Anda di halaman 1dari 6

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak ke masa dewasa yakni antara 12 samapai 21 tahun. Masa remaja mulai pada saat timbulnya perubahanperubahan berkaitan dengan tanda-tanda kedewasaan fisik yakni pada umur 11 tahun atau mungkin 12 tahun pada wanita dan pada laki-laki lebih tua sedikit (Gunarsa, 2004) Remaja adalah anak yang berada pada usian 12-18 tahun(Hurlock, 2001). Istilah adolescence atau remaja berasal dari bahasa latin adolescrese yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Salah satu perkembangan remaja yang sulit adalah yang berhubungan dengan penyesuaian sosial. Untuk mencapai tujuan dari pola sosialisasi dewasa, remaja harus banyak menggunakan penyesuaian baru. Diantara yang terpenting dan tersulit adalah penyesuaian diri dengan meningkatnya pengaruh remaja, Remaja lebih banyak berada di luar rumah maka dapat dimengerti bahwa pengaruh teman pada sikap, pembicaraan, minat, penampilan dan perilaku lebih besar dari pada pengaruh keluarga, termasuk dalam pemilihan makanan. Pertumbuhan dan perkembangan remaja berjalan optimal, tubuh memerlukan zat gizi yang memadai, kecukupan energi, protein lemak, dan suplai semua nutrient esensial ang menjadi basis pertmbuhan. Pemilihan makanan pada

remaja sudah menginjak tahap independensi. Dia biasa memilih makanan yang disukainya dalam pemenuhan makannya. Aktivitas yang banyak di luar rumah membuat remaja sering dipengaruhi oleh teman sebayanya. Pemilihan makan tidak lagi dilihat dari kandungan gizi dan sanitasi tempat makan. Seperti yang kita ketahui banyak sekali penyakit yang ditularkan jika sanitasi makananya itu tidak terjaga dengan baik, seperti diare, thypus, kolera, dan salah satunya hepatitis A. Hepatitis virus adalah infeksi sistemik oleh virus disertai sekrosis dan inflamasi pada sel-sel hati yang mengakibatkan kumpulan perubahan klinis biokimia.(Brunner dan Suddarth. 2002). Hepatitis A merupakan virus yang cara penularannya melalui fekal-oral terutama lewat konsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi (Brunner dan Suddarth. 2002) Hepatitis A merupakan urutan pertama dari beberapa penyakit hati di seluruh dunia. Penyakit tersebut atau pun gejala sisanya berakibat kematian sebesar 1-2 juta orang setiap tahunnya. Secara global, virus hepatitis merupakan penyebab utama viremia persisten. Di Indonesia berdasarkan data yang berasal dari RSUD Dr Moewardi Surakarta, hepatitis A masih merupakan bagian terbesar dari kasus-kasus hepatitis akut yang dirawat yaitu berkisar 39,6 - 68,3% (Sanitoso, 2007). Pada tahun 2002-2003 terjadi KLB (Kejadian Luar Biasa) penyakit hepatitis di Jember hepatitis dengan 80% penderitanya berasal dari kalangan mahasiswa. Dari data penderita hepatitis pada mahasiswa menunjukan56% mahasiswa tersebut terbiasa makan di warung atau pedagang kaki lima dengan sanitasi yang tidak baik (Dinas Kesehatan Jember, 2003).

Di Jember, jumlah kasus terbanyak di kelurahan Sumbersari didominasi oleh Hepatitis A (Seksi P2P Dinas Kesehatn Jember, 2007). Sedangkan, di daerah Bogor pada September 2011 sebanyak 14 warga Kelurahan Cilendek Barat, Kecamatan Bogor Barat terserang Hepatitis A. Namun, kejadian tersebut belum dikategorikan sebagai kejadian luar biasa (Mia, 2011)Dan kejadian merebaknya hepatitis A ini kebanyakan menyerang pelajar seperti di Depok tepatnya di SMK N 2 Depok yang menyerang 90 orang terdiri dari 1 orang guru dan 89 orang siswa, dengan gejala mata dan kulit berwarna kuning serta tubuh lemas. Diperkirakan penyebab mewabahnya penyakit hepatitis A ini karena penularan dari makanan yang terkontaminasi oleh virus atau sanitasi makanan di kantinkantin sekolah yang kurang bersih. Karena virus hepatitis A itu penularannya melalui makanan yang tertular atau terkontaminasi oleh virus hepatitis A, dan makanan yang dimasak kurang matang (Dini, 2011) Peneliti sudah melakukan studi pendahuluan ke SMP Negeri 14 Bogor tentang pengetahuan remaja (siswa) tentang Hepatitis dan Pencegahan Hepatitis A, dari 10 orang hanya 1 orang yang mengetahui tentang hepatitis dan pencegahan hepatitis A. Dari data di atas dapat disimpulkan sementara bahwa sebagian kecil siswa mengetahui tentang hepatitis dan cara pencegahannya. Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2007: 139).

Pengetahuan sangat penting agar remaja mengetahui tentang hepatitis dan cara pencegahahn hepatitis A. Kurangnya informasi dan pengetahuan dapat meningkatkan angka kejadian Hepatitis A. Oleh karena itu penulis tertarik untuk meneliti tentang pengetahuan remaja (pelajar) tentang pencegahan Penyakit Hepatitis. Karena hal tersebut akan sangat penting dalam setiap upaya-upaya pencegahan dan peningkatan kesehatan,

B. Rumusan Masalah Bagaimana gambaran pengetahuan Remaja tentang Pencegahan Penyakit Hepatitis A di SMP Negeri 14 Bogor?

C. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan Remaja tentang Pencegahan Penyakit Hepatitis A di SMP Negeri 14 Bogor

D. Manfaat 1. Bagi Peneliti a. Peneliti mendapatkan pengalaman dalam menerapkan ilmu keperawatan khususnya mengenai Penyakit Hepatitis A b. Peneliti mendapatkan pengalaman melakukan penelitian deskriptif c. Peneliti mengharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi dan sumbangan ilmu sebagai kajian teoritis maupun referansi, kepada para peneliti lain yang ingin melakukan penelitian sejenis.

2. Bagi Institusi Pendidikan a. Mengetahui gambaran pengetahuan remaja tentang pencegahan penyakit hepatitis A di bogor khususnya di SMP Negeri 14 Bogor. Sehingga hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai data dasar untuk penelitian selanjutnya. 3. Sekolah a. Memperoleh informasi tentang gambaran pengetahuan siswa/siswi di sekolah tentang pencegahan penyakit hepatitis b. Sebagai data dasar dalam menangani masalah kurangnya pengetahuan remaja tentang pencegahan penyakit hepatitis A