Anda di halaman 1dari 13

I. 1.

1 Latar Belakang

PENDAHULUAN

Perkembangan aplikasi material anorganik dewasa ini sudah sangat pesat. Penelitian aplikasi dari material anorganik terus dilakukan oleh para peneliti material anorganik untuk mengekspolari berbagai potensi dari material-material tersebut. Anda mungkin pernah mendengar istilah nanomaterial, baju antibakteri, clay, dan lain-lain. Istilah-istilah tersebut merupakan sebagian dari istilah yang mengacu pada material anorganik maupun aplikasinya. Pada pembahasan makalah ini akan mengkaji perkembangan mutakhir dari aplikasi material anorganik, yaitu berupa nanomaterial dan nanoteknologi karena semua material anorganik yang disintesis pada masa sekarang sudah dalam skala nanometer. Nanosains dan nanoteknologi (Iptek Nano) merupakan bidang kajian ilmu dan rekayasa material dalam ukuran nanometer. Nanoteknologi telah dipandang sebagai cara yang memberikan perubahan besar terhadap peradaban manusia di abad ke-21. Dengan teknologi ini, manusia dapat membangun sesuatu objek dalam skala nanometer dengan cara menyusun atom demi atom. Secara fundamental objek dalam skala nano memiliki sifat dan fungsi yang baru dan berbeda sama sekali dengan sifat dan fungsinya dalam ukuran yang lebih besar. Sifat elektronik, sifat magnetik, sifat optik, dan reaktivitas katalitik baru akan dijumpai dalam material berukuran nano (nanomaterial) di mana sifat baru ini tidak dijumpai pada material berukuran lebih besar dari 100 nanometer. Dua alasan utama yang mendasari perubahan sifat tersebut adalah meningkatnya luas permukaan dan munculnya efek ukuran kuantum (quantum size effect) pada material berukuran nanometer. Nanomaterial menjanjikan peluang untuk menciptakan teknologi baru dengan pencapaian melampaui apa yang telah dicapai oleh bidang komputer dan bioteknologi saat ini. Penerapan nanoteknologi ini diharapkan akan membawa perubahan drastic

1|Page

pada perubahan infrastruktur, semisal pembuatan komputer supercepat, pembuatan pesawat terbang yang lebih ringan, sintesis obat yang berperilaku seperti bom cerdas yang dapat terbawa oleh aliran darah tanpa kehilangan sifat aktifnya dan hanya akan meledak membunuh sel yang sakit saja serta dapat mengontrol jumlah keluarnya obat sehingga pasien tidak akan mengalami over dosis obat, pembuatan sel surya yang sangat efisien dan dapat menyimpan energi dalam baterai-baterai berkinerja tinggi dari material nano, yang tahan lama dengan waktu isi ulang yang cepat, dan aplikasi-aplikasi luar biasa lainnya yang dapat terus dieksplorasi dari nanomaterial (Arryanto et al., 2007). Salah satu senyawa nanomaterial yang dibahas dalam makalah ini adalah pasir besi (Fe3O4) berukuran nano yang memiliki sifat ferimagnetik dan memiliki peluang aplikasi yang luas. Pengaplikasian pasir besi (Fe3O4) yang berukuran partikel nano merupakan alternatif yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri di bidang elektronik yang dalam perkembangan dan kebutuhannya kian meningkat. Fe3O4 berukuran nano memiliki aplikasi pada bidang industri seperti; keramik, katalis, energy storage, magnetic data storage, ferofluida, maupun dalam diagnosis medis. Salah satu metode sintesis yang dibahas dalam makalah ini adalah metode kimia basah yang pada pembuatan partikel nano Fe3O4 merupakan cara alternatif sejak diketahuinya kekurangan dari metode keramik konvensional. Sintesis kimia basah dari tingginya reaktivitas serbuk ternyata merupakan cara sangat efektif untuk menurunkan temperatur sintering dari ferit. Macam-macam metode sintesis kimia antara lain : kopresipitasi, sintesis hidrotermal, metode prekursor sitrat, metode keramik-gelas (glass ceramic) dan proses sol-gel (Costaa et al., 2003). Metode sintesis kimia Fe3O4 yang dibahas dalam makalah ini adalah metode sederhana dalam fabrikasi partikel nano Fe3O4 yang berasal dari Aldrich dengan metode kopresipitasi, dengan menggunakan pasangan asam dan basa, yaitu HCl sebagai pelarut dan NH4OH sebagai pengendapnya sehingga akan menghasilkan

2|Page

partikel nano Fe3O4. Metode ini dilakukan pada suhu 70oC dengan peralatan yang sederhana. 1.2 Rumusan Masalah Masalah yang dibahas dalam makalah ini yaitu: 1. Bagaimana mensintesis partikel nano dengan ukuran kristal 100 nm berbahan dasar Fe3O4 yang berasal dari pasir besi alam dan Fe3O4 bahan komersial pabrik (aldrich) dengan metode kopresipitasi ? 2. Bagaimana membandingkan komposisi fasa, morfologi dan sifat kemagnetan Fe3O4 yang berasal dari pabrik (Aldrich) dan bahan alam yang dihasilkan dari proses sintesis ? 3. Bagaimana aplikasi partikel nano Fe3O4 ? 1.3 Tujuan Tujuan pembahasan makalah ini yaitu: 1. Mengetahui proses sintesis partikel nano dengan ukuran kristal 100 nm berbahan dasar Fe3O4 yang berasal dari pasir besi alam dan Fe3O4 bahan komersial pabrik (aldrich) dengan metode kopresipitasi. 2. Mengetahui cara membandingkan komposisi fasa, morfologi dan sifat kemagnetan Fe3O4 yang berasal dari pabrik (Aldrich) dan bahan alam yang dihasilkan dari proses sintesis. 3. Mengetahui aplikasi dari partikel nano Fe3O4.

3|Page

II. 2.1 Karakteristik Pasir Besi

PEMBAHASAN

Pasir besi pada umumnya mempunyai komposisi utama besi oksida (Fe3O4 dan Fe2O3), silikon oksida (SiO2), serta senyawa-senyawa lain dengan kadar yang lebih rendah. Komposisi kandungan pasir dapat diketahui setelah dilakukan pengujian, misalnya dengan menggunakan XRD (X-Ray Difraction) atau XRF (XRay Flouresence), sehingga dapat digunakan dalam penelitian ini. Hal ini dapat menambah nilai jual pasir, misalnya dengan memperkecil ukuran partikelnya menjadi partikel nano. Sifat Oksida Besi Oksida besi memiliki sifat seperti: Besi (II) oksida (FeO) atau oksida besi juga dikenal sebagai wustite dalam bentuk mineral. Bubuk oksida hitam ini dapat menyebabkan ledakan seperti mudah terbakar. Besi (III) oksida (Fe2O3) atau oksida besi juga dikenal sebagai bijih besi (bentuk alfa) atau maghemite (bentuk gamma) dalam bentuk mineral. Sebagai bahan kimia industri ini umumnya disebut rouge. Setelah dimurnikan, besi oksida digunakan sebagai lapisan dalam media audio dan komputer. Dalam lingkungan yang kering atau alkali, besi oksida itu dapat menyebabkan pengvasifan dan menghambat karat, namun utama karat. Besi (II, III) oksida (Fe3O4) atau besi oksida besi juga dikenal sebagai magnetite atau magnet dalam bentuk mineral (Cornell, 2003). Bahan Ferimagnetik Dalam senyawa ionik, seperti oksida, bentuk-bentuk lebih kompleks magnetik terjadi sebagai akibat dari struktur kristal. Bahan yang sangat bersifat magnetic disebut Ferimagnetik Gambar 2.1 menunjukkan representasi sederhana spin magnetik dalam oksida ferimagnetik. juga merupakan komponen

4|Page

Gambar 2.1. Spin Magnetik Bahan Ferimagnetik Struktur magnetik terdiri dari dua magnetik sublatis (disebut A dan B) yang dipisahkan oleh oksigen. pertukaran Interaksi dimediasi oleh anion oksigen. Ketika ini terjadi, interaksi tersebut disebut interaksi tidak langsung atau super exchange. Kristal magnetik Fe3O4 dengan struktur spinel dapat dilihat dari Gambar 2.2 yaitu dengan struktur tetrahedral: ion Fe dikelilingi oleh empat oksigen, sedangkan struktur oktahedral: ion Fe dikeliling oleh enam ion Oksigen (Moskowitz, 1991).

Gambar 2.2. Struktur Spinel Fe3O4 Material ferimagnetik atau biasa disebut ferit adalah bahan magnetik yang mempunyai sifat khas yaitu keras, rapuh, tahan terhadap panas dan zat kimia, mempunyai tahanan jenis listrik yang tinggi, sehingga banyak digunakan dalam bidang elektronika. Ferit dapat termagnetisasi secara spontan pada temperatur Currie dan bersifat paramagnetik untuk temperatur di atas temperatur Currie (Chrismant dan Rhicard, 1988).

5|Page

Partikel Nano Fe3O4 Partikel nano magnetik memiliki sifat fisis dan kimia yang bervariasi dan dapat diaplikasikan dalam berbagai bidang. Salah satu partikel magnetik

tersebut yang dapat dijadikan berukuran nanometer adalah besi oksida seperti Fe3O4 (magnetit). Lao et al., 2004, meneliti bahwa partikel nano ini dapat dimanfaatkan sebagai material untuk kegunaan sistem pengangkutan obat-obatan (Drug Delivery System = DDS), Magnetic Resonance Imaging (MRI), dan terapi kanker. Agar dapat diaplikasikan dalam bebagai bidang tersebut, sangatlah penting untuk mempertimbangkan ukuran partikel, sifat magnetik, dan sifat permukaan dari partikel nano itu sendiri. Berikut adalah gambar serbuk Fe3O4 dan bentuk strukturnya.

Gambar 2.3 (a) Serbuk Fe3O4, (b) Struktur Fe3O4

6|Page

2.2 Sintesis Partikel Nano Fe3O4 Dalam beberapa tahun belakangan ini, para peneliti dapat mensintesis partikel nano Fe3O4 dengan metode-metode yang berbeda. Seperti metode sol gel yang dikembangkan oleh Xu et al., 2007. Lain lagi dengan dilakukan oleh Iida et al., 2007 yang memilih mensintesis partikel nano Fe3O4 dengan metode hidrolisis terkontrol, sedangkan Hong et al., 2007 memilih metode kopresipitasi dalam air. Di antara sekian metode sintesis tersebut, metode kopresipitasi yang paling sederhana karena prosedurnya lebih mudah dilakukan dan memerlukan suhu reaksi yang rendah (< 100oC). Metode kopresipitasi merupakan proses kimia yang membawa suatu zat terlarut ke bawah sehingga terbentuk endapan yang dikehendaki. Teknik ini sering dipakai untuk memisahkan analit dari pengotornya. Untuk sintesis partikel nano Fe3O4 dengan metode kopresipitasi, perbandingan/rasio antara ion ferrous (Fe2+) dan ion ferric (Fe3+) dalam medium basa (alkali) sangat mempengaruhi hasil akhir sintesis. Efeknya meliputi rentang diameter ukuran partikel dan sifat magnetik yang dihasilkan. Telah dilaporkan bahwa valensi garam logam yang digunakan dalam sintesis memegang peranan penting dalam menentukan ukuran partikel. Dalam hal ini, ukuran partikel nano Fe3O4 dengan variasi prosentase molar ion ferrous terhadap jumlah total ion besinya dalam rentang ~9 nm sampai ~40 nm (Iida et al., 2007). Metode Kopresipitasi Dalam makalah ini dibahas mengenai pembuatan Fe3O4 berukuran nanometer menggunakan metode kopresipitasi. Metode ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1925 oleh Welo dan Baudish, yang meneliti tentang transformasi fasa besi oksida dengan temperatur, akan tetapi yang paling banyak diambil oleh para peneliti kontemporer adalah metode yang dikembangkan oleh massart. Tujuan awal penggunaan metode kopresipitasi ini adalah untuk mempelajari sifat magnetik dalam struktur domain tunggal, tetapi studi aktual pada sintesis partikel nano

7|Page

magnetik difokuskan pada potensi aplikasi dan peningkatan kualitas dari nano partikel (misalnya mengenai monodispersi dan kristalinitasnya). Keserbagunaan dan kesederhanaan metode kopresipitasi menjadikan

metode ini menjadi salah satu teknik yang lebih disukai untuk membuat partikel nano. Prosedur yang sama juga digunakan untuk sintesis tipe ferit yang lain, seperti MnFe2O4 dan CoFe2O4, dengan mengubah prekusor yang digunakan. Partikel nano yang dihasilkan dari metode kopresipitasi biasanya polidispersif, tetapi biasanya berbentuk siferis. Peralatan dan Bahan Dasar Sintesis Partikel Nano Fe3O4 Peralatan yang digunakan dalam eksperimen ini antara lain adalah gelas beker, gelas ukur, pipet, timbangan digital, ayakan, corong kecil, tissue, thermometer, kertas saring, magnet permanent, oven untuk untuk pengeringan, furnace sebagai alat pemanas dan pengaduk magnetik (hot plate dan magnetik

stirrer). Untuk karakterisasi fasa dipakai difraktometer sinar-X (XRD), TEM untuk mengamati morfologi ukuran parikelnya dan VSM untuk memperoleh kurva magnetisasi suatu bahan. Bahan utama yang digunakan dalam sintesa Fe3O4 adalah pasir besi (pasir besi alam dan komersial/Aldrich), Larutan HCl 12,07 M dan NH4OH 6,49 M dipakai dalam sintesa dengan metode kopresipitasi. Aquades digunakan sebagai bahan pencuci dalam proses kopresipitasi. Prosedur Kerja Partikel nano Fe3O4 disintesis dengan metode kopresipitasi. Pasir besi yang telah diekstrak diuji dengan XRD kemudian dilarutkan dalam HCl 12,07 M sebanyak 35 ml pada suhu ~70 C dan diaduk sekitar 30 menit dalam magnetic stirrer. Adapun persamaan reaksinya sebagai berikut: 3Fe3O4(s) + 8HCl(l) 2FeCl3(l) + FeCl2(l) + 3Fe2O3(s) + 3H2O(l) + H2(g)

Hasil reaksi yang dihasilkan kemudian dicuci berulang-ulang dengan aquades sampai bersih dari pengotornya kemudian disaring. Cara pencucian adalah

8|Page

dengan menempatkan hasil reaksi pada gelas ukuran besar kemudian diberi aquades sebanyak yang bisa ditampung gelas itu. Magnet permanen ditempatkan dibawah gelas dengan tujuan bisa menarik Fe3O4 supaya mengendap lebih cepat dibandingkan Fe2O3. Bila sudah terjadi

endapan didasar gelas air di dalam gelas dibuang dengan penuangan yang hati-hati agar endapan kental yang berwarna hitam (Fe3O4) tidak ikut terbuang. Kemudian bahan material hasil endapan ini dikeringkan di dalam oven pada suhu 70 C sekitar 2 jam. Berikut ini adalah skema kerja sintesis partikel nano Fe3O4 dari pasir besi.

Gambar 2.4. Skema kerja sintesis partikel nano Fe3O4 dari pasir besi

9|Page

Analisis Data Partikel nano Fe3O4 yang telah disintesis dikarakterisasi dengan XRD dan VSM. Karakterisasi XRD dilakukan untuk mendapatkan pola difraksi sinar-X (XRD). Hasil pengukuran XRD dilakukan untuk menghitung distribusi fasa dan

kandungan fasa dari sampel yang dihasilkan. Proses identifikasi fasa didasarkan pada pencocokan data atau dengan kata lain menggunakan metode searchmatch. Uji menggunakan VSM dilakukan untuk memperoleh kurva magnetisasi suatu bahan sebagai fungsi suhu maupun sebagai fungsi medan luar sehingga dapat ditentukan fasa magnetik bahan, suhu transisi magnetik dan konstanta anisotropik bahan. 2.3 Aplikasi Partikel Nano Fe3O4 Pengaplikasian pasir besi (Fe3O4) yang berukuran partikel nano

merupakan alternatif yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri di bidang elektronik yang dalam perkembangan dan kebutuhannya kian meningkat. Fe3O4 berukuran nano memiliki aplikasi pada bidang industri seperti; keramik, katalis, energy storage, magnetic data storage, ferofluida, maupun dalam diagnosis medis. Lao et al., 2004, meneliti bahwa partikel nano ini dapat

dimanfaatkan sebagai material untuk kegunaan sistem pengangkutan obat-obatan (Drug Delivery System = DDS), Magnetic Resonance Imaging (MRI), dan terapi kanker. Partikel Nano Fe3O4 sebagai Anti Kanker Penyakit kanker telah dikenal luas sebagai salah satu penyakit yang berbahaya di dunia. Istilah kanker biasanya juga merujuk pada istilah tumor ganas. Secara sederhana kanker atau tumor ganas diartikan sebagai sel-sel tubuh yang berkembang biak tidak terkendali sehingga sel-sel tersebut akan terus tumbuh walaupun tubuh kita tidak membutuhkannya lagi. Bila kanker sudah menyebar luas, maka kanker tersebut akan sulit sekali untuk disembuhkan. Untuk itu diperlukan pengobatan secara khusus.

10 | P a g e

Ada banyak bahan kimia yang sedang dikembangkan oleh para peneliti saat ini karena prospeknya untuk di gunakan sebagai zat anti kanker. Fokus terbesar adalah penelitian terhadap senyawa-senyawa dari tumbuhan baik darat maupun tumbuhan laut yang bersifat aktif terhadap sel kanker. Sayangnya, untuk menemukan senyawa aktif tersebut dibutuhkan waktu yang agak lama karena harus diekstrak dari berbagai sumber, dikarakterisasi, diuji aktivitasnya kemudian baru disintesis untuk memperbanyak jumlahnya. Pada dua dekade belakangan, ahli Biomaterial mulai mempelajari materialmaterial anorganik untuk diaplikasikan sebagai anti kanker. Magnetit (Fe3O4) adalah senyawa yang paling menjanjikan untuk bidang ini. Magnetit merupakan salah satu jenis oksida besi yang paling umum dikenal dan terdapat cukup banyak di alam. Sesuai namanya, senyawa ini bersifat magnet (magnet alam pertama yang ditemukan manusia). Strukturnya sangat unik yaitu spinel terbalik karena sebenarnya senyawa ini merupakan gabungan dari dua oksida besi yaitu FeO dan Fe2O3 yang dihubungkan oleh jembatan oksigen. Struktur seperti ini menghasilkan resultan momen magnet yang nyata serta kemampuan untuk transfer elektron ke ion tetangga secara simultan. Agar magnetit tepat sasaran saat menyerang sel kanker, biasanya zat ini dimasukkan ke dalam tubuh bersama-sama dengan obat-obatan tertentu. Setelah magnetit diserap oleh sel kanker, maka tubuh pasien diberi medan magnet seragam dari luar dalam rentangan frekuensi yang tidak membahayakan (noninvasive). Momen magnet dari magnetit nanokristal dalam tubuh akan menjadi searah mengikuti arah momen medan luar sampai pada suatu titik dimana dia tidak lagi terpengaruh (kejenuhan magnetisasi). Ketika medan luar dihilangkan pada kondisi ini, momen magnet magnetit akan kembali secara perlahan-lahan ke kondisi awalnya. Peristiwa ini disebut relaksasi magnetik dan selalu menghasilkan panas sebagai akibat perubahan energi. Panas yang dihasilkan dalam sel kanker tersebut tidak berbahaya bagi manusia tapi sangat mematikan bagi sel kanker karena dia terkena secara langsung sehingga menyebabkan kematian sel kanker tersebut (sel kanker mati pada suhu 43C).
11 | P a g e

III. 3.1 Kesimpulan Kesimpulan dari makalah ini yaitu:

PENUTUP

1. Sintesis partikel nano berbahan dasar Fe3O4 yang berasal dari pasir besi alam dan Fe3O4 bahan komersial pabrik (aldrich) dapat dilakukan dengan metode kopresipitasi yaitu proses kimia yang membawa suatu zat terlarut ke bawah sehingga terbentuk endapan yang dikehendaki. 2. Komposisi fasa, morfologi dan sifat kemagnetan Fe3O4 yang berasal dari pabrik (Aldrich) dan bahan alam yang dihasilkan dari proses sintesis dapat diketahui dan dibandingkan dengan melakukan karakterisasi XRD, TEM dan VSM. 3. Fe3O4 berukuran nano memiliki aplikasi pada bidang industri seperti; keramik, katalis, energy storage, magnetic maupun dalam diagnosis medis/pengobatan. data storage, ferofluida,

12 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA

Arryanto, Y., Amini, S., Rosyid, M.F., Rahman, A., Artsanti, P. (2007). Iptek Nano di Indonesia: Terobosan, Peluang dan Strategi, Jakarta: Deputi Bidang Perkembangan RIPTEK, Kementrian Negara Riset dan Teknologi. Chrismant, J. Rhicard (1988). Fundamental of solid state physics. John Willey & Sons, Canada, hal: 369-371. Costaa,A. C. F. M, dkk. (2003). Synthesis, Microstructure and Magnetic Properties Of Ni-Zn Ferrites. Journal of Magenetism and Magnetic Materials, 256: 174-182. Cornell, RM, dkk. (2003). The Iron Oxides: Structure, Properties, Reactions, Occurrences and Uses. Wiley VCH. Lao LL, Ramaujan RV, 2004. Magnetic and Hydrogel Composite materials for hyperthermia applications. J Mater Sci Mater Med, 15: 1061 1064. Sholihah, LK. (2010). Sintesis dan Karakteristik Partikel Nano Fe3O4 yang Berasal dari Pasir Besi dan Fe3O4 Bahan Komersial (Aldrich). Jurusan Fisika FMIPA, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

13 | P a g e