Anda di halaman 1dari 16

BAB I CONJUGATE BEAM

Conjugate beam (balok konjugasi) adalah penggunaan bidang momen yang dijadikan sebagai beban untuk mengetahui defleksi pada balok. Cara penentuannya :

- Bidang momen diperlukan sebagai beban EI

- Momen pada suatu titik pada conjugate beam merupakan lendutan dititik tersebut. Perhatikan balok dengan tumpuan sederhana dibebani dengan beban-beban sebagai berikut :

Kondisi 1 Bentang sederhana dibebani dengan beban terpusat ditengah bentang

sebagai berikut : Kondisi 1 Bentang sederhana dibebani dengan beban terpusat ditengah bentang  A 
sebagai berikut : Kondisi 1 Bentang sederhana dibebani dengan beban terpusat ditengah bentang  A 
sebagai berikut : Kondisi 1 Bentang sederhana dibebani dengan beban terpusat ditengah bentang  A 
sebagai berikut : Kondisi 1 Bentang sederhana dibebani dengan beban terpusat ditengah bentang  A 
sebagai berikut : Kondisi 1 Bentang sederhana dibebani dengan beban terpusat ditengah bentang  A 
sebagai berikut : Kondisi 1 Bentang sederhana dibebani dengan beban terpusat ditengah bentang  A 
sebagai berikut : Kondisi 1 Bentang sederhana dibebani dengan beban terpusat ditengah bentang  A 
sebagai berikut : Kondisi 1 Bentang sederhana dibebani dengan beban terpusat ditengah bentang  A 
sebagai berikut : Kondisi 1 Bentang sederhana dibebani dengan beban terpusat ditengah bentang  A 
 A  B y c
 A
 B
y c
sebagai berikut : Kondisi 1 Bentang sederhana dibebani dengan beban terpusat ditengah bentang  A 

2

Menghitung gaya lintang dan momen :

MA 0

L  L       -V B . L + 
L
 L 
-V B . L +
 4 PL EI   
2
= 0
  
 2 
PL
3
-V B .L +
16 EI
= 0
PL
2
V B
16 EI
V  0
PL
2
V A

16 EI
 A
 A
 M C  0 PL  L    L  L -
M
C  0
PL  L  
L 
L -
-M C + V A . 2
  4 EI  4  
 
6 
  PL
2
PL
3
-M C +
= 0
    . L 2
16
EI
 
96 EI
PL
3
PL
3
M C =
32
EI
96 EI
PL
3
M C =
48 EI

= 0

3

ΣV = 0

V A - D A = 0 V A = D A

PL 2 D A = 16 EI PL 2 D B = - 16 EI
PL
2
D A =
16 EI
PL
2
D B = -
16 EI
0 V A = D A PL 2 D A = 16 EI PL 2 D

jadi,

 

3

PL

M C = y c

M C = y c y c = 48 EI

y c =

48

EI

D A = G A

D A = G A θ A = 2 PL

θ A =

2

PL

 

16

EI

D B = G B

D B = G B θ B = - PL 2

θ B = -

PL

2

 

16

EI

Kondisi 2 Bentang sederhana dibebani dengan beban terpusat tidak tepat ditengah bentang

2   16 EI Kondisi 2 Bentang sederhana dibebani dengan beban terpusat tidak tepat ditengah bentang
2   16 EI Kondisi 2 Bentang sederhana dibebani dengan beban terpusat tidak tepat ditengah bentang
2   16 EI Kondisi 2 Bentang sederhana dibebani dengan beban terpusat tidak tepat ditengah bentang
2   16 EI Kondisi 2 Bentang sederhana dibebani dengan beban terpusat tidak tepat ditengah bentang
2   16 EI Kondisi 2 Bentang sederhana dibebani dengan beban terpusat tidak tepat ditengah bentang
2   16 EI Kondisi 2 Bentang sederhana dibebani dengan beban terpusat tidak tepat ditengah bentang
2   16 EI Kondisi 2 Bentang sederhana dibebani dengan beban terpusat tidak tepat ditengah bentang
2   16 EI Kondisi 2 Bentang sederhana dibebani dengan beban terpusat tidak tepat ditengah bentang
2   16 EI Kondisi 2 Bentang sederhana dibebani dengan beban terpusat tidak tepat ditengah bentang
2   16 EI Kondisi 2 Bentang sederhana dibebani dengan beban terpusat tidak tepat ditengah bentang
2   16 EI Kondisi 2 Bentang sederhana dibebani dengan beban terpusat tidak tepat ditengah bentang
2   16 EI Kondisi 2 Bentang sederhana dibebani dengan beban terpusat tidak tepat ditengah bentang
 A
 A
 B
 B
2   16 EI Kondisi 2 Bentang sederhana dibebani dengan beban terpusat tidak tepat ditengah bentang
2   16 EI Kondisi 2 Bentang sederhana dibebani dengan beban terpusat tidak tepat ditengah bentang

4

ΣM C = 0 V A .a M C = 0 M C = V A .a

Pb . a M C = L Pab M C = L maka: P.a.b M
Pb .
a
M C =
L
Pab
M C =
L
maka:
P.a.b
M C =
LEI
ΣM A = 0
 Pab 
1
b
1
b
-V B .L +
2
 LEI 
3
Pab
2
1
b
a
-V B .L +
2
LEI
3
 a   1 2 a  2   Pab LEI  .
a
1
2 a 
2
  Pab LEI  . 
3
b = 0
Pa b
3
= 0
3 LEI 2  2 a 3
3 LEI
2 
2
a
3

V B =

Pab  1 6 L EI 2 3
Pab
1
6 L EI
2
3

b

2

ab

ΣM B = 0

   LEI Pab  

1 b  2 2   Pab LEI  .  3
1
b 
2
2
  Pab LEI  . 
3

V A .L -

1 a   1 2 3
1
a
1
2
3

a

b

2

Pa b

 1 3
1
3
 

V A .L -

a

b

 

2

LEI

2

Pa b

 

V A =

 1 2 3
1
2
3

2

L EI

a

b

V A =

Pab

1 2 3
1
2
3

2 L EI

a

2

ab

2 3
2
3

b

2

Pab

3

= 0

3 LEI

Pab

3

2

3 L EI

b = 0

2 L EI  a 2  ab  2 3 b 2   

5

Pab

D A = θ A =

D B = θ B = -

1 2 3
1
2
3

a

2 L EI Pab

1 2 3
1
2
3

2 L EI

b

2

2

ab

ab

2 3
2
3

b

2

2 3
2
3

a

2

   

Pembuktian dengan beban terpusat.

 
Mis : a  b  12 L

Mis : a b 12 L

 

θ A

=

=

Pab

1 2 3
1
2
3

2 L EI

a

2

ab

P    1 L  2 1 2 L  1 1 2
P
1
L

2
1 2 L
1
1
2
3
2

2 L EI

L

2

2

2 3
2
3

b

2

 1 2
1
2

L



1 2
1
2

=

PL

1

2

L

1 4
1
4

2

L

1 6
1
6

2

L

=

2

8 L EI

P

1 2
1
2

8

EI

12

2

L

L

 PL 2 A = 16 EI cocok Pab     1 b
PL
2
A
=
16 EI
cocok
Pab
 
1
b
2 
ab
2
a
2
B
2 L EI
2
3
3
P

1
L

2
1 2 L
L
2
L

1
1
1
1
2 L EI
2
3
2
2
2
PL
2

1
L
2
1
L
2
6 L
1
2
8 L EI
2
12
4
PL
2
 
B
16 EI
cocok

L

 2 1 3 2
2
1
3
2

L

2

  2 1 L 2 3 2

2
1
L
2
3
2

6

Kondisi 3 Beban terbagi rata sepanjang bentang

6 Kondisi 3 Beban terbagi rata sepanjang bentang   A B  A  B
6 Kondisi 3 Beban terbagi rata sepanjang bentang   A B  A  B
6 Kondisi 3 Beban terbagi rata sepanjang bentang   A B  A  B
6 Kondisi 3 Beban terbagi rata sepanjang bentang   A B  A  B
  A B
  A B
  A B
A
B
 A
A
 B
B
6 Kondisi 3 Beban terbagi rata sepanjang bentang   A B  A  B
6 Kondisi 3 Beban terbagi rata sepanjang bentang   A B  A  B
6 Kondisi 3 Beban terbagi rata sepanjang bentang   A B  A  B
6 Kondisi 3 Beban terbagi rata sepanjang bentang   A B  A  B
6 Kondisi 3 Beban terbagi rata sepanjang bentang   A B  A  B
6 Kondisi 3 Beban terbagi rata sepanjang bentang   A B  A  B
6 Kondisi 3 Beban terbagi rata sepanjang bentang   A B  A  B
6 Kondisi 3 Beban terbagi rata sepanjang bentang   A B  A  B
6 Kondisi 3 Beban terbagi rata sepanjang bentang   A B  A  B
6 Kondisi 3 Beban terbagi rata sepanjang bentang   A B  A  B
6 Kondisi 3 Beban terbagi rata sepanjang bentang   A B  A  B

7

M

A

V

A

.

x

0

Mx

2

q x

.

.

x

2

0

x 1 ql x .  q  Mx 2 2 L qlx qx 2
x
1
ql x
.
q
 Mx
2
2
L
qlx
qx
2
Mx 
dx
2
2
0
L
L
2
qlx
qx
1
Mx 
dx
dx
2
2
2
0
0
L
2
3
1
x
x
Mx
ql
 q
2
2
3
0
3
3
ql
ql
1
Mx 
2
2 3
3
3
ql
ql
1
Mx 
2
6
12 EI
ql
3
Mx 
12 EI
Mx dijadikan beban.
M
 0
A
3
ql
1
V
.
L
L 
 0
B
2
12
EI
3
ql
V
B
24
EI
3
ql
V
A
24
EI

Jadi,

ql 3   A 24 EI ql 3   B 24 EI
ql
3
 
A
24 EI
ql
3
 
B
24 EI

8

Kondisi 4 Beban terbagi rata tidak disepanjang bentang

.

8 Kondisi 4 Beban terbagi rata tidak disepanjang bentang .  A  B a) d
8 Kondisi 4 Beban terbagi rata tidak disepanjang bentang .  A  B a) d
8 Kondisi 4 Beban terbagi rata tidak disepanjang bentang .  A  B a) d
8 Kondisi 4 Beban terbagi rata tidak disepanjang bentang .  A  B a) d
8 Kondisi 4 Beban terbagi rata tidak disepanjang bentang .  A  B a) d
8 Kondisi 4 Beban terbagi rata tidak disepanjang bentang .  A  B a) d
8 Kondisi 4 Beban terbagi rata tidak disepanjang bentang .  A  B a) d
8 Kondisi 4 Beban terbagi rata tidak disepanjang bentang .  A  B a) d
 A  B
 A
 B
Beban terbagi rata tidak disepanjang bentang .  A  B a) d  A =
Beban terbagi rata tidak disepanjang bentang .  A  B a) d  A =
Beban terbagi rata tidak disepanjang bentang .  A  B a) d  A =
Beban terbagi rata tidak disepanjang bentang .  A  B a) d  A =
Beban terbagi rata tidak disepanjang bentang .  A  B a) d  A =
Beban terbagi rata tidak disepanjang bentang .  A  B a) d  A =
Beban terbagi rata tidak disepanjang bentang .  A  B a) d  A =

a)

dA =

qdx L

x

L

2

 L  x 2
L
x
2

6 EIL

A =

 

q

a

2

a 1

L

x

L

2

L

x

dx

2

 
 

6 EIL

 
 

q

a 2

a

1

L

 

xL

2

2

   

2

x

dx

x

3

 
 

=

 

L

2

Lx

 

6 EIL

 
 

a 2

 

=

q

L

a 1

xLx

2

x

2 dx

 
 

6

EIL

 

=

6

q

EIL

a 2

L

xL x

2

2

Lx

2

2

Lx

2

dx

 
 

a

1

Maka

A

=

 

q

2

2 L x

2

3

Lx

3

x

4

a 2

 
 

6 EIL

 

2

3

4

a 1

A

=

q

6 EIL

L

2

a

2

2

a

1

2

L a

2

3

a

1

3

1 4
1
4

a

2

4

a

1

4



.

.

.

.

L a 2 3  a 1 3   1 4  a 2 4

(1)

9

  qdx x L  2  x 2 b) d B = 6
qdx x L
2
x
2
b)
d B =
6 EIL
 B =
a 2
q
 xL
x
2 dx
6
EIL
a 1
a 2
q
= 
 L
2
 x dx
3
1 6
EIL
a
q
L
2
 x
2
x
4
=
6
EIL
2
4

dx

 B = q    L 2  a 2   
 B =
q
 
L
2
 a
2 
2
a
4
1
a
a
4
4
 
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.(2)
6 EIL
2
2
1
2
1
Cek/periksa dengan beban merata penuh :
 A
 B
a
a 1 = 0,
 A
2 = L
q

L
2
L 
2
0
2
 L L 
3
0
3
1
L 
4
0
4
=
6 EIL
4
 cocok
 qL
3
=
A
24 EI
 B =
q
L
2
 L
2
0
2
1
L
4
0
4
6 EIL
4
  
2
 

B =

3

qL

24 EI

cocok

10

Kondisi 5 Beban merata yang terletak mulai dari tumpuan.

 A  B
 A
 B

Maka :

merata yang terletak mulai dari tumpuan.  A  B Maka :  A = q
merata yang terletak mulai dari tumpuan.  A  B Maka :  A = q
merata yang terletak mulai dari tumpuan.  A  B Maka :  A = q
merata yang terletak mulai dari tumpuan.  A  B Maka :  A = q

A =

q

3

3

qL

384 EI

B =

3

7 qL

384 24 EI

a1 = 0 a2 = ½ L

Untuk kondisi beban-beban merata yang lain dapat ditentukan sendiri dengan menggunakan persamaan (1) & (2).

Kondisi 6:

Bentang sederhana dibebani dengan beban momen pada tiap-tiap tumpuan

- Beban momen di tumpuan A

Kondisi 6: Bentang sederhana dibebani dengan beban momen pada tiap-tiap tumpuan - Beban momen di tumpuan
Kondisi 6: Bentang sederhana dibebani dengan beban momen pada tiap-tiap tumpuan - Beban momen di tumpuan
Kondisi 6: Bentang sederhana dibebani dengan beban momen pada tiap-tiap tumpuan - Beban momen di tumpuan
Kondisi 6: Bentang sederhana dibebani dengan beban momen pada tiap-tiap tumpuan - Beban momen di tumpuan
Kondisi 6: Bentang sederhana dibebani dengan beban momen pada tiap-tiap tumpuan - Beban momen di tumpuan
Kondisi 6: Bentang sederhana dibebani dengan beban momen pada tiap-tiap tumpuan - Beban momen di tumpuan
Kondisi 6: Bentang sederhana dibebani dengan beban momen pada tiap-tiap tumpuan - Beban momen di tumpuan
 A
 A
 B
 B
Kondisi 6: Bentang sederhana dibebani dengan beban momen pada tiap-tiap tumpuan - Beban momen di tumpuan
Kondisi 6: Bentang sederhana dibebani dengan beban momen pada tiap-tiap tumpuan - Beban momen di tumpuan
Kondisi 6: Bentang sederhana dibebani dengan beban momen pada tiap-tiap tumpuan - Beban momen di tumpuan
Kondisi 6: Bentang sederhana dibebani dengan beban momen pada tiap-tiap tumpuan - Beban momen di tumpuan
Kondisi 6: Bentang sederhana dibebani dengan beban momen pada tiap-tiap tumpuan - Beban momen di tumpuan
Kondisi 6: Bentang sederhana dibebani dengan beban momen pada tiap-tiap tumpuan - Beban momen di tumpuan
Kondisi 6: Bentang sederhana dibebani dengan beban momen pada tiap-tiap tumpuan - Beban momen di tumpuan
Kondisi 6: Bentang sederhana dibebani dengan beban momen pada tiap-tiap tumpuan - Beban momen di tumpuan

11

MA 0

-V B . L + ½L .

V B =

V B =

2

MA L

.

6 LEI

MA L

.

6 EI

MA

EI

.

1/3 L = 0

MA 0

V A . L - ½L .

V A =

MA L

.

3 EI

MA

EI

.

2/3 L = 0

Jadi,

  MA L . A 3 EI   MA L . B -
MA L
.
A
3 EI
MA L
.
B
-
6 EI

Kondisi7:

Bentang sederhana dibebani dengan beban momen pada tiap-tiap tumpuan

- Beban momen di tumpuan A

12

12  A  B  MA  0 -V B . L + ½ L
12  A  B  MA  0 -V B . L + ½ L
12  A  B  MA  0 -V B . L + ½ L
12  A  B  MA  0 -V B . L + ½ L
12  A  B  MA  0 -V B . L + ½ L
 A  B
 A
 B
12  A  B  MA  0 -V B . L + ½ L
12  A  B  MA  0 -V B . L + ½ L
12  A  B  MA  0 -V B . L + ½ L

MA 0

-V B . L + ½L .

V B =

MB L

.

3 EI

MB

EI

.

(2/3 L) = 0

MA 0

V A . L - ½L .

V A =

MB L

.

6 EI

MA

EI

.

(1/3 L) = 0

Jadi,

  MB L . A 6 EI   MB L . B -
MB L
.
A
6 EI
MB L
.
B
-
3 EI

13

Untuk mempermudah pembaca, seluruh bentuk perputaran sudut (θ) akibat dari berbagai kondisi beban, maka nilai θ secara keseluruhan dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

No

1.

2.

3.

4.

Kondisi beban

No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Perputaran sudut (θ) θ A = 2 PL 16

Perputaran sudut (θ)

θ A =

2

PL

16 EI

θ B = -

2

PL

16 EI

2

2

L EI

L EI

ab

a ab 

ab

a ab 

ql 3   A 24 EI ql 3   B 24 EI
ql
3
 
A
24 EI
ql
3
 
B
24 EI
2 2 L EI L EI  ab  a  ab  a ql 3

θ B = -

Pab

1 2 3
1
2
3

θ B = - Pab 1 2 3  b 2 2 
θ B = - Pab 1 2 3  b 2 2 

b

2

2

θ B = -

Pab

1 2 3
1
2
3

θ B = - Pab 1 2 3  b 2 2 
θ B = - Pab 1 2 3  b 2 2 

b

2

2

A =

q   L 2 a 2 2  a 6 EIL 2 1 
q
L
2
a
2 2
a
6 EIL
2
1
 B =
q
2
6
EIL
   L 2
a 6 EIL 2 1  B = q 2 6 EIL    L
a 6 EIL 2 1  B = q 2 6 EIL    L

L a

2

2

a

a

2

3

1

a

2

1 4
1
4

1 4
1
4

a

4 4

a

1

1

3

a

2

4

2

a

1

4 

14

No

5.

5.

6.

7.

Kondisi beban

No 5. 6. 7. Kondisi beban Perputaran sudut (θ)   B A = = 384
No 5. 6. 7. Kondisi beban Perputaran sudut (θ)   B A = = 384
No 5. 6. 7. Kondisi beban Perputaran sudut (θ)   B A = = 384
No 5. 6. 7. Kondisi beban Perputaran sudut (θ)   B A = = 384
No 5. 6. 7. Kondisi beban Perputaran sudut (θ)   B A = = 384
No 5. 6. 7. Kondisi beban Perputaran sudut (θ)   B A = = 384
No 5. 6. 7. Kondisi beban Perputaran sudut (θ)   B A = = 384
No 5. 6. 7. Kondisi beban Perputaran sudut (θ)   B A = = 384
No 5. 6. 7. Kondisi beban Perputaran sudut (θ)   B A = = 384
No 5. 6. 7. Kondisi beban Perputaran sudut (θ)   B A = = 384
No 5. 6. 7. Kondisi beban Perputaran sudut (θ)   B A = = 384
No 5. 6. 7. Kondisi beban Perputaran sudut (θ)   B A = = 384
No 5. 6. 7. Kondisi beban Perputaran sudut (θ)   B A = = 384
No 5. 6. 7. Kondisi beban Perputaran sudut (θ)   B A = = 384
No 5. 6. 7. Kondisi beban Perputaran sudut (θ)   B A = = 384

Perputaran sudut (θ)

  B A = =

384

7

EI

3

qL

384 24 EI

MA L

.

3 EI

MA L

.

6 EI

A

B

-

MB L

.

6 EI

MB L

.

3 EI

q

3

3

qL

A

B

-

FIXED END MOMEN (FEM) / MOMEN PRIMER FEM adalah momen-momen tumpuan terjepit dengan berbagai kondisi beban. Nilai-nilai FEM untuk berbagai kondisi beban dapat dilihat pada tabel berikut ini :

15

No

1.

2.

3.

4.

Kondisi beban

No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8
No 1. 2. 3. 4. Kondisi beban Momen Primer (FEM) M 0 BA = - 8

Momen Primer (FEM)

M 0 BA = -

8

PL

8

Pl l 2 M 0  1 2 AB L 2 Pl 2 l M
Pl l
2
M 0
1
2
AB
L
2
Pl
2
l
M 0
BA  
1
2
L
2

M 0 BA = -

12

2

qL

12

qL 2 l 2   l 3  M 0  1  1
qL
2
l
2
l
3
M
0
1
1
6
L
2
8
l L
3
l
2
2
4
L
3
l
2 
AB
12
L
4
1
1
4
  
L
l
3
l
2
0
1
3
l
2
BA
L
4
1
L
4

M 0 AB =

PL

,

M 0 AB =

2

qL

,

M



2

qL

12

  

1

4

L

6

2

L

8

l

2

L

3

l

2

2

16

5.

5. M 0 Pl L 2 Pl 1 B A   L
5. M 0 Pl L 2 Pl 1 B A   L
5. M 0 Pl L 2 Pl 1 B A   L
5. M 0 Pl L 2 Pl 1 B A   L
5. M 0 Pl L 2 Pl 1 B A   L
5. M 0 Pl L 2 Pl 1 B A   L
5. M 0 Pl L 2 Pl 1 B A   L
5. M 0 Pl L 2 Pl 1 B A   L
5. M 0 Pl L 2 Pl 1 B A   L
5. M 0 Pl L 2 Pl 1 B A   L

M 0

Pl

L

2

Pl 1

BA  

L

M

0

AB

2

l

2

2l

1

2

l

1

2l

2