Anda di halaman 1dari 8

Hasil Pemeriksaan BPK atas Penetapan, Penyaluran, dan Penerimaan Dana Perimbangan

(http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/imas/2008/09/03/hasil-pemeriksaan-bpk-ataspenetapan-penyaluran-dan-penerimaan-dana-perimbangan/)

Adakah permasalahan dalam penetapan alokasi dan penyaluran dana perimbangan? Bila ada, apakah permasalahannya? Apakah temuan dan rekomendasinya?

Berdasarkan UU No. 15 Tahun 2006 dan UU No. 15 Tahun 2004, BPK RI telah melakukan pemeriksaan terhadap penetapan alokasi dan penyaluran Dana Perimbangan oleh Pemerintah Pusat serta penerimaan Dana Perimbangan oleh Pemerintah Daerah Tahun Anggaran (TA) 2006 dan Semester I TA 2007.Sehubungan dengan mandat tersebut, BPK telah menyerahkan Laporan Hasil Pemeriksaan atas Penetapan, Penyaluran, dan Penerimaan Dana Perimbangan TA 2006 dan Semester I 2007 kepada DPR RI, DPD RI, dan Presiden, melalui Surat Ketua BPK No. 15/S/I-IV/03/2008 tanggal 10 Maret 2008.

Pemeriksaan dilakukan pada Pemerintah Pusat (Departemen Keuangan dan instansi terkait lainnya), 33 Pemerintah Provinsi dan 210 Pemerintah kabupaten/kota. Pemeriksaan tidak mencakup penggunaan Dana Perimbangan yang telah dilaporkan dalam Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.

Dana Perimbangan adalah dana yang bersumber dari Pemerintah Pusat yang dialokasikan kepada Pemerintah Daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi, yang terdiri dari Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Dana Bagi Hasil (DBH).

Pemeriksaan yang dilakukan merupakan pemeriksaan dengan tujuan tertentu, yaitu untuk menilai:

1. Apakah sistem pengendalian intern atas penetapan alokasi, penyaluran dan penerimaan Dana Perimbangan telah memadai, dan

2. Apakah penetapan alokasi, penyaluran dan penerimaan Dana Perimbangan telah dilakukan secara tepat jumlah, tepat waktu dan tepat rekening serta sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

Sebagai kesimpulan hasil pemeriksaan, BPK menyatakan bahwa: Pemerintah telah berupaya menyempurnakan mekanisme penetapan alokasi dan penyaluran Dana Perimbangan. Namun demikian masih terdapat beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dari pemerintah berkaitan dengan desain pengendalian intern maupun pelaksanaannya.

Hasil evaluasi atas sistem pengendalian intern menyimpulkan adanya kelemahan yang signifikan, di antaranya adalah:

1. Lemahnya koordinasi antara Pemerintah dan DPR dalam mengimplementasikan ketentuan Dana Perimbangan, khususnya UU No. 33 Tahun 2004 dan PP No. 55 Tahun 2005, sehingga terdapat penetapan alokasi Dana Perimbangan bertentangan dengan kedua ketentuan tersebut. 2. Masih kurang efektifnya koordinasi antara Departemen Keuangan, Departemen Teknis, dan Pemerintah Daerah dalam menentukan besarnya realisasi DBH Sumber Daya Alam (DBH SDA) sehingga penyaluran DBH SDA terlambat. 3. Adanya peluang terjadi penyalahgunaan kebijakan Pemerintah Pusat pada tahun 2006 yang memberikan perintah kepada Pemerintah Daerah untuk segera mencairkan DAK pada akhir tahun tanpa melihat kesiapan Pemerintah Daerah untuk merealisasikannya.

Sedangkan temuan pemeriksaan yang signifikan, antara lain:

1. Tidak adanya harmonisasi dan konsistensi antara ketentuan Pasal 4 ayat 3 Peraturan Presiden No. 104 Tahun 2006 tentang Penetapan Alokasi DAU dengan peraturan yang lebih tinggi sehingga beberapa daerah mendapat alokasi DAU lebih dari seharusnya sebesar Rp168,46 miliar. 2. Penghitungan Alokasi DAK tidak mengikuti kriteria umum, kriteria khusus, dan kriteria teknis yang ditetapkan sehingga alokasi DAK tahun 2006 sebesar Rp1,42 triliun dan tahun 2007 sebesar Rp1,07 triliun tidak mempunya dasar. 3. DBH SDA terlambat disalurkan dan terdapat DBH SDA tahun 2006 yang belum disalurkan sebesar Rp1,15 triliun.

4. Penerimaan Dana Perimbangan pada 45 Pemerintah Daerah senilai Rp1,54 triliun dilakukan tanpa melalui kas daerah, di antaranya sebesar Rp71,18 miliar digunakan secara langsung tanpa melalui mekanisme APBD dan sebesar Rp149,34 miliar belum disetorkan ke daerah.

Dari temuan hasil pemeriksaan tersebut, BPK merekomendasikan antara lain: pemerintah daerah yang masih menyimpan Dana Perimbangan di luar kas daerah, agar segera menyetorkan sisa dana tersebut ke kas daerah untuk meningkatkan akuntabilitas dan pengendalian atas Dana Perimbangan tersebut; Pemerintah Pusat menyempurnakan mekanisme penetapan alokasi, monitoring, dan rekonsiliasi dalam pengelolaan Dana Perimbangan, menyempurnakan ketentuan yang saling bertentangan dan tidak konsisten, serta segera merealisasikan dana yang belum disalurkan sesuai ketentuan.

Untuk lebih jelasnya, silakan membaca Laporan Hasil Pemeriksaan atas Penetapan, Penyaluran, dan Penerimaan Dana Perimbangan Tahun Anggaran 2006 dan Semester I 2007, pada website resmi: www.bpk.go.id pada menu Hasil Pemeriksaan dengan sub menu Hasil Pemeriksaan Parsial.

Download siaran pers ini

Sumber: www.bpk.go.id

Optimalisasi Penggunaan Dana Perimbangan - Kasus Pemarkiran Dana Perimbangan di SBI


(http://kuliahhurahura.blogspot.com/2010/03/optimalisasi-penggunaan-dana_20.html)

1. Pendahuluan

Salah satu agenda reformasi yang dicita-citakan untuk dicapai adalah pemberian otonomi daerah yang seluas-luasnya. Untuk merealisasikan agenda tersebut pada tahun 1999 terbentuklah dua undang-undang yang dikenal dengan undang-undang Otonomi Daerah, yaitu UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 25 tahun 1999 tentang

Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Kedua undang-undang ini selanjutnya disempurnakan dengan UU No.32 tahun 2004 dan UU No.33 tahun 2004.

Otonomi daerah dimaksudkan sebagai kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. Penyerahan wewenang ini lazim disebut dengan desentralisasi. Pemberian otonomi luas kepada daerah diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat. Di samping itu juga diarahkan untuk meningkatkan daya saing daerah berdasarkan potensi yang dimiliki.

Penyelenggaran desentralisasi ini tentu saja memerlukan sumber pendanaan yang besar. Penyelenggaraan fungsi pemerintahan daerah akan terlaksana secara optimal apabila penyelenggaraan urusan pemerintahan diikuti dengan pemberian sumber-sumber penerimaan yang cukup kepada daerah. Sesuai pasal 5 UU No. 33 tahun 2004, sumber pendapatan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi terdiri dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), dana perimbangan, dan lain-lain pendapatan yang sah.

Bulan Februari yang lalu, Harian Suara Karya menyoroti masih banyaknya penempatan APBD terutama yang berasal dari dana perimbangan di Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Hal ini tentusaja kontradiktif dengan maksud alokasi dana perimbangan sebagai sumber pendanaan dan penggerak perekonomian daerah.

2. Pembahasan a. Sekilas Tentang Dana Perimbangan

Dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi, yang terdiri atas dana bagi hasil, dana alokasi umum, dan dana alokasi khusus. Dana Perimbangan selain dimaksudkan untuk membantu daerah dalam mendanai kewenangannya, juga bertujuan untuk mengurangi ketimpangan sumber pendanaan pemerintahan antara pusat dan daerah serta untuk mengurangi kesenjangan pendanaan pemerintahan antar daerah. Untuk tahun 2010 jumlah dana perimbangan yang dialokasikan bagi daerah mencapai Rp 306 triliun atau sekitar 29% dari belanja negara (NK dan APBN 2010, diolah)

Lalu timbul pertanyaan, seberapa besar sebenarnya peran dana perimbangan ini bagi keuangan daerah? Jika kita melihat komposisi sumber pendapatan tiap daerah (kabupaten/ kota), dana perimbangan ini mempunyai peran yang sangat vital. Untuk tahun 2009, proporsi dana perimbangan terhadap total pendapatan daerah secara nasional hampir mencapai 75% (DJPK, 2009 diolah). Dari angka tersebut jelaslah bahwa daerah sangat tergantung pada dana perimbangan tersebut guna menjalankan berbagai program dan kegiatan pebangunannya.

b. Pemarkiran Dana Perimbangan

Pemberitaan mengenai pemarkiran dana perimbangan ini sudah lama terdengar. Sebelum Suara Karya mengangkat isu ini, beberapa media sudah mengulasnya. Dari data Bank Indonesia, lebih dari Rp 50 triliun dana APBD diparkir di Surat Utang Negara (SUN) dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) (Harian Fajar, 2009). Hal ini memang menurun saat pemarkiran dana APBD ini pertama kali terungkap di media pada pertengahan 2007, di mana waktu itu hampir Rp 91 triliun dana APBD diparkir di SBI, sebagian besar merupakan Dana Alokansi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) yang seharusnya digunakan untuk menggerakkan sektor riil (Majalah Trust, 2007). Tetapi walaupun nilainya turun, angka Rp 50 triliun tersebut bukanlah angka yang kecil bagi pembangunan infrastruktur dan sektor riil di daerah.

SBI ini seperti mesin pencetak uang, hanya dengan memarkir uang di SBI tanpa melakukan pekerjaan apapun si-pemarkir bisa meraup banyak keuntungan dari suku bunga yang ditawarkan SBI yang relatif tinggi. Adanya pemarkiran dana perimbangan di berbagai bank termasuk dalam SBI tersebut akan menimbulkan dampak yang negatif bagi perekonomian daerah maupun perekonomian nasional pada umumnya. Pemarkiran ini tidak akan menghasilkan efek lebih. Daripada dianggurkan di bank, uang tersebut seharusnya dapat digunakan untuk pengembangan pendidikan, pembangunan infrastruktur, penanganan orang miskin, dan berbagai program lainnya untuk memajukan daerah. Pemarkiran itu juga dapat mengganggu penyerapan anggaran, selain itu beban pemerintah pusat dalam membayar bunga SBI juga menjadi semakin besar. Pemerintah daerah seharusnya lebih sensitif dalam mengelola dana ini, pemberian dana ini bukanlah formalitas dalam APBN tetapi lebih pada tanggungjawab pemerintah dalam menjalankan fungsinya yang meliputi distribusi, alokasi, dan stabilisasi.

Tetapi jika dilihat dari kacamata hukum, ada sedikit pembenaran dengan adanya pemarkiran dana ini. Daerah yang 'menidurkan' dananya di SBI bukankah langkah yang sepenuhnya

dapat disalahkan, sebab undang-undang memang menyatakan bahwa agar dana bagi keuangan daerah di tempatkan pada tempat yang memiliki tingkat resiko paling kecil. Yang patut dipersalahkan adalah secara etika moral dan tata kelola pemerintahan. Sebab bagaimana mungkin dana di simpan di SBI dan sementara pembangunan daerah terhambat, angka kemiskinan masih tinggi, fasilitas pendidikan yang masih buruk, dan pelayanan kesehatan yang belum optimal.

c. Penyebab Utama Pemarkiran Dana Perimbangan

Penyerapan APBD yang rendah adalah sebab utama pemarkiran dana perimbangan di SBI ini. Sampai akhir September 2009, realisasi APBD secara nasional baru mencapai 55%. Bahkan sampai akhir 2009 angka penyerapan APBD di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam hanya mencapai 51%, realisasi di Provinsi NTT hanya 76%, bahkan di DKI Jakarta hanya terserap 82% (Jurnal Indonesia, 2010). Rendahnya realisasi ini mencerminkan buruknya perencanaan dan pelaksanaan anggaran. Terhambatnya pengesahan anggaran akibat pembahasan di tataran politik yang berlarut-larut ikut menyumbang sebagai faktor utama rendahnya angka realisasi anggaran ini. Sebab lain yang sering diutarakan adalah panjangnya persiapan proyek dan sulitnya realisasi kegiatan proyek seperti pembebasan lahan.

Pasifnya pemerintah dalam menjalankan kebijakan-kebijakan pembangunan juga disinyalir menjadi sebab terjadinya ketidakoptimalan penggunaan dana perimbangan melalui pemarkiran di SBI ini. Bunga peminjaman yang mencapai 6,5% tanpa adanya risiko membuat pemerintah daerah memandang pemarkiran dana perimbangan sebagai pilihan yang utama. Sebagian juga tetap bersikeras bahwa dengan menempatkan dana nya di SBI tidak menyalahi peraturan perundang-undangan. Terlebih lagi dengan semakin intensif nya KPK dalam mengawasi kegiatan proyek di daerah membuat pemerintah daerah was-was dalam menjalankan proyek-proyek pembangunannya.

3. Kesimpulan dan Rekomendasi

Ketergantungan daerah terhadap dana perimbangan begitu besar. Pemarkiran dana perimbangan di SBI akan memberi dampak yang negatif bagi perekonomian daerah maupun perekonomian nasional pada umumnya. Penyerapan APBD yang rendah akibat dan kepasifan pemerintah daerah dalam menjalankan kebijakan disinyalir sebagai sebab utama pemarkiran dana perimbangan di SBI ini. Untuk itu perlu dilakukan langkah-langkah perbaikan terhadap dua masalah tersebut.

Penyerapan anggaran yang rendah akibat proses politik yang berlarut-larut, panjangnya persiapan proyek dan sulitnya realisasi kegiatan proyek seperti pembebasan lahan harus segera dicari jalan keluarnya. Masalah keterlambatan pengesahan anggaran karena proses politik yang berbelit-belit harus segera di atasi oleh pemerintah daerah. Ancaman pemotongan DAU akibat keterlambatan penetapan APBD sepertinya dapat mengurangi masalah ini. Proses persiapan proyek dan pelaksanaan yang cenderung lamban hendaknya juga menjadi perhatian yang serius oleh pemerintah daerah.

Demikian juga tentang kepasifan pemerintah daerah juga perlu mendapat perhatian. Pemerintah pusat dalam hal ini Departemen Keuangan harus berkonsolidasi dengan pemerintah daerah dan Bank Pembangunan Daerah sebagai penampung sebagian besar dana perimbangan ini. Mereka harus dalam satu visi bahwa pemberdayaan sektor riil melalui penggunaan dana perimbangan adalah tujuan utama konsep desentraliasi, bukan dengan memarkir dana tersebut di SBI untuk memperoleh bunga. Selain itu perangkat peraturan yang membatasi penempatan dana ini juga harus cepat di formulasikan. Sehingga konsep dana perimbangan dalam era otonomi tidak lagi diartikan sebagai auto money, si-pencetak uang otomatis. Dengan optimalisasi penggunaan dana perimbangan ini maka tujuan manajemen belanja publik (Allen dan Tommasi, 2001) untuk mengelola disiplin fiskal, mengalokasikan sumber daya sesuai piorotas, dan mendorong efisiensi pelayanan kepada masyarakat dapat tercapai. ~~~o0o~~~

Daftar Pustaka

Allen, Richard and Daniel Tommasi. "Managing Public Expenditure - A Reference Book for Transition Countries." 2009: 19-20.

Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan - Departemen Keuangan. Data APBD tahun 2009. http://www.djpk.depkeu.go.id/linkdata/apbd2009/A2009.htm (accessed February 27, 2010).

Kiryanto, Ryan. "SBI, Otonomi Daerah, dan Prospek Ekonomi Daerah." In Majalah Trust. 2007.

No Name. Hentikan Penempatan Dana Pemda di Bank. February 6, 2010. http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=245942 (accessed February 27, 2010).

. Meningkatkan Penyerapan Anggaran Pemerintah Daerah. January 11, 2010. http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/01/meningkatan-penyerapan-anggaran-pemerintahdaerah/ (accessed February 27, 2010).

. Rp 51,39 Triliun Dana Pemda Parkir di SBI. Mei 1, 2009. http://www.fajar.co.id/koran/1241143343FAJAR.UTM_1_3.pdf (accessed February 27, 2010).

Republik Indonesia. "NK dan APBN 2010."

. "UU No 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah."

. "UU No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah."