Anda di halaman 1dari 14

3.

6 Tugas Khusus Latar belakang Narkotika merupakan zat atau obat yang sangat bermanfaat dan diperlukan untuk pengobatan penyakit tertentu. Namun, jika disalahgunakan atau digunakan tidak sesuai dengan standar pengobatan dapat menimbulkan akibat yang sangat merugikan bagi perseorangan atau masyarakat khususnya generasi muda. Untuk mencegah dan memberantas penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika yang sangat merugikan dan membahayakan kehidupan masyarakat, bangsa dan negara pada Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor VI/MPR/2002 telah merekomendasikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Presiden Republik Indonesia untuk melakukan perubahan atas Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika mengatur upaya pemberantasan terhadap tindak pidana Narkotika melalui ancaman pidana denda, pidana penjara, pidana seumur hidup, dan pidana mati. Namun, dalam kenyataannya tindak pidana Narkotika di dalam masyarakat menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat baik secara kualitatif maupun kuantitatif dengan korban yang meluas, terutama di kalangan anak-anak, remaja dan generasi muda pada umumnya. Berdasarkan hal tersebut guna peningkatan upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana Narkotika perlu dilakukan pembaruan terhadap Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Penggolongan Narkotika pada Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 mengalami perubahan. Perubahan penggolongan Narkotika adalah penyesuaian penggolongan Narkotika berdasarkan kesepakatan internasional dan pertimbangan kepentingan nasional. Daftar Golongan Narkotika dapat dilihat pada Lampiran N. Adanya perbedaan penyimpanan dan pelaporan pada morfin dan petidin serta garam-garamnya disebabkan morfin merupakan agonis murni dari narkotika dan untuk memudahkan dokter memberikan obat Narkotika tersebut kepada pasien yang mengidap penyakit kanker stadium yang tidak dapat disembuhkan dan hanya

19

20

morfin satu-satunya obat yang dapat menghilangkan rasa sakit yang tidak terhingga dari penderita kanker tersebut Perbedaan antara UU no.22/1997 dan UU no. 35/2009 tentang Narkotika Undang-Undang No. 22 tahun 1997 1. Pengaturan narkotika bertujuan untuk: a. menjamin ketersediaan narkotika untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan; b. mencegah terjadinya penyalahgunaan narkotika; dan c.memberantas peredaran gelap narkotika. Undang-Undang No. 35 tahun 2009 1. Undang-Undang tentang Narkotika bertujuan: a. menjamin ketersediaan Narkotika untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; b. mencegah, melindungi, dan menyelamatkan bangsa Indonesia dari penyalahgunaan Narkotika; c. memberantas peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika; dan d. menjamin pengaturan upaya rehabilitasi medis dan sosial bagi Penyalah Guna dan pecandu Narkotika. 2. Adanya perluasan: Dalam jumlah terbatas, Narkotika Golongan I dapat digunakan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan untuk reagensia diagnostik, serta reagensia laboratorium setelah mendapatkan persetujuan Menteri atas rekomendasi Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan. 3. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan. (pasal 11)

.1 Narkotika Golongan I hanya dapat digunakan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan dilarang digunakan untuk kepentingan lainnya. .2 Tidak adanya pengawasan dengan peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan

21

4. Narkotika Golongan I dilarang diproduksi dan/atau digunakan dalam proses produksi, kecuali dalam jumlah yang sangat terbatas untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan dilakukan dengan pengawasan yang ketat dari Menteri Kesehatan.

5.Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyimpanan secara khusus sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan jangka waktu, bentuk, isi dan tata cara pelaporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur dengan Keputusan Menteri Kesehatan. (Pasal 11)

6. Tidak ada hasil audit Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (Pasal 13)

7. Pengemasan kembali narkotika pada transito narkotika, hanya dapat dilakukan terhadap kemasan asli narkotika yang mengalami kerusakan dan harus dilakukan di bawah tanggung jawab pengawasan Pejabat Bea dan Cukai. (Pasal 28)

8. Importir narkotika memeriksa narkotika yang diimpornya dan wajib melaporkan hasilnya kepada Menteri Kesehatan selambat-lambatnya 7

4.Adanya perluasan: Pengawasan produksi Narkotika Golongan I untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara ketat oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan. 5. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyimpanan secara khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan jangka waktu, bentuk, isi, dan tata cara pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. . 6. Surat Persetujuan Impor Narkotika sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan berdasarkan hasil audit Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan terhadap rencana kebutuhan dan realisasi produksi dan/atau penggunaan Narkotika. (Pasal 16) 7. Pengemasan kembali Narkotika pada Transito Narkotika hanya dapat dilakukan terhadap kemasan asli Narkotika yang mengalami kerusakan dan harus dilakukan di bawah tanggung jawab pengawasan pejabat Bea dan Cukai dan petugas Badan Pengawas Obat dan Makanan. (Pasal 30) 8. Importir Narkotika dalam memeriksa Narkotika yang diimpornya disaksikan oleh Badan Pengawas Obat dan

22

(tujuh) hari sejak tanggal diterimanya narkotika di perusahaan. (Pasal 31)

9.Narkotika dalam bentuk obat jadi hanya dapat diedarkan setelah terdaftar pada Departemen Kesehatan. (Pasal 33) 10.Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan tata cara pendaftaran narkotika dalam bentuk obat jadi dan peredaran narkotika yang berupa bahan baku diatur dengan Keputusan Menteri Kesehatan. (Pasal 33 ayat 3)

11. Pabrik obat tertentu hanya dapat menyalurkan narkotika kepada: a. eksportir; b. pedagang besar farmasi tertentu; c. apotek; d. sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah tertentu; e. rumah sakit; dan f. lembaga ilmu pengetahuan tertentu. 12. Pedagang besar farmasi tertentu hanya dapat menyalurkan narkotika kepada : a. pedagang besar farmasi tertentu lainnya; b. sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah tertentu; c. rumah sakit; dan d. lembaga ilmu pengetahuan tertentu. f. eksportir. 13.tidak tercantum undang-undang mengenai prekusor narkotika

Makanan dan wajib melaporkan hasilnya kepada Menteri paling lambat 3 (tiga) hari kerja sejak tanggal diterimanya impor Narkotika di perusahaan. (pasal 34) 9. Narkotika dalam bentuk obat jadi hanya dapat diedarkan setelah mendapatkan izin edar dari Menteri. (Pasal 36 ayat 1) 10.Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat dan tata cara pendaftaran Narkotika dalam bentuk obat jadi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan. (Pasal 36 ayat 4) 11. Industri Farmasi tertentu hanya dapat menyalurkan Narkotika kepada: a. pedagang besar farmasi tertentu; b. apotek; c. sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah tertentu; dan d. rumah sakit. 12. Pedagang besar farmasi tertentu hanya dapat menyalurkan Narkotika kepada: a. pedagang besar farmasi tertentu lainnya; b. apotek; c. sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintahtertentu; d. rumah sakit; dan e. lembaga ilmu pengetahuan 13.terdapat undang-undang yang mengatur mengenai prekusor narkotika yang meliputi tujuan pengaturan, penggolongan dan lain-lain pada pasal 48 pasal 52

23

14. Untuk kepentingan pengobatan dan/atau perawatan, pengguna narkotika dapat memiliki, menyimpan, dan/atau membawa narkotika. Tidak adanya kejelasan mengenai golongan narkotika

15. Pecandu narkotika wajib menjalani pengobatan dan/atau perawatan. (Pasal 45) 16.Orang tua atau wali dari pecandu narkotika yang belum cukup umur wajib melaporkannya kepada pejabat yang ditunjuk oleh Pemerintah untuk mendapatkan pengobatan dan/atau perawatan. (Pasal 46)

17. Pemerintah mengupayakan kerja sama bilateral, regional, multilateral dengan negara lain dan/atau badan internasional guna mencegah dan memberantas penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika sesuai dengan kepentingan nasional. (Pasal 53) Pasal 54 (1) Pemerintah membentuk sebuah badan koordinasi narkotika tingkat nasional yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden. (2) Badan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) mempunyai tugas melakukan koordinasi dalam rangka ketersediaan, pencegahan dan

14. Untuk kepentingan pengobatan dan berdasarkan indikasi medis, dokter dapat memberikan Narkotika Golongan II atau Golongan III dalam jumlah terbatas dan sediaan tertentu kepada pasien sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. 15. Pecandu Narkotika dan korban penyalahgunaan Narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial. (Pasal 54) 16.Orang tua atau wali dari Pecandu Narkotika yang belum cukup umur wajib melaporkan kepada pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit, dan/atau lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial yang ditunjuk oleh Pemerintah untuk mendapatkan pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial. (Pasal 55) 17. Pemerintah melakukan pengawasan terhadap segalakegiatan yang berkaitan dengan Narkotika. (Pasal 61 ayat 1) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. Narkotika dan Prekursor Narkotika untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; b. alat-alat potensial yang dapat disalahgunakan untuk melakukan tindak pidana

24

pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika. (3) Ketentuan mengenai susunan, kedudukan organisasi dan tata kerja badan kerja badan narkotika nasional sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Keputusan Presiden.

18. Pemusnahan narkotika dilakukan dalam hal : a. diproduksi tanpa memenuhi standar dan persyaratan dan/atau tidak dapat digunakan dalam proses produksi; b. kadaluarsa; c. tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan kesehatan dan/atau untuk perkembangan ilmu pengetahuan; atau d. berkaitan dengan tindak pidana. 19.Penyidik : 1. POLRI .1 PENYIDIK : PPNS TERTENTU

Narkotika dan Prekursor Narkotika; c. evaluasi keamanan, khasiat, dan mutu produk sebelum diedarkan; d. produksi; e. impor dan ekspor; f. peredaran; g. pelabelan; h. informasi; dan i. penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. (Pasal 61) 18.Tidak ada undang-undang yang mengatur tentang pemusnahan narkotika

19.Penyidik : 1. POLRI 2. PENYIDIK BNN 3. PPNS TERTENTU PASAL 81 : Penyidik Polri dan Penyidik BNN berwenang melakukan penyidikan terhadap lahgun dan edar gelap Narkotika dan Prekursor narkotika PASAL 82 (1) : PPNS tertentu sebagaimana dimaksud dlm UU tentang KUHAP berwenang melakukan penyidikan terhadap tindak pidana penyalahgunaan narkotika dan prekursor narkotika

20.KEWENANGAN PENYIDIK :

20.KEWENANGAN PENYIDIK :

25

1. POLRI 2. PPNS TERTENTU (KAP DAN HAN)

1. POLRI 2. PENYIDIK BNN = POLRI 3. PPNS TERTENTU ( KAP SAJA) PASAL 82 (2) huruf h : Menangkap orang yg diduga melakukan penyalahgunaan narkotika dan prekursor narkotika

21.LAMA PENANGKAPAN :

21.LAMA PENANGKAPAN :

1X24 jam dan dapat diperpanjang 2 x 24 3 X 24 jam dan dapat diperpanjang jam paling lama 3 x 24 jam PASAL 76 : Ayat (1) : Pelaksanaan kewenangan penangkapan dilakukan paling lama 3X24 jam terhitung sejak surat penangkapan diterima penyidik Ayat (2) : Penangkapan dapat diperpanjang paling lama 3X24 jam 22.LAMA PENYADAPAN : 3 bulan dan dapat diperpanjang maksimal 3 bulan atas ijin ketua pengadilan. PASAL 77 : Ayat (1) : Penyadapan dilaksanakan setelah terdapat bukti permulaan yg cukup dan dilakukan max 3 bulan Ayat (2) : Penyadapan hanya dilaksanakan atas ijin tertulis dari Ketua Pengadilan Ayat (3) : Penyadapan dapat diperpanjang 1 kali untuk jangka waktu

22.LAMA PENYADAPAN:

26

yg sama PASAL 78 : Ayat (1) : Dlm keadaan mendesak dan Penyidik hrs lakukan sadap, sadap dpt dilakukan tanpa ijin tertulis dari Ketua PN Ayat (2) : Dlm wkt max 24 jam Penyidik wajib minta ijin tertulis kpd Ketua PN mengenai sadap Contoh PASAL 111 Ayat (1): Setiap org yg tanpa hak atau melawan hukum menanam, memelihara, memiliki, menyimpan, menguasai atau menyediakan narkotika Gol I dlm btk tanaman dipidana dg pidana penjara min 4 th dan max 12 th dan denda min Rp.800 juta max Rp. 8 M 24. Contoh PASAL 111 : Ayat (1) : Setiap org yg tanpa hak atau melawan hukum tanam, pelihara, miliki, simpan, kuasai atau sediakan narkotika Gol I dlm btk tanaman dipidana dg pidana penjara min 4 th dan max 12 th dan denda min Rp.800 juta max Rp. 8 M Ayat (2) : Dlm hal perbuatan sebgm ayat (1) beratnya melebihi 1 KG atau lebih dr 5 batang dipidana seumur hidup atau min 5 th dan max 20 th dan denda max ditambah dr ayat (1) 1/3 nya 25. PASAL 129 : Dipidana penjara min 4 th dan max 20 th dan denda max Rp 5 M setiap org yg tanpa hak atau melawan hkm : Huruf a : miliki, simpan, kuasai atau sediakan prekursor narkotika utk buat narkotika

23.Ancaman pidana maksimal umum kecuali untuk golongan I yang didahului dengan permufakatan jahat dan terorganisir ada minimal umum dan maksimal

24. Pemberatan ancaman pidana dari jumlah barang bukti dimana untuk tanaman lebih dari 1 Kg atau lebih dari 5 batang atau bukan tanaman lebih dari 5 gram ancaman pidana diperberat dan denda ditambah 1/3nya.

25. Prekusor yang potensial dapat disalahgunakan untuk melakukan tindak pidana narkotika ditetapkan sebagai barang dibawah pengawasan pemerintah (tidak ada tindak pidananya)

27

Huruf b : prod, impor, ekspor, atau salurkan prekursor narkotika utk pembuatan narkotika Huruf c : tawarkan utk dijual, jual, beli, terima, jadi perantara dlm jual beli, tukar,atau serahkan prekursor narkotika utk pembuatan narkotika

26. Alat bukti sesuai KUHAP

Huruf d : bawa, kirim, angkut, atau transito prekursor narkotika utk pembuatan narkotika 26. Adanya perluasan barang bukti

PASAL 86 : Ayat (1) : Penyidik dpt peroleh alat bukti selain sebgm dimaksud dlm UU ttg HAP Ayat (2) : Alat bukti sebgm dimaksud ayat (1) berupa:

1. a. Info yg diucapkan, dikirimkan, diterima, atau disimpan scr elektronik dg alat optic / yg serupa dg itu 2. b. Data rekaman/info yg dpt dilihat, dibaca dan atau didengar yg dpt dikeluarkan dg atau tanpa bantuan suatu sarana baik yg tertuang diatas kertas, benda fisik apapun selain kertas maupun yg terekam scr elektronik termasuk tetapi tdk terbatas pada: 1. tulisan, suara dan atau gambar 2. peta, ranc, foto atau sejenisnya 3. huruf, tanda, angka, simbol, sandi atau perforasi yg miliki makna dpt dipahami oleh org yg mampu membaca / pahami PSIKOTROPIKA GOL I DAN II DARI UU NO. 5/1997 TTG PSIKOTROPIKA MASUK GOL I NARKOTIKA

28

DALAM UU INI PASAL 153 huruf b : Dengan berlakunya Undang-undang ini Lampiran mengenai Psikotropika Gol I dan II sebgm tercantum dalam Lampiran UU No. 5/1997 ttg Psikotropika yg tlh dipindahkan menjadi Narkotika Gol I menurut Undangundang ini

Farmakologi Beberapa Obat Golongan Narkotika 1. MST (Morphine Sulphate B.P Controlled Release) Komposisi: Morfin sulfat Farmakologi Zat ini berkhasiat analgetik kuat dan memiliki banyak kerja sentral lainnya, antara lain sedatif dan hipnotis, menimbulkan euforia, menekan pernafasan, dan menghilangkan refleks batuk dimana semua efekt tersebut didasarkan atas supresi susunan saraf pusat (SSP). Efek analgetik morfin timbul berdasarkan 3 mekanisme: 1. Morfin meninggikan ambang rangsangan nyeri. Mekanisme ini berperan penting jika morfin diberikan sebelum terjadi stimulasi nyeri. Bila morfin diberikan setelah timbul nyeri, mekanisme lain lebih penting. 2. Morfin dapat mempengaruhi emosi, artinya morfin dapat mengubah reaksi yang timbul di korteks serebri pada waktu persepdi nyeri diterima oleh korteks serebri dari talamus. Setelah pemberian morfin penderita masih tetap merasakan nyeri, tetapi reaksi terhadap nyeri itu dalam bentuk khawatir, takit, reaksi menarik diri (withdrawal) tidak timbul. 2. Morfin memudahkan tidur dan padda waktu tidur ambang rangsangan nyeri meningkat. Morfin juga menimbulkan efek stimulasi SSP, misalnya miosis (penciutan pupil mata), mual, muntah-muntah, eksitasi, dan konvulsi. Efek perifernya yang penting adalah obstipasi, retensi kemih, dan vasodilatasi pembuluh kulit.

29

Penggunannya khusus pad anyeri hebat akut dan kronis, seperti pasca bedah dan setelah infark jantung, juga pada fase terminal dari kanker. Banyak digunakan sebagai tablet retard untuk memperpanjang kerjanya. Efek samping: Depresi sistem pernafasan, mual, muntah, konstipasi, halusinasi, euforia. Kontra indikasi dan perhatian: .1 Penggunaan agonis murni dengan agonis parsial lemah saat suatu agonis lemah seperti pentazocine diberikan pada pasien yang juga mendapatkan suatu agonis murni (contohnya morfin), kemungkinan menurunkan efek analgesi atau mungkin menginduksi terjadinya gejala putus obat; mengkombinasikan opioid agonis murni dengan agonis parsial harus dihindari. .2 Penggunaan pada paien-pasien cedera kepala Retensi karbondioksida yang desebabkan oleh depresi nafas mengakibatkan pelebaran pembuluh darah otak; pada pasien dengan tekanan intrakranial tinggi dapat mengakibatkan perubahan mematikan pada fungsi otak. .3 Penggunaan selama kehamilan Wanita hamil yang menggunakan opioid secara kronis, janinnya mungkin akan menjadi tergantung secara fisik dan memanisfestasikan gejala-gejala putus obat pada hari-hari awal pasca partus. .4 Penggunaan pada pasien dengan gangguan paru Pada pasien dengan cadangan respirasi perbatasan (borderline), sifat-sifat depresan dalam analgesik akan mengakibatkan gagal nafas akut. .5 Penggunaan pada pasien dengan gangguan fungsi hati dan ginjal Pasien-pasien dengan gangguan fungsi ginjal mempunyai waktu paruh lebih panjang, morfin dan metabolit aktifnya mungkin terakumulasi. .6 Penggunaan pada pasien dengan penyakit endokrin Pasien dengan insufisiensi adrenal dan pasien dengan hipotiroidisme dapat memperpanjang dan meningkatkan respons terhadap opioid. Interaksi Obat Kelompok Obat Interaksi dengan Opioid

30

Sedatif-hipnotika Antipsikosis penenang (tranquilizer) Inhibitor MAO

Meningkatkan depresi sitem saraf pusat, khususnya depresi nafas Meningkatkan sedasi. Penonjolan efek-efek

kardiovaskular Kontraindikasi relatif terhadap semua analgesik opioid karena tingginya insiden koma hiperpireksia, hipertensi juga dilaporkan

KIE Hindari pemakaian alkohol. Menyebabkan ngantuk (hati-hati mengendarai mobil atau menjalankan mesin), gangguan koordinasi, pada penggunaan jangka panjang menyebabkan ketergantungan fisik dan psikologi. Anjurkan kepada pasien untuk menggunakan obat ini secata teratur dan tetap berkonsultasi kepada dokter apabila terjadi reaksi-reaksi yang tidak diinginkan. 2. Codein Farmakologi: Alkaloid candu ini memiliki sifat yang menyerupai morfin, tetapi efek analgetik dan meredakan batuknya jauh lebih lemah, begitu pula efek depresinya terhadap pernafasan. Obat ini banyak digunakan sebagai pereda batuk dan penghilang rasa sakit, biasanya dikombinasikan dengan asetosal yang memberikan efek potensiasi. Dosis analgetik yang efektif terletak antara 15 mg 60 mg.

3. Codipront Komposisi KAPSUL Tiap kapsul mengandung: Kodein anhidrat 30 mg

31

Fenitoloksamin SIRUP

10 mg

(keduanya dalam bentuk resinat terikat dengan ion-exchanger) Tiap 5 ml mengandung: Kodein anhidrat Fenitoloksamin Farmakologi Codipront mengandung 2 zat aktif dengan tempat kerja yang berbeda. Kodein akan mengurangi batuk dengan penekanan sentral pada pusat batuk. Fenitoloksamin merupakan antihistamin yang mempunyai efek pada alergi. Zat aktif codipront terikat dengan ion-exchanger yang memungkinkan pelepasan lambat dan seragam dalam saluran cerna. Untuk mencapai efek antitusif yang lama dengan dosis 2 kali sehari. Kontra indikasi Pasien hipersensitif terhadap bahan aktif dan bahan pembantu Gangguan pernafasan Serangan asma akut Koma Glaucoma sudut sempit Hipertrof prostat dengan pembentukan residu resin Penyakit saluran pencernaan Wanita hamil dan menyusui Anak dibawah 2 tahun karena beresiko meningkatkan efek depresi pernafasan 11,11 mg 3,67 mg

(keduanya dalam bentuk resinat terikat dengan ion-exchanger)

Efek samping Mual, muntah, ketergantungan, reaksi kulit, pada beberapa orang dapat menaikkan berat badan, konstipasi. Interaksi obat

32

Pemberian codipront bersama dengan obat sentral depresan (psikofarmaka, barbiturat, beberapa analgesik dan antihistamin) akan menimbulkan potensiasi sedasi dan mendepresi pernafasan.

Kombinasi

codipront

dengan

alkohol

akan

mengurangi

kemampuan

psikomotor (kemampuan berkonsentrasi dan memecahkan masalah yang kompleks) lebih kuat dibandingkan masing-maisng komponen oleh karena itu kombinasi ini tidak diperbolehkan. KIE Informasikan cara penggunaan obat ini sesuai dengan signa yang dokter berikan, sertakan pula informasi mengenai efek samping yang mungkin akan timbul selama penggunaan obat ini dan interaksi obat yang mungkin terjadi. Apabila batuk masih tetap berlangsung lebih dari 1 minggu atau kemudian disertai demam, rash atau sakit kepala, segera konsultasikan kepada dokter. Hati-hati penggunaan pada penderita dengan kelainan convulsive, gangguan fungsi hati dan ginjal.