM HS 5(a), pembungkus/tempat simpan diklasifikasikan dengan barangnya bila biasa dipakai untuk barang tersebut. Ketentuan ini tidak berlaku untuk pembungkus/tempat simpan yang digunakan berulang-ulang (repetitive use), contohnya gas yang diimpor bersama pengemasnya (tabung gas di bawah tekanan), maka gasnya diklasifikasikan pada pos tarif gas, sedangkan pengemasnya diklasifikasikan pada pos tarif tabung gas. Ketentuan ini tidak berlaku untuk tempat simpan yang nilainya jauh lebih tinggi dari barang yang disimpan di dalamnya. Tempat semacam itu harus diklasifikasikan tersendiri Sebagai contoh, tempat teh dari perak dan tempat permen dari porselin berdekorasi China

Gambar V.6. Tabung Berisi Gas

Spesifikasi barang: a. tabung gas berisi gas b. merk :Reflon c. Terbuat baja tahan karat

Bagaimana pengklasifikasian suatu gas beserta tabungnya yang dapat diisi ulang ? Tabung gas LPG dengan isinya LPG pada pos berapa dalam Harmonized System ?

VI.10

Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System

6. KUM HS 6: Untuk tujuan hukum klasifikasi barang dalam sub pos dari suatu pos harus ditentukan berdasarkan uraian dari subpos tersebut dan catatan subpos bersangkutan, serta ketentuan ini di atas dengan penyesuaian seperlunya, dengan pengertian bahwa hanya subpos yang setara yang dapat diperbandingkan. Kecuali apabila konteksnya menentukan lain, untuk keperluan ketentuan ini diberlakukan juga catatan Bagian dan catatan Bab. Penjelasan: KUM HS 1 sampai dengan KUM HS 5 berlaku mutatis mutandis (secara langsung) untuk subsub pos pada satu pos yang sama (perbandingan pada takik yang sama). KUM HS 6 berlaku sepanjang konteksnya tidak menentukan lain. Artinya, catatan bagian, catatan bab, atau catatan subpos harus tetap menjadi pertimbangan utama. Contohnya, Platinum pada catatan 4(b) Bab 71 tidak sama dengan Platinum pada catatan subpos 2 (khusus untuk sub-pos 7110.11 dan 7110.19).

C. Rangkuman Dalam mengklasifikasi barang dalam BTBMI diperlukan suatu pedoman. Pedoman tersebut adalah Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan ketentuan untuk memasuki klasifikasi barang. Saat ini KUM HS hanya terdiri dari nomor 1 sampai dengan nomor 6. Dahulu sampai dengan 10, nomor 7 sampai 10 dihilangkan dan beberapa diantaranya menjadi surat keputusan Dirjen Bea dan Cukai

D. Latihan 6 1. Mengisi

Pertanyaan 1. Bagaimana bunyi KUM HS no. 1 1.

Jawaban

2. Dalam mengklasifikasi barang gantungan

2.

VI.11

Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System

kunci yang terdiri dari ring baja, rantai baja dan hiasan dari plastik, harus

menggunakan KUM HS nomor berapa ?

3. Bagaimana menurut pendapat Saudara mengenai penggunaan KUM HS nomor 4 dalam prakteknya ?

3.

4. Ceritakan KUM HS no 5b.

4.

2. Pilihan Ganda 1 Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi HS. Nomor satu mengandung arti : a. judul bagian mengikat b. Judul bab mengikat c. uraian barang tidak d. catatan mengikat

Susu yang telah dibubuhi dengan vitamin atau mineral tetap diklasifikasikan sebagai susu menurut prinsip Ketentuan Umum untuk Menginterpretasi Harmonized System nomor .............. a. nomor 2 a b. nomor 2 b c. nomor 3 a d. nomor 3 b

Kasus

yang

dapat

diselesaikan

dengan

Ketentuan

Umum

Untuk

Mengintrepertasi HS nomor 2 b berkaitan dengan ... a. minuman mineral murni b. minuman mineral ditambah vitamin c. sepeda hanya rangka

VI.12

Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System

d. mobil tidak ada ban 4 Judul Bab 42 diantaranya Barang dari kulit samak , namun kenyataannya pada pos 4202 ada peti dari plastik. Hal tersebut diperbolehkan sesuai Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System nomor...... a. no. 1 b. no. 2 a c. no. 2 b d. no. 3 a

Diimpor 100 set sepeda dalam keadaan terurai dan masing-msing set tidak ada 5 sadelnya diklasifikasikan sebagai sepeda menurut Ketentuan Umum untuk Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) nomor a. nomor 2a b. nomor 2b c. nomor 3a d. nomor 3b

Penerapan Ketentuan Umum untuk Menginterpretasi HS nomor 3a dapat dilakukan terhadap pengklasifikasian barang dibawah ini . a. saringan oli mobil tidak pada pos 8409 b. gigi kuda nil dianggap sebagai gading c.van belt ada lapisan plastik dan karet yang sama tebal d. barang dengan kemasan yang dapat diisi ulang

Suatu sepeda dalam keadaan terurai dan ada kerangkanya menurut Ketentuan Umum untuk Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) diklasifikasikan sebagai a. sepeda b. sepeda minus c. bagian sepeda

VI.13

Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System

d. sepeda tidak lengkap 8 Suatu barang yang pengklasifikasiannya dapat diselesaikan dengan Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System nomor 3 a yaitu terhadap kasus pengklasifikasian barang dibawah ini : a. karpet mobil pada bab 87 b. karpet mobil pada bab 57 c. sepeda ada variasinya d. sepeda hanya bannya

Satu set spagheti yang terdiri : mie, saus tomat, saus cabe dan kecap harus diklasifikasikan pada suatu komponen yang paling dominan yaitu mie dengan pos 19.02 menurut Ketentuan Umum untuk Menginterpretasi Harmonized System nomor . a. nomor 2a b. nomor 2b c. nomor 3a d. nomor 3b

10

Penerapan Ketentuan Umum untuk Menginterpretasi HS nomor 3c dapat dilakukan terhadap pengklasifikasian barang dibawah ini . a. minuman susu mengandung vitamin b. binatang yang dipergunakan untuk sirkus keliling masuk Bab 95 c.lapisan ban penggerak ada lapisan plastik dan karet yang sama tebal d. suatu barang yang uraian jenis barangnya tidak ada dalam BTBMI

11

Tabung gas yang dapat diisi ulang berisi gas oksigen, harus diklasifikasikan : a. pada satu pos tarif b. pada dua pos tarif c. sesuai KUM HS no. 5a d. pernyataan a, b dan c salah

12

Tustel yang diajukan beserta wadahnya diklasifikasikan dalam ... a. satu pos tarif sesuai wadah

VI.14

Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System

b. satu pos tarif sesuai tustel c. dua pos tarif wadah dan tustel d. diklasifikasikan sesuai kaidah dalam KUM HS 5b

VI.15

Tahapan Mengklasifikasi Barang

KEGIATAN BELAJAR BAB VII TAHAPAN MENGKLASIFIKASI BARANG

A. Tujuan Intrusional Khusus Setelah mempelajari Bab VII, para Mahasiswa mampu mempraktikan tahapan dalam mengklasifikasi barang berdarkan Harmonized System

B. URAIAN Secara lebih rinci, langkah-langkah berikut ini dapat digunakan untuk mengklasifikasi barang: 1. Kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi. atau mesin, kita bisa memilih bab-bab yang lebih spesifik. 2. Pilih bab atau bab-bab yang berkaitan dengan spesifikasi barang tersebut. Bila sudah kita tentukan, baca dan perhatikan baik-baik catatan Bagian dan catatan Bab yang berkaitan dengan pilihan bab atau bab-bab pada butir 1. 3. Perhatikan penjelasan-penjelasan dalam catatan Bagian maupun catatan Bab yang berkaitan dengan barang yang akan kita klasifikasi. Apabila ada catatan yang mengeluarkan barang tersebut dari Bab atau Bagian yang kita pilih, perhatikan pada Bagian, Bab, atau pos mana barang tersebut diklasifikasikan. 4. Baca dan cermati catatan Bagian atau Bab (atau catatan Sub-pos dalam hal tertentu) yang ditunjuk oleh penjelasan pada butir 3. Kita ulangi proses Dengan mengetahui spesifikasi barang, misalnya barang tersebut produk pertanian, barang kimia,

pengklasifikasian pada butir 3. Pada tahap ini, biasanya kita sudah mempunyai gambaran umum apakah barang tersebut diklasifikasikan di bab tersebut atau di bab lainnya. 5. Setelah menemukan satu bab yang paling sesuai berdasarkan kajian di atas,

VII.1

Tahapan Mengklasifikasi Barang

maka kita mulai menelusuri pos-pos yang mungkin mencakup barang yang akan kita klasifikasikan dalam bab tersebut. Pada tahap ini kadang-kadang kita sudah dapat menemukan pos yang mencakup barang tersebut dengan rinci. Bila sudah kita temukan satu pos yang tepat, maka langkah selanjutnya tinggal menentukan sub-pos (6-digit) dan pos tarif (9-digit) yang sesuai. Ingat, dalam penentuan subpos dan pos tarif pun kadang timbul permasalahan klasifikasi yang sama dengan penentuan pos (4-digit). Sampai tahap ini sebenarnya kita sedang menggunakan KUM HS 1. 6. Apabila sepintas lalu ada beberapa pos yang sesuai dengan spesifikasi barang, kita mulai menggunakan KUM HS 2. Ingat, kita baru dapat menggunakan KUM HS 2 apabila KUM HS 1 benar-benasr tidak dapat digunakan. Cara untuk meyakinkan bahwa KUM HS 1 gugur adalah dengan berusaha membuktikan bahwa hanya ada satu pos yang sesuai untuk barang tersebut. Dalam hal KUM HS 1 tidak bisa diterapkan karena informasi atau data spesifikasi barang kurang lengkap, maka yang harus dikerjakan adalah mencari informasi atau data tersebut lebih dulu. Jangan terburu-buru menggunakan KUM HS 2 sebelum kita benar-benar yakin KUM HS 1 tidak dapat digunakan. 7. Dalam hal menggunakan KUM HS 3 (b), perlu diperhatikan bahwa yang dimaksud dengan sifat utama (essential character) meliputi berbagai aspek. Beberapa aspek yang dapat digunakan sebagai dasar penentuan sifat utama adalah fungsi/kegunaan, nilai (value), dan bentuk fisik (appearance). Usahakan paling tidak selalu mempertimbangkan ketiga aspek tersebut sebelum menentukan sifat utama suatu barang campuran. 8. Dalam membandingkan pos-pos, sub-sub pos, atau pos-pos tarif, harus selalu diingat bahwa yang dibandingkan adalah pos-pos , sub-sub pos, atau pos-pos tarif yang setara (perhatikan takiknya). Ingat, dalam mengklasifikasi, perbandingan dimaksud tidak berdasarkan pembebanan impornya!. 9. Apabila sudah dipilih satu pos tarif yang benar-benar sesuai dengan uraian barang, langkah selanjutnya adalah melihat pembebanannya (BM, PPN, PPnBM, atau cukai) dan ada atau tidak peraturan tata niaganya (IT, IP, Pertamina, dan lain-lain.). Karena pembebanan tersebut sering berubah, jangan lupa selalu menggunakan pembebanan yang up to date berdasarkan ketentuan yang terbaru.

VII.2

Tahapan Mengklasifikasi Barang

C. Rangkuman Dalam proses mengklasifikasi barang diperlukan tahapan yang sesuai, agar menghasilkan keputusan yang tepat sesuai aturan yang benar. Pada prinsipnya meliputi identifikasi barang, mendeskripsikan jenis barang, kemudian melihat uraian barang dalam BTBMI sesuai dengan yang akan diklasifikasi. Pengamatan uraian barang dalam BTBMI dengan melihat bagaian, bab dan catatan yang berkaitan dengan barang yang akan diklasifikasi. Berdasarkan pertimbangan tersebut baru ditentukan pos tarif yang tepat.

D. LATIHAN 7

Pertanyaan 1. Mengapa diperlukan sebelum data mengklasifikasi mengenai barang, ? 1.

Jawaban

barangnya

Sebutkan contoh kasus ! 2. Bagaimana tahapan mengklasifikasi barang agar menghasilkan pos tarif yang akurat ? 3. Mengapa dalam mengklasifikasi barang harus memperhatiakan bagian dan bab serta catatan bagian dan catatan babnya yang terkait dengan barang tersebut ? 4. Apakah tahapan dalam mengklasifikasi Barang perlu dilakukan berurut ? Mengapa ? 5. Mengapa dalam menentukan bea masuk harus menggunakan BTBMI yang up to date ? 5. 4. 3. 2.

VII.3

Nota Penelitian Klasifikasi Barang

KEGIATAN BELAJAR BAB VIII NOTA PENELITIAN KLASIFIKASI BARANG

A. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mempelajari Bab VIII, para Mahasiswa mampu membuat nota penelitian klasifikasi barang dengan benar berdarkan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia

B. Uraian

1.

Pengantar Berkaitan dengan klasifikasi barang, setidaknya ada dua fihak yang Sebagaimana selama ini

berkepentingan yaitu aparat DJBC dan importir/PPJK.

telah berjalan, dalam rangka pengimporan importir/PPJK memberitahukan sendiri jenis barang, klasifikasi, dan pembebanan impornya. Selanjutnya DJBC akan meneliti dan menetapkan klasifikasi barang tersebut. Dalam mekanisme ini tidak jarang timbul perbedaan pendapat mengenai klasifikasi barang antara importir/PPJK dan aparat DJBC. Dalam mempertahankan pendapatnya, aparat DJBC diharuskan membuat uraian rinci yang menjelaskan dasar klasifikasi barang dimaksud. Dalam diktat ini disajikan cara membuat uraian rinci klasifikasi barang tersebut. Untuk memudahkan, uraian rinci klasifikasi barang dimaksud kita sebut saja Nota Penelitian Klasifikasi Barang. Kerangka nota penelitian klasifikasi barang sebenarnya tidak baku, bisa singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi. Namun dalam diktat ini pembuatan

nota penelitian klasifikasi barang tersebut diarahkan untuk mengikuti ketentuanketentuan dasar mengklasifikasi barang sesuai HS/BTBMI.

VIII.1

Nota Penelitian Klasifikasi Barang

2. Nota Penelitian Klasifikasi Barang Pada bagian akhir diktat ini disajikan juga contoh soal klasifikasi barang menggunakan nota penelitian klasifikasi barang. Soal tersebut dapat dijawab dengan menggunakan contoh nota penelitian di bawah ini: Contoh 1. a. Nama barang/uraian jenis barang b. Bagian, Bab, alasan/catatan Bag/Bab /Sub-pos yang terkait c. Explanatory Notes atau referensi lainnya d. Uraian klasifikasi barang tuliskan mulai dari 2 digit, 4 digit, 6 digit dan 9 digit

e. Kesimpulan

Contoh 2. (Contoh ini umumnya diterapkan pada penelitian klasifikasi di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai): Nama Barang/Uraian Jenis Barang Spesifikasi Barang (Komposisi, kapasitas, kemasan,bentuk, kegunaan, dll.) Pos (pos-pos) Yang Mungkin (Bisa satu atau lebih kemungkinan pos tarif) Dasar Klasifikasi Catatan : Bagian, Bab dan Sub pos a. Uraian pos, Explanatory Notes, BTBMI, dan informasi atau referensi lainnya b. c. d. Tentukan satu pos yang paling sesuai Tentukan sub-pos yang paling sesuai Tentukan pos tarif yang paling sesuai

Kesimpulan Klasifikasi Barang Barang dimaksud diklasifikasikan pada tarif xxxx.xx.xxx BM x% PPN x%.

3. Praktek Pembuatan Nota Penelitian Klasifikasi Barang:

VIII.2

Nota Penelitian Klasifikasi Barang

a. Nama dan Jenis barang: Norit mengandung arang aktif dari arang kayu dalam bentuk tablet 5 gram dipergunakan untuk mengatasi keracunan atau perut kembung. Bahan tersebut telah terdaftar dalam Farmakope Indonesia Alasan Klasifikasi: 1) Arang kayu masuk Bab 44. 2) Menurut catatan 1 (d) Bab 44 tidak meliputi arang aktif masuk pos 3802 3) Bab 38 catatan 1 (d) tidak meliputi barang untuk obat masuk Bab 30

Uraian klasifikasi : 1) Bab 30..Produk farmasi 2) Pos 3004. Obat dalam dosis tertentu.. 3) Subpos 3004.90 Lain-lain 4) Subpos 3004.90.90 Lain-lain 5) Pos tarif 3004.90.99.00 Lain-lain Kesimpulan : Norit diklasifikasikan pada pos tarif 3004.90.99.00 BM . % .PPN % PPh....%.

b. Nama dan Jenis barang: Shampo merk : KAO dalam tube 100 ml mengandung obat anti ketombe dan anti jamur atau kerontokan rambut Alasan Klasifikasi: 1) Shampo termasuk kosmetik Bab 33, shampo Pos 3305. ; 2) Bila mengandung obat Bab 30 Lihat Bab 30 catatan 1(d) :Bab ini tidak meliputi pos 3303-3307 walau mengandung obat Uraian klasifikasi: 1) Bab 33..kosmetika 2) Pos 3305 preparat digunakan pada rambut.. 3) Subpos 3305.10 shampo 4) Pos tarif 3305.10.90.00..shampo Kesimpulan:

VIII.3

Nota Penelitian Klasifikasi Barang

Shampo mengandung obat anti kerontokan diklasifikasikan pada pos tarif 3305.10.90.00 BM . % .PPN % PPh.......% c. Nama dan Jenis barang : Sosis daging sapi yang dimasak Alasan Klasifikasi : 1) Makanan olahan masuk Bagian IV 2) Olahan dari ikan masuk Bab 16, lihat cat 1 ..diolah selain dari bab 2 dan 3 masuk Bab 16 3) Lihat Bab 16 catatan 2 Bab 16 meliputi olahan daging lebih dari 20 % Uraian klasifikasi : 1) Bab 16 ...Olahan dari daging 2) Pos 1601 ...sosis 3) Subpos 1601.00.10. sosis 4) Pos tarif 1601.00.12.00mengandung daging sapi Kesimpulan : Sosis daging sapi tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 1601.00.12.00 BM . % .PPN % PPh %. makanan mengandung

d. Nama dan Jenis barang: Bahan untuk membuat cat besi mengandung bahan alkyd resin (poliester resin) 55 %, bahan pelarut yang mudah manguap 28 % dan bahan lainnya 13 % Alasan Klasifikasi : 1) Bahan cat termasuk produk kimia bagian VI, cat masuk bab 32 2) Lihat catatan 4 bab 32 ....... pos 3208 meliputi bahan yang mengandung bahan pelarut mudah menguap lebih dari 50 % 3) pelarut kurang dr 50 % ke pos 3907..

Uraian klasifikasi : 1) Bab 39..polimer 2) Pos 3907 poliester (alkid resin)

VIII.4

Nota Penelitian Klasifikasi Barang

3) Subpos 3907.50 alkid (poliester) dari poliester 4) Pos tarif 3907.50.10.00 cair Kesimpulan : Bahan cat tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 3907.50.10.00 BM . % .PPN % PPh.....%. e. Nama dan Jenis barang: Kawat pilinan dari baja terdiri dari 5 buah yang dipilin tidak diisolasi ukuran total diameter 2,5 cm digunakan untuk penarik mobil derek Alasan Klasifikasi : 1) Barang dari logam tidak mulia masuk Bagian XV. 2) Lihat Bagian XV catatan 2 kawat dipilin masuk bagian untuk pemakaian umum pos 7312 .Mobil derek masuk bab 87 3) Lihat Bagian XVII catatan 2(B) bagian untuk pemakaian umum tidak boleh masuk Bab 87 4) Barang dari logam tidak mulia masuk Bab 73, (walau bagian untuk mobil derek) Uraian klasifikasi : 1) Bab 73..barang dari baja 2) Pos 7312 ..kawat 3) Subpos 7312.10. kawat dipilin 4) Pos tarif 7312.10.90.00 ukuran 25 mm Kesimpulan : Kawat tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 7312.10.90.00 BM .% PPN % PPh.%. f. Nama dan Jenis barang : Bagian dari kendaraan bermotor berupa : Radiator untuk mobil bus mini untuk pengangkutan 15 orang dengan mesin diesel dalam keadaan CKD masa total 10 ton Alasan Klasifikasi : 1) Kendaraanbergerak selain diatas rel Bagian XVII, Kendaraan Bab 87 2) Radiator bagian dari kendaraan bermotor. Bagiannya masuk pos 8708.

VIII.5

Nota Penelitian Klasifikasi Barang

Uraian klasifikasi: 1) Bab 87 Kendaraan yang bergerak selain diatas rel 2) Pos 8708 bagian untuk kendaraan bermotor.. 3) Sub pos 8708.90 bagian dan aksesori lainnya . 4) Sub pos 8708.91. radiator 5) Pos tarif 8708.91.30.00 untuk bus mini Kesimpulan : Radiator tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 8708.91.30.00 BM . % .PPN % PPh %.

C. Rangkuman 1. Proses dalam mengklasifikasi barang harus seuai dengan aturan, demikian juga hasil penelitian klasifikasi barang harus disajikan dalam bentuk format yang benar. Pada umumnya hsil penelitian dituangkan dalam suatu format yang berisikan komponen : nama dan jenis barang, alas an klasifikasi, uraian klasifikasi dan kesimpulan. 2. Dalam membuat nota penelitian klasifikasi barang ada yang sederhana dengan hanya menggunakan BTBMI, namun dilapangan nama barang berdasarkan

hasil pemeriksaan, ditambah informasi barang dari brosur, hasil analisa laboratorium atau sumber informasi lainnya

D. Latihan 8

Pertanyaan 1. Sebutkab tahapan dalam membuat nota penelitian klasifikasi barang ? 1.

Jawaban

VIII.6

Nota Penelitian Klasifikasi Barang

2.

Nota

penelitian

klasifikasi

barang

2.

seyogyanya memuat hal-hal apa saja ? 3. Mengapa dalam mengklasifikasi barang tidak hanya menyebutkan 9 digitnya atau kesimpulannya saja ? 4. Tentukan pos tariff dari : Ayam gallus domesticus berat 300 gr, untuk bibit 5. Tentukan pos tariff dari personal komputer 5 4 3.

VIII.7

Catatan Penting Dalam Btbmi

KEGIATAN BELAJAR IX CATATAN PENTING DALAM BTBMI

A. Tujuan Unstruksional Khusus Setelah Mahasiswa pengklasifikasian Masuk Indonesia mempelajari mampu barang Bab IX, para menerapkan dengan benar

sesuai catatn penting dalam Buku Tarif Bea

B. Uraian Disamping KUM HS, catatan-catatan dalam HS merupakan bagian integral yang harus diperhatikan benar-benar. Catatan-catatan tersebut mempunyai kekuatan hukum sama seperti uraian pos atau sub-pos. HS mempunyai Catatan Bagian, Catatan Bab, dan Catatan Sub-pos. Catatan-catatan penting tersebut adalah: 1. Bagian II Bab 7 Catatan 2 2.- Dalam pos 07.09, 07.10, 07.11 dan 07.12 kata "sayuran" meliputi jamur, cendawan tanah, buah zaitun, kaper, labu sumsum, labu kuning, terong, jagung manis (Zea mays var. saccharata), buah dari genus Capsicum atau dari genus Pimenta, adas pedas, parsley, chervil, tarragon, cress dan marjoram manis (Majorana hortensis atau Origanum majorana) yang dapat dimakan. Contoh kasus : Biji jagung manis (sweet corn) dalam keadaan utuh dan kering untuk benih

2. Bagian II Bab 16 Catatan 2 2.- Olahan makanan digolongkan dalam Bab ini asalkan mengandung sosis, daging, sisa daging, darah, ikan atau krustasea, moluska atau invertebrata air lainnya,

IX.1

Catatan Penting Dalam Btbmi

atau berbagai kombinasinya, lebih dari 20% menurut beratnya. Dalam hal apabila olahan mengandung dua atau lebih produk yang disebut di atas, diklasifikasikan dalam pos pada Bab 16 yang sesuai dengan komponen atau komponen-komponen yang mendominasi menurut beratnya. Ketentuan ini tidak berlaku untuk produk diisi dari pos 19.02 atau olahan dari pos 21.03 atau 21.04. Contoh kasus Hamburger mengandung (dalam persentase berat) : roti 52 %, daging sapi goreng 22 %, sayuran 21 % dan lainnya 5 %

3. Bagian IV Bab 19 catan 1 1.- Bab ini tidak meliputi : a) Kecuali dalam hal produk diisi dari pos 19.02, olahan makanan mengandung b) sosis, daging, sisa daging, darah, ikan atau krustasea, moluska atau invertebrata air lainnya, atau berbagai kombinasinya, lebih dari 20% menurut beratnya (Bab 16); c) Biskuit atau barang lain yang dibuat dari tepung atau dari pati, diolah secara khusus untuk makanan hewan (pos 23.09); atau d) Obat-obatan dan produk lain dari Bab 30. Contoh kasus Suatu bungkusan olahan makanan spageti instan masak terdiri dari : 22 % daging sapi, 56 % spageti diisi (stuffed products) & 20 % bumbu lainnya Dikemas dalam kemasan kedap udara 500 gram untuk penjual eceran. 4. Bagian IV Bab 20 catatan subpos 2 2.- Untuk keperluan subpos 2007.10, istilah "olahan homogen" berarti olahan buah, dihomogenisasi secara halus, disiapkan untuk penjualan eceran sebagai makanan bayi atau untuk keperluan diet, dalam kemasan dengan berat bersih tidak melebihi 250 g. Untuk penerapan definisi ini tidak memperhitungkan sejumlah kecil berbagai bahan yang ditambahkan pada olahan tersebut sebagai penyedap, pengawet atau keperluan lain. Olahan ini dapat mengandung sejumlah kecil buah yang dapat dilihat.

IX.2

Catatan Penting Dalam Btbmi

Subpos 2007.10 harus dipertimbangkan lebih dahulu daripada subpos lain dari pos 20.07. Contoh kasus Suatu olahan yang serba sama (homogen) dalam bentuk tepung mengandung campuran dari (persentase berat) : daging 11 %, ikan 10 %, sayuran 15 % dan tepung beras 55 %. Dijual untuk penjual eceran sebagai makanan bayi dalam kemasan 200 gram.

5. Bagian VI Bagian VI catatan 3 3.- Barang yang disiapkan dalam set yang terdiri dari dua atau lebih unsur yang terpisah, beberapa atau seluruhnya yang digolongkan dalam Bagian ini dan dimaksudkan untuk dicampur bersama untuk memperoleh produk dari Bagian VI atau VII, harus diklasifikasikan dalam pos yang sesuai dengan produk tersebut, asalkan unsur tersebut : a) berdasarkan penyiapannya jelas dapat dikenal untuk digunakan bersamasama tanpa dibungkus ulang sebelumnya; b) diajukan bersama; dan c) pada saat diajukan, dapat dikenali sebagai unsur yang saling melengkapi d) satu sama lain, baik berdasarkan sifat atau perbandingan relatifnya. Contoh kasus Cairan pengkoreksi (correction fluid) dalam kotak ukuran 5 x 7 x 8 cm berisi 1 (satu) botol plastik berisi cairan pengencer 25 cc dan 1 (satu) botol plastik berisi correction fluid 25 cc.

6. Bagian VII Bab 39 catatan 4 4.- Istilah "kopolimer" meliputi semua polimer yang unit monomer tunggalnya tidak ada yang beratnya 95% atau lebih menurut berat total kandungan polimer tersebut. Untuk keperluan Bab ini, kecuali apabila konteksnya menentukan lain, kopolimer (termasuk kopolikondensasi, produk kopoliadisi, block copolymer dan graft

IX.3

Catatan Penting Dalam Btbmi

copolymer) dan campuran polimer harus diklasifikasikan dalam pos yang mencakup polimer dari unit komonomer tersebut yang beratnya mendominasi berat unit komonomer tunggal lainnya. Untuk keperluan Catatan ini, bagian unit komonomer dari polimer yang termasuk dalam pos yang sama harus digolongkan bersama. Dalam hal tidak terdapat unit komonomer tunggal yang mendominasi, maka kopolimer atau campuran polimer harus diklasifikasikan dalam pos terakhir berdasarkan urutan penomoran di antara pos yang mempunyai pertimbangan yang setara. Contoh kasus : 1. Bahan plastik jenis polivinil klorida dalam bentuk bubuk yang mengandung filler 10 % dan bahan plastisasi 10 % digunakan untuk pembuatan pipa pralon 2. Suatu bahan plastik kopolimer dari monomer polietilena 60 % dan komonomer vinil asetat 40 % dalam bentuk bubuk 7. Bagian VII Bab 40 catatan 4 4.- Dalam Catatan 1 Bab ini dan dalam pos 40.02, istilah "karet sintetik" berlaku untuk: a. Zat sintetik tidak jenuh yang dapat diubah dengan tidak kembali ke sifat semula melalui vulkanisasi menggunakan belerang menjadi zat non termoplastik, yang pada suhu antara 18 C dan 29 C tidak akan putus bila di rentang hingga tiga kali panjang aslinya, dan setelah direntang hingga dua kali panjang aslinya selama lima menit, panjangnya akan kembali menjadi tidak lebih dari satu setengah kali panjang aslinya. Untuk keperluan pengujian ini, dapat ditambahkan zat yang diperlukan untuk ikatan silang, seperti pengaktif dan akselerator vulkanisasi; keberadaan zat yang dimaksud oleh Catatan 5. b. (ii) dan (iii) juga diperkenankan. Namun demikian, keberadaan berbagai zat yang tidak diperlukan untuk ikatan silang, seperti perentang, peliat dan pengisi, tidak diperkenankan. Contoh kasus : Butiran stirene butadiene rubber 8. Bagian XI Bagian XI catatan 2 2.- (A) Barang yang dapat diklasifikasikan dalam Bab 50 sampai dengan 55 atau

IX.4

Catatan Penting Dalam Btbmi

dalam pos 58.09 atau 59.02 dan dari campuran dua bahan tekstil atau lebih harus diklasifikasikan seolah-olah seluruhnya terdiri dari satu bahan tekstil yang beratnya mendominasi berat setiap bahan tekstil lainnya. Apabila tidak satupun bahan tekstil yang mendominasi menurut beratnya, barang tersebut harus diklasifikasikan seolaholah seluruhnya terdiri dari satu bahan tekstil yang termasuk dalam pos terakhir berdasarkan urutan penomoran di antara pos-pos dengan pertimbangan yang setara. 2.- (B) Untuk keperluan ketentuan di atas: 1) benang lilit dari bulu kuda (pos 51.10) dan benang berlogam (pos 56.05) harus diperlakukan sebagai bahan tekstil tunggal yang beratnya dianggap seperti berat keseluruhan komponennya; untuk pengklasifikasian kain tenunan, benang berlogam harus dianggap sebagai bahan tekstil; 2) pilihan pos yang sesuai harus dilakukan, pertama, dengan menentukan Babnya, dan kemudian pos yang tepat dalam Bab tersebut, tanpa memperhatikan berbagai bahan yang tidak diklasifikasikan dalam Bab tersebut; 3) apabila Bab 54 dan 55 berkaitan dengan berbagai Bab lainnya, maka Bab 54 dan 55 harus diperlakukan sebagai Bab tunggal; 4) apabila Bab atau pos merujuk pada barang dari bahan tekstil yang berbeda , maka bahan tersebut harus diperlakukan sebagai bahan tekstil tunggal. Contoh kasus : Kain tenun terbuat dari serat rayon (tiruan) stapel 26 %, poliester filamen 33 % dan kapas 41 % dicelup 9. Bagian XV Bagian XV catatan 2 2. Dalam Nomenklatur ini, istilah "bagian untuk pemakaian umum" berarti : a) barang dari pos 73.07, 73.12, 73.15, 73.17 atau 73.18 dan barang semacam itu dari logam tidak mulia lainnya; b) pegas dan lembaran untuk pegas, dari logam tidak mulia, selain pegas jam atau arloji (pos 91.14); dan c) barang dari pos 83.01, 83.02, 83.08, 83.10 dan bingkai serta cermin dari logam tidak mulia, dari pos 83.06.

IX.5

Catatan Penting Dalam Btbmi

Dalam Bab 73 sampai dengan 76 dan Bab 78 sampai dengan 82 (tetapi tidak dalam pos 73.15) referensi untuk bagian barang tidak meliputi referensi untuk bagian pemakaian umum sebagaimana dirinci di atas. Contoh kasus Mur dan baut dari baja tahan karat, ukuran diameter 2 cm digunakan pada mesin cetus api untuk mobil sedan 1500 cc 10. Bagian XVI Bagaian XVI catatan 3, 4 dan 5 3.- Kecuali apabila konteksnya menentukan lain, mesin gabungan yang terdiri dari dua atau lebih mesin yang dipasang bersama untuk membentuk satu kesatuan dan mesin lainnya yang dirancang untuk keperluan melakukan dua fungsi atau lebih yang saling melengkapi atau fungsi alternatif, harus diklasifikasikan seolah-olah terdiri hanya dari komponen tersebut atau sebagai mesin tersebut yang melakukan fungsi utama. 4.- Apabila mesin (termasuk kombinasi mesin) terdiri dari komponen tersendiri (terpisah atau saling dihubungkan dengan pipa, dengan peralatan penggerak, dengan kabel listrik atau dengan peralatan lainnya) yang dimaksudkan untuk digunakan bersama untuk melakukan fungsi tertentu secara jelas, yang termasuk dalam salah satu pos dalam Bab 84 atau 85, seluruhnya harus diklasifikasikan dalam pos yang sesuai dengan fungsi tersebut. 5.- Untuk keperluan Catatan ini, istilah " mesin " berarti berbagai mesin, permesinan, instalasi, perlengkapan, aparatus atau peralatan yang disebut dalam pos pada Bab 84 atau 85. Contoh kasus : Diimpor mesin tenun yang terdiri dari 3 kelompok, yaitu :1) meisn tenun 2) komputer untuk merancang bangun pola kain dan 3) printer Bagian XVI catatan 5 5.- (A) Untuk keperluan pos 84.71, istilah "mesin pengolah data otomatis" berarti : (a) Mesin digital, yang dapat : (1) Menyimpan program atau programprogram pengolahan dan sekurang-kurangnya data yang diperlukan segera untuk

pelaksanaan program tersebut; (2) Diprogram secara bebas menurut kebutuhan

IX.6

Catatan Penting Dalam Btbmi

pemakai; (3) Mengerjakan perhitungan aritmatika yang ditentukan oleh pemakai; dan, (4) Tanpa intervensi manusia, melaksanakan program pengolahan yang memerlukan modifikasi pelaksanaannya, dengan keputusan yang logis, selama berlangsungnya pengolahan; Contoh kasus : Satu set komputer yang terdiri dari unit pengolah data, monitor dan key board. Dalam unit pengolah data terdapat program untuk mencek harga dengan cara menscan data pada barang tersebut. Unit pengolah data tersebut tidak dapat diprogram bebas sekehendak operator, misalnya tidak dapat diprogram microsof word dan sejenisnya yang terbaru 11. Bagian XVI catatan 7 7.- Untuk keperluan klasifikasi, mesin yang digunakan untuk lebih dari satu kegunaan, harus diperlakukan seolah-olah kegunaan utamanya adalah kegunaan satu-satunya. Berdasarkan Catatan 2 pada Bab ini dan Catatan 3 pada Bagian XVI, suatu mesin yang kegunaan utamanya tidak diuraikan dalam pos manapun atau yang tidak ada satupun kegunaannya merupakan kegunaan utama, kecuali apabila konteksnya menentukan lain, harus diklasifikasikan dalam pos 84.79. Pos 84.79 juga meliputi mesin untuk membuat tali atau kabel (misalnya, mesin penjalin, mesin pemilin atau mesin pembuat kabel) dari kawat logam, benang tekstil atau berbagai bahan lainnya atau dari kombinasi bahan bahan tersebut. Contoh kasus : Organizer yang dapat digunakan untuk membuat surat, mengirim dan mencetak tetapi tidak dapat diprogram sesuai program pengetikan terbaru Bab 85 catatan 4 4.- Untuk keperluan pos 85.34 "sirkit tercetak" adalah sirkit yang diperoleh dengan pembentukan di atas dasar pengisolasi, melalui berbagai proses pencetakan (misalnya, pencetakan timbul, penyepuhan, pengetsaan) atau melalui teknik "sirkit film" berupa elemen konduktor, kontak atau komponen tercetak lainnya (misalnya, induktansi, resistor, kapasitor), tersendiri atau saling berhubungan menurut pola yang ditetapkan sebelumnya, selain elemen yang dapat memproduksi, menyearahkan, memodulasi atau memperkuat sinyal elektris (misalnya, elemen semi konduktor).

IX.7

Catatan Penting Dalam Btbmi

Istilah " sirkit tercetak " tidak meliputi sirkit yang dikombinasi dengan elemen selain yang diperoleh selama proses pencetakan, juga tidak meliputi resistor, kapasitor, atau induktansi khusus. Namun demikian, sirkit tercetak dapat dilengkapi dengan elemen penghubung tidak dicetak. Sirkit film tipis atau tebal yang terdiri dari elemen pasif dan aktif yang diperoleh selama proses teknologis yang sama, harus diklasifikasikan dalam pos 85.42. 12. Bagaian XVII Bagian XVII catatan 2 2.- Istilah "bagian" serta "bagian dan aksesori" tidak berlaku untuk barang berikut, dapat diidentifikasi sebagai barang dari Bagian ini maupun tidak : a) sambungan, cincin pipih atau sejenisnya dari berbagai bahan (diklasifikasikan menurut bahan utamanya atau dalam pos 84.84) atau barang lainnya dari karet divulkanisasi selain karet keras (pos 40.16); b) bagian untuk pemakaian umum, sebagaimana dirinci dalam Catatan 2 Bagian XV, dari logam tidak mulia (Bagian XV), atau barang semacam itu dari plastik (Bab 39); c) barang dari Bab 82 (perkakas); d) barang dari pos 83.06; e) mesin atau aparatus dari pos 84.01 sampai dengan 84.79, atau bagiannya; barang dari pos 84.81 atau 84.82 atau barang dari pos 84.83, asalkan barang tersebut merupakan bagian integral dari mesin atau motor; f) mesin atau perlengkapan elektris (Bab 85); g) barang dari Bab 90; h) i) j) barang dari Bab 91; senjata (Bab 93); lampu atau alat kelengkapan penerangan dari pos 94.05; atau

k) sikat dari jenis yang digunakan sebagai bagian dari kendaraan ( pos 96.03). Contoh kasus Rantai sepeda motor dari baja keras untuk motor merk : Honda 3.- Referensi untuk "bagian" atau "aksesori" dalam Bab 86 sampai dengan 88 tidak berlaku untuk bagian atau aksesori yang tidak cocok untuk digunakan sematamata

IX.8

Catatan Penting Dalam Btbmi

atau terutama dengan barang dari Bab-bab tersebut. Bagian atau aksesori yang memenuhi uraian dalam dua pos atau lebih dari pos pada Bab-bab tersebut, harus diklasifikasikan menurut pos yang sesuai dengan penggunaan utama dari bagian atau aksesori tersebut.

13. Bagian XVIII Bab 90 catatan 7 7.- Pos 90.32 berlaku hanya untuk : (a) Instrumen dan aparatus untuk mengontrol arus, tinggi permukaan, tekanan atau variabel lainnya dari cairan atau gas secara otomatis, atau untuk mengontrol suhu secara otomatis, yang penggunaannya tergantung maupun tidak pada fenomena elektris yang berubah-ubah menurut faktor yang harus dikontrol secara otomatis, yang dirancang untuk memberi faktor tersebut untuk, dan mempertahankannya pada nilai yang dikehendaki, distabilkan terhadap gangguan, dengan pengukuran nilai aktual secara konstan atau periodik; dan (b) Regulator besaran listrik otomatis dan instrumen atau aparatus untuk mengontrol besaran bukan listrik secara otomatis, yang pengoperasiannya tergantung pada fenomena listrik yang berubah-ubah menurut faktor yang dikontrol, yang dirancang untuk memberi faktor ini untuk, dan mempertahankannya pada nilai yang dikehendaki, distabilkan terhadap gangguan, dengan pengukuran nilai aktual secara konstan atau periodik. Contoh kasus : Stabilizer otomatis untuk komputer dengan daya 1500 watt, 220 volt

14. Bagian XXI Bab 97 catatan 5 5.- Bingkai yang terpasang pada lukisan, gambar, gambar pastel, kolase atau plakat hiasan semacam itu, ukiran, barang cetakan atau litograf harus diklasifikasikan dengan barang tersebut, asalkan dari jenis dan nilai yang wajar untuk barang tersebut. Merujuk pada Catatan ini, bingkai yang bukan merupakan jenis atau nilai yang wajar untuk barang tersebut, harus diklasifikasikan terpisah. Contoh kasus : Gambar wanita cantik ukuran 30 x 50 cm disertai bingkai dari ukiran jati harga

IX.9

Catatan Penting Dalam Btbmi

sebanding dengan harga gambarnya 3. Rangkuman Salah satu syarat menjadi seorang klasifikator yang baik adalah harus dapat memahami catatan penting. Catatan merupakan salah satu syarat penting dalam mengklasifikasi barang. Bahkan dalam KUM HS nomor satu dinyatakan bahwa hal yang mengikat dalam mengklasifikasi barang adalah catatan, baik catatan bagian, bab maupun subpos. Berbagai jenis barang akan dijelaskan dengan catatan dalam bagian, bab maupun subpos yang bersifat mengikat.

4. Latihan 9

Pertanyaan 1. Sebutkan 3 contoh barang termasuk bagian untuk pemakaian umum ? 2. Bagaimana syarat komputer menurut 2. 1.

Jawaban

Harmonized system pada Bab 84 ? 3. Bagaimana pengklasifikasian motor untuk mobil mainan ? 4. Saringan udara untuk mesin diklasifikasikan pada pos berapa ? 5. Apakah bingkai dan gambar yang sama mahal harganya diklasifikasikan dalam satu pos tarif ? 5. 4 3

IX.10

Penutup

PENUTUP

The Harmonized

Commodity Description

and Coding

System (HS)

mempunyai berbagai keistimewaan, antara lain fungsi serba guna (multi fungsi), struktur sistematis dan sifatnya harmonis. HS disahkan oleh WCO dalam suatu Dengan

konvensi internasional (Konvensi HS) yang juga diratifikasi Indonesia. sistem klasifikasi barang yang berlaku di Indonesia.

meratifikasi konvensi HS, Indonesia mengadopsi sistem klasifikasi HS menjadi

Selanjutnya, HS tersebut dijabarkan lebih lanjut menjadi apa yang dikenal sebagai Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI). Sehubungan dengan telah diterbitkannya Amandemen HS 2007 oleh WCO dan revisi AHTN yang mulai diberlakukan tanggal 1 Januari 2007, maka untuk mengimplementasikan perubahanperubahan tersebut telah diterbitkan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 110/PMK.010/2006 tanggal 15 Nopember 2006. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan tersebut kemudian dilakukan penyusunan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia Tahun 2007 (BTBMI 2007) yang mulai diberlakukan tanggal 1 Januari 2007. Dalam mengklasifikasi barang harus mengikuti Ketentuan Umum

Menginterpretasi Harmonized System.

KUM HS mutlak diperlukan sebagai

pedoman dasar dan dipergunakan dalam melakukan klasifikasi barang

Secara lebih rinci, langkah dalam mengklasifikasi barang ialah : memahami jenis barang, mendeskripsikan barang, kemudian buka BTBMI, lihat bagaian dan bab terkait, baru melihat catatan dan atau KUMHS dan terakhir menentukan pos tarif. Sering berlatih dan membuat Nota PenelItian Klasifiaksi Barang akan membantu kemahiran dalam mengklasifilasi barang

GLOSARIUM 1 Alphabetical Index Urutan nama barang berdasarkan abjad

diserta nomor harmonized system dalam 6 digit 2 3 4 5 6 7 ASEAN BTBMI BTN CCC CCCN EN Association South East Asia Nation Buku Tarif Bea Masuk Indonesia Sistem Brussel ; Brussel Tariff Nomenclature Customs Cooperation Council Sistem Customs Cooperation Council The Explanatory Notes to the Harmonized System 8 9 HS Harmonized System Harmonized System Harmonized Commodity Description and Coding System 10 IATA 11 ICS 12 IUR Konvensi HS. The International Air Transport Association The International Chamber or Shipping The International Union Railway The Convention Of Harmonized Commodity Description and Coding System 13 KUM HS 14 Mesin Ketentuan Umum Menginterpretasi

Harmonized System berarti berbagai mesin, permesinan, instalasi, perlengkapan, aparatus atau peralatan yang disebut dalam pos pada Bab 84 atau 85. 15 Pellet Produk yang telah diaglomerasi baik secara langsung dengan cara dikompresi atau

dengan penambahan sejumlah kecil bahan pengikat. 16 Sistem barang klasifikasi adalah suatu daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis dengan tujuan untuk mempermudah penarifan perdagangan

17 SITC 18 WCO

The

Standard

International

Trade

Classificatioan World Customs Organization ; Organisasi Pabean Dunia

DAFTAR PUSTAKA a. Harmonized System, Wordl Customs Organization, 2007 version b. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (2007). c. Departemen Keuangan RI, Jakarta d. Explanatory Notes, World Customs Organization, 2007 e. Pengantar Klasifikasi Barang. (1995) Pusdiklat Bea dan Cukai. Jakarta ***

BIO DATA PENULIS Nama Tempat Tanggal Lahir Pekerjaan Alamat Telpon kantor Alamat Rumah : Adang Karyana S. : Jakarta, 11 Agustus 1957 : Widyaiswara pada Pusdiklat Bea dan Cukai : Jln. Bojana Tirta Rawamangun Jakarta : 1) 4897123 2)4890308 ext. 890 : Jln. Sumatera B-87 Komp. AL Jatibening Indah Riwayat Pekerjaan Pondok Gede Bekasi 17412

Telp. 8470128 Hp 08129578520 : - Pegawai Ditjen Bea dan Cukai 19821997 - Widyaiswara/Staff Bea dan Cukai Pengajaran Pengajar Pusdiklat 1998 - sekarang

: 1. Diklat teknis Kebea Cukaian Pegawai Bea dan cukai di Pusdiklat Bea dan Cukai 2. Diklat Ahli Kepabeanan 3. Program Kepabeanan Diploma dan Spesialisasi Cukai

Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Pendidikan : 1. Akademi Kimia Analisis Bogor (1980) 2. ST Teknologi Tekstil Bandung Pendidikan Kejuruan (1991)

: - Diklat Teknis Kebeacukaian Pusdiklat Bea dan Cukai Jakarta tahun 1987 - Diklat Ahli Kepabeanan Pusdiklat Bea dan Cukai Jakarta tahun 1999 - Technical Identification and Clasiffication of goods Japanese Customs. Jepang 1994 1995

Pengalaman Organisasi

: Tim penyusun Buku Tarif Bea Masuk Indonesia tahun 1996 & 2003