Anda di halaman 1dari 15

PUASA : DARI SYARIAT MENUJU HAKIKAT Oleh : Mukhlisin Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa,

, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, supaya kamu bertaqwa (Al-Baqarah 2:183) Dari berbagai ibadah dalam Islam, puasa di bulan Ramadlan barangkali merupakan ibadah wajib yang paling mendalam bekasnya pada jiwa seorang Muslim. Pengalaman selama sebulan dengan berbagai kegiatan yang menyertainya seperti berbuka, tarawih dan makan sahur, senantiasa membentuk unsur kenangan yang mendalam dalam jiwa pelakunya. Maka ibadah puasa merupakan bagian dari pembentuk jiwa keagamaan seorang Muslim dan menjadi sarana pendidiknya. Semua bangsa muslim menampilkan corak keruhanian yang sama selama berlangsungnya puasa, dengan beberapa variasi tertentu dari satu ke lainnya. Karenanya, persiapan yang baik sebelum memasuki bulan ramadhan akan sangat menentukan apakah keistimewaan bulan ramadhan bisa kita isi dengan sesuatu yang maksimal ataukah hanyalah kemeriahan yang bersifat sememonial yang akan kita dapatkan. Dalam suatu hadits riwayat Imam Ahmad dikabarkan bahwa Rasulullah saw menaiki mimbar (untuk berkutbah). Menginjak anak tangga pertama beliau mengucapkan Amin, begitu pula pada anak tangga kedua dan ketiga. Seusai shalat para sahabat bertanya, mengapa Rasulullah mengucapkan Amin? Beliau menjawab, malaikat Jibril datang dan berkata, kecewa dan merugi seseorang yang namamu disebut dan dia tidak mengucap shalawat atasmu lalu berkata Amin. Kemudian Jibril berkata lagi, kecewa dan merugi orang yang berkesempatan hidup bersama kedua orang tuanya tetapi dia tidak bisa masuk surga. Lalu aku mengucapkan Amin. Kemudian Jibril berkata lagi, kecewa dan merugi orang yang berkesempatan hidup pada bulan ramadhan tetapi tidak terampuni dosa-dosanya. Lalu aku mengucapkan Amin. Makna Puasa Kata puasa, secara bahasa berasal dari kata shooma-yashuumu-shouman yang artinya imsak (menahan). Pengertian kebahasaan ini dipersempit maknanya oleh hukum syariat dengan menahan diri dari makan, minum, dan melakukan hubungan seksual dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Dalam Al-Quran, kata puasa dalam berbagai derivasinya disebut sebanyak 13 kali, 12 kali memakai kata shiyam yang kesemuanya dalam arti puasa menurut pengertian hukum syariat, dan satu kali menggunakan kata shaum yang maknanya menahan diri untuk tidak berbicara ( tentang kisah

seorang perempuan suci yang melahirkan Nabi Isa a.s., yaitu Maryam Maka makan, minum, dan tenangkan hatimu. Jika kamu berjumpa dengan manusia katakan saja, Aku sudah berjanji kepada Tuhan Yang Maha Pengasih untuk melakukan shaum. Aku tidak akan berbicara kepada seorang pun pada hari ini. (Surat Maryam 19:26). Kisah di atas, menurut Sayyid Haydar Amuli, merupakan acuan puasa tarekat atau hakikat. Baginya, kita bergerak lebih jauh lagi dalam puasa kita. Kita berusaha mengendalikan diri kita lahir dan batin. Puasa mencakup pengendalian diri atas seluruh anggota badan, pikiran, imajinasi dan hati kita dari melakukan segala macam dosa. Karena itulah, para sufi mempersamakan puasa dengan sikap sabar, baik secara bahasa maupun hakikatnya (Surat AzZumar 39:10) Puasa Umat Terdahulu Puasa merupakan salah satu bentuk ibadah yang paling mula-mula serta paling luas tersebar di kalangan umat manusia. Puasa telah dilakukan oleh umat-umat terdahulu, Kama kutiba `alal ladzina min qablikum (sebagaimana diwajibkan atas umat-umat yang sebelum kamu). Dari segi ajaran agama, para ulama menyatakan bahwa semua agama samawi, sama dalam prinsip-prinsip pokok akidah, syariat, serta akhlaknya. Ini berarti bahwa semua agama samawi mengajarkan keesaan Allah, kenabian, dan keniscayaan hari kemudian. Shalat, puasa, zakat, dan berkunjung ke tempat tertentu sebagai pendekatan (taqarrub) kepada Allah adalah prinsip-prinsip syariat yang dikenal dalam agama-agama samawi. Tentu saja cara dan kaifiyahnya dapat berbeda, namun esensi dan tujuannya sama. Kita dapat mempertanyakan mengapa puasa menjadi kewajiban bagi umat Islam dan umat-umat terdahulu? Manusia memiliki kebebasan bertindak memilih dan memilah aktivitasnya, termasuk dalam hal ini, makan, minum, dan berhubungan seks. Binatang, khususnya binatang-binatang tertentu-tidak demikian, mereka hanya mempunyai amrun takwini (perintah penciptaan). Nalurinya telah mengatur ketiga kebutuhan pokok itu, sehingga -misalnya- ada waktu atau musim berhubungan seks bagi mereka. Itulah hikmah Ilahi demi memelihara kelangsungan hidup binatang yang bersangkutan, dan atau menghindarkannnya dari kebinasaan. Manusia sekali lagi tidak demikian. Selain memiliki amrun takwini, manusia juga mempunyai amrun tasyri`i (perintah pembebanan), di mana mereka mempunyai pilihan untuk melaksanakan dan tidak. Kebebasan memilih yang dimilikinya bila tidak terkendalikan dapat menghambat pelaksanaan fungsi dan peranan yang harus diembannya. Kenyataan menunjukkan bahwa orang-orang yang memenuhi syahwat perutnya melebihi kadar yang diperlukan, bukan saja menjadikannya tidak lagi menikmati 2

makanan atau minuman itu, tetapi juga menyita aktivitas lainnya kalau enggan berkata menjadikannya lesu sepanjang hari dan pasti akan mengganggu kesehatannya. Begitu juga minum dan syahwat seksual. Potensi dan daya manusia- betapa pun besarnya- memiliki keterbatasan, sehingga apabila aktivitasnya telah digunakan secara berlebihan ke arah tertentu, maka arah yang lain akan terabaikan. Nah, di sinilah perlunya pengendalian. Dan di sinilah pentingnya puasa. Bukankah esensi puasa adalah menahan atau mengendalikan diri. Pengendalian ini diperlukan oleh manusia, baik secara individu maupun kelompok. Puasa dengan demikian dibutuhkan oleh semua manusia, kaya atau miskin, pandai atau bodoh, di manapun mereka berada, untuk kepentingan pribadi dan masyarakat. Tidak mengherankan kemudian kenapa puasa telah dikenal oleh umat-umat sebelum Islam, sebagaimana diinformasikan oleh AlQuran. Puasa dan Pengendalian Diri Jadi, puasa adalah sebuah metode kedisiplinan yang diperlukan manusia dalam kehidupannya sehari-hari, baik ketika mengurusi masalahmasalah kecil di rumah tangganya, maupun masalah-masalah besar dalam masyarakat, negara, dan dunianya. Puasa adalah sebuah metode tentang kebutuhan manusia untuk menahan, menyaring, menjernihkan, membeningkan dan mensublimasikan apa pun saja di dalam kehidupan. Puasa adalah sebuah metode dan disiplin agar kita melatih diri untuk melakukan apa yang pada dasarnya tidak kita senangi serta tidak melakukan apa yang pada dasarnya kita senangi. Cobalah kita pandangi diri kita di cermin dan tataplah segala sesuatu di rumah kita : betapa kebanyakan dari kenyataan hidup kita bersifat hari raya, yaitu memenuhi kesenangan. Adapun puasa melatih kita untuk bermental pejuang. Pada dasarnya, kita tidak senang lapar. Kita pada dasarnya secara alamiah menyenangi kenyang, makan, dan minum, tapi kita tidak diperkenankan menikmatinya dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Karena apa? Pertama, karena dalam hidup ini ada yang lebih sejati sebagai nilai dibanding senang dan tidak senang. Ialah baik dan harus atau wajib. Kita melakukan sesuatu tidak terutama karena kita senang, melainkan karena hal itu baik, sehingga wajib kita lalukan. Jadi, kematangan dan kedewasaan kepribadian dalam Islam adalah kesanggupan untuk menjalani hidup ini tidak terutama berdasarkan senang dan tidak senang, melainkan berdasarkan baik dan tidak baik, wajib atau tidak wajib. Puasa adalah latihan mendahulukan kehendak Allah dari pada kehendak diri atau nafsu. Kedua, karena kita adalah khalifatullah, karena kita adalah makhluk sosial, maka yang dibutuhkan oleh diri kita terutama adalah daya juang untuk 3

sesama manusia. Apakah kita senang membagi uang jerih payah kerja kita? Apakah kita senang menolong orang lain yang menderita dan memerlukan pengorbanan kita? Apakah kita senang membela orang-orang tertintas? Kalau kesimpulannya hanyalah menuruti kesenangan, maka kewajibankewajiban sosial semacam itu akan sangat sedikit yang bisa kita lakukan. Padahal, di mata Allah, sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak bermanfaat buat orang lain. Maka, itulah manfaat dan inti puasa. Melatih kita untuk menjadi manusia yang mampu menaklukan kesenangannya. Mampu lebih besar dan mengatasi kesenangannya. Mampu minum jamu pahit yang tidak enak. Mampu lapar dan haus. Mampu mengorbankan kesenangannya demi kewajiban dari Allah dan kebaikan bagi sesama manusia. Puasa adalah suatu model tarikat (cara hidup) yang menentukan selamat tidaknya manusia di dunia maupun di akhirat. Pandanglah di sekeliling kita, lihatlah orang yang berduyun-duyun di perkotaan, lihatlah bagaimana kemewahan-kemewahan diproduksi, lihatlah bagaimana orang berkuasa dan dengan segala cara mempertahankan kekuasannya. Bacalah koran, tontonlah televisi, saksikanlah peperangan, perebutan, penggusuran, pembongkaran dan penindasan, menggobrolah dengan tetangga kita, dengan sahabat-sahabat dan rekan kerja kita, berbincanglah tentang segala keadaan di muka bumi ini. Tidakkah kita menemukan pertanyaan yang sama : Kenapa manusia sangat tidak bisa menahan diri? Padahal bukankah Allah selalu sedemikian menahan diri? Dengan dosa-dosa kita yang sedemikian bertumpuk, baik dosa pribadi maupun dosa kolektif dan dosa sosial, baik dosa personal maupun dosa struktural, tidak pantaskah kalau sejak dulu-dulu Allah murka dan menghukum kita semua? Tapi bukankah Allah sangat menahan diri? Tetap memperkenankan kita berbadan sehat, bernafas, dan bergerak? Bukankah Dia sangat menahan diri, dengan tetap menerbitkan matahari, mengalirkan air dan menghembuskan angin seolah-olah tidak peduli betapa durhakanya kita, betapa munafik dan kufurnya kehidupan kita? Melihat pentingnya menahan diri inilah Sayyed Hosein Nasr mengatakan bahwa aspek paling penting dari puasa adalah ujung pedang pengendalian diri yang diarahkan kepada jiwa hewani dan nafs ammarah bis su`i, jiwa yang memang selalu mengajak kepada keburukan. Puasa dan Keserakahan Puasa dengan esensinya pengendalian diri, melatih kita untuk tidak menjadi pribadi yang serakah. Ia melatih ketahanan diri agar mampu memungut fasilitas alam seminimal mungkin untuk kebutuhan hidupnya. 4

Fasilitas alam yang langka tak seharusnya diperebutkan dengan mengorbankan pihak lain atau dihamburkan untuk memanjakan nafsu, namun harus dimanfaatkan seefisien mungkin demi kelestarian hidup bersama. Dalam penghayatan puasa selama satu bulan ini, terjadi proses transformasi kesadaran yang berwujud lenyapnya "iradah insaniah" menjadi "iradah rabbaniyah". Dari kehendak pribadi yang cenderung menguntungkan dan memenangkan diri sendiri menjadi sesuai dengan kehendak Tuhan. Bahkan, bermacam-macam kemampuan adikodrati pun bisa terungkap saat itu, namun hal itu bukan merupakan tujuan ibadah puasa. Dengan begitu, ibadah puasa merupakan partisipasi orang beriman terhadap kemanajeran Sang Pencipta di muka bumi. Fenomena yang tampak pada pribadi yang ikhlas berkorban (sha'imiin) adalah dimilikinya keteguhan hati di dalam menatap kenyataan dan pandangan yang positif terhadap kemungkinan. Demikianlah kondisi takwa yang dijanjikan pada para shaimiin orang-orang yang berpuasa. Mereka yang beriman dan ber-ihtisab selama sebulan ini akan seumpama kondisi seorang yang belum pernah berbuat dosa di masa lalu. Mereka yang beruntung mendapat kondisi tersebut dapat disaksikan dampak positifnya terhadap masyarakat. Kadar dirinya yang bersifat vestedinterest telah berubah menjadi kadar pribadi yang siap mengambil alih "kemanajeran" Allah di wilayah dan kesempatan yang dapat dijangkaunya. Pribadi yang demikian diibaratkan telah mendapat Lailatul Qadar di tengah masyarakat yang sedang menunggu hasil kreativitasnya. Dia telah sanggup menyongsong misi rahmatan lil-alamin yang diwariskan Rasulullah SAW kepada kaum Muslim. Demikianlah yang semestinya. Puasa dan Qudratullah Selian itu, ibadah puasa adalah metode yang diberikan oleh Allah untuk memperoleh energi ekstra dari Rabb al-`alamin (Tuhan Pemeilik senesta alam). Sejak zaman dahulu, agar seseorang memiliki daya linuwih (kelebihan), kuat, sakti ,dan bisa naik kelas dalam kehidupannya, maka puasalah yang dilakukan (bukan malah banyak makan). Puasa menciptakan situasi komunikatif dengan Allah, sehingga memungkinkan seseorang diberi limpahan qudrah-Nya (kekuatan Allah). Dengan ibadah puasa, kita berhenti melayani tuntutan-tuntutan jiwa dan raga selama waktu tertentu. Pada waktu itu, kita akan merasakan betapa lemahnya diri dan betapa tingginya nilai sumber daya alam (rahmat) bagi kehidupan manusia. Dan kemudian kita mengambil jarak dengan diri dan alam. Mengambil jarak dengan diri berarti menahan diri tidak menuruti kebutuhan-kebutuhan : menahan amarah, tidak berbohong, tidak tersinggung. Mengambil jarak dari alam berarti tidak memungut fasilitas alam untuk

menyuplai kebutuhan-kebutuhan biologis : tidak makan dan tidak minum saat itulah dia akan mengenal diri dan alam Transendensi yang terjadi pada saat seseorang sedang berjarak dengan diri dan alam, berpuasa, memungkinkan dia berada dalam situasi komunikatif dengan Tuhan. Dengan kata lain, dia telah memiliki kondisi yang layak untuk berdialog dengan Tuhan. Setiap insan memiliki kepentingan yang sangat besar untuk berdialog dengan Rabb (Sang Pengatur) yaitu Allah, supaya dia tahu kehendak Tuhan yang sebenarnya dengan menurunkan berbagai kenyataan seperti baik-buruk, salah-benar, suka-duka, dan sebagainya. Dengan demikian, perjalanan hidupnya tidak akan diwarnai dengan ketegangan, kesedihan, dan keputusasaan yang tak pernah purna. Tokoh Nabi Musa a.s. yang hidup di perantauan di bawah kekuasaan Firaun yang perkasa dan zalim merupakan lambang penderitaan seorang musafir di bumi Tuhan. Ketika pengembaraannya sampai di Bukit Sinai beliau diperintah Tuhan untuk menanggalkan kedua terompahnya, supaya dia bisa diajak berdialog demi mencairkan stagnasi. Sungguh, Aku adalah Tuhanmu, maka lepaskan kedua terompahmu. Karena sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, Tuwa. (QS. Th H [20]: 12) Dua terompah kanan dan kiri merupakan simbol dari dua pijakan manusia di atas semesta eksistensial, yaitu jiwa (baca : diri) dan raga. Allah tidak berkenan berkomunikasi dengan hamba-Nya selama baju eksistensinya belum dilepaskan. Demikian pula halnya dengan kaum muslimin pada bulan Ramadhan ; saat puasa mereka menanggalkan kedua terompahnya (pengaruh jiwa dan raga) sebagai momen penciptaan situasi komunikatif dengan Rabb Allamn Puasa dan Deformasi Selain itu puasa juga berfungsi sebagai proses menjungkirbalikkan semua sistem lama yang ada di dalam tubuh yang sudah tidak memadai dan seimbang. Sebelas bulan kita aktual dalam kehidupan dan aktivitas, boleh jadi cara kita dalam menangani pengelolaan terhadap semesta alam ini sudah usang dan lapuk. Cara lama sudah tidak memadai, sehingga harus diganti dengan cara baru. Untuk itu, kita perlu melakukan deformasi, yaitu upaya menjungkir balikkan semua sistem yang ada dalam tubuh. Karena tubuh merupakan potensi diri yang digunakan untuk berinteraksi dengan semesta, maka perlu dijungkirbalikkan sistem metabolismenya, bahkan sistem psikologisnya. Puasa menjungkirbalikkan semua keadaan. Kebiasaan makan tiga kali sehari diubah menjadi dua kali. Saat-saat seseorang ingin makan justru dicegah untuk makan. Saat-saat seseorang tidak berselera makan justru disuruh untuk makan (sahur).

Menahan nafsu, menahan amarah, dan sebagainya. Di sinilah terjadi penjungkirbalikkan sistem, baik secara fisik, psikis maupun ruhani. Secara fisik, tubuh yang biasa disuplai kalori dari luar tiba-tiba tidak disuplai. Energi keluar terus, tetapi kalori tidak masuk. Sebagai gantinya, selsel yang ada dalam daging, sel-sel yang ada dalam tulang, bahkan sel-sel yang ada dalam otak terpaksa dibakar untuk menjamin pasokan energi selama melakukan aktivitas siang hari pada bulan ramadhan. Sel-sel dalam tubuh berguguran dimakan sendiri oleh tubuh sehingga badan menjadi kurus. Sel-sel lama yang memiliki rekaman dosa dan masa lalu yang menyedihkan serta trauma diganti dengan sel-sel baru. Setiap perbuatan manusia direkam oleh selsel, sehingga sel-sel itu memiliki tabiat seperti perilaku pemiliknya. Pada hari raya Idul Fitri, semua sel lama (seharusnya dan idealnya) yang penuh rekaman dosa telah berganti dengan sel-sel baru. Sel-sel baru yang masih bersifat nature (alami), harmoni dan seimbang serta suci inilah yang akan kita gunakan untuk operasional : mengubah spirit, belief sistem, cara kita memandang sesuatu (persepsi), perilaku kita, dan lingkungan kita. Puasa : Taqwa Vertikal dan Horisontal Salah satu hakikat ibadah puasa ialah sifatnya yang bersifat pribadi atau personal, bahkan merupakan rahasia antara seorang manusia dengan Tuhannya. Dari segi kerahasiaan itu merupakan letak seorang manusia dengan Tuhannya. Dari segi kerahasiaan itu merupakan letak dan sumber hikmahnya, yang kerahasiaan itu sendiri terkait erat dengan makna keikhlasan dan ketulusan. Antara puasa yang sejati dan puasa yang palsu hanyalah dibedakan oleh, misalnya, seteguk air yang dicuri minum oleh seseorang ketika ia sedang sendirian. Puasa benar-benar merupakan latihan dan ujian kesadaran akan adanya Tuhan yang Maha Hadir (Ompnipresence), dan yang tidak pernah lengah sedikit pun dalam pengawasan-Nya terhadap segala tingkah laku hamba-hamba-Nya. Puasa adalah penghayatan nyata akan makna firman bahwa Dia (Allah) itu bersama kamu di mana pun kamu berada, dan Allah itu Maha Mengetahui akan segala sesuatu yang kamu kerjakan (Surat Al-Hadid 57:4). Kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah (Surat AlBaqarah 2:115). Sungguh Kami telah menciptakan manusia, dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya. Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya sendiri (Surat Qaf 50:16). Jadi inti pendidikan Ilahi melalui ibadah puasa ialah penanaman dan pengukuhan kesadaran yang sedalam-dalamnya akan ke- Maha-Hadir-an Allah atau muraqabah. Adalah kesadaran ini yang melandasi ketaqwaan atau merupakan hakikat ketaqwaan itu, dan yang membimbing seseorang ke arah tingkah laku yang baik dan terpuji. 7

Sebegitu jauh kita telah mencoba melihat hikmah ibadah puasa sebagai sarana pendidikan Ilahi untuk menanamkan ketaqwaan vertikal, kesadaran akan Allah setiap saat. Tetapi ketaqwaan vertikal yang bersifat individual ini mestilah melahirkan adanya aspek sosial dalam perwujudan pada kehidupan nyata di dunia ini. Dan sesungguhnya ketaqwaan sosial atau horisontal adalah sisi lain dari mata uang logam yang sama, yang sisi pertamanya ialah ketaqwaan vertikal dan pribadi. Ini berarti bahwa dalam kenyataanya kedua jenis ketaqwaan itu tidak bisa dipisahkan, sehingga tiadanya salah satu dari keduanya akan mengakibatkan peniadaan yang lain. Oleh karena itu para ulama senantiasa menekankan bahwa salah satu hikmah puasa ialah penanaman rasa solidaritas sosial. Dengan mudah hal itu dibuktikan dalam kenyataan bahwa ibadah puasa selalu disertai dengan anjuran untuk berbuat baik sebanyak-banyaknya, terutama dalam bentuk tindakan menolong meringankan beban kaum fakir miskin, yaitu lewat zakat, sedekah, infaq dan ibadah-ibadah sosial lainnya. Dari sudut pandang itulah kita harus melihat kewajiban membayar zakat fitrah pada bulan Ramadlan, terutama menjelang akhir bulan suci itu. Seperti diketahui, fitrah merupakan konsep kesucian asal pribadi manusia, yang memandang bahwa setiap individu dilahirkan dalam keadaan suci bersih. Karena itu zakat fitrah merupakan kewajiban pribadi berdasarkan kesucian asalnya, namun memiliki konsekwensi sosial yang sangat langsung dan jelas. Puasa Hakikat Awal abad ke-20, IQ (intelligence Quotient) menjadi isu besar. IQ merupakan ukuran kemampuan seseorang dalam mengingat serta memecahkan persoalan dengan menggunakan pertimbangan akal, logis dan strategis. Pertengahan 90-an, Daniel Goleman mempopulerkan temuan para neurosaintis dan psikolog tentang Emotional Intelligence (EQ). EQ membuat kita mengerti perasaan orang lain (other peoples feeling), memberikan rasa empati, haru, motivasi, dan kemampuan untuk bisa merespon secara tepat terhadap kebahagiaan dan kesedihan. Awal februari 2000, terbit sebuah karya Danah Zohar dan Ian Marshall, SQ : Spiritual Intelligence, The Ultimate Intelligence, yang mempromosikan Spiritual Quotient, kemampuan untuk meraih nilai-nilai, pengalaman, dan kenikmatan spiritual dalam kehidupan. Filosof Islam abad ke 10, Ibnu Sina, mengatakan kita akan mendapatkan surga yang dijanjikan oleh Allah kalau kita mampu mengfungsionalkan delapan potensi yang ada pada diri kita. Delapan potensi ini juga merupakan tingkatan surga yang akan kita raih, yaitu lima panca indera, akal atau intelektual, emosi, dan terakhir hati atau potensi spiritual. Jadi, kalau kita tarik ke ibadah puasa, secara hakikat kita tidak hanya mencegah panca indera kita

dari hal-hal yang dilarang Allah, tetapi juga harus menahan fikiran, emosi dan hati kita dari hal-hal yang melalaikan Allah Al-Ghazali dalam Inner Dimensions of Islamic Worship, mengatakan agar manusia bisa melakukan puasa secara sesungguhnya, hendaknya melakukan lima hal yaitu: 1. Puasa Melihat. Yaitu menahan diri untuk tidak melihat sesuatu yang dibenci, yang dicela, dan segala hal yang dapat membimbangkan dan melalaikan hati dari mengingat Allah. Allah memerintahkan agar orang beriman menundukkan pandangannya dan menjaga kehormatannya (Surat An-Nur 24 :30). Nabi bersabda: Pandangan adalah salah satu dari panah-panah beracun milik setan, yang telah dikutuk oleh Allah. Barang siapa menjaga pandangannya, semata-mata karena Allah, niscaya Allah akan memberinya merasakan lezatnya keimanan dalam hatinya. Terlalu banyak melihat akan menimbulkan keinginankeinginan yang tidak terpuaskan. Para psikolog mengukur kekecewaan dengan membandingkan want dengan get. Jika yang Anda inginkan lebih banyak dari yang Anda peroleh, Anda akan mengalami kekecewaan. Makin tinggi keinginan Anda, makin besar kemungkinan Anda kecewa. Dan sumber keinginan banyak berasal dari apa yang Anda lihat. 2. Puasa bicara. Yaitu dengan menahan lisan kita dari perkatan yang siasia, berdusta, mengumpat, menyebarkan fitnah, ghibah atau gosip, tidak berbicara tentang sesuatu yang tidak kita pahami dan segala perkataan yang bisa membuat sesama kita menjadi bingung, resah, gelisah dan sakit hati. Padahal Nabi telah bersabda Orang Islam adalah orang yang orang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan sabda Nabi, Ada lima hal yang dapat membatalkan puasa seseorang : berdusta, mengumpat, menyebar isu (fitnah), bersumpah palsu, dan memandang dengan penuh nafsu. Pepatah Arab mengatakan sebaikbaik pembicaraan adalah yang singkat dan tapi memberikan petunjuk. Dr. Falih bin Muhammad berkata : timbanglah perkataanmu sebelum bicara, jangan menjadi orang yang banyak bicara. Sebab dengan diam boleh jadi engkau hanya menyesal sekali, tetapi dengan banyak bicara boleh jadi engkau menyesal berkali-kali. Dengan puasa bicara, Allah akan memperdengarkan kepada manusia dengan sangat jernih suara hati nurani mereka. Lewat hati, yang merupakan taman dan rumah Allah dalam diri manusia, Allah menyampaikan hidayah-Nya. Dan karena terlalu banyak bicara, kita tidak lagi sanggup mendengar suara Tuhan dalam hati nurani kita. Kita menjadi tuli, karena terlalu bising.

3. Puasa mendengar. Puasa ini bukan hanya dengan menghindari mendengarkan fitnah, gosip, isu, gunjingan, dan kata-kata kotor, tetapi juga dengan cara menyeleksi secara sadar apa yang kita dengar. Kita hanya mendengar apa yang kita pandang bermanfaat. Jika yang bermanfaat itu banyak, kita hanya mendengarkan yang paling bermanfaat saja. Terlalu banyak yang kita dengar akan mengakibatkan overload pada channel otak kita. Bila otak kita harus mengolah informasi yang berlebihan, kita akan mengalami gangguan mental. Kita akan menderita kelelahan, fisik dan mental. Kita tidak sanggup memberi makna pada berbagai peristiwa. Kita tersiksa. Karena tekanan untuk memberi makna, kita menjadi mudah tersinggung, pemarah dan agresif. Jadi, jika kita ingin lebih tentram dan lebih merasakan kesejukan batin, mulailah puasa mendengarkan. Dengarlah saja firman-firman Allah, sabda-sabda Nabi, dan nasehatnasehat orang saleh. Ikuti hanya pembicaraan yang baik saja. Gembirakan hamba-hamba-KU, yang mendengarkan pembicaraan yang baik dan hanya mengikuti yang paling baiknya saja. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk Allah dan mereka itulah orang-orang bijak. (Surat Az-Zumar 39:17-18). 4. Menghindari makan berlebihan. Tidak ada kantung yang lebih tidak disukai Allah selain perut yang penuh (berlebihan) dengan makanan. Dapatkah puasa bermanfaat sebagai cara mengalahkan musuh Allah dan mengendalikan hawa nafsu, bila kita berbuka puasa dengan menyesaki perut dengan apa yang biasa kita makan siang hari? Terlebih lagi, biasanya di bulan puasa masih disediakan makanan tambahan, yang justru di hari-hari biasa tidak tersedia. Katahuilah barang siapa meletakkan kantung makanan di antara hati dan dadanya, tentu akan buta terhadap karunia Allah. Sedang bagi yang perutnya kosong pun, belum tentu terangkat hijab (tabir) yang terbentang antara dirinya dengan Allah, kecuali telah mampu mengosongkan pikiran dan hatinya dengan mengingat Allah semata. 5. Menuju kepada Allah dengan rasa takut (khauf) dan pengharapan (raja`). Setelah berbuka puasa, hendaknya hati kita dalam kondisi khauf dan raja sekaligus. Kita khauf, karena kita tidak mengetahui apakah upaya kita selama berpuasa diterima oleh Allah atau hanya sekadar rasa dahaga dan lapar, sehingga kita akan terus berusaha memperbaikinya . Dan kita raja karena hanya kepada Dia kita berharap apa yang telah kita jalani pada siang hari akan mendapatkan balasan pahala di sisi Allah.

10

Selain lima hal di atas, Quraisy Shihab dalam buku Wawasan Al-Quran, mengatakan bahwa puasa juga merupakan sarana manusia untuk meneladani sifat-sifat Allah, nama-nama Allah yang baik (Al-Asmaul al-husna), sesuai dengan kedudukan manusia sebagai hamba-Nya. Nabi bersabda: Takhallaquu bi akhaqillah, berakhlaklah dengan sifat-sifat dan akhlak Allah. Upaya peneladanan ini dapat mengantarkan manusia menghadirkan Tuhan dalam kesadarannya. Karena itu, nilai puasa yang sesungguhmya ditentukan oleh kadar pencapaian kesadaran tersebut, bukan pada sisi lapar dan dahaga, sehingga dari sini dapat dimengerti mengapa Nabi bersabda: Banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak memperoleh dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga. Dengan berbagai persyaratan yang harus kita lakukakan dalam puasa kita, seperti tercantum di atas, maka tujuan puasa yang sesungguhnya akan tercapai. Yaitu menjadi muttaqiin, orang yang selalu menjaga dirinya dengan jalan selalu melaksanakan perintah Allah dan menghindari serta menjahui segala hal yang mengantarkannya pada kelalaian dan melanggar larangan-Nya dengan cara menyadari kehadiran Allah setiap saat di manan pun dia berada. Seorang muttaqiin juga adalah orang yang selalu melakukan transformasi sosial : mengubah yang buruk menjadi baik, yang bodoh menjadi pintar, yang lapar menjadi kenyang, yang salah menjadi benar, yang sakit menjadi sembuh, yang tersesat menjadi terarah, dan yang teraniaya menjadi merdeka. Dr. Falih bin Muhammad dalam bukunya : wafaqaatu ma`ash shaaimiin mengatakana : Bila engkau ingin tahu hakikat orang yang bertakwa. Maka dia adalah yang membuktikan ucapannya dengan tindakan. Bila seseorang bertakwa kepada Allah, maka akan taat kepada-Nya. Kedua tangannya selalu bergerak dalam kebaikan dan kemuliaan. Dan orang seperti inilah yang akan mendapatkan janji Allah dalam hadis qudsiNya, Allah berfirman, Semua amal putra putri Adam untuk dirinya, kecuali puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang memberi ganjaran atasnya. Marilah kita jadikan puasa sebagai madrasah ruhaniah. Memasuki madrasah ruhaniah berarti menjalani pelatihan untuk menggeser perhatian yang berlebihan pada ego kita. Marilah berhijrah dari rumah kita yang sempit ego menuju Allah dan Rasul-Nya, rumah semesta yang tidak terhingga. Marilah kita tinggalkan egoisme kita menuju sikap altruisme. Marilah kita jadikan puasa sebagai bentuk penghidmatan kita kepada Allah dengan jalan berkhidmad kepada semua makhluk-Nya. Wallahu a`lam bish shawab.

11

5 Wasilah Tazkiyah an-Nafs Dalam Ramadhan Puasa (Shiyam) Sesungguhnya puasa itu adalah benteng, maka apabila seseorang itu sedang berpuasa, janganlah berbicara kotor dan sia-sia, dan apabila ada yang menganggu dan memakinya, maka Katakanlah : aku sedang puasa. ( H.R. Bukhori Muslim) Shalat Tarawih Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., dia berkata : Rasulullah saw. bersabda : Barang siapa melakukan salam malam (tarawih) pada bulan ramadhan karena iman (kepada Allah) dan mengharapkan keridhaan Allah semata, maka diampunilah segala dosanya yang telah lalu. (H.R. Bukhori Muslim) Tadarus al-Qur`an Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy`ari ra., dia berkata : Rasulullah bersabda : Perumpamaan orang mukmin yang membaca al-Qur`an adalah seperti Perumpamaan buah utrujah, berbau harum dan rasanya enak. Perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca al-Qur`an adalah seperti buah kurma, tidak ada bauhnya tetapi rasanya manis. (H.R. Bukhori Muslim) Itikaf dan Mujahadah Diriwayatkan dari Aisyah ra., dia telah berkata : Rasulullah saw. biasanya beritikaf (di masjid) pada sepuluh hari yang terakhir dalam bulan ramadhan. (H.R. Bukhori Muslim). Diriwayatkan dari Aisyah ra., dia telah berkata : Rasulullah saw. bermujahadah pada sepuluh hari yang terakhir bulan ramadhan tidak seperti pada bulan-bulan yang lain. (H.R. Bukhori Muslim) Zakat Fitrah Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu akan menjadi ketentraman jiwa bagi

12

mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (AtTaubah 9 : 103) Cukupilah mereka (orang-orang fakir miskin) agar supaya tidak mengemis pada hari ini. (al-Hadits).

3 Proses Tazkiyah an-Nafs dalam Ramadhan Takhalli (10 hari pertama) Mengosongkan diri dari segala sifat, tabiat, karakter buruk yang ada dalam diri Tahalli (10 hari kedua) Membiasakan diri dengan segala sifat, tabiat, dan karakter baik Tajalli (10 hari Ketiga) Perwujudan dan penampakan sifat, tabiat, dan karakter baik sebagai akhlak dan prilaku yang menghiasi diri

7 Tahapan Riyadhah an- Nafs dalam Ramadhan 1. Muhaasabah (Evaluasi).


Terus menerus melakukan penilaian diri atas amal dan aktivitas ibadah dalam ramadhan, baik secara kuantitas maupun kualitas. Kita melakukan perhitungan baik dan buruk terhadap perbuatan yang sudah kita lakukan. Bila kita lebih banyak melakukan kebaikan kita bersyukur dan berusaha meningkatkannya, atau paling tidak mempertahankannya, dan kalau ternyata amal kejahatan dan kelalaian kita lebih banyak kita wajib taubat dan memperbaikinya. Umar bin Khattab mengatakan : Adakanlah perhitungan terhadap dirimu sendiri sebelum kamu nanti diadakan perhitungan di hadapan Tuhan. Ibn `Araby berkata : Buatlah perhitungan sebelum perhitungan di buat untukmu, timbanglah dosa-dosamu sebelum ia timbang untukmu. Allah berfirman : Bacalah bukumu. Cukuplah engkau sendiri pada hari ini menghitung amalmu (Al-Isra` 17: 14).

13

Bagi Ibn `Araby ada tiga bahaya yang mencegah dari muhasabah, instropeksi atas tindakan-tindakanmu dan bersyukur atas kedermawanan Tuhan. Ketiga bahaya dan kendala itu adalah : Ketaksadaran, kelalaian, ghaflah; luapan selera dan hasrat hawa nafsumu, jiwa rendahmu; dan kebiasaan buruk, atau semua kebiasaanmu yang membuatmu seperti sebuah mesin.

2. Mu`aqabah (sanksi terhadap pelanggaran)


Memberikan pembelajaran terhadap diri dengan memberi hukuman atas banyaknya amal yang terabaikan dan ditinggalkan. Bila kita melakukan kesalahan, kita harus mengecam diri kita, mempersoalkannya, dan kemudian menghukumnya. Kita menjadi hakim sekaligus terdakwa bagi diri kita sendiri. Proses mu`aqabah ini perlu dilakukan untuk melemahkan posisi hawa nafsu yang memang potensi dasarnya menyuruh kita untuk berbuat kesalahan. Tanpa mu`aqabah biasanya kita begitu mudah dan gampang untuk mengulangi kesalahan yang telah kita lakukan.

3. Muhasanah (memperbaiki dan mempercantik diri).


Hal ini bisa dilakukan dengan cara membiasakan dan menghiasi diri dengan perbuatan baik ( a`mal al-hasanat) agar proses muhasabah dan mu`aqabah-nya menjadi benar. Dalam tahap ini kita dituntut untuk memperbanyak amalan-amalan saleh sehingga suatu saat menjadi kebiasaan kita sehari-hari.

4. Mujahadah (optimalisasi).
Kita berjuang keras dengan segala yang kita miliki untuk terus menjaga dan meningkatkan kebaikan serta kedekatan kita kepada Allah. Kita harus memaksimalkan setiap potensi kita1 untuk menjaga kesadaran kita akan Dia, dan kalau bisa meningkatkannya. 5. Istiqamah (disiplin). Kita menjaga kesinambungan atau kontinuitas kebaikan kita agar selalu stabil, atau bahkan kalau bisa lebih baik. Rasulullah lebih menyukai amal yang istiqamah walaupun sedikit daripada yang amal yang banyak tetapi tidak istiqamah. Membaca Al-Qur`an 5 atau bahkan 1 ayat perhari
1 Filosof Islam abad ke 10, Ibnu Sina, mengatakan kita akan mendapatkan surga yang dijanjikan oleh Allah kalau kita mampu mengfungsionalkan delapan potensi yang ada pada diri kita. Delapan potensi ini juga merupakan tingkatan surga yang akan kita raih, yaitu lima panca indera, akal atau intelektual, emosi, dan terakhir hati atau potensi spiritual.

14

tetapi rutin akan lebih berdampak positif daripada kita membacanya mungkin satu surat tapi tidak rutin, seminggu sekali atau mungkin sebulan sekali. 6. Muraqabah (merasakan pengawasan Allah terus-terus setiap

waktu).
Meneguhkan kesadaran diri dan mengikatkan sepenuhnya kepada pengawasan Allah. 7. Mukasyafah atau Musyahadah (terbukanya tabir antara diri

dengan Allah).
Tersingkapnya tabir kelembutan Ilahi, yang terhidang dalam lail alQadar.

Dzikir dan Shalat Id


Idul Fitri adalah puncak ibadah dan kesempurnaan proses Riyadhah al Akbar saat Ramadhan. Deklarasi kefitrian, hanya layak didengungkan oleh mereka yang menjalani proses tahapan penempaan diri dengan baik dan benar (imanan wahtisaaban). Tetapi, adalah kelumrahan menjalani pesta kemenangan bersama siapa pun, dalam takbiran dan shalat id.

15