Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN

I.1.LATAR BELAKANG Anak merupakan kelompok yang memerlukan perhatian dalam upaya pembinaan kesehatan masyarakat, karena mereka akan berperan sebagai calon orang tua, tenaga kerja, bahkan pemimpin bangsa di masa depan. Dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan anak di Indonesia diperlukan upaya pembinaan kesehatan anak yang komprehensif dan terarah pada semua permasalahan kesehatan akibat penyakit maupun masalah lainnya. Kekerasan dan penelantaran anak mengakibatkan terjadinya gangguan proses pada tumbuh kembang anak. Keadaan ini jika tidak ditangani secara dini dengan baik, akan berdampak terhadap penurunan kualitas sumber daya manusia.[9] Definisi kekerasan terhadap anak menurut Centers for Disease Control and Prevention adalah setiap tindakan atau serangkaian tindakan wali atau kelalaian oleh orang tua atau pengasuh lainnya yang dihasilkan dapat membahayakan, atau berpotensi bahaya, atau memberikan ancaman yang berbahaya kepada anak.. Kekerasan pada anak menurut keterangan WHO dibagi menjadi lima jenis, yaitu kekerasan fisik, kekerasan seksual, kekerasan emosional, penelantaran anak, eksploitasi anak.[5] Selama beberapa tahun terakhir kecenderungan terjadinya kekerasan seksual pada anak semakin meningkat jumlahnya. Peningkatan jumlah kasus yang terlaporkan dan dilaporkan meningkat secara akumulatif hingga 100 kasus setiap tahunnya antara tahun 2004 ke tahun 2007. Secara umum yang dimaksud dengan kekerasan seksual pada anak adalah keterlibatan seorang anak dalam segala bentuk aktivitas seksual yang terjadi sebelum anak mencapai batasan umur tertentu yang ditetapkan oleh hukum negara yang bersangkutan di mana orang dewasa atau anak lain yang usianya lebih tua atau orang yang dianggap memiliki pengetahuan lebih dari anak memanfaatkannya untuk kesenangan seksual atau aktivitas seksual. Di Indonesia UU Perlindungan Anak memberi batasan bahwa yang dimaksud dengan anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas tahun), termasuk anak yang masih dalam kandungan.[8]

Kekerasan seksual adalah setiap aktivitas pada anak, di mana umur belum mencukupi menurut izin hukum, yang digunakan untuk sumber kepuasan seksual orang dewasa atau anak yang sangat lebih tua. Belakangan ini banyak muncul kasus perilaku seks bebas yang melanda anak-anak di bawah umur, dimana anak merupakan kelompok yang rentan baik fisik maupun mental. Seksual abuse termasuk oral-genital, genital-genital, genital-rektal, tangan-genital, tangan-rektal atau kontak tanganpayudara; pemaparan anatomi seksual, melihat dengan paksa anatomi seksual, dan menunjukkan pornografi pada anak atau menggunakan anak dalam produksi pornografi. Penelitian tentang Kekerasan Pada Anak yang dilakukan oleh Sudaryono menyatakan selama tiga dasawarsa masalah anak baik sebagai pelaku maupun korban kekerasan (kekerasan) dapat dikatakan kurang mendapat perhatian.[1] Beberapa bulan terakhir ini, kasus kekerasan seksual pada anak kembali marak terjadi di Indonesia. Kekerasan seksual pada anak ini sangatlah memprihatinkan banyak pihak terutama bagi sekolah-sekolah serta ibu-ibu yang memiliki anak. Kebanyakan korban kekerasan seksual pada anak berusia sekitar 5 hingga 11 tahun.[2] Dari sekian ratus kasus yang pernah terjadi, kekerasan seksual pada anak diibaratkan sebagai fenomena gunung es. Laporan LBH (Lembaga Badan Hukum) Apik Jakarta menyebutkan dari 239 kasus kekerasan seksual yang terjadi pada JanuariOktober 2003, sekitar 50% di antaranya menimpa anak-anak. Data itu mencakup kasus perkosaan, sodomi, pedofilia, pencabulan, dan pelecehan seksual. Sementara itu, dari 32 kasus kekerasan seksual yang terjadi pada bulan April 2002, 28 kasus atau 87,5% di antaranya terjadi pada anak di bawah umur.[3] Menurut Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Biro Pusat Statistik Tahun 2007, angka kejadian tindak kekerasan terhadap anak di Indonesia adalah 3,02% yang artinya setiap 10.000 anak terdapat 302 anak korban kekerasan. Kekerasan pada anak itu sendiri terdiri dari kekerasan seksual, fisik, emosional, eksploitasi anak, perdagangan anak, dan penelantaran anak.[4] Berdasarkan data Komisi Nasional perlindungan anak, pada tahun 2009 kasus kekerasan seksual pada anak sudah mencapai 1298 kasus.[2]

Sebelumnya, pada tahun 2008 kasus kekerasan seksual pada anak sudah meningkat 30 persen menjadi 1.555 kasus dari 1.194 kasus pada tahun 2007. Dengan kata lain setiap harinya terdapat 4,2 kasus. Hal yang memprihatinkan adalah untuk kasus jenis perkosaan dan percabulan, tersangkanya masih berusia anak-anak 10 hingga 17 tahun.[2] Kasus pemerkosaan dan kekerasan terhadap anak di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) sangat tinggi. Bahkan kasus pemerkosaan anak di NTT tertinggi/terbanyak di Indonesia.[6] Komisi Perlindungan Anak Indonesia menemukan banyak aduan kekerasan pada anak pada tahun 2010. Dari 171 kasus pengaduan yang masuk, sebanyak 67,8 persen terkait dengan kasus kekerasan. Dan dari kasus kekerasan tersebut yang paling banyak terjadi adalah kasus kekerasan seksual yaitu sebesar 45,7 persen (53 kasus).[7] Maka dari itu, hal yang penting dilakukan adalah memberikan pendidikan seksual atau pendidikan kesehatan reproduksi bagi anak-anak sedini mungkin, perlu dilakukan oleh orangtua dan pihak sekolah agar anak tidak mendapatkan informasi yang salah dari teman, internet, maupun media lainnya.[2] I.2. Perumusan Masalah Melihat uraian diatas, maka timbul pertanyaan yang hendak dijawab dengan penelitian ini yaitu : I.2.1. Apakah yang dimaksud dengan kekerasan seksual pada anak-anak I.2.2. Peraturan apa yang mengatur perlindungan terhadap kekerasan seksual pada anak-anak I.2.3. Bagaimanakah mengetahui tanda-tanda kekerasan seksual pada anak I.2.4. Bagaimanakah efek psikologi pada anak korban kekerasan seksual

I.3. TUJUAN DAN MANFAAT I.3.1. TUJUAN


3

Mengetahui peranan dokter umum dalam menangani kasus kekerasan seksual terhadap anak. I.3.2. MANFAAT Dari hasil referat yang dilakukan ini diharapkan dapat diperoleh beberapa manfaat, antara lain :
1. Memberikan informasi yang bermanfaat untuk mengembangkan dan meningkatkan

pengetahuan tentang tanda-tanda kekerasan seksual terhadap anak serta tanda-tanda psikologisnya.
2. Untuk menambah wawasan tentang ilmu kedokteran forensik, khususnya tentang

kekerasan seksual pada anak-anak dan bagaimana cara menangani kasus tersebut.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


4

II.1. Kekerasan Pada Anak (Child Abuse) Secara umum kekerasan didefinisikan sebagai suatu tindakan yang dilakukan satu individu terhadap individu lain yang mengakibatkan gangguan fisik dan atau mental. Anak ialah individu yang belum mencapai usia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan seperti tertera dalam pasal 1 UU No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Kekerasan pada anak adalah tindakan yang di lakukan seseorang atau individu pada mereka yang belum genap berusia 18 tahun yang menyebabkan kondisi fisik dan atau mentalnya terganggu. Kekerasan pada anak atau perlakuan salah pada anak adalah suatu tindakan semena-mena yang dilakukan oleh seseorang yang seharusnya menjaga dan melindungi anak (caretaker) pada seorang anak baik secara fisik, seksual, maupun emosi. Pelaku kekerasan di sini karena bertindak sebagai caretaker, maka mereka umumnya merupakan orang terdekat di sekitar anak. Ibu dan bapak kandung, ibu dan bapak tiri, kakek, nenek, paman, supir pribadi, guru, tukang ojek pengantar ke sekolah, tukang kebun, dan seterusnya. Seringkali istilah kekerasan pada anak ini dikaitkan dalam arti sempit dengan tidak terpenuhinya hak anak untuk mendapat perlindungan dari tindak kekerasan dan eksploitasi. Kekerasan pada anak juga sering kali dihubungkan dengan lapis pertama dan kedua pemberi atau penanggung jawab pemenuhan hak anak yaitu orang tua (ayah dan ibu) dan keluarga. Kekerasan yang disebut terakhir ini di kenal dengan perlakuan salah terhadap anak atau child abuse yang merupakan bagian dari kekerasan dalam rumah tangga (domestic violence). (Hobbs CJ,1998) Menurut WHO (World Health Organization) kekerasan dan penelantaran pada anak merupakan semua bentuk perlakuan menyakitkan secara fisik ataupun emosional, penyalahgunaan seksual, penelantaran, eksploitasi komersial atau eksploitasi lain, yang mengakibatkan cedera atau kerugian nyata ataupun potensial terhadap kesehatan anak, kelangsungan hidup anak, tumbuh kembang anak, atau martabat anak, yang dilakukan dalam konteks hubungan tanggung jawab, kepercayaan atau kekuasaan.

Banyak teori yang berusaha menerangkan bagaimana kekerasan ini terjadi, salah satu di antaranya teori yang berhubungan dengan stress dalam keluarga (family stress). Stres dalam keluarga tersebut bisa berasal dari anak, orang tua, atau situasi tertentu. (Bittner S,1998) 1. Stres berasal dari anak misalnya anak dengan kondisi fisik, mental, dan perilaku yang terlihat berbeda dengan anak pada umumnya. Bayi dan usia balita, serta anak dengan penyakit kronis atau menahun juga merupakan salah satu penyebab stres. 2. Stres yang berasal dari orang tua misalnya orang tua dengan gangguan jiwa (psikosis atau neurosa), orang tua sebagai korban kekerasan di masa lalu, orang tua terlampau perfek dengan harapan pada anak terlampau tinggi, orang tua yang terbiasa dengan sikap disiplin.
3.

Stres berasal dari situasi tertentu misalnya terkena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) atau pengangguran, pindah lingkungan, dan keluarga sering bertengkar. Dengan adanya stres dalam keluarga dan faktor sosial budaya yang kental dengan ketidaksetaraan dalam hak dan kesempatan, sikap permisif terhadap hukuman badan sebagai bagian dari mendidik anak, maka para pelaku makin merasa sah untuk menyiksa anak. Dengan sedikit faktor pemicu, biasanya berkaitan dengan tangisan tanpa henti dan ketidakpatuhan pada pelaku, terjadilah penganiayaan pada anak yang tidak jarang membawa malapetaka bagi anak dan keluarganya. (Bittner S,1998) Perlukaan bisa berupa cedera kepala (head injury), patah tulang kepala, geger otak, atau perdarahan otak. Perlukaan pada badan, anggota gerak dan alat kelamin, mulai dari luka lecet, luka robek, perdarahan atau lebam, luka bakar, patah tulang. Perlukaan organ dalam (visceral injury) tidak dapat dideteksi dari luar sehingga perlu dilakukan pemeriksaan dalam dengan melakukan otopsi. Perlukaan pada permukaan badan seringkali memberikan bentuk yang khas menyerupai benda yang digunakan untuk itu, seperti bekas cubitan, gigitan, sapu lidi, setrika, atau sundutan rokok. Karena perlakuan seperti ini biasanya berulang maka perlukaan yang ditemukan seringkali berganda dengan umur luka yang berbeda-beda, ada yang masih baru ada pula yang hampir menyembuh atau sudah meninggalkan bekas (sikatriks). Di samping itu lokasi perlukaan dijumpai pada tempat yang tidak umum sepertihalnya luka-luka akibat jatuh
6

atau kecelakaan biasa seperti bagian paha atau lengan atas sebelah dalam, punggung, telinga, langit langit rongga mulut, dan tempat tidak umum lainnya. (Philip SL,1993) Saat perlakuan salah pada anak terjadi, lantaran perbuatan itu, pelaku tidak sadar bahkan mungkin tidak tahu bahwa tindakannya itu akan diancam dengan pidana senjata atau denda yang tidak sedikit, bahkan jika pelaku ialah orang tuanya sendiri maka hukuman akan ditambah sepertiganya yakni pada pasal 80 Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, sebagai berikut : 1. Setiap orang yang melakukan kekejaman, kekerasan atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 tahun 6 bulan dan/atau denda paling banyak Rp. 72.000.000.00. 2. Dalam hal anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) luka berat, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 100.000.000.00. 3. Dalam hal anak yang dimaksud ayat 2 mati, maka pelaku dipidana penjara paling lama 10 tahun dan/atau denda paling banyak RP. 200.000.000.004. Pidana dapat ditambah sepertiga dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2)yat (3) apabila yang melakukan penganiayaan tersebut orang tuanya).

Tabel 1. Undang-undang no 23/2002 Perlindungan Anak Pasal 77 78 Tindakan Diskriminasi Penelantaran Anak Sengaja anak dalam situasi darurat Hukuman 5 tahun, 100 juta 5 tahun, 100 juta
7

Kekerasan terhadap anak, 80 83 88 luka berat, mati Menjual, menculik Eksploitasi ekonomi/seksual

3,5 tahun, denda 72 juta 5 tahun, 100 juta 10 tahun, 200 juta 3-15 tahun, 60-300 juta 10 tahun, 200 juta

II.1.1.Bentuk Kekerasan pada Anak Terdapat lima bentuk kekerasan pada anak (1999 WHO Consultation on child abuse prevention) yaitu : (Meadow R,1993) 1. Kekerasan fisik (Physical abuse) Merupakan kekerasan yang mengakibatkan cedera fisik nyata ataupun potensial terhadap anak, sebagai akibat dari interaksi atau tidak adanya interaksi, yang layaknya berada dalam kendali orang tua atau orang dalam posisi hubungan tanggung jawab, kepercayaan atau kekuasaan. Bentuk kekerasan yang sifatnya bukan kecelakaan yang membuat anak terluka. Contoh: menendang, menjambak (menarik rambut), menggigit, membakar, menampar. 2. Kekerasan seksual (sexual abuse) Merupakan pelibatan anak dalam kegiatan seksual dimana ia sendiri tidak sepenuhnya memahami, tidak mampu memberikan persetujuan atau oleh karena perkembangannya belum siap atau tidak dapat memberi persetujuan, atau yang melanggar hukum atau pantangan masyarakat, atau merupakan segala tingkah laku seksual yang dilakukan antara anak dan orang dewasa. Contoh, pelacuran anak-anak, intercourse, pornografi, eksibionisme, oral sex, dan lainlain. 3. Mengabaikan (Neglect) Merupakan kegagalan dalam menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk tumbuh kembangnya, seperti kesehatan, perkembangan emosional, nutrisi, rumah atau tempat bernaung dan keadaan hidup yang aman di dalam konteks sumber daya yang layaknya dimiliki oleh keluarga atau pengasuh, yang mengakibatkan atau sangat mungkin mengakibatkan gangguan kesehatan atau gangguan perkembangan fisik,
8

mental, moral dan sosial, termasuk didalamnya kegagalan dalam mengawasi dan melindungi secara layak dari bahaya gangguan. 4. Kekerasan emosi (Emotional Abuse) Merupakan kegagalan penyediaan lingkungan yang mendukung dan memadai bagi perkembangannya, termasuk ketersediaan seorang yang dapat dijadikan figur primer sehingga anak dapat berkembang secara stabil dengan pencapaian kemampuan sosial dan emosional yang diharapkan sesuai dengan potensi pribadina dalam konteks lingkungannya. Segala tingkah laku atau sikap yang mengganggu kesehatan mental anak atau perkembangan sosialnya. Contoh : tidak pernah memberikan pujian/ reinforcemen yang positif, membandingkannya dengan anak yang lain, tidak pernah memberikan pelukan atau mengucapkan aku sayang kamu. 5. Eksploitasi anak (child exploitation) Merupakan penggunaan anak dalam pekerjaan atau aktivitas lain untuk keuntungan orang lain. Dampak dari tindak kekerasan terhadap anak yang paling dirasakan yaitu pengalaman traumatis yang susah dihilangkan pada diri anak, yang berlanjut pada permasalahan-permasalahan lain, baik fisik, psikologis maupun sosial. Stigma yang melekat pada korban : (Meadow R,1993) 1. Stigma Interna a. Kecenderungan korban menyalahkan diri. b. Menutup diri. c. Menghukum diri. d. Menganggap dirinya aib 2. Stigma Eksternal a. Kecenderungan masyarakat menyalahkan korban. b. Media informasi tanpa empati memberitakan kasus yang dialami korban secar terbuka dan tidak menghiraukan hak privasi korban. Faktor-faktor kausalitas yang signifikan : (Sugiarto,2007) 1. Masalah kemiskinan
9

2. Masalah gangguan hubungan sosial keluarga dan komunitas 3. Penyimpangan perilaku dikarenakan masalah psikososial
4. Lemahnya kontrol sosial primer masyarakat dan hukum

5. Pengaruh nilai sosial budaya di lingkungan sosial tertentu 6. Keengganan masyarakat untuk melaporkan kasus-kasus Kompleksitas faktor-faktor penyebab dan beban permasalahan yang demikian berat dalam diri para korban tindak kekerasan, menuntut diambilnya langkah penanganan yang holistik dan komprehensif melalui pendekatan interdisipliner, interinstitusional dan intersektoral dengan dukungan optimal dari berbagai sumber dan potensi dalam masyarakat. (Sugiarto,2007) II.2. Kekerasan Seksual Kekerasan seksual adalah salah satu bentuk dari kekerasan tubuh yang merugikan kesehatan dan nyawa manusia. Ilmu Kedokteran Forensik berguna dalam fungsi penyelidikan, yaitu untuk:
1. Menentukan adanya tanda-tanda persetubuhan 2. Menentukan adanya tanda-tanda kekerasan 3. Memperkirakan umur 4. Menentukan pantas tidaknya korban buat kawin

Kekerasan seksual merupakan segala kekerasan, baik fisik maupun psikologis, yang dilakukan dengan cara-cara seksual atau dengan mentargetkan seksualitas. Definisi kekerasan seksual ini mencakup pemerkosaan, perbudakan seksual, dan bentuk-bentuk lain kekerasan seksual seperti penyiksaan seksual, penghinaan seksual di depan umum, dan pelecehan seksual.Terdapat dua macam bentuk kekerasan seksual, yaitu ringan dan berat. Macam-macam kekerasan seksual ringan : Pelecehan seksual Gurauan porno, Siulan, ejekan dan julukan Tulisan/gambar

10

Ekspresi wajah, Gerakan tubuh Perbuatan menyita perhatian seksual tak dikehendaki korban, melecehkan dan atau menghina korban. Melakukan repitisi kekerasan seksual ringan dapat dimasukkan ke dalam jenis kekerasan seksual berat. Macam-macam kekerasan seksual berat: Pelecehan, kontak fisik: raba, sentuh organ seksual, cium paksa, rangkul, perbuatan yang rasa jijik, terteror, terhina Pemaksaan hubungan seksual Hubungan seksual dgn cara tidak disukai, merendahkan dan atau menyakitkan Pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain, pelacuran tertentu. Hubungan seksual memanfaatkan posisi ketergantungan / lemahnya korban. Tindakan seksual + kekerasan fisik, dengan atau tanpa bantuan alat yang menimbulkan sakit, luka, atau cedera. II.3. Dasar Hukum Kekerasan Terhadap Kesusilaan Persetubuhan tertera pada Bab XIV KUHP Tentang Kekerasan Terhadap Kesusilaan
(a) Persetubuhan dalam perkawinan: Pasal 288 KUHP (b) Persetubuhan di luar Perkawinan:

Dengan persetujuan si wanita - Tanpa ikatan wanita < 15 tahun : (287 KUHP) wanita > 15 tahun : (284 KUHP) - Dengan Ikatan wanita < 21 tahun - Pemberian/janji uang/barang (293 KUHP) - Asuhan/Pendidikan (294 KUHP)
11

wanita > 21 tahun - Bawahan (294 KUHP) - Dalam pengawasan (294 KUHP) Tanpa Persetujuan
-

Dengan Kekerasan/ ancaman (285 KUHP) Si wanita pingsan/tidak berdaya (286 KUHP)

II.4. Aspek Hukum KUHP Tentang Perbuatan Cabul Pasal KUHP yang mengatur mengenai pencabulan ada dalam pasal 289-296. a. Pasal 289 KUHP Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukannya perbuatan cabul, diancam karena melakukan perbuatan yang menyerang kesusilaan, dengan pidana penjara paling lama 9 tahun. b. Pasal 290 KUHP Diancam dengan pidana paling lama tujuh tahun: Barangsiapa melakukan perbuatan cabul dengan seseorang padahal diketahui bahwa orang itu pingsan atau tidak berdaya; Barangsiapa melakukan perbuatan cabul dengan seseorang padahal diketahui atau sepatutnya harus diduga, bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalau umurnya tidak ternyata, bahwa belum mampu dikawin Barangsiapa membujuk seseorang yang diketahui atau sepatutnya harus diduga bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalau umurnya tidak ternyata, bahwa belum mampu dikawin, untuk melakukan atau membiarkan perbuatan cabul atau bersetubuh diluar perkawinan dengan orang lain c. Pasal 292 KUHP Orang yang cukup umur yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain sama kelamin, yang diketahui atau sepatutnya harus diduga bahwa belum cukup umur,diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun. d. Pasal 293 KUHP
12

Barangsiapa dengan memberi atau menjanjikan uang atau barang, menyalahgunakan pembawa yang timbul dari hubungan keadaan, atau dengan menyesatkan sengaja menggerakkan seseorang belum cukup umur dan baik tingkah-lakunya, untuk melakukan atau membiarkan dilakukannya perbuatan cabul dengan dia, padahal tentang belum cukup umurnya itu diketahui atau selayaknya harus diduga, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun. Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan orang yang terhadap dirinya dilakukan kekerasan itu. Tenggang tersebut dalam pasal 74, bagi pengaduan ini adalah masing-masing 9 bulan dan 12 bulan. II.5. Peran Kedokteran Forensik Dalam Kasus Kekerasan Seksual: 1. Menentukan adanya tanda-tanda persetubuhan Persetubuhan adalah suatu peristiwa dimana alat kelamin laki-laki masuk ke dalam alat kelamin perempuan, sebagian atau seluruhnya dan dengan atau tanpa terjadinya pancaran air mani. Pemeriksaan dipengaruhi oleh : besarnya zakar dengan ketegangannya, seberapa jauh zakar masuk, keadaan selaput dara serta posisi persetubuhan. Adanya robekan pada selaput dara hanya menunjukkan adanya benda padat/kenyal yang masuk (bukan merupakan tanda pasti persetubuhan). Jika zakar masuk seluruhnya & keadaan selaput dara masih cukup baik, pada pemeriksaan diharapkan adanya robekan pada selaput dara. Jika elastis, tentu tidak akan ada robekan. Adanya pancaran air mani (ejakulasi) di dalam vagina merupakan tanda pasti adanya persetubuhan. Pada orang mandul, jumlah spermanya sedikit sekali (aspermia), sehingga pemeriksaan ditujukan adanya zat-zat tertentu dalam air mani seperti asam fosfatase, spermin dan kholin. Namun nilai persetubuhan lebih rendah karena tidak mempunyai nilai deskriptif yang mutlak atau tidak khas. 1. Sperma masih dapat ditemukan dalam keadaan bergerak dalam vagina 4-5 jam setelah persetubuhan.
13

2. Pada orang yang masih hidup, sperma masih dapat ditemukan (tidak bergerak) sampai sekitar 24-36 jam setelah persetubuhan, sedangkan pada orang mati sperma masih dapat ditemukan dalam vagina paling lama 7-8 hari setelah persetubuhan. 3. Pada laki-laki yang sehat, air mani yang keluar setiap ejakulasi sebanyak 2-5 ml, yang mengandung sekitar 60 juta sperma setiap mililiter dan 90% bergerak (motile) 4. Untuk mencari bercak air mani yang mungkin tercecer di TKP, misalnya pada sprei atau kain maka barang-barang tersebut disinari dengan cahaya ultraviolet dan akan terlihat berfluoresensi putih, kemudian dikirim ke laboratorium.
5. Jika pelaku kekerasan segera tertangkap setelah kejadian, kepala zakar harus

diperiksa, yaitu untuk mencari sel epitel vagina yang melekat pada zakar. Ini dikerjakan dengan menempelkan gelas objek pada gland penis (tepatnya sekeliling korona glandis) dan segera dikirim untuk mikroskopis.
6. Robekan baru pada selaput dara dapat diketahui jika pada daerah robekan

tersebut masih terlihat darah atau hiperemi/kemerahan. Letak robekan selaput dara pada persetubuhan umumnya di bagian belakang (comisura posterior), letak robekan dinyatakan sesuai menurut angka pada jam. Robekan lama diketahui jika robekan tersebut sampai ke dasar (insertio) dari selaput dara. 7. VeR yang baik harus mencakup keempat hal tersebut di atas (fungsi penyelidikan), dengan disertai perkiraan waktu terjadinya persetubuhan. hal ini dapat diketahui dari keadaan sperma serta dari keadaan normal luka (penyembuhan luka) pada selaput dara, yang pada keadaan normal akan sembuh dalam 7-10 hari. 2. Menentukan adanya tanda-tanda kekerasan Kekerasan tidak selamanya meninggalkan bekas/luka, tergantung dari penampang benda, daerah yang terkena kekerasan, serta kekuatan dari kekerasan itu sendiri. Tindakan membius juga termasuk kekerasan, maka perlu dicari juga adanya racun dan gejala akibat obat bius/racun pada korban.

14

Adanya luka berarti adanya kekerasan, namun tidak ada luka bukan berarti tidak ada kekerasan. Faktor waktu sangat berperan. Dengan berlalunya waktu, luka dapat sembuh atau tidak ditemukan, racun/obat bius telah dikeluarkan dari tubuh. faktor waktu penting dalam menemukan sperma. 3. Memperkirakan umur Tidak ada satu metode tepat untuk menentukan umur, meskipun pemeriksaannya memerlukan berbagai sarana seperti alat rontgen untuk memeriksa pertumbuhan tulang dan gigi. Perkiraan umur digunakan untuk menentukan apakah seseorang tersebut sudah dewasa (> 21 tahun) khususnya pada homoseksual/lesbian serta pada kasus pelaku kekerasan. Sedangkan pada kasus korban perkosaan perkiraan umur tidak diperlukan. 4. Menentukan pantas tidaknya korban buat dikawin Secara biologis jika persetubuhan bertujuan untuk mendapatkan keturunan, pengertian pantas/tidaknya buat kawin tergantung dari: apakah korban telah siap dibuahi yang artinya telah menstruasi, namun untuk bukti hal ini korban perlu diisolir untuk waktu cukup lama. Bila dilihat Undang-Undang Perkawinan, yaitu pada Bab II pada pasal 7 ayat 1 berbunyi : perkawinan hanya diizinkan jika pria sudah mencapai 19 tahun dan wanita sudah mencapai 16 tahun. Namun terbentur lagi pada masalah penentuan umur yang sulit diketahui kepastiannya.

II.5.1. Pemeriksaan Medis 1. Anamnesis Anamnesis umum memuat: Identitas : Nama, umur, TTL, status perkawinan, Spesifik : Siklus haid, penyakit kelamin, peny. kandungan, peny. lain, pernah bersetubuh, persetubuhan yang terakhir, kondom ? Anamnesis khusus memuat waktu kejadian 2. Pemeriksaan Fisik
15

Pemeriksaan fisik umum memuat : Kesan penampilan (wajah, rambut), ekspresi emosional, tanda-tanda bekas kehilangan kesadaran / obat bius / needle marks. Berat badan, tinggi badan, tanda vital, pupil, refleks cahaya, pupil pinpoint, tanda perkembangan alat kelamin sekunder, kesan nyeri ? Pemeriksaan fisik khusus memuat: o Pembuktian persetubuhan : -Ada / tidak penetrasi penis ke vagina / anus / oral -Ejakulat / air mani pada vagina / anus o Bukti Penetrasi : -Robekan hymen, laserasi (mencakup perkiraan waktu) -Variasi : - korban 3 hari yang lalu / lebih hymen elastis Penetrasi tidak lengkap - Bukti Ejakulat/air mani (mencakup perkiraan waktu) - Perlekatan rambut kemaluan - Ejakulat di liang vagina - Pemeriksaan Pakaian - Rapi / tidak, - Robekan? lama/baru, melintang? pada jahitan? kancing putus? - Bercak darah - Air mani - Lumpur / kotoran lain di TKP 3. Pemeriksaan Laboratorium
-

Cairan dan sel mani dalam lendir vagina Pemeriksaan terhadap kuman N. gonorrhoea sekret ureter Pemeriksaan kehamilan Toksikologik darah dan urin Luka-luka lecet bekas kuku, gigitan (bite marks), luka-luka memar

4. Pembuktian Adanya Kekerasan


-

- Lokasi : Muka, leher, buah dada, bagian dalam paha dan sekitar alat kelamin
16

5. Perkiraan Umur - Dasar berat badan, tinggi badan, bentuk tubuh, gigi, ciri-ciri kelamin sekunder - Pemeriksaan sinar X : standar waktu penyatuan tulang 6. Penentuan sudah atau belum waktunya dikawin - Pertimbangan kesiapan biologis : menstruasi, - Wanita sudah ovulasi / belum : vaginal smear - Berdasar umur ? : > 16 th 7. Pemeriksaan terhadap Pelaku - Upaya pengenalan persetubuhan, - Bercak sperma, darah, tanah dan pakaian, robekan. - Bentuk tubuh : memungkinkan tindakan kekerasan. - Tanda cedera : perlawanan korban ? - Rambut terlepas. - Pemeriksaan menyeluruh alat kelamin : mampu seksual ? cedera ? - Tanda infeksi gonokokus, - Sekret - Smegma
8. Pemeriksaan Penentuan Golongan Darah

- Serologis air mani (antigen ABO) pada orang yg sekretor - Di cocokkan dengan golongan darah (pelaku / korban) 9. Homoseksual
-

Homoseksual merupakan salah satu bentuk kekerasan seksual cukup umur yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain yang sama kelaminnya yang belum cukup umur

- Didalam Pasal 292 KUHP, terdapat ancaman hukuman bagi seseorang yang

II.6. Perkembangan Sex Sekunder Pertumbuhan fisik remaja merupakan pertumbuhan yang paling pesat. Remaja tidak hanya tumbuh dari segi ukuran (semakin tinggi atau semakin besar), tetapi juga mengalami kemajuan secara fungsional, terutama organ seksual atau pubertas. hal ini
17

ditandai dengan datangnya menstruasi pada perempuan dan mimpi basah pada lakilaki. Pertumbuhan adalah suatu proses perubahan fisiologis yang bersifat progresif dan kontinyu dan berlangsung dalam periode tertentu. Perubahan ini berkisar hanya pada aspek-aspek fisik individu. Pertumbuhan itu meliputi perubahan yang bersifat internal maupun eksternal. Pertumbuhan internal meliputi perubahan ukuran alat pencernaan makanan, bertambahnya ukuran besar dan berat jantung dan paru-paru, bertambah sempurna sistem kelenjar kelamin, dan berbagai jaringan tubuh. Adapun perubahan eksternal meliputi bertambahnya tinggi badan, bertambahnya lingkar tubuh, perbandingan ukuran panjang dan lebar tubuh, ukuran besarnya organ seks, dan munculnya atau tumbuhnya tanda-tanda kelamin sekunder. Datangnya masa remaja, ditandai oleh adanya perubahan-perubahan fisik. Hurlock (1992) menyatakan bahwa perubahan fisik tersebut, terutama dalam hal perubahan yang menyangkut ukuran tubuh, perubahan proposisi tubuh, perkembangan ciri-ciri seks primer, dan perkembangan ciri-ciri seks sekunder. Pertumbuhan yang terjadi pada fisik remaja dapat terjadi melalui perubahan-perubahan, baik internal maupun eksternal. II.6.1.Perubahan Internal Perubahan yang terjadi dalam organ dalam tubuh remaja dan tidak tampak dari luar. Perubahan ini nantinya sangat mempengaruhi kepribadian remaja. Perubahan tersebut adalah: a. Sistem Pencernaan b. Sistem Peredaran Darah Jantung c. Sistem Pernafasan d. Sistem Endokrin Kegiatan kelenjar kelamin yang meningkat pada masa remaja menyebabkan ketidakseimbangan sementara dari seluruh sistem kelamin pada masa awal remaja. Kelenjar seks berkembang pesat dan berfungsi, meskipun belum mencapai ukuran yang matang sampai akhir masa remaja atau awal masa dewasa. e. Jaringan Tubuh

18

Perkembangan kerangka berhenti rata-rata pada usia delapan belas tahun. Jaringan selain tulang, khususnya bagi perkembangan otot, terus berkembang sampai tulang mencapai ukuran yang matang. II.6.2. Perubahan Eksternal Perubahan dalam tubuh seorang remaja yang mengalami datangnya masa remaja ini terjadi sangat pesat. Perubahan yang terjadi, dapat dilihat pada fisik luar anak. Baik laki-laki maupun perempuan organ seks mengalami ukuran matang pada akhir masa remaja, tetapi fungsinya belum matang sampai beberapa tahun kemudian (dewasa). Perkiraan umur dapat diketahui dengan melakukan serangkaian pemeriksaan yang meliputi perkembangan fisik, ciri-ciri seks sekunder, pertumbuhan gigi, fusi atau penyatuan dari tulang-tulang khususnya tengkorak serta pemeriksaan radiologik lainnya. (Idries, AM. 1997). Salah satu cara memperkirakan umur pada korban kekerasan seksual adalah dengan memperhatikan ciri-ciri seks sekunder. Dalam hal ini termasuk perubahan pada genitalia, payudara dan tumbuhnya rambut-rambut seksual yang pertama tumbuh hampir selalu di daerah pubis. . (Narendra et al, 2002) Sexual Maturation Rate (SMR) atau dikenal juga dengan Tanner Staging merupakan penilaian ciri seks sekunder. SMR didasarkan pada penampakan rambut pubis, perkembangan payudara dan terjadinya menarke pada perempuan.SMR stadium 1 menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan prapubertal,sedangkan stadium 2-4 menunjukkan pubertas progress. SMR stadium 5 pematangan seksual sudah sempurna. Pematangan seksual berhubungan dengan pertumbuhan liniar, perubahan berat badan dan komposisi tubuh, dan perubahan hormonal. (Stang, J., Story, M., 2005) Sexual Maturating Rate (SMR) pada Perempuan berdasarkan Tanner Stage

19

Gambar 1. Sexual Maturating Rate (SMR) meliputi perkembangan payudara pada Perempuan. (Behrman, 2000)

20

Gambar 2. Sexual Maturating Rate (SMR) meliputi perubahan rambut pubis pada Perempuan. (Behrman, 2000) Tabel 2. Sexual Maturating Rate (SMR) pada perempuan (Behrman, 2000)

21

II.7. Gangguan Psikis Pada Korban Pelecehan Seksual Dan Perkosaan Post Traumatic Stress Disorder Sindrom kecemasan, labilitas autonomik, ketidakrentanan emosional, dan kilas balik dari pengalaman yang amat pedih setelah mengalami stress fisik maupun emosi yang melampaui batas ketahanan orang biasa. Gejala:
1. Pengulangan pengalaman trauma, ditunjukkan dengan selalu teringat akan

peristiwa yang menyedihkan yang telah dialami, flashback (merasa seolah-olah peristiwa yang menyedihkan terulang kembali), nightmares (mimpi buruk tentang kejadian-kejadian yang membuatnya sedih), reaksi emosional dan fisik yang berlebihan karena dipicu oleh kenangan akan peristiwa yang menyedihkan. 2. Penghindaran dan emosional, ditunjukkan dengan menghindari aktivitas, tempat, berpikir, merasakan, atau percakapan yang berhubungan dengan trauma. Selain itu juga kehilangan minat terhadap semua hal, dan perasaan terasing dari orang lain. 3. Sensitifitas yang meningkat, ditunjukkan dengan susah tidur, mudah marah/tidak dapat mengendalikan marah, susah berkonsentrasi, kewaspadaan yang berlebih, respon yang berlebihan atas segala sesuatu (Anonim, 2005a; Anonim, 2005b). Kriteria Diagnostik Kriteria Diagnostik Gangguan Stress Akut berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders III-Revisi atau DSM III-R: 1. Orang yang mengalami peristiwa luar biasa, dan dirasa amat menekan semua orang. 2. Peristiwa traumatik itu secara menetap dapat dialami melalui cara teringat kembali peristiwa secara berulang dan sangat mengganggu, mimpi yang berulang tentang peristiwa yang membebani pikiran, perasaan atau tindakan mendadak seolah peristiwa traumatik itu terjadi lagi, tekanan jiwa

22

yang amat sangat karena terpaku pada peristiwa yang melambangkan atau menyerupai traumatiknya. 3. Pengelakan yang menetap terhadap rangsang yang terkait dengan trauma atau kelumpuhan yang bereaksi terhadap situasi umum (yang tak ada sebelum trauma itu). Keadaan ini paling tidak dapat ditunjukkan dengan sedikitnya 3 dari keadaan yang berupa: upaya untuk mengelak terhadap gagasan atau perasaan yang terkait dengan trauma itu, upaya untuk mengelak dari kegiatan atau situasi yang menimbulkan ingatan terhadap trauma itu, ketidakmampuan untuk mengingat kembali aspek yang penting dari trauma itu, minat yang sangat berkurang terhadap kegiatan yang penting, rasa terasing dari orang lain, kurangnya afeksi, dan merasa tidak punya masa depan.
4. Gejala meningginya kesiagaan yang menetap (tak ada sebelum trauma)

dengan ditunjukkan oleh dua dari gejala: sulit masuk tidur atau mempertahankan tidur yang cukup, iritable atau mudah marah, sulit berkonsentrasi, amat bersiaga, reaksi kaget yang berlebihan, reaksi rentan faali saat menghadapi peristiwa yang melambangkan atau menyerupai aspek dari peristiwa traumatik.
5. Jangka waktu gangguan itu (gejala pada kriteria ke dua, tiga, dan empat)

sedikitnya sebulan (Kaplan, 1997) Gangguan Sosial PTSD:


-

Panic attack (serangan panik). Anak/remaja yang mempunyai pengalaman trauma dapat mengalami serangan

panik ketika dihadapkan/menghadapi sesuatu yang mengingatkan mereka pada trauma. Serangan panik meliputi perasaan yang kuat atas ketakutan atau tidak nyaman yang menyertai gejala fisik dan psikologis. Gejala fisik meliputi jantung berdebar, berkeringat, gemetar, sesak nafas, sakit dada,sakit perut, pusing, merasa kedinginan, badan panas, mati rasa. Perilaku menghindar.

23

Salah satu gejala PTSD adalah menghindari hal-hal yang dapat mengingatkan penderita pada kejadian traumatis. Kadang -kadang penderita mengaitkan semua kejadian dalam kehidupannya setiap hari dengan trauma, padahal kondisi kehidupan sekarang jauh dari kondisi trauma yang pernah dialami. Hal ini sering menjadi lebih parah sehingga penderita menjadi takut untuk keluar rumah dan harus ditemani oleh orang lain jika harus keluar rumah. Depresi. Banyak orang menjadi depresi setelah mengalami pengalaman trauma dan menjadi tidak tertarik dengan hal-hal yang disenanginya sebelum peristiwa trauma. Mereka mengembangkan perasaan yang tidak benar, perasaan bersalah, menyalahkan diri sendiri, dan merasa peristiwa yang dialami merupakan kesalahannya, walaupun semua itu tidak benar.
-

Membunuh pikiran dan perasaan.

Kadang-kadang orang yang depresi berat merasa bahwa kehidupannya sudah tidak berharga. Hasil penelitian menjelaskan bahwa 50% korban kekerasan mempunyai pikiran untuk bunuh diri. Jika anda dan orang yang terdekat dengan anda mempunyai pemikiran untuk bunuh diri setelah mengalami peristiwa traumatik, segeralah mencari pertolongan dan berkonsultasi dengan para profesional. Merasa disisihkan dan sendiri. Penderita PTSD memerlukan dukungan dari lingkungan sosialnya tetapi mereka seringkali merasa sendiri dan terpisah. Karena perasaan mereka tersebut, penderita kesulitan untuk berhubungan dengan orang lain dan mendapatkan pertolongan. Penderita susah untuk percaya bahwa orang lain dapat memahami apa yang telah dia alami.
-

Merasa tidak percaya dan dikhianati.

Setelah mengalami pengalaman yang menyedihkan, penderita mungkin kehilangan kepercayaan dengan orang lain dan merasa dikhianati atau ditipu oleh dunia, nasib atau oleh Tuhan. Marah dan mudah tersinggung adalah reaksi yang umum diantara penderita trauma. Tentu saja kita dapat salah kapan saja, khususnya ketika penderita merasa tersakiti, marah adalah suatu reaksi yang wajar dan dapat dibenarkan.
24

Bagaimanapun, kemarahan yang berlebihan dapat mempengaruhi proses penyembuhan dan menghambat penderita untuk berinteraksi dengan orang lain di rumah dan di tempat terapi.
-

Gangguan yang berarti dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa penderita PTSD mempunyai beberapa gangguan yang terkait dengan fungsi sosial dan gangguan di sekolah dalam jangka waktu yang lama setelah trauma. Seorang korban kekerasan mungkin menjadi sangat takut untuk tinggal sendirian. Penderita mungkin kehilangan kemampuannya dalam berkonsentrasi dan melakukan tugasnya di sekolah. Pengobatan
-

Profesi kedokteran : Sesuai standar pemeriksaan korban kekerasan dan pembuatan visum et repertumnya Kendala belum berkembangnya Ilmu Kedokteran Forensik Klinik di Indonesia Didirikannya Pusat Krisis terpadu bagi perempuan dan anak-anak Menerima dan menatalaksana kekerasan terhadap perempuan, kekerasan fisik maupun seksual, secara terpadu sehingga diharapkan dapat memperkecil trauma psikologis akibat viktimisasi lanjutan pada korban.

Pengobatan psikoterapi. Para terapis yang sangat berkonsentrasi pada masalah PTSD percaya bahwa ada tiga tipe psikoterapi yang dapat digunakan dan efektif untuk penanganan PTSD, yaitu: anxiety management, cognitive therapy, exposure therapy .
1. Pada anxiety management:

a) relaxation training, yaitu belajar mengontrol ketakutan dan kecemasan secara sistematis dan merelaksasikan kelompok otot-otot utama, b) breathing retraining, yaitu belajar bernafas dengan perut secara perlahan-lahan, santai dan menghindari bernafas dengan tergesa-gesa yang menimbulkan perasaan tidak nyaman, bahkan reaksi fisik yang tidak baik seperti jantung berdebar dan sakit kepala,

25

c) positive thinking dan self-talk, yaitu belajar untuk menghilangkan pikiran negatif dan mengganti dengan pikiran positif ketika menghadapi halhal yang membuat stress (stresor), d) asser-tiveness training, yaitu belajar bagaimana mengekspresikan harapan, opini dan emosi tanpa menyalahkan atau menyakiti orang lain, e) thought stopping, yaitu belajar bagaimana mengalihkan pikiran ketika kita sedang memikirkan hal-hal yang membuat kita stress (Anonim, 2005b).
2. Dalam cognitive therapy, terapis membantu untuk merubah kepercayaan yang

tidak rasional yang mengganggu emosi dan mengganggu kegiatan -kegiatan kita. Misalnya seorang korban kekerasan mungkin menyalahkan diri sendiri karena tidak hati-hati. Tujuan kognitif terapi adalah mengidentifikasi pikiranpikiran yang tidak rasional, mengumpulkan bukti bahwa pikiran tersebut tidak rasional untuk melawan pikiran tersebut yang kemudian mengadopsi pikiran yang lebih realistik untuk membantu mencapai emosi yang lebih seimbang (Anonim, 2005b).
3. Sementara itu, dalam exposure therapy para terapis membantu menghadapi

situasi yang khusus, orang lain, obyek, memori atau emosi yang meng -ingatkan pada trauma dan menimbulkan ketakutan yang tidak realistik dalam kehidupannya. Terapi dapat berjalan dengan cara: exposure in the imagination, yaitu bertanya pada penderita untuk mengulang cerita secara detail sampai tidak mengalami hambatan menceritakan; atau exposure in reality, yaitu membantu menghadapi situasi yang sekarang aman tetapi ingin dihindari karena menyebabkan ketakutan yang sangat kuat (misal: kembali ke rumah setelah terjadi perampokan di rumah). Ketakutan bertambah kuat jika kita berusaha mengingat situasi tersebut dibanding berusaha melupakannya. Pengulangan situasi disertai penyadaran yang berulang akan membantu menyadari situasi lampau yang menakutkan tidak lagi berbahaya dan dapat diatasi (Anonim, 2005b).
4. Di samping itu, didapatkan pula terapi bermain ( play therapy) mungkin

berguna pada penyembuhan anak dengan PTSD. Terapi bermain dipakai untuk
26

menerapi anak dengan PTSD. Terapis memakai permainan untuk memulai topik yang tidak dapat dimulai secara langsung. Hal ini dapat membantu anak lebih merasa nya -man dalam berproses dengan pengalaman traumatiknya (Anonim, 2005b).
5. Terapi debriefing juga dapat digunakan untuk mengobati traumatik. Meskipun

ada banyak kontroversi tentang debriefing baik dalam literatur PTSD umum dan di dalam debriefing yang dipimpin oleh bidan. Cochrane didalam systematic reviews-nya merekomendasikan perlu untuk melakukan debriefing pada kasus korban-korban trauma (Rose et al, 2002). Mengenai debriefing oleh bidan, Small gagal menunjukkan secara jelas manfaatnya (Small et al., 2000). Meski begitu, Boyce dan Condon merekomen-dasikan bidan untuk melakukan debriefing pada semua wanita yang berpotensi mengalami kejadian traumatik ketika melahirkan (Boyce & Condon, 2000).
6. Selain itu, didapatkan pula support group therapy dan terapi bicara. Dalam

support group therapy seluruh peserta merupakan penderita PTSD yang mempunyai pengalaman serupa (misalnya korban bencana tsunami, korban gempa bumi) dimana dalam proses terapi mereka saling menceritakan tentang pengalaman traumatis mereka, kemdian mereka saling member penguatan satu sama lain (Swalm, 2005).
7. Sementara itu dalam terapi bicara memperlihatkan bahwa dalam sejumlah studi

penelitian dapat membukti kan bahwa terapi saling berbagi cerita mengenai trauma, mampu memperbaiki kondisi jiwa penderita. Dengan berbagi, bisa memperingan beban pikiran dan kejiwaan yang dipendam. Bertukar cerita membuat merasa senasib, bahkan merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Kondisi ini memicu seseorang untuk bangkit dari trauma yang diderita dan melawan kecemasan (Anonim, 2005b). Pendidikan dan supportive konseling juga merupakan upaya lain untuk mengobati PTSD. Konselor ahli mempertimbangkan pentingnya penderita PTSD (dan keluarganya) untuk mempelajari gejala PTSD dan bermacam treatment (terapi dan pengobatan) yan g cocok untuk PTSD. Walaupun seseorang mem-punyai gejala PTSD dalam
27

waktu lama, langkah pertama yang pada akhirnya dapat ditempuh adalah mengenali gejala dan permasalahannya sehingga dia mengerti apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya (Anonim,2005b).

BAB III PENUTUP


III.1.Kesimpulan Forensik Klinik adalah bagian dari ilmu kedokteran forensik yang mencakup pemeriksaan forensik terhadap korban hidup dan investigasinya, kemudian aspek medikolegal, juga psikopatologinya, dengan kata lain forensik klinik merupakan area praktek medis yang mengintegrasikan antara peranan medis dan hukum terutama dalam kasus-kasus berkaitan kekerasan susila. Namun, Untuk menyelesaikan permasalahan kasus kekerasan seksual pada anak, tidak hanya membutuhkan intervensi medis semata-mata tapi, menuntut diambilnya langkah penanganan yang holistik dan komprehensif termasuk dukungan psikososial yang secara otomatis membutuhkan dukungan optimal dari keluarga dan masyarakat. Tugas dokter tidak hanya menjalankan fungsi maksimal dalam bidang kesehatan, namun dokter tersebut dituntut
28

untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan kedokteran seoptimal mungkin dan mematuhi tuntutan undang-undang terhadapnya terutama dalam kasus-kasus yang melibatkan proses hukum. Peranan seorang dokter dalam pengumpulan bukti salama pemeriksaan medis forensik memiliki hubungan langsung dengan keberhasilan penuntutan kasus. Selain itu, seorang dokter dituntut untuk dapat menentukan adanya tanda-tanda persetubuhan, adanya tanda-tanda kekerasan, serta memperkirakan umur anak berdasarkan keilmuan yang dimilikinya. III.2.Saran 1. Bagi instansi kesehatan, khususnya rumah sakit agar lebih meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana pemeriksaan penunjang, khususnya bagi korban kekerasan seksual pada anak, sehingga diharapkan dapat semakin membantu lancarnya proses peradilan. 2. Bagi orang tua agar memberikan pendidikan seksual atau pendidikan kesehatan reproduksi bagi anak-anak sedini mungkin 3. Pada kasus kekerasan seksual pada anak,tidak hanya difokuskan pada perawatan medisnya saja tetapi yang tak kalah penting adalah terapi psikis pada anak,

29

DAFTAR PUSTAKA
1. Behrman, Kliegman & Arvin, Nelson. Ilmu Kesehatan Anak. EGC: Jakarta.2012

2.

Reneta Kristiani, Doni, Mira Nurcahyo budi W. Kekerasan Seksual Pada Anak. (diakses tanggal 06 Juni 2012 dari http://www.pulih.or.id/res/publikasi/news_letter%2015.pdf ).2010

3.

Sudaryono. Kekerasan Pada Anak : Bentuk, Penanggulangan, dan Perlindungan Pada Anak Korban Kekerasan. (diakses tanggal 06 Juni 2012 dari http://www.scribd.com/doc/83672075/6-sudaryono).2007

4.

Departemen Kesehatan. Melindungi Kesehatan Anak Korban Kekerasan. (diakses tanggal 06 Juni 2012 dari http://www.smallcrab.com/anak-anak/1050-melindungikesehatan-anak-korban-kekerasan).2010

5. Centers for Disease Control and Prevention, Child Maltreatment Surveillance:

Uniform Definitions for Public Health and Recommended Data Elements di akses tanggal 06 Juni 2012 dari http://www.cdc.gov/violenceprevention/pdf/CM_Surveillance-a.pdf.2010
30

6. Ferry ndoen. Pemerkosaan Anak di Kupang Sangat tinggi. (diakses tanggal 06 Juni

2012 dari http://www.tribunnews.com/2012/03/02/pemerkosaan-anak-di-kupangsangat-tinggi).2012


7. Sutrisno,ED KPAI Banyak Temukan Kekerasan Seksual Pada Anak di Tahun 2010

(diakses

tanggal

06

Juni

2012

dari

http://news.detik.com/read/2010/12/22/191329/1531095/10/kpai-banyak-temukankekerasan-seksual-pada-anak-di-tahun-2010?nd992203605).2010
8. Mira, Doni. Kekerasan Seksual Pada Anak. Newsletter PULIH Volume 15 p1-

8.2010
9. Departemen Kesehatan RI, Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak

Bago

Petugas

Kesehatan,

diakses

tanggal

06

Juni

2012

dari

http://www.gizikia.depkes.go.id/wpcontent/uploads/downloads/2011/01/PEDOMAN-RUJUKAN-KASUSKtA-BAGI-PETUGAS-KESEHATAN.pdf. 2011
10. Hobbs CJ, Hanks HGI, Wynne JM: Violence and criminality. Dalam: Child Abuse

and Neglect A Clinicians Handbook. 2nd Edition. Churchill Livingstone, London. 1999.
11. Bittner S, Newberger EH: Pediatric understanding of child abuse and neglect.

Pediatric Rev 2:198, 1998. 12. Philip SL. Clinical Forensic Medicine: Much Scope for Development in Hong Kong. Hongkong: Departement of Pathology Faculty of Medicine University of Hongkong. 2007
13. Meadow R: ABC of child abuse. Edition. BMJ, 1993. 14. Sugiarto I. Aspek Klinis Kekerasan Pada Anak dan Pencegahannya. Diakses

tanggal

06

Juni

2012

dari

:http://www.lcki.org/images/seminar

/anak/tatalaksana.pdf. [Update : Juli 2007]


15. Idries, AM. 1997. Kekerasan Seksual. Dalam: Idries, AM, Pedoman Ilmu

Kedokteran Forensik. Jakarta: Bina Rupa Aksara. p 216-27


16. Narendra et al, 2002. Tumbuh Kembang Anak dan Remaja. Jakarta : Ikatan Dokter

Anak Indonesia.
31

17. Stang, J., Story, M., 2005. Pubertal Growth and Development. Available from:

http://www.epi.umn.edu/let/pubs/img/adol_ch1.pdf. (Accesed: 2012, March 3).


18. Anonim,

Disaster

Rescue

and

Response

Workers,

http://www.

ncptsd.va.gov/facts/disasters/fs_rescue_workers. html, diakses 04 Mei 2005a. 19. Anonim, Expert Consensus Treatment Guidelines for Post Traumatic Stress Disorder: A Guide for Patients and Families, http://www. psychguides. com, diakses 04 Mei 2005b
20. Kaplan,H.I., B. J. Sadock, J.A. Grebb, Sinopsis Psikiatri:Ilmu Pengetahuan

Perilaku Psikiatri Klinis, 2 (Jakarta: Binarupa Aksara,1997).


21. Rose, S, J. Bisson & S. Wessely, Psychological Debriefing for Preventing Post

Traumatic Stress Disorder (PTSD): Review, dalam Cochrane Database of Systematic Reviews, Issue 2, Art No.CD000560, 2002.
22. Small, R., J. Lumley, L. Donohue, A. Potter & U. Waldenstrom, Randomized

Controlled Trial of Midwife Led Debriefing to Reduce Maternal Depression after Operative Childbirth,British Medical Journal, 321, 2000: 1043-1047.
23. Boyce, P., & J. Condon, Traumatic Childbirth and the Role of Debriefing, B

Raphael &J.P.Wilson (ed.), Psychological Debriefing: Theory, Practice and Evidence (New York:Cambridge University Press, 2000).
24. Swalm, D., Tabs-Childbirth and Emotional Trauma: Why its Important to Talk T

alk Talk,Associate Head of Dept of Psychological Medicine for Women, King


25. Edward Memorial Hospital, Subiaco 6008, Western Australia, www.trauma-

center.org, diakses 04 Mei 2

32