Anda di halaman 1dari 12

Bagan Siapiapi, April 2011

Nomor Sifat

: :

Lampiran : Hal :

Kepada Yth; Sdr. Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Di J a k a r t a.

Pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Rokan Hilir 2011, yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Rokan Hilir telah berlansung pada tanggal 7 April 2011 yang lalu. Guna mendapatkan reprentatif dukungan dan Pemerintahan yang Legitimit, dipandang perlu menguji berbagai temuan dalam Poses penyelenggaraan Pemilukada Kabupaten Rokan Hilir 2011 tersebut, yang memberi gambaran, antara lain : A. TIDAK PROFESIONAL KOMISI PEMILIHAN UMUM DAERAH (KPUD) DALAM MENYELENGGARAKAN PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH KABUPATEN ROKAN HILIR TAHUN 2011. Ketidak profesionalan KPUD Kabupaten Rokan Hilir dalam menyelenggarakan Pemilukada Kabupaten Rokan Hilir yang dilansungkan pada tanggal 7 April 2011 yang baru lalu, dapat dicermati dari proses penyelenggaraannya, antara lain : 1. DPS (Daftar Pemilih Sementara) Pemilukada 2011 adalah DPT yang dibuat dan digunakan sebagai Daftar Pemilih Tetap (DPT) pada Pemilukada Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2006. 2. DPT (Daftar Pemilih Tetap) yang digunakan pada Pemilukada 2011 adalah data Daftar Pemilih Sementara (DPS) yang tidak dimutahirkan secara baik. 3. Pemilih yang tercantum pada Daftar Pemilih Sementara (DPS ), banyak yang tidak dimunculkan dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) walaupun yang bersangkutan masih hidup dan masih tetap

berdomisili di Rokan Hilir pada saat Pemilukada Kabupaten Rokan Hilir 2011 tersebut dilangsungkan. 4. Terdapatnya/ditemukannya pemilih yang namanya tidak tercantum / tidak berasal dari salinan data Daftar Pemilih Sementara (DPS) dan Pemilih Tetap (DPT) Pemilukada Kabupaten Rokan Hilir 2011. 5. Pendataan bagi Pemilih Pemula dan pemilih baru lainnya yang dilaksanakan KPUD tidak secara menyeluruh, akan tetapi hanya dilakukan pada daerah tertentu yaitu daerah basis yang dapat menguntungkan dari pasangan calon Incumbent. 6. Tercantumnya pemilih baru yang terdaftar di Tempat Pemungutan Suara (TPS) tidak berasal dari salinan Daftar Pemilih Tetap (DPT) diduga kuat adalah perbuatan diskriminasi dan Kolusi Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Hilir untuk menguntungkan pasangan Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati (INCUMBENT). 7. Penyampaian Kartu / Undangan memilih dari Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) kepada Pemilih yang terdapat pada Daftar Pemilih Tetap (DPT) secara mendadak, yaitu kurang dari 3 (tiga) hari sebelum hari H, ( H-1 ) bahkan ada pemilih menerima Kartu/undangan memilih pada saat tegah malam (dini hari) sebelum hari H pelaksanaan pemilihan . 8. Pendistribusian Kartu / Undangan pemilih tidak diberikan kepada semua yang mempunyai hak pilih sebagaimana nama pemilih yang tercantum pada salinan Daftar Pemilih Tetap (DPT) berdasarkan Tempat Pemungutan Suara. 9. Bilamana ada rapat/pertemuan yang diadakan oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) melibatkan Team Pemenangan pasangan calon, pemberitahuan atau penyampaian surat undangannya sering terlambat dan pada saat yang berhak menghadiri undangan dimaksud Ketua Team Pemenangan Pasangan Calon Lain ( Calon No.3 tidak berada ditempat).

10. Bilamana ada kegiatan dalam rangkaian pelaksanaan Pemilukada yang penyelenggaraannya tidak diatur secara tegas oleh Undangundang (Debat Kandidat), tanpa mengadakan musyawarah dengan Team Pemenangan masing-masing Pasangan Calon, keputusan yang dibuat oleh KPUD lebih mengakomodir dan menguntungkan Pasangan Calon tertentu (INCUMBENT). 11. Penunjukan Pegawai Negeri sebagai Ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan Ketua Panitia Pemungutan Suara (KPPS) oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) yang dapat mempengaruhi netralitas pelaksanaan fungsinya. B. PEMANFAATAN FASILITAS PEMERINTAH DAN PERANGKAT DAERAH DIBAWAH KEWENANGAN JABATAN CALON BUPATI DAN WAKIL BUPATI (PASANGAN INCUMBENT). Keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) Badan Pengawasan Pemilu (BAWASLU) dalam melaksanakan pengawasan penyelenggaraan Pemilukada Kabupaten Rokan Hilir 2011, telah pula memberikan kesempatan buat Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Incumbent, untuk menggunakan kewenangannya sebagai Pejabat Bupati Rokan Hilir, yang meletakan jabatannya hanya pada masa kampanye Pemilukada berlangsung. Pemanfaatan fasilitas Pemerintah dan Perangkat Daerah dibawah kewenangan jabatan pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Incumbent dimaksud, dapat dicermati antara lain : 1. Persyaratan administrasi pencalonan Calon Bupati dari pasangan Calon Incumbent ( H. Annas ) adalah cacat hukum, dimana persyaratan tentang kelayakan jasmani dan rohani (Cek Kesehatan /Rekaman Medis) H. Annas yang dilaksanakan oleh Team Medis Rumah Sakit Umum Daerah Pekanbaru tidak tuntas, sedangkan yang dijadikan dokumen administrasi Cek Kesehatan/Rekaman Medis yang digunakan oleh H. Annas menggunakan hasil cek kesehatan/ rekaman medis yang dikeluarkan pihak Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta.

2. Kegiatan sosialisasi pasangan calon Incumbent diberbagai daerah menggunakan fasilitas Pemerintah berupa kendaraan dinas operasional jabatan Bupati maupun Wakil Bupati Rokan Hilir. 3. Adanya intimidasi secara terstruktur (berjenjang) dari Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Incumbent mulai dari camat, Lurah/Penghulu (Kepala Desa) bahkan sampai tingkat terbawah sekalipun seperti RW dan RT agar yang bersangkutan menyampaikan kepada masyarakat supaya memilih Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati dari Incumbent. 4. Bagi perangkat Daerah seperti Camat, Guru, Tenaga Medis, Lurah dan Pegawai Negeri Sipil lainnya yang ketahuan tidak memberikan dukungan secara aktif kepada Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Incumbent akan dimutasikan dan bagi para Pegawai Honorer akan diberhentikan oleh Pasangan Bupati dan Wakil Bupati Incumbent. 5. Memanfaatkan Anggaran Daerah berupa Uang Tunjangan Kesejahteraan Pegawai yang dibayarkan kepada para guru yang dilakukan pada malam hari sebelum hari H pemilihan dan tidak dilaksanakan di kantor melainkan dirumah Dinas Jabatan Bupati Rokan Hilir dan ada juga dilaksanakan di Kecamatan-kecamatan, yang pembayaranya melalui Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan. 6. Pembayaran Uang Tunjangan Kesejahteraan Pegawai tidak dilaksanakan secara menyeluruh (semua pegawai) akan tetapi kebijakan Bupati Rokan Hilir (Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Incumbent) dalam melaksanakan pembayaran Uang Tunjangan Kesejaheraan dimaksud lebih memprioritaskan kepada para guru dalam semua tingkatan pendidikan, kebijakan dimaksud didasari atas pertimbangan bahwa jumlah pegawai yang berprofesi sebagai guru secara kwantitatif lebih banyak jumlahnya dan dari sisi strategis politis penyebaranya jauh lebih luas jika dibandingkan dengan Pegawai Negeri yang lain. 7. Mengadakan kampanye terselubung pada masa minggu tenang yang dikemas melalui pementasan artis ibu kota dengan dalih hiburan

rakyat dan membagi-bagikan sejumlah uang, paket sembako dan kain bakal pakaian (pakaian yang belum dijahit) kepada masyarakat dibeberapa daerah yang lansung dilakukan oleh H. SUYATNO Calon Wakil Bupati dari pasangan incumbent. 8. Melakukan Politik Uang, yaitu Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Incumbent membagi-bagikan sejumlah uang kepada pemilih melalui petugas (RT) sewaktu menyampaikan kartu pamilih (undangan) yang besarnya nilai uang yang diberikan disesuaikan dengan berapa orang pemilih dalam rumah tangga tersebut. Dari beberapa poin yang telah diuraikan diatas, dapat disimpulkan bahwa Pemilukada Kabupaten RokanHilir yang dilaksanakan tanggal 7 April 2011 yang lalu adalah suatu Pemilukada yang sangat patut diduga Penyelenggaraanya syarat dengan perbuatan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang terindikasi dari adaya perbuatan yang dilakukan oleh Pejabat Bupati dan Wakil Bupati Rokan Hikr yang merupakan Calon Bupati dan Wakil Bupati dari pasangan Incumbent yang membagi-bagikan uang dan menggunakan pasilitas Negara (daerah) berupa kendaraan dinas operasional jabatan Bupati dan Wakil Bupati serta Perangkat yang dibawah kewenanganya untuk kepentingan politiknya pada masa sosialisasi Calon Bupati dan Wakil Bupati dari pasangan Incumbent pada tahapan pelaksanaan Pemilukada Rokan Hilir tahun 2011 Yng lau. Sedangkan perbuatan Kolusi yang dimaksudkan dalam penyelenggaraan Pemilukada Rokan Hilir dimaksud adalah adanya perbuatan / kebijakan yang tidak konsisten dan menguntungkan pihak tertentu yaitu Calon Bupati dari pasangan Incumbent pada proses seleksi administrasi tentang hasil pemeriksaan kelayakan Jasmani dan Rohani (Rekaman Medis cek kesehatan) yang tidak berasal dari Rumah Sakit Umum Daerah sebagaimana yang ditunjuk atau disyaratkan eleh KPUD Rokan Hilir pada Calon Bupati dan calon Wakil Bupati dari pasangan lain pada Pemilukada Rokan Hilir Tahun 2011 yang lau. Adapun perbuatan Nepotisme yang dimaksudkan adalah danya perbuatan yang diberlakukan / kebijakan tertentu yang tidak dilaksanakan secara universal yaitu dalam melaksanakan pembayaran Uang Tunjangan Kesejahteraan Pegawai yang lebih memprioritaskan para guru dengan latar belakang pertimbangan kwantitatif dan politis yang dapat

menguntungkan pihaknya dalam memperoleh dukungan suara pada Pemilukada Rokan Hilir tanggal 7 April 2011 yang baru lalu. Demikian disampaikan, kiranya dapat menjadi pertimbangan lebih lanjut dan terimakasih.

Bagan Siapiapi, April 2011

Nomor : Sifat : Lampiran : Perihal :

Kepada Yth; Sdr. Ketua Mahkamah Konstitusi Kabupaten Rokan Hilir Di J a k a r t a. Pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Rokan Hilir 2011, yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Rokan Hiklir telah berlansung pada tanggal 7 April 2011 yang lalu.

Guna mendapatkan reprentatif dukungan dan Pemerintahan yang Legitimit, dipandang perlu menguji berbagai temuan dalam Poses penyelenggaraan Pemilukada Kabupaten Rokan Hilir 2011 tersebut, yang memberi gambaran, anara lain : A. TIDAK PROFESIONAL KOMISI PEMILIHAN UMUM DAERAH (KPUD) DALAM MENYELENGGARAKAN PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH KABUPATEN ROKAN HILIR TAHUN 2011. Ketidak profesionalan KPUD Kabupaten Rokan Hilir dalam menyelenggarakan Pemilukada Kabupaten Rokan Hilir yang dilansungkan pada tanggal 7 April 2011 yang baru lalu, dapat dicermati dari proses penyelenggaraannya, antaralain : 1. DPS (Daftar Pemilih Sementara) Pemilukada 2011 adalah DPT yang dibuat dan digunakan sebagai Daftar Pemilih Tetap (DPT) pada Pemilukada Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2006. 2. DPT (Daftar Pemilih Tetap) yang digunakan pada Pemilukada 2011 adalah data Daftar Pemilih Sementara (DPS) yang tidak dimutahirkan secara baik. 3. Pemilih yang tercantum pada Daftar Pemilih Sementara (DPS ), banyak yang tidak dimunculkan dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) walaupun yang bersangkutan masih hidup dan masih tetap berdomisili di Rokan Hilir pada saat Pemilukada Kabupaten Rokan Hilir 2011 tersebut dilansungkan. 4. Terdapatnya/ditemukannya pemilih yang namanya tidak tercantum / tidak berasal dari salinan data Daftar Pemilih Sementara (DPS) dan Pemilih Tetap (DPT) Pemilukada Kabupaten Rokan Hilir 2011. 5. Pendataan bagi Pemilih Pemula dan pemilih baru lainnya yang dilaksanakan KPUD tidak secara menyeluruh, akan tetapi hanya dilakukan pada daerah tertentu yaitu daerah basis yang dapat menguntungkan dari pasangan calon Incumbent. 6. Tercantumnya pemilih baru yang terdaftar di Tempat Pemungutan Suara (TPS) tidak berasal dari salinan dari Daftar

Pemilih Tetap (DPT) diduga kuat adalah perbuatan diskriminasi dan Kolusi Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Hilir untuk menguntungkan pasangan Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati (INCUMBENT). 7. Penyampaian Kartu / Undangan memilih dari Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) kepada Pemilih yang terdapat pada Daftar Pemilih Tetap (DPT) secara mendadak, yaitu kurang dari 3 (tiga) hari sebelum hari H, ( H-1 ) bahkan ada pemilih menerima Kartu/undangan memilih pada saat tegah malam (dini hari) sebelum hari H pelaksanaan pemilihan . 8. Pendistribusian Kartu / Undangan pemilih tidak diberikan kepada semua yang mempunyai hak pilih sebagaimana nama pemilih yang tercantum pada salinan Daftar Pemilih Tetap (DPT) berdasarkan Tempat Pemungutan Suara. 9. Bilamana ada rapat/pertemuan yang diadakan oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) melibatkan Team Pemenangan pasangan calon, pembertahuan atau penyempaian surat undangannya sering terlambat dan pada saat yang berhak menghadiri undangan dimaksud (Ketua Team Pemenangan Pasangan Calon Lain ( Calon No.3 tidak berada ditempat. 10. Bilamana ada kegiatan dalam rangkaian pelaksanaan Pemilukada yang penyelenggaraannya tidak diatur secara tegas oleh Undangundang (Debat Kandidat), tanpa mengadakan musyawarah dengan Team Pemenangan masing-masing Pasangan Calon, keputusan yang dibuat oleh KPUD lebih mengakomodir dan menguntungkan Pasangan Calon tertentu (INCUMBENT). 11. Penunjukan Pegawai Negeri sebagai Ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan Ketua Panitia Pemungutan Suara (KPPS) oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) yang dapat mempengaruhi netralitas pelaksanaan fungsinya. B. PEMANFAATAN FASILITAS PEMERINTAH DAN PERANGKAT DAERAH DIBAWAH KEWENANGAN JABATAN CALON BUPATI DAN WAKIL BUPATI (PASANAN INCUMBENT).

Keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) Badan Pengawasan Pemilu (BAWASLU) dalam melaksanakan pengawasan penyelenggaraan Pemilukada Kabupaten Rokan Hilir 2011, telah pula memberikan kesempatan buat Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Incumbent, untuk menggunakan kewenangannya sebagai Pejabat Bupati Rokan Hilir, yang meletakan jabatannya hanya pada masa kompanye Pemilukada berlangsung. Pemanfaatan fasilitas Pemerintah dan Perangkat Daerah dibawah kewenangan jabatan pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Incumbent dimaksud, dapat dicermati antara lain : 1. Persyaratan administrasi pencalonan Calon Bupati dari pasangan Calon Incumbent ( H. Annas ) adalah cacat hokum, dimana peryaratan tentang kelayakan jasmani dan rohani (Cek Kesehatan /Rekaman Medis) H. Annas yang dilaksanakan oleh Team Medis Rumah Sakit Umum Daerah Pekanbaru tidak tuntas, sedangkan yang dijadikan dokumen administrasi Cek Kesehatan/Rekaman Medis yang digunakan oleh H. Annas menggunakan hasil cek kesehatan/ rekaman medis yang dikeluarkan pihak Rumah Sakit Umum Pringadi Medan, Sumatera Utara. 2. Kegiatan sosialisasi pasangan calon Incumbent diberbagai daerah menggunakan fasilitas Pemerintah berupa kendaraan dinas operasional jabatan Bupati maupun Wakil Bupati Rokan Hilir. 3. Adanya intimidasi secara terstruktur (berjenjang) dari Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Incumbent mulai dari camat, Lurah/Penghulu (Kepala Desa) bahkan sampai tingkat terbawah sekalipun seperti RW dan RT agar yang bersangkutan menyampaikan kepada masyarakat supaya memilih Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati dari Incumbent. 4. Bagi perangkat Daeerah seperti Camat, Guru, Tenaga Medis, Lurah dan Pegawai Negeri Sipil lainnya yang ketahuan tidak memberikan dukungan secara aktif kepada Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Incumbent akan dimutasikan dan bagi para Pegawai Honorer akan diberhentikan oleh Pasangan Bupati dan Wakil Bupati Incumbent. 5. Memanfaatan Anggaran Daerah berupa Uang Tunjangan Kesejahteraan Pegawai yang dibayarkan kepada para guru yang

dilakukan pada malam hari sebelum hari H pemilihan dan tidak dilaksanakan di kantor melainkan dirumah Dinas Jabatan Bupati Rokan Hilir dan ada juga dilaksanakan di Kecamatan-kecamatan, yang pembayaranya melalui Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan. 6. Pembayaran Uang Tunjangan Kesejahteraan Pegawai tidakdilaksanakan secara menyeluruh (semua pegawai) akan tetapi kebijakan Bupati Rokan Hilir (Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Incumbent) dalam melaksanakan pembayaran Uang Tunjangan Kesejaheraan dimaksud lebih memprioritaskan kepada para guru dalam semua tingkatan pendidikan, kebijakan dimaksud didasari atas pertimbangan bahwa jumlah pegawai yang berprofesi sebagai guru secara kwantitatif lebih banyak jumlahnya dan dari sisi strategis politis penyebaranya jauh lebih luas jika dibandingkan dengan Pegawai Negeri yang lain.

7. Mengadakan kompanye terselubung pada masa minggu tenang yang dikemas melalui pementasan artis ibu kota dengan dalih hiburan rakyat dan membagi-bagikan sejumlah uang, paket sembako dan kain bakal pakaian (pakaian yang belum dijahit) kepada masyarakat dibeberapa daerah yang lansung dilakukan oleh H. SUYATNO Calon Wakil Bupati dari pasangan incumbent. 8. Melakukan Politik Uang, yaitu Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Incumbent membagi-bagikan sejumlah uang kepada pemilih melalui petugas (RT) sewaktu menyampaikan kartu pamilih (undangan) yang besarnya nilai uang yang diberikan disesuaikan dengan berapa orang pemilih dalam rumah tangga tersebut. Dari beberapa poin yang telah diuraikan diatas, dapat disimpulkan bahwa Pemilukada Kabupaten RokanHilir yang dilaksanakan tanggal 7 April 2011 yang lalu adalah suatu Pemilukada yang sangat patut diduga Penyelenggaraanya syarat dengan perbuatan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang terindikasi dari adaya perbuatan yang dilakukan oleh Pejabat Bupati dan Wakil Bupati Rokan Hikr yang merupakan Calon Bupati dan Wakil Bupati dari pasangan Incumbent yang membagibagikan uang dan menggunakan pasilitas Negara (daerah) berupa kendaraan dinas operasional jabatan Bupati dan Wakil Bupati serta

Perangkat yang dibawah kewenanganya untuk kepentingan politiknya pada masa sosialisasi Calon Bupati dan Wakil Bupati dari pasangan Incumbent pada tahapan pelaksanaan Pemilukada Rokan Hilir tahun 2011 Yng lau. Sedangkan perbuatan Kolusi yang dimaksudkan dalam penyelenggaraan Pemilukada Rokan Hilir dimaksud adalah adanya perbuatan / kebijakan yang tidak konsisten dan menguntungkan pihak tertentu yaitu Calon Bupati dari pasangan Incumbent pada proses seleksi administrasi tentang hasil pemeriksaan kelayakan Jasmani dan Rohani (Rekaman Medis cek kesehatan) yang tidak berasal dari Rumah Sakit Umum Daerah sebagaimana yang ditunjuk atau disyaratkan eleh KPUD Rokan Hilir pada Calon Bupati dan calon Wakil Bupati dari pasangan lain pada Pemilukada Rokan Hilir Tahun 2011 yang lau. Adapun perbuatan Nepotisme yang dimaksudkan adalah danya perbuatan yang diberlakukan / kebijakan tertentu yang tidak dilaksanakan secara universal yaitu dalam melaksanakan pembayaran Uang Tunjangan Kesejahteraan Pegawai yang lebih memprioritaskan para guru dengan latar belakang pertimbangan kwantitatif dan politis yang dapat menguntungkan pihaknya dalam memperoleh dukungan suara pada Pemilukada Rokan Hilir tanggal 7 April 2011 yang baru lalu. Demikian disampaikan, kiranya dapat menjadi pertimbangan lebih lanjut dan terimakasih. Pemerhati Pemilukada Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2011.

Pemerhati Pemilukada Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2011.