Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Aspek pengelolaan lingkungan hidup akan berjalan efektif dan efisien apabila didukung oleh laboratorium yang mampu menghasilkan data yang absah, tidak terbantahkan serta dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah maupun secara hukum. Untuk mendapatkan validitas data pengujian yang dapat dipercaya sesuai tujuan yang diharapkan, maka bukan hanya dibutuhkan peralatan dan personel pengambilan sampel, tetapi juga prosedur dan teknik pengambilan sampel. Aspek pengelolaan lingkungan hidup akan berjalan efektif dan efisien apabila didukung oleh laboratorium yang mampu menghasilkan data yang absah, tidak terbantahkan serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun secara hukum. Untuk mendapatkan validitas data pengujian yang dapat dipercaya sesuai tujuan yang diharapkan, maka bukan hanya dibutuhkan peralatan dan personel pengambilan sampel, tetapi juga prosedur dan teknik pengambilan sampel. Air merupakan hal terpenting penunjang kehidupan. Segala aspek kegiatan memerlukan air sebagai bahan pokok dalam melakukan kegiatan-kegiatan tersebut. Selain itu tubuh makhluk hidup sebagian besar adalah air sehingga tubuh sangat bergantung dengan air. Air di bumi sangat melimpah, hal ini dapat dilihat dengan begitu luas lingkungan perairan di bumi dan lebih dari 98% air yang ada di bumi terdapat di bawah permukaan tanah di bawah pori-pori batuan. Air yang letaknya berada di bawah permukaan tanah biasa disebut denganair tanah. Contoh air tanah seperti sumur bor, sumur gali, dan sumur patek. Selain air tanah, ada juga air permukaan. Air permukaan merupakan air yang berada di atas permukaan tanah misalnya danau dan sungai. Kehidupan makhluk hidup bergantung dengan pasokan air yang berada di atas maupun di bawah permukaan tanah. Jika air tersebut terkontaminasi dengan zat-zat berbahaya maka proses kehidupan serta berbagai kegiatan akan terganggu. WHO memperkirakan 80% penyakit di dunia bersinggungan dengan sanitasi dan air yang tidak layak. Karena begitu pentingnya air bagi kehidupan manusia maka sangat diperlukan adanya sampling air terutama air tanah yang merupakan air di bawah permukaan dan air kran yang merupakan sampel air di atas permukaan untuk mengetahui kadar dan jenis air sehingga dapat diketahui apakah air tersebut mengandung zat berbahaya atau tidak serta

mengetahui seberapa besar kandungan-kandungan zat pada air sehinga air-air tersebut dapat digolong- golongkan menurut fungsi dan manfaatnya. Oleh karena itu dilakukannya praktikum ini agar mengetahui cara mengambil sampel air melalui banyak titik, metode dan melalui berbagai cara. 1.2 Maksud dan Tujuan 1.2.1 Maksud Percobaan Melakukan percobaan metode sampling. Melakukan sampling secara langsung.

1.2.2 Tujuan Percobaan Untuk mengetahui apa itu air. Untuk mengetahui metode-metode sampling air. Untuk mengetahui nilai turbidity pada baku mutu dan turbidity pada penyamplingan air permukaan sungai Mahakam.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Sampel adalah sebagian dari populasi. Artinya tidak akan ada sampel jika tidak ada populasi. Populasi adalah keseluruhan elemen atau unsur yang akan kita teliti. Penelitian yang dilakukan atas seluruh elemen dinamakan sensus. Idealnya, agar hasil penelitiannya lebih bisa dipercaya, seorang peneliti harus melakukan sensus. Namun karena sesuatu hal peneliti bisa tidak meneliti keseluruhan elemen tadi, maka yang bisa dilakukannya adalah meneliti sebagian dari keseluruhan elemen atau unsur tadi. Pengambilan sampel adalah suatu prosedur tertentu yang diikuti apabila suatu substansi, bahan atau produk diambil untuk keperluan pengujian sampel yang representatif dari keseluruhannya. Karena itu, pengambilan sampel harus mewakili kumpulannya dan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: perencanaan pengambilan sampel, petugas pengambil sampel, prosedur pengambilan sampel, peralatan pengambil sampel yang digunakan, frekuensi pengambilan sampel, keselamatan kerja dan dokumentasi terkait pengambilan sampel. Proses pengambilan sampel jika tidak

dilakukan secara benar, maka secanggih apapun peralatan yang dipergunakan tidak akan menghasilkan data yang dapat menggambarkan kondisi sesungguhnya (Raini, M, et al. 2004). Pengambilan sampel harus memenuhi kesesuaian terhadap standar baku yang telah diakui baik secara internasional maupun nasional, seperti standar EPA, WHO, maupun SNI, jika tidak akan mengakibatkan langkah-langkah selanjutnya seperti pengawetan, transportasi , penyimpanan, preparasi, maupun pengujian di laboratorium, akan sia-sia serta membuang waktu dan biaya. 2.1 Pengertian Air Air adalah zat cair yang tidak mempunyai rasa, warna dan bau, yang terdiri dari hidrogen dan oksigen dengan rumus kimiawi H2O. Karena air merupakan suatu larutan yang hampir-hampir bersifat universal, maka zat-zat yang paling alamiah maupun buatan manusia hingga tingkat tertentu terlarut di dalamnya. Dengan demikian, air di dalam mengandung zat-zat terlarut. Zat-zat ini sering disebut pencemar yang terdapat dalam air. Air bersih adalah salah satu jenis sumberdaya berbasis air yang bermutu baik dan biasa dimanfaatkan oleh manusia untuk dikonsumsi atau dalam melakukan aktivitas mereka sehari-hari termasuk diantaranya adalah sanitasi.

Untuk konsumsi air minum menurut departemen kesehatan, syarat-syarat air minum adalah tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak mengandung logam berat. Walaupun air dari sumber alam dapat diminum oleh manusia, terdapat risiko bahwa air ini telah tercemar oleh bakteri (misalnya Escherichia coli) atau zat-zat berbahaya. Walaupun bakteri dapat dibunuh dengan memasak air hingga 100 C, banyak zat berbahaya, terutama logam, tidak dapat dihilangkan dengan cara ini (Fardiaz, 1992). Tubuh manusia tersusun dari jutaan sel dan hampir keseluruhan sel tersebut mengandung senyawa air (H2O). Menurut penelitian, hamper 67% dari berat tubuh manusia terdiri dari air. Manfaat air bagi tubuh manusia adalah membantu proses pencernaan, mengatur proses metabolisme, mengangkut zat-zat makanan dan menjaga keseimbangan suhu tubuh. Menurut dokter dan para ahli kesehatan, tubuh

membutuhkan air untuk dikonsumsi sebanyak 2,5 liter atau setara dengan 8 gelas setiap harinya. Apabila jumlah air yang dikonsumsi kurang dari jumlah ideal, tubuh akan mengalami kekurangan cairan (dehidrasi) yang menyebabkan tubuh mudah lemas, capek dan mengalami gangguan kesehatan (Arya, 2004). Sumber air yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat harus dilindungi dari proses pencemaran. Penentuan zona Perlindungan Sumber Air Baku didasarkan pada faktor-faktor kesehatan dan biologis. Di negara Jerman dan negaranegara Eropa secara umum dikenal 3 macam zona. Perlindungan Sumber Air Baku : Zona Perlindungan I : yaitu daerah perlindungan yang bertujuan untuk melindungi air dari semua zat pencemar yang secara langsung atau tidak langsung menyebabkan degradasi kualitas air, dengan radius ditentukan sejauh 10 15 meter dari sumber air. Zona Perlindungan II : yaitu daerah perlindungan yang bertujuan untuk melindungi sumber air baku dari bahaya pencemaran bakteri pathogen yang dapat menyebabkan degradai kualitas air, dengan luas yang diperhitungkan berdasarkan jarak tempuh bakteri colli selama 50 (lima puluh) hari kesumber air baku. Zona Perlindungan III : yaitu daerah perlindungan yang bertujuan untuk melindungi sumber air baku dari pencemaran kimiawi dan radioaktif yang tidak dapat mengalami degradasi dalam waktu singkat, dengan luas yang ditentukan berdasarkan luas tangkapan air. 2.2 Teknik Sampling Air Data hasil pengujian parameter kualitas lingkungan harus dapat pertanggung jawabkan baik secara ilmiah maupun hukum karena data tersebut dapat digunakan sebagai dasar perencanaan, Evaluasi, maupun pengawasan yang sangat berguna bagi 4

para pengambil keputusan, perencanaan, penyusunan program baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah dalam menentukan kebijakan pengelolaan lingkungan hidup selain itu hasil pengujian dapat sebagai informasi adanya pencemaran lingkungan pada daerah tertentu atau pembuktian kasus lingkungan dalam rangka penegakan hukum lingkungan. Mengingat pentingnya data hasil pengujian parameter kualitas lingkungan tersebut, maka proses pengambilan contoh yang merupakan langkah awal dalam menghasilkan data kualitas lingkungan, harus mempertimbangkan kaidah-kaidah ilmiah yang berlaku dan peraturan undang-undang yang berlaku (Niniek L. Triana. 2003). Jika proses pengambilan contoh lingkungan dilakukan kurang tepat maka peralatan secanggih apapun yang digunakan tidak dapat menghasilkan data yang mengambarkan kondisi kualitas lingkungan yang sesungguhnya kecuali hanya data dari contoh yang representatif. Dalam praktik pengumpulan limbah dilakukan dalam wadah dengan persyaratan sebagai berikut : 1. Wadah plastic yang merupakan korosif 2. Volume wadah harus di sesuaikan dengan kategori limbah 3. Wadah harus menjamin keselamatan 4. Pemberian label harus sesuai dengan kategori limbah. 5. Instruksi untuk menyimpan atau untuk masing-masing kategori limbah harus disertakan contohnya simpan pada pH kurang dari 7 dll. (Anwar Hadi,2005) Pengambilan sampel yang telah direncanakan dengan baik akan mendukung pelaksanaan yang optimal. Dengan demikian pengambilan sampel merupakan tahap awal yang dilakukan dalam penentuan kualitas air, yang akan menentukan hasil pekerjaan pada berikutnya. Secara garis besar prosedur pengambilan sampel terdiri dari perencanaan, persiapan, pelaksanaan pengambilan sampel serta Quality Asurance (QA) dan Quality Control (QC) pengambilan sampel. Hal penting bagi pengambil sampel sebelum ke lapangan adalah menyusun perencanaan dalam suatu dokumen yang membantu dalam setiap tahapan pengambilan sampel secara jelas dan sistematik. Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam perencanaan pengambilan sampel adalah : 1. Menentukan tujuan pengambilan sampel; 2. Menentukan alat pengambil sampel yang sesuai; 5

3. Menentukan apakah pengambilan sampel harus sesuai dengan standar atau peraturan tertentu; 4. Menentukan metode analisis; 5. Pemilihan teknik sampling dan menetukan apakah sampling dilakukan secara random atau acak; 6. Menentukan jumlah, volume dan jenis wadah sampel; 7. Menentukan waktu, lokasi sampling dan jenis sampel; 8. Menentukan frekuensi sampling; 9. Menyiapkan pengendalian mutu; 10. Menyiapkan dokumentasi (daftar periksa persiapan pengambilan sampel, formulir rekaman dat pengambilan sampel, laporan pengambilan sampel). 11. Pengamanan sampel terdiri dari : 1. Identifikasi/pengkodean sampel 2. Pengemasan sampel 3. Penyegelan wadah sampel, bila diperlukan 4. Tindakan pencegahan selama transportasi ke laboratorium, jika ada ketidak sesuaian 5. Penyimpanan sampel di laboratorium (Niniek L. Triana. 2003). Titik pengambilan sampel air sungai ditentukan berdasarkan debit air sungai, yang diatur dengan ketentuan sebagai berikut : sungai dengan debit kurang dari 5 m3/detik, sampel diambil pada satu titik di tengah sungai pada kedalaman 0,5 kali kedalaman dari permukaan, sehingga diperoleh sampel air dari permukaan sampai ke dasar secara merata; sungai dengan debit antara (5 150) m3/detik, sampel diambil pada dua titik masing-masing pada jarak 1/3 dan 2/3 lebar sungai, pada kedalaman 0,5 kali kedalaman dari permukaan, sehingga diperoleh sampel air dari permukaan sampai ke dasar secara merata, kemudian dicampurkan; sungai dengan debit lebih dari 150 m3/detik, sampel diambil minimum pada enam titik, masing-masing pada jarak 1/4, 1/2, dan 3/4 lebar sungai, pada kedalaman 0,2 dan 0,8 kali kedalaman dari permukaan, sehingga diperoleh sampel air dari permukaan sampai ke dasar secara merata, kemudian dicampurkan (Universitas Islam Indonesia. 2005).

2.3 Teknik-teknik pengambilan sampel Secara umum, ada dua jenis teknik pengambilan sampel yaitu, sampel acak atau random sampling / probability sampling, dan sampel tidak acak atau nonrandom samping/nonprobability sampling. Yang dimaksud dengan random sampling adalah cara pengambilan sampel yang memberikan kesempatan yang sama untuk diambil kepada setiap elemen populasi. Artinya jika elemen populasinya ada 100 dan yang akan dijadikan sampel adalah 25, maka setiap elemen tersebut mempunyai kemungkinan 25/100 untuk bisa dipilih menjadi sampel. Sedangkan yang dimaksud dengan nonrandom sampling atau nonprobability sampling, setiap elemen populasi tidak mempunyai kemungkinan yang sama untuk dijadikan sampel. Lima elemen populasi dipilih sebagai sampel karena letaknya dekat dengan rumah peneliti, sedangkan yang lainnya, karena jauh, tidak dipilih; artinya kemungkinannya 0 (nol). Dua jenis teknik pengambilan sampel di atas mempunyai tujuan yang berbeda. Jika peneliti ingin hasil penelitiannya bisa dijadikan ukuran untuk mengestimasikan populasi, atau istilahnya adalah melakukan generalisasi maka seharusnya sampel representatif dan diambil secara acak. Namun jika peneliti tidak mempunyai kemauan melakukan generalisasi hasil penelitian maka sampel bisa diambil secara tidak acak. Sampel tidak acak biasanya juga diambil jika peneliti tidak mempunyai data pasti tentang ukuran populasi dan informasi lengkap tentang setiap elemen populasi. Contohnya, jika yang diteliti populasinya adalah konsumen teh botol, kemungkinan besar peneliti tidak mengetahui dengan pasti berapa jumlah konsumennya, dan juga karakteristik konsumen. Karena dia tidak mengetahui ukuran pupulasi yang tepat, bisakah dia mengatakan bahwa 200 konsumen sebagai sampel dikatakan representatif?. Kemudian, bisakah peneliti memilih sampel secara acak, jika tidak ada informasi yang cukup lengkap tentang diri konsumen?. Dalam situasi yang demikian, pengambilan sampel dengan cara acak tidak dimungkinkan, maka tidak ada pilihan lain kecuali sampel diambil dengan cara tidak acak atau nonprobability sampling, namun dengan konsekuensi hasil penelitiannya tersebut tidak bisa digeneralisasikan. Jika ternyata dari 200 konsumen teh botol tadi merasa kurang puas, maka peneliti tidak bisa mengatakan bahwa sebagian besar konsumen teh botol merasa kurang puas terhadap botol. Di setiap jenis teknik pemilihan tersebut, terdapat beberapa teknik yang lebih spesifik lagi. Pada sampel acak (random sampling) dikenal dengan istilah simple random sampling, stratified random sampling, cluster sampling, systematic sampling, dan area sampling. Pada nonprobability sampling dikenal beberapa teknik, antara lain adalah convenience sampling, purposive sampling, quota sampling, snowball sampling 7

Probability/Random Sampling. Syarat pertama yang harus dilakukan untuk mengambil sampel secara acak adalah memperoleh atau membuat kerangka sampel atau dikenal dengan nama sampling frame. Yang dimaksud dengan kerangka sampling adalah daftar yang berisikan setiap elemen populasi yang bisa diambil sebagai sampel. Elemen populasi bisa berupa data tentang orang/binatang, tentang kejadian, tentang tempat, atau juga tentang benda. Jika populasi penelitian adalah mahasiswa perguruan tinggi A, maka peneliti harus bisa memiliki daftar semua mahasiswa yang terdaftar di perguruan tinggi A tersebut selengkap mungkin. Nama, NRP, jenis kelamin, alamat, usia, dan informasi lain yang berguna bagi penelitiannya.. Dari daftar ini, peneliti akan bisa secara pasti mengetahui jumlah populasinya (N). Jika populasinya adalah rumah tangga dalam sebuah kota, maka peneliti harus mempunyai daftar seluruh rumah tangga kota tersebut. Jika populasinya adalah wilayah Jawa Barat, maka penelti harus mepunyai peta wilayah Jawa Barat secara lengkap. Kabupaten, Kecamatan, Desa, Kampung. Lalu setiap tempat tersebut diberi kode (angka atau simbol) yang berbeda satu sama lainnya. Di samping sampling frame, peneliti juga harus mempunyai alat yang bisa dijadikan penentu sampel. Dari sekian elemen populasi, elemen mana saja yang bisa dipilih menjadi sampel?. Alat yang umumnya digunakan adalah Tabel Angka Random, kalkulator, atau undian. Pemilihan sampel secara acak bisa dilakukan melalui sistem undian jika elemen populasinya tidak begitu banyak. Tetapi jika sudah ratusan, cara undian bisa mengganggu konsep acak atau random itu sendiri (Anwar Hadi,2005). 1. Simple Random Sampling atau Sampel Acak Sederhana Cara atau teknik ini dapat dilakukan jika analisis penelitiannya cenderung deskriptif dan bersifat umum. Perbedaan karakter yang mungkin ada pada setiap unsur atau elemen populasi tidak merupakan hal yang penting bagi rencana analisisnya.

Misalnya, dalam populasi ada wanita dan pria, atau ada yang kaya dan yang miskin, ada manajer dan bukan manajer, dan perbedaan-perbedaan lainnya. Selama perbedaan

gender, status kemakmuran, dan kedudukan dalam organisasi, serta perbedaanperbedaan lain tersebut bukan merupakan sesuatu hal yang penting dan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil penelitian, maka peneliti dapat mengambil sampel secara acak sederhana. Dengan demikian setiap unsur populasi harus mempunyai kesempatan sama untuk bisa dipilih menjadi sampel. Prosedurnya : 1. Susun sampling frame 2. Tetapkan jumlah sampel yang akan diambil

3. Tentukan alat pemilihan sampel 4. Pilih sampel sampai dengan jumlah terpenuhi 2. Stratified Random Sampling atau Sampel Acak Distratifikasikan Karena unsur populasi berkarakteristik heterogen, dan heterogenitas tersebut mempunyai arti yang signifikan pada pencapaian tujuan penelitian, maka peneliti dapat mengambil sampel dengan cara ini. Misalnya, seorang peneliti ingin mengetahui sikap manajer terhadap satu kebijakan perusahaan. Dia menduga bahwa manajer tingkat atas cenderung positif sikapnya terhadap kebijakan perusahaan tadi. Agar dapat menguji dugaannya tersebut maka sampelnya harus terdiri atas paling tidak para manajer tingkat atas, menengah, dan bawah. Dengan teknik pemilihan sampel secara random distratifikasikan, maka dia akan memperoleh manajer di ketiga tingkatan tersebut, yaitu stratum manajer atas, manajer menengah dan manajer bawah. Dari setiap stratum tersebut dipilih sampel secara acak. Prosedurnya : 1. Siapkan sampling frame 2. Bagi sampling frame tersebut berdasarkan strata yang dikehendaki 3. Tentukan jumlah sampel dalam setiap stratum 4. Pilih sampel dari setiap stratum secara acak. Pada saat menentukan jumlah sampel dalam setiap stratum, peneliti dapat menentukan secara (a) proposional, (b) tidak proposional. Yang dimaksud dengan proposional adalah jumlah sampel dalam setiap stratum sebanding dengan jumlah unsur populasi dalam stratum tersebut. Misalnya, untuk stratum manajer tingkat atas (I) terdapat 15 manajer, tingkat menengah ada 45 manajer (II), dan manajer tingkat bawah (III) ada 100 manajer. Artinya jumlah seluruh manajer adalah 160. Kalau jumlah sampel yang akan diambil seluruhnya 100 manajer, maka untuk stratum I diambil (15:160)x100 = 9 manajer, stratum II = 28 manajer, dan stratum 3 = 63 manajer. Jumlah dalam setiap stratum tidak proposional. Hal ini terjadi jika jumlah unsur atau elemen di salah satu atau beberapa stratum sangat sedikit. Misalnya saja, kalau dalam stratum manajer kelas atas (I) hanya ada 4 manajer, maka peneliti bisa mengambil semua manajer dalam stratum tersebut , dan untuk manajer tingkat menengah (II) ditambah 5, sedangkan manajer tingat bawah (III), tetap 63 orang. 3. Cluster Sampling atau Sampel Gugus Teknik ini biasa juga diterjemahkan dengan cara pengambilan sampel berdasarkan gugus. Berbeda dengan teknik pengambilan sampel acak yang distratifikasikan, di mana setiap unsur dalam satu stratum memiliki karakteristik yang homogen (stratum A : laki-laki 9

semua, stratum B : perempuan semua), maka dalam sampel gugus, setiap gugus boleh mengandung unsur yang karakteristiknya berbeda-beda atau heterogen. Misalnya, dalam satu organisasi terdapat 100 departemen. Dalam setiap departemen terdapat banyak pegawai dengan karakteristik berbeda pula. Beda jenis kelaminnya, beda tingkat pendidikannya, beda tingkat pendapatnya, beda tingat manajerialnnya, dan perbedaanperbedaan lainnya. Jika peneliti bermaksud mengetahui tingkat penerimaan para pegawai terhadap suatu strategi yang segera diterapkan perusahaan, maka peneliti dapat menggunakan cluster sampling untuk mencegah terpilihnya sampel hanya dari satu atau dua departemen saja. Prosedur : 1. Susun sampling frame berdasarkan gugus Dalam kasus di atas, elemennya ada 100 departemen. 2. Tentukan berapa gugus yang akan diambil sebagai sampel. 3. Pilih gugus sebagai sampel dengan cara acak. 4. Teliti setiap pegawai yang ada dalam gugus sample (Niniek L. Triana. 2003). 4. Systematic Sampling atau Sampel Sistematis Jika peneliti dihadapkan pada ukuran populasi yang banyak dan tidak memiliki alat pengambil data secara random, cara pengambilan sampel sistematis dapat digunakan. Cara ini menuntut kepada peneliti untuk memilih unsur populasi secara sistematis, yaitu unsur populasi yang bisa dijadikan sampel adalah yang keberapa. Misalnya, setiap unsur populasi yang keenam, yang bisa dijadikan sampel. Soal keberapa-nya satu unsur populasi bisa dijadikan sampel tergantung pada ukuran populasi dan ukuran sampel. Misalnya, dalam satu populasi terdapat 5000 rumah. Sampel yang akan diambil adalah 250 rumah dengan demikian interval di antara sampel kesatu, kedua, dan seterusnya adalah 25. Prosedurnya : a. Susun sampling frame. b. Tetapkan jumlah sampel yang ingin diambil. c. Tentukan K (kelas interval). d. Tentukan angka atau nomor awal di antara kelas interval tersebut secara acak atau random biasanya melalui cara undian saja. e. Mulailah mengambil sampel dimulai dari angka atau nomor awal yang terpilih. f. Pilihlah sebagai sampel angka atau nomor interval berikutnya.

5. Area Sampling atau Sampel Wilayah Teknik ini dipakai ketika peneliti dihadapkan pada situasi bahwa populasi penelitiannya tersebar di berbagai wilayah. Misalnya, seorang marketing manajer sebuah stasiun TV 10

ingin mengetahui tingkat penerimaan masyarakat Jawa Barat atas sebuah mata tayangan, teknik pengambilan sampel dengan area sampling sangat tepat. Prosedurnya : 6. Susun sampling frame yang menggambarkan peta wilayah (Jawa Barat) Kabupaten, Kotamadya, Kecamatan, Desa. 7. Tentukan wilayah yang akan dijadikan sampel (Kabupaten, Kotamadya, Kecamatan,

Desa) 8. 9. Tentukan berapa wilayah yang akan dijadikan sampel penelitiannya. Pilih beberapa wilayah untuk dijadikan sampel dengan cara acak atau random.

10. Kalau ternyata masih terlampau banyak responden yang harus diambil datanya, bagi lagi wilayah yang terpilih ke dalam sub wilayah.

Nonprobability/Nonrandom Sampling atau Sampel Tidak Acak Seperti telah diuraikan sebelumnya, jenis sampel ini tidak dipilih secara acak. Tidak semua unsur atau elemen populasi mempunyai kesempatan sama untuk bisa dipilih menjadi sampel. Unsur populasi yang terpilih menjadi sampel bisa disebabkan karena kebetulan atau karena faktor lain yang sebelumnya sudah direncanakan oleh peneliti. 1. Convenience Sampling atau sampel kemudahan. Dalam memilih sampel, peneliti tidak mempunyai pertimbangan lain kecuali berdasarkan kemudahan saja. Seseorang diambil sebagai sampel karena kebetulan orang tadi ada di situ atau kebetulan dia mengenal orang tersebut. Oleh karena itu ada beberapa penulis menggunakan istilah accidental sampling tidak disengaja atau juga captive sample (man-on-the-street) Jenis sampel ini sangat baik jika dimanfaatkan untuk penelitian penjajagan, yang kemudian diikuti oleh penelitian lanjutan yang sampelnya diambil secara acak (random). Beberapa kasus penelitian yang menggunakan jenis sampel ini, hasilnya ternyata kurang obyektif (Niniek L. Triana. 2003). 2. Purposive Sampling Sesuai dengan namanya, sampel diambil dengan maksud atau tujuan tertentu. Seseorang atau sesuatu diambil sebagai sampel karena peneliti menganggap bahwa seseorang atau sesuatu tersebut memiliki informasi yang diperlukan bagi penelitiannya. Dua jenis sampel ini dikenal dengan nama judgement dan quota sampling. Judgment Sampling Sampel dipilih berdasarkan penilaian peneliti bahwa dia adalah pihak yang paling baik untuk dijadikan sampel penelitiannya.. Misalnya untuk memperoleh data tentang bagaimana satu proses produksi direncanakan oleh suatu perusahaan, maka manajer 11 yang dipilih dengan pertimbangan

produksi merupakan orang yang terbaik untuk bisa memberikan informasi. Jadi, judment sampling umumnya memilih sesuatu atau seseorang menjadi sampel karena mereka mempunyai information rich. Dalam program pengembangan produk (product development), biasanya yang dijadikan sampel adalah karyawannya sendiri, dengan pertimbangan bahwa kalau karyawan sendiri tidak puas terhadap produk baru yang akan dipasarkan, maka jangan terlalu berharap pasar akan menerima produk itu dengan baik.

Quota Sampling Teknik sampel ini adalah bentuk dari sampel distratifikasikan secara proposional, namun tidak dipilih secara acak melainkan secara kebetulan saja. Misalnya, di sebuah kantor terdapat pegawai laki-laki 60% dan perempuan 40% . Jika seorang peneliti ingin mewawancari 30 orang pegawai dari kedua jenis kelamin tadi maka dia harus mengambil sampel pegawai laki-laki sebanyak 18 orang sedangkan pegawai perempuan 12 orang. Sekali lagi, teknik pengambilan ketiga puluh sampel tadi tidak dilakukan secara acak, melainkan secara kebetulan saja. Snowball Sampling Sampel Bola Salju Cara ini banyak dipakai ketika peneliti tidak banyak tahu tentang populasi penelitiannya. Dia hanya tahu satu atau dua orang yang berdasarkan penilaiannya bisa dijadikan sampel. Karena peneliti menginginkan lebih banyak lagi, lalu dia minta kepada sampel pertama untuk menunjukan orang lain yang kira-kira bisa dijadikan sampel (Niniek L. Triana. 2003)..

12

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktikum Sampling Air Permukaan ini dilaksanakan pada Hari Sabtu tanggal 26 November 2011 bertempat di badan Sungai Mahakam : Titik 1 (bawah jembatan mahakam), titik 2 (depan islamic centre), titik 3 (depan muara teluk lerong), titik 4 (depan kantor gubernur), titik 5 (depan pasar pagi), titik 6 (depan pelabuhan samarinda), titik 7 (depan kelurahan baqa samarinda seberang), titik 8 (depan PDAM gunung lipan), Samarinda, Kalimantan Timur. 3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Alat GPS Anemometer Depth Meter Water Sampler Botol Sampel Alat Tulis pH Meter Alat pengukur TDS (Conductivity Meter) Turbidity Meter Tali rafia Cutter Obeng Plus Kapal Kamera

3.2.2 Bahan Air sungai Mahakam Aquades Tissue Batu Baterai ukuran 2A Batu Baterai ukuran 3A Batu Baterai kotak 13

3.3 Cara Kerja 1. Ditentukan tujuh titik lokasi untuk pengambilan sampel air sungai Mahakam. 2. Dituju tempat yang telah ditentukan 3. Pada titik pertama Diambil air sungai Mahakam dengan menggunakan water sampler 4. Dipindahkan air yang telah diambil ke dalam boto-botol sampel untuk dilakukan pengukuran. 5. Ditentukan kedalaman dengan menggunakan alat Deep Meter 6. Dilakukan pengujian ph dengan menggunakan ph meter 7. Dilakukan pengujian temperatur dan TDS menggunakan Conductivity Meter 8. Diukur kecepatan angin dengan menggunakan alat anemometer. 9. Ditentukankan titik koordinat dengan menggunakan alat GPS 10. Dilakukan langkah yang sama seperti diatas hingga titik ketujuh.

14

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Percobaan


Kecepatan Kedalaman Lokasi (meter) ( /s)
m

Suhu Angin pH (Celcius)

TDS (mg/)

Turbidity (mtu)

Koordinat

50M : Titik 1 Bawah Jembatan Mahakam 24,07 0,46 6,95 30,4 52 50,4 0513200 UTM : 9942680

Titik 2 Muara Teluk Lerong Titik 3 Depan Kantor Gubernur Titik 4 Depan Masjid Raya Titik 5 Depan Pelabuhan Samarinda 15,64 0,37 7,5 29,6 50 49,1 18,29 0,91 7,51 29,6 49 44,7 24,07 1,59 7,01 29,6 47 44,9 33,53 0,33 7,9 30 44 48,7

50M : 0514465 UTM : 99944487 50M : 0515669 UTM : 9944425 50M : 0516434 UTM : 9944147 50M : 0517140 UTM : 9943695

15

Titik 6 PDAM Samarinda Seberang Titik 7 PDAM Gn. Lipan 28,35 0,43 7,15 29,5 45 51,5 10,27 0,28 7,95 29,2 48 46,3

50M : 50515268 UTM : 9944173 50M : 0512834 UTM : 9944173

4.2 Pembahasan Praktikum ini dilaksanakan dengan menyisiri sungai mahakam dari wilayah sungai kunjang hingga wilayah selili. Sepanjang aliran tersebut diambil 8 titik sebagai sampel. Titik titik itu antara lain: Titik 1 (bawah jembatan mahakam), titik 2 (depan islamic centre), titik 3 (depan muara teluk lerong), titik 4 (depan kantor gubernur), titik 5 (depan pasar pagi), titik 6 (depan pelabuhan samarinda), titik 7 (depan kelurahan baqa samarinda seberang), titik 8 (depan PDAM gunung lipan). 4.2.1 Tabel Parameter Kualitas Air Kelas II Berdasarkan PP. No 82 Tahun 2001 KELAS II

PARAMETER FISIKA Temperatur Residu Terlarut (TDS) Residu Tersuspensi (TSS)

SATUAN

C mg/L

1000 1000

mg/L

KIMIA ANORGANIK pH 6-9

16

4.2.2

Tabel Perbandingan

Baku Mutu Air Kelas II Parameter sesuai pp nomor 82 thn 2001 tentang Kualitas Air pH Suhu TDS Turbidity 6-9 1000 mg/l -

Air Sungai Mahakam (Nilai RataRata) 7,4 29,7oC 47,8 mg/l 47,9 NTU

Nb : (-) tidak ada nilai baku mutu standar. Keterangan : Pada nilai rata-rata pH yang kami dapatkan dari hasil pengujian didapatkan nilai rata-rata 7,4 yang menunjukan nilai standar sesuai baku mutu kualitas air bersih. Pada nilai rata-rata suhu yang kami dapatkan dari hasil pengujian adalah 29,7 OC. Pada pengukuran nilai TDS, kami dapatkan nilai rata-rata 47,8 mg/L yang nilainya berada dibawah batas baku mutu standar 1000 mg/L. Pada pengukuran nilai turbidity yang kami dapatkan nilai rata-rata turbidity adalah 47,9 NTU. Jadi berdasarkan paramater yang kami uji dapat dikatakan bahwa sungai Mahakam berdasarkan sebagian parameter fisik dan kimia anorganik cukup layak dijadikan sumber air baku.

17

BAB V PENUTUP

5. 1

Kesimpulan Air adalah zat cair yang tidak mempunyai rasa, warna dan bau, yang terdiri dari hidrogen dan oksigen dengan rumus kimiawi H2O. Karena air merupakan suatu larutan yang hampir-hampir bersifat universal, maka zat-zat yang paling alamiah maupun buatan manusia hingga tingkat tertentu terlarut di dalamnya. Dengan demikian, air di dalam mengandung zat-zat terlarut. Zat-zat ini sering disebut pencemar yang terdapat dalam air. Metode sampling ada 2 yaitu sampel acak atau random sampling dan sampel tidak acak atau non random sampling. Yang dimaksud dengan random sampling adalah cara pengambilan sampel yang memberikan kesempatan yang sama untuk diambil kepada setiap elemen. Sedangkan, yang dimaksud non random sampling adalah setiap elemen tidak mempunyai kemungkinan yang sama untuk dijadikan sampel. Nilai rata-rata kekeruhan (turbidity) pada saat pengambilan sampel pada sungai mahakam adalah 47,9 NTU. Sedangkan pada parameter/baku mutu tidak diketahui nilainya.

5. 2

Saran Perlunya diperhatikan tingat keselamatan saat mengambil sampel air. Hendaknya dalam proses pengambilan air pada badan sungai benar-benar cermat sehingga tidak terkontaminasi udara.

18

DAFTAR PUSTAKA

Anwar Hadi 2005, Prinsip pengelolaan pengambilan sample lingkungan, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Arya, wardana. 2004. Dampak Pencemaran lingkungan. Penerbit Andi : Yogyakarta. Fardiaz, Srikandi. 1992. Polusi Air Dan Udara. Kanisius : Yogyakarta. Niniek L. Triana. 2003. Teknik Pengambilan Contoh & Analisis Parameter Kualitas Air. Modul Bimbingan teknis Pemantauan Kualitas Air, Sarpedal Kementerian Lingkungan Hidup. Raini, M, et al. 2004. Kualitas Fisik dan Kimia Air PAM di Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi Tahun 1999 2001. Media Litbang Kesehatan Volume XIV No.3 Tahun 2004.

19