P. 1
Kimia Farmasi

Kimia Farmasi

|Views: 97|Likes:
Dipublikasikan oleh Agust Nugroho

More info:

Published by: Agust Nugroho on Jul 19, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/05/2012

pdf

text

original

DIKTAT KULIAH

KIMIA FARMASI

Prof. Dr. Nurfina Aznam, SU., Apt

Jurusan Pendidikan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta
Tahun 2011

KIMIA FARMASI
Mempelajari tentang:  Kimia obat-obatan  Reaksi obat di dalam tubuh  Metabolisme obat  Hubungan struktur dan aktivitas Dasar Ilmu  Kimia Organik  Farmakologi

I. Dasar-Dasar Umum 1. Perkembangan Sejarah Obat Obat adalah: Semua zat baik kimiawi, hewani, maupun nabati, yang dalam dosis layak dapat menyembuhkan, meringankan atau mencegah penyakit atau gejala-gejalanya.
OBAT

TANAMAN

DAUN

AKAR

JAMU

Coba-coba Mengobati penyakit Alat ilmu sihir Kosmetika Racun : Strichnin dan Kurare Racun Panah Obat kanker: Nitrogen Mustard (dulu gas mustard sebagai gas racun pada perang Dunia I).

2

TANAMAN

REBUSAN

EKSTRAK

ISOLASI ZAT AKTIF

Ma Huang (Ephedra Vulgaris)

Atropa Belladona

Digitalis Lanata

Isolasi
Efedrin

isolasi
Atropin

isolasi
digoksin

Papaper Somniferum

Rauwolfia Serpentina

Vinca Rosea

Isolasi
Morfin

Isolasi
Reserpine, Resinamin

Isolasi
Vinblastin, Vincristin

Salix Alba Isolasi Salisilat

Abad 20 sintesa Asam Asetil Salisilat (Aspirin) Sulfanilamid (1935) Penisilin (1940)

3

2. Definisi-definisi  Farmakologi (Ilmu Khasiat Obat) Ilmu yang mempelajari pengetahuan obat dalam seluruh aspeknya, yaitu sifatsifat kimiawi dan fisikanya, kegiatan fisiologi, resorpsi dan nasibnya dalam organisme hidup.  Farmakologi klinik Menyelidiki semua interaksi antara obat dan khususnya tubuh manusia, serta penggunaanya pada pengobatan penyakit.  Farmakognosi Mempelajari pengetahuan dan pengenalan obat-obat berasal dari tanaman dan zat-zat aktifnya, begitu pula yang berasal dari mineral dan hewan.  Biofarmasi Menyelidiki pengaruh formulasi obat terhadap efek terapeutiknya.  Farmakokinetika Menyelidiki nasib obat mulai dari saat pemberiannya, bagaimana absorpsi dari usus, transport dalam darah dan distribusinya ke tempat kerjanya dan ke jaringan-jaringan lain (tindakan tubuh terhadap obat).  Farmakodinamik Mempelajari kegiatan obat terhadap organisma hidup, terutama cara dan mekanisme  Toksikologi Pengetahuan tentang efek racun terhadap tubuh.  Farmakoterapi Mempelajari penggunaan obat untuk mengobati penyakit atau gejalagejalanya. kerjanya, reaksi fisiologis serta efek terapeutik yang

ditimbulkannya (efek yang diberikan oleh obat terhadap tubuh).

4

Obat Yang Digunakan Dalam Terapi A. Obat Farmakodinamik Yang bekerja terhadap tuan rumah dengan jalan mempercepat atau memperlambat proses-proses fisiologi atau fungsi-fungsi biokimia dalam tubuh. Misalnya: Hormon, Diuretik, Hipnotik. B. Obat Kemoterapeutik Obat ini membunuh parasit dan kuman di dalam tubuh tuan rumah. C. Obat Diagnostik Tidak untuk mengobati penyakit, tetapi sebagai obat pembantu untuk melakukan diagnosis (pengenalan penyakit). Misalnya: saluran lambung usus (Barium Sulfat), Saluran empedu (Natrium Iopanoat dan asam Iod organik lainnya). 3. Farmakope dan Nama Obat Farmakope: Buku resmi....
Farmakope Indonesia: Jilid I,1962 Jilid II, 1965: Mengandung bahan-bahan Galenika dan Resep-resep Revisi F.I ed.II, 12 Nov 1972

Ditelaah kembali 1977

F.I, ed. III, 12 Nov 1979

  

Pelengkap: Ekstra Farmakope Indonesia, 1974. Buku persyaratan mutu obat resmi yang mencakup zat, bahan obat dan sediaan farmasi yang banyak digunakan diIndonesia, tapi tidak ada di F.I ed. II. Formularium Indonesia, 1966. Formularium Nasional, 12 Nov 1978. WHO: Farmakope Internasional, 1956. Farmakope Eropa (untuk negara Eropa)

5

Peraturan Perundang-Undangan Di Bidang Farmasi a.) 5. Ordonansi Obat Bius b. Oksitosin. Obat-obat dari daftar obat keras (Daftar G. . . Ordonansi obat Berkhasiat Keras b1. Efek sistematis a. praktis.Diuraikan getah lambung: Benzilpenisilin. Cara-Cara Pemberian Obat a.OBAT Paten/Spesialite Milik Perusahaan Dgn Nama Khas Aspirin (Bayer) Naspro ( Nicholas) Enterovioform (Ciba) Penbritin (Beecham) Amfipen (Organon) Nama Kimia Asam Asetil Salisilat Iodoklorooksi Kinolin Aminobezil Penisilin Oficial/Generic Name Bahan Aktif Asetosal Kliokinol Ampisilin 4. mudah dan aman.Diharapkan absorpsi yang lebih besar:    Tidak sadarkan diri Tidak mau menerima TG I yang tidak memungkinkan:  Trismus (pada penyakit tetanus)  Gangguan menelan  Gangguan lambung  Gangguan usus Lazim. Oral Kecuali: . Obat-obat dari daftar obat keras terbatas (Daftar W.1.) b2.Obat yang bersifat merangsang: Emetin. Aminofilin. 6 . Insulin.

a.Dalam usus terjadi pencampuran obat-zat makanan. Perbedaan kecepatan pelarutan obat tergantung dari bebrapa faktor antara lain:  Ukuran partikel  Luas permukaan  Coating (pelapisan)  Modifikasi molekul Presipitasi dan tidak a.2.Dibutuhkan pengaruh obat yang cepat. Untuk efek yang cepat. sehingga obat rusak atau terjadi kompleks yang tidak larut dan tidak dapat diabsorpsi. khelasi. Contoh: Erythromycin dgn zat-zat makanan Tetracyclin – kation-kation yang tidak dapat diabsorbsi rusak kompleks magnesium. . absorbsi oleh selaput 7 . Absorbsi Larutan > Padat. Sublingual Obat dikunyah ditaruh dibawah lidah lender setempat ke vena-vena lidah.terjadi (kalsium.3. aluminium). kecepatan dissolusi memegang peranan penting. Yang perlu diperhatikan: adanya inkompatibilitas (tidak dapat campur). Injek: . (+) Obat langsung masuk peredaran darah tanpa melalui hati. Besi bersama-sama Alkaloid dapat diabsorbsi. karena menentukan obat sampai kedarah maupun jaringan lain. misalnya untuk serangan jantung. Pada pemberian secara oral.

Obat yang lipofil tidak dapat digunakan dgn cara ini. efeknya < 1 m < c. b.C) injeksi di bawah kulit untuk obat yang tidak merangsang larut baik dalam air /minyak.  Pasien tidak sadar.m) injeksi didalam otot absorbsi 10 – 30 menit untuk memperlambat absorbsi memperpanjang kerja obat dibuat larutan atau suspensi dalam minyak.(-) Kurang praktis untuk pemakaian terus menerus dan dapat merangsang selaput lendir mulut.     Subkutan (Hipodermal) (S. 8 .v mudah digunakan sendiri. (-) Mahal. a. merusak pembuluh (syaraf) bila tidak tepat. suspensi pinisilin otot pantat. kuat dan lengkap.4. tidak mau bekerja sama.  Obat yang merangsang atau dirusak getah lambung. Injeksi (Parenteral) Untuk:  Efek yang cepat. a. tidak diabsorbsi usus (streptomisin). tidak banyak pembuluh darah dan syaraf.      Intamuskuler (i. harus steril. tidak bisa dilakukan sendiri. nyeri.

Implantasi Subkutal Obat dalam bentuk pellet steril (tablet silindris kecil) dimasukkan di bawah kulit dengan alat khusus.      Intravena (l. bahaya kalau diberikan dengan cepat sebaiknya 50 – 70 detik.v) Injeksi kedalam pembuluh darah efek paling cepat : 18 detik (waktu satu peredaran darah obat sudah tersebar keseluruh jaringan) lama kerja pendek untuk efek yang cepat dan kuat tidak untuk obat yang tidak larut dalam air atau menimbulkan endapan dengan protein atau butir-butir darah merah. (-) Bahayanya: ”Benda asing” tekanan darah mendadak turun.c. untuk: efek sistemis lama misal : hormon-hormon kelamin (estradiol dan testosteron) melepaskan zat aktif secara teratur selama 3 . shock dsb.5.  infus tetes i.v. untuk keadaan darurat (-) Bahayanya Trombosit        Intra arteri (i.a) Intra kutan (di dalam kulit) Intra lumbal (ke dalam ruang pinggang) intra peritonial (i.5 bulan 9 .p) (selaput perut) intra pleural (selaput dada) intra cardinal (jantung) intra artikuler (celah-celah sendi) a.

a.  Mukosa mata dan telinga  Intra vaginal  Kulit (Topikal) 10 .6. obat: Anestetika umum. tenggorokan dan sal. nafas. Rektal melalui rectum (dubur) untuk bentuk : obat yang merangsang atau yang dirusak asam lambung : Suppositorium Cairan (klisma: 2-10 ml. sakit bila menelan b. Asma. Efek Lokal  Intranasal (melalui hidung) tetes hidung  inhalasi    disemprotkan ke dalam mulut dengan alat aerosol. oleh mukosa mulut. lavemen: 10-500 ml) untuk pasien yang mual. obat di abs.

Distribusi. vit. Transportasi.Difusi b. B1. Membran dapat di tembus dengan mudah oleh zat tertentu dilalui zat lain semi permeable zat Lipofil > mudah hidrofil Tujuan Biotransformasi Obat Berubah Hidrofil 1. asam amino. Contoh: glukosa. Ekskresi. Secara aktif Pengangkutan dilakukan dengan mengikat zat hidrofil pada enzim pengangkut spesifik (Carrier). zat-zat gizi lainnya. asam lemak. Biotransformasi (Metabolisme). obat dilepaskan kembali. . terisi dengan air. garam-garam besi.PRINSIP-PRINSIP FARMAKOKINETIKA FARMAKOKINETIKA Tubuh Obat Absorbsi. Sistem-sistem Transpor a. 11 . Secara pasif .Filtrasi : Melalui pori-pori kecil yang difiltrasi air dan zat mudah di ekskresi ginjal hidrofil yang molekulnya < pori. B2 dan B12 : Zat melarut dalam lapisan lemak dari membran. Setelah membran dilalui. Tubuh Kompartemen Membran-membran Sel: Lapisan lipoprotein (lemak dan putih telur) yang mengandung banyak pori-pori kecil.

basa organik lemah Dissosiasi Ion Konst. Bioinaktivasi Bioaktivasi Diperkuat Diperkuat Kecepatan Biotransformasi dipengaruhi: .2.M > S.Fungsi hati .Genetik .Konsentrasi . Dissosiasi (Ka) Derajat asam (pH) Molekul ion > Lipofil mudah diabsorpsi 3. Absorpsi I. Biotransformasi Obat detoksifikasi.Pemakaian obat lain 12 .V > I.K Kecepatan absorpsi (Dissolution Rate): semakin halus semakin cepat larut dan absorpsinya.Usia . Lambung-usus Oral Obat Lambung-usus Membran sel Larutan cair Asam.

a. Distribusi tidak merata disebabkan: . terpisah dari darah oleh membran semipermiabel. . terutama albumin. yaitu dengan kapiler otak. Antidiabetik. Inhibisi enzim. Sulfonamid 4. Induksi enzim Fenobarbital efek antikoagulan Antipirin pil anti hamil Rifampisin (TBC) Kafein Rokok b. Contoh: Sulfadiazin 50% Ampisilin 25% Salisilat Fenprokumon 50%-80% 99% Indometasin 90% Morfin Zat Lipofil > Hidrofil Bersifat asam > Basa 35% 13 . cairan ekstra sel (yang mengelilingi jaringanjaringan) menuju ketempat kerja didalam sel (cairan intra sel). Membran ini sumar ditembus oleh zat-zat hidrofil. yaitu organ atau otot yang sakit.Rintangan darah-otak (cerebrospinal barrier) Mengelilingi otak dan sumsum belakang. jaringan dan lemak Sebagian obat dalam darah diikat secara reversible pada protein.Presentase Pengikatan (PP) Tergantung konsentrasi obat dalam darah dan dapat diukur invitro. Distribusi Melalui peredaran darah. kapiler. .Terikatnya obat pada protein darah.

Misalnya Asetosol-Fenprokumon (antikoagulan).Grisiofulvin dalam hati kuku dan rambut tulang dan gigi lemak .Empedu .Asi .Kulit .Usus Tinja air seni keringat pernafasan 14 .Glikosid digitalis yang dikumulasi secara selektif pada otot jantung. Anestetika 5.Logam berat dan tetrasiklin .Paru-paru . .Kompetisi terjadi karena kapasitas pengikatan ada batasnya terutama untuk obat dengan dosis tinggi (500 mg). .DDT.ginjal . Asetosal mendesak antikoagulan dari ikatan proteinnya sehingga PP menurun. Barbital. penurunan dari 99% meningkat 2 kali lipat Efek Depot PP Cara untuk menyimpan obat O+P OP 98% sudah berarti kadar obat bebas (yang aktif) perdarahan Kumulasi Manfaat untuk mengobati penyakit yang bersangkutan. Ekskresi .obat malaria .

6. Dosis dan Skema Pentakaran Plasma half-life: ukuran lamanya efek obat t1/2 & grafik kadar waktu penting untuk penentuan dosis & frekuensi: berapa kali sehari & berapa mg. 15 . Konsentrasi Plasma KADAR DARAH mg/100 ml 80 60 40 20 B A 1 2 3 4 5 6 WAKTU (JAM) KADAR DARAH mg/100 ml 80 60 40 20 1 2 t1/2 3 4 5 6 WAKTU/JAM Plasma Half-Life (masa paruh waktu. t1/2) Turunnya kadar plasma obat dan lama efeknya tergantung pada cepatnya metabolisme dan ekskresi. Cepatnya eliminasi: t1/2 7.

KADAR PLASMA A B MIC HARI Grafik kadar-waktu Sulfadiazin (A) dengan dosis 4x sehari 500 mg & Ampisilin 4x sehari 500 mg oral. 16 .

Secara Físika Berdasar lipofilitasnya. síntesis protein atau metabolisme asam nukleat. Proses Metabolisme misal: antibiótik mengganggu pembentukan dinding sel kuman. (Enzim: Menggabungkan dan juga merombak molekul-molekul yang dinamakan substrat-substrat) E + S [E-S] [P. Mekanisme Kerja Obat 1. yaitu untuk mempermudah atau mendorong interaksi tanpa ikut ambil bagian. Contoh: Proses enzimatis dalam tubuh:  Pencernaan bahan-bahan gusi  Pembentukan dan perubahan hormon dan vitamin  Perombakan zat endogen dan eksogen (obat) dalam hati.Reseptor-Blockers Obat dengan struktur kimianya mirip dengan satu hormon menempati reseptor ybs o Enzim-enzim Enzim: Protein yang bekerja sebagai katalisator antara 2 zat kimia. lambung 17 . 4.PRINSIP-PRINSIP FARMAKODINAMIK A. Kompetisi o Reseptor-reseptor spesifik o Enzim-enzim o Reseptor-reseptor spesifik . misal Antasida: Natrium bikarbonat Aluminium dan Magnesium Hidroksida 3.] menghalangi aktivitas hormon tsb Gembok-kunci mengikat As. misal: Anestetika 2. Secara Kimiawi Asam basa.

EFEK TERAPEUTIK  Terapi Kausal  Terapi Simptomatis  Terapi Substitusi Variasi Biologi Patient Compliance: Sifat individual Relasi dokter-pasien Jenis penyakit Jml & jenis 18 . Alopurinol Asetazolamid Metil Dopa Antagonis-Folat Antagonis-Purin Antagonis-Pirimidin reaksi normal Melindungi substrat Disulfiram Fisostigmin & Neostigmin Perintang MAO dan Asam Klaulanat 1. Digunakan untuk: a. tidak terjadi dan produk akhir tidak terbentuk. Mencegah terbentuknya produk akhir b.Enzim Blockers Obat mempunyai kesamaan struktur kimia dengan suatu substrat mampu menduduki tempat aktif dari enzim ybs.

INDEKS TERAPI Diabetes 19 . Efek Samping . EFEK TOKSIS .Definisi . Sekunder c. Asma Penguat (Tonikum) Tidak untuk insufisiensi organ Isi: Laktosa 3. Tujuan: Menyenangkan dan menenangkan pasien yang sebetulnya tidak menderita atau mempertinggi moral pada orang dengan penyakit yang tidak dapat disembuhkan Pengobatan Dengan Sugesti Efek plasebo paling nyata: .Obat ideal . EFEK OBAT YANG TIDAK DIINGINKAN a.Kerja tambahan/sekunder b. Analgetika. Episomal 7. Primer b. Alergi d. HABITUASI & ADIKSI 6. RESISTENSI BAKTERI a. DOSIS 8.Obat tidur. PLASEBO Zat tanpa kegiatan farmakologi dalam bentuk yang dikenal. Fotosensitasi 4. WAKTU MENELAN OBAT 9.2.Efek teratogen 5. Idiosinkrasi c.Kerja utama & efek samping . TOLERANSI.

 Pengaruh Habituasi pengaruh dari suatu obat yang menyebabkan penderita bergantung pada obat itu secara psikis (kafein).10.  Pengaruh Addiktif pengaruh dari suatu obat.  Tolerans (Tolerans Krons) Respon dari badan yang lambat laun berkurang terhadap suatu obat  Tachyphylaxis (tolerans Akut) respon dari badan yang cepat berkurang setelah pemberian suatu obat yang berturut-turut dalam waktu singkat.  Pengaruh Sinergistis Pengaruh yang lebih besar dari jumlah pengaruh dari obat-obat yang sama bekerjanya dalam suatu campuran  Pengaruh Potensiasi pengaruh yang lebih besar dari jumlah pengaruh dari obat-obat yang tidak sama bekerjanya dalam suatu campuran. INTERAKSI OBAT BEBERAPA PENGERTIAN  Pengaruh additif: Pengaruh yang sama dengan jumlah pengaruh dari obat-obat yang sama bekerjanya. KOMBINASI OBAT 11. 20 . yang menyebabkan penderita bergantung pada obat itu secara fisik dan psikis (morfin). yang diberikan dalam suatu campuran.

 Plasebo Penggantian obat yang efeknya hanya segesti  Inkompatibilitas Tidak dapat campur secara farmakologis. 21 . Kumulasi Penumpukan obat sehingga efeknya bertambah kuat. fisis atau kimia. karena pemasukan obat melebihi ekskresi atau penghancurannya.  Ketagihan Obat (ketergantungan obat)  Habituasi (Psikis)  Addiksi (Psikis dan fisik). Tidak ada obat menyebabkan timbul gejala-gejala berat yang menyebabkan orang tersebut menderita sekali.

PH 6 – 7 ILEUM. KOEFISIEN PARTISI. PH 8 PLASMA. PH 7.5 LUMEN INTESTIN. PH 5 DUODENUM. pKa KOMPARTEMEN – KOMPARTEMEN PADA TUBUH STOMACH . PH 1 – 3.ORAL PARENTAL TG I TEMPAT PENYIMPANAN SIRKULASI TEMPAT AKSI METABOLISMA EKSKRESI ORAL ABSORBSI TG I pH .4 ABSORBSI OBAT : ASAM LEMAH / BASA LEMAH DERAJAT IONISASINYA → PKA PH LINGKUNGAN KELARUTAN LIPID – AIR 22 . CEREBROSPINAL.

MOLEKUL TERIONISASI ASAM : R .COO.COO-] BASA : R NH3+ R NH2 + H+ [RNH3+] pKa = pH + log [RNH2] BASA TERION BASA TAK TERION DENGAN pKa = 1 DALAM LINGKUNGAN pH 7 23 .COOH R .MOLEKUL YANG TIDAK TERIONISASI KELARUTANNYA DALAM LIPID BESAR MENEMBUS MEMBRA BARIER >> MOLEKUL .+ H+ ASAM TAK TERION ASAM TERION [RCOOH] pKa = pH + log [R .MOLEKUL .

8 1.6 0.3 0.2 I.0 4.4 3. STRUKTUR DAN AKTIVITAS 24 .ARNH2 STOMACH [1] pH = 1 ARNH2 PLASMA pH = 7 [103] ARNH3+ INTESTIN pH = 5 [1] ARNH2 [10-1] ARNH3+ SKEMA PERBANDINGAN TEORITIS ANTARA TG I DAN PLASMA UNTUK AMINA AROMATIK YANG LARUT DALAM LIPID PKA ABSORBSI YANG BAIK ? ANILIN ACETANILID CAFEIN ANTIPIRIN ASAM SALISILAT ASAM BENZOAT 4.

PEMBENTUKAN KOMPLEKS DI ASUMSIKAN BAHWA OBAT–OBAT BERSTRUKTUR NON SPESIFIK BERTINDAK SECARA PROSES FISIKA KIMIA DENGAN ALASAN : 1.OBAT (FARMAKOLOGI) STRUKTUR NON SPESIFIK STRUKTUR SPESIFIK OBAT – OBAT BERSTRUKTUR NON SPESIFIK AKSI FARMAKOLOGI YANG SECARA LANGSUNG TIDAK TERGANTUNG STRUKTUR KIMIANYA. SIFAT – SIFAT FISIKA KIMIA : .PKA .POTENSIAL OKSIDASI – REDUKSI .KOAGULASI PROTEIN . TAPI PADA SIFAT– SIFAT FISIKA KIMIANYA .DEPOLARISASI MEMBRAN .KELARUTAN .ABSORBSI . AKSI BIOLOGIKNYA BERLANGSUNG DENGAN AKTIVITAS TERMODINAMIK YANG BIASANYA TINGGI 25 .

39 3. YANG AKAN MENGADAPTASI DIRI KE DALAM STRUKTUR 3 DIMENSI. INI BERARTI OBAT-OBAT BEKERJA DALAM DOSIS YANG RELATIF TINGGI. 2. BENTUK. 26 .039 4. TETAPI MENYEBABKAN RESPON BIOLOGIK YANG SAMA.04 OBAT-OBAT BERSTRUKTUR SPESIFIK OBAT-OBAT DALAM AKSI BIOLOGIKNYA SECARA ESENSIAL SEBAGAI HASIL DARI STRUKTUR KIMIANYA. WALAUPUN BERBEDA STRUKTUR KIMIANYA.86 1.097 0. OBAT INI BERGANTUNG PADA : REAKTIVITAS KIMIA.08 3. UKURAN STEREOKIMIA DALAM MOLEKUL.09 0. TIDAK MENGHASILKAN PERUBAHAN YANG NYATA DALAM AKSI BIOLOGIKNYA. 3. EFEK RESONANSI.(1 – 0.01). SENYAWA FENOL O – KRESOL ETIL ALKOHOL PROPANALDEHIDA RESORSINOL METIL PROPIL KETON ASETON KONSENTRASI BAKTERISIDAL (MOL/L) 0. DISTRIBUSI GUGUS FUNGSIONAL. MODIFIKASI SEDIKIT DALAM STRUKTUR KIMIANYA.

AKSI BIOLOGIK TIDAK HANYA TERGANTUNG PADA AKTIVITAS TERMODINAMIK. SENYAWA YANG DIPEROLEH DAPAT MEMPUNYAI AKSI DARI ANTAGONIS SAMPAI SAMA DENGAN SENYAWA INDUKNYA. IKATAN RESEPTOR DAN KEMUNGKINAN LAIN.INDUKSI. II. YANG BIASANYA RENDAH (< 0. EFEK FARMAKOLOGI DARI GUGUS-GUGUS SPESIFIK EFEK FARMAKOLOGI MOLEKUL 27 . 2.00 < 1) INI BERARTI BAHWA OBAT-OBAT BERSTRUKTUR SPESIFIK ADALAH EFEKTIF DALAM KONSENTRASI YANG LEBIH KECIL DARIPADA OBATOBAT YANG BERSTRUKTUR NON SPESIFIK. BIASANYA PUNYA BEBERAPA STRUKTUR KARAKTERISTIK DAN STRUKTUR FUNDAMENTAL. MODIFIKASI AKTIVITAS AKAN MENGHASILKAN SEHINGGA PERUBAHAN SENYAWA- FARMAKOLOGI. 3. DISTRIBUSI ELEKTRON. CIRI-CIRI OBAT BERSTRUKTUR SPESIFIK : 1.

GUGUS-GUGUS KRITIKAL DAN NON KRITIKAL 4. GUGUS-GUGUS PEMBAWA 2. GUGUS-GUGUS YANG MUDAH TERUSIK 3. GUGUS-GUGUS BIOISOSTERIK 5.GUGUS-GUGUS SPESIFIK REAKTIVITAS KIMIA EFEK KARAKTERISTIK GUGUS-GUGUS YANG AKTIF GUGUS-GUGUS YANG TIDAK AKTIF KEMOFUNGSIONAL GUGUS BIOFUNGSIONAL BAGIAN ESENSIIL BAGIAN NON ESENSIIL SPESIFIKASI GUGUS BIOFUNGSIONAL : 1. GUGUS-GUGUS HAPTOFORIK DAN FARMAKOFORIK 28 .

PRINSIP LATENSIASI OBAT SENYAWA BIOLOGIK (AKTIF)  29 MODIFIKASI KIMIA SENYAWA BIOLOGIK (DENGAN GUGUS PEMBAWA) (TIDAK AKTIF) METABOLISME SENYAWA BIOLOGIK (AKTIF) .a. GUGUS-GUGUS PEMBAWA OBAT METABOLISME AKTIVASI DEAKTIVASI MODIFIKASI FUNGSI GUGUS PEMBAWA : MENGANTARKAN AGAR BAGIAN AKTIF MENCAPAI TEMPAT AKSI.

CONTOH : SUKSINIL SULFATIAZOL.TERSELEKSI .TERIKAT .H2N N N SO2NH2 INVITRO TIDAK AKTIF INVIVO AKTIF PROTONSIL RUBRUM (AZOREDUKTASE ENZIMIK) H2N NH2 + H2N SO2NH2 INVIVO DAN INVITRO AKTIF SULFANILAMID (SA) (AKTIF) ANTI BAKTERI GUGUS-GUGUS PEMBAWA : .GUGUS TERBATAS GUGUS-GUGUS YANG BESAR MENCEGAH DITERUSKANNYA OBAT-OBAT MELALUI MEMBRAN SEL.TERSEDIA .TERBATAS . 30 .

CH2 . SEHINGGA HANYA DAPAT LEPAS PADA TEMPAT YANG KHUSUS.GUGUS TERSELEKSI / TERPILIH GUGUS-GUGUS YANG DAPAT MEMBANTU MEMILIH JALAN-JALAN SPESIFIK UNTUK DISTRIBUSI OBAT.CH2 . .GUGUS TERSEDIA GUGUS-GUGUS YANG SETELAH MEMAINKAN PERANANNYA SEBAGAI PEMBAWA. CONTOH : PROTONSIL RUBRUM. LOKALISASI DALAM SEL ATAU OTOT YANG DITUJU 31 . KEMUDIAN DIBUANG DENGAN MEMBEBASKAN BAGIAN YANG AKTIF DENGAN PROSES BIOAKTIVASI. CONTOH : URASIL MUSTARD. CONTOH : URASIL MUSTARD.GUGUS TERIKAT GUGUS-GUGUS YANG DAPAT TERIKAT PADA MOLEKUL OBAT DENGAN SEDEMIKIAN KUAT.. GUNA GUGUS PEMBAWA : 1. OH N HO N CH2 .Cl N CH2 . MODIFIKASI DURASI AKSI OBAT 2.Cl .

MODIFIKASI PADA TRANSPORT DAN DISTRIBUSI OBAT DALAM BADAN 5. LOKALISASI DALAM SEL ATAU OTOT YANG DITUJU 32 .AKSI DIPERPENDEK GUGUS STABIL → DIGANTI GUGUS LABIL Cl O O S NH C NH C3H7 O KLORPROPAMIDA O O S NH C NH C4H7 O TOLBUTAMIDA BEREAKSI PANJANG H3C BEREAKSI PENDEK 2. MODIFIKASI DURASI AKSI OBAT .3. MENGURANGI TOKSISITAS SENYAWA-SENYAWA TERTENTU 1. MENGATASI KESULITAN FARMASETIS 4.AKSI DIPERPANJANG  ESTERIFIKASI  PEMBENTUKAN KOMPLEKS  PEMBENTUKAN GARAM  KONVERSI SENYAWA JENUH → TIDAK JENUH .

Cl MEFTALAN 3. MODIFIKASI PADA TRANSPORT DAN DISTRIBUSI OBAT DALAM BADAN SULFA GUANIDIN SUKSINIL SULFATIAZOL PTALIL SULFATIAZOL HO C O C HN O H2N O NH S NH C NH2 O HO C H2C H2C C HN O O O S NH O O S NH O N S N S 33 .C .CH2 .Cl CH2 . FORMULASI FARMASETIS O2N O NH .HOOC HC H2C NH2 N CH2 .CH2 .CHCl3 H C C CH2 CH2 H OH C C15H31 O KLORAMFENIKOL PALMITAT 4.

PTALIL SULFAETAMID HN HO C O CH O O O S NH C CH3 O 5. GUGUS-GUGUS YANG MUDAH TERUSIK 34 . MENGURANGI TOKSISITAS SENYAWA-SENYAWA TERTENTU SO3H NH2 SULFONASI HO3S NAFTILAMIN 6.ASAM DISULFONAT2-NAFTILAMIN NH2 b.8 .

H3C O O S NH C NH O TOLSIKLAMID MUDAH TERUSIK Cl GUGUS STABIL O O S NH C NH O 1-(p-KLOROBENZENASULFONIL)3-SIKLOHEKSIL UREA H3C H2N O O S NH C NH O METAHEKSAMID GUGUS YANG MENSTABILKAN STABILISASI GUGUS-GUGUS YANG MUDAH TERUSIK OLEH SUBSTITUSI YANG COCOK STRUKTUR O R' CH C O C CH2 N 2 5 C2H5 R'' GUGUS YANG MUDAH TERUSIK GUGUS YANG MENSTABILKAN 35 .

CH3 3000 500 0 15 CH3 NH C CH2 N C2H5 O CH3 LIDOKAIN (BEREAKSI PANJANG) C2H5 CH3 CH NH C CH2 N 2 5 C2H5 O C O O CH3 TOLIKAIN (BEREAKSI PENDEK) c.TIDAK BERINTERAKSI DENGAN RESEPTOR .NH2 .CH3 -H -H -H .RELATIF DAPAT BERVARIASI → MODIFIKASI SIFATSIFAT FISIKA-KIMIA 36 . NON KRITIKAL : . GUGUS KRITIKAL DAN NON KRITIKAL KRITIKAL : TERLIBAT DALAM KOMPLEKS OBAT-RESEPTOR → ESENSIIL UNTUK AKSI FARMAKOLOGIK.R R’ R’’ KECEPATAN HIDROLISIS DALAM SERUM MANUSIA -F .CH3 .NH2 .NH2 -H -H .

CH3 H3C C O CH2 CH2 N CH3 O CH3 ASETILKOLIN ESENSIIL d.& NCO- N2O & SIFAT FISIKA SAMA GRIMM 1925 ELEKTRON TOTAL 6 C 7 N 8 O 9 F OH NH2 10 NC FH OH2 11 NA+ FH2+ CH NH CH2 37 . GUGUS BIOISOSTERIK GUGUS ISOSTERIK DAN BIOISOSTERIK → FARMAKOLOGI MOLEKULAR MODIFIKASI MOLEKUL LANGMUIR 1919 ISOTER : JUMLAH DAN SUSUNAN ELEKTRON SAMA N2 & CO CO2 N3.

AMINOPIRIN DAN ISOSTERNYA O N N H3C N CH3 CH3 H3C CH3 N N O CH CH3 CH3 AKTIVITAS ANTIPIRETIK SAMA 2. 5-BROMOURASIL ANTAGONIS THYMIN OH N HO N Br HO N N OH CH3 38 . ASETILKOLIN DAN KARBAKOL O H3C C O CH2 CH2 N(CH3)3 O H2N C O CH2 CH2 N(CH3)3 AKSI MUSKARINIR SAMA S H CH2 C COOH NH2 H CH2 C COOH NH2 FENIL ALANIN 2-FENIL ALANIN 3.CH3 NH3 CH4 OH3+ NH4 CONTOH : 1.

e. GUGUS HAPTOFORIK DAN FARMAKOFORIK MENOLONG DALAM PENGIKATAN OBAT KE RESEPTOR GUGUS YANG BERTANGGUNG JAWAB ATAS AKSI BIOLOGIK AKSI BIOLOGIK DARI : SULFONIL UREA (I) (ANTI DIABETIK) SULFONAMID (II) (BAKTERIOSTATIK) SULFON (III) (HAMBATAN DARI KARBONIC ANHIDRASE) SULFON (IV) (SALURETIK) R R O S N O O S N C N O O O S N O S N O I II III IV 39 .

H 3C O S NH C NH CH2 CH2 CH3 O O +++ - - - H2N O +++ S NH C NH CH2 CH2 CH2 CH3 O O O S NH O N N ++ - - - +++ - - H 2N H2N O S NH2 O - ++ +++ + HOOC Cl N HN S O O S NH2 O O S NH2 O - - +++ - - - ++ +++ 40 .

STRUKTUR OBAT TIDAK SPESIFIK SPESIFIK 41 .

AKTIVITAS BIOLOGI TERGANTUNG FISIKA-KIMIA .TIDAK MENGHASILKAN PERUBAHAN AKTIVITAS BIOLOGI YANG NYATA.STRUKTUR BERBEDA.BENTUK. 42 . GUGUS FUNGSIONAL.KELARUTAN. AKTIVITAS BIOLOGI SAMA. TEGANGAN PERMUKAAN. . REAKTIVITAS.< 0.MENYEBABKAN PERUBAHAN AKTIVITAS BIOLOGI DARI SAMAANTAGONIS.STRUKTUR KARAKTERISTIK DAN FUNDAMENTAL.01-1 .01 . TEKANAN UAP. KOEFISIEN PARTISI. - . . STRUKTUR KIMIA .KEJENUHAN RELATIF 0. . .MODIFIKASI SEDIKIT DALAM STRUKTUR KIMIA. UKURAN.

04 PT = TEKANAN PARSIAL OBAT DALAM LARUTAN PO = TAKANAN UAP SENYAWA MURNI ETIL BROMIDA 0.02 0.01 0.02 KLOROFORM 0.40 0.01 A = ST / SO SENYAWA BAKTERISIDA TIMOL OKTANOL FENOL ANILIN ST/SO 0.33 0.88 0.11 0.05 0.38 0.01 0.A A = PT / PO = KEJENUHAN RELATIF SENYAWA ANESTESI NITROGEN OKSIDA ETILEN ETIL ETER PT/PO 0.37 0. SO = KELARUTAN MOLAR OBAT PROPANALDEHID ASETON METIL ETIL KETON METANOL RESOLSINOL AKTIVITAS BIOLOGI YANG BERKAITAN DENGAN SISTEM CINCIN KHUSUS 43 .54 ST = KONSENTRASI MOLAR YANG DIBUTUHKAN UNTUK MENGHASILKAN EFEK BIOLOGI.44 0.40 0.

SISTEM CINCIN ISOKINOLIN PROTOTIP OBAT EMETIN PAPAVERIN MORFIN AKTIVITAS BIOLOGI EMETIK VASODILATOR ANALGETIK. EUFORIK TUBOKURARIN PURIN. DIURETIK ASAM PTEROILGLUTAMAT AMETOPTERIN 6-MERKAPTOPURIN FENOTIAZIN FENOTIAZIN FENOPROPAZIN PROMETAZIN KLORPROMAZIN VITAMIN ANTI LEUKIMIA INHIBITOR TUMOR ANTELMINTIK ANTI PARKINSON ANTI HISTAMIN ANTI EMETIK EFEK PERUBAHAN STRUKTUR MINOR PADA AKTIVITAS BIOLOGI STRUKTUR AKTIVITAS BIOLOGI R O O S NH C NH R' O KLASIFIKASI FARMAKOLOGI HIPOGLISEMIK 44 . TEOFILIN KURARIFORM ANALEPTIK. PTERIDIN KAFEIN.

R’=C4H9 (……. R’=C3H7 (KLORPROPAMIN) OH N R AKSI PENDEK AKSI PANJANG KOLINERGIK N R=CH3 (JAMUR) METABOLIT ANTI METABOLIT R=F ( R H C CH2 N H OH R' R=CH3 (EPINEFRIN) HIPERTENSI HIPOTENSI R’=CH(CH3)2 (ISOPROPENIL) TEORI SISI RESEPTOR ADAKAH HUBUNGAN ANTARA o STRUKTUR KIMIA OBAT – AKTIVITAS BIOLOGI o GUGUS FUNGSI – AKTIVITAS BIOLOGI o BENTUK 3 DIMENSI – AKTIVITAS BIOLOGI HAMPIR SEMUA STRUKTUR 45 . UTAMIL) R=CL.R=CH3..

KIMIA OBAT BENTUK 3 DIMENSI ADA BENTUK RUANG YANG SPESIFIK DALAM SISTEM BIOLOGI BERINTERAKSI DENGAN SENYAWA OBAT ANAK – KUNCI → LUBANG KUNCI RESEPTOR EFEK SINTESIS OBAT → UJI AKTIVITAS BIOLOGI FARMAKOFOR STRUKTUR YANG DIPERLUKAN UNTUK AKTIVITAS BIOLOGI 46 .

N .trans 1.N(CH3)3 dl .CH2 .3-DIOKSAN HO HO H H C C OH H H N H l-NOREPINEFRIN ANTARAKSI ANTARA OBAT DAN SISI RESEPTOR 47 .CH2 .N(CH3)3 dl .STRUKTUR : o MEMPUNYAI 2 GUGUS FUNGSI ATAU LEBIH o JARAK GUGUS-GUGUS TERSEBUT SPESIFIK R .R1R2 ANTIHISTAMIN 1 1 X & N HARUS TERPISAH OLEH 2/3 ATOM C R R1 DAN R2 = STRUKTUR SIKLIK YANG BESAR = H O1 5 2 3 4 H H O H H3C O CH2 .cis H3C O CH2 .X .

K2.D + R k1 k2 DR k3 E D R DR E = OBAT = RESEPTOR = KOMPLEKS OBAT-RESEPTOR = EFEK BIOLOGI IKATAN OBAT – RESEPTOR K1. K3 = TETAPAN ABSORPSI.1 C C RESEPTOR 48 . DESORPSI DAN HASIL EFEK MACAM IKATAN KEKUATAN IKATAN (KKAL/MOL) 40 – 110 CONTOH KOVALEN H H H C N RESEPTOR H O O C RESEPTOR IONIK 5 – 10 R 4N HIDROGEN DIPOL-DIPOL 1–7 1–7 OH O C RESEPTOR R O C R C H H N RESPTOR H H C RESEPTOR HIDROFOB 1 VAN DER WAALS 0.5 .

PROTEIN. O ALKILASI R N X RESEPTOR CH2 .Cl RESEPTOR O C C C N + H2N .CH2 . TRANS PEPTIDASE C O C N RESEPTOR ASILASI R P R X + HO CH2 O(S) NH C SERINENZ C O R P R O CH2 O(S) NH CH SERINENZ CO FOSFORILASI IKATAN IONIK 49 .Cl CH2 R N CH2 CH2 . ASAM NUKLEAT X= S-.CH2 .CH2 .IKATAN KOVALEN R N CH2 .PROTEIN.CH2 .Cl RESEPTOR X .Cl CH2 . R2PO4 S. N. COO-.

8 – 2.5 8.17 (N+H+NH+) GUANIDINUM (ARGININ) AMIDA N (ASPARAGIN) SENYAWA OBAT YANG TERIONISASI KUAT PADA PH SIFAT OBAT BERSIFAT ASAM PKA % TERIONISASI BENTUK ANION 50 . BEBERAPA GUGUS YANG TERIONISASI KUAT PADA RESEPTOR GUGUS GUGUS ASAM (-XH → .4) 12. → IKATAN HARUS TIDAK TERLALU KUAT TETAPI CUKUP STABIL.98 ASPARTAT) GUGUS BASA BENTUK KATION (PH 7.8 100 96.OBAT-OBAT TERTENTU : STIMULAN SSP DAN DEPRESAN BERBAHAYA BILA AKSINYA DIPERPANJANG.+ H+) Α – KARBOKSIL (UJUNG) Β – KARBOKSIL (ASAM PKA % TERIONISASI BENTUK ANIDA (PH 7.X.7 100 99.4) 1.4 3.

49 BENTUK KATION ATROPIN (SENYAWA PENGHAMBAT ……….69 OBAT AMONIUM KUARTENER (100% TERIONISASI) TUBOKURARIN KLORIDA (KURARIFORM) BENZALKONIUM KLORIDA (BAKTERIOSTATIK) H3C H N CH2 H H C OH OH OH SISI ANIONIK X BIDANG DATAR INTERAKSI (-)-EPINEFRIN DENGAN ..99 3.92 74.) EFEDRIN (SIMPATOMIMETIK) MORFIN (ANALGETIK) 9.44 9.+ H+) BENZIL PENISILIN (ANTI BIOTIK) 2.RESEPTOR SISTEM SARAF SIMPATIK 51 .(-XH → .X.87 98.36 7.85 99.76 ASAM ASETILSALISILAT (ANALGETIK) OBAT BERSIFAT BASA (EN+H+ NH+) 100 99.

IKATAN HIDROGEN 52 .

H H N C N R ADENIN H N N H N N R TIMIN O CH3 C O H H C CR O IKATAN HIDROGEN DIANTARA PASANGAN BASA PADA DNA N H NH H C C C C O C R O O IKATAN HIDROGEN DIANTARA IKATAN PEPTIDA PADA PROTEIN H3C CH3 H3C HO OH N O OH O C HO O HO O HN H TETRASIKLIN IKATAN HIDROGEN INTRAMOLEKUL PADA MOLEKUL ANTIBIOTIK O C HO OH C O IKATAN HIDROGEN INTERMOLEKUL PADA DIMER ASAM BENZOAT IKATAN HIDROGEN PADA SISTEM BIOLOGI DAN MOLEKUL OBAT 53 .

54 .

O O C O NH C4H4 O N O N H3CO OH ASAM FENAMAT FENILBUTAZON O O O KURKUMIN C C O C C C C C OCH3 OH O C O O C O CH3 ASAM ASETILSALISILAT O H3C O C N OCH3 O PGE HO C4H9 CH OH O C Cl INDOMETAZIN 55 .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->