Anda di halaman 1dari 9

500 VIAL INJEKSI ASETAZOLAMID IV. PENGUJIAN MUTU SERTA METODE ANALISIS YANG DIGUNAKAN 4.1.

Struktur Molekul dan dasar analisis zat aktif Analisis asetazolamid dalam bahan baku dan sediaan dilakukan berdasarkan struktur molekul zat aktif tersebut yaitu:

Nama Kimia: 2-acetylamido-1,3,4-thiadiazole-5-sulfonamide. BM: 222.2 Rumus Kimia : C4H6N4O3S2 (British Pharmacopeia, 2009)

Dari struktur molekul di ats diketahui bahwa asetazolamid memiliki gugus fungsi:

Jenis Ikatan:

Identifikasi: - Uji Warna: Tes Koppanyi-Zwikker (Perubahan warna dari merah menjadi ungu) - Spektrofotometer UV: Serapan pada 265 nm - Spektrofotometri IR: puncak spektrum bilangan gelombang 1167, 1548, 1316, 1665, 671, 1115 cm1 (disk KBr) - HPLC: HPLC dapat digunakan untuk analisis kuantitatif maupun kualitatif. Parameter kuantitatif HPLC yaitu luas area sampel pada kromatogram yang dihasilkan. Sedangkan parameter kualitatif pada HPLC berdasarkan waktu retensi atau wktu tambat dari sampel yg dibandngkan dgn baku pembanding. Sistem HAk 0.1; sistem HXRI 268; sistem HYRI 226; sistem HZWaktu Retensi 1.9 min; sistem HAAWaktu retensi 6.9 min. (Clarkes, 2005; Florey, 1993)

4.2. Metode Analisis yang diusulkan untuk pengujian mutu bahan baku (zat aktif dan eksipien), IPC, dan obat jadi serta masalah yang mungkin terjadi dalam metode analisis 4.2.1 Bahan Baku (zat Aktif) 1. Identifikasi Metode utama: HPLC Alasan Pemilihan: metode HPLC merupakan metode yang selektif, dapat memisahkan senyawa-senyawa berdasarkan kepolarannya. Selain itu dapat HPLC dapat menggunakan beberapa macam detektor, salah satunya adalah speltrofotometri UV. Preparasai sampel juga mudah. Metode alternatif: Kromatografi lapis tipis Alasan Pemilihan: metode KLT ini praktis, mudah dan murah. Konfirmasi analit dapat dilaksanakan dengan membandingkan antara Rf analit dan Rf baku. 2. Penetapan kadar Metode utama: HPLC Alsan Pemilihan: metode HPLC dapat digunakan untuk analisis kuantitatif maupun kualitatif. Parameter kuantitatif HPLC yaitu luas area sampel pada kromatogram yang dihasilkan. Sedangkan parameter kualitatif pada HPLC berdasarkan waktu retensi atau wktu tambat dari sampel yg dibandngkan dgn baku pembanding. Selain itu, hplc jug selektif untuk memisahkan senyaw-senyawa berdasarkan kepolarannya. Metode alternatif: Spektrofotometer UV Alasan pemilihan: metode ini praktis, jumlah yang dibutuhkan sedikit, mudah dilaksanakan dan sensitivitas metode baik. 4.2.2. Pengawasan dalam Proses (IPC) 1. Uji Kebocoran Tujuan : memeriksa keutuhan kemasan untuk menjaga sterilitas dan volume serta kestabilan sediaan Prinsip: untuk cairan bening tidak berwarna, wadah takaran tunggal yang masih panas setelah selesai disterilkan, dimasukkan ke dalam larutan metilen biru 0,1%. Jika ada wadah yang bocor maka larutan metilen biru akan masuk ke dalam wadah karena perubahan tekanan di luar dan didalam wadah tersebut sehingga larutan dalam wadah akan berwarna biru. Untuk cairan berwarna dengan posisi terbalik, wadah dengan tekanan tunggal diletakkan di atas kertas saring. Jika terjadi kebocoran maka kertas saring akan berwarna Hasil: sediaan memenuhi syarat jika larutan dalam wadah tidak menjadi biru dan kertas saring tidak basah (Larutan Parental , hal 191)

2. Uji kejernihan dan warna Tujuan: memastikan bahwa setiap larutan obat suntik jernih dan bebas pengotor Prinsip: wadah wadah kemasan akhir diperiksa satu persatu dengan menyinari wadah dengan latar belakang hitam untuk menyelidiki pengotor berwarna putih dan latar belakang putih untuk menyelidiki pengotor berwarna Hasil: memenuhi syarat bila tidak ditemukan pengotor dalam larutan (Larutan parenteral, hal 202-203) 3. Pemeiksaan bahan partikular Tujuan: memastikan larutan injeksi, termasuk larutan yang dikonstitusi dari zat padat steril untuk penggunaan parenteral, bebas dari artikel yang dapat diamati pada pemeriksaan secara visual Prinsip: sejumlah tertentu sediaan uji, difiltrasi menggunakan membran, lalu membran tersebut diamati dibawah mikroskop dengan pembesaran 100x. Jumlah partikel dengan dimensi linier efektif 10m atau lebih dan sama atau lebih besar dari 25 m dihitung. Hasil: injeksi volume besar untuk infus dosis tunggal memenuhi syarat uji jika mengandung tidak lebih dari 50 partikel per mL yang setara atau lebih besar dari 10m dan tidak lebih dari 5 partikel per mL yang setara atau lebih besar dari 25m dalam dimensi linier efektif (FI IV hal 981-985) 4. Pemeriksaan PH Alat: PH meter Tujuan: mengetahui pH sediaan dengan persyaratan yang tekah ditentukan Prinsip: Pengukuran pH cairan uji menggunakan pH meter yang telah dikalibrasi Penafsiran hasil : pH sesuai dengan spesifikasi sediaan yaitu 4-6 (FI IV hal 1039-1040) 4.2.3 Pengawsan Obat Jadi 1. Penetapan volume injeksi dalam wadah Tujuan : menetapkan volume injeksi yang dimasukkan dalam wadah agar volume injeksi yang digunakan tepat/sesuai dengan yang tertera pada penandaan (kelebihan volume yang diajukan dipersyaratkan dalam FI IV) Prinsip: penentuan volume dilakukan dengan cara mengambil sampel dengan alat suntik hipodemik dan memasukkannya ke dalam gelas ukur yang sesuai Hasil: volume tidak kurang dari volume yang tertera pada wadah bila diuji satu persatu (FI IV, hal 1094) 2. Pemeriksaan PH Mengacu kepada evaluasi dalam IPC BAB III 3.5 3. Uji Endotoksin Bakteri Tujuan : memperkirakan kadar endotoksin bakteri yang mungkin ada dalam atau pada bahan uji Prinsip: pengujian dilakukan menggunakan Limulus Amebocyte Lysate (LAL), meliputi inkubasi selama waktu yang telah ditentukan dari endotoksin yang bereaksi dan larutan kontrol denga pereaksi LAL dan pembacaan serapan cahaya pada panjang gelombang yang sesuai. Hasil: bahan memenuhi syarat uji jika kadar endotoksin tidak lebih dari yang ditetapkan pada masing-masing monografi (FI IV hal 905-907) 4. Uji sterilitas

Tujuan: menetapkan apakah sediaan yang harus steril memenuhi syarat berkenaan dengan uji sterilisasi seperti yang tertera pada masing-masing monografi Prisnsip: menguji sterilitas suatu bahan dengan melihat ada tidaknya pertumbuhan mikroba pada inkubasi bahan uji menggunakan cara inkubasi langsung atau titrasi dalam medium tinglikonat cair dan Soybean casein digest prosedur uji dapat menggunakan teknik inkubasi langsung ke dalam media pada 30-35C selama tidak kurang dari 7 hari Hasil: tahap pertama: memenuhi syarat uji jika pada interval waktu tertentu dan pada akhir periode inkubasi, diamati tidak terdapat kekeruhan atau pertumbuhan mikroba pada permukaan, kecuali teknik pengujian dinyatakan tidak absah. Jika ternyata uji tidak absah, maka dilakukan pengujian tahap kedua Tahap kedua: memenuhi syarat uji jika tidak ditemukian pertumbuhan mikroba pada pengujian terhadap minimal 2 kali jumlah sampel uji tahap ( FI IV, 855-863) 5. Uji Pirogen (untuk volume sekali penyuntikan > 10 mL)) Alat suntik, jarum, dan alat kaca dibebaspirogenkan dengan pemanasan pada suhu 250o selama tidak kurang dari 30 menit atau dengan cara lain yang sesuai. Perlakukan semua pengencer dan larutan untuk pencuci dan pembilas alat atau alat suntik dengan cara sedemikian rupa yang dapat menjamin alat tersebut steril dan bebas pirogen. Gunakan alat pengukur suhu yang teliti yang telah dikalibrasi dan telah diuji bahwa pembacaan suhu maksimum tercapai kurang dari 5 menit. Gunakan kelinci dewasa yang sehat. Tempatkan kelinci satu ekor dalam satu kandang dalam ruangan dengan suhu seragam (20-23o) dan bebas dari gangguan yang menimbulkan kegelisahan. Beda suhu tidak boleh berbeda +- 3oC dari suhu yang telah ditetapkan. Untuk kelinci yang belum pernah digunakan untuk uji pirogen, adaptasikan kelinci tidak lebih dari 7 hari. Lakukan pengujian dalam ruang terpisah yang khusus untuk uji pirogen. Kelinci tidak diberi makan selama waktu pengujian. Minum diperbolejkan setiap saat tetapi dibatasi pada saat pengujian. Tidak lebih dari 30 menit setelah penyuntikkan larutan uji, tentukan suhu awal masing-masing kelinci. Beda suhu tiap kelinci dalam 1 kelompok tidak boleh >1oC dan suhu asal tiap kelinci tidak boleh >39,8oC. Suntikkan 10ml/kg BB larutan asetazolamid melalui vena tepi telinga 3 ekor kelinci dan penyuntikkn dilakukan dalam waktu 10 menit. Larutan uji yang disuntikkan, sesuai dengan dosis yang tertera pada etiket zat uji. Rekam suhu berturut-turut antara jam ke-1 dn jm ke-3 setelah penyuntikkan dengan selama waktu 30 menit. Sediaan memenuhi syarat jika tidak ada kelinci yang menunjukkan kenaikan suhu 0,5oC atau lebih lanjutkan pengujian dengan menggunakan 5 ekor kelinci. Jika tidak lebih darii 3 ekor dari 8 ekor kelincin masing-masing menunjukkan kenaikan suhu 0,5oC atau lebih dan jumlah kenaikan suhu maksimum 8 ekor kelinci tidak lebih dari 3 sediaan dinyatakan memenuhi syarat bebas pirogen. (Depkes RI, 1995) Masalah yang mungkin terjadi dalam metode analisis: 1. Pada KCKT, pemisahan dua senyawa dengan waktu retensi singkat, dikhawatirkan kedua senyawa belum terpisah sempurna. Oleh karena waktu retensi harus diperlambat, misalnya dengan mengurangi pelarut organik. Penggunaan pelarut pada analisis KCKT adalah pelarut yang pro analisis, karena jika mengunakan pelarut teknis dapat merusak alat (adanya kandungan korosif pada pelarut

teknis). Dan pelarut pro analisis mempunyai harga yang jauh lebih mahal dibanding yang teknis. Karena masalah ini, terkadang alat tidak beroperasi dengan alasan pelarut habis dan adanya keterbatasan ekonomi atau pelarut sulit didapatkan, akibatnya pengujian dilkukn dengan metode lain yang mungkin kurang seektif.l 2. Pd spektrofotometer UV, blanko sampel terkadang kurang menunjukkan spektrum yang bik, dn ini akan mempengaruhi jumlah kdar sampel atau spektrum yang dihasilkan. Pengguanaan spek.UV ini hanya untuk senyawa yang mempunyai gugus kromofor. 3. Pada KLT, sering dijumpai fase gerak yang kurang cocok, sehingga memerlukan beberapa kali pengujian untuk mendapatkan fase gerak yang sesuai. Ketebalan penotolan sampel tidak menjamin keberadaan sampel, sehingga tingkat penotolan perlu diperhitungkan kembali. Pemisahan senyawa-senyawa terkadang kurang baik apalagi kedua senyawa tersebut mempunyai harga Rf yang dekat. Oleh karenanya, harus dilakukan percobaan, dengan beberapa perbandingan fase gerak sampai didapat pemisahan kedua senyawa yang baik. 4.3 prosedur analisis bahan baku, bahan baku, IPC, dan Obat jadi. A. Bahan baku 1. Asetazolamida a. Spektroskopi Ultraviolet Prosedur: Larutan Uji: larutkan isi wadah dalam air sesuai yang tertera pada etiket, encerkan hati-hati dengan air hingga kadar lebih kurang500 ug per ml. Pipet 0,5 ml ke dalam labu tentukur 250 ml, tambahkan 25 ml asam klorida (10% v/v), encerkan dengan air secukupnya hingga 250 ml, campur Larutan pembanding: timbang saksama sejumlah asetazolamida PK. Larutkan dalam larutan natrium hidroksida P 1% b/v hingga kadar lebih kurang 100 ug per mL. Encerkan 10,0 ml dengan asam klorida P 1% v/v hingga 100,0 mL Cara ukur serapan larutan uji dan larutan pembanding pada maksimum lebih kurang 265 nm terhadap blanko asam klorida P 1% v/v Hitung jumlah dalam ug, C4H6N4O3S2, dengan rumus 25 C ( ) C : kadar asetazolamida PK dalam ug per ml larutan pembanding Au: serapan larutan uji As :serapan larutan pembanding (FI ed III, Hal 39-40)

Spektrum UV Asetazolamid dalam HCl ( (Florey, 1993)

), NaOH (---)

b. HPLC Beberapa sistem telah dikembangkan untuk pengujian asetazolamid. Tabel berikut mendeskripsikan beberapa penelitian yang diterbitkan pada beberapa literatur.

(Florey, 1993)

4.4. Pengujian Stabilitas Obat Jadi Pengujian stabilitas obat jadi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: A. Pengujian jangka panjang - Dalam jangka waktu yang ditentukan - Terbagi dalam beberapa interval, misalnya setiap tiga bulan untuk tahun pertama setiap enam bulan untuk tahun kedua, selanjutnya setahun seklai - Kondisi penyimpanan= 30oC +- 2oC dan 60+-5% - Lama periode pengujian ditentukan oleh masa edar B. Pengujian dipercepat - 3-6 bulan terbagi empat interval waktu dengan kondisi diperberat - Suhu 15oC di atas suhu penyimpanan jangka panjang, kelembabab sesuai. - 40oC +- 2oC dan 75%+-5% C. Pengujin fotostabilitas bahn baku dan bahan obat - Untuk memperoleh informasi fotostabilitas bahan baku dan produk obat - Data untuk tindakan pencegahan tertentu dalam pemrosesan, penandaan, dan pengemasan terhadap pemaparan cahaya. (Priambodo, 2007)

DAFTAR PUSTAKA British Pharmacopei. 2009. British Pharmacopeia Volume 1. London: The Stationery Office. p. 95 Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1978. Formularium Nasional Edisi Kedua. Jakarta: Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi Keempat. Jakarta: Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan (Florey, K. 1993. Analytical Profiles of Drug Substances and Excipients. Volume 22. London: Academic Press, Inc. p. 20-21 Priambodo, B. 2007. Manajemen Farmasi Industri. Yogyakara: Global Pustaka Utama.

Spektrum IR Acetazolamid 1167, 1548, 1316, 1665, 671, 1115 cm1 (KBr disk). (Mills, 2006) Mills, T. James, C. Christian, C. Mathew, J. Mark, D. And Robert, J. 2006. Instrumental Data for Drug Analysis. 3rd Edition. Volume 1. London: Taylor & Francis Grup.