Anda di halaman 1dari 93

Evaluasi Struktur Pengendalian Intern atas Penggajian dan Pengupahan pada PT.

Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis dalam Hubungannya dengan Pemeriksaan Akuntan

Laporan Akhir ini Disusun sebagai Salah Satu Syarat Menyelesaikan Pendidikan Diploma III pada Jurusan Akuntansi

Oleh : Cici Oktayanti NIM 0606 3050 0389

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA PALEMBANG

Motto Setiap musibah yang menimpa seorang muslim, baik berupa penyakit,
rasa lelah, rasa sedih, kekuatan hati dan rasa susah, hingga duri yang
menusuk kaki, pasti akan menjadi penebus dosa-dosanya.

(HR. Bukhori Muslim)

Hidup merupakan serangkaian berfikir, belajar, dan bertindak. (Penulis)

Kupersembahkan untuk :

Bapak dan Ibu tercinta Kedua kakakku, Mas Aris dan Mas Itonk Teman-teman seperjuangan
kelas 6 AA

Almamaterku

ABSTRAK PENGENDALIAN EVALUASI STRUKTUR INTERN ATAS PENGGAJIAN DAN PENGUPAHAN PADA PT PERKEBUNAN NUSANTARA VII (PERSERO) UNIT USAHA CINTA MANIS DALAM HUBUNGANNYA DENGAN PEMERIKSAAN AKUNTAN. Cici Okatayanti, 2009 (xii + 66 halaman) Laporan akhir ini berjudul mengevaluasi struktur pengendalian intern atas penggajian dan pengupahan pada PT Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta dalam Hubungannya dengan Pemeriksaan Akuntan. Tujuan dari laporan akhir ini untuk mengevaluasi atas penggajian dan pengupahan pada PT Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis atas efektif dan efisien terhadap struktur pengendalian intern. Hasil penelitian menunjukan bahwa fungsi pembuat daftar gaji dan upah tidak terpisah dengan fungsi pembayaran sehingga terjadi perangkapan fungsi. Selanjutnya daftar gaji dan upah yang belum diverifikasi oleh fungsi akuntansi. Penulis menyarankan agar fungsi pembuat daftar gaji dan upah harus dipisahkan dengan fungsi pembayaran untuk mencegah kesalahan perhitungan gaji dan upah. Selain itu daftar gaji dan upah harus diverifikasi oleh fungsi akuntansi sehingga dengan verifikasi bukti kas keluar dibuat atas dasar dokumen yang andal. Kata Kunci : Struktur Pengendalian intern atas penggajian dan pengupahan

ABSTRACT THE INTERNAL CONTROL STRUCTUR EVALUATION OF WAGES AND PAYROLL REFERS TO AUDIT AT PT PERKEBUNAN NUSANTARA VII (PERSERO) UNIT USAHA CINTA MANIS. Cici Oktayanti, 2009 (xii + 66 Pages) This final report titled internal control structure evaluation of wages and payroll refers to audit at PT Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit usaha Cinta Manis. The goal of the final report is to evaluate the wages and payroll to help PT Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit usaha Cinta Manis for effective and efficient of internal control structure. Results of research indicate that the list of wages and payroll at PT Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit usaha Cinta Manis does not separate the functions so that payments occur doubled function. Then the list of wages and payroll have not been verified by the accounting function. The author suggested that the list of wages and payroll must be separated with a payment function to prevent the error calculation of wages and payroll. addition, a list of wages and payroll must be verified by the verification function of accounting so that evidence is made up of cash out basic document. Key Words : Internal Control Strukture of wages and payroll.

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas izin dan
hidayah-Nya akhirnya penulis dapat menyelesaikan penulisan Laporan Akhir ini

dengan tepat pada waktunya.


Laporan Akhir dengan judul Evaluasi Struktur Pengendalian Intern atas Penggajian dan Pengupahan pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis dalam Hubungannya dengan Pemeriksaan Akuntan. Evaluasi struktur pengendalian intern atas penggajian dan pengupahan perlu dilakukan untuk memastikan bahwa pelaksanaan operasi perusahaan yang berkaitan dengan penggajian dan pengupahan telah dijalankan dengan cara yang efektif dan efisien sehingga kegiatan dan keamanan harta perusahaan dapat terjamin serta berbagai

resiko kecurangan, manipulasi atau pemborosan dapat dihindari.


Penulis menyadari sejujurnya bahwa masih banyak terdapat kekurangan dalam tulisan ini dan jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis mengharapkan

pembaca bisa memaklumi dan memaafkan kesalahan dan kekurangan tersebut karena dibuat hanya sejauh dan pengalaman penulis. Namun demikian meskipun kecil artinya penulis yakin tidak hanya berguna bagi diri sendiri tetapi bermanfaat bagi kita semua. Suatu kewajaran kiranya apabila dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak yang telah membantu penulis menyelesaikan laporan akhir ini, baik moril maupun materil. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Bapak R.D. Kusumanto, S.T., M.M., selaku Direktur Politeknik Negeri Sriwijaya Palembang. 2. Bapak Aladin, S.E., Ak. Selaku Ketua Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Sriwijaya. 3. Ibu Rita Martini, S.E., M.Si., Ak. selaku Sekretaris Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Sriwijaya.

4. Bapak Kgs. Zainal Arifin, S.E. selaku Dosen Pembimbing I yang telah
banyak membantu dan membimbing penulis dalam menyelesaikan

Laporan Akhir ini.


5. Ibu Henny Yulsiati, S.E., M.Ak. selaku dosen pembimbing II yang telah banyak membantu dan membimbing penulis dalam menyelesaikan

Laporan Akhir ini.


6. Seluruh Dosen dan Staff di Jurusan Akuntansi yang telah mendidik, membimbing dan mengarahkan penulis selama proses belajar mengajar di

Politeknik Negeri Sriwijaya.


7. Seluruh Staff dan karyawan/ti PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis yang telah banyak membantu penulis dalam

menyelesaikan Laporan Akhir ini.


8. Seluruh teman-temanku, khususnya di kelas 6AA yang telah memberi

cerita dan mengukir kenangan di masa kuliahku. 9. Semua pihak yang telah banyak memberikan masukan dan saran demi kesempurnaan laporan ini. Akhir kata semoga Allah SWT memberikan imbalan yang lebih besar atas segala pengorbanan yang telah diberikan secara ikhlas kapada penulis dan penulis berharap agar Laporan Akhir ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Palembang,

Juli 2009

Penulis

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ................................................................................ i HALAMAN PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT ................................ ii HALAMAN PENGESAHAN LAPORAN AKHIR ............................ HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN .................................... iv ABSTRAK ................................................................................................ v ABSTRACT ............................................................................................. vi KATA PENGANTAR ............................................................................. vii DAFTAR ISI ............................................................................................ ix DAFTAR GAMBAR ............................................................................... xi DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................ xii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul ........................................ 1 1.2 Perumusan Masalah ........................................................... 2 1.3 Ruang Lingkup Pembahasan .............................................. 3 1.4 Tujuan dan Manfaat Penulisan ........................................... 3 1.5 Metode Pengumpulan Data ................................................ 4 1.6 Sistematika Penulisan ......................................................... 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Auditing .......................................................... 7 2.2 Jenis-jenis Audit, Tujuan Audit dan Manfaat Audit 2.2.1 Jenis-jenis Audit ..................................................... 8 2.2.2 Tujuan Audit ........................................................... 9 2.3 Standar Auditing ............................................................... 10 2.4 Pengertian dan Tujuan Struktur Pengendalian Intern ...... 11 2.4.1 Pengertian Struktur Pengendalian Intern ................ 11 iii

2.4.2 Tujuan Struktur Pengendalian Intern ...................... 12


2.4.3 Unsur-unsur Struktur Pengendalian Intern ............. 13 2.5 Pengertian Gaji dan Upah ................................................. 17

2.6 Aktivitas Pengendalian yang Diperlukan dalam Siklus Jasa Personel ..................................................................... 17 BAB III GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 3.1 Sejarah Singkat Perusahaan .............................................. 31 3.1.1 Visi dan Misi Perusahaan ....................................... 33 3.1.2 Tri Dharma Perkebunan .......................................... 33 3.1.3 Tujuan Perusahaan .................................................. 34 3.1.4 Nilai-nilai Budaya Perusahaan ................................ 34 3.2 Struktur Organisasi dan Uraian Tugas .............................. 34 3.2.1 Struktur Organisasi ................................................. 34 3.2.2 Uraian Tugas ........................................................... 37 3.3 Kegiatan Usaha ................................................................ 3.4 Penggajian dan Pengupahan pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Manis Cinta Manis ...................................................................... 42 3.5 Prosedur Penggajian dan Pengupahan ............................. BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Analisis Unsur-unsur Pengendalian Intern ........................ 52 4.1.1 Lingkungan Pengendalian ........................................ 52 4.1.2 Penaksiran Resiko .................................................... 56 4.1.3 Aktifitas Pengendalian ............................................. 58 4.1.4 Informasi dan Komunikasi ....................................... 63 4.1.5 Pemantauan ............................................................... 64 44 41

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ........................................................................... 65


5.2 Saran ................................................................................. 66

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 2.1 Bagan Alir Sistem Informasi Akuntansi Penggajian ............ 24 Gambar 2.2 Bagan Alir Sistem Informasi Akuntansi Pengupahan ........... 27 Gambar 3.1 Struktur Organisasi PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta manis ......................................... 36 Gambar 3.2 Bagan Alir Prosedur Penggajian pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta manis................... 47 Gambar 3.3 Bagan Alir Prosedur Pengupahan (Musiman) pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta manis ............................................................................. 49

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9 Lembar Mata Kuliah untuk Laporan Akhir Tahun Akademik 2008-2009 Surat Permohonan Pengantar Pengambilan Data Laporan Akhir Surat Pengatar Pengambilan Data Laporan Akhir Surat Balasan Kesediaan Pengambilan Data Laporan Akhir Surat Kesepakatan Dosen Pembimbing I Surat Kesepakatan Dosen Pembimbing II Kartu Konsultasi Bimbingan Laporan Akhir Pembimbing I Kartu Konsultasi Bimbingan Laporan Akhir Pembimbing II Kartu Kunjungan Mahasiswa

Lampiran 10 Kuesioner Lampiran 11 Daftar Hadir Karyawan PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta manis Lampiran 12 Evaluasi Hari Kerja Efektif PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta manis Lampiran 13 Daftar Gaji Karyawan PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta manis Lampiran 14 Bukti Kas Keluar PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta manis Lampiran 15 Slip Gaji Pekerja PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta manis Lampiran 16 Kede Etik Perilaku Perusahaan PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta manis Lampiran 17 Usulan Daftar Gaji Karyawan PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta manis Lampiran 18 Usulan Bukti Kas Keluar PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta manis

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul Pengendalian intern khususnya yang berhubungan dengan sistem penggajian memerlukan perhatian lebih dibandingkan dengan yang lainnya, sebab bisa menjadi masalah penting dan erat hubungannya dengan mental dan moril para karyawan yang dapat memicu tingkat produktivitas karyawan. Selain itu perusahaan harus mengetahui kewajiban utamanya sehubungan dengan pembayaran gaji dan upah karyawan sehingga nantinya pihak perusahaan maupun karyawan tidak dirugikan. Pengendalian intern bertujuan untuk mengurangi atau menekan dan mampu menghilangkan penyimpangan yang sangat mungkin terjadi dalam menjalankan perusahaan. Struktur pengendalian intern dapat dikatakan baik harus meliputi lingkungan pengendalian, penaksiran resiko, sistem informasi dan komunikasi, aktifitas pengendalian dan pemantauan serta adanya fungsi-fungsi yang terkait sesuai dengan tanggung jawab yang sudah ditetapkan Struktur pengendalian intern yang baik dalam suatu perusahaan merupakan hal yang mutlak diperlukan, akan tetapi pengendalian intern yang baik saja belum cukup, melainkan diperlukannya suatu staff audit intern yang dalam pelaksanaannya nanti dapat mematuhi kebijaksanaan dan prosedur yang telah ditetapkan. Struktur pengendalian intern merupakan rangkaian pengendalian yang sangat menentukan efektifitas operasi perusahaan. Struktur pengendalian intern yang lemah membuka peluang terjadinya penyelewengan, sehingga akan berpengaruh terhadap laba perusahaan. Pemahaman yang dilakukan melalui evaluasi terhadap struktur pengendalian intern akan memberikan hasil berupa informasi tentang pentingnya pengendalian tersebut untuk diterapkan. Evaluasi dalam struktur pengendalian intern adalah untuk memastikan bahwa pelaksanaan operasi perusahaan telah dijalankan dengan cara yang efektif dan efisien sehingga

kegiatan dan keamanan harta perusahaan dapat terjamin serta berbagai resiko kecurangan, manipulasi atau pemborosan dapat dihindari.
Dalam penggajian dan pengupahan banyak hal yang harus diperhatikan sehubungan pengendalian, dengan struktur pengedalian informasi intern dan misalnya komunikasi, lingkungan aktivitas

panaksiran

resiko,

pengendalian serta pemantauannya yang berhubungan dengan penggajian dan pengupahan. Hal ini penting agar tidak terjadi pembayaran gaji dan upah fiktif

atau realisasi atas gaji dan upah tidak mencerminkan nilai yang sebenarnya.
Struktur penggajian pada PT. Perkebunan Nusanara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis dengan cara membayarkan perbulan gaji karyawannya secara tunai, gaji tersebut tentu disesuaikan dengan jabatan atau golongan yang dipegang

oleh masing-masing karyawan berdasarkan pada ketentuan pemerintah tentang UMR ditambah dengan tunjangan serta dikenakan PPh 21 yang dalam hal ini di bayarkan oleh perusahaan. Dari hal diatas penulis tertarik untuk membuat laporan akhir dengan judul Evaluasi Struktur Pengendalian Intern atas Penggajian dan Pengupahan pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis dalam Hubungannya dengan Pemeriksaan Akuntan.

1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan pengamatan terhadap PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis penulis mencoba untuk merumuskan masalah yang terdapat dalam perusahaan berkaitan dengan struktur pengendalian intern atas sistem penggajian dan pengupahan. Adapun permasalahan yang didapat yaitu pada aktifitas pengendalian, antara lain: 1. Fungsi pembuatan daftar gaji dan upah di bagian SDM dan Umum tidak terpisah dari fungsi pembayaran gaji dan upah sehingga pengendalian intern belum berjalan dengan semestinya yang dapat menyebabkan kesalahan dalam perhitungan gaji dan upah pegawai.

2. Fungsi pembuatan daftar gaji dan upah belum diverifikasi kebenaran dan
ketelitian perhitungannya oleh fungsi akuntansi sebelum dilakukan pembayaran, sehingga belum menjamin adanya bukti kas keluar yang di

buat atas dasar dokumen pendukung yang andal. 1.3 Ruang Lingkup Pembahasan Sesuai dengan permasalahan yang terdapat di perusahaan dan untuk menghindari agar tidak meluasnya pembahasan, maka penulis merasa perlu untuk
membuat ruang lingkup pembahasan agar pembahasan dapat dilakukan dengan

lebih terarah. Dalam penulisan laporan akhir, penulis membatasi ruang lingkup pembahasan hanya pada aspek struktur pengendalian intern atas penggajian dan pengupahan serta hubungannya dengan pemeriksaan akuntan. 1.4 Tujuan dan Manfaat Penulisan 1.4.1 Tujuan Penulisan Tujuan penulisan laporan akhir adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui struktur pengendalian intern atas penggajian dan pengupahan pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis. 2. Untuk mengevaluasi pelaksanaan struktur pengendalian intern atas penggajian dan pengupahan pada PT. Perkebunan Nusantara VII Unit (Persero) Usaha Cinta Manis, dibandingkan dengan teori yang berkaitan. 1.4.2 Manfaat Penulisan Manfaat penulisan laporan akhir adalah sebagai berikut : 1. Menambah pemahaman atas struktur pengendalian intern atas penggajian dan pengupahan pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis, dan untuk dapat mengetahui teori-teori yang selama ini diperoleh dalam pendidikan formal di bangku kuliah dapat di terapkan secara praktis sesuai dengan kenyataan yang ada di perusahaan.

2. Memberi bahan pertimbangan untuk perusahaan dalam melaksanakan prosedur penggajian dan pengupahan yang lebih baik lagi, serta dapat digunakan sebagai masukan serta saran untuk masa yang akan datang. 1.5 Metode Pengumpulan Data Untuk mengumpulkan data dan informasi guna menyusun laporan akhir ini, penulis menempuh beberapa cara dimana tekniknya menurut Soeratno dan Lincolin Arsyad (2008:85;90;91) adalah : 1. Observasi Adalah pengamatan dan pencatatan secara teliti dan sistematis atas gejala-gejala (fenomena) yang sedang diteliti. 2. Wawancara Merupakan salah satu cara pengumpulan data dengan tanya jawab secara bertatap muka dengan responden. 3. Angket (Kuesioner atau Daftar Pertanyaan) Merupakan cara pengumpulan data dengan memberikan daftar pertanyaan kepada responden untuk diisi. Dalam penulisan laporan akhir ini penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu metode yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, menyajikan, serta menganalisa data sehingga dapat memberikan gambaran-gambaran yang jelas atas objek yang ditulis dan diamati. Data yang digunakan penulis dalam laporan akhir ini menurut Soeratno dan Lincolin Arsyad (2008:70) yaitu : 1. Data Primer Yaitu data yang dikumpulkan dan diolah sendiri oleh organisasi yang menerbitkan atau menggunakannya. 2. Data Sekunder Data yang diterbitkan atau digunakan oleh organisasi yang bukan pengolahnya.

Dikaitkan dalam objek penulisan laporan akhir ini, data yang dimaksud berupa hasil wawancara dengan mengadakan pembicaraan dan tanya jawab langsung dengan pihak yang berkepentingan pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis, data primer dan data sekunder yang diperoleh penulis adalah sejarah berdirinya perusahaan, struktur organisasi, bagan alir prosedur penggajian dan pengupahan dan data yang berhubungan dengan penggajian dan pengupahan. 1.6 Sistematika Penulisan Secara garis besar, laporan akhir ini terdiri dari V bab yang isinya mencerminkan susunan materi yang akan dibahas, dimana masing-masing bab saling berkaitan dan berhubungan satu dengan yang lain. adapun sistematika penulisan laporan akhir ini adalah sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini penulis mengemukakan secara garis besar mengenai latar belakang pemilihan judul, perumusan masalah, ruang lingkup pembahasan, tujuan dan manfaat penulisan laporan akhir, metode pengumpulan data dan sistematika penulisan. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Bab ini merupakan uraian mengenai teori-teori yang melandasi pembahasan dalam bab IV, sesuai dengan rumusan masalah yang ada pada bab I. Adapun tinjauan pustaka akan dijelaskan pada sub-sub bab, meliputi : Pengertian Auditing, Jenis dan Tujuan Auditing, Pengertian dan Tujuan Stuktur Pengendalian Intern, Pengertian Gaji dan Upah, serta Unsur-unsur Struktur Pengendalian intern terhadap Gaji dan Upah. BAB III KEADAAN UMUM PERUSAHAAN Bab ini akan di uraikan gambaran umum mengenai Sejarah Singkat Perusahaan, Struktur Organisasi dan Pembagian Tugas, Aktivitas Perusahaan, serta Prosedur Pembayaran Gaji dan Upah yang dilakukan oleh Perusahaan. BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis menganalisa permasalahan pada perusahaan dengan membandingkan teori dan kenyataan. Analisis tersebut hanya pada struktur pengendalian intern atas sistem penggajian dan pengupahan, yang meliputi pembahasan terhadap komponen struktur pengendalian intern, khususnya pada komponen Lingkungan Pengendalian, Penaksiran Resiko, Informasi dan Komunikasi, Aktifitas Pengendalian serta Pemantauan. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Setelah diadakan analisa dalam bab IV maka penulis akan membuat kesimpulan yang merupakan inti dari hasil analisa, setelah itu akan dilanjutkan dengan saran-saran yang mungkin dapat dijadikan masukan bagi kemajuan perusahaan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Auditing Auditing merupakan suatu bagian dari akuntansi dimana merupakan
pemeriksaan laporan keuangan untuk menilai dan meneliti apakah bahan bukti tentang informasi akuntansi yang berlaku pada suatu perusahaan sesuai dengan

standar yang berlaku umum. Auditing memberikan analisa pemecahan-pemecahan atau menguraikan informasi yang ada pada ikhtisar keuangan untuk mencari data yang dapat mendukung akuntan meneliti mengenai kelayakan penyusunan informasi tersebut. Suatu perusahaan yang skala usahanya sudah cukup besar, memerlukan pemeriksaan yang memadai atas laporan keuangan yang diajukan oleh pihak manajemen. Agar laporan keuangan tersebut dapat dijadikan informasi yang terpercaya dalam pengambilan keputusan, maka akuntan publik harus dapat mengumpulkan dan sekaligus mengevaluasi bahan bukti untuk menentukan tingkat kesesuaian informasi yang tersedia. Selama ini banyak timbulnya pengertian mengenai pemeriksaan akuntan atau auditing, pemeriksaan ini sendiri pada dasarnya memiliki kesamaan. Berikut ini ada beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian dari auditing, namun pada prinsipnya pendapat tersebut tidak saling bertentangan antara satu dengan yang lainnya. Menurut Arens dan Loebbecke (2003:1) yang dimaksud auditing adalah : Proses pengumpulan data dan pengevalusian bahan bukti tentang informasi yang dapat di ukur mengenai suatu entitas ekonomi yang dilakukan seorang yang kompeten dan independen untuk dapat menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi yang dimaksud dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan. Menurut Arens, dkk (2003:15) auditing adalah : Pengumpulan serta pengevaluasian bukti-bukti atas informasi untuk menentukan dan melaporkan tingkat kesesuaian informasi tersebut dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan. Auditing harus dilaksanakan oleh seseorang yang kompeten dan independen.

Menurut Sukrisno Agoes (2007:3) auditing adalah : Suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis, oleh pihak yang independen terhadap laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen beserta catatan-catatan pembukuan dan bukti-buktii pendukungnya, dengan tujuan untuk memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut. Sedangkan menurut Mulyadi (2002:9) auditing adalah : Suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pernyataan tentang kegiatan-kegiatan dan kejadian ekonomi dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian-penyampaian hasilhasilnya kepada pemakai yang berkepentingan. Berdasarkan definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa audit atas laporan keuangan auditor independen merupakan suatu proses yang sistematis dan objektif terhadap laporan keuangan suatu perusahaan atau unit organisasi lain yang pada
akhirnya bertujuan untuk memberikan pendapat terhadap kewajaran, dalam semua

hal yang material, posisi keuangan dan hasil usaha serta arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang umum, keadaan keuangan dan hasil usaha perusahaan atau organisasi tersebut. 2.2 Jenis-jenis Audit dan Tujuan Audit Dalam melaksanakan pemeriksaan, ada beberapa jenis audit yang dilakukan oleh para auditor sesuai dengan tujuan pelaksanaan pemeriksaan. Menurut Arens dan Loebbecke (2003:4-6) dipandang dari sudut objek yang diperiksa, audit dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu : 1. Audit Laporan Keuangan, bertujuan menentukan apakah laporan keuangan secara keseluruhan yang merupakan informasi terukur yang akan diverifikasikan telah disajikan sesuai dengan kriteriakriteria tertentu. Umumnya, kriteria itu adalah prinsip akuntansi yang berlaku umum, walaupun dapat pula disusun berdasarkan basis kas atau basis akuntansi lainnya yang sesuai dengan kebutuhan organisasi yang sesuai dengan kebutuhan organisasi yang bersangkutan. Asumsi dasar laporan yang dihasilkan akan dipakai oleh orang-orang yang berbeda.

2.2.1 Jenis-jenis Audit

2. Audit Operasional, merupakan penelaah atas bagian manapun


dari prosedur dan metode operasi suatu organisasi untuk menilai efisiensi dan efektifitasnya. Umumnya, pada saat selesainya

audit operasional auditor akan memberikan sejumlah saran kepada manajemen untuk memperbaiki jalannya operasi
perusahaan. Tinjauan yang dilakukan tidak terbatas pada

masalah-masalah akuntansi, tetapi juga meliputi evaluasi terhadap struktur pengendalian organisasi, pemanfaatan komputer, metode produksi, pemasaran dan bidang-bidang lain sesuai dengan keahlian auditor. 3. Audit Ketaatan, Bertujuan untuk mempertimbangkan apakah auditi (klien) telah mengikuti prosedur atau aturan tertentu yang telah ditetapkan pihak yang memiliki otoritas yang lebih tinggi. Suatu audit ketaatan pada perusahaan swasta, dapat termasuk penentuan apakah para pelaksana akuntansi telah mengikuti prosedur yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Peninjauan tingkat upah untuk menentukan kesesuaian dengan peraturan upah minimum, atau pemeriksaan surat perjanjian dengan bank atau kreditor lain untuk memastikan bahwa perusahaan tersebut telah memenuhi ketentuan hukum berlaku. Hasil audit ketaatan biasanya tidak dilaporkan kepada pihak luar, tetapi kepada pihak tertentu dalam organisasi. Pimpinan organisasi adalah pihak yang paling berkepentingan atas dipatuhinya prosedur dan aturan yang telah ditetapkan. Oleh sebab itu sering dipekerjakan auditor untuk melaksanakan tugas tersebut. Tetapi, terdapat pengecualian, sebagai contoh dalam hal perjanjian yang melibatkan dua pihak atau lebih. Apabila suatu pihak hendak memastikan apakah pihak lain benar-benar menaati perjanjian sesuai ketentuan yang berlaku, maka auditor akan dipekerjakan oleh organisasi yang mengeluarkan ketentuan, contohnya audit atas seorang wajib pajak untuk memastikan apakah telah mematuhi undang-undang perpajakan yang berlaku.

Berdasarkan pembagian audit diatas, dapat dikatakan bahwa pemeriksaan


yang dilakukan para auditor tergantung pada jenis-jenis audit yang dilakukannya

sesuai dengan yang dicapai para auditor.

2.2.2 Tujuan Audit Berdasarkan beberapa definisi auditing yang telah dikemukakan diatas,
dapat kita ketahui bahwa tujuan auditing pada umumnya untuk menentukan apakah laporan keuangan yang dihasilkan oleh pihak manajemen telah sesuai

dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan.


Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2001:110,1), tujuan audit umum atas

laporan keuangan oleh auditor independen adalah :Untuk menyatakan pendapat atas kewajaran, dalam semua hal yang material, posisi keuangan dan hasil usaha serta arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku. Dari beberapa tujuan auditing yang dikemukakan diatas, dapat dinyatakan bahwa auditing merupakan suatu pemeriksaan akuntansi yang bertujuan untuk memberikan pendapat dan mengevaluasi kegiatan berdasarkan bukti-bukti yang dapat dikumpulkan oleh auditor dengan posisi yang independen atau bebas. 2.3 Standar Auditing Untuk mencapai tujuan didalam auditing, auditor harus berpedoman pada standar pemeriksaan, yang merupakan kriteria atau ukuran mutu pelaksanaan akuntan. Standar pemeriksaan berbeda dengan prosedur pemeriksaan akuntan, standar pemeriksaan merupakan hal yang berkenan dengan mutu pekerjaan akuntan., sedangkan prosedur pemeriksaan adalah langkah-langkah dalam pelaksanaan pemeriksaan. Standar auditing yang telah ditetapkan dan disahkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (2001:150,1) adalah sebagai berikut : 1. Standar Umum a. Audit harus dilakukan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan yang cukup sebagai auditor. b. Dalam semua hal yang behubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental harus dipartahankan oleh auditor. c. Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama.

2. Standar Pekerjaan Lapangan a. Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya. b. Pemahaman yang memadai atas pengendalian intern harus
diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat,

saat dan lingkup pengujian yang dilakukan.


c. Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan dan konfirmasi sebagai dasar untuk menyatakan pendapat atas laporan yang

3.

diaudit. Standar Pelaporan


a. Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum

di Indonesia.
b. Laporan auditor harus menunjukan atau menyatakan, jika ada

ketidak konsistenan penerapan prinsip akuntansi dalam menyusun laporan keuangan periode berjalan dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya. c. Mengungkapkan informasi dalam laporan keuangan harus
dipandang memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan

auditor. d. Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat


mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu

asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Dengan adanya standar yang ditetapkan, diharapkan bahwa dalam
pelaksanaan pemeriksaan para auditor harus memenuhi standar-standar yang

berlaku umum di Indonesia. Sehingga hasil pemeriksaannya dapat memberikan keyakinan yang penuh oleh para pengguna jasa auditor baik pihak intern maupun pihak ekstern. Pemahaman mengenai pengendalian intern diatas diperlukan bagi setiap akuntan pemeriksa untuk menentukan perencanaan dan pelaksanaan suatu audit. Hal ini sesuai dengan standar pekerjaan lapangan yang kedua menyatakan: Pemahaman yang memadai atas pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat dan lingkup pengujian yang akan dilakukan.

2.4

Pengertian dan Tujuan Struktur Pengendalian Intern Struktur pengendalian intern merupakan bagian yang sangat penting dalam

2.4.1 Pengertian Struktur Pengendalian Intern


perusahaan karena hal tersebut sangat mempengaruhi kegiatan operasional perusahaan, sehingga perusahaan memerlukan pengendalian intern yang baik dalam menjalankan aktivitas. Di bawah ini ada beberapa pendapat yang membahas tentang definisi pengendalian intern. Menurut Ikatan Akuntan

Indonesia (2001:319.2), yaitu: Pengendalian intern adalah suatu yang dijalankan oleh komisaris, manajemen dan personel lain entitas yang didesain untuk memberikan keyakinan yang memadai tentang pencapaian tiga golongan tujuan berikut ini : 1. Keandalan laporan keuangan. 2. Efektifitas dan efisiensi operasi 3. Kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku. Struktur pengendalian intern menurut Arens dan Beasley (2003:401), yaitu : Suatu sistem yang terdiri dari kebijakan-kebijakan dan prosedurprosedur yang dirancang untuk memberikan manajemen keyakinan yang memadai bahwa tujuan dan sasaran yang penting merupakan bagian satuan usaha dapai dicapai. Kebijakan dan prosedur ini sering kali disebut pengedalian dan secara bersama-sama membentuk struktur pengendalian intern satu satuan usaha. Menurut Mulyadi (2002: 180) Pengendalian intern adalah Pengendalian intern merupakan suatu proses yang dijalankan oleh dewan komisaris, manajemen dan personel lain yang di desain untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tiga golongan tujuan yaitu (1) Keandalan Pelaporan Keuangan, (2) Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan berlaku, (3) Efektifitas dan efisiensi operasi. Dari pengertian pengendalian di atas dapat disimpulkan bahwa pengendalian intern merupakan suatu alat yang dapat membantu menajemen untuk mengendalikan kegiatan perusahaan, mencegah terjadinya kecurangankecurangan dan penyelewengan-penyelewengan, selain itu untuk mendorong dipatuhinya kebijakan yang telah ditetapkan manajemen.

2.4.2 Tujuan Struktur Pengendalian Intern Pengendalian intern merupakan sarana yang sangat penting dalam
menjamin bahwa suatu sistem berjalan dengan baik dan sesuai dengan peraturan yang ada, sehingga meminimalisasikan kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi baik yagn disengaja maupun tidak disengaja. Dari definisi pengendalian intern menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2001:319.3), menunjukan bahwa struktur

penendalian intern bertujuan untuk: 1. Menjamin keandalan atas laporan keuangan 2. Menjamin agar pelaksanaan kegiatan perusahaan berjalan dengan efektif dan efisien. 3. Menjamin kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.
Berdasarkan dari tujuan struktur pengandalian intern tersebut diharapkan bahwa struktur pengedalian intern dapat memberikan keyakinan mengenai pelaporan keuangan bagi segala pihak yang menggunakannya, selain itu juga

struktur pengendalian intern diharapkan dapat meyakinkan dan menjamin atas terlaksananya kegiatan perusahaan yang lebih efektif dan efisien sehingga biaya yang dikeluarkan perusahaan akan semakin kecil dan aktivitas perusahaan berjalan dengan baik, sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai, selain itu tujuan struktur pengendalian intern diharapkan dapat memberikan keyakinan kepada seluruh pihak bahwa perusahaan telah melakukan aktifitasnya sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia.

2.4.3 Unsur-unsur Struktur Pengendalian Intern Untuk keberhasilan dalam penerapan pengendalian intern maka harus diperhatikan juga unsur-unsur yang terdapat dalam suatu pengendalian intern. Unsur-unsur 1. 2. 3. 4. pengendalian intern menurut Ikatan Akuntan Indonesia, (2001:319.24), yaitu : Lingkungan Pengendalian Penerapan Resiko Manajemen Sistem Informasi dan Komunikasi akuntansi Aktifitas pengedalian, dan

5.

Pemantauan

Penjelasan mengenai unsur-unsur pengendalian intern di atas dapat di uraikan sebagai berikut: 1. Lingkungan pengendalian Lingkungan pengendalian merupakan gabungan dari berbagai faktor dalam membentuk kebijakan dan prosedur tertentu. Faktor-faktor yang mempengaruhi lingkungan pengendalian suatu perusahaan yaitu: a. Integritas dan nilai etika Integritas dan nilai etika merupakan unsur pokok lingkungan pengendalian, yang mempengaruhi atas komponen yang lain. b. Komitmen terhadap kompetensi Kebijakan manajemen dalam menilai kemampuan dan pengetahuan seseorang di bidangnya tentang apa yang akan dikerjakannya dan bagaimana ia akan menerjemahkan suatu keadaan didalam lingkungan pekerjaannya tersebut, sehingga dapat memperlancar operasional perusahaan. c. Partisipasi dewan komisaris dan komite audit Dewan komisaris merupakan pemilik atas perusahaan sehingga dewan komisaris diharapkan dapat menilai atas kinerja manajemen yang diserahkan tanggung jawab atas pelaksanaan aktivitas perusahaan diharapkan dengan adanya pengawasan dari para pemilik perusahaan diharapkan pihak manajemen dapat melakukan aktivitas perusahaan dengan baik dan jika terjadi kecurangan-kecurangan, pihak komisaris dapat mengambil tindakan kepada pihak manajemen. d. Filosofi dan gaya operasi perusahaan Falsafah dan gaya operasi manajemen merupakan cara dan karakteristik manajemen dalam melakukan pendekatan agar tujuan operasional yang diharapkan dapat tercapai dengan baik. e. Struktur organisasi Struktur organisasi merupakan gambaran otorisasi perusahaan yang memberikan kerangka kerja menyeluruh bagi perencanaan, pengarahan, dan pengendalian operasi dan memberikan gambaran yang jelas mengenai tingkatan pada perusahaan. f. Pemberian wewenang dan tanggungjawab Bagian ini merupakan tindak nyata dari adanya struktur organisasi dimana dapat mempengaruhi pemahaman terhadap hubungan pelaporan dan tanggung jawab yang diterapkan dalam entitas. g. Kebijakan dan Praktik sumber daya manusia Hal ini merupakan tindakan perusahaan terhadap karyawan berupa praktik dan kebijakan karyawan berkaitan dengan

pemerkerjaan, otorisasi, pelatihan, evaluasi, bimbingan, promosi dan pemberian kompensasi serta tindakan perbaikan. 2. Penaksiran Resiko Penaksiran resiko entitas untuk pelaporan keuangan merupakan
pengidentifikasian analisis dan pengelolaan resiko yang relevan dengan menyusun laporan keuangan yang disajikan secara wajar

sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Resiko dapat timbul atau berubah karena keadaan seperti berikut: a. Perubahan dalam lingkungan operasi Perubahan dalam lingkungan peraturan dan operasi dapat
mengakibatkan perubahan dalam tekanan persaingan dan

resiko yang berbeda secara signifikan. b. Personel baru


Personel baru mungkin memiliki fokus yang berbeda atas

pemahaman terhadap pengendalian intern. c. Sistem Informasi baru atau yang diperbaiki
Perubahan signifikan dan cepat dalam system informasi dapat

mengubah resiko berkaitan dengan pengendalian intern. d. Pertumbuhan yang pesat Perluasan operasi yang signifikan dan cepat dapat memberikan tekanan terhadap pengendalian dan meningkatkan resiko kegagalan dalam pengendalian. e. Teknologi baru Pemasangan teknologi baru kedalam operasi atau sistem informasi dapat mengubah resiko yang berhubungan dengan pengendalian intern. f. Link produk, produk aktivitas baru Dengan masuk kebidang bisnis atau transaksi yang didalamnya entitas belum memiliki pengalaman dapat mendatangkan resiko baru yang berkaitan dengan pengendalian intern. g. Restrukturisasi korporat Dapat disertai dengan pengurangan staf dan perubahan dalam supervisi dan pemisahan tugas yang dapat mengubah resiko yang berkaitan dengan pengendalian intern. h. Operasi luar negeri Perluasan atau pemerolehan operasi luar negeri membawa resiko baru atau seringkali resiko yang unik yang berdampak terhadap resiko dalam menyusun laporan keuangan. 3. Aktifitas Pengendalian Akuntansi adalah kebijakan dan prosedur sebagai tambahan terhadap lingkungan pengendalian dan sistem akuntansi yang telah diciptakan oleh manajemen untuk memberikan keyakinan yang memadai bahwa tujuan tertentu perusahaan akan tercapai.

Secara umum aktivitas pengendalian dapat dikelompokan sebagai berikut : a. Review kinerja Aktivitas pengendalian ini mencakup review atas kinerja
sesungguhnya dibandingkan dengan anggaran, perkiraan, atau kinerja periode sebelumnya, menghubungkan suatu

rangkaian data yang berbeda operasi atau keuangan satu dengan yang lain, bersama dengan analisis atas hubungan dan tindakan penyelidikan dan perbaikan dan review atas kinerja fungsional atau aktivitas. b. Pengolahan informasi Berbagai pengendalian dilaksanakan untuk mengecek ketepatan, kelengkapan dan otorisasi transaksi. Dikelompokan atas luas aktivitas pengendalian yaitu
pengendalian umum (general control) berupa pengendalian pusat data, pemerolehan dan pemeliharaan perangakat lunak,

sistem keamanan akses, pemeliharaan system aplikasi. Pengendalian ini berlaku untuk main frame, mini computer, dan lingkungan pemakai akhir (end user). c. Pengendalian fisik Aktivitas ini mencakup keamanan fisik aktiva, termasuk penjagaan memadai seperti fasilitas yang terlindungi, dari akses terhadap aktiva dan catatan: otorisasi untuk akses ke progam computer dan data files, perhitungan secara periodic dan jumlah yang tercantum pada catatan pengendalian. d. Pemisahan tugas Pembebanan tanggungjawab kepada orang yang berbeda untuk memberikan otorisasi transaksi, menyelenggarakan penyimpanan aktiva ditujukan untuk mengurangi kesempatan bagi seseorang dalam posisi baik untuk berbuat kecurangan dan sekaligus untuk menyembunyikan kekeliruan dan ketidakberesan dalam menjalankan tugasnya dalam keadaan normal. 4. Informasi dan Komunikasi Sistem informasi yang benar dengan tujuan pelaporan keuangan, yang meliputi system akuntansi terdiri dari bebrap metode dan catatan yang dibangun untuk mencatat, mengolah, meringkas dan melaporkan transaksi entitas (baik peristiwa maupun kondisi) dan untuk memelihara kebenaran aktiva, utang dan ekuitas yang bersangkutan. Sistem informasi mencakup metode dan catatan yang digunkan untuk : a. Mengidentifikasi dan mencatat semua transaksi yang sah b. Menjelaskan pada saat yang tepat transaksi secara cukup rinci untuk memungkinkan penggolongan semestinya transaksi untuk pelaporan keuangan.

c. Mengukur nilai transaksi dengan cara sedemikian rupa sehingga memungkinkan pencatatan nilai moneter semestinya dalam laporan keuangan. d. Menetunkan periode waktu terjadinya transaksi dalam periode akuntansi semestinya. e. Menyajikan periode waktu terjadinya transaksi untuk memungkinkan pencatatan transaksi dalam periode akuntansi semestinya. f. Menyajikan transaksi semestinya dan pengungkapan untuk berkaitan dalam laporan keuangan. 5. Pemantuan Pemantauan adalah proses penetapan kuantitas kinerja pengendalian intern sepanjang waktu. Hal ini diperlukan untuk menjamin dan menjaga agar pelaksanaan aktivitas perusahaan dapat berjalan dengan kebijakan dan peraturan yang dibuat oleh pihak manajemen. 2.5 Pengertian Gaji dan Upah Pada umumnya pembayaran yang dilakukan perusahaan kepada karyawan dibedakan menjadi dua jenis yaitu pembayaran gaji dan pembayaran upah. Gaji umumnya merupakan pembayaran atas penyerahan jasa yang dilakukan oleh
karyawan yang mempunyai jenjang jabatan manajer. Sedangkan upah umumnya

merupakan pembayaran jasa atas penyerahan jasa yang dilakukan oleh karyawan pelaksana (buruh). Umumnya gaji dibayar tetap perbulan, sedangkan upah dibayarkan berdasarkan hari kerja, jam kerja, atau jumlah satuan produksi yang dihasilkan. Pembayaran ini sedapat mungkin diawasi dan dikendalikan guna mencegah kekeliruan dan kesalahan yang mungkin dapat terjadi, untuk itu diperlukan suatu struktur pengendalian intern sehubungan dengan pembayaran gaji dan upah. Definisi gaji dan upah menurut mulyadi (2002:285), yaitu: Gaji adalah pembayaran atas penyerahan jasa yang dilakukan oleh karyawan yang mempunyai jenjang jabatan manajer, umumnya gaji dibayarkan secara tetap perbulan. Upah adalah pembayaran atas penyerahan jasa yang dilakukan oleh karyawan pelaksana (buruh), upah dibayarkan berdasarkan hari kerja, jam kerja, atau jumlah satuan produk yang dihasilkan oleh karyawan.

2.6

Aktivitas Pengendalian yang Diperlukan dalam Siklus Jasa Personel Dalam struktur pengendalian intern atas penggajian dan pengupahan ada

beberapa hal yang harus diperhatikan dalam kaitannya dengan aktifitas pengendalian. Aktifitas pengendalian merupakan salah satu unsur struktur
pengendalian intern yang dapat mencegah dan mendeteksi salah saji. Aktifitas

pengendalian intern yang diperlukan dalam siklus jasa personel (penggajian dan pengupahan) menurut Mulyadi (2002:301) adalah : Fungsi pembuatan daftar gaji dan upah harus terpisah dari fungsi pembayaran gaji dan upah. Dalam sistem informasi akuntansi penggajian dan pengupahan, fungsi pembuat daftar gaji dan upah merupakan fungsi akuntansi, yang bertanggungjawab atas perhitungan penghasilan setiap karyawan. Fungsi ini berada di tangan bagian gaji dan upah, di bawah departemen personalia dan umum. Fungsi pembayaran gaji dan upah merupakan fungsi penyimpanan, yang dalam struktur organisasi perusahaan umumnya berada di bagian kasa. Dengan dipisahkannya dua fungsi ini, hasil perhitungan gaji dan upah dicek ketelitian dan keandalannya oleh fungsi pembayaran gaji dan upah, sebelum gaji dan upah dibayarkan kepada karyawan yang berhak. Fungsi pencatat waktu hadir harus terpisah dari fungsi operasi. Waktu hadir merupakan waktu yang dipakai sebagai salah satu dasar untuk perhitungan gaji dan upah karyawan. Dengan demikian ketelitian dan keandalan data waktu hadir karyawan sangat menentukan ketelitian dan keandalan gaji dan upah setiap karyawan. Setiap orang yang namanya tercantum dalam daftar gaji dan upah harus memiliki surat keputusan pengangkatan sebagai karyawan perusahaan yang ditandatangani oleh direksi. Karena pembayaran gaji dan upah didasarkan pada dokumen daftar gaji dan upah, maka perlu dilakukan pengawasan terhadap nama-nama karyawan yang dimasukkan ke dalam daftar gaji dan upah. Setiap perubahan gaji dan upah karyawan karena perubahan pangkat, perubahan tarif gaji dan upah, tambahan keluarga harus di dasarkan pada surat keputusan direksi. Untuk menjamin keandalan data gaji dan upah karyawan, setiap perubahan unsur yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung penghasilan karyawan harus diotorisasi oleh yang berwenang. Setiap potongan atas gaji dan upah karyawan selain dari pajak penghasilan karyawan harus didasarkan atas surat potongan gaji dan upah yang diotorisasi oleh kepala fungsi personalia. Setiap data yang dipakai sebagai dasar penambahan gaji dan upah karyawan harus diotorisasi oleh yang berwenang (direksi) agar data

gaji dan upah yang tercantum dalam daftar gaji dan upah dapat diandalkan. Kartu jam hadir diotorisasi oleh fungsi pencatat waktu. Jam hadir merupakan salah satu dasar untuk penentuan penghasilan karyawan, maka data waktu hadir harus diotorisasi oleh fungsi pencatat waktu . Perintah lembur harus diotorisasi oleh kepala departemen karyawan yang bersangkutan. Untuk menjamin bahwa pekerjaan lembur memang dibutuhkan oleh perusahaan, maka setiap kerja lembur harus diotorisasi oleh kepala departemen yang bersangkutan. Daftar gaji dan upah harus diotorisasi oleh kepala fungsi personalia. Daftar gaji dan upah merupakan dokumen yang dipakai sebagai dasar pembayaran gaji dan upah kepada karyawan yang berhak. Oleh karena itu, daftar gaji dan upah harus diotorisasi oleh kepala fungsi personalia.
Bukti kas keluar untuk pembayaran gaji dan upah harus

diotorisasi oleh kepala fungsi akuntansi. Dokumen ini diisi oleh fungsi pembuat bukti kas keluar (bagian utang) setelah fungsi ini melakukan verifikasi terhadap informasi yang tercantum dalam daftar gaji dan upah. Penggunaan formulir bernomor urut tercetak dan penggunaannya dipertanggungjawabkan. Untuk mengawasi pemakaian jam kerja karyawan, digunakan kartu jam kerja yang bernomor urut tercetak. Formulir ini diawasi pemakaiannya melalui pertanggungjawaban pemakaian nomor urut tercetaknya. Perubahan dalam kartu penghasilan karyawan direkonsiliasi dengan daftar gaji dan upah karyawan. Untuk mengecek ketelitian data yang dicantumkan dalam kartu penghasilan karyawan, pengendalian intern mewajibkan diadakan rekonsiliasi antara perubahan data yang tercantum dalam kartu penghasilan karyawan dengan daftar gaji dan upah. Tarif upah yang dicantumkan dalam kartu jam kerja diverifikasi keteletiannya oleh fungsi akuntansi biaya. Fungsi akuntansi biaya bertanggungjawab atas distribusi upah langsung kepada kartu kos produk yang menggunakan tenaga kerja langsung yang bersangkutan. Kartu jam hadir harus dibandingkan dengan kartu jam kerja sebelum kartu yang terakhir ini dipakai sebagai dasar distribusi biaya tenaga kerja langsung. Kartu jam hadir merekam jumlah jam setiap karyawan berada di perusahaan, sedangkan kartu jam kerja merinci penggunaan jam hadir setiap karywan. Kartu jam kerja ini merupakan dasar untuk melakukan distribusi biaya tenaga kerja. Untuk mengecek ketelitian data yang tercantum dalam kartu jam kerja, fungsi pembuat daftar gaji dan upah harus membandingkan data jam yang tercantum dalam kartu jam hadir dengan data yang tercantum dalam kartu jam kerja.

Pemasukan kartu jam hadir kedalam mesin pencatat waktu harus diawasi oleh fungsi pencatat waktu. Untuk menjamin
keandalan data jam hadir yang direkam dalam kartu jam hadir harus dilakukan pengawasan terhadap pemasukan kartu jam hadir ke

dalam mesin pencatat waktu.


Pembuatan daftar gaji dan upah harus diverifikasi kebenaran

dan ketelitian perhitungannya oleh fungsi pembuat bukti kas


keluar sebelum dilakukan pembayaran. Sebelum membuat bukti kas keluar sebagai perintah untuk pembuatan cek pembayaran gaji dan upah, fungsi pencatat utang harus melakukan verifikasi kebenaran dan ketelitian perhitungan gaji dan upah yang tercantum

dalam daftar gaji dan upah yang dibuat oleh bagian gaji dan upah. Penghitungan pajak penghasilan karyawan direkonsiliasi dengan kartu penghasilan karyawan. Dalam sistem pemungutan pajak penghasilan yang menjadi kewajiban karyawan , yang dikenai dengan PPh Pasal 21. Kartu penghasilan karyawan disimpan oleh fungsi pembuat daftar gaji dan upah. Kartu penghasilan karyawan selain berfungsi sebagai kartu penghasilan yang diterima karyawan selama setahun jaga berfungsi sebagai tanda telah diterima nya gaji dan upah oleh karyawan yang berhak. Paduan akun dan review terhadap pemberian kode akun. Keakuratan posting transaksi kedalam buku pembantu biaya dan ke register bukti kas keluar ditentukan oleh pemberian kode akun dalam pembuatan dokumen sumber (bukti kas keluar).

Struktur pengendalian intern terdiri atas prosedur-prosedur yang membentuk


suatu jaringan. Prosedur-prosedur yang membentuk sistem informasi akuntansi

penggajian dan pengupahan menurut Mulyadi (2002:286), yaitu : 1. Sistem informasi akuntansi penggajian, yang terdiri dari jaringan prosedur berikut ini : a. Prosedur pencatatan waktu hadir b. Prosedur pembuatan daftar gaji c. Prosedur pembayaran gaji d. Prosedur distribusi biaya gaji 2. Sistem informasi akuntansi pengupahan, yang terdiri dari jaringan prosedur berikut ini : a. Prosedur pencatatan waktu hadir b. Prosedur pencatatan waktu kerja c. Prosedur pembuatan daftar upah d. Prosedur pembayaran biaya upah e. Prosedur distribusi upah

Dalam melaksanakan suatu struktur sebaiknya dilakukan atas beberapa


fungsi yang berbeda dalam pelaksanaannya, hal ini untuk menghindari adanya penyelewengan-penyelewengan. Begitu juga dengan siklus penggajian dan

pengupahan menurut Mulyadi, (2002:289) adalah sebagai berikut: 1. Fungsi Penerima Pegawai Fungsi ini bertanggung jawab mencari karyawan baru, menyeleksi calon karyawan, memutuskan penempatan karyawan baru, membuat surat keputusan tarif gaji dan upah karyawan, kenaikan pangkat dan golongan gaji, mutasi karyawan, pemberhentian karyawan. 2. Fungsi Pencatat Waktu Fungsi ini bertanggung jawab untuk menyelenggarakan catatan waktu hadir bagi semua karyawan perusahaan. 3. Fungsi Pembuat Daftar Gaji dan Upah Fungsi ini bertanggung jawab menghitung penghasilan setiap karyawan selama jangka waktu pembayaran gaji dan upah. 4. Fungsi Pembuat Bukti Kas Keluar Fungsi ini bertanggung jawab membuat perintah pengeluaran kas untuk pembayaran gaji dan upah seperti yang tercantum dalam daftar gaji dan upah. 5. Fungsi Pembayar Gaji dan Upah Fungsi ini bertanggung jawab untuk mengisi cek guna pembayaran gaji dan upah dan menguangkan cek tersebut ke bank. 6. Fungsi Akuntansi Biaya Fungsi ini bertanggung jawab mencatat distribusi biaya ke dalam kartu kos produk dan kartu biaya berdasarkan rekap daftar gaji dan upah dan kartu jam kerja. 7. Fungsi Akuntansi Umum Fungsi ini bertanggungjawab untuk mencatat gaji dan upah dalam jurnal umum.
Dari uraian tentang fungsi yang terkait diatas, maka dapat dilihat bahwa terdapat tujuh fungsi yang terkait dalam siklus penggajian dan pengupahan, yaitu fungsi penerima pegawai, fungsi pencatat waktu, fungsi pembuat daftar gaji dan upah, fungsi pembuat bukti kas keluar dan fungsi pembayar gaji dan upah, fungsi akuntansi biaya dan fungsi akuntansi umum. Masing-masing fungsi tersebut saling berkaitan dan memiliki tugas yang berbeda sesuai dengan tanggung jawab

masing-masing.

Sedangkan dokumen yang digunakan dalam siklus penggajian dan pengupahan menurut Mulyadi (2002:290) adalah : 1. Dokumen Pendukung Perubahan Gaji dan Upah Dokumen ini umumnya dikeluarkan oleh fungsi kepegawaian berupa surat-surat keputusan yang bersangkutan dengan karyawan, seperti surat keputusan pengangkatan karyawan baru, pemberhentian sementara dari pekerjaan (skorsing), pemindahan/ mutasi dan lain-lain. Tembusan dokumen dikirimkan ke fungsi pembuat daftar gaji dan upah untuk kepentingan pembuatan daftar gaji dan upah. 2. Kartu Jam Hadir Dokumen ini digunakan oleh fungsi pencatat waktu untuk mencatat jam hadir setiap karyawan perusahaan. Catatan jam hadir karyawan ini berupa daftar hadir biasa, dapat pula berbentuk kartu hadir, sebelum digunakan untuk distribusi biaya upah langsung kepada setiap jenis produk atau pesanan. 3. Kartu Jam Kerja Dokumen ini digunakan untuk mencatat waktu yang dikonsumsi oleh tenaga kerja langsung pabrik guna mengerjakan pekerjaan. Dokumen ini diisi oleh mandor pabrik dan diserahkan ke fungsi pembuat daftar gaji dan upah untuk kemudian dibandingkan dengan kartu jam hadir, sebelum digunakan untuk distribusi biaya upah langsung kepada setiap jenis produk atau pesanan. 4. Daftar Gaji dan Upah Dokumen ini berisi jumlah gajidan upah bruto setiap karyawan, dikurangi dengan potongan-potongan berupa PPh (Pajak Penghasilan), utang karyawan dan sebagainya. 5. Rekap Daftar Gaji dan Rekap Daftar Upah Dokumen ini merupakan ringkasan gaji dan upah per departemen, yang dibuat berdasarkan gaji dan upah. 6. Surat Pernyataan Gaji dan Upah Dokumen ini dibuat oleh fungsi pembuat daftar gaji dan upah bersamaa dengan pembuatan daftar gaji dan upah atau dalam kegiatan terpisah dari pembuatan daftar gaji dan upah. Dokumen ini dibuat sebagai catatan bagi setiap karyawan mengenai rincian gaji dan upah yang diterima setiap karyawan. 7. Amplop Gaji dan Upah Uang gaji dan upah karyawan diserahkan kepada setiap karyawan dalam amplop gaji dan upah. 8. Bukti Kas keluar Dokumen ini merupakan perintah pengeluaran uang yang dibuat oleh fungsi akuntansi kepada fungsi keuangan, berdasarkan informasi dalam daftar gaji dan upah yang diterima dari fungsi pembuat daftar gaji dan upah.

Catatan-catatan akuntansi yang digunakan dalam siklus penggajian dan pengupahan menurut Mulyadi (2002:292) adalah : 1. Jurnal Umum Jurnal umum digunakan untuk mencatat distribusi biaya tenaga kerja ke dalam setiap pesanan dan departemen dalam perusahaan yang memakai jasa tenaga kerja. Dokumen sumber untuk pencatatan ke dalam jurnal ini adalah bukti kas keluar. 2. Kartu kos Produk Catatan ini digunakan untuk mencatat upah tenaga kerja langsung yang dikeluarkan untuk pesanan tertentu. Dokumen sumber untuk pencatatan ke dalam buku pembantu ini adalah rekap daftar upah. 3. Buku Pembantu Biaya Buku ini digunakan untuk mencatat biaya tenaga kerja (selain biaya tenaga kerja langsung) setiap departemen dalam perusahaan. Sumber informasi untuk pencatatan dalam kartu biaya ini adalah jurnal umum atau rekap daftar gaji dan upah. 4. Kartu Penghasilan Karyawan Catatan ini digunakan untuk mencatat penghasilan dan berbagai potongan yang diterima oleh setiap karyawan. Informasi dalam kartu pengahasilan ini dipakai sebagai dasar perhitungan PPh Pasal 21 yanga menjadi beban setiap karyawan. Dokumen sumber untuk pencatatan ke dalam kartu penghasilan karyawan adalah daftar gaji dan upah.
Untuk lebih jelasnya, bagan alir sistem informasi akuntansi penggajian dan pengupahan menurut Mulyadi (2002:293-299) dapat dilihat pada gambar 2.1 dan

2.2

Bagian Gaji dan Upah Bagian Pencatat Waktu


Mulai

1
KPK

8
KJH DG Bukti kas
Daft ar Hadi K r ar tu Kar Peng yaw an ahsil

2 3

Mencatat jam hadir karyawan

an Kar yaw an Membuat


daftar gaji

Kartu Jam hadir 2 Membuat

KJH :
Membuat Daftar Hadir

rekap gaji

KJH

Kartu Jam Hadir RDG : Rekap Daftar Gaji

SPG R D G 1 2 Daftar Gaji

SPG : Surat Pernyataan Gaji DG : Daftar Gaji Sumber : Mulyadi (2002:293-295)

Gambar 2.1 Bagan Alir Sistem Informasi Akuntansi Penggajian Bagian Utang
7
KPK 2
2 SPG

RDG 2 RDG 2 2 1

KPK

DG Bukti kas Keluar

1 1

DG 1
SPG

Membuat Bukti Kas Keluar

RDG

1 2 DG 1

3 2 Bukti kas Keluar 1 Register bukti Kas Keluar

pada bukti

Mencatat

No.cek register

kas keluar

Gambar 2.1 Bagan Alir Sistem Informasi Akuntansi Penggajian (Lanjutan)

Bagian Kasa
4
KPK KPK

SPG

6
RDG 2

SPG

a t a s c e k

& memasukan RDG uang ke 2 amplop 2 gaji

DG 1
Membayarka

M e n g u

n gaji kpd karyawan B & meminta tanda uk tangan atas ti kartu penghasilan

DG 1 3 Bukti kas Keluar 1


a n g k a n c e k k e b a n k

karyawan

ka s 1 K el ua r

masukan ke amplop bersama


mengisi cek

7
Membubuhkan cap lunas pada bukti dan dokumen pendukunnya

pemasukan

tanda tangan

alam gaji dengan D uang gaji i d

Gambar 2.1 Bagan Alir Sistem Informasi Akuntansi Penggajian (Lanjutan) Bagian-bagian di bawah
9

Bagian Produksi

Pencatat Bagian

Waktu Gaji dan

Departeman Upah

Mulai

Mulai

1 2
KJK
Daftar jam Kerja Karyawan

KPK
Daftar Upah 2 Bukti Keluar kas 3

Mencatat jam hadir

Mencatat jam kerja

KJH
Daftar Hadir

Kartu Jam hadir Kartu Jam

Karyawan

Membuat Daftar

Kerja Mencatat
daftar jam

Membandingkan daftar hadir dan Daftar jam kaerja karyawan

Hadir

jam
Kerja

Kerja

KJK Daftar Hadir Karyawan


Daftar jam Kerja

Membuat Membuat daftar daftar upah upah

Karyawan

Membuat rekap daftar upah dan surat pernyertaan upah

SPU

RDU : Rekap Daftar Upah SPU : Surat Pernyataan Upah

RDU 1

2 Daftar Upah

Kartu

KPK

: Kartu

Pengahsilan

Karyawan

Penghasilan Karyawan Sumber : Mulyadi

(2002:297-299)

Gambar 2.2 Bagan Alir Sistem Informasi Akuntansi Pengupahan


3

Bagian Utang
7
KPK
SPU RDU 2 DU RDU 2 1 Bukti kas Keluar 1 1 2

DG

KPK
SPG

Membuat Bukti Kas Keluar DU

2
RDU

10

1 2

1 3 2

Bukti kas Keluar

pada bukti

Mencatat No.cek register kas keluar

Gambar 2.2 Bagan Alir Sistem Informasi Akuntansi Pengupahan (Lanjutan)

Bagian
4
KPK

Kasa

KPK

SPU

6
SPU

RDU

D U 1 3 Bukti kas 1 Keluar

keMenguangkan RDU cek ke bank & ampl memasukan uang op ke amplop DU upah bersa 3 ma
Bukti kas mengisi cek Keluar 1

2 2 1

masu kan

pema atas kartu tangan sukan penghasilan


tanda tangan karyawan atas cek

Di dalam gaji 8 dengan uang gaji

Gambar 2.2 Bagan Alir Sistem Informasi Akuntansi Pengupahan (Lanjutan) Bagian Bagian Akuntansi Biaya Akuntansi Umum
BK K

R 1
B K

D G 1

K 2

D G Memb uat Bukti Memor ial

10

BKK

RDG Daftar gaji


BKK 1

2 1

RDG Bukti memorial

Register Cek

Gambar 2.2 Bagan Alir Sistem Informasi Akuntansi Pengupahan (Lanjutan) BAB III GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

3.1 Sejarah Singkat Perusahaan PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di sektor perkebunan. Perusahaan ini merupakan hasil konsolidasi dari PTP X (Persero) di propinsi Lampung dan Sumatera Selatan, kebun pengembangan proyek eks PTP XI (Persero) yang terletak di propinsi Sumatera Selatan dan eks PTP XXIII (Persero) yang terletak di propinsi Bengkulu.

Kegiatan usaha PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) mencakup usaha perkebunan, pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan serta melakukan kagiatan-kegiatan lain sehubungan dengan pengusahaan budidaya tersebut yang kegiatannya meliputi budidaya tanaman, produksi dan pengembangan usaha bidang perkebunan, agrowisata dan agrobisnis. Produksi utama PTPN VII (Persero) adalah kelapa sawit, karet, teh, dan tebu. Studi kelayakan telah diadakan pada tahun 1979 oleh Victoria Mill Company Filipina berdasarkan Kepres Nomor 50 tahun 1979. Selanjutnya pada tahun 1981 diadakan pembukaan utama areal untuk pembanguan perkebunan tebu dan Pabrik Gula Cinta Manis yang dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 688/Kpts/Org/8/1981 dan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 076/Mentan/I/1981 tanggal 2 Februari 1981 tentang izin prinsip pendirian perkebunan tebu dan pabrik di Sumatera Selatan yang merupakan upaya pemerintah untuk memenuhi swasembada gula dalam negeri, maka ditunjuklah PT. Perkebunan XXI-XXII (Persero) sebagai pengelolah Pabrik Gula Cinta Manis. Pada tahun 1982, PT. Tanindo Indonesia sama dengan Tate 7 Lyle dari Inggris mengadakan up dating guna mewujudkan rencana dari studi kelayakan tersebut. Usaha Cinta Manis merupakan salah satu dari dua Unit Usaha PTPN VII (Persero) yang mengelolah budidaya tebu dan pabrik gula, dengan produksi utama gula dan tetes. Pusat kegiatan usaha Cinta Manis PTPN VII (Persero) secara administratif terletek di desa Ketiau Kecamatan Lubuk Keliat Kabupaten Ogan Ilir (75 Km arah Selatan Kota Palembang) Propinsi Sumatera selatan. Sesuai dengan SK Menteri Keuangan RI No. 257/KMK/016/1996 dan No. 166/KMK/016/1996 tanggal 11 Maret 1996, tentang Restrukturusi BUMN Perkebunan dilakukan penggabungan PT. Perkebunan di wilayah sumatera bagian selatan (Bengkulu, Sumatera Selatan) yaitu : PTP. XXXI (Persero) di Sumatera Selatan dan Lampung menjadi PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) melalui akte Notaris Harum Kamil, SH No. 40 tanggal 11 Maret 1996. Pencadangan lahan seluas 21.358 Ha, yang tersebar dibeberapa desa dipisahkan dalam enam satuan hamparan yaitu : Rayon I dan II di Desa Burai dan

sekitarnya (60 Km dari Pabrik) dengan topografi rata sampai landai, sedangkan
rayon II, IV, dan V di Desa Ketiau, Seribandung, Seri Kembang, dan sekitarnya dengan topografi rata sampai landai serta Rayon VI yang berada di Desa Rengas

dan sekitarnya (25 Km dari Pabrik) bertapografi landai sampai berbukit kecil. Pencadangan lahan pembangunan Perkebunan dan Pabrik Gula Cinta Manis melalui SK Gubernur KDH Tingkat I Sumatera Selatan No. 379/I/1981 tanggal 16 November 1981. Keberadaan PTPN VII (Persero) Unit Usaha Cinta manis di Kabupaten Ogan Ilir memberikan kontribusi terhadap pembangunan daerah melalui pemanfaatan potensi daerah, pertumbuhan ekonomi desa sekitar, penyediaan lapangan pekerjaan, pendapatan daerah serta pengadaan gula regional. Pemasangan batu pertama pembangunan oleh gubernur KDH Tingkat I Sumatera Selatan H. Sainan Sagiman, pada tanggal 7 Agustus 1982 dan selesai pada bulan Mei 1984. Selanjutnya dengan percobaan tanpa beban dengan hasil yang baik Commisioning dimulai pada tanggal 7 Juni 1984 dan dilanjutkan dengan Performance Test pada tanggal 5 Agustus 1984 untuk mengetahui kemampuan peralatan pabrik. Dengan telah selesainya pembanguan pabrik dan sebagian besar saran penunjang terpenuhi serta target pembukaan lahan penanaman 1987 telah tercapai pada tahun 1985, tanggal 21 Februari 1985, tanggal 21 Februari 1985 status Pabrik Gula Cinta Manis telah beralih menjadi Unit Produksi. Dengan demikian Pabrik Gula Cinta Manis menjadi Pabrik ke 14 yang dikelolah oleh PT. Perkebunan XXI-XXII. 3.1.1 Visi dan Misi Perusahaan Dalam melaksanakan kegiatannya PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) mempunyai Visi dan Misi sebagai barikut : Visi Menjadi perusahaan agribisnis dan agroindustri yang tangguh dan berkarekter global. Misi

Menjalankan usaha agribisnis perkebunan dengan komoditas karet, kelapa sawit, teh dan tebu.
Mengembangkan usaha berbasis bisnis inti yang mengarah integrasi vertical. Menggunakan teknologi budidaya dan proses yang efisien dan akrab dengan

lingkungan untuk menghasilkan produk berstandar, baik untuk pasar domestic maupun Internasional. Memperhatikan kepentingan sharehorders dan stakeholders, khususnya pekerja, mitra petani, pemasok dan mitra usaha untuk bersama-sama mewujudkan daya saing guna menumbuh kembangkan perusahaan. 3.1.2 Tri Dharma Perkebunan PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) didirikan dengan maksud untuk turut serta melaksanakan dan menunjang kebijaksanaan dan progam pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional pada umumnya serta subsektor perkebunan pada khususnya dengan tujuan memupuk keuntungan berdasarkan prinsip-prisip perusahaan yang sehat berlandaskan azaz Tri Dharma Perkebunan yaitu : 1. Mempertahankan dan meningkatkan sumbangan di bidang perkebunan bagi Pendapatan Nasional melalui upaya produksi dan pemasaran dari berbagai jenis komoditi perkebunan untuk kepentingan konsumsi dalam negeri maupun ekspor nonmigas (devisa). 2. Memperluas lapangan kerja dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat pada umumnya serta meningkatkan teraf hidup petani dan karyawan pada khususnya. 3. Memelihara kelestarian sumber daya alam dan lingkungan, air serta kesuburan tanah. 3.1.3 Tujuan Perusahaan Sesuai akta pendirian perusahaan, tujuan pendirian perusahaan adalah :

1. Melaksanakan pembangunan dan pengembangan agribisnis sektor perkebunan sesuai prinsip perusahaan yang sehat, kuat dan tumbuh dalam skala usaha yang sehat dan ekonomis. 2. Menjadikan perusahaan yang berkemampulabaan (profitable), makmur (wealth) dan berkelanjutan (sustainable), sehingga dapat berperan lebih jauh dalam akselerasi pembangunan regional dan nasional. 3.1.4 Nilai-nilai Budaya Perusahaan Budidaya perusahaan yang ditumbuhkan yaitu mengutamakan kebenaran formal dan material melalui keteladanan, keterbukaan dan kebersamaan dalam meningkatkan produktivitas. Dalam hal nilai-nilai budaya perusahaan, PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis telah membuat kode etik perilaku perusahaan yang penulis lampirkan di lampiran 16. 3.2 Struktur Organisasi dan Uraian Tugas 3.2.1 Struktur Organisasi Untuk memperlancar hubungan kerja dan memperjelas wewenang dan tanggung jawab dalam suatu organisasi, maka diperlukan suatu struktur organisasi yang merupakan gambaran secara sistematis tentang hubungan-hubungan kerja sama orang-orang yang terdapat di suatu perusahaan dalam rangka mencapai tujuan. Struktur organisasi PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) sesuai surat keputusan Direksi Nomor 7.6/Kpts/258/2002 tanggal 29 Agustus 2002 yang dipaparkan pada gambar 3.1

Gambar 3.1 Struktur Organisasi PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis Bagian TUK

Dewan

Komisaris

Sinder SDM

Krani Kepala Sinder TUK Krani 7 Org Krani Kepala TUK Pembukua
n

SDM

Sekretaris

Pengadaa
n

Krani 17 Org

Jenderal Manager

Sinder Umum

Dewan Penasehat
Sinder

Sinder Puskesbun

Krani Kepala Manager

Umum

Krani Kepala Gudang

Sinka TUK Krani 10 Org Perencana

Krani 11 Org

Krani 4 Org

Sumber : PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis

3.2.2 Uraian Tugas Berdasarkan struktur organisasi PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis dan sesuai peraturan yang telah di buat direktur perusahaan, maka tugas setiap satuan kerja adalah sebagai berikut : 1. Dewan Komisaris Dewan komisaris dipilih dalam suatu rapat umum pemegang saham dalam masa jabatan tertentu. Dewan komisaris bertugas untuk mengawasi dan berusaha agar jenderal manager tidak merugikan perusahaan. Tugas dewan komisaris adalah sebagai berikut : Memilih dan menunjuk jenderal manager Menyetujui dan menolak rencana jenderal manager

2. Jenderal Manager Dalam menjalankan tugasnya jenderal manager dibantu oleh dewan penasehat. jenderal manager bertanggungjawab terhadap kelancaran operasi perusahaan dan mempertanggungjawabkan kepada dewan komisaris. Tugas Intern Perusahaan Melakukan tinjauan sistemmanajemen mutu secara berkala serta mengembangkan operasi perusahaan dengan persetujuan dewan komisaris. Tugas Ekstern Perusahaan Mewaliki perusahaan dalam berurusan dengan pihak luar, pihak pemerintah dan pihak-pihak yang terkait lainnya. 3. Dewan Penasehat Tugas-tugas dewan penasehat adalah sebagai berikut : Memberikan saran dan pendapat kepada jenderal manager Memberikan bantuan kepada kepala bagian dalam mengatur segala permasalahan. 4. Sekretaris Tugas sekretaris adalah sebagai berikut : Menerima dan mencatat surat-surat yang berhubungan dengan perusahaan. Mencatat perkembangan harga gula setiap periode.

5. Manajer Manajer mengkoordinir seluruh kegiatan para bawahannya. Manajer memiliki tugas dan wewenang sebagai berikut : Memimpin, mengkoordinasi, mengawasi semua kegiatan dalam bidang tanaman, administrasi pengawasan material dan pengamanan wilayah perkebunan. Mengelolah perkebunan secara teliti Sebagai wakil direksi di Unit Usaha, mengkoordinir dan bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan produksi dan opersional yang di tujukan untuk meningkatkan nilai tambah. Memelihara hubungan yang harmonis dengan instansi pemerintah dan lembaga lainnya. Memberikan motivasi dan menerapkan pengawasan terhadap karyawan. Mengusahakan hal-hal yang akan mendatangkan manfaat bagi perusahaan dan masyarakat di sekitarnya. Membuat rencana anggaran belanja tahunan dan mengatur pelaksanaanya. Menyiapkan laporan dan saran kepada direksi tentang perbaikan serta peningkatan efisiensi produktivitas kerja. 6. Sinder Kepala TUK Aktivitas tugas harian pokok yaitu : Melaksanakan penerimaan, penyimpanan dan pengeluaran uang (arus kas). Melaksanakan administrasi produksi dan mutasi (penerimaan/pengeluaran) persediaan barang gudang material. Mengkoordinir surat masuk/keluar Mengkoordinir pelaksanaan pembukuan dan administrasi serta penyusunan pelaporan. Memonitor absensi pekerja Kantor Unit Usaha. Pembukuan Keakurasian data. Mengkoordinir pekerja bawahan.

Aktivitas tugas pokok berkala, antara lain: Mengkoordinir pembuatan/penyusunan RKAP, RO serta pengawasanya. Mengkoordinir stock mingguan produksi. Mengkoordinir Pembuatan LM bulanan. Mengkoordinir pembuatan SPMK triwulan.

7. Sinder TUK Aktivitas tugas harian pokok yaitu: Mengkoordinir pelaksanaan dan mengawasi aktivitas administrasi dan keuangan. Mengkoordinir dan mengawasi pengadaan gudang. Mengawasi penerimaan dan pengeluaran di gudang material. Mengawasi penerimaan dan pengiriman produksi. Pembukuan keakurasian data. Mengkoordinir dan mengawasi pekerjaan bawahan. Membuat analisa laporan keuangan dan perhitungan margin unit usaha. Mengkoordinir pembuatan RKAP, LM, SPMK, dan RO serta pengawasannya. Mengawasi pelaksanaan kegiatan pada saat gajian dan cengkolongan. Mengkoordinir persiapan kliring tutup buku (tahunan). Membuat penilaian dan mengevaluasi DP2K pekerja bawahannya.

Aktivitas tugas pokok berkala, antara lain:

8. Sinder SDM dan Umum Aktivitas tugas harian pokok: Mengkoordinir pelaksanaan dan mengawasi administrasi bidang SDM dan Umum. Membuat konsep surat menyurat. Mengkoordinir dan mengawasi pekerjaan bawahan. Membuat Laporan Bidang SDM dan Umum.

Aktivitas tugas pokok berkala, antara lain:

Mengkoordinir pembuatan RKAP, LM, SPMK dan RO serta pengawasan nya. Membuat Laporan dan Rekap Daftar Gaji dan Upah Mengkoordinir persiapan kliring tutup buku (tahunan). Membuat penilaian dan mengevaluasi DP2K pekerja bawahanya. Gudang Material:

9. Sinder Gudang Mengkoordinir Penerimaan barang. Membuat laporan penerimaan barang dan mengeluarkan barang (AU.58) Melaksanakan stock opname secara periodik terhadap persediaan barang. Gudang Produksi: Mengkoordinir hasil gula dan tetes. Melakukan pelayanan gula. Cek terhadap stock opname secara berkala. Memberikan pelayanan kesehatan kapada karyawan dan buruh harian. Mempersiapkan barang-barang dan alat-alat kesehatan untuk keselamatan karyawan. 11. Krani Kepala Pembukuan. Mengadakan pembukuan untuk perusahaan. Mengadakan pembukuan untuk proyek dan industri hilir. Verifikasi dan perhitungan

10. Sinder Puskesbun

12. Krani Pengadaan Aktivitas tugas pokok harian: Membuat Permintaan Penawaran Lokal (PPL) Membuat daftar evaluasi penawaran. Membuat Order Pembelian Lokal (OPL). Membuat permintaan barang/bahan melalui AU-31. Membuat rekap pengadaan barang untuk LM.

Aktivitas tugas pokok berkkala:

Aktivitas tugas pokok insidentil Membuat SPK/Kontrak. Bertanggung jawab terhadap surat yang masuk dan surat yang keluar. Membantu tugas manager dan sinder kepala TUK. 13. Sekretariat

14. Krani Kepala Keuangan Aktivitas tugas pokok harian: Membuat surat permintaan uang (dropping) ke kantor direksi. Memeriksa jurnal-jurnal pembukuan. Memeriksa pembukuan di Afdeling. Meminta dan mengeluarkankas kecil (Petty Cash). Aktivitas tugas pokok berkala: Membuat LM bulanan. Membuat SMK Triwulanan. Membuat RKAP dan RO tahunan. Aktivitas tugas pokok Insidentil: Membuat evaluasi biaya. Membuat perhitungan rugi laba unit usaha. Membantu menyelesaikan administrasi.

Aktivitas tugas tambahan:

3.3 Kegiatan Usaha PT Perkebunan Nusantara VII (Persero) atau dikenal dengan pabrik gula Cinta Manis adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak disektor perkebunan. PTPN VII (Persero) merupakan salah satu dari 26 Unit Usaha yang mengusahakan komoditi tebu. PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis dalam aktivitasnya sangat tergantung pada berbagai sumber daya yang harus dikelolah secara baik, sehingga mampu memberikan kontribusi kepada pemerintah dalam rangka kelangsungan pembangunan.

3.4

Penggajian dan Pengupahan pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero)Unit Usaha Cinta Manis PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis untuk

penggajian dan pengupahan terdapat komponen-komponen pokok yaitu : 1. Gaji dan Tunjangan a. Gaji Pokok
Merupakan sejumlah uang yang diterima oleh pekerja berdasarkan golongan yang bersangkutan sesuai dengan skala gaji pokok yang

berlaku. b. Tunjangan Perusahaan


Sejumlah uang yang diberikan kepada pekerja sebagai tambahan penerimaan dan dibayarkan bersamaan dengan pembayaran gaji

bulanan yang pemberiannya tidak dikaitkan dengan kehadiran. Tunjangan perusahaan yang diberikan kepada pekerja sebesar 33,3333 % dari gaji pokok. c. Upah Lembur Yaitu upah kerja yang diberikan kepada pekerja yang melebihi jam kerja yang telah ditetapkan berdasarkan ketentuan Undangundang/ Peraturan Pemerintah Republik Indonesia. Upah lembur ini diberikan kepada pekerja yang berpangkat Pelaksana (golongan I A-I B), Juru (golongan I C-I D) dan Penyelia (II A- II D). Dasar perhitungan tarif lembur sejam adalah 1/173 x 100% x gaji pokok + tunjangan perusahaan sebulan. d. Pajak Pendapatan Pajak yang diberlakukan untuk setiap pekerja sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 2. Santunan Sosial Ialah sejumlah uang atau bantuan perusahaan yang disepakati diterima oleh pekerja untuk meningkatkan kesejahteraan atau meningkatkan
kemampuan pekerja menghadapi hal-hal tertentu dalam kehidupannya.

Santunan sosial meliputi :

a. Bantuan Sewa Rumah b. Bantuan Listirk c. Bantuan Air d. Batuan Bahan Bakar Bila perusahaan tidak dapat memenuhi atau menyediakan rumah,
listrik, air dan bahan bakar bagi pekerja maka kepada pekerja yang bersangkutan diberikan bantuan sewa rumah, listrik, air, dan bahan

bakar. e. Tunjangan Cuti Tunjangan cuti sebesar 40% x gaji sebulan (gaji pokok + tunjangan perusahaan). f. BPAS
Merupakan Bantuan Pemondokan Anak Sekolah yang diberikan perusahaan kepada pekerja yang mempunyai anak yang bersekolah di SMP, SMA (sederajat) dan Perguruan Tinggi yang berlokasi di luar tempat kerja pekerja sehingga anak tersebut harus mondok. Bantuan pemondokan ini diberikan maksimal untuk 3 (tiga) orang anak tiap pekerja, untuk SMP dan SMA sebesar Rp. 45.000/bulan

dan Perguruan tinggi sebesar Rp. 67.500/bulan. g. Peralihan


Diberikan bila pekerja meninggal dunia. Untuk ahli warisnya (Istri/Suami dan Anak-anak) diberikan bantuan kematian, seperti

uang duka sebesar 3 (tiga) bulan gaji pokok. 3. Potongan atau Iuran a. Iuran Jamsostek
Jamsostek dipotong untuk memberikan jaminan sosial terhadap

tenaga kerja dan jumlah yang dipotong sebesar 2% dari gaji pokok. b. Iuran Dapenbun
Adalah dana pensiunan perkebunan yang berguna sebagai tabungan pekerja yang nantinya akan dikembalikan kepada pekerja apabila

pekerja tersebut telah pensiun. Potongan Dapenbun sebesar 6% dari gaji pokok. c. Iuran IKI
Potongan yang digunakan sebagai partisipasi dalam kegiatan darmawanita (istri pekerja). Potongan ini sebesar Rp.500 tiap

bulannya. d. Iuran SPPN VII


Merupakan pungutan kepada anggota Serikat Pekerja Perkebunan Nusantara VII berdasarkan permintaan tertulis dari serikat pekerja

yang besarnya Rp. 2000 per bulan untuk setiap pekerja. e. Iuran Koperasi Merupakan simpanan wajib pekerja sebesar Rp. 15.000. f. Potongan Koperasi
Merupakan potongan bila pekerja mempunyai pinjaman kepada

koperasi dan langsung dipotong dari gaji pekerja setiap bulannya. g. Pembelian Gula
Potongan atas pembelian gula untuk setiap pekerja yang harganya

diberlakukan untuk pekerja. h. Haji/Bazis/Infaq Iuran setiap pekerja dalam rangka kegiatan kerohanian (Haji). i. Potongan Pajak
Potongan yang diberlakukan untuk setiap pekerja sesuai dengan

ketentuan pajak yang berlaku. j. Potongan Pribadi/Lain-lain Potongan bila pekerja mempunyai pinjaman atau hutang kepada pihak tertentu, dan langsung dipotong dari gaji pekerja yang bersangkutan. 3.5 Prosedur Penggajian dan Pengupahan Penggajian dan pengupahan pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis terdiri dari jaringan prosedur sebagai barikut :

1. Posedur pencatatan jam kerja 2. Prosedur pembuatan daftar gaji 3. Prosedur Pembayaran gaji Masing-masing prosedur dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Prosedur Pencatatan Jam Kerja Prosedur ini bertujuan untuk mencatat waktu hadir karyawan. Pencatatan
waktu hadir karyawan dengan menggunakan daftar absensi karyawan (Lampiran 11). Daftar absensi tersebut diisi secara manual setiap jam

masuk dan jam keluar, serta ditanda tangani oleh karyawan yang bersangkutan dibawah pengawasan satpam. Kemudian daftar absensi tersebut diserahkan ke bagian SDM dan Umum. Jika karyawan sering terlambat maka untuk peringatan pertama akan diberikan pernyataan lisan, apabila keterlambatan tersebut masih juga diulangi maka akan dikenakan surat peringatan terhadap karyawan tersebut. Selain pengisian daftar hadir/absensi, hal yang berpengaruh terhadap gaji dan upah adalah lembur karyawan karena dengan jam kerja lembur inilah yang akan menentukan besarnya jumlah gaji yang akan diterima setiap bulannya. 2. Prosedur Pembuatan Daftar Gaji Prosedur ini dimulai dengan diterimanya kartu jam hadir pegawai oleh bagian SDM dan Umum. Setelah itu bagian SDM dan Umum membuat evaluasi hari kerja efektif (Lampiran 12) yang bertujuan untuk mencatat kehadiran pegawai yang berisi jumlah absensi pegawai, sakit, izin, dan
alpha pegawai setiap harinya. Kemudian bagian SDM dan Umum

membuat daftar gaji pegawai (Lampiran 13). Setiap pegawai dihitung gajinya dan dibuat daftar gaji yang berisi gaji dan tunjangan, santunan sosial serta iuran/potongan sehingga diperoleh penghasilan bersih setiap pegawai. Daftar gaji kemudian diserahkan ke bagian keuangan, lalu bagian keuangan akan membuat rincian anggaran untuk pembayaran gaji pegawai dan membuat bukti kas keluar (Lampiran 14). Selanjutnya daftar gaji dan bukti kas keluar diserahkan kembali ke bagian SDM dan Umum

sebagai dasar pembuatan slip gaji pegawai (Lampiran 15). Setelah slip gaji pegawai dibuat kemudian dibayarkan gaji kepada tiap pegawai. 3. Prosedur Pembayaran Gaji Prosedur ini dimulai dengan pembuatan slip gaji oleh bagian SDM dan Umum, masing-masing sebanyak dua rangkap, dimana untuk slip gaji lembar ke-1 diserahkan kepada pegawai dan lembar ke-2 menjadi arsip di bagian SDM dan Umum. Sedangkan untuk bukti kas keluar juga diarsip oleh bagian SDM dan Umum. Slip gaji yang telah diberikan kepada pegawai sebagai bukti bahwa gaji tersebut telah diterima oleh pegawai. Untuk lebih memperjelas uraian tentang prosedur penggajian dan pengupahan yang terjadi pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis, dapat digambarkan pada bagan alir penggajian dan pengupahan pada gambar 3.2 dan 3.3

Bagian SDM
Mulai

&

Umum
1

DH

Membuat Membuat Laporan Daftar Hadir

BKK
Daftar Gaji

DG 2 1
Pegawai Berdasar Daftar Hadir

DG N Membu at Slip Gaji

DH 1 DG Memint a

KeteranganPersetuj : u DH = Daftar Hadir an M j DG = Daftar Gaji


DH T

B K Membay K ark an gaji DG kpd 2 Diser Pegawai 1

ahkan
T

BKK = Bukti Kas Keluar

kepada Pegawai

Selesai

Sumber : PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis Gambar 3.2 Bagan Alir Prosedur Penggajian pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis

Bagian

Keuangan

DG

Menganggark an Gaji Pegawai untuk Pembayaran

Membuat Bukti Kas Keluar

BKK DG

Gambar 3.2 Bagan Alir Prosedur Penggajian pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis

Bagian Umum
Mulai

SDM &

1
2

DH

Membuat Laporan Daftar Hadir

DU

Membuat Daftar Upah

BKK 1
Musiman Berdasar Daftar

DU DH N

Membu at Slip Upah

1 Meminta

Ketera

ngan

: DH = Daftar Hadir DU = Daftar Upah BKK = Bukti Kas Keluar


DH

Persetuju an M j

Membayark an Upah kpd Musiman

BKK DU DU

2
1

2
T

Diserahkan kepada Musiman

Selesai

Sumber : PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis Gambar 3.3 Bagan Alir Prosedur Pengupahan (Musiman) pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero ) Unit Usaha Cinta Manis

Bagian

Keuangan

DU

Menganggark

an Upah Musiman

untuk Pembayaran

Membuat Bukti Kas Keluar

BKK DU

Gambar 3.3 Bagan Alir Prosedur Pengupahan (Musiman) pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero ) Unit Usaha Cinta Manis

BAB IV PEMBAHASAN

Dalam menjalankan

aktivitasnya setiap

perusahaan memerlukan

pengendalian intern yang baik dan memadai. Dengan adanya struktur pengendalian intern yang baik dapat melindungi harta kekayaan perusahaan, mengecek keandalan data akuntansi, serta dapat meningkatkan efisiensi usaha dan mendorong ditaatinya kebijakan manajemen yang telah digariskan. Seorang auditor hendaknya terlebih dahulu memahami, mempelajari dan menilai pengendalian intern yang ada pada perusahaan untuk merencanakan audit, menentukan sifat, saat dan lingkup pengujian yang akan dilakukan. Dalam siklus penggajian dan pengupahan pengendalian intern dinilai atas seberapa efektif pengendalian tersebut dapat meminimalkan terjadinya penyelewengan terhadap prosedur penggajian dan pengupahan, sehingga dapat mencegah terjadinya penggajian dan pengupahan yang fiktif yang dapat merugikan perusahaan. Struktur pengendalian intern yang baik menghendaki bahwa transaksi yang terjadi dalam perusahaan tidak dilaksanakan oleh satu orang atau satu fungsi dari awal sampai akhir, ini berarti bahwa dalam melaksanakan suatu aktivitas harus melibatkan beberapa fungsi atau bagian dan harus ada pembagian tugas yang jelas sehingga terdapat cross check atau pemeriksaan silang antara satu fungsi dengan fungsi yang lainnya. Selain itu, setiap prosedur harus didukung oleh dokumen yang memadai untuk dijadikan sebagai bukti, sehingga auditor dapat mengecek keandalan data akuntansinya. Semakin baik struktur pengendalian intern perusahaan, maka semakin sempit lingkup pemeriksaan yang dilakukan. Seorang akuntan pemeriksa dapat meyakinkan dirinya bahwa struktur pengendalian yang diterapkan dalam perusahaan dapat diandalkan dalam pemeriksaan lebih lanjut. Dalam melakukan analisis terhadap struktur pengendalian intern atas penggajian dan pengupahan

langkah yang diambil adalah dengan mempelajari, memahami dan selanjutnya


menilai pengendalian intern tersebut berdasarkan unsur-unsur struktur

pengendalian intern.
Untuk menganalisis struktur pengendalian intern atas penggajian dan pengupahan pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta

Manis, maka dikumpulkan data dan informasi dari pegawai dan pejabat yang berwenang. Selain itu juga dangan melakukan pengamatan terhadap dokumendokumen yang mendukung jalannya prosedur penggajian dan pengupahan. Data dan informasi yang diperoleh merupakan dasar untuk manganalisis struktur pengendalian intern yang ada dan efektifitasnya. Berikut ini akan dianalisis unsur-unsur struktur pengendalian intern atas penggajian dan pengupahan pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis.

4.1 Analisis Unsur-Unsur Pengendalian Intern 4.1.1 Lingkungan Pengendalian Lingkungan pengendalian merupakan gabungan dari berbagai faktor dalam membentuk kebijakan dan prosedur tertentu. Faktor-faktor yang mempengaruhi lingkungan pengendalian suatu perusahaan yaitu Integritas dan Nilai Etika, Komitmen terhadap Kompetensi, Partisipasi Dewan Komisaris dan Komite Audit, Filosofi dan Gaya Operasi Manajemen, Struktur Organisasi, Pemberian Wewenang dan Tanggungjawab, Kebijakan dan Praktik Sumber Daya Manusia yang saling mendukung untuk menciptakan pengendalian yang memadai di dalam perusahaan. Meskipun masih terdapat kekurangan, seperti adanya perangkapan tugas dalam melakukan suatu prosedur, namun beberapa unsur dari lingkungan pengendalian yang telah dilaksanakan pada PT. Perkebunan Nusantara VII

(Persero) Unit Usaha Cinta Manis sebagaimana yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, sehingga lingkungan pengendalian dapat dikatakan cukup memadai. a. Integritas dan Nilai Etika
Integritas dan nilai etika merupakan unsur pokok pengendalilan intern yang mempengaruhi komponen yang lain. Integritas dan nilai-nilai adalah produk dari standar etika dan perilaku entitas dan bagaimana standar tersebut dikomunikasikan dan dijalankan dalam praktek, ini meliputi tindakan manajemen untuk menghilangkan atau mengurangi intensif dan

godaan yang menyebabkan pegawai bertindak tidak jujur, melanggar hukum atau tidak etis. Pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis dalam hal integritas dan nilai etika telah diterapkan dengan baik sebagaimana telah diatur dalam kode etik perilaku perusahaan yang memuat tentang tindakan perilaku yang harus diikuti dan ditaati baik pimpinan maupun pegawai selama bekerja di PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis. Adanya kode etik perilaku perusahaan (Lampiran 16) bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi segala bentuk penyimpangan yang mungkin terjadi antara pimpinan dan pegawai terhadap perusahaan. b. Komitmen terhadap Kompetensi Perusahaan memiliki komitmen terhadap kompetensi yang meliputi pertimbangan manajemen terhadap tingkat kompetensi dari pekerja dan bagaimana tingkat tersebut berubah menjadi keterampilan dan pengetahuan yang diisyaratkan. Penempatan jabatan yang penting (pimpinan) harus sesuai dengan latar belakang masing-masing (the right man on the right place) sedangkan staf karyawan secara teoritis, otorisasi pengangkatan pegawai yang baik dilakukan oleh bagian kepegawaian yang mengatur masalah permintaan pegawai di tempat yang membutuhkan. Kemudian bagian kepegawaian akan menerima lamaran dan melakukan tes kecakapan dengan dilakukan wawancara, dari hasil wawancara ini bagian yang membutuhkan pegawai dapat memutuskan calon pegawai

yang diterima. Bagian kepegawaian membuat surat persetujuan kerja yang


ditandatangani pihak pegawai dan perusahaan sebagai tanda sah kepegawaian tersebut. Dengan demikian struktur pengendalian intern penerimaan pegawai ini telah memadai PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis yang telah menerapkan kebijakan tentang penerimaan, pelatihan, pengawasan maupun penilaian terhadap

pegawainya.

c. Dewan Komisaris atau Komite audit


Menurut SPAP (Standar Profesional Akuntan Publik) bahwa dewan komisaris yang efektif adalah yang independen dari manajemen dan anggota-anggotanya yang aktif dan menilai aktifitas manajemen, kemudian diisyaratkan untuk memiliki komite audit yang beranggotakan direksi dan dewan komisaris, ini terlihat dari struktur organisasi

perusahaan. Pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis dewan komisaris (direksi) adalah sebagai pengawas terhadap kinerja manajemen dalam melaksanakan aktivitas perusahaan yang bertujuan untuk mencegah konsentrasi pengendalian terlalu banyak di tangan manajemen. d. Filosofi dan Gaya Operasi Filosofi dan gaya operasi yang ada pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis adalah manajemen menyadari bahwa pengendalian sangatlah penting, sehingga manajemen berusaha untuk membuat kebijakan yang efektif guna melaksanakan pengendalian itu sendiri. Metode pengendalian manajemen yang ada pada perusahaan terdiri penyusunan progam jangka panjang yang berfungsi untuk mencapai tujuan perusahaan yang nantinya akan menentukan arah kegiatan, dari kebijakan-kebijakan yang diambil oleh manajemen dalam pengendalian pelaksanaan pekerjaan dilapangan sesuai dengan kebijaksanaan yang

ditetapkan perusahaan sehingga mampu meningkatkan kinerja perusahaan itu sendiri. e. Struktur Organisasi
Salah satu unsur lingkungan pengendalian yang penting untuk diperhatikan adalah struktur organisasi perusahaan. Struktur organisasi suatu satuan usaha harus membatasi garis tanggung jawab dan wewenang yang ada. Dengan struktur pengendalian intern suatu perusahaan,

pemeriksa (auditor) dapat mempelajari elemen fungsional usaha dan menaksir bagaimana kebijakan dan prosedur yang berhubungan dengan pelaksanaan pengendalian. Pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis menerapkan struktur organisasi yang dapat menunjukan pola komunikasi didalam organisasi yang dapat memudahkan pencapaian tujuan organisasi. Hal ini dapat kita lihat bahwa elemenelemen fungsional yang termasuk dalam siklus penggajian dan pengupahan pada perusahaan mencakup : 1. Fungsi SDM dan Umum 2. Fungsi Keuangan Pada siklus penggajian dan pengupahan peran fungsi SDM dan Umum sebagai pembuat daftar gaji yang mana datanya dari kartu jam hadir dan laporan daftar hadir yang diolah kedalam komputer dengan progam
payroll progam ABS. Bagian Keuangan bertanggung jawab untuk mengisi

cek guna pembayaran gaji dan upah dan menguangkan cek tersebut ke bank, bagian SDM dan Umum juga bertanggung jawab untuk memproses pembayaran gaji dan upah yang tercantum dalam daftar gaji dan upah. Kemudian menyerahkannya kepada karyawan disertai dengan slip gaji. Dilihat dari pembagian garis organisasi fungsi SDM dan Umum dan fungsi keuangan sudah cukup efektif. Selain itu, pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis terdapat fungsi pencatatan waktu hadir yang dilakukan oleh fungsi keamanan (satpam). Jika dilihat dari banyaknya aktivitas yang berhubungan dengan pencatatan waktu, maka

sebaiknya dalam organisasi harus terdapat fungsi pencatat waktu. Hal ini diharapkan agar pencatatan waktu dapat dikontrol dengan baik. f. Pemberian wewenang dan Tanggung Jawab
Pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis telah melaksanakan pemberian wewenang dan tanggung jawab terhadap bagian-bagian yang ada pada perusahaan itu sendiri. Hal ini dapat dilihat

pada struktur organisasi perusahaan dan uraian tugas dari tiap-tiap bagian. g. Kebijakan dan Praktek Sumber Daya Manusia Aspek yang penting bagi lancarnya kinerja suatu perusahaan adalah karyawan, untuk itu pemilihan karyawan yang kompeten dalam menciptakan suasana pengendalian intern yang diinginkan amatlah perlu. Pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis dalam hal kebijakan dan praktek sumber daya manusia telah cukup baik. Hal ini dapat dilihat pada deskripsi tugas (job descriptions) pada tiap-tiap bagian atau bidang yang menjelaskan tanggung jawab atas pembinaan, penilaian dan peningkatan mutu setiap karyawan. Dapat diketahui pula bahwa perusahaan mengutamakan kepentingan karyawan untuk dapat mengembangkan diri, selain itu dalam penerimaan karyawan baru dilaksanakan melalui tes untuk menyaring sumber daya manusia yang terampil dan dapat diandalkan. Setiap karyawan pada bagian tertentu di perusahaan telah diikutsertakan pada pelatihan untuk meningkatkan kualitas dan sumber daya manusia yang dimiliki perusahaan. Dengan adanya pelatihan tersebut, setiap karyawan diharapkan dapat meningkatkan kecakapannya sesuai dengan bidang pekerjaan yang dipegangnya.

4.1.2 Penaksiran Resiko Penaksiran resiko entitas untuk tujuan pelaporan keuangan merupakan identifikasi analisis dan manajemen terhadap resiko yang relevan dengan

penyusunan laporan keuangan yang wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku di Indonesia. PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis dalam melaksanakan aktivitas perusahaannya selalu mengkomunikasikan kepada karyawannya apabila terdapat perubahan-perubahan dalam lingkungan kerja karyawan tersebut. Adapun perubahan-perubahan dalam lingkungan

perusahaan yaitu: a. Perubahan dalam Lingkungan Operasi


Pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis,

perubahan dalam lingkungan operasi tidak begitu signifikan, misalnya dalam perubahan kenaikan gaji dan upah pegawai harus sesuai dengan upah minimum regional yang berlaku dan berdasarkan pada surat keputusan dewan direksi. Selain itu, manajemen tetap mengawasi jalannya operasi perusahaan sehingga bila terjadi ketidakberesan dalam perusahaan, manajemen sedapat mungkin harus mengatasi dengan berbagai tindakan atau mengurangi adanya ketidakberesan dan salah saji tersebut. b. Personel Baru Pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis dalam menerima karyawan dilakukan apabila kekosongan pada bagian tertentu atau dikarenakan adanya pengunduran diri dari karyawan yang telah ada. Rekrutmen karyawan baru dilakukan oleh kantor direksi yang bekerja sama dengan LPP (Lembaga Pelatihan Perkebunan) Yogyakarta. Kemudian karyawan baru akan ditempatkan sesuai dengan bagiannya masing-masing. c. Sistem Informasi yang Baru atau yang diperbaiki Bila terdapat sistem informasi yang baru atau adanya perubahan terhadap sistem yang lama, PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis dengan segera memberitahukan kepada bagian-bagian atau karyawan untuk menyesuaikan perubahan yang terjadi dalam perusahaan, ini mengingat semakin berkembangnya teknologi, perusahaan diharapkan

mampu meningkatkan kinerja untuk lebih baik. Sistem informasi yang


baru di perusahaan berupa penggunaan email untuk mengiriman setiap

laporan. d. Pertumbuhan yang Pesat


Perluasan operasi pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis yaitu dengan menambah area perkebunan dan memperbaiki serta memperbarui mesin operasi yang dianggap perlu guna

menunjang operasi perusahaan dalam memproduksi gula setiap tahunnya. e. Teknologi Baru
PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis selalu mengikuti perkembangan teknologi yang berguna dalam aktivitas

perusahaan, seperti pengiriman laporan melalui via email.

f. Link Produk Aktivitas Baru


Pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis produk yang dijual berupa gula dan tetes, untuk link produk perusahaan

menjalin hubungan dengan pihak suplier. g. Restrukturisasi Korporat


Merupakan pengurangan staf dan perubahan dalam supervisi. PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis akan mengurangi stafnya jika dianggap perlu dan dapat membawa perubahan

yang baik untuk perusahaan, hal ini tentu melalui persetujuan dari direksi. h. Operasi Luar Negeri

Perluasan atau pemerolehan operasi luar negeri belum sepenuhnya


dilakukan oleh PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis tetapi pihak perusahaan telah melakukan aktivitas yang dapat mengurangi resiko yang dapat mempengaruhi pengendalian intern

perusahaan.

4.3.1 Aktivitas Pengendalian


Aktivitas pengendalian merupakan kebijakan dan prosedur yang membantu meyakinkan bahwa tindakan yang diperlukan telah dilaksanakan untuk menghadapi resiko dalam pencapaian tujuan entitas. Aktivitas pengendalian yang mungkin relevan dengan audit dapat digolongkan sebagai kebijakan dan prosedur

yang berkaitan dengan berikut ini: a. Review terhadap Kerja


Pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta manis, review kinerja dilakukan dengan adanya inspeksi kinerja oleh pihak manajemen terhadap fungsi-fungsi yang bersangkutan. Review kinerja perusahaan berupa daftar gaji dan upah karyawan yang dibuat oleh

bagian SDM dan Umum kemudian diotorisasi oleh manajer. b. Pengolahan Informasi Pengolahan informasi di bagi dua yaitu :

Pengendalian Umum Pada pengendalian umum ini meliputi unsur mengenai organisasi pusat pengolahan data, prosedur dan standar untuk perubahan progam, pengembangan sistem dan pengoperasian
fasilitas pengolahan data. Pengolahan informasi yang berkaitan

dengan pengendalian umum yang ada pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta manis, didalam

aktivitas operasinya terutama berkaitan dengan siklus


penggajian dan pengupahan diterapkan sedemikian rupa agar pengendalian intern dapat tercipta dengan efektif. Entry data

penggajian dan pengupahan oleh bagian SDM dan Umum dijaga dengan menggunakan adanya pengggunaan data password oleh untuk menghindari orang yang tidak

berkepentingan sehingga memudahkan dalam penyimpangan. Dengan demikian tidak sembarangan orang yang dapat mengakses data yang ada, sehingga dapat menciptakan pengendalian efektif. Pengendalian Aplikasi Pengendalian aplikasi terhadap pengolahan transaksi tertentu di kelompokan menjadi : (1) Prosedur Otorisasi yang Memadai. Merupakan suatu organisasi dimana setiap transaksi hanya terjadi atas dasar otorisasi dari yang memiliki wewenang untuk menyetujui terjadinya transaksi tersebut. Oleh karena itu, didalam organisasi harus dibuat sistem yang mengatur pembagian wewenang untuk otorisasi atas terlaksananya setiap transaksi. Pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta manis, prosedur otorisasi telah berjalan dengan baik, ini dapat dilihat pada bagian SDM dan Umum yang membuat daftar gaji dan upah kemudian daftar gaji dan upah tersebut di otorisasi oleh manajer sebelum dibawa kebagian keuangan. Dengan demikian fungsi keuangan dapat percaya bahwa daftar gaji dan upah yang dibuat oleh bagian SDM dan Umum telah sesuai sehingga fungsi keuangan dapat membuat atau menganggarkan untuk pembayaran gaji dan upah pegawai.

(2) Perancangan dan Penggunaan Dokumen dan Catatan yang Cukup.


Setiap transaksi di dalam organisasi hanya terjadi atas dasar otorisasi dari yang memiliki wewenang untuk menyetujui terjadinya transaksi tersebut. Pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta manis dalam hal perancangan dokumen dan catatan sudah berjalan efektif seperti adanya dokumen bernomor urut tercetak (prenumbered form). Selain itu pihak perusahaan juga telah membuat rancangan dokumen dan catatan yang sederhana yang memudahkan dalam pemahaman terhadap dokumen oleh tiap-tiap bagian perusahaan dan karyawan yang

bersangkutan. (3) Pengecekan secara independen


Untuk menjamin bahwa setiap karyawan perusahaan melaksanakan aktivitas pengendalian yang telah ditetapkan, diperlukan pengecekan secara independen terhadap kinerja karyawan. Cara yang paling mudah adalah dengan pemisahan fungsi. Pemisahan fungsi ini secara otomatis

menciptakan verifikasi independen terhadap pelaksanaan masing-masing fungsi dalam pelaksanaan suatu transaksi. Pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis dalam hal pengecekan belum berjalan efektif ini terjadi karena fungsi pembuat daftar gaji dan upah yang tidak terpisah dengan fungsi pembayaran gaji dan upah itu sendiri sehingga secara otomatis fungsi pembuat daftar gaji dan upah belum diverifikasi kebenaran dan ketelitian perhitungan sebelum dilakukan pembayaran kepada karyawan. Hal ini dapat merugikan perusahaan karena jika terjadi suatu kesalahan maka sulit untuk di indentifikasikan.

Verifikasi ketelitian dan kebenaran atas daftar gaji dan upah


harus dilakukan oleh bagian akuntansi dengan benar karena dengan melakukan verifikasi ketelitian dan kebenaran atas daftar gaji dan upah tersebut maka unsur pengendalian intern akan menjamin bukti kas keluar di buat atas dasar dokumen pendukung yang andal sehingga jika terjadi kesalahan oleh satu bagian akan dapat diketahui oleh

bagian lain. c. Pengendalian Fisik Unsur lingkungan pengendalian yang juga tak kalah pentingnya dalam pengendalian fisik adalah dokumen dan catatan yang memadai. Dokumen berfungsi sebagai pengantar informasi keseluruh bagian organisasi klien. Dokumen harus memadai untuk memberikan keyakinan bahwa seluruh aktiva dikendalikan dengan baik dan seluruh transaksi dicatat dengan benar. Pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta manis semua dokumen transaksi yang berhubungan dengan penggajian dan pengupahan telah dicatat dan diotorisasi dengan baik serta telah dimasukan kedalam jurnal penggajian, untuk daftar gaji dan upah telah dimasukan oleh bagian SDM dan Umum secara on-line (langsung) melalui payroll progam AFS dan bagian SDM dan Umum juga memasukan daftar gaji secara on-line sehingga pencatatan dilakukan dua kali. Selain itu pengendalian fisik yang diterapkan perusahaan adalah untuk menjaga agar tidak terjadi kerusakan atas harta dan catatan elektronik yang ada didalamnya yaitu dengan cara meletakan komputer penggajian tersebut di tempat khusus dan untuk menghindari orang yang tidak berwenang menggunakan komputer tersebut perusahaan menggunakan password khusus untuk setiap orang yang berwenang atau yang bertanggung jawab menggunakan komputer penggajian tersebut. d. Pemisahan Fungsi

Pemisahan fungsi bertujuan untuk mencegah dan untuk dapat dilakukannya deteksi segera atas kesalahan dan ketidakberesan dalam pelaksanaan tugas yang dibebankan kepada seseorang. Pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis dalam hal pemisahan tugas belum diterapkan dengan baik ini dapat dilihat dengan belum dipisahkannya fungsi pembuat daftar gaji dan upah dengan fungsi pembayaran gaji dan upah itu sendiri. Dalam sistem informasi akuntansi penggajian dan pengupahan, fungsi pembuat daftar gaji dan upah merupakan fungsi akuntansi, yang bertanggungjawab atas perhitungan penghasilan setiap karyawan. Fungsi ini berada di tangan bagian gaji dan upah, di bawah departemen personalia dan umum. Fungsi pembayaran gaji dan upah merupakan fungsi penyimpanan, yang dalam struktur organisasi perusahaan umumnya berada di bagian kasa. Dengan dipisahkannya dua fungsi ini, hasil perhitungan gaji dan upah dicek ketelitian dan keandalannya oleh fungsi pembayaran gaji dan upah, sebelum gaji dan upah dibayarkan kepada karyawan yang berhak. Pemisahan ini dilakukan agar tidak terjadi kesalahan dalam perhitungan gaji dan upah, selain itu tugas dan wewenang kedua fungsi ini menjadi jelas. Adapun tugas dan wewenang kedua fungsi ini adalah : 1. Fungsi Pembuat Daftar Gaji dan Upah Fungsi ini bertanggung jawab menghitung penghasilan setiap karyawan selama jangka waktu pembayaran gaji dan upah. 2. Fungsi Pembayaran Gaji dan Upah Fungsi ini bertanggung jawab untuk mengisi cek guna Pembayaran gaji dan upah dan menguangkan cek tersebut ke bank. Pemisahan tugas antara fungsi pembuat daftar gaji dan upah dengan fungsi pembayaran gaji dan upah karyawan harus dilakukan karena bagian ini

merupakan bagian yang penting dalam pelaksanaan kegiatan penggajian


dan pengupahan. Dengan adanya pemisahan kedua fungsi ini dimaksudkan untuk menciptakan pengecekan intern pelaksanaan transaksi pembayaran gaji dan upah pada Pada PT. Perkebunan Nusantara VII

(Persero) Unit Usaha Cinta Manis.

4.1.4 Informasi dan Komunikasi


Informasi dan komunikasi merupakan proses pemahaman,

pengidentifikasian dan pertukaran atas peran dan tanggung jawab individual. Penerapan sistem informasi dan komunikasi pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta manis telah dilaksanakan dengan baik. Penerapan ini dapat dilihat aplikasinya sebagai berikut : a. Mengidentifikasi dan mencatat semua transaksi yang sah. Setiap transaksi yang terjadinya pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis khususnya yang berhubungan dengan pengeluaran biaya pembayaran gaji dan upah yang dicatat kedalam dokumen dengan adanya otorisasi. Keterangan yang dicatat akibat adanya transaksi tersebut harus dipastikan dengan kata lain transaksi tersebut memang benar-benar terjadi bukan hasil rekayasa dan dapat dipertanggung jawabkan secara jelas. b. Menjelaskan pada saat yang tepat transaksi secara rinci untuk
memungkinkan penggolongan semestinya untuk pelaporan keuangan.

Pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis keterangan yang berasal dari pencatatan yang tercantum didalam dokumen dijelaskan sesuai dengan fungsi dokumen tersebut sehingga memudahkan penggolongan transaksi dan pencatatannya dalam membuat laporan keuangan. c. Menentukan periode terjadinya transaksi untuk memungkinkan pencatatan transaksi dalam periode akuntansi yang semestinya. Pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis, pencatatan transaksi

dilakukan sesuai periode yang telah ditentukan oleh pihak perusahaan. Pencatatan transaksi yang telah sesuai dapat memudahkan auditor dalam menentukan jenis transaksi yang masuk atau tidak kedalam periode audit yang dilakukannya.

4.1.5 Pemantauan Telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa pemantauan adalah proses penetapan kualitas kinerja pengendalian intern sepanjang waktu. Pemantauan mencakup penentuan desain dan operasi, pengendalian tepat waktu dan tindakan perbaikan yang dilakukan. Pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta manis sudah terdapat fungsi dewan direksi (dewan komisaris) untuk mengawasi dan memantau seluruh efektivitas dan kebijakan prosedur pengendalian yang ada dalam perusahaan. Pengawasan dilakukan langsung oleh dewan direksi perusahaan. Dewan direksi ini melakukan penilaian efektifitas rancangan dan operasi struktur pengendalian intern secara periodik untuk melihat pelaksanaan yang dilakukan dengan semestinya dan telah diperbaiki sesuai dengan keadaan. Selain itu pemantauan yang berkaitan dengan struktur pengendalian intern atas penggajian dan pengupahan pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis juga melibatkan Kantor Akuntan Publik yang ditunjuk oleh pihak perusahaan untuk melakukan audit setiap tahun sekali guna menciptakan pengendalian intern yang sehat dalam perusahaan.

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan Setelah melakukan berbagai evaluasi terhadap struktur pengendalian intern
atas penggajian dan pengupahan pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis, dapat ditarik kesimpulan penilaian terhadap pengendalian intern atas penggajian dan pengupahan khususnya pada aktivitas

pengendalian, bahwa : 1. Pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis,
belum dilaksanakannya pemisahan fungsi secara baik dan tepat, karena masih ada perangkapan tugas pada bagian SDM dan Umum dimana

bertugas membuat daftar gaji dan upah serta pembayaran gaji dan upah. Hal ini dapat menimbulkan pengaruh yang kurang baik terhadap perusahaan seperti terjadi kekeliruan dalam perhitungan potongan gaji dan upah maka berpengaruh terhadap keamanan harta milik perusahaan. 2. Pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis dalam hal pengecekan belum berjalan efektif karena fungsi pembuat daftar gaji dan upah belum diverifikasi kebenaran dan ketelitian perhitungan sebelum dilakukan pembayaran kepada karyawan sehingga belum menjamin bukti kas keluar di buat atas dasar dokumen pendukung yang andal dan bila terjadi kesalahan sulit untuk dilakukan identifikasi dari bagian yang bersangkutan.

5.2 Saran Dari kesimpulan di atas, penulis akan memberikan saran-saran sehubungan dengan struktur pengendalian intern atas penggajian dan pengupahan pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis,yang mungkin akan bermanfaat bagi perusahaan dimasa yang akan datang yaitu : 1. Sebaiknya perusahaan meninjau kembali tanggung jawab dan wewenang dari masing-masing bagian yang terkait dalam penggajian

dan pengupahan, khususnya pemberian tanggung jawab dan pemisahan fungsi secara tegas pada bagian pembuat daftar gaji dan upah dengan bagian pembayaran. 2. Sebaiknya perusahaan melakukan pengecekan secara independen terhadap fungsi pembuatan daftar gaji dan upah yang belum diverifikasi kebenaran dan ketelitian perhitungannya oleh fungsi
akuntansi sebelum melakukan pembayaran kepada karyawan dengan

melakukan verifikasi ketelitian dan kebenaran atas daftar gaji dan upah tersebut maka unsur pengendalian intern akan menjamin bukti kas keluar dibuat atas dasar dokumen pendukung yang andal.

DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Sukrisno. 2004. Auditing (Pemeriksaan Akuntansi oleh KAP) Edisi ke-3 Jillid 1. Jalarta:Salemba Empat. Arens, Alvin A., Dkk. 2003. Auditing dan Pelayanan Verifikasi. Jakarta:Salemba Empat. Arens, Alvin A. & James Lobbecke. 2003. Buku 1. Jakarta:Salemba Empat. Ikatan Akuntan Indonesia. 2001. Jakarta:Salemba Empat. Mulyadi. 2002. Auditing 1. Jakarta:Salemba Empat. Mulyadi. 2002. Auditing 2. Jakarta:Salemba Empat. Soeratno dan Lyncolin Arsyad. 2008. Metodologi untuk Penelitian Ekonomi dan Bisnis. Yogyakarta:UPP STIM YKPM. Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP). Auditing dan Pendekatan Terpadu