Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu pelayanan kesehatan preventif yang paling dasar dan utama bagi wanita, meskipun tidak selalu diakui demikian. Untuk optimalisasi manfaat kesehatan KB, pelayanan tersebut harus disediakan bagi wanita dengan cara menggabungkan dan memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan reproduksi utama dan yang lain. Juga responsif terhadap berbagai tahap kehidupan reproduksi wanita. Peningkatan dan perluasan pelayanan keluarga berencana merupakan salah satu usaha untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu yang sedemikian tinggi akibat kehamilan yang dialami oleh wanita.1 Banyak wanita harus menentukan pilihan kontrasepsi yang sulit. Tidak hanya karena terbatasnya jumlah metode yang tersedia, tetapi juga karena metode-metode tersebut mungkin tidak dapat diterima sehubungan dengan kebijakan nasional KB, kesehatan individual, dan seksualitas wanita atau biaya untuk memperoleh kontrasepsi. Dalam memilih suatu metode, wanita harus menimbang berbagai faktor, termasuk status kesehatan mereka, efek samping potensial suatu metode, konsekuensi terhadap kehamilan yang tidak diinginkan, besarnya keluarga yang diinginkan, kerjasama pasangan, dan norma budaya mengenai kemampuan mempunyai anak.1 Setiap metode mempunyai kelebihan dan kekurangan. Namun demikian, meskipun telah mempertimbangkan untung rugi semua kontrasepsi yang tersedia, tetap saja terdapat kesulitan untuk mengontrol fertilitas secara aman, efektif, dengan metode yang dapat diterima, baik secara perseorangan maupun budaya pada berbagai tingkat reproduksi. Tidaklah mengejutkan apabila banyak wanita merasa bahwa penggunaan kontrasepsi terkadang problematis dan mungkin terpaksa memilih metode yang tidak cocok dengan konsekuensi yang merugikan atau tidak menggunakan metode KB sama sekali.1 Perasaan dan kepercayaan wanita mengenai tubuh dan seksualitasnya tidak dapat dikesampingkan dalam pengambilan keputusan untuk menggunakan kontrasepsi. Banyak wanita tidak bersedia mengubah siklus normalnya, karena takut bahwa perdarahan yang lama dapat
1

mengubah pola hubungan seksual dan dapat mendorong suami berhubungan seks dengan wanita lain. Siklus yang memanjang atau perdarahan intermiten dapat membatasi partisipasi dalam aktivitas keagamaan maupun budaya. Oleh karena itu, pendapat suami mengenai KB cukup kuat pengaruhnya untuk menentukan penggunaan metode KB oleh istri. Karena wanita mempunyai semacam kendali apabila mereka bertanggung jawab dalam penggunaan kontrasepsi. Dilain pihak, mereka juga dapat merasa kecewa karena harus menolak permintaan seks pasangannya dan memikul beban berat dari setiap efek samping dan risiko kesehatan. Wanita mungkin takut, karena alasan kesopanan atau rasa malu, untuk berbicara dengan pasangannya, baik tentang KB maupun menolak keinginan pasangannya untuk berhubungan ataupun mempunyai anak. Akhirnya, beberapa wanita memilih menggunakan kontrasepsi tanpa sepengetahuan pasangannya.1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. DEFINISI KB KB merupakan program yang berfungsi bagi pasangan untuk menunda kelahiran anak pertama, menjarangkan anak atau membatasi jumlah anak yang diinginkan sesuai dengan keamanan medis serta kemungkinan kembalinya fase kesuburan.1 Kontrasepsi ialah usaha-usaha untuk mencegah terjadinya kehamilan. Usaha-usaha itu dapat bersifat sementara, dapat juga bersifat permanen. Yang permanen dinamakan pada wanita tubektomi dan pada pria vasektomi.2 Kontrasepsi berasal dari kata kontra yang berarti mencegah/menghalangi dan konsepsi yang berarti pembuahan atau pertemuan antara sel telur dengan sperma. Jadi kontrasepsi dapat diartikan sebagai suatu cara untuk mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur dengan sperma.3 2.2. SYARAT-SYARAT KONTRASEPSI 2 Kontrasepsi ideal itu harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : Dapat dipercaya. Tidak menimbulkan efek yang mengganggu kesehatan. Daya kerjanya dapat diatur menurut kebutuhan. Tidak menimbulkan gangguan sewaktu melakukan koitus Tidak memerlukan motivasi terus menerus. Mudah pelaksanaannya. Murah harganya sehingga dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Dapat diterima penggunaannya oleh pasangan yang bersangkutan.

2.3. JENIS-JENIS KONTRASEPSI Kontrasepsi dapat menggunakan berbagai macam cara, baik dengan menggunakan hormon, alat ataupun melalui prosedur operasi. Tingkat efektivitas dari kontrasepsi tergantung dari usia, frekuensi melakukan hubungan seksual dan yang terutama apakah menggunakan kontrasepsi tersebut secara benar.3

2.3.1. KONTRASEPSI TANPA MENGGUNAKAN ALAT-ALAT/OBAT-OBAT Sanggama Terputus (coitus interruptus) Cara ini mungkin merupakan cara kontrasepsi yang tertua yang dikenal oleh manusia, dan mungkin masih merupakan cara yang banyak dilakukan sampai sekarang. Sanggama terputus ialah penarikan penis dari vagina sebelum terjadi ejakulasi. Hal ini berdasarakan kenyataan, bahwa akan terjadinya ejakulasi disadari sebelumnya oleh bagian terbesar pria, dan setelah itu masih ada waktu kira kira satu detik sebelum ejakulasi terjadi. Waktu yang singkat ini dapat digunakan untuk menarik penis keluar dari vagina. Keuntungannya, cara ini tidak membutuhkan biaya, alat- alat maupun persiapan, akan tetapi kekurangannya bahwa untuk mensukseskan cara ini dibutuhkan pengendalian diri yang besar dari pihak pria. Beberapa pria karena faktor jasmani dan emosional tidak dapat mempergunakan cara ini. Kegagalan dengan cara ini dapat disebabkan oleh:2 Adanya pengeluaran air mani sebelum ejakulasi yang dapat mengandung sperma, apalagi pada coitus yang berulang Terlambatnya pengeluaran penis dari vagina Pengeluaran semen dekat pada vulva dapat menyebabkan kehamilan, misalnya karena ada hubungan antara vulva dan kanalis servikalis uteri oleh benang lender serviks uteri yang pada masa ovulasi mempunyai spinnbarkeit yang tinggi.

Pantang Berkala (rhythm method) Cara ini dilakukan dengan tidak melakukan senggama pada saat istri dalam masa subur. Cara ini kurang dianjurkan karena sukar dilaksanakan dan membutuhkan waktu lama untuk puasa. Selain itu, kadang juga istri kurang terampil dalam menghitung siklus haidnya setiap bulan.1
4

Kesulitan cara ini ialah bahwa waktu yang tepat dari ovulasi sulit untuk ditentukan; ovulasi umumnya terjadi 14 2 hari sebelum hari pertama haid yang akan datang. Dengan demikian, pada wanita dengan haid yang tidak teratur, saat terjadinya ovulasi sulit atau sama sekali tidak dapat diperhitungkan. Selain itu, ada kemungkinan bahwa pada wanita dengan haid teratur, oleh salah satu sebab (misalnya karena sakit) ovulasi tidak datang pada waktu atau sudah datang sebelum saat semestinya.2 Pada wanita dengan daur haid tidak teratur, akan tetapi dengan variasi yang tidak jauh berbeda, dapat diterapkan masa subur dengan suatu perhitungan, di mana daur haid terpendek dikurangi dengan 18 hari dan daur haid terpanjang dikurangi dengan 11 hari. Masa aman ialah sebelum daur haid terpendek yang telah dikurangi. Untuk dapat mempergunakan cara ini, wanita yang bersangkutan sekurangkurangnya harus mempunyai catatan tentang lama daur haidnya selama 6 bulan, atau lebih baik jika wanita tersebut mempunyai catatan tentang lama daur haidnya selama satu tahun penuh.2

2.3.2 KONTRASEPSI SECARA MEKANIS UNTUK PRIA Kondom Kondom merupakan salah satu pilihan untuk mencegah kehamilan yang sudah populer di masyarakat. Kondom adalah suatu kantung karet tipis, biasanya terbuat dari lateks, tidak berpori, dipakai untuk menutupi zakar yang berdiri (tegang) sebelum dimasukkan ke dalam liang vagina. Kondom sudah dibuktikan dalam penelitian di laboratorium sehingga dapat mencegah penularan penyakit seksual, termasuk HIV/AIDS. Kondom mempunyai kelebihan antara lain mudah diperoleh di apotek, toko obat, atau supermarket dengan harga yang terjangkau dan mudah dibawa kemana-mana. Selain itu, hampir semua orang bisa memakai tanpa mengalami efek sampingan. Kondom tersedia dalam berbagai bentuk dan aroma, serta tidak berserakkan dan mudah dibuang.1 Prinsip kerja kondom sebagai perisai dari penis sewaktu melakukan koitus, dan mencegah pengumpulan sperma dalam vagina. Bentuk kondom adalah silidris dengan pingggir yang tebal pada ujung yang terbuka, sedang ujung yang
5

buntu berfungsi sebagai penampung sperma. Diameternya biasanya kira-kira 3136,5 mm dan panjang lebih kurang 19 mm. Kondom dilapisi dengan pelicin yang mempunyai sifat spermatisid.2 Keuntungan kondom, selain untuk memberi perlindungan terhadap penyakit kelamin, ialah bahwa ia dapat juga digunakan untuk tujuan kontrasepsi. Kekurangannya ialah ada kalanya pasangan yang mempergunakannya merasakan selaput karet tersebut sebagai penghalang dalam kenikmatan sewaktu melakukan koitus.2

2.3.3. KONTRASEPSI SECARA MEKANIS UNTUK WANITA Diafragma Diafragma vaginal terdiri atas kantong karet yang berbentuk mangkuk dengan per elastis pada pinggirnya. Per ini ada yang terbuat dari logam tipis yang tidak dapat berkarat, ada pula yang dari kawat halus yang tergulung sebagai spiral dan mempunyai sifat seperti per. Ukuran diafragma vaginal yang beredar di pasaran mempunyai diameter antara 55 sampai 100 mm. Tiap-tiap ukuran mempunyai perbedaan diameter masing-masing 5 mm. Besarnya ukuran diafragma yang akan dipakai oleh akseptor ditentukan secera individual.2 Diafragma dimasukkan ke dalam vagina sebelum koitus untuk menjaga jangan sampai sperma masuk ke dalam uterus. Untuk memperkuat khasiat diafragma, obat spermatisida dimasukkan ke dalam mangkuk dan dioleskan pada pinggirnya. Diafragma vaginal sering dianjurkan pemakaiannya dalam hal-hal :2 Keadaan di mana tidak tersedia cara yang lebih baik. Jika frekuensi koitus tidak seberapa tinggi, sehingga tidak dibutuhkan perlindungan yang terus-menerus. Jika pemakaian pil, AKDR, atau cara lain harus dihentikan untuk sementara waktu oleh karena sesuatu sebab. 2.3.4. KONTRASEPSI DENGAN OBAT-OBAT SPERMATISIDA2 Penggunaan obat-obat spermatisida untuk tujuan kontrasepsi telah dikenal sejak zaman dahulu. Obat spermatisida yang dipakai untuk kontrasepsi terdiri atas 2
6

komponen, yaitu zat kimiawi yang mampu mematikan spermatozoon, dan vehikulum yang nonaktif dan yang diperlukan untuk membuat tablet atau cream/jelly. Cara kontrasepsi dengan obat spermatisida umumnya digunakan bersama-sama sengan cara lain (diafragma vaginal), atau apabila ada kontaindikasi terhadap cara lain. Efek sampingan jarang terjadi dan umumnya berupa reaksi alergik. Di pasaran terdapat banyak obat-obat spermatisida, antara lain dalam bentuk : Suppositorium: Lorofin suppositoria, Rendel pessaries. Suppositorium

dimasukkan sejauh mungkin ke dalam vagina sebelum koitus. Obat ini baru mulai aktif setelah 5 menit. Lama kerjanya kurang lebih 20 menit sampai 1 jam. Jelly atau crme: 1. Perseptin vaginal jelly, Orthogynol vaginal jelly, 2. Delfen vaginal crme. Jelly lebih encer daripada crme. Obat ini disemprotkan ke dalam vagina dengan menggunakan suatu alat. Lama kerjanya kurang lebih 20 menit sampai 1 jam. Tablet busa: Sampoon, Volpar, Syn-A-Gen. Sebelum digunakan, tablet terlebih dahulu dicelupkan ke dalam air, kemudian dimasukkan ke dalam vagina sejauh mungkin. Lama kerjanya 30 sampai 60 menit. C-film, yang merupakan benda tipis, dapat dilipat, dan larut dalam air. Dalam vagina obat ini merupakan gel dengan tingkat disperse yang tinggi dan mnyebar pada porsio uteri dan vagina. Obat mulai efektif setelah 30 menit.

2.3.5. KONTRASEPSI HORMONAL Pil Kontrasepsi Pil-pil hormonal terdiri atas komponen estrogen dan komponen progestagen, atau oleh salah satu dari komponen itu. Umumnya dapat dikatakan bahwa komponen estrogen dalam pil dengan jalan menekan sekresi FSH menghalangi maturasi folikel dan ovarium. Karena pengaruh estrogen dari ovarium tidak ada, tidak terdapat pengeluaran LH. Ditengah-tengah daur haid kurang terdapat FSH dan tidak ada peningkatan kadar LH menyebabkan ovulasi terganggu. Pengaruh komponen progestagen dalam pil kombinasi memperkuat khasiat estrogen untuk mencegah
7

ovulasi. Selanjutnya, estrogen dalam dosis tingi dapat pula mempercepat perjalanan ovum dan menyulitkan terjadinya implantasi dalam endometrium dari ovum yang sudah dibuahi.2 Jenis-jenis Pil :1 1. Pil gabungan atau kombinasi Tiap pil mengandung dua hormon sintesis, yaitu hormon estrogen dan progestin. Pil gabungan mengambil manfaat dari cara kerja kedua hormon yang mencegah kehamilan, dan hampir 100% efektif bila diminum secara teratur. 2. Pil berturutan Dalam bungkusan pil-pil ini, hanya estrogen yang disediakan selama 1415 hari pertama dari siklus menstruasi, diikuti oleh 56 hari pil gabungan antara estrogen dan progestin pada sisa siklusnya. Ketepatgunaan dari pil berturutan ini hanya sedikit lebih rendah daripada pil gabungan, berkisar antara 9899%. Kelalaian minum 1 atau 2 pil berturutan pada awal siklus akan dapat mengakibatkan terjadinya pelepasan telur sehingga terjadi kehamilan. Karena pil berturutan dalam mencegah kehamilan hanya bersandar kepada estrogen maka dosis estrogen harus lebih besar dengan kemungkinan risiko yang lebih besar pula sehubungan dengan efek-efek sampingan yang ditimbulkan oleh estrogen. 3. Pil khusus (mini pill) Pil ini mengandung dosis kecil bahan progestin sintetis dan memiliki sifat pencegah kehamilan, terutama dengan mengubah mukosa dari leher rahim (merubah sekresi pada leher rahim) sehingga mempersulit pengangkutan sperma. Selain itu, juga mengubah lingkungan endometrium (lapisan dalam rahim) sehingga menghambat perletakan telur yang telah dibuahi.

Kontra indikasi pemakaian pil Kontrasepsi pil tidak boleh diberikan pada wanita yang menderita hepatitis, radang pembuluh darah, kanker payudara atau kanker kandungan, hipertensi, gangguan jantung, varises, perdarahan abnormal melalui vagina, kencing manis, pembesaran
8

kelenjar gondok (struma), penderita sesak napas, eksim, dan migraine (sakit kepala yang berat pada sebelah kepala).1

Efek samping pemakaian pil Pemakaian pil dapat menimbulkan efek samping berupa perdarahan di luar haid, rasa mual, bercak hitam di pipi (hiperpigmentasi), jerawat, penyakit jamur pada liang vagina (candidiasis), nyeri kepala, dan penambahan berat badan.1

Obat Suntikan (Depo Provera) Depo-provera ialah 6-alfa-medroksiprogesteron yang digunakan untuk tujuan kontrasepsi parenteral, mempunyai efek progestagennyang kuat dan sangat efektif. Obat ini termasuk obat depot. Noristerat juga termasuk dalam golongan ini.2 Depo provera sangat cocok untuk program postpartum oleh karena tidak mengganggu laktasi. Untuk program postpartum, Depo provera disuntikkan sebelum ibu meninggalkan rumah sakit; sebaiknya sesudah air susu ibu terbentuk, yaitu kira-kira hari ke-3 s/d hari ke-5, dosis 150 mg/cc sekali 3 bulan. Suntikan secara intramuscular dalam.2 Efek samping yang biasa terjadi adalah keluar flekflek, perdarahan ringan di antara dua masa haid, sakit kepala, dan kenaikan berat badan.4 2.3.6. NORPLANT (implant, KB susuk, Alat kontrasepsi bawah kulit)2 Norplant adalah suatu alat kontrasepsi yang mengandung levonorgestrel yang dibungkus dalam kapsul silastic-silicone (polydimethylsiloxane) dan disusukkan di bawah kulit. Jumlah kapsul yang disusukkan di bawah kulit adalah sebanyak 6 kapsul dan masing-masing kapsul panjangnya 34 mm dan berisi 36 mg levonorgestrel. Setiap hari sebanyak 30 mcg levonorgestrel dilepaskan ke dalam darah secara difusi melalui dinding kapsul. Levonorgestrel adalah suatu progestin yang dipakai juga dalam pil KB seperti mini-pil atau pil kombinasi ataupun pada AKDR yang bioaktif. Waktu yang paling baik untuk pemasangannya adalah sewaktu haid berlangsung atau masa pra-ovulasi dari siklus haid, sehingga adanya kehamilan dapat
9

disingkirkan. Keenam kapsul yang masing-masing mengandung 36 mg. levonorgestrel ditanamkan pada lengan kiri atas (atau pada lengan kanan atas akseptor yang kidal) lebih kurang 6-10 cm dari lipatan siku.

Indikasi Wanita yang ingin memakai kontrasepsi untuk jangka waktu yang lama tetapi tidak bersedia menjalani kontap atau menggunakan AKDR. Wanita yang tidak boleh menggunakan pil KB yang mengandung estrogen.

Efek samping Efek samping yang terjadi antara lain adalah gangguan pola haid, seperti terjadinya spotting, perdarahan haid memanjang atau lebih sering berdarah (metrorrhagia), amenorea, mual-mual, anoreksia, pening, sakit kepala.

2.3.7. KONTRASEPSI DENGAN AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) AKDR atau IUD (Intra Uterine Device) bagi banyak kaum wanita merupakan alat kontrasepsi yang terbaik. Alat ini sangat efektif dan tidak perlu diingat setiap hari seperti halnya pil. Bagi ibu yang menyusui, AKDR tidak akan mempengaruhi isi, kelancaran ataupun kadar air susu ibu (ASI). Namun, ada wanita yang ternyata belum dapat menggunakan sarana kontrasepsi ini. Karena itu, setiap calon pemakai AKDR perlu memperoleh informasi yang lengkap tentang seluk-beluk alat kontrasepsi ini.1 Jenis-jenis AKDR di Indonesia :1 1. Copper-T AKDR berbentuk T, terbuat dari bahan polyethelen di mana pada bagian vertikalnya diberi lilitan kawat tembaga halus. Lilitan kawat tembaga halus ini mempunyai efek antifertilisasi (anti pembuahan) yang cukup baik. 2. Copper-7 AKDR ini berbentuk angka 7 dengan maksud untuk memudahkan pemasangan. Jenis ini mempunyai ukuran diameter batang vertikal 32 mm dan ditambahkan
10

gulungan kawat tembaga (Cu) yang mempunyai luas permukaan 200 mm2, fungsinya sama seperti halnya lilitan tembaga halus pada jenis Coper-T. 3. Multiload AKDR ini terbuat dari dari plastik (polyethelene) dengan dua tangan kiri dan kanan berbentuk sayap yang fleksibel. Panjangnya dari ujung atas ke bawah 3,6 cm. Batangnya diberi gulungan kawat tembaga dengan luas permukaan 250 mm2 atau 375 mm2 untuk menambah efektivitas. Ada 3 ukuran multi load, yaitu standar, kecil, dan mini. 4. LippesLoop AKDR ini terbuat dari bahan polyethelene, bentuknya seperti spiral atau huruf S bersambung. Untuk meudahkan kontrol, dipasang benang pada ekornya. Lippes Loop terdiri dari 4 jenis yang berbeda menurut ukuran panjang bagian atasnya. Tipe A berukuran 25 mm (benang biru), tipe B 27,5 mm 9 (benang hitam), tipe C berukuran 30 mm (benang kuning), dan 30 mm (tebal, benang putih) untuk tipe D. Lippes Loop mempunyai angka kegagalan yang rendah. Keuntungan lain dari pemakaian spiral jenis ini ialah bila terjadi perforasi jarang menyebabkan luka atau penyumbatan usus, sebab terbuat dari bahan plastik. Pemasangan Prinsip pemasangan adalah menempatkan AKDR setinggi mungkin dalam rongga rahim (cavum uteri). Saat pemasangan yang paling baik ialah pada waktu mulut peranakan masih terbuka dan rahim dalam keadaan lunak. Misalnya, 40 hari setelah bersalin dan pada akhir haid. Pemasangan AKDR dapat dilakukan oleh dokter atau bidan yang telah dilatih secara khusus. Pemeriksaan secara berkala harus dilakukan setelah pemasangan satu minggu, lalu setiap bulan selama tiga bulan berikutnya. Pemeriksaan selanjutnya dilakukan setiap enam bulan sekali.1 Keuntungan AKDR2 1. Umumnya hanya memerlukan satu kali pemasangan dan dengan demikian satu kali motivasi. 2. Tidak menimbulkan efek sistemik. 3. Alat itu ekonomis dan cocok untuk penggunaan secara massal.
11

4. Efektivitas cukup tinggi. 5. Reversibel. Efek samping2 Perdarahan. Rasa nyeri dan kejang perut. Gangguan pada suami. Ekspulsi (pengeluaran sendiri).

2.3.8. KONTRASEPSI MANTAP (TUBEKTOMI DAN VASEKTOMI) Tubektomi adalah setiap tindakan pada kedua saluran telur wanita yang mengakibatkan wanita tersebut tidak akan mendapatkan keturunan lagi. Sterilisasi bisa dilakukan juga pada pria, yaitu vasektomi. Dengan demikian, jika salah satu pasangan telah mengalami sterilisasi, maka tidak diperlukan lagi alat-alat kontrasepsi yang konvensional. Cara kontrasepsi ini baik sekali, karena kemungkinan untuk menjadi hamil kecil sekali. Faktor yang paling penting dalam pelaksanaan sterilisasi adalah kesukarelaan dari akseptor. Dengan demikia, sterilisasi tidak boleh dilakukan kepada wanita yang belum/tidak menikah, pasangan yang tidak harmonis atau hubungan perkawinan yang sewaktu-waktu terancam perceraian, dan pasangan yang masih ragu menerima sterilisasi. Yang harus dijadikan patokan untuk mengambil keputusan untuk sterilisasi adalah jumlah anak dan usia istri. Misalnya, untuk usia istri 2530 tahun, jumlah anak yang hidup harus 3 atau lebih.1 Di Indonesia, vasektomi tidak termasuk dalam program keluarga berencana nasional. Vasektomi merupakan suatu operasi kecil dan dapat dilakukan oleh seseorang yang telah mendapat latihan khusus untuk itu. Selain itu, vasektomi tidak memerlukan alat-alat yang banyak, dapat dilakukan secara poliklini, dan umumnya dilakukan dengan mempergunakan anesthesia lokal.2

12

2.4. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN ALAT KONTRASEPSI3 Setiap metode kontrasepsi pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, berikut kelebihan dan kekurangan dari metode kontrasepsi yang telah disebutkan diatas :

No 1.

Jenis Kontrasepsi Kondom

Kelebihan

Kekurangan

Bila digunakan secara tepat maka kondom dapat digunakan untuk mencegah kehamilan dan penularan penyakit menular seksual (PMS). Kondom tidak mempengaruhi kesuburan jika digunakan dalam jangka panjang. Kondom mudah didapat dan tersedia dengan harga yang terjangkau.

Kekurarngan penggunaan kondom memerlukan latihan dan tidak efisien. Karena sangat tipis maka kondom mudah robek bila tidak digunakan atau disimpan sesuai aturan. Beberapa pria tidak dapat mempertahankan ereksinya saat menggunakan kondom. Setelah terjadi ejakulasi, pria harus menarik penisnya dari vagina, bila tidak, dapat terjadi resiko kehamilan atau penularan penyakit menular seksual. Kondom yang terbuat dari latex dapat menimbulkan alergi bagi beberapa orang.

2.

Suntik Kontrasepsi

Dapat digunakan oleh ibu yang menyusui. Tidak perlu dikonsumsi setiap hari atau dipakai sebelum melakukan hubungan seksual. Darah menstruasi menjadi lebih sedikit dan membantu mengatasi kram saat menstruasi.

Dapat mempengaruhi siklus mentruasi. Kekurangan kb suntik dapat menyebabkan kenaikan berat badan pada beberapa wanita. Tidak melindungi terhadap penyakit menular seksual. Harus mengunjungi dokter/klinik setiap 3 bulan sekali untuk mendapatkan suntikan berikutnya.

3.

Implan/Susuk Kontrasepsi

Dapat mencegah terjadinya kehamilan dalam jangka waktu 3 tahun. Sama seperti suntik, dapat digunakan oleh wanita

Sama seperti kekurangan kontrasepsi suntik, Implan/Susuk dapat mempengaruhi siklus mentruasi. Tidak melindungi terhadap
13

yang menyusui. Tidak perlu dikonsumsi setiap hari atau dipakai sebelum melakukan hubungan seksual. 4. IUD/IUS

penyakit menular seksual. Dapat menyebabkan kenaikan berat badan pada beberapa wanita.

Merupakan metode kontrasepsi yang sangat efektif. Bagi wanita yang tidak tahan terhadap hormon dapat menggunakan IUD dengan lilitan tembaga. IUS dapat membuat menstruasi menjadi lebih sedikit (sesuai untuk yang sering mengalami menstruasi hebat).

Pada 4 bulan pertama pemakaian dapat terjadi resiko infeksi. Kekurangan IUD/IUS alatnya dapat keluar tanpa disadari. Tembaga pada IUD dapat meningkatkan darah menstruasi dan kram menstruasi. Walaupun jarang terjadi, IUD/IUS dapat menancap ke dalam rahim. Tidak melindungi terhadap penyakit menular seksual. Harus rutin diminum setiap hari. Saat pertama pemakaian dapat timbul pusing dan spotting. Efek samping yang mungkin dirasakan adalah sakit kepala, depresi, letih, perubahan mood dan menurunnya nafsu seksual. Kekurangan untuk pil kb tertentu harganya bisa mahal dan memerlukan resep dokter untuk pembeliannya.

5.

Pil Kontrasepsi/kb

Mengurangi resiko terkena kanker rahim dan kanker endometrium. Mengurangi darah menstruasi dan kram saat menstruasi. Dapat mengontrol waktu untuk terjadinya menstruasi. Untuk pil tertentu dapat mengurangi timbulnya jerawat ataupun hirsutism (rambut tumbuh menyerupai pria).

14

DAFTAR PUSTAKA

1.

Remelda. 2010. Cara Tepat Memilih Alat Kontrasepsi Keluarga Berencana bagi Wanita. Diakses dari : http://remelda.wordpress.com/2008/07/21/cara-tepat-memilih-alat-

kontrasepsi-keluarga-berencana-bagi-wanita/
2.

Prawirohardjo, S. 2009. Ilmu Kandungan, Edisi ke-2, cetakan ketujuh. PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta: 535-564.

3.

Anonym.

Jenis-jenis

Kontrasepsi.

Diakses

dari

http://www.fertitest.co.id/kontrasepsi/1/index.html
4.

Anonym.

2011.

Jenis-jenis

Kontrasepsi

Hormonal.

Diakses

dari

http://obstetriginekologi.com/jenis-jenis-kontrasepsi-hormonal

15

Beri Nilai