Anda di halaman 1dari 32

MATERI AGAMA HINDU KELAS X

RANGKUMAN

OLEH: Drs. IDA BAGUS PUTU PUTERA

DISUSUN BERDASARKAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

SMK N 1 GIANYAR

SAMBUTAN KEPALA SMK N 1 GIANYAR

Om Swastyastu Dengan menghaturkan angayubagia ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, saya Kepala SMK Negeri 1 Gianyar menyambut dengan baik atas terbitnya Rangkuman Materi Agama Hindu untuk kelas X SMK Negeri 1 Gianyar. SMK Negeri 1 Gianyar yang telah dinyatakan mengacu pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang mulai efektif dilaksanakan tahun 2007. Sebagaimana diketahui KTSP lebih menitikberatkan pada pencapaian tingkat kompetensi daripada penguasaan materi semata, lebih mengakomodasikan keragaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan yang ada pada lingkungan sekolah, serta memberikan kebebasan yang lebih kepada pelaksana untuk mengembangkan dan melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan tuntutan kebutuhan. Atas terbitnya buku ini, saya sampaikan penghargaan kepada Drs. Ida Bagus Putu Putera, semoga buku ini dapat mempermudah siswa dan guru agama Hindu dalam mempelajarinya, memahami, dan mengimplementasikan ajaran Agama Hindu dalam kehidupan sehari-hari. Semoga Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa melimpahkan Wara Nugraha-Nya. Om Santih, Santih, Santih Om

Gianyar, 1 Januari 2010 Kepala Sekolah SMK N 1 Gianyar

GDE SUMARDANA,S.Pd, MM. NIP. 19631231 198711 1 026

ii

KATA PENGANTAR

OM SWASTYASTU Rasa angayu bagia dan pujastuti kami haturkan kepada Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, atas asung kertha wara nugrahaNya sehingga kami dapat menyusun Rangkuman Materi Agama Hindu untuk SMK N 1 Gianyar kelas X. Materi buku ini kami susun berdasarkan standar isi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), sehingga dapat digunakan sebagai pendamping bagi siswa dan guru dalam kegiatan pembelajaran. Kami menyadari isi buku ini banyak kekurangannya, untuk itu kritik dan saran yang konstruktif dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pada edisi berikutnya. Semoga Rangkuman Materi Agama Hindu ini ada manfaatnya dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan Agama Hindu, khususnya di SMK Negeri 1 Gianyar. Om Santih, Santih, Santih Om

Denpasar, 1 januari 2010 Penyusun

Drs. Ida Bagus Putu Putera, M.Si NIP. 19651231 198606 1 040

iii

DAFTAR ISI KATA SAMBUTAN............................................................................................ i KATA PENGANTAR.......................................................................................... ii DAFTAR ISI........................................................................................................ iii BAB I SEJARAH AGAMA HINDU................................................................... 1 1. Zaman Weda............................................................................................ 1 2. Zaman Brahmana..................................................................................... 2 3. Zaman Upanisad....................................................................................... 3 BAB II KEPEMIMPINAN.................................................................................. 7 a. Tipe Kharismatis...................................................................................... 8 b. Tipe Paternalistis...................................................................................... 8 c. Tipe Militeristis........................................................................................ 8 d. Tipe Otokratis (Outhoritative, Dominator).............................................. 9 e. Tipe Laissez Faire.................................................................................... 9 f. Tipe Populistis.......................................................................................... 10 g. Tipe Administratif atau Eksekutif............................................................ 10 h. Tipe Demokrasi........................................................................................ 10 BAB III YADNYA (KRAMING SEMBAH)...................................................... 14 BAB IV HARI SUCI............................................................................................ 17 BAB V SUSILA................................................................................................... 20 BAB VI TEMPAT SUCI..................................................................................... 24 BAB VII ATMA SRADDHA.............................................................................. 27

iv

BAB I SEJARAH AGAMA HINDU Sejarah perkembangan agama Hindu di India dapat kita ketahui dari kitabkitab suci Hindu yang terhimpun dalam Weda Sruti, Weda Smrti, Itihasa, Upanisad, Purana dan yang lainnya. Bangsa dravida sebagai penduduk asli negeri India dinyatakan telah memiliki perdaban yang bernilai sangat tinggi, hal ini dibuktikan dengan diketemukannya beberapa peninggalan kuno seperti; area siwanataraja, meterai berlukiskan burung elang, meterai bergambarkan orang duduk bersila, bekas rumah pemukiman yang tertata dengan baik, latra, jalan yang lebar, saluran air yang dalam dan lebar, sandal yang terbuat dari bahan kaca, arca teracota yang tokoh spiritual, dan yang lainnya. Hindu adalah nama sebuah agama besar dunia yang memiliki umur sangat tua. Sebagai agama tertua, agama Hindu juga disebut-sebut menjadi pembuka sejarah peradaban umat manusia yang ada di muka bumi ini. Agama Hindu pada mulanya dinyatakan berkembang di lembah sungai Sindhu, India bagian barat yaitu termasuk daerah Punjab. Berdasarkan penemuan peninggalan-peninggalan tersebut diatas membuktikan bahwa perkembangan agama Hindu di India, berlangsung dalam kurun waktu yang sangat panjang. Hal ini didasari oleh pendapat Govinda Das Hinduism Madras, bahwa perkembangan agama Hindu di India dibagi menjadi 3 (tiga) zaman. Ketiga pembagian zaman yang dimaksud adalah: 1. Zaman Weda. 2. Zaman Brahmana. 3. Zaman Upanisad. Ketiga zaman Hindu di India itu dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut di bawah ini. 1. Zaman Weda Zaman Weda di India dinyatakan telah dimulai sejak datangnya bangsa Arya yang berasal dari laut Kaspia 2500 tahun sebelum masehi, dengan menempati wilayah lembah sungai sindhu, yang juga dikenal dengan Punjab 1

atau daerah lima aliran sungai. Bangsa Arya adalah tergolong ras bangsa Indo Eropa, yang terkenal sebagai bangsa pengembara cerdas, tangguh dan trampil. Zaman Weda merupakan zaman penulisan kitab suci yang pertama yaitu Reg.Veda. Kehidupan umat beragama Hindu pada masa ini didasarkan atas ajaranajaran yang tercantum pada Weda Samhita, yang lebih banyak menekankan pada pembacaan perafalan ayat-ayat veda secara oral, yaitu dengan menyanyikan dan mendengarkan secara berkelompok. Weda adalah kitab suci dan sumber ajaran agama Hindu. Semua ajaran agama Hindu bernafaskan dan dijiwai oleh Weda. Oleh karena itu agama Hindu mengakuti kewenangan Weda. Weda adalah wahyu Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, yang diyakini oleh umatnya bersifat anadi-ananta yaitu tidak berawal dan berakhir serta kapan diturunkan, berlaku sepanjang zaman. Namun demikian dikalangan para sarjana Hindu dan barat seperti ; Lokamaya Tilakshastri dan Bal Gangadhar, masing-masing telah berkesepakatan bahwa Weda sebagai kitab suci Hindu diwahyukan disekitar 6000 tahun sebelum masehi dan tahun 4000 sebelum masehi oleh para Maharsi. Ada tujuh Maharsi sebagai penerirna wahyu Weda, dianataranya ; Grtsamada, Wiswamitra, Airi, Bharadwaja, Wasistba, Kanwa dan Wamadewa. Disamping itu ada juga disebutkan Maharsi lainnya seperti Wiyasa, Swayambhu dan yang lainnya. Pada zaman Wedalah penulisannya dilaksanakan. Adapun disebut-sebut sebagai penulis Weda antara lain ; Rg. Weda ditulis oleh Maharsi Pulaha, Sama Weda oleh Maharsi Jaimini, Yajur Weda oleh Maharsi Waisampayana, dan AtharwaWeda oleh Maharsi Sumantu. Weda sebagai sumber ajaran agama Hindu terdiri dari kitab-kitab : Sruti, dan Smerti. Kitab-kitab Sruti manurut sifat dan isinya dibedakan menjadi empat bagian, antara lain ; Mantra, Brahmana, Aranyaka, dan Upanisad. 2. Zaman Brahmana Zaman Brahrnana ditandai dengan terbitnya kitab-kitab Brahmana sebagai bagian dari kitab Weda Sruti yang juga disebut karma kanda. Kitabkitab Brahmana berisikan doa-doa serta penjelasan upacara korban dan kewajiban-kewajiban keagamaan. Perkembangan agama Hindu pada zaman 2

Brahmana merupakan zaman peralihan dari zaman Weda Sainhita menuju zaman Brahmana. Kehidupan keagamaan pada zaman Brahmana terpusatkan pada keaktifan bathin atau rohani dalam pelaksanaan upacara korban. Dengan demikian kedudukan kaum Brahmana mendapatkan petlindungan yang istimewa, seperti yang terjadi pada masa pemerintahan dinasti Chandragupta Maurya (322-298) sebelum masehi di kerajaan Magadha dimana, Brahmana Canakya atau Kautilya diposisikan sebagai pembantu kerajaan. Adapun ciri-ciri utama lainnya para Brahmana mendapatkan posisi yang ideal pada masa itu adalah: 1. Upacara korban atau yajna mendapat porsi yang dominant. 2. Para Brahmana atau Pendeta menjadi golongan yang terhormat dan berkuasa. 3. Kelompok-kelompok masyarakat pasraman berkembang dengan suburnya. 4. Pemujaan dewa-dewa menjadi berkembang fungsinya. 5. Terbitnya berbagai kitab-kitab sutra. Sedangkan kehidupan masyarakat dikelompokan menjadi 4 (empat) asrama sesuai dengan warna dan dharmanya masing-masing, antara lain: 1. Brahmacari asrama atau masa belajar. 2. Grhastha asrama atau masa berumah tangga. 3. Wanaprastha asraina atau masa bertapa. 4. Sanyasin, yaitu masa pengabdian hidup secara penuh demi kepentingan dharma tanpa mengenal kembali kekampung halamannya. 3. Zaman Upanisad Berakhirnya zaman Brahmana dilanjutkan dengan zaman Upanisad. Kehidup-an beragama pada zaman ini bersumber pada ajaran-ajaran kitab Upanisad yang tergolong kitab-kitab Weda sruti yang dijelaskan secara filosofis. Pada zaman ini pula konsepsi akan keyakinan terhadap Pancasradha dijadikan titik tolak dan penentu dalam penerapan ajaran agama oleh para arifbijaksana dan para Maharsi. Disamping itu konsepsi tujuan hidup dan tujuan agama (Catur Purusartha dan Moksartham jagadhita ya caiti dharma) diformulasikan menjadi lebih jelas lagi. 3

Kata Upanisad berarti duduk dekat dengan guru untuk menerima wejangan-wejangan suci yang bersifat rahasia. Ajaran upanisad hanya diberikan oleh para gurunya kepada murid-murid yang setia dan patuh bertempat di tengah hutan dengan jumlah yang terbatas dan sistem pasraman. Ajaran upanisad disebut pula dengan nama rahasiopadesa atau aranyaka yang artinya ajaran rahasia yang ditulis di tengah hutan. Adapun isi pokok ajaran upanisad itu adalah berhubungan dengan pembahasan tentang hakekat Pancasradha tattwa. Disebut-sebut sampai saat ini banyak jumlah kitab-kitab upanisad itu ada 108 buah kitab. Dengan sistem pengajaran pasraman itu akhimya timbulah berbagai aliran filsafat keagamaan yang masing-masing menunjukkan untuk menemukan kebahagiaan (moksa) dengan caranya sendiri-sendiri. Adapun jumlah aliran filsafat yang ada pada saat itu sebanyak 9 (sembilan) jenis yang disebut juga dengan nama Nawa Darsana, antara lain; 1. Kelompok Astika (Sad Darsana), terdiri dan: a. Nyaya b. Waesisika a. Budha b. Carwaka c. Jaina. Demikianlah perkembangan agama Hindu di India dan berkembang ke Negara-negara lain di seluruh dunia seperti: Mesir (Afrika) Sebuah prasasti dalam bentuk incripsi yang berhasil digali di Mesir berangka tahuh 1280 S.M. Isinya memuat tentang perjanjian antara raja Ramases II dengan bangsa Hittite. Dalam perjanjian yang dilaksanakan oleh Raja Ramases II dengan bangsa Hittite tersebut, Maitravaruna sebagai dewa kembar dalam Weda telah dinyatakan sebagai saksi. Maitravaruna adalah sebutan dari Tuhan Yang Maha Esa dalam konsep ke Tuhanan agama Hindu. Raja-raja Mesir dijaman purbakala mempergunakan nama-nama seperti; c. Mimamsa d. Samkhya e. Yoga f. Wedanta

2. Kelompok Nastika (Tri Darsana), terdiri dari:

Ramesee I, Rameses II, Rameses III dan seterusanya. Tentang kata Rameses, mengingatkan kita kepada Rama yang terdapat dalam kitab Ramayana. Mexico Mexico terbilang negeri yang sangat jauh dari India. Masyarakat negeni ini dikatakan telah terbiasa merayakan sebuah hari raya pesta-ria yang disebut dengan hari Rama-Sita. Waktu hari pesta-ria ini memiliki hubungan erat dengan waktu hari suci Dussara atau Navaratri dalam agama Hindu India. Penduduk jaman purbakala yang ada di daerah-daerah Mexico adalah orang-orang Astika yaitu orang-orang yang percaya degan keberadaan Weda-Weda. Festipal Rama-Sita yang dirayakan oleh masyarakat Mexico dapat disamakan dengan perayaan hari Dussara atau Navaratri. Penemuan patung Ganesa kita hubungkan dengan area Ganesa sebagai putra Dewa Siwa dalam mithelogi Hindu. Masyarakat Astika adalah suku bangsa Aztec itu sendiri yang kebanyakan diantara mereka memiliki kepercayaan memuja Dewa Siwa. Kota Kalifornia Kalifomia adalah sebuah Kota yang terdapat di Amerika. Nama Kota ini diperkirakan memiliki hubungan dengan kata Kapila Aranya Di Kota Kalifornia terdapat Cagar Alam Taman Gunung Abu Ash Mountain Park dan sebuah Pulau Kuda Horse Island di Alaska - Amerika Utara. Kita mengenal kisah dalam kitab Purana tentang keberadaan Raja Sagara dan enam puluh ribu (60.000) putra-putranya yang dibakar abis hingga menjadi abu oleh Maharsi Kapila. Raja Sagara memerintahkan kepada putraputranya untuk menggali bumi menuju ke Patala-loka dalam rangka kepergian mereka mencari kuda untuk persembahan. Oleh putra-putra Raja Sagara, kuda yang dicari itu diketemukan di lokasi Maharsi Kapila mengadakan tapabrata. Oleh karena kedatangan mereka putra raja sagara mengganggu proses tapabrata beliau, akhimya Maharsi Kapila memandang putra-putra raja itu dengan pandangan amarah sampai mereka musnah menjadi abu. Kata Patala-loka memiliki arti negeri dibalik India, yaitu benua Amerika. Kata Kalifornia memiliki kedekatan dengan kata Kapila Aranya. Kondisi ini memungkinkan sekali karena secara nyata dapat kita ketahui bahwa di Amerika terdapat cagar alam Taman Gunung Abu yang kemungkinan sekali 5

berasal dan abunya putra-putra raja Sagara yang berjumlah enampuluh ribu dan nama pulau kuda yang diambil dari nama kuda persembahan raja sagara. Australia Penduduk negeri Kangguru ini memiliki jenis tarian tradisional yang disebut dengan Siwa Dance atau Tan Siwa. Siwa Dance adalah semacam tarian yang umum berlaku diantara penduduk asli Australia. Indonesia Dari India pengaruh agama Hindu menyebar ke seluruh dunia, dan akhimya sampailah di Indonesia. Bersamaan dengan berkembangnya pengaruhb Hindu keseluruh dunia termasuk Indonesia, maka terjadilah akulturasi antara kebudayaan asli Indonesia dengan kebudayaan India yang dijiwai oleh agama Hindu. Pengaruh agama Hindu dapat diterima oleh bangsa Indonesia dengan damai santhi. Dengan demikian perkembangan agama Hindu di Indonesia menjadi sangat subur dan berpariasi, sebagaimana bukti-bukti yang ada dan kita ketahui, seperti Kerajaan. Kutai, kerajaan Tarumanegara, kerajaan Kaling, kerajaan Majapahit yang merupakan jaman keemasan Agama Hindu di Indonesia.

BAB II KEPEMIMPINAN Pemimpin dan kepemimpinan ibarat mata uang. Dapat berfungsi bila kedua sisinya untuh dan saling mengisi. Bila salah satu tidak ada maka tidak dapat berfungsi sebagaimana yang kita harapkan. Untuk dapat dan bisa menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah, semuanya itu memerlukan perjuangan, pengorbanan, pembelajaran tentang hal-hal yang berbubungan dengan pemimpin dan kepemimpinannya itu. Kepemimpinan adalah keseluruhan aktivitas/tindakan untuk mempengaruhi serta menggiatkan orang dalam usaha bersama untuk mencapai tujuan. Seorang pemimpin dalam kepemimpinannya dinyatakan berfungsi untuk menggiatkan atau menggerakkan bawahannya. Fungsi menggerakkan adalah fungsi pembimbingan dan pemberian pemimpin serta menggerakkan orang-orang atau kelompok orangorang itu agar suka dan mau bekerja. Dalam hal ini fungsi pimpinan adalah sangat penting. Karena biar bagaimanapun juga rapmya perencanaan yang dilakukan oleh pemimpin serta tertibnya pengorganisasian ataupun tepatnya penempatan orang, ini belum menjamin dapat bergeraknya organisasi kearah sasaran atau tujuan. Menggerakkan orang mengandung arti untuk menjadikan para bawahan sadar dengan tugas yang diembannya tanpa menunggu perintah atasannya, ini bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Untuk itu seorang pemimpin perlu memiliki kecakapan, ketekunan, keuletan, pengalaman serta kesabaran. Dan untuk itu masing-masing pimpinan perlu mengetahui watak bawahannya. Misalnya orang yang berwatak halus, semestinya juga diperintah secara halus. Karena bila diperlakukan secara kasar atau keras mungkin sekali bisa membuat yang bersangkutan menjadi kecewa, tidak bergairah, tidak bersemangat dan tidak tertutup kemungkinan menjadi putus asa. Demikian pula sebaliknya kalau bawahannya berwatak kasar atau keras, bila disuruh secara halus mungkin rnenganggap atasannya lemah. Untuk mengetahui watak seseorang secara pasti memang sulit, tetapi dalam situasi seperti ini dapat dibantu dengan mengenali tipetipe seseorang yang dipimpin maupun yang memimpin. Ada beberapa tipe-tipe kepemimpinan, antara lain: 7

a. Tipe Kharismatis Tipe pemimpin kharismatis ini memiliki kekuatan energi, daya tarik dan perbawa yang luar biasa untuk mempengaruhi orang lain, sehingga ia mempunyai pengikut yang sangat besar jumlahnya dan pengawal-pengawal yang bisa dipercaya. Sampai sekarangpun orang tidak mengetahui benar sebabsebabnya, mengapa seseorang itu memiliki kharisma begitu besar. Dia dianggap memiliki kekuatan ghaib (supernatural power) dan kemampuan-kemampuan yang superhuman, yang diperolehnya sebagai karunia Tuhan Yang Maha Kuasa. Dia banyak memiliki inspirasi, keberanian, dan berkeyakinan teguh pada pendirian sendiri. Totalitas kepribadian pemimpin itu memancarkan pengaruh dan daya tarik yang teramat besar. b. Tipe Paternalistis Tipe Patemalistis adalah tipe kepemimpinan yang kebapakan, dengan sifat-sifat antara lain sebagai berikut: a. Dia menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak/belum dewasa, atau anak sendiri yang perlu dikembangikan. b. Dia bersikap terlalu melindungi (Overly protective). c. Jarang dia memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan sendiri. d. Dia hampir-hampir tidak pernah memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk berinisiatif. e. Dia tidak memberikan atau hampir-hampir tidak pemah memberikan kesempatan pada pengikut atau bawahnnya untuk mengembangkan imajinasi dan daya kreativitas mereka sendiri. f. Selalu bersikap maha tahu dan maha benar. c. Tipe Militeristis Tipe ini sifatnya seperti kemiliter-militeran. Namun hanya gaya luarnya saja yang mencontoh gaya militer. Tetapi jika dilihat lebih seksama, tipe ini mirip sekali dengan tipe kepemimpinan otoriter. Hendaknya dipahami, bahwa tipe kepemimpinan militeristis itu berbeda sekali dengan kepemimpinan organisasi militer (seorang tokoh militer). 8

Adapun sifat-sifat pemimpin militeritis adalah: a. Lebih banyak menggunakan sistem perintah/komando terhadap bawahannya, keras sangat otoriter, kaku dan sering-kali kurang bijaksana. b. Menghendaki keputusan mutlak dari bawahan. c. Sangat menyenangi formalitas, upacara-upacara ritual dan tanda-tanda kebesaran yang berlebih-lebihan. d. Menuntut adanya disiplin keras dan kaku dari bawahannya (disiplin kader/mayat). e. Tidak menghendaki saran, usul, sugesti, dan kritik-kritik dari bawahannya. f. Komunikasi hanya berlangsung searah saja. d. Tipe Otokratis (Outhorltative, Dominator) Kepemimpinan otokratis itu mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan yang mutlak harus dipatuhi. Pemimpinnya selalu mau berperan sebagai pemain tunggal pada a oneman show. Dia berambisi sekali untuk merajai situasi. Setiap perintah dan kebijakan ditetapkan tanpa berkonsultasi dengan bawahannya. Anak buahnya tidak pernah diberi infonnasi secara mendetail mengenai rencana dan tindakan yang harus dilakukan. Semua pujian dan kritik terhadap segenap anak buah diberikan atas pertimbangan pribadi penimpin sendiri. e Tipe Laissez Faire Pada tipe kepemimpinan Laissez Faire ini, seorang pemimpin praktis tidak memimpin; dia membiarkan kelompokknya dan setiap orang berbuat semau sendiri. Pemimpin tidak berpartisipasi sedikitpun dalam kegiatan kelompoknya. Semua pekerjaan dan tanggung jawab harus dilakukan oleh bawahan sendiri. Dia merupakan pemimpi simbul, dan biasanya tidak memiliki ketrampilan tekhnis. Sebab duduknya sebagai Direktur atau pemimpin, Ketua Dewan, Komandan, Kepala, biasanya diperolehnya melalui penyogokkan, suapan atau berkat sistem nepotisme.

f. Tipe Populistis

Prof. Peter Worsley dalam bukunya : The Third World, mendifinisikan kepemimpinan Populistis sebagai kepemimpinan yang dapat membangunkan solidaritas rakyat-misalnya IR. Soekarno dengan ideologi Marhaenismenya yang menekankann masalah kesatuan nasional, nasionalisme dan sikap yang berhati-hati terhadap kolonialisme dan penindasan-pengisapan serta penguasaan oleh kekuatan-kekuatan asing (luar negeri). Pemimpin dan kepemimpinan populistis ini berpegang teguh pada nilainilai masyarakat yang tradisional. Juga kurang mempercayai dukungan kekuatan serta bantuan hutang-hutang luar negeri (asing). Kepemimpinan jenis ini mengutamakan penghidupan (kembali) Nasionalisme. Dan oleh Prof. S.N. Eisenstadt, populisme erat dikaitkan dengan modernitas tradisional. g. Tipe Administratif atau Eksekutf Kepemimpinan tipe administratif ialah kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan tugas-tugas administratif secara efektif. Sedang para pemimpinnya terdiri dan teknorat dan administratur-administratur yang mampu menggerakkan dinamika modernisasi dan pembangunan. Dengan demikian dapat dibangun sistem administrasi dan birokrasi yang efisien untuk memerintah, yaitu untuk memantapkan integritas bangsa pada khususnya dan usaha pembangunan pada umumnya. Dengan kepemimpinan administratif ini diharapkan adanya perkembangan tekhnis yaitu teknologi, industri, manajemen modern dan perkembangan sosial di tengah masyarakat. h. Tipe Demokrasi Tipe kepemimpinan demokratis pada umumnya berorientasi pada manusia, dan memberikan bimbingan yang efesien kepada para pengikutnya. Terdapat koordinasi pekerjaan pada semua bawahan, dengan penekanan pada rasa tanggung jawab internal (pada diri sendiri) dan kerjasama yang baik. Kekuatan kepemimpinan demokrasi ini bukan terletak pada person atau individu pemimpin, tetapi kekuatannya justru terletak pada partisipasi aktif dari setiap warga/kelompok. Kepemimpinan demokratis menghargai potensi setiap individu, mau mendengarkan nasihat dan sugesti bawahan. Juga bersedia mengikuti keahlian 10

para spesialis dengan bidang masing-masing, mampu memanfaatkan kapasitas setiap anggota seefektif mungkin pada saat-saat dan kondisi yang tepat. Kepemimpinan demokrasi juga sering disebut sebagai kepemimpinan group developer. Pemimpin yang ideal dan yang diharapkan oleh orang-orang yang dipimpinnya adalah pemimpin yang mau dan mampu lebih mendahulukan tugas (kewajiban) dari pada mempergunakan wewenangnya. Hal ini mengingatkan kita dalam hidup dan kehidupan ini, lebih mengutamakan tugas dan kewajiban dan pada hak dan wewenang. Kewajiban dan hak serta tugas dan wewenang adalah dua hal yang sangat sulit dipisahkan, karena tidak ada tugas yang dapat dilaksanakan oleh seseorang tanpa ada wewenangnya, dan sebaliknya tidak ada hak yang dapat diperoleh oleh seseorang tanpa melaksanakan tugas atau kewajibannya terlebih dahulu. Kitab Tata Nagara Majapahit, karya Prof.M.Yamin dalam parwa III, rnenyebutkan ada empat sifat utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin (swamin, raja). Keempat sifat utama itu disebut dengan istilah Catur Kotamaning Nrpati yang terdiri dari: a. Jnana wisesa sudha : artinya seorang pemimpin atau swamin hendaknya memiliki pengetahuan yang luhur dan suci. Maksudnya adalah seorang pemimpin harus mengerti dan mengahayati ajaran-ajaran agama. b. Kaprahitaning praja : yaitu seorang pemimpin harus mampu menunjukkan belas kasihan kepada masyarakat. Maksudnya adalah seorang pemimpin harus dengan betul-betul menolong masyarakat yang menderita dengan perbuatan nyata, baik yang bersifat jasmaniah (material) maupun yang bersifat moral (rohaniah) yang ideal. c. Kawiryan : artinya seorang pemimpin harus berwatak pemberani atau pantang menyerah. Maksudnya adalah untuk menegakkan pengetahuan yang suci dan menolong rakyat yang menderita harus dilaksanakan dengan penuh keberanian, karena melaksanakan pengetahuan yang suci dan membela masyarakat yang menderita akan penuh dengan tantangan dan resiko.

11

d. Wibawa : artinya seorang pemimpin atau swamin harus berwibawa terhadap bawahannya dan masyarakatnya. Seoranmg pemimpin akan berwibawa apabila melaksanakan pengetahuan suci dan membela kepentingan masyarakat yang menderita dan memiliki keberanian. Lontar. Raja Pati Gundala ada menyebutkan bahwa seorang pemimpin atau swamin harus memiliki 3 (tiga) upaya untuk menghubungkan dirinya dengan masyarakat yang dipimpinnya, yang disebut dengan istilah Tri Upaya Sandhi, yang terdiri dari: a. Rupa: artinya seorang pernimpin atau swamin harus mengamat-amati wajah dari pada masyarakatnya, karena roman muka dan masyarakatnya dapat memberikan gambaran tentang keadaan bathin yang sesungguhnya dan masyarakatnya. Wajah yang akan menggambarkan apakah rakyatnya itu sedang dalam keadaan kesusahan. b. Wangsa: artinya suku (bangsa). Seorang pemimpin harus mengetahui susunan masyarakatnya (stratifikasi sosial) yang dipinpinnya. Dengan pengetahuan tersebut seorang pemimpin akan dapat menentukan sistem pendekatan atau motivasi yang harus dilakukan untuk masyarakat tersebut. c. Guna: artinya seorang pemimpin atau swamin harus mengtahui tingkat pengertian dan pengetahuan, dan ketrampilan (akal) yang dimiliki oleh masyarakat yang dipimpinnya. Dalam kitab Ramayana, Sri Rama mengajarkan kepada Gunawan Wibhisanna tentang kepemimpinan yang disebut dengan nama Asta Brata. Gunawan Wibhisana adalah pemimpin yang disiapkan untuk memimpin negara atau kerajaan Alengka Pura. Asta brata adalah delapan landasan mental/moral bagi seorang pemimpin. Ajaran ini juga termuat dalam kitab hukum Hindu yang disebut Manawa Dharmasastra. Untuk dapat menjadi seorang pemimpin yang sukses dan berhasil mewujudkan tujuan kepemimpinan, maka ia hendaknya dengan sngguh-ungguh mamahami, mengerti, menyikapi, dan melaksanakan dasar-dasar kewajiban, tanggung-jawab, serta kewenangan yang bijak sebagai pemimpin. Demikianlah semuanya itu telah diajarkan melalui sastra-sastra agama Hindu.

12

Pemimpin yang seperti tersebut di ataslah yang patut diteladani dalam pengabdian hidup ini. Dengan demikian masyarakat yang dipimpin dan para pemimpin dapat bekerjasama dengan utuh dalam membangun bangsa dan Negara ini.

13

BAB III YADNYA (KRAMANING SEMBAH) Setiap hari umat Hindu wajib melaksanakan persembahyangan. Dalam kurun waktu satu hari umat kita diwajibkan melaksanakan persembahyangan tiga kali. Apakah sembahyang itu? Kata sembahyang berasal dari kata sembah berarti memuja atau menghormat. Hyang adalah Tuhan Yang Maha Esa/Sang Hyang Widhi Wasa. Sembahyang adalah memuja/menghormat kepada Sang Hyang Widhi Wasa untuk memohon keselamatan dan ketenangan bathin. Badan kita ini perlu selamat dan rohani kita perlu ketenangan. Dengan demikian pengabdian hidup ini akan terarah dan terpusat. Sembahyang bagi kita adalah merupakan salah satu unsur dari pada yajna. Dengan yajna semua ini ada dan dengan yajna pula kita mengabdikan hidup ini. Siapapun orangnya suka beryajna hidupnya akan selalu tenang dan damai, karena dalam praktiknya kita dididik untuk menumbuhkan keiohklasan hidup. Beryajna bagi umat Hindu adalah merupakan salah satu kewajiban hidup dalam kehiduan ini. Kata yajna berasal dari bahasa sankerta dan akar kata Yaj yang berarti memuja, korban suci, persembahan, dan menjadikan suci. Beryajna dapat berarti: melakukan pemujaan, mengaturkan persembahan, melakukan korban suci, dan melakukan perbuatan untuk menjadi suci. Sekecil apapun bentuk-bentuk yajna yang dipersembahkan oleh umat, belumlah dipandang lengkap apabila tanpa dilkuti dengan upacara persembahyangan. Dengan sembahyang umat dapat merasakan getaran yang dipujanya. Semakin khusuk umat bersembahyang, maka akan semakin hebat getaran yang dipujanya dapat dirasakan. Kata sembahyang dinyatakan berasal dari bahasa Jawa Kuna, dan kata Sembah dan Hyang. Kata sembah berarti menghormat, takluk, menghamba, dan permohonan. Dan kata Hyang berarti dewa, dewi, terhormat dan suci. Sembahyang dapat diartikan meng-hormat atau takluk kehadapan para dewa-dewi sebagai manifestasi Tuhan Hyang Maha Esa guna memohon kesucian lahir dan bathin. Pada saat sembahyang, umat biasanya mempergunakan sarana tertentu baik yang bersifat niskala (tidak nampak) maupun sekala (nyata); diantaranya: pikiran, bunga, dan yang lainnya.

14

Sembahyang yang dilakukan oleh umat Hindu sesungguhnya sangat bermanfaat, diantaranya adalah dapat meningkatkan kesucian hati dan pikiran, menumbuhkan keihklasan, rasa aman, ketenangan jiwa, cinta kasih, mengatasi perbudakan material, melestarikan alam semesta, memelihara kesehatan jasmani, dan yang lain-nya. Sebagaimana dijelaskan diatas bahwa dalam bersembahyang itu diperlukan sarana untuk itu. Sarana yang dipergunakan itupun mengandung penuh makna, seperti halnya: bunga Bunga sebagai persembahan mengandung makna kesucian, cinta kasih dan yang lainnya. Pada saat umat Hindu melakukan persembahyangan selain mempersembahkan sesaji/banten juga dilantumkan berbagai macam mantra atau doa. Pelantunan mantra/doa yang baik dan benar dapat menambahkan hening dan khusuknya hati umat pada saat bersembahyang. Diantaranya mantra-mantra tersebut adalah Om prasadha stithi sarira suci nirmala ya namah swaha. Mantra ini biasanya dilantumkan saat umat menyatakan pribadinya telah duduk dengan sempurna kehadapan-Nya. Banyak jenis mantra lagi yang patut disampaikan oleh umat tatkala bersembahyang. Bait-bait mantra itu sedapat mungkin mesti dilafalkan oleh umat pada saat bersembahyang. Adapun langkah-langkah persiapan dalam rangka sembahyang perlu diketahui antara lain: 1. Asuci laksana yaitu membersihkan badan, pakaian, dan yang lainnya. 2. Mempersiapkan sarana ; bunga, kwangen, air dan dupa. 3. Menentukan tempat duduk sesuai kenyamanan masing-masing. 4. Menentukan sikap sembahyang, sesuai situasi dan kondisi (silasana atau bajrasana). 5. Dilanjukan dengan : pranayama, setelah itu melaksanakan Puja Trisandya. Setelah Puja Tri Sandya dilanjutkan dengan mengadakan Panca Sembah, yang urutan-urutannya sebagai berikut: a. Sembah Puyung, ditujukan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi/Sang Hyang Siwaraditya. Dengan mantram sebagai berikut ; Om atma tattwatma suddha main sewaha. b. Menyembah Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Sang Hyang Aditya. Dengan mantram Om adityasya paramjyoti, rakta teja namo stute, sweta pankaja madhyastha, bhaskara ya namo state. 15

c. Memuja Ista Dewa, dalam prabhawanya sebagai Siwa, dengan mantra Om nama dewa adhisthanaya sarwa wyapi wai siwaya, padmasana eka prathisthaya, ardhanareswarya namo namah. d. Menyembah Tuhan sebagai pemberi anugrah, dengan mantra Om anugraha manohara, dewa dattanugrahaka, arcanam sarwa pujanam namah sarwa nugrahaka. e. Sembah puyung, dengan mantra Om dewa suksma parsma acintya ya nama swaha. f. Mohon Tirtha. g. Mohon Bija. Demikianlah yang mesti dilakukan oleh umat Hindu untuk dapat menikmati keheningan pikiran dan ketenangan hatinya. Dalam pikiran yang hening dan hati yang tenang maka akan tumbuh inspirasi hidup untuk mewujudkan kesejahtraan dan kebahagiaan dalam kehidupan ini.

16

BAB IV HARI SUCI Pada hakekatnya semua agama memiliki hari suci atau hari-hari besar keagamaan. Demikian pula dalam agama Hindu banyak sekali memiliki hari-hari suci keagamaan seperti hari raya Nyepi, Galungan, Kuningan, Saraswati, Siwaratri dan yang lainnya. Hari-hari suci bagi umat Hindu merupakan hari yang sangat baik untuk melakukan pemujaan kehadapan Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) beserta segala manifestasi-Nya. .Oleh karena itu pada hari-hari tersebut merupakan hari -hari yang baik untuk melaksanakan yadnya. Untuk menentukan hari-hari suci didasarkan atas perhitungan wewanan, pawukon, tanggal panglong, dan sasih. Hal ini banyak dijelaskan di dalam Wariga yaitu pedoman untuk mencari ala-ayuning (baik-buruknya) hari atau dewasa. Hari suci yang dirayakan oleh seluruh umat disebut hari raya atau rerahinan gumi (jagat). Sedangkan hari suci yang dirayakan oleh kelompok kelompok tertentu disebut dengan nama odalan atau piodalan. Hari suci adalah hari yang dianggap istimewa dan disucikan oleh umat Hindu. Pada hari suci itu biasanya ada suatu kejadian istimewa yang bermanfaat akan keselamatan dan kerayuan pribadi atau kelompoknya. Dengan demikian umat Hindu bersangkutan merasa berkewajiban melaksanakan pemujaan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasinya atau prabhawa-Nya. Disamping itu bagi umat Hindu hari-hari suci tersebut dipandang sebagai hari yang baik untuk melaksanakan yajna. Berbagai macam proses, pninsip dan ketentuan yang melatar-bekangi perhitungan dan pelaksanaan atau perayaan hari-hari suci agama Hindu itu. Adapun dasar pethitungan yang dimaksucld seperti; 1. Sistem perhitungan wara, yaitu perhitungan yang didasarkan atas adanya wewaran, misalnya perpaduan antara Tri wara dengan Panca wara dan Sapta wara. 2. Sistem perhitungan wuku, yaitu perhitungan hari suci yang didasarkan atas pawukon, yakni dari wuku sinta sampai dengan watugunung. 3. Sistem pranatamasa, yaitu perhitungan hari suci yang didasarkan atas sasih. 17

4. Sistem tithi, yaitu perhitungan hari suci yang dihubungkan dengan peredaran bulan, seperti purnama dan tilem. 5. Sistem naksatra, yaitu hari suci yang dirayakan berdasarkan perhitungan musim atau yang bersifat musiman. 6. Sistem yoga, yaitu hari suci yang dirayakan berdasarkan perhitungan letak-letak tata surya atau planet-planet angkasa, mengingat keberadaan planet-planet tersebut sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan terutama manusia. 7. Sistem karana, yaitu hari suci yang dirayakan berdasarkan perhitungan pertemuan antara bulan dengan matahari. Demikian dasar perhitungan pelaksanaan hari suci agama Hindu yang dirayakan setiap 15 hari, 30 hari, 35 hari, 210 hari dan 360 hari sekali. Perayaan harihari suci yang dimaksud sudah tentu memiliki tujuan yang ingin diwujudkan yakni keselamatan/kerahayuan bhuwana alit dan bhuwana agung sebagaimana mana tersuratkan dalam kitab suci Weda yakni terwujudnya moksartham jagadhita ya ca iti dharma. Perhitungan baik buruknya hari ada didasarkan atas pananggal dan panglong: 1. Tangal atau pananggal disebut juga Sukia Paksa yang beranti bulan terang (setelah bulan mati) yaitu hari-hari setelah tilem; seperti hari pertama setelah tilem disebut tanggal apisan (tanggal: 1), hari kedua tanggal pindo (tanggal: 2) dan seterusnya sampai tanggal: 14 yang disebut purwani, dan tanggal :15 disebut purnama. 2. Panglong disebut juga Kresna Paksa yang berarti bulan gelap (waktu bulan gelap) yaitu hari-hari setelah purnama; seperti hari pertama setelah purnama disebut panglong apisan (pang;1) , han kedua disebut pang:2, dan seterusnya sampai panglong 14 yang disebut juga purwani, dan pang. 15 disebut tilem Tanggal atau pananggal dan panglong itu mempunyai perhitungan baik dan buruk hari (ala-ayu), disamping itu ada pula perhitungan sedang (tidak baik. dan tidak buruk atau madia). Demikian pula apabila pananggal panglong itu bertemu dengan sapta wara, panca wara, sasih, dan yang lainnya, maka akan muncul padewasan baik dan buruk (ala-ayu).

18

BAB V SUSILA Inti ajaran agama Hindu terdiri dari tiga bagian yang disebut Tri Kerangka agama Hindu. Tri Kerangka agama Hindu tersebut terdiri dari tattwa (filsafat), susila (etika), dan upacara (ritual). Ketiga aspek ini merupakan satu jalinan yang sangat erat hubungannya, dan satu dengan yang lain saling isi-mengisi. Jika diibaratkan seperti sebutir telur, upacara adalah kulit telor, susila adalah putih telur, dan tattwa adalah kuning telur. Bila salah satu bagian ini tidak ada atau rusak maka telur tersebut akan rusak. Pada bab ini akan dibahas bagian kedua dari Tri Kerangka agama Hindu tersebut yaitu Susila/Etika. Kata susila berasal dari bahasa Sanskerta yang terdiri dari kata Su artinya baik, dan Sila artinya tingkah laku. Jadi susila adalah tingkah laku yang baik. Di dalam kitab Wraspati tattwa, 26 dinyatakan mengenai arti kata sila dalam kalimat: Sila ngaranya angraksa acara rahayu. Kata susila mengandung pengertian prbuatan baik atau tingkah laku yang baik. Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, selalu ketergantungan satu dengan yang lainnya. Dalam hidup bersama ini diperlukan adanya suatu peraturan-peraturan untuk mengatur kebidupan ini. Peraturan atau pedoman dalam bertingkah laku yang baik disebut tata susila. Maka dari itu timbul suatu ajaran yang disebut Tat Twam Asi. Tat Twam Asi berarti itu adalah engkau (Tuan), semua makhluk itu adalah Engkau, Engakaulah awal mula roh (Jiwatman) dan Sat (prakerti) semua makhluk. :Hamba ini adalah makhluk yang berasal dariMu, oleh karena itu Jiwatmanku dan prakertiku tunggal dengan Jiwatman dan prakerti semua makhluk. Oleh karena itu aku adalah Engkau, aku adalah Brahman Aham Brahma Asmi. Demikianlah tercantum di dalam kitab Brhadaranyaka Upanisad. Ajaran susila ini hendaknya diusahakan oleh setiap manusia. Jadi prinsip dasar dan susila Hindu adalah adanya satu Atman yang meresapi segalanya. Ia merupakan roh terdalam dari semua makhluk, yang merupakan kesadaran murni. Bila kamu merugikan tetanggamu sebenamya kamu merugikan dirimu sendiri. Bila kamu merugikan makhluk hidup lainnya, sebenarnya kamu merugikan dirimu sendiri, karena segenap alam tiada lain adalah 19

dirimu sendiri. Inilah ajaran susila Hindu yang merupakan dasar kebenaran methapisik yang mendasari segala kode etik Hindu. Atman atau sang diri adalah satu. Satu kehidupan bergetar dalam semua makhluk. Di antara makhluk hidup, manusia merupakan makhluk paling istimewa, makhluk yang paling sempurna karena memiliki tri pemana (bayu, sabda, idep). Dengan idep manusia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk serta mampu melebur perbuatan buruk ke dalam perbuatan baik. Ajaran susila hendaknya diterapkan di dalam kehidupan kita di dunia ini, karena dunia inilah tempat kita berkarma. Pembenahan diri sendiri merupakan prioritas yang utama, di samping pembenahan diri dalam hubungan dengan orang lain. Kelahiran kita merupakan tangga untuk naik ke sorga. Oleh karena itu, kesempatan ini kita abdikan untuk meningkatkan diri dalam kebajikan agar tidak jatuh ke neraka. Untuk dapat meningkatkan diri, manusia harus mampu meningkatkan sifat-sifat baik dan mulia yang ada pada dirinya. Pada dasarnya dalam diri manusia ada dua kecendrungan, yaitu kecendrungan berbuat baik dan kecendrungan berbuat buruk. Sri Kresna di dalam kitab Bhagawadgita membagi kecendrungan budhi manusia menjadi dua bagian, yaitu: 1. Daiwi Sampad, yaitu sifat-sifat kedewaan. 2. Asun Sampad, yaitu sifat-sifat keraksasaan. Manusia di dalam bertingkah laku sangat dipengaruhi oleh tiga sifat yang disebut Triguna, yang terdiri dari: a. Satwam/satwa adalah sifat tenang. b. Rajas/rajah adalah sifat dinamis. c. Tamas/tamah adalah sifat lamban. Dengan demikian secara umum dikatakan bahwa Tn guna adalah V tiga macam sifat manusia yang mempengaruhi kehidupan manusia. Tri guna ini terdapat pada setiap orang hanya saja ukurannya berbeda-beda. Tri guna ini merupakan tiga macam elemen atau nilai-nilai yang ada hubungannya dengan karakter dari makhluk hidup khususnya manusia. Perbedaan ukuran masing-masing Tri guna dalam diri seseorang menyebabkan pembawaan dari manusia yang satu berbeda dengan yang lainnya.

20

Apabila kekuatan sattwam mengungguli rajah dan tamah, maka Atma mencapai moksa/kelepasan. Bila sattwam dan rajah sama kuatnya, maka Atma mencapai sorga. Jika kekuatan sattwam, rajah, dan tamah. berimbang, maka menjelmalah Atma sebagai manusia. Jika sifat rajah yang lebih unggul dari sattwam dan tamah, menyebabkan Atma jatuh ke alam neraka. Apabila sifat tamah yang lebih unggul dari sattwam dan rajah, maka Atma menjelma menjadi binatang dan tumbuh-tumbuhan. Dasa mala tergolong kedalam kelompok asubha karma, di samping tri mala, sad ripu, sad atatayi, dan sapta timira. Dasa mala merupakan sumber dari kedursilaan, yaitu bentuk perbuatan yang bertentangan dengan susila, yang cendrung kepada kejahatan. Semua perbuatan yang bertentangan dengan susila hendaknya kita hindari dalam hidup ini agar terhindar dari penderitaan. Ada sepuluh macam sifat yang tidak baik atau kotor yang disebut dasa mala. Adapun pembagian dari dasa mala tersebut adalah sebagai berikut: 1. 2. Tandri artinya orang yang malas, suka makan dan tidur saja, tidak tulus, hanya ingin melakukan kejahatan. Kleda axtinya berputus asa, suka menunda dan tidak mau memahami maksud orang lain. Sikap putus asa, suka menunda-nunda suatu pekerjaan adalah merupakan sikap yang didominasi oleh sifat-sifat tamas. 3. Leja artinya berpikiran gelap, bernafsu besar dan gembira melakukan kejahatan. Pikiran paling menentukan kualitas prilaku manusia dalam kehidupan di dunia ini. Pikiranlah yang mengatur gerak sepuluh indria sehingga disebut Raja Indria. Kalau Raja Indria tidak baik maka indria yang lain pun menjadi tidak baik pula. 4. Kutila artinya menyakiti orang lain, pemabuk, dan penipu. Menyakiti dan membunuh makhluk lain, lebih-lebih manusia merupakan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama. Kutil juga berarti pemabuk. Orang yang suka mabuk maka pikirannya akan menjadi gelap. Pikiran yang gelap akan membuat orang tersebut melakukan hal-hal yang bersifat negatif termasuk menyakiti orang lain, menipu dan sebaginya. Di dalam pergaulan ia akan terlihat kasar dalam berkata atau pun bertindak, suka menyakiti orang lain.

21

5.

Kuhaka artinya pemarah, suka mencari-cari kesalahan orang lain, berkata sembarangan, dan keras kepala. Bila kita emosi atau marah, kita mengeluarkan cairan adrenalin dalam darah kita. Ini memiliki pengaruh penurunan kekebalan pada badan kita sehingga kita akan menjadi sakit. Sebaliknya bila kita dipenuhi dengan kasih sayang dan kedamaian dalam pikiran, maka kita akan mengeluarkan cairan endorfin yang dapat menambah sistem kekebalan tubuh sehingga dapat mencegah penyakit.

6. 7.

Metraya adalah suka berkata menyakiti hati, sombong, irihati dan suka menggoda istri orang lain. Megata artinya berbuat jahat, berkata manis tetapi pamrih. Lain dimulut lain dihati, berkata manis karena ada udang dibalik batu, adalah perbuatan yang sering dilakukan oleh orang yang terlalu pamrih.

8.

Ragastri artinya bernafsu dan suka memperkosa. Ragastri merupakan sifatsifat yang bertentangan dengan ajaran agama. Sifat-ifat seperti itu sifat-sifat asuri sampat/sifat-sifat keraksasaan. Memperkosa kehormatan orang lain adalah perbuatan terkutuk dan hina.

9.

Bhaksa Bhuana artinya suka menyakiti orang lain, penipu, dan hidup berpoyapoya. Berpoya-poya bararti mempergunakan harta melebihi batas normal. Hal ini tidak baik dan melanggar dharma, yang dapat berakibat tidak baik pula. Sering kita lihat di masyarakat, bahwa kekayaan yang berlimpah jika penggunaannya tidak didasari oleh dharma pada akhimya justru menyebabkan orang akan masuk neraka, seperti mabuk, mencari wanita penghibur dan sebagainya.

10.

Kimburu artinya penipu dan pencuri terhadap siapa saja tidak pandang bulu, pendengki dan irihati. Sifat dengki dan irihati merupakan salah satu sifat yang kurang baik (asubha karma) yang patut dihilangkan.

22

BAB VI TEMPAT SUCI Tempat suci bagi penganut agama merupakani sarana atau salah satu alat untuk mengadakan kontak atau hubungan ke hadapan Tuhan yang dipujanya. Ditempat inilah umat melakukan konsentrasi memuja kebesaran Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai sumber dari segala sumber yang ada. Di samping itu keberadaan tempat suci suatu agama juga merupakan salah satu persyaratan untuk mendapatkan pengakuan dari negara. Tempat suci umat Hindu disebut dengan nama Pura. Tempat suci umat Hindu selain disebut dengan nama pura, juga disebut dengan nama Kahyangan atau Parhyangan dan Sanggah atau Merajan. Pura adalah tempat suci umat Hindu untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa besrta manifestasinya. Selain itu pura juga merupakan benteng umat Hindu yang bersifat rohaniah agar terlepas dari pengaruh-pengaruh yang kurang baik dalam kehidupan ini. Pura sebagai tempat suci pada umumnya dibagi menjadi tiga areal dalam satu komplek berbentuk garis horizontal. Adapun areal pura yang dimaksud adalah sebagai berikut: 1) Jeroan merupakan areal atau bagian terdalam dari pura, di mana pada bagian ini diletakan atau dibangun pelinggih-pelinggih utama yang melambangkan alam atas atau Swah Loka. 2) Jaba Tengah merupakan bagian tengah dari pura, areal ini melambangkan bagian tengah dari alam semesta yang disebut Bhuwah Loka. 3) Jaba Sisi merupakan bagian luar dari Pura. Areal ini melambangkan alam bawah dan alam semesta yang disebut Bhur Loka. Berdasarkan fugsinya, Pura dikelompokkan menjadi 2, yaitu: 1) Pura Jagat (umum) adalah pura yang berfungsi sebagai tempat suci untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta, segala macam prabhawaNya. 2) Pura Kawitan (khusus), adalah pura yang berfungsi sebagai tempat suci untuk memuja Atma Sidha dewata (roh suci leluhur) Tempat suci bagi umat Hindu pada umumnya disebut Pura. Bila kita mengadakan pengamatan langsung dalam kehidupan masyarakat Hindu maka kita akan dapat lihat banyak Pura disekitarnya, lebih-lebih bila kita mengadakan 23

pengamatan itu di sekitar masyarakat di Bali. Dunia memberikan nama bahwa Pulau Bali adalah sebagai pulau seribu Pura. Adapun jenis-jenis Pura itu bila dikelompokkan maka akan terdapat berbagai jenis Pura, diantaranya adalah : Pura Umum, Pura Teritorial, Pura Fungsional, dan Pura Khwitan. Pura Umum adalah Pura yang disungsung oleh semua lapisan umat Hindu. Penyungsung Pura ini tidak lagi membedakan klen, profesi ataupun ikatan wilayah. Pura Umum dikelompokkan lagi menjadi 3 (tiga) jenis diantaranya adalah : Pura Kahyangan Jagat, Pura Catur Lokaphala, dan Pura Dang Kahyangan. Pura Teritorial adalah jenis Pura yang memiliki ciri-ciri kesatuan wilayah sebagai tempat pemujaan Desa Pekraman. Pada Pura ini yang berkewajiban untuk mempertanggung jawabkan secara penuh adalah masyarakat Hindu yang menjadi anggota Desa Pekraman yang bersangkutan. Adapun yang tergolong jenis Pura Teritorial adalah Pura Kahyangan Tiga, yang terdiri dari : Pura Desa, Pura Puseh, dan Pura Dalem. Pura Fungsional adalah Pura yang penyungsungnya didasarkan atas adanya ikatan kekaryaan/profesi, seperti Pura Subak yang disungsung oleh para petani tanah basah, Pura Alas Arum disungsung oleh para petani lahan kering, Pura melanting disungsung oleh para pedagang, dan Pura segara disungsung oleh para Nelayan. Pura Kawitan adalah Pura yang penyungsungnya didasarkan atas ikatan keturunan/klen. Adapun jenis pemujaan ini adalah : Sanggah/Pemerajan keluarga/da-dia, Sanggah/Pemerajan Paibon, Pura Panti, dan Pura Pedarman. Pura sebagai tempat suci bagi umat Hindu hendaknya tetap dijaga kesuciannya dengan menegakkan tata tertib masuk Pura, seperti misalnya tentang hal ; berpakaian, sikap atau prilaku seseorang untuk memasuki Pura, dan kesucian seseorang yang memasuki Pura itu. Bila seseorang dalarn keadaan cuntaka baik secara pribadi maupun Umum, dilarang untuk masuk areal tempat suci/Pura itu. Keberadaan Pura sebagai tempat suci sebenarnya mempunyai fungsi ganda dalam artian selain digunakan untuk kegiatan-kegiatan kesucian, juga berfungsi untuk kegiatan pendidikan serta mengembangkan ethika. Demikianlah Pura sebagai tempat suci bagi umat Hindu, hendaknya dapat difungsikan sesuai dengan keperluannya dan dilestarikan keberadaannya karena 24

sangat bermanfaat bagi umat baik dalam hubungan rohani maupun jasmani. Semakin tersucikannya Pura itu maka tujuan umat untuk mewujudkan Jagadhita. dan moksa dalam kehidupan ini semakin jelas adanya.

25

BAB VII AMTA SRADDHA Sraddha/keyakinan sebagai dasar kepercayaan Hindu bersumber pada pustaka suci Weda, yang tersebar pada naskah sruti dan smrti. Dengan memahami dasar sraddha maka pelaksanaan ajaran Agama akan semakin mantap. Dasar pelaksanaan ajaran agama Hindu ada 5 (lima) keyakinan yang disebut Panca Sraddha, yaitu: 1. Percaya kepada adanya Brahman 2. Percaya kepada adanya Atman 3. Percaya kepada adanya Karmaphala 4. Percaya kepada adanya Punarbhawa 5. Percaya kepada aclanya Moksa. Kelima sraddha ini saling berkaitan satu dengan yang lainnya sehingga merupakan satu kesatuan yang saling menunjang dan tidak dapat berjalan sendirisendiri. Namun pada pembahasan ini hanya menjelaskan tentang sraddha yang kedua yaitu Atma Sraddha, Atma sebagai sumber hidup. Atma merupakan percikan kecil dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Brahman). Dari segi etimologi kata Atma berasal dari bahasa sanskerta yang berarti jiwa atau roh. Atma merupakan hidupnya hidup. Atma dalam Agama Hindu dipandang sebagai kesadaran sejati yang memberikan hidup kepada badan jasmani. Dalam kitab Upanisad disebutkan bahwa pada hakekatnya Atma itu adalah Brahman. Hal ini dinyatakan dengan kalimat Brahman atman aikyam . artinya Brahman dan Atma itu tunggal adanya. Brahman adalah asas kosmis atau asas alam semesta, sedangkan atma adalah asas hidup manusia. Atma juga disebut Jiwa karena ia memberikan hidup pada raga atau badan jasmani. Jiwa yang masuk dan memberikan hidup pada makhluk hidup disebut Jiwatman. Dengan demikian Atma memiliki peranan yang sangat penting di dalam tubuh/badan dibandingkan dengan organ-organ yang lain. Ketika anggota-anggota tubuh satu-persatu meninggalkan badan, orang itu masih hidup, namun pada waktu Atma meninggalkan badan tubuh akan mati. Demikianlah keberadaan Atman sebagai hidupnya hidup dan semua kesadaran tubuh berasal dari Atma. 26

Dari uraian tersebut dapat kita sebutkan tentang fungsi Atma adalah sebagai berikut: 1. Sebagai sumber hidup citta (alam pikiran) dan badan. 2. Bertanggung jawab atas baik buruknya segala perbuatan 3. Sebagai sumber tenaga hidup dan suksma sanira. Pada hakekanya Atma adalah Brahman. Dalam kitab upanisad disebutkan Brahman Atman Aikyam yang artinya : Brahman dan Atman itu adalah satu adanya. Brahman adalah asas kosmos atau asas alam semesta, sedangkan Atman adalah hidup manusia atau asas prdadi. Cara mewujudkan hakekat Brahman dalam kehidupan ini adalah dengan terlebih dahulu memahami sifat-sifat dari Atman itu sendiri, yang pada dasarnya memiliki sifat-sifat yang sama dengan sifat-sifat Brahman. Adapun sifat-sifat Atma adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Acchodya artinya tidak terlukai oleh senjata. Adahya artinya tidak terbakar oleh api. Akledya artinya tidak terkeringkan oleh angin. Acesya artinya tidak terbasahi oleh air. Nitya artinya abadi Sarwagatah artinya ada dimana-mana. Sthanu artinya tidak berpindah-pindah. Acala artinya tidak bergerak. Sanatana artinya selalu sama/kekal. Awyakta artinya tidak dilahirkan. Achintya artinya tidak terlahirkan. Awikara artinya tidak berubah. Seperti telah disebutkan bahwa Atma merupakan percikan kecil dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Brahman). Atma merupakan kesadaran yang sejati, yang memberikan hidup kepada makhluk hidup. Atma merupakan asas hidup manusia atau asas pribadi. Dalam kitab Upanisad disebutkan bahwa Atman memiliki peran yang sangat penting dibandingkan dengan organ-organ yang lainnya. Jika anggotaanggota tubuh yang lain satu-persatu meninggalkan badan, orang itu masih hidup, namun jika Atman meninggalkan tubuh maka orang itu akan mati. Demikianlah

27

keberadaan Atman sebagai hidupnya hidup dan semua kesadaran tubuh berasal dari Atman. Atma merupakan bagian dari Paratma yang memiliki sifat-sifat kesucian yang sama dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Namun setelah Atma masuk kedalam tubuh, iapun kena pengaruh maya dengan segala wujudnya. Karena pengaruh maya maka Atma menikmati wisayanya dan Atma menjadi Awidya, sehingga tidak lagi mengetahui atau menyadari sifat-sifat aslinya. Awidya inilah menyebabkan Atma semakin jauh dari asalnya yaitu Brahman. Jadi manusia lahir dalam keadaan awidya yang menyebabkan ketidak sempurnaannya. Atma tidak pernah mengalami kelahiran dan kematian, tetapi badan manusia mengalami kematian. Jadi hanya badan yang hancur namun Atmanya tetap kekal. Apabila badan berpisah dengan jiwatma maka pada waktu itu manusia disebut mati. Jiwatma yang kekal itu akan mengalami sorga dan neraka sesuai dengan perbuatannya. Jiwatma itu tidak menetap selamanya disana, ia akan turun lagi mengambil wujud baru sesuai dengan karmawesananya. Kelahiran itu bukan hanya sekali tetapi berulangulang yang disebut Punarbhawa. Penjelmaan terus berlanjut sampai sampai suatu saat jiwatma sadar akan hakekat dirinya sendiri serta dapat melepaskan dirinya dari ikatan maya dan manunggal dengan Brahman (Moksa). Bahwa pada dasarnya Atma adalah Brahman yang seutuhnya. Namun karena keterbatasan kemampuan seseorang tidak mengetahui bahwa Atman yang ada pada dirinya itu sesungguhnya adalah Brahman. Brahman (Atma) sebagai sumber hidup, sedangkah alam pikiran dan badan wadahnya adalah alat untuk hidup. Badan/tubuh manusia terdiri dari tiga lapis badan yang disebut Tri Sarira. Tri Sarira terdiri dari: 1. Sthula sarira yaitu badan kasar terdiri dari : tulang , daging, otot, sumsum, darah dan kulit, yang semuanya itu dibentuk oleh unsur-unsur Panca mahabhuta, 2. Suksma sarira yang dibentuk oleh budhi, manah dan ahamkara. 3. Antahkarana sarira yaitu badan penyebab.

28