Anda di halaman 1dari 14

Karya Tulis Ilmiah (KTI)

Kamis, 03 Maret 2011

Tingkat pengetahuan siswa tentang kesehatan gigi dan mulut


PENDAHULUAN BAB 1 1.1 Latar Belakang Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah seseorang mengadakan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, pengetahuan umumnya datang dari penginderaan yang terjadi melalui panca indera manusia, yaitu: indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Pada waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoadmojo, 2003:121). Pengetahuan sangat erat hubungannya dengan pendidikan, dimana diharapkan bahwa dengan pendidikan yang tinggi maka orang tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya. Upaya kesehatan gigi perlu di tinjau dari aspek lingkungan, pengetahuan, pendidikan, kesadaran masyarakat dan penanaganan kesehatan gigi termasuk pencegahan dan perawatan. Dalam hal ini contohnya anak SD yang masih belum banyak memiliki pengetahuan yang luas terutama tentang kesehatan gigi dan mulut. Usaha pemerintah dalam membangun kesehatan tentunya membutuhkan orang-orang yang dapat memberikan penjelasan mengenai kesehatan gigi dan aturan yang ada dalam bidang kesehatan, terutama kesehatan gigi (Kesehatan Gigi dan Mulut. 2010). 1 Kesehatan gigi adalah bagian integral dari kesehatan umum, sehingga perlu bagi kesehatan gigi untuk senantiasa meningkatkan kemampuan sesuai dengan perkembangan kesehatan pada umumnya. Penyebab timbulnya masalah kesehatan gigi dan mulut pada masyarakat salah satunya adalah faktor perilaku atau sikap mengabaikan kebersihan gigi dan mulut (Notoatmodjo cit Fankari, 2004). Hal tersebut dilandasi oleh kurangnya pengetahuan akan pentingnya pemeliharaan gigi dan mulut. Anak masih sangat tergantung pada orang dewasa dalam hal menjaga kebersihan dan kesehatan gigi karena kurangnya pengetahuan anak mengenai kesehatan gigi dibanding orang dewasa. Pada umumnya keadaan kebersihan mulut anak lebih buruk dan salah satu faktor yang dapat merusak gigi adalah makanan dan minuman , yang mana ada yang menyehatkan gigi dan ada pula yang merusak gigi (Kesehatan Gigi dan Mulut, 1989:

132). Anak-anak umumnya senang gula-gula, apabila anak terlalu banyak makan gula-gula dan jarang membersihkannya, maka gigi-giginya banyak yang mengalami karies (Penyebab dan Gejala Timbulnya Karies Gigi.2010). Kerusakan pada gigi dapat mempengaruhi kesehatan anggota tubuh lainnya, sehingga dapat mempengaruhi aktivitas sehari-hari. Pentingnya perawatan gigi dan mulut serta menjaga kebersihannya karena mulut bukan sekedar pintu masuknya makanan dan minuman saja, tetapi mulut juga bisa menjadi pintu masuknya mikroorganisme yang dapat menyebabkan kerusakan pada gigi. Berdasarkan hasil penelitian terhadap tingkat pengetahuan mengenai kesehatan gigi dan mulut terdapat 76,2% anak Indonesia pada kelompok usia 12 tahun (kira-kira 8-10 anak) mengalami gigi berlubang. Pada angka nasional untuk karies gigi usia 12 tahun mencapai 76,62%. Dan berdasarkan hasil survei sementara tentang tingkat pengetahuan anak tentang kesehatan gigi dan mulut di SDN Tanjung Riu Kecematan Kurun Kabupaten Gunung Mas, bahwa dari 30 siswa ada banyak siswa yang kurang tahu tentang pentingnya kesehatan gigi dan mulut salah satu contohnya ada 18 siswa yang mengalami gigi berlubang,3 siswa yang memiliki gigi ompong, 6 siswa yang memiliki karang gigi dan 3 siswa yang hanya memiliki gigi yang bersih dan sehat. Hal ini jelas menandakan adanya permasalahan yang cukup laten yaitu minimnya kesadaran dan pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut di masyarakat terutama di SDN Tanjung Riu Kecematan Kurun Kabupaten Gunung Mas (Buku induk siswa yang ada di SDN Tanjung Riu Kecamatan Kurun Kabupaten Gunung Mas). Upaya pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut serta pembinaan kesehatan gigi terutama pada anak usia sekolah perlu mendapat perhatian khusus karena pada usia ini anak sedang menjalani proses tumbuh kembang. Keadaan gigi sebelumnya akan berpengaruh terhadap perkembangan kesehatan gigi pada usia dewasa nanti. Penyebab timbulnya masalah kesehatan gigi dan mulut pada anak salah satunya adalah faktor perilaku atau sikap mengabaikan kebersihan gigi dan mulut. Hal tersebut dilandasi oleh kurangnya pengetahuan akan pentingnya pemeliharaan gigi dan mulut. Berdasarkan dari uraian diatas maka peneliti akan meneliti bagaimana tingkat pengetahuan siswa kelas III, IV, dan V di SDN Tanjung Riu Kecematan Kurun Kabupaten Gunung Mas tentang kesehatan gigi dan mulut. 1.1 Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana tingkat pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut pada anak kelas III, IV, dan V di SDN Tanjung Riu Kecamatan Kurun Kabupaten Gunung Mas? 1.2 Tujuan 1.2.1 Tujuan Umum

Mengidentifikasi gambaran tingkat pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut pada anak kelas III, IV, dan V di SDN Tanjung Riu Kecamatan Kurun Kabupaten Gunung Mas. 1.2.2 Tujuan Khusus 1. 2. 3. 4. 5. 6. 1.3 Mengidentifikasi pengetahuan tentang pengertian kesehatan gigi dan mulut. Mengidentifikasi pengetahuan tentang cara menyikat gigi. Mengidentifikasi pengetahuan tentang menjaga gigi agar sehat. Mengidentifikasi pengetahuan tentang makanan yang dapat merusak gigi. Mengidentifikasi pengetahuan tentang pencegahan gigi berlubang dan gusi berdarah. Mengidentifikasi pengetahuan tentang akibat tidak merawat gigi dan mulut. Manfaat Penelitian Memberikan imformasi kepada siswa dan menambah tingkat pengetahuan siswa tersebut tentang kesehatan gigi dan mulut. Sehingga siswa sendiri menyadari akan pentingnya kesehatan gigi dan mulut dan mengubah berbagai perilaku yang kurang baik. 1.3.2 Bagi Tempat Penelitian Memberikan imformasi kepada guru, siswa bersangkutan dan pihak terkait mengenai kesehatan gigi dan mulut sehingga perlu ditingkatkan lagi kegiatan UKS yang ada di SDN Tanjung Riu Kecamatan Kurun Kabupaten Gunung Mas. 1.3.3 Bagi Petugas Kesehatan Sebagai bahan masukan bagi tenaga kesehatan dan diharapkan dapat membantu meningkatkan mutu pelayanan yang ada di Tanjung Riu serta ikut berperan aktif dalam meningkatkan pengetahuan siswa tentang kesehatan gigi dan mulut dan sebagai bahan untuk memperkuat teori tentang kesehatan gigi dan mulut sehingga perlu diperhatikan lagi. 1.4.4 Bagi Stikes Eka Harap Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan tambahan materi bacaan khususnya yang berkenaan dengan bidang pengetahuan kesehatan gigi dan mulut, dan dapat digunakan sebagai bahan pertandingan jika suatu saat dilakukan penelitian tentang hal yang sama, serta menambah wawasan dan pengetahuan bagi para pembacanya. 1.3.4 Bagi Peneliti/Mahasiswa Dengan adanya penelitian ini dapat digunakan untuk mempraktekkan ilmu yang diperoleh selama mengikuti kuliah dengan keadaan sesungguhnya dilapangan.

1.3.1 Bagi Siswa Sekolah Dasar

BAB 3 PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Desain penelitian merupakan bentuk rancangan yang di gunakan dalam melakukan prosedur penelitian (Alimul Aziz, 2008: 25). Penelitian deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan atau memaparkan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada masa kini. Deskripsi peristiwa dilakukan secara sistematis dan lebih menekankan pada data factual daripada penyimpulan (Nursalam, 2008 : 80). Desain penelitian deskfriptif yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripisi tentang suatu keadaan secara objektif (Notoatmodjo, 2002 : 138). Dalam penelitian ini rancang bangun yang dipakai adalah deskriptif. Dalam penelitian ini akan menggambarkan tingkat pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut pada anak kelas III, IV, dan V di SDN Tanjung Riu Kecamatan Kurun Kabupaten Gunung Mas. 3.2 Kerangka Kerja 27 Kerangka kerja merupakan tahap yang penting dalam suatu penelitian yaitu menyusun kerangka konsep. Konsep adalah abstraksi dari suatu realitas agar dapat dikomunikasikan dan membentuk suatu teori yang menjelaskan keterkaitan antarvariabel baik variable yang diteliti maupun yang tidak diteliti (Nursalam, 2009:55). Populasi Seluruh anak SD kelas III, IV, dan V di SDN Tanjung Riu Kecamatan Kurun Kabupaten Gunung Mas METODE

Sampel anak SD sebanyak 30 orang Teknik sampling dengan nonprobability sampling Pengumpulan Data menggunakan wawancara dengan kuisioner Data ditabulasi Analisis data secara deskriptif Penyajian data Simpulan dan saran

Gambar 3.1 3.3

Kerangka Kerja Penelitian Tingkat Pengetahuan anak SD tentang kesehatan Gigi dan Mulut. Identifikasi Variabel Identifikasi variabel merupakan bagian penelitian dengan cara menentukan variabel-variabel yang ada dalam penelitian seperti variabel independen, dependen, moderator, control, dan intervening (Hidayat, 2008 : 34) Variabel independen merupakan variabel yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel terikat (dependen). Variabel ini juga dikenal dengan nama variabel bebas artinya bebas dalam memengaruhi variabel lain (Hidayat, 2008:35). Variabel dalam penelitian ini adalah variabel bebas yaitu pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut.

3.4

Definisi Operasional Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diamati dari sesuatu yang didefinisikan tersebut (Nursalam 2009:101). Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional berdasarkan karakteristik yang diamati, sehingga memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena. Definisi operasional ditentukan

oleh parameter yang dijadikan ukuran dalam penelitian. Sedangkan cara pengukuran merupakan cara dimana variabel dapat diukur dan ditentukan karakteristiknya.

Tabel 3.1 Definisi Operasional Tingkat pengetahuan anak SD tentang kesehatan gigi dan mulut Definisi Operasional Tingkat Adalah pengetahua kemampuan n tentang siswa untuk kesehatan mengingat gigi dan dan mulut memahami materi gigi yang sehat dan mulut yang sehat Variabel Parameter Alat Ukur Skala Skor Nilai =76-100% Nilai =56-75% Nilai = 55%

Pengertian Wawancara Ordinal Baik: kesehatan Kuesioner Cukup: gigi dan Kurang: mulut Cara menyikat gigi Bagaimana menjaga gigi agar tetap sehat Makanan yang dapat merusak gigi Pencegahan gigi berlubang Akibat dari tidak merawat gigi

3.5

Populasi, Sampel dan Sampling

3.5.1 Populasi

Populasi dalam penelitian adalah subjek (misalnya manusia; klien) yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan (Nursalam, 2009:89). Populasi dalam penelitian ini adalahsemua siswa kelas III, IV, danV di SDN Tanjung Riu Kecamatan Kurun Kabupaten Gunung Mas. 1. Populasi Target Populasi target adalah populasi yang memenuhi kriteria sampling yang akan menjadi sasaran akhir penelitian. Pada penelitian ini populasi target yaitu anak SD kelas III, IV, dan V. 2. Populasi Terjangkau Populasi terjangkau adalah populasi yang memenuhi kriteria penelitian dan biasanya dapat dijangkau oleh peneliti dari kelompoknya. Pada penelitian ini populasi terjangkau yaitu semua siswa kelas III, IV, dan V yang berjumlah 30 orang yang diharapkan dapat mewakili semua siswa yang ada di SDN Tanjung Riu Kecamatan Kurun Kabupaten Gunung Mas. 3.5.2 Sampel Sampel terdiri dari bagian populasi terjangkau yang dapat dipergunakan sebagai subjek penelitian melalui sampling. Sampel yang dipilih dalam penelitian ini menggunakannonprobability sampling ( Nursalam, 2009: 94). Besar sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini sejumlah 30 siswa (total sampel) yang data diperoleh dari buku induk siswa kelas III, IV, dan V di SDN Tanjung Riu Kecamatan Kurun Kabupaten Gunung Mas dan sesuai dengan standar target sampel yang diinginkan sehingga tidak perlu menggunakan rumus untuk menghitung besarnya sampel. 3.5.3 Sampling Sampling adalah cara atau teknik untuk menentukan sampel (Wasis 2008:47). Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat mewakili populasi. Sample diambil menggunakan teknik nonprobability sampling tertentu untuk bisa memenuhi atau mewakili populasi dengan cara accidental sampling (consecutive sampling), yaitu pemilihan sampel dengan menetapkan subjek yang memenuhi kriteria penelitian dimasukkan dalam penelitian sampai kurun waktu tertentu, sehingga jumlah klien yang diperlukan terpenuhi (Nursalam 2009:94). 3.5.4 Kriteria Sampel 1. Kriteria inklusi Adalah karakteristik umum subjek penelitian dari suatu populasi target yang terjangkau dan akan diteliti (Nursalam, 2009: 92). Dalam penelitian ini kriteria inklusinya, yaitu : 1). Anak SD kelas III, IV, dan V di SDN Tanjung Riu Kecamatan Kurun Kabupaten Gunung Mas yang bersedia untuk diteliti dengan menandatangani surat persetujuan peserta penelitian.

2). Tidak ada kelainan jiwa 3). Tidak buta huruf atau bisa membaca 2. Kriteria eksklusi Adalah menghilangkan/ mengeluarkan subjek yang memenuhi kriteria inklusi dari studi karena berbagai sebab (Nursalam, 2009: 92). Dalam penelitian ini kriteria eklusinya, yaitu : 1). Tidak bersedia untuk diteliti 2). Anak yang tidak kooperatif 3.6 Pengumpulan Data dan Analisa Data Lokasi penelitian ini dilakukan di SDN Tanjung Riu Kecamatan Kurun Kabupaten Gunung Mas. 3.6.2 Waktu Penelitian Waktu penelitian dilakukan mulai bulan Juni sampai Juli 2010. 3.6.3 Pengumpulan Data Pengumpulan data merupakan kegiatan penelitian untuk mengumpulkan data. Sebelum melakukan pengumpulan data, perlu dilihat alat ukur pengumpulan data agar dapat memperkuat hasil penelitian. Alat ukur pengumpulan data tersebut antara lain dapat berupa kuesioner/angket, observasi, wawancara atau gabungan ketiganya (Hidayat, 2008 : 36). Dalam penelitian ini digunakan alat ukur berupa angket/kuesioner yang merupakan alat ukur berupa angket atau kuesioner dengan beberapa pertanyaan. Alat ukur ini digunakan bila responden jumlahnya besar dan tidak buta huruf (Hidayat, 2008 : 36). Bila subjek buta huruf, lanjut usia, dan sebjek kesulitan membaca yang lain, pertanyaan dapat diajukan secara langsung kepada subjek atau disampaikan secara lisan oleh peneliti dari pertanyaan yang sudah tertulis (Nursalam, 2008 : 109). Jenis data yang dikumpulkan adalah : 3.6.1.1 Data Primer Data primer yaitu data yang dikumpulkan melalui wawancara atau interview dan menggunakan kuesioner kepada siswa kelas III, IV, dan V di SDN Tanjung Riu Kecamatan Kurun Kabupaten Gunung Mas. 3.6.1.2 Data Sekunder Data sekunder yaitu data yang didapat dari Pihak Sekolah SDN Tanjung Riu Kecamatan Kurun Kabupaten Gunung Mas tentang jumlah siswa kelas III, IV, dan V. 3.6.4 Analisis Data 3.6.1 Lokasi Penelitian

Data yang telah diperoleh kemudian dilakukan pengolaan data sebagai berikut : 1. Pemberian kode (Coding) adalah cara mengkode responden, pertanyaan pertanyaan dan hal yang dianggap perlu. 2. Scoring adalah menentukan skor/nilai untuk setiap item pertanyaan, tentukan nilai terendah dan tertinggi, tetapkan jumlah kuesioner dan bobot masing masing kuesioner 3. Tabulasi data Tabulasi adalah proses penyusunan data ke dalam bentuk tabel pada tahap ini data dianggap telah selesai diproses sehingga harus segera disusun kedalam suatu format yang telah dirancang. 4. Analisis data Analisis pemberian skor dengan menggunakan skala ordinal, dimana jika responden memilih jawaban benar diberi nilai 1, sedangkan jika jawaban responden salah diberi nilai 0. Setelah jawaban terkumpul kemudian dinilai, dianalisa dan diprosentase dengan rumus : Keterangan: N : Nilai Pengetahuan Sm: Skor tertinggi maksimum Sp : Skor yang didapat Selanjutnya prosentase jawaban diinterpretasikan dalam kalimat kualitatif dengan acuan sebagai berikut : I. II. Nilai = 76-100% jika pertanyaan yang dijawab benar oleh responden termasuk kategori baik. Nilai = 56-75% jika pertanyaan yang dijawab benar oleh responden termasuk kategori cukup. segala

III. Nilai = 55% jika pertanyaan yang dijawab benar oleh responden termasuk kategori kurang. 3.7 Keterbatasan Keterbatasan yang akan dijumpai peneliti selama proses pengumpulan data sangat bervariasi, yang menjadi keterbatasan peneliti adalah: 3.7.1 Masalah Pada Subjek Peneliti mungkin menemui hambatan karena jumlah subjek yang tersedia atau mereka menolak untuk menjadi peserta. 3.7.1.2 Subjek mortality Subjek setuju untuk menjadi responden, akan tetapi salah dalam pengisian ataupun tidak lengkap, ataupun subjek tidak ada ditempat pada waktu wawancara, atau tidak mengembalikan daftar isian dari kuisioner atau terganggu kesehatannya sehingga dkeluarkan dari penelitian. 3.7.1.3 Subjek sebagai objek 3.7.1.1 Keterbatasan jumlah subjek

Peneliti pada tahap pengumpulan data ini mungkin bersikap kurang sopan ataupun menakutnakuti sehingga isian atau jawaban yang diberikan tidak sesuai dengan kehendak responden. 3.7.1.4 Pengaruh dari luar Semua jawaban dari subjek dipengaruhi oleh orang disekitarnya. 3.7.2 Masalah Pada Peneliti 3.7.2.1 Interaksi Peneliti kurang dapat melakukan interaksi dengan baik kepada subjek, sehingga informasi yang diterima dari subjek kurang akurat 3.7.2.2 Kurangnya ketrampilan Kurangnya ketrampilan ataupun pengalaman dalam pengumpulan data berdampak terhadap data yang dikumpulkan. 3.8 Etika Penelitian Dalam melakukan penelitian ini peneliti mendapat rekomendasi dari pembimbing dan permintaan izin kepada Ka. Prodi DIII Keperawatan STIKES EKA HARAP untuk melakukan penelitian di SDN Tanjung Riu Kecamatan Kurun Kabupaten Gunung Mas. Setelah mendapatkan persetujuan, barulah melakukan penelitian dengan menekankan masalah etika yang meliputi: 3.8.1 Informed Consent ( Lembar Persetujuan ) Subjek harus mendapatkan informasi secara lengkap tentang tujuan penelitian yang akan dilaksanakan, mempunyai hak untuk bebas berpartisipasi atau menolak menjadi responden. 3.8.2 Anonimity (tanpa nama) Subjek mempunyai hak untuk meminta bahwa data yang diberikan harus dirahasiakan. Untuk menjaga kerahasiaan responden, peneliti tidak mencantumkan namanya pada lembar pengumpulan data, cukup dengan memberi nomer pada masing-masing lembar tersebut. 3.8.1 Confidentiality (kerahasiaan) Kerahasiaan informasi dijamin oleh peneliti hanya kelompok data tertentu saja yang akan disajikan atau dilaporkan sebagai hasil penelitian.

BAB 5 DAN SARAN

KESIMPULAN

5.1

Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis mengenai tingkat pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut di SDN Tanjung Riu Kecamatan Kurun Kabupaten Gunung Mas maka dapat penulis simpulkan bahwa:

5.1.1 Data Umum Data umum adalah data responden berdasarkan kelas bahwa dari 30 responden, 11 responden (37%) kelas V, 9 responden (30%) kelas IV, dan 10 responden (33%) yang kelas III. Berdasarkan usia bahwa dari 30 responden, 26 responden (87%) berusia 8-10 tahun , dan 4 responden (13%) berusia 1112 tahun. Berdasarkan jenis kelamin menunjukkan banyaknya siswa laki-laki berjumlah 20 orang (67%) dan siswa perempuan berjumlah 10 responden (33%). Berdasarkan imformasi bahwa 28 responden (93 %) pernah mendapatakan info tentang kesehatan gigi dan mulut, dan 2 responden (7 %) tidak pernah mendapatkan info tentang kesehatan gigi dan mulut. Berdasarkan sumber imformasi bahwa dari 30 responden, 9 responden (30%) sumber informasi dari pendidikan, 16 responden (54%) sumber informasi dari TV/Radio, responden 3 (10%) sumber informasi dari penyuluhan, dan 2 responden (6%) tidak mendapatkan informasi tentang kesehatan gigi dan mulut. 61

5.1.2

Data Khusus 6 responden (20%), kategori cukup yang sebanyak 9 responden (30%), dan kategori kurang sebanyak 15 responden (50%). Jadi, pengetahuan siswa tentang pengertian kesehatan gigi dan mulut termasuk kurang.

5.1.2.1 Pengetahuan responden tentang pengertian kesehatan gigi dan mulut yaitu kategori baik sebanyak

5.1.2.2 Pengetahuan responden tentang cara menyikat gigi yaitu kategori baik sebanyak 7 responden (23%), kategori sebanyak 18 responden (60%), dan kategori kurang sebanyak 5 responden (17%). Jadi, pengetahuan siswa tentang cara menyikat gigi termasuk cukup. 5.1.2.3 Pengetahuan responden tentang menjaga gigi agar sehat yaitu kategori baik sebanyak 10 responden (33%), kategori cukup sebanyak 12 responden (40%), dan kategori kurang sebanyak 8 responden (27%). Jadi, pengetahuan siswa tentang menjaga gigi agar sehat termasuk cukup. 5.1.2.4 Pengetahuan responden tentang makanan yang dapat merusak gigi yaitu kategori baik sebanyak 7 responden (23%), kategori cukup tidak ada (0%), dan kategori kurang sebanyak 23 responden (77%). Jadi, pengetahuan siswa tentang makanan yang merusak gigi termasuk kurang.

5.1.2.5 Pengetahuan responden tentang pencegahan gigi berlubang dan gusi berdarah yaitu kategori baik sebanyak 8 responden (27%), kategori cukup sebanyak 10 responden (33%), dan kategori kurang sebanyak 12 responden (40%). Jadi, pengetahuan siswa tentang pencegahan gigi berlubang dan gusi berdarah termasuk kurang. 5.1.2.6 Psengetahuan responden tentang akibat tidak merawat gigi dan mulut yaitu kategori baik sebanyak 26 responden (87%), kategori cukup tidak ada (0%), dan kategori kurang sebanyak 4 responden (13%). Jadi, pengetahuan siswa tentang makanan yang merusak gigi termasuk baik. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpukan bahwa pembahasan tentang kesehatan gigi dan mulut mayoritas siswa memiliki pengetahuan cukup yaitu 2 responden (7%) yang memilik pengetahuan baik, 19 responden (63%) yang memiliki pengetahuan cukup, dan 9 responden (30%) yang memiliki pengetahuan kurang dan hampir seluruh responden pernah mendapatkan informasi tentang kesehatan gigi dan mulut dan proses pengolahan data pada penelitian yang dilaksanakan pada bulan juni sampai dengan juli 2010 di SDN Tanjung Riu Kecamatan Kurun Kabupaten Gunung Mas dengan 30 responden. 5.2 Saran Hendaknya pihak sekolah lebih meningkatkan pengetahuan siswa/i tentang kesehatan gigi dan mulut baik itu melalui pembelajaran pada waktu jam sekolah dan penyuluhan, supaya siswa lebih mengetahui pentingnya belajar tentang kesehatan gigi dan mulut dan siswa lebih mengerti akibat dari kesehatan gigi dan mulut. 5.2.2 Bagi penelitian selanjutnya Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi peneliti lain yang akan melakukan penelitian di masa yang akan datang yaitu sebagai bahan masukan mengenai pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut serta untuk penelitian selanjutnya hendaknya menggali lebih dalam lagi gambaran atau faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan anak SD tentang kesehatan gigi dan mulut serta tentang keterampilan dan sikap anak dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut. 5.2.1 Bagi Tempat penelitian

DAFTAR PUSTAKA Nursalam. 2000. Pendekatan Praktis Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta : Agung seto Nursalam Dan Pariani S. 2001. Pendekatan Praktis Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika. Herijulianti, Eliza dkk. 2001. Pendidikan Kesehatan Gigi. Jakarta: EGC Notoatmodjo S. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : PT. Rineka Cipta. Notoatmodjo, S. 2003.Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. 2006. Kesehatan Gigi dan Mulut. http://bz.blogfam.com (Diakses Mei 2010). Scott C. Litin, M. D. 2006. Panduan Kesehatan Keluarga. Ed. 1, Jakarta : Gramedi a Hidayat, A . Aziz Alimul . 2008. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan ilmiah Ed. 2. Jakarta : Salemba medika. Wasis. 2008. Pedoman Riset Praktik Untuk Profesi Perawat. Jakarta : EGC Ariany Suzanty, 2008. Jangan Abaikan Kesehatan Gigi dan Mulut. http://www.pdgitangerang.com (Diakses Mei 2010). 2008.Kesehatan Gigi dan Mulut. http://abidinblog.blogspot.com (Diakses Mei 2010). Putriazka. 2 008. Alwi, Hasan., Sugono, Dendi., Adiwirmata, Sri Suseki., 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Departemen Pendidikan Nasional dan Balai Pustaka, Jakarta. http: //Putriazkas Weblog.com/ (Diakses 9 Maret 2010). Adityawar man, 2008. Perawatan Kesehatan Gigi dan Mulut. http://www.dinkes- kabtangerang.go.id (Diakses Juni 2010) PRO HEALTH. 2009. Pengetahuan dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi. http://for better health.wordpress.com (Diakses 10 Maret 2010). 2010. Pemeliharaan Kesehatan Gigi dan Mulut. http://dokterkecil.wordpress.com (Diakses Juni

2010). Gigi.

Mozartha Martha. Berbagai Macam Makanan Penoda http://gigi.klikdokter.com (Diakses Juni 2010). 2010. Kesehatan Gigi dan Mulut. http://wartawarga.gunadarma.ac.id (Diakses Juli 2010). Nursalam. 2009. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika. 2010. Penyebab dan Gejala Timbulnya Karies Gigi. http://www.infogigi.com (Diakses Juni 2010)

Diposkan oleh Deloririasi Yeremia di 14:18 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook 0 komentar: Poskan Komentar

Posting Lebih BaruBeranda


Langgan: Poskan Komentar (Atom)
Pengikut Arsip Blog 2011 (4) o Maret (4)
TINGKAT PENGETAHUAN SISWI TENTANG MENARCHE TINGKAT PENGETAHUAN IBU DALAM PEMBERIAN IMUNISASI ... Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakmampuan pe... Tingkat pengetahuan siswa tentang kesehatan gigi d...

Mengenai Saya

Deloririasi Yeremia Lihat profil lengkapku Template Travel. Diberdayakan oleh Blogger.