Anda di halaman 1dari 5

BrakKkkkK. . . Aku menutup pintu kamarku sekuat tenaga.

Hanya inilah yang bisa kulakukan untuk melampiaskan amarahku yang selama di sekolah aku redam - redam. Hari ini tepat satu bulan ke enam sahabatku menyuekin aku. Aku tahu, seluruh penghuni rumah yang sedang asyik menonton sinetron siang pasti kesal melihat tingkahku ini. Tapi mereka hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan mengelus dada saja. Mereka sudah paham benar dengan kebiasaanku amukanku. Dengan kesal aku mencampakkan tubuhku ke pangkuan kursi malas yang kemudian mengayun memanjakan tubuhku. Di kursi malas, aku memutar mutar sebuah tombol yang berada di atas radio, aku berusaha mencari siaran radio yang bisa menghibur dan mengurangi kekesalanku. Ku hentikan jemariku saat ku dengar alunan sebuah lagu. Ku coba menikmati lagu itu, hmm. . . lagu yang bagus! ucapku dalam hati.
....

kalau amarah dan kekesalanku tak bisa

kuredam lagi, salah satu benda yang ada di rumah harus siap menjadi sasaran

Kini kita berjalan berjauh jauhan, kau jauhi diriku karna sesuatu Mungkin ku terlalu bertindak kejauhan, namun itu karna ku sayang Persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu Persahabatan bagai kepompong, hal yang tak mudah berubah jadi indah Persahabatan bagai kepompong, maklumi teman hadapi perbedaan Persahabatan bagai kepompong, na..na..na..na..na..na
....

Alunan lagu Sindentosca Persahabatan Bagai Kepompong mengisi ruang kamarku yang sebelumnya sepi, sunyi, dan senyap. Dari dalam mataku tiba tiba keluar cairan bening yang kemudian membasahi wajah manisku yang memiliki lesun pipi. Tuhan, apa yang terjadi dengan semua sahabat sahabatku. Kenapa mereka tiba tiba menjauhi aku. Seolah-olah, aku punya kesalahan yang cukup besar kepada mereka semua. Apa yang terjadi Tuhan? Aku melipat kedua tanganku dengan erat seperti orang yang sedang berdoa, aku tidak menutup kedua mataku tapi justru malah menatap sebuah bingkai mungil yang terletak disebelahku. Dibingkai itu tertempel foto bersama aku dengan ke enam sahabatku, sahabat yang sangat kusayangi. Foto itu diambil usai acara Pensi yang diadakan sekolah tahun lalu. Difoto itu ada sahabatku Rina kelihatan bergaya sok centil sambil memamerkan giginya, sedangkan Tiara tersenyum manis berusaha menutupi gigi kawatnya, Ana yang berwajah kelugu-

luguan, Tria yang bergaya bak model sedang beraksi di catwalk, Eni yang menjinjitkan kedua kakinya untuk menyamakan tinggi tubuhnya dengan Tria, dan juga ada Chika yang mencipitkan kedua matanya sambil menggenggam pipinya seolah olah gemas dengan dirinya sendiri, dan ada aku yang merangkul mereka semua dari belakang. Aku merasa kalau ke enam sahabatku menjauhi dan mulai tidak memperdulikan aku lagi. Beberapa minggu belakangan ini aku memperhatikan Chika, Tria, Rina dan Eni lebih memilih bergabung dengan Vita anak kelas sebelah yang terkenal lebih gaul dan asyik. Sedangkan Ana dan Tiara bergabung dengan teman satu band nya. Air mata ku mengalir semakin deras saat mengingat kenangan kami disaat kami bersama-sama dulu. Bersama sama melewati suka dan duka. Kenangan lama itu tidak pernah bisa terhapus dari memori ingatanku. Bagiku, berkumpul bersama ke enam sahabatku adalah sesuatu yang paling membahagiakan. Sangking lelahnya menangis seharian, akupun tertidur lelap.

Tak lagi seperti dulu, sekarang ini aku harus melakukan segala sesuatunya sendiri. Pergi ke toilet sendirian, ke kantin sendiri, di kelas duduk sendiri, aku benar benar nggak bisa menerima ini semua tapi apa daya, aku tak bisa melakukan apa apa. Aku hanya berharap semua akan kembali seperti dulu. Jam istirahat kali ini aku memilih untuk duduk di taman sekolah. Aku ingin melupakan sejenak masalahku sambil menyaksikan kesibukan kesibukan siswa di taman itu. Walau berada di tempat yang ramai tapi aku tetap merasa kesepian. Saat terhanyut dalam lamunanku, terdengar suara lembut yang mengagetkanku. Jangan sering terlarut dalam masalah Put Nggak baik loh! Dari nada suara yang lembut itu, aku tau pemilik suara itu adalah Tari. Aku mengenal Tari di perpustakaan sekolah. Sebelum sebelumnya, Aku dan Tari hanya teman bertegur sapa saja tetapi, sejak aku ditinggal sahabat sahabatku, hanya Tari sajalah yang mau menemaniku itu pun tidak sering. Selain karena kepintaran dan keramahannya, Tari sangat dikenal dengan jiwa solidaritasnya yang cukup tinggi, Tari juga anak yang berbakat. Jadi nggak heran kalau setiap hari dia mendapat tugas tambahan dari kepala sekolah yaitu menjaga perpustakaan. Hei Tar! Lagi nggak sibuk ya? Sahutku melirik Tari sambil mencoba tersenyum Iya Put, lagi nggak sibuk. Putri masih mikirin sahabatmu itu ya? Tari duduk disebelahku kemudian merangkul bahuku. Iya Tar, mana mungkin aku nggak mikirin mereka semua. Aku sayang sama mereka. Aku uda nganggap mereka kayak keluarga aku. Eh tiba tiba mereka nyuekin aku tanpa aku tau penyebabnya. Oia Tar, aku semalam dengar lagu, menurut aku lagunya cukup bagus tapi ada sedikit kejanggalan dihatiku. Kalimat yang paling aku ingat dari lagu itu, Persahabatan Bagai Kepompong, maksudnya apa ya Tar? Kenapa mesti kepompong? Kenapa ngak kecebong? Atau, kenapa nggak ikan aja? Kan lebih

2
By : Dewi Luciana Hutagaol

tepat ke ikan. Soalnya, ikan itu jarang banget loh sendirian. Kalau yang satu ke utara, teman yang lainnya juga pasti ikut, benar kan? Tanyaku penasaran Mendengar itu Tari hanya tersenyum Yang kamu bilang nggak salah kok! Tapi persahabatan itu memang lebih cocok dihubungkan dengan kepompong. Kamu tau kenapa? Karena, persahabatan itu ibaratnya sebuah proses. Kamu tau kepompong kan? Kepompong itu jelek dan jorok. Tapi setelah ia mengalami metamorphosis yang sempurna, kepompong yang jelek itu akan menjadi kupu kupu yang indah. Jadi, persahabatan itu lebih tepatnya memproses kita dari sifat atau karakter yang jelek menjadi lebih baik. Dengan persahabatan, hal yang sulit jadi mudah. Makanya, dalam persahabatan itu kita harus bisa saling menerima diri apa adanya, saling percaya, saling memaafkan dan memberi tanpa pamrih. Dengan itu semua persahabatan akan menjadi indah karena nggak ada dendam, sakit hati dan benci dan memang itulah persahabatan. Oh . . . Hubungannya itu ya! Menurut kamu, persahabatan aku dengan mereka bagai kepompong nggak? Sekarang kami kan udah jarang sama sama lagi. Bahkan Tiara, Chika, Rina dan Tara aja nggak ingat kalau kemarin hari ulang tahunku. Dan menurutku sekarang kami udah berpencar mencari kesenangan masing masing sahutku Aku sih nggak gitu tahu gimana kalian menjalani persahabatan kalian. Tapi, aku hanya bisa bilang kalau persahabatan yang abadi itulah persahabatan yang benar benar persahabatan. Kalau persahabatan itu putus ditengah jalan, itu namanya bukan persahabatan tapi hanya berteman biasa. Persahabatan itu sangat jauh berbeda dengan hanya sekedar teman biasa. jawab Tari Thanks ya Tar, aku udah ngerti apa arti persahabatan yang sebenarnya. Nanti siang aku mau jumpai mereka semua, aku harus menanyakan apa sebenarnya yang terjadi. Doain aku ya, aku sayang mereka, aku nggak mau kehilangan mereka semua. Makasih ya Tar! Aku memeluk Tari lalu berlari ke kelasku. Wajah bahagia ku yang belakangan ini terbenam sekarang terbit lagi. Saat aku menoleh kearah Tari yang kutinggalkan sendirian, aku melihat betapa bahagianya Tari melihat aku kembali ceria. Sepulang sekolah aku melihat Chika berjalan mondar mandir mengelilingi pagar sekolah. Sambil tersenyum, akupun berlari mendekati Chika, rasa kangen untuk ngobrol dengan Chika tak lagi bisa kupendam. Hai Chika. Udah lama ya nggak ngobrol ngobrol, kangen nih! sapaku sambil menggandeng tangan kanan Chika Iya yah Putri! jawab Chika singkat Kamu lagi nunggu siapa? Tunggu aku tebak! Pasti kamu lagi nunggu pacar kamu Sandy kan? Ngak nunggu dia kok. Aku lagi nunggu . . .

2
By : Dewi Luciana Hutagaol

Nunggu siapa? Ryo selingkuhanmu itu ya? sambungku sebelum Chika menyelesaikan perkataannya Putri, aku nggak nunggu Sandy kok! Aku juga nggak nunggu Ryo! Tapi aku nunggu Stephen, selingkuhanku yang ke dua. Sahut Chika Chika, Kamu masih selingkuhin Sandy ya? Pake selingkuhan dua lagi. Kan kasihan Sandy, Chik! Sejak sekarang, kita harus belajar setia loh Chika. Apalagi yang menyangkut dengan hati dan perasaan. Karna rasanya dikhianati itu sakit banget Chik! Lagian, kalau kita nggak setia dengan hal yang kecil, gimana kita bisa setia dengan hal yang besar? Lagian Chik, hukum karma itu ada loh! Tobat deh dari sekarang! aku kembali menasehati Chika seperti yang dulu sering aku lakukan. Aku sayang dengan semua sahabat sahabatku. Makanya aku selalu memprotes dan sering menasehati mereka kalau mereka melakukan penyimpangan yang menurut aku tidak baik. Walau kelihatan cerewet tapi itu semua aku lakukan karena aku nggak mau mereka mengalami penyesalan yang terlambat. Ibarat nasi menjadi bubur, tidak akan bisa kembali menjadi nasi lagi. Kamu doain aku kena karma yang buruk - buruk ya? sahut Chika ketus Kamu kok ngomong kayak gitu sih? Aku kan sayang sama kamu, aku juga sayang sama teman teman yang lain. Aku kaget saat mendengar ucapan Chika Kamu tadi ngomong tentang karma Put! Ya jelas aku tersinggung. Putri ku sayang, kamu kok suka banget sih ikut campur urusan orang lain, mau aku selingkuh sama Ryo dan Stephen itu urusan aku. Yang menjalani hidup aku ini aku bukan kamu. Hidup ini hanya sekali, kalau prinsip aku buat dinikmati kok kamu yang keberatan, kamu nggak ada aku rugiin kan? Satu hal lagi, kamu juga suka banget nasehati aku melebihi orang tuaku menasehati aku. Aku sering banget nggak terima, bukan hanya aku, tapi teman teman yang lain juga merasa kayak gitu. Satu hal Put, yang seharusnya tobat itu kamu bukan aku. Kamu tobat deh untuk nasehati kita semua. Seharusnya kamu juga nggak perlu bingung kenapa kami semua pada jauhin kamu, itu karena kami sering nggak betah sama kamu. Semua topik yang kita bicarain jadi nggak seru karena kamu sering protes sama kami. Kamu selalu merasa benar, nggak pernah salah dan selalu nyalahin kami. Kamu sering membuat kami sakit hati. Kamu nggak pernah mikirin perasaan kami. Kamu . . . Cukup Chik! Terserah kalian mau bilang aku gimana. Asal kalian tahu, aku sayang sama kalian semua. . . Mendengar ucapan Chika barusan, hatiku seperti tersayat-sayat, aku nggak tahan lagi untuk menahan air mataku. Akupun melepaskan tanganku yang sedari tadi memeluk tangan Chika, kemudian berlari menaiki ojek yang kebetulan lewat dihadapanku.

Sejak kejadian semalam siang, hatiku benar benar merasa terpukul. Apa yang ku lakukan terhadap sahabat sahabatku ternyata tak memiliki arti sama sekali. Aku yang selalu menginginkan yang terbaik buat sahabat sahabatku malah disalah artikan. Setelah nangis semalam akhirnya aku pun terbangun. Kedua mata ku terlihat

2
By : Dewi Luciana Hutagaol

bengkak dan merah. Untung saja hari ini hari minggu kalau tidak, aku pasti merelakan untuk tidak mengikuti 7 mata pelajaran hanya untuk melampiaskan kesedihanku di kamar. Sebangun dari tidur, aku langsung menatap foto bersama kami itu. Sebentar aku tersenyum sebentar kemudian aku menangis lagi. Tuhan, aku sudah menemukan jawabannya. Aku sudah tahu kenapa mereka mulai menjauhi aku. Tuhan, apa yang aku perbuat sama mereka salah? Apa salah kalau aku sering menasehati mereka? Tuhan, hanya Kau yang betapa tulusnya hatiku ini bersahabat dengan mereka. Hanya Kau yang tahu bagaimana perasaanku saat ini terhadap mereka. Aku sangat kecewa Tuhan. Tuhan ada banyak hal yang bisa aku lakukan tapi ada tiga hal yang nggak bisa aku lakukan. Aku nggak bisa membenci mereka, aku nggak bisa nggak menjadi teman mereka, dan aku nggak bisa melupakan mereka.

2
By : Dewi Luciana Hutagaol