Anda di halaman 1dari 11

TUGAS UJIAN KOMPREHENSIF

Disusun Oleh : NOVRI ANI HOT DAMAI NIM : P17324109011

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHEHATAN BANDUNG JURUSAN KEBIDANAN BANDUNG 2012

1. Perubahan fisiologis pada masa nifas a. Pada sistem perkemihan Pelvis renalis dan ureter, yang meregang dan dilatasi selama kehamilan, kembali normal pada akhir minggu keempat pascapartum.

Segera setelah pascapartum kandung kemih, edema mengalami kongesti dan hipotonik, yang dapat menyebabkan overdistensi, pengosongan yang tidak lengkap, dan residu urine yang berlebihan kecuali perawatan diberikan untuk memastikan berkemih secara periodik. Uretra jarang mengalami obstruksi, tetapi mungkin tidak dapat dihindari akibat persalinan lama dengan kepala janin dalam panggul. Efek persalinan pada kandung kemih dan uretra menghilang dalam 24 jam pertama pascapartum, kecuali wanita mengalami infeksi saluran kemih.

Sekitar 40% wanita pascapartum tidak mengalami proteinuria nonpatologis sejak segera setelah melahirkan hingga hari kedua pascapartum. Spesimen urine harus berupa urine yang diambil bersih atau dari kateterisasi, karen kontaminasi lokia juga akan menghasilkan proteinuria. Proteinuria ringan hanya terjadi jika tidak ada tanda dan gejala infeksi saluran kemih atau preeklampsia.

Diuresis mulai segera setelah melahirkan dan berakhir hingga hari kelima pascapartum. Keluaran urine mungkin lebih dari 3000 mL perhari. Diuresis adalah rute utama tubuh untuk membuang kelebihan cairan interstitial dan kelebihan volume darah. Hal ini merupakan penjelasan terhadap perspirasi yang cukup banyak yang dapat terjadi selama hari-hari pertama pascapartum.

b. Pada sistem gastrointestinal Wanita mungkin kelaparan dan mulai makan satu atau dua jam setelah melahirkan. Kecuali ada komplikasi perlahiran, tidak ada alasan untuk menunda pemberian makan pada wanita pascapartum yang sehat lebih lama dari waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pengkajian awal. Konstipasi mungkin menjadi masalah pada puerperium awal karena kurangnya makanan padat selama persalinan dan karena wanita menahan defekasi. Wanita

mungkin menahan defekasi karena ia kurang pengetahuan dan takut akan merobek atau merusak jahitan jika melakukan defekasi.

2. Pengkajian kebutuhan dasar ibu nifas a. Evaluasi Puerperium Awal Selama puerperium awal bidan sebaiknya menemui wanita sedikitnya sekali sehari. Setiap kunjungan meliputi aspek berikut ini: 1) Tinjauan catatan klien Sebelum bidan memulai kunjungan, bidan meninjau setiap bagian perawatan kelahiran dan antepartum yang belum diketahuinya sehingga ia dapat memiliki pengetahuan ketika berbicara dengan ibu baru tersebut. Hal ini meliputi kewaspadaan terhadap adanya komplikasi pada kesehatan bayi baru lahir. Peninjauan entri catatan sejak pelahiran juga membantu bidan mengetahui catatan tanda-tanda vital ibu, hasil laboratorium, peggunaan obatobatan, dan setiap komentar dari perawat. Catatan perkembangan dan program sebelumnya juga ditinjau. Waktu yang sudah berlalu sejak kelahiran, dalam jam atau hari, dipastikan untuk mengidentifikasi temuan fisik yang diharapkan.

2) Riwayat Saat bidan memulai kunjungannya, topik pertamanya adalah kelahiran. Saat wanita membagi pengalamannya, ia memberika informasi yang dapat divalidasi atau diperbaiki, dan memberi petunjuk topik mana yang merupakan masalah besar baginya. Informasi tambahan dapat ditanyakan untuk mengkaji pemulihan fisik dan kemajuan ibu dalam belajar menjadi orang tua bagi anaknya yang baru lahir. Interval pengkajian untuk setiap kunjungan pascasalin meliputi nutrisi maternal, fungsi kandung kemih dan bowel, jumlah aliran lokia, tingkat aktivitas, dan nyeri atau ketidaknyamanan. Jika ibu menyusui, hal ini juga dikaji. Data tentang apakah bidan adalah/bukan pemberi perawatan primer makan bayi, infomasi tentang perilaku bayi, dan siklus tidur-terjaga harus dikumpulkan. Jika semua memungkinkan, bidan sebaiknya mengatur kunjungannya agar bertepatan dengan waktu-waktu saat bayi dan ibunya bangun. Hal ini

memungkinkan bidan untuk mengevaluasi interaksi ibu-bayi terhadap normalitasnya (penapisan penolakan maternal) dan terhadap keterampilan dan kenyamanan ibu dalam menangani bayinya, yang dapat menentukan bidang pembelajaran yang dibutuhkan. 3) Pemeriksaan fisik Pemeriksaan selama periode pascapartum awal meliputi sebagai berikut: a) Pengkajian tanda-tanda vital termsuk kecenderungan selama periode setelah kelahiran b) Pemeriksaan payudara, termasuk menunjukkan adanya kolostrum dan penatalaksanaan puting susu pada wanita menyusui, c) Auskultasi jantung dan paru-paru, sesuai indikasi keluhan ibu, atau perubahan nyata pada penampilan atau tanda-tanda vital d) Evaluasi abdomen terhadap involusi uterus, diastasis, kandung kemih e) Pengkajian perineum terhadap memar, edema, hematoma, penyembuhan setiap jahitan, inflamasi, supurasi f) Pemeriksaan tipe, kuantitas, dan bau lokia g) Pemeriksaan anus terhadap adanya hemoroid h) Pemeriksaan ekstremitas terhadap adanya varikosa, edema, nyeri tekan atau panas pada betis. b. Kunjungan Dua Minggu Pascapartum Kegiatan pemantauan kondisi ibu dalam masa ini bertujuan untuk : 1) Mengevaluasi perjalanan pascapartum dan kesejahteraan ibu 2) Mengevaluasi kesejahteraan bayi 3) Mengevaluasi kemajuan dan kenyamanan dalam kemampuan merawat dan penerimaan peran sebagai orang tua 4) Meninjau pengalaman persalinan dan pelahiran ibu 5) Memudahkan akses dalam menerima pernyataan dan masalah dan menciptakan kontak dengan ibu agar merasa nyaman dalam bertanya jika ia mempunyai pertanyaan atau masalah 6) Memberikan pengajaran dan konseling yang dibutuhkan Evaluasi yang dilakukan pada ibu dalam kunjungan dua minggu pascapartum meliputi : 1) Persepsinya tentang persalinan dan kelahiran, kemampuan kopingnya yang sekarang, dan bagaiman ia berespons terhadap bayi barunya 2) Kondisi payudara meliputi kongesti, apakah ibu menyusui atau tidak, tindakan kenyamanan apa yang ia gunakan untuk mengurangi ketidaknyamanan. Selain itu, jika ibu menyusui, pertanyaan harus meliputi nyeri atau ketidaknyamanan saat menyusui, penampilan puting susu dan areola, apakah ada kolostrum atau air susu, dan pengkajian proses menyusui

3) Asupan makanan dan cairan, mengkaji baik kualitas dan kuantitasnya 4) Nyeri, kram abdomen, fungsi bowel 5) Adanya kesulitan atau ketidaknyamanan dengan urinasi, dan apakah ia mengalami diuresis 6) Jumlah, warna, dan bau perdarahan lokia 7) Nyeri, pembengkakan, kemerahan perineum, dan jika ada jahitan, lihat kerapatan jahitan. Ibu mungkin perlu kaca cermin dan memeriksanya sendiri, atau meminta pasangannya memeriksakan untuknya, jika ia melaporkan adanya gejala-gejala pertama 8) Adanya hemoroid, dan tindakan kenyamanan yang digunakan 9) Adanya edema, nyeri, dan kemerahan pada ekstremitas baah 10) Apakah ibu mendapatkan istirahat yang cukup, baik pada siang dan malam hari 11) Siapa yang ada untuk membatu ibu barudengan manajemen rumah tangganya, dan bagaimana bantuan ini diberikan 12) Tingkat aktivitas saat ini 13) Bagaiman keluarga menyesuaikan diri untuk mempunyai bayi baru di rumah 14) Tingkat kepercayaan diri ibu saat ini dalam kemampuannya untuk merawat bayi Pemeriksaan singkat pada ibu dapat meliputi : 1) Tekanan darah 2) Suhu tubuh 3) Evaluasi payudara 4) Pengkajian payudara 5) Pemeriksaan perineum termasuk pengkajian lokia c. Pemeriksaan minggu keempat hingga keenam pascapartum Meskipun puerperium berakhir sekitar enam minggu, yang menunjukkan lamany waktu yang digunakan saluran reproduuksi wanita untuk kembali ke kondisi tidak hamil, kebanyakan ahli meyakini bahwa memungkinkan untuk mengevaluasi normalitas dan akhir puerperium pada minggu keempat pascapartum. Bidan harus memilih interval yang paling tepat untuk komunitas yang dilayani, dan kebutuhan wanita termasuk kebutuhan kontrasepsi. Pemeriksaan 4-6 minggu pascapartum sering kali terdiri dari pemeriksaan riwayat lengkap, fisk dan pangul. Setiap catatan yang ada dalam kehamilan ini harus ditinjau. Selain itu, kunjungan meliputi : 1) Penapisan adanya kontraindikasi terhadap setiap metode keluarga berencana jika belum dilakukan 2) Riwayat tambahan tentang periode waktu sejak pertemuan terakhir 3) Evaluasi fisik dan panggul spesifik tambahan yang berkaitan dengan kembalinya saluran reproduksi dan tubuh pada status tidak hamil. Selain

pengkajian yang dibahas di atas untuk penggunaan panggilan telepon atau kunjungan dua minggu , riwayat tambahan lain meliputi sebagai berikut : a) Permulaan hubungan seksual b) Metode keluarga berencana yang diinginkan c) Telepon ke bidan atau ke dokter d) Adanya gejala demam, kedinginan, dan pilek e) Keadaan payudara f) Fungsi perkemihan g) Tonus abdomen, diastasis persisten h) Fungsi bowel i) Resolusi lokia j) Kram atau nyeri tungkai k) Pemenuhan kebutuhan bayi Selain riwayat dan pemeriksaan fisik, pengkajian wanita pascapartum dapat meliputi pengkajian laboratorium. DPL jika terdapat anemia berat pada saat kelahiran atau setelah hemoragi pascapartum, penapisan untuk penyakit menular seksual jika sesuai, dan Pap smear jika diindikasikan atau bagian dari protokol institusi. Sekarang ini, Pap smear seringkali ditangguhkan hingga pemeriksaan tahunan berikutnya, ditetapkan tanggalnya sejak pengkajian awal kehamilan, atau sejak pengkajian tahunan terakhir jika Papsmear diterima sebagai bagian pengkajian kunjungan obstetri yang baru. 3. Bahan makanan yang dianjurkan rata-rata sehari a. Ibu hamil Hidrat arang Protein Lemak Sayuran Buah Susu b. Ibu menyusui Hidrat arang Protein Lemak Sayuran Buah Susu : 3 x 100gr beras : 4 x 25 gr ikan atau 6 x 25 gr tempe : 4 sendok makan : 3 x 100 gr : 100 gram : 100 cc : 3 x 100gr beras : 3 x 25 gr ikan atau 4 x 25 gr tempe : 3 sendok makan : 3 x 100 gr : 100 gram : 100 cc

c. Wanita dewasa (20-39 tahun) Hidrat arang Protein Lemak Sayuran Buah Daftar makanan penukar a. Golongan I (bahan makanan sumber hidrat arang) Satu satuan bahan penukar mengandung 181 kalori, 4 gram protein dan 40 gram hidrat arang. No Nama bahan Berat tiap satuan penukar dalam gram 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Beras giling Nasi beras Bubur beras Tepung beras Bihun Biskuit meja Bulgur Crackers Jagung Jawawut Kentang Makaroni Maizena Mie basah Mie kering Roti putih Singkong Tales Tape singkong Tepung asgu Tepung jagung 50 100 400 50 50 50 50 50 50 50 200 50 50 250 50 80 100 200 100 50 50 gelas gelas 1 gelas 12 sdm 1 gelas 4 buah gelas 5 buah besar bls gelas 4 buah sedang gelas 9 sdm 2 gelas 1 gelas 4 iris 1 ptg sedang 2 ptg sedang 1 ptg sedang 10 sdm 12 sdm URT : 3 x 100gr beras : 2 x 25 gr ikan atau 3 x 25 gr tempe : 3 sendok makan : 1 x 100 gr : 100 gram

22 23 24 25 26

Tepung gaplek Tepung terigu Tepung hunkuwee Cantel ubi

60 50 40 50 150

10 sdm 8 sdm 7 sdm gelas 1 buah sedang

b. Golongan II (bahan makanan sumber protein hewani) Dipakai sebagai lauk. Satu satuan penukar mengandung 50 kalori, 5 gram protein dan 3 gram lemak. No Nama bahan Berat tiap satuan penukar dalam gram 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Ikan segar Ikan asin Ikan teri Telur ayam Telur bebek Daging sapi Daging ayam Udang basah Hati sapi Didih sapi Keju 25 15 15 35 30 25 25 25 25 25 15 1 ptg kecil 1 ptg kecil 1 sdm 1 butir butir 1 ptg kecil 1 ptg kecil 1 sdm 1 ptg kecil 1 ptg kecil 1 ptg kecil URT

c. Golongan III (bahan makanan sumber protein nabati) Digunakan sebagai lauk pauk atau makanan kecil (snack). Satu satuan penukar bahan mengandung kira-kira 40 kalori, 5 gram protein, 3 gram lemak dan 8 gram hidrat arang. No Nama bahan Berat tiap satuan penukar dalam gram 1 2 3 4 Tempe kedele Kacang hijau Kacang tolo Kacang merah 25 25 25 25 1 ptg sedang 2 sdm 2 sdm 2 sdm URT

5 6 7 8 9

Kacang kedele Kacang tanah kupas Tahu Keju kacang tanah Oncom

15 20 7 20 50

1 sdm 2 sdm 1 ptg sedang 2 sdm 2 ptg sedang

d. Golongan IV (sayuran) 1) Sayuran kelompok A Sayuran kelompok ini banyak mengandung aktivitet vitamin A 2.000 K.I dan lebih tiap 100 gram bahan. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Nama bahan Daun singkong Wortel Katul Daun melinjo Sawi hijau Daun talas Kangkung Bayam Daun ketela rambat Daun kacang panjang Daun pepaya Daun lamtoro No 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Nama bahan Daun genjer Pecay Daun jotang Daun mangkokan Daun pakis Selada air Krokot Daun labu waluh Daun labu siam Daun lobak Daun eceng Tomat masak

2) Sayuran kelompok B Sayuran ini lebih sedikit mengandung karotin dibanding dengan kelompok A. Setiap 100 gr sayuran ini mengandung 500-200 K.I aktivitet vitamin A. No 1 2 3 4 Nama bahan Tomat masak Daun eceng Daun labu siam Daun lobak No 5 6 7 8 Nama bahan Daun buncis Selada Tekokak Daun gandaria

Ket : 100 gr bahan penukar = sayuran segar dua mangkok ukuran sedang

e. Golongan V (buah-buahan) Merupakan sumber vitamin dan mineral, terutama vitamin C. Setiap satuan penukar mengandung 30 mg. --8 mg vitamin C. Kebutuhan akan vitamin C seorang sehari akan terpenuhi dengan mengambil satu satuan penukar buah-buahan dalam bentuk segar. No Nama bahan Berat tiap satuan penukar dalam gram 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 pepaya Mangga Jeruk garut Jeruk bali Jambu biji Jambu monyet Kedondong Embacang Rambutan Belimbing Nanas Sawo manila Pisang ambon Sirsak 100 100 100 100 50 25 100 100 100 100 150 150 300 150 1 ptg sedang 1 buah sedang 1 buah sedang 2 sisir besar 1 buah sedang 1 buah sedang 2 buah sedang 1 buah sednag 10 buah 2 buah sedang 1/3 buah sedang 3 buah sedang 3 buah besar 1 buah besar URT

f. Golongan VI (susu) Merupakan sumber protein, lemak, hidrat arang, vitamin (terutama vitamin A dan Niacin), serta mineral (zat kapur dan fosfor). Satu satuan penukar mengandung 110 kalori, 7 gr protein, 9 gr hidrat arang, dan 7 gr lemak. No Nama bahan Berat tiap satuan penukar dalam gram 1 2 3 4 5 Susu sapi Susu kambing Susu kerbau Susu kentak tak manis Tepung susu berlemak 200 150 100 100 25 1 gelas gelas gelas gelas 5 sdm URT

*) 6 Tepung susu tidak berlemak 7 Tepung sari kedele 25 5 sdm 20 4 sdm

Ket : yang ditandai *) perlu ditambah satuan penukar minyak untuk melengkapi minyaknya.

g. Golongan VII (minyak dan lemak) Bahan makanan ini hampir seluruhnya terdiri dari lemak. Satu satuan penukar mengandung 90 kalori dan 10 gr lemak. No Nama bahan Berat tiap satuan penukar dalam gram 1 2 3 4 5 6 7 Minyak goreng Minyak ikan Margarin Kelapa Kelapa parut Santan Lemak sapi 10 10 10 60 60 100 10 1 sdm 1 sdm 1 sdm 2 ptg kecil 10 sdm 1 gelas 2 ptg kecil URT

Sumber : Buku Pedoman Kerja Puskesmas Jilid II Buku Ajar Asuhan Kebidanan, Varneys

Beri Nilai