Anda di halaman 1dari 40

Mata Pelajaran Kelas/Semester

: Fisika : XII/2

A. Standar Kompetensi Menunjukkan penerapan konsep fisika inti dan radioaktivitas dalam teknologi dan kehidupan sehari-hari B. Kompetensi Dasar Mendeskripsikan pemanfaatan radoaktif dalam teknologi dan kehidupan sehari-hari C. Indikator 1) Menjelaskan jenis-jenis detektor radiasi 2) Menjelaskan cara kerja reaktor nuklir 3) Menjelaskan manfaat reaktor nuklir 4) Memberikan contoh pemanfaatan radioisotop dalam bidang kesehatan 5) Memberikan contoh pemanfaatan radioisotop dalam bidang pertanian 6) Memberikan contoh pemanfaatan radioisotop dalam bidang hidrologi 7) Memberikan contoh pemanfaatan radioisotop dalam bidang industri 8) Memberikan contoh pemanfaatan radioisotop dalam bidang peternakan 9) Memberikan contoh pemanfaatan radioisotop dalam bidang arkeologi 10) Menjelaskan bahaya radioaktif 11) Menjelaskan cara mengurangi resiko radiasi D. Materi Pokok Inti Atom dan Radioaktivitas E. Konsep Prasyarat Atom Radioaktivitas

F. Materi Esensial Jenis-Jenis Detektor Radiasi Raeaktor Nuklir Pemanfaatan Radioisotop Dampak Radioaktif Proteksi Terhadap Radiasi

G. Bagan Materi
-Detektor kamar Detektor isian gas - Detektor proprorsional - Detektor Geiger-Muller Detektor sintilasi Sinar Radioaktif

dideteksi dengan

Detektor Radiasi Detektor semikonduktor

Monitor Perorangan

-dosimeter saku -film badge -TLD

Bahan bakar moderator

komponen

Batang pengendali pendingin

Reaktor nuklir

perisai Reaktor fisi Reaktor termal

jenis
Reaktor cepat

Reaktor fusi

kesehatan

pertanian

manfaat

hidrologi

industri

peternakan radioisotop bahaya arkeologi

proteksi

H. Uraian Materi 1. Detektor Radiasi Sinar radioaktif tidak dapat dilihat dengan mata biasa, sehingga untuk mendeteksinya harus digunakan alat. Alat deteksi sinar radioaktif dinamakan detektor radiasi. Detektor radiasi bekerja dengan cara mengukur perubahan yang terjadi didalam medium karena adanya penyerapan energi radiasi oleh medium tersebut. mekanisme pendeteksian radiasi yaitu dengan menggunakan proses ionisasi(peristiwa terlepasnya elektron dari ikatannya di dalam atom) dan proses sintilasi (terpencarnya sinar tampak ketika terjadi transisi elektron dari tingkat energi (orbit) yang lebih tinggi ke tingkat energi yang lebih rendah di dalam bahan penyerap). Berikut ini akan dibahas beberapa detektor radiasi. a. Detektor Isian Gas Detektor ini memanfaatkan hasil interaksi antara radiasi pengion dengan gas yang dipakai sebagai detektor. Detektor ionisasi gas berbentuk silinder yang diisi gas dan mempunyai dua elektroda. Dinding tabung yang dipakai sebagai selubung gas sebagai elektroda negatif (katoda). Kawat di tengah-tengah tabung berfungsi sebagai elektroda positif (anoda).

Radiasi yang memasuki detektor akan mengionisasi gas dan menghasilkan ion-ion positif dan ion-ion negatif (elektron). Ion positif akan tertarik ke katoda dan ion negatif tertarik ke anoda. Jumlah ion yang akan dihasilkan tersebut sebanding dengan energi radiasi dan berbanding terbalik dengan daya ionisasi gas. Daya ionisasi gas berkisar dari 25 eV s.d. 40 eV. Ion-ion yang dihasilkan di dalam detektor tersebut akan memberikan kontribusi terbentuknya pulsa listrik ataupun arus listrik. Grafik hubungan tegangan kerja dengan tinggi pulsa

Daerah Rekombinasi merupakan daerah tegangan kerja detektor dimana pasangan ion yang terbentuk akan terjadi rekombinasi membentuk atom netral sebelum

mencapai elektroda. Rekombinasi akan semakin kecil apabila tegangan kerja detektor dinaikan. Kenaikan tegangan kerja menambah jumlah pasangan ion yang terjadi. Jenis-jenis detektor isian gas berdasrakan tegangan kerja nya adalah sebagai berikut: 1) Detektor kamar ionisasi Pada batas rentang tegangan kerja tertentu, jumlah pasangan ion (pulsa) yang terjadi tidak tergantung pada tegangan tetapi tergantung pada energi radiasi. Detektor yang bekerja pada daerah tegangan ini disebut Ionisasi. Pada detektor kamar ionisasi: Pulsa yang terbentuk relatif rendah, sehingga pengukurannya menggunakan cara arus Efektif mengukur radiasi dengan energi yang besar. Kenaikan tegangan tidak mempengaruhi tinggi pulsa 2) Detektor Proporsional Elektron yang terbentuk disekitar anoda memproduksi ionisasi sekunder, sehingga terjadi multiplikasi pasangan ion (Avalance). Avalance sebanding Detektor Kamar

dengan energi radiasi, sehingga tinggi pulsa sebanding dengan jumlah ion primer yang terjadi. Kenaikan tegangan juga menaikkan tinggi pulsa, detektor proporsional membutuhkan tegangan kerja yang stabil. Keuntungan dapat mengukur radiasi dengan energi yang rendah.

3) Detektor Geiger-Muller Detektor Geiger-Muller (GM) beroperasi pada tegangan di atas detektor proporsional. Dengan mempertinggi tegangan akan mengakibatkan proses ionisasi yang terjadi dalam detektor menjadi jenuh. Pulsa yang dihasilkan tidak lagi bergantung pada ionisasi mula-mula maupun jenis radiasi. Jadi, radiasi jenis apapun akan menghasilkan keluaran sama. Karena tidak mampu lagi membedakan berbagai jenis radiasi yang ditangkap detektor, maka detektor GM hanya dipakai untuk mengetahui ada tidaknya radiasi. Keuntungan dalam pengoprasian GM ini adalah denyut out put sangat tinggi, sehingga tidak

diperlukan penguat (amplifier) atau cukup digunakan penguat yang biasa saja. Prinsip kerja pencacah Geiger-muller ialah terdapat dua electrode yang dipasang pada alat ini. Tabung silindris bertindak sebagai katode dan sebagai anode digunakan kawat. Gas yang digunakan adalah gas argon pada tekanan 100 mmHg ditambah sedikit klorin. Jika tabung menangkap partikel dari radiasi luar, gas argon akan terionisasi menjadi ion-ion positif dan ion negative. Ion negative akan ditarik menuju ke anode. Selama perjalanan, ion ini juga akan mengionisasi gas argon yang dilewatinya. Terjadilah banyak sekali
Gambar 2: pencacah GM

ion pada ruang tersebut menuju ke anode sehingga terjadi arus listrik yang cukup besar. Dalam waktu yang singkat arus terputus, tetapi setiap kali partikel radioaktif masuk ke dalam tabung, timbul lagi arus listrik berupa pulsa dalam rangkaian. Pulsa inilah yang dideteksi menjadi bunyi melalui loudspeaker atau sinyal pada alat pencacah.
6

b. Detektor Sintilasi Detektor sintilasi selalu terdiri dari dua bagian yaitu bahan sintilator dan photomultiplier. Bahan Sintilator Proses sintilasi pada bahan ini dapat dijelaskan dengan Gambar dibawah ini. D i

d a l a m

k Di dalam kristal bahan sintilator terdapat pita-pita atau daerah yang dinamakan sebagai pita valensi dan pita konduksi yang dipisahkan dengan tingkat energi tertentu. Pada keadaan dasar, ground state, seluruh elektron berada di pita valensi sedangkan di pita konduksi kosong. Ketika terdapat radiasi yang memasuki kristal, terdapat kemungkinan bahwa energinya akan terserap oleh beberapa elektron di pita valensi, sehingga dapat meloncat ke pita konduksi. Beberapa saat kemudian elektron-elektron tersebut akan kembali ke pita valensi melalui pita energi bahan aktivator sambil memancarkan percikan cahaya. Jumlah percikan cahaya sebanding dengan energi radiasi diserap dan dipengaruhi oleh jenis bahan sintilatornya. Semakin besar energinya semakin banyak percikan cahayanya. Percikan-percikan cahaya ini kemudian ditangkap oleh

photomultiplier. Berikut ini adalah beberapa contoh bahan sintilator yang sering digunakan sebagai detektor radiasi. Bahan Organik: Sintilator Kristal Murni, Sintilator Cair, Sintilator Plastik Bahan Anorganik: NaI(Tl) : untuk Radiasi Gamma dan sinar-X, ZnS(Ag) : untuk radiasi Alpha Sintilator Gas : Ar, Kr, Xe, He, N, dll
7

Tabung Photomultiplier Bila bahan sintilator berfungsi untuk mengubah energi radiasi menjadi percikan cahaya maka tabung photomultiplier ini berfungsi untuk mengubah percikan cahaya tersebut menjadi berkas elektron, sehingga dapat diolah lebih lanjut sebagai pulsa / arus listrik. Tabung photomultiplier terbuat dari tabung hampa yang kedap cahaya dengan photokatoda yang berfungsi sebagai masukan pada salah satu ujungnya dan terdapat beberapa dinode untuk menggandakan elektron seperti terdapat pada gambar.

Photokatoda yang ditempelkan pada bahan sintilator, akan memancarkan elektron bila dikenai cahaya dengan panjang gelombang yang sesuai. Elektron yang dihasilkannya akan diarahkan, dengan perbedaan potensial, menuju dinode pertama. Dinode tersebut akan memancarkan beberapa elektron sekunder bila dikenai oleh elektron. Elektron-elektron sekunder yang dihasilkan dinode pertama akan menuju dinode kedua dan dilipatgandakan kemudian ke dinode ketiga dan seterusnya sehingga elektron yang terkumpul pada dinode terakhir berjumlah sangat banyak. Dengan sebuah kapasitor kumpulan elektron tersebut akan diubah menjadi pulsa listrik. Mekanisme pendeteksian radiasi pada detektor sintilasi dapat dibagi menjadi dua tahap yaitu : proses pengubahan radiasi yang mengenai detektor menjadi percikan cahaya di dalam bahan sintilator proses pengubahan percikan cahaya menjadi pulsa listrik di dalam tabung photomultiplier Skema diagram detektor sintilasi

c. Detektor Semikonduktor Bahan semikonduktor, yang diketemukan relatif lebih baru daripada dua jenis detektor di atas, terbuat dari unsur golongan IV pada tabel periodik yaitu silikon atau germanium. Detektor ini mempunyai beberapa keunggulan yaitu lebih effisien dibandingkan dengan detektor isian gas, karena terbuat dari zat padat, serta mempunyai resolusi yang lebih baik daripada detektor sintilasi. Energi radiasi yang memasuki bahan semikonduktor akan diserap oleh bahan sehingga beberapa elektronnya dapat berpindah dari pita valensi ke pita konduksi. Bila di antara kedua ujung bahan semikonduktor tersebut terdapat beda potensial maka akan terjadi aliran arus listrik. Jadi pada detektor ini, energi radiasi diubah menjadi energi listrik.

Sambungan semikonduktor dibuat dengan menyambungkan semikonduktor tipe N dengan tipe P (PN junction). Kutub positif dari tegangan listrik eksternal dihubungkan ke tipe N sedangkan kutub negatifnya ke tipe P seperti terlihat pada Gambar. Hal ini menyebabkan pembawa muatan positif akan tertarik ke atas (kutub negatif) sedangkan pembawa muatan negatif akan tertarik ke bawah (kutub positif), sehingga terbentuk (depletion layer) lapisan kosong muatan pada sambungan PN. Dengan adanya lapisan kosong muatan ini maka tidak akan terjadi arus listrik.
9

Bila ada radiasi pengion yang memasuki lapisan kosong muatan ini maka akan terbentuk ion-ion baru, elektron dan hole, yang akan bergerak ke kutub-kutub positif dan negatif. Tambahan elektron dan hole inilah yang akan menyebabkan terbentuknya pulsa atau arus listrik. Karena daya atau energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan ion-ion ini lebih rendah dibandingkan dengan proses ionisasi di gas, maka jumlah ion yang dihasilkan oleh energi yang sama akan lebih banyak. Hal inilah yang menyebabkan detektor semikonduktor sangat teliti dalam membedakan energi radiasi yang mengenainya atau disebut mempunyai resolusi tinggi. Sebenarnya, kemampuan untuk membedakan energi tidak terlalu diperlukan dalam pemakaian di lapangan, misalnya untuk melakukan survai radiasi. Akan tetapi untuk keperluan lain, misalnya untuk menentukan jenis radionuklida atau untuk menentukan jenis dan kadar bahan, kemampuan ini mutlak diperlukan. Kelemahan dari detektor semikonduktor adalah harganya lebih mahal, pemakaiannya harus sangat hati-hati karena mudah rusak dan beberapa jenis detektor semikonduktor harus didinginkan pada temperatur Nitrogen cair sehingga memerlukan dewar yang berukuran cukup besar. d. Detektor Kamar Kabut Jika udara didinginkan sehingga uap

mencapai keadaan jenuh, maka udara itu masih dapat didinginkan Pada tanpa ini, terjadi uap

pengembunan.

keadaan

dinamakan superjenuh. Keadaan superjenuh ini akan terjadi hanya jika udara bebas dari debu atau partikel-partikel garam yang dapat bertindak sebagai inti pengembunan sehingga membentuk tetes-tetes kabut. Pada tahun 1911, Wilson menemukan bahwa ion-ion gas dapat juga bertindak sebagai inti pengembunan. Kemudian gejala ini digunakan untuk menunjukkan lintasan-lintasan radiasi ionisasi melalui udara. Sebuah sumber radioaktif memancarkan partikel-partikel dalam sebuah kamar udara yang jenuh dengan uap air dan alkohol. Ketika partikel-partikel ini melalui udara, mereka bertumbukan dengan molekul-molekul udara. Tumbukan ini mengakibatkan

terjadinya ionisasi, sehingga meninggalkan jejak ion positif dan negatif. Jika tekanan dalam kamar dikurangi dengan cara memompa sebagian udara keluar, maka udara
10

menjadi lebih dingin. Keadaan ini memungkinkan partikel-partikel uap superjenuh mengembun pada ion-ion tersebut, sehingga jejak tetes-tetes uap sepanjang lintasan ion-ion dapat terlihat. Bentuk jejak kabut yang dihasilkan dalam bergantung pada partikel-partikel radioaktif yang digunakan. e. Monitor Perorangan Dosimeter saku Dapat langsung dibaca tanpa alat bantu lainnya. Prinsip kerja: ionisasi gas dan juga menggunakan prinsip elektroskop, dimana apabila pada anodanya diberi muatan, maka kedua tuas pada ujung anodanya (satu tetap, yang satu dapat bergerak bebas) akan saling menolak, sehingga tuas yang bergerak bebas akan menunjukan angka nol. Rentang terbatas sampai dengan 200 mrem/1 Rem Film Badge Prinsip:Penghitaman/densitas film. Emulsi AgBr yang digunakan sebagai detektornya apabila terkena radiasi akan terurai menjadi ion Ag dan ion Br dan setelah melalui tahapan proses pengambangan dan pemantapan akan terjadi bayangan laten pada film. Tingkat kehitaman film sebanding dengan jumlah dosis radiasi. Pada Holder film badge terdapat filter yaitu alumunium, timah hitam dan tembaga atau seng yang gunanya untuk membedakan jenis dan energi radiasi.Pengukuran terbatas sampai dengan 300 rem. Thermo Luminesence Dosimeter (TLD) Prinsip Kerja: Koversi Panas menjadi Cahaya Bahan: kristal fosfor, jika terkena radiasi pada temperatur normal, elektronelektron bebas yang terjadi diperangkap dalam kisi-kisi dalam bentuk cacat dengan kondisi tidak stabil. Apabila fosfor dipanaskan, energi yang berasal dari elektron yang terperangkap akan terlepas dan kembali pada posisi semula sambil memancarkan cahaya. Cahaya yang timbul ini akan ditangkap oleh alat TLD Reader dan dikonversikan dalam pembacaan dosis radiasi.Dengan adanya proses pemanasan inilah maka detektor ini disebut Thermo Luminesence Dosimeter. Dapat mengukur dosis radiasi sampai dengan 4.000 rem. kamar kabut

11

Rangkuman mengenai detektor radiasi Bahan Gas Semikonduktor Cairan Kristal Kristal Emulsi foto 2. Reaktor Nuklir Reaktor nuklir adalah tempat terjadinya reaksi inti berantai terkendali, baik pembelahan inti (fisi) atau penggabungan inti (fusi). Reaktor nuklir pertama kali dibangun oleh Enrico Fermi pada tahun 1942 di Universitas Chicago. Hingga sat ini telah ada berbagai jenis dan ukuran rekator nuklir, tetapi semua reaktor atom tersebut memiliki lima komponen dasar yang sama, yaitu: elemen bahan bakar, moderator netron, batang kendali, pendingin dan perisai beton. 1) Elemen bahan bakar Elemen bahan bakar ini berbentuk batang-batang tipis dengan diameter kira-kira 1 cm. Dalam suatu reaktor daya besar, ada ribuan elemen bahan bakar yang diletakkan saling berdekatan. Seluruh elemen bahan bakar dan daerah sekitarnya dinamakan teras reaktor. Umumnya, bahan bakar reaktor adalah uranium-235. oleh karena isotop ini hanya kira-kira 0,7% terdapat dalam uranium alam, maka diperlukan proses khusus untuk memperkaya (menaikkan prosentase) isotop ini. Kebanyakan reaktor atom komersial menggunakan uranium-235 yang telah diperkaya sekitar 3%. 2) Moderator Netron Netron yang mudah membelah inti adalah netron lambat yang memiliki energi sekitar 0,04 eV (atau lebih kecil), sedangkan netron-netron yang dilepaskan selama proses pembelahan inti (fisi) memiliki energi sekitar 2 MeV. Oleh karena itu , sebuah raktor atom harus memiliki material yang dapat mengurangi kelajuan netronnetron yang energinya sangat besar sehingga netron-netron ini dapat dengan mudah membelah inti. Material yang memperlambat kelajuan netron dinamakan moderator. Moderator yang umum digunakan adalah air. Ketika netron berenergi tinggi keluar dari sebuah elemen bahan bakar, netron tersebut memasuki air di sekitarnya dan bertumbukan dengan molekul-molekul air. Netron cepat akan kehilangan sebagian Gejala yang terjadi Muatan/arus/pulsa listrik Muatan/pulsa listrik Percikan cahaya Termoluminesen Penghitaman film Jenis detektor Isian gas Semikonduktor Sintilasi TLD Film Badge

12

energinya selama menumbuk molekul air (moderator) terutama dengan atom-atom hidrogen. Sebagai hasilnya netron tersebut diperlambat. 3) Batang Kendali Jika keluaran daya dari sebuah reaktor dikehendaki konstan, maka jumlah netron yang dihasilkan harus dikendalikan. Sebagaimana diketahui, setiap terjadi proses fisi ada sekitar 2 sampai 3 netron baru terbentuk yang selanjutnya menyebakan proses berantai. Jika netron yang dihasilkan selalu konstan dari waktu ke waktu (faktor multiplikasinya berniali 1), maka reaktor dikatakan berada pada kondisi kritis.

Sebuah reaktor normal bekerja pada kondisi kritis. Pada kondisi ini reaktor menghasilkan keluaran energi yang stabil. Jika netron yang dihasilkan semakin berkurang (multiplikasinya kurang dari 1), maka reaktor dikatakan berada pada kondisi subkritis dan daya yang dihasilkan semakin menurun. Sebaliknya jika setiap saat netron yang dihasilkan meningkat (multiplikasinya lebih besar dari 1), reaktor dikatakan dalam keadaan superkritis. Selama kondisi superkritis, energi yang dibebaskan oleh sebuah reaktor meningkat. Jika kondisi ini tidak dikendalikan, meningkatnya energi dapat mengakibatkan mencairkan sebagian atau seluruh teras reaktor, dan pelepasan bahan radioaktif ke lingkungan sekitar. Jelas bahwa sebuah mekanisme kendali sangat diperlukan untuk menjaga reaktor pada keadaan normal atau kondisi kritis. Kendali ini dilakukan oleh sejumlah batang kendali yang dapat bergerak keluar-masuk teras reaktor. Batang kendali terbuat dari bahan-bahan penyerap netron, seperti boron dan kadmium. Jika reaktor menjadi superkritis, batang kendali secara otomatis bergerak masuk lebih dalam ke dalam teras reaktor untuk menyerap kelebihan netron yang menyebabkan kondisi itu kembali ke kondisi kritis. Sebaliknya, jika reaktor menjadi subkritis, batang kendali sebagian ditarik menjauhi teras reaktor sehingga lebih sedikit netron yang diserap. Dengan demikian, lebih banyak netron tersedia untuk reaksi fisi dan reaktor kembali ke kondisi kritis. Untuk menghentikan operasi reaktor (misal untuk perawatan), batang kendali turun penuh sehingga seluruh netron diserap dan reaksi fisi berhenti. 4) Pendingin Energi yang dihasilkan oleh reaksi fisi meningkatkan suhu reaktor. Suhu ini

dipindahkan dari reaktor dengan menggunakan bahan pendingin, misalnya air atau karbon dioksida. Bahan pendingin (air) disirkulasikan melalui sistem pompa, sehingga air yang keluar dari bagian atas teras reaktor digantikan air dingin yang masuk melalui bagin bawah teras reaktor.
13

5) Perisai Beton Inti-inti atom hasil pembelahan dapat menghasilkan radiasi. Untuk menahan radiasi ini (radiasi sinar gamma, netron dan yang lain), agar keamanan orang yang bekerja di sekitar reaktor terjamin, maka umumnya reaktor dikungkungi oleh perisai beton. Beberapa jenis reaktor adalah sebagai berikut: 1) Pressurized water reactors (PWR) Reaktor ini menggunakan air sebagai penghantar panas yang dihasilkan dari reaksi fisi pada tekanan tinggi. Tekanan tinggi dibutuhkan agar air tidak menjadi uap pada saat menghantarkan panas. Model ini yang biasanya dipakai sebagai pada kebanyakan reaktor. 2) Boiling water reactors (BWR) Pendinginan reaktor ini dengan menggunakan air pada tekanan yang tidak terlalu tinggi. Pada reaktor ini, air masih diperbolehkan untuk mendidih dalam reaktor. Hal ini yang tidak diperbolehkan pada reaktor tipe PWR 3) CANDU Reaktor ini didesain oleh orang kanada. Sistem pendinginan reaktor ini menggunakan air berat dengan pemberian tekanan yang sesuai. 4) RBMKs Reaktor ini didesain oleh orang rusia untuk memproduksi plutonium sebagai pembangkit energi. Graphit digunakan sebagai moderator pada reaktor ini. 5) Gas Cooled Reactor (GCR) Menggunakan graphit sebagai moderator dan CO2 sebagai penghantar panas ke dalam reaktor. Hanya saja, umur dari reaktor ini cukup singkat, sekitar 10-20 tahun. 6) Super Critical Water-cooled Reactor (SCWR) Reaktor ini kombinasi antara reaktor GCR dan PWR. Reaktor ini masih dalam tahap pengembangan. 7) Liquid Metal Fast Breeder Reactor (LMFBR) Desain reaktor ini menggunakan pendingin logam cair dan sama sekali tidak menggunakan moderator.

Pada reaktor fisi nuklir dapat digunakan senyawa uranium-238. Alternatif bahan bakar yang lain adalah uranium-233 yang berasal dari peluruhan senyawa thorium. Senyawa thorium lebih berlimpah 3 kali lipat dari senyawa uranium.
14

Untuk reaktor fusi nuklir, dapat digunakan senyawa deutorium, isotop dari hidrogen, atau yang sekarang masih dalam eksperimen digunakan senyawa litium. Jika reaktor fusi nuklir ini telah sempurna, maka dengan menggunakan cadangan litium yang ada di bumi ini, energi yang dihasilkan bisa digunakan untuk kebutuhan

konsumsi energi di bumi selama 3000 tahun (dengan asumsi kebutuhan akan energi tidak meningkat dari tahun ke tahun). Jika digunakan litium dari laut maka energinya cukup untuk 60 juta tahun. Dengan bahan deuterium yang berasal dari alam, energi yang dihasilkan dapat bertahan hingga 150 milyar tahun. Sampai saat ini, reaksi fusi belum dapat dirancang oleh manusia karena membutuhkan suhu yang sangat tinggi. Hal ini menyebabkan pemanfaatan reaksi fusi sebagai sumber energi listrik belum dapat direalisasikan. Reaksi nuklir lain yang sudah dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik adalah reaksi fisi. Reaktor Fisi Nuklir Berdasarkan tenaga neutron yang melangsungkan reaksi pembelahan, Reaktor fisi dibedakan menjadi: 1) Reaktor Termal Thermal (slow) reactors menggunakan neutron thermal yang lebih lemah energinya. Tipe ini berdasarkan pada material moderator yang digunakan untuk memperlambat partikel neutron dalam reaktor nuklir, untuk kemudian diberikan energi panas pada neutron tersebut sehingga reaksi fisi terjadi. Jenis reaktor ini seperti reaktor RBMK ,PWR, BWRs dan CANDU. 2) Reaktor cepat (Fast Reactor) Fast Reactors menggunakan neutron dengan kecepatan yang lebih tinggi untuk memulai terjadinya reaksi fisi. Untuk reaktor ini digunakan bahan bakar berenergi tinggi seperti plutonium. Karena bila digunakan uranium maka neutron pada reaktor tipe ini akan lebih banyak diserap daripada digunakan untuk memulai reaksi fisi yang akhirnya akan mengubah uranium ini (U-238) menjadi plutonium (Pu-239). Contoh reaktor tipe ini adalah FBR (Fast Breeder Reactor). Berdasarkan fungsinya reaktor dibedakan menjadi: 1) Reaktor Penelitian Reaktor riset/penelitian adalah suatu reaktor yang dimanfaatkan untuk berbagai macam tujuan penelitian. Misalnya reaktor uji material yang digunakan secara khusus untuk uji iradiasi, reaktor untuk eksperimen fisika reaktor, reaktor riset
15

untuk penelitian dengan menggunakan berkas neutron dan alat eksperimen kekritisan, reaktor untuk pendidikan dan pelatihan. Pada reaktor penelitian, yang diutamakan adalah pemanfaatan netron hasil pembelahan untuk berbagai penelitian dan iradiasi serta produksi radioisotop. Panas yang ditimbulkan dirancang sekecil mungkin sehingga panas tersebut dapat dibuang ke lingkungan. Pengambilan panas pada reaktor penelitian dilakukan dengan sistem

pendingin,yang terdiri dari sistem pendingin primer dan sistem pendingin sekunder. Panas yang berasal dari teras reaktor diangkut oleh air di sekitar teras reaktor (sistem pendingin primer) dan dipompa oleh pompa primer menuju alat penukar panas. Selanjutnya panas dibuang ke lingkungan melalui menara

pendingin (alat penukar panas pada sistem pendingin sekunder). Perlu diketahui bahwa antara alat penukar panas, sistem pendingin primer atau sekunder tidak terjadi kontak langsung. Beberapa macam reaktor penelitian diantaranya adalah reaktor untuk eksperimen berkas neutron dan uji iradiasi material, reaktor untuk eksperimen perisai, reaktor untuk uji pulsa dan lain-lain. Tipe-tipe reaktor riset antara lain tipe kolam berpendingin dan bermoderator air berat, tipe kolam berpendingin dan bermoderator air ringan dan tipe kolam berpendingin air ringan dan bermoderator air berat. 2) Reaktor Daya Pada reaktor daya, panas yang timbul dari pembelahan dimanfaatkan untuk menghasilkan uap yang bersuhu dan bertekanan tinggi untuk memutar turbin dalam sistem PLTN (pembangkit Listrik Tenaga Nuklir). Berdasarkan jenis

pendinginnya ada beberapa reaktor daya. Dalam pembahasan ini akan dibahas Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir yang menggunakan reaktor air bertekanan (Pressurized Water Reactor,disingkat PWR). Pada PLTN, bahan bakar sebuah reaktor nuklir berupa uranium. Uranium merupakan salah satu hasil tambang yang terdapat di bumi. Uranium-238 (U-238) mempunyai waktu paruh yang sangat lama (4,5 milyar tahun) dengan komposisi 99 persen dari total uranium yang ada di bumi. Komposisi lainnya, U-235

mempunyai sekitar 0,7 persen dan U-234 jauh lebih rendah yang dibentuk melalui proses peluruhan U-238 (U-238 melalui beberapa tahap peluruhan alpha dan beta untuk membentuk isotop yang lebih stabil dan U-234 adalah salah satu hasil dari mata rantai dari peluruhan ini).

16

Dalam PWR, kalor yang dihasilkan dalam batang-batang bahan bakar diangkut keluar dari teras reaktor oleh air yang terdapat di sekitarnya (sistem pendingin primer). Air ini secara terus-menerus dipompakan oleh pompa primer ke dalam reaktor melalui saluran pendingin reaktor (sistem pendingin primer).

Untuk mengangkut kalor sebesar mungkin,

suhu air dikondisikan mencapai

300 0 C Untuk menjaga air tidak mendidih (yang dapat terjadi pada suhu 1000 C

pada tekanan 1 atm), air diberi tekanan 160 atm. Air panas diangkut melalui suatu alat penukar panas (heat exchanger), dan kalor dari air panas dipindahkan ke air yang mengalir di sekitar alat penukar panas (sistem pendingin sekunder). Kalor yang dipindahkan ke sistem pendingin sekunder memproduksi uap yang memutar turbin. Turbin dikopel dengan suatu generator listrik, tempat daya keluaran listrik menuju konsumen melalui kawat transmisi tegangan tinggi. Setelah keluar dari turbin, uap didinginkan kembali menjadi air oleh pengembun (condenser) dan kemudian dikembalikan lagi ke alat penukar panas oleh pompa sekuder.Energi panas yang dhasilkan dari pembelahan satu kilogram bahan bakar nuklir U-235 sebesar 17 miliar kalori, atau setara dengan energi panas yang dihasilkan 2,4 juta kilogram atau 2.400 ton batu bara. Oleh sebab itulah kita harus bisa memanfaatkan energi tersebut untuk mencukupi kebutuhan energi listrik.PLTN memiliki dampak positif dan negatif dalam pengoperasiannya. Berikut adalah

17

keuntungan dan kekurangan PLTN. Keuntungan PLTN dibandingkan dengan pembangkit daya utama lainnya adalah: Tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca (selama operasi normal) gas rumah kaca hanya dikeluarkan ketika Generator Diesel Darurat dinyalakan dan hanya sedikit menghasilkan gas Tidak mencemari udara - tidak menghasilkan gas-gas berbahaya sepert karbon monoksida, sulfur dioksida, aerosol, mercury, nitrogen oksida, partikulate atau asap fotokimia Sedikit menghasilkan limbah padat (selama operasi normal) Biaya bahan bakar rendah - hanya sedikit bahan bakar yang diperlukan Ketersedian bahan bakar yang melimpah - sekali lagi, karena sangat sedikit bahan bakar yang diperlukan Berikut ini berberapa hal yang menjadi kekurangan PLTN: Risiko kecelakaan nuklir - kecelakaan nuklir terbesar adalah kecelakaan Chernobyl (yang tidak mempunyai containment building) Limbah nuklir. Limbah radioaktif adalah jenis limbah yang mengandung bahan/ unsur/ material radioaktif atau bersifat radioaktif yang tidak mempunyai tujuan praktis tertentu. Limbah radiaktif biasanya dihasilkan dari sebuah proses nuklir misalnya proses fisi nuklir. Kebanyakan limbah radioaktif adalah limbah radioaktif dengan tingkat rendah, yang artinya mempunyai tingkat

radiaoktivitas rendah (baik per massa atau per volume). Limbah radioaktif jenis ini biasanya diisi oleh material pelindung radiasi yang hanya sedikit terkontaminasi. Reaktor Fusi Nuklir Reaksi fusi nuklir pertama kali diamati lewat penembakan atom deuterium dengan partikel deutron yang berkecepatan tinggi. Partikel deutron ini dipercepat di dalam suatu cyclotron hingga energinya menjadi cukup besar untuk memicu

terjadinya fusi nuklir. Reaksi fusi nuklir hanya akan berlangsung pada temperatur dan tekanan yang sangat tinggi. Reaksi yang sama terjadi di matahari dimana dua atom hidrogen bergabung untuk membentuk atom helium yang lebih berat dengan disertai energi yang sangat besar.

18

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, reaksi fusi nuklir hanya terjadi pada temperatur dan tekanan yang sangat tinggi, hingga mencapai temperatur matahari dengan tekanan berjuta kali tekanan atmosfir. Pada kondisi tersebut, materi akan berada dalam keadaan plasma dimana materi akan berupa ion-ion yang bergerak dengan sangat cepat. Dalam fasa plasma inilah reaksi fusi nuklir berlangsung. Temperatur plasma dapat mencapai seratus juta derajat celcius, sehingga tidak mungkin digunakan suatu reaktor yang bersentuhan langsung dengan plasma tersebut. Pada kenyataannya, reaksi fusi nuklir ini dilakukan di dalam

kontainer yang berupa medan magnet. Hal ini dapat dilakukan karena plasma itu sendiri bermuatan merupakan partikel-partikel

sehingga dapat berinteraksi

dengan medan magnet. Dengan cara ini, reaksi fusi nuklir di dalam plasma dapat berlangsung tanpa harus bersentuhan dengan dinding reaktor. Prinsip itulah yang digunakan di dalam desain reaktor Tokamak. Metoda lain yang digunakan dalam reaksi fusi nuklir adalah Inertial Confinement dimana suatu bahan bakar fusi nuklir diinisiasi oleh laser berenergi tinggi secara bertahap. Bahan bakar fusi nuklir ini dimasukkan ke dalam reaktor lalu ditembak dengan laser berenergi tinggi sehingga reaksi fusi dapat berlangsung seketika. Laser yang digunakan memiliki cukup energi untuk memanaskan temperatur bahan bakar fusi nuklir hingga mencapai jutaan derajat celcius dalam waktu singkat. Sistem ini dapat dianalogikan dengan sistem mesin kendaraan bermotor dimana bahan bakar diinjeksikan ke dalam silinder sedikit demi sedikit dalam satu siklusnya.

19

Salah satu reaksi fusi yang saat ini serius dipertimbangkan adalah penggabungan nukleus deuterium (D) dan tritium (T). Reaksi DT ini memiliki peluang lebih besar dibandingkan dengan reaksi DD atau Da (a adalah nukleus helium). Selain itu cadangan bahan bakar (D dan T) sangat berlimpah. Deuterium dapat diekstraksi dari air melalui metode elektrolisis. Setiap satu meter kubik air mengandung 30 gram deuterium, sehingga jika seluruh listrik di muka bumi ini dibangkitkan oleh reaktor fusi maka cadangan deuterium akan mencukupi kebutuhan lebih dari sejuta tahun. Tritium tidak tersedia secara alami, melainkan harus diproduksi (dibiakkan) dalam reaktor dengan lithium. Lithium adalah metal yang paling ringan yang cukup banyak ditemukan pada kulit bumi serta dalam konsentrasi rendah di lautan. Cadangan lithium yang telah diketahui hingga saat ini dapat mencukupi kebutuhan selama lebih dari 1000 tahun. Lithium akan dibuat menjadi selimut (blanket) reaktor. Reaksi fusi DT akan menghasilkan a dan neutron n. Neutron ini akan bergerak keluar plasma (atomatom helium dan tritium yang telah kehilangan elektron akibat temperatur sangat tinggi) dan diserap oleh selimut lithium yang selanjutnya menghasilkan T dan a.
20

Kedua jenis reaksi tersebut berlangsung bergantian menghasilkan energi yang dapat diserap oleh dinding reaktor. D + T --> alpha + n + energi n + Li --> alpha + T + energi

Gambar 1. Desain reaktor magnetic confinement fusi masa depan hasil penelitian ITER (diambil dari situs CEA, Badan Riset Atom Perancis). Bahan bakar deuterium (D) dan tritium (T) dimasukkan ke dalam reaktor (1), reaksi fusi DT berlangsung (2), menghasilkan abu (atom helium) dan energi dalam bentuk energi kinetik partikel alpha dan neutron (3), neutron akan diserap oleh selimut lithium (4) untuk membiakkan tritium yang akan dipakai untuk proses selanjutnya.

Jika proses tersebut dapat dibuat efisien, maka reaktor fusi nuklir akan memiliki beberapa keuntungan dibandingkan dengan reaktor fisi nuklir. Keuntungan tersebut adalah: Bahan bakar yang digunakan adalah deutorium yang tersedia dalam jumlah besar di lautan. Resiko kebocoran reaksi yang sangat kecil karena ketika medan magnet yang digunakan tidak berfungsi, maka plasma yang kemudian bersentuhan dengan Tenaga Nuklir sebagai Sumber Energi dinding reaktor akan segera turun temperaturnya sehingga saat itu juga reaksi fusi nuklir berhenti. Selain itu, pada desain Inertial Confinement, jumlah bahan bakar fusi yang digunakan sangat kecil pada tiap siklusnya.

21

Bahan baku maupun produk reaksinya tidak bersifat radioaktif. Resiko kebocoran radioaktif hanya muncul jika neutron yang dilepaskan dari reaksi bertumbukan dengan inti atom lain menghasilkan inti radioaktif. Hal ini dapat diatasi dengan pemilihan material yang tepat dalam pembuatan reaktor. Keuntungan lainnya adalah bahan baku maupun hasil akhir proses tidak dapat digunakan untuk pembuatan senjata nuklir. 3. Pemanfaatan Radioisotop Radioisotop yang sering digunakan dalam berbagai bidang kebutuhan manusia seperti bidang kesehatan, pertanian, hidrologi dan industri, pada umumnya tidak terdapat di alam, karena kebanyakan umur paronya relatif pendek. Radioisotop dibuat di dalam suatu reaktor nuklir yang mempunyai kerapatan (fluks) neutron tinggi dengan mereaksikan antara inti atom tertentu dengan neutron. Selain itu, radioisotop dapat juga diproduksi menggunakan akselerator melalui proses reaksi antara inti atom tertentu dengan suatu partikel, misalnya alpha, neutron, proton atau partikel lainnya. Beberapa pemanfaatan radioisotop: Bidang Kesehatan Beberapa pemanfaatan radioisotop yang digunakan dalam bidang kesehatan adalah: Kedokteran Nuklir Kedokteran Nuklir adalah cabang ilmu kedokteran yang menggunakan sumber radiasi terbuka dari disintegrasi inti radionuklida buatan (radiofarmaka) untuk tujuan diagnostik, terapi (kuratif: untuk kanker tiroid, nodul tiroid, hipertioid (dengan NaI-131), haemangioma rubra, rekuren pleuritis (dengan P32), osteoartritis (dengan Re-186) kanker hati (dengan Y-90), paliatif (dengan Sr-89, P-32, Sm-153) berdasarkan perubahan fisiologi, anatomi, biokimia, metabolisme dan molekuler dari suatu organ atau sistem dalam tubuh. Pada kedokteran nuklir, penunjang diagnostik di dibagian atas in-vivo (non- imaging dan imaging) dan in-vitro menggunakan radioisotop tertentu sebagai perunut (tracer). Untuk penunjang diagnostik in- vivo radioisotop dimasukan kedalam tubuh dapat melalui suntikan, peroral maupun inhalasi, dan farmaka (bahan obat non radiasi) yang digunakan untuk target organ tertentu harus dicampurkan dengan radiosiotop. Sedangkan penunjang diagnostik in-vitro juga menggunakan radioisotop (sebagai antigen) yang dicampurkan dengan sampel darah atau urin pasien (antibodi) di laboratorium dengan prinsip dasar

22

reaksi antigen dan antibodi. Dosis radiasi yang diterima oleh pasien setelah pemberian radiofarmaka ditentukan oleh sifat fisik dan biologik (metabolisme) dari radionuklida, dalam tubuh pasien, serta jumlah aktivitas yang diberikan. Besar radioaktivitas yang terdapat dalam tubuh pasien akan mengikuti sistem aliran pembuluh darah (biodistribusi) yang berakhir pada kandung kemih. Kalau berbicara mengenai radisi sumber terbuka dengan energi keV kita juga berbicara mengenai waktu paro (T1/2 atau half life) dari radionuklida yang diberikan ,pada umumnya yang banyak digunakan adalh Tc-99m, juga dapat menggunakan Tl-201, In-111, Ga-67, I-131 dan lain sebagainya bergantung dari jenis pemeriksaan yang akan dilakukan. Pemeriksaan kedokteran nuklir banyak membantu dalam menunjang diagnostik berbagai penyakit dari sisi fisiologik, patofisiologik, metabolik maupun tingkat selluler seperti kelainanpada otak, jantung, paru, kelenjar liur, tiroid, paratiroid, saluran air mata, hati dan limpa, hepatobilier, traktus gastrointestinal, lokasi perdarahan, traktus urinarius, payudara, testis, kelenjar limfe, tulang, sumsum tulang dan kasus kanker, infeksi spesifik (TBC) dan aspesifik, inflamasi, fraktur dan lain sebagainya. Sesuai dengan perkembangan fasilitas perangkat kerasnya mulai dari non imaging untuk penilaian fungsi ginjal (renograf), tiroid (tiroid uptake), helicobacter pyloric (heli probe), sampai yang imaging menggunakan kamera gamma tunggal, dual dan triple head baik palnnar maupun SPECT/ SPET (Single Photon Emission Tomography) yang pada saat ini sudah dikombinasikan dengan CT scan maupun NMRI yang sedang dikembangkan, fasilitas lain yang menjadi trend saat ini adalah PET (positron emission tomography) untuk menilai fungsi organ dalam skalametabolik maupn selluler secara monoklonal antibodi, perangkat keras ini juga telah dimodifikasi dalam bentuk PET+ CT + NMRI atau SPECT+ CT+ PET. Prinsip dasar perangkat keras di kedokteran nuklir adalah pencacahan (count) berdasarkan jumlah aktivitas nuklida (radiasi sumber terbuka) yang digunakan dan waktu (lama pemeriksaan). Perangkat keras sendiri tidak menghasilkan suatu bentuk radiasi, melainkan menangkap (uptake) radiasi dari tubuh pasien yang telah diberikan radioisotop (in-vivo) atau pada sampel darah/ urine yang dicacah (in-vitro). Hasil citra yang diperoleh berdasarkan jumlah akumulasi/ terkumpulnya radiofarmaka pada organ tertentu dengan melihat pada

23

skala warna atau skala hitam putih. Data disimpan dalam komputer (dapat di olah kembali), film, kertas printer maupun CD/ DVD. Pada penunjang diagnsotik in vitro, dari tubuh pasien diambil sejumlah tertentu bahan biologis yang kemudian direaksikan dengan suatu zat yang telah ditandai dengan radioisotop I-125. Pemeriksaannya dilakukan dengan bantuan gamma counter yang dirangkai dengan suatu sistem instrumentasi dikenal sebagai RIA (radio immuno assay)atau dapat juga dengan perangkat keras IRMA (imino radio metricassay). Studi semacam ini biasanya dilakukan untuk mengetahui kandungan hormon-hormon tertentu dalam darah pasien seperti hormon tiroid (T3, FT3, T4, FT4, TSHs), hormon reproduksi (estrogen, estradiol, testosteron), infeksi (hepatitis, HIV)maupun petanda tumor (tumor marker seperti: CEA, CA.15-3, CA.27-29, CA.125, PSA, PAP, Chromogranin A, Tiroglobulin) dan lain sebaginya. Juga dari urine pasien untuk MAU (mikro albumin uri) menilai ada tidaknya mikro albumin pada air kemih yang biasanya untuk deteksi dini kasus diabetes melitus, maupun pada gangguan ginjal lainnya.Radioisotop yang digunakan sebagai perunut di dalam tubuh mempunyai waktu paro fisik maupun biologik yang singkat untuk menunjang diagnostik dan terapi, antara lain I-131 (8.2 hari), Tc-99m (6 jam) biasanya dalam bentuk generator yangdidalamnya terdapat Mo-99 yang harus di elusi (diperah)setiap hari digunakan pemerahan ini untui 7- 8 hari masa kerja. Tl-201, Ga-67 (68.3 menit), In-111, F18 (110 menit), C-11 (20.4 menit), N-13 (10 menit), O-15 (2.2 menit), Cu-62 (9.2 menit), Rb-82 (1.25 menit) dan I-125. Radioisotop ini yang telah dikemas dengan bahan obat (farmaka) tertentu untuk mencapai organ target sesuai keinginan, disebut dengan radiofarmaka. Bahan obat non radioaktif atau yang disebut dengan kit ini antara lain MDP, DTPA, MAG3, MIBI, Tetrofosmin, ECD, IDA, mebrofenin, dan Sulfur koloid, nano colloid, ethambutol, siprofloksasine/ infecton, ubiquisin, hynic folat, stannous, HMPAO, EC, hippuran dan lain sebagainya

24

Bila untuk keperluan diagnostik, radioisotop yang diberikan dalam dosis yang sangat kecil, maka dalam terapi radioisotop sengaja diberikan dalam dosis yang besar untuk mematikan sel penyusun kanker. Tindakan terapi pada kedokteran nuklir dikenal sebagai terapi radiasi interna antara lain terutama digunakan terhadap kanker tiroid, nodul tiroid dan hipertiroid menggunakan NaI-131 (diminumkan), kanker hati dengan Y-90 (disuntikan), Anak sebar di tulang dengan P-32, Sr-89, dan Sm-153 (disuntikan) dan osteoartritis dengan Re-186 (disuntikan intra synovial dikenal sebagai radiosinovektomi). Radioterapi adalah tindakan medis menggunakan radiasi pengion untuk mematikan sel kanker sebanyak mungkin, dengan kerusakan pada sel normal sekecil mungkin. Tindakan terapi ini menggunakan sumber radiasi tertutup pemancar radiasi gamma atau pesawat sinar-x dan berkas elektron. Terdapat dua teknik dalam radioterapi yaitu teleterapi (sumber eksternal) dan brakiterapi (sumber internal). Pada tindakan teleterapi, posisi sumber radiasi gamma energi tinggi yang berasal dari Cobalt-60 yang disimpan dalam kontainer metal yang tebal pada alat, dapat diatur sedemikian rupa sehingga kanker dapat diradiasi dari berbagai arah yang ditujukan setepat mungkin pada jaringan tumor. Tumor ganas dikenai radiasi yang sangat kuat secara berulang-ulang menggunakan teknik fraksinasi (dosis terbagi atas perkali pemberian dari total dosis yangharus diterima oleh pasien) selama jangka waktu beberapa minggu. Radioterapi diberikan setiap hari dari berbagai arah secara tepat pada kanker. Dengan demikian kanker akan menerima radiasi yang bersilang dengan dosis tinggi sementara jaringan normal dan sehat di sekitar lokasi kanker hanya akan menerima dosis yang lebih rendah dengan tingkat kerusakan yang dapat

25

ditoleransi tubuh dan berangsur pulih. Dengan perkembangan teknik elektronika dan peralatan komputer canggih dalam dua dekade ini telah membawa perkembangan pesat dalam teknologi radioterapi. Dengan menggunakan pesawat LINAC (linear accelerator) generasi terakhir telah dimungkinkan untuk melakukan radioterapi kanker dengan sangat presisi dan tingkat keselamatan yang tinggi melalui kemampuannya yang sangat selektif untuk membatasi hanya tumor yang akan dikenai radiasi dengan dosis yang tepat pada target. Dengan memanfaatkan teknologi Three Dimensional Conformal Radiotherapy (3D-CRT) ini sejak tahun 1985 telah berkembang metoda pembedahan dengan menggunakan radiasi pengion sebagai pisau bedahnya (gamma knife). Dengan teknik radiosurgery ini kasus tumor ganas yang sulit dijangkau dengan pisau bedah konvensional dapat diatasi dengan baik tanpa perlu membuka kulit pasien dan yang terpenting tanpa merusak jaringan normal di luar target. Kanker diradiasi dengan 201 berkas kecil Cobalt-60 di sekitar kepala pasien yang diarahkan tepat pada target dalam otak dengan energi maksimal pada target dan minimal pada jaringan disekitarnya.

Gamma Knife radiosurgery Radioterapi dapat pula dilakukan dengan menggunakan sumber radiasi terbuka yang diposisikan sedekat mungkin dengan kanker, dikenal sebagai tindakan brakiterapi. Sumber radiasi terbuka yang umum digunakan antara lain I-125, Ra-

26

226, yang dikemas dalam bentuk jarum, biji sebesar beras, atau kawat dan dapat diletakkan dalam rongga tubuh (intracavitary) seperti kanker serviks, kanker paru, dan kanker esopagus, dalam organ/jaringan (interstisial) seperti kanker prostat, kanker kepala dan leher, kanker payudara, atau dalam lumen (in traluminal).

Biji I-125 yang diletakkan dalam kanker prostat pada tindakan brakiterapi Radioterapi dapat pula digunakan untuk mengurangi rasa sakit pada pasien kanker yang disebut sebagai tindakan paliatif yang dapat dilakukan baik menggunakan sumber radiasi tertutup ataupun linear accelerator. Sterilisasi alat dan produk kesehatan Beberapa alat dan produk kesehatan misalnya kateter, jarum suntik, sarung tangan bedah dan hemodialiser pada penggunaannya berkontak langsung dengan jaringan atau cairan tubuh. Oleh karena itu produk tersebut harus steril atau bebas dari mikroorganisme hidup

terutama yang bersifat potogen. Sebagian besar produk alat kesehatan terutama terbuat dari bahan polimer yang tidak tahan pemanasan dengan suhu tinggi, karena itu strelisasi yang dapat digunakan adalah sterilisasi dingin menggunakan gas etilen oksida (ETO) atau radiasi. Sterilisasi dengan gas ETO mempunyai beberapa kelemahan misalnya bersifat toksik pada manusia, meninggalkan residu gas yang bersifat karsinogenik pada produk, polusi terhadap
27

lingkungan, dan memerlukan karantina produk 7-14 hari. Dengan demikian radiasi pengion merupakan pilihan yang tepat untuk sterilisasi dingin terhadap produk yang tidak tahan panas seperti alat kedokteran dan tissue graft. Dosis radiasi gamma dari irradiator dengan sumber cobalt-60 atau cesium-137 yang digunakan dalam proses sterilisasi bergantung pada jenis bahan yang disterilkan, jenis mikroba, dan tingkat populasi mikroba. Perlu dipahami bahwa materi atau alat yang diradiasi tidak akan menjadi sumber radiasi atau bersifat radioaktif. Peralatan kedokteran yang disterilisasi dengan radiasi Beberapa keuntungan sterilisasi menggunakan radiasi dibandingkan dengan metode sterilisasi lain adalah sterilisasi dilakukan pada suhu kamar, tidak menimbulkan kenaikan temperatur yang berarti, dapat menembus ke dalam seluruh bagian produk dan dalam kemasan akhir, tidak merusak bahan yang disterilisasi, waktu iradiasi sebagai variabel pengontrol keseluruhan proses, lebih efektif karena dapat mencapai 100% steril pada dosis tinggi, dapat mesterilkan bahan dalam jumlah banyak untuk sekali proses radiasi, tidak meninggalkan residu, dan dapat digunakan pada produk akhir. Bidang Pertanian Radioisotop yang digunakan sebagai perunut dalam penelitian efisiensi pemupukan tanaman adalah fosfor-32 (32P). Teknik perunut dengan radioisotop akan memberikan cara pemupukan yang tepat dan hemat. Radioisotop dalam bidang pertanian dapat digunakan sebagai pelacak (tracer) untuk menganalisis proses fotosintesis. Misalnya isotop
15 8

O yang dilarutkan

dalam air disuntikkan pada akar. Proses metabolisme pada tumbuhan tersebut dapat dilacak dengan menggunakan detektor radioaktif.

28

Menghasilkan bibit unggul dengan iradiasi. Misalnya, varietas padi unggul hasil mutasi biji padi dengan radiasi gamma memiliki sifat tahan terhadap beberapa jenis hama dan penyakit. Begitu juga halnya dengan kacang- kacangan hasil mutasi radiasi gamma yang memiliki sifat tahan terhadap lalat putih, karat daun, bercak coklat, penyakit kudis, dan produksi per hektar lebih banyak. Teknik iradiasi dalam bidang pertanian juga dimanfaatkan untuk mengendalikan hama serangga. Radiasi dengan dosis tertentu diberikan pada kepompong hasil pemeliharaan laboratorium. Serangga dewasa yang terbentuk dari kepompong tersebut bersifat mandul. Serangga tersebut kemudian dilepas ke lahan pertanian untuk mengawini serangga normal. Perkawinan ini tidak akan menghasilkan keturunan. Dengan demikian, populasi serangga tersebut dapat dikendalikan. Penyimpanan makanan sehingga tidak dapat bertunas , contohnya pada kentang dan bawang. Kita mengetahui bahwa bahan makanan seperti kentang dan bawang jika disimpan lama akan bertunas. Radiasi dapat menghambat pertumbuhan bahan-bahan seperti itu. Jadi sebelum bahan tersebut di simpan diberi radiasi dengan dosis tertentu sehingga tidak akan bertunas, dengan dernikian dapat disimpan lebih lama Bidang Hidrologi Salah satu aplikasi penggunaan radioisotop adalah sebagai perunut dalam studi hidrologi. Teknik perunut merupakan salah satu teknik yang digunakan untuk mendapatkan informasi perilaku suatu sistem dengan cara menandai sistem dengan bahan tertentu, seperti misalnya radioisotop. Dengan menggunakan perunut radioisotop, berbagai masalah dalam bidang hidrologi akan dapat dipecahkan dengan cara langsung yang jauh lebih cepat dari cara konvensional. Dalam bidang hidrologi, teknik perunutan dilakukan dengan cara memantau radiasi yang dipancarkan oleh perunut radioisotop, atau yang lebih dikenal sebagairadiotracer. Dalam studi hidrologi, radiotracer yang digunakan dilepaskan langsung ke lingkungan. Untuk dapat digunakan sebagai tracer, radioisotop harus memenuhi persyaratan : 1) Tidak berbahaya bagi manusia dan makhluk hidup di sekelilingnya 2) Jumlah radioisotop yang dilepaskan ke lingkungan harus benar-benar diperhitungkan sehingga tidak terjadi pelepasan zat radioaktif yang berlebihan ke lingkungan. 3) Radioisotop yang digunakan harus larut dalam air

29

4) Radioisotop tidak akan diserap oleh tanah, tanaman maupun organisme hidup lainnya Tidak dapat dipungkiri, sudah banyak manfaat yang diperoleh karena menggunakan radiotracer sebagai perunut dalam huidrologi. Selain itu radiotracer juga dapat dipakai sebagai pendukung metode non-nuklir lainnya yang telah ada. Meski tidak semua persoalan hidrologi dapat diselesaikan dengan teknik nuklir ini, namun penggunaan radiotracer seringkali merupakan satu-satunya metode yang dapat menyelesaikan persoalan. Berikut adalah contoh pengaplikasian radioisotop dalam bidang hidrologi. Pengukuran Debit Air Sungai Metode dasar dalam pengukuran debit air sungai adalah pengenceran radiotracer. Radiotracer dalam jumlah tertentu yang tidak membahayakan lingkungan dilepas dibagian hulu sungai dan kemudian diukur konsentrasinya di bagian hilir. Besarnya perubahan kadar perunut karena pengenceran oleh aliran (debit) air sungai dapat diketahui dengan cara mencacah langsung intensitas radiasi dalam air sungai tersebut. Penggunaan radiotracer untuk mengukur debit air sungai terbukti lebih sederhana dibandingkan metode pengukuan menggunakan current meter, selain itu pengukuran juga dapat dilakukan lebih cepat dan dapat dilakukan pada saat banjir sekalipun. Pengukuran debit air sungai antara 300-600 m3 per detik hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu jam, hal ini membuktikan bahwa penggunaan radiotracer jauh lebih efektif, efisien dan ekonomis. Semakin turbulen arus air sungai, semakin cepat dan baik hasil pengukurannya. Penentuan Arah Gerak Air Tanah Data gerakan air tanah pada suatu wilayah merupakan data yang sangat penting untuk berbagai keperluan, antara lain dalam kaitannya dengan pembangunan suatu bendungan, penentuan tempat penyimpanan limbah berbahaya dan sebagainya. Pergerakan air tanah selalu sesuai dengan kondisi geologinya. Sehingga untuk mengetahui pergerakan air tanah ini salah satu metode yang dapat digunakan adalah metode sumur banyak. Pada metode ini radiotracer diinjeksikan ke dalam sumur yang berada di tengah-tengah, dengan demikian radiotracer tersebut akan larut dan kemudian bercampur dengan air tanah. Radiotracer yang terlarut selanjutnya akan terbawa ke manapun air tanah mengalir. Dengan
30

mencacah intensitas radiasi pada air tanah di sumur-sumur lain yang ada di sekelilingnya, maka arah gerakan air tanah di tempat tersebut dapat dengan mudah ditentukan, yakni dengan cara mengetahui ada atau tidaknya radiotracer yang terlarut dalam air. Dalam hal ini, radiotracer hanya akan ditemukan pada air tanah di sumur-sumur tertentu saja, ini artinya arah aliran air tanah akan menuju sumur yang air tanahnya mengandung radiotracer yang sebelumnya diinjeksikan. Selain mengetahui gerakan air tanah, teknik perunut ini juga dapat digunakan untuk mengetahui kecepatan aliran air tanah dan permeabilitasnya. Pengukuran Kadar Air Tanah Banyak alat-alat konvensional yang dirancang khusus untuk mengukur kadar air, namun jarang ada alat yang dapat melakukan pengukuran dengan teliti dan cepat, dapat dilakukan di tempat, tidak merusak dan alatnya dapat dibawa-bawa (portable). Salah satu metode yang dapat memenuhi berbagai kriteria tersebut adalah dengan menggunakan neutron. Penggunaan neutron telah banyak dimanfaatkan oleh para ahli di bidang teknik sipil, agronomi dan hidrologi untuk pengukuran kadar air dalam tanah serta kepadatan tanah, aspal dan beton. Datadata hasil pengukuran tersebut kemudian akan digunakan untuk merancang pondasi bangunan, jalan raya, pembuatan tanggul dan lain sebagainya. Sedang dalam bidang industri dan laboratorium, neutron dapat digunakan untuk pengukuran berbagai hasil akhir dan penelitian.

Teknik pengukuran kadar air tanah dengan teknik hamburan neutron (sumber : BATAN) Karena sederhana, alat pengukur kadar air dengan neutron ini diminati oleh berbagai pihak. Di dalam alat ini terdapat suatu sumber neutron cepat. Proses
31

kerja alat ini adalah dengan memanfaatkan hasil tumbukan antara neutron cepat dengan atom hidrogen yang terdapat di dalam molekul air. Peristiwa tumbukan ini akan menghasilkan neutron-neutron termik. Jumlah neutron termik yang terbentuk akan ditangkap oleh pemantau neutron. Dimana hasil cacahan neutron yang terbaca akan sebanding dengan jumlah air yang terkandung di dalam bahan. Penentuan Gerakan Sedimen Proses pendangkalan pelabuhan merupakan proses alamiah yang tidak dapat dicegah. Jika pelabuhan dangkal, kapal-kapal besar tidak akan dapat merapat ke dermaga, sehingga proses bongkar muat barang dapat terganggu. Sedangkan proses pengerukan endapan memerlukan biaya yang sangat besar. Oleh sebab itu, pendangkalan pada suatu pelabuhan dan alur pelayaran merupakan masalah yang sangat serius karena menyangkut kelangsungan pelayanan perhubungan laut. Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk memperkecil kecepatan pendangkalan pelabuhan maupun alur pelayaran oleh sedimen adalah dengan mengetahui perilaku sedimen, yaitu menentukan dari mana asal dan kemana arah gerakan sedimen tersebut. Data mengenai arah pergerakan sedimen dapat digunakan untuk perencanaan penentuan posisi dan arah alur pelayaran serta menentukan tempat untuk pembuangan endapan hasil pengerukan agar tidak kembali ke tempat semula. Semua usaha ini akan dapat mengurangi laju pendangkalan sehingga frekwensi pengerukan bisa dikurangi dan biaya untuk pengerukan bisa dihemat. Teknik pelaksanaan penentuan arah gerakan sedimen dilakukan dengan menandai sedimen yang diambil di pelabuhan dengan radioisotop seperti 51Cr, 198Au dan 46Sc atau membuat endapan tiruan yang bersifat radioaktif seperti pelapisan lumpur dengan zat radioaktif atau pasir tiruan yang diaktifkan (pasir ini dibuat dari gelas yang mengandung radioisotop 192Ir dan 46Sc). Sedimen radioaktif tersebut selanjutnya dilepaskan ke dasar laut di daerah yang diselidiki. Endapan radioaktif ini nantinya akan mengikuti gerak endapan asli. Metode ini dapat digunakan untuk mempelajari arah, kecepatan dan penyebaran lumpur ataupun pasir yang berperan dalam proses pendangkalan pelabuhan. Pengamatan tersebut dapat dilakukan menggunakan pemantau radiasi dari permukaan laut atau di atas kapal. Selain itu, studi ini juga dapat dipakai untuk mengetahui efisiensi transpot sedimen dan erosi.

32

Penentuan Kebocoran Bendungan Teknik perunut radioisotop juga dapat digunakan untuk menentukan letak kebocoran atau rembesan suatu bendungan atau dam. Teknik penentuan dilakukan dengan cara melepaskan radioisotop pada tempat tertentu di ireservoir (air dam) yang dicurigai sebagai lokasi kebocoran/rembesan. Radioisotop akan larut dan bercampur dengan ait sehingga apabila terjadi kebocoran pada bendungan, air yang telah bercampur dengan radioisotop akan masuk dan bergerak mengikuti arah perembesan. Dengan melakukan pengukuran tingkat radioaktivitas air yang keluar melalui mata air maupun sumur-sumur pengamatan di daerah rembesan, maka adanya rembesan beserta arahnya dapat diketahui. Penentuan Laju Erosi Peristiwa erosi dapat disebabkan baik oleh angin maupun air. Namun sebagian besar kasus erosi tanah umumnya disebabkan oleh air hujan. Dengan menandai tanah yang dipelajari dengan radioisotop, maka laju erosi tanah oleh air hujan dapat dipelajari dengan teliti. Setelah terkena air hujan, aktivitas radioisotop dalam tanah akan berkurang. Dengan cara membandingkan aktivitas radioisotop dalam tanah antara sebelum dan setelah terkena air hujan, maka laju erosi tanah dapat diketahui. Deteksi kebocoran dan sumbatan pipa bawah tanah Mencari kebocoran dan sumbatan pipa di bawah tanah merupakan pekerjaan besar dan tidak sederhana. Dengan teknik perunut radioisotop, pekerjaan yang membutuhkan tenaga besar tersebut ternyata dapat disederhanakan. Pemeriksaan kebocoran pipa di bawah tanah dengan perunut radioisotop dapat dilakukan langsung dari permukaan tanah di atas pipa, tanpa perlu dilakukan penggalian. Metode pemeriksaan yang dilakukan adalah dengan menginjeksikan perunut radioisotop ke dalam aliran. Pergerakan radioisotop tersebut di dalam pipa dapat diikuti dari atas tanah menggunakan pemantau radiasi. Tempat yang memberikan hasil cacahan radiasi yang tinggi mengindikasikan telah terjadi kebocoran di tempat tersebut. Untuk menenukan letak sumbatan dalam pipa,

sebuahpolipig berisi radioisotop dimasukkan ke dalam pipa. Arah pergerakan polipig tersebut dapat diikuti dengan pemantau radiasi dari luar pipa. Polipig akan berhenti di tempat terjadinya sumbatan.

33

Bidang Industri Teknik radiografi merupakan teknik yang sering dipakai terutama pada tahaptahap konstruksi. Pada sektor industri minyak bumi, teknik ini digunakan dalam pengujian kualitas las pada waktu pemasangan pipa minyak/gas serta instalasi kilang minyak. Selain bagian-bagian konstruksi besi yang dianggap kritis, teknik ini digunakan juga pada uji kualitas las dari ketel uap tekanan tinggi serta uji terhadap kekerasan dan keretakan pada konstruksi beton. Radioisotop yang sering digunakan adalah kobal-60 ( 60Co ). Dalam bidang industri, radioisotop digunakan juga sebagai perunut misalnya untuk menguji kebocoran cairan/gas dalam pipa serta membersihkan pipa, yang dapat dilakukan dengan menggunakan radioisotop iodoum-131 dalam bentuk
131 senyawa CH 3 I .

Radioisotop seng-65 ( 65 Zn ) dan fosfor-32 merupakan perunut yang sering digunakan dalam penentuan efisiensi proses industri, yang meliputi pengujian homogenitas pencampuran serta residence time distribution (RTD). Untuk kalibrasi alat misalnya flow meter, menentukan volume bejana tak beraturan serta pengukuran tebal material, rapat jenis dan penangkal petir dapat digunakan radioisotop kobal-60, amerisium-241 ( 241 Am ) dan cesium-137( 137Cs ). Bidang Peternakan Penggunaan teknik nuklir dalam penelitian dan pengembangan bidang peternakan memerlukan kepekaan deteksi tinggi dan akurat agar diperoleh hasil perunutan yang efektif, efisien, aman, dan ekonomis. Perunutan merupakan proses pemanfaatan senyawa yang ditandai dengan radioisotop untuk mengetahui mekanisme suatu sistem biologi. Pemanfaatan teknik nuklir untuk perunutan berdasarkan sifat pengaplikasiannya dibagi menjadi dua, yaitu pemanfaatan yang bersifat in vivo dan in vitro, yaitu sebagai berikut: Aplikasi perunutan secara in vivo bertujuan untuk menggambarkan proses

biologi yang terjadi di lingkungan asalnya. Pada proses in vivo, radioisotop diberikan langsung pada hewan ternak. Yang perlu diperhatikan pada proses in vivo adalah waktu paruh biologi, yaitu waktu yang diperlukan radioisotop untuk keluar atau diekskresikan keluar tubuh. Aplikasi perunutan secara in vitro bertujuan untuk menggambarkan proses

biologi yang terjadi di luar tubuh hewan, misalnya di laboratorium. Yang perlu
34

diperhatikan pada proses in vitro adalah waktu paruh fisika, yaitu waktu yang diperlukan oleh radioisotop untuk meluruh hingga mencapai separuh aktivitasnya. Hasil-hasil teknologi Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) yang memanfaatkan teknik perunutan adalah suplemen pakan urea multinutrient molasses block

(UMMB) dan radioimmuno assay (RIA). Suplemen pakan UMMB merupakan suplemen pakan (SP) untuk ternak ruminansia, seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba. Ciri khas dari ternak ruminansia adalah adanya rumen yang merupakan ekosistem mikroba yang berperan dalam penguraian bahan pakan. Mikroba berfungsi sebagai bahan protein bagi ternak. Agar teknologi suplemen tersebut dapat diterapkan oleh peternak dan mudah dalam penyimpanan serta transportasinya maka suplemen tersebut dibuat dalam bentuk padat dari komposisi bahan tertentu. Misalnya urea, dedak, onggok, tepung tulang, lakta mineral, garam dapur, tepung kedelai, dan kapur. Pemanfaatan teknik nuklir radiasi yang dilakukan di bidang peternakan terutama di bidang kesehatan ternak, yaitu untuk melemahkan patogenisitas penyakit yang disebabkan oleh bakteri, virus, dan cacing. Lembaga penelitian dan pengembangan pemanfaatan radiasi, telah menghasilkan radiovaksin, reagen diagnostik, dan pengawetan. Radiovaksin adalah teknik pembuatan vaksin dengan cara iradiasi. Pembuatan radiovaksin memiliki keunggulan dibandingkan dengan cara konvensional, yaitu mempercepat proses pembuatan vaksin dengan memperpendek waktu pasasel. Selain itu, radiovaksin yang diproduksi memiliki kualitas yang sama dengan vaksin buatan secara konvensional. Sumber radiasi yang digunakan untuk pembuatan radiovaksin adalah sinar gamma. Sinar gamma digunakan untuk menurunkan infektivitas, virulensi, dan patogenitas agen penyakit yang diharapkan mampu merangsang timbulnya kekebalan tubuh terhadap infeksi penyakit. Bidang Kepurbakalaan Radioisotop dalam bidang kepurbakalaan digunakan untuk menentukan umur suatu fosil. Dengan menganalisis kandungan isotop karbon14 pada fosil, para ahli dapat memperkirakan umur fosil (tumbuhan atau hewan yang telah mati dan membatu) atau peninggalan zaman purba. Penentuan umur dengan menggunakan radiokarbon bergantung pada pembentukan karbon14 di bagian atas atmosfer. Reaksi pembentukan karbon14 adalah sebagai berikut.

35

14 7

1 N 01n14 C 1 H 6

Berdasarkan persamaan reaksi di atas terjadi konversi nitrogen menjadi karbon14 yang bersifat radioaktif. Karbon14 memiliki waktu paruh 5.730 tahun dan meluruh dengan persamaan berikut.
14 6 0 C 1 e 14N 7

Atom-atom

karbon14

tunggal

yang

dihasilkan di atmosfer bagian atas bergabung dengan oksigen untuk membentuk

karbondioksida. Karbondioksida ini digunakan oleh tumbuh-tumbuhan untuk berfotosintesis. Tumbuh-tumbuhan ini dimakan oleh hewan, sehingga karbon14 ikut masuk ke dalam rantai makanan. Penentuan umur fosil

dilakukan dengan mengasumsikan bahwa persentase karbon14 di atmosfer adalah konstan dan bahwa radiokarbon dalam semua organisme hidup berada dalam kesetimbangan dengan atmosfer. Jika asumsi-asumsi ini benar, persentase karbon 14 dalam organisme hidup akan sama dengan persentase karbon14 di atmosfer. Ketika tumbuhan dan hewan mati, kesetimbangannya dengan atmosfer juga berhenti, dan karbon14 dalam tubuh organisme mulai meluruh. Jumlah karbon14 yang tersisa dapat digunakan untuk memperkirakan umur fosil.

36

Beberapa Radioisotop produksi Pusat Teknologi Nuklir dan Radiometri dan pemanfaatannya di berbagai bidang

4. Dampak Radioaktif a. Resiko Kanker Menurut para pakar radiobiologi, radiasi pengion dapat memutuskan rantai molekul DNA (deoksiribonukleat) dalam kromosom inti sel; padahal kerusakan/mutasi genetik dan kanker itu bermula dari adanya kerusakan pada sebuah inti sel. Sehingga dengan demikian berapapun kecilnya dosis, radiasi pengion berpeluang

menimbulkan risiko genetik dan kanker b. Cacat genetik yang menurun Risiko radiasi lainnya adalah efek genetik yang dapat diwariskan kepada keturunan. Evaluasi risiko genetik dilakukan dengan ekstrapolasi dari hasil-hasil percobaan pada binatang. Walaupun cara ini masih sering diperdebatkan, tetapi yang jelas frekuensi mutasi genetik meningkat dengan kenaikan dosis. Hasil studi in vitro dan in vivo dengan tikus, kera dan lalat, menunjukkan mutasi genetik meningkat secara linier dalam rentang dosis antara 1 - 100 mSv. c. IQ rendah

37

Retardasi mental terlihat nyata pada janin yang terkena dosis radiasi antara 250 - 400 mSv pada usia antara minggu ke-8 dan -15 setelah pembuahan sel telur. Minggu ke8 sampai dengan ke-15 adalah saat pertumbuhan jaringan otak besar, sel-sel glial dan neuronal. Paparan radiasi pada masa sensitif tersebut dapat menurunkan IQ 20 25 poin per sievert. Retardasi mental dengan risiko lebih rendah juga terjadi pada janin yang terkena radiasi pada usia kehamilan antara 16 - 25 minggu, dengan dosis ambang sekitar 700 mSv. Radiasi sebelum minggu ke-8 dan setelah minggu ke-25 tidak mengakibatkan retardasi mental. d. Kerusakan sel Jika seseorang dikenai radiasi sangat kuat, maka kerusakan sel mungkin tidak dapat diperbaiki pada waktunya. Beberapa sel penting, misalnya sel-sel dalam tulang sumsum yang memproduksi sel-sel darah baru mungkin tidak dapat diperbaiki pada waktunya. Oleh karena itu radiasi sangat kuat dapat menyebabkan kematian. e. Mutasi gen Zat kimia DNA yang membawa kode perintah di dalam tiap sel dapat sedikit rusak karena radiasi radioaktif. Radiasi radioaktif tidak cukup untuk mematikan sel, tetapi cukup untuk mengubah kode ini. Kemudian akan terjadi yang mengakibatkan kelainan-kelainan pada bentuk tubuh mahluk hidup terutama pada janin. Jika sel-sel kelamin pria atau wanita sedikit rusak karena radiasi radioaktif maka bayi yang berasal dari sel kelamin tersebut mungkin dapat abnormal. f. Tumor atau kanker Akibat perubahan kode DNA sel juga mungkin mulai membagi dan memperbanyak diri secara tidak wajar, di luar kontrol kendali. Bila banyak sekali sel-sel yang tidak wajar dihasilkan, terjadilah tumor/ kanker. Efek lain akibat yang ditimbulkan oleh radiasi zat radioaktif pada umat manusia seperti berikut di bawah ini : 1) Pusing-pusing 2) Nafsu makan berkurang atau hilang 3) Terjadi diare 4) Badan panas atau demam 5) Berat badan turun 6) Meningkatnya denyut jantung atau nadi 7) Daya tahan tubuh berkurang sehingga mudah terserang penyakit akibat sel darah putih yang jumlahnya berkurang
38

5. Proteksi terhadap radiasi Kita tidak dapat menghindari radiasi radioaktif yang terjadi disekitar kita. Tetapi kita telah radiasi mengetahui radioaktif bagaimana ini dapat

mengakibatkan berbagai efek negatif. Hal yang dapat kita lakukan adalah melindungi

tubuh kita dari radiasi radioaktif berlebihan. Pekerja yang

berhubungan langsung dengan bahan-bahan menghasilkan radisi radioaktif butuh perhatian lebih. Misalnya: 1) radiograper yang bertugas mengoprasikan sinar-X guna memfoto pasien dilindungi oleh layar. 2) Bagian-bagian lain badan pasien yang tidak perlu difoto, khususnya organ kelamin juga harus dilindungi dengan menggunakan baju yang terbuat dari timbal. Timbal adalah radioisotop yang paling stabil sehingga penggunaan timbal sangat ampuh untuk melindungi tubuh dari radiasi. 3) Pekerja-pekerja yang menangani bahan-bahan radioaktif menggunakan baju proteksi, dan jika ia menangani bahan-bahan radioaktif yang sangat berbahaya maka ia menanganinya dari balik selembar layar kaca timbal dengan menggunakan peralatan remote control. 4) Semua pekerja yang bekerja di tempat yang mungkin terkena radiasi juga diperiksa secara teratur untuk meyakinkan bahwa dosis serapan ekivalen yang mereka terima masih berada di bawah ambang batas aman. Suatu metode yang digunakan untuk mengukur dosis serapan pada pekerja ini adalah dengan menggunakan sebah lencana film yang ditempel pada pakaian kerja mereka. Setiap period tertentu, misalnya 2 minggu, lencana film tersebut dicuci; bagian gelap pada film menunjukan ukuran dosis serapan radiasi ekivalen yang diterima oleh pekerja. Salah satu yang sangat penting adalah melindungi atmosfer bumi dari penipisan lapisan ozon. Selain efek global warming penipisan lapisan atmosfer bumi juga dapat meningkatkan jumlah radiasi sinar kosmik yang sampai di bumi. Radiasi sinar kosmik dianggap salah satu bencana yang berbahaya bagi manusia. Dan jika bencana ini
39

radioaktif,

yang

terjadi maka manusia tidak akan dapat bertahan atau mungkin bertahan tapi dalam bentuk yang lain.

40