Anda di halaman 1dari 258

BAB II MIKRO LINGUISTIK

A. Tujuan Pembelajaran Pada bab II ini pembelajar dapat menjelaskan struktur dasar fonologi, struktur dasar morfologi, struktur dasar sintaksis, strktur dasar semantis,karakteristik setiap aliran, seperti aliran tradisional, struktural, aliran fungsional, tranformasi generatif, serta dapat mengungkapkan secara tulis dan atau lisan. B. Uraian Materi 1. Fonologi a. Pengertian dan Pendekatan Fonetik 1) Pengertian Fonetik Fonetik adalah studi tentang bunyi-bunyi ujar (Samsuri, 1981:91). 2) Pendekatan Fonetik Pendekatan fonetik ada 3 cara yaitu a) auditoris, b) akustis, dan c) artikulatoris. a) Auditoris Auditoris adalah penyelidikan mengenai kemungkinan bunyi-bunyi ditanggapi oleh alat pendengar/telinga ketika bunyi-bunyi bahasa itu dikumandangkan oleh pembicara. Karena cara ini sangat bersifat subjektif, orang yang berkepentingan merasa tidak mantap dan sukar dipertanggungjawabkan sebagai hasil penelitian ilmiah. Di samping itu, buku-buku yang menguraikan mengenai fonetik auditoris Itu sedikit sekali, dan keahlian yang dituntut sebenarnya adalah keahlian dalam ilmu kedokteran b) Akustis Dengan cara pendekatan akustis kita berusaha mempelajari bagaimana arus bunyi yang telah keluar dari rongga mulut atau rongga hidung atau kedua-duanya sipembicara merupakan gelombang-gelombang bunyi ujaran. Penyelidikan cara ini memerlukan pengetahuan ilmu-ilmu pasti karena bunyi-bunyi harus dideskripsikan dengan tanda-tanda angka atau rumus-rumus matematis. Kecuali kurang praktis, tidak semua ahli bahasa dapat menggunakan cara ini dan pada hakikatnya hanya bunyibunyi yang berupa gelombang-gelombang di uadara. Untuk itu, bagaimana mengucapkannya tidak dapat dilukiskan, yang dapat dilukiskan mungkin besarnya amplitudu getaran ketika terlepas mulamula dari pita suara, maka hasil penyelidikan itu masih diragukan dalam terapannya. Selain itu, cara ini memerlukan biaya yang tidak sedikit. Contoh: Apabila kita memetik gitar, maka tali gitas akan bergetar dan terjadilah bunyi yang dapat kita dengar. c) Artikulatoris/Organik Pendekatan artikulatoris adalah menyelidiki bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu dihasilkan oleh alat-alat (organ) si pembicara (organs of speech). Cara ketiga ini yang memang mudah, praktis, dan dapat diberikan bukti-bukti datanya sehingga setiap orang dapat menerapkannya. Hampir semua gerakan alat-alat ucap itu dapat kita periksa, dari paruparu, sekat rongga dada, tenggorokan, lidah, dan sampai bibir. Pekerjaan-pekerjaan alat-alat yang statis hampir semua dapat kita rasakan. Cara pendekatan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.

93

Penutur pendengar

Alat-alat bicara sistem

getaran-getaran udara Yang dihasilkan

telinga dari auditoris

b. Proses Penghasilan Bunyi Bahasa Pada umumnya bunyi dihasilkan dengan menghembuskan udara keluar dari paru-paru melalui rongga mulut dan atau rongga hidung. Macam-macam alat ucap secara garis besar seperti berikut: 1) Artikulator ialah alat-alat yang mudah/dapat bergerak (bersifat dinamis), pada umumnya terdapat di bagian lidah dan bibir bawah. 2) Titik artikulasi ialah alat-alat yang tidak/ sukar bergerak (bersifat statis). Di samping itu, masih ada lagi yang merupakan keharusan ialah arus udara yang dialirkan keluar dari paru-paru. Contoh penghasilan bunyi bahasa: Dalam menghasilkan bunyi [c] misalnya dapat kita lihat kerjasama antara ketiga faktor tersebut di atas. Mula-mula udara mengalir dari paru-paru, sementara itu, ujung lidah (apex) bergerak menyentuh langit-langit keras akibatnya udara terhalang. Ujung lidah sebagai artikulator, sedangkan langitlangit keras sebagai titik artikulasi.

Posisi pita suara:

a terbuka lebar

b terbuka agak lebar

c terbuka sedikit

d tertutup sama sekali

Keterangan gambar: (a) Posisi untuk bernafas secara normal; (tidak menghasilkan bunyi bahasa), (b) Posisi yang menghasilkan bunyi tak bersuara, (c) Posisi yang menghasilkan bunyi bersuara, (d) Posisi yang mengawali atau mengakhiri bunyi hamzah(glottal stop).

94

c. Klasifikasi Bunyi-bunyi Bahasa Fona pada hakikatnya dapat digolongkan menjadi 2 yaitu fona segmental dan fona suprasegmental (prosodi). Masing-masing dapat dijelaskan seperti berikut. 1) Fona Segmetal Fona segmental ialah fona yang jelas warnanya, artinya batas artikulasinya dapat dianalisis satu dengan yang lain, sehingga secara relatif dapat digolongkan menjadi 2, yaitu: (a) Vokoid ialah fona segmental yang pada umumnya tidak mendapat halangan ketika difonasikan dan bersuara. (b) Kontoid ialah fona-fona segmental yang umumnya mendapat halangan baik penutupan maupun penyempitan pada artikulasi tertentu ketika dihasilkan atau difonasikan dan sebagaian bersuara, sebagian lagi tansuara. 2) Fona Supra segmental Fona supra segmental ialah fona yang sukar dikenal warnanya, hanya dapat dianalisis kualitasnya melalui fonasi fona-fona segmental; artinya fona-fona supra segmental itu hanya ada bersama-sama dengan fonasi fona-fona segmental. Oleh karena itu, fona supra segmental tidak mungkin dapat dianalisis terlepas dari fona-fona segmental. Fona supra segmental dapat dirinci atas: a) Tekanan(stress) b) Panjang(length) c) Nada(pitch) d) Jeda(juncture) e) Intonasi terminal(terminal intonation). (akan dibicarakan lebih lanjut pada bagian lain). d. Fona Segmental Fona segmental adalah fona yang apabila diartikulasikan mudah diartikulasikan. 1) Klasifikasi Vokoid Untuk membuat klasifikasi, kita memakai kriteria yang sangat umum, yaitu posisi lidah, aktivitas lidah, dan bentuk bibir. a) Menurut posisi lidah: (1) Vokoid tinggi: [i, I, u, U]. (2) Vokoid sedang: [E, e, o, ]. (3) Vokid rendah: [a, A, ]. b) Menurut akyivitas bagian lidah: (1) Vokoid depan : [i, I, E, ] (2) Vokoid pusat : [e, a, A, ] (3) Vokoid belakang: [u, U, o, ]. c) Menurut bentuk bibir: (1) Vokoid bundar : [u, U, o, ] (2) Vokoid tanbundar: [i, I, e, E, a, ]. 2) Klasifikasi Kontoid a) Cara artikulasi a) Berdasarkan cara artikulasi, kontoid dapat digolongkan seperti berikut. (1) Kontoid plosif/hambat yaitu kontoid yang terjadi dengan jalan alat ucap tertutup sama sekali pada suatu tempat sehingga udara

95

tertahan, dan ketika halangan itu dilepaskan keluarlah udara tersebut dengan tiba-tiba diiringi semacam letupan. (2) Konotid eksplosif: apabila disudahi semacam letupan. Contoh: [p,b] (3) Kontoid implosif: apabila disudahi dengan tidak ada letupan. Contoh: [k, t, d, g, ?] (4) Kontoid afrikat: yaitu kontoid yang terjadi dengan mula-mula tertutup alat ucap seluruhnya seperti pada posisi kontoid plosif, kemudian halangan itu terlepas dengan diiringi semacam friksi (bunyi geser). Contoh : [c, j] pada kata <cara, dan jalan>. (5) Kontoid frekatif: ialah kontoid yang terjadi dengan penyempitan jalan ucap pada suatu tempat sehingga arus udara masih dapat keluar melalui mulut dengan menimbulkan semacam friksi. Contoh: [f,v,x,G,h] pada kata <fanta, volume, khabar, ghoib, hati>. (6) Kontoid spiran ialah kontoid yang terjadi dengan penyempitan jalan ucap pada suatu tempat dan mendapat halangan semacam pengadukan, sementara itu terdengar bunyi desis. Contoh: [s,S,z,Z] pada kata-kata <sedar, syarat, zaman, measure(Inggris)>. (7) Kontoid nasal: ialah kontoid yang terjadi dengan tertutupnya pada suatu tempat, sedangkan velum merendah, sehingga arus udara keluar melalui rongga hidung dan rongga mulut. Contoh: [m, n, n, n] pada kata-kata <makan, nona, nyonya, singa>. (8) Kontoid lateral: ialah kontoid yang terjadi dengan tertutupnya sama sekali lajur tengah, sehingga arus udara masih dapat keluar melalui kiri kanan lidah. Contoh: [l] pada kata <lidah>. (9) Kontoid trill: ialah kontoid yang terjadi dengan bergetarnya apex (ujung lidah) yang mendekati alveulum ketika arus udara terhembus keluar melaluinya. Contoh: [r] pada kata <radar>. (10) Kontoid flaps: ialah kontoid yang terjadi getaran apex sekali. Contoh: [r] pada kata-kata <very, better, metter>. (11) Semi vokal: ialah kontoid yang terjadi dengan penyempitan pada suatu tempat dalam jalur ucap seperti artikulasi [i,u], kemudian meluncur pada suatu tempat yang lain sehingga arus udara masih dapat keluar melalui mulut diiringi semacam bunyi luncur. Contoh: [W,Y] pada kata <warung, yang>. b) Berdasarkan titik artikulasi Berdasarkan titik artikulasi, kontoid-kontoid dapat digolonggolongkan menjadi seperti berikut. (1) Kontoid labial ialah kontoid yang dihasilkan dengan labium sebagai titik artikulasinya yang disentuh bibir bawah. Contoh: [p,b,m,w] pada kata-kata <papa, babi, mama, warga>. (2) Kontoid dental ialah kontoid yang dihasilkan dengan gigi atas sebagai titik artikulasi yang ditekan/ dikenai apex. Untuk selanjutnya cara mengungkapkan seperti kontoid labial dan dental. Contoh: [f,v] pada kata-kata [fantasi, fafourit, volume]. (3) Kontoid interdental Contoh: [t,d,] pada kata-kata <terang, damar(Jw)>. (4) Kontoid alveolum 96

Contoh: [t,d] pada kata <puthu, thukul sejenis makanan, tumbuh, medhi pasir (Jw)>. (5) Kontoid palatal Contoh: [c,j,n,y,S] pada kata-kata <cari, jarang, nyata, yang, syirik]. (6) Kontoid velar ialah kontoid yang dihasilkan dengan velum sebagai titik artikulasi tempat didekati dorsum. Contoh: [k,g,x,n] pada kata-kata <ksrsng, guna, khabar, arang>. (7) Kontoid faringal ialah kontoid yang terjadi dengan farinx sebagai titik artikulasi, atau radix tertarik ke arah farinx. Contoh:[ ] pada kata maklum. (8) Kontoid glotal (glottal stop) Contoh: [?] pada kata-kata <anak, jarak>. c) Berdasarkan artikulator Berdasarkan artikulator kontoid dapat digolongkan seperti berikut. (1) Kontoid labial ialah kontoid yang dengan labium(bibir bawah) sebagai artikulator yang terkatup bibir atas atau menekan gigi atas. Contoh: [p,b,m,f,v,w] seperti pada kata-kata yang sudah dicontohkan kontoid labial di atas. (2) Kontoid apikal Contoh: [t,d,t,d,c,n,l,r,r]. (3) Kontoid laminal Contoh: [c,j,s,S,z,Z]. (4) Kontoid dorsal Contoh: [k,g,x,n,G]. (5) Kontoid radikal Contoh: [ ] pada kata arab <adat>. d) Berdasarkan artikulator dan titik artkulasi Berdasarkan artikulator dan titik artukulasinya kontoid-kontoid dapat dibagi seperti berikut. (1) Kontoid bilabial ialah kontoid yang dengan labium (bibir bawah) sebagai artikulator yang menyentuh bibir atas sebagai titik artikulasinya. Contoh: [p,b,m,w]. (2) Kontoid labiodental Contoh: [f,w]. (3) Kontoid apiko-interdental Contoh: [t,d]. (4) Kontoid apiko-alveolar Contoh: [t,d,n]. (5) Kontoid palatal Contoh: [t,d,j,,ny/n,y,s,S]. (6) Kontoid velum Contoh: [k,g,x,n/ng]. (7) Kontoid radix-faringal Contoh: [ ]. (8) Kontoid glotal/hamzah/glottal stop Contoh: [ /]. (9) Kontoid laringal Contoh: [h] pada kata-kata <hambar, hembus>. e) Kondisi pita suara 97

Berdasarkan kondisi pita suara kontoid dapat dibedakan seperti berikut. (1) Kontoid suara Contoh: [b,d,d,j,g,z,Z,v,w]. (2) Kontoid tansuara Contoh: [p,t,c,,t,k,f,x,h,s,S,?]. f) Berdasarkan jalan yang diikuti arus ujaran ketika keluar dari rongga ujaran, kontoid dibedakan seperti berikut. (1) Kontoid oral Contoh: [a,b,c,d,d,f,g,h,j,k,?,l,o,p,r,s,S,t,u,v,w,x,z,Z]. (2) Kontoid nasal Contoh: [m,n,n(ny),n(ng)]. e. Fona Suprasegmental Fona suprasegmental atau fona prosodi tidak semudah fona segmental cara mencatatnya. Untuk melukiskan fona-fona prosodi itu biasanya dipergunakan berbagai-bagai tanda diakretik Tandanya terbatas sekali, terutama ciri-ciri prosodi yang kontras-kontras. Untuk itu, lebih banyak berhubungan dengan pembicaraan fonem. Fona-fona supra segmental itu digolong-golongkan menjadi: 1) Tekanan/stress 2) Panjang pendek/length 3) Nada/pitch 4) Juncture 5) Intonasi terminal/terminal intonation. 1) Tekanan/stress Bermacam-macam cara untuk melukiskan tekanan tersebut. Tanda diakretik yang digunakan seperti berikut. : untuk menandai tekanan yang sekunder : untuk menandai tekanan yang primer Contoh: green house white house Panjang pendek/length Panjang pendek ialah ciri prosodi yang merupakan perpanjangan suatu fona, yang terjadi mungkin kontoid atau vokoid. Contoh: adoh [?adoh] ... aduh jauh sekali [?adu:h] assalam [?assala:m]. 2) Nada/pitch Nada atau pitch ialah naik turunnya suara ketika sederetan fon-fona difonasikan. Dalam beberapa bahasa tertentu, seperti bahasa Cina, Korea, dan lain-lain pitch itu tinggi frekuensinya, karena dipergunakan selaku komponen yang membedakan makna. Pitch itu biasanya dilukiskan dengan: [ /] : nada naik [ \] : nada menurun [ - ] : nada mendatar [ V ] : nada turun naik [ /\]: nada naik turun. Nada tersebut ditulis di atas silabel atau fona yang harus diucapkan dengan disertai pitch. Dalam tuturan(utterances) keseluruhan atau rangkaian nada merupakan tangga suara atau tangga nada(pitch level). Dalam lukisan prosodi sering juga tangga nada itu ditandai dengan angka:

98

a) b) c) d)

Angka 1 : untuk Angka 2 : untuk Angka 3 : untuk Angka 4 : untuk

pitch terendah pitch yang lebih tinggi pitch yang lebih tinggi lagi pitch yang paling tinggi.

3) Jeda/juncture Jeda adalah batas atau perhentian antara satuan-satuan fona. Temponya mungkin pendek atau panjang(lama). Panjang atau pendeknya atau lama sebentarnya perhentian itu relatif sekali. Pendeknya atau lama sebentarnya perhentian itu relatif sekali, bahkan dalam struktur hampir tak dapat dibedakan adanya bermacam-macam jeda. Oleh ahli-ahli bahasa biasanya dilukiskan adanya dua macam jeda; a) Jeda dalam (internal juncture) adah jeda yang terdapat dalam perkataan selaku batas silabel, jika kata itu terdiri atas paling sedikit dua silabel diberi tanda [+]; atau mudahnya dapat dikatakan bahwa jeda yang terdapat antarsuku kata, atau jeda yang terdapat dalam kata. Contoh: [mi + lI?] [ki + ta]. b) Jeda luar (external juncture) ialah jeda yang terdapat di antara unsur-unsur frasa. Jeda luar dapat dibagi menjadi 3 macam: [ / ] ; jeda tunggal [ // ] : jeda rangkap [ # ] : jeda silang rangkap. Contoh: # ?a + yah // su + dah / da + tan / ta +di / pa + gi # c) Intonasi terminal (terminal intonation) Intonasi terminal ialah lagu penghabisan satuan tutur pada setiap yang disebut kalimat. Biasanya sesudah intonasi terminal menyusullah kesenyapan akhir dan awal. Tanda yang dipakai adalah: [ ] : untuk mendatar [ --^] : untuk menaik yang ditaruh sesudah jeda silang rangkap. [ --v ] : untuk menurun Contoh: [# ?a +dI? // se + dan / me + na + nIs #--V ] Kadang-kadang juga diletakkan pada bagian jeda silang : [ #> ] : untuk mendatar [ # ] : untuk menaik [ # ] : untuk menurun. Kedua macam tersebut dapat dipakai dalam transkripsi fonetis. f. Fonem dan Tugas Fonem 1) Pengertian Fonem Fonem (inggris,phoneme) sering didefinisikan sebagai kesatuan bunyi yang terkecil dalam sebuah bahasa yang dapat membedakan makna (Prawirasumantri, 1985:61). 2) Tugas fonemik a) Fonemik itu berusaha menyelidiki serta menentukan fonem-fonem yang terdapat pada bahasa/bahasa-bahasa yang menjadi objek penelitian itu(membuat invetaris sistem bunyi). Metode yang dipakai untuk keperluan tersebut biasanya sangat sederhana, yaitu dengan cara substitusi(komutasi).

99

Ahli-ahli fonemik (fonologi) Belanda, lama telah mencoba mengemukakan cara itu dengan mempergunakan sepuluh pasang minimal kata yang mirip paling sedikit mengandung sebuah fonem masing-masing yang berbeda. paar: baar paar: aar baar: aar kelamin : gelombang pot : bot pot : ot dst. belanga : tulang pier : bier pier : ier cacing : bir peer : beer peer : eer buah pir: beruang pal : bal pal : al tetap : pesta paard : bard paard: aard kuda : jenggot pak : bak pak : ak pak : bak pest : best pest : est sampar: terbaik. b) Fonemik berusaha memnetukan sifat-sifat atau ciri-ciri distingtif fonemfonem. Ciri-ciri distingtif itu mengandung fungsi dapat membedakan sesuatu fonem dengan fonem yang lain, misalnya <tari> vs <cari>. c) Fonemik mencoba menemukan sistem dalam materi fonem-fonem dengan ciri-ciri distingtifnya. Sistem distingtif ditentukan oleh oposisi. d) Fonemik itu berusaha menyusun perumusan distribusi fonem tiap bahasa yang menjadi objek penelitian. Usaha itu merupakan percobaan/pengujian gabungan fonem-fonem. e) 1) Ciri Distingtif a) Oposisi: /t/ vs /d/ /s/ vs /c/. b) Prosodi sebagai ciri distingtif Contoh: (1) Anak dukun / beranak. (2) Anak / dukun beranak. 2. Morfologi a. Pengertian Morfologi dan Satuan-satuan Gramatik 1) Pengertian Morfologi Perhatikan contoh-contoh berikut berdasarkan unsur-unsur pembentuknya. a) sepeda b) Rumah c) jalan bersepeda berumah berjalan sepeda-sepeda perumahan berjalan-jalan sepeda motor rumah-rumah jalan-jalan rumah-rumahan menjalani rumah sakit menjalankan Kalau kita perhatikan contoh-contoh di atas, yang biasa disebut kata akan nyata bahwa strukturnya berbeda-beda. Hal ini terbukti apabila katakata tersebut dianalisis atau diuraikan ke dalam bentuk yang bermakna. Kata sepeda terdiri atas satu bentuk bermakna tidak dapat diuraikan menjadi lebih dari satu bentuk yang masih mengandung makna. Sama halnya dengan kata rumah dan jalan: kata bersepeda terdiri atas dua bentuk bermakna, yaitu ber- dan sepeda. Sama halnya dengan kata berumah dan berjalan masing-masing terdiri atas dua bentuk bermakna, yaitu ber- serta rumah, jalan. Kata sepeda sebagai bentuk ulangnya. Demikian pula kata rumah-rumah dan jalan-jalan masing-masing terdiri atas dua bentuk bermakna, yakni rumah dan jalan sebegai bentuk dasarnya dan 100

rumah serta jalan sebagai bentuk ulangannya. Kata sepeda motor terdiri atas dua bentuk bermakna, yakni sepeda dan motor. Sama halnya dengan kata rumah sakit yang terdiri atas rumah dan sakit. Kata perjalanan terdiri atas per-an dan jalan. Kata rumah-rumahan terdiri atas 3 bentuk, yakni rumah sebagai bentuk dasarnya dan rumah sebagai bentuk ulangnya, serta an sebagai imbuhan. Begitu pula pada bentuk-bentuk yang lain(Prawirasumantri, 1985). Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa morfologi ialah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk bentuk kata. Pada garis besarnya morfologi membicarakan: 1) morfem-morfem yang terdapat dalam sebuah bahasa, 2) proses pembentukan kata, 3) fungsi proses pembentukan kata, dan 4) penjenisan kata. 2) Satuan Gramatik a) Pengrtian Satuan Gramatik Jika kita mendengar tuturan seseorang atau tuturan seorang informan dengan seksama, ternyata bahwa ada satuan-satuan yang berulang-ulang dapat kita dengar, misalnya sepeda, bersepeda, bersepeda ke luar kota, ia membeli sepeda, dan sebagainya. Satuan-satuan yang mengandung makna, baik arti leksikal, maupun makna gramatikal seperti bentuk-bentuk di atas, disebut satuan gramatik, atau disingkat satuan. a) Bentuk Tunggal dan Bentuk Kompleks Satuan sepeda dibandingkan dengan bersepeda, bersepeda ke luar kota, Ia membeli sepeda baru, ternyata ada perbedaannya. Perbedaannya ialah satuan-satuan sepeda tidak mempunyai satuan yang lebih kecil lagi; berbeda dengan bersepeda, yang sebenarnya terdiri dari satuan ber- dan sepeda, bersepeda ke luar kota, yang terdiri dari satuan ber-, sepeda, ke, luar, kota; dan berbeda pula dengan satuan Ia membeli sepeda baru, yang terdiri dari satuan ia, meng-, beli, dan baru. Satuan gramatik yang tidak terdiri dari satuan yang lebih kecil disebut bentuk tunggal, sedangkan satuan yang terdiri dari satuan-satuan yang lebih kecil disebut bentuk kompleks. Satuan-satuan ber-, sepeda, ke, luar, kota, ia meng-, beli, baru, masing-masing merupakan bentuk tunggal, sedangkan satuan-satuan bersepeda, bersepeda ke luar kota, Ia membeli sepeda baru, merupakan bentuk kompleks (Ramlan, 1985:25). b) Bentuk Bebas dan Bentuk Terikat Bentuk bebas adalah bentuk yang dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa dan memilki sifat dapat dilekati bentuk-bentuk atau afiks lain. Bentuk terikat adalah bentuk yang memilki makna gramatikal dan melekat pada bentuk dasar. Contoh; bersepeda, ber- bentuk terikat dan sepeda bentuk bebas. c) Bentuk Asal dan Bentuk Dasar Bentuk asal ialah satuan yang paling kecil yang menjadi asal suatu kata kompleks. Misalnya kata berpakaian terbentuk dari bentuk asal pakai mendapat imbuhan afiks an menjadi pakaian, kemudian mendapat imbuhan afiks ber- menjadi berpakaian. Bentuk dasar ialah bentuk, baik tunggal, maupun kompleks yang menjadi dasar bentukan bagi bentuk yang lebih besar. Kata berpakaian misalnya, terbentuk dari bentuk dasar pakaian dengan efiks ber-, selanjutnya kata pakaian terbentuk dari unsur dasar pakai dengan afks an. 101

d) Unsur dan Unsur Langsung Unsur adalah bentuk-bentuk atau nsur-unsur yang membentuk kata kompleks. Unsur langsung adalah unsur yang langsung membentuk kata kompleks. Contoh: berpakaian pakaian berU pakai U -an U

berperikemanusiaan Perikemanusian Kemanusiaan berU peri U ke-an U manusia U

3) Proses Morfologis Proses morfologis ialah proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan dasarnya. Bahasa Indonesia terdapat tiga proses morfologis ialah proses pembubuhan afiks, proses pengulangan, dan proses pemajemukan (Ramlan 1985 46-49). a) Afiksasi Afiks adalah imbuhan yang dibubuhkan pada bentuk dasar yang memiliki kesanggupan melekat pada bentuk-bentuk lain untuk membentuk kata kompleks. Ciri-ciri afiks: (1) Berupa bentuk terikat; (2) Makna afiks secara relatif tidak tetap; (3) Tidak mempunyai makna leksikal; (4) Tidak pernah bertindak sebagai bentuk dasar; (5) Secara gramtis terikt; (6) Fungsi afiksa untuk mmbentuk kata kompleks; (7) Memiliki kesanggupan untuk melekat pada bentuk-bentuk dasar yang lain. Berhubungan dengan posisinya, afiks dapat dibedakan atas: 1) prefiks, 2) infiks, 3) sufiks, dan 4) simulfiks (konfiks). b) Pengulangan

102

Proses pengulangan adalah pengulangan bentuk dasar atau satuan gramatik, baik sebagian atau seluruhnya, baik dengan variasi fonem maupun tidak. Hasil pengulangan itu disebut kata ulang. Prinsip-prinsip penentuan kata ulang: (1) Terdapatnya kata dasar yang diulang, (2) Terdapatnya pertalian yang relevan antara bentuk ulang itu dengan kata dasarnya, (3) Perulangan itu tidak mengubah kelas kata, (4) Perulangan merupakan proses penutup. Macam-macam kata ulang: (1) Mengulang seluruh bentuk dasarnya, (2) Mengulang sebagian bentuk dasarnya, (3) Mengulang berbareng dengan afiks, (4) Mengulang dengan variasi fonem. c) Pemajemukan Kata majemuk ialah gabungan unsur-unsur yang membentuk kata baru. Ciri-ciri kata majemuk: (1) Di antara unsur-unsurnya tidak bisa disisipi unsur lain. Misalnya: rumah makan, rumah sakit. (2) Unsur-unsurnya tidak bisa diputarbalikkan. Misalnya, orang tua (3) Gabungan unsurunsurnya membentuk makna baru, misalnya kacamata. Kata majemuk dengan unsur unik adalh bentuk yang di dalam kombinasi satu-satunya dengan bentuk lain. Contoh: tua renta, tua bangka, sunyi senyap, dan lain-lain. d) Fungsi Afiks Afiks pembentuk verbal antara lain: meng-, ber-, di-, ter-, -kan, -i, beran, ke-an. Afiks pembentuk nominal peng-, per-, peng-an, per-an, -an, infiks. Afiks pembentuk numeraial yaitu se-. Afiks pembentuk adjektival ialah se-nya, ke-an. e) Makna afiks (1) Makna afiks meng(a) Menyatakan perbuatan aktif transitif. Contoh: menulis, mencetak, meresmikan, memukul, membaca. (b) Menyatakan makna menjadi .... Contoh: melebar, meluas, meninggi, menyempit, mengecil. (c) Menyatakan makna melakukan seperti pada bntuk dasarnya. Contoh: menepi, menggulai, merokok, membatu. (d) Menyatakan makna dalam keadaan pada kata menyendiri. (2) Afiks ber(a) Bermakna melakukan perbuatan .... Contoh: berangkat, berdagang, bermain, bersembahyang. (b) Bermakna dalam keadaan Contoh: bergembira, berpadu, berbahagia, bersedih. (c) Bermakna kumpulan yang terdiri dari .... Contoh: berdua, bertiga, berlima.

bernyanyi,

103

(d) Bermakna melakukan perbuatan ..... Contoh: berbaju, bersuara, berladang, bersepeda, berpakaian. (e) Bermakna mempunyai ..... Contoh: berayah, berumah, berpemimpin, berwibawa. (3) Afiks diBermakna suatu perbuatan pasif. Contoh: diambil, diresmikan, dilarikan, dikemasi, dibangun. (4) Afiks ter(a) Bermakna aspek benefaktif. Contoh: terbagi, terjepit, tertutup, tercetak, terhukum, tertanam. (b) Bermakna ketidaksengajaan. Contoh: terbawa, tersinggung, terjahit, tertusuk, tersentuh. (c) Bermakna ketiba-tibaan. Contoh: terbangun, terjatuh, terperosok, terduduk. (d) Bermakna dapat di-. Contoh: ternilai, terselami, terbaca, terduga, terlihat, terlihat. (e) Bermakna paling . Contoh: tertinggi, terluas, terpandai, terbesar, terindah. (5) Afiks peng(a) Bermakna yang (pekerjaannya) meng---. Contoh: pembaca, pengarang, pembela, pencukur, pencipta. (b) Bermakna alat untuk meng--- Contoh: pemtong, pemukul, penjahit, pengangkut, pemancar. (c) Bermakna yang memiliki sifat .... Contoh: pemalas, penakut, pemalu, peramah, periang, pendiam. (d) Bermakna kausatif. Contoh: pengeras, penguat, pendingin, penghalus, pemanis. (6) Afiks perBermakna kausatif Contoh: perbesar, pertinggi, perdua, perlima, perkuda, pertuan. (7) Afiks se(a) Bermakna satu. Contoh: sekarung, sebuah, sehari, sebulan, semeter. (b) Bermakna seluruh. Contoh: se-Indonesia, seisi kampung. (c) Bermakna sama, seperti. Contoh: segunung, serumah, sehebat, sekecil. (d) Bermakna setelah. Contoh: setibamu, sepulangku, sekembalinya. (8) Afiks ke(a) Bermakna kumpulan yang terdiri dari .... Contoh: kedua(orang), ketiga (pasang). (b) Bermakna urutan. Contoh: (pegawai) kedua, (rumah) kedelapan, (meja) keempat. (9) Afiks kan (a) Bermakna benefaktif. Contoh: membacakan, membelikan, membawakan, membuatkan. 104

(b) Bermakna kausatif. Contoh: mendudukan, menerbangkan, memberangkatkan. (10)Afiks i (a) Bermakna berulang-ulang meng---. Contoh: mengambili, meninjui, membuangi.

mencabuti,

mengguntingi,

(a) Bermakna memberi ..... Contoh: menggarami, menggulai, mengatapi, menyampuli. (b) Bermakna objeknya menyatakan tempat. Contoh: menduduki, mendatangi, menulisi, melempari, menanami. (c) Bermakna kausatif. Contoh: mengotori, memanasi, memerahi, membasahi. (11)Afiks an (a) Bermakna alat untuk meng---/hasil meng---. Contoh: timbangan, tulisan, garisan, karangan. (b) bermakna tiap-tiap. Contoh: (majalah) mingguan, (cacatan) harian, (tiga) bulanan. (c) Bermakna satuan yang terdiri dari. Contoh: meteran, literan, ribuan, ratusan, kiloan. (d) Bermakna beberapa. Contoh: ratusan, ribuan, jutaan. (e) Bermakna sekitar. Contoh: 50-an, 80-an, 90-an. (12)Afiks wan (a) Bermakna 0rang yang ahli. Contoh: negarawan, tatabahasawan, ilmuwan, rohaniwan. (b)Bermakna orang yang/orang yang memiliki sifat. Contoh: cendekiawan, sosiawan, relawan.

usahawan,

(13) Afiks ke-an (a) Bermakna suatu abstraksi/hal. Contoh: kebaikan, kegembiraan, keberangkatan, kesinambungan. (b) Bermakna hal-hal yang berhubungan dengan. Contoh: kehewanan, kewanitaan, keduniaan, kemanusiaan. (c) Bermakna dapat di---. Contoh: kelihatan, kedengaran, ketahuan. (d) Bermakna dalam keadaan tertimpa. Contoh: kehujanan, kedinginan, kelaparan, kecurian, kemasukan. (e) Bermakna temapt/daerah. Contoh: kelurahan, kecamatan, kerajaan, kesultanan. (14).Afiks peng-an (a) Bermakna hal meng---. Contoh: pembacaan, pembelian, penulisan, pengadaan. (b) Bermakna cara meng---. Contoh: penyajian, pengaturan, pengiriman, pengajuan. (c)Bermakna hasil perbuatan/apa-apa yang di --- Contoh: pendengaran, penglihatan, pendapatan, pengertian. 105

(d)Bermakna alat yang digunakan untuk meng---. Contoh: pendengaran, penglihatan. (e)Bermakna tempat meng---. Contoh: pengadilan, pembuangan, pengungsian, pengasingan. (15) Afiks per-an (a) Bermakna perihal . Contoh: pergedungan, perindustrian, persekolahan, perkapalan. (b) Bermakna hal/hasil ber---. Contoh: persahabatan, persekutuan, perkemahan, pernafasan. (c) Bermakna tempat ber---. Contoh: peristrahatan, perhentian, persembunyian, pertapaan. (d) Bermakna daerah. Contoh: perkampungan, perairan, perbukitan, pertokoan, perkotaan. (e) Bermakna berbagai-bagai. Contoh: perbekalan, persyaratan, peralatan. (16) Afiks ber-an (a) Bermakna banyak pelaku. Contoh: berdatangan, bermunculan, bergantungan, beterbangan. (b) Bermakna pekerjaan yang dilakukan berulang-ulang. Contoh: berloncatan, berlompatan, bergoyangan, bergulingan. (c) Bermakna saling. Contoh: bersentuhan, berpapasan, berkirim-kiriman. (17) Afiks se-nya Afiks se-nya bermakna superlatif. Contoh: sepenuh-penuhnya, sekuat-kuatnya, setinggi-tingginya. 3. Sintaksis a. Batasan Kalimat Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan, kalimat diucapkan diucapkan dengan suara naik turun dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir yang diikuti oleh kesenyapan yang mencegah terjadinya perpaduan ataupun asimilasi bunyi ataupun proses fonologis lainnya. Dalam wujud tulisan berhuruf latin, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik(.), tanda tanya(?), atau tanda seru (!); semesntara itu, di dalamnya disertakan pula berbagai tanda baca seperti koma(,), titik dua(, tanda pisah (-), dan spasi. Tanda titik, tanya, dan seru, sepadan dengan intonasi akhir, sedangkan yang lain sepadan dengan jeda. Spasi yang mengikuti tanda titik, tanya dan seru melambangkan kesenyapan. Contoh: 1) Hai Min! 2) Hai. 3) Parmin akan bermain ke Simpanglima. b. 1) 2) 3) 4) Pola Kalimat Dasar S-P : Orang itu sedang tidur. SPO : Rani mendapat hadiah. S P Pel : Pancasila merupakan dasar negara kita. SPK : Kami tinggal di Jakarta.

106

5) S P O Pel : Dian mengambilkan adiknya air minum. 6) S P O K : Dian mengambil air minum di dapur. 7) S P O Pel K : Dian mengambilkan adiknya air minum di dapur. c. Jenis Kalimat 1) Kalimat Tunggal Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa. Hal itu berarti konstituen untuk setiap kalimat adalah satu subejk dan satu predikat. Contoh: (a) Mereka akan membentuk kelompok belajar. 2) Kalimat Berpredikat a) Kalimat Taktransitif Kalimat yang tak berobjek dan takberpelengkap hanya memiliki dua unsur fungsi wajib, yakni subjek dan predikat. Pada umumnya, urutan katanya adalah subjek-predikat. Contoh: (1) Padinya menguning. Contoh kalimat lain berketerangan dan berpelengkap: (1) Guntur selalu naik sepeda ke sekolah. b) Kalimat Ekatransitif Kalimat yang berobjek dan tidak berpelengkap mempunyai tiga unsur wajib, yakni subjek, predikat , dan objek. Predikat dalam kelompok verba ekatransitif adalah verba yang digolongkan dalam kelompok verba ekatransitif. Contoh: (1) Pemerintah akan memasok semua kebutuhan Lebaran. c) Kalimat Dwitransitif Verba transitif dalam bahasa Indonesia yang secara semantis mengungkapkan hubungan 3 maujud. Maujud itu maing-maing subjek, objek, dan pelengkap yang dinamakan verba dwitransitif. Contoh: (1) Ida sedang mencarikan adikknya pekerjaan. (2) Dia menugaskan pekerjaan itu kepada saya. d) Kalimat pasif Contoh: (1) Tugas itu harus mereka selesaikan. (2) Buku itu sudah dibacanya/dia baca. E) Kalimat Berpredikat Adjektival Contoh: (1) Alasan para pengunjuk rasa agak aneh. (f) Kalimat Berpredikat Nominal Contoh: (1) Ini adalah masalah keluarga mereka sendiri.

107

(g) Kalimat Berpredikat Numeral Contoh: -Uangnya banyak sekali. (h) Kalimat Tak lengkap Contoh: (1) Assalaamualaikum. (2) Apa kabar? Kalimat Majemuk Kalimat majemuk adalah kalimat yang mempunyai minimal dau klausa. Contoh : (a) Pengurus KUD harus berwibawa, dan tidak sombong. (b) Kami harus pergi sebelum dia datang. Kalimat majemuk ada dua macam, yakni: Kalimat majamuk setara dan kalimat majemuk bertingkat. a) Kalimat majemuk setara Kalimat majamuk setara adalah kalimat yang memiliki dau klausa atau labeh dan kedudukannya sejajar / sederajat. Konjugtor yang dipakai seperti : dan, lalu, kemudian, tetapi, padahal, sedangkan, atau, baik... maupun ..., tidak ... tetapi..., bukan... melainkan... . Kalimat majamuk setara ada tiga macam yang pertama setara menambah, setara perlawanan, dan setara memilih. (1) Setara Penambahan Konjugtor yang dipakai adalah dan, kemudian, lalu, serta, sedangkan, padahal, baik... maupun... Contoh : - Ibu hanya mengangguk angguk, dan air matanya terus mengalir. (2) Setara Perlawanan Konjugtor yang dipakai adalah tetapi, melainkan, dan namun, tidak / bukan saja, tidak / bukan hanya, tidak / bukan sekedar, jangankan. Contoh : - Jangankan disuruh melawan membantahpun dia tidak berani (3) Setara Memilih Konjugtor yang dipakai adalah atau. Contoh : - Dia harus mengatakan yang benar sesuai dengan keyakinannya, atau berbohong untuk menyenangkan hati orang tuanya. b) Kalimat Majemuk Bertingkat Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang memiliki dua klausa atau lebih yang kedudukannya tidak sejajar. Beberapa macam hubungan sematis pada kalimat majemuk bertingkat seperti berikut. (1) Hubungan Waktu Konjugtor yang dipakai adalah sejak, sedari, sewaktu, ketika, sambil, sementara, tatkala, dll. Contoh : (a) Aku tidak mengarti akan hal itu ketika aku masih anak anak. (b) Setelah dua tahun berpisah, anak itu kembali ke orang tuanya. (2) Hubungan Syarat 108 1)

Konjugtor yang dipakai adalah jika (lau), kalau, asal (kan), apabila, bilamana. Contoh : (a) Jika Anda mau mendengarkannya, saya tentu senang sekali menceritakanya. (b) Hatiku bertambah ciut apabila/bilamana aku teringat bahwa akulah yang tertua (3) Hubungan Pengandaian Konjugtor yang dipakai adalah seandainya, andai kata, andaikan, sekiranya, jangan jangan, kalau kalau. Contoh : (a) Seandainya para anggota kelompok menerima norma itu, selesailah seluruh permasalahan. (b) Sudah dau hari dia tidak masuk jangan jangan dia sakit. (4) Hubungan Tujuan Konjugtor yang dipakai adalah agar, supaya, untuk, biar. Contoh : (a) Kami pergi biar dia bisa bebas berbuat sesukanya. (b) Saya sengaja tinggal di kota kecil agar dapat mengetahui kehidupan disana. (5) Hubungan Konsensif Konjugtor yang dipakai adalah A.L walau (pun), meski (pun), sekalipun. Contoh : (a) Dia akan pergi sekalipun/biarpun kami mencoba menahannya. (b) walaupun/meskipun hatinya sangat sedih, dia tidak pernah menangis di hadapanku. (6) Hubungan Perbandingan Konjugtor yang dipakai adalah seperti, bagaikan, laksana, ibarat, sebagaimana (7) Hubungan Penyebaban Konjugtor yang dipakai seperti sebab, karena, akibat, oleh karena. (8) Hubungan Hasil Konjugtor yang digunakan seperti sehingga, sampai, sehingga (sampai),maka. (9) Hubungan Alat Konjugtor yang dipakai adalah dengan dan tanpa. (10) Hubungan Komplementasi Konjugtor yang dipakai adalah bahwa, kalimat langsung. (11) Hubungan Perbandingan Konjugtor yang dipakai lebih/kurang... dari (pada)... (12) Hubungan Oktatif Konjugtor yang dipakai adalah semoga/ moga moga/ mudah mudahan. b. Frasa 1) Pengertian Frasa Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang tidak melebihi batas fungsi. Contoh: a) gedung sekolah itu b) di halaman

109

Frasa ada dua macam yaitu frasa endosentrik dan frasa eksosentrik. Kedua macam itu diuraikan seperti berikut ini. 2) Frasa Endosentrik Frasa endosentrik adalah frasa yang mempunyai distribusi atau kelas kata yang sama dengan semua unsur atau salah satu unsurnya. Contoh: (a) Buku baru (c) Ahmad, anak Pak Sastro, .... Frasa endosentrik ada 3 macam, yakni 1) endosentrik atributif, 2) endosentrik koordinatif, dan 3) endosentrik apositif. a) Frasa Endosentrik Atributif Frasa Endosentrik Atributif adalah farsa yang salah satu unsurnya menjadi pusat dan yang lain menjadi bawahan. Contoh : (1) buku baru (2) pembangunan lima tahun b) Frasa Endosentrik koordinatif Frasa Endosentrik koordinatif adalah frasa yang unsur unsurnya memiliki kedudukan / kelas kata yang sejajar. Contoh : (1) ayah ibu (2)bembinaan dan pengembangan c) Frasa Endosentrik Apositif Frasa Endosentrik Apositif adalah frasa yang salah satu bagiannya yang unsur unsurnya bisa saling menggantikan. Contoh : a) Indonesia, tanah airku, ... b) Bapak SBY, Presiden RI, ... i. Frasa Eksosentrik Frasa Eksosentrik adalah frasa yang tidak mempunyai distribusi / kelas kata yang sama dengan unsur unsurnya. Contoh : a) di perpustakaan b) ke sekolah

4. Semantik a. Pengertian Makna dan Arti Kata ` Di dalam kalimat, kata itu mempunyai makna yang berbeda-beda, misalnya: 1) Saya berjalan seorang diri. (bergerak dari satu posisi ke posisi lain dengan kaki). 2) Rapat sedang berjalan. (berlangsung). 3) Rencana itu tidak berjalan. (terlaksana, dilaksanakan). 4) Sumbunya tidak berjalan. (berputar). b. Penunjukan Fungsi kata ialah untuk menunjuk atau menyebut sesuatu (benda, perbuatan/peristiwa, hal, sifat atau keadaan, jumlah) yang bersifat luar bahasa. Misalnya, segolongan benda disebut buku, kursi, meja dan lainlain. ii. Tipe-tipe Penunjukan/Penyebutan a) Penyebutan 1 terhadap segolongan benda dll. yang memiliki seperangkat ciri pembeda yang sama, seperti kata makan, dll. b) Tipe 2 terdapat pada kata onomatope, kata-kata emotif ekspresif dan kata-kata fonestem (kata yang mengandung gugus bunyi tertentu i.

110

c) d) e) f) g) h) c. a) b)

c)

menyarankan aspek semantis tertentu. Misalnya, kata cecak, itiritir(Jw), pating grandul (Jw). Tipe 3 terdapat pada nama diri. Misalnya Aminah, Djarum (rokok), Boxy. Tipe 4 menyebut sebagian mewakili keseluruhan. Misalnya, PSSI dikalahkan Bahrain 9:1. Tipe 5 penyebutan berdasarkan salah satu sifatny yang paling menonjol. Misalnya si Gendut. Tipe 6 penyebutan didasarkan atas penemu atau pabrik pembuatnya. Misalnya, volt, filip. Tipe 7 penyebutan didasarkan atas bahan yang dipakai untuk sesuatu benda. Misalnya, kata goni, bambu runcing. Tipe 8 penyebutan didasarkan atas nama tempat asal. Misalnya, kata sapi benggala, jambu bangkok. Tipe Arti Tipe arti konsep. Tipe arti ini terutama terdapat pada kata kebanyakan bahasa yang bersifat satu dibanding satu. Misalnya, kata rumah meja, cerdas, dll. Tipe arti asosiatif, ada 5 macam. 1. Tipe ari konotatif ialah tipe arti yang bersif tertentuat tambahan. Misalnya, Aku ini binatang jalang. 2. Tipe arti stilistika ialah arti yang terdapat pada suatu ujaran tertentu yang mencerminkan lingkungan dan status sosial dari pemakaianya. Misalnya, /bapaqe?/ (Banyumas). 3. Tipe arti afektif ialah yang mencerminkan perasaan pribadi si pembicara termasuk sikapnya yang diajak bicara, atau terhadap sesuatu yang dibicarakan. Misalnya. Kata pendusta, gepeng geping - geping banget. 4. Tipe arti reflektif ialah arti yang menimbulkan penggandaan arti. Misalnya, Dhuh Gusti!, den baguse. 5. Tipe arti kolokatif ialah tipe arti yang dimiliki oleh kata tertentu yang cenderung bervalensi/bergabung dengan kata lain tertentu. Misalnya, kata cantik, dan tampan. Tipe arti tematik ialah tipe arti yang menggambarkan pembicara mengorganisasikan amanatnya dalam bentuk: (1) pengurutan, (2) pemfokusan, dan (3) penekanan. Misalnya, yang dipentingkan di muka Kemarin saya akan pergi ke Solo; dengan tekanan primer, Hari ini saya akan ke Solo; diberi partikel, Sayalah yang akan pergi ke Solo.

Metode Analisis Komponen Yang dimaksud metode analisis komponen ialah mengurai arti konsep suatu kata ke dalam ciri-ciri semantik dari sebuah kata. Penerapan metode analisis komponen misalnya kata bidan: - Benda - Bernyawa - Manusia - Dewasa - Berjenis kelamin perampuan - Keluaran sekolah bidan e. Sinonim Sinonim ialah dua kata atau lebih yeng mempunyai arti leksikal yang lebih kurang sama. 111

d.

Berdasarkan keanggotaan kategori, sinonim terdapat pad lingkup kelas: nomina, verba, adjektiva, pronomina, numeralia, adverbia, konjungsi, preposisi. Macam-macam tipe sinonim: 1) Kata-kata yang bersinobim termasuk dialek yang berbeda-beda. Misalnya, kata pohong dan bodin, istri dan bini. 2) Sinonim terjadi karena adanya kata-kata serapan atau dari bahasa asing. Misalnya, kata priduksi dan hasil. 3) Karena perbedaan laras. Misalnya kata rumah, gubug, wisma, dll. 4) Perbedaan di antaranya ditentukan oleh terdapatnya kadar afektif (di samping arti konsepnya) pada salah satu dari kata-kata bersinonim. Misalnya, kata sukar, pelik, rumit, sulit. 5) Bersinonim yang dapat diperbedakan berdasarkan kolokasinya(aspek semantik kata yang terdapat di sekitarnya. Misalnya, kata cantik yang dimaksudkan orangnya, dan yang dimaksudkan bola yang masuk ke gawang. f. Antonim Antonim ialah hal berlawanan atau bertentangan arti leksikalnya. Ada 3 tipe sinonim: 1) Antonim dipakai untuk menunjuk tipe keberlawanan arti yang dapat dipertatarkan (anggota-anggotanya dapat dibedakan tingkat-tingkatnya. Misalnya besar dan kecil, yang dapat dipertatarkan sangat besar, lebih besar, agak besar, kecil, agak kecil, lebih kecil, sangat kecil. 2) Wujud berbalikan . misalnya, suami dan istri, pembeli dan penjual. 3) Tipe komplementer ialah perangkat kata-kata yang arti leksisinya saling melengkapi. Misalnya, tua >< muda, pria >< wanita. g. Polisemi, Homonim, Homograf, Homofon 1) Polisemi Polisemi ialah sebuah kata yang mempunyai banyak makna. Misalnya, kata mencetak bermakna; a) Menghasilkan sesuatu dengan dicetak (buku, uang) b) Meluluskan (mencetak sarjana) c) Memasukkan (mencetak sarjana) d) Menghasilkan (mencetak penganggur) e) Menghasilkan/memperoleh dengan mudah (mencetak uang(untuk dokter). Faktor yang menyebabkan timbulnya polisemi: a) Pergeseran pemakaian. Misalnya, kata gagah dipakai untuk orang, dan untuk alat perang. b) Pemakaian khas di lingkungan masyarakat tertentu. Misalnya, kata operasi, untuk polisi, kedokteran, militer. c) Pemakaian kiasan. Misalnya, kata mata pada mata bisul, mata sapi, mata jaum. d) Pengaruh dari bahasa asing. Misalnya, kata parlement (Prcs berbicara, Ingg badan legislatif. 2) Homonim, Homograf, dan Homofon Homonim Homograf Homofon Sama tulisan sama tulisan beda tulisan Sama bunyi beda bunyi sama bunyi Beda arti beda arti beda arti

112

h. Hiponim Hiponim itu yang menunjukkan relasi antarkata yang bersifat atas bawah atau relasi penggolongan dengan anggota-anggota yang menjadingolongannya atau bawahannya. Cara mendapatkan penggolongan: 1) Memakai salah satu hioponim sebagai kata penggolong ! Tangan

Lengan penggolong.

hasta

tangan

2) Memakai kata pungut atau kata ambilan dari bahasa asing sebagai kata Puisi

Puisi lama

puisi modern

Gurindam

talibun

syair

pantun

konvensional serius

mbeling

3) Membentuk kata jadian yang berpola D-D-an Rumput i. rumput-rumputan Perubahan Makna Beberapa gejala perubahan makna dan faktor penyebabnya: 1) Bersifat referensial ialah arti konsep kata itu benar-benar telah berubah sehingga akibatnya referennya juga berubah. Misalnya, kata bujangga Sansekerta berarti ular Jawa kuno berarti sarjana, kaum cerdik pandai, Jawa baru dan Ind berarti sastrawan; Jw masih ada makna yang lain misalnya, ahli pikir dll. 2) Karena perluasan atau pembatasan makna. Misalnya, kata ibu pada mulanya menunjuk seorang istri ayah. Ciri semantiknya: a) Kata benda golongan manusia, b) berjenis kelamin perempuan, c) dewasa, d) yang melahirkan aku, dan e) istri ayahku. 3) Akibat dari perubahan lingkungan pemakainya. Misalnya, kata jurusan, kementrian perhubungan adalah transportasi, makna lain bagian dari fakultas tertentu. 4) Akibat dari perubahan asosiasi Misalnya, kata catut dipakai di perbengkelan,pemakaian lain mencatut keuntungan, mencatut uang negara. Contoh lain kata amplop.

113

5) Akibat perpinbahan tanggapan dari indera yang satu ke indera yang lain (sinestesis). Misalnya, kata terang indera penglihatan, selain itu indera pendengaran. 6) Akibat perubahan jenis kata dan fungsi. Miswalnya, kata berenang dalam berenang itu menyehatkan badan, dan ia berenang di laut. j. Metafora Metafora adalah salah satu wujud daya kreatif bahasa di dalam penerapan makna. ii. Macam-macam metafora: a) Antromorphomis (Ynn: Antronus (manusia) dan Morona (bentuk) yaitu jenis metafora yang dinamai berdasarkan nama-nama bagian tubuh manusia.misalnya, kata mata, objek-objek tertentu diberi nama: matahari, mata air, mata bisul. b) Mtfr kehewanan yaitu metafora yang bersumber pada kehewanan. Misalnya, kata babi kamu, kerbau kamu, anjing kamu. c) Metafora yang timbul karena perpindahan pengalaman dari konkret ke abstrak atau sebaliknya. Misalnya, kata bintang pada bintang pelajar, bintang radio. d) Metafora sinestesis, jenis ini diciptakan berdasarkan pengalihan tanggapan, yaitu pengalihan dari tanggapan berdasarkan inderapenglihatan ke pendengaran, atau sebaliknya. Misalnya, kata hangat (perasaan ke pendengaran), pahit, manis. i.

5. Aliran Linguistik a. Aliran Tradisional Aliran atau tata bahasa tradisional mempunyai ciri pembeda sebagai berikut: 1) Tidak ada pengenalan akan perbedaan-perbedaan antara bahasa ujaran dan bahasa tulisan. 2) Pemerian bahasa berdasarkan/memakai patokan-patokan bahasa Latin. 3) Menghakimi penggunaan bahasa dengan vonis benar-salah. 4) Memberikan pemerian atau memutuskan persoalan kebahasaan seringkali melibatkan logika. 5) Cenderung menggandrungi atau bahkan mempertahankan penemuanpenemuan terdahulu. (6) Memberikan pemerian bahasa dengan berdasarkan pada satu bentuk bahasa yang s angat disukainya yaitu bahasa tulisan baku (standardised written form) (7) Menurunkan definisi yang mengaburkan. b. Aliran Struktural Kontinental Aliran struktural Continental dipelopori oleh Ferdinand de Saussure dengan bukunya Cours de Linguistique Generale (1916) (=Inggris: Course in General Linguistics) (Indonesia: Pengantar Linguistik Umum). Yang merupakan rangkaian kuliahnya antara tahun 1906-1911. Berdasar konsep-konsepnya, de Saussure disebut sebagai bapak linguistik modern. Kesan umum didapat bahwa buku itu mempunyai sejumlah pandangan yang bahkan sampai sekarang masih tetap penting untuk diketahui, dikaji, serta dibicarakan manfaat tidaknya, yang berupa dikotomi-dikotomi, seperti (1) sinkronik vs diakronik, (2) la langue vs la parole, (3) signifikan vs signifi, (4) paradigmatik vs sintagmatik, dan (5) bentuk vs substansi. Kelima hal itu akan diuraikan secara berurutan di bawah ini.

114

1) Sinkronik vs Diakronik Linguistik sinkronik mempelajari bahasa tanpa memersoalkan urutan waktu. Perhatian ditujukan pada bahasa sejaman yang diujarkan oleh pembaca; jadi, dapat dikatakan bersifat horisontal. Kata diakronis (Yunani: dia = melalui, khonas = waktu, masa). Diakronis diartikan subdisiplin linguisitk yang menyelidiki perkembangan suatu bahasa dari masa ke masa. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa studi ini bersifat vertikal. Misalnya menyelidiki perkembangan bahasa Indonesia (dulu disebut bahasa Melayu) yang dimulai dengan adanya prasasti di Kedukan Bukit sampai kini. 2) Langue dan Parole Saussure memakai istilah Perancis langue dan parole untuk membedakan bahasa sebagai sistem yang bersifat sosial dan bahasa sebagai ujaran yang bersifat perseorangan, dan langue yang bersifat abstrak, sedangkan parrole bersifat konkrit. Keduanya itu dihubungkan: parole adalah aspek perseorangan bahasa, sebagaimana dimanisfetasikan dalam kenyataan psiko-psikologi dan sosial dari tindak-tindak bahasa secara khusus. Langue adalah bagian sosial bahasa, di luar pemakai perseorangan, yang tidak dapat menciptakan atau mengubahnya. Biarpun bagi kami langue ternyata terdapat pada tingkatan yan glebih abstrak dari pada parole. Langue adalah bahasa tertentu, misalnya bahasa Inggris, Indonesia, dan sebagainya; sedangkan parole berarti logat, ucapan, tuturan. 3) Signifiant dan Signifi Jika dalam Cours Saussure mementingkan hubungan (antara urutan bunyi dan konsepnya) sebagai tanda bahasa, sebenarnya yang lebih penting ialah bahwa tanda bahasa itu mempunyai dua sisi, yaitu signifiant dan signifi. Sekarang, dua sisi itu biasa diberi nama bentuk dan isi (= arti). Ata yang diucapkan sebagai rumah adalah bentuk yang mengandung arti rumah. Makna ini adalah abstraksi dari sesuatu yang ada di dunia luar bahasa (extra linguistic word). Kalau kita mengucapkan rumah terdengar pada kita rentetan bunyi [r,u,m,a,h] yang kalau ditulis menjadi rumah. Apa yang kita dengar itu adalah signifiantnya; terbayangkan jendelanya, pintunya, atapnya, dan semua ini menghasilkan konsep rumah di benak kita. 4) Sintagmatik dan Paradigmatik Manfred Bierwisch (1871; 19-20 dalam Pateda, 1988) mengatakan syntagmatic relations specify the combination of element into complex form and sentences paradigmatic relations are the relations between the element of the language system. Jadi, kalau kita berkata Rumah si-Ali akan dijual kita melihat bentuk rumah yang dihubungkan dengan bentuk lain yang berbentuk suatu keutuhan. Hubungan itulah yang disebut hubungan sintagmatik. Sebaliknya, kalau kita perhatikan bentuk-bentuk: rumah rumahnya merumahkan, dan sebagainya Kita melihat hubungan antara rumah dan bentuk-bentuk di bawahnya, hubungan seperti itulah yang disebut hubungan paradigmatik. Aliran Strukturalisme Amerika Tahun 1933, terbitlah karya besar Blommfield yang berjudul Language. Judul buku itu sama dengan judul buku Sapir yang diterbitkan 12 tahun sebelumnya. Buku itu terdiri atas 600 halaman, merupakan karyanya yang 115 c.

paling besar, isinya padat, sehingga sampai sekarang buku itu tetap tidak tersaingi. Bloomfield sangat dipengaruhi oleh ilmu jiwa (behaviourisme). Ia sangat mengagumi A.P. Weiss, salah seorang pelopor ilmu jiwa behaviorisme, dan ia pun terpengaruh olehnya. Akibatnya pengaruh yang merusak jiwanya itulah sehingga ia mengubah dasar pikiran yang dituangkan dalam bukunya yang pertama An Introduction to Linguistic Science (1914) dan menyesuaikannya dengan pandangan mekanistik penganut behaviorisme. Begitu terpengaruhnya pada pandangan behaviorisme itu sehingga di dalam esei-esei yang ditulisnya untuk International Encyclopedia of Unified Science, ia menyatakan syarat-syarat yang harus dipenuhi oelh metode ilmiah yang dapat dibatas dengan merujuk ke acuan behaviorisme. Pandangannya tentang penggunaan bahasa (the use of language) dirumuskannya dengan rumus Rangsangan dan Tanggapan, yang digambarkan dengan formula R --- t . . . r --- T. Maksudnya: Suatu rangsangan ini merupakan pengganti bahasa-bahasa (t). Bagi pendengar, hal itu merupakan rangsangan pengganti bahasa (r) yang menyebabkan dia memberi tanggapan praktis (T). R dan T adalah peristiwa praktis yang seakan-akan tinggal di luar bahasa; t dan r adalah peristiwa-peristiwa bahasa (Samsuri, dalam Soejono, 1987: 14). Ada 4 cara menurut Bloomfield menyusun bentuk (form): 1) order (urutan), Ali memukul Badu >< Badu memukul Ali. 2) modulation (penggunaan fonem sekunder), -- John >< John? 3) phonetic modification (modifikasi fonetik), -- do not >< dont. 4) selection (memberikan satu faktor makna oleh karena bentuk yang berbeda memberikan makna yang berbeda pula). Dengan demikian, dalam bentuk bahasa tercakup kelas-kelas dan bagian-bagian kelas, seperti kata verba (verbs), nomina, adjektiva (adjectives), dan sebagainya. Suatu ciri sederhana tatanan gramatikal merupakan ciri gramatikal atau taxeme, sedangkan taxeme itu merupakan satuan bentuk yang terkecil. Taxeme itu terjadi dalam susunan gramatikal yang konvensional yang dinamakan juga tactic form (bentuk taktik). Bentuk taktik beserta makna yang dikandungnya itulah yang dinamakan bentuk gramatikal (grammatical form). Bentuk gramatikal yang terkecil disebut juga tagmene. Bentuk gramar dikelompokkannya menjadi tiga kelas, seperti berikut: (1) Sentence type (tipe kalimat), --kalimat berita, kalimat tanya, dan sebagainya; (2) Construction (konstruksi). Konstruksi ini dinamakan Syntax kalau tidak terdapat bentuk terikat di antara konstituennya, contoh: John ran; Ita slept. Dan dinamakan morfologi, apabila konstituennya terdiri bentuk terikat, seperti: -ess dalam duke + ess duchess; lion + ess lioness. (3) Substitution (substitusi), apabila bentuk gramar itu merupakan suatu bentuk penggantian konvensional terhadap satu kelas dari bentuk lain. Contoh: pronouns (kata ganti). Aliran Fungsional Dalam pembicaraan tentang ilmu bahasa fungsional, kita tidak dapat memisahkan diri dari dua orang tokohnya, yakni Roman Jakobson dan Andre Martinet. Berikut ini akan disajikan kedua tokoh itu dengan gagasan mereka. 1) Roman Jakobson Roman Jakobson adalah seorang ahli waris yang sangat penting dari Aliran Praha. Gagasan fungsi bahasa, yang merupakan ciri khas Aliran 116 d.

Praha, menempati kedudukan penting karya-karya Jakobson. Jakobson tidak hanya memasukkan unsur-unsur yang istimewa, tetapi ia juga memasukkan fungsi aktivitas bahasa itu sendiri. Hal yang baru, di samping identifikasi dari akustik ciri distingtif, ialah oposisi dwimatra yang dapat dipakai untuk menganalisis semua sistem fonologi yang dikenal. Oposisi dwimatra itu secara hipotetik menampilkan kesemestaan bahasa. Ada dua belas ciri oposisi dwimatra yang diperkenalkan oleh Jakobson. Kedua belas oposisi ini dapat dikelompokkan dalam ciri sonoritas (sembilan yang pertama), yang sana dengan ciri tekanan dan kuantitas. Kedua belas ciri oposisi dwimatra itu sebagai berikut. (1) Vokalik lawan non-vokalik: ada lawan tidak adanya struktur forman yang dibatasi secara tajam. Ada lawan tidak adanya eksitasi tunggal atau primer pada glotis dan celah bebas melalui sistem vokal. Vokal dan likuida lawan konsonan dan luncuran. (2) Konsonantal lawan non-konsonantal: energi keseluruhan yang rendah lawan yang tinggi, ada lawan tidak adanya hamabtan pada sistem vokal, konsonan dan likuida lawan vokal dan luncuran. (3) Kompak lawan tersebar: konsentrasi energi yang tinggi lawan yang rendah di dalam wilayah spektrum pusat yang relatif sempit, forward flanged lawan backward flanged, vocal tract yang dapat berbentuk tanduk lawan yang berbentuk resonator Helmholtz (rongga luas dengan membuka tempat leher dilekatkan), vokal terbuka lawan vokal tertutup, konsonan velar dan palatal lawan konsonan labial. (4) Tenseness lawan lexness: energi tinggi lawan energi rendah, penyebaran energi yang besar lawan yang kecil dalam spektrum dan waktu, deformasi vocal tract yang lebih besar lawan yang lebih kecil, tense, fortis, beraspirasi lawan lax, lenis, tak beraspirasi. (5) Bersuara lawan tak bersuara: ada lawan tidak adanya eksitasi frekuensi rendah yang periodik, ada lawan tidak adanya getaran periodik selaput suara, bersuara lawan tak bersuara. (6) Nasal lawan oral: besar lawan sempitnya frekuensi daerah penyebaran energi, ada lawan tidak adanya forman tambahan, pengantar lawan eksklusi dari resonator nasal, nasal lawan oral. (7) Discontinuous [interupted] lawan continuant: jeda yang diikuti dan atau didahului oleh penyebaran energi pada sebuah daerah frekuensi yang luas (sebagai ledakan atau transisi yang cepat dari forman lokal) lawan tidak adanya perubahan mendadak di antara bunyi dan jeda semacam itu. ada lawan tidak adanya penutupan yang cepat dan atau pembukaan artikulasi vokal atau dari satu detak atau lebih, hambat dan afrikat lawan kontinuan, 117

likuida getar dan detak lawan likuida kontinuan. (8) Nyaring lawan merdu: intensitas suara yang tinggi lawan yang rendah, berujung kasar lawan berujung halus, labiodental, sibilan, uvular lawan bilabial, interdental, konstruktif, velar, afrikat lawan hambat. (9) Yang dicek lawan yang tak dicek: jumlah pelepasan energi yang tinggi lawan yang rendah, konstriksi pinggiran lawan konstriksi pusat, konsonan velar, labian lawan konsonan palatal dan dental, vokal depan lawan vokal belakang. (10) Grave lawan akut: konsentrasi energi yang rendah lawan yang tinggi dalam spektrum, konstriksi pinggiran lawan konstriksi pusat, konsonan velar, labian lawan konsonan palatal dan dental, vokal depan lawan vokal belakang. (11)Flat lawan plain: ada lawan tidak adanya giliran menurun atau melemah dari beberapa komponen dengan frekuensi yang lebih tinggi, celah sempit lawan celah lebar, ada lawan tidak adanya faringgalisasi, velarisasi, retrofleksi, dan pembundaran bibir. Satu label sudah karena ciri ini tidak pernah berfungsi distingtif dalam konteks fonemik yang sama. (12)Sharp lawan plain: ada lawan tidak adanya gerakan ke atas dari komponen frekuensi yang lebih atas, celah yang sempit lawan celah yang lebar, ada lawan tidak adanya hambatan dalam rongga mulut, palatalisasi lawan bukan palatalisasi. . Andre Martinet Tokoh yang tidak boleh dilupakan dalam meneruskan aliran fungsional ialah Andre Martinet. Martinet mempunyai minat yang beragam dalam dunia ilmu bahasa, yang saling menunjang: fonologi deskriptif, fonologi diakronik, sintaksis, linguistik umum. Pada tahun 1946, ia memberikan kuliah fonologi di London. Kuliahnya itu diberi judul Phonology as Functional Phonetics. Bagi Martinet, fonologi harus menafsirkan fakta fonetik yang merupakan data dasar dan bukan sekedar realisasi abstrak dari sistem yang berbeda. Persyaratan kehematan sintagmatik (untuk mewakili gugus konsonan dari unsur-unsur oleh unsur unik yang baru) dan kehematan paradigmatik (untuk mewakili sebuah unsur dengan sebuah gugus konsonan yang tidak ada dari unsur yang muncul dalam temuan) adalah oposisi paradigmatik. Jika sebuah bahasa mempunyai hanya mempunyai tiga buah vokal, maka vokal itu akan berupa vokal i, u, dan a, dan bukan berupa vokal e, E, atau i, e, a, dan sebagainyaAnalisis fonem ke dalam ciri distingtif menunjukkan adanya korelasi. Sebuah fonem yang dimasukkan ke dalam sebuah kelompok korelasi akan lebih mantap daripada fonem yang tidak dimasukkan ke dalam kelompok korelatif. Sebuah kekosongan dalam sebuah pola mungkin saja dapat diisi oleh sebuah fonem yang baru. Integrasi yang lengkap akan menghasilkan sebuah sistem yang sempurna dengan jumlah fonem maksimum 2)

118

yang dibangun dengan sejumlah minimum ciri distingtif. Sistem ini tidak dapat ditambah lagi dan tidak akan ada alasan untuk mengubahnya. Belakangan, Martinet juga menerapkan pandangan fungsionalnya dalam sintaksis, dan mensintesiskan teorinya dalam eksposisi yang lengkap dan seimbang dalam: Elements of Linguistics dan A Functional View of Language. Martinet juga menggarisbawahi bahwa sintaksis dan juga fungsi merupakan makna sentral. Pandangan struktural tidak dapat diperbaharui dengan pandangan fungsional, sebaliknya, bagi Martinet, sebenarnya hal itu merupakan komplemen logisnya. Pilihan label fungsional, alih-alih struktural, menunjukkan bahwa aspek fungsional adalah aspek yang paling ditonjolkan dan tidak harus dikaji dengan mengesampingkan yang lain. d.Aliran Transformasi Tokoh aliran transformasi adalah Noam Comsky. Chomsky adalah seorang guru besar linguistikdi MIT (Massachusetts Intsitut of Technologi), yang merupakan murid Z.S. Harris. Chomsky menjadi sangat terkenal dengan bukunya yang berjudul Syntactic Structure (1957). Dengan munculnya buku ini, timbul fase linguistik baru, revolusi ilmiah dalam bidang linguistik. Chomsky melihat bahwa pendekatan yang duipergunakan oleh Bloomfield dan pengikut-pengikutnya yakni pendekatan IC perlu disempurnakan. Dikatakannya bahwa hasil tingkatan-tingkatan telaah linguistik seperti, fonetik, fonemik, morfologi, dan sintaksis belumlah merupakan prosedur untuk mencapai telaah linguistik berupa deskripsi kaidah bahasa secara menyeluruh. Buku yang kedua berjudul Aspect of the Theory of Sintax (1965), di dalamnya menampakkan pendirian yang tegas, yakni keluar dari Bloomfidian. Teorinya terkenal dengan nama tata bahasa transformasional generatif (Transformational Generative Grammar) atau tata bahasa trasnformasi atau tata bahasa generatif (Pateda, 1988:40-41). Menurut teori ini, tiap manusia menggunakan bahasa yang tercermindalam kalimat-kalimat. Tiap kalimat yang lahir bagaimanapun bentuknya, terdiri dari sejumlah elemen dasar dan mempunyai struktur. Tiap kalimay yang lahir barangkali akan muncul lagi pada situasi yang lain. Hal ini disebut disebut prosedur rekursif (recirsive prosedure). Tiap kalimat yang dihasilkan oleh alat bicara manusia menampakkan diri secar bersama-sama yang terdiri dari struktur dalam (deep structure) dan struktur luar (surface srtucture). Struktur luar berwujud apa yang kita dengar atau apa yang kita lihat kalau tertulis. Struktur dalam merupakan abstraksi dari apa yang didengar atau dilihat. Untuk menghasilkan kalimat tersebut, manusia harus memiliki kompetensi (competence) tentang bahasa, dan bagaimana ia harus menampilkan (performence) apa yang diinginkannya dalam wujud bahasa. Kemampuan-kemampuan inilah yang merupakan objek tata bahasa generatif. Tiap orang mempunyai kemampuan yang berbeda untuk menghasilkan kalimat. Hal ini disebut aspek kreatif bahasa. Kemampuan seseorang bergantung kepada: 1) Tingkat pendidikan 2) Pengalaman 3) Kesigapan menambah kosa kata, baik dengan jalan membaca,maupun mendengar(kan).

119

Bagaimana kita menggambarkan kemampuan si pemakai bahasa untuk menghasilkan dan mengerti makna kalimat yang tak terbatas jumlahnya itu, itulah yang menjadi tugas tata bahasa. Menurut Chomsky, setiap tata bahasa harus memenuhi dua syarat, yakni: a) Kalimat yang dihasilkan haruslah kalimat yang berfungsi dalam ujaran, dan b) Istilah yang dipakai jangan harus didasarkan pada satu bahasa saja, tetapi harus beersifat sejagat (universal). Dengan tegas Chomsky mengemukakan bahwa tata bahasa setiap bahasa harus terdiri dari tiap komponen, yakni; a) Sintaksis, b) Semantik, dan c) Fonologi. Komponen sintaksis merupakan pusat, dalam arti komponen inilah yang menentukan arti kalimat dan komponen ini pulalah yang menggambarkan aspek kreativitas bahasa.

Perbedaan buku pertama dengan buku kedua ialah: a) Buku pertama terdiri atas: (1) Phrase strukture (2) Transformasi (3) Morfofonemik; b) Buku kedua struktur tersebut pada buku I diubah menjadi: (1) Nomor satu dan dua masuk bidang sintaksis yang terdiri dari (a) pola kalimat dasar, dan (b) transformasi (2) Fonologi (3) Semantik. Meskipun pada tahun 1964 teori Chomsky belum berumur 10 tahun, telah banyak dikemukakan kritik terhadap teori ini, isalnya yang dikemukakan oleh Jerrold J.Katz dan Paul M.Pastal (1964), dalam buku yang berjudul An Interprete Theory of Linguistic Deskription. Mereka mengusulkan integrasi teori sintaksis transformasi generatif Chomsky dengan teori semantik Katz dan Jerry A.Fodor. Kritik yang sama dikemukakan pula oleh E.M.Uhlenbeck (seorang guru besar linguistik di Universitas Leiden, Belanda) dalam bukunya yang berjudul Critical Comment on Transformational Generative Grammar. Buku kedua tulisan Chomsky tersirat pengertian bahwa menyusun tata bahasa harus: (1) sederhana, (2) tuntas, dan (3) hemat. C. Latihan Jawablah pertanyaan di bawah ini! 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Sebutkan pendekatan fonetik ! Sebutkan klasifikasi fona-fona (bunyi-bunyi) bahasa ! Sebutakan klasifikasi kontoid ! Sebutkan ciri-ciri distingtif ! Apa sajakah garis besar bidang morfologi ? Sebutkan macam-macam afiksasi ! Amatilah kalimat berikut ! Para pelaut menangkap ikan.

120

Apa sajakah fungsi dan makna afiksasi pada kalimat di atas ! 8. Amatilah kalimat berikut ! Ibu hanya mengangguk-angguk, dan air matanya terus mengalir di pipi. Apa sajakah analisis fungsi pada kalimat di atas ? 9. Apa sajakah nama frasa pada kalimat no. 8 di atas ? 10. Buatlah kalimat dengan pola S - P - O - Pel - K ! 11. Jelaskan perbedaan pengertian makna dan arti ! 12. Berilah contoh sinonim lingkup nomina ! 13. Sebutkan secara garis besar konsep Ferdinand de Saussure ! 14. Sebutrkan konsep dasar buku Sintactic Structure ! 15. Sebutrkan konsep dasar buku Aspect of The Theory of Sintax ! D. Kunci Jawaban 1. Pendekatan fonetik ada 3 macam yaitu: 1) auditoris, 2) akustis, dan artikulatoris. 2. Klasifikasi fona ada 2 macam yaitu: 1) fona segmental, dan 2) fina suprasegmental. 3. Klasifikasi kontoid ada 6 macam yaitu: 1) cara artikulasi, 2) titik artukulasi, 3) artikulator, 4) titik artikulasi dan artikulator, 5) kondisi pita suara, dan 6) jalan yang diikuti arus ujaran ketika keluar dari rongga ujaran. 4. Ciri distingtif ada 2 macam yaitu: 1) oposisi, dan 2) prosodi. 5. Garis bidang morfologi yaitu: 1) morfem yang terdapat dalam sebuah bahasa, 2) proses pembentukan kata, 3) fungsi proses pembentukan kata, 4) makna proses pembentukan kata, dan 5) penjenisan kata. 6. Afiksasi meliputi: 1) prefiks, 2) infiks, 3) sufiks, dan 4) konfiks. 7. 1) Prefiks per- pada pelaut berfungsi nominalisasi dan bermakna orang yang pekerjaannya me- 2) Prefiks berfungsi verbalisasi dan bermakna melakukan aktivitas - . 8. Analisis fungsi: S - P - S1 - P1. 9. a. hanya mengangguk-angguk: frasa endosentrik atributif b. air matanya: frasa endosentrik atributif c. terus mengalir: frasa endosentrik atributif d. di pipi: frasa eksosentrik. 10. Dian mengambilkan adiknya air minum di dapur. 11. rumah, wisma, gubuk, istana. 12. Makna adalah arti kata yang sudah bersifat tertentu, sedangkan arti sudah bersifat tertentu, atau dengan kata satu berdanding satu. 13. (1) sinkronik vs diakronik, (2) la langue vs la parole, (3) signifikan vs signifi, (4) paradigmatik vs sintagmatik, dan (5) bentuk vs substansi. 14. Perbedaan buku pertama dengan buku kedua ialah: 1) Buku Sintactic Strcture berisi: (1) Phrase strukture (2) Transformasi (3) Morfofonemik; 2) Buku Aspect of The Theory of Syntax berisi: (1) Nomor satu dan dua masuk bidang sintaksis yang terdiri dari (a) pola kalimat dasar, dan (b) transformasi (2) Fonologi (3) Semantik. E. Rangkuman

121

Pendekatan fonetik ada 3 macam yaitu: 1) auditoris, 2) akustis, dan 3) artikulatoris. Klasifikasi fona ada 2 macam yaitu: 1) fona segmental, dan 2) fina suprasegmental. Untuk klasifikasi vokoid, kita memakai kriteria yang sangat umum, yaitu posisi 1) lidah, 2)aktivitas lidah, dan 3) bentuk bibir. Klasifikasi kontoid ada 6 macam yaitu: 1) cara artikulasi, 2) titik artukulasi, 3) artikulator, 4) titik artikulasi dan artikulator, 5) kondisi pita suara, dan 6) jalan yang diikuti arus ujaran ketika keluar dari rongga ujaran. Fona-fona supra segmental itu digolong-golongkan menjadi: 1) tekanan/stress, 2) panjang pendek/length, 3) nada/pitch, 4)Juncture, dan 5) intonasi terminal/terminal intonation. Fonem (inggris,phoneme) sering didefinisikan sebagai kesatuan bunyi yang terkecil dalam sebuah bahasa yang dapat membedakan makna. Tugas fenemik: 1) Fonemik itu berusaha menyelidiki serta menentukan fonem-fonem yang terdapat pada bahasa/bahasa-bahasa yang menjadi objek penelitian itu(membuat invetaris sistem bunyi), dan 2) fonemik berusaha menentukan sifat-sifat atau ciri-ciri distingtif fonemfonem. Ciri distingtif ada 2 macam yaitu: 1) oposisi, dan 2) prosodi. Garis bidang morfologi yaitu: 1) morfem yang terdapat dalam sebuah bahasa, 2) proses pembentukan kata, 3) fungsi proses pembentukan kata, 4) makna proses pembentukan kata, dan 5) penjenisan kata. Satuan satuan gramatik meliputi: 1) bentuk tunggal dan bentuk kompleks, bentuk bebasa dan bentuk terikat, 3) bentuk asala dan bentuk dasar, dan 4) unsur dan unsur langsung. Proses morfologis meliputi: 1) afiksasi, 2) pengulangan, dan 3) pemajemukan. Afiksasi meliputi: 1) prefiks, 2) infiks, 3) sufiks, dan 4) konfiks. Fungsi afiks adalah pembentuk verbal antara lain: meng-, ber-, di-, ter-, -kan, -i, ber-an, ke-an. Afiks pembentuk nominal seperti peng-, per-, peng-an, per-an, -an, infiks. Afiks pembentuk numeraial yaitu se-. Afiks pembentuk adjektival ialah se-nya, ke-an. Makna afiks bergantung pada konteks kalimat. Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Pola kalimat dasar: 1)S - P : Orang itu sedang tidur. 5) S P O : Rani mendapat hadiah. 6) S P Pel : Pancasila merupakan dasar negara kita. 7) S P K : Kami tinggal di Jakarta. 8) S P O Pel : Dian mengambilkan adiknya air minum. 9) S P O K : Dian mengambil air minum di dapur. 10) S P O Pel K : Dian mengambilkan adiknya air minum di dapur. Jenis kalimat meliputi jenis kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Kalimat majemuk dibedakan kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat kalimat majemuk setara meliputi: 1) setara penambahan, 2) setara perlawanan, dan setara memilih. Kalimat majemuk bertingkat mencakupi: 1) hubungan waktu, 2) hubungan syarat, 3) hubungan pengandaian, 4) hubungan tujuan, 5) hubungan konsesif, 6) hubungan perbandingan, 7) hubungan penyebaban, 8) hubungan hasil, 9) hubungan alat, 10) hubungan komplementasi, 11) hubungan perbandingan, dan 12) hubungan oktatif. Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang tidak melebihi batas fungsi. Frasa ada dua macam yaitu frasa endosentrik dan frasa eksosentrik. Frasa endosentrik ada 3 macam yaitu: 1) endosentrik atributif, 2) endosentrik koordinatif, 3) endosentrik apositif. 122

Makna adalah arti kata yang sudah berfifat tertentu, yaitu yang terdapat di dalam konteks kalimat tertentu atau di dalam konteks situasi tertentu. Misalnya kata berjalan . Kata itu mempunyai arti yang bersifat tetap (bergerak dari suatu posisi ke posisi lain, pada umumnya dengan anggota badan tertentu, namun dengan alat apa dan bagaimana itu sebenarnya tidak terlalu hakiki). Pembicaraan semantik mencakupi: 1) penunjukan, 2) tipe arti, 3) metode analisis komponen, 4) sinonim, 5) antonim, 6) polisemi,homonim, homograf, homofon, 7) hiponim, 8) perubahan makna, dan 9) metafora. Aliran atau tata bahasa tradisional mempunyai ciri pembeda sebagai berikut: 1)Tidak ada pengenalan akan perbedaan-perbedaan antara bahasa ujaran dan bahasa tulisan, 2) Pemerian bahasa berdasarkan/memakai patokan-patokan bahasa Latin, 3) Menghakimi penggunaan bahasa dengan vonis benar-salah, 4) Memberikan pemerian atau memutuskan persoalan kebahasaan seringkali melibatkan logika, 5) Cenderung menggandrungi atau bahkan mempertahankan penemuan-penemuan terdahulu, 6) Memberikan pemerian bahasa dengan berdasarkan pada satu bentuk bahasa yang sangat disukainya yaitu bahasa tulisan baku (standardised written form), dan 7) Menurunkan definisi yang mengaburkan. Kesan umum Ferdinand de Saussure didapat bahwa buku Course de Linguistique Generale mempunyai sejumlah pandangan yang bahkan sampai sekarang masih tetap penting untuk diketahui, dikaji, serta dibicarakan manfaat tidaknya, yang berupa dikotomi-dikotomi, seperti (1) sinkronik vs diakronik, (2) la langue vs la parole, (3) signifikan vs signifi, (4) paradigmatik vs sintagmatik, dan (5) bentuk vs substansi. Kesan umum didapat bahwa buku itu mempunyai sejumlah pandangan yang bahkan sampai sekarang masih tetap penting untuk diketahui, dikaji, serta dibicarakan manfaat tidaknya, yang berupa dikotomi-dikotomi, seperti (1) sinkronik vs diakronik, (2) la langue vs la parole, (3) signifikan vs signifi, (4) paradigmatik vs sintagmatik, dan (5) bentuk vs substansi. Dalam pembicaraan tentang ilmu bahasa fungsional, kita tidak dapat memisahkan diri dari dua orang tokohnya, yakni Roman Jakobson dan Andre Martinet. Berikut ini akan disajikan kedua tokoh itu dengan gagasan mereka. Roman Jakobson adalah seorang ahli waris yang sangat penting dari Aliran Praha. Gagasan fungsi bahasa, yang merupakan ciri khas Aliran Praha, menempati kedudukan penting karya-karya Jakobson. Jakobson tidak hanya memasukkan unsurunsur yang istimewa, tetapi ia juga memasukkan fungsi aktivitas bahasa itu sendiri. Hal yang baru, di samping identifikasi dari akustik ciri distingtif, ialah oposisi dwimatra yang dapat dipakai untuk menganalisis semua sistem fonologi yang dikenal. Oposisi dwimatra itu secara hipotetik menampilkan kesemestaan bahasa. Tokoh yang meneruskan aliran fungsional ialah Andre Martinet. Martinet mempunyai minat yang beragam dalam dunia ilmu bahasa, yang saling menunjang: fonologi deskriptif, fonologi diakronik, sintaksis, linguistik umum. Tokoh aliran transformasi adalah Noam Comsky. Chomsky adalah seorang guru besar linguistikdi MIT (Massachusetts Intsitut of Technologi), yang merupakan murid Z.S. Harris. Buku pertama Sintactic Strcture berisi: 1) Phrase strukture 2) Transformasi 3) Morfofonemik. Buku kedua Aspect of The Theory of Syntax berisi: 1) Nomor satu dan dua masuk bidang sintaksis yang terdiri dari (a) pola kalimat dasar, dan (b) transformasi 2) Fonologi 3) Semantik.

123

F. Daftar Pustaka Alisyahbana, Sutan Takdir. 1978. Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia. Jakarta: Dian Rakyat. Alwi, Hasan.2000. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka. Bloch, Bernard, and George L. Trager. 1942. Outline of Linguistics. Amerika: Baltimore. Djajasudarma, T.Fatimah. 1993. Semantik 1 dan 2. Bandung: PT Eresco. Kentjono, Djoko. 1984. Dasar-dasar Linguistik Umum. Jakarta: Fakultas Sastra Indonesia. Keraf, Gorys. 1978. Tata Bahasa Indonesia. Ende: Nusan Indah. Kridalaksana, Harimurti. 1984. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia. -----------, 1987. Tata Bahasa Deskriptif Bahasa Indonesia I Sintaksis. Jakarta:: Pusat Pembinaan dan Pengambangan Bahasa. ------------, 1988. Tata Bahasa Deskriptif Bahasa Indonesia II Morfologi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. M.Ramlan.1981. Ilmu Bahasa Indonesia : Sintaksis. Yogyakarta : CV. Karyono. ------------, 1985. Morfologi Suatu Rinjauan Deskriptif. Yogyakarta: UP Karyono. Marsono. 1986. Fonetik. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Parera, Jos Daniel. 1983. Pengantar Linguistik bidan Fonetik dan Fonemik. Ende: Nusa Indah. ------------, 1990. Semantik. Jakarta: Erlangga. Samsuri. 1978. Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga. Saussure, de Ferdinand. 1988. Pengantar Linguistik Umum. Terjemahan. Yogyakarta: Gadjah Mada Univerty Press. Ssubroto, D.Edi. 1993. Semantik Leksikal I dan II. Surakarta: Universitas Sebelas Maret. Sulaiman, Syaf E. 1973. Pengantar Linguistik I. Yogyakarta: Swadaya. __________. 1975. Pengantar Linguistik dalam Fonologi dan Proses Penguasaan Fonemis. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta.

124

BAB III LINGUISTIK MAKRO


3.1. Tujuan Pembelajaran Tujuan mempelajari materi ini adalah: 3.1.1 Mendeskripsikan konsep sosiolinguistik 3.1.2 Mendeskripsikan konsep psikolinguistik 3.1.3 Mendeskripsikan konsep pragmatik 3.2. Paparan Materi Dewasa ini penyelidikan tentang bahasa dengan berbagai aspeknya dilakukan orang dengan sangat intensif, sehingga linguistik berkembang dengan sangat pesat, sangat luas, dan sangat mendalam. Sebagai ilmu, linguistik juga sudah mempunyai subdisiplin atau cabang-cabang berkenaan dengan adanya hubungan disiplin itu dengan masalah-masalah lain. Pencabangan itu diadakan karena objek yang menjadi kajian disiplin ilmu itu sangat luas karena perkembangan dunia ilmu. Berdasarkan objek kajiannya, subdisiplin linguistik dapat dibedakan atas dua, yaitu: (a) linguistik mikro (mikrolinguistik) dan (b) linguistik makro (makrolinguistik). Linguistik mikro mengarahkan kajiannya pada struktur internal suatu bahasa tertentu atau struktur internal bahasa pada umumnya. Sedangkan linguistik makro menyelidiki bahasa dalam hubungannya dengan faktor-faktor di luar bahasa atau faktor eksternal. Faktor eksternal tersebut seperti: faktor sosial, psikologi, etnis, seni, dan sebagainya. Pada kesempatan ini hanya akan dibahas seputar linguistik makro. Tuntutan kebutuhan dalam kehidupan dewasa ini telah menyebabkan perlunya dilakukan kajian bersama antara dua disiplin ilmu atau lebih. Karena banyaknya masalah yang terdapat di luar bahasa, maka subdisiplin linguistik makro itu pun menjadi sangat banyak; di antaranya kita dapati subdisiplin sosiolinguistik, psikolinguistik, pragmatik, stilistika, antropolinguistik, etnolinguistik, filologi, dialektologi, filsafat bahasa, neurolinguistik, dan sebagainya. Kajian linguistik yang bersifat antardisiplin ini selain untuk merumuskan kaidahkaidah teoretis antardisiplin, juga bersifat terapan. Artinya, hasilnya dapat digunakan untuk memecahkan dan mengatasi masalah-masalah yang ada di dalam kehidupan praktis kemasyarakatan. Berbeda dengan kajian secara internal yang terutama hanya menyusun atau teori linguistik murni. Dalam hal ini, tentu saja sebelum seseorang terjun dalam kegiatan kajian eksternal yang antardisiplin itu, dia terlebih dahulu harus menggeluti kajian internal linguistik itu. Tanpa pemahaman yang cukup mengenai kajian internal, seseorang tentu akan mendapat kesulitan, bahkan mungkin tidak akan dapat melakukan kajian secara eksternal tersebut. Pembicaraan linguistik makro pada kesempatan ini akan difokuskan pada sosiolinguistik, psikolinguistik, dan pragmatik. 3.2.1. Sosiolinguistik Sosiolinguistik merupakan gabungan antara disiplin sosiologi dan disiplin linguistik, dua bidang ilmu empiris yang mempunyai kaitan yang erat. Untuk memahami sosiolinguistik lebih lanjut, perlu dipahami terlebih dahulu batasan sosiologi dan batasan linguistik. Sosiologi berusaha mengetahui terjadinya masyarakat berlangsung dan tetap ada. Dengan mempelajari lembaga-lembaga sosial dan segala masalah sosial dalam suatu masyarakat akan diketahui cara-cara manusia menyesuaikan diri dengan lingkungannya, cara bersosialisasi, dan cara menempatkan diri di dalam masyarakat. Sedangkan linguistik adalah ilmu yang mempelajari tentang bahasa atau ilmu yang menjadikan bahasa sebagai objek kajiannya. Dengan demikian dapat

125

disimpulkan bahwa sosiolinguistik adalah bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan pemakaian bahasa di dalam masyarakat. Pembahasan di bidang sosiolinguistik ini akan dibatasi pada dua hal, yaitu: a) variasi bahasa dan b) peristiwa kontak bahasa. A. Variasi Bahasa Di dalam masyarakat, seseorang tidak lagi dipandang sebagai individu yang terpisah dari yang lain. Ia merupakan anggota dari kelompok sosialnya. Oleh sebab itu, bahasa dan pemakaian bahasanya tidak diamati secara individual, tetapi selalu dihubungkan dengan kegiatannya di dalam masyarakat. Atau dengan kata lain, bahasa tidak saja dipandang sebagai gejala individual, tetapi juga merupakan gejala sosial. Sebagai gejala sosial, bahasa dan pemakaian bahasa tidak hanya ditentukan oleh faktor-faktor linguistik, tetapi juga oleh faktor-faktor nonlinguistik, yaitu: (a) faktor sosial, misal: status sosial, tingkat pendidikan, umur, tingkat ekonomi, jenis kelamin, dan sebagainya dan (b) faktor situasional, misal: siapa berbicara dengan bahasa apa, kepada siapa, kapan, di mana, dan mengenai masalah apa. Adanya faktor-faktor sosial dan faktor-faktor situasional yang mempengaruhi pemakaian bahasa, maka timbullah variasi bahasa. Variasi bahasa yaitu bentuk-bentuk bagian atau varian dalam bahasa yang masing-masing memiliki pola-pola yang menyerupai pola umum bahasa induknya (Poedjosoedarmo, 1976:2). Adapun wujud variasi bahasa itu dapat ditinjau dari bermacam-macam segi, antara lain: segi penutur, segi pemakaian, segi keformalan, dan segi sarana. Berikut penjelasan masing-masing segi. 1) Variasi Bahasa dari Segi Penutur (a) Idiolek Idiolek adalah sifat-sifat khusus (karakteristik) pemakaian bahasa perseorangan. Setiap penutur mempunyai sifat-sifat khas yang tidak dimiliki oleh penutur yang lain. Sifat-sifat khas seperti itu disebabkan karena faktor fisik maupun faktor psikis. Sifatsifat khas yang disebabkan oleh faktor fisik, misalnya karena perbedaan bentuk atau kualitas alat-alat tutur (bibir, gigi, lidah, selaput suara, rongga mulut, rongga hidung, dan sebagainya). Sedangkan sifat-sifat psikis biasanya disebabkan antara lain: perbedaan watak, temperamen, intelegensi, sikap mentalnya, maupun yang lain. Baik faktor fisik maupun faktor psikis mengakibatkan sifat khas pula dalam tuturannya. Idiolek dapat berkenaan pula dengan warna suara, pilihan kata, gaya bahasa, susunan kalimat, dan sebagainya. Yang paling dominan adalah warna suara, jika kita cukup akrab dengan seseorang, hanya dengan mendengar suara tanpa melihat orangnya, kita sudah dapat mengenalinya. (b) Dialek Sekelompok penutur merupakan anggota masyarakat dari daerah tertentu atau khas sosial tertentu. Perbedaan latar belakang asal daerah atau kelas sosial penutur seperti itu menimbulkan variasi dalam pemakaian bahasanya. Variasi yang timbul karena perbedaan asal daerah penuturnya disebut dialek geografis, atau dialek areal, atau dialek regional. Misal: bahasa Jawa dialek Banyumas, bahasa Jawa dialek Yogyakarta-Surakarta, bahasa Jawa dialek Surabaya, dan lainnya. Variasi yang disebabkan oleh perbedaan status, golongan, dan kelas sosial penuturnya disebut dialek sosial atau sosiolek. Variasi ini menyangkut semua masalah pribadi para penuturnya, seperti: umur, pendidikan, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat kebangsawanan, keadaan sosial ekonomi, dan sebagainya. Berdasarkan hal tersebut kita bisa melihat perbedaan variasi bahasa yang digunakan seorang penutur atau mitra tutur.

126

Variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial pada masa tertentu disebut dialek temporal atau kronolek. Umpamanya, variasi bahasa Indonesia pada masa tahun 30-an, variasi yang digunakan tahun 50-an, dan variasi yang digunakan pada masa kini. Di dalam masyarakat tutur yang masih mengenal tingkat-tingkat kebangsawanan dapat kita lihat variasi bahasa yang berkenaan dengan tingkat-tingkat kebangsawanan itu, yang disebut dengan undak-usuk (bahasa Jawa) atau sor singgih (bahasa Bali). Undak-usuk ini menyebabkan penutur dari masyarakat tutur tersebut perlu mengetahui lebih dahulu kedudukan tingkat sosialnya terhadap mitra tuturnya. Adakalanya mudah, tetapi seringkali tidak mudah. Sebab seseorang mungkin lebih tinggi status sosialnya terhadap mitra tuturnya, tetapi lebih muda usianya. Atau mungkin lebih tua usianya, tetapi lebih muda menurut hierarkhi perkerabatannya, dan sebagainya. Ditambah dengan adanya semacam kode etik untuk tidak menyebut dirinya dengan tingkat bahasa tinggi, maka masalah ketepatan pemilihan variasi sesuai dengan status sosialnya ini menjadi cukup rumit dalam pemakaian bahasa tersebut. Sehubungan dengan variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan, dan kelas sosial para penuturnya; biasanya orang mengemukakan variasi bahasa yang disebut akrolek, basilek, vulgar, slang, kolokial, jargon, argon, dan ken. Akrolek adalah variasi sosial yang dianggap lebih tinggi atau lebih bergengsi daripada variasi sosial lainnya. Sebagai contoh: bahasa bagongan yaitu variasi bahasa Jawa yang khusus digunakan oleh para bangsawan kraton Jawa; bahasa Perancis dialek kota Paris dianggap lebih tinggi derajatnya daripada dialek-dialek Perancis lainnya; dewasa ini tampaknya dialek Jakarta cenderung semakin bergengsi sebagai salah satu ciri kota metropolitan, sebab para remaja di daerah yang pernah ke Jakarta merasa bangga bisa berbicara dalam dialek Jakarta. Basilek adalah variasi sosial yang dianggap kurang bergengsi, atau bahkan dianggap rendah. Bisa dicontohkan: bahasa Inggris yang digunakan oleh para cowboy dan kuli tambang, bahsa Jawa krama ndesa, dan yang lain. Vulgar adalah variasi sosial yang ciri-cirinya tampak pemakaian bahasa oleh mereka yang kurang terpelajar, atau dari kalangan mereka yang tidak berpendidikan. Pada zaman Romawi sampai zaman pertengahan bahasa-bahasa di Eropa dianggap sebagai bahasa vulgar sebab pada waktu itu para golongan intelek menggunakan bahasa Latin dalam segala kegiatan mereka. Slang adalah variasi sosial yang bersifat khusus dan rahasia. Artinya, variasi ini digunakan oleh kalangan tertentu yang sangat terbatas, dan tidak boleh diketahui oleh kalangan di luar kelompok itu. Kosakata yang digunakan dalam slang itu selalu berubah-ubah. Slang bersifat temporal dan lebih umum digunakan oleh kaum muda. Bahasa prokem dapat dikategorikan sebagai slang. Kolokial adalah variasi sosial yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Kolokial berarti bahasa percakapan, bukan bahasa tulis, tidak tepat pula jika disebut bahasa kampungan atau bahasa kelas golongan bawah, sebab yang penting adalah konteks dalam pemkaiannya. Bentuk-bentuk kolokial seperti: dok (untuk dokter), prof (untuk profesor), ndak ada (untuk tidak ada), dan lain sebagainya. Jargon adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh kelompokkelompok sosial tertentu. Ungkapan yang digunakan seringkali tidak dapat dipahami oleh masyarakat umum atau masyarakat di luar kelompoknya. Namun, ungkapanungkapan tersebut tidak bersifat rahasia. Umpamanya, dalam kelompok perbengkelan, seperti: roda gila, didongkrak, dices, dibalans, dipoles. Argot adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas pada profesi-profesi tertentu dan bersifat rahasia. Letak kekhususan argot adalah pada kosakata. Umapamanya; dalam dunia kejahatan pernah digunakan ungkapan seperti barang dalam arti mangsa, kacamata dalam arti polisi, daun dalam arti uang, gemuk dalam arti mangsa besar, tape dalam arti mangsa yang empuk. 127

Yang dimaksud dengan ken adalah variasi sosial tertentu yang bernada memelas, dibuat merengek-rengek, penuh dengan kepura-puraan. Biasanya digunakan oleh para pengemis. 2) Variasi Bahasa dari Segi Pemakaian Variasi bahasa berkenaan dengan pemakaian, atau penggunaannya, atau fungsinya disebut fungsiolek, ragam, atau register. Variasi ini biasanya dibicarakan berdasarkan bidang penggunaan, gaya, atau tingkat keformalan, dan sarana penggunaan. Variasi bahasa berdasarkan bidang pemakaian menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang tertentu (sastra, jurnalistik, militer, pertanian, dan lain-lain). Ciri yang tampak dalam variasi ini adalah dalam bidang kosakata. Variasi bahasa berdasarkan fungsi lazim disebut register. Atau, register adalah variasi bahasa yang disebabkan oleh sifat-sifat khas kebutuhan pemakaiannya. Bisa kita perhatikan berbagai jenis tulisan dalam surat kabar. Masing-masing jenis tulisan itu menggunakan pengungkapan bahasa yang berbeda sesuai dengan sifat-sifat khas kebutuhan pemakaiannya. Pemakaian bahasa berita lain dengan bahasa iklan, bahasa iklan berbeda dengan bahasa tajuk, bahasa tajuk lain dengan bahasa pojok, bahasa pojok lain pula dengan bahasa artikel, dan sebagainya. 3) Variasi dari Segi Keformalan Berdasarkan tingkat keformalan, variasi bahasa dapat dibagi atas lima, yaitu: ragam beku (frozen), ragam resmi (formal), ragam usaha (konsultatif), ragam santai (casual), dan ragam akrab (intimate). Ragam beku adalah variasi bahasa yang paling formal, yang digunakan dalam situasi-situasi khidmat dan upacara-upacara resmi (upacara kenegaraan, khotbah, tata cara pengambilan sumpah, kitab undang-undang, akta notaris, dan surat-surat keputusan). Disebut ragam beku karena pola dan kaidahnya sudah ditetapkan secara mantap dan tidak boleh diubah. Ragam resmi adalah variasi bahasa yang digunakan dalam pidato kenegaraan, rapat dinas, surat-menyurat dinas, ceramah keagamaan, buku-buku pelajaran, dan sebagainya. Pola dan kaidah ragam resmi sudah ditetapkan secara mantap sebagai suatu standar. Ragam resmi ini pada dasarnya sama dengan ragam bahasa baku yang digunakan dalam situasi resmi dan bukan dalam situasi tidak resmi. Ragam usaha adalah variasi bahasa yang lazim digunakan dalam pembicaraan biasa di sekolah dan rapat-rapat atau pembicaraan yang berorientasi kepada hasil atau produksi. Dapat dikatakan, ragam usaha ini adalah ragam bahasa yang paling operasional. Wujud ragam usaha berada di antara ragam formal dan ragam informal atau santai. Ragam santai adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi tidak resmi untuk berbincang-bincang dengan keluarga atau teman karib pada waktu istirahat, berolah raga, berekreasi, dan sebagainya. Ragam santai ini banyak menggunakan bentuk alergo, yakni bentuk kata atau ujaran yang dipendekkan. Kosakatanya banyak dipenuhi unsur leksikal dialek atau bahasa daerah. Ragam akrab adalah variasi bahasa yang biasa digunakan oleh penutur dengan mitra tutur yang hubungannya sudah akrab. Ragam ini ditandai dengan penggunaan bahasa yang tidak lengkap, pendek-pendek, dan dengan artikulasi yang sering tidak jelas. 4) Variasi dari Segi Sarana Variasi bahasa dari segi sarana dapat dibedakan adanya ragam lisan dan ragam tulis. Adanya ragam lisan dan ragam tulis ini didasarkan pada kenyataan bahwa bahasa lisan dan bahasa tulis memiliki struktur yang tidak sama. Dalam penyampaian informasi secara lisan dibantu oleh unsur-unsur nonsegmental (nada suara, gerak128

gerik anggota tubuh, dan sejumlah gejala-gejala fisik lainnya); sedangkan dalam ragam tulis hal-hal yang disebutkan tadi tidak ada. Oleh karena itu, dalam menggunakan ragam tulis, usahakan kalimat-kalimat yang disusun dapat dipahami oleh pembaca secara mudah. B. Peristiwa Kontak Bahasa Peristiwa-peristiwa kebahasaan yang mungkin terjadi sebagai akibat adanya kontak bahasa antara lain: kedwibahasaan, diglosia, alih kode, campur kode, interferensi, integrasi, dan pergeseran bahasa. 1) Kedwibahasaan Kedwibahasaan (bilingualisme) diartikan sebagai penggunaan dua bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian. Untuk dapat menggunakan dua bahasa tentunya seseorang harus menguasai kedua bahasa itu. Orang yang dapat menggunakan dua bahasa itu disebut dwibahasawan (bilingual); sedangkan kemampuan untuk menggunakan dua bahasa disebut kedwibahasawanan (bilingualisme). Oksaar (1972:478) berpendapat bahwa tidak cukup membatasi kedwibahasaan hanya sebagai milik individu. Kedwibahasaan harus diperlakukan juga sebagai milik kelompok sebab bahasa tidak terbatas sebagai alat penghubung antarindividu, tetapi juga alat komunikasi antarkelompok. Bahkan bahasa sebagai alat untuk menegakkan kelompok dan alat untuk menunjukkan identitas kelompok. Ciri utama kedwibahasaan menurut Wolff (1974:5) adalah dipergunakannya dua bahasa atau lebih oleh seorang atau sekelompok orang, tetapi kedua bahasa itu tidak mempunyai peranan sendiri-sendiri di dalam masyarakat pemakai bahasa. Kepada siapapun mereka berbicara, di mana pun pembicaraan itu berlangsung, tentang masalah apa pun yang dibicarakan, dan dalam situasi bagaimana pun terjadi pembicaraan itu; kedua bahasa itu dapat dipergunakan. Pemilihan bahasa yang akan dipergunakan bergantung kepada kemampuan pembicara dan pendengarnya. Sebagai contoh keadaan demikian adalah yang terjadi di Montreal (Kanada). Di sana bahasa Inggris dan bahasa Perancis dipergunakan secara berdampingan dan sejajar karena hampir seluruh anggota masyarakat di daerah itu mengenal keduanya secara baik. Hal itu dimungkinkan karena peristiwa sejarah yang menjadikan daerah itu diduduki secara bersama oleh para imigran yang berasal dari Inggris dan Perancis. 2) Diglosia Diglosia adalah keadaan dua bahasa dipergunakan dalam masyarakat yang sama, tetapi masing-masing bahasa mempunyai fungsi atau peranannya sendirisendiri dalam konteks sosialnya. Seperti halnya kedwibahasaan, pengertian diglosia ini pun mengalami perkembangan. Hal ini tampak dari pernyataan Fishman (1975:73) yang mengemukakan bahwa diglosia dipergunakan untuk menyebut suatu masyarakat yang mengenal dua bahasa (lebih) untuk berkomunikasi di antara anggotanya. Karena baik kedwibahasaan maupun diglosia pada hakikatnya adalah peristiwa yang menyangkut pemakaian dua bahasa yang dipergunakan oleh seseorang atau sekelompok orang di dalam suatu masyarakat, maka antara keduanya tampak adanya hubungan timbal-balik yang mewarnai sifat masyarakat tuturnya. Dalam hubungan ini, Fishman (1975:7-88) menyebut empat jenis masyarakat tutur yang menunjukkan adanya hubungan seperti itu, yakni: (a) masyarakat tutur yang diglosik dan dwibahasawan ialah masyarakat tutur yang secara keseluruhan menggunakan dua bahasa sebagai alat komunikasinya, tetapi di dalam masyarakat tersebut kedua bahasa itu dipergunakan dengan fungsinya masing-masing. Contoh: di Paraguay dipergunakan dua bahasa, yaitu bahasa Guarani (bahasa penduduk asli, digunakan oleh para pekerja kasar) dan bahasa 129

Spanyol (bahasa peninggalan penjajahan; digunakan dalam lingkungan pendidikan, keagamaan, pemerintahan, perekonomian, teknologi, dan hal-hal lain yang bersifat resmi). Kedua bahasa itu dikenal baik oleh separoh penduduk negara itu dan dipergunakan sebagai alat komunikasi. (b) masyarakat tutur yang diglosik tetapi takdwibahasawan ditandai dengan adanya dua (lebih) masyarakat yang secara politis, ekonomis, dan atau religius dipersatukan ke dalam suatu kesatuan yang fungsional, meskipun perbedaan sosio-kultural tetap memisahkannya. Contoh: di Eropa sebelum Perang Dunia I terdapat dua masyarakat tutur, yaitu masyarakat orang elite Eropa yang biasa menggunakan bahasa tinggi dan masyarakat kebanyakan menggunakan bahasa yang lain. Dua masyarakat tersebut tidak pernah berinteraksi dan mereka tidak pernah membentuk satu masyarakat tutur. (c) masyarakat tutur yang dwibahasawan tetapi takdiglosik terdapat di dalam masyarakat yang menggunakan dua bahasa sebagai alat komunikasinya, sedangkan kedua bahasa itu tidak menunjukkan fungsi-fungsi tertentu dalam penggunaannya. Ini berarti, keduanya dapat dipakai untuk keperluan apa pun, di mana pun, kepada siapa pun, dan dalam situasi bagaimana pun. Sebagai contoh adalah masyarakat tutur di Montreal (Kanada). (d) masyarakat tutur yang takdwibahasawan dan takdiglosik; masyarakat yang seperti ini hanya sedikit, agak langka, dan tidak begitu jelas. 3. Alih Kode Alih kode adalah peristiwa peralihan dari kode yang satu ke kode yang lain. Di dalam suatu kode terdapat berbagai kemungkinan varian (varian resional, varian kelas sosial, ragam, gaya ataupun register); maka peristiwa alih kode mungkin berwujud alih varian, alih ragam, alih gaya, atau alih register. Sebagai contoh peristiwa alih kode dapat diperhatikan dialog antara pembeli dan penjual yang berlatar belakang budaya Jawa berikut ini. Pembeli : Daster, to iki? Ini daster ya? Penjual : Ya daster, ya rok. Ya daster, ya rok. Pembeli : Pinten niki? Berapa ini? Penjual : Niku sekawan dasa ewu. Itu empat puluh ribu. Pembeli : Kalau yang ini berapa Bu? Penjual : Itu lima puluh ribu. Dua kalimat terakhir dari dialog di atas, yaitu Kalau yang ini berapa Bu? dan Itu lima puluh ribu merupakan contoh alih kode. Sebelumnya, antara pembeli dan penjual menggunakan bahasa Jawa, kemudian si pembeli beralih kode ke bahasa Indonesia dan penjual pun mengimbanginya. Soewito (1983:69) membedakan adanya dua macam alih kode, yaitu: (a) alih kode intern yaitu alih kode yang terjadi antarbahasa-bahasa daerah dalam satu bahasa nasional, antardialek-dialek dalam satu bahasa daerah, atau antarbeberapa ragam dan gaya yang terdapat dalam satu dialek dan (b) alih kode ekstern yaitu alih kode yang terjadi antara bahasa asli dengan bahasa asing. Dalam praktiknya mungkin saja dalam suatu peristiwa tutur terjadi alih kode intern dan alih kode ekstern secara beruntun, apabila fungsi kontekstual dan situasi relevansialnya dinilai oleh penutur cocok untuk melakukan.

130

Alih kode merupakan peristiwa kebahasaan yang disebabkan oleh faktor-faktor luar bahasa, terutama faktor-faktor yang sifatnya sosio-situasional. Beberapa faktor yang merupakan penyebab terjadinya alih kode antara lain: (a) Pembicara atau penutur (O1) Seorang penutur kadang-kadang dengan sadar berusaha beralih kode terhadap mitra tutur karena suatu maksud. (b) Pendengar atau mitra tutur (O2) Setiap penutur pada umumnya ingin mengimbangi bahasa yang dipergunakan oleh mitra tuturnya. (c) Hadirnya orang ketiga (O3) Dua orang yang berasal dari kelompok etnik yang sama pada umumnya saling berinteraksi dengan bahasa kelompok etniknya. Tetapi jika kemudian hadir orang ketiga dalam pembicaraan itu dan orang itu berbeda latar kebahasaannya, biasanya dua orang tadi beralih kode ke bahasa yang dikuasai oleh ketiganya. (d) Pokok pembicaraan Pokok pembicaraan merupakan faktor yang termasuk dominan dalam menentukan terjadinya alih kode. (e) Untuk membangkitkan rasa humor Alih kode untuk membangkitkan rasa humor ini bisa dicontohkan: pada kegiatan belajar yang mulai lesu, guru menyegarkan suasana dengan memunculkan humor; pada saat rapat, untuk mengurangi ketegangan yang mulai timbul pimpinan rapat menghadirkan humor; dan lain sebagainya. (f) Untuk sekadar gengsi. Seorang penutur kadang beralih kode hanya untuk sekadar gengsi. Padahal baik faktor sosio-situasional sebenarnya tidak mengharuskan dia untuk beralih kode. 4) Campur Kode Thelander (1976:103) menyatakan apabila dalam suatu tuturan terjadi percampuran atau kombinasi antara variasi-variasi yang berbeda di dalam satu klausa yang sama, maka peristiwa itu disebut campur kode. Seperti halnya alih kode, campur kode juga dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: a) campur kode intern dan b) campur kode ekstern. Latar belakang terjadinya campur kode pada dasarnya dapat dikategorikan menjadi dua tipe, yaitu: a) tipe yang berlatar belakang pada sikap dan b) tipe yang berlatar belakang kebahasaan. Atas dasar latar belakang sikap dan kebahasaan yang saling bergantung dan bertumpang tindih seperti itu dapat diidentifikasi beberapa alasan atau penyebab terjadinya campur kode, yaitu: (a) identifikasi peranan, (b) identifikasi ragam, dan (c) keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Berdasarkan unsur-unsur kebahasaan yang terlibat di dalamnya, campur kode dapat dibedakan menjadi beberapa macam, antara lain: (a) Penyisipan unsur-unsur yang berwujud kata Contoh: Mangka seringkali sok ada kata-kata seolah-olah bahasa daerah itu kurang penting. (b) Penyisipan unsur-unsur yang berwujud frasa Contoh: Karena saya sudah kadhung apik dengan dia, ya tak teken saja. (c) Penyisipan unsur-unsur yang berwujud bentuk baster Contoh: Hendaknya segera diadakan hutanisasi kembali. (d) Penyisipan unsur-unsur yang berwujud pengulangan kata Contoh: Sejak tadi hanya tonya-tanya saja kerjamu! (e) Penyisipan unsur-unsur yang berwujud ungkapan atau idiom Contoh: Hindari cara kerja alon-alon waton kelakon. 131

(f) Penyisipan unsur-unsur yang berwujud klausa Contoh: Pemimpin yang bijaksana selalu bertindak ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. 5) Interferensi Interferensi dianggap sebagai gejala tutur, hanya terjadi pada dwibahasawan dan peristiwanya dianggap sebagai penyimpangan. Interferensi dianggap sebagai sesuatu yang tidak perlu terjadi karena unsur-unsur serapan itu sebenarnya sudah ada padanannya (persamaannya) dalam bahasa penyerap, sehingga cepat atau lambat sesuai dengan perkembangan bahasa penyerap, diharapkan makin berkurang atau sampai batas paling minim. Dalam proses interferensi terdapat tiga unsur mengambil peranan, yaitu: (a) bahasa sumber (bahasa donor), (b) bahasa penyerap (resipien), dan (c) unsur serapan (importasi). Dalam peristiwa kontak bahasa mungkin sekali pada suatu peristiwa suatu bahasa merupakan bahasa donor, sedangkan pada peristiwa lain bahasa tersebut merupakan bahasa penyerap. Saling serap merupakan peristiwa umum dalam kontak bahasa. Interferensi dapat terjadi dalam semua tataran kebahasaan, yaitu: (a) fonologi, contoh: mBandung, nJepara, nDeli, dan sebagainya (b) morfologi, contoh: kemahalan, sungguhan, ketabrak, dan sebagainya. (c) sintaksis, contoh: Rumahnya ayahnya Vian bagus sendiri di kampung ini merupakan terjemahan kalimat bahasa Jawa Omahe bapake Vian apik dhewe neng kampung iki. (d) semantik, contoh: sarat yang berarti penuh sering dipertukarkan dengan syarat yang berarti ketentuan. 6) Integrasi Integrasi terjadi apabila unsur serapan dari suatu bahasa telah dapat menyesuaikan diri dengan sistem bahasa penyerapnya, sehingga pemakaiannya telah menjadi umum karena tidak lagi terasa keasingannya. Contoh: istilah yang berasal dari bahasa Belanda seperti: voorloper, zuursak, dan chauffeur berturut-turut dalam bahasa Indonesia menjadi pelopor, sirsak, dan sopir. Haugen (1972:477) menafsirkan integrasi sebagai kebiasaan memakai materi dari suatu bahasa ke dalam bahasa yang lain. Kebiasaan yang telah menjadi umum seperti itu terjadi karena unsur tersebut telah terserap dalam waktu yang cukup lama atau belum lama waktu terserapnya tetapi sangat diperlukan karena belum ada padanannya dalam bahasa yang bersangkutan. Proses penyesuaiannya biasanya tidak terjadi sekaligus. Sebelum unsur serapan itu benar-benar berintegrasi dalam bahasa penyerapnya, biasanya terjadi beberapa bentuk ganda sebagai akibat perbedaan tuturan perseorangan baik secara fonemik maupun secara morfemik. Penyerapan unsur asing dalam rangka pengembangan bahasa Indonesia bukan hanya melalui penyerapan kata asing itu yang disertai dengan penyesuaian lafal dan ejaan, tetapi banyak pula dilakukan dengan cara: (a) Penerjemahan langsung yaitu kosakata itu dicarikan padanannya dalam bahasa Indonesia. Contoh: airport menjadi bandar udara, paardekracht menjadi tenaga kuda, dan lain sebagainya. (b) Penerjemahan konsep yaitu kosakata asing itu diteliti baik-baik konsepnya lalu dicarikan kosakata bahasa Indonesia yang konsepnya dekat dengan kosakata asing tersebut. Contoh: begroting post menjadi mata anggaran, network menjadi jaringan, dan lain sebagainya. 7) Pergeseran Bahasa Pergeseran bahasa (language shift) menyangkut masalah penggunaan bahasa oleh seorang penutur atau sekelompok penutur yang bisa terjadi sebagai akibat perpindahan dari satu masyarakat tutur ke masyarakat tutur lain. Pendatang atau 132

kelompok pendatang ini untuk keperluan komunikasi mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan menanggalkan bahasanya sendiri, kemudian menggunakan bahasa masyarakat tutur setempat. Pergeseran bahasa biasanya terjadi di negara, atau daerah, atau wilayah yang memberi harapan untuk kehidupan sosial ekonomi yang lebih baik, sehingga mengundang imigran atau transmigran untuk mendatanginya. 3.2.2 Psikolinguistik Psikolinguistik merupakan gabungan disiplin psikologi dan linguistk, yakni dua bidang ilmu yang berbeda, yang masing-masing berdiri sendiri, dengan prosedur dan metode yang berlainan. Namun, keduanya sama-sama meneliti bahasa sebagai objek formalnya. Hanya objek materialnya yang berbeda. Objek psikologi adalah gejala jiwa dan objek linguistik adalah bahasa. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa objek psikolinguistik adalah bahasa juga, tetapi bahasa yang berproses dalam jiwa manusia yang tercermin dalam gejala jiwa. Dengan kata lain, bahasa yang dilihat dari aspekaspek psikologis. Psikolinguistik mencoba menguraikan proses-proses psikologi yang berlangsung jika seseorang mengucapkan kalimat-kalimat yang didengarnya pada waktu berkomunikasi dan kemampuan berbahasa itu diperoleh oleh manusia. Lebih lanjut Hartley (1982:16) menyatakan bahwa psikolinguistik membahas hubungan bahasa dengan otak dalam memproses dan menghasilkan ujaran-ujaran dalam pemerolehan bahasa. Orang yang sedang marah akan lain perwujudan bahasa yang digunakan dengan orang yang sedang bergembira. Titik berat psikolinguistik adalah bahasa, bukan gejala jiwa. Dengan mencoba menganalisis objek linguistik dan objek psikologi serta titik berat kajian psikolinguistik dapat ditarik simpulan bahwa ruang lingkup psikolinguistik mencoba memerikan bahasa dilihat dari aspek-aspek psikologi dan hal-hal yang dapat dipikirkan oleh manusia. Topik-topik penting yang akan dipaparkan pada kesempatan ini adalah: a) proses bahasa dalam komunikasi dan pikiran, b) pemerolehan bahasa, dan c) gangguan berbahasa. B. Proses Bahasa dalam Komunikasi dan Pikiran Bahasa yang digunakan dalam proses komunikasi sebenarnya melalui suatu proses yang disebut proses bahasa. Proses bahasa itu dapat dibagi atas tiga bagian, yakni: 1) proses ketika masih berada di dalam jati diri seseorang, 2) berada di lingkungan, dan 3) berada di dalam jati diri pendengar.
proses pada pembicara proses pada lingkungan proses pada pendengar

Dalam kaitan dengan proses bahasa, Moulton (dalam Pateda, 1990:28) mengemukakan sebelas tahap yang dilalui oleh bunyi bahasa dari pembicara kepada pendengar. Tahapan tersebut adalah: (1) membuat kode semantis, (2) membuat kode gramatikal, (3) membuat kode fonologis, (4) perintah otak, (5) gerakan alat ucap, (6) bunyi berupa getaran, 133

(7) perubahan gerakan melalui telinga pendengar, (8) getaran diteruskan ke otak, (9) pemecahan kode fonologis, (10) pemecahan kode gramatikal, dan (11) pemecahan kode semantis. Dari sebelas tahap tersebut, hanya dua tahap yang dapat dihayati wujudnya, yakni tahap (5) dan tahap (6). Tahap-tahap lain berada di dalam jati diri pembicara atau pendengar. Dikaitkan dengan kajian psikolinguistik, maka proses (1)-(4) dan (7)(11) termasuk lingkupan kajian psikolinguistik. Proses yang terjadi berlangsung dengan cepat, otomatis, dan sempurna. Kata-kata yang memuat konsep pesan pembicara keluar dengan cepat seolah-olah tanpa dipikir lagi. Perhatikan orang yang sedang berpidato atau memberikan ceramah tanpa teks. Dalam hubungan seperti ini sangat diperlukan pengetahuan pembicara tentang: (a) sejumlah kosa-kata dengan makna dan penggunaannya, (b) kaidah bahasa yang digunakan, (c) situasi yang mempengaruhi, (d) keadaan pembicara, dan (e) saling mengerti antara pembicara dengan pendengar. B. Pemerolehan Bahasa Pemerolehan bahasa (language acquisition) adalah proses yang berlangsung di dalam otak seorang kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa biasanya dibedakan dari pembelajaran bahasa (language learning). Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang kanak-kanak mempelajari bahasa kedua, setelah dia memperoleh bahasa pertamanya. Berkaitan dengan pemerolehan bahasa dan pembelajaran bahasa akan diuraikan hal-hal sebagai berikut: 1) teori pemerolehan bahasa, 2) tahap-tahap pemerolehan bahasa (B1), dan 3) pembelajaran bahasa (B2). 1) Teori Pemerolehan Bahasa Terdapat tiga teori pemerolehan bahasa, yaitu: (a) teori behavioristik, (b) teori nativistik, dan (c) teori kognitif. Menurut pandangan kaum behavioristik (kaum empiris), tidak ada struktur linguistik yang dibawa anak sejak lahir. Anak yang lahir dianggap kosong dari bahasa, anak yang lahir tidak membawa kapasitas atau potensi bahasa. Pengetahuan dan keterampilan berbahasa diperoleh melalui pengalaman dan proses belajar. Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh Skinner bahwa anak-anak memperoleh bahasa melalui hubungan dengan lingkungan, dalam hal ini dengan cara meniru. Bagi kaum nativistis, proses pemerolehan bahasa bukan karena hasil proses belajar, tetapi karena sejak anak lahir ia telah memiliki sejumlah kapasitas atau potensi yang akan berkembang sesuai dengan proses kematangan intelektualnya. Chomsky, pelopor kaum nativistis beranggapan bahwa setiap anak yang lahir telah dibekali dengan perangkat pemerolehan bahasa atau language acquisition device (LAD). Teori kognitif yang dipelopori oleh Jean Piaget menekankan hasil kerja mental, hasil pekerjaan yang nonbehavioris. Proses-proses mental dibayangkan sebagai yang secara kualitatif berbeda dari tingkah laku yang dapat diobservasi. Titik awal teori kognitif adalah anggapan terhadap kapasitas kognitif anak dalam menemukan struktur di dalam bahasa yang ia dengar di sekelilingnya.Baik pemahaman dan produksi serta komprehensi bahasa pada anak dipandang sebagai hasil proses kognitif yang secara terus-menerus berkembang dan berubah. Jadi, stimulus merupakan masukan bagi anak yang kemudian berproses dalam otak. Pada otak ini terjadi mekanisme internal yang diatur oleh pengatur kognitif yang kemudian keluar sebagai hasil pengolahan kognitif tadi.

134

2) Tahap-tahap Pemerolehan Bahasa (B1) Ada sebagian ahli membagi tahap pemerolehan bahasa ke dalam tahap pralinguistik dan tahap linguistik. Tahap pralinguistik yakni berupa keluarnya bunyibunyi seperti tangisan dan rengekan yang dikendalikan oleh rangsangan yakni respon otomatis anak pada rangsangan lapar, sakit, keinginan untuk digendong, dan perasaan senang. Pada tahap linguistik terdiri dari: (a) Tahap pengocehan (babbling stage), kira-kira anak berumur enam bulan. Ia mulai meraban (mengoceh), ia mulai mengucapkan sejumlah besar bunyi ujar yang sebagian besar tidak bermakna dan sebagian kecil menyerupai kata atau penggalan kata yang bermakna hanya karena kebetulan saja. (b) Tahap satu kata, satu frasa (holophrastic stage), kira-kira anak berumur satu tahun. Anak mulai menggunakan serangkaian bunyi berulang-ulang untuk makna yang sama. Pada tahap ini satu kata yang diucapkan anak itu merupakan satu konsep yang lengkap. (c) Tahap dua kata, satu frasa, kira-kira umur dua tahun. Seorang anak mulai mengucapkan ujaran-ujaran yang terdiri dari dua kata. Dalam tahap ini anak menggunakan rangkaian dari ucapan satu kata dengan intonasi seakan-akan ada dua ucapan. (d) Tahap menyerupai telegram. Jika seorang anak sudah mampu menggunakan lebih dari dua kata maka jumlah kata yang dipakai dapat tiga, empat, bahkan lebih. 3) Pembelajaran Bahasa (B2) Terdapat dua cara dalam pembelajaran bahasa, yaitu: (a) Pembelajaran B2 yang terpimpin. Ini berarti pembelajaran B2 yang diajarkan kepada pelajar dengan meyajikan materi yang sudah direncanakan, yakni tanpa latihan yang terlalu ketat dan dengan penuh kesalahan dari pihak si pelajar. Ciriciri pembelajaran B2 ini adalah bahwa materi bergantung pada kriteria yang ditentukan oleh guru dan strategi-strategi yang dipakai oleh seorang guru juga sesuai dengan yang dianggap cocok bagi siswanya. (b) Pembelajaran B2 secara alamiah (spontan). Cara ini dapat kita perhatikan dalam komunikasi sehari-hari dan bebas dari pengajaran atau pimpinan guru. Pembelajaran seperti ini tidak ada keseragaman dalam caranya sebab individu belajar B2 dengan cara sendiri. C. Gangguan Berbahasa Gangguan berbahasa itu dapat dibedakan atas tiga macam, yaitu: 1) gangguan berbicara, 2) gangguan berbahasa, dan 3) gangguan berpikir. 1) Gangguan Berbicara Gangguan berbicara ini dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yaitu: (a) gangguan mekanisme berbicara, (b) gangguan akibat multifaktorial, dan (c) gangguan psikogenik. Gangguan mekanisme berbicara adalah suatu proses produksi ucapan oleh kegiatan terpadu dari pita suara, lidah, otot-otot yang membentuk rongga mulut serta kerongkongan, dan paru-paru. Maka gangguan berbicara berdasarkan mekanismenya dapat dirinci menjadi gangguan berbicara akibat kelainan: (1) pada paru-paru (pulmonal), (2) pada pita suara (laringal), (3) pada lidah (lingual), dan (4) pada rongga mulut dan kerongkongan (resonantal). Gangguan akibat multifaktorial bisa menyebabkan terjadinya gangguan berbicara. Gangguan bicara yang bisa terjadi antara lain: (1) berbicara serampangan adalah berbicara dengan cepat sekali, dengan artikulasi yang rusak, ditambah dengan menelan sejumlah suku kata, sehingga yang diucapkan sukar dipahami; (2) berbicara propulsif, biasanya terdapat pada para penderita penyakit parkinson (kerusakan pada 135

otak yang menyebabkan otot menjadi gemetar, kaku, dan lemah); dan (3) berbicara mutis; penderita gangguan mutisme bukan hanya tidak dapat berkomunikasi secara verbal, tetapi juga tidak dapat berkomunikasi secara visual maupun isyarat. Gangguan berbicara psikogenik ini sebenarnya tidak bisa disebut sebagai suatu gangguan berbicara. Mungkin lebih tepat disebut sebagai variasi cara berbicara yang normal, tetapi merupakan ungkapan gangguan di bidang mental. Gangguan bicara psikogenik ini antara lain; (1) berbicara manja, (2) berbicara kemayu, (3) berbicara gagap, dan (4) berbicara latah. 2) Gangguan Berbahasa Untuk dapat berbahasa diperlukan kemampuan mengeluarkan kata-kata. Ini berarti, daerah Broca dan Wernicke harus berfungsi baik. Kerusakan pada daerah tersebut dan sekitarnya menyebabkan terjadinya gangguan bahasa yang disebut afasia. Terdapat dua jenis afasia, yaitu afasia motorik dan afasia sensorik. Terdapat tiga macam afasia motorik, yaitu: (a) Afasia motorik kortikal, yaitu hilangnya kemampuan untuk mengutarakan isi pikiran dengan menggunakan perkataan. Penderita afasia motorik kortikal masih bisa mengerti bahasa lisan dan bahasa tulis; namun ekspresi verbal tidak bisa sama sekali, sedang ekspresivisual (bahasa tulis dan bahasa isyarat) masih bisa dilakukan. (b) Afasia motorik subkortikal, yaitu tidak dapat mengeluarkan isi pikiran dengan menggunakan perkataan, tetapi masih bisa mengeluarkan perkataan dengan cara membeo. Pengetian bahasa verbal dan visual tidak terganggu, dan ekspresi visual pun berjalan normal. (c) Afasia motorik transkortikal terjadi karena terganggunya hubungan antara daerah Broca dan Wernicke. Ini berarti, hubungan langsung antara pengertian dan ekspresi bahasa terganggu; masih dapat mengutarakan perkataan yang singkat dan tepat, tetapi masih mungkin menggunakan perkataan substitusinya. Contoh: kata pensil disebut dengan tu, tu, tu, untuk menulis. Penyebab terjadinya afasia sensorik adalah akibat adanya kerusakan pada lesikortikal di daerah Wernicke pada hemisferium yang dominan. Penderita afasia sensorik ini kehilangan pengertian bahasa lisan maupun bahasa tulis. Namun mereka masih memiliki curah verbal meskipun hal itu tidak dipahami oleh dirinya sendiri maupun orang lain. 3) Gangguan Berpikir Gangguan pikiran dapat berupa hal-hal berikut. (a) pikun, seperti: perubahan kepribadian, perubahan perilaku, dan kemunduran dalam segala macam fungsi intelektual. (b) sisofrenik, berbicara terus-menerus, tetapi banyak berdialog dengan diri sendiri. (c) depresif, curah verbal dicoraki oleh topik yang menyedihkan, menyalahi dan mengutuk diri sendiri, kehilangan gairah hidup, tidak mampu menikmati kehidupan, dan cenderung mengakhirinya. Selain tiga macam gangguan berbahasa yang telah disebut di atas, dapat kita temukan pula gangguan berbahasa akibat lingkungan sosial. Artinya, terasingnya seorang anak manusia yang aspek biologis bahasanya normal dari lingkungan manusia. Keterasingannya bisa disebabkan karena diperlakukan dengan sengaja (sebagai eksperimen) bisa juga karena hidup bukan dalam alam lingkungan manusia, melainkan dipelihara oleh binatang serigala atau binatang lain. 3.2.3 Pragmatik Pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yakni tentang satuan kebahasaan itu digunakan di dalam komunikasi. 136

Pragmatik bisa dikatakan mempelajari makna secara eksternal atau makna yang terikat konteks. Makna yang dikaji dalam pragmatik bersifat triadis. Pembicaraan dalam bagian pragmatik ini akan dibatasi seputar: a) konteks dan situasi tutur, b) tindak tutur dan jenis-jenisnya, dan c) prinsip percakapan. A. Konteks dan Situasi Tutur 1) Konteks Konteks adalah sesuatu yang menjadi sarana untuk memperjelas suatu maksud (Rustono,1999:20). Terdapat dua sarana, yaitu: (a) bagian ekspresi yang dapat mendukung kejelasan maksud yang disebut koteks dan (b) situasi yang berhubungan dengan suatu kejadian yang lazim disebut konteks saja. Di dalam koteks, ekspresi yang mendukung kejelasan suatu maksud tuturan itu dapat mendahuluinya dapat pula menyertainya. Misal: maksud ekspresi, Terima kasih, selamat jalan yang terpasang di ujung gang jelas karena didukung oleh ekspresi sebelumnya Jalan pelan-pelan, banyak anak kecil yang dipasang di mulut gang. Menurut Alwi et al. (1998:421) koteks terdiri atas unsur-unsur seperti: situasi, pembicara, pendengar, waktu, tempat, adegan, topik, peristiwa, bentuk amanat, kode, dan sarana. Hymes (dalam Rustono, 1999:22) mengemukakan bahwa ciri-ciri konteks mencakup delapan hal, yaitu: penutur, mitra tutur, topik tuturan, waktu dan tempat bertutur, saluran atau media, kode, amanat atau pesan, dan peristiwa (kejadian). 2) Situasi Tutur Situasi tutur adalah situasi yang melahirkan tuturan (Rustono, 1999:26). Tuturan merupakan akibat, sedangkan situasi tutur merupakan sebab. Di dalam komunikasi tidak ada tuturan tanpa situasi tutur. Menurut Leech (1983:13-15) situasi tutur mencakup lima komponen, yaitu: penutur dan mitra tutur, konteks tuturan, tujuan tuturan, tindak tutur sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. (a) Penutur dan mitra tutur Konsep penutur dan mitra tutur ini juga mencakup penulis dan pembaca jika tuturan yang bersangkutan dikomunikasikan dengan media tulisan. Aspek-aspek yang berkaitan dengan penutur dan mitra tutur adalah umur, latar belakang sosial ekonomi, jenis kelamin, tingkat keakraban, dan lain-lain. (b) Konteks tuturan Di dalam pragmatik, konteks pada hakikatnya adalah semua latar belakang pengetahuan yang dipahami bersama oleh penutur dan mitra tutur. (c) Tujuan tuturan Bentuk-bentuk tuturan yang diutarakan oleh penutur dilatarbelakangi oleh maksud dan tujuan tertentu. Dalam hubungan ini bentuk-bentuk tuturan yang bermacam-macam dapat digunakan untuk menyatakan maksud yang sama. Atau sebaliknya, berbagai maksud dapat diutarakan dengan tuturan yang sama. Di dalam pragmatik berbicara merupakan aktivitas yang berorientasi pada tujuan. (d) Tindak tutur Pragmatik berhubungan dengan tindak verbal yang terjadi dalam situasi tertentu. Dalam hubungan ini pragmatik menangani bahasa dalam tingkatannya yang lebih konkret dibanding dengan tatabahasa. Tuturan sebagai entitas yang konkret jelas penutur dan mitra tuturnya, serta waktu dan tempat pengutaraannya. (e) Tuturan Tuturan yang digunakan di dalam rangka pragmatik, seperti yang dikemukakan dalam kriteria keempat merupakan bentuk dari tindak tutur. Oleh karenanya, tuturan yang dihasilkan merupakan bentuk dari tindak verbal.

137

B. Tindak Tutur dan Jenis-jenisnya Tindak tutur adalah kegiatan melakukan tindakan mengujarkan tuturan (Rustono, 1999:32). Jenis-jenis tindak tutur antara lain: 1) konstatif dan performatif; 2) lokusi, ilokusi, dan perlokusi; 3) representatif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklarasi; 4) langsung, tidak langsung, harfiah, dan tidak harfiah, dan vernakuler dan seremonial. 1) Konstatif dan Performatif Tuturan yang bermodus deklaratif dibedakan menjadi dua, yaitu konstatif dan performatif. Tuturan konstatif adalah tuturan yang menyatakan sesuatu yang kebenarannya dapat diuji benar atau salah dengan menggunakan pengetahuan tentang dunia. Tuturan Semarang ibukota Jawa Tengah merupakan tuturan konstatif karena kebenaran tuturan itu. Tuturan performatif adalah tuturan yang pengutaraannya digunakan untuk melakukan sesuatu. Tuturan Saya mohon maaf atas keterlambatan saya ini merupakan contoh tuturan performatif. Tuturan performatif tidak dapat dikatakan bahwa tuturan itu salah atau benar. Terhadap tuturan performatif dapat dinyatakan sahih atau tidak. Kesahihan tuturan performatif bergantung kepada pemenuhan persyaratan kesahihan. Empat syarat kesahihan itu adalah: a) Harus ada prosedur konvensional yang mempunyai efek konvensional dan prosedur itu harus mencakupi pengujaran kata-kata tertentu oleh orang-orang tertentu pada peristiwa tertentu. b) Orang-orang dan peristiwa tertentu di dalam kasus tertentu harus berkelayakan atau yang patut melaksanakan prosedur itu. c) Prosedur itu harus dilaksanakan oleh para peserta secara benar. d) Prosedur itu harus dilaksanakan oleh para peserta secara lengkap. 2) Lokusi, Ilokusi, dan Perlokusi Berkenaan dengan tuturan, Searle (1969:23-24) mengemukan tiga jenis tindakan yang bisa diwujudkan seorang penutur, yaitu: (a) tindak lokusi, (b) tindak perlokusi, dan (c) tindak perlokusi. Tindak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. Tindak tutur ini disebut sebagai the act of saying something. Bila diamati konsep lokusi adalah konsep yang berkaitan dengan proposisi kalimat. Tindak tutur lokusi paling mudah untuk diidentifikasi karena pengidentifikasiannya cenderung dapat dilakukan tanpa menyertakan konteks tuturan atau tanpa mengaitkan maksud tertentu. Tuturan Udara panas yang mengacu kepada makna udara atau hawa panas, lawan dingin; tanpa dimaksudkan untuk meminta kipas angin dijalankan atau jendela dibuka merupakan tuturan lokusi. Tuturan yang mengandung maksud dan fungsi atau daya tuturan adalah tindak tutur ilokusi. Tindak ilokusi disebut the act of doing something. Tuturan Sayur ini enak meskipun kurang asin yang dimaksudkan untuk meminta diambilkan garam merupakan tuturan ilokusi. Sebuah tuturan yang diutarakan oleh seseorang seringkali mempunyai daya pengaruh atau efek bagi yang mendengarnya. Efek atau daya pengaruh ini dapat secara sengaja atau tidak disengaja dikreasikan oleh penuturnya. Tindak tutur yang pengutaraannya dimaksudkan untuk mempengaruhi mitra tutur disebut dengan tindak perlokusi. Tindak tutur ini sering disebut the act of affecting someone. Sebagai contoh, tuturan Ada hantu mempunyai daya pengaruh untuk menakut-nakuti. 3) Representatif, Direktif, Ekspresif, Komisif, dan Deklarasi Tindak tutur yang terhitung jumlahnya dapat diklasifikasikan menjadi lima jenis, yaitu: (a) representatif atau asertif, (b) direktif atau impositif, (c) ekspresif atau evaluatif, (d) komisif, dan (e) deklarasi atau isbati. 138

Tindak tutur representatif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya akan kebenaran atas sesuatu yang diujarkan. Yang termasuk ke dalam jenis tindak tutur ini adalah tuturan-tuturan menyatakan, menuntut, mengakui, melaporkan, menunjukkan, menyebutkan, memberikan, kesaksian, dan berspekulasi. Tuturan Mahasiswa yang membayar angsuran kedua sudah 90%, Di kota inilah dia dilahirkan, dan Sebentar lagi kita berangkat ke Parangtritis termasuk tuturan reprentatif. Tindak tutur direktif adalah tindak tutur yang dilakukan oleh penutur dengan maksud agar mitra tutur melakukan tindakan yang disebutkan di dalam tuturan itu. Tuturan-tuturan yang termasuk jenis tindak tutur direktif adalah: memaksa, mengajak, meminta, menyuruh, menagih, mendesak, memohon, menyarankan, memerintah, memberi aba-aba, dan menantang. Tuturan Ambilkan sendok di meja itu!, Mana barang yang kau janjikan kemarin?, dan Lebih baik Anda pulang sekarang adalah tuturan direktif. Tindak tutur ekspresif adalah tindak tutur yang diujarkan penutur dimaksudkan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan di dalam tuturan itu. Yang termasuk jenis tindak tutur ini adalah tuturan-tuturan memuji, mengucapkan terima kasih, mengkritik, mengeluh, menyalahkan, mengucapkan selamat, dan menyanjung. Tuturan Sudah bekerja keras, tetapi gaji tetap tidak mencukupi kebutuhan hidup termasuk tuturan mengeluh. Tuturan Kegiatanmu hari ini sangat bermanfaat, Nak termasuk tuturan memuji. Tindak tutur komisif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan sesuatu yang disebutkan di dalam tuturannya. Tuturan yang termasuk jenis tindak tutur komisif adalah berjanji, bersumpah, mengancam, menyatakan kesanggupan, dan berkaul. Contohnya: Saya berjanji akan mengasuh anak ini dengan ikhlas dan baik, Jika kau tidak datang ke pesta pernikahanku, aku tidak akan berteman lagi denganmu, dan Jika ada rezeki, kami akan menunaikan ibadah haji. Tindak tutur deklarasi adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya untuk menciptakan hal (status, keadaan, dan sebagainya) yang baru. Tuturan-tuturan dengan maksud mengesahkan, memutuskan, membatalkan, melarang, mengizinkan, mengabulkan, mengangkat, menggolongkan, mengampuni, dan memaafkan termasuk jenis tindak tutur deklarasi. Contoh tuturan jenis ini antara lain: Jangan naik ke meja itu, Dik!, Silakan jika ingin mengambil bunga itu, Bapak maafkan kesalahanmu, dan sebagainya. 4) Langsung, Tidak Langsung, Harfiah, dan Tidak Harfiah Sebuah tuturan yang bermodus deklaratif difungsikan secara konvensional untuk mengatakan sesuatu, tuturan interogatif untuk bertanya, dan tuturan imperatif untuk menyuruh atau mengajak atau memohon, dan sebagainya; tindak tutur yang terbentuk adalah tindak tutur langsung. Di samping itu, untuk berbicara secara sopan, perintah dapat diutarakan dengan kalimat berita atau kalimat tanya agar orang yang diperintah tidak merasa diperintah. Bila hal itu terjadi, terbentuklah tindak tutur tidak langsung. Tuturan seperti Obat ayahmu sudah habis; jika dituturkan oleh seorang ibu kepada anaknya, tuturan itu dapat merupakan pengungkapan secara tidak langsung. Hal itu terjadi karena maksud yang diekspresikan dengan tuturan deklaratif itu bermaksud memerintah. Dengan demikian, kita dapat membedakan dua jenis tindak tutur, yaitu tindak tutur langsung dan tindak tuturtidak langsung. Selain itu, tindak tutur dapat dibedakan menjadi tindak tutur harfiah dan tindak tutur tidak harfiah. Tindak tutur harfiah adalah tindak tutur yang maksudnya sama dengan makna kata-kata yang menyusunnya; sedangkan tindak tutur tidak harfiah adalah tindak tutur yang maksudnya tidak sama dengan makna kata-kata yang menyusunnya. Tuturan imperatif Makan hati!, yang diujarkan seorang kakak kepada adiknya yang sedang makan dan di atas meja tersedia hati ayam digoreng merupakan tindak harfiah. Tuturan Pemuda itu tinggi hati yang diujarkan penutur untuk 139

mengungkapkan pemuda yang tidak mudah bergaul merupakan tindak tutur tidak harfiah. 5) Vernakuler dan Seremonial Berdasar sudut pandang kelayakan pelakunya, terdapat dua jenis tindak tutur, yaitu vernakuler dan seremonial. Tindak tutur vernakuler adalah tindak tutur yang dapat dilakukan oleh setiap anggota masyarakat tutur; sedangkan tindak tutur seremonial adalah tindak tutur yang dilakukan oleh orang yang berkelayakan untuk hal yang dituturkannya. Contoh tuturan vernakuler misalnya: Terima kasih kepercayaan yang sudah diberikan kepada anak saya. Tindak menikahkan orang Dengan ini, Saudara saya nikahkan dengan Saudari Jenaka Amalia, putri bapak Sudiro sebagai contoh tindak tutur seremonial. C. Prinsip Percakapan Yang akan diuraikan dalam prinsip percakapan dala prinsip percakapan antara lain: 1) prinsip kerjasama dan 2) prinsip kesopanan 1) Prinsip Kerjasama Terdapat prinsip kerjasama yang harus dilakukan penutur dan mitra tutur agar proses komunikasi iu berjalan lancar. Grice (1957:45-47) mengemukakan bahwa dalam rangka melaksanakan prinsip kerja sama, setiap penutur harus mematuhi empat maksim, yakni: a) maksim kuantitas, b) maksim kualitas, c) maksim relevansi, dan d) maksim pelaksanaan. Maksim kuantitas menghendaki setiap peserta tutur memberikan kontribusi yang secukupnya atau sebanyak yang dibutuhkan oleh mitra tuturnya. Sebagai contoh dapat diperhatikan wacana berikut ini. A : Siapa namamu? B : Tania. A : Rumahmu di mana? B : Semarang, tepatnya di Tembalang. B memberikan kontribusi yang secara kuantitas memadai atau mencukupi pada setiap tahapan komunikasi. Maksim kualitas mewajibkan setiap peserta percakapan mengatakan hal yang sebenarnya. Kontribusi peserta percakapan hendaknya didasarkan pada bukti-bukti yang memadai. Tuturan Peringatan Pertempuran Lima Hari diselenggarakan di pelataran Tugu Muda. Tuturan cukup memadai tentang pelaksanaan peringatan itu. Maksim relevansi mengharuskan setiap peserta tutur memberi kontribusi yang relevan dengan masalah pembicaraan. Untuk jelasnya perhatikan wacana berikut ini. Hafidz : Pukul berapa sekarang, Dik? Hazza : Tukang koran baru saja lewat Kak. Jawaban Hazza pada contoh di atas sepintas tidak berhubungan, tetapi jika dicermati, hubungan implikasionalnya dapat diterangkan. Dengan memperhatikan tukang koran mengantar surat kabar kepada mereka, Hafidz dapat membuat inferensi pukul berapa ketika itu. Contoh di atas mengisyaratkan bahwa kontribusi peserta tindak tutur relevansinya tidak selalu terletak pada makna ujarannya, tetapi memungkinkan pula pada apa yang diimplikasikan ujaran itu. Maksim pelaksanaan mengharuskan setiap peserta tutur bicara secara langsung, tidak kabur, tidak taksa, dan tidak berlebih-lebihan, serta runtut. Sebagai contoh adalah tuturan Nanti kalau masuk Java Super Mall jangan lewat di tempat b-o-n-e-k-a, ya! cara tersebut sering dilakukan oleh orang tua kalau anaknya meminta barang-barang mainan yang mahal jika berbelanja di toko. Dengan maksim ini seorang penutur juga diharuskan menafsirkan kata-kata yang digunakan mitra tuturnya secara taksa berdasarkan konteks-konteks pemakaiannya. 140

2) Prinsip Kesopanan Sebagai retorika interpersonal pragmatik membutuhkan prinsip kesopanan. Prinsip kesopanan memiliki sejumlah maksim, yaitu: (a) maksim kebijaksanaan, (b) maksim kemurahhatian, (c) maksim penerimaan, (d) maksim kerendahhatian, (e) maksim kecocokan, dan (f) maksim kesimpatian. Maksim kebijaksanaan diungkapkan dengan tuturan impositif dan komisif. Maksim ini menggariskan setiap peserta tutur untuk meminimalkan kerugian orang lain, atau memaksimalkan keuntungan bagi orang lain. Dapat dicermati contoh berikut ini. (1) Datang ke rumah saya! (tidak sopan) (2) Datanglah ke rumah saya! (3) Silakan datang ke rumah saya! (4) Sudilah kiranya datang ke rumah saya! (5) Kalau tidak keberatan, sudilah kiranya datang ke rumah saya! (sopan) Dapat dikatakan, semakin panjang tuturan seorang, semakin besar pula keinginan orang itu untuk bersikap sopan kepada mitra tuturnya. Tuturan yang diutarakan secara tidak langsung lazimnya lebih sopan dibandingkan dengan tuturan yang diutarakan secara langsung. Maksim penerimaan diutarakan dengan kalimat komisif dan impositif. Maksim ini mewajibkan setiap peserta tutur untuk memaksimalkan kerugian bagi diri sendiri dan meminimalkan keuntungan diri sendiri. Tuturan (6) dan (8) di bawah ini dipandang kurang sopan jika dibandingkan dengan (7) dan (9) berikut. (6) Anda harus meminjami saya uang. (7) Saya akan meminjami uang kepada Anda. (8) Saya akan datang ke rumahmu untuk makan siang. (9) Saya akan mengundangmu ke rumah untuk makan malam. Maksim kemurahhatian diutarakan dengan kalimat ekspresif dan kalimat asertif. Dengan penggunaan kalimat ekspresif dan asertif ini jelaslah bahwa tidak hanya dalam meyuruh dan menawarkan sesuatu seseorang harus berlaku sopan, tetapi dalam mengungkapkan perasaan dan menyatakan pendapat ia tetap diwajibkan demikian. Maksim kemurahhatian menuntut setiap peserta tutur untuk memaksimalkan rasa hormat kepada orang lain dan meminimalkan rasa tidak hormat kepada orang lain. Perhatikan contoh berikut. Alif : Permainanmu sangat bagus. Aqil : Tidak, saya kira biasa-biasa saja. Alif bersikap sopan karena berusaha memaksimalkan keuntungan mitra tuturnya dan Aqil juga berusaha meminimalkan penghargaan kepada diri sendiri. Maksim kerendahhatian juga diungkapkan dengan kalimat ekspresif dan asertif. Maksim kerendahan hati berpusat pada diri sendiri. Maksim kerendahhatian menuntut setiap peserta tutur untuk memaksimalkan ketidakhormatan pada diri sendiri dan meminimalkan rasa hormat pada diri sendiri. Sebagai contoh dapat diperhatikan tuturan berikut. Rahma : Betapa pandainya dirimu. Rahmi : Ah tidak, biasa-biasa saja. Itu hanya kebetulan. Maksim kecocokan juga diungkapkan dengan kalimat ekspresif dan asertif. Maksim kecocokan menggariskan setiap penutur dan mitra tutur untuk memaksimalkan kecocokan di antara mereka dan meminimalkan ketidakcocokan di antara mereka. Untuk jelasnya dapat diperhatikan wacana berikut. Memet : Drama itu bagus, ya? Mamat : Ya, tetapi blocking pemainnya masih banyak kekurangan. Maksim kesimpatian juga diungkapkan dengan kalimat ekspresif dan asertif. Maksim kesimpatian ini mengharuskan setiap peserta tutur untuk memaksimalkan rasa simpati dan meminimalkan rasa antipati kepada mitra tutur. Perhatikan contoh berikut ini. 141

Kartika : Bibiku sudah satu minggu ini dipanggil Allah. Kartini ; Oh, aku turut berduka cita, ya. Aku baru dengar sekarang. 3.3 Latihan-latihan 3.3.1 Cermatilah pemakaian variasi bahasa yang terdapat di sekitarmu! 3.3.2 Cermatilah peristiwa kontak bahasa yang terdapat di sekitarmu! 3.3.3 Amatilah proses bahasa dalam komunikasi dan pikiran yang terjadi di sekitarmu! 3.3.4 Amatilah pemerolehan bahasa pertama dan pembelajaran bahasa yang terjadi di sekitarmu! 3.3.5 Amatilah gangguan berbahasa yang terjadi di sekitarmu! 3.3.6 Perhatikan berbagai tindak tutur yang terjadi di sekelilingmu! 3.3.7 Perhatikan prinsip percakapan yang terjadi di sekelilingmu! 3.4 Rangkuman Sosiolinguistik sebagai bidang ilmu antardisiplin (disiplin sosiologi dan disiplin linguistik) yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan pemakaian bahasa di dalam masyarakat. Pembahasan di bidang sosiolinguistik ini difokuskan pada dua hal, yaitu: a) Variasi bahasa, yang dapat ditinjau dari bermacam-macam segi, antara lain: segi penutur, segi pemakaian, segi keformalan, dan segi sarana. b) Peristiwa kontak bahasa, antara lain: kedwibahasaan, diglosia, alih kode, campur kode, interferensi, integrasi, dan pergeseran bahasa. Psikolinguistik merupakan gabungan disiplin psikologi dan linguistk. Objek psikologi adalah gejala jiwa dan objek linguistik adalah bahasa. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa objek psikolinguistik adalah bahasa juga, tetapi bahasa yang berproses dalam jiwa manusia yang tercermin dalam gejala jiwa. Dengan kata lain, bahasa yang dilihat dari aspek-aspek psikologis. Topik-topik penting yang dipaparkan di bagian psikolinguistik adalah proses bahasa dalam komunikasi dan pikiran, pemerolehan bahasa, dan gangguan berbahasa. Pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yakni tentang satuan kebahasaan itu digunakan di dalam komunikasi. Pragmatik bisa dikatakan mempelajari makna secara eksternal atau makna yang terikat konteks. Makna yang dikaji dalam pragmatik bersifat triadis. Pembicaraan dalam bagian pragmatik ini dibatasi seputar: a) Konteks dan situasi tutur. Konteks meliputi dua sarana, yaitu: bagian ekspresi yang dapat mendukung kejelasan maksud yang disebut koteks dan situasi yang berhubungan dengan suatu kejadian yang lazim disebut konteks saja. Situasi tutur meliputi: penutur dan mitra tutur, konteks tuturan, tujuan tuturan, tindak tutur sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. b) Tindak tutur dan jenis-jenisnya. Jenis-jenis tindak tutur antara lain: (i) konstatif dan performatif; (ii) lokusi, ilokusi, dan perlokusi; (iii) representatif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklarasi; (iv) langsung, tidak langsung, harfiah, dan tidak harfiah, dan vernakuler dan c) Prinsip percakapan. Yang diuraikan dalam prinsip percakapan dalam prinsip percakapan adalah prinsip kerjasama dan prinsip kesopanan 3.5 Evaluasi 3.5.1 Apakah yang bisa dipelajari dalam studi sosiolinguistik? 3.5.2 Jelaskan permasalahan yang dapat diuraikan dalam studi psikolinguistik! 3.5.3 Studi pragmatik mengurai permasalahan apa saja!

142

3.6 Kunci jawaban 3.6.1 Sosiolinguistik sebagai bidang ilmu antardisiplin (disiplin sosiologi dan disiplin linguistik) mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan pemakaian bahasa di dalam masyarakat. Pembahasan di bidang sosiolinguistik ini difokuskan pada dua hal, yaitu: a) Variasi bahasa, yang dapat ditinjau dari bermacam-macam segi, antara lain: segi penutur, segi pemakaian, segi keformalan, dan segi sarana. b) Peristiwa kontak bahasa, antara lain: kedwibahasaan, diglosia, alih kode, campur kode, interferensi, integrasi, dan pergeseran bahasa. 3.6.2 Psikolinguistik merupakan gabungan disiplin psikologi dan linguistk. Objek psikologi adalah gejala jiwa dan objek linguistik adalah bahasa. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa objek psikolinguistik adalah bahasa juga, tetapi bahasa yang berproses dalam jiwa manusia yang tercermin dalam gejala jiwa. Dengan kata lain, bahasa yang dilihat dari aspek-aspek psikologis. Topik-topik penting yang dipaparkan di bagian psikolinguistik adalah proses bahasa dalam komunikasi dan pikiran, pemerolehan bahasa, dan gangguan berbahasa. 3.6.3 Pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yakni tentang satuan kebahasaan itu digunakan di dalam komunikasi. Pembicaraan dalam bagian pragmatik ini dibatasi seputar: a) Konteks dan situasi tutur. Konteks meliputi dua sarana, yaitu: bagian ekspresi yang dapat mendukung kejelasan maksud yang disebut koteks dan situasi yang berhubungan dengan suatu kejadian yang lazim disebut konteks saja. Situasi tutur meliputi: penutur dan mitra tutur, konteks tuturan, tujuan tuturan, tindak tutur sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. b) Tindak tutur dan jenis-jenisnya. Jenis-jenis tindak tutur antara lain: (i) konstatif dan performatif; (ii) lokusi, ilokusi, dan perlokusi; (iii) representatif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklarasi; (iv) langsung, tidak langsung, harfiah, dan tidak harfiah, dan vernakuler dan c) Prinsip percakapan. Yang diuraikan dalam prinsip percakapan dalam prinsip percakapan adalah prinsip kerjasama dan prinsip kesopanan

DAFTAR PUSTAKA Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Chaer, Abdul & Leonie Agustina. 1995. Sosiolinguistik: Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta. Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Fishman, J.A. 1975. Sosiolinguistics, A Brief Introduction. Rowley Massachusetts: Newbury House Publisher. Grice, H.P. 1975. Logic and Conversation, Syntax and Semantics, Speech Act. New York: Academic Press. Hartley, Anthony F. 1982. Linguistics for Language Learners. London: The Macmillan Press. Haugen, E. Dialect, Language, Nation dalam The Ecology of Language, Essays by Einar Haugen. California: Stanford University Press. Kentjono, Djoko. 1984. Dasar-dasar Linguistik Umum. Jakarta: Fakultas Sastra UI Press. Leech, G.N. 1983. Principles of Pragmatics. New York: Longman. Nababan, Sri Utari Subyakto. 1992. Psikolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. 143

Oksaar, E. 1972. Bilingualism dalam Current Trends in Linguistics. Mouton: The Hague Paris. Pateda, Mansur. 1990. Aspek-aspek Psikolinguistik. Flores: Nusa Indah. Poedjosoedarmo, S. 1976. Analisa Variasi Bahasa dalam Penataran Dialektologi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Rustono. 1999. Pokok-pokok Pragmatik. Semarang: CV. IKIP Semarang Press. Suwito. 1983. Sosiolinguistik: Teori dan Problema. Surakarta: Fakultas Sastra UNS Press. Sumarsono & Paina Partana. 2004. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Sabda. Wijana, I. Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi Offset. Wolff, J. 1974. Bilingualisme dan Diglosia. Bahan Ceramah dan Diskusi. Surakarta: FKSS-IKIP Surakarta.

144

BAB IV PUISI, PROSA, DAN DRAMA


Setelah proses pelatihan materi Prosa, Puisi, dan drama ini diharapkan para peserta dapat: 1. Menjelaskan cara membaca puisi dengan memperhatikan lafaL, intonasi, dan ekspresi 2. Menjelaskan pesan puisi dengan tepat, berdasarkan kutipan puisi yang disajikan 3. Menjelaskan tema puisi dengan tepat,berdasarkan kutipan puisi yang disajikan 4. Menjelaskan penyusunan puisi dengan mempertimbangkan rima berdasarkan kutipan puisi yang dirumpangkan 5. Menjelaskan penyusunan puisi dengan meilih dan makna kata yang tepat, berdasarkan kutipan puisi yang dirumpangkan 6. Menjelaskan penentuan makna puisi dengan tepat, berdasarkan kutipan puisi yang disajikan 7. Menjelaskan penyusunan puisi dengan mempertimbangkan majas yang tepat, berdasarkan kutipan puisi yang dirumpangkan 8. Menjelaskan pencitraan dengan tepat, berdasarkan kutip[an puisi yang disajikan 9. Menjelaskan penyusunan kembali puisi dengan isi yang tepat berdasarkan kutipan puisi yang larik-lariknya diacak 10. Menjelaskan penyusunan rima dan isi puisi yang tepat berdasarkan kutipan puisi yang dirumpangkan 11. Menjelaskan pantun dengan tepat berdasarkan isi atau sampiran pantun yang disajikan 12. Menjelaskan pantun dengan rima yang tepat dengan pantun yang dirumpangkan A. Hakikat karya sastra Sastra berasal dari bahasa Sansekerta: sas yang berarti mengarah-kan, mengajar, memberi petunjuk; serta akhiran tra yang bermakna menunjukkan alat atau sarana. Sastra berarti alat untuk mengajar. Menurut Teeuw dalam kebudayaan Barat terdapat literatur (Inggris), literatur (Jerman), litterature (Perancis). Kesemuanya berasal dari bahasa Latin, litteratura. Litteratura merupakan terjemahan dari grammatika (Yunani). Litteratura dan grammatika berdasarkan kata littera dan gramma yang berarti huruf atau tulisan. Dalam bahasa Jerman terdapat istilah schrifftum dan dichtung. Schrifftum berarti segala suatu yang tertulis. Dichtung berarti tulisan yang bersifat rekaan dan memiliki nilai estetik. Dalam bahasa Belanda terdapat istilah letterkunde (dari litteratura) dan literatuur. Literatuur mencakup kepustakaan atau acuan buku ilmiah. Leterkunde berarti sastra (Teeuw, 1984: 22-23). Pendapat lain menyatakan bahwa sastra adalah karya dengan medium bahasa dan mengandung unsur keindahan. Karya sastra dapat dilawankan dengan karya ilmiah. Jika karya ilmiah bersifat monointerpretasi, karya sastra justru sebaliknya, bersifat poliinterpretasi. Artinya, karya sastra dimungkinkan untuk dimaknai secara jamak dan beragam. Jika pilihan kata di dalam karya ilmiah bermakna denotasi, di dalam karya sastra justru dipilih kata-kata yang bermakna konotasi Genre atau kategori sastra dapat dibedakan menjadi: 1) Puisi 2) Prosa

145

3) Drama Ketiga hal tersebut akan diuraikan secara lebih rinci di bawah ini. B. Puisi 1. Hakikat puisi Puisi merupakan karya sastra dengan menggunakan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, biasanya memperhatikan adanya persajakan atau persamaan bunyi, terutama persamaan bunyi di akhir baris. Meskipun singkat dan padat, bukan berarti puisi tidak kaya makna. Dengan pilihan kata atau yang biasa disebut diksi puisi justru menyampaikan sesuatu dengan lebih bertenaga. Berikut disampaikan hal-hal yang berkaitan dengan puisi. 2. Struktur fisik puisi Adapun struktur fisik puisi sebagai berikut. a. Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi, tampilan, perwajahan yang terdapat dalam puisi tulis. Puisi tidak harus dimulai ari tepi kiri dan habis di tepi kanan, misalnya. Huruf kapital, huruf kecil, bersambung, dipenggal erpakan suatu penampilan yang menundukng makna sebuah puisi. akume nangispa gipa gidi pinggir ka l i

b. Diksi, yaitu pemilihan kata-kata. Karena puisi adalah karya sastra dengan
sedikit, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan katakata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata. Geoffrey (dalam Waluyo, 19987:68-69) menjelaskan bahwa bahasa puisi mengalami 9 (sembilan) aspek penyimpangan, yaitu penyimpangan leksikal, penyimpangan semantis, penyimpangan fonologis, penyimpangan sintaksis, penggunaan dialek, penggunaan register (ragam bahasa tertentu oleh kelompok/profesi tertentu), penyimpangan historis (penggunaan kata-kata kuno), dan penyimpangan grafologis (penggunaan kapital hingga titik). Perhatikan puisi Penjual Celana karya Joko Pinurbo. Penjual Celana ................ mentang-mentang pakai celana serdadu,penjual celana itu tiba-tiba sombong dan pura-pura lupa sama aku. Anda dari kampung ya? Ejeknya ketika aku sibuk Mencoba-coba berbagai celana dan tidak juga membelinya .................................. Diksi dari puisi penjual celana karya Joko Pinurbo diantaranya mentang-mentang dan Anda (sombong)

c. Pencitraan, yaitu kata-kata yang mengungkapkan pengalaman indrawi,


seperti penglihatan, pendengaran, dan perabaan. Pecintraan dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil).

146

Pencitraan dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, medengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair. Perhatikan contoh puisi Sapardi Djoko Damono ADA POHON BERNAFAS ada pohon bernafas jauh dalam diri kita di setiap helaanya seratus burung pulang mendengar cericit anak-anaknya ada pohon bernafas jauh dalam diri kita di setiap hembusannya seratus warna bunga berhamburan menyambut godaan cahaya Pencitraan puisi ada pohon bernafas yang pertama adalah pencitraan penglihatan (melihat pohon bernafas). Kedua pencitraan pendengaran (mendengar cericit anak-anaknya).

d. Kata kongkret, yaitu kata denotatif yang memungkinkan munculnya imaji.


Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Kata kongkret salju melambangkan beku atau dingin. Kata kongkret rawa-rawa berarti sebuah tempat yang berisi air. Rawa-rawa melambangkan tempat berair tetapi kotor. Perhatikan puisi Negeri Kadal karya Sosiawa Leak berikut: Negeri kadal Negri kami negri kadal negri yang tidak pernah sepi dari juluran lidah menjelma dasi, panji-panji hingga janji-jani .................. e. Bahasa figuratif/majas, yaitu bahasa berkias yang dapat menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi memancarkan kaya makna (Waluyo, 1987:83). Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapaun macam-amcam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks. Perhatikan puisi Kasidah Hujan karya Acep Zamzam Noor sebagai berikut: Dan gerimis pun khusyuk Bertasbih pada sunyi. Mengguyur rumput-rumput Yang menari. Pohon-pohon sembahyang seiring semilir angin Bersujud bersama padi-padi yang merunduk Merenungi bumi. Langit terbelah oleh salak anjing Yang bertakbir pada dingin. Lalu hujan tumpah Mengalir dalam gemuruh Dzikir: Siapakah yang berkhalwat sepanjang malam Mendaki bukit-bukit kekekalan? Kilat menyambar-nyambar Suara cengkerik mengusik tahajud batu karang

f. Versifikasi, yaitu menyangkut rima, ritme, dan metrum. Rima adalah


persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima mencakup (1) onomatope (tiruan terhadap bunyi), (2) bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, repetisi bunyi (kata (Waluyo, 187:92), dan (3) pengulangan kata/ungkapan.

147

Ritma merupakan tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritma sangat menonjol dalam pembacaan puisi. Perhatikan puisi Gurindam enam karya Taufik Ismail berikut ini: Gurindam enam Ketika serakah mencapai daun tomat Datang banjir ke kawasan kuasa camat Ketika serakah menggapai daun kelapa Datang gempa mengguncang kabupaten kita 3. Struktur batin puisi Struktur batin puisi dapat dijelaskan sebagai berikut. a. Tema/makna (sense). Sebagaimana telah disebut di atas, medium sastra adalah bahasa, termasuk puisi. Karenanya puisi harus bermakna, baik makna kata, baris, bait, maupun keseluruhan. Bahkan, titik, koma, tanda baca, termasuk juga tipografinya. Perhatikan puisi berikut: Aku Ingin Aku ngin mencintaimu dengan sederhana : Dengan kata yang tak sempat diucapkan Kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ngin mencintaimu dengan sederhana : Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. Tema dari puisi yang berjudul Aku Ingin karya Sapardi Djoko adalah kasih sayang. Kasih sayang itu bisa diwujudkan terhadap orang tua, sahabat, saudara,kekasih bahkan yang laing utama adalah cinta dengan Tuhan. b. Rasa (feeling), yaitu sikap atau situas yang muncul dalam sebuah teks. Pengungkapan tema dan rasa berkaitan dengan latar belakang sosial, politik, ekonomi, dan hal-hal lain yang berkembang dan muncul pada saat teks muncul dan berkembang. Perhatikan puisi berjudul takut 66, takut 98 karya Taufik Ismail berikut: Takut 66, takut 98 Mahasiswa takut pada dosen Dosen takut pada dekan Dekan takut pada rektor Rektor takut pada menteri Menteri takut pada presiden Presiden takut pada mahasiswa c. Nada (tone), yaitu sikap teks terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Teks misalnya dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, atau seolah bertanya kepada pembaca untuk memecahkan masalah, atau malah menyerahkan penyelesaian masalah kepada pembaca. Nada juga dapat terlihat sombong, menganggap bodoh, bahkan menganggap tinggi pembaca. Perhatikan puisi dengan judul Doa karya Taufik Ismail berikut: 148

Doa Tuhan kami Telah nista kami dalam dosa bersama Bertahun membangun kultus ini Dalam pikiran yang ganda Dan menutupi hati nurani Ampunilah kami Ampunilah Kami d. Amanat/tujuan/maksud (itention) Ada tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi. Tujuan tersebut dapat ditelusur dalam teks puisi. Inilah yang dinamakan amanat, sesuatu yang hendak disampaikan oleh penyair. Perhatikan puisi Rendra yang berjudul Tuhan, Aku Cinta Padamu. Tuhan, Aku Cinta Padamu Aku lemas Tapi berdaya Aku tidak sambat rasa sakit atau gatal Aku pengin makan tajin Aku tidak pernah sesak nafas Tapi tubuhku tidak memuaskan untuk punya posisi yang ideal dan wajar Aku pengin membersihkan tubuhku dari racun kimiawi Aku ingin kembali pada jalan alam Aku ingin meningkatkan pengabdian kepada Allah Tuhan, aku cinta padamu Amanat dari puisi yang berjudul Tuhan, Aku cinta padamu adalah hakikat manusia adalah untuk mengabdi dan beribadah kepada Tuhan. Pesan yang disampaikan penyair terhadap pembaca adalah taat terhadap perintah Tuhan. 4. Jenis jenis puisi Berdasarkan kemunculannya dapat dibagi 2 kategori, yaitu : a. puisi lama Puisi lama adalah puisi yang masih sangat terikat bentuknya, puisi yang masih memperhatikan jumlah baris, bait, dan persajakannya. Yang termasuk puisi lama, misalnya mantra, bidal, pantun dan karmina, talibun, seloka, gurindam, dan syair. Termasuk dalam kategori di sini adalah distichon, terzina, quatrain, quint, sextet, septima, stanza atau oktaf, serta soneta.

149

Perhatikan pantun berikut: Burung merpati bertengger di pagar Bercericau menyanyi lagu merdu Menjadi anak mesti belajar Agar kelak beroleh ilmu b. puisi baru Puisi baru adalah puisi yang masih memperhatikan adanya persajakan, namun tidak seketat puisi lama. Kadang jumlah suku kata, kata, bait, baris, maupun persajakan masih diperhatikan. Namun, sekali lagi tidak seketat puisi lama. Atau, aturan keterikatan itu tidaklah terlalu dominan. Perhatikan puisi Solitude karya Sutardji Calzoum Bachri berikut: Solitude Yang paling mawar Yang paling duri Yang paling sayap Yang paling bumi Yang paling pisau Yang paling risau Yang paling nacap Yang paling dekap Samping yang paling Kau! 5. Membaca Puisi Hal-hal yang perlu diperhatkan dalam membaca puisi adalah lafal, intonasi, dan ekspresi. Lafal adalah kejelasan atas pengucapan suku kata, kata, atau kalimat. Lafal dapat disebut juga dengan artikulasi. Intonasi adalah tekanan atas kata atau kalimat dari teks puisi yang hendak dibacakan. Intonasi dapat dicapai melalui volume, nada, dan tempo. Ekspresi adalah bagaimana secara keseluruhan puisi disampaikan kepada publik. Ekspresi dicapai melalui lafal, intonasi, mimik, dan gesture atau gerak tubuh. 6. Soal Latihan TUSUK GIGI Soni Farid Maulana ada suara hutan menjerit dari sebuah tusuk gigi di hadapanku tanah berumput keong lumpur yang mati melayangkan ingatanku akan berbagai suku yang tumpur disapu banjir, disikat zaman kolonial yang bengis.

150

cacing-cacing menyuburkan pepohonan tapi hutan demi hutan lenyap sudah dengan gergaji kiranya bikin beragam hewan mengungsi ke dalam buku catatan biologi atau ke dalam buku cerita kanak-kanak yang dibaca sambil tiduran a. Analisislah puisi Tusuk Gigi karya Sony Farid Maulana tersebut. b. Bagaimana cara membacakan puisi tersebut. C. Prosa Setelah proses pelatihan materi Prosa, Puisi, dan drama ini diharapkan para peserta dapat: 1. Menjelaskan cara bercerita dalam novel dan cerpen dengan menjelaskan kutipan yang disediakan 2. Menjelaskan tema cerpen atau novel dengan tepat berdasarkan kutipan yang disediakan 3. Menjelaskan watak tokoh dengan tepat berdasarkan kutipan yang disediakan 4. Menjelaskan latar cerita pendek atau novel dengan tepat berdasarkan kutipan yang disediakan 5. Menjelaskan sudut pandang cerita pendek atau novel dengan tepat berdasarkan kutipan yang disediakan 6. Menjelaskan alur cerita pendek atau novel dengan tepat berdasarkan kutipan yang disediakan 7. Menjelaskan pesan cerita pendek atau novel dengan tepat berdasarkan kutipan yang disediakan 8. Menjelaskan penyusunan kembali alur cerpen dengan urutan yang tepat berdasrkan kutipan cerpen yang kalimat-kalimatnya diacak 9. Menjelaskan cerpen dengan latar yang tepat berdasarkan kutipan cerpen yang dirumpangkan 10. Menjelaskan tokoh cerpen dengan tepat berdasarkan cerpen yang dirumpangkan 11. Menjelaskan kembali dongeng dengan urutan yang tepat berdasarkan kutipan dongeng yang kalimat-kalimatnya diacak 12. Menjelaskan cara melengkapi dongeng dengan latar dengan latar yangh tepat berdasarkann kutipan dongeng yang dirumpangkan 13. Menjelaskan tokoh dongeng dengan tepat berdasarkan dongeng yang dirumpangkan 1. Pengertian Prosa Prosa adalah karangan yang bentuknya tidak terlalu terikat. Pengertian tidak terlalu terikat dapat dibandingkan dengan puisi yang lebih dominan dengan keterikatan bentuknya, misalnya adanya persamaan bunyi di akhir baris. Di dalam prosa, persajakan akhir lebih cenderung tidak diperhatikan. Dilihat dari jumlah halaman, puisi relatif lebih pendek dibandingkan prosa. Berdasarkan sejarah Sastra Indonesia, dikenal 2 macam sastra, yaitu sastra lama dan sastra baru. Sastra lama meliputi mitos, legenda, dan dongeng. Termasuk di dalamnya, yaitu apa yang disebut cerita rakyat, cerita jenaka, maupun cerita pelipur lara. Sastra baru mencakup cerita pendek, roman, dan novel.

151

2. Prosa Lama Prosa cerita rakyat menurut William R. Bascom (melalui Dananjaya, 1991) dibagi menjadi: a. Mite, karya yang berciri: dianggap benar-benar terjadi, dianggap suci oleh yang empunya cerita, tokoh para dewa atau 1/2 dewa, latar bukan di dunia, dan waktu sangat lampau. b. Legenda, karya yang berciri: dianggap benar-benar terjadi, tidak dianggap suci oleh yang empunya cerita, tokoh manusia kadang dengan sifat luar biasa, latar di dunia, dan waktu belum terlalu lama. c. Dongeng, karya yang berciri: tidak dianggap benar-benar terjadi dan tidak terikat oleh waktu dan tempat. Dongeng bertujuan untuk hiburan, tetapi kadang berisi ajaran moral, bahkan sindiran. Dongeng juga berisi cerita peri. Menurut Anti Aarne dan Stith Thompson dongeng dibagi 4 jenis. Satu, dongeng binatang, yaitu tokohnya binatang. Dua, dongeng biasa. Tiga, lelucon dan anekdot. Empat, dDongeng be-rumus, yaitu dongeng yang diulang-dulang. Fabel adalah dongeng binatang yang mengandung ajaran moral (Rahayu, 1971: 27). Fabel berciri: membuat binatang kecil/lemah/lambat jadi menang serta memberi suatu binatang suatu peranan penting dan menjadi cerdik. Di Eropa, cerita pelanduk dibandingan dengan cerita rubah. Menurut H.C. Klinkert ada perbedaan di keduanya itu. Pelanduk merupakan binatang yang kecil, lemah, dan hanya dengan kecerdasan otaknya ia dapat hidup di hutan belantara. Tujuan Kancil baik karena menyelesaikan perselesihan dan menyelamatkan binatang kecil dari ancaman binatang besar. Sedangkan rubah termasuk binatang buas, kejam, dan selalu mengancam binatang kecil (Fang, 1991: 7-13). 3. Prosa Baru Kehadiran sebuah cerita rekaan tidak dapat dilepaskan dari unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur ekstrinsik ialah unsur luar yang turut mempengaruhi kehadiran cerita rekaan. Unsur luar itu misalnya: ekonomi, politik, sosial, dan lain-lain. Faktor intrinsik ialah faktor yang membangun cerita rekaan dari dalam, dari dirinya sendiri. Faktor intrinsik meliputi tokoh, alur, latar, dan pusat pengisahan (Saad dalam Lukman Ali, 1967: 116-120). Termasuk bagian unsur intrinsik adalah tema.

a. Tema Tema merupakan gagasan atau pikiran utama di dalam karya, baik yang terungkap maupan yang tidak (Sudjiman, 1990: 78). Saad (via Esten, 1984: 92) mengajukan tiga cara untuk menentukan tema cerita, yaitu persoalan yang paling menonjol, persoalan yang paling banyak menimbulkan konflik, dan persoalan yang paling banyak membutuhkan waktu penceritaan. Sudjiman (1988: 57) membedakan antara tema dengan amanat. Amanat merupakan ajaran moral atau pesan yang disampaikan pengarang di dalam karya sastra. b. Tokoh dan Penokohan
Tokoh ialah pelaku rekaan yang mengalami peristiwa atau berkelakuan di pelbagai peristiwa. Grimes menggunakan istilah partisipan, sedang Shahnon Ahmad

152

dengan istilah watak (Sudjiman, 1990: 79). Tokoh biasanya berwujud manusia. Terdapat dua jenis tokoh, yaitu: satu, tokoh sentral/utama, mencakup tokoh protagonis serta antagonis; dan dua, tokoh bawahan, mencakup tokoh andalan dan tokoh tambahan. Tokoh utama merupakan tokoh yang memegang peran pimpinan dalam sebuah cerita (Sudjiman, 1990: 64-79). Protagonis merupakan tokoh yang baik dan biasanya menarik simpati pembaca. Antagonis merupakan penentang utama/tokoh lawan. Menurut Grimes (via Sudjiman 1988: 19), tokoh bawahan adalah tokoh yang kurang begitu penting kedudukannya dalam cerita, tapi kehadirannya diperlukan untuk menunjang dan mendukung tokoh utama. Tokoh andalan adalah tokoh yang dekat dengan tokoh utama. Tokoh tambahan ialah tokoh yang tidak memegang peranan sama sekali di dalam sebuah cerita (Sudjiman, 1990: 80). Untuk menentukan tokoh utama ada empat cara (Saad dalam Esten, 1984: 93), yaitu tokoh yang paling banyak berhubungan dengan tema; tokoh yang paling banyak berhubungan dengan tokoh lain; tokoh yang paling banyak memerlukan waktu penceritaan, dan tokoh utama dapat juga dilihat dari judul cerita. Cara menampilkan tokoh biasanya disebut penokohan. Penokohan secara umum ada dua cara yaitu analitik dan dramatik. Disebut analitik kalau pengarang menyebut watak dan perangai sang tokoh secara langsung apa adanya atau secara tersurat. Disebut cara dramatik manakala pembaca mesti menyimpulkan sendiri bagaimana sifat sang tokoh.

c. Alur dan Pengaluran Alur ialah peralihan dari satu keadaan ke keaadan yang lain (Luxemburg, 1986 : 150).Alur adalah sambung-sinambungnya peristiwa berdasarkan hukum sebab akibat (Saad dalam Lukman Ali, 1967: 120). Lebih lanjut Saad mengemukakan bahwa alur cerita memiliki bagian-bagian: awal, tikaian, rumitan, puncak, leraian, dan akhir cerita. Alur tersebut di atas oleh Prihatmi (1987) disederhana-kan menjadi awalan, rumitan, klimaks, leraian, dan selesaian. Akhir cerita ada dua yaitu tertutup dan terbuka. Disebut tertutup jika keputusan terhadap sesuatu sudah ditunjukkan oleh sang pengarang. Disebut terbuka jika akhir cerita diserahkan kepada pembaca, terserah bagaimana imajinasi pembaca menangkap kemungkinan yang ada (Sudjiman, 1988: 34). Pengaluran adalah cara menampilkan alur. Menurut urutan waktu (Prihatmi, 1987: 79) dibedakan antara alur lurus dan alur tak lurus. Alur lurus merupakan alur yang kronologis. Alur tak lurus yaitu alur yang urutan waktunya tak kronologis. Menurut kualitasnya, alur dibedakan menjadi rapat dan renggang/ degresi. Disebut rapat jika keterkaitan jalan cerita sangat erat. Disebut alur longgar jika terjadi percabangan cerita. Dari segi kuantitas/jumlah, dibedakan alur tunggal dan alur ganda. Alur tunggal jika jumlah alur hanya satu. Alur ganda jika jumlah alur lebih dari satu. Alur rapat berkaitan dengan alur tunggal. Alur renggang berkaitan dengan alur ganda. d. Latar dan Pelataran
Latar adalah segala petunjuk, keterangan, acuan yang berkait dengan waktu, ruang, suasana terjadinya peristiwa. Hudson (via Sudjiman, 1990: 44, 48). membedakannya menjadi latar sosial dan latar material. Latar sosial ialah gambaran keadaan masyarakat, adat-istiadat, cara hidup, termasuk bahasa. Latar material adalah wujud suatu tempat secara fisik, misalnya bangunan atau nama daerah. Perlu dibedakan antara waktu cerita dan waktu penceritaan. Waktu cerita berhubungannya dengan latar, kapan terjadinya suatu

153

peristiwa dalam cerita. Waktu penceritaan berkaitan dengan waktu/halaman yang dibutuhkan pengarang dalam menceritakan sesuatu (Sudjiman, 1988: 103-104). Pelataran adalah cara menampilkan latar. Jika pelukisan latar sesuai dengan kondisi psikologis tokoh, dinamakan latar serasi. Jika pelukisan latar tidak sesuai dengan kondisi psikologis tokoh dinamakan latar kontras (Sudjiman, 1988: 46).

e. Pusat Pengisahan Menurut Wellek (1990: 292-294) pusat pengisahan adalah bagaimana pengarang menyampaikan ceritanya kepada pembaca. Menurut Sudjiman (1988: 78) antara sudut pandang (point of view) dan pusat pengisahan berbeda. Sudut Pandang bermula dari sudut pencerita dengan kisahannya. Pusat pengisahan bermula dari tokoh mana yang disoroti. Harry Shaw menyarankan bahwa point of view mencakup (via Sudjiman, 1988: 76): sudut pandang fisik, yaitu bagaimana pengarang memposisikan diri; dalam pendekatan materi cerita dari sisi waktu dan ruang; sudut pandang mental, bagaimana pengarang memposisikan dalam sisi perasan dan sikap; dan sudut pandang pribadi, bagaimana pilihan pengarang atas cara orang I, II, atau III; Masih oleh Shaw, dalam sudut pandang pribadi dijelaskan lebih lanjut, yaitu tokoh utama (author participant); tokoh bawahan (author observant); dan impersonal (author omniscient), pengarang sebagai pencerita serba tahu.
3. Membaca Cerpen Sebagaimana membaca puisi, hal-hal yang perlu diperhatkan dalam membaca cerpen adalah lafal, intonasi, dan ekspresi. Lafal adalah kejelasan atas pengucapan suku kata, kata, atau kalimat. Lafal dapat disebut juga dengan artikulasi. Intonasi adalah tekanan atas kata atau kalimat dari teks puisi yang hendak dibacakan. Intonasi dapat dicapai melalui volume, nada, dan tempo. Ekspresi adalah bagaimana secara keseluruhan puisi disampaikan kepada publik. Ekspresi dicapai melalui lafal, intonasi, mimik, dan gesture atau gerak tubuh. Biasanya, cerita pendek lebih panjang dibandingkan puisi. Oleh karena itu, dalam membaca cerita pendek juga diperlukan stamina dan variasi. Stamina karena jumlah halaman cerpen yang lebih banyak tersebut. Variasi diperlukan agar publik tidak bosan dan jenuh dengan pembacaan kita. D. Drama Setelah proses pelatihan materi Prosa, Puisi, dan drama ini diharapkan para peserta dapat: 1. Menjelaskan cara memerankan drama dengan memperhatikan lafal, intonasi, ekspresi, dan lakuan 2. Menjelaskan alur drama, berdasarkan kutipan dialog drama yang disajikan 3. Menjelaskan pesan drama, beradasarkan kutipan dialog drama yang disajikan 4. Menjelaskan tema drama, bedasarkan kutipan yang disajikan 5. Menjelaskan latar drama, berdasarkan kutipan yang disajikan 6. Menjelaskan cara menyusun dialog drama dengan tepat, berdasarkan ilsutrasi yang disajikan 7. Menjelaskan lakuan drama, berdasarkan dialog yang disajikan 1. Hakikat drama Drama adalah karya sastra yang dominan dengan dialog dan diniatkan untuk dipentaskan. Sebagai naskah yang utuh, drama dibangun oleh beberapa unsur yang saling berkaitan, yaitu:

154

a dialog Dialog merupakan ucapan tokoh tertentu yang kemudian disusul oleh ucapan tokoh yang lain.. Selain itu, informasi juga diberikan melalui petunjuk pemanggungan. Contoh: Aa Ii Uu karya Arifin C Noer (1994: 8) Lalu Ibu melangkah ke pintu IBU UU IBU UU IBU : Kamu bilang apa tadi? Ahli sejarah? : Mama tidak suda? : Kalau kerja nanti di kantor apa? : Yang pasti bukan di kantor dagang seperti papa : Nanti sulit cari kerja.

b Petunjuk pemanggungan Petunjuk pemanggungan adalah teks sampingan yang memberikan petunjuk berbagai aspek pemanggungan. Teks ini mungkin terdapat di dalam dialog (intradialog) dan mungkin pula terdapat di luar dialog (ekstradialog). Perhatikan kutipan Aa Ii Uu karya Arifin C Noer (1994: 8) berikut: Shot-shot pendek ini sekaligus sebagai latarbelakang KREDIT TAITEL *Beberapa shot yang melukiskan murid-murid esmea sedang ujian penghabisan. Di antaranya adalah UU. *Beberapa shot ketika mereka ketika membaca pengumuman hasil ujian. UU lulus. Senang sekali dia. Shot-shot tersebut akan dibalut dengan sebuah nyanyian yang segera liriknya akan disusulkan. Yang penting adegan tersebut harus merupakan adegan sekolahan yang mulus hening namun menyimpan banyak harapan. c karakter kepribadian tokoh yang dapat terlihat dari tindakan, pikiran tokoh. d tema; yaitu ide pokok yang dalam sebuah cerita. e amanat yaitu pesan yang hendak disampaikan penulis dari sebuah cerita. Tema berifat umum, amanat lebih bersifat moral. f alur/ plot; yaitu jalan cerita. Dimulai dengan pemaparan (perkenalan awal tokoh dan penokohan), adanya masalah (konflik), konflikasi (masalah baru), krisis (pertentangan mencapai titik puncakklimak s.d. antiklimaks), resolusi (pemecahan masalah), dan ditutup dengan ending (keputusan). Perhatikan kutipan naskah drama Aa Ii Uu karya Arifin C Noer (1994: 55) : 10.INT. RUMAH RUSTAM, KAMAR UU, SIANG Pintu itu terbuka dan buru-buru IBU mendekati UU yang masih mengigau ditempat tidurnya. IBU membangunkan UU. IBU : Uu! Uu! Bangun, sayang! UU : (jaga) Ogah! Uu tetap mau jurusan sejarah. IBU : Iya, sayang. Semua sekarang setuju Uu masuk jurusan sejarah, jurusan apa pun asal Uu memang punya cita-cita. UU : Papa? 155

IBU : Semua! UU : Ma! IBU : Sayang! Lalu mereka berpelukan. Dan SELESAI. g latar/ setting; yaitu tempat, suasana, dan waktu cerita. Perhatikan kutipan naskah drama Aa Ii Uu karya Arifin C Noer (1994: 116) 05. INT. RUMAH RUSMAN, KAMAR, MALAM IBU : Kamu tidak sendirian, U. Mama akan sekuat tenaga juga meyakinkan mereka bahwa kamu berhak mewujudkan impian kamu. UU : Pokoknya Uu akan mencunci diri dalam kamar dan mogok makan. IBU : Mama juga tidak boleh masuk? UU : (Sebentar) Kalau Mama boleh. IBU : Kalau mama juga antar makanan? UU menggelengkan kepalanya. 2. Teknik menulis naskah drama Berbeda dengan puisi dan cerita pendek, dan novel, teks drama memiliki kemungkinan untuk dipentaskan. Oleh karena itu, seoerang penulis teks drama harus memperhitungkan bagaimana kira-kira teks tersebut apabila dipentaskan. Hal-hal yang perlu diperhitungkan oleh seorang penulis drama adalah panggung, properti, tata lampu. Kesemua yang berkaitan dengan bagaimana cara memanggungkan teks tersebut atau petunjuk tentang hal itu tertulis dalam teks samping. 3. Melakonkan Drama Pada saat dipentaskan, terdapat unsur-unsur yang juga perlu dipertimbangkan yaitu panggung, properti, pemeran, make up, kostum, musik, tata lampu, termasuk juga penonton. Jika di dalam puisi dan prosa dipergunakan istilah membaca, di dalam drama dipergunakan istilah melakonkan drama atau memerankan lakuan. Selain lafal, intonasi, dan ekspresi yang mencakup volume, nada, dan tempo, tetap diperlukan mimik, dan gesture atau gerak tubuh. Di dalam sebuah pentas drama pemeran atau pemain perlu memahami kostum, blocking, properti, tatacahaya, serta musik. Kesemuanya akan mempengaruhi keberhasilan sebuah pentas. Daftar pustaka Arya, Putu. 1983. Apresiasi Puisi dan Prosa. Ende Flores: Nusa Indah. Calzoum Bachri, Sutardji. 2003. O Amuk Kapak. Jakarta : Horison Dananjaya, James. 1991. Foklor Indonesia: Ilmu Gosip,Donegeng, dan lain-lain. Jakarta: Grafiti. Effendi. S. 1982. Bimbingan Apresiasi Puisi. Jakarta: Tangga Mustika Alam. Fananie, Zainuddin. 1982. Telaah Sastra. Surakarta: Muhamadiyah University Press. Fang, Liaw Yock. 1991. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik. Jilid 1. Jakarta: Erlangga. 156

_______. 1993. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik. Jilid 2. Jakarta: Erlangga. Ismail, Taufik. 2003. Malu (aku) Jadi orang Indonesia. Jakarta: Yayasan Indonesia Leak, Sosiawan. 2007. Dunia Bogam-Bola.Jogjakarta:Indonesia Tera Luxemburg, et.al. 1982. Pengantar Ilmu Sastra. Terjemahan Dick Hartoko. Jakarta: Gramedia. Mido, Frans. 1982. Cerita Rekaan dan Seluk Beluknya. Ende, Flores: Nusa Indah 1994. Noer, Arifin C. 1994. AA II UU. Jakarta: Balai Pustaka. Semi Atar M. 1992. Anatomi Sastra. Bandung: Rosda Karya. Sudjiman, Panuti. 1992. Memahami Cerita Rekaan. Bandung: Remaja Rosda Karya. Suyitno. 1986. Tata Nilai dan Eksegesis. Yogyakarta: Hanindita. Tarigan, Guntur H. 1986. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa. Tjahjono Libertus, T. 1986. Sastra Indonesia: Pengantar Teori dan Apresiasi. Ende, Flores: Nusa Indah. Waluyo, Herman. 1986. Pengkajian Prosa Fiksi. Surakarta: UNS. Wellek & Warren A. 1986. Teori Kesusastraan. Diindonesiakan Melami Budianta). Jakarta: Gramedia.

157

158

BAB V KRITIK SASTRA


A.Tujuan Pembelajaran (Kompetensi yang ingin dicapai) 1. Dapat menjelaskan konsep dasar, jenis kritik sastra, kritik dan apresiasi sastra dalam puisi, prosa, dan drama. 2. Menjelaskan cara menulis kritik dan esai. 3. Menjelaskan cara memilih tulisan kritik yang bahasanya santun. 4. Membaca penggalan cerpen,puisi untuk apresiasi. B. Paparan Materi 1. Konsep Dasar Kritik Sastra Dalam bahasa Indonesia, kata kritikos bergeser menjadi `kritikus`, sedang kata kriterion bergeser menjadi `kriteria`. Pada saat inikata `kritikus` bergeser menjadi `kritisi`, yang artinya orang yang melakukan kritik sastra. Kritik sastra artinya bidang studi sastra yang membicarakan karya sastra secara langsung (Prihatmi, 1997: 2). Di bawah ini terdapat beberapapengertian kritik sastra; a. Rene Wellek memaparkan bahwa kritik sastra berasal dari krites yang dalam bahasa Yunanikuno berarti hakim,karena berasal dari kata krinein yang berarti menghakimi.Kata Kritikos yang berarti hakim karya sastra. b. Abrams menerangkan bahwa kritik sastra merupakan cabang ilmu yang berurusan dengan perumusan,klasifikasi, penerangan, dan penilaian karyakarya sastra. c. Rachmat Djoko Pradopo menyebutkan bahwa kritik sastra ialah pertimbangan baik buruk karya sastra. d. HB. Jassin bahwa kritik kesusastraan ialah pertimbangan baikatau buruk sesuatu hasilkesusastraan dengan memberikan alasan-alasan mengenai isi dan bentuknya. Dari beberapa pendapat di atas terdapat dua istilah yang dipakai oleh para ahli dalam menggunakan kata sastra dan kesusastraan. Kalau dicermati dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa kata `sastra` berarti (1) bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari); (2) karya tulis yang jika dibandingkan dengan tulisan lain,memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya;(3) kitab suci Hindu, kitab ilmupengetahuan; (4) pustaka;kitab primbon (berisi ramalan, hitungan); (5) tulisan, huruf (Dep Pend dan Keb, 1994: 884). Adapun Yudiono (1990: 21) Mengemukakan bahwa kesusastraan diartikan sebagai karya kesenian yang diwujudkan dengan bahasa sebagai gubahan prosa dan puisi yang indah-indah. Dari hal tersebut sebetulnya tidak perlu dicari arti setepat-tepatnya dari kata sastra maupun kesusastraan, karena kedua kata tersebut memiliki arti hampir sama. Ini dikuatkan oleh M.Saleh Saad (melalui Yudiono, 1990: 21) bahwa untuk sementara tidak ada keberatan terhadap istilah kritik sastra yang dipakai berdampingan dengan istilah kritik kesusastraan dalam arti yang sama. Namun untuk keseragaman istilah dalam tulisan ini dipergunakan kritik sastra. Dari beberapa rumusan di atas dapat disimpulkan bahwa kritik sastra merupakan kegiatan menghakimi, perumusan, klasifikasi, penerangan, dan penilaian karya-karya sastra. Kegiatan untuk memberi pertimbangan baik buruk karya sastra dengan memberikan alasan-alasan mengenai isi dan bentuknya. Jadi, dalam melakukan kritik terhadap sebuah karya sastra, kritikus akan menetapkan penggolongan, menguraikan atau memecah-mecah sebuah karya

159

sastra ke dalam unsur-unsur pembentuknya atau norma-normanya disertai tafsiran. Dengan bekerja seperti ituorang akhirnya dapat memberi penilaian bagaimana kelebihan-kelebihannya dan cacat-cacatnya atau kekurangankekurangannya dengan memberikan alasan atau komentar-komentar yang dapat dipertanggungjawabkan. Kritik sastra merupakan salah satu bidang ilmu sastra. Adapun ilmu sastra atau studi sastra meliputi (1) kritik sastra; (2) teori sastra; (3) sejarah sastra. Ketiga bidang studi sastra tersebut sangat erat berkaitan dan saling melengkapi. Sejarah sastra dapat menjalankan tugasnya apabila didukung oleh adanya teori sastra, sebab ketika orang akan menggolong-golongkan ke dalam periode tertentu terdapat pertimbangan-pertimbangan. Adapun pertimbanganpertimbangan tersebut meliputi persamaan tema, persamaan ujud, gaya, latar belakang, dan aliran-aliran tertentu. Hal tersebut membutuhkan teori sastra. Sebaliknya sejarah sastra dapat membantu teori sastra, sebab untuk menyusun teori tentang angkatan, tentang aliran orang tidak dapat lepas dari pandangan orang terhadap perkembangan sastra secara menyeluruh. Pada kritik sastra pun sejarah sastra memberi bantuan ketika seseorang akan menentukan keaslian sebuah karya sastra. Kritik sastra tidak dapat juga lepas dari teori sastra. Seseorang dapat memberi penilaian terhadap karya sastra perlu bantuan teori sastra. Ini diperlukan ketika akan memberi penilaian tentang bentuk-bentuk karya sastra, misalnya tentang prosa, puisi, dan drama. Selain itu juga tentang isi dalam karya sastra. Perlu diketahui bahwa teori sastra adalah bidang ilmu sastra yang membicarakan tentang konsep-konsep sastra, hakekat sastra, prinsip-prinsip sastra, latar belakang sastra, jenis-jenis sastra, susunan dalam karya sastra, dan prinsip-prinsip dalampenilaian dalam karya sastra. Adapun sejarah sastra adalah bidang ilmu sastra yang membicarakan perkembangan sastra sejak awal timbulnya sampai pada masa sekarang. Dengan sejarah sastra inilah orang dapat melihat timbultenggelamnya suatu jenis karya sastra (genre) tertentu, bagaimana aliran yang satu mati digantikan dengan aliran yang lain;bagaimana suatu gaya pada waktu tertentu dapat merupakan suatu mode (Baribin,1987: 12). 2. Fungsi Kritik Sastra Telah dijelaskan di atas bahwa kritik sastra merupakan sebuah proses untuk memberikan penilaian terhadap karya sastra yang disertai dengan memberikan penafsiran terlebih dahulu. Dengan demikian dalam memberikan kritikan terhadap karya sastra, kritikus dapat meyakinkan dengan menerapkan ukuran-ukuran yang objektif, yang memerlukan keterlibatan langsung seseorang terhadap karya sastra. Seorang kritikus memerlukan kecakapan untuk dapat mengungkapkan kembali pengalaman leterer dari karya sastra yang dikritiknya. Hasil kritik sastra dapat dilakukan secara terbuka dan dimuat di media massa, sehingga dapat bermanfaat bagi peminat sastra karena pembaca pemula mendapatkan panduan dalam memberikan penilaian terhadap karya sastra. Hal tersebut dapat membiasakan masyarakat sastra menaruh perhatian terhadap tulisan-tulisan kritik sastra, karena masyarakat itu menganggap atau mengakui bahwa kritik sastra bermanfaat. Dalam mengadakan kritik sastra, kritikus akan memaparkan kembali pengalaman-pengalaman literer (pengalaman penghayatan, pengalaman berdialog secara langsung dengan karya sastra, pengalaman mendapatkan keindahan dalam karya sastra), secara objektif seorang kritikus dapat mengungkapkan nilai karya sastra yang telah dihayati dan dipahami.

160

Bagaimana dengan fungsi kritik sastra, Yudiono (1990: 24-27) mengungkapkan bahwa fungsi kritik sastra: a. Memberi penilaian atas baik atau buruknya suatu karya sastra. b. Mendidik pembaca untuk menghargai karya sastra yang bernilai. c. Membiasakan masyarakat sastra untuk menaruh perhatian terhadap tulisantulisan kritik sastra. d. Memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mungkin timbul dalam diri pembaca setelah menikmati suatu karya satra. Ini dapat berfungsi sebagai jembatan antara pengarang dengan pembaca. e. Memberikan sumbangan pendapat atau bahan-bahan bagi penyusunan atau pengembangan teori sastra. f. Memberikan sumbangan pendapat atau bahan-bahan bagipenyusunan sejarah sastra. g. Memberikan sumbangan pendapat atau pertimbangan kepada pengarang tentang karyanya, sehingga pengarang yang memanfaatnkan kritik sastra akan dapat mengembangkan atau meningkatkan mutu hasil karyanya. Sementara Andre Harjana (melalui Yudiono,1990: 26) menyatakan bahwa fungsi kritik sastra adalah: a. Memelihara dan menyelamatkan pengalaman manusiawi serta menjalinkannya menjadi suatu proses perkembangan susunan-susunan atau struktur yang bermakna. b. Untuk mengukuhkan nilai-nilai manusiawi dan dasar-dasar masyarakat berbudaya. 3. Jenis Kritik Satra a. Menurut Bentuknya ada 2 jenis kritik sastra 1) Kritik teoritik (theoritical criticism), yaitu kritik sastra dalam bidang teori, atau teori tentang kritik sastra, berisi prinsip-prinsip kritik sastra sebagai dasar pertimbangan dan penafsiran, dan kriteria-kriteria untuk menilai karya sastra agar dapat diterapkan pada pembahasan karya sastra. 2) Kritik Terapan atau kritikpraktek,yaitu penerapan teori-teori kritik pada karya sastra. (Abrams melalui Prihatmi, 1997: 4). b. Menurut Pelaksanaannya, kritik sastra dapat digolongkan menjadi 3 jenis. 1) Kritik Yudisial (Judicial Criticism) Kritik sastra yang berusaha menganalisis dan menerangkan efek-efek karya sastra berdasarkan pokoknya atau temanya,organisasinya,teknik, serta gayanya,dan mendasarkan pertimbangan-pertimbangan individual kritikus atas dasar srandar-standar umum tentang kehebatan dan keluarbiasaan karya sastra. 2) Kritik Induktif (Inductive Criticism) kritik sastra yang menguraikan bagianbagian karya sastra berdasarkan fenomena-fenomena yang ada secara objektif. Kritikinduktif meneliti karya sastra secara objektif, tanpa menggunakan standar-standar yang tetap yang berasaldari luar dirinya. 3) Kritik Impressionistik kritik sastra yang berusaha menggambarkan dengan kata-kata sifat-sifat yang terasa dalam bagian-bagian khusus atau dalam sebuah karya sastra dan menyatakan tanggapan-tanggapan (impressi)kritikus yang ditimbulkan secara langsung oleh karya sastra. (Baribin, 1987: 31). c. Menurut pendekatan, digunakan rumusan dari Abrams ada 4 pendekatan yaitu karya sastra, sastrawan, alam, dan pembaca (Abrams melalui Prihatmi, 1997: 4) 1) Kritik Objektif

161

Kritik ini menganggap karya sastra sebagai sesuatu yang otonom, mandiri, bebas dari sekitarnya. Karya sastra dianggap sebagai sebuah keseluruhan yang mencukupi dirinya, tersusun atas bagian-bagian yang saling terjalin sangat erat. Kritik ini terlepas dari pengarang maupun dunia sekitarnya, misalnya dari lingkungan sosial-budaya jamannya. Karya sastra hanya dinilai atas unsur-unsur yang membentuknya. Yang dilakukan kritikus adalah memberi penilaian atas kriteria intrinsik, kompleksitas,keseimbangan atas unsur-unsur pembentuknya. 2) Kritik Ekspresif Kritik ini bertolak dari keyakinan bahwa karya sastra adalah ekspresi jiwa sastrawan. Sastrawan secara sadar atau tidak sadar tertuang dalam karyanya. Kriteria yang digunakan untuk menilai keberhasilan karya sastra yaitu terletak apakah jiwa pengarang, ide pengarang tertuang dalam karyanya. Seorang kritikus seolah dapat berdialog langsung dengan pengarangnya melalui karya sastra. Karya sastra dipandang sebagai pernyataan batin pengarangnya.Karya sastra dapat dianggap sebagaialat untuk memahami keadaan jiwa pengarangnya. 3) Kritik Mimetik Mimetik berasal dari bahasa Yunani mimesis yang artinya: peniruan. Karena orientasinya pada alam atau kehidupan, maka yang ditiru adalah alam atau kehidupan. Dengan demikian kriteria keberhasilan karya sastra adalah ketetapan atau kebenaran dalam meniru alam atau kehidupan. Dapat diungkapkan pula bahwa karya sastra merupakan tiruan atau pembayangan dunia kehidupan nyata. 4) Kritik Pragmatik Pragmatik artinya berguna atau bermanfaat.Dalam hubungannya dengan karya sastra, maka karya sastra harus berguna atau bermanfaat pada pembaca. Horatius pernah mengatakan bahwa karya sastra itu berfungsi dulce et utile yang artinya menyenangkan dan berguna. Unsur kegunaan itulah yang dipakaioleh kritikus untukmengadakan penilaian terhadapkarya sastra. Karya sastra dapat dipakai sebagai alat untukmencapai tujuan tertentu. Dengan demikian karya sastra yang baik ditentukan oleh fungsi karya sastra tersebut dalam kehidupan. 5. Kritik dan Apresiasi Sastra dalam Puisi, Prosa, dan Drama a. Pertemuan Goenawan Mohamad Meniti tasbih malam pelan-pelan Dan burung kedasih menggaris gelap de kejauhan kemudian adalah pesona: wajah-Nya tersandar ke kaca jendela memandang kita, memandang kita lama-lama.

162

Demikianlah bunyi telah diturunkan dan demikianlah Nabi telah dititahkan dan demikian pula manusia dikirimke bumi yang terbentang, dari sorga yang telah ditutupkan. Dan kini tinggallah cinta memancar-mancar dari sunyi kaca jendela b. Mbah Danu Nugroho Notosusanto Wajahnya kasar-kasar seperti tengkorak,kulitnya liat seperti belulang, pipinya selalu menonjol oleh susur tembakau yang ada dalam mulutnya, jalannya tegak seperti seorang maharani yang angkuh. Di Rembang di sekitar tahun tiga puluhan ia lebih terkenal daripada pendeta Osborn pada pertengahan tahun 1954 di Jakarta karena prestasinya menyembuhkan orangorang sakit secara gaib. Ditinjau dari sudut tertentu cara pengobatan Mbah Danu adalah rasional. Titik pangkalnya adalah suatu anggapan yang logis. Mbah Danu menegaskan, bahwa orang sakit itu `didiami` oleh roh-roh jahat; karena itu cara satu-satunya untuk menyembuhkan adalah dengan menghalaukan makhluk yang merugikan kesehatan itu. Si Nah, gadis pelayan pada keluarga Pak Jaksa (pensiunan) telah sebulan sakit demam. Keadaannya makin lama makin payah. Matanya kelihatan putihnya saja, mulutnya berbuih dan ia mengeluarkan bunyi-bunyi binatang, kadang-kadang meringkik seperti kuda, kadang-kadang menyalak, mengeong, berkaok-kaok, dan kalau sudah mengaum, anak-anak dan perempuan-perempuan serumah dan tetangga-tetangga yang bertandang semua lari terbirit-birit seolah-olah percaya, bahwa satu saat kemudian Nah akan menjelma jadi macan gadungan. Menurut kabar yang cepatnya tersiar hampir seperti berita radio, Mbah Danu sedang turne. Routenya adalah Lasem, Pamotan, Jatirogo, Bojonegoro, Tuban, Padangan, Cepu, Blora, dan kembali ke Rembang. Kini ia disinyalir sudah ada di Blora, jadi sudah hampir pulang. Dan benar, ketika Nah tengah mengeong-ngeong seperti kucing kasmaran, Mbah Danu datang membawa koper besi yang sama antiknya dengan yang punya. Dia tembusi badan Nah dengan pandang membara sambil mengelilingkan susur besar di dalam mulutnya. Nah mengingau dengan mata tertutup, buih di mulutnya meleleh ke bawah membasahi bantalnya yang kumal seperti tempat duduk Jeep militer yang sudah tua.Wajahnya pucat seperti kain mori. Ambilkan sapu lidi! perintah Mbah Danu dengan sikap Srikandi wayang orang. Kemudian ia mencengkeram lengan Nah dan menyeretnya dari tikarnya ke lantai. Sapu lidi datang. Ukurannya istimewa besar, karena pak Jaksa mempunyai 60 pohon kelapa di pekarangannya. Mbah Danu memegang sapu lidi itu pada ujungnya yang lunak,kemudian bongkotnya yang garis tengahnya kira-kira 10 cm itu dia ayunkan ke atas dan dia pukulkan sekuat tenaga ke pantat Nah yang terbaring miring. Segenap hadirin melotot matanya dan megar kupingnya melihat dan mendengar pukulan dahsyat itu. Ngeoooong keluar dari mulut Nah mendirikan bulu-bulu di kulit penonton. Mampus engkau sekarang! seru Mbah Danu bengis dan sapulidi terus menerus menghantam pantat Nah dengan irama rhumba. Nah tidak mengeong lagi sekarang, melainkan mengaum seperti singa sirkus yang marah. Sebagian hadirin mau lari.

163

Minggat! Ayo minggat! teriak Mbah Danu dengan amat murka dan dengan tendangan jitu Nah ditengkurapkannya. Kemudian deraannya menghujam pula pada pantat Nah yang kini sadar, bahwa ia manusia Nah, bukan kucing, anjing, kuda atau singa. Aduh biyuuuuung! Aduh biyuuuuung!! tangisnya mengaung. Minggat! Minggat! Minggat! suara Mbah Danu menggelora sampai tetangga-tetangga dan pelintas-pelintas mengalir masuk ke rumah itu untuk menyelidiki sebab-sebab suara ngeri yang mereka dengar. Aduuuuuh! Aduh, aduh, aduuuuh! pekik Nah seperti manusia biasa. Minggat! Minggat! Ayo minggat!! jerit Mbah Danu senyaring-nyaringnya sambil memukul dengan tangan kanan dan menggenggam susur di tangan kiri. Air ludahnya memercik merah ke lantai dan badan Nah dalam setengah lingkaran yang radiusnya 1 1/2 meter. Salah hamba apa kok disuruh minggat dan dihajar? tanya Nah sambil menangis dan ia mencoba merangkak. Sikap Mbah Danu sekaligus berubah. Aku bukannya berbicara denganmu, Nah, katanya dengan suara mineur yang lembut. Aku mengusir setan-setan di dalam badanmu. Sebagai pengeras perkataan yang terakhir, ia tegak sekalilagi serta memukulkan sapu lidi itu sedemikian kerasnya ke badan Nah, sehingga ia sakit dan rebah ke lantai dan mengerang. Peluhnya bercucuran dan menguyubkan pakaiannya. Ha! Hampir modar engkau sekarang! seru Mbah Danu dengan ganas sambil melangkah maju dan menginjak tubuh Nah dengan kedua kakinya. Selama 5 menit ia mondar-mandir di atas badan Nah sampai napas si sakit seperti ububan pandai besi bunyinya. Kedua lengannya diacung-acungkan untuk mempertahankan keseimbangan. Gerak-geriknya persis seperti Batari Durga yang menari di atas mayat manusia. Setelah sudah, ia melentangkan badan Nah yang keringatnya membuat lantai mengkilat basah dan mukannya kini merah padam. Mbah Danu berdiri dan memberi isyarat supaya para penonton yang tak berkepentingan mengundurkan diri. Pintu ditutup dan ia kembali kepada pasiennya. Dengan gerakan-gerakan tangkas pakaian si sakit dibukannya dan kemudia seperti orang kegila-gilaan ia meremas-remas seluruh badan Nah, sambil menggelitik si sakit pada tempat-tempat yang penuh rasa geli. Dan mula-mula Nah menggelepar-gelepar, akhirnya kegelian seperti perawan yang sehat. Seperempat jam Mbah Danu meraba-raba pasiennya, kemudia ia melepaskannya dan tegapada lututnya. Setan-setan sudah alri dari badanmu, Nah, katanya tenang. Engkau telah sembuh. Dan di hadapan mata hadirin, Nah yang tadi sudah seperti setengah mati duduk bersandar pada dinding dan tersenyum sepertiorang bangun tidur. Tidur saja dulu sampai besok, kata Mbah Danu lebih jauh sambil membaringkan dan menyelimuti Nah dengan penuh kasih sayang. Sebentar ia memijit-mijit kepala Nah, kemudia memercikkan ludah sedikit dari mulutnya pada dahi si sakit. Setelah itu berdiri dan keluar untuk meminum kopinya. Prabawa Mbah Danu di rumah pak Jaksa yang jadi sebagian prabawanya di daerah yang terentang dari Kudus sampai Tuban, dari Bonang sampai Randublatung, mengalami tantangan ketika Mr Salyo Kunto, salah seorang menantu pak Jaksa, bersama istrinya mengunjungi mertuannya. Beberapa hari sesuadah kedatangannya, Nyonya Salyo sakit kepala dan pegel-pegel tubuhnya. Bu Jaksa, sesuai dengan tradisi, segera menyuruh panggil Mbah Danu. 164

O, ada sedikit angin jahat bersarang di dalam, Raden Ayu, kata Mbah Danu setelah mendengarkan gejala-gejala penyakit dari mulut Nyonya Salyo sendiri. Coba buka baju saja; akan saya usir. Dan Mbah Danu mulai berpraktek. Pertama kali ibu jarinya kedua-duanya ditekannya ke dalam daging perut Nyonya Salyo, sehingga terbenam sama sakali dan si pasien mencetuskan bunyi yang sukar dilukiskan. Kemudian perut Nyonya Salyo ditekannya dengan kedua telapak tangannya sehingga angin keluar dari bawah dengan bunyi meletup.Setelah itu, punggung dan tengkuk mendapat giliran,dan denga lega Nyonya Salyo bersendawa. Kemudia Mbah Danu melakukan kombinasi kedua pijetan itu, sehingga angin berlomba-lomba keluar dari atas dan dari bawah dengan berletusan.Justru ketika itu Mr. Salyo masuk ke kamar dari jalan-jalan ke tepi pantai. Denga keras Mbah Danu diperintahkannya keluar dari kamar seperti Mbah Danu mengusir setan-setan dari tubuh-tubuh orang sakit. Kemudian istrinya dimarahinya. Engkau tahu bukan, bahwa pijatan itu bisa merusakkan rahimmu!. Sebagai akibat insiden itu, Mbah Danu tak diijinkan menginjak lantai rumah itu kalau menantu akademikus Pak Jaksa itu datang. Suatu kesalahan bagi Mbah Danu.Untung hal itu terjadi paling kerap hanya dua kali dalam setahun. Pada waktu-waktu lainnya kedaulatan Mbah Danu tetaputuh. Clash ke-2 antara Mbah Danu dan Mr. Salyo, meskipun tak langsung berhadap-hadapan, terjadi, ketika Mbok Rah, pelayan Pak Jaksa yang setengah umur, sakit keras, justru menantu Pak Jaksa yang berpendidikan tinggi itu berkunjung ke Rambang. Pak Jaksa dan Bu Jaksa tanpa pikir panjang segera menyuruh panggil Mbah Danu ketika Mbok Rah sudah mulai mengingau; sedangkan Mr. Salyo dengan penuh pertimbangan meminta datang Dokter Umar Chattab, sangat kebetulan Dokter Umar Chattab lebih awal datangnya daripada Mbah Danuyang tidak punya mobil.Sehingga yang beraksi tangan di stetoskop.Dokter Umar,bukan tangan dan air ludah Mbah Danu. Malaria, diagnose Dokter Umar Chattab di kamar Mbok Rah yang gelap.Ia memberi resep kinine, yang pada masa itu satu-satunya obat yang mujarab untuk malaria. Setelah memberi petujuk-petunjuk lain tentang makan dan rawatan si sakit, Pak Dokter pulang. Penyakit Mbok Rah makin lama makin keras. Pak Jaksa dan Bu Jaksa dan tetangga-tetangga yang dekat, tahu benar apa sebabnya. Kualat Mbah Danu! Dan mereka mendesak,agar supaya Mbah Danu dipanggil.Tetapi sebagai jawaban, Mr. Salyo memanggil Dokter Umar Chattab. Soal ini jadi perkara kehormatan baginya, dan perhubungan antara mertua dan menantu jadi tegang. Nyonya Salyo dengan susah payah bisa tetap tinggl netral, tetapi, sebagaimana juga di dalam politik ia dipandang dengan marah oleh kedua pihak yang bertentangan. Namun ia tetap mempertahankan politik bebas yang pasif itu. Dokter Umar Chattab heran. Kininenya sudah Tuan berikan sebagai yang saya tetapkan? tanyanya. Ya, jawab Nyonya Salyo mendahului suaminya. Saya sendiri yang memberikan pil-pil itu kepada Mbok Rah. Dokter Umar Chattab pulang dengan tidak mengubah ketetapannya. Hanya saja ia berpesan, agar supaya waktu menelan pil si sakit diawasi sungguh-sungguh. Keadaan Mbok Rah makin lama makin buruk dan malamnya lagi ia mati. Perang dingin kini mencair jadi gugatan-gugatan lisan yang pedas meskipun tak ditujukan secara langsung.Dengan tak dipanggil, Mbah Danu datang sendiri. Mr. Sayo mengundurkan diri ke dalam kamar tamu. Asbaknya penuh dengan putung sigaret. 165

Kita telah berbuat sebaik mungkin, kata Nyonya Salyo menghibur suaminya. Mengapa Jeng, mengapa ia meninggal?!! seru Mr. Salyo dengan gairah sambil memeluk bahu istrinya yang tidak menjawab. Kita tak bisa menjawab kepada nonsen itu bukan! katanya lagi. Inna li`llahi wa inna illahi raji`un, kata Nyonya Salyo. Ketika fajar menyingsing, persiapan-persiapan untuk penguburan dimulai. Pada jam 7 orang-orang masuk ke kamar jenazah dan mengangkatnya keluar.Mr. Salyo dan nyonya ikut menyaksikan pengambilamn jenazah dari dalam kamar tempat ia dan Dokter Umar Chattab menderita kekalahan terhadap mertuanya dan Mbah Danu.Nyonya Salyo yang mendampingi suami di kamar itu di dalam hatinya cenderung kepada ayah-bundanya, tetapi merasa harus solider terhadap kekecewaan suaminya.Hawa di dalam kamar itu pengab, tambah menyesak dada oleh asap kemenyan. Mr. Salyo membuka jendela lebar-lebar, sehingga sinar matahari pagi masuk dengan gelombang besar. Suatu sosok tubuh muncul di ambang pintu, Mbah Danu. Matanya membara Mr. Salyo merasa tengkuknya dingin.Ia menghela nafas panjang dan melemparkan pandang terakhirkepada bale-bale tempat semalam jenazah terbaring. Dengan sangat tiba-tiba ia terpekik dan telunjuknya diacungkannya ke sudut kamar. Matanya terbelalak lebar-lebar. Nyonya Salyo dan Mbah Danu menengok. Dan juga mereka melihat pil kinine membukit di lantai di bawah bale-bale Mbok Rah. c. Drama Opera Kecoa karya N. Riantiarno (1 adegan) TIGA DI BANGKU-BANGKU PLAZA MONUMEN JULINI BANGUN TIDUR, ROIMA MASIH NGOROK JULINI ROIMA JULINI ROIMA JULINI ROIMA JULINI ROIMA JULINI ROIMA JULINI ROIMA JULINI ROIMA JULINI ROIMA JULINI : Sudah siang. Kang, bangun, bangun. Kita pergi sekarang sebelum diusir satpam. Kang. (MENCUBIT ROIMA) : Aduh, Apa sih? : Sudah siang. Mau ngorok sampai jam berapa? Memangnya ini hotel? (BERKEMAS-KEMAS) : Sudah siang? Masa? Idiih, dibilangi. Ke mana? : Kencing dulu. (KE MONUMEN, KENCING DI SITU) : Kok di situ? : Di mana lagi? : Sudah? Kita pergi? : Tunggu. Kalau tidak salah, gubuk kita dulu ada di sini. Di situ ada kali, jembatan dan di sana gubuk Tarsih, Gubuk Djumini dan Turkan di mana ya? : Di sini. kali. (SAMBIL MEMULAS BIBIRNYA DENGAN LIPSTIK) ; Ditinggal pergi lima tahun, bisa jadi begini. Luar biasa. Ke mana mereka semua sekarang? : Sudah pada mati, .kali. : Sembarangan. : Ya, orang tidak tahu ditanya. Saya sudah nggak inget lagi. : Terang, yang diinget Cuma Tibal. : Idiih cemburu. Tibal sudah lewat. Yang ada sekarang Cuma abang. Onley abang, forever.

166

(DUA

SATPAM MUNCUL DI KEJAUHAN. LANGSUNG MEMBUNYIKAN PELUITNYA) JULINI : Tuh, tuh, apa kata Julini. Satpam. Sudah dibilangi supaya pergi dari tadi, malah mogok, Ayo. (MEREKA PERGI, BERLARI. ANEHNYA PELUIT MALAH SEMAKIN BANYAK. MAKIN BANYAK DAN MAKIN BANYAK). 1). Kritik Objektif terhadap cerpen Mbah Danu karya Nugroho Notosusanto. Dilihat dari gaya bahasanya, rupanya pengarang senang menggunakan gaya perbandingan. Seperti pada ` Wajahnya kasar-kasar seperti tengkorak, kulitnya liat seperti belulang, pipinya selalu menonjol oleh susur tembakau yang ada dalam mulutnya, jalannya tegak seperti seorang maharani yang angkuh` Untuk menggambarkan tokoh Mbah Danu pengarang menggunakan gaya perbandingan,dengan gaya bahasa seperti ini, pembaca dapat membayangkan bagaimana sosok Mbah Danu. Mbah Danu yang memiliki wajah yang kasar, yang pembaca dapat membayangkan kasar seperti tengkorak, kulitnya yang seperti belulang kasar liat, sampai pada cara Mbah Danu berjalan digambarkan oleh pengarang seperti seorang maharani yang angkuh. Demikian pula ketika pengarang menggambarkan keadaan bantal Nah dan wajah nah yang pucat ` buih di mulutnya meleleh ke bawah membasahi bantalnya yang kumal seperti tempat duduk Jeep militer yang sudah tua.Wajahnya pucat seperti kain mori`. Dengan menggunakan gaya perbandingan, pembaca dapat membayangkan bagaimana bantal nah yang digambarkan oleh pengarang seperti tempat duduk Jeep militer yang sudah tua. Wajah Nah yang pucat digambarkan oleh pengarang seperti kain mori. Dalam mengungkapkan ceritanya pengarang kurang memberi gambaran yang jelas tentang latar cerita. Pengarang hanya menyebut nama kota untuk tempat-tempat peristiwanya seperti `Lasem, Pamotan, Jatirogo, Bojonegoro, Tuban, Padangan, Cepu, Blora, Rembang`. Pada peristiwa di rumah PakJaksa,pengarang juga hanya menyebut nama kota yaitu Rembang. Seperti kutipan ` menantu Pak Jaksa yang berpendidikan tinggi itu berkunjung ke Rambang.` Hal ini mengakibatkan pembaca kurang dapat membayangkan gambaran yang jelas tentang latar dalamceritanya. Hanya dapat diketahui bahwa ceritanya terjadi di Jawa Tengah,karena kota Rembang berada di Jawa Tengah. Dilihat dari alur cerita, pengarang terlalu cepat menyelesaikan ceritanya, terkesan terburu-buru. Antiklimaks tidak terlihat. Cerita terkonsentrasi pada bagian rumitan, sehingga ketika cerita selesai membuat pembaca terkejut. Ini rupanya yang membuat cerita menjadi menarik. 2) Kritik Ekspresif puisi Pertemuan karya Goenawan Mohamad Pada puisi ini penyair rupanya ingin mengungkapkan bahwa dirinya merasa telah bertemu dengan Tuhan ini dinyatakan dalam bait pertama Meniti tasbih malam pelan-pelan Dan burung kedasih menggaris gelap de kejauhan kemudian adalah pesona: wajah-Nya tersandar ke kaca jendela memandang kita, memandang kita lama-lama

167

Pada kutipan di atas dapat dimaknai bahwa penyair dalam malam ketika ia sedang berzikir pada waktu malam hari ia merasa bahwa Tuhan ada bersana dengan dirinya. Ini terungkap pada wajah-Nya tersandar ke kaca jendela memandang kita, memandang kita lama-lama. Kenikmatan bersama dengan Tuhan diungkapkan sebagai sebuah pesona. Terdapat keindahan yang luar biasa ketika dapat merasakan adanya pertemuan dengan Tuhan. Cinta Tuhan terhadap dirimya dirasakan penyair bahwa Tuhan telah mengirimkan nabi untuknya yang datang dari surga. Seperti pada baris dan demikianlah Nabi telah dititahkan dan demikian pula manusia dikirimke bumi yang terbentang, dari sorga 3). Kritik Mimetik Drama Opera Kecoa Karya N. Riantiarno Apabila diperhatikan drama di atas, pengarang rupanya mengangkat masalah gelandangan yang sering dikejar-kejar oleh satpam. Ini menunjukkan bahwa pengarang telah mampu memotret keadaan sepasang gelandangan yang hidup di kolong jembatan, di gubuk-gubuk. Mereka sering menjadi sasaran satpam ketika satpam melakukan rasia. Seperti ketika Julini mengajak Roima segera meninggalkan tempatnya. Ini memang merupakan gambaran kehidupan gelandangan yang dicoba oleh pengarang untuk diangkat ke dalam karyanya. Pemirsa diajak untuk berempati terhadap kehidupan gelandangan yang sebetulnya sama seperti kehidupan yang normal. Mereka memiliki cinta, rasa cemburu, rasa kekhawatiran. Mereka menginginkan rasa aman juga. a. Kritik Sastra dan Esai Sastra Sering orang sulit membedakan antara kritik dan esai. Kedua istilah itu sebenarnya hanya dipakai untuk memberikan komentar atau reaksi mental terhadap sebuah karya sastra yang dibaca,aktivitas penyusunannya,strukturnya, serta aspek kepengarangannya. Tetapikedua aktivitas tersebut dilihat dari segi graduasi dan intensitas prilaku yang dibebankan terhadapkarya sastra. Ada beberapa pendapat tentang esai sastra. H.B Jassin berpendapat bahwa esai membicarakan bermacam ragam,tidak tersusun secara teratur tetapi seperti dipetik dari bermacam-macam jalan kehidupan. Dalam esai terlihat keinginan,sikap terhadap soal yang dibicarakan, kadang-kadang terhadap keseluruhan dalam sebuah karya sastra. Sementara Arief Budiman berpendapat esai adalah karangan yang sedang panjangnya yang membahas persoalan secara mudah dan sepintas lalu dalam bentukprosa. Dalam esai yang utama bukanlah pokok persoalan melainkan bayangan kepribadian dari pengarang yang simpatik dan menarik, jadi bersifat pribadi. Esai tidak memecahkan persoalan tetapi melukiskan persoalan dalamkarya sastra (Baribin, 1987: 10). Diungkapkan oleh Semi (1993: 15-16) bahwa esai sastra adalah suatu tulisan yang merupakan laporan hasil eksplorasi atau pengungkapan penulis tentang karya sastra yang sifatnya lebih banyak menekankan aspek sensasi dan kekaguman penelaah tentang hasil bacaannya atau hasil penjelajahannya. Lebih lanjut diungkapkan bahwa esai memiliki persamaan dengan kritik sastra yaitu pada aktivitas dalam aspek penghayatan, pengapresiasian, penganalisisan, dan penilaian juga dilakukan. Sebenarnya,apa saja yang dibicarakan tentang karya sastra boleh dinamakan esai sastra. 168

b. Cara Meyusun Kriti Sastra Agar dapat menyusun kritik sastra dengan baik, dan agar kritik sastra mampu menjalankan fungsinya dengan baik tentu kritikus diminta pertanggungjawaban atas tugasnya sebagai pengkritik. Kritikus juga harus mampu membuktikan bahwa kritik yang dilakukannya mampu memberikan sumbangan yang baik terhadap pembinaan dan pengembangan sastra. Adapun Semi (1993: 17) mengungkapkan kritik sastra dapat menjalankan fungsinya dengan baik adalah: a. Kritik sastra yang disusun atas dasar keinginan untuk memperbaiki mutu karya sastra dan mutukhalayakpembaca. b. Kritik sastra yang disusun atas dasar pendekatan dan metode kerja yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan c. Kritik sastra yang dilahirkan oleh pengritik yang mempunyai rasa tanggung jawab moral dan intelektual disebabkan ia mempunyai minat membaca dan menekuni sastra dan ilmu sastra Berguna tidaknya sebuah kritik sastra akhirnya berpulang dari tanggung jawab kritikus. Tanggung jawab profesional pengkritik agar peranan kritik sastra dapat berkembang dan tumbuh subur di tengah-tengah lingkungannya,yang akhirnya dapat memberikan faedah yang besar,baik bagi sastrawan,penikmat sastra,maupun bagi kritikus itu sendiri. Tugas dan tanggung jawab kritikus sebenarnya diarahkan kepada upaya memfungsikan kritik sastra itu sendiri.Lebih dari itu,upaya pengembangan metode kritik kritik dan pendekatan kritik secara terus menerus perlu pula dilakukan, terutama dalam menemukan konsep-konsep kritik sastra yang sesuai dengan hakikat sastranusantara. C. Latihan-Latihan 1. Buatlah kritik mimetik terhadap cerpen Mbah Danu karya Nugroho Notosusanto 2. Buatlah kritik Objektif terhadap puisi Pertemuan karya Gunawan Muhamad 3. Buatlah kritik pragmatik terhadap cerpen Mbah Danu karya Nugroho Notosusanto 4. Buatlah kritik ekspresif terhadap drama Opera Keoa karya N. Riantiarno D. Rangkuman Kritik sastra merupakan kegiatan menghakimi, perumusan, klasifikasi, penerangan, dan penilaian karya-karya sastra. Kegiatan untuk memberi pertimbangan baik buruk karya sastra dengan memberikan alasan-alasan mengenai isi dan bentuknya. Jadi, dalam melakukan kritik terhadap sebuah karya sastra, kritikus akan menetapkan penggolongan, menguraikan atau memecahmecah sebuah karya sastra ke dalam unsur-unsur pembentuknya atau normanormanya disertai tafsiran. Dengan bekerja seperti itu orang akhirnya dapat memberi penilaian bagaimana kelebihan-kelebihannya dan cacat-cacatnya atau kekurangan-kekurangannya dengan memberikan alasan atau komentar-komentar yang dapat dipertanggungjawabkan. Fungsi kritik sastra adalah : Memberi penilaian atas baik atau buruknya suatu karya sastra. Mendidik pembaca untuk menghargai karya sastra yang bernilai. Membiasakan masyarakat sastra untuk menaruh perhatian terhadap tulisan-tulisan kritik sastra. Memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mungkin timbul dalam diri pembaca setelah menikmati suatu karya satra. Ini dapat berfungsi sebagai jembatan antara pengarang dengan pembaca. Memberikan sumbangan pendapat atau bahan-bahan bagi penyusunan atau pengembangan teori sastra. Memberikan sumbangan pendapat atau bahan-bahan bagipenyusunan 169

sejarah sastra.Memberikan sumbangan pendapat atau pertimbangan kepada pengarang tentang karyanya, sehingga pengarang yang memanfaatnkan kritik sastra akan dapat mengembangkan atau meningkatkan mutu hasil karyanya. Menurut Bentuknya ada 2 jenis kritik sastra yaitu (1) Kritik teoritik (theoritical criticism), yaitu kritik sastra dalam bidang teori, atau teori tentang kritik sastra; (2) Kritik Terapan atau kritikpraktek,yaitu penerapan teori-teori kritik pada karya sastra. Adapun menurut pelaksanaannya, kritik sastra dapat digolongkan menjadi 3 jenis.(1) Kritik Yudisial (Judicial Criticism) Kritik sastra yang berusaha menganalisis dan menerangkan efek-efek karya sastra berdasarkan pokoknya atau temanya; (2) Kritik Induktif (Inductive Criticism) kritik sastra yang menguraikan bagian-bagian karya sastra berdasarkan fenomena-fenomena yang ada secara objektif. (3) Kritik Impressionistik kritik sastra yang berusaha menggambarkan dengan kata-kata sifat-sifat yang terasa dalam bagian-bagian khusus atau dalam sebuah karya sastra dan menyatakan tanggapan-tanggapan (impressi) kritikus. Menurut pendekatan, digunakan rumusan dari Abrams ada 4 pendekatan yaitu (1) Kritik Objektif yang menganggap karya sastra sebagai sesuatu yang otonom, mandiri, bebas dari sekitarnya. (2) Kritik Ekspresif yang bertolak dari keyakinan bahwa karya sastra adalah ekspresi jiwa sastrawan. (3) Kritik Mimetik yang orientasinya pada alam atau kehidupan, maka yang ditiru adalah alam atau kehidupan. Dengan demikian kriteria keberhasilan karya sastra adalah ketetapan atau kebenaran dalam meniru alam atau kehidupan. (4)Kritik Pragmatik kritik ini menganggap bahwa karya sastra harus berguna atau bermanfaat pada pembaca. Perbedaan antara kritik dan esai sebenarnya hanya dipakai untuk memberikan komentar atau reaksi mental terhadap sebuah karya sastra yang dibaca,aktivitas penyusunannya, strukturnya, serta aspek kepengarangannya. Tetapi kedua aktivitas tersebut dilihat dari segi graduasi dan intensitas prilaku yang dibebankan terhadapkarya sastra. Agar dapat menyusun kritik sastra dengan baik, dan agar kritik sastra mampu menjalankan fungsinya dengan baik tentu kritikus diminta pertanggungjawaban atas tugasnya sebagai pengkritik. Kritikus juga harus mampu membuktikan bahwa kritik yang dilakukannya mampu memberikan sumbangan yang baik terhadap pembinaan dan pengembangan sastra. Kritik sastra dapat menjalankan fungsinya dengan baik jika kritik sastra yang disusun atas dasar keinginan untuk memperbaiki mutu karya sastra dan mutuk halayak pembaca, disusun atas dasar pendekatan dan metode kerja yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan, pengritik mempunyai rasa tanggung jawab moral dan intelektual disebabkan ia mempunyai minat membaca dan menekuni sastra dan ilmu sastra Berguna tidaknya sebuah kritik sastra akhirnya berpulang dari tanggung jawab kritikus. Tugas dan tanggung jawab kritikus sebenarnya diarahkan kepada upaya memfungsikan kritik sastra itu sendiri. E. Evaluasi 1. Jelaskan yang dimaksud dengan kritik sastra. 2. Jelaskan fungsi kritik sastra. 3. Berdasarkan bentuknya kritik sastra dibedakan atas apa saja, jelaskan. 4. Berdasarkan pendekatannya kritik sastra dibedakan atas apa saja, jelaskan. 5. Jelaskan perbedaan antara kritik sastra dan esai. F. Kunci Jawaban

170

1. Kritik sastra merupakan kegiatan menghakimi, perumusan, klasifikasi, penerangan, dan penilaian terhadap karya-karya sastra. 2. Fungsi kritik sastra adalah : Memberi penilaian atas baik atau buruknya suatu karya sastra, agar pembaca dapat menghargai karya sastra yang bernilai sehingga masyarakat sastra menaruh perhatian terhadap tulisan-tulisan kritik sastra. Kritik sastra dapat juga berfungsi sebagai jembatan antara pengarang dengan pembaca. Memberikan sumbangan pendapat atau bahan-bahan untuk penyusunan atau pengembangan teori sastra. Memberikan sumbangan pendapat atau bahan-bahan penyusunan sejarah sastra. Memberikan sumbangan pendapat atau pertimbangan kepada pengarang tentang karyanya, sehingga pengarang yang memanfaatnkan kritik sastra akan dapat mengembangkan atau meningkatkan mutu hasil karyanya. 3. Menurut Bentuknya ada 2 jenis kritik sastra yaitu (1) Kritik teoritik (theoritical criticism), yaitu kritik sastra dalam bidang teori, atau teori tentang kritik sastra; (2) Kritik Terapan atau kritikpraktek,yaitu penerapan teori-teori kritik pada karya sastra. 4. Pendekatan dalamkritik sastra adalah (1) Kritik Objektif yang menganggap karya sastra sebagai sesuatu yang otonom. (2) Kritik Ekspresif yang bertolak dari keyakinan bahwa karya sastra adalah ekspresi jiwa sastrawan. (3) Kritik Mimetik yang orientasinya pada alam atau kehidupan kriteria keberhasilan karya sastra adalah ketetapan atau kebenaran dalam meniru alam atau kehidupan. (4)Kritik Pragmatik kritik ini menganggap bahwa karya sastra harus berguna atau bermanfaat pada pembaca. 5. Perbedaan antara kritik dan esai sebenarnya hanya terletak pada cara memberikan komentar atau reaksi mental terhadap sebuah karya sastra yang dibaca, aktivitas penyusunannya, strukturnya, serta aspek kepengarangannya.

G.Daftar Pustaka Baribin, Raminah. 1987. Kritik dan Penilaian Sastra. Semarang: IKIP Semarang. Hardjana, Andre. 1991. Kritik Sastra Sebuah Pengantar. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Mohamad, Goenawan. 1992. Asmarandana. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Notosusanto, Nugroho.1995. Tiga kota. Jakarta: Balai Pustaka. Semi, M. Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa. Wellek, rene & Austin Warren. 1990. Teori Kesusastraan (diindonesiakan oleh Melani Budianta). Jakarta: PT Gramedia. Yudiono Ks. 1990. Telaah Kritik Ssatra Indonesia. Bandung: Angkasa. __________2003. Ahmad Tohari: Karya dan Dunianya.Jakarta: Gramedia

171

172

173

BAB VI KETERAMPILAN BERBICARA-MENYIMAK


A. TUJUAN PEMBELAJARAN Setelah mengikuti materi berbicara-menyimak, maka perserta PLPG diharapkan dapat: 1. menjelaskan konsep dasar dalam kegiatan menyimak dan berbicara. 2. mengajukan pertanyaan yang cocok untuk wawancara. 3. memberikan jawaban dengan benar pada saat wawancara sebagai seorang narasumber 4. menerapkan komponen-komponen yang harus dipatuhi dalam berpidato. 5. menentukan kalimat pembuka dan penutup pada pidato yang benar. 6. Menerapkan komponen-komponen yang harus dipatuhi dalam berdiskusi. B. PAPARAN MATERI Kehidupan manusia tidak lepas dari kegiatan komunikasi, karena komunikasi merupakan bagian integral dari sistem dan tatanan kehidupan sosial manusia atau masyarakat. Aktivitas komunikasi terjadi pada setiap aspek kehidupan, mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali di malam hari. Sepanjang waktu manusia melakukan aktivitas komunikasi yang meliputi kegiatan berbicara dan menyimak. Hasil penelitian menunjukkan pentingnya komunikasi dalam kehidupan seharihari. Menurut Jiwanta (dalam Suprapto, 2006:2) presentase waktu yang digunakan dalam proses komunikasi sangat besar, berkisar 75% sampai 90% dari kegiatan kita. Waktu yang digunakan dalam proses komunikasi 5% digunakan untuk menulis, 10% untuk membaca, 35% untuk berbicara, dan 50% untuk menyimak/mendengarkan. 1. KETERAMPILAN MENYIMAK a. Hakikat keterampilan menyimak Banyak orang memaknai kata listen atau mendengar seadanya, namun definisi kamus bisa saja berbeda dengan apa yang dimaknai orang. The American Heritage Dictionary mengatakan bahwa listen berarti melakukan upaya mendengarkan sesuatu dan memperhatikan, menyimak (Maggio, 2007:39). Setiap hari manusia, baik anak kecil maupun orang dewasa melakukan kegiatan mendengarkan maupun menyimak. Di manapun mereka berada selalu melakukan kegiatan tersebut, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, kantor, pasar, tempat ibadah, maupun di sekolah. Terkadang seseorang menjadi terampil baik dalam bahasa pertama maupun bahasa kedua, dalam memahami variasi bahasa, variasi dialek, dan stuktur bahasa, tetapi terkadang seseorang kurang terampil dalam kegiatan berbicara. Keterampilan menyimak bukan merupakan suatu proses yang pasif, melainkan suatu proses aktif dalam mengkonstruksi pesan dari suatu bunyi yang diketahui orang sebagai sebagai potensi fonologi, semantik, dan sintaksis suatu bahasa (Ahmadi, 1990:8). Unsur yang sangat penting dan fundamental dalam semua interaksi adalah keterampilan untuk memahami apa yang dikatakan atau diucapkan oleh orang lain atau pembicara (Ahmadi, 1990:7).

174

Menyimak yang baik Apabila seseorang ingin menjadi pembicara yang baik, ingat bahwa menyimak lebih dari sekadar membiarkan orang lain berbicara. Memperhatikan orang yang sedang berbicara merupakan upaya untuk menyimak. Oleh karena itu mendengarkan merupakan perilaku aktif, bukan pasif. Kegiatan tersebut terdiri dari serangkaian kegiatan mendengarkan, memahami, dan mengingat.

b.

mendengarkan

memahami

mengingat

Pendengar yang baik tentunya akan mengambil bagian dari percakapan, memahami apa yang didengar, menawarkan gagasan, dan mengajukan pertanyaan agar pembicaraan mengalir dengan hangat. Ada beberapa hal yang dapat diperhatikan untuk menjadi pendengar yang baik.

Tidak cukup hanya berdiam diri ketika lawan bicara Anda sedang berbicara; itu bukan mendengar dalam arti yang sebenarnya. Orang harus benar-benar memberi perhatian kepada lawan bicara, sesekali mengajukan pertanyaan, mengomentari apa yang dikatakan. Pendengar yang baik dapat memancing yang terbaik dari orang lain. Ia tanggap. Matanya menunjukkan sorot tertarik dan senang. Tak sedikit pun ia lepas dari perhatiannya. -Lilian EichlerKeterampilan menyimak dalam kegiatan belajar mengajar Kegiatan menyimak dapat dilakukan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Dalam kegiatan belajar mengajar menyimak, pola kegiatan pembelajaran dapat diberlakukan aktivitas menyimak. Menurut Wilga M. Rivers (dalam Ahmadi, 1990:8) menyimak dalam pembelajaran dibagi menjadi beberapa tahap. 1) Identifikasi Siswa mempersepsi bunyi dan frase dengan mengidentifikasi secara langsung terhadap arti. 2) Identifikasi dan seleksi tanpa retensi Siswa mendengarkan untuk kesenangan memahami dan menyarikan sekuen arti, tanpa dituntut mendemonstrasikan pemahaman melalui penggunaan bahasa secara aktif. 3) Identifikasi dan seleksi terarah dengan retensi pendek c.

175

Siswa diberi beberapa indikator lebih dahulu tentang hal-hal yang didengar atau disimak. Siswa mendemontrasikan pemahaman secara langsung dan dengan cara yang aktif. 4) Identifikasi dan seleksi dengan retensi yang meminta waktu panjang. Siswa mendemonstrasikan pemahamannya atau menggunakan bahan ajar yang telah dipahami setelah mengalami kegiatan mendengarkan secara tuntas. Bisa juga siswa dilibatkan dalam aktivitas yang meminta pengingatan kembali tentang materi pelajaran yang telah dipelajari sebelumnya. 2. KETERAMPILAN BERBICARA a. Hakikat keterampilan berbicara Keterampilan berbicara pada hakikatnya merupakan keterampilan memproduksi arus sistem bunyi artikulasi untuk menyampaikan kehendak, kebutuhan, perasaan, dan keinginan kepada orang lain. Dalam kegiatan berbicara kelengkapan vokal seseorang merupakan prasyarat alamiah yang dapat memproduksi suatu ragam yang luas dari artikulasi, tekanan, nada, kesenyapan, dan lagu kalimat. Keterampilan berbicara juga didasari oleh kepercayaan diri untuk berbicara secara wajar, jujur, benar, dan bertanggung jawab dengan melenyapkan problem kejiwaan, seperti rasa malu, rendah diri, ketegangan, dan berat lidah (Ahmadi, 1990:18). Dengan demikian, berbicara itu lebih daripada sekadar pengucapan bunyi atau kata-kata. Berbicara merupakan cara untuk mengkomunikasikan gagasan sesuai dengan kebutuhan pendengar atau penyimak (Mulgrave melalui Tarigan,1981:15). Berbicara dengan orang yang tidak dikenal bisa saja menimbulkan suasana yang tidak nyaman, bahkan suasanya menjadi beku dan kurang besahabat. Melalui sejumlah penelitian ditunjukkan bahwa rasa takut untuk berbicara di depan publik kemungkinan terkait dengan rasa takut untuk dipermalukan akibat konfrontasi di depan publik. Pembicara merasa yakin tidak dapat mengatasi hal tersebut (Rogers, 2003:198). b. Tujuan keterampilan berbicara Tujuan utama berbicara adalah berkomunikasi. Agar dapat menyampaikan pikiran secara efektif, maka seorang pembicara harus memahami makna segala sesuatu yang ingin dikomunikasikan. Menurut Tarigan (1981:16), berbicara mempunyai tiga maksud umum, yaitu: 1) memberitahukan, melaporkan (to inform); 2) menjamu, menghibur (to entertain); dan 3) membujuk, mengajak, mendesak, meyakinkan (to persuade). Sementara itu, Menurut Fowler (dalam Ahmadi, 1990:19), tujuan keterampilan berbicara mencakup beberapa hal. 1) Mudah dan lancar atau fasih berbicara 2) Kejelasan berbicara 3) Bertanggung jawab 4) Membentuk pendengar yang kritis. c. Kunci sukses dalam keterampilan berbicara Menurut King (2008:15), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika berbicara dengan siapa saja. 1) Mengatasi rasa malu Yang harus dilakukan dalam berbicara dengan sejumlah orang adalah membuat mereka mudah melakukannya. Orang yang diajak 176

berbicara akan semakin menikmati percakapan jika mereka tahu bahwa si pembicara menikmati pembicaraan. Hal ini dapat digunakan untuk mengatasi kekhawatiran. Menjadi pembicara yang baik karena si pembicara dapat mengatasi kekhawatiran. 2) Memulai Di manapun kita berada, topik-topik di sekitar kita dapat digunakan untuk membuka atau memulai pembicaraan. 3) Pertanyaan yang harus dihindari Hindari pertanyaan ya/tidak. Pertanyaan tersebut merupakan musuh percakapan yang hangat. Dari sifatnya, pertanyaan seperti itu menghasilkan jawaban yang hanya berupa satu kata atau dua kata sehingga suasana percakapan menjadi monoton dan membosankan. 4) Hukum pertama percakapan Hukum pertama percakapan adalah dengarkanlah. Jika ingin belajar banyak maka seseorang harus melakukan sesuatu dan mendengarkan apa yang disampaikan atau dibicarakan orang lain. Dale Carnegie dalam bukunya How to win Friends dan Influence People, yang telah terjual lima belas juta eksemplar, mengatakan: Agar diperhatikan, perhatikanlah. Dale menambahkan, Ajukan pertanyaan-pertanyaan yang membuat orang lain senang menjawabnya. Ajarkanlah mereka membicarakan diri mereka, dan prestasi-prestasi mereka. 5) Bahasa tubuh Louze Nizer pernah mengatakan: kalau kau silangkan tanganmu di dada, berarti kau merasa kikuk, tidak nyaman, dan menutup diri. Bahasa tubuh merupakan bagian alami dari percakapan dan komunikasi. Jika terjadi secara alami, bahasa tubuh akan menjadi bentuk komunikasi yang sangat efektif. Jika dibuat-buat akan tampak seperti bukan aslinya (palsu). Ada hukum bahasa tubuh yang dapat diikuti agar percakapan berhasil buatlah kontak mata. mempertahankan kontak mata yang baik tidak sekadar di awal dan akhir kata, tetapi selama berbicara dan mendengarkan akan membuat seseorang menjadi pembicara yang hebat di mana pun ia berada. 6) Adakah tabu-tabu lain Sekarang tidak perlu terlalu memikirkan hal-hal yang ditabukan, sebagaimana pada generasi sebelumnya. Kata tabu jarang sekali terdengar lagi, karena tinggal sedikit hal-hal tabu yang tersisa. Secara umum gunakan kebijaksanaan, jangan mengandaikan bahwa orang yang diajak berbicara merasa enak dengan salah satu hal yang tabu. Oleh karena itu menjadi pembicara yang baik juga harus kaya informasi dan relevansi. Orang-orang yang merasa tidak berhak untuk menyatakan perasaan, atau merasa tidak berhak untuk membuat kesalahan, kemungkinan besar takut bicara di depan publik. Saat melakukan presentasi, mereka mungkin akan bereaksi seperti: 1) Tidak yakin terhadap pendapat mereka dalam satu masalah penting 2) Memikirkan hal-hal yang bertentangan 3) Merasa yakin bahwa pendapat mereka salah 4) Merasa sedang dikritik atau dicemooh 5) Merasa dirinya seorang penipu yang akan dibeberkan di muka umum 177

6) Membuat pernyataan negatif, atau gerakan yang bersifat merendah atau menghina diri sendiri (Rogers, 2003:209). Dalam kegiatan berbicara, pada umumnya komunikasi dikontrol oleh komunikator. Jika seorang guru sedang mengajar di kelas maka guru tersebut yang menentukan apa yang harus atau tidak harus disampaikan. Jika guru tersebut dapat berkomunikasi dan dapat tampil dengan baik, maka pesan atau materi yang disampaikan akan diterima oleh peserta didik. Menurut Suprapto (2006), komunikator sebagai narasumber dengan mudah dapat mengontrol apa yang diucapkan atau disampaikan, tetapi komunikator tidak dapat mengontrol apa yang didengarkan atau sedang dipikirkan oleh audiens. 3. WAWANCARA a. Pengertian Interview atau wawancara adalah suatu percakapan yang diarahkan pada suatu masalah tertentu; ini merupakan proses tanya jawab lisan, yang menempatkan dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik (Kartono,1980: 171). Proses interview melibatkan 2 (dua) pihak dengan peran yang berbeda. Pihak pertama berfungsi sebagai penanya, disebut pula sebagai interviewer, pewawancara; sedangkan pihak kedua berfungsi sebagai pemberi informasi (Information supplyer), narasumber atau informan. Interviewer mengajukan pertanyaan-pertanyaan, meminta keterangan atau penjelasan, sambil menilai jawaban dari narasumber. Pada saat yang sama interviewer mengadakan evaluasi dan penegasan (menyatakan kembali isi jawaban interviewer dengan kata-kata lain), mengingat-ingat dan mencatat jawaban-jawaban. Di samping itu dia juga menggali keterangan-keterangan lebih lanjut dan berusaha melakukan probing (rangsangan, dorongan). Seorang pewawancara harus bersikap santun/hormat serta tidak memojokkan narasumber. Adu argumentasi juga dianjurkan dalam sebuah wawancara, sepanjang pewawancara siap dengan pengetahuan yang mendalam tentang topik yang dibahas. Namun demikian, harus dijaga agar adu argumentasi tidak mengarah ke debat kusir. Jika mengajukan argumen dan kemudian argumen itu disalahkan narasumber, pewawancara tidak perlu mendebatnya secara berkepanjangan. Akhiri dengan cukup mengatakan, Oke, kita berbeda pandangan mengenai soal yang satu ini. Persoalannya kemudian apakah blabla... Lalu lanjutkan ke pertanyaan yang lain, atau bahkan menggeser arah pembicaraan. Selain itu, jika narasumber tampak mulai emosi, pewawancara sebaiknya tidak menanggapi dengan emosi juga, melainkan tetap menunjukkan ketenangan (Fadli, 2005:13-14). Seorang pewawancara sebaiknya mengambil sikap sejajar dengan narasumbernya. Dengan berada pada posisi yang sejajar, pewawancara dapat menanyakan pertanyaan- pertanyaan penting dan valid, serta meminta jawaban yang jujur. Hak ini juga dimiliki oleh pendengar atau penonton yang posisinya diwakili oleh pewawancara (Stokkink melalui Fadli, 2005:14). b. Jenis pertanyaan dalam wawancara Pertanyaan dibedakan menjadi dua (Maggio, 2007:56). 1) Pertanyaan terbuka Pertanyaan terbuka digunakan untuk memancing jawaban yang lebih kompleks.

178

Pada dasarnya dalam membuat pertanyaan terbuka dapat dimulai dengan beberapa kata tanya yaitu 5 W + 1 H (who: siapa, when: kapan, what: apa, why: mengapa, where: di mana, atau how: bagaimana). 2) Pertanyaan tertutup Pertanyaan tertutup digunakan untuk memancing jawaban satu kata, bisa juga dengan jawaban ya atau tidak. Di dalam menyusun pertanyaan tertutup dapat dimulai dengan: a) Apakah Anda. b) Sudahkan Anda. Pertanyaan tertutup menghasilkan sepotong informasi kecil yang cenderung menghentikan pembicaraan. Ada juga orang yang awalnya mengajukan pertanyaan tertutup, dan bisa mengembangkan dengan cukup lama. Bisa juga orang yang berpikir literal akan memberikan jawaban satu kata (ya, tidak, benar, atau salah). Titik. Selesai. Lalu apa? Pertanyaan tertutup bisa juga digunakan untuk cepat-cepat mengakhiri pembicaraan dan segera pergi meninggalkan lawan bicara atau informan. Secara umum dalam setiap pembicaraan apapun, seimbangkan pertanyaan dengan jawaban. Pertanyaan saja tidak akan menghasilkan pergantian giliran dalam pembicaraan. Kunci dalam kegiatan wawancara atau hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat wawancara berlangsung. 1) jangan menjawab pertanyaan sendiri. 2) Jangan mengajukan pertanyaan jika tidak benar-benar ingin mendapatkan jawaban yang jujur Contoh: Apa yang harus saya lakukan? Bagaimana menurut Anda pendapat saya selama rapat tadi? Bersediakah Anda menjadi guru pengganti selama saya tugas ke luar kota? c. Menjawab pertanyaan Kegiatan wawancara dilakukan untuk menggali informasi dan menemukan jawaban atas pertanyaan yang ada. Sebagai narasumber atau informan bisa saja tidak diharuskan untuk menjawab suatu pertanyaan, apabila pertanyaan tersebut retorik. Selain itu jika pertanyaan yang bersifat agresif, menyinggung, atau kasar, dapat dijawab dengan berbagai hal yaitu berdiam diri, menatap kosong, memohon diri untuk pergi. Perlu diingat bahwa narasumber memiliki hak untuk sedikit bicara atau pelit ngomong.Maka membuat narasumber banyak bicara adalah kewajiban pewawancara. Contoh: 1) Kalau tidak keberatan, mengapa Anda menanyakan hal itu? 2) Apakah Anda perlu tahu? 3) Maaf, itu bersifat pribadi bagi saya. 4) Maaf, itu bukan informasi yang bisa saya berikan. 5) Maaf, saya tidak memiliki hak untuk menjawab pertanyaan itu. 6) Apa maksud Anda? 4. PIDATO a. Pengertian Pidato adalah pengekspresian ide / gagasan, penyajian informasi untuk membangkitkan kepedulian pendengar, agar melakukan pendalaman dan 179

tindak lanjut. Mengorganisasikan suatu pidato bagaikan membangun sebuah jembatan. Ada jalan masuk, rentang jembatan dan jalan keluar . Pidato yang baik dapat memberikan suatu kesan positif bagi orang-orang yang mendengar pidato tersebut dan dapat mempengaruhi audiens. Kemampuan berpidato atau berbicara yang baik di depan publik/umum dapat membantu untuk mencapai jenjang karir yang baik. Komponen pidato meliputi penyaji, pendengar, materi yang disajikan, feedback/umpan balik, dan moderator, yang masing-masing memiliki peran dan fungsinya sendiri. b. Tujuan pidato Di dalam berpidato umumnya orang melakukan satu atau beberapa hal berikut ini. 1) Mempengaruhi orang lain agar mau mengikuti kemauan kita dengan suka rela. 2) Memberi suatu pemahaman atau informasi pada orang lain. 3) Membuat orang lain senang dengan pidato yang menghibur sehingga orang lain senang dan puas dengan ucapan yang kita sampaikan. c. Teknik pidato Menurut Effendi (2006:64-65), ketika seseorang akan naik mimbar untuk berpidato, ia dapat melakukannya dengan dua cara yaitu pidato tanpa naskah dan pidato dengan naskah. Teknik atau metode dalam membawakan suatu pidato di depan umum. 1) Metode menghafal Pidato yang disampaikan dengan metode ini dipersiapkan dan ditulis secara lengkap terlebih dulu, kemudian dihafal kata demi kata. Ada pembicara yang berhasil dengan metode ini, namun ada juga yang tidak. Berpidato dengan metode ini sering menjemukan dan tidak menarik. Ada kecenderungan untuk berbicara cepat-cepat karena khawatir lupa, dan mengeluarkan kata-kata tanpa menghayati maknanya. Metode ini juga sering menyulitkan pembicara untuk menyesuaikan diri dengan situasi dan reaksi pendengar ketika menyampaikan uraiannya (Arsyad dan Mukti U.S., 1988: 65). 2) Metode serta merta (impromptu) Metode ini dilakukan berdasarkan kebutuhan sesaat. Pembicara membawakan pidato tanpa persiapan sama sekali dan hanya mengandalkan pengalaman dan pengetahuannya. Biasanya dalam keadaan darurat tak terduga banyak menggunakan teknik serta merta. 3) Metode naskah Metode ini sering dipakai dalam pidato resmi atau pidato televise dan radio. Metode ini sifatnya agak kaku, sebab bila tidak atau kurang melakukan latihan yang cukup, terjadi seolah-olah tidak ada hubungan antara pembicara dengan pendengar. Mata dan perhatian pembicara selalu terfokus ke naskah, sehingga ia tidak bebas menatap pendengarnya. Pembicara harus dapat member tekanan dan variasi suara untuk menghidupkan pembicaraannya. 4) Metode ekstemporan (tanpa persiapan naskah) Uraian yang akan dibawakan dengan metode ini direncanakan dengan cermat dan dibuat catatan-catatan penting, yang sekaligus menjadi urutan bagi uraian itu. Dalam penyampaiannya, pembicara dengan bebas berbicara dan bebas pula memilih kata-katanya sendiri.

180

d. Kunci sukses dalam pidato Beberapa orang masih takut berpidato, meskipun sudah berkali-kali melakukannya. Menurut King (2008:156), kunci pertama untuk menjadi pembicara yang sukses adalah bicarakanlah hal yang Anda pahami. Hal ini begitu jelas, tetapi banyak pembicara pemula membuat kesalahan dengan mengambil pokok bahasan yang tidak sepenuhnya dipahami. Akibatnya adalah hal-hal sebagai berikut. 1) Audiens merasa bosan karena lebih banyak tahu daripada orator 2) Orator tidak merasa yakin dengan pokok bahasannya, sehingga ia tidak yakin pula dalam bersikap. Agar memiliki kemampuan berpidato yang baik diperlukan persiapan yang sebaik-baiknya dan latihan secara teratur. Bagi orang yang sudah biasa berpidato di hadapan massa, mempersiapkan pidato dan melakukan latihan mungkin tidak diperlukan lagi, namun bagi pemula, hal itu sangat diperlukan. Mencari pokok bahasan yang dipahami sangat penting sebelum berpidato. Hal tersebut karena topik pidato yang dikuasai pembicara sangat menentukan sukses tidaknya suatu pidato. Penguasaan materi atau topik yang baik akan memperlancar penyampaian materi pidato. e. Cara Mengawali Pidato Pembicara yang belum berpengalaman dan tidak terlatih mungkin merasa kesulitan untuk mengawali pidato. Bisa saja pembicara terlalu cepat berbicara, lambat berbicara, penuh keraguan, suara kurang keras hampir tidak terdengar sampai audiens belakang, gugup, atau bisa saja terbata-bata menyampaikan isi pidato. Hal tersebut dapat teratasi dengan salah satu cara yaitu pelatihan dilakukan tahap demi tahap untuk mengurangi masalah yang ada dalam diri pembicara. Cara berlatih yang baik agar pembicara bisa mengawali pidato dengan penuh percaya diri adalah dengan latihan menceritakan sebuah cerita sederhana, cerita pendek tetapi lengkap yang memiliki bagian awal, tengah, dan akhir. Atau bahkan bisa menceritakan sebuah lelucon atau anekdot yang lucu. Selain itu juga perlu melakukan latihan duduk, berdiri, mengatur keseimbangan, berjalan, dan latihan memantapkan diri. (Rogers, 2003:56-58) . Contoh anekdot Seorang pria muda yang tidak pernah sakit sepanjang hidupnya, tiba-tiba terserang penyakit yang sangat serius. Pengalaman tersebut membuatnya terguncang, karena untuk pertama kalinya, pria itu sadar, bahwa dirinya tidak abadi. Dia berkata pada dokter, Dokter, saya bersedia melakukan apa saja, asal saya bisa panjang umur. Katakan dokter, apa yang harus saya lakukan? Dokter itu berkata, Bangun pagi, jangan tidur terlambat, banyak makan sayur, tidak merokok, tidak minum minuman keras, dan jauhi wanita. Kalau saya melakukan itu. tanya pria muda itu, apakah saya benar-benar akan hidup lebih lama? Tidak, jawab sang dokter, tetapi, hidupmu akan terasa jauh lebih lama. Hal penting dalam pendahuluan pidato adalah membangkitkan perhatian. Audiens tertarik dan antusias untuk mendengarkan uraian atau topik

181

yang akan disampaikan. Menurut Effendi (2006:66), berbagai cara dapat dilakukan untuk memikat perhatian audiens. 1) Mengemukakan kutipan (ayat suci al-Quran, pendapat ahli, kata-kata tokoh) 2) Mengajukan pertanyaan 3) Menyajikan ilustrasi 4) Memberikan fakta yang mengejutkan 5) Menyajikan hal yang mengandung rasa manusiawi 6) Mengetengahkan pengalaman yang ganjil Cara tersebut harus disesuaikan dengan tema pidato dan diselaraskan dengan latar belakang audiens. Cara mengakhiri pidato Akhiri pidato dengan cara yang memikat. Sebelum mengakhiri pidato, berhenti sejenak. Berdiam diri, tutup mulut sebentar. Biarkan suasana hening. Semua memperhatikan. Menunggu dengan expresi wajah yang kebingungan. Begitu semua perhatian terfokus kepada pembicara, lanjutkan pidato. Berikutnya, lakukan pengakhiran dengan menyimpulkan pidato. Pidato berakhir dengan sangat memikat. Pidato dikatakan berhasil jika terpenuhinya tujuan/komponen pidato. Setelah pidato berlangsung, sasaran memahami, mengerti pesan dan akhirnya mengubah sikap dan perilaku sesuai dengan tujuan komunikasi. Dalam berpidato dan berkomunikasi, yang penting how. Pidato sebagai bagian dari komunikasi harus hati-hati, karena efek yang timbul (negatif) sulit untuk dihilangkan. Dalam berpidato, ingat motto: Naik mimbar tanpa persiapan, turun mimbar tanpa kehormatan. g. Menjawab Pertanyaan Menurut Rogers (2003), menjawab pertanyaan pendengar bertujuan untuk menambah keragaman penyampaian materi. Selain itu, Tanya jawab juga memberikan pendengar kesempatan yang terbatas untuk ikut berpartisipasi. Dalam menjawab pertanyaan pendengar, tampilkan diri dan gagasan dengan tenang, lancar, dan meyakinkan. Pertanyaan yang diajukan pendengar dalam sebuah sesi tanya jawab bisa ditanggapi seorang pembicara melalui dua sudut pandang. 1) Ada pembicara yang tidak menyukai sesi tanya jawab Pembicara kurang menyukai sesi tanya jawab karena: a) Pendengar mengajukan pertanyaan sulit b) Pembicara tidak dapat menjawab pertanyaan pendengar c) Sedikit pengetahuan d) Kurang memahami materi yang disampaikan 2) Ada pembicara yang menyukai sesi tanya jawab. h. Langkah-langkah pidato Dalam berpidato terdapat langkahlangkah penting yang harus dilakukan agar hasilnya maksimal. Langkahlangkah tersebut di antaranya: 1) Meneliti masalah a) Menentukan maksud pidato b) Menganalisis pendengar dan suasana c) Memilih dan menyempitkan pokok permasalahan yang telah diangkat 2) Menyusun naskah pidato a) Mengumpulkan bahan Penyusunan dan pengumpulan data diusahakan seakurat mungkin yaitu sesuai fakta, ilustrasi, cerita atau pokok-pokok yang 182 f.

kongkrit untuk mengembangkan pidato agar lebih maksimal. Penyusun pidato sebaiknya banyak bertanya kepada pihakpihak yang menyetahui persoalan tersebut. Pengetahuan pembicara beserta semua bahan bahan tersebut akan memungkinkan pembicara berbicara dengan baik. b) Membuat kerangka (out line) Seorang pembicara harus menentukan pokokpokok pemasalahan, sehingga dapat merencanakan kerangka pidatonya secara terperinci. Kerangka pidato memang harus disusun secara terperinci supaya menimbulkan keyakinan tentang kesatuan koherensinya. Kerangka susunan pidato/skema susunan suatu pidato yang baik : (1) Pembukaan dengan salam pembuka (2) Pendahuluan yang sedikit menggambarkan isi (3) Isi atau materi pidato secara sistematis : maksud, tujuan, sasaran, rencana, langkah, dll. (4) Penutup (simpulan, harapan, pesan, salam penutup, dll) c) Menguraikan isi pidato Langkah terbaik dalam berpidato tergantung pada pembawaan dan kesanggupan setiap orang yang bersangkutan serta suasana yang ada pada waktu itu. Dalam hal menguraikan isi pidato, terdapat terdapat dua cara yang sering digunakan, yaitu 1) pidato bebas dengan sekali-kali melihat kerangka yang sudah disusun untuk menjamin keteraturan dan tidak terdapat ide-ide yang terlangkahi; 2) menggarap pidato tersebut dengan disusun kata-kata secara lengkap dan terperinci selanjutnya tinggal dibacakan saja. d) Menguasai isi pidato secara terperinci e) Latihan Moral 3) Latihan Sebelum menyampaikan suatu uraian di hadapan umum hendaknya pembicara terlebih dahulu melakukan latihan membaca naskah, agar pada waktnya nanti dapat melakukan pidato dengan lancar. Dengan melakukan latihan, seorang membicara dapat membiasakan diri dan menemukan cara yang tepat. Tiga langkah di atas harus dilakukan dengan urut, sehingga dapat memberikan hasil yang makimal. 5. DISKUSI a. Hakikat diskusi Diskusi merupakan kegiatan sekelompok orang yang setidak-tidaknya terdiri dari beberapa orang. Pada hakikatnya proses diskusi mengarah kepada pembicaraan suatu masalah secara tuntas oleh dua orang atau lebih, terutama dalam situasi saling berhadapan atau tatap muka. Prinsip diskusi yang baik dapat terlaksana dengan sebaik-baiknya dalam pertemuan. Karena pertemuan tersebut pada hakikatnya ditujukan untuk mengambil keputusan. b. Jenis diskusi Berdasarkan situasi, diskusi dibedakan menjadi dua. 1) Diskusi tertutup Diskusi tertutup atau pertemuan tertutup merupakan suatu pertemuan yang semua pesertanya ikut aktif mengambil bagian,

183

termasuk ketua pertemuan tanpa kehadiran pendengar dalam bentuk apapun. Jumlah peserta yang berpartisipasi dalam pertemuan seperti ini biasanya berbeda-beda, mulai dari hanya dua orang sampai sepuluh orang. Jenis diskusi tertutup meliputi: a) Konferensi b) Komisi c) Wawancara Konferensi, pertemuan komisi dan wawancara hampir selalu mempunyai sifat pribadi, karena merupakan jenis dasar diskusi tertutup. 2) Diskusi terbuka Diskusi terbuka atau pertemuan terbuka merupakan pertemuan yang terdiri dari orang-orang tertentu yang berbicara atau ikut dalam diskusi yang diadakan di hadapan peserta dalam jumlah bayak. Kegiatan tersebut antara pembicara dengan pendengar duduk terpisah. Diskusi terbuka juga disebut diskusi umum. Menurut Zelko (1984), jenis diskusi terbuka meliputi: a) Panel Panel merupakan suatu kelompok yang terdiri dari tiga sampai enam orang ahli yang ditunjuk untuk mengemukakan pandangannya dari berbagai segi mengenai suatu masalah, politik, sosial atau lainnya di depan sidang penonton atau pendengar. b) Simposium Simposium merupakan variasi dari panel. Dalam suatu symposium, tiga orang atau lebih yang dianggap ahli menyampaikan pandanganpandangan yang berbeda mengenai suatu pokok pembicaraan. Sementara itu, para pendengar atau partisipan mengambil bagian dalam diskusi. c) Seminar Seminar merupakan suatu pertemuan yang bersifat ilmiah untuk membahas masalah tertentu dengan prasaran serta tanggapan melalui suatu diskusi untuk mendapatkan keputusan bersama mengenai masalah tersebut. Masalah yang dibahas dalam seminar mempunyai ruang lingkup yang terbatas dan tertentu. d) Debat Debat adalah adu argumentasi untuk menentukan baik tidaknya suatu usul tertentu yang didukung oleh satu pihak yang disebut pendukung (pihak/kelompok pro) dan ditolak, disangkal oleh pihak lain yang disebut penyangkal (pihak/kelompok kontra). e) Ceramah Ceramah adalah suatu cara penyampaian keterangan atau informasi atau uraian suatu pokok persoalan secara lisan. Dalam ceramah terdapat komunikasi dua arah antara pembicara dan pendengar, yaitu berupa dialog, tanya jawab atau diskusi. f) Forum Forum merupakan pertemuan umum atau ceramah yang melibatkan para peserta untuk mendiskusikan masalah. g) Diskusi kelompok Diskusi kelompok adalah tukar menukar informasi, pendapat, dan gagasam di antara semua anggota kelpmpok. Diskusi kelompok merupakan proses diskusi dalam semua situasi kelompok. 184

c. Perencanaa kegiatan diskusi Menurut Zelko (1984), langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam perencanaan diskusi: 1) Tentukan sifat pertemuan dan sifat kelompok 2) Tentukan jenis diskusi yang terbaik 3) Pilih dan rumuskan masalah yang akan dibahas 4) Pilih peserta dan informasikan segera 5) Adakan pertemuan dengan peserta 6) Siapkan fasilitas yang diperlukan 7) Pelajari masalah yang diacarakan 8) Persiapkan suatu kegiatan diskusi bagi seluruh program 9) Siapkan materi yang akan disampaikan 10) Pertimbangkan pengumuman apa yang diperlukan d. Komponen-komponen diskusi Komponen-komponen yang harus ada dalam kegitan diskusi. 1) Masalah atau materi yang akan dibahas 2) Ketua Ketua berfungsi sebagai pemimpin diskusi yang tidak berhak dan tidak boleh berpihak atau memperlihatkan apa sebenarnya pendiriannya. Peranan ketua yang terutama adalah memimpin dan merangsang diskusi menurut rencana yang sudah dipersiapkan dan sesuai dengan pola. 3) Moderator Di dalam kegiatan diskusi, diperlukan seorang moderator. Moderator memiliki beberapa tugas. a) Membuka diskusi b) Menjelaskan tatatertib diskusi c) Mengemukakan masalah yang akan didiskusikan d) Mengarahkan dan mengendalikan jalannya diskusi e) Menampung gagasan yang di kekemukakan peserta diskusi f) Menyimpulkan /merumuskan hasil diskusi g) Membaca hasil perumusan simpulan hasil dari diskusi yang di lakukan h) Menutup diskusi 4) Peserta Peserta diskusi adalah individu maupun juga bagian dari kelompok. Sikap dan mentalitas peserta harus menandai diri dengan keterbukaan jiwa, objektivitas serta bersedia musyawarah. Peserta diksusi mempunyai komunikasi dengan sesama anggota. Peserta diskusi berbicara atau menyampaikan pendapat dengan menyesuaikan situasi diskusi. Pendapat bisa disampaikan dengan cara berdiri atau sambil duduk dan sebelumnya memperkenalkan diri terlebih dahulu (Zelko, 1984). Jika peserta diskusi kurang sependapat dengan pendapat peserta lain, maka tidak boleh menolak secara kasar sehingga keberatan pada peserta lain disampaikan dengan kata-kata yang halus, sopan, dan tidak menyakiti hati, disertai argumentasi yang logis dan meyakinkan. Setiap peserta harus berlapang dada dalam menerima hasil diskusi.

185

C. LATIHAN 1. Tes tertulis Jawablah secara singkat dan jelas dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar! a. Bagaimanakah konsep dasar menyimak dan berbicara! b. Mengapa narasumber harus menyampaikan jawaban denga benar ketika wawancara! c. Jelaskan komponen-komponen dalam diskusi! d. Buatlah naskah pidato yang terdiri dari pembuka, inti, dan penutup dengan memilih salah satu tema berikut ini: 1) Pendidikan 2) Pembelajaran Bahasa Indonesia 3) Ujian Nasional 4) PLPG 2. Praktik a. Sampaikan naskah pidato yang sudah Anda buat di depan peserta PLPG! b. Simulasikan kegiatan wawancara mengenai pembelajaran bahasa Indonesia antara siswa dengan guru bahasa Indonesia! D. RANGKUMAN Keterampilan menyimak bukan merupakan suatu proses yang pasif, melainkan suatu proses yang aktif dalam mengkonstruksi pesan dari suatu bunyi yang diketahui sebagai potensi fonologi, semantik, dan sintaksis. Keterampilan berbicara merupakan ketermapilan memproduksi arus sistem bunyi artikulasi untuk menyampaikan kehendak, kebutuhan, perasaan, dan keinginan kepada orang lain Berbicara dengan orang yang tidak dikenal bisa saja menimbulkan suasana yang tidak nyaman, bahkan suasanya menjadi beku dan kurang besahabat. Sejumlah penelitian ditunjukkan bahwa rasa takut untuk berbicara di depan public kemungkinan terkait dengan rasa takut untuk dipermalukan akibat konfrontasi di depan publik. Apabila seseorang ingin menjadi pembicara yang baik, ingat bahwa mengingat lebih sekadar dari membiarkan orang lain berbicara. Memperhatikan orang yang sedang berbicara merupakan upaya untuk menyimak. Oleh karena itu mendengarkan merupakan perilaku aktif, bukan pasif. Kegiatan tersebut terdiri dari serangkaian kegiatan mendengarkan, memahami, dan mengingat Wawancara (interview) merupakan suatu kegiatan tanya jawab dengan tatap muka (face to face) antara pewawancara (interviewer) dengan yang diwawancarai (interviewer) tentang masalah yang diteliti, dimana pewawancara bermaksud memperoleh persepsi, sikap dan pola pikir dari yang diwawancarai yang relevan dengan masalah yang diteliti. Karena wawancara itu dirancang oleh pewawancara, maka hasilnya pun dipengaruhi oleh karakteristik pribadi pewawancara. Pidato dikatakan berhasil jika terpenuhi semua komponen pidato. Setelah pidato berlangsung, audiens memahami, mengerti pesan dan akhirnya mengubah sikap dan perilaku sesuai dengan tujuan komunikasi juga salah satu faktor penunjang keberhasilan dalam kegiatan pidato. Dalam berpidato dan berkomunikasi, yang penting how. Pidato sebagai bagian dari komunikasi harus hati-hati, karena efek yang timbul (negatif) sulit untuk dihilangkan. Dalam berpidato, ingat motto: Naik mimbar tanpa persiapan, turun mimbar tanpa kehormatan.

186

E.

KUNCI JAWABAN 1. Tes tertulis Soal Jawaban nomor 1 Konsep dasar menyimak adalah Keterampilan menyimak bukan merupakan suatu proses yang pasif, melainkan suatu proses yang aktif dalam mengkonstruksi pesan dari suatu bunyi yang diketahui sebagai potensi fonologi, semantik, dan sintaksis. Konsep keterampilan berbicara merupakan ketermapilan memproduksi arus sistem bunyi artikulasi untuk menyampaikan kehendak, kebutuhan, perasaan, dan keinginan kepada orang lain. 2 Narasumber harus menyampaikan jawaban dengan benar kepada interviewer karena jawaban tersebut merupakan data atau informasi yang sangat dibutuhkan oleh interviewer sebagai kebenaran atas apa yang ditanyakan. Jika narasumber menyampaikan jawaban dengan tidak benar maka dapat dimintai pertanggungjawabannya 3 Komponen-komponen dalam diskusi a. Masalah/materi b. Ketua c. Moderator d. Peserta 4 Naskah pidato sesuai dengan tema yang memuat, pendahuluan, isi, dan penutup Keterangan: 1. Jawaban benar skor 5 2. Jawaban mendekaati benar skor 4 3. Jawaban kurang benar skor 3 4. Jawaban salah skor 2 Skor maksimal secara keseluruhan 25 Skor minimal secara keseluruhan adalah 10 N= Skor maksimal x4 N = 100

skor 2,5

2,5

2. Praktik

187

Lebar penilaian praktik Kriteria penilaian: sangat baik =5 baik =4 cukup =3 kurang =2 No 1 2 Nama vokal Kriteria penilaian sikap ekspresi Isi (pidato/ wawancara) Total skor

F.

DAFTAR PUSTAKA Ahmadi, Mukhsin. 1990. Strategi Belajar Mengajar: Keterampilan Berbahasa dan Apresiasi Sastra. Malang: YA3. Arsyad, Maidar G. dan Mukti U.S.1988. Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga. Effendy, Onong Uchjana. 2006. Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Fadli, R. 2005. Terampil Wawancara. Panduan untuk Talk Show. Jakarta: Gramedia. King, Larry. 2008. Seni Berbicara: Kepada Siapa Saja, Kapan Saja, Di Mana Saja. Jakarta: PT Gramedia PT Pustaka Utama. Maggio, Rosalie. 2007. Sukses Berbicara dengan Siapa Saja. Jakarta: PT Gramedia Roger, Natalie. 2003. Berani Bicara di Depan Publik. Bandung:Nuansa Cendekia. Suprapto, Tommy. 2006. Pengantar Teori Komunikasi. Yogyakarta: Media Pressindo. Tarigan, Henry Guntur. 1981. Berbicara sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa. Zelko, Harold P. 1984. Teknik Diskusi dan Rapat Modern. Jakarta: Gunung Jati.

188

189

BAB VII KETERAMPILAN MEMBACA - KETERAMPILAN MENULIS


A. TUJUAN PEMBELAJARAN Setelah mengikuti materi berbicara-menyimak, maka perserta PLPG diharapkan dapat: 1. Menjelaskan konsep-konsep dasar dalam keterampilan membaca dan menulis. 2. Menjelaskan variasi bahasa untuk menunjang pembelajaran keterampilan berbahasa. 3. Menjelaskan cara mengubah teks wawancara/dialog, dan/atau puisi menjadi narasi. 4. Menerapkan cara membaca tabel, diagram, denah, dan grafik secara benar. 5. Menjelaskan konsep paragraf, syarat-syarat paragraf, jenis paragraf, dan penanda hubungan antarparagraf. 6. Menyusun kalimat efektif. 7. Menerapkan penggunaan EYD. 8. Menerapkan penulisan karya ilmiah, penulisan kutipan, dan penulisan Daftar Pustaka. 9. Menjelaskan konsep surat resmi (dinas), komponen surat resmi, konsep surat tidak resmi (pribadi) dan komponen surat tidak resmi, dan menyusun bahasa surat yang baik dan benar. 10. Menjelaskan penulisan slogan. B. Konsep-konsep dasar dalam keterampilan membaca dan menulis Indikator : 1. Memahami konsep dasar membaca, 2) memahami konsep dasar menulis Membaca merupakan keterampilan dasar. Ini berarti bahwa keterampilan tersebut perlu dimiliki setiap orang, tidak saja untuk meraih keberhasilan selama bersekolah melainkan juga sepanjang hayatnya. Di negara-negara maju kegiatan membaca telah membudaya dan merupakan bagian serta kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana dengan di Indonesia ? Keterampilan membaca memang amat diperlukan oleh siapa pun yang mulai memasuki dunia informasi melalui media tulis, baik dengan media buku maupun media lain, termasuk jaringan yang semakin maju. Oleh sebab itu, sebagai suatu keterampilan berbahasa, membaca memerlukan pelatihan dan strategi khusus guna memperoleh hasil yang optimal dari apa yang kita inginkan. Menulis adalah membaca. Apa artinya kalimat itu; menulis adalah membaca? Artinya, kita tidak bisa menulis tanpa membaca! Barangkali kita bisa menulis tanpa membaca, tetapi yakinlah, karya tulis apapun yang dihasilkan tanpa bekal membaca sebelumnya, tulisan yang kita hasilkan bakal terasa hampa. Ibarat beras, ia tidak akan pernah bernas. Ibarat makanan, ia akan terasa hambar tanpa garam yang sama sekali tidak menerbitkan selera untuk dibaca. Menulis adalah membaca. Sebab dengan membaca, kita punya bekal referensi yang memadai. Membaca jangan terbatas dan tersandera pada buku semata. Semua informasi bisa kita baca, apapun medianya. Sering ide dilahirkan selepas kita membaca buku. Paling gampang, lahirlah timbangan atau resensi buku. Kita bisa membuat satu artikel bahkan dari sebuah buku yang kita baca. Membaca adalah keterampilan. Karena membaca sebuah keterampilan, maka ia harus dilatih sebagaimana kita bermain piano, gitar, atau mengayuh sepeda. Tidak ada cara lain untuk mahir membaca selain latihan dan latihan, membaca dan membaca. Membaca apa saja, yakni sesuatu yang kita anggap penting dan menarik.

190

Buku adalah jendela dunia, membaca adalah kuncinya. Anda hanya bisa membuka jendela dunia dengan membukanya, yakni lewat aktivitas membaca. Membaca akan menambah pengetahuan, wawasan, dan pengalaman melebihi usia Anda. Memang di era globa ini buku bukan satu-satunya sumber ilmu, banyak sumber pustaka yang masih dapat kit abaca dan gali. Membaca sebuah buku selama beberapa jam yang berisi pengalaman seseorang selama 10 tahun akan membuat Anda mendapatkan pengalaman yang sama dalam waktu yang jauh lebih singkat. Anda tidak perlu menghabiskan 10 tahun lamanya seperti yang telah dijalani sang penulis. Anda seolah-olah bisa berkelana ke sejarah masa lalu dan melihat apa yang terjadi dalam waktu singkat. Masyarakat Indonesia harus diakui masih sangat kuat dalam tradisi berbicara. Kita lebih senang mengobrol ke sana ke mari daripada membaca dan menulis. Dengan demikian, waktu terus berjalan, tapi tidak banyak pengetahuan baru yang bisa diserap. Masyarakat yang kuat dalam tradisi membaca akan memiliki kekuatan pula dalam tradisi menulis. Itu mengapa jumlah karya ilmiah, penelitian atau buku yang dihasilkan suatu bangsa berbanding lurus dengan kemajuan budaya baca pada bangsa tersebut. Membaca dan menulis merupakan satu kesatuan yang sulit dipisahkan. 1. Hubungan Membaca dan Menulis Jika membaca adalah proses membuka jendela dunia, melihat wawasan yang ada dan menjadikannya sebagai khazanah pribadi, maka menulis adalah proses menyajikan kembali khazanah tersebut kepada masyarakat luas. Anda bisa menggabungkan sebuah khazanah dengan khazanah yang sudah dimiliki sebelumnya. Sangat sulit bagi seseorang untuk menulis sesuatu yang di luar dirinya. Di luar apa yang pernah dia miliki sebelumnya. Seseorang harus memiliki sesuatu terlebih dahulu sebelum bisa memberikan kepada orang lain. Seseorang harus memiliki wawasan terlebih dahulu sebelum terampil dalam membaginya kepada orang lain. Dengan demikian membaca mau tidak mau adalah proses yang harus dijalani oleh orang yang berkeinginan untuk bisa menulis. Jika selama ini Anda kesulitan menulis dan selalu berhenti pada kalimat atau paragraf pertama, bisa jadi penyebabnya karena terlalu sedikit stok informasi yang Anda miliki sebelumnya. Anda harus menambah stok tersebut agar proses menulis menjadi lancar. 2. Manfaat Membaca bagi Keterampilan Menulis Begitu besar manfaat membaca untuk mengasah keterampilan menulis seseorang. Berikut manfaat membaca bagi keterampilan menulis. a. Membaca memperluas wawasan b. Membaca membantu melihat sudut pandang yang berbeda c. Membaca membantu Anda belajar teknik menulis yang dipakai oleh orang yang lebih berpengalaman d. Membaca membuat ide Anda melimpah e. Membaca menjadikan otak dan pikiran Anda aktif f. Membaca merangsang terbentuknya informasi baru di sistem daya ingat yang siap dipanggil kapan saja g. Membaca membuat jalan pikiran Anda menjadi lebih lentur h. Membaca memperkaya kosa kata, pilihan kalimat, dan cara penyajian yang bisa Anda pakai dalam menulis i. Membaca membuat Anda mampu menganalisa, menghubungkan informasi yang terserak, dan melihat benang merah dari sebuah persoalan j. Membaca membuat Anda punya bahan yang banyak untuk menuliskannya kembali

191

3. Rajin Membaca, Aktif Menulis Begitu banyak contoh di sekitar kita yang menunjukkan bagaimana orang yang gemar membaca cenderung memiliki keterampilan menulis yang baik. Hanya sedikit nama yang layak disebut sebagai penulis besar. Sebut saja Khalil Gibran, William Shakespeare. Keduanya harus menjalani kehidupan yang kurang mengenakan terlebih dahulu, jawabannya adalah tidak. Kita justru bersyukur jika tidak melewati fase hidup yang begitu berat seperti dialami mereka. Bukan soal bagaimana jalan kehidupan yang harus kita tempuh. Tapi bagaimana kita memandang dan memanfaatkan setiap momen yang telah kita lewati untuk menjadi sebuah karya. Itulah yang dilakoni Shakespeare dan Khalil Gibran hingga mengantarkannya menjadi penulis terkenal. Seorang penulis kreatif akan sukses jika memiliki semangat atau motivasi sejauh mana menginginkan hal-hal baru dan melakukan perubahan. Motivasi ini dilandasi sejauh mana kita menginginkan perbaikan dalam hidup. Tidak mudah menyerah, selalu memiliki solusi alternatif dan menghasil ide-ide terobosan dalam mengembangkan tulisannya. Tak kalah penting, kita harus berani keluar dari kebiasaan dan tidak terkungkung dengan apa yang ada saat ini adalah salah satu hal yang harus dipenuhi untuk menghasilkan suatu produk tulisan yang layak disebut sebagai tulisan kreatif. 4. Membangun Tradisi Membaca dan Menulis Sudah saatnya membangun kembali tradisi membaca dan menulis. Inilah kontribusi yang bisa Anda berikan untuk menjadikan bangsa ini lebih maju. Lewat kebiasaan membaca, Anda bisa melatih keterampilan menulis. Anda punya kacamata yang mampu melihat berbagai sudut pandang. Anda punya amunisi kata dan kalimat yang siap dituliskan. Anda pun akan punya pikiran yang lebih jernih dan sehat. Jika banyak pembaca yang bertanya, bagaimana caranya agar saya bisa menulis dengan baik? Maka jawaban sederhana saya adalah rajin-rajinlah membaca. Dengan kebiasaan tersebut, keterampilan menulis Anda akan meningkat dengan sendirinya. C. Variasi Bahasa Variasi Bahasa disebabkan oleh adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok yang sangat beragam dan dikarenakan oleh para penuturnya yang tidak homogen. Dalam hal variasi bahasa ini ada dua pandangan. Pertama, variasi itu dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial penutur bahasa itu dan keragaman fungsi bahasa itu. Jadi variasi bahasa itu terjadi sebagai akibat dari adanya keragaman sosial dan keragaman fungsi bahasa. Kedua, variasi bahasa itu sudah ada untuk memenuhi fungsinya sebagai alat interaksi dalam kegiatan masyarakat yang beraneka ragam. Kedua pandangan ini dapat saja diterima ataupun ditolak. Yang jelas, variasi bahasa itu dapat diklasifikasikan berdasarkan adanya keragaman sosial dan fungsi kegiatan didalam masyarakat sosial. Namun Halliday membedakan variasi bahasa berdasarkan pemakai (dialek) dan pemakaian (register). Berikut ini akan dibicarakan variasi-variasi bahasa tersebut, dimulai dari segi penutur ataupun dari segi penggunanya. 1. Variasi dari Segi Penutur Pertama, idiolek, merupakan variasi bahasa yang bersifat perseorangan. Setiap orang mempunyai idiolek masing-masing. Idiolek ini berkenaan dengan warna suara, pilihan kata, gaya bahasa, susunan kalimat, dsb. Yang paling dominan adalah warna suara, kita dapat mengenali suara seseorang yang kita kenal hanya dengan mendengar suara tersebut Idiolek melalui karya tulis pun juga bisa, tetapi disini membedakannya agak sulit.

192

Kedua, dialek, yaitu variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada di suatu tempat atau area tertentu. Bidang studi yang mempelajari tentang variasi bahasa ini adalah dialektologi. Ketiga, kronolek atau dialek temporal, yaitu variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial pada masa tertentu. Sebagai contoh, variasi bahasa Indonesia pada masa tahun tiga puluhan, lima puluhan, ataupun saat ini. Keempat, sosiolek atau dialek sosial, yaitu variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan dan kelas sosial para penuturnya. Dalam sosiolinguistik variasi inilah yang menyangkut semua masalah pribadi penuturnya, seperti usia, pendidikan, keadaan sosial ekonomi, pekerjaan, seks, dsb. Sehubungan dengan variasi bahasa yang berkenaan dengan tingkat, golongan, status, dan kelas sosial para penuturnya disenut dengan prokem. 2. Variasi dari Segi Pemakaian Variasi bahasa berkenaan dengan penggunanya, pemakainya atau fungsinya disebut fungsiolek, ragam atau register. Variasi ini biasanya dibicarakan berdasarkan bidang penggunaan, gaya, atau tingkat keformalan dan sarana penggunaan. Variasi bahasa berdasarkan bidang pemakaian ini adalah menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa. Misalnya, bidang sastra, jurnalistik, pertanian, militer, pelayaran, pendidikan, dsb. 3. Variasi dari Segi Keformalan Menurut Martin Joos, variasi bahasa dibagi menjadi lima macam gaya (ragam), yaitu ragam beku (frozen); ragam resmi (formal); ragam usaha (konsultatif); ragam santai (casual); ragam akrab (intimate). Ragam beku adalah variasi bahasa yang paling formal, yang digunakan dalam situasi khidmat dan upacara resmi. Misalnya, dalam khotbah, undang-undang, akte notaris, sumpah, dsb. Ragam resmi adalah variasi bahasa yang digunakan dalam pidato kenegaraan, rapat dinas, ceramah, buku pelajaran, dsb. Ragam usaha adalah variasi bahasa yang lazim digunakan pembicaraan biasa di sekolah, rapat-rapat, ataupun pembicaraan yang berorientasi kepada hasil atau produksi. Wujud ragam ini berada diantara ragam formal dan ragam informal atau santai. Ragam santai adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi tidak resmi untuk berbincang-bincang dangan keluarga atau teman pada waktu beristirahat, berolahraga, berekreasi, dsb. Ragam ini banyak menggunakan bentuk alegro, yakni bentuk ujaran yang dipendekkan. Ragam akrab adalah variasi bahasa yang biasa digunakan oleh para penutur yang hubngannya sudah akrab, seperti antar anggota keluarga, atau teman karib. Ragam ini menggunakan bahasa yang tidak lengkap dengan artikulasi yang tidak jelas. 4. Variasi dari Segi Sarana Variasi bahasa dapat pula dilihat dari segi sarana atau jalur yang digunakan. Dalam hal ini dapat disebut adanya ragam lisan dan tulis atau juga ragam dalam berbahasa dengan menggunakan sarana atau alat tertentu, misalnya bertelepon atau bertelegraf. D. Mengubah Teks Wawancara menjadi Narasi Teks wawancara merupakan bentuk penyajian informasi berupa tanya jawab antara pewawancara dan narasumber. Untuk menceritakan atau menyampaikan kembali hasil wawancara kepada orang lain, teks wawancara perlu diubah dalam bentuk narasi. Narasi merupakan bentuk karangan pengisahan suatu cerita atau kejadian. Agar Anda dapat menarasikan teks wawancara dengan baik, lakukan langkah-langkah berikut. 1. Bacalah teks wawancara dengan cermat. 2. Catatlah pokok-pokok isi wawancara. 193

3. Buatlah pengantar ke arah isi wawancara. 4. Narasikan isi wawancara dengan mengembangkan pokok-pokok isi. 5. Lengkapilah narasi dengan bagian penutup. Masih ingatkah Anda tentang materi wawancara? Anda akan berlatih mengubah teks wawancara menjadi teks narasi. Hal itu berarti teks yang berupa tanya jawab antara penanya dan narasumber diubah menjadi bentuk tulisan atau teks cerita. Dapatkah Anda mengubah teks wawancara menjadi bentuk narasi? Bagaimana cara mengubah teks wawancara menjadi bentuk naratif? Perlu dicermati lagi bahwa wawancara biasanya berupa kalimat langsung. Jika dinarasikan maka Anda harus mengubah kalimat tersebut menjadi kalimat tak langsung. Masih ingatkah kalian ciri-ciri kalimat langsung dan tak langsung? Perhatikan keterangan berikut ini! Ciri kalimat langsung sebagai berikut. 1. Bertanda petik (.....) 2. Intonasi bagian yang dikutip lebih tinggi daripada bagian lain 3. Kata ganti orang pada bagian kalimat yang dikutip tetap. 4. Tidak berkata lugas. 5. Kalimat yang diberi tanda petik bisa berbentuk kalimat berita, tanya, atau perintah. Ciri kalimat tak langsung sebagai berikut. 1. Tidak bertanda petik. 2. Intonasi mendatar dan menurun pada bagian akhir kalimat. 3. Kata ganti orang pada bagian kalimat yang dikutip. 4. Berkata lugas misalnya bahwa, sebab, untuk, supaya. 5. Hanya berbentuk kalimat berita. Contoh: Perhatikan contoh menarasikan wawancara berikut ini! Wartawan : Wah hebat! Adik telah berhasil menjadi juara pertama Lomba Mengarang. Pelajar : Terima kasih. Wartawan : Berapa lama Adik mempersiapkannya? Pelajar : Yah, kira-kira 1 tahun. Teks wawancara tersebut jika diubah menjadi narasi akan menjadi seperti berikut ini ! Seorang pelajar telah berhasil menjadi juara pertama Lomba Mengarang. Persiapan yang dibutuhkan untuk mengikuti lomba tersebut selama 1 tahun. Contoh lain Penanya : Bagaimana perkembangan anggur Australia saat ini, Pak? Narasumber : Menggembirakan! Sembilan belas tahun yang lalu anggur Australia telah diuji coba di kebun Banjarsari, Probolinggo, Jawa Timur. Rasanya manis, segar dengan aroma harum. Ukuran buah sekitar 1,83 2,53 cm dengan kulit cukup tebal. Panjang tandannya sekitar 17,5 cm. Pada umur 2 tahun mampu memproduksi buah kira-kira 9,99 kg per pohon per musim. Ini lebih tinggi dibanding produksi anggur Probolinggo dan Bali, yang pada umur sama rata- rata hasilnya hanya mencapai tujuh kg. Bibit anggur itu sekarang sudah bisa didapat di mana pun. 8 12 bulan setelah penelitian bibit anggur tersebut sudah diupayakan perbanyakannya. Teks wawancara di atas dapat kita ubah menjadi narasi sebagai berikut.

194

Perkembangan anggur Australia saat ini sungguh menggembirakan. Sekitar sembilan belas tahun yang lalu anggur Australia telah diuji coba di kebun Banjarsari, Probolinggo, Jawa Timur. Anggur tersebut rasanya manis dan segar dengan aroma yang harum. Ukuran buahnya sekitar 1,83 2,53 cm dengan kulit cukup tebal. Jika anggur ini berubah, panjang tandannya sekitar 17,5 cm. Pada umur dua tahun, anggur Australia mampu memproduksi buah kira-kira 9,99 kg per pohon per musim. Jumlah ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan produksi anggur Probolinggo dan anggur Bali, yang pada umur sama rata-rata hanya menghasilkan 7 kg saja. Bibit anggur Australia ini sekarang sudah bisa didapat di kebun buah di mana pun. Delapan sampai dua belas bulan setelah penelitian di kebun Banjarsari, Probolinggo, bibit anggur Australia ini sudah diupayakan perbanyakannya. Carilah contoh teks wawancara bentuk lain kemudian jawablah pertanyaan berikut. 1. Ubahlah teks wawancara tersebut menjadi bentuk narasi dengan memerhatikan langkah-langkah penyajiannya! 2. Tukarlah hasil pekerjaan Anda dengan teman untuk disunting! E. Menjelaskan Cara Membaca Tabel, Diagram, Grafik, dan Denah secara Benar. Tabel adalah daftar berisi ikhtisar dari sejumlah fakta dan informasi. Bentuknya berupa kolom-kolom dan baris-baris. Biasanya fakta atau informasi itu hanya berupa nama dan bilangan yang tersusun dalam urutan kolom dan baris. Tabel merupakan alat bantu visual yang berfungsi menjelaskan suatu fakta atau informasi secara singkat, jelas, dan lebih menarik daripada kata-kata. Sajian informasi yang menggunakan tabel lebih mudah dibaca dan disimpulkan. Grafik merupakan gambar yang terdiri atas garis dan titik-titik koordinat. Dalam grafik terdapat dua jenis garis koordinat, yakni garis koordinat X yang berposisi horisontal dan garis koordinat Y yang vertikal. Pertemuan antara setiap titik X dan Y membentuk baris-baris dan kolomkolom. Seperti halnya tabel, grafik merupakan media visual yang sering digunakan untuk memperjelas suatu bacaan. Grafik memungkinkan penyampaian informasi yang kompleks secara lebih mudah. Media ini dapat memberikan gambaran suatu informasi secara jelas, mudah, menarik, dan efektif. Umumnya grafik digunakan untuk membandingkan jumlah data. Selain itu, digunakan pula untuk menunjukkan fluktuasi suatu perkembangan jumlah, misalnya dalam rentang waktu lima tahun, enam tahun, sepuluh tahun, atau lebih. Dengan grafik, perbandingan serta naik turunnya suatu jumlah data akan lebih jelas. Informasi verbal adalah informasi yang disampaikan dengan kata-kata. Adapun informasi nonverbal adalah informasi yang disajikan dengan bentuk visual, seperti gambar, bagan, grafik, diagram, matriks, dan tabel. Bagan merupakan gambar rancangan/skema/alat peraga grafis untuk menyajikan data agar memudahkan penafsiran. Grafik adalah lukisan pasang surut atau naik turunnya suatu keadaan. Macamnya ada grafik batang, grafik garis, grafik lingkaran. Diagram merupakan gambaran (buram, sketsa) untuk memperlihatkan atau menerangkan sesuatu. Tabel adalah daftar berisi ikhtisar sejumlah data atau informasi. Matriks adalah tabel yang disusun dalam lajur dan jajaran sehingga butirbutir uraian yang diisikan dapat dibaca dari atas ke bawah atau dari kiri ke kanan. Bagan adalah gambaran secara analisis yang digunakan untuk membantu memperjelas proses kerja. Peta adalah gambar yang menunjukkan letak suatu tempat Langkah membaca tabel dan grafik.

195

1.

Bacalah judulnya karena judul ini memberikan ringkasan yang padat tentang informasi yang akan disampaikan. Membaca judul merupakan kegiatan penting untuk memahami isi pesannya. Resapilah isi judul tabel dan grafik yang Anda hadapi, karena judul memberikan ringkasan yang padat tentang informasi yang akan disampaikan. 2. Bacalah keterangan yang ada di atas, di bawah atau di sisinya. Keterangan itu merupakan kunci penjelasan tentang data yang disampaikan. Keterangan itu, misalnya dalam bentuk urutan tahun, persentase, atau angka-angka. 3. Ajukan pertanyaan tentang tujuan tabel dan grafik itu. Caranya mudah. Anda cukup mengubah judulnya menjadi pertanyaan, misalnya di mana, seberapa banyak, berapa perkembangannya, dan seterusnya. Jawaban pertanyaan tersebut diharapkan ada dalam tabel dan grafik yang Anda hadapi. 4. Bacalah tabel dan grafik secara menyeluruh, dapatkan keterangannya dalam informasi yang disajikan di sana dengan selalu mengingat tujuan Anda, informasi apa yang Anda perlukan. Pelatihan: Carilah Tabel, Diagram, Grafik, dan Denah masing-masing satu buah, kemudian bacalah dengan benar sesuai langkah di atas! F. Paragraf, Syarat-syarat Paragraf, Jenis Paragraf, dan Penanda Hubungan antarparagraf Paragraf adalah kesatuan pikiran yang mengungkapkan ide pokok yang berbentuk dalam rangkaian kalimat yang berkaitan dengan bentuk (kohesi) dan makna (koherensi). Paragraf adalah bagian karagan yang terdiri atas beberapa kalimat yang berkaitan secara utuh dan padu serta membentuk satu kesatuan pikiran. Dalam paragraf terdapat tiga persyaratan agar paragraf menjadi padu, yaitu kepaduan, kesatuan, dan kelengkapan. Apabila sebuah paragraf deskriptif atau naratif, secara lahiriah unsur paragraf itu berupa: kalimat topik atau kalimat utama, kalimat pengembang atau kalimat penjelas, dan kalimat penegas Bentuk paragraf ; 1. deduktif: ide pokok di awal paragraf 2. induktif: ide pokok di akhir paragraf 3. campuran: ide pokok di awal dan akhir paragraph 4. ineratif: ide pokok di tengah paragraf. Jenis paragraf ; Narasi: menceritakan suatu kejadian berdasarkan kronologi. Deskripsi: menggambarkan suatu kejadian dengan kata-kata yang merangsangindra agar realistis. Eksposisi: menguraikan sesuatu sejelas-jelasnya agar pembaca mudah mengertidan jelas. Argumentasi: berisi fakta yang tidak untuk persuasif melainkan hanyamenegaskan pendapat penulis. Persuasi: berisi ajakan untuk merubah pendapat pembaca agar sama denganpenulis. Pola pengembangan paragraf; 1. Definisi: menjelaskan sesuatu dengan jelas dengan konjungsi (adalah, ialah, yaitu)yang tepat agar gampang dimengerti; 2. contoh: memberikan contoh agar mudah dipahami; 3. fungsional: mempunyai kegunaan tertentu untuk sang penulis; 4. kausal: menunjukkan hubungan sebab-akibat dalam suatu kejadian; 5. spasial: menulis yang berhubungan dengan tempat tertentu danmenggambarkannya; 6. perbandingan: membandingkan sesuatu untuk menemukan perbedaan a t a u persamaan; 7. kronologi: mempunyai catatan waktu yang jelas. Penanda Hubungan antarparagraf Kata penghubung adalah kata tugas yang menghubungkan antar klausa, antar kalimat, dan antar paragraf. Kata penghubung antar klausa biasanya terletak di tengah-tengah kalimat, sedangkan kata penghubung antar kalimat di awal kalimat

196

(setelah tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya), dan kata penghubung antarparagraf letaknya di awal paragraf. Macam-macam kata penghubung dan fungsinya : 1. Kata Penghubung Aditif (gabungan) Kata Penghubung aditif (gabungan) adalah konjungsi koordinatif yang berfungsi menggabungkan dua kata, frasa, klausa, atau kalimat dalam kedudukan yang sederajat, misalnya : dan, lagi, lagi pula, dan serta. 2. Kata Penghubung Pertentangan Kata penghubung pertentangan merupakan konjungsi koordinatif yang menghubungkan dua bagian kalimat yang sederajat dengan mempententangkan kedua bagian tersebut. Biasanya bagian yang kedua menduduki posisi yang lebih penting daripada yang pertama, misalnya : tetapi, akan tetapi, melainkan, sebaliknya, sedangkan, padahal, dan namun. 3. Kata Penghubung Disjungtif (pilihan) Kata penghubung pilihan merupakan konjungsi koordinatif yang menghubungkan dua unsur yang sederajat dengan memilih salah satu dari dua hal atau lebih, misalnya: atau, atau....atau, maupun, baik...baik..., dan entah...entah... 4. Kata Penghubung Temporal (waktu) Kata penghubung temporal menjelaskan hubungan waktu antara dua hal atau peristiwa. Kata-kata konjungsi temporal berikut ini menjelaskan hubungan yang tidak sederajat, misalnya : apabila, bila, bilamana, demi, hingga, ketika, sambil, sebelum, sampai, sedari, sejak, selama, semwnjak, sementara, seraya, waktu, setelah, sesudah, dan tatkala. Sementana konjungsi berikut ini menghubungkan dua bagian kalimat yang sederajat, misalnya sebelumnya dan sesudahnya. 5. Kata Penghubung Final (tujuan) Konjungsi tujuan adalah semacam konjungsi modalitas yang menjelaskan maksud dan tujuan suatu penistiwa, atau tindakan. Kata-kata yang biasa dipakai untuk menyatakan hubungan ini adalah : supaya, guna, untuk, dan agar. 6. Kata Penghubung Sebab (kausal) Konjungsi sebab menjelaskan bahwa suatu peristiwa terjadi karena suatu sebab tertentu. Bila anak kalimat ditandai oleh konjungsi sebab, induk kalimat merupakan akibatnya. Kata-kata yang dipakai untuk menyatakan hubungan sebab adalah sebab, sebab itu, karena, dan karena itu. 7. Kata Penghubung Akibat (konsekutif) Konjungsi akibat menjelaskan bahwa suatu peristiwa terjadi akibat suatu hal yang lain. Dalam hal ini anak kalimat ditandai konjungsi yang menyatakan akibat, sedangkan peristiwanya dinyatakan dalam induk kalimat. Kata-kata yang dipakai untuk menandai konjungsi akibat adalah sehingga, sampai, dan akibatnya. 8. Kata Penghubung Syarat (kondisional) Konjungsi syarat menjelaskan bahwa suatu hal dapat terjadi bila syarat-syarat yang disebutkan itu dipenuhi. Kata kata yang menyatakan hubungan ini adalah jika, jikalau, apabila, asalkan, kalau, dan bilamana. 9. Kata Penghubung Tak Bersyarat Kata penghubung tak bersyarat menjelaskan bahwa suatu hal dapat terjadi tanpa perlu ada syarat-syarat yang dipenuhi. Kata-kata yang termasuk dalam konjungsi ini adalah walaupun, meskipun, dan biarpun. 10. Kata Penghubung Perbandingan Kata penghubung perbandingan berfungsi menghubungkan dua hal dengan cara membandingkan kedua hal itu. Kata kata yang sering dipakai dalam konjungsi ini adalah sebagai, sebagaimana, seperti, bagai, bagaikan, seakan-akan, ibarat, umpama, dan daripada.

197

11. Kata Penghubung Korelatif Konjungsi korelatif menghubungkan dua bagian kalimat yang mempunyai hubungan sedemikian rupa sehingga yang satu langsung mempenganuhi yang lain atau yang satu melengkapi yang lain. Dapat juga dikatakan bahwa kedua kalimat mempunyai hubungan timbal-balik. Kata-kata yang yang menyatakan konjungsi ini adalah semakin .. . semakin, kian .. . kian...,bertambah ... bertambah . . , tidak hanya .,tetapi juga..., sedemikian rupa..., sehingga..., baik..., dan maupun. 12. Kata Penghubung Penegas (menguatkan atau intensifikasi) Konjungsi ini berfungsi untuk menegaskan atau meningkas suatu bagian kalimat yang telah disebut sebelumnya. Termasuk di dalam konjungsi hal-hal yang menyatakan rincian. Kata-kata yang tenmasuk dalam konjungsi ini adalah bahkan, apalagi, yakni, yaitu, umpama, misalnya, ringkasnya, dan akhirnya. 13. Kata Penghubung Penjelas (penetap) Konjungsi penjelas berfungsi menghubungkan bagian kalimat terdahulu dengan perinciannya. Contoh kata dalam konjungsi ini adalah bahwa. 14. Kata Penghubung Pembenaran (konsesif) Konjungsi pembenaran adalah konjungsi subondinatif yang menghubungkan dua hal dengan cara membenarkan atau mengakui suatu hal, sementara menolak hal yang lain yang ditandai oleh konjungsi tadi. Pembenanan dinyatakan dalam klausa utama (induk kalimat), sementara penolakan dinyatakan dalam anak kalimat yang didahului oleh konjungsi seperti, meskipun, walaupun, biar, biarpun, sungguhpun, kendatipun, dan sekalipun. 15. Kata Penghubung Urutan Konjungsi ini menyatakan urutan sesuatu hal. Kata-kata yang termasuk dalam konjungsi ini adalah mula-mula, lalu, dan kemudian. 16. Kata Penghubung Pembatasan Kata penghubung ini menyatakan pembatasan terhadap sesuatu hal atau dalam batas-batas mana perbuatan dapat dikerjakan, misalnya kecuali, selain, dan asal. 17. Kata Penghubung Penanda Kata penghubung ini menyatakan penandaan terhadap sesuatu hal. Kata-kata yang ada dalam konjungsi ini adalah misalnya, umpama, dan contoh. Konjungsi lain yang masih merupakan konjungsi penanda yaitu konjungsi penanda pengutamaan. Contoh kata-kata konjungsi ini adalah yang penting, yang pokok, paling utama, dan terutama. 18. Kata Penghubung Situasi Kata penghubung situasi menjelaskan suatu perbuatan terjadi atau berlangsung dalam keadaan tertentu. Kata-kata yang dipakai dalam konjungsi ini adalah sedang, sedangkan, padahal, dan sambil. G. Kalimat Efektif Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mewakili gagasan pembicara atau penulis serta dapat diterima maksud dan tujuannya seperti yang di maksud penulis /pembicara. Ciri-ciri kalimat efektif: (memiliki); kesatuan gagasan, kesejajaran, kehematan, dan penekanan, serta kelogisan. 1. KESATUAN GAGASAN, Kalimat efektif memiliki subyek, predikat, serta unsurunsur lain ( O/K) yang saling mendukung serta membentuk kesatuan tunggal. Contoh: Di dalam keputusan itu merupakan kebijaksanaan yang dapat membantu keselamatan umum. Kalimat ini tidak memiliki kesatuan karena tidak didukung subyek. Unsur di dalam keputusan itu bukanlah subyek, melainkan keterangan. Ciri bahwa unsur itu

198

merupakan keterangan ditandai oleh keberadaan frase depan di dalam (ini harus dihilangkan). 2. KESEJAJARAN, Kalimat efektif memiliki kesamaan bentukan/imbuhan. Jika bagian kalimat itu menggunakan kata kerja berimbuhan di-, bagian kalimat yang lainnya pun harus menggunakan di- pula. Contoh: Kakak menolong anak itu dengan dipapahnya ke pinggir jalan. Kalimat tersebut tidak memiliki kesejajaran antara predikat-predikatnya. Yang satu menggunakan predikat aktif, yakni imbuhan me-, sedang yang satu lagi menggunakan predikat pasif, yakni menggunakan imbuhan di-. Kalimat itu harus diubah : 1. Kakak menolong anak itu dengan memapahnya ke pinggir jalan 2. Anak itu ditolong kakak dengan dipapahnya ke pinggir jalan. 3. KEHEMATAN, Kalimat efektif tidak boleh menggunakan kata-kata yang tidak perlu. Kata-kata yang berlebih. Penggunaan kata yang berlebih hanya akan mengaburkan maksud kalimat. Contoh: Bunga-bunga mawar, anyelir, dan melati sangat disukainya. Pemakaian kata bunga-bunga dalam kalimat di atas tidak perlu. Dalam kata mawar,anyelir,dan melati terkandung makna bunga. Kalimat yang benar adalah: Mawar,anyelir, dan melati sangat disukainya. 4. PENEKANAN, Pada kalimat efektif kalimat yang dipentingkan harus diberi penekanan. Caranya: Mengubah posisi dalam kalimat, yakni dengan cara meletakkan bagian yang penting di depan kalimat. Contoh : 1. Harapan kami adalah agar soal ini dapat kita bicarakan lagi pada kesempatan lain 2. Pada kesempatan lain, kami berharap kita dapat membicarakan lagi soal ini. Menggunakan partikel; penekanan bagian kalimat dapat menggunakan partikel lah, -pun, dan kah. Contoh : 1. Saudaralah yang harus bertanggung jawab dalam soal itu. 2. Kami pun turut dalam kegiatan itu. 3. Bisakah dia menyelesaikannya? Menggunakan repetisi, yakni dengan mengulang-ulang kata yang dianggap penting. Contoh : Dalam membina hubungan antara suami istri, antara guru dan murid, antara orang tua dan anak, antara pemerintah dan rakyat, diperlukan adanya komunikasi dan sikap saling memahami antara satu dan lainnya. Menggunakan pertentangan, yakni menggunakan kata yang bertentangan atau berlawanan makna/maksud dalam bagian kalimat yang ingin ditegaskan. Contoh : 1. Anak itu tidak malas, tetapi rajin. 2. Ia tidak menghendaki perbaikan yang sifatnya parsial, tetapi total dan menyeluruh. 5. KELOGISAN, Kalimat efektif harus mudah dipahami. Dalam hal ini hubungan unsur-unsur dalam kalimat harus memiliki hubungan yang logis/masuk akal. Contoh : Waktu dan tempat saya persilakan. Kalimat ini tidak logis/tidak masuk akal karena waktu dan tempat adalah benda mati yang tidak dapat dipersilakan. Kalimat tersebut harus diubah misalnya ;

199

Bapak penceramah, saya persilakan untuk naik ke podium. PELATIHAN Ubahlah kalimat-kalimat di bawah ini menjadi kalimat efektif! 1. Seluruh siswa-siswa diharapkan harus mengikuti kerja bakti. 2. Para siswa-siswa diharuskan hadir di sekolah. 3. Dalam musyawarah itu menghasilkan lima ketetapan. 4. Kegagalan proyek itu karena perancangan yang tidak mantap 5. Yaitu tenun ikat yang khas Timor Timur. H. Penggunaan EYD Bahasa menunjukkan bangsa, tiada bahasa hilanglah bangsa. Itu kata Muhammad Yamin puluhan tahun yang silam. Wajah kebudayaan suatu bangsa memang terlihat dari praktik kebahasaan seluruh warganya. Tidak aneh apabila upaya untuk memiliki bahasa sendiri yang mampu mempersatukan seluruh bangsa dan menjadi media komunikasi, pendidikan, dan pengantar merupakan perjuangan tersendiri dalam perjalanan sejarah kita. Oleh karena itu, penting untuk selalu menyegarkan dan meningkatkan kemampuan berbahasa kita. Sebagai akibat perkembangan kehidupan masyarakat, Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0543a/U/1987, perlu disempurnakan kembali. Berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud, perlu menetapkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Maka lahirlah Permendiknas no. 46 Thun 2009 Tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, dalam permendiknas tersebut dipergunakan bagi instansi pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.Dengan berlakunya Peraturan Menteri ini, Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0543a/U/1987 tentang Penyempurnaan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, dinyatakan tidak berlaku. SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN UMUM EJAAN BAHASA INDONESIA YANG DISEMPURNAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, Menimbang : a. bahwa sebagai akibat perkembangan kehidupan masyarakat, Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0543a/U/1987, perlu disempurnakan kembali; b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan;

200

Mengingat

: 1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301); 2. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Nomor 20 Tahun 2008; 3. Keputusan Presiden Nomor 187/M Tahun 2004 mengenai Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu, sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Nomor 77/M Tahun 2007;

MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL TENTANG PEDOMAN UMUM EJAAN BAHASA INDONESIA YANG DISEMPURNAKAN. Pasal 1 (1) Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, dipergunakan bagi instansi pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. (2) Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini. Pasal 2 Dengan berlakunya Peraturan Menteri ini, Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0543a/U/1987 tentang Penyempurnaan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, dinyatakan tidak berlaku. Pasal 3 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 31 Juli 2009 MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, TTD BAMBANG SUDIBYO Salinan sesuai dengan aslinya. Biro Hukum dan Organisasi Departemen Pendidikan Nasional, Kepala Biro Hukum dan Organisasi, Dr. Andi Pangerang Moenta, S.H., M.H., DFM. NIP196108281987031003 Naskah Lengkap EYD sesuai Permendiknas no. 46 tahun 2009 bisa di download pada Permendiknas no. 46 tahun 2009. I.Penulisan Karya Ilmiah, Penulisan Kutipan, dan Penulisan Daftar Pustaka 1. Artikel Ilmiah Artikel ilmiah merupakan salah satu bentuk karya ilmiah. Artikel ilmiah adalah karya ilmiah yang dikhususkan untuk diterbitkan di jurnal ilmiah. Ada dua bentuk artikel ilmiah, yaitu artikel konseptual--artikel yang diangkat dari gagasan atau ide penulisdan artikel penelitianartikel yang diangkat dari hasil penelitan. Perbedaan kedua jenis artikel tersebut terletak pada bagian isi. Jika dalam artikel konseptual 201

antara bagian pendahuluan dan bagian penutup hanya berisi isi artikelyang bisa terdiri atas beberapa subbab; dalam artikel penelitian antara bagian pendahuluan dan bagian penutup terdapat bagian landasan teoretis, metodologi penelitian, dan hasil dan pembahasan. Pola dasar artikel ilmiah secara umum paling sedikit berisikan bagian-bagian yang sudah baku, yaitu bagian pengenalan, batang tubuh, dan kepustakaan. Dalam bahasa yang sederhana ketiga bagian tersebut dapat juga disebut dengan istilah bagian awal, bagian tengah, dan bagian akhir. Inti karya ilmiah ada pada bagian batang tubuh atau bagian tengah, sehingga secara proporsional bagian tengahlah yang paling panjang uraiannya. Jika ketiga bagian tersebut dianalogikan dengan tubuh manusia, bagian awal dapat dianalogikan sebagai kepala, bagian tengah sebagai tubuh, dan bagian akhir sebagai kaki. Dengan penganalogian tersebut kita sudah mendapat gambaran seberapa besar uraian masing-masing bagian dalam karya ilmiah. Akan menjadi tidak logis jika tubuh manusia lebih kecil daripada kepala atau kakinya. Demikian juga dengan karya ilmiah, akan menjadi tidak logis jika uraian pada bagian pengenalan atau awal lebih panjang daripada bagian batang tubuh atau tengah. Bagian pengenalan berisi hal-hal yang bersifat informatif. Ada dua jenis bagian pengenalan, yaitu yang bersifat umumada pada semua jenis karya ilmiahdan yang bersifat khusus--hanya dimiliki jenis karya ilmiah tertentu. Bagian pengenalan artikel ilmiah terdiri atas judul, nama penulis, abstrak, dan kata kunci. Judul adalah identitas tulisan yang utama. Syarat judul karya ilmiah adalah (1) mencerminkan isi karangan, (2) berupa pernyataan, (3) jelas, dan (4) mencerminkan jenis artikel ilmiah. Mencerminkan isi karangan berarti apa yang akan diuraiakan dalam artikel tersebut sudah dapat diraba dari judulnya. Berupa pernyataan berarti judul tidak boleh berupa kalimatharus berupa frasa atau klausadan tidak boleh berupa pertanyaan. Jelas berarti hanya memiliki satu maksud atau tidak dapat ditafsirkan lain. Mencerminkan jenis artikel ilmiah artinya melalui judul tersebut pembaca akan dengan mudah mengetahui artikel tersebut sebagai artikel penelitian atau artikel konseptual. Nama penulis sering disebut baris kepemilikan. Ada beberapa model penulisan baris kepemilikan, bergantung kepada gaya selingkung jurnalnya. Ada nama penulis yang disertai instansi, ada pula yang tidak. Penulisan nama penulis hendaknya dilakukan dengan menanggalkan pangkat, kedudukan, dan gelar akademik. Jika penulis bernama Drs. H. Imam Bulpiri, M.Sc., misalnya, dalam artikel ilmiah cukup kita tulis Imam Bulpiri. Pangkat, kedudukan, dan gelar dapat dicantumkan dalam catatan kaki atau lampiranjika ada biografi pengarang. Jika nama penulis lebih dari satu, keseluruh nama harus dicantumkan; dalam arti tidak boleh diganti dengan dkk. (dan kawan-kawan).. Abstrak adalah ringkasan tulisan. Dengan membaca abstrak orang akan tahu isi secara singkat karya ilmiah tersebut. Oleh karena itu, dalam abstrak harus tercakupi seluruh bagian isi karangan, dari pendahuluan sampai penutup (ada alasan, permasalahan, kajian pustaka, metode, hasil dan pembahasan, serta simpulan untuk artikel ilmiah dari hasil penelitiandan harus ada latar belakang, permasalahan, pembahasan, dan penutup--untuk artikel ilmiah yang bersifat konseptual). Penekanan isi abstrak ada pada hasil pembahasan. Pada umumnya abstrak disajikan dalam satu paragraf dengan menggunakan tidak lebih dari 200 kata. Untuk istilah abstrak, ada yang membedakannya dengan ringkasan. Abstrak diartikan lebih pendek daripada ringkasan. Dalam hitungan angka, jika abstrak biasanya tidak lebih dari 200 kata, maka untuk ringkasan bisa sampai pada 500 kata. Sementara itu, ada orang yang menyamakan kedua istilah tersebut. Istilah lain yang biasanya disamakan dengan abstrak atau ringkasan adalah sari. Kata kunci adalah kata-kata atau istilah yang dianggap penting dan mutlak harus diketahui pembaca dalam sebuah artikel ilmiah. Kata kunci biasanya diambil dari kata 202

atau istilah yang terdapad dalam judul. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan kata kunci kita ambil dari isi karangan. Jumlah kata kunci biasanya berkisar antara 3 dan 5. Batang tubuh adalah isi artikel ilmiah yang sebenarnya. Secara umum bagian batang tubuh terbagi menjadi tiga, yaitu bagian pendahuluan, bagian isi, dan bagian penutup. Bagian pendahuluan setidaknya berisi latar belakang masalah dan rumusan masalah. Bagian isi berisi persoalan-persoalan inti atau materi inti yang ingin disajikan. Untuk artikel penelitian, bagian isi berupa landasan teori, metodologi, dan hasil dan pembahasan. Landasan teori berisi teori-teori atau konsep-konsep yang dipergunakan dalam membahas masalah, bagian metodologi berisi pendekatan yang digunakan, metode, sasaran, populasi dan sampel, serta langkah-langkah analisis data; dan bagian hasil dan pembahasan berisi hasil kajian masalah yang diangkat. Untuk artikel konseptual, bagian isi berisi konsep-konsep dan bahasan masalah Bagian penutup biasanya berupa simpulan dan saran (untuk artikel penelitian) dan simpulan atau penekanan (untuk artikel konseptual). Bagian paling akhir dalam artikel ilmiah adalah bagian kepustakaan. Bagian ini berisi daftar pustaka yang digunakan. Jika dalam jenis karya ilmiah lain masih memungkinkan ada lampiran, dalam artikel ilmiah tidak ada. Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas tentang artikel ilmiah, terutama perbedaan antara artikel konseptual dan artikel penelitian, berikut disajikan contoh sistematika kedua jenis artikel tersebut. 2. Bahasa Karya Ilmiah Populer Selain laporan penelitian, buku, makalah, diktat, buku terjemahan, dan artikel ilmiah, karya pengembangan profesi guru juga dapat berbentuk karya ilmiah populer. Karya ilmiah populer merupakan karangan yang berada di antara karya ilmiah dan karya nonilmiah. Dalam karya ilmiah, baik isi maupun teknik penulisannya harus mengikuti ketentuan yang berlaku secara ketat. Dalam karya nonilmiah, terutama karya sastra, baik isi maupun teknik penulisannya (bahasa) bebas. Karena karya ilmiah populer berada di tengah-tengah keduanya, maka kita bisa mendefinisikannya sebagai karangan yang isinya ilmiah tetapi teknik penulisannya tidak mengikuti kaidah yang berlaku. Jika disempitkan kaitannya dengan penggunaan bahasa, maka dapat dijelaskan bahwa karya ilmiah itu menggunakan ragam bahasa ilmiah, sedangkan karya ilmiah populer tidak. Bahasa Indonesia mengenal empat ragam bahasa, yaitu ragam bahasa hukum (undang-undang), ragam bahasa ilmiah, ragam bahasa jurnalistik, dan ragam bahasa sastra. Keempat ragam tersebut diuraikan berikut ini. Ragam undang-undang disebut juga ragam hukum, yaitu bahasa Indonesia yang digunakan pada kalangan hukum atau pada undang-undang. Ragam hukum mempunyai ciri khusus pada pemakaian istilah dan komposisinya. Ragam ini biasa dipakai dalam undang-undang, peraturan-peraturan, atau pada hal-hal yang berkaitan dengan hukum. Dalam kehidupan sehari-hari ragam ini jarang sekali digunakan. Kekhususan-kekhususan tersebut dapat dilihat, misalnya, pada surat keputusan. Konsideran dalam surat keputusan, dari menimbang, mengingat, memutuskan, sampai menetapkan susunannya selalu tetap, tidak boleh diubah dan tidak boleh dikurangi atau ditambah. Dalam lapangan kepolisian kita juga mengenal sebutan-sebutan khusus yang tidak lazim digunakan dalam bahasa sehari-hari, misalnya dirumahkan, dibunuh dengan senjata tajam, kemasukan benda tumpul, dan sebagainya. Ragam jurnalistik adalah ragam bahasa yang dipakai dalam dunia jurnalistik. Karena fungsi media massa sebagai media informasi, kontrol sosial, alat pendidikan, dan alat penghibur, maka ragam bahasa jurnalistik setidaknya harus mempunyai ciri komunikatif, sederhana, dinamis, dan demokratis.

203

Ciri Komunikatif berarti mudah dipahami dan tidak menimbulkan salah tafsir kalau dibaca. Ciri ini merupakan ciri utama bahasa jurnalistik karena fungsi utama media massa memang memberikan informasi. Dikatakan ciri utama karena ciri-ciri yang lain harus mengacu pada ciri komunikatif. Bahasa jurnalistik harus bersifat sederhana, dinamis, dan demokratis. Namun kesederhanaan, kedinamisan, dan kedemokratisan ini harus mendukung fungsi komunikatif. Seandainya kita memakai bahasa yang sederhana dan demokratis, misalnya, namun bahasa tersebut tidak komunikatif, maka dalam prinsip jurnalistik penggunaan bahasa yang demikian harus dihindarkan. Bahkan kadang-kadang untuk mewujudkan ciri komunikatif ini bahasa jurnalistik tidak menaati kaidah bahasa Indonesia yang benar. Sepanjang penyimpangan itu ditujukan untuk lebih komunikatif, maka penyimpangan tersebut diperbolehkan. Misalnya pengguaan kata-kata atau istilah-istilah daerah. Dalam kasus-kasus tertentu kata-kata daerah akan lebih komunikatif untuk daerah tertentu tersebut dibandingkan dengan kata-kata bahasa Indonesia. Dalam kondisi demikian, penyimpangan dari kaidah bahasa Indonesia diperbolehkan. Ciri sederhana berarti tidak menggunakan kata-kata yang bersifat teknis dan tidak menggunakan kalimat yang berbelit-belit atau berbunga-bunga. Apabila memang diperlukan, kata-kata teknis harus diikuti penjelasan maknanya. Hal ini harus dlakukan agar pembaca dapat memahami kata-kata tersebut. Dalam bahasa sehari-hari sederhana sama artinya dengan prinsip singkat dan padat. Ciri dinamis berarti bahasa jurnalistik harus menggunakan kata-kata yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Kata-kata yang tidak lazim atau kata-kata yang sangat asing seyogyanya tidak dipergunakan. Sebagai contoh sederhana jika kata efektif dan efisien sudah diterima masyarakat, kita tidak perlu memaksakan menggunakan kata sangkil dan mangkus untuk menggantikannya. Kalimat yang dinamis dalam bahasa jurnalistik adalah kalimat-kalimat yang mampu memberikan semangat dan sesuai dengan situasi masyarakat pembacanya. Ciri demokratis berarti mengikuti konsensus umum dan tidak menghidupkan kembali feodalisme. Kata bujang, misalnya, dalam bahasa Indonesia mempunyai makna seorang laki-laki yang belum menikah. Selain kata bujang, untuk hal yang sama kita juga memiliki kata lajang. Kata lajang dalam hal ini lebih demokratis daripada kata bujang, karena di daerah Sumatra Utara kata bujang berarti pembantu. Hal ini berarti makna kata bujang yang berarti laki-laki yang belum menikah tidak berlaku secara umum untuk seluruh masyarakat Indonesia. Penggunaan kata-kata yang masih terasa feodal dalam bahasa jurnalistik juga dikatakan tidak demokratis. Penyebutan Yang Mulia, kami haturkan, dan sebagainya merupakan wujud kata-kata zaman feodal. Dalam tradisi jurnalistik kita sekarang kata Anda yang merupakan cerminan kata yang demokratis. Kata Anda berlaku untuk siapa saja tanpa membedakan pangkat dan derajat. Kita bisa memakai kata Anda untuk seorang presiden, kita juga bisa menggunakannya untuk seorang pengemis. Pendek kata, prinsip efektif dan efisien adalah prinsip utama yang ada dalam bahasa jurnalistik. Ragam ilmiah adalah ragam bahasa Indonesia yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah. Ragam inilah yang disebut dengan ragam baku. Ragam ini ditandai dengan adanya ketentuan-ketentuan baku, seperti aturan ejaan, kalimat, atau penggunaannya. Dalam bahasa Indonesia kebakuan bahasa dibarometeri oleh Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), Tata Bentukan Istilah, Kamus Besar Bahasa Indonesia, dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Ragam sastra adalah bahasa yang digunakan dalam penulisan karya sastra. Ragam sastra mempunyai ciri khusus dengan adanya licencia poetica, yakni kebebasan menggunakan bahasa untuk mencapai keindahan. Oleh karena itu secara umum bahasa sastra selalu disebut bahasa yang indah. Prinsip licencia poetica adalah memperbolehkan pemakai bahasa menyimpang atau menyalahi kaidah bahasa demi 204

keindahan karyanya. Dalam penggunaan licentia poetica ini, misalnya, penulis boleh menggunakan kalimat yang tidak lengkap, kata-kata yang tidak baku, bahasa daerah; membalik susunan kata atau struktur kalimat; dan sebagainya. Dari keempat ragam tersebut yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah adalah ragam ilmiah. Inilah bedanya dengan karya ilmiah populer. Karya ilmiah populer justru lebih banyak menggunakan ragam jurnalistik atau ragam sastra. Bentuk karya ilmiah populer antara lain artikel, esai, dan feature. Dilihat dari bahasanya, biasanya artikel menggunakan bahasa jurnalistik, esai menggunakan bahasa sastra, dan feature menggunakan keduanya, bergantung kepada jenis featurenya. Feature pengetahuan banyak menggunakan ragam jurnalistik, namun feature human interest lebih banyak menggunakan ragam sastra. Dengan adanya perbedaan penggunaan bahasa tersebut, terlihat bahwa bahasa karya ilmiah populer lebih mudah dipahami, lebih cair, dan lebih enak dibaca jika dibandingkan dengan bahasa yang biasa digunakan dalam laporan penelitian atau artikel ilmiah. 3. Memilih Topik PTK Salah satu pendekatan pemecahan berbagai masalah dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan adalah pemanfaatan penelitian pendidikan. Penelitian pendidikan ini diharapkan dapat memberikan masukan tentang persoalan-persoalan yang berkaitan dengan masalah pendidikan dan alternatif pemecahannya. Namun, dampak hasil penelitian pendidikan selama ini kurang maksimal dimanfaatkan. Penyebabnya adalah (1) penelitian pendidikan itu dilakukan oleh pakar atau peneliti dari luar dan (2) penyebarluasan hasil penelitian ke kalangan praktisi pendidikan memakan waktu yang sangat panjang. Dalam lingkup yang lebih kecil, yaitu dalam proses belajar-mengajar di kelas, hal yang sama juga terjadi. Penelitian tentang pembelajaran yang ada memang cukup banyak. Namun, sekali lagi, penyebarluasannya kurang maksimal. Penelitian-penelitian itu kebanyakan dilakukan oleh perguruan tinggi dan hasilnya berupa laporan penelitian yang berhenti di Lembaga Penelitain masing-masing perguruan tinggi. Hasil penelitian yang barangkali bagus-bagus itu, pada akhirnya hanya menumpuk di almari dan tidak dapat dimanfaatkan oleh sekolah secara langsung. Dalam kondisi seperti itu, kiranya sangat diperlukan jenis penelitian yang dilakukan oleh pihak dalampelaksana pembelajaran--dan langsung dapat diterapkan hasilnya. Model penelitian demikian inilah yang kemudian melahirkan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yaitu sebuah penelitian yang dilakukan oleh para guru untuk memperbaiki proses belajar mengajar yang dilaksanakan di dalam kelas atau untuk meningkatkan kualitas hasil penmbelajaran. PTK merupakan salah satu jenis penelitian tindakan. Penelitian tindakan adalah penelitian partisipatori kolaboratif yang berawal dari klarifikasi beberapa masalah yang menarik perhatian dan dirasakan bersama oleh suatu kelompok. Istilah ini merupakan terjemahan dari action research yang dipakai kali pertama oleh Kurt Lewin (1946). Lewin menggunakan istilah tersebut untuk menyebut suatu kegiatan yang terdiri atas tiga langkah, yaitu perencanaan (planning), tindakan (action), dan evaluasi (evaluation). Atas dasar konsep semacam itu, pemilihan topik PTK menjadi amat penting karena kesalahan pemilihan topik akan berakibat pada tidak dapatnya hasil penelitian tersebut dimanfaatkan secara maksimal. Pemilihan topik haruslah didasarkan pada kebutuhan yang dirasakan langsung oleh pelaku proses belajar-mengajar.Topik semacam ini pastilah berangkat dari kondisi riil yang ada di kelas atau sekolah. Topik PTK terdiri atas dua komponen, yaitu komponen kompetensi siswa dan komponen tindakan yang akan dilakukan. Penentuan topik PTK pada prinsipnya

205

merupakan penentuan kompetensi yang akan diperbaiki atau ditingkatkan dan tindakan yang digunakan untuk memperbaiki atau meningkatkan kompetensi tersebut. Komponen kompetensi dapat mencakupi pengetahuan siswa, keterampilan siswa, dan sikap siswa. Termasuk dalam sikap siswa adalah minat, motivasi, dan perilaku siswa. Untuk memilih topik seperti ini syarat yang perlu diperhatikan adalah spesifik. Masalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap siswa yang diangkat sebagai topik haruslah spesifik. Pengetahuan yang dapat diangkat ke dalam topik ada bermacam-macam. Demikian juga dengan keterampilan dan sikap. Cara paling mudah untuk memilih kompetensi yang spesifik adalah dengan mengambil satu kompetensi dasar saja. Sebagai contoh, dalam pelajaran Bahasa Indonesia ada empat keterampilan berbahasa yang menjadi tujuan pembelajaran, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Keterampilan berbicara pun dapat dibagi menjadi beberapa jenis kemampuan, seperti berpidato, berdiskusi, dan berdebat. Untuk memilih kompetensi yang spesifik, misalnya, kita dapat memfokuskan pada kemampuan berpidato. Jika kita memilih kompetensi berbicara, maka topik yang kita pilih tersebut tergolong ke dalam topik yang tidak spesifik. Ketidakspesifikan topik yang kita pilih akan berakibat pada kesulitan dalam meningkatkan kompetensi yang kita pilih tersebut. Topik keterampilan berbicara, misalnya, yang di dalamnya ternyata terdiri atas beberapa jenis kemampuan, tentu akan sulit kita tingkatkan melalui satu penelitian tindakan kelas. Berbeda dengan kemampuan berpidato, karena lebih spesifik, dapat kita tingkatkan melalui satu penelitian tindakan kelas. Selain spesifik, kompetensi yang kita pilih juga harus bersifat problematik. Artinya, kompetensi itu memang benar-benar memunculkan masalah dan membutuhkan perbaikan atau peningkatan. Kita tidak boleh mengada-ada, dalam arti menganggap sebuah kompetensi bermasalah padahal sesungguhnya tidak ada masalah. Kita juga harus mampu memilih kompetensi yang permasalahannya memang benar-benar membutuhkan penelitian tindakan, dalam arti tidak cukup kalau hanya diperbaiki melalui proses belajar-mengajar sehari-hari. Ibarat anak yang sakit, kita harus benar-benar memahami perlu tidaknya di bawa ke dokter. Apabila anak itu terkena penyakit ringan, seperti pilek dan batuk, tentu kita tidak perlu membawa anak tersebut ke dokter; cukup kita belikan obat di apotek. Demikian juga dengan masalah kompetensi siswa, harus kita bedakan benar mana yang cukup kita selesaikan di kelas dan mana yang harus kita selesaikan dengan penelitian tindakan kelas. Komponen tindakan yang dapat dilakukan untuk memperbaiki atau meningkatkan kompetensi dapat berupa model pembelajaran, pendekatan, metode, teknik, media, atau cara mengevaluasi. Inti tindakan adalah sesuatu yang dilakukan atau yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran sehingga kompetensi yang diteliti dapat menjadi lebih baik. Dalam praktiknya kita dapat menggabungkan dua tindakan atau lebih untuk memperbaiki atau meningkatkan sebuah kompetensi. Misalnya saja untuk memperbaiki atau meningkatkan kemampuan menulis puisi siswa, kita dapat menggunakan metode karya wisata dan teknik evaluasi secara langsung. Syarat tindakan yang dapat kita pilih untuk memperbaiki atau meningkatkan kompetensi siswa selain harus istimewa, dalam arti tidak biasa dilakukan oleh guru, juga harus bersifat fisibel, dalam arti mampu kita laksanakan. Metode diskusi kelompok atau pemberian pekerjaan rumah, misalnya, merupakan tindakan yang biasa atau tidak istimewa karena guru sudah biasa menggunakan. Namun, penggunaan CD atau penggunaan metode karya wisata, misalnya, merupakan tindakan yang istimewa, atau paling tidak agak istimewa karena tidak biasa digunakan dalam proses belajar mengajar sehari-hari. Setelah syarat istimewa kita peroleh, perlu juga dipertimbangkan kemungkinan penggunaan tindakan tersebut. Jika di sekolah kita tidak memiliki VCD, tentu akan menjadi mustahil kita menggunakan CD. Namun, untuk karya wisata, saya kira semua guru mampu melaksanakannya. Dengan demikian, syarat keterjangkauan 206

tersebut, selain dilihat dari sisi guru, juga dilihat dari sisi sekolah. Selain itu, syarat tindakan yang dapat kita pilih haruslah tindakan yang sesuai dengan kompetensi yang akan kita perbaiki atau akan kita tingkatkan. Dengan syarat-syarat tersebut kita akan dapat menilai bahwa topik (1) meningkatkan kemampuan menulis puisi dengan metode karya wisata, (2) meningkatkan kemampuan berpidato sengan evaluasi langsung, dan (3) meningkatkan minat siswa dalam pelajaran bahasa Inggris dengan mendatangkan native speaker merupakan contoh topik yang memenuhi syarat. Adapun topik (1) meningkatkan kemampuan mengarang dengan metode diskusi kelompok, (2) mengubah perilaku siswa dalam pembelajaran olah raga dengan metode pemberian tugas, dan (3) meningkatkan hasil belajar IPS dengan pemberian pekerjaan rumah merupakan contoh topik yang tidak baik. Mengapa tidak baik? Karena dalam contoh (1) selain antara kompetensi dan tindakannya tidak selaras juga karena cakupan kompetensinya tidak spesifik; dalam contoh (2) tindakan yang dilakukan tidak berhubungan dengan kompetensi, dan dalam contoh (3) kompetensinya tidak spesifik dan tindakannya tidak istimewa. 4. Karya Ilmiah dalam Permenpan Nomor 16 Tahun 2009 Berkaitan dengan jabatan fungsional dan angka kreditnya bagi guru, dasar yang kita gunakan selama ini adalah Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Namun, Kepmenpan itu dirasa sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan profesi dan tuntutan kompetensi guru. Oleh karena itu, Pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, yang berlaku sejak 10 November 2009. Jabatan fungsional guru adalah jabatan fungsional yang mempunyai ruang lingkup, tugas, tanggung jawab, dan wewenang untuk melakukan kegiatan mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. Apa yang baru dalam Kepmenpan ini dibandingkan dengan keputusan terdahulu? Unsur kegiatan yang dinilai dalam memberikan angka kredit terdiri atas unsur utama dan unsur penunjang. Yang tergolong dalam unsur utama adalah (1) pendidikan, (2) pembelajaran/pembimbingan dan tugas tambahan dan/atau tugas lain yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah, dan (3) pengembangan keprofesian berkelanjutan. Pengembangan keprofesian berkelanjutan meliputi tiga kegiatan, yaitu (1) pengembangan diri, (2) publikasi ilmiah, dan 3) menghasilkan karya inovatif. Pengembangan diri guru meliputi kegiatan keikutsertaan dalam pendidikan dan pelatihan serta kegiatan kolektif guru untuk meningkatkan kompetensinya. Kegiatan kolektif guru dapat berupa lokakarya, seminar, dan sejenisnya. Publikasi ilmiah meliputi publikasi ilmiah atas hasil penelitian atau gagasan inovatif pada bidang pendidikan formal dan publikasi buku teks pelajaran, buku pengayaan, dan pedoman guru. Karya inovatif meliputi menemukan teknologi tepat guna, menemukan/menciptakan karya seni, membuat/memodifikasi alat pelajaran/peraga/praktikum, dan mengikuti pengembangan penyusunan standar, pedoman, soal, dan sejenisnya. Unsur penunjang adalah kegiatan yang mendukung pelaksanaan tugas guru, yang terdiri atas (1) memperoleh gelar/ijazah yang tidak sesuai dengan bidang yang diampunya, (2) memperoleh penghargaan atau tanda jasa, dan (3) melaksanakan kegiatan yang menunjang tugas guru, seperti membimbing sisiwa dalam praktik kerja, menjadi anggota organisasi profesi/kepramukaan, menjadi tim penilai angka kredit, dan menjadi tutor/pelatih/instruktur. Dalam Kepmen ini jenjang jabatan dan pangkat guru terbagi menjadi empat, yaitu (1) Guru Pertama, (2) Guru Muda, (3) Guru Madya, dan (4) Guru Utama. Guru 207

Pertama memiliki jabatan fungsional Penata Muda dengan golongan ruang III/a dan Penata Muda Tingkat I dengan golongan ruang III/b. Guru Muda memiliki jabatan fungsional Penata dengan golongan ruang III/c dan Penata Tingkat I dengan golongan ruang III/d. Guru Madya memiliki jabatan fungsional Pembina dengan golongan ruang IV/a, Pembina Tingkat I dengan golongan ruang IV/b, dan Pembina Utama Muda dengan golongan ruang IV/c. Guru Utama memiliki jabatan fungsional Pembina Utama Madya dengan golongan ruang IV/d dan Pembina Utama dengan golongan ruang IV/e. Untuk kenaikan pangkat dari golongan ruang III/a ke golongan ruang III/b dibutuhkan paling sedikit 3 (tiga) angka kredit dari subunsur pengembangan diri. Dari III/b ke III/c dibutuhkan paling sedikit 4 (empat) angka kredit dari subunsur publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif, dan paling sedikit 3 (tiga) angka kredit dari subunsur pengembangan diri. Dari III/c ke III/d dibutuhkan paling sedikit 6 (enam) angka kredit dari subunsur publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif, dan paling sedikit 3 (tiga) angka kredit dari subunsur pengembangan diri. Dari III/d ke IV/a dibutuhkan paling sedikit 8 (delapan) angka kredit dari subunsur publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif, dan paling sedikit 4 (empat) angka kredit dari subunsur pengembangan diri. Dari IV/a ke IV/b atau dari IV/b ke IV/c dibutuhkan paling sedikit 12 (dua belas) angka kredit dari subunsur publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif, dan paling sedikit 4 (empat) angka kredit dari subunsur pengembangan diri. Dari IV/c ke IV/d dibutuhkan paling sedikit 14 (empat belas) angka kredit dari subunsur publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif, dan paling sedikit 5 (lima) angka kredit dari subunsur pengembangan diri. Dari IV/d ke IV/e dibutuhkan paling sedikit 20 (dua puluh) angka kredit dari subunsur publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif dan paling sedikit 5 (lima) angka kredit dari subunsur pengembangan diri. Lalu, bentuk karya ilmiah apa saja yang dapat digunakan oleh guru sebagai publikasi ilmiah yang sesuai dengan Permenpan tersebut? Ada beberapa jenis karya ilmiah, yaitu (1) laporan penelitian, (2) makalah, (3) buku teks, (4) buku pelajaran, (5) buku pedoman, (6) artikel ilmiah, (7) artikel populer, (8) modul/diktat, dan (9) karya terjemahan. 5. Penulisan Kutipan Berikut disajikan Tata Cara & Aturan Penulisan Kutipan pada karya tulis ilmiah. Kutipan adalah gagasan, ide, pendapat yang diambil dari berbagai sumber. Proses pengambilan gagasan itu disebut mengutip. Gagasan itu bisa diambil dari kamus, ensiklopedi, artikel, laporan, buku, majalah, internet, dan lain sebagainya. Penulisan sumber kutipan ada yang menggunakan pola Harvard, ada pula yang menggunakan pola konvensional atau catatan kaki (footnote). Sekarang Anda akan mempelajari pencantuman kutipan dengan pola Harvard. Penulisan dan pencantuman kutipan dengan pola Harvard ditandai dengan menuliskan nama belakang pengarang, tahun terbit, dan halaman buku yang dikutip di awal atau di akhir kutipan. Data lengkap sumber yang dikutip itu dicantumkan pada daftar pustaka. Ada dua cara dalam mengutip, yakni langsung dan tidak langsung. Kutipan langsung adalah mengutip sesuai dengan sumber aslinya, artinya kalimatkalimat tidak ada yang diubah. Disebut kutipan tidak langsung jika mengutip dengan cara meringkas kalimat dari sumber aslinya, namun tidak menghilangkan gagasan asli dari sumber tersebut. Kutipan, Catatan Kaki, Catatan Tubuh 1. Kutipan Kutipan adalah pinjaman kalimat atau pendapat dari seorang penulis, baik yang terdapat dalam buku, majalah, koran, dan sumber lainnya, ataupun

208

berasal dari ucapan seorang tokoh. Kutipan digunakan untuk mendukung argumentasi penulis. Namun, penulis jangan sampai menyusun tulisan yang hanya berisi kumpulan kutipan. Kerangka karangan, kesimpulan, dan ide dasar harus tetap pendapat penulis pribadi, kutipan berfungsi untuk menunjang/mendukung pendapat tersebut. Selain itu, seorang penulis sebaiknya tidak melakukan pengutipan yang terlalu panjang, misalkan sampai satu halaman atau lebih, hingga pembaca lupa bahwa apa yang dibacanya adalah kutipan. Kutipan dilakukan seperlunya saja sehingga tidak merusak alur tulisan. Kutipan juga bisa diambil dari pernyataan lisan dalam sebuah wawancara, ceramah, ataupun pidato. Namun, kutipan dari pernyataan lisan ini harus dikonfirmasikan dulu kepada narasumbernya sebelum dicantumkan dalam tulisan. Terdapat dua jenis kutipan: a. Kutipan langsung, apabila penulis mengambil pendapat orang lain secara lengkap kata demi kata, kalimat demi kalimat, sesuai teks asli, tidak mengadakan perubahan sama sekali. b. Kutipan tidak langsung, apabila penulis mengambil pendapat orang lain dengan menguraikan inti sari pendapat tersebut, susunan kalimat sesuai dengan gaya bahasa penulis sendiri. 2. Sumber Kutipan (Referensi) Salah satu karakter utama tulisan ilmiah adalah referensial, menunjukkan bahwa argumen-argumen yang diajukan dilandasi oleh teori atau konsep tertentu, sekaligus menunjukkan kejujuran intelektual dengan mencantumkan sumber kutipan (referensi) yang digunakan. Dalam praktik penulisan, setiap kali penulis mengutip pendapat orang lain, baik dari buku, majalah, ataupun wawancara, setelah kutipan itu harus dicantumkan sumber kutipan (buku, majalah, atau koran) yang digunakan. Secara mendasar, pencantuman sumber kutipan ini mempunyai fungsi sebagai: 1. Menyusun pembuktian (etika kejujuran dan keterbukaan ilmiah). 2. Menyatakan penghargaan kepada penulis yang dikutip (etika hak cipta intelektual). Terdapat dua model pencantuman referensi: a. Catatan tubuh (bodynote), dilakukan ketika penulis mencantumkan sumber kutipan langsung setelah selesainya sebuah kutipan dengan menggunakan tanda kurung. b. Catatan kaki (footnote), dilakukan apabila penulis mencantumkan nomor indeks di akhir sebuah kutipan, lalu di bagian bawah halaman tersebut (bagian kaki halaman) terdapat keterangan nomor indeks yang menjelaskan sumber kutipan tersebut. Sebuah tulisan ilmiah harus menggunakan salah satu jenis penulisan referensi tersebut, serta harus konsisten dengan jenis tersebut. Artinya, ketika sebuah tulisan menggunakan bodynote, maka seluruh referensi dari awal hingga akhir tulisan harus menggunakan bodynote. Atau, jika seorang penulis menggunakan catatan kaki, sejak awal hingga akhir tulisan, penulis harus menggunakan catatan kaki untuk menuliskan referensinya. 3. yaitu: Teknik Menggunakan Catatan Kaki Catatan kaki mempunyai kelebihan dibandingkan dengan catatan tubuh,

209

1). Catatan kaki mampu menunjukkan sumber referensi dengan lebih lengkap. Dalam cacatan tubuh, yang ditampilkan hanya nama pengarang, tahun terbit buku, serta halaman buku yang dikutip. Dalam catatan kaki, nama pengarang, judul buku, tahun terbit, nama penerbit, dan halaman dapat dicantumkan semua. Hal ini tentu mempermudah penelusuran bagi pembaca. 2). Selain sebagai penunjukan referensi, catatan kaki dapat berfungsi untuk memberikan catatan penjelas yang diperlukan. Hal ini tentu tidak dapat dilakukan dengan catatan tubuh. 3). Catatan kaki dapat digunakan untuk merujuk bagian lain dari sebuah tulisan. Berdasarkan kelebihannya tersebut, catatan kaki bisa berisi: 1). Penunjukan sumber kutipan (referensi). 2). Catatan penjelas. 3). Penunjukan sumber kutipan sekaligus catatan penjelas. Prinsip-prinsip dalam menuliskan catatan kaki: 1) Catatan kaki dicantumkan di bagian bawah halaman, dipisahkan dengan naskah skripsi oleh sebuah garis. Pemisahan ini akan otomatis dilakukan oleh program Microsoft Word dengan cara mengklik insert, kemudian reference, kemudian footnote. 2) Nomor cacatan kaki ditulis secara urut pada tiap bab, mulai dari nomor satu. Artinya, cacatan kaki pertama di tiap awal bab menggunakan nomor satu, begitu seterusnya. 3) Catatan kaki ditulis dengan satu spasi. 4) Pilihan huruf dalam catatan kaki harus sama dengan pilihan huruf dalam naskah skripsi, hanya ukurannya lebih kecil, yaitu: Times New Roman (size 10) Arial (size 9) Tahoma (size 9) 5) Baris pertama catatan kaki menjorok ke dalam sebanyak tujuh karakter. 6) Judul buku dalam catatan kaki ditulis miring (italic). 7) Nama pengarang dalam catatan kaki ditulis lengkap dan tidak dibalik. 8) Catatan kaki bisa berisi keterangan tambahan. Pertimbangan utama memberikan keterangan tambahan adalah: jika keterangan tersebut ditempatkan dalam naskah (menyatu dengan naskah) akan merusak alur tulisan atau naskah tersebut. Tidak ada batasan seberapa panjang keterangan tambahan, asalkan proporsional. Buku dengan satu pengarang Nama pengarang, judul buku (kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit), halaman.1 Buku dengan dua atau tiga pengarang Nama pengarang 1, nama pengarang 2, nama pengarang 3, judul buku (kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit), halaman.2 Buku dengan banyak pengarang
1 2

David Barrat, Media Sociology (London and New York: Routledge, 1994), hal. 273. Hubert L. Dreyfus, Paul Rabinow, Beyond Structuralism and Hermeneutics (Chicago: University of Chicago Press, 1982), hal. 72 - 76.

210

Nama pengarang pertama, et al., judul buku (kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit), halaman.3 Perhatikan: hanya nama pengarang pertama yang dicantumkan, nama-nama pengarang lainnya diganti dengan singkatan et al.

Buku yang telah direvisi Nama pengarang, judul buku (rev.ed.; kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit), halaman.4 Perhatikan: singkatan rev.ed. menunjukkan bahwa buku tersebut telah mengalami revisi. Buku yang terdiri dua jilid atau lebih Nama pengarang, judul buku (nomor volume/jilid; kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit), halaman.5 Buku terjemahan Nama pengarang asli, judul buku, terj. nama penerjemah (kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit), halaman.6 Perhatikan: singkatan terj. menunjukkan bahwa buku tersebut telah diterjemahkan dan penulis mengutip dari terjemahan tersebut. Kamus Nama pengarang, judul kamus (kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit), halaman.7 Artikel dari sebuah buku antologi Nama pengarang artikel, judul artikel, judul buku, ed. nama editor (kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit), halaman.8 Perhatikan: jika editor satu orang maka menggunakan singkatan ed., namun jika editor dua orang atau lebih menggunakan singkatan eds. Artikel dari sebuah jurnal/majalah ilmiah Nama pengarang artikel, judul artikel, nama jurnal/majalah ilmiah, edisi jurnal (bulan terbit, tahun terbit), halaman.9 Artikel dari koran/majalah Nama pengarang artikel, judul artikel, nama media, tanggal terbit, tahun, halaman.10
3 4

Idi Subandi Ibrahim, et al., Hegemoni Budaya (Yogyakarta: Bentang, 1997), hal. 52 - 54. Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi (rev.ed.; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), hal. 55. 5 Ira M. Lapidus, A History of Islamic Societes (Vol.1; Cambridge: Cambridge University Press, 1988), hal. 131. 6 Arthur Asa Berger, Media Analysis Techniques, terj. Setio Budi HH. (Yogyakarta: Penerbitan Universitas Atma Jaya, 2000), hal. 44 45. 7 Lorens Bagus, Kamus Filsafat (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1994), hal. 595. 8 Rudi Harisyah Alam, Perspektif Pasca-Modernisme dalam Kajian Keagamaan, Kajian Keagamaan dalam Tradisi Baru Penelitian Agama Islam Tinjauan Antardisiplin Ilmu, eds. Prof. Dr. Mastuhu, M.Ed., M. Deden Ridwan (Bandung: Penerbit Nuansa dan PUSJARLIT, 1998), hal. 67-77. 9 Dedy N. Hidayat, "Paradigma dan Perkembangan Penelitian Komunikasi," Jurnal Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia, No. 2 (Oktober, 1998), hal. 25-26. 10 Francis Fukuyama, Benturan Islam dan Modernitas, Koran Tempo, 22 November, 2001, hal. 4.

211

Berita koran/majalah Judul berita, nama media, tanggal terbit, tahun, halaman.11 Skripsi/Tesis/Disertasi yang belum diterbitkan Nama penulis, judul skripsi/tesis/disertasi, (level karya, fakultas dan universitas, nama kota, tahun terbit), halaman.12 Makalah seminar yang tidak diterbitkan Nama penulis, judul makalah, (forum penyampaian makalah, penyelenggara seminar, nama kota, tanggal seminar, tahun).13 Dokumen yang tidak diterbitkan Lembaga yang mengeluarkan dokumen, nama dokumen, (nama kota, tanggal dikeluarkan dokumen, tahun).14 Artikel dari internet Nama penulis, judul artikel, alamat lengkap internet (tanggal 15 akses). Jika artikel di internet tidak mencantumkan nama penulis, maka langsung mengacu pada judul artikel.16 Pernyataan lisan Nama narasumber, jenis pernyataan (wawancara atau pidato), tanggal pernyataan dilakukan.17 Referensi dari sumber kedua Keterangan lengkap sumber pertama (sesuai dengan aturan catatan kaki), seperti dikutip oleh keterangan lengkap sumber kedua (sesuai aturan catatan kaki).18 Perhatikan: frase seperti dikutip oleh menunjukkan bahwa penulis tidak membaca sumber asal (pertama) kutipan, hanya membaca dari orang lain (sumber kedua) yang mengutip sumber pertama. 4. Beberapa Singkatan Khusus dalam Catatan Kaki 1) Ibid. Singkatan ini berasal dari bahasa latin ibidem yang berarti pada tempat yang sama. Singkatan ini digunakan apabila referensi dalam catatan
11 12

Islam di AS Jadi Agama Kedua, Republika, 10 September, 2002, hal. 6. Muzayin Nazaruddin, War Against Terrorism: Critical Discourse Analysis, (Skripsi Sarjana, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 2004), hal. 205. 13 Muzayin Nazaruddin, Dua Tipe Perempuan dalam Film dan Sinetron Mistik Indonesia, (Makalah disampaikan dalam Temu Ilmiah Nasional, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Jakarta, 26 28 Juni, 2007). 14 U.S. Department of Foreign Affairs, Testimony by John. J. Maresca, Vice President International Relations Unocal Corporation to House Committee on International Relations Subcommittee on Asia and The Pacific (Washington D.C., 12 February, 1998). 15 Robert McChesney, Rich Media Poor Democracy, www.thirdworldtraveler.com/Robert_McChesney_page.html (akses 16 Agustus 2006). 16 Pengelolaan Bencana: Pengelolaan Kerentanan Masyarakat, www.walhi.or.id/kampanye/bencana (akses 17 Agustus 2006). 17 Samijan, wawancara dengan penulis, 11 November 2006. 18 Karl Marx, Selected Writings in Sociology and Social Philosophy, eds. T.B. Bottomore and Maximilien Rubel (New York: McGraw-Hill, 1964), hal. 78, seperti dikutip oleh Arthur Asa Berger, Media Analysis Techniques, terj. Setio Budi HH. (Yogyakarta: Penerbitan Universitas Atma Jaya, 2000), hal. 44 45.

212

kaki nomor tersebut sama dengan referensi pada nomor sebelumnya (tanpa diselingi catatan kaki lain). Apabila halamannya sama, cukup ditulis Ibid., bila halamannya berbeda, setelah Ibid. dituliskan nomor halamannya. 2) Op.Cit. Singkatan ini berasal dari bahasa latin opere citato yang berarti pada karya yang telah dikutip. Singkatan ini digunakan apabila referensi dalam catatan kaki pada nomor tersebut sama dengan referensi yang telah dikutip sebelumnya, namun diselingi catatan kaki lain. Op.Cit. khusus digunakan bagi referensi yang berupa buku. Loc.Cit. Singkatan ini berasal dari bahasa latin loco citato yang berarti pada tempat yang telah dikutip. Singkatan ini digunakan sama dengan Op.Cit., yaitu apabila referensi dalam catatan kaki pada nomor tersebut sama dengan referensi yang telah dikutip sebelumnya, namun diselingi catatan kaki lain. Namun, referensi yang diacu Loc.Cit. bukan berupa buku, melainkan artikel, baik itu dari koran, majalah, ensiklopedi, internet, atau lainnya. Contoh penggunaan: 1 Arthur Asa Berger, Media Analysis Techniques, terj. Setio Budi (Yogyakarta: Penerbitan Universitas Atma Jaya, 2000), hal. 45. 2 Ibid. 3 Ibid., hal. 55. 4 Dedy N. Hidayat, "Paradigma dan Perkembangan Penelitian Komunikasi," Jurnal Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia, No. 2 (Oktober, 1998), hal. 25-26. 5 Ibid., hal. 28. 6 Arthur Asa Berger, Op.Cit., hal. 70. 7 Hubert L. Dreyfus, Paul Rabinow, Beyond Structuralism and Hermeneutics (Chicago: University of Chicago Press, 1982), hal. 72 - 76. 8 Francis Fukuyama, Benturan Islam dan Modernitas, Koran Tempo, 22 November, 2001, hal. 45. 9 Robert McChesney, Rich Media Poor Democracy, www.thirdworldtraveler.com/Robert_McChesney_page.html (akses 16 Agustus 2006). 10 Arthur Asa Berger, Op.Cit., hal. 96. 11 Ibid., hal. 99. 12 Ibid. 13 Dedy N. Hidayat, Loc.Cit., hal. 22. 14 Francis Fukuyama, Loc.Cit. 15 Hubert L. Dreyfus, Paul Rabinow, Op.Cit., 58. 16 Dedy N. Hidayat, Loc.Cit., hal. 21. Cara membaca:
Catatan kaki nomor (2) menggunakan Ibid., karena sumber kutipannya

3)

sama persis dengan nomor (1) baik buku maupun halamannya. Catatan kaki nomor (3) buku referensinya sama dengan nomor (2), hanya saja beda halamannya. Catatan kaki nomor (5) referensinya sama dengan nomor (4), hanya saja beda halamannya.

213

Catatan kaki nomor (6), referensinya sama dengan nomor (1), karena

telah diselingi oleh catatan kaki lain, maka menggunakan Op.Cit., serta menuliskan nama pengarang dan halaman. Catatan kaki nomor (10) referensinya sama dengan nomor (1), karena telah diselingi oleh catatan kaki lain, maka menggunakan Op.Cit. Catatan kaki nomor (11), referensinya sama dengan catatan kaki sebelumnya, tanpa diselingi catatan kaki lain, yaitu nomor (10), hanya saja beda halamannya. Catatan kaki nomor (12) referensinya sama persis dengan nomor (11). Catatan kaki nomor (13) referensinya sama dengan nomor (4), hanya beda halamannya, karena telah diselingi oleh catatan kaki lain dan nomor (4) berbentuk artikel (bukan buku) maka menggunakan Loc.Cit., serta menuliskan halamannya. Catatan kaki nomor (14) referensinya sama persis, termasuk halamannya, dengan nomor (8), karena telah diselingi oleh catatan kaki lain dan nomor (8) berbentuk artikel (bukan buku) maka menggunakan Loc.Cit. Catatan kaki nomor (15) referensinya sama dengan nomor (7), hanya beda halaman, karena telah diselingi oleh catatan kaki lain dan nomor (7) berbentuk buku (bukan artikel) maka menggunakan Op.Cit., serta menuliskan halamannya. Catatan kaki nomor (16) referensinya sama dengan nomor (4), hanya beda halamannya, karena telah diselingi oleh catatan kaki lain dan nomor (4) berbentuk artikel (bukan buku) maka menggunakan Loc.Cit., serta menuliskan halamannya. 5. Teknik Menggunakan Catatan Tubuh Kelebihan catatan tubuh adalah kemudahan bagi pembaca dalam mengecek sumber sebuah kutipan yang langsung terdapat sebelum atau setelah kutipan tersebut, tanpa perlu berpindah ke bagian bawah halaman. Prinsip-prinsip dalam menuliskan catatan tubuh: 1). Catatan tubuh menyatu dengan naskah, hanya ditandai dengan kurung buka dan kurung tutup. 2). Catatan tubuh memuat nama belakang penulis, tahun terbit buku dan halaman yang dikutip. Contoh: a). Nama penulis adalah Arthur Asa Berger, maka cukup ditulis Berger. b). Nama penulis Jalaluddin Rakhmat, maka cukup ditulis Rakhmat. 3). Terdapat dua cara menuliskan catatan tubuh: a). Nama penulis, tahun terbit dan halaman berada dalam tanda kurung, ditempatkan setelah selesainya sebuah kutipan. Jika kutipan ini merupakan akhir kalimat, maka tanda titik ditempatkan setelah kurung tutup catatan tubuh. Contoh: Di titik inilah esensi hegemoni: hubungan di antara agen-agen utama yang menjadi alat sosialisasi dan orientasi ideologis, yang berinteraksi, kumulatif, dan diterima oleh masyarakat (Lull, 1995: 3138). b). Nama penulis menyatu dalam naskah tulisan, tidak berada dalam tanda kurung, sementara tahun penerbitan dan halaman berada dalam tanda kurung. Model ini biasanya ditempatkan sebelum sebuah kutipan. Contoh:

214

Menurut Lull (1995: 31-38), di titik inilah esensi hegemoni: hubungan di antara agen-agen utama yang menjadi alat sosialisasi dan orientasi ideologis, yang berinteraksi, kumulatif, dan diterima oleh masyarakat. Buku dengan satu pengarang ..... (Lull, 1995: 31 38). Menurut Lull (1995: 31 38), ..... Buku dengan dua atau tiga pengarang .. (Dreyfus dan Rabinow, 1982: 72 76). Dreyfus dan Rabinow (1982: 72 76) mengatakan .. Buku dengan banyak pengarang ...... (Ibrahim, et al., 1997: 52 54). ...... (Ibrahim, dkk., 1997: 52 54). Buku yang terdiri dua jilid atau lebih ..... (Lapidus, Vol.1, 1988: 131). Mengacu pada Lapidus (Vol.1, 1988: 131), .. Buku terjemahan .. (Berger, terj., Setio Budi, 2000: 44 45). Berger (terj., Setio Budi, 2000: 44 45) menandaskan ..... Artikel dari sebuah buku antologi ..... (Alam, dalam Mastuhu dan Ridwan (eds.), 1998: 77). Menurut Alam (dalam Mastuhu dan Ridwan (eds.), 1998: 77), ..... Perhatikan: jika editor satu orang maka menggunakan singkatan ed., namun jika editor dua orang atau lebih menggunakan singkatan eds. Artikel dari sebuah jurnal/majalah ilmiah ...... (Hidayat, Jurnal ISKI, No. 2, Oktober 1998: 25-26). Hidayat (Jurnal ISKI, No. 2, Oktober 1998: 25-26) menyebut .. Artikel dari koran/majalah ..... (Fukuyama, Koran Tempo, 22 November 2001). Melandaskan argumen pada Fukuyama (Koran Tempo, 22 November 2001), ...... Berita koran/majalah ..... (Republika, 10 September 2002). Harian Republika (10 September 2002) memberitakan ..... Skripsi/Tesis/Disertasi yang belum diterbitkan ..... (Nazaruddin, Skripsi, 2004: 205). Menurut Nazaruddin (Skripsi, 2004: 205), ..... Makalah seminar yang tidak diterbitkan ..... (Nazaruddin, Makalah, 2007).

215

Dalam makalahnya yang disampaikan dalam Temu Ilmiah Nasional Komunikasi, Nazaruddin (2007) mengatakan, ..... Dokumen yang tidak diterbitkan ..... (U.S. Department of Foreign Affairs, 1998). Dalam dokumen yang dikeluarkan U.S. Department of Foreign Affairs (1998) disebutkan bahwa .. Artikel dari internet .. (Chesney, www.thirdworldtraveler.com/ Robert_McChesney_ page.html, akses 15 Juni 2007). Mengutip Chesney (www.thirdworldtraveler.com/Robert_ McChesney_page.html, akses 15 Juni 2007), .. Perhatikan: alamat web yang dicantumkan adalah alamat lengkap, dengan cara copy-paste dari address web secara langsung. Pernyataan lisan .. (Samijan, wawancara, 11 November 2006). Dalam wawancara dengan penulis, Samijan (11 November 2006) mengatakan Referensi dari sumber kedua Menurut Marx (seperti dikutip Takwin, 2000: 44), ...... 6. Penggunaan Kutipan dan Referensi 1) Kutipan langsung empat baris atau lebih Prinsip-prinsip: a) Kutipan dipisahkan dari teks. b) Kutipan menjorok ke dalam lebih kurang tujuh karakter. Bila awal kutipan adalah alinea baru, baris pertama kutipan menjorok lagi ke dalam lebih kurang tujuh karakter. c) Kutipan diketik dengan spasi satu. d) Kutipan diawali dan diakhiri dengan tanda kutip (boleh tidak). e) Jika menggunakan catatan tubuh (bodynote), maka cacatan tubuh dicantumkan setelah kutipan. Contoh: Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana kelas berkuasa bekerja melalui ideologi untuk melanggengkan dominasi mereka? Barangkali penting dikutip di sini bagaimana Marx menjelaskan bekerjanya kelas berkuasa: Individu-individu yang menyusun kelas yang berkuasa berkeinginan memiliki sesuatu/kesadaran dari yang lainnya. Ketika mereka memegang peranan sebagai sebuah kelas dan menentukan keseluruhannya dalam sebuah kurun waktu, hal tersebut adalah bukti diri bahwa mereka melakukan tersebut dalam jangkauannya kepada yang lainnya, memegang peranan sekaligus pula sebagai pemikir-pemikir, sebagai pemproduksi ide serta mengatur produksi dan distribusi idenya pada masa tersebut. (Berger, 2000: 44 45) Dalam contoh di atas, kalimat Pertanyaannya kemudian.....bekerjanya kelas berkuasa adalah naskah skripsi. Kalimat 216

Individu-individu.....pada masa tersebut adalah kutipan langsung dari sebuah buku yang ditulis Arthur Asa Berger, diterbitkan pada tahun 2000, dan kutipan berasal dari halaman 44-45 buku tersebut. f) Jika menggunakan catatan kaki (footnote), maka nomor indeks ditempatkan setelah kutipan, lalu di bagian bawah halaman tersebut (bagian kaki halaman) terdapat keterangan nomor indeks yang menjelaskan sumber kutipan tersebut. Contoh: Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana kelas berkuasa bekerja melalui ideologi untuk melanggengkan dominasi mereka? Barangkali penting dikutip di sini bagaimana Marx menjelaskan bekerjanya kelas berkuasa: Individu-individu yang menyusun kelas yang berkuasa berkeinginan memiliki sesuatu/kesadaran dari yang lainnya. Ketika mereka memegang peranan sebagai sebuah kelas dan menentukan keseluruhannya dalam sebuah kurun waktu, hal tersebut adalah bukti diri bahwa mereka melakukan tersebut dalam jangkauannya kepada yang lainnya, memegang peranan sekaligus pula sebagai pemikirpemikir, sebagai pemproduksi ide serta mengatur produksi dan distribusi idenya pada masa tersebut. 19 Dalam contoh di atas, kalimat Pertanyaannya kemudian.....bekerjanya kelas berkuasa adalah naskah skripsi. Kalimat Individu-individu.....pada masa tersebut adalah kutipan. Catatan kaki dalam contoh ini bisa dilengkapi dengan keterangan tambahan. 20 2) Kutipan langsung kurang dari empat baris Prinsip-prinsip: a). Kutipan tidak dipisahkan dari teks (menyatu dengan teks). b). Kutipan harus diawali dan diakhiri dengan tanda kutip. c). Jika menggunakan catatan tubuh, contoh: Bagi sebuah kekuasaan resmi negara, salah satu representasi ideologi yang penting terwujud dalam pidato dan pernyataan-pernyataan para penyelenggara kekuasaan negara tersebut, secara khusus adalah seorang presiden ataupun raja yang berkuasa. Hart (1967: 61) mengatakan: "The symbolic dimensions of politics speech-making, for presidents, is a political act, the mechanism for wielding power." Dalam contoh di atas, kalimat Bagi sebuah kekuasaan .. raja yang berkuasa adalah naskah skripsi. Kalimat The symbolic .. for wielding power adalah kutipan dari buku yang ditulis R.P. Hart, diterbitkan pada tahun 1967, dan kutipan berasal dari halaman 61 buku tersebut. d). Jika menggunakan catatan kaki, contoh:

19

Arthur Asa Berger, Media Analysis Techniques, terj. Setio Budi (Yogyakarta: Penerbitan Universitas Atma Jaya, 2000), hal. 44 45. 20 Arthur Asa Berger, Media Analysis Techniques, terj. Setio Budi (Yogyakarta: Penerbitan Universitas Atma Jaya, 2000), hal. 44 45. Cukup jelas, Marx menawarkan gagasan bahwa ide-ide atau gagasan pada suatu masa adalah yang disebarluaskan dan dipopulerkan oleh kelas berkuasa sesuai kepentingannya. Kelas penguasa itu, seperti ditegaskan Marx, merupakan pemikir, pemproduksi ide sekaligus mengatur distribusi idenya. Dalam hal produksi dan penyebarluasan ide inilah kita bisa mengurai saling keterkaitan antara kelas penguasa, ideologi, wacana dan media.

217

Bagi sebuah kekuasaan resmi negara, salah satu representasi ideologi yang penting terwujud dalam pidato dan pernyataan-pernyataan para penyelenggara kekuasaan negara tersebut, secara khusus adalah seorang presiden ataupun raja yang berkuasa. Hart mengatakan: "The symbolic dimensions of politics speech-making, for presidents, is a political act, the mechanism for wielding power." 21 Dalam contoh di atas, kalimat Bagi sebuah kekuasaan .. raja yang berkuasa adalah naskah skripsi. Kalimat The symbolic .. for wielding power adalah kutipan. Catatan kaki dalam contoh ini bisa dilengkapi dengan keterangan tambahan. 22 3) Kutipan tidak langsung Prinsip-prinsip: a) Kutipan tidak dipisahkan dari teks (menyatu dengan teks). b) Kutipan tidak boleh menggunakan tanda kutip. c) Jika menggunakan catatan tubuh, contoh: Media bukanlah sarana netral yang menampilkan berbagai ideologi dan kelompok apa adanya, media adalah subjek yang lengkap dengan pandangan, kepentingan, serta keberpihakan ideologisnya. Janet Woollacott dan David Barrat menegaskan pandangan para teoritis Marxis bahwa ideologi yang dominanlah yang akan tampil dalam pemberitaan (Wollacott, 1982: 109, Barrat, 1994: 51-52). Media berpihak pada kelompok dominan, menyebarkan ideologi mereka sekaligus mengontrol dan memarginalkan wacana dan ideologi kelompok-kelompok lain. Dalam contoh di atas, pernyataan bahwa ideologi yang dominan yang akan tampil dalam pemberitaan adalah inti pendapat dari James Wollacott dan David Barrat yang penulis sajikan dalam bahasa sendiri. d) Jika menggunakan catatan kaki, contoh: Media bukanlah sarana netral yang menampilkan berbagai ideologi dan kelompok apa adanya, media adalah subjek yang lengkap dengan pandangan, kepentingan, serta keberpihakan ideologisnya. Janet Woollacott dan David Barrat menegaskan pandangan para teoritis Marxis bahwa ideologi yang dominanlah yang akan tampil dalam pemberitaan.23 Media berpihak pada kelompok dominan, menyebarkan ideologi mereka sekaligus mengontrol dan memarginalkan wacana dan ideologi kelompok-kelompok lain. Dalam contoh di atas, catatan kaki bisa dilengkapi dengan keterangan tambahan. 24
21

R.P. Hardt, The Sound of Leadership: Presidential Communication in the Modern-Age (Chicago: Chicago University Press, 1987), hal. 61. 22 Pada dasarnya tiap pemimpin politik selalu menciptakan bahasa politik yang menjadi kekuatan utama konsolidasi simbolik dalam rangka mendukung politik dijalankan serta meneguhkan ideologi kekuasaan. Dalam sebuah studinya mengenai pidato kemenangan presiden di Amerika, Corcohan menunjukkan bahwa tiap presiden ternyata mempunyai gaya bahasa serta strategi wacana yang berbeda. Lihat lebih jauh di R.P. Hardt, The Sound of Leadership: Presidential Communication in the Modern-Age (Chicago: Chicago University Press, 1987), hal. 61. 23 David Barrat, Media Sociology (London and New York: Routledge, 1994), hal. 51-52. Lihat juga Janet Wollacott, Message and Meanings, dalam Culture, Society and the Media, eds. Michael Gurevitch, James Curran and James Wollacott (London: Methuen, 1982), hal. 109.

218

6. Daftar Pustaka Daftar pustaka/bibliografi adalah daftar yang berisi buku, artikel, dokumen, dan segenap kepustakaan lainnya yang digunakan dalam menyusun sebuah tulisan ilmiah, ditempatkan di bagian terakhir (halaman terpisah/tersendiri) dari tulisan ilmiah tersebut. Daftar pustaka atau bibliografi mutlak ada dalam sebuah karya ilmiah, menunjukkan sifat referensial atas karya tersebut. Bibliografi disusun secara alfabetis (Lampiran VI.3). Unsur-unsur dalam sebuah daftar pustaka: Nama pengarang (ditulis secara terbalik). Judul buku (termasuk judul tambahannya). Data publikasi (tempat terbit, nama penerbit, tahun terbit). Nama pengarang artikel dan judul artikel (untuk artikel). Data publikasi media, untuk artikel di media (nama media, tanggal terbit). Alamat lengkap internet dan waktu akses (untuk bahan dari internet). Cara penyusunan daftar pustaka: Buku dengan satu pengarang Nama pengarang (dibalik). Judul buku. Kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit. Barrat, David. Media Sociology. London and New York: Routledge, 1994. Buku dengan dua atau tiga pengarang Nama pengarang 1 (dibalik), nama pengarang 2 (tidak dibalik), nama pengarang 3 (tidak dibalik). Judul buku. Kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit. Dreyfus, Hubert L., Paul Rabinow. Beyond Structuralism and Hermeneutics. Chicago: University of Chicago Press, 1982. Buku dengan banyak pengarang Nama pengarang 1 (dibalik), et.al. Judul buku. Kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit. Ibrahim, Idi Subandi, et.al. Hegemoni Budaya. Yogyakarta: Bentang, 1997. Buku yang telah direvisi Nama pengarang (dibalik). Judul buku. Rev.ed. Kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit. Rakhmat, Jalaluddin. Psikologi Komunikasi. Rev.ed. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003. Buku yang terdiri dua jilid atau lebih Nama pengarang (dibalik). Judul buku. Volume/Jilid. Kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit. Lapidus, Ira M. A History of Islamic Societes. Vol.1. Cambridge: Cambridge University Press, 1988. Buku terjemahan Nama pengarang asli (dibalik). Judul buku, terj. nama penerjemah. Kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit.
24

Keberpihakan media akan menampilkan kelompok dominan dalam pemberitaan. Lebih jauh, media bukan hanya alat bagi ideologi dominan, tetapi juga memproduksi ideologi dominan itu sendiri. Lihat David Barrat, Media Sociology (London and New York: Routledge, 1994), hal. 51-52. Lihat juga Janet Wollacott, Message and Meanings, dalam Culture, Society and the Media, eds. Michael Gurevitch, James Curran and James Wollacott (London: Methuen, 1982), hal. 109.

219

Berger, Arthur Asa. Media Analysis Techniques, terj. Setio Budi HH. Yogyakarta: Penerbitan Universitas Atma Jaya, 2000. Kamus Nama pengarang kamus (dibalik). Judul kamus. Kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit. Bagus, Lorens. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1994. Artikel dari sebuah buku antologi Nama pengarang artikel (dibalik). Judul artikel, Judul buku, ed. nama editor. Kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit. Alam, Rudi Harisyah. Perspektif Pasca-Modernisme dalam Kajian Keagamaan, Kajian Keagamaan dalam Tradisi Baru Penelitian Agama Islam Tinjauan Antardisiplin Ilmu, eds. Prof. Dr. Mastuhu, M.Ed., M. Deden Ridwan. Bandung: Penerbit Nuansa dan PUSJARLIT, 1998. Perhatian: jika editor satu orang maka menggunakan singkatan ed., namun jika editor dua orang atau lebih menggunakan singkatan eds. Artikel dari sebuah jurnal/majalah ilmiah Nama pengarang artikel (dibalik). Judul artikel, Nama jurnal/majalah ilmiah, edisi jurnal (bulan terbit, tahun terbit), halaman. Hidayat, Dedy N. "Paradigma dan Perkembangan Penelitian Komunikasi," Jurnal Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia, II (Oktober, 1998), hal. 32-43. Perhatian: halaman yang dimaksud di daftar pustaka ini adalah halaman dari awal sampai akhir tempat artikel berada dalam jurnal/majalah ilmiah, bukan halaman yang dikutip. Artikel dari koran/majalah Nama pengarang artikel (dibalik). Judul artikel, Nama media, tanggal dan tahun terbit. Fukuyama, Francis. Benturan Islam dan Modernitas, Koran Tempo, 22 November 2001. Berita koran/majalah Judul berita, Nama media, tanggal dan tahun terbit. Islam di AS Jadi Agama Kedua, Republika, 10 September 2002. Skripsi/Tesis/Disertasi yang belum diterbitkan Nama penulis (dibalik). Judul skripsi/tesis/disertasi. Level karya, fakultas dan universitas, nama kota, tahun terbit. Nazaruddin, Muzayin. War Against Terrorism: Critical Discourse Analysis. Skripsi Sarjana, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 2004. Makalah seminar yang tidak diterbitkan Nama penulis (dibalik). Judul makalah. Forum penyampaian makalah, penyelenggara seminar, nama kota, tahun. Nazaruddin, Muzayin. Dua Tipe Perempuan dalam Film dan Sinetron Mistik Indonesia. Makalah disampaikan dalam Temu Ilmiah Nasional, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Jakarta, 2007.

220

Dokumen yang tidak diterbitkan Lembaga yang mengeluarkan dokumen. Nama dokumen. Nama kota, tanggal dan tahun dikeluarkan dokumen. U.S. Department of Foreign Affairs. Testimony by John. J. Maresca, Vice President International Relations Unocal Corporation to House Committee on International Relations Subcommittee on Asia and The Pacific. Washington D.C., 12 February 1998. Artikel di internet Nama penulis (dibalik). Judul artikel. Alamat lengkap internet (waktu akses). McChesney, Robert. Rich Media Poor Democracy. www.thirdworldtraveler.com/Robert_McChesney_page.html (akses 16 Agustus 2006). Judul artikel. Alamat lengkap internet (waktu akses). Pengelolaan Bencana: Pengelolaan Kerentanan Masyarakat. www.walhi.or.id/kampanye/bencana (akses 17 Agustus 2006). J. Surat Resmi (dinas) dan Surat Tidak Resmi (pribadi) Konsep surat resmi (dinas), komponen surat resmi, konsep surat tidak resmi (pribadi) dan komponen surat tidak resmi, dan menyusun bahasa surat yang baik dan benar. JENIS-JENIS SURAT 1. Menurut kepentingan dan pengirimnya, surat dapat dikelompokkan sebagai berikut: a. SURAT PRIBADI Yaitu surat yang dikirimkan seseoarang kepada orang lain atau suatu organisasi/instansi. Surat lamaran termasuk surat pribadi. Surat pribadi adalah surat yang dibuat oleh seseorang yang isinya menyangkut kepentingan pribadi. Sedangkan yang termasuk surat pribadi adalah : surat keluarga, surat lamaran pekerjaan, surat perijinan. Surat Keluarga adalah surat yang dibuat seseorang yang isinya menyangkut kepentingan pribadi atau keluarga. Surat keluarga biasanya dibuat oleh anak kepada orangtuanya karena dalam perantauan (misalnya kuliah atau bekerja di tempat yang jauh), bisa juga surat dari saudara yang satu dengan yang lain dan berlainan tempat. Surat Lamaran Pekerjaan adalah surat yang dibuat seseorang ( pelamar ) yang ditujukan kepada kantor atau perusahaan tertentu guna mendapatkan pekerjaan sesuai dengan lowongan pekerjaan yang ditawarkan. Untuk membuat surat lamaran pekerjaan perlu memperhatikan tahap-tahapnya yaitu : sumber informasi, pedoman penulisan, lampiran yang diminta, proses pengajuan surat lamaran. Sumber Informasi; saat ini sangat banyak informasi lowongan pekerjaan yang dapat diperoleh dengan mudah dari berbagai sumber informasi tinggal bagaimana seorang pencari kerja dapat memanfaatkan berbagai sumber yang ada. Sumber informasi lowongan pekerjaan tersebut di antaranya dari : 1) Iklan Surat Kabar, Radio, Televisi atau Internet, 2) Pengumuman yang berasal dari kantor/perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja, 3) Pengumuman dari DEPNAKER, 4) Pegawai kantor atau perusahaan, dan sebagainya. Pedoman Penulisan Surat Lamaran; 1) Surat lamaran dapat ditulis tangan oleh pelamar dengan kertas folio bergaris tetapi tidak boleh pada halaman bolak221

balik atau diketik dengan kualitas kertas yang baik (HVS minimal 60 gram) dengan jarak baris 1,5 spasi. Pada bagian tanda tangan surat lamaran seringkali suatu kantor khususnya kantor pemerintah menghendaki perlunya dibubuhi materai. 2. Isi surat lamaran terdiri dari : tempat dan tanggal surat, alamat surat, perihal, salam pembuka, kalimat pembuka, data pribadi, data lampiran, kalimat penutup, kata penutup, tanda tangan dan nama jelas, materai jika diminta. Lampiran Surat Lamaran disesuaikan dengan permintaan dari sumber informasi dan penyusunannya diurutkan kecuali untuk pas foto dan foto copy bisa diletakkan di atas susunan lamaran, bisa juga pelamar menambahkan persyaratan lain yang sifatnya melengkapi syarat yang sudah ada agar lebih bisa menjadi bahan pertimbangan. Apabila sumber informasi lowongan kerja tidak mencantumkan/meminta syarat secara lengkap biasanya pelamar melengkapi surat lamarannya dengan melampirkan : Daftar Riwayat Hidup, Foto kopi Ijasah, Foto kopi KTP dan Pas foto Surat Perijinan adalah surat yang ditulis seseorang yang isinya menyangkut permohonan ijin kepada pihak tertentu untuk mendapatkan ijin yang dimaksudkan. Selain surat bersifat pribadi kepada instansi atau kantor tempat kerja seseorang, surat ijin juga diperlukan untuk mendapatkan ijin dari pihak pihak tertentu apabila seseorang atau sebuah keluarga ingin mengadakan suatu kegiatan atau keramaian di masyarakat hal ini dimaksudkan agar jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan pihak tersebut bisa ikut bertanggung jawab. Contoh : 1. Surat ijin untuk tidak masuk kerja / sekolah, 2. Surat ijin untuk mengadakan keramaian / hajatan kepada RT atau Lurah dan sebagainya. b. SURAT RESMI adalah surat yang disampaikan oleh suatu instansi/lembaga kepada seseorang atau lembaga/instansi lainnya. Surat resmi (surat dinas) terbagi atas beberapa bagian, yaitu: 1) Surat dinas pemerintah, yaitu surat resmi yang digunakan instansi pemerintah untuk kepentingan administrasi pemerintahan, 2) Surat niaga, yaitu surat resmi yang dipergunakan oleh perusahaan atau badan usaha, 3) Surat sosial, yaitu surat resmi yanng dipergunakan oleh organisasi kemasyarakatan yang bersifat nirlaba ( nonprofit). Bagian-bagian surat resmi: 1. Kepala/kop surat, terdiri dari Nama instansi/lembaga, ditulis dengan huruf kapital/huruf besar, Alamat instansi/lembaga, ditulis dengan variasi huruf besar dan kecil, Logo instansi/lembaga. 2. Nomor surat, yakni urutan surat yang dikirimkan 3. Lampiran, berisi lembaran lain yang disertakan selain surat 4. Hal, berupa garis besar isi surat 5. Tanggal surat (penulisan di sebelah kanan sejajar dengan nomor surat) 6. Alamat yang dituju (jangan gunakan kata kepada) 7. Pembuka/salam pembuka (diakhiri tanda koma) 8. Isi surat (Uraian isi berupa uraian hari, tanggal, waktu, tempat, dan sebagainya ditulis dengan huruf kecil, terkecuali penulisan berdasarkan ejaan yang disempurnakan (EYD) haruslah menyesuaikan). 9. Penutup surat 10. Penutup surat, berisi salam penutup, jabatan, tanda tangan, nama (biasanya disertai nomor induk pegawai atau NIP) 11. tembusan surat, berupa penyertaan/pemberitahuan kepada atasan tentang adanya suatu kegiatan. 222

c. MEMO Pesan singkat merupakan salah satu bentuk komunikasi tidak langsung yang disampaikan secara tertulis dengan bahasa yang singkat, padat, dan jelas tetapi tetap memperhatikan sopan santun. Pesan singkat bisa dalam bentuk memo atau SMS/e-mail. Isi pesan singkat dapat berupa: (1) penjelasan tentang sesuatu yang terjadi atau akan terjadi, (2) rencana pertemuan atau undangan untuk seseorang, (3) instruksi untuk melakukan sesuatu, (4) permintaan penjelasan tentang sesuatu, atau (5) permintaan maaf. Pesan singkat yang dikirim melalui tulisan di kertas ada yang bersifat formal/resmi dan nonformal/pribadi. Pesan singkat yang bersifat resmi/dinas sering disebut dengan memo (memorandum). Memo biasanya ditulis dan dikirim oleh atasan kepada bawahan.. Memo biasanya terdiri atas: 1) kepala memo, 2) identitas judul memo/tulisan memo, 3) penerima memo/alamat yang dituju, 4) pemberi/pengirim memo, 5) isi memo, 6) tanggal penulisan memo, 7) tanda tangan dan nama pengirim memo. Pesan singkat pribadi ditulis dan dikirim oleh individu kepada individu lain untuk kepentingan pribadi. Bahasa yang digunakan dalam mengirim pesan singkat pribadi sangat bergantung kepada siapa pesan tersebut kita kirim. Yang jelas pesan tersebut ditulis secara singkat, padat, jelas, dan santun. Khusus dalam penulisan pesan singkat melalui SMS sering kita gunakan singkatan kata untuk meminimalisir jumlah huruf yang digunakan. SMS pada era global ini merupakan bentuk pengiriman pesan yang lebih efektif. 2. Jenis Surat menurut isinya, surat dapat dikelompokkan sebagai berikut : surat pemberitahuan, surat keputusan, surat perintah, surat permintaan, surat panggilan, surat peringatan, surat perjanjian, surat laporan, surat pengantar, surat penawaran, surat pemesanan, surat undangan dan surat lamaran pekerjaan. 3. Jenis surat menurut sifatnya surat dapat diklasifikasikan sebagai berikut : a. surat biasa, artinya, isi surat dapat diketahui oleh oranng lain selain yang dituju, b. surat konfidensial ( terbatas), maksudnya, isi surat hanya boleh diketahui oleh kalangan tertentu yang terkait saja, c. surat rahasia, yaitu surat yang isinya hanya boleh diketahui orang yang dituju saja. 4. Jenis surat berdasarkan banyaknya sasaran surat dapat dikelompokkan menjadi surat biasa, surat edaran, dan surat pengumuman. 5. Jenis surat berdasarkan tingkat kepentingan penyelesainnya, surat terbagi atas surat biasa, surat kilat, dan surat kilat khusus. 6. Jenis surat berdasarkan wujudnya surat terbagi atas surat bersampul, kartu pos, warkat pos, telegram, teleks atau faksimile, serta memo dan nota. 7. Jenis surat berdasarkan ruang lingkup sasarannya surat terbagi atas surat intern dan surat ekstern. K. Slogan dan Poster Slogan adalah perkataan atau kalimat pendek yang menarik dan mudah diingat untuk memberitahukan atau menyampaikan sesuatu. 223

Slogan Bertujuan untuk menyampaikan suatu infirmasi dan memengaruhi pandangan serta pendapat orang terhadap informasi tersebut. Slogan memiliki ciri bahasa yang menarik,mudah dipahami, serta bersifat persuasif. isinya singkat dan jelas,kalimatnya pendek,menarik,dan mudah diingat,menjelaskan visi,misi,tujuan POSTER Poster adalah,plakat yg biasa ajakan,pengumuman,atau iklan. dipasang ditempat umum ,biasa'a berupa

Poster Bertujuan untuk menyampaikan suatu infirmasi dan memengaruhi pandangan serta pendapat orang terhadap informasi tersebut. Poster memiliki ciri bahasa yang menarik,mudah dipahami,singkat,jelas,efektif,mudah dimengerti,menarik perhatian pembaca selain itu jika diperlukan dapat ditambahkan gambar atau ilustrasi. Berdasarkan isinya,poster dibagi menjadi 1. Poster kegiatan : Bertujuan memberitahukan adanya suatu kegiatan mengajak pembaca mengikuti atau berpartisipasi dalam megaton tersebut. dan

2. Poster penerangan atau pendidikan : Bersifat mempengaruhi pembaca untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku tertentu. 3. Poster hiburan : Berisi pemberitahuan adanya sesuatu hal yang bersifat hiburan. 4. Poster niaga : Bersifat menarik pembaca untuk membeli atau menggunakan suatu barang atau jasa. Poster yang berisi penawaran sebuah produk atau jasa.Misalnya: poster rokok, poster sabun, poster sepatu, dan sebagainya. Perbedaan antara Slogan dan Poster Slogan lebih mengarah/menekankan pada kata-kata/kalimat,sedangkan Poster lebih menekankan informasinya dalam suatu gambar/ilustrasi. Slogan berisi mengenai tujuan ideologi suatu organisasi, golongan, dll, sedangkan Poster berisi mengenai himbauan, ajakan, upaya pendidikan, dan penyaluran aspirasi tertentu. L. RANGKUMAN Keterampilan Membaca-Menulis-Membaca merupakan keterampilan dasar. Ini berarti bahwa keterampilan tersebut perlu dimiliki setiap orang, tidak saja untuk meraih keberhasilan selama bersekolah melainkan juga sepanjang hayatnya. Jika membaca adalah proses membuka jendela dunia, melihat wawasan yang ada dan menjadikannya sebagai khazanah pribadi, maka menulis adalah proses menyajikan 224

kembali khazanah tersebut kepada masyarakat luas. Anda bisa menggabungkan sebuah khazanah dengan khazanah yang sudah dimiliki sebelumnya. Sangat sulit bagi seseorang untuk menulis sesuatu yang di luar dirinya. Dengan demikian membaca mau tidak mau adalah proses yang harus dijalani oleh orang yang berkeinginan untuk bisa menulis. Jika selama ini Anda kesulitan menulis dan selalu berhenti pada kalimat atau paragraf pertama, bisa jadi penyebabnya karena terlalu sedikit stok informasi yang Anda miliki sebelumnya. Anda harus menambah stok tersebut agar proses menulis menjadi lancar. Variasi Bahasa-Variasi Bahasa disebabkan oleh adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok yang sangat beragam dan dikarenakan oleh para penuturnya yang tidak homogen. Dalam hal variasi bahasa ini ada dua pandangan. Pertama, variasi itu dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial penutur bahasa itu dan keragaman fungsi bahasa itu. Jadi variasi bahasa itu terjadi sebagai akibat dari adanya keragaman sosial dan keragaman fungsi bahasa. Kedua, variasi bahasa itu sudah ada untuk memenuhi fungsinya sebagai alat interaksi dalam kegiatan masyarakat yang beraneka ragam. Kedua pandangan ini dapat saja diterima ataupun ditolak. Yang jelas, variasi bahasa itu dapat diklasifikasikan berdasarkan adanya keragaman sosial dan fungsi kegiatan didalam masyarakat sosial. Namun Halliday membedakan variasi bahasa berdasarkan pemakai (dialek) dan pemakaian (register). Berikut ini akan dibicarakan variasi-variasi bahasa tersebut, dimulai dari segi penutur ataupun dari segi penggunanya. 1. Variasi dari Segi Penutur, 2. Variasi dari Segi Pemakaian, 3. Variasi dari Segi Keformalan, dan 4. Variasi dari Segi Sarana. Mengubah Teks Wawancara menjadi Narasi- Teks wawancara merupakan bentuk penyajian informasi berupa tanya jawab antara pewawancara dan narasumber. Narasi merupakan bentuk karangan pengisahan suatu cerita atau kejadian. Anda akan berlatih mengubah teks wawancara menjadi teks narasi. Hal itu berarti teks yang berupa tanya jawab antara penanya dan narasumber diubah menjadi bentuk tulisan atau teks cerita Bagaimana cara mengubah teks wawancara menjadi bentuk naratif? Perlu dicermati lagi bahwa wawancara biasanya berupa kalimat langsung. Jika dinarasikan maka Anda harus mengubah kalimat tersebut menjadi kalimat tak langsung. Masih ingatkah kalian ciri-ciri kalimat langsung dan tak langsung? Menjelaskan Cara Membaca Tabel, Diagram, Grafik, dan Denah secara Benar. Informasi verbal adalah informasi yang disampaikan dengan kata-kata. Adapun informasi nonverbal adalah informasi yang disajikan dengan bentuk visual, seperti gambar, bagan, grafik, diagram, matriks, dan tabel. Paragraf, Syarat-syarat Paragraf, Jenis Paragraf, dan Penanda Hubungan antarparagraf-Paragraf adalah kesatuan pikiran yang mengungkapkan ide pokok yang berbentuk dalam rangkaian kalimat yang berkaitan dengan bentuk (kohesi) dan makna (koherensi). Paragraf adalah bagian karangan yang terdiri atas beberapa kalimat yang berkaitan secara utuh dan padu serta membentuk satu kesatuan pikiran. Dalam paragraf terdapat tiga persyaratan agar paragraf menjadi padu, yaitu kepaduan, kesatuan, dan kelengkapan. Penggunaan EYD-Bahasa menunjukkan bangsa, tiada bahasa hilanglah bangsa. Sebagai akibat perkembangan kehidupan masyarakat, Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0543a/U/1987, perlu disempurnakan kembali. Berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud, perlu menetapkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Maka lahirlah Permendiknas no. 46 Thun 2009 Tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, dalam permendiknas tersebut dipergunakan bagi 225

instansi pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.Dengan berlakunya Peraturan Menteri ini, Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0543a/U/1987 tentang Penyempurnaan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, dinyatakan tidak berlaku. Penulisan Karya Ilmiah, Penulisan Kutipan, dan Penulisan Daftar Pustaka, disajikan artikel ilmiah, artikel popular, cara memilih topik PTK, cara menyusun kutipan dan daftar pustaka. Surat Resmi dan Surat Tidak Resmi- Peserta dapat menjelaskan konsep surat resmi (dinas), komponen surat resmi, konsep surat tidak resmi (pribadi) dan komponen surat tidak resmi, dan menyusun bahasa surat yang baik dan benar. Slogan dan Poster-disajikan materi tentang slogan dan poster, perbedaan kedua media tersebut, menyusun slogan dan poster. M. Evaluasi 1. Jelaskan konsep-konsep dasar dalam keterampilan membaca dan menulis! 2. Jelaskan variasi bahasa untuk menunjang pembelajaran keterampilan berbahasa! 3. Jelaskan cara mengubah teks wawancara menjadi narasi! 4. Bacalah secara benar tabel, diagram, denah, dan grafik yang telah Anda siapkan! 5. Jelaskan konsep paragraf, syarat-syarat paragraf, jenis paragraf, dan penanda hubungan antarparagraf! 1. Buatlah sebuah paragraf naratif tentang PLPG! 2. Tentukan bentuk paragraf yang telah Anda susun! 3. Tentukan jenis paragraf yang telah Anda susun! 4. Tuliskan kembali ide pokok paragraf Anda tersebut! 5. Tuliskan kembali Kalimat utama paragraf Anda tersebut! 6. Tuliskan kembali kalimat-kalimat penjelas paragraf Anda tersebut! 6. Susunlah lima buah kalimat efektif! 7. Susunlah sebuah paragraph dengan menerapkan penggunaan EYD secara baik dan benar! 8. Susunlah sebuah artikel ilmiah dengan menerapkan cara penulisan kutipan dan penulisan Daftar Pustaka secara benar! 9. Menjelaskan konsep surat resmi (dinas), komponen surat resmi, konsep surat tidak resmi (pribadi) dan komponen surat tidak resmi, dan menyusun bahasa surat yang baik dan benar. a. Buatlah sebuah surat penawaran barang! b. Atas dasar surat yang telah Anda susun jawablah hal-hal berikut. 1) Tuliskan bagian-bagian suratnya! 2) Tuliskan kalimat pembuka suratnya! 3) Tuliskan salam penutupnya! 10.Buatlah sebuah slogan sekolah Anda. N. Kunci Jawab 1. Konsep-konsep dasar dalam keterampilan membaca dan menulis. Keterampilan Membaca-Menulis-Membaca merupakan keterampilan dasar. Ini berarti bahwa keterampilan tersebut perlu dimiliki setiap orang, tidak saja untuk meraih keberhasilan selama bersekolah melainkan juga sepanjang hayatnya. Jika membaca adalah proses membuka jendela dunia, melihat wawasan yang ada dan menjadikannya sebagai khazanah pribadi, maka

226

menulis adalah proses menyajikan kembali khazanah tersebut kepada masyarakat luas. Membaca mau tidak mau adalah proses yang harus dijalani oleh orang yang berkeinginan untuk bisa menulis. Jika selama ini Anda kesulitan menulis dan selalu berhenti pada kalimat atau paragraf pertama, bisa jadi penyebabnya karena terlalu sedikit stok informasi yang Anda miliki sebelumnya. Anda harus menambah stok tersebut agar proses menulis menjadi lancar. 2. Variasi bahasa untuk menunjang pembelajaran keterampilan berbahasa! Variasi Bahasa-Variasi Bahasa disebabkan oleh adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok yang sangat beragam dan dikarenakan oleh para penuturnya yang tidak homogen. Dalam hal variasi bahasa ini ada dua pandangan. Pertama, variasi itu dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial penutur bahasa itu dan keragaman fungsi bahasa itu. Jadi variasi bahasa itu terjadi sebagai akibat dari adanya keragaman sosial dan keragaman fungsi bahasa. Kedua, variasi bahasa itu sudah ada untuk memenuhi fungsinya sebagai alat interaksi dalam kegiatan masyarakat yang beraneka ragam. Kedua pandangan ini dapat saja diterima ataupun ditolak. Yang jelas, variasi bahasa itu dapat diklasifikasikan berdasarkan adanya keragaman sosial dan fungsi kegiatan didalam masyarakat sosial. Namun Halliday membedakan variasi bahasa berdasarkan pemakai (dialek) dan pemakaian (register). Berikut ini akan dibicarakan variasi-variasi bahasa tersebut, dimulai dari segi penutur ataupun dari segi penggunanya. 1. Variasi dari Segi Penutur, 2. Variasi dari Segi Pemakaian, 3. Variasi dari Segi Keformalan, dan 4. Variasi dari Segi Sarana. 3. Jelaskan cara mengubah teks wawancara menjadi narasi! Teks wawancara merupakan bentuk penyajian informasi berupa tanya jawab antara pewawancara dan narasumber. Untuk menceritakan atau menyampaikan kembali hasil wawancara kepada orang lain, teks wawancara perlu diubah dalam bentuk narasi. Narasi merupakan bentuk karangan pengisahan suatu cerita atau kejadian. Agar Anda dapat menarasikan teks wawancara dengan baik, lakukan langkah-langkah berikut. Bacalah teks wawancara dengan cermat, Catatlah pokok-pokok isi wawancara. Buatlah pengantar ke arah isi wawancara. Narasikan isi wawancara dengan mengembangkan pokok-pokok isi. Lengkapilah narasi dengan bagian penutup. 4. Jawaban kalimat bebas sesuai fakta tabel, diagram, denah, dan grafik yang telah siapkan peserta. 5. Jawaban kalimat bebas sesuai konteks paragraf yang disusun peserta! 6. Jawaban kalimat bebas asal sesuai syarat kalimat efektif. 7. Susunlah sebuah paragraph dengan menerapkan penggunaan EYD secara baik dan benar! 8. Jawaban kalimat bebas asal telah menerapkan cara penulisan kutipan dan penulisan Daftar Pustaka secara benar. 9. Jawaban kalimat bebas sesuai surat yang telah disusun peserta. 10. Jawaban kalimat bebas sesuai kondisi masing-masing peserta

DAFTAR PUSTAKA Alwasilah, A. Chaedar. 2000. Politik Bahasa dan Pendidikan. Cet. II. Bandung: Remaja Rosdakarya.

227

Alwi, Hasan dan Dery Sugono. 2002. Telaah Bahasa dan Sastra. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Alwi, Hasan. 1996. BIPA: Hari Ini dan Esok. Dalam Pengajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing. (Husen dkk. Penyunting). Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Arifin, Zaenal dan S. Amran Tasai. 2002. Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Akademika Pressindo. Azies, Furqanul dan Alwasilah, A. Chaedar. 1996. Pengajaran Bahasa Komunikatif Teori dan Praktek. Cet. I. Bandung: Remaja Rosdakarya. Semi, M. Atar. 1995. Dasar-Dasar Keterampilan Menulis. Bandung: Mugantara. Chaer, Abdul dkk. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta, 2004. Doyin, Moh. 2010. Artikel Ilmiah. Unnes Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Ibrahim, Syukur, dkk. Bahan Ajar Sintaksis Bahasa Indonesia. Departemen Pendidikan Nasional Universitas Negeri Malang. Ramlan, M. 2001. Ilmu Bahasa Indonesia Sintaksis. Yogyakarta: C.V. Karyono. Rusnaji, Oscar. Aspek-aspek Linguistik. IKIP Malang. Rusnaji, Oscar. 1983. Aspek-aspek Sintaksis Bahasa Indonesia. IKIP Malang. Samsuri. 1985. Tata Bahasa Indonesia Sintaksis. Jakarta: Sastra Budaya. Sugono, Dendy. 1986. Berbahasa Indonesia dengan Benar. Jakarta: C.V. Kilat Grafika. Tarigan, Henry Guntur. 1994. Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa. Verhaar. 2004. Asas-asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada university Press. Wirjosoedjarmo. 1984. Tata Bahasa Indonesia. Surabaya: Sinar Wijaya

228

229

BAB VII MEDIA DAN MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF


A. TUJUAN Peserta memahami berbagai media dan model pembelajaran inovatif berbasis IT. B. MATERI Upaya pemerintah untuk mereformasi sistem pembelajaran di sekolah tampaknya telah mendapat respons positif pada sebagian akademisi maupun praktisi. Hal ini bisa dilihat dengan adanya kecenderungan dari sebagian guru berupaya menerapkan berbagai model pembelajaran yang mutakhir atau kita sebut saja model pembelajaran inovatif di sekolahnya masing-masing, dengan meninggalkan modelmodel pembelajaran konvensional. Tentunya dengan harapan dapat memberikan efektivitas yang tinggi terhadap proses dan pencapaian hasil belajar siswa. Demikian juga, di kalangan mahasiswa, khususnya yang menggeluti bidang pendidikan, belakangan ini mulai muncul kegairahan mengkaji dan meneliti tentang sejauhmana efektivitas penggunaan model-model pembelajaran inovatif. Hanya sangat disayangkan, kegairahan untuk menerapkan dan meneliti modelmodel pembelajaran mutakhir ini tampaknya belum diikuti oleh ketersediaan buku-buku yang mengupas secara lengkap dan tuntas dari masing-masing model pembelajaran inovatif tersebut. Memang, di toko-toko buku tertentu kita bisa mendapatkan beberapa buku yang membahas tentang model-model pembelajaran inovatif, tetapi isinya cenderung hanya sebagian kecil saja dari model-model pembelajaran inovatif yang sedang dikembangkan saat ini. Sebagaimana dimaklumi, saat ini kita ditawari dengan aneka model pembelajaran inovatif yang jumlahnya sangat banyak untuk dapat dipraktikkan oleh para guru di lapangan. Bagi para guru, informasi tentang model-model pembelajaran inovatif ini pada umumnya diperoleh melalui berbagai pelatihan yang diikutinya, yang tentunya hanya bersifat garis besarnya saja, tidak dalam bentuk kajian yang mendalam. Manakala mereka harus melakukan Penelitian Tindakan Kelas, yang didalamnya disyaratkan adanya kerangka teori yang melandasinya, mereka mengalami kesulitan untuk mengelaborasi teori tersebut, karena memang kurang tersedia buku yang mendukungnya. Kesulitan mengelaborasi teori yang melandasi model-model pembelajaran ini juga tampaknya banyak dialami oleh para mahasiswa yang hendak meneliti tingkat efektivitas penggunaan model pembelajaran inovatif tertentu, khususnya ketika mereka sedang menyelesaikan karya tulis dalam rangka penyelesaian studinya. Mereka pada umumnya memperoleh informasi tentang model-model pembelajaran ini dengan mengandalkan dari internet, yang juga cenderung bersifat elementer dan parsial. Sebuah paradigma yang mapan yang berlaku dalam sebuah sistem boleh jadi mengalami malfungsi apabila paradigma tersebut masih diterapkan pada sistem yang telah mengalami perubahan. Paradigma yang mengalami anomali tersebut cenderung menimbulkan krisis. Krisis tersebut akan menuntut terjadinya revoluasi ilmiah yang melahirkan paradigma baru dalam rangka mengatasi krisis yang terjadi (Kuhn, 2002). Paradigma konstruktivistik tentang pembelajaran merupakan paradigma alternatif yang muncul sebagai akibat terjadinya revolusi ilmiah dari sistem pembelajaran yang cenderung berlaku pada abad industri ke sistem pembelajaran yang semestinya berlaku pada abad pengetahuan sekarang ini. Menurut paradigma konstruktivistik, ilmu pengetahuan bersifat sementara terkait dengan perkembangan yang dimediasi baik secara sosial maupun kultural, sehingga cenderung bersifat subyektif. Belajar menurut

230

pandangan ini lebih sebagai proses regulasi diri dalam menyelesikan konflik kognitif yang sering muncul melalui pengalaman konkrit, wacana kolaboratif, dan interpretasi. Belajar adalah kegiatan aktif siswa untuk membangun pengetahuannya. Siswa sendiri yang bertanggung jawab atas peistiwa belajar dan hasil belajarnya. Siswa sendiri yang melakukan penalaran melalui seleksi dan organisasi pengalaman serta mengintegrasikannya dengan apa yang telah diketahui. Belajar merupakan proses negosiasi makna berdasarkan pengertian yang dibangun secara personal. Belajar bermakna terjadi melalui refleksi, resolusi konflik kognitif, dialog, penelitian, pengujian hipotesis, pengambilan keputusan, yang semuanya ditujukan untuk memperbaharui tingkat pemikiran individu sehingga menjadi semakin sempurna. Paradigma konstruktivistik merupakan basis reformasi pendidikan saat ini. Menurut paradigma konstruktivistik, pembelajaran lebih mengutamakan penyelesaian masalah, mengembangkan konsep, konstruksi solusi dan algoritma ketimbang menghafal prosedur dan menggunakannya untuk memperoleh satu jawaban benar. Pembelajaran lebih dicirikan oleh aktivitas eksperimentasi, pertanyaan-pertanyaan, investigasi, hipotesis, dan model-model yang dibangkitkan oleh siswa sendiri. Secara umum, terdapat lima prinsip dasar yang melandasi kelas konstruktivistik, yaitu (1) meletakkan permasalahan yang relevan dengan kebutuhan siswa, (2) menyusun pembelajaran di sekitar konsep-konsep utama, (3) menghargai pandangan siswa, (4) materi pembelajaran menyesuaikan terhadap kebutuhan siswa, (5) menilai pembelajaran secara kontekstual. Hal yang lebih penting, bagaimana guru mendorong dan menerima otonomi siswa, investigasi bertolak dari data mentah dan sumbersumber primer (bukan hanya buku teks), menghargai pikiran siswa, dialog, pencarian, dan teka-teki sebagai pengarah pembelajaran. Secara tradisional, pembelajaran telah dianggap sebagai bagian menirukansuatu proses yang melibatkan pengulangan siswa, atau meniru-niru informasi yang baru disajikan dalam laporan atau quis dan tes. Menurut paradigma konstruktivistik, pembelajaran lebih diutamakan untuk membantu siswa dalam menginternalisasi, membentuk kembali, atau mentransformasi informasi baru. Untuk menginternalisasi serta dapat menerapkan pembelajaran menurut paradigma konstruktivistik, terlebih dulu guru diharapkan dapat merubah pikiran sesuai dengan pandangan konstruktivistik. Guru konstruktivistik memiliki ciri-ciri sebagai berikut. 1. Menghargai otonomi dan inisiatif siswa. 2. Menggunakan data primer dan bahan manipulatif dengan penekanan pada keterampilan berpikir kritis. 3. Mengutamakan kinerja siswa berupa mengklasifikasi, mengananalisis, memprediksi, dan mengkreasi dalam mengerjakan tugas. 4. Menyertakan respon siswa dalam pembelajaran dan mengubah model atau strategi pembelajaran sesuai dengan karakteristik materi pelajaran. 5. Menggali pemahaman siswa tentang konsep-konsep yang akan dibelajarkan sebelum sharing pemahamannya tentang konsep-konsep tersebut. 1. MEDIA PEMBELAJARAN INOVATIF Apapun yang berhubungan dengan kata inovatif tampaknya sangat menarik untuk di ketahui, termasuk dalam dunia pendidikan. Dunia pendidikan adalah dunia belajar dan pembelajaran. Lalu bagaimana dengan pembelajaran inovatif sendiri? Apa arti pembelajaran inovatif? Kita sangat sering mendengar kata inovatif dan di manamana kata yang berembel embel inovatif sangat menarik untuk dipelajari dan dipraktikkan di kelas. Inovatif adalah kata sifat dari inovasi. Inovatif artinya pembaharuan. Sedangkan pembelajaran bisa memiliki arti belajar atau pembelajaran. Dengan demikian Pembelajarann inovatif adalah Model Pembelajaran yang dikemas oleh pe-belajar karena adanya dorongan dari sebuah gagasan yang baru. Pembelajaran inovatif merupakan langkah-langkah dalam belajar, yang nantinya akan memperoleh kemajuan dari hasil belajar.

231

Pembelajaran inovatif dari pendidik atau guru juga mempunyai arti pembelajaran yang sudah dikemas oleh seorang guru atau instruktur dan merupakan bagian dari wujud gagasan atau teknik yang dipandang masih baru sehingga mampu memfasilitasi murid agar memperoleh kemajuan dalam proses serta hasil belajar. Sedangkan jika di tinjau berdasarkan definisi harfiahnya mengenai model pembelajaran inovatif tersebut, di dalamnya mengandung makna dan arti pembaharuan. Kata media berasal dari bahasa latin yaitu jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan (Sadiman, 2002: 6). Secara umum media pembelajaran dalam pendidikan disebut media, yaitu berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk berpikir, menurut Gagne (dalam Sadiman, 2002: 6). Sedangkan menurut Brigs (dalam Sadiman, 2002: 6) media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. (http://ksupointer.com) Jadi, media merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim dan penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, minat dan perhatian sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi (Sadiman, 2002: 6). Menurut Latuheru (dalam Hamdani, 2005: menyatakan bahwa media pembelajaran adalah bahan, alat atau teknik yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar proses interaksi komunikasi edukasi antara guru dan siswa dapat berlangsung secara tepat guna dan berdayaguna. Berdasarkan pengertian-pengertian yang telah diberikan, maka media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran agar dapat merangsang pikiran, perasaan, minat dan perhatian siswa sehingga proses interaksi komunikasi edukasi antara guru (atau pembuat media) dan siswa dapat berlangsung secara tepat guna dan berdayaguna. Dalam sebuah proses Kegiatan Belajar Mengajar, media pembelajaran memegang peran yang sangat penting. Media belajar sangat membantu mengurangi keabstrakan dari sebuah konsep materi yang sedang diajarkan, mengantarkan anak didik pada pengalaman belajar yang bermakna, mengaktifkan dan menyenangkan. Sehubungan dengan perkembangan IT, media pembelajaranpun diharapkan berkembang secara signifikan sehingga penanaman konsep dan pemahaman konsep sebagai tujuan pembelajaran dapat tercapai. Pemanfaatan beberapa software untuk pembuatan media pembelajaran bisa menjadi alternatif yang inovatif. Lewat eksplorasi fitur-fitur yang ditawarkan Power Point, Swish maupun macromedia ide-ide kreatif bisa tersalurkan. Di era informatika seperti saat ini, guru harus selalu mengikuti perkembangan yang ada, termasuk dalam hal Teknologi Informatika (IT). Karena hal ini sesuatu yang tidak bisa dihindari. Dunia semakin berkembang dengan pesatnya, namun kita masih saja berpegang pada pakem lama. Termasuk diantaranya dalam hal pembelajaran. Pembelajaran yang cenderung monoton dan membosankan akan menjadikan proses belajar mengajar juga stagnan. Hal ini lebih dikarenakan guru maupun siswa tida ada kecocokan dari awal pelajaran. Guru dalam menyajikan materi biasa-biasa saja, tanpa adanya variasi, cenderung text book. Sementara kondisi perubahan di luar sudah sangat maju, berbagai media dalam dunia maya memberikan berbagai alternatif yang mampu mengakomodasi semua fungsi dai proses pembelajaran. Seperti friendster, facebook, blog, e-mail, dan lain sebagainya. Dalam proses pembelajaran yang paling relevan digunakan adalah media blog, di dalamnya mampu memuat materi dalam bentuk Ms Word, Ms PPT, gambar, video, dan lain sebagainya sesuai keinginan guru. Media merupakan sesuatu yang menghubungkan; dalam hal ini adalah menghubungkan apa yang dikehendaki guru terhadap siswa, begitu pula sebaliknya, apa yang diinginkan siswa dari guru. Selama ini terjadi gap yang lebar, dimana siswa 232

malu atau takut untuk menyampaikan keluhan dalam proses belajar mengajar kepada guru sehingga tidak ada feedback kepada guru. Guru menganggap proses belajar mengajarnya sudah baik karena tidak pernah ada komplain. Maka media blog di sini menjadi sebuah jembatan penghubung antara guru dan siswa dengan memanfaatkan kemajuan teknologi (IT). Era maju menuntut seseorang untuk selalu mengembangkan potensi dan kemampuan softskills maupun hardskills-nya. Blog merupakan salah satu bentuk atau model dalam internet disamping fungsi yang sudah umum, seperti e-mail, friendster, facebook, mailing. Dalam blog fungsi media pembelajaran dapat tercover secara keseluruhan. Di dalamnya memuat fungsi media visual, audio, maupun media audiovisual. Dalam blog kita bisa mengupload segala bentuk tulisan, baik dalam format Ms Word, Ms Office PPT, PDF Converter. Memuat bentuk gambar dalam format JPEG, JPE, PNG, Photoshop, Corel, dll. Mamou juga memuat audio-visual dalam bentuk video dalam bentuk MPEGAV, MPG, MP3, dll. Blog adalah kependekan dari weblog, istilah yang pertama kali digunakan oleh John Barger pada bulam Desember 1997. John Barger menggunakan istilah weblog untuk menyebut kelompok website pribadi yang selalu update secara kontinyu dan berisi link-link ke website lain yang mereka anggap menarik disertai dengan komentarkomentar mereka sendiri. Secara garis besar, weblog dapat dirangkum sebagai kumpulan website pribadi yang memungkinkan para pembuatnya menampilkan berbagai jenis isi pada web dengan mudah, seperti karya tulis, kumpulan link internet, dokumen-dokumen ( file-file word, PDF, dll), gambar ataupun multimedia. Para pembuat blog dinamakan blogger. Melalui blognya, kepribadian blogger menjadi mudah dikenali berdasarkan topik apa yang disukai, apa tanggapan terhadap link-link yang dipilih dan isu-isu di dalamnya. Oleh karena itu blog bersifat sangat personal. Perkembangan lain dari blog yaitu ketika blog memuat tulisan tentang apa yang seorang blogger pikirkan, rasakan, hingga apa yang dia lakukan sehari-hari. Blog kemudian juga menjadi Diary Online yang berada di internet. Satu-satunya hal yang membedakan blog dari diary atau jurnal yang biasa kita miliki adalah bahwa blog dibuat untuk dibaca orang lain. Kita tidak perlu menjadi programmer untuk menjadi seorang blogger, karena kita dapat menampilkan seluruh isi dalam web dengan mudah melalui menu editor yang telah disediakan. Keuntungan dari penggunaan weblog antara lain : 1. Melalui weblog, kita dapat memperluas hubungan teman/kenalan hingga dapat membentuk suatu komunitas yang besar. 2. Weblog melebihi surat elektronik (e-mail), karena satu posting blog yang kita bahas, daat dibaca oleh pengunjung blog yang tak terbatas. Beda dengan e-mail yang hanya bisa dibaca oleh orang yang kita kirimi. Selain itu, pengunjung blog juga dengan cepat dapat memberikan respon terhadap posting blog melalui komentar yang dapat langsung dituliskan di blog tersebut. 2. MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF Model Pembelajaran diartikan sebagai prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Dapat juga diartikan suatu pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Jadi, sebenarnya model pembelajaran memiliki arti yang sama dengan pendekatan, strategi atau metode pembelajaran. Saat ini telah banyak dikembangkan berbagai macam model pembelajaran, dari yang sederhana sampai model yang agak kompleks dan rumit karena memerlukan banyak alat bantu dalam penerapannya.

233

Ciri-ciri Model Pembelajaran Ada beberapa ciri-ciri model pembelajaran secara khusus diantaranya adalah : 1. Rasional teoritik yang logis yangdisusun oleh para pencipta atau pengembangnya. 2. Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar. 3. Tingkah laku mengajar yang diperlukanagar model tersebut dapat dilaksanakandengan berhasil. 4. Lingkungan belajar yang duperlukanagar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Sedangkan model pembelajaran menurut Kardi dan Nur ada lima model pemblajaran yang dapat digunakan dalam mengelola pembelajaran, yaitu: pembelajaran langsung; pembelajaran kooperatif; pembelajaran berdasarkan masalah; diskusi; dan learning strategi. Memilih Model Pembelajaran Yang Baik Sebagai seorang guru harus mampu memilih model pembelajaran yang tepat bagi peserta didik. Karena itu dalam memilih model pembelajaran, guru harus memperhatikan keadaan atau kondisi siswa, bahan pelajaran serta sumber-sumber belajar yang ada agar penggunaan model pembelajara dapat diterapkan secara efektif dan menunjang keberhasilan belajar siswa. Seorang guru diharapkan memiliki motivasi dan semangat pembaharuan dalam proses pembelajaran yang dijalaninya. Menurut Sardiman A. M. (2004 : 165), guru yang kompeten adalah guru yang mampu mengelola program belajar-mengajar. Mengelola di sini memiliki arti yang luas yang menyangkut bagaimana seorang guru mampu menguasai keterampilan dasar mengajar, seperti membuka dan menutup pelajaran, menjelaskan, menvariasi media, bertanya, memberi penguatan, dan sebagainya, juga bagaimana guru menerapkan strategi, teori belajar dan pembelajaran, dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif. Pendapat serupa dikemukakan oleh Colin Marsh (1996 : 10) yang menyatakan bahwa guru harus memiliki kompetensi mengajar, memotivasi peserta didik, membuat model instruksional, mengelola kelas, berkomunikasi, merencanakan pembelajaran, dan mengevaluasi. Semua kompetensi tersebut mendukung keberhasilan guru dalam mengajar. Setiap guru harus memiliki kompetensi adaptif terhadap setiap perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan di bidang pendidikan, baik yang menyangkut perbaikan kualitas pembelajaran maupun segala hal yang berkaitan dengan peningkatan prestasi belajar peserta didiknya. Read more: MODEL PEMBELAJARAN >> Pengertian Model Pembelajaran | belajarpsikologi.com Berikut disajikan beberapa model pembelajaran inovatif. A. Model Examples Non Examples Contoh dapat dari Kasus/Gambar yang Relevan dengan Kompetensi Dasar Langkah-langkah : 1. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran 2. Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP/In Focus 3. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memperhatikan/menganalisa gambar 4. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas 5. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya 234

6. Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai 7. Kesimpulan B. Picture And Picture Langkah-langkah : 1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai 2. Menyajikan materi sebagai pengantar 3. Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi 4. Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis 5. Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut 6. Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai 7. Kesimpulan/rangkuman C.Numbered Heads Together Langkah-langkah : 1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor 2. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya 3. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya 4. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka 5. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain 6. Kesimpulan D. Cooperative Script Metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan, bagian-bagian dari materi yang dipelajari Langkah-langkah : 1. Guru membagi siswa untuk berpasangan 2. Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan 3. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar 4. Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar : (a) Menyimak/mengoreksi/menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap; (b) Membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya 5. Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. Serta lakukan seperti diatas. 6. Kesimpulan Siswa bersama-sama dengan guru 7. Penutup E. Kepala Bernomor Struktur Langkah-langkah : 1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor 235

2. Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomorkan terhadap tugas yang berangkai. Misalnya : siswa nomor satu bertugas mencatat soal. Siswa nomor dua mengerjakan soal dan siswa nomor tiga melaporkan hasil pekerjaan dan seterusnya 3. Jika perlu, guru bisa menyuruh kerja sama antar kelompok. Siswa disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa bernomor sama dari kelompok lain. Dalam kesempatan ini siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja sama mereka 4. Laporkan hasil dan tanggapan dari kelompok yang lain 5. Kesimpulan F. Student Teams-Achievement Divisions (Stad)/Tim Siswa Kelompok Prestasi (Slavin, 1995) Langkah-langkah : 1. Membentuk kelompok yang anggotanya = 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll) 2. Guru menyajikan pelajaran 3. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggotanya tahu menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti. 4. Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu 5. Memberi evaluasi 6. Kesimpulan G. Jigsaw (Model Tim Ahli)/(Aronson, Blaney, Stephen, Sikes, And Snapp, 1978) Langkah-langkah : 1. Siswa dikelompokkan ke dalam 4 anggota tim 2. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda 3. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan 4. Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka 5. Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh 6. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi 7. Guru memberi evaluasi 8. Penutup H.Problem Based Introductuon (PBI)/(Pembelajaran Berdasarkan Masalah) Langkah-langkah : 1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih. 2. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.) 3. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah. 4. Guru membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya

236

5. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan I.Artikulasi Langkah-langkah : 1. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai 2. Guru menyajikan materi sebagaimana biasa 3. Untuk mengetahui daya serap siswa, bentuklah kelompok berpasangan dua orang 4. Suruhlan seorang dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya 5. Suruh siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya. Sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya 6. Guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dipahami siswa 7. Kesimpulan/penutup J.Mind Mapping Sangat baik digunakan untuk pengetahuan awal siswa atau untuk menemukan alternatif jawaban Langkah-langkah : 1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai 2. Guru mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi oleh siswa/sebaiknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban 3. Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang 4. Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasil diskusi 5. Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya dan guru mencatat di papan dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru 6. Dari data-data di papan siswa diminta membuat kesimpulan atau guru memberi bandingan sesuai konsep yang disediakan guru K. Make A Match (Mencari Pasangan) (Lorna Curran, 1994) Langkah-langkah : 1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban 2. Setiap siswa mendapat satu buah kartu 3. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang 4. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban) 5. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin 6. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya 7. Demikian seterusnya 8. Kesimpulan/penutup L.Think Pair And Share (Frank Lyman, 1985) Langkah-langkah : 1. Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai

237

2. Siswa diminta untuk berfikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru 3. Siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing 4. Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya 5. Berawal dari kegiatan tersebutmengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diuangkapkan para siswa 6. Guru memberi kesimpulan 7. Penutup M.Debat Langkah-langkah : 1. Guru membagi 2 kelompok peserta debat yang satu pro dan yg lainnya kontra 2. Guru memberikan tugas untuk membaca materiyang akan didebatkan oleh kedua kelompok diatas 3. Setelah selesai membaca materi. Guru menunjuk salah satu anggotanya kelompok pro untuk berbicara saat itu ditanggapi atau dibalas oleh kelompok kontra demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa bisa mengemukakan pendapatnya. 4. Sementara siswa menyampaikan gagasannya guru menulis guru menulis inti/ide-ide dari setiap pembicaraan di papan tulis. Sampai sejumlah ide yang diharapkan guru terpenuhi 5. Guru menambahkan konsep/ide yang belum terungkap 6. Dari data-data di papan tersebut, guru mengajak siswa membuat kesimpulan/rangkuman yang mengacu pada topik yang ingin dicapai. 3. ANEKA METODE PEMBELAJARAN INOVATIF LAINNYA METODE QUANTUM Tokohnya : Bobby DePorter Metode ini mengutamakan percepatan belajar dengan cara partisipatori peserta didik dalam melihat potensi diri dalam kondisi penguasaan diri. Quantum Learning mengutamakan Konteks dan Isi. Konteks : 1. Suasana yang memberdayakan, 2. Landasan yang kukuh, 3. Lingkungan yang mendukung, dan rancangan belajar yang dinamis. Isi : 1. Penyajian yang prima, 2. Fasilitas yang luwes, 3. Keterampilan belajar untuk belajar, dan keterampilan hidup. Prinsip Quantum Learning : 1. Segalanya berbicara, 2. Segalanya bertujuan, 3. Pengalaman sebelum pemberian nama, 4. Akui setiap usaha, 5. Jika layak dipelajari, layak pula dirayakan. 238

Urutan Pembelajaran Quantum Learning : 1. T : Tumbuhkan 2. A : Alami 3. N : Namai 4. D : Demonstrasikan 5. U : Ulangi 6. R : Rayakan Contoh : 1) Teknik Peta Pikiran 2) Teknik Pohon Konsep METODE PARTISIPATORI Metode ini menekankan keterlibatan siswa secara penuh, sedangkan guru hanya sebagai pemandu atau fasilitator. Berkaitan dengan penyikapan guru terhadap siswa, metode ini beranggapan bahwa : 1. semua siswa adalah unik; 2. anak bukan orang dewasa dalam bentuk kecil; 3. dunia anak adalah dunia bermain; 4. usia anak adalah usia yang paling kreatif dalam hidup manusia. Ciri-cirinya : 1) belajar dari realitas atau pengalaman, 2) tidak menggurui, dan 3) dialogis. Rincian proses dan tahapannya : Metode Pertama : 1) Rangkai-Ulang 2) Ungkapan 3) Kaji-Urai 4) Kesimpulan 5) Tindakan Metode Kedua : 1) Persepsi 2) Identifikasi diri 3) Aplikasi diri 4) Penguatan diri 5) Pengukuhan diri 6) Refleksi diri METODE KOLABURATIF Metode ini menekankan pada pembangunan makna oleh siswa dari proses sosial yang bertumpu pada konteks belajar. Metode kolaburatif didasarkan pada asumsi-asumsi berikut (Smith & MacGregor, 1992): 1. Belajar itu aktif dan konstruktif 2. Belajar itu bergantung konteks. 3. Siswa itu beraneka latar belakang. 4. Belajar itu bersifat sosial. 239

Nilai-nilai pendidikan (Pedagogical Values) yang menjadi penekanan dalam pembelajaran kolaburatif (Nelson, 1999) : 1) Memaksimalkan proses kerjasama yang berlangsung secara alamiah diantara para siswa. 2) Menciptakan lingkungan pembelajaran yang berpusat pada siswa, kontekstual, terintegrasi, dan bersuasana kerjasama. 3) Mengahargai pentingnya keaslian, kontribusi, dan pengalaman siswa dalam kaitannya dengan bahan pelajaran dan proses belajar. 4) Memberi kesempatan kepada siswa menjadi partisipan aktif dalam proses belajar. 5) Mengembangkan berfikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah. 6) Mendorong eksplorasi bahan pelajaran yang melibatkan bermacam-macam sudut pandang. 7) Menghargai pentingnya konteks sosial bagi proses belajar. 8) Menumbuhkan hubungan yang saling mendukung dan saling menghargai di antara para siswa, dan diantara siswa dengan guru. 9) Membangun semangat belajar sepanjang hayat. Ciri-ciri pembelajaran Kolaburatif (Nelson, 1999) : 1) Melibatkan siswa dalam ajang pertukaran gagasan dan informasi. 2) Memungkinkan siswa mengeksplorasi gagasan dan mencobakan berbagai pendekatan dalam pengerjaan tugas. 3) Menata ulang kurikulum, menyesuaikan keadaan sekitar dan suasana kelas, mendukung kerja kelompok. 4) Menyediakan cukup waktu, ruang, dan sumber untuk melaksanakan kegiatankegiatan belajar bersama. 5) Menyediakan sebanyak mungkin proses belajar yang bertolak dari kegiatan pemecahan masalah atau penyelesaian proyek. Langkah-langkah pembelajarannya : 1) Para siswa menetapkan tujuan belajar dan membagi tugas sendiri-sendiri. 2) Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, dan menulis. 3) Kelompok kolaburatif bekerja secara bersinergi mengidentifikasi, mendemonstrasi, meneliti, menganalisis, dan memformulasikan jawaban-jawaban tugas atau masalah dalam LKS atau masalah yang ditemukan sendiri. 4) Setelah kelompok kolaburattif menyepakati hasil pemecahan masalah, masingmasing siswa menulis laporan sendiri-sendiri secara lengkap. 5) Guru menunjuk salah satu kelompok secara acak untuk melakukan presentasi hasil diskusi kelompok kolaburaitfnya di depan kelas, siswa apda kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan ahsil presentasi tersebut, dan menanggapi. 6) Setiap siswa dalam kelompok kolaburatif melakukan elaborasi, inferensi, dan revisi terhadap laporan yang akan dikumpulkan. 7) Laporan masing-masing siswa terhadap tugas-tugas yang telah dikumpulkan, disusun per kelompok kolaburasi. 8) Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dikembalikan pada pertemuan berikutnya, dan didiskusikan. METODE KOOPERATIF Metode ini menekankan belajar dalam kelompok yang heterogen saling membantu satu sama lain, bekerjasama menyelesaikan masalah, dan menyatukan pendapat untuk memperoleh keberhasilan yang optimal baik kelompok maupun individual.

240

Langkah-langkahnya : a) Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa. b) Menyajikan informasi. c) Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar. d) Membimbing kelompok belajar dan bekerja. e) Evaluasi. f) Memberikan penghargaan. Tipe-tipe pembelajaran Kooperatif : 1. STAD (Student Teams Achievement Division) 2. NHT (Numbered Head Together) 3. Jigsaw 4. TPS (Think Pairs Share) 5. TGT (Teams Games Tournament) 6. GI (Group Investigation) 7. CTL (Contextual Teaching and Learning) 8. TAI (Team Assisted Individualy) 9. PBI (Problem Based Instruction) 10. RME/PMR (Realistic Mathematics Education/Pembelajaran Matematika Realistik) 11. Problem Posing 12. Open Ended (problem terbuka) 13. Probing-Prompting 14. Cycle Learning 15. Reciprocal Teaching 16. SAVI (Somatic Auditory Visualization Intellectualy) 17. VAK (Visualization Auditor Kinestetic) 18. AIR (Auditory Intellectualy Repetition) 19. MEA (Means-Ends Analysis) 20. CPS (Creative Problem Solving) 21. TTW (Think Talk Write) 22. TS-TS (Two Stay-Two Stray) 23. CORE (Connecting Organizing Reflecting Extending) 24. SQ3R (Survey Question Read Recite Review) 25. SQ4R (Survey Question Read Reflect Recite Review) 26. MID (Meaningful Instructionnal Design) 27. CRI (Certainly of Response Index) 28. DLPS (Double Loop Problem Solving) 29. CIRC (Cooperative Integrated Reading and Compotition) 30. IOC (Inside Outside Circle) 31. DMR (Diskusus Multy Reprecentacy) 32. KUASAI 33. Tari Bambu 34. Artikulasi 35. Debat 36. Role Playing 37. Talking Stick 38. SFE (Student Facilitator and Explaining) 39. Course Review Horay 40. Demonstration 41. Explicit Instruction 42. Scramble 43. Pair Checks 44. Make-a Match 241

45. Mind Mapping 46. Examples Non Examples 47. DI (Direct Instruction) 48. Picture and Picture 49. Cooperative Script 50. Laps-heuristik 51. Improve 52. Circuit Learning 53. Complete Sentence 54. Concept Sentence 55. Kumon 56. Time Token 57. Take and Give 58. Superitem 59. Hibrid 60. Trefinger 61. Induktif 62. Deduktif 63. Interaktif 64. Integratif 65. Generatif 66. SETS (Science Environment Technology & Society) 67. Tematik 68. Fragmented (Terpisah-pisah) 69. Conectec (Menghubungkan) 70. Nested (Bersarang) 71. Sequenced (Urutan) 72. Shared (bagi Bersama) 73. Webbed (Jaring) 74. Threaded (Urutan) 75. Integrated (Mengintegrasikan) 76. Immersed (Membenamkan) 77. Networked (jaringan Kerja) 78. Grammar (Tatabahasa) 79. Read (Membaca) 80. Audiolingual 81. Reseptif 82. Produktif 83. Komunikatif 84. Mind Mapping (Peta Pikiran) 85. Game (Permainan) 86. Nature Learning (Pembelajaran alam) 87. Doll Speak (boneka Berbicara) 88. Learning Together( Belajar Bersama) 89. Deep dialogue 90. PBL (Project Based Learning) 91. Active Learning (Pembelajaran Aktif) 92. Reflective learning (Pembelajaran Reflektif) 93. Aktif Reflektif 94. Inul Dance (Goyang Inul) 95. Concept song (Lagu Konsep) 96. BCCT (Beyond Center and Circle Time)

242

MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF


1. Model Examples Non Examples 2. Picture And Picture 3. Numbered Heads Together 4. Cooperative Script 5. Kepala Bernomer Struktur 6. STAD (Student Teams-Achievement Divisions/Tim Siswa Kelompok Prestasi) 7. Jigsaw 8. PBI (Problem Based Introduction/Pembelajaran Berdasarkan Masalah) 9. Artikulasi 10. Mind Mapping 11. Make A Match (Mencari Pasangan) 12. Think Pair And Share 13. Debat 14. Role Playing 15. Group Investigation 16. Talking Stick 17. Bertukar Pasangan 18. Snowball Throwing 19. Facilitator And Explaining 20. Course Review Horay 21. Demonstration 22. Explicit Intruction (Pengajaran Langsung) 23. CIRC (Cooperative Integrated Reading And Composition/Kooperatif Terpadi

Membaca dan Menulis) 24. Inside-Outside-Circle (LingKARAN Kecil-Lingkaran Besar) 25. Tebak Kata 26. Word Square C. LATIHAN-LATIHAN Buatlah satu buah media pembelajaran yang disesuaikan dengan RPP yang telah Anda susun. Buatlah satu model pembelajaran inovatif yang paling Anda kuasai. D. RANGKUMAN MEDIA PEMBELAJARAN INOVATIF Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Secara umum media pembelajaran dalam pendidikan disebut media, yaitu berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk berpikir, menurut Gagne (dalam Sadiman, 2006: 6). Sedangkan menurut Brigs (dalam Sadiman, 2006: 6) media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. (http://ksupointer.com) Jadi, media merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim dan penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, minat dan perhatian sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi (Sadiman, 2006: 6). Menurut Latuheru (dalam Hamdani, 2005: menyatakan bahwa media pembelajaran adalah bahan, alat atau teknik yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar proses interaksi komunikasi edukasi antara guru dan siswa dapat berlangsung secara tepat guna dan berdayaguna. Berdasarkan pengertian-pengertian yang telah diberikan, maka media

243

pembelajaran merupakan segala sesuatu yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran agar dapat merangsang pikiran, perasaan, minat dan perhatian siswa sehingga proses interaksi komunikasi edukasi antara guru (atau pembuat media) dan siswa dapat berlangsung secara tepat guna dan berdayaguna. Dalam sebuah proses Kegiatan Belajar Mengajar, media pembelajaran memegang peran yang sangat penting. Media belajar sangat membantu mengurangi keabstrakan dari sebuah konsep materi yang sedang diajarkan, mengantarkan anak didik pada pengalaman belajar yang bermakna, mengaktifkan dan menyenangkan. Sehubungan dengan perkembangan IT, media pembelajaranpun diharapkan berkembang secara signifikan sehingga penanaman konsep dan pemahaman konsep sebagai tujuan pembelajaran dapat tercapai. Pemanfaatan beberapa software untuk pembuatan media pembelajaran bisa menjadi alternatif yang inovatif. Lewat eksplorasi fitur-fitur yang ditawarkan Power Point, Swish maupun macromedia ide-ide kreatif bisa tersalurkan. Media pembelajaran berguna (1) menarik minat siswa terhadap materi pembelajaran yang disajikan, (2) meningkatkan pengertian anak didik terhadap materi yang disajikan, (3) menyajikan data yang kuat dan terpercaya. Keuntungan penggunaan media dalam pembelajaran adalah: 1) Membangkitakan ide-ide atau gagasan-gagasan yang bersifat konseptual, sehingga mengurang kesalahpahaman siswa dalam mempelajarinya. 2) Meningkatkan minat siswa untuk materi pelajaran. 3) Memberikan pengalaman-pengalaman nyata yang merangsang aktivitas diri sendiri untuk belajar. 4) Dapat mengembangkan jalan pikiran yang berkelanjutan. 5) Menyediakan pengalaman-pengalaman yang tidak mudah didapat melalui materi-materi yang lain dan menjadikan proses belajar mendalam dan beragam. Sehingga pembuatan media pembelajaran diperlukan untuk proses pelaksanaan pembelajaran dan proses berpikir siswa. MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF Model pembelajaran memiliki arti yang sama dengan pendekatan, strategi atau metode pembelajaran. Saat ini telah banyak dikembangkan berbagai macam model pembelajaran, dari yang sederhana sampai model yang agak kompleks dan rumit karena memerlukan banyak alat bantu dalam penerapannya. Banyak seklai model, tipe pembelajaran inovatif yang dapat dijadikan bahan rujukan bagi guru dalam mengelola pembelajaran. Berbagai model dapat disimak pada tulisan di atas. Banyak pula bisa digali informasi tentang model pembelajaran inovatif. E. EVALUASI a. Jelaskan apa yang dimaksud dengan media pembelajaran Inovatif? b. Jelaskan apa yang dimaksud dengan model pembelajaran Inovatif? c. B uatlah satu contoh media media pembelajaran Inovatif sesuai RPP yang telah Anda susun! d. Buatlah satu model pembelajaran sesuai RPP yang telah Anda susun! F. KUNCI JAWABAN a. Media pembelajaran Inovatif dalam pendidikan yaitu berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk berpikir, menurut Gagne (dalam Sadiman, 2002: 6 b. Model pembelajaran memiliki arti yang sama dengan pendekatan, strategi atau metode pembelajaran. c. Jawaban bebas asal media pembelajaran Inovatif sesuai RPP yang telah disusun.

244

d. Jawaban bebas asal model pembelajaran sesuai RPP yang telah disusun. G. DAFTAR PUSTAKA Arief S Sadiman, dkk. 2006. Media Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Arends, R. I., Wenitzky, N. E., & Tannenboum, M. D. 2001. Exploring teaching: An introduction to education. New York: McGraw-Hill Companies. Arsya, A. 2005. Media Pembelajaran. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Burden, P. R., & Byrd, D. M. 1996. Method for effective teaching, second edition. Boston:Allyn and Bacon. Colin Marsh. (1996). Handbook for beginning teachers. Sydney : Addison Wesley Longman Australia Pry Limited. Dahlan, J.A. 1984. Model-Model Mengajar. Bandung. Diponegoro Hamalik, O. 1983. Metode Belajar dan Kesulitan-Kesulitan Belajar. Bandung. Tarsito Rusman. 2010. Model-Model Pembelajaran. Bandung. Mulia Mandiri Press Sardiman, A. M. (2004). Interaksi dan motivasi belajar-mengajar. Jakarta: Rajawali Suherman, dkk. 2002. Strategi Mengajar Kontemporer. Bandung. JICA . Sudjana, N, dan Rivai, A. 2005. Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algesindo

245

BAB IX PEMBELAJARAN PAIKEM


Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi antara lain: manajemen yang kuat, pembelajaran yang efektif, dan peranserta masyarakat. Pada sesi ini akan secara khusus dibicarakan tentang konsep PAIKEM dan Contextual Teaching and Learning dalam lingkup: Apa, Mengapa, dan Bagaimana. PAIKEM dan CTL adalah salah satu pendekatan atau model pembelajaran yang saat ini disarankan oleh pemerintah untuk diterapkan, dilaksanakan dan dikembangkan oleh sekolah-sekolah di Indonesia. Sebab PAIKEM dan CTL telah termaktub dalam UU Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003, khususnya Bab 1 Ketentuan Umum pasal 1, 3, 4 dan Bab 5 tentang Peserta Didik Pasal 12. Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah yang menyatakan bahwa dalam kegiatan inti pembelajaran merupakan proses untuk mencapai Kompetensi Dasar (KD) yang harus dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, krativitas, dan kemadirian sesuai denganbakat, minat, dan perkembangan fisik dan psikologis peserta didik. Kegiatan pembelajaran ini dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. PAIKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inspiratif/Interaktif /Inovatif, Kritis /Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Dalam PAIKEM digunakan prinsip-prinsip pembelajaran berbasis kompetensi. Pembelajaran berbasis kompetensi merupakan pembelajaran yang dilakukan dengan orientasi pencapaian kompetensi peserta didik. Sehingga muara akhir hasil pembelajaran adalah meningkatnya kompetensi peserta didik yang dapat diukur dalam pola sikap, pengetahuan, dan keterampilannya. Contextual Teaching and Learning merupakan Konsep pembelajaran yang membantu guru Mengaitkan antara materi yang diajarkannya dg situasi dunia nyata siswa (konteks pribadi, lingkungan fisik, sosial, kultural); Mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan-nya dalam konteks kehidupan mereka sehari-hari; dan Menempatkan siswa didalam konteks bermakna yang menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang sedang dipelajarinya dan sekaligus memperhatikan faktor kebutuhan individual siswa. A. Tujuan Umum: Peserta mampu Memahami karakteristik PAIKEM/CTL dan mengimplementasikannya dalam pembelajaran. di sekolah . Tujuan Khusus: Mampu memahami apa, mengapa, dan bagaimana PAIKEM/CTL. Mampu menyusun RPP yang menggunakan model pembelajaran PAIKEM Mampu mengimplementasikan PAKEM/CTL dalam pembelajaran. B. BAHAN DAN ALAT Tayangan presentasi power point (electronic file) Bahan untuk Peserta: Handout bahan presentasi PIKEM - CTL Lembar Kerja: (1). Pertanyaan CTL dan PAIKEM, (2) mengidentifikasi Lingkungan dan Strategi Penciptaan Lingkungan PAIKEM-CTL yang berkualitas.(3) Penyusunan Rencana Pembelajaran Berbasis CTL.\

246

C.

LANGKAH KEGIATAN Fasilitator menjelaskan tentang kompetensi dasar dan indakator yang harus dikuasai peserta, yaitu menyangkut pengembangan pembelajaran PAIKEM. Kemudian menjelaskan skenario atau tahapan kegiatan yang akan dilakukan dalam sesi ini, termasuk memberikan kegiatan ice breaker. Pada tahap ini, hal utamanya adalah penyampaian penjelasan pentingnya sesi ini dan kaitannya dengan pelaksanaan proses pembelajaran. Diskusi Pada tahap ini, pesera berdiskusi dalam kelompok dengan mengerjakan tugas yang ada dalam Lembar Kerja. No 1. 2. 3. PERTANYAAN Apa itu PAIKEM dan CTL Apa yang melandasi penerapan PAIKEM-CTL? Apa yang harus dipersiapkan guru/sekolah untuk menerapkan Pembelajaran PAIKEMCTL? Solusi apa yang bisa ditempuh untuk mengembangankan Pembelajaran PAIKEM-CTL yang bermutu? JAWABAN

4.

D. Latar Belakang Para ahli pendidikan berpendapat bahwa proses pembelajaran di sekolah sampai saat ini cenderung berpusat kepada guru. Tugas guru adalah menyampaikan materi-materi dan siswa diberi tanggung jawab untuk menghafal semua pengetahuan. Memang pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat dalam jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan masalah dalam kehidupan jangka panjang. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang mereka pelajari bukan mengetahuinya, oleh karena itu para pendidik telah berjuang dengan segala cara dengan mencoba untuk membuat apa yang dipelajari siswa disekolah agar dapat dipergunakan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Salah satu prinsip paling penting dari psikologi pendidikan adalah guru tidak boleh semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun pengetahuan di dalam benaknya sendiri. Guru dapat membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan memberikan ide-ide, dan dengan mengajak siswa agar menyadari dan menggunakan sendiri ide-ide, dan mengajak siswa agar menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri dalam belajar. Guru dapat memberikan kepada siswa tangga yang dapat membantu mereka mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi, tetapi harus di upayakan sendiri siswa yang memanjat tangga itu. Tingkat pemahaman siswa menurut model Gagne (1985) dapat dikelompokan menjadi delapan tipe belajar, yaitu: (1) belajar isyarat, (2) stimulus-respon, (3)

247

rangkaian gerak, (4) rangkaian verbal, (5) membedakan, (6) pembentukan konsep, (7) pembentukan aturan dan (8) pemecahan masalah (problem solving). Di lihat dari urutan belajar, belajar pemecahan masalah adalah tipe belajar paling tinggi karena lebih kompleks, Dalam tipe belajar pemecahan masalah, siswa berusaha menyeleksi dan menggunakan aturan-aturan yang telah dipelajari terdahulu untuk membuat formulasi pemecahan masalah. Lebih jauh Gagne (1985) mengemukakan bahwa kata-kata seperti penemuan (discovery) dan kreativitas (creativity) kadang-kadang diasosiasikan sebagaii pemecahan masalah. Pendekatan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning /CTL), Pembelajaran Pembelajaran Terpadu, Pembelajaran Inkuiri dengan menggunakan metode pembelajaran berbuat seperti: kerja kelompok, eksperimen, pengamatan, penelitian sederhana, pemecahan masalah, dan pembelajaran praktik dengan dikombinasikan dengan metode ekspositori seperti ceramah, tanya jawab dan demonstrasi adalah pendekatan pembelajaran yang karakteristiknya memenuhi harapan itu. Pendekatan atau model-model pembelajaran tersebut menjadi tumpuan harapan para ahli pendidikan dan pengajaran dalam upaya menghidupkan kelas secara optimal. Kelas yang hidup diharapkan dapat mengimbangi perubahan yang terjadi di luar sekolah yang demikian cepat. Setiap pendekatan memiliki ciri-ciri dasar atau karakteristik sendiri. Karakteristik ini berhubungan dengan apa yang menjadi fokus dan mendapat tekanan dalam pembelajaran. Ada pendekatan pembelajaran yang berfokus pada siswa yang meliputi perkembangan, kemampuan berpikir, aktivitas, pengalaman siswa. Pendekatan pembelajaran berfokus pada guru yang meliputi fungsi, peran, dan aktivitas guru. Pendekatan pembelajaran berfokus pada masalah meliputi masalah personal, sosial, lingkungan, atau pendekatan pembelajaran yang berfokus pada teknologi, sistem instruksional, sistem informasi, media, sumber belajar, dll. Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Istilah pendekatan merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Oleh karenanya strategi dan metode pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran tergantung pada pendekatannya. Hal ini sesuai dengan Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah yang menyatakan bahwa dalam kegiatan inti pembelajaran merupakan proses untuk mencapai Kompetensi Dasar (KD) yang harus dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, krativitas, dan kemadirian sesuai denganbakat, minat, dan perkembangan fisik dan psikologis peserta didik. Kegiatan pembelajaran ini dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. E. Konsep Dasar Pembelajaran 1. Belajar dan Pembelajaran Belajar dan pembelajaran merupakan konsep yang saling berkaitan. Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku akibat interaksi dengan lingkungan. Proses perubahan tingkah laku merupakan upaya yang dilakukan secara sadar berdasarkan pengalaman ketika berinteraksi dengan lingkungan. Pola tingkah laku yang terjadi dapat dilihat atau diamati dalam bentuk perbuatan reaksi dan sikap secara mental dan fisik. Tingkah laku yang berubah sebagai hasil proses pembelajaran mengandung pengertian luas, mencakup pengetahuan, pemahaman, sikap, dan sebagainya. Perubahan yang terjadi memiliki karakteristik: (1) perubahan terjadi secara sadar, (2) perubahan dalam belajar bersifat sinambung dan fungsional, (3) tidak 248

bersifat sementara, (4) bersifat positif dan aktif, (5) memiliki arah dan tujuan, dan (6) mencakup seluruh aspek perubahan tingkah laku, yaitu pengetahuan, sikap, dan perbuatan. Keberhasilan belajar peserta didik dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal, yaitu kondisi dalam proses belajar yang berasal dari dalam diri sendiri, sehingga terjadi perubahan tingkah laku. Ada beberapa hal yang termasuk faktor internal, yaitu: kecerdasan, bakat (aptitude), keterampilan (kecakapan), minat, motivasi, kondisi fisik, dan mental. Faktor eksternal, adalah kondisi di luar individu peserta didik yang mempengaruhi belajarnya. Adapun yang termasuk faktor eksternal adalah: lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat (keadaan sosio-ekonomis, sosio kultural, dan keadaan masyarakat). Pada hakikatnya belajar dilakukan oleh siapa saja, baik anak-anak maupun manusia dewasa. Pada kenyataannya ada kewajiban bagi manusia dewasa atau orang-orang yang memiliki kompetensi lebih dahulu agar menyediakan ruang, waktu, dan kondisi agar terjadi proses belajar pada anak-anak. Dalam hal ini proses belajar diharapkan terjadi secara optimal pada peserta didik melalui cara-cara yang dirancang dan difasilitasi oleh guru di sekolah. Dengan demikian diperlukan kegiatan pembelajaran yang disiapkan oleh guru. Pembelajaran merupakan seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar peserta didik, dengan memperhitungkan kejadiankejadian eksternal yang berperanan terhadap rangkaian kejadian-kejadian internal yang berlangsung di dalam peserta didik (Winkel, 1991). Pengaturan peristiwa pembelajaran dilakukan secara seksama dengan maksud agar terjadi belajar dan membuat berhasil guna (Gagne, 1985). Oleh karena itu pembelajaran perlu dirancang, ditetapkan tujuannya sebelum dilaksanakan, dan dikendalikan pelaksanaannya (Miarso, 1993) Proses pembelajaran yang berhasil guna memerlukan teknik, metode, dan pendekatan tertentu sesuai dengan karakteristik tujuan, peserta didik, materi, dan sumber daya. Sehingga diperlukan strategi yang tepat dan efektif. Strategi pembelajaran merupakan suatu seni dan ilmu untuk membawa pembelajaran sedemikian rupa sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai secara efesien dan efektif (T. Raka Joni, 1992). Cara-cara yang dipilih dalam menyusun strategi pembelajaran meliputi sifat, lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik (Gerlach and Ely). Strategi belajar mengajar tidak hanya terbatas pada prosedur dan kegiatan, melainkan juga termasuk di dalamnya materi pengajaran atau paket pengajarannya (Dick and Carey). Faktor yang memengaruhi proses pembelajaran terdiri dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor-faktor yang berkaitan dengan pribadi guru sebagai pengelola kelas. Guru harus dapat melaksanakan proses pembelajaran, oleh sebab itu guru harus memiliki persiapan mental, kesesuaian antara tugas dan tanggung jawab, penguasaan bahan, kondisi fisik, dan motivasi kerja. Faktor eksternal adalah kondisi yang timbul atau datang dari luar pribadi guru, antara lain keluarga dan lingkungan pergaulan di masyarakat. Faktor 249

lingkungan, yang dimaksud adalah faktor lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan sekolah. Berdasarkan pendekatan yang digunakan, secara umum ada dua strategi pembelajaran yaitu strategi yang berpusat pada guru (teacher centre oriented) dan strategi yang berpusat pada peserta didik (student centre oriented). Pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru menggunakan strategi ekspositori, sedangkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik menggunakan strategi diskoveri inkuiri (discovery inquiry). Pemilihan strategi ekspositori atau diskoveri inkuiri dilakukan atas pertimbangan karakteristik kompetensi yang menjadi tujuan yang terdiri dari sikap, pengetahuan dan keterampilan, serta karakteristik peserta didik dan sumber daya yang dimiliki. Oleh karena itu tidak ada strategi yang tepat untuk semua kondisi dan karakteristik yang dihadapi. Guru diharapkan mampu memilah dan memilih dengan tepat strategi yang digunakan agar hasil pembelajaran efektif dan maksimal. Pemilihan strategi ekspositori dilakukan atas pertimbangan: a. karakteristik peserta didik dengan kemandirian belum memadai; b. sumber referensi terbatas; c. jumlah pesera didik dalam kelas banyak; d. alokasi waktu terbatas; dan e. jumlah materi (tuntutan kompetensi dalam aspek pengetahuan) atau bahan banyak. Langkah-langkah yang dilakukan pada strategi ekspositori adalah sebagai berikut. a. Preparasi, guru menyiapkan bahan/materi pembelajaran b. Apersepsi diperlukan untuk penyegaran c. Presentasi (penyajian) materi pembelajaran d. Resitasi, pengulangan pada bagian yang menjadi kata kunci kompetensi atau materi pembelajaran. a. b. c. d. e. Pemilihan strategi diskoveri inkuiri dilakukan atas pertimbangan: karakteristik peserta didik dengan kemandirian cukup memadai; sumber referensi, alat, media, dan bahan cukup; jumlah peserta didik dalam kelas tidak terlalu banyak; materi pembelajaran tidak terlalu luas; dan alokasi waktu cukup tersedia. Langkah-langkah yang dilakukan pada strategi diskoveri inkuiri adalah sebagai berikut. a. Guru atau peserta didik mengajukan dan merumuskan masalah b. Merumuskan logika berpikir untuk mengajukan hipotesis atau jawaban sementara c. Merumuskan langkah kerja untuk memperoleh data d. Menganalisis data dan melakukan verifikasi e. Melakukan generalisasi Strategi ekspositori lebih mudah bagi guru namun kurang melibatkan aktivitas peserta didik. Kegiatan pembelajaran berupa instruksional langsung (direct instructional) yang dipimpin oleh guru. Metode yang digunakan adalah ceramah 250

atau presentasi, diskusi kelas, dan tanya jawab. Namun demikian ceramah atau presentasi yang dilakukan secara interaktif dan menarik dapat meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran. Strategi diskoveri inkuiri memerlukan persiapan yang sungguh-sungguh, oleh karena itu dibutuhkan kreatifitas dan inovasi guru agar pengaturan kelas maupun waktu lebih efektif. Kegiatan pembelajaran berbentuk Problem Based Learning yang difasilitasi oleh guru. Strategi ini melibatkan aktivitas peseserta didik yang tinggi. Metode yang digunakan adalah observasi, diskusi kelompok, eksperimen, ekplorasi, simulasi, dan sebagainya. 2. PAIKEM Sebagai Model Pembelajaran Berbasis Kompetensi PAIKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inspiratif/Interaktif/Inovatif, Kritis /Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Dalam PAIKEM digunakan prinsipprinsip pembelajaran berbasis kompetensi. Pembelajaran berbasis kompetensi adalah pembelajaran yang dilakukan dengan orientasi pencapaian kompetensi peserta didik. Sehingga muara akhir hasil pembelajaran adalah meningkatnya kompetensi peserta didik yang dapat diukur dalam pola sikap, pengetahuan, dan keterampilannya. Desain Pembelajaran PAIKEM Sebagai tahapan strategis pencapaian kompetensi, kegiatan PAIKEM perlu didesain dan dilaksanakan secara efektif dan efisien sehingga memperoleh hasil maksimal. Berdasarkan panduan penyusunan KTSP (KTSP), kegiatan pembelajaran terdiri dari kegiatan tatap muka, kegiatan tugas terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Sekolah standar, beban belajarnya dinyatakan dalam jam pelajaran ditetapkan bahwa satu jam pelajaran tingkat SMA/SMK terdiri dari 45 menit, SMP terdiri dari 40 menit, dan untuk SD terdiri dari 35 menit tatap muka untuk Tugas Terstruktur dan Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur. Dalam hal ini guru perlu mendesain kegiatan pembelajaran tatap muka, tugas terstruktur dan kegiatan mandiri. 1. Kegiatan Tatap Muka Untuk kegiatan tatap muka dilakukan dengan strategi bervariasi baik ekspositori maupun diskoveri inkuiri. Metode yang digunakan seperti ceramah interaktif, presentasi, diskusi kelas, diskusi kelompok, pembelajaran kolaboratif dan kooperatif, demonstrasi, eksperimen, observasi di sekolah, ekplorasi dan kajian pustaka atau internet, tanya jawab, atau simulasi. Tapi jika sudah ada sekolah yang menerapkan sistem SKS, maka kegiatan tatap muka lebih disarankan dengan strategi ekspositori. Namun demikian tidak menutup kemungkinan menggunakan strategi diskoveri inkuiri. Metode yang digunakan seperti ceramah interaktif, presentasi, diskusi kelas, tanya jawab, atau demonstrasi. 2. Kegiatan Tugas terstruktur Bagi sekolah yang menerapkan sistem paket, kegiatan tugas terstruktur tidak dicantumkan dalam jadwal pelajaran namun dirancang oleh guru dalam silabus maupun RPP (Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran). Oleh karena itu pembelajaran dilakukan dengan strategi diskoveri inkuiri. Metode yang digunakan seperti penugasan, observasi lingkungan, atau proyek. Kegiatan tugas terstruktur merupakan kegiatan pembelajaran yang mengembangkan kemandirian belajar peserta didik, peran guru sebagai fasilitator, tutor, teman belajar. Strategi yang disarankan adalah diskoveri inkuiri dan tidak disarankan dengan strategi ekspositori. Metode yang digunakan seperti diskusi kelompok, pembelajaran kolaboratif dan kooperatif, demonstrasi, eksperimen, observasi di sekolah, ekplorasi dan kajian pustaka atau internet, atau simulasi. 3. Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur Kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan 251

pembelajaran yang dirancang oleh guru. Strategi pembelajaran yang digunakan adalah diskoveri inkuiri dengan metode seperti penugasan, observasi lingkungan, atau proyek. PAIKEM dapat diterapkan pada pembelajaran Pembelajaran kontekstual dengan pendekatan konstruktivisme dipandang sebagai salah satu strategi yang memenuhi prinsip pembelajaran berbasis kompetensi. Dengan lima strategi pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning), yaitu relating, experiencing, applying, cooperating, dan transferrini diharapkan peserta didik mampu mencapai kompetensi secara maksimal. Pemilihan strategi ekspositori dilakukan atas pertimbangan: a. karakteristik peserta didik dengan kemandirian belum memadai; b. sumber referensi terbatas; c. jumlah pesera didik dalam kelas banyak; d. alokasi waktu terbatas; dan e. jumlah materi (tuntutan kompetensi dalam aspek pengetahuan) atau bahan banyak. Strategi ekspositori lebih mudah bagi guru namun kurang melibatkan aktivitas peserta didik. Kegiatan pembelajaran berupa instruksional langsung (direct instructional) yang dipimpin oleh guru. Metode yang digunakan adalah ceramah atau presentasi, diskusi kelas, dan tanya jawab. Namun demikian ceramah atau presentasi yang dilakukan secara interaktif dan menarik dapat meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran. Strategi diskoveri inkuiri memerlukan persiapan yang sungguhsungguh, oleh karena itu dibutuhkan kreatifitas dan inovasi guru agar pengaturan kelas maupun waktu lebih efektif. Kegiatan pembelajaran berbentuk Problem Based Learning yang difasilitasi oleh guru. Strategi ini melibatkan aktivitas peseserta didik yang tinggi. Metode yang digunakan adalah observasi, diskusi kelompok, eksperimen, ekplorasi, simulasi, dan sebagainya. Pembelajaran aktif merujuk pada teknik yang di dalamnya siswa berbuat lebih dari sekedar mendengarkan. Siswa berbuat sesuatu seperti menemukan, memproses dan menerapkan informasi. Pembelajaran aktif itu didasarkan atas dua asumsi: pertama, bahwa belajar itu secara alami merupakan upaya aktif, dan kedua, bahwa setiap siswa itu belajar dengan caranya sendiri berbeda dari siswa lainnya. Dalam menggunakan pendekatan pembelajaran aktif itu guru bisa menghadapi beberapa kesulitan baik bagi guru maupun siswa yang memang tidak terbiasa dengan bentuk pengajaran seperti itu. Berikut ini adalah beberapa teknik yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar-mengajar yang aktif. Think-pair-share merupakan kegiatan sederhana di kelas. Berikan waktu kepada siswa untuk memikirkan tentang sebuah topik, berdiskusi dengan teman sebelahnya, dan berbagai hasilnya dengan teman lain di kelasnya. Minute Papers memberikan peluang kepasa siswa untuk mensintesiskan pengetahuannya dan menjawab pertanyaan seperti apa hal yang paling penting yang telah dipelajari hari ini? Apa pertanyaan yang masih belum terjawab? Dan pertanyaan lainnya yang menyangkut kegiatan belajar mengajar yang telah dilaluinya. Writing activities merupakan peluang bagi siswa untuk berpikir dan memproses informasi yang dimilikinya. Misalnya sebagai tambahan ke kegiatan Minutes Papers di atas, guru dapat memberikan sebuah pertanyaan yang dari situ siswa diberi waktu untuk secara bebas menuliskan jawabannya. Tentu saja guru juga bisa memberikan topik untuk menjadi bahan yang akan ditulis oleh siswanya. Brainstorming merupakan teknik sederhana lainnya yang dapat melibatkan semua siswa di dalam kelas untuk berdiskusi. Dengan

252

mengetengahkan sebuah topik, guru dapat meminta masukan dari siswanya dan mencatat masukan-masukan itu pada papan tulis. Games merupakan teknik yang biasanya menarik banyak siswa. Bisa termasuk didalamnya matching, mysteries, group competitions, solving puzzles, dan lain sebagainya. Debates yang ditampilkan di kelas bisa menjadi alat yang efektif dalam mendorong siswa untuk berpikir tentang sesuatu dari arah yang berbeda-beda. Group work dapat menjadi peluang bagi setiap siswa untuk berbicara, berbagi pandangan, dan mengembangkan keterampilan untuk berkolaborasi dengan orang lain. Case studies biasanya menggunakan ceritera nyata dari kehidupan sehari-hari yang terjadi pada masyarakat di lingkungan siswa itu sendiri, dalam keluarga, dalam sekolah, atau atau yang terjadi pada seseorang di antara siswa itu. Hal ini akan memberikan wawasan tentang situasi nyata, langkah yang sebaiknya diambil, dan akibat-akibat yang mungkin terjadi. Concept mapping membantu siswa untuk bisa menciptakan representasi visual dari model, gagasan, dan hubungan antara konsep. Mereka menggambarkannya dengan menggunakan lingkaran dan garis penghubung, dengan frase yang dapat menghubungkan pada garis-garis tersebut. Kegiatan ini dapat dilakukan secara individual maupun kelompok. Prinsip pembelajaran berbasis kompetensi adalah sebagai berikut: a. Berpusat pada peserta didik agar mencapai kompetensi yang diharapkan. Peserta didik menjadi subjek pembelajaran sehingga keterlibatan aktivitasnya dalam pembelajaran tinggi. Tugas guru adalah mendesain kegiatan pembelajaran agar tersedia ruang dan waktu bagi peserta didik belajar secara aktif dalam mencapai kompetensinya. b. Pembelajaran terpadu agar kompetensi yang dirumuskan dalam KD dan SK tercapai secara utuh. Aspek kompetensi yang terdiri dari sikap, pengetahuan, dan keterampilan terintegrasi menjadi satu kesatuan. c. Pembelajaran dilakukan dengan sudut pandang adanya keunikan individual setiap peserta didik. Peserta didik memiliki karakteristik, potensi, dan kecepatan belajar yang beragam. Oleh karena itu dalam kelas dengan jumlah tertentu, guru perlu memberikan layanan individual agar dapat mengenal dan mengembangkan peserta didiknya. d. Pembelajaran dilakukan secara bertahap dan terus menerus menerapkan prinsip pembelajaran tuntas (mastery learning) sehingga mencapai ketuntasan yang ditetapkan. Peserta didik yang belum tuntas diberikan layanan remedial, sedangkan yang sudah tuntas diberikan layanan pengayaan atau melanjutkan pada kompetensi berikutnya. e. Pembelajaran dihadapkan pada situasi pemecahan masalah, sehingga peserta didik menjadi pembelajar yang kritis, kreatif, dan mampu memecahkan masalah yang dihadapi. Oleh karena itu guru perlu mendesain pembelajaran yang berkaitan dengan permasalahan kehidupan atau konteks kehidupan peserta didik dan lingkungan. Berpikir kritis adalah kecakapan nalar secara teratur, kecakapan sistematis dalam menilai, memecahkan masalah, menarik keputusan, memberi keyakinan, menganalisis asumsi dan pencarian ilmiah. Berpikir kreatif adalah suatu kegiatan mental untuk meningkatkan kemurnian (originality) dan ketajaman pemahaman (insigt) dalam mengembangkan sesuatu (generating). Kemampuan memecahkan masalah (problem solving) adalah kemampuan tahap tinggi siswa dalam mengatasi hambatan, kesulitan maupun ancaman. Metode problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya 253

sekedar metode mengajar tetapi juga merupakan suatu metode berpikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya dimulai dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan. f. Pembelajaran dilakukan dengan multi strategi dan multimedia sehingga memberikan pengalaman belajar beragam bagi peserta didik. F. Tujuan PAIKEM Pembelajaran berbasis PAIKEM membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir tahap tinggi, berpikir kritis dan berpikir kreatif (critical dan creative thinking). Berpikir kritis adalah suatu kecakapan nalar secara teratur, kecakapan sistematis dalam menilai, memecahkan masalah menarik keputusan, memberi keyakinan, menganalisis asumsi dan pencarian ilmiah. Berpikir kreatif adalah suatu kegiatan mental untuk meningkatkan kemurnian (orginality), ketajaman pemahaman (insigt) dalam mengembangkan sesuatu (generating). Kemampuan memecahkan masalah merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Dalam pembelajaran pemecahan masalah, siswa secara individual atau kelompok diberi tugas untuk memecahkan suatu masalah. Jika memungkinkan masalah diidentifikasi dan dipilih oleh siswa sendiri, dan diidentifikasi hendaknya yang penting dan mendesak untuk diselesaikan serta sering dilihat atau diamati oleh siswa sendiri, umpamanya masalah kemiskinan, kejahatan, kemacetan lalu lintas, pembusukan makanan, wabah penyakit, kegagalan panen, pemalsuan produk, atau soal-soal dalam setiap mata pelajaran yang membutuhkan analisis dan pemahaman tingkat tinggi, dsb. G. Karakteristik PAIKEM Sesuai dengan singkatan PAIKEM, maka pembelajaran yang berfokus pada siswa, makna, aktivitas, pengalaman dan kemandirian siswa, serta konteks kehidupan dan lingkungan ini memiliki 4 ciri yaitu: mengalami, komunikasi, interaksi dan refleksi. 1. Mengalami (pengalaman belajar) antara lain: Melakukan pengamatan Melakukan percobaan Melakukan penyelidikan Melakukan wawancara Siswa belajar banyak melalui berbuat Pengalaman langsung mengaktifkan banyak indera. Komunikasi, bentuknya antara lain: Mengemukakan pendapat Presentasi laporan Memajangkan hasil kerja Ungkap gagasan 3. Interaksi, bentuknya antara lain: Diskusi Tanya jawab Lempar lagi pertanyaan o Kesalahan makna berpeluang terkoreksi o Makna yang terbangun semakin mantap o Kualitas hasil belajar meningkat 4. Kegiatan Refleksi yaitu memikirkan kembali apa yang diperbuat/dipikirkan.

2.

254

mengapa demikian? apakah hal itu berlaku untuk ? Untuk perbaikan gagasan/makna Untuk tidak mengulangi kesalahan Peluang lahirkan gagasan baru

Dari karakteristik PAIKEM tersebut, maka guru perlu memberikan dorongan kepada siswa untuk menggunakan otoritas atau haknya dalam membangun gagasan. Tanggung jawab belajar, memang berada pada diri siswa, tetapi guru bertanggung jawab dalam memberikan situasi yang mendorong prakarsa, motivasi, perhatian, persepsi, retensi, dan transfer dalam belajar, sebagai bentuk tanggung jawab siswa untuk belajar sepanjang hayat. H. Jenis-Jenis PAIKEM Pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik PAIKEM antara lain adalah pembelajaran kotekstual (CTL), Pembelajaran Terpadu (Tematik, IPA Terpadu, IPS Terpadu), Pembelajaran berbasis TIK (ICT), Pembelajaran Pengayaan dengan menggunakan berbagai strategi antara lain dengan Lesson Study. I. Penerapan PAIKEM Sebagai tahapan strategis pencapaian kompetensi, kegiatan PAIKEM perlu didesain dan dilaksanakan secara efektif dan efisien sehingga memperoleh hasil maksimal. Berdasarkan panduan penyusunan KTSP (KTSP), kegiatan pembelajaran terdiri dari kegiatan tatap muka, kegiatan tugas terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Sekolah standar, beban belajarnya dinyatakan dalam jam pelajaran ditetapkan bahwa satu jam pelajaran tingkat SMA/SMK terdiri dari 45 menit, SMP terdiri dari 40 menit, dan untuk SD terdiri dari 35 menit tatap muka untuk Tugas Terstruktur dan Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur. Dalam hal ini guru perlu mendesain kegiatan pembelajaran tatap muka, tugas terstruktur dan kegiatan mandiri. 1. Kegiatan Tatap Muka Untuk kegiatan tatap muka dilakukan dengan strategi bervariasi baik ekspositori maupun diskoveri inkuiri. Metode yang digunakan seperti ceramah interaktif, presentasi, diskusi kelas, diskusi kelompok, pembelajaran kolaboratif dan kooperatif, demonstrasi, eksperimen, observasi di sekolah, ekplorasi dan kajian pustaka atau internet, tanya jawab, atau simulasi. Tapi jika sudah ada sekolah yang menerapkan sistem SKS, maka kegiatan tatap muka lebih disarankan dengan strategi ekspositori. Namun demikian tidak menutup kemungkinan menggunakan strategi diskoveri inkuiri. Metode yang digunakan seperti ceramah interaktif, presentasi, diskusi kelas, tanya jawab, atau demonstrasi. 2. Kegiatan Tugas terstruktur Bagi sekolah yang menerapkan sistem paket, kegiatan tugas terstruktur tidak dicantumkan dalam jadwal pelajaran namun dirancang oleh guru dalam silabus maupun RPP (Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran). Oleh karena itu pembelajaran dilakukan dengan strategi diskoveri inkuiri. Metode yang digunakan seperti penugasan, observasi lingkungan, atau proyek. Kegiatan tugas terstruktur merupakan kegiatan pembelajaran yang mengembangkan kemandirian belajar peserta didik, peran guru sebagai fasilitator, tutor, teman belajar. Strategi yang disarankan adalah diskoveri inkuiri

255

dan tidak disarankan dengan strategi ekspositori. Metode yang digunakan seperti diskusi kelompok, pembelajaran kolaboratif dan kooperatif, demonstrasi, eksperimen, observasi di sekolah, ekplorasi dan kajian pustaka atau internet, atau simulasi. 3. Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur Kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang dirancang oleh guru. Strategi pembelajaran yang digunakan adalah diskoveri inkuiri dengan metode seperti penugasan, observasi lingkungan, atau proyek. PAIKEM dapat diterapkan pada pembelajaran Pembelajaran kontekstual dengan pendekatan konstruktivisme dipandang sebagai salah satu strategi yang memenuhi prinsip pembelajaran berbasis kompetensi. Dengan lima strategi pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning), yaitu relating, experiencing, applying, cooperating, dan transferrini diharapkan peserta didik mampu mencapai kompetensi secara maksimal. Pemilihan strategi ekspositori dilakukan atas pertimbangan: a. karakteristik peserta didik dengan kemandirian belum memadai; b. sumber referensi terbatas; c. jumlah pesera didik dalam kelas banyak; d. alokasi waktu terbatas; dan e. jumlah materi (tuntutan kompetensi dalam aspek pengetahuan) atau bahan banyak. Langkah-langkah yang dilakukan pada strategi ekspositori adalah sebagai berikut. a. Preparasi, guru menyiapkan bahan/materi pembelajaran b. Apersepsi diperlukan untuk penyegaran c. Presentasi (penyajian) materi pembelajaran d. Resitasi, pengulangan pada bagian yang menjadi kata kunci kompetensi atau materi pembelajaran. Pemilihan strategi diskoveri inkuiri dilakukan atas pertimbangan: a. karakteristik peserta didik dengan kemandirian cukup memadai; sumber referensi, alat, media, dan bahan cukup; c. jumlah peserta didik dalam kelas tidak terlalu banyak; d. materi pembelajaran tidak terlalu luas; dan e. alokasi waktu cukup tersedia. Langkah-langkah yang dilakukan pada strategi diskoveri inkuiri adalah sebagai berikut. a. Guru atau peserta didik mengajukan dan merumuskan masalah b. Merumuskan logika berpikir untuk mengajukan hipotesis atau jawaban sementara c. Merumuskan langkah kerja untuk memperoleh data d. Menganalisis data dan melakukan verifikasi e. Melakukan generalisasi Strategi ekspositori lebih mudah bagi guru namun kurang melibatkan aktivitas peserta didik. Kegiatan pembelajaran berupa instruksional langsung (direct instructional) yang dipimpin oleh guru. Metode yang digunakan adalah ceramah atau presentasi, diskusi kelas, dan tanya jawab. Namun demikian ceramah atau

b.

256

presentasi yang dilakukan secara interaktif dan menarik dapat meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran. Strategi diskoveri inkuiri memerlukan persiapan yang sungguh-sungguh, oleh karena itu dibutuhkan kreatifitas dan inovasi guru agar pengaturan kelas maupun waktu lebih efektif. Kegiatan pembelajaran berbentuk Problem Based Learning yang difasilitasi oleh guru. Strategi ini melibatkan aktivitas peseserta didik yang tinggi. Metode yang digunakan adalah observasi, diskusi kelompok, eksperimen, ekplorasi, simulasi, dan sebagainya.

PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL A. Latar Belakang Filosofis dan Psikologis Penerapan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) di Amerika Serikat bermula dari pandangam ahli pendidikan klasik John Dewey yang pada tahun 1916 mengajukan teori kurikulum dan metodologi pengajaran yang berhubungan dengan pengalaman dan minat siswa. Filosofi pembelajaran kontekstual berakar dari paham progressivisme John Dewey. Intinya, siswa akan belajar dengan baik apabila apa yang mereka pelajari berhubungan dengan apa yang telah mereka ketahui, serta proses belajar akan produktif jika siswa terlibat dalam proses belajar di sekolah. Pokok-pokok pandangan progressivisme antara lain: 1. Siswa belajar dengan baik apabila mereka secara aktif dapat mengkonstruksi sendiri pemahaman mereka tentang apa yang diajarkan oleh guru. 2. Siswa harus bebas agar dapat berkembang wajar. 3. Penumbuhan minat melalui pengalaman langsung untuk merangsang belajar. 4. Guru sebagai pembimbing dan peneliti. 5. Harus ada kerja sama antara sekolah dan masyarakat. 6. Sekolah progresif harus merupakan laboratorium untuk melakukan eksperimen. Selain teori progressivisme John Dewey, teori kognitif melatarbelakangi pula filosofi pembelajaran kontekstual. Siswa akan belajar dengan baik apabila mereka terlibat secara aktif dalam segala kegiatan di kelas dan berkesempatan untuk menemukan sendiri. siswa menunjukkan belajar dalam bentuk apa yang mereka ketahui dan apa yang dapat mereka lakukan. Belajar dipendang sebagai usaha atau kegiatan intelektual untuk membangkit ide-ide yang masih laten melalui kegiatan introspeksi. Sejauh ini pendidikan kita masih di dominasi oleh pandangan bahawa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah sebagai pilihan utama strategi belajar. Untuk itu, diperlukan sebuah strategi belajar baru yang lebih memberdayakan siswa. Sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa menghapal fakta-fakta, tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkontruksi pengetahuan di benak mereka sendiri. Berpijak pada dua pandangan itu, filosofi konstruksivisme berkembang. Dasarnya pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh dari konteks yang terbatas dan sedikit demi sedikit. Siswa yang harus mengkontruksikan sendiri pengetahuannya. Melalui landasan filosofi konstruksivisme, CTL dipromosikan menjadi alternatif strategi belajar yang baru. Melalui strategi, siswa diharapkan belajar melalui mengalami bukan menghafal. 257

Menurut filosofi konstruktivisme, pengetahuan bersifat non-objektif, temporer, dan selalu berubah. Segala sesuatu bersifat temporer, berubah dan tidak menentu. Belajar adalah pemaknaan pengetahuan, bukan perolehan pengetahuan dan mengajar diartikan sebagain kegiatan atau menggali makna, bukan memindahkan pengetahuan kepada orang yang belajar. Otak atau akal manusia berfungsi sebagai alat untuk melakukan interpretasi sehingga muncul makna yang unik. Dengan paham kontruksivisme, siswa diharapkan dapat membangun pemahaman sendiri dari pengalaman/pengetahuan terdahulu. Pemahaman yang mendalam dikembangkan melalui pengalaman-pengalam belajar bermakna. Siswa diharapkan memapu mempraktikkan pengetahuan /pengalaman yang telah diperoleh dalam konteks kehidupan. Siswa diharapkan juga melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut. Dengan demikian, siswa dapat memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan yang dipelajari. Pemahaman ini diperoleh siswa karena ia dihadapkan kepada lingkungan belajar yang bebas yang merupakan unsur yang sangat esensial. Hakikat teori kontruksivisme adalah bahwa siswa harus menjadikan informasi itu menjadi miliknya sendiri. teori kontruksivisme memandang siswa secara terus menerus memeriksa informasi-informasi baru yang berlawanan dengan aturanaturan lama dan memperbaiki aturan-aturan yang tidak sesuai lagi. Teori konstruksivis menuntut siswa berperan aktif dalam pembelajaran mereka sendiri. Karena penekanannya pada siswa aktif, maka strategi kontruksivis sering disebut pengajaran yang berpusat pada siswa (student-centered instruction). Di dalam kelas yang pengajarannya terpusat kepada siswa, peranan guru adalah membantu siswa menemukan fakta, konsep, atau prinsip bagi diri mereka sendiri, bukan memberikan ceramah atau mengendalikan seluruh kegiatan di kelas. Beberapa proposisi yang dapat dikemukakan sebagai implikasi dari teori kontruktivistik dalam praktek pembeljaran di sekolah-sekolah kita sekarang adalah sebagai berikut: 1. Belajar adalah proses pemaknaan informasi baru 2. Kebebasan merupakan unsur esensial dalam lingkungan belajar. 3. Strategi belajar yang digunakan menentukan proses dan hasil belajar. 4. Belajar pada hakikatnya memiliki aspeksosial dan budaya. 5. Kerja kelompok dianggap sangat berharga. Dalam pandangan kontruksivistik, kebebasan dipandangan sebagai penentu keberhasilan karena kontrol belajar dipegang oleh siswa sendiri. Tujuan pembelajaran konstruktivistik menekankan pada penciptaan pemahaman yang menuntut aktivitas yang kreatif dan produktif dalam konteks nyata. Dengan demikian, paham konstruktivistik menolak pandangan behavioristik. B. Pengertian Pembelajaran Kontekstual Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya.

258

CTL merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep ini, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung lebih alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Pembelajaran kontekstual dengan pendekatan konstruktivisme dipandang sebagai salah satu strategi yang memenuhi prinsip-prinsip pembelajaran berbasis kompetensi. Dengan lima strategi pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning), yaitu relating, experiencing, applying, cooperating, dan transferrini diharapkan peserta didik mampu mencapai kompetensi secara maksimal. Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja ber-sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesu-atu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual. Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan-nya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidu-pan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment). C. Langkah-langkah CTL CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkah-langkah yang harus ditempuh dalam CTL adalah sebagai berikut: 1. Kembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya. 2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik. 3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya. 4. Ciptakan masyarakat belajar. 5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran. 6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan. 7. Lakukan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment) dengan berbagai cara. D. Karakteristik Pembelajaran CTL 1. Kerjasama. 2. Saling menunjang. 3. Menyenangkan, tidak membosankan. 4. Belajar dengan bergairah. 5. Pembelajaran terintegrasi. 6. Menggunakan berbagai sumber. 259

7. Siswa aktif. 8. Sharing dengan teman. 9. Siswa kritis guru kreatif. 10. Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain. 11. Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam program tercermin tujuan pembelajaran, media untuk mencapai tujuan tersebut, materi pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, dan authentic assessment-nya. Dalam konteks itu, program yang dirancang guru benar-benar rencana pribadi tentang apa yang akan dikerjakannya bersama siswanya. Secara umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional), sedangkan program untuk pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario pembelajarannya. Beberapa komponen utama dalam pembelajaran Kontekstual menurut Johnson (2000: 65), yang dapat di uraikan sebagai berikut: 1. Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningful connections) Keterkaitan yang mengarah pada makna adalah jantung dari pembelajaran dan pengajaran kontekstual. Ketika siswa dapat mengkaitkan isi dari mata pelajaran akademik, ilmu pengetahuan alam. Atau sejarah dengan pengalamannya mereka sendiri, mereka menemukan makna, dan makna memberi mereka alasan untuk belajar. Mengkaitkan pembelajaran dengan kehidupan seseorang membuat proses belajar menjadi hidup dan keterkaitan inilah inti dari CTL. 2. Melakukan kegiatan-kegiatan yang berarti (doing significant works) Model pembelajaran ini menekankan bahwa semua proses pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas harus punya arti bagi siswa sehingga mereka dapat mengkaitkan materi pelajaran dengan kehidupan siswa. 3. Belajar yang diatur sendiri (self-regulated Learning) Pembelajaran yang diatur sendiri, merupakan pembelajaran yang aktif, mandiri, melibatkan kegiatan menghubungkan masalah ilmu dengan kehidupan seharihari dengan cara-cara yang berarti bagi siswa. Pembelajaran yang diatur siswa sendiri, memberi kebebasan kepada siswa menggunakan gaya belajarnya sendiri. 4. Bekerjasama (collaborating) Siswa dapat bekerja sama. Guru membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu mereka memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling berkomunikasi. 5. Berpikir kritis dan kreatif (critical dan creative thinking) Pembelajaran kontekstual membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir tahap tinggi, berpikir kritis dan berpikir kreatif. Berpikir kritis adalah suatu kecakapan nalar secara teratur, kecakapan sistematis dalam menilai, memecahkan masalah menarik keputusan, memberi keyakinan, menganalisis asumsi dan pencarian ilmiah. Berpikir kreatif adalah suatu kegiatan mental 260

untuk meningkatkan kemurnian, ketajaman pemahaman dalam mengembangkan sesuatu. 6. Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (nuturing the individual) Dalam pembelajaran kontekstual siswa bukan hanya mengembangkan kemampuan-kemampuan intelektual dan keterampilan, tetapi juga aspek-aspek kepribadian: integritas pribadi, sikap, minat, tanggung jawab, disiplin, motif berprestasi, dsb. Guru dalam pembelajaran kontekstual juga berperan sebagai konselor, dan mentor. Tugas dan kegiatan yang akan dilakukan siswa harus sesuai dengan minat, kebutuhan dan kemampuannya. 7. Mencapai standar yang tinggi (reaching high standards) Pembelajaran kontekstual diarahkan agar siswa berkembang secara optimal, mencapai keunggulan (excellent). Tiap siswa bisa mencapai keunggulan, asalkan dia dibantu oleh gurunya dalam menemukan potensi dan kekuatannya. 8. Menggunakan Penilaian yang otentik (using authentic assessment) Penilaian autentik menantang para siswa untuk menerapkan informasi dan keterampilan akademik baru dalam situasi nyata untuk tujuan tertentu. Penilaian autentik merupakan antitesis dari ujian standar, penilaian autentik memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka sambil mempertunjukkan apa yang sudah mereka pelajari. E. Strategi Pembelajaran Kontekstual Pembelajaran kontekstual menempatkan siswa di dalam konteks bermakna yang menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang sedang dipelajari (Nurhadi, Yasin dan Senduk, 2004: 56). Strategi yang berasosiasi dengan pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut. 1. Belajar berbasis Masalah (Problem-Based Learning) Suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pegetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran. Dalam pengetahuan dan konsep yang esensi dari mata pelajaran. Dalam hal ini siswa terlibat dalam penyelidikan untuk pemecahan masalah yang mengintegrasikan keterampilan dan konsep dari berbagai isi materi pelajaran. Pendekatan ini mencakup pengumpulan informasi yang berkaitan dengan pertanyaan, mensintesis, dan mempresentasikan penemuannya kepada orang lain. 2. Pembelajaran Autentik (Authentic Instruction) Suatu pendekatan pengajaran yang memperkenankan siswa untuk mempelajari konteks bermakna. Ia mengembangkan keterampilan berpikir dan memecahkan masalah yang penting di dalam konteks kehidupan nyata. 3. Belajar Berbasis Inquiry (Inquiry-Based Learning) Suatu pendekatan pembelajaran yang mengikuti metodologi sains dan menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna. 4. Belajar berbasis Proyek/Tugas (Project-Based Learning) Suatu pendekatan pembelajaran komprehensif di mana lingkungan belajar siswa (kelas) didesain agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap masalah autentik termasuk pendalaman materi dari suatu topik mata pelajaran, dan melaksanakan tugas bermakna lainnya. Pendekatan ini memperkenankan siswa untuk bekerja secara mandiri dalam mengkonstruk pembelajarannya, dan mengkulminasikan dengan produk nyata. 5. Belajar Berbasis Kerja (Work-Based Learning) Suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan siswa menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi pelajaran berbasis sekolah dan bagaimana materi tersebut dipergunakan kembali di tempat kerja. Jadi dalam 261

hal ini, tempat kerja atau sejenisnya dan berbagai aktifitas dipadukan dengan materi pelajaran untuk kepentingan siswa. 6. Belajar Berbasis Jasa-Layanan (Service Learning) Suatu pendekatan pembelajaran yang mengkombinasikan jasa layanan masyarakat dengan suatu struktur berbasis sekolah untuk merefleksikan jasalayanan tersebut, jadi menekankan hubungan antara pengalaman jasa-layanan dan pembelajaran akademis. Dengan kata lain, pendekatan ini menyajikan suatu penerapan praktis dari pengetahuan baru yang diperlukan dan berbagi keterampilan untuk memenuhi kebutuhan dalam masyarkat melalui proyek/tugas terstruktur dan kegiatan lainnya. 7. Belajar Kooperatif (Cooperatif Learning) Pendekatan pembelajaran yang menggunakan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan. F. Perbedaan Pembelajaran Kontekstual Dengan Pembelajaran Tradisional Terlihat jelas perbedaan proses pembelajaran kontekstual yang berpijak pada pandangan kontrukstivisme dengan pembelajaran tradisional yang berpijak padangan behaviorisme-objektivis. Menurut Sanjaya (2006 : 256) ada beberapa perbedaan yang dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Dalam pembelajaran kontekstual, siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran, sedangkan dalam pembelajaran tradisional siswa adalah penerima informasi yang pasif. 2. Dalam pembelajaran kontekstual, siswa belajar dari teman melalui kerja kelompok, diskusi, saling mengoreksi, sedangkan dalam pembelajaran tradisional siswa belajar secara individual. 3. Dalam pembelajaran kontekstual, pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata dan atau masalah yang disimulasikan, sedangkan dalam pemebelajaran tradisional pembelajaran sangat abstrak. 4. Dalam pembelajaran kontekstual, perilaku dibangun atas kesadaran sendiri sedangkan dalam pembelajaran tradisional perilaku dibangun atas kebiasaan. 5. Dalam pembelajaran kontekstual, keterampilan dibangun atas kesadaran diri,, sedangkan dalam pembelajaran tradisional ketrampilan dikembangkan atas dasar latihan. 6. Dalam pembelajaran kontekstual, hadiah untuk perilaku baik adalah kepuasan diri, sedangkan dalam pembelajaran tradisional hadiah untuk perilaku baik adalah pujian atau nilai (angka) rapor. 7. Dalam pembelajaran kontekstual, seseorang tidak melakukan yang jelek karena dia sadar hal itu keliru dan merugikan., sedangkan dalam pembelajaran tradisional seseorang tidak melakukan yang jelek karena dia takut hukuman. 8. Dalam pembelajaran kontekstual, bahasa diajarkan dengan pendekatan komunikatif, yakni siswa diajak menggunakan bahasa dalam konteks nyata, sedangkan dalam pembelajaran tradisional, bahasa diajarkan dengan pendekatan struktural: rumus diterapkan sampai paham, kemudian dilatihkan (drill). 9. Dalam pembelajaran kontekstual, pemahaman rumus dikembangkan atas dasar skemata yang sudah ada dalam diri siswa, sedangkan dalam pembelajaran tradisional rumus itu ada di luar diri siswa, yang harus dikembangkan, diterima dan dilafalkan, dan dilatihkan. 10. Dalam pembelajaran kontekstual, siswa menggunakan kemampuan berpikir kritis, terlibat penuh dalam pengupayakan terjadinya proses pembelajaran yang efektif, ikut bertanggungjawab atas terjadinya proses pembelajaran yang efektif, dan membawa skemata masing-masing ke dalam proses

262

pembelajaran sedangkan dalam pembelajaran tradisional siswa secara pasif menrima rumus atau kaidah (membaca, mendengarkan, mencatat, menghapal), tampa memberikan kontribusi ide dalam proses pembelajaran. 11. Dalam pembelajaran kontekstual, pengetahuan yang dimiliki oleh manusia dikembangkan oleh manusia itu sendiri. Manusia menciptakan atau membangun pengetahuan dengan cara memberi arti dan memahami pengalamannya sedangkan dalam pembelajaran tradisional pengetahuan adalah penangkapan terhadap serangkaian fakta, konsep, atau hukum yang brada di luar diri manusia. G. Evaluasi Otentik Sebagai Ciri Penilaian Pembelajaran Kontekstual Pembelajaran kontekstual menuntut evaluasi yang bersifat komprehensif, menyeluruh dan terus menerus, karena dilakukan oleh guru kontekstual sepanjang proses pembelajaran. Setiap saat terjadi perubahan dan perkembangan pada para siswa. Perubahan dan perkembangan bidang atau aspek tertentu mungkin sangat banyak/tinggi, tetapi pada bidang atau aspek lainnya sedikit, sedikit sekali atau bahkan hampir tidak ada. Perubahan atau perkembangan tersebut mungkin berkenaan dengan aspek yang menjadi tujuan atau terumuskan dalam tujuan pembelajaran. Evaluasi dilakukan pada waktu para siswa merencanakan sesuatu kegiatan, melaksanakan maupun melaporkan hasil kegiatannya. Evaluasi juga dilakukan pada waktu siswa berdiskusi, mengerjakan tugas, melakukan latihan, percobaan, pengamatan, penelitian, pemecahan masalah, dan penyelesaian soal. Bagaimana siswa melakukan berbagai kegiatan tersebut serta hasil-hasil yang mereka tunjukkan, baik berupa rancangan, makalah, laporan, rangkuman, gambar, model, ataupun hasil pemecahan dan jawaban soal, merupakan wujud dari perkembangan dan kemampuan hasil belajar mereka. Evaluasi terhadap proses pembelajaran dan hasil karya merupakan evaluasi otentik, evaluasi kenyataan, karena mengevaluasi apa yang secara nyata dilakukan dan dihasilkan oleh para siswa. Hal ini tidak berarti, bahwa evaluasi dengan menggunakan tes tidak bisa digunakan, karena evaluasi dengan menggunakan tes, mengukur hasil pembelajaran pada akhir periode, akhir semester, tengah semester atau akhir unit. Makin pendek periode waktu pembelajaran yang dievaluasi, maka makin mendekati evaluasi otentik. Dalam evaluasi hasil pembelajaran, biasanya hanya digunakan tes, berbentuk tes obyektif atau essay, maka dalam evaluasi proses juga digunakan evaluasi perbuatan (pengamatan), lisan, hasil karya dan portfolio. Portfolio merupakan kumpulan dokumen yang disusun secara sistematik dan terarah yang menggambarkan perkembangan atau kemajuan siswa dalam bidang tertentu. H. Penerapan Pembelajaran Kontekstual di Kelas Ada tujuh komponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan pembelajaran kontekstual dikelas. Ketujuh komponen itu adalah konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling) refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment) 1. Konstruktivisme (Constructivism) Konstruktivisme merupakan landasan berpikir pendekatan kontekstual, yaitu pengetahuan dibangun sedikit demi sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak dengan tiba-tiba. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap 263

untuk diambil dan diingat. Tetapi siswa harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide, yaitu siswa harus mengkontruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri. Esensi dari teori kontruksivisme adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan mentransfomasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki informasi itu menjadi milik mereka sendiri. Dengan dasar ini pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkontruksi bukan menerima pengetahuan. Landasan berpikir konstruktivisme agak berbeda dengan kaum objektif, yang lebih menekankan pada hasil pembelajaran. Dalam pandangan konstruktivisme, strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan : (1) menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa; (2) memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri; dan (3) menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar. 2. Bertanya (questioning) Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermula dari bertanya karena bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang produkstif, kegiatan bertanya berguna untuk: (1) menggali informasi baik administrasi maupun akademik; (2) mengecek pemahaman siswa; (3) membangkitkan respon pada siswa; (4) mengetahui sejauh mana keingin tahuan siswa; (5) mengetahui halhal yang sudah diketahui siswa; (6) memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru; (7) untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa; (8) untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa. Pada semua aktivitas belajar, questioning dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, antara guru dan siswa, antara siswa dengan guru, antara siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas dan sebagainya. 3. Menemukan (inquiry) Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hanya hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi juga hasil dari menemukan sendiri. Siklus inquiry adalah (1) observasi, (2) bertanya, (3) mengajukan dugaan, (4) pengumpulan data, (5) penyimpulan. Kata kunci dari strategi inquiry adalah siswa menemukan sendiri, adapun langkah-langkah kegiatan menemukan sendiri adalah: (1) merumuskan masalah dalam mata pelajaran apapun; (2) mengamati atau melakukan observasi; (3) menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar,laporan, bagan tabel, dan karya lainnya; dan (4) mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman kelas, guru, atau audience lainnya. 4. Masyarakat Belajar (learning community) Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Hasil belajar didapat dari berbagi antara kawan, kelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu. Di ruang kelas ini, di sekitar sini, juga dengan orang-orang yang diluar sana semua adalah anggota masyarakat belajar. Dalam kelas yang menggunakan pendekatan kontekstual, guru disarankan dalam melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang 264

anggotanya heterogen. Yang pandai mengajari yang lemah, yang tahu memberitahu yang belum tahu, yang cepat menangkap mendorong temannya yang lambat, yang mempunyai gagasan segera memberikan usul dan seterusnya. Kelompok siswa bisa sangat bervariasi bentuknya, baik keanggotaan, jumlah, bahkan bisa melibatkan siswa di dalam kelas atasnya, atau guru mengadakan kolaborasi dengan mendatangkan seorang ahli ke kelas. 5. Permodelan (modelling) Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Model itu, memberi peluang yang besar bagi guru untuk memberi contoh cara mngerjakan sesuatu, dengan begitu guru memberi model tentang bagaimana belajar. Dalam pendekatan kontekstual guru bukan satusatunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa, seorang siswa dapat ditunjuk untuk memberikan contoh temannya, misalnya cara melafalkan suatu kata. siswa contoh tersebut dikatakan sebagai model, siswa lain dapat menggunakan model tersebut sebagai standar kompetensi yang harus dicapai. 6. Refleksi (reflection) Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan dalam hal belajar di masa lalu. Siswa mengendapkan apa yang dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelummnya. Refleksi merupakan respons terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima. 7. Penilaian Sebenarnya (authentic assessment) Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran yang benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, maka guru segera bisa mengambil tindakan yang tepat agar siswa terbebas dari kemacetan belajar. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan disepanjang proses pembelajaran, maka penilaian tidak dilakukan diakhir periode seperti akhir semester. Kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan melalui hasil, dan dengan berbagai cara. Tes hanyalah salah satunya, itulah hakekat penilaian yang sebenarnya. Penilai tidak hanya guru, tetapi bisa juga teman lain atau orang lain. Karakteristik penilaian sebenarnya adalah (1) dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung; (2) bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif; (3) yang diukur keterampilan dan performasi, bukan hanya mengingat fakta; (4) berkesinambungan; (5) terintegrasi; (6) dapat dipergunakan sebagai feed back. Dengan demikian pembelajaran yang benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn) sesuatu, bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi diakhir periode pembelajaran. Berikan contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berbasis CTL pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMA

265

I. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan PAIKEM a. Memahami sifat yang dimiliki anak Pada dasarnya anak memiliki sifat: rasa ingin tahu dan berimajinasi. Anak desa, anak kota, anak orang kaya, anak orang miskin, anak Indonesia, atau anak bukan Indonesia selama mereka normal terlahir memiliki kedua sifat itu. Kedua sifat tersebut merupakan modal dasar bagi berkembangnya sikap/berpikir kritis dan kreatif. Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu lahan yang harus kita olah sehingga subur bagi berkembangnya kedua sifat, anugerah Tuhan, tersebut. Suasana pembelajaran dimana guru memuji anak karena hasil karyanya, guru mengajukan pertanyaan yang menantang, dan guru yang mendorong anak untuk melakukan percobaan, misalnya, merupakan pembelajaran yang subur seperti yang dimaksud b. Mengenal anak secara perorangan Para siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan memiliki kemampuan yang berbeda. Dalam PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Efektif dan Menyenangkan) perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus tercermin dalam kegiatan pembelajaran. Semua anak dalam kelas tidak selalu mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan berbeda sesuai dengan kecepatan belajarnya. Anak-anak yang memiliki kemampuan lebih dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang lemah (tutor sebaya). Dengan mengenal kemampuan anak, kita dapat membantunya bila mendapat kesulitan sehingga belajar anak tersebut menjadi optimal. c. Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar Sebagai makhluk sosial, anak sejak kecil secara alami bermain berpasangan atau berkelompok dalam bermain. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam pengorganisasian belajar. Dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu, anak dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok. Berdasarkan pengalaman, anak akan menyelesaikan tugas dengan baik bila mereka duduk berkelompok. Duduk seperti ini memudahkan mereka untuk berinteraksi dan bertukar pikiran. Namun demikian, anak perlu juga menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat individunya berkembang d. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah Pada dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Hal ini memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisis masalah; dan kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Kedua jenis berpikir tersebut, kritis dan kreatif, berasal dari rasa ingin tahu dan imajinasi yang keduanya ada pada diri anak sejak lahir. Oleh karena itu, tugas guru adalah mengembangkannya, antara lain dengan sering-sering memberikan tugas atau mengajukan pertanyaan yang terbuka. Pertanyaan yang dimulai dengan kata-kata Apa yang terjadi jika lebih baik daripada yang dimulai dengan kata-kata Apa, berapa, kapan, yang umumnya tertutup (jawaban betul hanya satu). e. Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik Ruang kelas yang menarik merupakan hal yang sangat disarankan dalam PAIKEM. Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas seperti itu. Selain itu, hasil pekerjaan yang dipajangkan diharapkan memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. Yang dipajangkan dapat berupa hasil kerja perorangan, berpasangan, atau kelompok. Pajangan dapat berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan, dan sebagainya. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan siswa, dan ditata dengan baik, dapat membantu guru dalam pembelajaran karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah. 266

f.

Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar Lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) merupakan sumber yang sangat kaya untuk bahan belajar anak. Lingkungan dapat berperan sebagai media belajar, tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar). Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar sering membuat anak merasa senang dalam belajar. Belajar dengan menggunakan lingkungan tidak selalu harus keluar kelas. Bahan dari lingkungan dapat dibawa ke ruang kelas untuk menghemat biaya dan waktu. Pemanfaatan lingkungan dapat mengembangkan sejumlah keterampilan seperti mengamati (dengan seluruh indera), mencatat, merumuskan pertanyaan, berhipotesis, mengklasifikasi, membuat tulisan, dan membuat gambar/diagram g. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar Mutu hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi dalam belajar. Pemberian umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk interaksi antara guru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap kekuatan daripada kelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun harus secara santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaan siswa dan memberikan komentar dan catatan. Catatan guru berkaitan dengan pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa daripada hanya sekedar angka h. Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental Banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa kelihatan sibuk bekerja dan bergerak. Apalagi jika bangku dan meja diatur berkelompok serta siswa duduk saling berhadapan. Keadaan tersebut bukanlah ciri yang sebenarnya dari PAIKEM. Aktif mental lebih diinginkan daripada aktif fisik. Sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan merupakan tanda-tanda aktif mental. Syarat berkembangnya aktif mental adalah tumbuhnya perasaan tidak takut: takut ditertawakan, takut disepelekan, atau takut dimarahi jika salah. Oleh karena itu, guru hendaknya menghilangkan penyebab rasa takut tersebut, baik yang datang dari guru itu sendiri maupun dari temannya. Berkembangnya rasa takut sangat bertentangan dengan PAIKEM (Agustina, 2008). J. Mengapa PAIKEM perlu diterapkan? Salah satu yang dapat dilakukan guru adalah mengajar dengan pembelajaran yang aktif inovatif kreatif dan menyenangkan (PAIKEM). Banyak metode mengajar yang dapat di paikemkan sebenarnya. Terserah gurunya mengajar dengan model, metode, strategi apa, tapi dalam melaksanakan di kelas guru melakukannya dengan paikem. Di era globalisasi sekarang mestinya guru dapat mengajar dengan lebih menyenangkan, dan tidak zamannya guru mengajar jaim dan jumawa, sok menjaga wibawa, memperlihatkan performance sedemikian rupa sehingga siswa akan sangat segan (baca:takut) kepadanya, (jangankan menegur dengan sopan melirik saja mungkin siswa tidak berani), saya pikir sekarang siswa justru lebih menghargai kepada guru yang bersahabat, ramah, dan tentu saja akan lebih sangat dihargai lagi jika guru tersebut cerdas dalam bidangnya dan cerdas dalam mengelola kelas. Bagaimana caranya guru bisa membuat siswa tertarik untuk belajar dengannya dan akan rindu/menanti nanti datangnya jam belajar pelajaran itu lagi. Tidak malah sebaliknya siswa akan sakit perut jika mengingat akan bertemu dengan pelajaran dan guru tersebut Pada dasarnya belajar mengajar merupakan suatu proses yang rumit karena tidak sekedar menyerap informasi dari guru, tetapi melibatkan berbagai kegiatan maupun tindakan yang harus dilakukan, bila menginginkan hasil belajar 267

yang lebih baik. Belajar pada intinya tertumpu pada kegiatan memberi kemungkinan kepada siswa agar terjadi proses belajar yang efektif agar dapat mencapai hasil yang sesuai tujuan. Dalam sejarah pendidikan di negara kita, dalam kurun waktu yang lama pendidikan digunakan penguasa untuk melestarikan sistem dan nilai yang menguntungkan mereka. Cukup lama siswa dibuat menjadi korban untuk menjadi yes people, manusia penurut. Dalam filsafat klasik itu, siswa dianggap orang yang belum tahu apa-apa dan mereka harus diberitahu oleh guru. Dampaknya sistem pembelajaran lebih menekankan guru yang aktif dan siswa pasif menerima (Suparno, 1997). Sebaliknya menurut filsafat kontruktivisme, pengetahuan itu merupakan bentukan siswa yang sedang belajar. Dalam hal ini guru tidak dapat memaksakan pengetahuannya kepada siswa. Pembelajaran lebih menekankan pada bagaimana membantu siswa aktif mengkonstruksi pengetahuan mereka dan bukan bagaimana memaksa siswa menerima segala sesuatu yanag diinformasikan oleh guru. Dalam pendekatan ini, yang penting bagaimana siswa menggeluti bahan, mengolah, menganalisis, dan merumuskannya. Pendekatan seperti ini disebut pendekatan ketrampilan proses dengan prinsip student active learning. Dalam hal ini Slavin (1994) menyebutkan bahwa Learning is much more than memory for student to really understand and be able to apply knowledge. They must work to solve problems, to discover things for themselves, to wrestle with ideas. Menurut teori ini dalam belajar siswa tidak hanya menghafal tapi harus memahami (Agustina, 2008). J. Penerapan PAIKEM dalam Proses Pembelajaran Menurut Ramadhan (2008), secara garis besar, penerapan PAIKEM dalam pembelajaran dapat digambarkan sebagai berikut: a. Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat. b. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa. c. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan pojok baca d. Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok. e. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya. PAIKEM diperlihatkan dengan berbagai kegiatan yang terjadi selama KBM. Pada saat yang sama, gambaran tersebut menunjukkan kemampuan yang perlu dikuasai guru untuk menciptakan keadaan tersebut. Berikut adalah tabel beberapa contoh kegiatan KBM dan kemampuan guru yang besesuaian. Kemampuan Guru Guru merancang dan mengelola KBM yang mendorong siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran Kegiatan Belajar Mengajar Guru melaksanakan KBM dalam kegiatan yang beragam, misalnya: Percobaan Diskusi kelompok Memecahkan masalah Mencari informasi

268

Guru menggunakan alat bantu dan sumber yang beragam.

Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan

Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasannya sendiri secara lisan atau tulisan Guru menyesuaikan bahan dan kegiatan belajar dengan kemampuan siswa

Guru mengaitkan KBM dengan pengalaman siswa sehari-hari.

Menilai KBM dan kemajuan belajar siswa secara terusmenerus

Menulis laporan/cerita/puisi Berkunjung keluar kelas Sesuai mata pelajaran, guru menggunakan, misalnya: Alat yang tersedia atau yang dibuat sendiri Gambar Studi kasus Nara sumber Lingkungan Siswa: Melakukan percobaan, pengamatan, atau wawancara Mengumpulkan data/jawaban dan mengolahnya sendiri Menarik kesimpulan Memecahkan masalah, mencari rumus sendiri. Menulis laporan hasil karya lain dengan kata-kata sendiri. Melalui: Diskusi Lebih banyak pertanyaan terbuka Hasil karya yang merupakan anak sendiri Siswa dikelompokkan sesuai dengan kemampuan (untuk kegiatan tertentu) Bahan pelajaran disesuaikan dengan kemampuan kelompok tersebut. Siswa diberi tugas perbaikan atau pengayaan. Siswa menceritakan atau memanfaatkan pengalamannya sendiri. Siswa menerapkan hal yang dipelajari dalam kegiatan sehari-hari Guru memantau kerja siswa. Guru memberikan umpan balik.

Pendekatan pembelajaran PAIKEM dapat membawa angin perubahan dalam pembelajaran, yaitu: a. Guru dan murid sama-sama aktif dan terjadi interaksi timbal balik antara keduanya. Guru dalam pembelajaran tidak hanya berperan sebagai pengajar dan pendidik juga berperan sebagai fasilitator. b. Guru dan murid dapat mengembangkan kreativitas dalam pembelajaran. Guru dapat mengembangkan kreativitasnya dalam hal: teknik pengajaran, penggunaan

269

multimetode, pemakaian media, dan guru dapat berperan sebagai mediator bagi murid-muridnya. c. Murid merasa senang dan nyaman dalam pembelajaran, tidak merasa tertekan sehingga proses berpikir anak akan berjalan normal. d. Munculnya pembahasan dalam pembelajaran di kelas. PUSTAKA RUJUKAN Ahmadi, Iif khori dan Amri, Sofan. 2011. Paikem Gembrot, Mengembangkan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif Efektif, dan Menyenangkan Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher. ______. 2010. Proses Pembelajaran Kreatif dan Inovatif dalam Kelas. Jakarta: PT.Prestasi Raya Pustakaraya. Ahmad Ma'sum, Indikator Pembelajaran Paikem, (http:www.smk3_banjarbaru@blogspot.com, diakses 8 Maret 2011) Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek: Edisi Revisi V. Jakarta: Rineka Cipta. Asy-syalhub, Fuad bin abdul aziz. 2010. Begini seharusnya menjadi guru. Jakarta: Darul Haq Dede Ajiz Kamaluddin, Aliran-aliran dalam pendidikan Islam, (Zizakamal.blogspot.com, diakses 5juni 2011) Departemen Agama, 2006. Kurikulum Satuan Pendidikan Modul Madrasah Aliyah. Djohar. 2003. Pendidikan Strategik Alternatif Untuk Pendidikan Masa Depan. Yogyakarta: Lesfi. Ghuddah, Abd Al-Fattah. 1997. 40 Strategi Pembelajaran Rasulullah. Beirut: Dar alBasyair al-Islamyah Hadi, Sutrisno. 1986. Metodologi Research. Yogyakarta: Andi ______. 2000. Metodologi Research II. Yogyakarta: Andi Offset. Hamalik, Oemar. 2008. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksarahlm. Agustina, Rahmi. 2008. Mensiasati Injury time Dengan Pembelajaran PAIKEM. http://cittiami.blogspot.com/2008/04/mensiasati-injury-time-dengan.html. Hamalik, Oemar. 1990. Metode Belajar dan Kesulitan-Kesulitan Belajar. Bandung: Tarsito Herman, 2008. Menjadi guru favorit Pilihan Siswa. http://hlasrinkosgorobogor .wordpress.com/2008/11/07/menjadi-guru-favorit-pilihan-siswa/. Khoiri. 2008. Pembelajaran Kreatif dengan Peraga. http://www.indopos.co.id/ index.php?act=detail_c&id=325101. Pararaja, Arifin. 2008. Metodologi PAKEM. http://smk3ae.wordpress.com/ 2008/06/26/metodologi-pakem/. Diakses tanggal 8 Februari 2009. Nasution. S. 2005. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara. Ramadhan, A. Tarmizi. 2008. Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan.http://tarmizi.wordpress.com/2008/11/11/pembelajaran-aktifinovatif-kreatif-efektif-dan-menyenangkan/. Uno, B. Hamzah. 2006. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara

270

271

BAB X EVALUASI PEMBELAJARAN KONSEP DASAR ASESMEN PEMBELAJARAN


A. Tujuan Pembelajaran Peserta PLPG diharapkan dapat mendeskripsikan hal-hal berikut. 1. Menjelaskan hakikat asesmen, pengukuran, penilaian, dan tes. 2. Menjelaskan perbedaan antara asesmen, pengukuran, penilaian, dan tes. C. Uraian Materi 1. Pengertian Asesmen, Pengukuran, Penilaian, dan Tes a. Asesmen Secara umum asesmen berarti sebagai proses untuk mendapatkan informasi dalam bentuk apapun yang dapat digunakan untuk dasar pengambilan keputusan tentang siswa baik yang menyangkut kurikulumnya, program pembelajarannya, iklim sekolah maupun kebijakan-kebijakan sekolah. Secara sederhana, asesmen dapat berarti sebagai proses pengukuran dan nonpengukuran untuk memperoleh data karakteristik siswa dengan aturan tertentu. Dalam pelaksanaan asesmen pemebelajaran, guru akan dihadapkan tiga sistilah yang sering digunakan secara bersama-sama yaitu istilah pengukuran, penilaian, dan tes. b. Pengukuran Secara sederhana, pengukuran dapat diartikan sebagai kegiatan atau upaya yang dilakukan untuk memberikan angka-angka pada suatu gejala, peristiwa, atau benda sehingga hasil pengukuran akan selalu berupa angka. Dalam proses pembelajaran guru juga melakukan pengukuran terhadap proses dan hasil pembelajaran yang hasilnya berupa angka-angka yang mencerminkan capaian, proses dan hasil belajar. Misal, angka 40, 55, dan 75 yang diperoleh dari hasil pengukuran proses dan hasil pembelajaran tersebut bersifat kuantitatif dan belum dapat memberikan makna apa-apa, karena belum menyatakan tinngkat kualitas dari apa yang diukur. Angka hasil pengukuran ini disebut skor mentah. Angka hasil pengukuran baru mempunyai makna apabila dibandingkan dengan criteria atau patokan tertentu. c. Penilaian Penilaian adalah proses pemberian makna atau penetapan kualitas hasil pengukuran dengan cara membandingkan angka hasil pengukuran tersebut dengan criteria tertentu. Hasil penilaian dalam pembelajaran disebut nilai. Kriteria sebagai pembanding dari proses dan hasil pembelajaran tersebut dapat ditentukan sebelum proses pengukuran atau dapat pula ditetapkan sesudah pelaksanaan pengukuran. Kriteria ini dapat berupa proses atau kemampuan minimal yang dipersyaratkan, atau batas keberhasilan, dapat pula berupa kemampuan rata-rata unjuk kerja kelompok dan berbagai patokan yang lain. Kriteria yang berupa batas kriteria minimal yang telah ditetapkan sebelum pengukuran dan bersifat mutlak disebut Penilaian Acuan Patokan atau Penilaian Acauan Kriteria (PAP/PAK). Contoh penentuan patokan dengan penghitungan persentase untuk skala lima sebagai berikut. Interval Persentase Tingkat Penguasaan Nilai Ubah Skala Lima 0-4 EA Keterangan

272

85 % - 100 % 75 % - 84 % 60 % - 74 % 40 % - 59 % 0 % - 39 %

4 3 2 1 0

A B C D E

Baik Sekali Baik Cukup Kurang Gagal

Contoh penentuan patokan dengan penghitungan persentase untuk skala sepuluh sebagai berikut. Interval Persentase Tingkat Penguasaan 96 % - 100 % 86 % - 95 % 76 % - 85 % 66 % - 75 % 56 % - 65 % 46 % - 55 % 36 % - 45 % 26 % - 35 % 16 % - 25 % 0 % - 15 % Nilai Ubah Skala Sepuluh 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 Keterangan Sempurna Baik sekali Baik Cukup Sedang Hampir sedang Kurang Kurang sekali Buruk Buruk sekali

Kriteria yang ditentukan setelah kegiatan pengukuran dilakukan dan didasarkan pada keadaan kelompok dan bersifat relatif disebut Penilaian Acuan Norma atau Penilaian Acuan relative (PAN/PAR). Contoh penentuan patokan dengan penghitungan konversi skala lima dalam PAN. Skala Sigma Skala Angka Skala Lima E-A 04 A 4 + 1,5 M + 1,5 SD B 3 + 0,5 M + 0,5 SD C 2 - 0,5 M - 0,5 SD D 1 - 1,5 M - 0,5 SD E 0 Contoh penentuan patokan dengan penghitungan konversi skala sepuluh dalam PAN. Skala sigma + 2,25 + 1,75 + 1,25 + 0,75 + 0,25 + 0,25 + 0,75 + 1,25 + 1,75 Skala angka M + 2,25 S M + 1,75 S M + 1,25 S M + 0,75 S M + 0,25 S M + 0,75 S M + 0,75 S M + 1,25 S M + 1,75 S Skala 1-10 10 9 8 7 6 5 4 3 2

273

+ 2,25 d. Tes

M + 2,25 S

Tes adalah seperangkat tugas yang dikerjakan atau sejumlah pertanyaan yang harus dijawab oleh peserta didik untuk mengukur tingkat pemahaman dan penguasaannya terhadap cakupan materi yang dipersyaratkan dan sesuai dengan tujuan pengajaran tertentu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya tes merupakan alat ukur yang sering digunakan dalam asesmen pembelajaran disamping alat ukur yang lain. Dalam melaksanakan proses asesmen pembelajaran, guru selalu berhadapan dengan konsep-konsep evaluasi, pengukuran, dan tes yang dalam penerapannya sering dilakukan secara simultan. Sebab itu, dalam praktik ketiganya sering tidak dirasakan pemisahannya, karena melakukan asesmen berarti telah pula melakukan ketiganya. Waktu melakukan asesmen guru pasti telah menciptakan alat ukur berupa tes maupun nontes seperti soal-soal ujian, observasi proses pembelajaran dan sebagainya. Melakukan pengukuran, yaitu mengukur atau memberi angka terhadap proses pembelajaran atau pekerjaan siswa sebagai hasil yang merupakan cerminan tingkat penguasaan terhadap materi yang dipersyaratkan, kemudian membandingkan angka tersebut dengan kriteria tertentu yang berupa batas penguasaan minimum ataupun berupa kemampuan umum kelompok, sehingga munculah nilai yang mencerminkan kualitas proses dan hasil pembelajaran. Akhirnya diambilah keputusan oleh guru tentang kualitas proses dan hasil belajar. D. Rangkuman Asesmen merupakan kegiatan untuk mengungkapkan kualitas proses dan hasil pembelajaran. Banyak yang mencampuradukkan pengertian antara evaluasi, penilaian, pengukuran, dan tes, padahal kesemuanya memiliki pengertian dan fungsi yang berbeda. Evaluasi adalah kegiatan mengidentifikasi untuk melihat apakah suatu program yang telah direncanakan telah tercapai atau belum, berharga atau tidak, dan dapat pula untuk melihat tingkat efisiensi pelaksanaannya. Evaluasi berhubungan dengan keputusan nilai. Penilaian adalah penerapan berbagai cara penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar siswa atau ketercapaian kompetensi siswa. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang siswa. Pengukuran adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh deskrikpsi numerik dari suatu tingkatan dimana seorang anak telah mencapai karakteristik tertentu. Hasil pengukuran bisa berupa nilai kualitatif dan nilai kuantitatif. Tes adalah seperangkat tugas yang dikerjakan atau sejumlah pertanyaan yang harus dijawab oleh peserta didik untuk mengukur tingkat pemahaman dan penguasaannya terhadap cakupan materi yang dipersyaratkan dan sesuai dengan tujuan pengajaran tertentu. E. Latihan Soal Jawablah pertanyaan berikut secara singkat dan jelas! 1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan asesmen! 2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan pengukuran! 3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan penilaian! 4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan tes! 5. Jelaskan letak perbedaan antara asesmen, pengukuran, penilaian, dan tes! 6. Berikan contoh asesmen, pengukuran, penilaian, dan tes! 7. Jelaskan letak perbedaan antara skor dan nilai!

274

FUNGSI, PRINSIP, JENIS DAN TEKNIK PENILAIAN PEMBELAJARAN Standar Kompetensi Standar Kompetensi yang harus dikuasai peserta PLPG adalah dapat memahami konsep dasar penilaian pembelajaran, yang selanjutnya dapat menerapkan dalam melaksanakan penilaian pembelajaran dari mata pelajaran yang diampu terhadap siswa yang mengikuti proses pembelajaran. B. Kompetensi Dasar Kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai melalui pembahasan kegiatan belajar ini dideskripsikan sebagai berikut. 1. Menjelaskan konsep dasar penilaian pembelajaran. 2. Menerapkan dalam melaksanakan penilaian pembelajaran dari mata pelajaran yang diampu terhadap siswa yang mengikuti proses pembelajaran. C. Uraian Materi 1. Fungsi Penilaian dalam pendidikan Fungsi Penilaian dalam bidang pendidikan dan pembelajaran mempunyai fungsi sebagai berikut : a. Untuk mengetahui taraf kesiapan dari peserta didik untuk menempuh suatu pendidikan tertentu. b. Untuk mengetahui seberapa jauh hasil yang telah dicapai dalam proses pendidikan/pembelajaran atau pencapaian kompetensi yang diharapkan. c. Untuk mengetahui kegiatan belajar mengajar dapat dilanjutkan dengan bahan atau materi selanjutnya, ataukah harus mengulang kembali pada kegiatan belajar tersebut. d. Untuk keperluan bimbingan dan konseling. Hasil penilaian/ evaluasi dapat dijadikan informasi atau data bagi guru pembimbing dalam membuat diagnosa siswa, untuk mengetahui dalam hal apa siswa memerlukan bimbingan, sebagai dasar menagani kasu-kasus tertentu siswa, serta sebagai acuan dalam melayani kebutuhan siswa dalam bimbingan karir. e. Untuk menentukan kelulusan peserta didik pada jenjang pendidikannya. f. Untuk keperluan pengembangan kurikulum dan perbaikan kurikulum sekolah yang bersangkutan. Dalam hal ini materi kurikulumyang dianggap sudah tidak relevan dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat perlu diganti dengan materi yang lebih sesuai. 2. Prinsip-prinsip Penilaian Pembelajaran Untuk dapat melakukan penilaian pembelajaran secara efektif, maka perlu diperhatikan prinsip-prinsip penilaian/ evaluasi pembelajaran yang dapat dijadikan dasar dalam pengembilan keputusan. Adapun prinsip-prinsip tersebut terdiri dari prinsip umum dan prinsip-prinsip evaluasi lainnya yaitu : Prinsip umum dalam kegiatan evaluasi pembelajaran yaitu adanya triangulasi atau hubungan yang erat antara 3 komponen yaitu hubungan erat antara : a. Tujuan pembelajaran b. Kegiatan Pembelajaran c. Evaluasi/penilaian A.

275

Tujuan a b

Kegiatan Pembelajaran

Evaluasi/penilaian

1) Hubungan antara tujuan dengan Kegiatan pembelajaran; kegiatan pembelajaran yang dirancang dalam bentuk rencana pelaksanaan pembelajaran disusun oleh guru dengan mengacu pada tujuan yang hendak dicapai. Kegiatan pembelajaran mengacu pada tujuan dan langkah dari tujuan dilanjutkan pemikirannya ke kegiatan pembelajaran 2) Hubungan antara tujuan dengan evaluasi; evaluasi adalah kegiatan pengumpulan data untuk mengukur sejauhmana tujuan sudah tercapai, selain itu langkah dalam menyusun alat evaluasi mengacu pada tujuan yang sudah dirumuskan. 3) Hubungan antara kegiatan pembelajaran dengan evaluasi; menunjukan bahwa evaluasi harus mengacu pada kegiatan pembelajaran, di sisi lain dan evaluasi merupakan pengukur kegiatan pembelajaran. Adapun prinsi-prinsip lain yang perlu diperhatikan dari penilaian/evaluasi pembelajaran di antaranya : a. Mendidik ; mampu memberikan sumbangan positif terhadap peningkatan pencapaian belajar peserta didik sehingga hasil penilaian harus dapat memberikan umpan balik dan motivasi peserta didik untuk lebih giat belajar. b. Terbuka; prosedur dan kriteria penilaian serta dasar pengambilan keputusan diketahui oleh pihak yang terkait. c. Menyeluruh; penilaian meliputi berbagai aspek kompetensi yang akan dinilai, yang meliputi aspek kognitif, afektif dan dan psikomotor yang direfleksikan dalam kegiatan berpikir dan bertindak. d. Terpadu; menilai apapun yang dilakukan peserta didik dalam kegiatan belajar, artinya penilaian tidak hanya pada akhir kegiatan atau pada salah satu pokok bahasan tetapi bersifat menyeluruh atau komprehensif e. Obyektif; tidak terpengaruh oleh pertimbangan subyektif penilai. f. Sistematis; penilaian dilakukan secara berencana, bertahap, teratur dan terarah. g. Berkesinambungan; penilaian dilakukan secara terus menerus sepanjang berlangsungnyakegiatan pembelajaran. h. Adil; tidak ada peserta didik yang diuntungkan atau dirugikan berdasarkan latar belakang sosial, ekonomi, budaya, agama, bahasa, warna kulit dan jender. i. Menggunakan acuan atau kriteria tertentu dalam menentukan prestasi peserta didik. 3. Jenis dan Teknik Penilaian Pembelajaran a. Jenis Penilaian. Jenis penilaian pembelajaran yang dilakukan dapat dibedakan dalam: 1) Penilaian formatif; berasal dari arti kata form yang merupakan dasar dari istilah formatif, maka penilaian formatif dimaksudkan untuk 276

b.

a)

mengetahui sejauhmana siswa telah terbentuk setelah, mengikuti suatu program tertentu, misalnya telah mengikuti pembelajaran satu kompetensi dasar) Hasil penilaian formatif dapat bermakna sebagai reinforcemet, feedback dan sebagai alat diagnosis pembelajaran. 2) Penilaian Sumatif; berbeda dengan penilaian formatif, penilaian sumatif merupakan adalah penilaian terhadap peserta didik setelah mengikuti atau berakhirnya pemberian beberapa program atau sebuah program yang lebih besar, misalnya penilaian yang dilakukan untuk satu standar kompetensi. Penilaian sumatif dapat bermakna sebagai penialian prediksi dan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kenaikan kelas/kelulusan pesert didik. 3) Penilaian diagnostik; adalah penilaian yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan yang dihadapi peserta didik, sehingga berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut dapat dilakukan pemberian perlakuan yang tepat. 4) Penilaian penempatan; penilaian yang dilakukan untuk terhadap pribadi peserta didik untuk kepentingan penempatan dalam progrsm prembelajaran ysng sesuai, misalnya untuk kepentingan penjurusan. Teknik Penilaian Pembelajaran Dalam melaksanakan penialian pembelajaran dikenal dua cara atau teknik yaitu teknik non-tes dan tes. 1) Teknik non-tes ; yang termasuk teknik non-tes adalah skala bertingkat (rating scale), questionair, daftar cocok (check list), wawancara (interview), pengamatan (observation), riwayat hidup 2) Tenik tes; pengertian tes adalah alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan. Pengertian lain yang dikemukakan oleh Webster Collegiate, pengertian tes adalah seperangkat pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Sebuah tes dapat dikatakan sebagai alat atau teknik penialaian pembelajaran yang baik apabila memilki syarat-syarat sebagi tes yang baik yaitu memiliki : a) Validitas; artinya tes dapat tepat mengukur apa yang harus diukur, misalnya untuk mengukur partisipasi siswa diukur dengan tingkat kehadiran, tingkat perhatian dan ketepatan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru dan bukan dengan nilai yang diperoleh waktu ulangan, sebab nilai ulangan hanya menggambarkan prestasi dan bukan menggambarkan partisipasi. b) Realibilitas; tes yang reliabel adalah tes yang hasilnya relatif tetap walaupun dilakukan berkali-kali. c) Obyektivitas; tes dikatakan obyektif apabila dalam melaksanakan tes tidak ada faktor subyektif yang mempengaruhi. d) Praktikabilitas; tes dikatakan praktis jika mudah pelaksanaan dan pemeriksaannya serta mudah pengadministrasiannya e) Ekonomis; tes yang ekonomis adalah tes yang pelaksanaanya tidak membutuhkan, biaya, tenaga besaar dan waktu yang lama. Teknik tes yang biasanya digunakan dalam penilaian pembelajaran meliputi : Tes tertulis; adalah tes yang soal-soal dan jawaban harus dijawab oleh peserta didik secara tertulis. Tes tertulis ini biasanya dikelompokan menjadi 2 bentuk tes tertulis yaitu : 277

(1) Tes obyektif, bentuknya benar-salah, pilihan ganda, menjodohkan, dan isian pendek. (2) Tes subyektif; pada umumnya berbentuk uraian (esai) yaitu sejenis tes kemajuan belajar yang memerlukan jawaban yang bersifat pembahasan atau uraian kata-kata. Dalam menyususn instrumen penilaian tertulis perlu dipertimbangkan hal-hal berikut yaitu : (a) Karakteristik mata pelajaran dan keluasan ruang lingkup materi yang akan diujikan; (b) materi harus sesuai dengan kegiatan pembelajaran; (c) Konstruksi tes harus sesuai dengan ranah tujuan; (d) Bahasa dalam soal harus menggunakan kalimat yang tidak ambigus. b) Tes lisan, yaitu tes yang pelaksanaannya berbeda dengan tes tertulis, karena dilakukan dengan mengadakan secara langsung tanya jawab antara guru dan peserta didik. Dibandingkan dengan tes tertulis, bentuk tes ini memiliki beberapa kelemahan diantaranya : tingkat subyektivitas penilai dan waktu pelaksanaannya relatif lama, sedangkan kelebihannya adalah secara langsung dapat menilai beberapa unsur baik kemampuan dan tingkat pengetahuan yang dimiliki siswa, maupun sikap dan kepribadiannya. Selain itu peserta didik yang belum memahami pertanyaan tes, dapat langsung meminta penjelasan dari penilai. Kelebihan lainnya adalah peserta didik dapat lengsung mengetahui hasil tes. c) Tes perbuatan, yaitu tes yang penugasannya disampaikan dalam bentuk lisan atau tertulis dan pelaksanaannya dinyatakan dengan perbuatan atau penampilan. Pelaksanaan tes perbuatan pada umumnya memerlukan sebuah format pengamatan atau penilaian yang dibuat sedemikian rupa sehingga penilai dapat menuliskan angka penilaian pada tempat yang sudah disediakan. C. Latihan Buatlah kelompok kecil sebanyak 3 orang dan susun rancangan instrumen penilaian untuk menilai penguasaan siswa terhadap satu Kompetensi Dasar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP/MTS./SMA/MA, dengan langkah-langkah menentukan : 1. Rumuskan indikator-indikator yang ada dalam kompetensi dasar tersebut ke dalam tujuan pembelajaran 2. Tentukan jenis penilaian pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran 3. Tentukan teknik penilaian yang tepat untuk tujuan pembelajaran tersebut. 4. Kemukakan alasan atau dasar pertimbangan dalam menentukan jenis dan teknik penilaian yang ditetapkan. D. Rangkuman Kegiatan penilaian tidak dapat dilepaskan dari tujuan-tujuan pembelajaran yang akan dicapai karena tujuan-tujuan pembelajaran tersebut merupakan acuan dan kriteria pokok dalam pelaksanaan evaluasi pembelajaran. Kegiatan penilaian pembelajaran merupakan suatu proses yang sistematis artinya bahwa evaluasi/penilaian pembelajaran merupakan suatu kegitan yang terencana dan dilakukan secara berkesinambungan. Dikatakan sebagai suatu proses karena penilaian/evaluasi pembelajaran atau kegiatan evaluasi dilakukan mulai dari awal, selama kegiatan berlangsung, dan pada akhir kegiatan. Dalam kegiatan penilaian pembelajaran diperlukan berbagai informasi baik menyangkut hasil pengukuran (ulangan), sikap, perilaku siswa, tugas-tugas dan

278

informasi lainnya yang dapat dijadikan dasar untuk mengambil keputusan dalam evaluasi pembelajaran. Untuk melaksanakan penilaian pembelajaran yang baik, hendaknya penilaian dilakukan atas dasar prinsip-prinsip penilaian, jenis dan teknik penilaian yang tepat dan memenuhi persyaratan sebuah tes yang baik yaitu memilki validitas, reliabilitas, obJektif, praktis dan ekonomis. Teknis tes meliputi tes lisan, tes tertulis dan tes perbuatan. Masing-masing teknis tes ini memiliki karakteristik yang menggambarkan kelebihan dan kelemahan masing-masing teknis tes.

279

PENILAIAN PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPETENSI A. Standar Kompetensi Memahami konsep penilaian pembelajaran berbasis kompetensi, prinsip dasar dan komponen-komponennya. B. Kompetensi Dasar Setelah mengikuti kegiatan belajar ini peserta mampu : 1. Menyimpulkan pengertian kompetensi 2. Menyimpulkan Kurikulum berbasis kompetensi 3. Menyimpulkan konsep pembelajaran kontekstual 4. Menjelaskan konsep sistem penilaian pembelajaran Berbasis Kompetensi 5. Menjelaskan dan menyebutkan prinsip dasar penilaian pembelajaran berbasis kompetensi 6. Menggambarkan alur pengembangan perangkat Sistem penilaian pembelajaran berbasis kompetensi 7. Mengenal jenis-jenis teknik penilaian dalam Sistem penilaian pembelajaran berbasis kompetensi Uraian Materi Pengertian kompetensi dan kurikulum Berbasis Kompetensi Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan maupun nilai-nilai yang dikuasai seseorang atau peserta didik yang direfleksikan dalam bentuk kemampuan bertidak secara tepat. Jika seseorang memiliki kemampuan berpikir dan bertindak secara tepat dan benar, maka orang tersebut mencerminkan orang yang berkompeten. Istilah kemampuan dalam pengertian kompetensi di atas dapat dipahami dalam dua aspek yaitu : (a) Aspek yang tampak; kompetensi dalam aspek yang tampak ini disebut performance yaitu penampilan dalam bentuk tingka laku yang dapat didemonstrasikan sehingga dapat diamati, dilihat dan dirasakan. Sebagai contoh, melalui pengamatan dapat dibedakan kompetensi seorang dukun pijet dengan seorang dokter, walaupun keduanya dalam satu bidang yaitu kesehatan. Akan tetapi tanpa harus belajar ilmu kedokteran seseorang mengetahui bahwa dokter lebih kompeten dari pada tukang pijet dalam hal penyembuhan seorang pasien; (b) Kompetensi yang tidak tampak disebut juga dengan istilah kompetensi dalam aspek rasional. Kompetensi dalam aspek ini tidak bisa diamati karena tidak tampil dalam perilaku empiris. Seorang dokter yang sedang tidak praktek dan tidak menggunakan atribut profesinya, tidak diketahui bahwa dia mempunyai kemampuan untuk melakukan terapi kesehatan. Kemampuan rasional ini dalam taksonomi Bloom dikenal sebagai kognitif, afektif dan psikomotorik. Kognitif berhubungan dengan kemampuan melakukan, afektif berhubungan dengan sosial-emosional dan psikomotorik berhubungan dengan keterampilan. Kurikulum berbasis kompetensi merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai peserta didik, penilaian dan kegiatan belajar mengajar serta pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah. Orientasi kurikulum berbasis kompetensi tergantung pada dua hal yaitu: 1. Hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui seperangkat pengalaman belajar yang bermakna. 2. Keberagaman yang dimanifestasikan sesuai kebutuhan

C. 1.

280

Ciri-ciri kurikulum berbasis kompetensi adalah sebagai berikut : 1. Menekankan pada ketercapaian kompetensi (standar kompetensi, kompetensi dasar yang tercermin pada indikator kompetensi) peserta didik. 2. Berorientasi pada hasil belajar 3. Menerapkan pembelajaran kontekstual 4. Menggunakan penilaian yang berorientasi pada kompetensi (penilaian autentik) 2. Sistem Penilaian Pembelajaran berbasis Kompetensi a. Penentuan Kompetensi yang akan diujikan. Penentuan perilaku yang akan diukur tergantung pada kompetensi serta indikator-indikator yang digunakan sebagi acuan terhadap keberhasilan pembelajaran. Metoda untuk menentukan ketepatan perilaku yang diukur, pembuat soal dapat mendaftar semua perilaku mulai dari aspek yang rendah/mudah sampai dengan aspek yang tertinggi/sukar. Berdasarkan teori Bloom Cs, perilaku dibedakan dalam 3 ranah dengan masing-masing tingkatannya : 1) Ranah Kognitif dengan tingkatan mulai dari : a) Ingatan, diantaranya seperti menyebutkan, menentukan, menunjukkan, mengingat kembali, mendefinisikan; b) Pemahaman, seperti diantaranya membedakan, mengubah, memberi contoh, memperkirakan, mengambil kesimpulan; c) Penerapan, diantaranya menggunakan, menerapkan; d) Analisis diantaranya seperti membandingkan, mengklaifikasikan, mengkategorikan, menganalisis; e) Sintesis, diantaranya menghubungkan, mengembangkan, mengorganisasikan, menyusun; f) Evaluasi diantaranya menafsirkan, menilai atau memutuskan. 2) Ranah Afektif, dengan tingkatan mulai dari : a) Pendapat atau pandangan, seperti respon yang melibatkan ekspresi, perasaan atau pendapat pribadi terhadap hal-hal yang relatif sederhana tetapi bukan fakta, b) Sikap atau nilai reperti respon yang melibatkan sikap atau nilai yang telah mendalam di sanubarinya untuk dipertahankan. 3) Ranah psikomotorik yang meliputi: gerak reflek, dasar-dasar gerakan, gerakan yang merupakan kombinasi dengan kognitif, mengembangkan gerakan-gerakan tingkat tinggi, gerakan-gerakan yang memerlukan belajar (menari, olahraga), gerakan untuk berkomunikasi (mimik wajah, isyarat, postur tubuh). b. Penentuan materi yang akan diujikan Dalam menentukan materi yang akan diujikan haruslah memperhatikan beberapa kriteria yaitu : 1) Urgensi yaitu pokok bahasan atau materi tersebut secara teoritis mutlak harus dikuasai oleh siswa. 2) Kontinuitas yaitu pokok bahasan atau materi merupakan pendalaman dari satu atau lebih pokok bahasan yang sudah dipelajari sebelumnya. 3) Relevansi, yaitu pokok bahasan atau materi yang diperlukan untuk mempelajari atau memahami materi atau pelajaran lain. 4) Keterpakaian, yaitu pokok bahasan atau materi yang memiliki nilai terapan tinggi dalam kehidupan sehari-hari. 5) Kesesuaian dengan teknik pengukuran yang akan digunakan yaitu tes tertulis, lisan atau tes perbuatan.

281

c. Teknik Penilaian pembelajaran Dalam Sistem Penilaian Pembelajaran berbasis Kompetensi dikenal tujuh teknik penilaian yaitu: 1) Penilaian tertulis; ada dua bentuk tes tertulis yaitu a) memilih jawaban yang dibedakan menjadi : (1) pilihan ganda; (2) dua pilihan; (3) menjodohkan; (4) sebab-akibat dan b) mensuplai jawaban yang dibedakan dalam : (1) isian atau melengkapi; (2) jawaban singkat atau pendek; (3) soal uraian. Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam penilaian tertulis adalah: a) Karakteristik mata pelajaran dan keluasan ruang lingkup materi yang akan diuji. b) Materi, kesesuaian soal dengan standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator pencapaian pada kurikulum. c) Konstruksi, misalnya rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan tegas. d) Bahasa, misalnya rumusan soal tidak menggunakan kalimat yang mengandung penafsiran ganda. 2) Penilaian Unjuk Kerja Penilaian dilakukan dengan mengamati kegiatan siswa dalam melakukan sesuatu. Penilaian ini cocok digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut siswa melakukan tugas tertentu, misalnya praktek, presentasi, bermain peran, memainkan suatu alat, dll. Cara penilaian ini dianggap lebih otentik dari pada tes tertulis karena apa yang dinilai lebih mencerminkan kemampuan siswa yang sebenarnya. Penilaian unjuk kerja perlu mempertimbangkan hal-hal : a) Langkah-langkah kinerja yang diharapkan dilakukan peserta didik untuk menunjukan kinerja dari suatu kompetensi. b) Kelengkapan dan ketepatan aspek yang akan dinilai dalam kinerja tersebut. c) Kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas. d) Upayakan kemampuan yang akan dinilai tidak terlalu banyak, sehingga semua dapat diamati e) Kemampuan yang akan dinilai diurutkan berdasarkan urutan yang akan diamati. Pengamatan unjuk kerja perlu dilakukan dalam berbagai konteks untuk menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu. Untuk menilai kemampuan berbicara peserta didik, misalnya dilakukan pengamatan atau observasi berbicara yang beragam, seperti : diskusi dalam kelompok kecil, berpidato, bercerita dan melakukan wawancara, sehingga gambaran kemampuan peserta didik akan lebih utuh. Untuk mengamati unjuk kerja peserta didik dapat menggunakan atau instrumen berikut: (a) Daftar Cek (Check-list); dengan menggunakan daftar cek peserta didik akan mendapat nilai, jika criteria penguasaan kompetensi tertentu dapat diamati oleh penilai dan tidak mendapat nilai jika tidak bias diamati. Kelemahan dengan instrumen ini adalah penilai hanya mempunyai dua pilihan mutlak, misalnya benar-salah, dapat diamatitidak dapat diamati, baik-tidak baik, sehingga tidak terdapat nilai tengah namun daftar ini lebih praktis digunakanuntuk mengamati subyek dalam jumlah besar.

282

Contoh Format Penilaian (Menggunakan Daftar Cek) Nama Peserta didik : ....................... Kelas :............ NoAspek yang dinilaiBaikTidak Baik123456Skor yang dinilaiSkor maksimum6

Keterangan : Baik = mendapat skor 1 Tidak Baik = tidak mendapat skor (O) (b) Skala Penialian (Rating Scale) Penilaian unjuk kerja dengan menggunakan skala penilaian memungkinkan penilai memberi nilai tengah terhadap penguasaan kompetensi tertentu. Dalam hal ini pemberian nilai secara kontinum, pilihan kategori nilai lebih dari dua. Skala penilaianterentang dari tidak sempurna sampai sangat sempurna. Untuk memperkecil faktor subyektivitas, perlu dilakukan penilaian oleh lebih dari satu orang, agar hasil penilaian lebih akurat.

283

Contoh Format Penilaian (Menggunakan Skala Penilaian) Contoh Format Penilaian (Menggunakan Skala Penilaian) Nama Peserta didik : ....................... Kelas :............ N NoAspek yang dinilaiSkor123412345Jumlah SkorSkor maksimum20 Nama Peserta didik : ....................... Kelas :............ N NoAspek yang dinilaiSkor123412345Jumlah SkorSkor maksimum20

Keterangan : 1 = tdak kompeten 2 = cukup kompeten 3 = kompeten 4 = sangat kompeten Jumlah skor merupakan penjumlahan skor masing-masing aspek yang dinilai/diukur, sedangkan kriteria penilaian dapat dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Jumlah Skor Nilai = --------------------- x Skala nilai yang digunakan Skor Maksimum

284

Sebagai Contoh : Jika skala penilaian yang digunakan adalah skala 1-100 dan salah seorang siswa memperoleh skor 10, maka nilai siswa tersebut = 50 3) Penilaian Sikap Sikap terdiri dari tiga komponen, yaitu komponen afektif, komponen kognitif dan komponen konatif. Komponen afektif adalah perasaan yang dimiliki oleh seseorang atau penilaiannya terhadap sesuatu obyek. Komponen kognitif adalah kepercayaan atau keyakinan seseorang mengenai obyek. Adapun komponen konatif adalah kecenderungan untuk berperilaku atau berbuat dengan cara-cara tertentu berkenaan dengan kehadiran obyek sikap. Secara umum obyek sikap yang perlu dinilai dalam proses pembelajaran berbagai mata pelajaran adalah : a) Sikap terhadap materi pelajaran b) Sikap terhadap guru/pengajar c) Sikap terhadap proses pembelajaran d) Sikap berkaitan dengan nilai-nilai atau norma-norma tertentu berhubungan dengan suatu materi pelajaran. e) Sikap berhubungan dengan kompetensi afektif lintas kurikulum yang relevan dengan mata pelajaran. Teknik penilaian sikap dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu : a) Observasi perilaku; hasil penilaian observasi perilaku dicatat dalam buku catatan harian : Contoh : Halaman Sampul Buku Catatan Harian BUKU CATATAN HARIAN TENTANG PESERTA DIDK (Nama Sekolah) Mata Pelajaran : ............................... Kelas :................................

Kolom kejadian diisi dengan kejadian positif maupun negatif. Catatan dalam Tahun Pelajaran:............................... lembaran buku tersebut, selain bermanfaat untuk merekam dan menilai perilaku Nama Guru :............................... peserta didik sangat bermanfaat pula untuk menilai sikap peserta didik serta dapat Semarang 2009 menjadi bahan dalam penilaian perkembangan peserta didik secara keseluruhan. Selanjutnya berikut ini contoh format penilaian sikap dalam pembelajaran : Contoh : Format Penilaian Sikap dalam Pembelajaran Contoh : Halaman isi : Buku Catatan Harian No Nama Skor perilaku No Bekerja Berinis Nama Hari/ Penuh Bekerj Kejadian Jml Nilai Tanggal sama - Peserta Didik Perhatia a Skor siatif n Sistem a tis 1 2 3 4 Ridwan Rifki ........ .........

Ket

285

Skor maksimal = 20 a. Catatan : Kolom perilaku diisi dengan skor yang sesuai dengan kriteria berikut : 1 = sangat kurang 2 = kurang 3 = sedang 4 = baik 5 = sangat baik b. Nilai merupakan jumlah dsari skor-skor tiap indikator perilaku c. Kriteria penilaian dapat dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Jumlah Skor Nilai = ----------------------- x Skala nilai yang digunakan Skor maksimum Contoh : Skala penilaian yang digunakan 1-100, jika seorang siswa memperoleh skor 15, maka nilai siswa tersebut = 75 b) Pertanyaan langsung Guru sebagai penilai dapat menanyakan secara langsung tentang sikap seseorang/peseta berkaitan dengan sesuatu hal yang berhubungan dengan pembelajaran, misalnya bagaimana tanggapan peserta didik tentang kebijan pemerintah mengimpor beras. Berdasarkan jawaban atau reaksiu lain yang tampil dalam memberikan jawaban dapat dipahami sikap peserta didik itu terhadap sesuatu obyek. c) Laporan Pribadi Mengguanakan laporan pribadi sebagai salah satu teknik penilaian di sekolah, peserta didik diminta membuat ulasan yang berisi pandangan atau tanggapannya tentang suatu masalah, keadaan, atau hal yang menjadi objek sikap. Untuk menilai perubahan perilaku atau sikap siswa secara keseluruhan termasuk kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kewarganegaraan, kepribadian, estetika, jasmani semua catatan dapat dirangkum dalam lembar pengamatan berikut : Contoh : Lembar Pengamatan Nama Siswa : : ....................... Kelas :........................ Smester : .................... No Deskripsi Perilaku Deskripsi perubahan Pertemuan......hari/Tgl. ST awal .... 1 2 3 4 ............................. ............................. ............................. .............................

Capaian T R

SR

286

Keterangan : Kolom capaian diisi dengan tanda centang sesuai perkembangan perilaku. ST = peruabahan sangat tinggi T = perubahan tinggi R = perubahan rendah SR = perubahan sangat rendah Informasi tentang deskripsi perilaku diperoleh dari : - pertanyaan langsung - laporan pribadi - buku catatan harian 4) Penilaian Proyek Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data. Penilaian proyek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasikan, kemampuan penyelidikan, dan kemampuan menginformasikan dari peserta didik pada mata pelajaran tertentu secara jelas. Dalam penilaian proyek ada tiga hal yang perlu dipertimbangkan yaitu : a) Kemampuan pengelolaan; kemampuan peserta didik dalam memilih topik, mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta pengumpulan laporan b) Relevansi : keseuaian dengan mata pelajaran, dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan, pemahamn dan keterampilan dalam pembelajaran. c) Keaslian; proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya, dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta didik. Instrumen penilaian proyek dilakukan mulai dari perencanaan, proses pengerjaan, sampai hasil akhir proyek. Sehubungan dengan itu guru perlu menetapkan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai, seperti penyususnan desain, pengumpulan data, analisa data dan penyiapan laporan tertulis. Laporan tugas atau hasil penelitian juga dapat disajikan dalam bentuk poster. Pelaksanaan penilaian dapat menggunakan alat/instrumen penilaian berupa daftar cek ataupun skala penilaian. 5) Penialaian Produk Penialian produk adalah penilaian terhadap poses pembentukan dan kualitas produk. Penilaian ini meliputi penilaian kemampuan peserta didik membuat produkproduk teknologi, seni. Pengembangan produk meliputi 3 tahap dan setiap tahap perlu diadakan penilaian yaitu : a) Tahap persiapan, meliputi penilsisn kemampuan peserta didik dalam merencanakan,menggali danmengembangkan gagasan serta mendesain produk.

287

b)

Tahap penilaian, meliputi menilai kemampuan siswa membuat produk sesuai kegunaannya, memenuhi kriteria keindahan/presisi dan sebagainya. Tenik penilaian produk biasanya menggunakan cara holistik atau analitik : a) Cara analitik yaitu berdasarkan aspek-aspek produk, biasanya dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan (tahap persiapan, pembuatan produk dan penilaian produk). b) Cara holistik yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk, biasanya dilakukan hanya pada tahap penilaian produk. Contoh Penilaian Produk Mata Pelajaran : ............................... Nama Produk :................................ Alokasi waktu :.............x pertemuan Nama Siswa : : ....................... Kelas :........................ No Aspek * Skor (1-5)** 1. Perencanaan : a. Persiapan alat dan bahan b. Membuat gambar kerja 2 Pelaksanaan : a. Sikap kerja b. Penggunaan alat c. Pemakaian bahan d. Mengerjakan e Perakitan f. Finishing 3 Laporan produk : a. Performa b. Kesesuaian spesifikasi Total skor * Aspek yang dinilai disesuaikan dengan produk dan kondisi siswa/sekolah ** Skor diberikan kepada siswa tergantung dari ketepatan dan kelengkapan jawaban yang diberikan, semakin lengkap dan tepat semakin tinggi skor.

288

6) Penilaian Portofolio Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. Informasi tersebut dapat berupa karya siswa/hasil pekerjaan dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik oleh peserta didik, lembar jawaban tes yang menunjukan soal yang mampu dan tidak mampu dijawab/bukan nilai, atau bentuk informasi lain yang terkait dengan kompetensi tertentu dalam satu mata pelajaran. Penilaian portofolio pada dasarnya menilai karya siswa secara individu pada satu periode untuk suatu mata pelajaran. Akhir suatu periode karya tersebut dikumpulkan dan dinilai oleh guru dan siswa. Berdasarkan hasil perkembangan tersebut guru dan siswa sendiri dapat menilai kemampuan perkembangan siswa dan terus melakukan perbaikan. Dengan demikian portofolio dapat memperlihatkan perkembangan kemajuan belajar siswa melalui karyanya, antara lain; karangan, puisi, surat, komposisi musik, gambar, foto, lukisan, resensi buku/litelatur, laporan penelitian, sinopsis dsb. Hal-hal yang perlu diperhatikan dan dijadikan pedoman dalam penggunaan portofolio di sekolah antara lain : a) Karya siswa adalah benar-benar karya siswa itu sendiri; guru melakukan penelitian atas hasil karya siswa yang dijadikan bahan penilaian portofolio agar karya tersebut merupakan hasil karya yang dibuat oleh siswa itu sendiri. b) Saling percaya antara guru dan siswa; dalam proses penilaian guru dan siswa harus saling percaya, saling memerlukan dan saling membantu, sehingga terjadi proses pendidikan berlangsung dengan baik. c) Kerahasiaan bersama antara guru dan siswa; kerahasisaan hasil pengumpulan informasi perkembangan siswa perlu dijaga dengan baik dan tidak disampaikan kepada pihak-pihak yang tidak berkepentingan, sehingga memberi dampak negatif pada proses pendidikan. d) Milik bersama (joint ownership) antara guru dan siswa; guru dan siswa perlu mempunyai rasa memiliki berkas portofolio, sehingga siswa akan merasa memiliki karya yang dikumpulkan dan akhirnya akan berupaya terus meningkatkan kemampuannya. e) Kepuasan; hasil kerja portofolio sebaiknya berisi keterangan dan atau bukti yang memberikan dukungan siswa untuk lebih meningkatkan diri. f) Kesesuaian; hasil kerja yang dikumpulkan adalah hasil kerja yang sesuai dengan kompetensi yang tercantum dalam kurikulum. g) Penilaian proses dan hasil; penilaian portofolio menerapkan prinsip proses dan hasil. Proses belajar yang misalnya diperoleh dari catatan guru tentang kinerja dan karya siswa h) Penilaian dan pembelajaran; penilaian portofolio merupakan hal yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran. Manfaat utama penilaian ini sebagai diagnostik yang sangat berarti bagi guru untuk melihat kelebihan dan kekurangan siswa. Langkah-langkah dalam penilaian portofolio yaitu : a) Jelaskan kepada siswa bahwa penggunaan portofolio tidak hanya merupakan kumpulan kerja siswa yang digunakan oleh guru untuk penilaian, tetapi digunakan oleh siswa itu sendiri untuk dapat melihat kemampuan, keterampilan dan minat dirinya. Proses ini tidak akan terjadi secara spontan tetapi membutuhkan waktu bagi peserta didik untuk belajar meyakini hasil penilaian mereka sendiri. b) Tentukan bersama peserta didik sampel-sampel portofolio apa saja yang akan dibuat. Antara satu dan peserta didik yang lain ada yang sama ada yang berbeda. 289

c) Kumpulkan dan simpanlah karya-karya tiap peserta didik dalam satu map atau folder di rumah masing-masing atau loker masing-masing di sekolah. d) berilah tanggal pembuatan pada setiap bahan informasi perkembangan peserta didik sehingga dapat dilihat perbedaan kualitas dari waktu ke waktu. e) Tentukan kriteria penilaian sampel portofolio dan bobotnya dengan para peserta didik. Diskusikan cara penilaian kualitas karya para peserta didik, sehingga peserta didik mengetahui harapan /standar guru dan berusaha mencapai standar tersebut. f) Minta peserta didik menilai karyanya secara berkesinambungan. Guru dapat membimbing peserta didik, bagaimana cara menilai dengan memberi keterangan tentang kelebihan dan kekurangan karya tersebut, serta bagaimana cara memperbaikinya. Hal ini dapat dilakukan pada saat membahas portofolio. g) Setelah suatu karya dinilai dan nilainya belum memuaskan, maka peserta didik diberi kesempatan untuk memperbaiki, namun antara peserta didik dan guru perlu dibuat kontrak atau perjanjian mengenai waktu perbaikan misalnya 1 minggu karya yang telah diperbaikiharus diserahkan kepada guru. h) Bila perlu jadwalkan pertemuan untuk membahas portofolio. Jika perlu undang orang tua peserta didik dan diberi penjelasan tentang maksud serta tujuan portofolio, sehingga orang tua dapat membantu dan memotivasi anaknya. Contoh : Format Instrumen portofolio Mata Pelajaran : ............................... Alokasi waktu : .............................. Kelas :........................ Nama Siswa : : ....................... N o SK KD Peri o de 30/7 15/8 Kelengkap an Gagasan 4 3 2 1 Kritria dan Skor Sistematik Ketepatan Gagasan Analisis Up To date Ke t

1.1

7) Penialian Diri (self assessment) Penilaian diri adalah suatu teknik penilaian dimana peserta didik diminta menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status, proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya. Teknik penilaian diri dapat digunakan untuk mengukur kompetensi kognitif, afektif dan psikomotorik. Tujuan utama dari penilaian dari penilaian diri adalah untuk mendukung atau memperbaiki proses dan hasil belajar. Meskipun demikian hasil penilaian diri dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk memberikan nilai. Peran penilaian diri menjadi penting bersamaan dengan bergesernya pusat pembelajaran dari guru ke peserta didik didasarkan pada konsep belajar mandiri. Ada beberapa jenis penilaian diri, diantaranya ; a) Penialian langsung dan spesifik, yaitu penilaian pada saat atau setelah selesai melakukan tugas, untuk menilai aspek-aspek kompetensi tertentu dari suatu mata pelajaran.

290

b)

Penilaian tidak langsung dan holistik, yaitu penilaian yang dilakukan dalam kurun waktu yang panjang untuk memberikan penilaian secara keseluruhan. c) Penilaian sosio-afektif yaitu penilaian terhadap unsur-unsur afektif atau emosional. Penggunaan teknik ini dapat memberi dampak positif terhadap perkembangan kepribadian seseorang. Keuntungan penggunaan penilaian diri di kelas antara lain: a) Dapat menumbuhkan rasa percaya diri siswa, karena mereka diberi kepercayaan untuk menilai dirinya sendiri. b) Siswa menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya, karena ketika melakukan penilaian, harus melakukan instropeksi terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. c) dapat mendorong, membiasakan dan melatih siswa untuk berbuat jujur, karena mereka dituntut untuk jujur dan obyektif dalam melakukan penilaian. Teknik penilaian agar tidak cenderung subyektif, maka harus dilakukan berdasarkan kriteria yang jelas dan obyektif melalui langkah-langkah sebagai berikut : a) Menjelaskan pada siswa tujuan penilaian diri b) Menentukan kompetensi atau aspek kemampuan yang akan dinilai c) Menentukan kriteria penilaian yang akan digunakan d) Merumuskan format penilaian, dapat berupa pedoman penskoran, daftar cek atau skala penilaian. e) Meminta siswa untuk melakukan penilaian diri f) Guru mengkaji hasil penilaian, untuk mendorong siswa supaya senantiasa melakukan penilaian diri secara cermat dan obyektif. g) Lakukan tindakan lanjutan, antara lain guru memberikan balikan tertulis, guru dan siswa membahas bersama proses dan hasil penilaian.

291

Contoh Penilaian Diri PARTISIPASI SISWA DALAM KELOMPOK Nama Siswa Kegiatan Kelompok : .................................................. : ................................................... : ..................................................... Nama Anggota kelompok

Isilah pernyataan berikut dengan jujur, untuk nomor 1 s/d 9, tuliskan huruf A, B, C atau D didepan tiap pernyataan A : Selalu B : Sering C : Kadang-kadang D : Tidak Pernah

1................. Mengusulkan ide kepada kelompok selama diskusi 2..................Memberi kesempatan kepada semua peserta mengajukan usul 3..................Keterlibatan semua anggota kelompok dalam diskusi 4..................Mendengarkan pendapat orang lain 5................. Mengajukan pertanyaan 6................. Mengorganisasikan ide-ide secara sistematis 7................. Mengorganisasikan kelompok 8..................Mengacaukan kegiatan diskusi 9..................Melamun d. Penyusunan Instrumen penilaian pembelajaran Langkah-langkah dalam penyusunan intrumen penilaian pembelajaran adalah : 1) Menyusun pedoman penskorannya. 2) Menentukan standar kompetensi/kompetensi dasar beserta indikatorindikatornya. 3) Menentukan materi untuk penyusunan instrumen. 4) Menentukan jumlah/proporsi butir instrumen yang akan diujikan. Penentuan didasarkan pada penyediaan waktu untuk ujian. 5) Menentukan penyebaran butir instrumen yang akan diujikan ke dalam tiaptiap indikator. 6) Menyusun distribusi instrumen ke dalam format kisi-kisi instrumen penilaian. 7) Menuliskan instrumen penilaian dengan mengacu pada kisi-kisi yang telah tersusun. e. Kisi-kisi instrumen penilaian pembelajaran Table of specification atau lay-out atau test blue-print atau kisi-kisi merupakan deskripsi mengenai ruang lingkup dari isi materi yang akan diujikan. Tujuan penyusunan kisi-kisi adalah untuk menentukan ruang lingkup dan tekanan tes yang setepat-tepatnya, sehingga dapat menjadi petunjuk dalam menulis soal.

292

Kisi-kisi yang baik harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu : 1) Mewakili isi silabus/kurikulum atau materi yang telah diajarkan secara tepat dan proposional. 2) Komponen-komponennya diuraikan secara jelas dan mudah dipahami 3) Materi yang hendak ditanyakan dapat dibuatkan instrumennya. Contoh : Format Kisi-kisi Instrumen pembelajaran Jenis Sekolah :.............................. Jumlah soal : ......................... Mata Pelajaran : ............................... Bentuk Soal : .......................... Kurikulum : ............................... Penyususan 1........................ Alokasi waktu : .............................. 2 ....................... SK KD Indi Kator 2.1.1 2.1.2 2.1.3 2.2.1 2. 2 2.2.2 2.2.3
KKM (%)

Unjuk kerja v

Pro duk

70 70 70 70 70 70

Teknik Penilaian Proyek Tes Porto folio v v

Sikap

Penilai an diri

2. 1 2

v v

v v v v v v

g. Penulisan Instrumen Penilaian Contoh Penyebaran butir soal Teknis Tes No 1 KD 2.1 Indikator 2.1.1 2.1.2 2.1.3 2.2.1 2.2.2 2.2.3 Jumlah Perbandi ngan Keterangan : Smester 1 1 4 8,9,10 28,29,30 46 48 10 20 % Smester 2 2, 3 5,6,7 11,12,13,14,15,16,17,18,1 9 20,21,22,23,24,25,26,27 31,32,33,34,35,36,37,38,3 9 41,42,43,44,45 47 49,50 40 80 % Juml Soal 3 4 20 18 2 3 50

2.2

293

Nomor soal yang ditandai underline adalah soal berbentuk uraian, sedangkan nomor soal lainnya berbebtuk pilihan ganda f. Penulisan Instrumen Penelitian Penulisan instrumen merupakan suatu kegiatan yang sangat penting dalam penyiapan bahan ujian. Setiap butir instrumen harus didasarkan rumusan indikator dalam kisi-kisi dan kaidah penulisan yang benar Penggunaan instrumen sangat tergantung pada perilaku yang akan diukur. Ada perilaku yang lebih tepat diukur atau ditanyakan dengan menggunakn bentuk soal uraian. Ada pula perilaku yang lebih tepat diukur dengan bentuk soal objektif. Jadi tidak semua perilaku harus ditanyakan dengan bentuk soal uraian atau objektif mengingat setiapbentuk soal, masing-masing memiliki keunggulan dan masing-masing memiliki kelemahan. Untuk soal bentuk pilihan ganda atau multiple choise keunggulannya diantaranya dapat mengukur kemampuan secara objektif, dan dapat digunakan untuk mencakup materi yang luas yang dapat diujikan, sedangkan untuk soal uraian diantaranya adalah dapat mengukur kemampuan mengorganisasikan gagasan dan menyatakan jawabannya menurut kata-kata atau kalimat sendiri. Kelemahannya untuk soal bentuk pilihan ganda diantaranya adalah sulit menyusun pengecoh atau distructure, sedangkan untuk soal uraian diantaranya adalah sulit menyusun pedoman penskorannnya. 1) Penulisan Soal Bentuk Uraian Dalam proses menulis soal bentuk uraian diperlukan ketepatan dan kelengkapan dalam merumuskannya. Ketepatan yang dimaksud adalah bahwa materi yang ditanyakan tepat diujikan dengan bentuk uraian, yaitu menuntut siswa untuk mengorganisasikan gagasan dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan secara tertulis dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Adapun kelengkapan yang dimaksud adalah kelengkapan perilaku yang diukur yang dipergunakan untuk menetapkan aspek yang dinilai dalam pedoman penskorannya. Hal yang paling sulit dalam penulisan soal bentuk uraian adalah menyusun pedoman penskorannya. Penulis soal harus dapat setepat-tepatnya merumuskan pedoman penskorannya, karena soal bentuk uraian kelemahannya pada tingkat subyektifitas dalam penskorannya. Berdasarkan metode penskorannya, bentuk uraian diklasifikasikan menjadi 2 yaitu uraian objektif dan urian non objektif. Bentuk uraian obyektif adalah suatu soal atau pertanyaan yang menuntut sehimpunan jawaban dengan pengertian/konsep tertentu, sehingga penskorannya dapat dilakukan secara objektif. Artinya perilaku yang diukur dapat diskor secara dikotomus. Bentuk uraian non objektif adalah soal yang menuntut sehimpunan jawaban dengan pengertian atau konsep menurut pendapat masing-masing siswa, sehingga penskorannya sukar dilakukan secara objektif. Untuk mengurangi tingkat subjektifitas dalam pemberian skor ini, maka dalam menentukan perilaku yang diukur dibuatkan skala. Dalam penulisan soal berbentuk uraian wujud soal terdiri dari : 1) Dasar pertanyaan/stimulus bila ada atau diperlukan 2) Pertanyaan 3) Pedoman penskorannya Dalam penulisan soal berbentuk uraian terdapat beberapa kaidah penulisan yang perlu diperhatikan yaitu : a) Materi (1) Soal harus sesuai dengan indikator (2) Setiap pertanyaan diberi batasan jawaban yang diharapkan (3) Materi yang ditanyakan harus sesuai dengan tujuan yang akan di ukur 294

(4) Materi yang ditanyakan harus sesuai dengan jenjang jenis sekolah atau tingkat sekolah b) Konstruksi (1) Menggunakan kata tanya/perintah yang menuntut jawaban terurai (2) Ada petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal (3) Setiap soal harus ada pedoman penskorannya. (4) Tabel, gambar, grafik, peta atau sejenisnya disajikan dengan jelas dan terbaca c) Bahasa (1) Rumusan kalimat soal harus komunikatif (2) Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar (baku) (3) Tidak menimbulkan penafsiran ganda (4) Tidak mempergunakan bahasa yang berlaku setempat (5) Tidak mengandung kata/ungkapan yang menyinggung perasaan siswa 2) Penulisan Soal Bentuk Pilihan Ganda Menulis soal bentuk pilihan ganda sangat diperlukan ketrampilan dan ketelitian. Hal yang paling sulit dilakukan dalam menulis soal bentuk pilihan ganda adalah menuliskan pengecohnya. Pengecoh yang baik adalah pengecoh yang tingkat kerumitan atau tingkat kesederhanaan serta panjang pendeknya relatif sama dengan kunci jawaban. Oleh karena itu untuk memudahkan dalam penulisan soal bentuk pilihan ganda, maka penulisanya perlu mengikuti langkah-langkah berikut. Langkah pertama adalah menuliskan pokok soalnya, langkah kedua adalah menuliskan kunci jawabannya, kemudian langkah ketiga adalah menuliskan pengecohnya. Untuk memudahkan pengelolaan, perhatikan dan perkembangan soal, maka soal ditulis di dalam format soal. Setiap satu soal ditulis di dalam satu format. Adapun formatnya seperti contoh di atas dan perlu disesuaikan dengan bentuk soal pilihan ganda. Soal bentuk pilihan ganda merupakan soal yang telah disediakan pilihan jawabannya. Siswa yang mengerjakan soal hanya memilih satu jawaban yang benar dari pilihan jawaban yang disediakan. Wujud soalnya terdiri dari: (1) dasar pertanyaan/stimulus (bila ada), (2) pokok soal (item), (3) pilihan jawaban yang terdiri dari: kunci jawaban pengecoh. Kaidah penulisannya soal pilihan ganda. a. Materi 1) Soal harus sesuai dengan indikator. Artinya soal harus menanyakan perilaku dan materi yang hendak diukur sesuai dengan rumusan indikator dalam kisi-kisi. 2) Pengecoh harus berfungsi. 3) Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar. Artinya satu soal hanya mempunyai satu kunci jawaban. Maksudnya kunci jawaban benar tidak lebih dari satu atau kurang dari satu. b. Konstruksi 1) Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas. Misalnya, kemampuan/ materi yang hendak diukur/ditanyakan harus jelas, tidak menimbulkan pengertian atau penafsiran yang berbeda dari yang dimaksudkan penulis. Setiap butir soal hanya mengandung satu persoalan/gagasan. 2) Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja. Artinya apabila terdapat rumusan atau pernyataan 295

yang sebetulnya tidak diperlukan, maka rumusan atau pernyataan itu dihilangkan saja. 3) Pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah jawaban yang benar. Artinya, pada pokok soal jangan sampai terdapat kata, kelompok kata, atau ungkapan yang dapat memberikan petunjuk ke arah jawaban yang benar. 4) Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda. Artinya, pada pokok soal jangan sampai terdapat dua kata atau lebih yang mengandung arti negatif. Hal ini untuk mencegah terjadinya kesalahan penafsiran siswa terhadap arti pernyataan yang dimaksud. Untuk keterampilan bahasa, penggunaan negatif ganda diperbolehkan bila aspek yang akan diukur justru pengertian tentang negatif ganda itu sendiri. 5) Pilihan jawaban harus homogen dan logis ditinjau dari segi materi. Artinya, semua pilihan jawaban harus berasal dari materi yang sama seperti yang ditanyakan oleh pokok soal, penulisannya harus setara, dan semua pilihan jawaban harus berfungsi. 6) Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama. Kaidah ini diperlukan karena adanya kecenderungan siswa memilih jawaban yang paling panjang karena seringkali jawaban yang lebih panjang itu lebih lengkap dan merupakan kunci jawaban. 7) Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan semua pilihan jawaban di atas salah atau semua pilihan jawaban di atas benar. Artinya dengan adanya pilihan seperti ini, maka secara materi yang ditanyakan menjadi tidak homogen. 8) Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu harus didasarkan urutan besar kecilnya nilai angka atau kronologis waktu. Artinya pilihan jawaban yang berbentuk angka harus didasarkan besar kecilnya nilai angka dari nilai angka paling berurutan sampai nilai angka yang paling besar, dan sebaliknya. Demikian juga pilihan jawaban yang menunjukkan waktu harus secara kronologis. Penyusunan secara urut dimaksudkan memudahkan siswa melihat pilihan jawaban. 9) Gambar, grafik, tabel, diagram, wacana, dan sejenisnya terdapat pada soal harus jelas dan berfungsi. Artinya, apa saja menyertai suatu soal yang ditanyakan harus jelas, terbaca, dimengerti oleh siswa. Apabila soal tetap bisa dijawab tanpa gambar, grafik, tabel atau sejenisnya berarti gambar, grafik, atau tabel itu tidak berfungsi. 10) Rumusan pokok soal tidak menggunakan ungkapan atau kata bermakna tidak pasti seperti sebaiknya, umumnya, kadang-kadang. Artinya, bahwa dalam merumuskan pokok soal jangan menggunakan kata atau ungkapan seperti sebaiknya. . 11) Umumnya, kadang-kadang, atau kata yang tidak pasti karena maksud kata-kata itu tergantung pada keadaan dan situasi siswa yang bersangkutan. 12) Butir soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya. Ketergantungan pada soal sebelumnya menyebabkan siswa yang tidak dapat menjawab benar soal pertama tidak akan dapat menjawab benar. c. Bahasa/budaya Setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. 1) Penggunaan kalimat harus ada unsur subjek. 296

2) Penggunaan kalimat harus ada unsur predikat (bagian yang berfungsi menerangkan subjek). 3) Hindarkan pernyataan yang hanya berupa anak kalimat. 4) Dalam memilih kata harus diperhatikan ketepatannya dengan pokok masalah yang ditanyakan. 5) Penulisan kata perlu disesuaikan dengan kebenaran penulisan baku. 6) Penulisan huruf (capital dan kecil) dalam soal perlu diperhatikan. 7) Penggunaan tanda baca dalam penulisan soal perlu diperhatikan. 8) Bahasa yang digunakan harus komunikatif, sehingga pernyataannya udah dimengerti warga belajar/siswa. 9) Jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat jika soal akan digunakan di daerah lain atau nasional. 10)Pilihan jawaban jangan mengulang kata/frase yang bukan merupakan satu kesatuan pengertian. Letakkan kata/frase pada pokok soal. 3) Penulisan Soal Bentuk Jawaban Singkat Dalam menulis soal bentuk jawaban singkat, penulis soal harus mengetahui konsep dasar bentuk jawaban singkat. Bentuk ini merupakan salah satu bentuk soal obyektif yang jawabannya menuntut siswa untuk menjawab soal dengan singkat, yaitu jawabannya dapat berupa suku kata, kelompok kata/frase, symbol matematika, atau angka. Adapun wujud soal bentuk jawaban singkat adalah terdiri dari 5 unsur, yaitu : (1) dasar pernyataan (stimulus) bila diperlukan, (2) pertanyaan, (3) tempat jawaban, (4) kunci jawban, (5) pedoman penskoran. Dasar pertanyaan seperti pada contoh di atas tidak selalu diperlukan. Hal ini tergantung pada perilaku yang hendak diukur dalam soal itu. Apabila soalnya tidak berhubungan dengan bacaan dan hanya menuntut kemampuan ingatan, maka dasar pertanyaan (stimulus) pada soal bentuk ini tidak diperlukan. Adapun kaidah penulisan soal bentuk jawaban singkat adalah sebagai berikut : a. Materi 1) Soal harus sesuai dengan indikator 2) Materi yang diukur sesuai dengan tuntutan jawaban singkat b. Konstruksi 1) Pernyataan disusun dengan bentuk pertanyaan langsung agar siswa lebih mudah merumuskan jawaban singkat. 2) Pernyataan disusun dengan bentuk pertanyaan yang menuntut jawaban singkat/pendek yang berupa sebuah kata, angka, symbol atau kelompok kata. 3) Tempat jawaban hendaknya berupa garis lurus (bukan titik-titik). Tanda titik-titik dapat mengaburkan pengertian pemeriksanya. Misal karena ada tanda titik dapat mengaburkan pandangan pemeriksa, sehingga dikira huruf atau lainnya. 4) Hindarilah pertanyaan yang menggunakan kata-kata yang langsung mengutip dari uraian materi buku pelajaran. 5) Pertanyaan hanya ada satu jawaban yang benar. Hal ini perlu diperhatikan karena seringkali siswa memberikan interpretasi pertanyaan yang sama sekali tidak diduga dan dimaksudkan oleh penulis soal. Cara mengatasinya semua kemungkinan jawaban harus didaftar/dicantumkan dalam kunci pemeriksaan. 6) Tempat jawaban yang dikosongkan harus sama panjangnya dan ditempatkan setelah pertanyaan.

297

7) Jika jawaban yang dikehendaki adalah menuntut satuan urutan, maka ungkapkanlah secara rinci di dalam pertanyaan. c. Bahasa/budaya 1) Gunakanlah pertanyaan yang menuntut jawaban singkat, misalnya menggunakan kata tanya siapa, kapan, berapa, di mana. 2) Bahasa soal harus komunikatif dan disesuaikan dengan jenjang pendidikan siswa. 3) Gunakan bahasa Indonesia baku 4) Soal tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/baku. 4) Penulisan soal bentuk isian Dalam menulis soal bentuk isian, penulis soal harus mengetahui konsep dasar bentuk isian. Bentuk ini merupakan salah satu bentuk soal yang jawabannya menuntut siswa untuk melengkapi atau mengisi kata-kata atau kelompok kata yang dihilangkan. Soalnya disusun seperti kalimat lengkap, kemudian dihilangkan pada bagian tertentu yang harus diisi oleh siswa. Kaidah penulisannya adalah sebagai berikut : a. Materi 1) Soal harus sesuai dengan indikator 2) Materi yang diukur sesuai dengan tuntutan bentuk lisan b. Konstruksi 1) Pernyataan disusun sedemikian rupa, sehingga jelas jawaban yang diharapkan. 2) Hindarkan petunjuk ke arah jawaban yang benar 3) Susunlah pertanyaan yang dapat mempermudah penskorannya 4) Hindarkan pernyataan-pernyataan yang kurang tegas 5) Susunlah soal dengan pernyataan berita 6) Usahakan hanya ada satu jawaban yang benar 7) Hindarkan pernyataan yang terlalu banyak dihilangkan, sebuah soal yang terlalu banyak yang dihilangkan sukar diketahui apakah sebenarnya hal yang diukur. 8) Pernyataan yang dihilangkan adalah benar-benar bentuk kata atau frasa yang merupakan kunci jawaban dan bukan hal-hal yang memang tidak penting. 9) Hindarkan pernyataan yang diambil langsung persis sama dengan di dalam buku pelajaran. 10) Tempat jawaban yang disediakan untuk setiap soal harus sama panjangnya. Jika tempat jawaban tidak sama panjangnya, siswa cenderung untuk mengira-ira jawabannya sesuai dengan panjang tempat kosong itu. 11)Dalam menyusun soal yang memerlukan jawaban rincian perlu disusun secara berurutan (alfabetis jawabannya). Hal ini untuk memudahkan pemeriksaannya. 12) Daftarlah semua kemungkinan jawaban yang benar. Hal ini dimaksudkan untuk mempersiapkan jawaban benar yang tidak terduga dari siswa. 13) Berilah nomor pada tiap-tiap tempat jawaban. Hal ini untuk memudahkan penilaiannya. c. Bahasa/budaya 1) Bahasa soal harus komunikatif dan disesuaikan dengan jenjang pendidikan siswa. 2) Gunakan bahasa Indonesia baku 298

3) Soal tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/baku. 5) Penulisan Soal Bentuk Menjodohkan Dalam menulis soal bentuk menjodohkan, penulisan soal harus mengetahui konsep dasar bentuk menjodohkan. Bentuk ini wujudnya terdiri dari dua kelompok atau kolom. Tugas siswa adalah mencari pasangan yang tepat dalam kedua kelompok itu. Misalnya siswa harus dapat mencocokkan antara kejadian dengan tanggal kejadian yang tepat. Kejadian dengan orang, kejadian dengan tempat. Istilah dengan definsi, perkataan asing/istilah asing dengan istilah bahasa Indonesia yang baku, peraturan-peraturan dengan contoh. Alatalat dengan penggunaannya dan lain-lain. Biasanya bentuk soal menjodohkan hanya terbatas untuk mengukur kemampuan ingatan. Bentuk soal ini juga dapat dipergunakan untuk menentukan nama dan tempat-tempat atau bagian-bagian yang telah diberi nomor pada peta, diagram dan sebagainya. a. Materi 1) Soal harus sesuai dengan indikator 2) Materi yang diukur sesuai dengan tuntutan bentuk menjodohkan 3) Gunakan materi-materi yang homogen untuk setiap kelompok, baik kelompok soal (pokok soal) maupun pilihan jawabannya). b. Konstruksi 1) Pertanyaan dan pilihan jawaban harus disusun dengan homogen, paralel/ sejajar. 2) Soal disusun sebelah kiri dengan bernomor, pilihan jawaban disusun di sebelah kanan dengan diberi nomor urut dengan huruf. 3) Pertanyaan dan pilihan jawaban hendaknya disusun secara sistematis. Jika daftar terdiri dari tanggal disusun secara kronologis, sedangkan pernyataan dalam pilihan jawaban dapat disusun menurut abjad. 4) Pertanyaan dan pilihan jawaban ditulis dalam halaman yang sama. Bila tidak demikian dapat membingungkan siswa dan dapat menyita waktu lama yang dipergunakan untuk membolak-bolik halaman saja. 5) Panjang soal ini dibatasi jumlahnya tidak lebih dari 10-15 butir soal. Daftar-daftar yang panjang cenderung akan menjadi terlalu heterogen dan dengan demikian memungkinkan adanya petunjuk-petunjuk bagi siswa yang pandai, lagi pula soal bentuk ini bila soalnya terlalu panjang/banyak akan membuang waktu yang terlalu banyak. 6) Jumlah pilihan jawaban disusun lebih banyak daripada soalnya. Hal ini dimaksudkan agar siswa dapat memikirkan jawabannya dengan tepat. 6) Penulisan Instrumen Penilaian Sikap Teknik penilaian sikap/budi pekerti merupakan prosedur penilaian yang dipergunakan untuk menilai perilaku siswa. Alat penilaian yang dapat dipergunakan seperti lembar pengamatan, portofolio, dan angket/kuesioner. a. Lembar Pengamatan Lembar pengamatan merupakan suatu alat penilaian yang pengisiannya dilakukan oleh guru atas dasar pengamatan terhadap perilaku peserta didik. Pelaksanaan pengamatannya dapat dilakukan guru pada sebelum mengajar, saat mengajar, dan sesudah mengajar. Perilaku minimal yang dapat dinilai dengan pengamatan untuk perilaku peserta didik, misalnya : ketaatan pada ajaran agama, toleransi, disiplin tanggung jawab, kasih sayang, gotong royong, kesetiakawanan, hormat menghormati, sopan santun dan kejujuran. Setelah teori diperoleh dari berbagai buku, maka langkah selanjutnya adalah menyimpulkan teori itu dan merumuskan/mendefinisikan (yaitu definisi 299

konsep dan definisi operasional) dengan kata-kata sendiri berdasarkan pendapat para ahli yang diperoleh dari beberapa buku yang telah dibaca. Definisi tentang teori yang dirumuskan inilah yang dinamakan konstruk. Berdasarkan konstruk yang telah dirumuskan itu maka langkah selanjutnya adalah menentukan dimensi (tema/obyek/hal-hal pokok yang menjadi pusat tinjauan teori), indikator (uraian/rincian dimensi yang diukur), dan penulisan butir soalnya berdasarkan indikatornya. Untuk lebih memudahkan dalam menyusun kisi-kisi tes, perhatikan alur urutannya seperti pada gambar berikut.
TEO RI D a r i h a s il p e n e litia n / p en d a p a t d ari 1. Buku A 2. Buku B 3. Buku C 4. Buku D 5. Buku E dst

KO NSTR UK - D e fin is i k o n s e p - D e fin is i o p e r a s io n a l

D IM E N S I

IN D I K A T O R

SO AL

Berdasarkan gambar di atas, penulis soal dapat dengan mudah mengecek apakah instrumen tesnya atau butir-butir soalnya sudah sesuai dengan indikatornya atau belum. Misalnya soal nomor 1 sampai dengan soal terakhir berasal dari mana ? Dari indikator-indikator dari mana ? Dari dimensi. Rumusan dimensi dari mana ? Dari konstruk. Rumusan konstruk dari mana ? Dari teori. Jadi kesimpulannya instsrumen tes yang telah disusun merupakan alat ukur yang (sudah tepat atau belum tepat) mewakili teori). Dalam penulisan instrumen non-tes, harus memperhatikan ketentuan/ kaidah penulisan sebagai berikut : 1) Materi a) Pernyataan harus sesuai dengan rumusan indikator dalam kisi-kisi. b) Aspek yang diukur pada setiap pernyataan sudah sesuai dengan tuntutan dalam kisi-kisi (misalnya untuk tes sikap : aspek kognisi, afeksi, atau konasinya dan pernyataan positif atau negatifnya). 2) Konstruksi a) Pernyataan dirumuskan dengan singkat (tidak melebihi 20 kata) dan jelas. b) Kalimatnya bebas dari pernyataan yang tidak relevan dengan obyek yang dipersoalkan atau kalimatnya merupakan pernyataan yang diperlukan saja. c) Kalimatnya bebas dari pernyataan yang bersifat negatif ganda. d) Kalimatnya bebas dari pernyataan yang mengacu pada masa lalu. e) Kalimatnya bebas dari pernyataan yang faktual atau dapat diinterpretasikan sebagai fakta. f) Kalimatnya bebas dari pernyataan yang dapat diinterpretasikan lebih dari satu cara. g) Kalimatnya bebas dari pernyataan yang mungkin disetujui atau dikosongkan oleh hampir semua responden. h) Setiap pernyataan hanya berisi satu gagasan secara lengkap. i) Kalimatnya bebas dari pernyataan yang tidak pasti seperti semua, selalu, kadang-kadang, tidak satupun, tidak pernah. j) Jangan banyak mempergunakan kata hanya, sekedar, sematamata. Gunakan seperlunya. 3) Bahasa/budaya

300

a) Bahasa soal harus komunikatif dan sesuai dengan jenjang pendidikan siswa/responden b) Soal harus menggunakan bahasa Indonesia baku c) Soal tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/baku Instrumen skala sikap Berbagai definisi tentang sikap yang telah dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah Mueller (1986:3) yang menyampaikan 5 definisi dari 5 ahli, adalah sebagai berikut : a. Sikap adalah afeksi untuk atau melawan, penilaian tentang suka atau tidak suka akan tanggapan positif/negatif terhadap suatu obyek psikologis (thurstone). b. Sikap adalah kecenderungan untuk bertindak ke arah atau melawan suatu faktor lingkungan (Emory Bogardus) c. Sikap adalah kesiapsiagaan mental atau saraf (Golden Allport) d. Sikap adalah konsistensi dalam tanggapan terhadap obyek-obyek sosial (Donald Cambell) e. Sikap merupakan tanggapan tersebunyi yang ditimbulkan oleh suatu niai (Ralp Linton, ahli antropologi kebudayaan). Berdasarkan definisi di atas, para ahli menyimpulkan bahwa sikap mempunyai 3 komponen penting, yaitu komponen : (1) kognisi yang berhubungan dengan kepercayaan, ide dan konsep; (2) afeksi yang mencakup perasaan seseorang; dan (3) konasi yang merupakan kecenderungan bertingkah laku atau yang akan dilakukan. Oleh karena itu ketiga komponen ini dimasukkan di dalam format kisi-kisi sikap belajar siswa seperti contoh berikut. Definisi operasional sikap belajar adalah kecenderungan bertindak dalam perubahan tingkah laku melalui latihan dan pengalaman dari keadaan tidak tahu menjadi tahu yang dapat diukur melalui : toleransi, kebersamaan dan gotong royong, rasa kesetiakawanan dan kejujuran. No 1 Dimensi Toleransi Indikator a. Mau menerima pendapat orang lain atau tidak memaksakan kehendak b. Tidak mudah tersinggung a. Dapat bekerja kelompok b. Rela berkorban untuk kepentingan umum a. Mau memberi dan meminta maaf Nomor soal yang mengukur Kognisi Afeksi Konasi + + + 1 2 3 4 5 6

10

11

12

Kebersamaan dan gotong royong Rasa kesetiakawanan dst

Contoh soal seperti berikut: NO PERNYATAAN 1 Mau menerima pendapat orang lain merupakan ciri bertoleransi 2 Untuk mewujudkan cita-cita harus

SS

TP

TS

STS

301

memaksakan kehendak Saya suka menerima pendapat orang lain Memilih teman di sekolah, saya utamakan mereka yang pandai 5 Kalau saya boleh memilih, saya akan selalu mendengarkan usul-usul ke dua orang tuaku 6 Bekerjasama dengan orang lain berbeda suku lebih baik dihindarkan. Keterangan : SS = sangat setuju; S = setuju; TP = tidak berpendapat (raguragu); TS = tidak setuju; STS = sangat tidak setuju 3 4 Instrumen penilaian minat belajar Minat adalah kesadaran yang timbul bahwa obyek tertentu sangat disenangi dan melahirkan perhatian yang tinggi bagi individu terhadap obyek tersebut (crites, 1969:29). Minat juga merupakan kemampuan untuk memberikan stimulus yang mendorong seseorang untuk memperhatikan aktivitas yang dilakukan berdasarkan pengalaman yang sebenarnya (Crow and Crow, 1984:248). Berdasarkan kedua pernyataan ini, maka minat merupakan pilihan kesenangan dalam melakukan kegiatan (Skiner, 1974:337) dan dapat membangkitkan gairah sesseorang serta melahirkan kesediaannya untuk menggunakan waktu, ruang, energy dalam memenuhi kesukaannya (Raths, et al.,1996:69). Siswa yang menaruh minat pada suatu mata pelajaran perhatiannya akan tinggi dan minatnya berfungsi sebagai pendorong kuat untuk terlibat secara aktif dalam pelajaran tersebut. Oleh karena itu definisi operasional minat belajar adalah pilihan kesenangan dalam melakukan kegiatan dan dapat membangkitkan gairah seseorang untuk memenuhi kesediaannya yang dapat diukur melalui kesukacitaan, ketertarikan, perhatian, dan keterlibatan. Kisi-ksi dan soalnya adalah sebagai berikut: INDIKATOR NOMOR SOAL Gairah 8, 13 Inisiatif 16, 17 2 Ketertarikan Responsif 10, 15, 20 Keseleraan 2, 6, 9 3 Perhatian Konsentrasi 7, 19 Ketelitian 3, 10 4 Keterlibatan Kemauan 4, 5 Keuletan 1, 18 Kerja keras 12, 14 Keterangan : nomor yang bergaris bawah adalah untuk pernyataan positif Contoh instrumen seperti berikut ini. NO PERNYATAAN SS S KK J TP 1 2 Saya segera mengerjakan PR sebelum datang pekerjaan yang lain 7 Saya asyik dengan pikiran sendiri ketika guru menerangkan di kelas 16 Saya suka membaca buku ekonomi 20 Keterangan : SS = sangat sering, S = sering, KK = kadang-kadang, J = jarang, TP = tidak pernah NO 1 DIMENSI Kesukaan

302

g. Item Analisis (Analisis Soal) Tujuan khusus item analysis adalah untuk mencari soalan tes mana yang baik dan mana yang tidak baik. Selanjutnya dengan mengetahui soal-soal yang tidak baik dapat diambil langkah-langkah perbaikan terhadap soal-soal tersebut. Dengan membuat item analysis, sedikitnya kita dapat mengetahui tiga hal penting yang dapat diperoleh dari tiap soal, yaitu : a. Sampai dimana tingkat kesukaran soal itu (difficulty level of antara item) b. Apakah soal itu mempunyai daya pembeda (discriminating power), sehingga dapat membedakan antara kelompok siswa yang pandai dengan kelompok siswa yang bodoh. c. Apakah semua alternatif jawaban (optimis) menarik jawaban-jawaban ataukah tidak. 1) Taraf/Tingkat Kesukaran Soal Untuk mengetahui taraf kesukaran soal diperlukan langkah-langkah sebagai berikut : 1) Mengelompokkan siswa dalam tiga kelompok. Pengelompokkan tersebut didasarkan pada rangking skor yang diperoleh dalam kelompok tersebut/ketiga kelompok yang dimaksud tersebut. 2) Kelompok pandai atau upper group (25% dari ranking bagian atas). 3) Kelompok kurang atau lower group (25% dari ranking bagian tengah). 4) Kelompok sedang atau middle group (50% ranking bagian tengah). Yang diperlukan dalam analisis soal selanjutnya ialah kelompok pandai (upper group) dan kelompok kurang (lower group); sedangkan kelompok sedang (middle group) kita biarkan. 1) Menghitung jumlah siswa dalam kelompok pandai dan kelompok kurang yang menjawab soal tersebut dengan betul. 2) Menentukan taraf kesukaran dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

TK =

U+L T

Keterangan : TK = tingkat/taraf kesukaran soal U = jumlah siswa yang termasuk kelompok pandai (upper group) yang menjawab benar untuk setiap soal L = jumlah siswa yang termasuk kelompok kurang (lower group ) yang menjawab benar untuk setiap soal T = jumlah siswa dari upper group dan lower group Contoh : Dalam tabulasi dari suatu item (item no 1) diketahui dari 10 orang kelompok pandai yang dapat menjawab benar 9 orang dan 10 orang kelompok kurang yang dapat menjawab benar 4 orang. Maka tingkat kerusakan soal tersebut adalah sebagai berikut : TK =

U+L 9+4 = = 0,65 T 20

3) Menentukan kriteria bagi soal yang baik dan tidak baik, yaitu sebagai berikut : a) Untuk soal yang berbentuk true-false TK 0,16 dikategorikan soal yang sukar TK 0,84 dikategorikan soal yang mudah b) Untuk soal yang berbentuk multiple choice (3 option) TK 0,21 dikategorikan soal yang sukar 303

TK 0,79 dikategorikan soal yang mudah c) Untuk soal multiple choice (4 option) TK 0,24 dikategorikan soal yang sukar TK 0,76 dikategorikan soal yang mudah 2) Daya Pembeda Soal Yang dimaksud daya pembeda suatu soal ialah bagaimana kemampuan soal itu untuk membedakan siswa-siswa yang termasuk kelompok upper group dengan siswa-siswa yang termasuk kelompok lower group. Langkah-langkah yang ditempuh dalam menghitung indeks daya pembeda suatu soal, sama dengan yang dilakukan pada saat menghitung tingkat kesukaran soal, baik dalam hal menentukan kelompok pandai (upper group) dan lower group, maupun dalam menghitung jumlah siswa pada tiap-tiap kelompok yang menjawab benar dari suatu soal tersebut. Untuk hal ini dibedakan antara kelompok kecil (kurang dari 100) dan kelompok besar (100 orang ke atas) a. Untuk kelompok kecil ; seluruh kelompok testee dibagi dua sama besar, 50% kelompok atas dan 50% kelompok bawah. Caranya seluruh pengikut tes diurutkan mulai dari skor teratas sampai terbawah, lalu dibagi 2. b. untuk kelompok besar. Mengingat biaya dan waktu untuk menganalisis, maka untuk kelompok besar biasanya hanya diambil kedua kutubnya saja yaitu 27% skor teratas sebagai kelompok atas/upper group (JA) dan 27% skor terbawah sebagai kelompok bawah/lower group (JB) Untuk menghitung indek daya pembeda soal dapat digunakan dengan dua cara, yaitu : 1) Dengan menggunakan rumus sebagai berikut : D = BA/JA - BB /JB = PA - PB Keterangan : D = indek daya pembeda soal JA = jumlah siswa kelompok upper group yang mengikuti tes JB = jumlah siswa kelompok lower group yang mengikuti tes BA = jumlah siswa kelompok upper group yang menjawab benar dari soal itu BB = jumlah siswa kelompok lower group yang menjawab benar dari soal itu PA = proporsi kelompok upper group yang menjawab benar dari soal itu PB = proporsi kelompok lower group yang menjawab benar dari soal itu Contoh : Dari hasil analisis tes yang terdiri dari 10 butir soal yang dikerjakan oleh 20 orang saiswa, terdapat dalam tabel sebagai berikut : Tabel Analisis 10 Butir soal dari 20 Siswa Siswa A B C D E kelom pok B A A B A 1 1 0 1 0 1 2 0 1 0 0 1 3 1 1 1 1 1 4 0 1 0 0 1 Nilai Soal 5 6 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 7 1 0 1 1 1 8 1 0 1 1 1 9 1 1 1 1 1 10 0 1 1 0 1 Jmlh Skor 5 7 8 5 10

304

F G H I J K L M N O P Q R S T Jumlah

B B B A A A B B A A B A A B B

1 0 0 1 1 1 0 0 0 1 0 1 1 1 0 11

1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 15

0 0 1 1 1 1 0 0 1 0 0 0 1 1 0 12

0 0 0 0 1 0 1 0 0 1 0 1 1 0 1 8

0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 6

1 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 16

1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 15

1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 17

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20

0 1 1 1 1 0 0 0 1 1 0 1 0 0 0 10

6 6 6 8 7 7 5 3 7 9 3 8 8 6 6

Dari table di atas berdasarkan nama-nama siswa dapat kita peroleh skor-skor sebagai berikut : A = 5 F=6 K=7 P=3 B = 7 G=6 L=5 Q=8 C = 8 H=6 M=3 R=8 D = 5 I=8 N=7 S=6 E = 10 J=7 O=9 T=6 Dari angka-angka tersebut, selanjutnya diurutkan atau dibuat array (urutan penyebaran) dari skor yang paling tinggi ke skor yang paling rendah. Kelompok Atas Kelompok Bawah 10 6 9 6 8 6 8 6 8 6 8 5 7 5 7 5 7 3 7 3 ----------------------------------10 orang 10 orang Dari hasil array ini sekaligus menunjukkan adanya kelompok atas (JA) dan kelompok bawah(JB) dengan nama dan skor sebagai berikut : Kelompok Atas Kelompok Bawah B = 10 A = 6 C= 9 D = 6 E= 8 F = 6 I = 8 G =6 J = 8 H =6 K= 8 L = 5 N= 7 M =5 O= 7 P = 5 Q= 7 S = 3 305

R= 7 T = 3 ----------------------10 orang 10 orang Dari tabel Analisis di halaman 53, khusunya untuk nomor 1, maka diperoleh data bahwa : - Dari kelompok atas yang menjawab betul sebanyak 8 orang - Dari kelompok bawah yang menjawab betul sebanyak 3 orang, maka indek dikriminasi atau daya pembeda dapat ditentukan sebagai berikut : JA = 10 BA = 8 PA = BA/ JA = 0,8 , sedangkan JB = 10 BB = 3 PB = BB/JB = 0,3 Maka D = PA - PA = 0,8 - 0,3 = 0,5 Kriteria untuk soal dilihat dari indeks daya beda Soal yang indeks daya beda lebih besar dari 0,20. (DB = > 0,20) dikategorikan sebagai soal yang baik. 3) Efektivitas Distraktor (Pengecoh) Seberapa jauh option dapat memenuhi fungsinya dapat diketahui dengan cara memperhatikan jumlah pemilih untuk tiap pilihan jawaban, baik oleh siswa upper group maupun lower group. Berikut ini disajikan satu contoh soal yang mempunyai 4 option. Pilihan jawaban Jawaban upper group Jawaban lower group Jumlah a 5 3 8 b 4 3 7 c 0 0 0 d 1 4 5 Jumlah 10 10 20

Jawaban betul untuk soal di atas adalah a pilihan jawaban (option), b, c dan d sebagai distraktor. Pada umumnya distraktor yang baik dapat mengudang jawaban yang lebih besar jumlahnya pada siswa lower group, dan sedikit pada upper group. Pilihan jawaban a, tidak efektif, karena daya pembedanya rendah. Pilihan b sebagai distraktor tidak efektif, sebab menarik jawaban lebih banyak dari siswa upper gorup. Kejadian semacam ini disebabkan karena distraktor b membingungkan. Option c sama sekali tidak efektif, karena tidak dapat menarik jawaban seorangpun, sebab hanya dapat mengundang jawaban oleh siswa upper group yang lebih sedikit. C. Latihan Buatlah kelompok kecil yang terdiri dari 3 orang, kemudian susunlah sebuah kisi-kisi instrumen untuk menilai penguasaan peserta didik terhadap salah satu kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP/SMA/MA yang dilengkapi dengan instrumennya. Setelah selesai presentasikan hasil pekerjaan saudara sesama kelompok yang lain.

306

D. Lembar Kegiatan 1. Alat dan Bacaan a. Satu set buku teks pelajaran Bahasa Indonesia b. Standar isi kurikulum Mata pelajaran Bahasa Indonesia

2. Prasyarat Peserta pelatihan telah memiliki pengalaman menjadi guru mata pelajaran Bahasa Indonesia selama 5 tahun. 3. Langkah Kegiatan a. Rumuskan kompetensi dasar berdasarkan standar kompetensi dari kurikulum b. Rumuskan indikator-indikator setiap kompetensi dasar. c. Tentukan teknik penilaian untuk pengukuran indikator-indikator, serta tentukan jenis dan bentuk instrumen yang akan digunakan untuk kegiatan pengukuran melalui tabel kisi-kisi instrumen. d. Tuliskan susunan instrumen menurut penilaian sesuai dengan susunan yang ada pada tabel kisi-kisi. 4. Hasil a. Tabel kisi-kisi instrumen penilaian. b. Seperangkat instrumen penilaian dalam bentuk tes tertulis serta nontes (lembar pengamatan, kuesioner, skala sikap) E. Rangkuman Kurikulum berbasis kompetensi merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai peserta didik, penilaian dan kegiatan belajar mengajar serta pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah. Salah satu ciri kurikulum berbasis kompetensi yaitu menerapkan pembelajaran kontekstual yaitu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan membantu peserta didik untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga peserta didik memiliki pengetahuan dan keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan atau ditranfer dari satu permasalahan/konteks ke permaslahan/konteks lainnya. Setiap kompetensi yang tercantum dalam kurikulum menggambarkan kemampuan yang diharapkan dikuasai oleh peserta didik. Kompetensi tersebut meliputi kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik, sehubungan dengan hal itu maka untuk mengukur kompetensi tersebut tidak cukup hanya dengan teknik tes, akan

307

tetapi penggunaan teknik non-tes akan menjadikan penilaian lebih valid dan komprehensif. Teknik tes digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik yang berkaitan dengan aspek kognitif (menggunakan logika untuk memahami konsepkonsep secara utuh), sedangkan teknik non-tes digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik berkaitan dengan aspek sikap dan keterampilan yaitu kemampuan mengaplikasikan konsep ke dalam kehidupan nyata sehari-hari dari peserta didik) Penyusunan kisi-kisi instrumen sebagai upaya guru dalam melaksanakan dan mewujudkan penilaian pembelajaran yang valid dan komprehensif. Setiap instrumen mempunyai kelebihan dan kelemahan. Tidak ada satu pun alat penilaian yang dapat mengumpulkan informasi hasil dan kemajuan belajar peserta didik secara lengkap. Penilaian tunggal tidak cukup untuk memberikan gambaran yang lengkap tentang kemampuan, keterampilan, pengetahuan dan sikap seorang peserta didik. Selain itu intrepretasi hasil tes bersifat tidak mutlak karena peserta didik terus berkembang sesuai pengalaman belajar yang dialaminya. Penilaian yang sahih dan komprehensif dapat dicapai dalam pembelajaran bilamana guru selaku aktor pengelola pembelajaran di kelas mampu menyusun instrumen penilaian secara sistematis. Upaya tersebut bisa diwujudkan dengan mempersiapkan instrumen penilaian melalui tabel kisi-kisi instrumen. Setiap instrumen memiliki kelebihan dan kelemahan, sehingga dalam menyusun instrumen hendaknya memperhatikan pada kaidah-kaidah penulisannya. Untuk mendapatkan instrumen yang berkualitas perlu dilakukan analisis instrumen tentang validitas instrumen, reliabilitas instrumen, sedangkan instrumen tes, khususnya tes pilihan ganda ditambahkan analisis tentang tingkat kesukaran, daya pembeda, dan efektivitas distraktor.

308

MATA LATIH: SKORING DAN PENILAIAN PEMBELAJARAN


A. Kompetensi dan Indikator 1. Kompetensi dasar Peserta pelatihan memiliki ketrampilan dalam menentukan capaian kompetensi peserta didik melalui skoring dan pendekatan penilaian yang sesuai. 2. Indikator a. Terampil menerapkan teknik skoring terhadap hasil pengukuran pembelajaran. b. Terampil menilai hasil belajar peserta didik melalui pendekatan yang sesuai B. Uraian Materi : Skoring dan Penilaian Pembelajaran 1. Skoring Setelah pengukuran kemampuan peserta didik melalui berbagai instrumen, tugas guru selanjutnya adalah mengadakan koreksi terhadap hasil isian instrumen yang telah dikenakan pada sasaran yang diukur (dalam hal ini aktivitas belajar peserta didik). Setiap jenis tes (apakah essay atau objektif) memiliki teknik skoring masing-masing, berikut ini diungkapkan teknis atau cara dalam skoring pada masing-masing jenis instrumen. a. Skoring pada tes essay 1) Lakukan skoring terhadap jawaban-jawaban soal essay dalam hubungannya dengan hasil belajar yang sedang diukur. 2) Untuk soal-soal essay dengan jawaban terbatas (restricted response questions), berilah skor dengan point method; gunakan pedoman jawaban sebagai guide atau petunjuk. Tulislah lebih dulu pedoman jawabannya untuk tiap soal, dan tentukan skor yang dikenakan kepada tiap soal atau bagian soal (dengan weighting atau pembobotan). 3) Untuk soal-soal essay dengan jawaban terbuka (extended response questions), skorlah dengan rating method; gunakan kriteria tertentu sebagai guide. Untuk itu bisa dilakukan dengan mengklarifikasikan jawaban-jawaban ke dalam 5 tingkat, yang selanjutnya diberi skor 0, 1, 2, 3, 4 atau A, B, C, D dan F. 4) Berikan skor atas jawaban-jawaban soal demi soal, dan bukan siswa demi siswa. Dengan demikian dapat dihindarkan terjadinya halo effect. 5) Berikan skor jawaban-jawaban soal essay tanpa mengetahui identitas siswa yang mengerjakan itu. 6) Bilamana mungkin, mintalah dua atau tiga orang guru lain yang mengetahui masalah itu untuk menilai tiap jawaban. Ini diperlukan untuk mencek reliabilitas skoring terhadap jawaban-jawaban essay itu. b. Skoring pada tes obyektif 1) Fill in completion (tes isian dan melengkapi) Setiap isian yang dijawab benar diberi skor satu. Rumus skoring yang digunakan adalah sebagai berikut. S = skor S =R R = jumlah isian yang dijawab betul (right) Contoh : Misalkan sebuah tes berbentuk fill-in terdiri dari 30 isian. Riyan mengerjakan tes tersebut 23 isian dijawab betul, 5 isian salah dan 2 isian tidak dijawab. Maka skor Riyan = 30 7 = 23

309

2) True-false tes (tes benar-salah) Setiap item yang dijawab betul diberi skor satu. Rumus yang dipergunakan : S=RW Keterangan : S = skor yang diharapkan R = jumlah item yang dijawab betul (right) W = jumlah item yang dijawab salah (wrong) Contoh : Umpamakan jumlah item true false = 20 Devi dapat menjawab betul 13 item, dijawab salah 5 item dan tidak dijawab 2 item, maka skor Devi = 13 5 = 8 3) Multiple choice test (bisa pilihan ganda) Setiap jawaban betul diberi skor satu dan setiap jawaban salah diberi skor 0. Rumus yang digunakan adalah :

S=R

W n 1

Keterangan : S = skor yang diharapkan R = jumlah jawaban betul W = jumlah jawaban salah n = jumlah option 1 = bilangan konstan Contoh : 20 item soal pilihan ganda dengan option a b c d tiap item. Rifki dapat menjawab 14 item betul, 6 item salah, maka skor Rifki adalah :

20

4) Matching test (test menjodohkan) Setiap jawaban betul diberi skor 1 dan setiap jawaban salah 0. Rumus yang digunakan adalah : S=R Contoh : Misalkan sebuah test berbentuk matching banyak 10 item, Melisa mengerjakan tes tersebut 7 item betul dan 3 item salah. Maka skor Melisa = 10 3 = 7 5) Skor akhir Skor akhir siswa dapat ditentukan dengan cara menjumlah skor yang diperoleh pada tiap-tiap jenis tes yang digunakan yang telah dihitung menurut rumus dan bobot masing-masing jenis tes. Contoh : Misalkan suatu tes terdiri atas empat macam bentuk yaitu : True-false = 30 item dengan bobot 1 Multiple choice = 20 item dengan bobot 2 (dengan 4 option) Matching = 10 item dengan bobot 3 Essay = 4 item dengan bobot 5 310

6 6 14 14 2 = 12 4 1 3

Fidia mengerjakan tes tersebut dengan hasil sebagai berikut : Tak Betul Salah Skor dijawab True-false 22 6 2 S = 22 6 =6 Multiple 14 6 ( 2 x 6 ) = 24 S = (2 x 14) choice Matching Essay 7 2 3 1 Skor akhir Fidia 1 S=7x3 S=3x5

4 1

= 21 = 15 = 76

c. Skoring pada teknik non-test Berikut ini contoh hasil pengisian instrumen non tes (skala sikap) oleh salah satu peseta didik. NO 1 2 3 4 5 PERNYATAAN SS Mau menerima pendapat orang lain X merupakan ciri bertoleransi Untuk mewujudkan cita-cita harus memaksakan kehendak Saya suka menerima pendapat orang lain Memilih teman di sekolah saya utamakan mereka yang pandai saja Kalau saya boleh memilih, saya akan selalu mendengarkan kedua orangtuaku bekerjasama dengan orang yang berbeda suku lebih baik dihindarkan Selalu mendengarkan usul kedua orang tuaku, bekerjasama dengan orang yang berbeda suku lebih baik dihindari S TP TS X X X X STS

6.

Penjelasan: dalam kisi-kisi tes, soal nomor 1-6 adalah hanya mewakili indikator mau menerima pendapat orang lain dari dimensi toleransi untuk topik sikap belajar siswa di sekolah 1) Perilaku positif terdapat pada soal nomor 1, 3, 5 dengan pemberian skor : SS 5, S = 4, TP = 3, TS = 2, STS = 1 2) Perilaku negatif terdapat pada nomor 2, 4, 6 dengan pemberian skor : SS = 1, S = 2, TP = 3, TS = 4, STS = 5 3) Skor yang harus diperoleh dalam perilaku positif minimal 3 x 4 = 12, maksimal 3 x 5 = 15 (3 berasal dari 3 butir soal yang positif; 4 adalah skor S : 5 adalah skor SS). 4) Skor yang harus diperoleh dalam perilaku negatif minimal 3 x 2 = 6, maksimal 3 x 1 = 3 (3 berasal dari 3 butir soal yang positif, 2 adalah skor S ; 5 adalah skor STS). 5) Skor rata-rata : perilaku minimal adalah (12 + 6) : 2 = 9, dan perilaku maksimal adalah (15 + 3) : 2 = 9. 6) Jadi skor siswa di atas adalah : perilaku positif 5 + 4 + 1 = 10, perilaku negatif 4 + 2 + 3 = 9, dan skor akhir mereka adalah (10 + 9) : 2 = 9,5 atau 10. Skor siswa 10 sedangkan ukuran perilaku positif minimal 12 dan maksimal 15. Jadi sikap siswa tentang toleransi khususnya mau

311

menerima pendapat orang lain dalam topik sikap belajar siswa di sekolah masih kurang. Artinya siswa tersebut mempunyai sikap positif yang tidak begitu tinggi tentang mau menerima pendapat orang lain. dia perlu pembinaan dan peningkatan khususnya mengenai perilaku ini. 2. Penilaian Untuk dapat melakukan penilaian harus dilakukan lebih dahulu pengukuran dengan alat tes. Hasil pengukuran dapat menggambarkan derajat kualitas dan eksistensi keadaan yang diukur. Namun demikian hasil pengukuran ini belum memiliki makna bila belum dibandingkan dengan suatu acuan atau bahan pembanding. Proses membandingkan inilah yang disebut sebagai proses penilaian dan merupakan hasil pengukuran. a. Penilaian Acuan Norma (PAN) Pada acuan ini hasil belajar tiap peserta didik dibandingkan dengan hasil belajar peserta didik lain dalam kelompoknya. Pembanding yang dipakai adalah nilai rata-rata dan simpangan baku. PAN menggunakan prinsip-prinsip yang berlaku pada jurca normal, hasil-hasil perhitungan dipakai sebagai acuan penilaian, memiliki sifat relatif sesuai dengan naik turunnya nilai rata-rata dan simpangan baku yang dihasilkan pada saat itu. Penggunaan sistem PAN pemberian makna skor yang diperoleh peserta didik tidak memakai kompetensi sebagai pedoman, sehingga batas lulusnya tidak ditentukan oleh penguasaan minimal siswa terhadap kompetensi yang diharapkan, melainkan didasarkan pada nilai rata-rata dan simpangan baku yang dihasilkan kelompoknya. Sistem PAN akan lebih baik digunakan, bila syarat-syarat yang mendasari kurva normal dipenuhi, yaitu : 1. Skor terpencar atau dapat dianggap terpencar sesuai dengan pancaran kurva normal. 2. Jumlah siswa yang dinilai lebih dari 50 orang. Pemberian nilai berdasarkan PAN Agar diperoleh nilai bagi setiap siswa pada sistem PAN dengan tepat, dalam arti dapat menentukan status siswa dalam kelompoknya, maka skor mentah yang sudah diperoleh dari skoring diubah menjadi nilai dengan skala nilai tertentu (skala 1 4, skala A-E atau skala 1 10) Sebagai contoh di bawah ini ditampilkan cara mengolah skor mentah menjadi nilai 1 10 dengan pendekatan PAN. Untuk keperluan ini perlu ditempuh langkah-langkah penyusunan skor ke dalam tabel kerja, yaitu sebagai berikut : 1) Menentukan dulu banyaknya kelas interval, dengan jalan : a) Mencari range (R) dengan mengurangi skor maksimum dengan skor minimum. b) Menentukan Jumlah kelas interval, sebaiknya jumlahnya ganji, mis 5, 7 dan 9 dengan menggunakan rumus sturgess, sebagai berikut : k = 1 + 3,3 log n c) Menentukan panjang setiap kelas interval (p) yaitu : p = R/k 2) Mengisi kolom 2 (interval) yang dimulai dari skor minimum berturut-turut dengan interval yang telah ditemukan dan sejumlah kelas yang telah ditentukan pada langkah pertama. 3) Membuat taily pada kolom 3 dan mentabulasikan tiap-tiap skor ke dalam kelasnya. 4) Mengisi angka taily ke dalam kolom 4 (lajur frekuensi = f)

312

5) Menentukan deviasi pada lajur dan dengan menetapkan mean dugaan (M) pada kelas tertentu (kelas yang paling besar frekuensinya) selanjutnya meletakkan angka deviasi secara berurutan dari nol ke atas dan ke bawah (ke atas diberi tanda plus +, ke bawah minus -). 6) Mengisi lajur fd dengan mengalikan lajur frekuensi dan deviasi (d) 7) Mengisi lajur fd2, kemudian dijumlahkan. Contoh : Umpama seorang guru memperoleh skor mentah dari hasil Ujian Mapel di kelas II A2 SMA yang berjumlah 80 siswa, setelah di-array (diurutkan dari nilai terkecil yaitu sebagai berikut : 35 40 42 46 46 50 51 52 52 54 56 55 55 57 57 58 58 60 61 62 62 64 64 64 66 66 67 68 68 68 69 69 70 70 70 71 71 71 71 71 72 73 73 73 73 73 73 73 74 74 74 74 74 74 76 76 76 76 76 76 77 78 78 80 82 83 85 85 88 90 90 91 92 92 95 95 97 98 98 99

Untuk mengolah skor mentah tersebut menjadi nilai 1-10 berdasarkan PAN adalah sebagai berikut : Skor maksimum = 99 Skor minimum = 35 Range ( R ) = 99 35 = 64 8) Banyaknya kelas interval : (k) = 1 + 3,3 log 80 = 7,2 dibulatkan ke bawah Jadi jumlah kelas interval (k) = 7 Interval 35 44 45 54 55 64 65 74 75 84 85 94 95 104 TABEL DISTRIBUSI Tally f ||| 3 |||| | | 7 |||| |||| |||| 14 |||| |||| |||| |||| 30 |||| |||| |||| |||||| 12 |||| |||| 8 |||| || 6 N = 80 FREKUENSI xi d 39,5 -3 49,5 -2 59,5 -1 69,5 0 79,5 89,5 99,5 1 2 3 fd -9 -14 -14 0 12 16 18 9 (fd) fd2 27 28 14 0 12 32 54 167 (fd2)

Mean (M) = X0 + p{ 9/167} = 69,5 + 10{ 0,053} = 69,5 + 0,53 = 70,03 Deviasi standar (DS) dapat dihitung sebagai berikut : DS = p { 80.167 - 92} /80.79 DS = 10 (1.449) = 13,49 dibulatkan menjadi 13 313

Setelah semua ditemukan mean dan DS (Mean = 70 dan DS = 13), langkah selanjutnya ialah mengubah skor mentah ke dalam nilai 1 10 dengan menggunakan rumus, batas bawah masing-masing nilai dalam skala 1 10 yaitu sebagai berikut : M + 2,25 DS = batas bawah nilai 10 M + 1,75 DS = batas bawah nilai 9 M + 1,25 DS = batas bawah nilai 8 M + 0,75 DS = batas bawah nilai 7 M + 0,25 DS = batas bawah nilai 6 M 0,25 DS = batas bawah nilai 5 M 0,75 DS = batas bawah nilai 4 M 1,25 DS = batas bawah nilai 3 M 1,75 DS = batas bawah nilai 2 M 2,25 DS = batas bawah nilai 1 Hasil perhitungan : 70,03+ (2,25 x 13) 70,03+ (1,75 x 13) 70,03+ (1,25 x 13) 70,03+ (0,75 x 13) 70,03+ (0,25 x 13) 70,03 (0,25 x 13) 70,03 (0,75 x 13) 70,03 (1,25 x 13) 70,03 (1,75 x 13) 70,03 (2,25 x 13) = 99,28 dibulatkan = 92,78 dibulatkan = 86,28 dibulatkan = 79,78 dibulatkan = 73,28 dibulatkan = 66,78 dibulatkan = 60,28 dibulatkan = 53,78 dibulatkan = 47,28 dibulatkan = 41,78 dibulatkan = 99 nilai 10 = 93 nilai 9 = 86 nilai 8 = 80 nilai 7 = 73 nilai 6 = 67 nilai 5 = 60 nilai 4 = 54 nilai 3 = 47 nilai 2 = 42 nilai 1

b. Pendekatan Acuan Patokan (PAP) Pada acuan ini sebelum itu dilaksanakan harus ditetapkan lebihdhulu patokan yang akan dipakai sebagai pembanding terhadap semua hasil pengukuran. Patokan di sini tidak lagi merupakan hasil kelompok seperti pada PAN, melainkan merupakan suatu patokan yang ditetapkan sebelumnya sebagai batas lulus atau dengan kata lain tingkat penguasaan minimum (Matery level). Patokan di sini bersifat tetap dan dapat juga dipakai untuk kelompok lain yang manapun. Siswa yang telah melampaui atau sama dengan kriteria keberhasilan (batas lulus) dinyatakan lulus atau memenuhi persyaratan. Pengajar yang menggunakan, membantu dan membimbing subyek, selama ke arah penguasaan minimal sejak dimulai, selama berlangsungnya, sampai pada proses belajar mengajar itu selesai. Kompetensi dirumuskan dalam TIK dan ini merupakan anak, petunjuk dan pusat kegiatan dalam pengajaran. Pemberian nilai berdasarkan PAP Dalam hal ini, penetapan batas lulus (KKM) adalah merupakan hal yang pokok dan sudah ditetapkan sejak program pembelajaran dimulai. Dengan menetapkan batas toleransi terhadap fluktuasi prestasi peserta didik dari kelas ke kelas, dan dari tahun ke tahun, dugaan pertimbangan profesionalisme seorang guru menetapkan batas bawah tingkatan prestasi yang dianggap memadai dalam memenuhi syarat (lulus) sedang yang di bawahnya dinyatakan tidak memenuhi syarat. Apabila hal ini telah dilakukan

314

maka skor dibandingkan dengan batas tingkatan prestasi tersebut akan menghasilkan nilai (grade). Untuk mengolah skor mentah menjadi nilai melalui pendekatan PAP dapat dilakukan melalui prosedur persentase. Sebagai contoh di sini ditampilkan cara mengolah skor mentah menjadi nilai skala 1 10 melalui prosedur persentase. Terlebih dahulu perlu dipersiapkan acuan patokan keberhasilan yang hendak digunakan pada skala nilai 1 10, adalah : Tingkat Penguasaan 91 % - 100 % 81 % - 90 % 71 % - 80 % 61 % - 70 % 51 % - 60 % 41 % - 50 % 31 % - 40 % 21 % - 30 % 11 % - 20 % 0 % - 10 % Nilai 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1

Contoh : Dalam suatu ujian diberlakukan 150 item/soal ujian obyektif. Ratmadiyanto memperoleh skor 83. Sedangkan skor maksimal ideal 150 (dalam hal ini seluruh soal dikerjakan dengan benar). Berdasarkan perhitungan persentase, maka tingkat penguasaan Ratmadiyanto adalah sebagai beirkut :

83 x 100% = 55,3 % 150


Tingkat penguasaan Ratmadiyanto tersebut setelah dibandingkan dengan acuan yang sudah ada, maka nilai Ratmadiyanto = 6 C. Latihan Seperangkat instrumen tes formatif untuk pengukuran kompetensi dasar yang terdiri atas 20 item soal tes obyektif dengan jumlah opsi jawaban 4 (a, b, c, d) dikenakan kepada 20 peserta didik, hasil jawaban peserta didik atas soal tersebut adalah sebagai berikut : Peserta didik A B C D E F G H I J Jumlah item yang dijawab peserta didik Betul Salah Kosong 12 5 3 14 6 0 8 8 4 11 7 2 16 0 4 10 10 0 12 8 0 6 14 0 15 5 0 14 3 3 Peserta didik K L M N O P Q R S T Jumlah item yang dijawab peserta didik Betul Salah Kosong 9 3 3 8 12 0 20 0 0 15 2 3 17 3 0 14 4 2 12 4 4 7 11 2 10 8 2 8 12 0

315

Tentukan jumlah siswa yang tidak berhasil mencapai kompetensi jika penilaian dilakukan dengan pendekatan PAP dan KKM ditetapkan nilai 5,25 dalam skala nilai 1-10. D. Lembar Kegiatan 1. Alat dan Bahan a. Satu lembar soal UAS beserta b. Lembar jawaban siswa atas soal UAS sebanyak satu kelas. 2. Prasyarat Peserta telah memiliki pengalaman menjadi guru mata pelajaran selama 5 tahun. 3. Kangkah Kegiatan a. Koreksilah jawaban siswa satu persatu melalui sesuai rubric yang telah dibakukan. b. Lakukan analisis butir soal, dan tentukan kualitas soal berdasarkan tingkat kesukaran, daya pembeda, dan efektivitas distraktor. 4. Hasil Isikan hasil pekerjaan ke kolom yang disediakan pada tabel berikut. TK DB Efektivitas distraktor No a b c d e Soal Baik Tdk Baik Tdk E T E T E T E T E T 1 2 3 E. Rangkuman Skoring dan penilaian merupakan dua kegiatan pokok yang sering diartikan secara rancu oleh para guru dalam melakukan penilaian hasil peserta didik. Sering guru menganggap skor sebagai nilai, atau guru tersebut kurang memahami prosedur mengolah skor menjadi nilai, sehingga hasil penilaian guru belum menunjukkan hasil belajar peserta didik yang sebenarnya. Skor merupakan data angka (kuantitatif) yang diperoleh dari hasil pengukuran melalui instrumen. Data tersebut masih berupa data mentah dan belum memiliki arti sebelum data tersebut diolah. Pengolahannya adalah menghitung skor total peserta didik dengan cara menjumlahkan semua skor yang diperoleh peserta didik yang dinilai pada masing-masing item instrumen pengukuran melalui teknik skoring dan pembobotan. Nilai hasil belajar peserta didik ditentukan dari skor total yang diperoleh peserta didik tersebut dan membandingkannya dengan suatu criteria (patokan) tertentu sesuai dengan tujuan penilaian. Untuk pelaksanaan system belajar tuntas patokan yang digunakan adalah penilaian acuan patokan (PAP) atau acuan absolut, dimana tingkat keberhasilan peserta didik adalah pencapaian kompetensi. Jadi siswa yang skornya belum mencapai criteria kompetensi minimal (KKM) mereka dinyatakan belum mencapai kompetensi atau belajarnya belum berhasil. Untuk keperluan tertentu, misalnya mengetahui posisi peserta didik dalam kelompok belajarnya parameter penilaian dapat digunakan kriteria norma (PAN). F. Test Formatif Tes Obyektif Petunjuk :

316

Kerjakan soal nomor 1 s/d 10 dengan cara memberi tanda silang pada alternatif jawaban a, b, c, atau d yang dianggap jawaban yang paling tepat pada setiap butir soal. Soal-soal : 1. Di bawah ini adalah ciri-ciri dari kurikulum berbasis ko mpetensi, kecuali a. Menekankan pada ketercapaian kompetensi (standar kompetensi, kompetensi dasar yang tercermin pada indikator kompetensi) peserta didik. b. Berorientasi pada hasil belajar c. Menerapkan pembelajaran tradisional d. Menggunakan penilaian yang berorientasi pada kompetensi (penilaian autentik) 2. Penilaian pembelajaran yang mengacu pada merupakan penilaian pembelajaran yang menekankan pada penguasaan komptensi, sehingga siswa yang belum mencapai kompetensi belum diperkenankan untuk mengikuti kegiatan pembelajaran berikutnya. a. Prinsip berkelanjutan b. Prinsip belajar tuntas c. Prinsip otentik 3. Bentuk kegiatan dalam sistem penilaian pembelajaran yang berkaitan dengan penerapan prinsip komprehensif a. Analisis butir soal b. Melaksanakan pengajaran remedial/pengayaan c. Menyusun kisi-kisi instrument penilaian d. Merumuskan kriteria kelulusan 4. Penilaian pembelajaran yang menekankan pada kualitas hasil pekerjaan peserta didik atas tugas yang diberikan guru a. Penilaian proyek b. Penilaian unjuk kerja c. Penilaian produk d. Penilaian portofolio 5. Agar peniliaian guru bersifat objektif, salah satu hal yang harus dilakukan guru adalah a. Memanfaatkan berbagai bukti hasil kerja anak dari berbagai penilaian. b. Menyesuaikan penilaian dengan kemampuan anak c. Memanfaatkan hasil penilaian dari guru lain d. Melihat latar belakang psikologis anak 6. Tes yang dikemas dalam sejumlah butir-butir soal sangat tepat dipakai untuk melakukan penilaian terhadap aspek .. a. sikap b. penguasaan konsep c penerapan konsep d. keterampilan 7. Penilaian pembelajaran yang menekankan pada kegiatan suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/wakttu tertentu oleh peserta didik a. Penilaian proyek b. Penilaian unjuk kerja c. Penilaian produk d. Penilaian portofolio 8. Salah satu hal yang harus dilakukan guru agar penilaian guru bersifat obyektif adalah ............... 317

a. b. c. d 9.

Menyesuaikan penilaian dengan kemampuan siswa Memanfaatkan berbagai bukti hasil kerja siswa dari berbagai penilaian Melihat latar belakang psikologis siswa Memanfaatkan hasil penilaian dari guru lain

10.

Penilaian diri dapat memberikan dampak positif terhadap perkembagan kepribadian seseorang. Beberapa keuntungan dari penilaian diri, kecuali..... a. Menumbuhkan kepekaan diri b. Menumbuhkan kepercayaan diri c. Menumbuhkan kesadaran akan kelemahan dan kekuatan diri d. Dapat mendorong dan melatih untuk berbuat jujur Berikut ini adalah beberapa persyaratan sebuah kisi-kisi intrumen penilaian pembelajaran yang baik, kecuali ........... a. Mewakili isi silabus/kurikulum b. Mewakili kepentingan peserta didik c. Materi yang hendak ditanyakan dapat dibuat instrumennya d. Komponen-komponennya diuraikan secara jelas dan mudah dipahami Penilaian yang baik apabila didahului dengan kegiatan pengukuran. Maksud pengukuran dalam sistem penilaian pembelajaran adalah ... a. Mencari bukti b. Mengumpulkan informasi c. Mengkuantifikasi aspek kepribadian siswa d. Menentukan kelulusan Dasar pembobotan pada kegaitan skoring ... a. Tingkat kesukaran soal b. Keterlibatan sejumlah kemampuan yagn digunakan untuk mengerjakan soal c. Keluasan aspek yang dinilai d. Bentuk soal Acuan penilaian yang tepat untuk ketuntasan belajar ... a. Acuan norma b. Acuan mutlak c. Acuan nasional d. Acuan performance Fungsi nilai pada penilaian acuan norma (PAN) adalah ... a. menentukan kelulusan siswa b. mendeteksi kesulitan belajar c. menentukan pencapaian kompetensi d. menentukan ranking siswa dalam kelas Prosedur penilaian yang sesuai dalam pembelajaran a. ujian skoring nilai b. ujian koreksi nilai c. ujian skor parameter nilai d. ujian parameter skor nilai

11.

12.

13.

14.

15.

318

319

320

BAB XI PENELITIAN TINDAKAN KELAS


PENDAHULUAN A. Kompetensi dan Indikator 1. Kompetensi Setelah terlibat dan berperan aktif dalam pelatihan dengan pokok bahasan Pendahuluan, membaca dan menelaah materi serta sumber-sumber terkait, dan melaksanakan tugas-tugas terstruktur, peserta diharapkan memahami : a. penelitian tindakan kelas, khususnya penelitian tindakan kelas dan penelitian tindakan konseling, serta penelitian tindakan kepengawasan (PTK). b. keterkaitan PTK dengan profesionalitas guru, c. posisi PTK dalam metode penelitian pada umumnya (non PTK), dan d. kesamaan dan perbedaan antara PTK dan non PTK. 2. Indikator Setelah terlibat dan berperan aktif dalam pelatihan dengan pokok bahasan Pendahuluan, membaca dan menelaah materi serta sumber-sumber terkait, dan melaksanakan tugas-tugas terstruktur, peserta diharapkan dapat : a. Memaparkan perkembangan PTK hingga di Indonesia b. Menjelaskan hubungan antara PTK dan profesionalisasi guru, c. Menyebut berbagai metode penelitian non PTK, dan d. Memaparkan persamaan dan perbedaan antara PTK dan non PTK. B. Materi 1. Riwayat PTK Penelitian Tindakan Kelas (PTK) diperkenalkan oleh Kurt Lewin, seorang ahli psikologi sosial Amerika tahun 1946. Selanjutnya dikembangkan oleh para ahli lain, yaitu Stephen Kemmis, Robin Mac Tanggart, John Elliot, dan Dave Ebbutt. PTK mulai dikenal di Indonesia pada akhir tahun 1980-an. PTK merupakan salah satu bentuk dari penelitian tinakan yang semula dilakukan di kalangan industri demi peningkatan mutu proses dan produk yang kemudian diadopsi dalam bidang pendidikan, khususnya dalam bidang pembelajaran di kelas, dilakukan oleh guru, disebut penelitian tindakan kelas. Bila dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling dalam proses layanan, maka disebut penelitian tindakan konseling. Bila dilakukan oleh pengawas sekolah atau kepala sekolah dalam proses pembinaan atau manajerial dapat disebut sebagai penelitian tindakan manajemen atau kepengawasan. Ketiga bidang tersebut dapat bekerja sama dalam penelitian tindakan yang berupa penelitian kolaboratif. 2. PTK dan Profesionalisasi Guru Guru professional dituntut menguasai 4 kompetensi yaitu kompetensi paedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi professional (akademik) dan kompetensi sosial. Melalui PTK guru dapat memenuhi kompetensi paedagogik dan kompetensi professional (akademik). Guru profesional harus meneliti apa yang diajarkan dan mengajarkan apa yang diteliti (hasil penelitiannya). PTK terintegrasi dalam pelaksanaan proses pembelajaran, melakukan penelitian proses pembelajaran demi

321

perbaikan / peningkatan secara berkelanjutan. Melalui PTK diharapkan guru menjadi ntrospektif, inovatif, kreatif dan progresif. 3. Konsep Dasar PTK Penelitian tindakan adalah kajian sistematik tentang upaya meningkatkan mutu praktik pendidikan melalui tindakan praktis (Dave Ebbutt dalam Hopkins,1993) Penelitian tindakan adalah suatu kajian tentang situasi sosial dengan tujuan memperbaiki mutu tindakan dalam situasi sosial tersebut (John Eliot dalam Hopkins, 1993). Penelitian tindakan adalah studi yang dilakukan untuk memperbaiki diri sendiri, pengalaman kerja sendiri, tetapi dilaksanakan secara sistematis, terencana dan dengan sikap mawas diri (Kemmis dan McTanggart). PTK merupakan penelitian yang bersifat reflektif. Penelitian didasarkan pada permasalahan nyata yang dihadapi oleh guru dalam PBM, kemudian direfleksikan alternatif pemecahan masalahnya dan ditindaklanjuti dengan tindakan-tindakan nyata yang terencana dan terukur. Hal penting dalam PTK adalah tindakan nyata (action) yang dilakukan oleh guru (dan bersama pihak lain) untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam PBM. 4. Karakteristik PTK a. Didesain untuk menanggulangi masalah nyata b. Diterapkan secara kontekstual (variabel yang dikaji terkait dengan keadaan) c. Terarah pada perbaikan/peningkatan mutu kinerja guru d. Bersifat fleksibel (disesuaikan dengan keadaan) e. Mengandalkan data pengamatan dan refleksi peneliti f. Menyerupai penelitian eksprerimen g. Bersifat situasional dan spesifik (studi kasus) h. Permasalah dirasakan, dialami, atau dihadapi guru i. Tindakan pengatasan dilakukan guru sendiri j. Pelaksanaannya bersifat kolaboratif. 5. Tujuan PTK a. Memasukkan unsur-unsur pembaharuan sistem b. Membangun/meningkatkan mutu komunikasi antara praktisi & peneliti akademis c. Memperbaiki sistem (melibatkan administrasi pendidikan, guru, siswa, orang tua, dan pihak lain). 6. Manfaat PTK a. Guru dapat melakukan inovasi pembelajaran b. Guru dapat meningkatkan kemampuan reflektif dalam memecahkan masalah c. Guru akan terlatih untuk mengembangkan secara kreatif kurikulum d. Guru dapat meningkatkan kemampuan profesionalnya. 7. Prinsip-prinsip Dasar PTK a. PTK tidak boleh mengganggu tugas mengajar b. Pengumpulan data tidak boleh terlalu menyita waktu c. Model yang dipakai harus tepat d. Masalah yang diteliti merupakan masalah faktual dan layak diteliti

322

e. PTK menuntut guru membuat jurnal pribadi (mencatat kemajuan, persoalan yg dihadapi, proses pelaksanaan, dan hasil refleksi) f. PTK sebaiknya dimulai dari hal-hal yang sederhana, namun nyata g. Dalam PTK guru perlu melihat dan menilai sendiri secara kritis terhadap apa yang dikerjakan di kelasnya (keterbukaan merupakan kunci keberhasilan PTK). 8. Objek PTK Menurut Suharsimi Arikunto (2006) obyek penelitian tindakan kelas meliputi : a. Unsur Siswa b. Unsur Guru c. Unsur Materi Pelajaran d. Unsur Peralatan atau Sarana Pendidikan e. Unsur Hasil Pembelajaran f. Unsur Lingkungan g. Unsur Pengelolaan. 9. Model PTK Penelitian tindakan sebagai serangkaian langkah yang membentuk spiral. Setiap langkah memiliki 4 tahap : (1) Perencanaan, (2) Tindakan, (3) Pengamatan, (4) Refleksi.

10. PTK sebagai metode Metode penelitian minimal mencakup 9 jenis metode yaitu (a) penelitian historis, (b) penelitian deskriptif), (c) penelitian perkembangan, (d) penelitian studi kasus dan lapangan, (e) penelitian korelasional, (f) penelitian kausal komparatif, (g) penelitian eksperimen sungguhan, (h) penelitian 323

eksperimen semu dan (i) penelitian tindakan. Sehingga PTK merupakan salah satu metode penelitian. Berikut ini perbandingan penelitian PTK dan non PTK: No. 1. 2. 3. 4. Dalam Hal Sumber Masalah Peneliti Utama Motivasi Tujuan PTK Dari peneliti (guru) Harus peneliti (guru) Tindakan Pembelajaran / pelayanan/ pembinaan, tidak untuk digeneralisasi Lentur, Fleksibel Perlu hipotesis tindakan Representativitas tidak diperhatikan Tidak ada uji validitas dan reliabilitas instrumen Seketika, segera, tidak menggunakan analisis statistic yang rumit Sesuai kebutuhan Memahami praksis melalui refleksi dan penteorian oleh praktisi PTK Pembelajaran yang lebih baik bagi siswa (proses dan produk) Non PTK Bukan dari peneliti Dapat orang lain Kebenaran Mengembangkan teori, untuk generalisasi Baku, Formal,Kaku Perlu hipotesis penelitian Harus representatif Perlu uji validitas dan reliabilitas instrumen Dapat ditundak, sering menggunakan analisis statistic rumit Umum, dapat digeneralisasi Memerikan, mengabstraksikan, membangun teori oleh ilmuwan. Non PTK Menguji pengetahuan, prosedur dan material.

5. 6. 7. 8. 9.

Desain Penelitian Hipotesis Sampel Instrumen Analisis Data

10. 11.

Format Laporan Tafsiran Temuan

No. 12.

Dalam Hal Hasil Akhir

C. Latihan 1. Tuliskan sejak kapan anda mengenal tentang PTK, dari siapa atau melalui apa? 2. Pernahkah anda melalukan PTK, berapa kali, bila belum pernah sebutkan alasannya ? D. Lembar Kegiatan 1. Amati dan tanyakan pada teman-teman anda yang menjadi guru, berapa persen yang telah melakukan PTK ! 2. Pergilah ke perpustakaan, cari dan catatlah judul-judul PTK ! 3. Pinjam atau belilah sebuah buku PTK dan bacalah untuk memahaminya! E. Rangkuman PTK merupakan hal yang perlu dipahami dan dilaksanakan serta dijadikan kebiasaan bagi para guru kelas maupun guru bimbingan dan konseling untuk memperbaiki / meningkatkan mutu proses pembelajaran / pembinaan. Melalui PTK

324

profesionalitas guru dapat ditingkatkan sehingga akan meningkatkan kualitas pendidikan pada umumnya. F. Tes Formatif 1. Jelaskan perkembangan PTK hingga sampai di Indonesia ! 2. Jelaskan hubungan antara PTK dan profesionalitas guru ! 3. Jelaskan konsep dasar PTK ! 4. Jelaskan karakteristik PTK ! 5. Jelaskan tujuan PTK ! 6. Jelaskan manfaat PTK ! 7. Jelaskan prinsip-prinsip dasar PTK ! 8. Sebutkan obyek PTK ! 9. Jelaskan model-model PTK 10. Sebutkan berbagai metode penelitian non PTK ! 11. Jelaskan persamaan dan perbedaan PTK dan non PTK !

325

PENYUSUNAN PROPOSAL PTK A. Sub Kompetensi dan Indikator 1. Sub Kompetensi Setelah terlibat dan berperan aktif dalam pelatihan dengan pokok bahasan Pendahuluan, membaca dan menelaah materi serta sumber-sumber terkait, dan melaksanakan tugas-tugas terstruktur, peserta diharapkan mampu menyusun proposal PTK. 2. Indikator Setelah terlibat dan berperan aktif dalam pelatihan dengan pokok bahasan Pendahuluan, membaca dan menelaah materi serta sumber-sumber terkait, dan melaksanakan tugas-tugas terstruktur, peserta diharapkan mampu menyusun komponen pokok pada suatu proposal PTK berdasarkan hasil identifikasi masalah pembelajaran di kelas. B. Materi Kegiatan penelitian dimulai dengan membuat rencana yang lazim disebut proposal penelitian. Proposal penelitian merupakan cetak biru (blue print) dari sebuah penelitian. Untuk dapat menyusun proposal penelitian dengan baik perlu memahami terlebih dahulu komponen-komponen proposal. Komponen-komponen proposal PTK terdiri dari : (HALAMAN FRANCIS : Judul, Halaman Pengesahan, Kata Pengantar, Daftar Isi) BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah B. Identifikasi Masalah C. Pembatasan Masalah D. Perumusan Masalah E. Tujuan Penelitian F. Manfaat Penelitian BAB II. KAJIAN TEORI A. Kajian teori B. Kerangka Berpikir C. Perumusan Hipotesis Tindakan BAB III. METODE PENELITIAN A. Setting Penelitian B. Subyek Penelitian C. Data dan Sumber Data D. Teknik Pengumpulan Data E. Validitas Data F. Teknik Analisis Data G. Indikator Kinerja / Keberhasilan H. Prosedur Penelitian DAFTAR PUSTAKA 1. Judul PTK Judul PTK dinyatakan dengan kalimat sederhana yang menunjuk (a) tindakan yang akan dilakukan atau yang akan diteliti, (b) tempat pelaksanaan, (c) waktu pelaksanaan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menulis judul PTK : a. Ditulis secara singkat, spesifik dan jelas b. Mendeskripsikan masalah yang akan diteliti c. Mendeskripsikan tindakan penelitian untuk memecahkan masalah 326

d. Ada Setting (tempat dan waktu) e. Jumlah kata jangan terlalu panjang sekitar 20-25 kata. Penulisan judul PTK dapat digambarkan sebagai berikut: (X: masalah; Y: cara memecahkan masalah). a. Upaya peningkatan Y melalui X bagi siswa kelas SDpada semester tahun b. Peningkatan Y melalui X bagi . c. Optimalisasi Y melalui X bagi d. Penggunaan X untuk meningkatkan Y bagi.. e. Meningkatkan Y melalui X bagi . f. Melalui X untuk meningkatkan Y bagi . g. Upaya mengatasi rendahnya Y melalui X Contoh-contoh judul PTK sebagai berikut. a. Upaya Peningkatan Kemampuan Membaca Cepat melalui Teknik Skimming pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Jepara Tahun Pelajaran 2009/2010. b. Peningkatan Kemampuan Berbicara melalui Pendekatan Kontekstual pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Kudus Tahun Pelajaran 2009/2010. c. Optimalisasi Kreatifitas Mengarang melalui Pembelajaran di Luar Kelas pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Pati Tahun Pelajaran 2009/2010. d. Penggunaan Alat Peraga Gambar Berseri untuk meningkatkan Kemampau Bercerita Kelas VII SMP Negeri 2 Kudus Tahun Pelajaran 2009/2010. e. Meningkatkan Kemampuan Membaca Interpretatif melalui Teknik Jigsaw Kelas VII SMP Negeri 2 Rembang Tahun Pelajaran 2009/2010. f. Melalui Teknik Bermain Drama untuk meningkatkan Kemampuan Berbicara pada Kelas VII SMP Negeri 2 Kudus Tahun Pelajaran 2009/2010. g. Upaya Mengatasi Rendahnya Mengapresisi Puisi melalui Pengoptimalisasi Kemah Sastra pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Kudus Tahun Pelajaran 2009/2010. 2. Pendahuluan a. Latar Belakang Masalah 1) Menulis kenyataan yang ada (kondisi awal) a) Kenyataan yang ada, perlu didukung oleh data/ fakta b) Kondisi awal yaitu kondisi sebelum dilakukan penelitian tindakan. c) Kondisi awal sesuai dengan permasalahan yang diteliti. d) Masalah pokok: mengandung kondisi awal dari subyek yang diteliti. e) Masalah lain: mengandung kondisi awal dari peneliti. f) Permasalahan pokok, misalnya hasil belajar matematika bagi siswa kelas. Rendah g) Permasalahan yang menyelimuti Guru/ peneliti belum memanfaatkan alat peraga dalam pembelajaran matematika. h) Kondisi awal yang diteliti (siswa): Hasil belajar matematika rendah, diuraikan berdasarkan fakta rendahnya itu dibuktikan dari mana, berapa rata-rata nilai ulangan harian kondisi awal dsb. i) Kondisi awal peneliti (guru): Sebelum penelitian dilakukan belum memanfaatkan alat peraga, berdasarkan fakta bila belum menggunakan alat peraga, menggunakan cara apa.

327

2) Menulis harapan yang dituju (kondisi akhir), yaitu kondisi setelah dilakukan penelitian. Dapat berupa kondisi akhir yang diteliti maupun kondisi akhir peneliti. a) Apa yang diharapkan setelah penelitian b) Kondisi akhir, dapat berupa kondisi akhir setelah penelitian bagi subyek penelitian(siswa/guru/kepsek) , maupun kondisi akhir bagi peneliti 3) Menulis masalah : kesenjangan antara kenyataan dan harapan a) Kesenjangan 1: kesenjangan antara kondisi awal dan kondisi akhir masalah pokok dari subyek penelitian b) Kesenjangan 2: kesenjangan antara kondisi awal dan kondisi akhir masalah lain dari peneliti c) Adanya kesenjangan antara harapan (kondisi akhir) dengan kenyataan (kondisi awal) d) Masalah yang diteliti, nilai ulangan harapan kenyataan(kondisi awal)nya rendah harapan (kondisi akhir)nya meningkat e) Masalah peneliti, kondisi awal pembelajarannya belum memanfaatkan alat peraga ,harapan (kondisi akhirnya)nya menggunakan alat peraga. 4) Menulis cara pemecahan masalah, Perlu adanya tindakan memanfaatkan x untuk meningkatkan Y, agar lebih terfokus diawali: a) Identifikasi masalah b) Pembatasan masalah Agar permasalahan dapat dipecahkan, maka peneliti atau guru perlu melakukan tindakan yaitu melakukan X agar dapat meningkatkan Y ( ciri dalam penelitian tindakan kelas harus ada tindakan). b. Identifikasi Masalah 1) Umumnya berupa pertanyaan/kalimat tanya. 2) Banyaknya pertanyaan lebih dari satu 3) Banyaknya pertanyaan lebih banyak dari banyaknya rumusan masalah. 4) Mengapa Y rendah? 5) Mengapa Y perlu ditingkatkan? 6) Faktor-faktor apa yang menyebabkan Y rendah? 7) Bagaimana caranya agar Y meningkat? 8) Apa yang harus dilakukan Guru agar Y dapat Meningkat? 9) Dan seterusnya. c. Pembatasan Masalah Diperlukan adanya pembatasan masalah agar penelitian lebih terfokus Langkah awal, membatasi banyaknya variabel yang diteliti, variabel apa saja. ( dalam contoh di atas terdapat dua variabel yaitu variabel X dan variabel Y) Membatasi atau menjelaskan variabel terikat, misalnya untuk siswa mana, kelas berapa, semester kapan, tahun kapan, materi apa dsb. (dalam penelitian kuantitatif semacam definisi operasional) Membatasi atau menjelaskan variabel bebas, alat peraganya apa, apa yang dilakukan, siapa yang melakukan, kapan tindakan itu dilakukan.

328

d. Perumusan Masalah 1) Dikembangkan dari identifikasi dan pembatasan masalah. 2) Umumnya berbentuk kalimat tanya. 3) Kalimat tanya pada rumusan masalah lebih terinci karena telah melalui identifikasi dan pembatasan masalah. 4) Kalimat tanya yang diajukan mengacu ke variabel pada masalah pokok (Y) dan variabel pada masalah lain yang diteliti (X). 5) Kalimat tanya pada rumusan masalah harus dijawab. 6) Kualitas penelitian sangat dipengaruhi oleh kualitas jawaban bukan hanya banyaknya rumusan masalah 7) Perumusan masalah digunakan sebagai dasar untuk penentuan teori yang akan digunakan, sebagai arah dalam menentukan judul penelitian, sebagai arah dalam menentukan metode penelitian, sebagai arah dalam menentukan jenis penelitian. 8) Contoh perumusan masalah: Berdasarkan latar belakang, identifikasi dan pembatasan masalah tersebut di atas, diajukan rumusan masalah sbb: Apakah melalui X dapat meningkatkan Y bagi . ? e. Tujuan Penelitian 1) Tujuan Umum Untuk meningkatkan Y (secara umum). Misalnya untuk meningkatkan hasil belajar matematika bagi siswa . (belum menyebutkan kelas berapa dan waktunya kapan) 2) Tujuan Khusus Untuk meningkatkan Y melalui X ( secara khusus). Misalnya untuk meningkatkan hasil belajar matematika bagi siswa kelas SD pada semester . tahun .. f. Manfaat Penelitian 1) Manfaat Teoritis a) Mendapatkan pengetahuan atau teori baru tentang Y melalui X bagi siswa b) Sebagai dasar untuk penelitian selanjutnya. 2) Manfaat Praktis a) Manfaat bagi siswa b) Manfat bagi guru c) Manfaat bagi sekolah d) Manfaat bagi perpustakaan sekolah. 3. Kajian Teori a. Kajian Teori Memberikan ulasan-ulasan teoritis dengan konsep-konsep pembelajaran/pelayanan yang terkait dengan masalah yang diteliti dengan tindakan/layanan. Dalam menuliskan kajian teori hendaknya dikemukakan sesuai dengan variable yang diteliti, mengusahakan pustaka mutakhir, asli, relevan dan lengkap. b. Kerangka Berpikir Kerangka berpikir disusun dengan berbasis kajian teori dan dapat diakhiri dengan skema sebagai berikut :

329

KONDI SI AWAL

Guru : Belum menerapkan pada pembelajaran

Siswa : Prestasi belajar . rendah

TINDAK AN

Menerapkan pada pembelajaran ..

Siklus I : Menerapkan dengan materi

Siklus II : Menerapkan dengan materi Siklus III : Menerapkan dengan materi

KONDISI AKHIR

Diduga melalui penerapan dapat meningkatkan prestasi belajar

c.

Perumusan Hipotesis Tindakan Hipotesis tindakan merupakan rangkuman dari kerangka berpikir. Contoh perumusan hipotesis tindakan sebagai berikut. Penggunaan metode bermain peran dapat mengatasi kejenuhan siswa dalam belajar drama pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Kudus Tahun Pelajaran 2009/2010.

4. Metode Penelitian a. Setting Penelitian Deskripsikan tempat, kondisi dan waktu penelitian dilakukan. b. Subjek penelitian Deskripsikan Subjek penelitian secara lugas yang mencakup jumlah, jenis kelamin, cakupan, kondisi siswa. Data dan Sumber Data Pada bagian ini hendaknya dikemukakan jenis data apa saja yang dibutuhkan serta sumber data tersebut. Contohnya sebagai berikut. Data penelitian yang dikumpulkan berupa informasi tentang kemampuan siswa dalam menulis, motivasi siswa dalam menulis, serta kemampuan guru dalam menyusun rencana pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran di kelas. Data penelitian itu dikumpulkan dari berbagai

c.

330

sumber yang meliputi informan, tempat dan peristiwa berlangsungnya aktivitas pembelajaran, dan dokumen atau arsip. d. Teknik Pengumpulan Data Sejalan dengan data yang akan dikumpulkan serta sumber data yang ada selanjutnya dikemukakan teknik pengumpulan data. Contoh: Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data di atas meliputi pengamatan, wawancara atau diskusi, kajian dokumen, angket, dan tes yang masing-masing secara singkat diuraikan berikut ini. Validitas Data Teknik yang digunakan untuk memeriksana validitas data antara lain adalah triangulasi dan review informan kunci. Teknik Analisis Data Teknik analisis yang digunakan untuk menganalisis data-data adalah teknik analisis kritis. Selain itu juga sering digunakan teknik komparatif, yaitu membandingkan hasil antarsiklus. Indikator Kinerja Pada bagian ini perlu dikemukakan atau dirumuskan indikator sebagai tolok ukur keberhasilan penelitian Contoh: Peningkatan motivasi menulis siswa: menyusun kerangka sebelum menulis, pengumpulkan bahan, merevisi tulisan, dan sebagainya. Peningkatan kemampuan menulis siswa (Misalnya: Anak yang memperoleh nilai 7,5 lebih dari 80 %, rerata nilai menulis siswa meningkat (dari 65 menjadi 70). Prosedur penelitian Prosedur Penelitian mencakup: perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan dan observasi serta analisis dan refleksi. 1) Perencanaan Tindakan Deskripsikan tentang persiapan tindakan, kegiatannya mencakup : a) penyusunan rencana tindakan (skenario pembelajaran) b) penyusunan media c) penyusunan materi d) penyusunan instrumen e) Simulasi rencana tindakan 2) Pelaksanaan tindakan Deskripsikan skenario tindakan dalam rencana pelaksanaan tindakan dalam bentuk RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) serta jumlah pertemuaannya. 3) Observasi tindakan Jelaskan data yang dikumpulkan dan teknik pengumpulan data (soal test, lembar observasi, kuesioner) serta ujivaliditas yang digunakan. 4) Analisis dan Refleksi Deskripsikan teknik analisis yang digunakan serta bahan dan prosedur refleksi yang digunakan.

e.

f.

g.

h.

C.

Latihan 331

1. Identifikasilah 3 masalah yang anda anggap mengganggu pembelajaran ! 2. Tentukan focus permasalahan PTK berdasarkan masalah-masalah yang anda anggap mengganggu pembelajaran ! 3. Tuliskan diagnosis penyebab permasalahan tersebut ! 4. Tuliskan alternative tindakan perbaikan yang dapat dilaksanakan! D. Lembar Kegiatan 1. Berdasarkan pada permasalahan pembelajaran yang telah berhasil anda identifikasi, cobalah anda menyusun proposal penelitian tindakan kelas dengan mengacu pada sistematika di atas! 2. Lakukan review sejawat terhadap proposal yang telah anda susun! E. Rangkuman Proposal Penelitian Tindakan Kelas memuat Pendahuluan, Kajian Teori dan Metode Penelitian. Pendahuluan berisi tentang latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian dan manfaat penelitian. Kajian teori disamping memuat tentang kajian teori itu sendiri juga berisi kerangka pemikiran dan hipotesis tindakan. Metode penelitian memuat setting, subyek, data dan sumber data, teknik pengumpulan data, validitas data, teknik analisis data, indikator kinerja dan prosedur penelitian. F. Tes Formatif 1. Tuliskan bagaimana sebuah judul PTK itu sebaiknya ditulis ! 2. Hal-hal apa saja yang sebaiknya ditulis dalam Latar Belakang Masalah pada proposal PTK! 3. Apa hubungan antara latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah dan perumusan masalah ? 4. Bagaimana sebaiknya kajian teori ditulis dalam proposal PTK ? 5. Bagaimana keterkaitan antara kajian teori, kerangka berpikir dan hipotesis tindakan ? 6. Apa yang dimaksud dengan setting penelitian ! 7. Jelaskan prosedur penelitian tindakan meliputi perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi tindakan dan refleksi !

332

PERSIAPAN PELAKSANAAN TINDAKAN KELAS A. Kompetensi dan Indikator 1. Kompetensi Setelah terlibat dan berperan aktif dalam pelatihan dengan pokok bahasan Pendahuluan, membaca dan menelaah materi serta sumber-sumber terkait, dan melaksanakan tugas-tugas terstruktur, peserta diharapkan mampu menyusun persiapan pelaksanaan tindakan kelas. 2. Indikator Setelah terlibat dan berperan aktif dalam pelatihan dengan pokok bahasan Pendahuluan, membaca dan menelaah materi serta sumber-sumber terkait, dan melaksanakan tugas-tugas terstruktur, peserta diharapkan mampu mengidentifikasi tugas-tugas guru dan sebagai peneliti melalui PTK. B. Materi 1. Tugas Guru Sebagai Guru dan Peneliti melalui PTK Dalam bahasan ini peran guru dibedakan menjadi dua, yaitu guru sebagai pegajar dan guru sebagai pengajar dan peneliti. Kedua peran ini memiliki beberapa perbedaan yang dapat ditinjau dari segi tahap persiapan pembelajaran, tahap pelaksanaan pembelajaran, tahap pasca pelaksanaan pembelajaran. a. Tahap Persiapan Sebelum mengajar, seorang guru seyogianya membuat persiapan, baik guru yang mengajar secara rutin, maupun guru yang mengajar untuk memperbaiki pembelajaran (melakukan PTK). Rencana yang dibuat oleh guru yang mengajar secara rutin dikenal dengan sebutan rencana pembelajaran (RP), sedangkan rencana yang dibuat oleh guru yang melaksanakan PTK disebut rencana perbaikan pembelajaran (RPP). Secara garis besar, komponen-komponen yang terdapat dalam kedua persiapan tersebut memiliki kesamaan dan sesuai dengan kurikulum yang berlaku, serta berfokus pada kompetensi yang akan dicapai. Namun ada beberapa perbedaan yang cukup mencolok dari keduanya. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut: No. 1. No. 2. Komponen Tujuan Komponen Materi Rencana Pembelajaran Tidak ditambahkan tujuan perbaikan Rencana Pembelajaran Biasanya hanya ditulis dalam bentuk pokok bahasan saja atau berupa outline sering diisi seadanya dibuat secara singkat, Rencana Perbaikan Pembelajaran Harus ditambahkan tujuan perbaikan Rencana Perbaikan Pembelajaran Ditulis secara lebih rinci

3. 4.

Media dan Sumber Kegiatan

dirancang secara cermat, guru perlu memperkaya diri dengan sumber lain dibuat secara rinci,

333

Pembelajara n 5. Evaluasi

tidak menggambarkan keseluruhan proses pembelajaran hanya dicantumkan deskripsi singkat, seperti tes objektif atau soal uraian, menggunakan satu alat ukur saja

lengkap dengan pertanyaan yang akan diajukan dicantumkan secara rinci butirbutir tes yang akan diberikan, alat ukur yang digunakan lebih banyak dan bervariasi

Di samping mengembangkan setiap komponen dalam RP, guru yang melaksanakan PTK perlu menetapkan kriteria keberhasilan sesuai dengan tujuan perbaikan. Kriteria keberhasilan tertentu bervariasi, sesuai dengan tujuan perbaikan yang dirancang . Penentuan besarnya kriteria keberhasilan belum ada yang baku. Para guru membuat sendiri kriteria ini yang didasarkan pada tingkat kecerdasan peserta didik dalam kelas yang diasuhnya . Kriteria keberhasilan ini tentu tidak semuanya berkaitan dengan hasil belajar, tetapi juga ada yang berkaitan dengan proses belajar. Di samping menyiapkan rencana pembelajaran yang rinci, dalam tahap perencanaan ini, pelaksana PTK juga perlu menentukan apakah akan meminta teman sejawat untuk membantu mengamati proses pembelajaran atau pelaksanaan tindakan, ataukah data akan dikumpulkan sendiri dengan bantuan alat perekam. Jika diperlukan teman sejawat, maka guru harus menyepakati jenis bantuan yang diperlukan, jenis data yang dikumpulkan, dan cara pengumpulannya. Selain itu, waktu pengamatan, termasuk berapa lama pengamatan dilakukan di mana pengamat akan duduk, dan sebagainya perlu disepakati. b. Tahap Pelaksanaan Pembelajaran Pada tahap pelaksanaan pembelajaran, perbedaan peran guru sebagai pengajar dan guru sebagai pengajar dan peneliti (pelaksana PTK), dapat dilihat pada tabel berikut. No. 1. 2. 3. Pengajar hanya memfokuskan diri pada pembelajaran Dapat melakukan penyesuain transaksional Biasanya tidak mencatat peristiwa penting yang terjadi selama pembelajaran Pada kegiatan awal, apersepsi yang dilakukan biasanya secara spontan. Pada kegiatan inti, tugas guru lebih sederhana Saat di kelas, tidak diamati oleh kolaborator Pelaksana PTK Memfokuskan diri pada pembelajaran dan kemudian sebagai peneliti, juga pada pengumpulan data Kelalaian dalam melakukan penyesuain transaksional dapat berdampak pada hasil penelitian. Guru harus menyempatkan diri untuk mencatat atau merekam peristiwa penting yang terjadi dalam pembelajaran Apersepsi yang dilakukan harus benar-benar menarik bagi siswa (dirancang dengan baik) Tugas guru lebih kompleks sehingga membutuhkan kecermatan yang baik. Diamati oleh kolaborator

4. 5. 6.

334

7.

8.

Kadang-kadang pengimplementasian RP dengan pembelajaran di kelas agak berbeda Biasanya hanya melakukan tes pada akhir pembelajaran (atau salah satu dari komponen dalam kegiatan penutup)

Rencana yang telah dibuat harus benar-benar diikuti agar proses pembelajaran lebih efektif Merangkum, memberi tes, dan memberi tindak lanjut. Guru dituntut untuk mengingat kembali apa yang sudah ia lakukan dan bagaimana respon siswa.

c.

Tahap Pasca Pembelajaran Setelah pembelajran usai, guru yang bertuga hanya mengajar mungkin segera dapat beristirahat, namun guru yang melaksanakan PTK masih punya tugas yang harus segera dilakukan. Ada beberapa kegiatan yang harus dilakukan oleh guru pelaksanan PTK, segera setelah pelajaran selesai, yaitu : 1) Menghimpun/merangkum catatan yang dibuat selama pembelajaran. 2) Berdialog dengan siswa jika diperlukan. 3) Berdiskusi dengan teman sejawat untuk membahas data yang dikumpulkan. 4) Melakukan refleksi untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi, dan apa dampaknya bagi siswa. 5) Merangkum hasil perbaikan pembelajran, yang mencakup apa yang sudah tercapai dan apa yang belum tercapai. 6) Merangkum penyebab belum tercapainya perbaikan yang dirangkum pada butir e. Selanjutnya guru harus mengakomodasi hasil perbaikan dalam perencanaan perbaikan berikutnya.

2. Membangun Kolaborasi Kolaborasi atau kerja sama sangat penting dalam PTK. Mengapa? Sebab dalam upaya perbaikan pembelajaran, guru memrlukan bantuan dari berbagai pihak, terutama dari teman sejawatnya, di samping mungkin dari para pendidik lain. Orang yang ikut membantu dalam pelaksanaan PTK atau yang biasanya disebut sebagi kolaborator dapat membantu guru dalam mengidentifikasi dan menganalisis masalah, serta dalam merencanakan tindakan perbaikan. Kolaborasi dapat dibangun melalui berbagai cara, seperti kerja saman sekolah dengan LPTK, membentuk kelompok derja seperti Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) atau kalau di tingkat sekolah dasar dikenal dengan istilah Kelompok Kerja Guru (KKG),dan pusat kerja guru (PKG), rapat-rapat rutin sekolah yang membahas upaya perbaikan pembelajaran, serta mengadakan hubungan langsung secara pribadi, misalnya antara guru matematika dengan dosen matematika di LPTK atau kerja sama dua orang guru di satu sekolah yang saling membantu. Kolaborasi seyogianya bersifat saling menguntungkan. Artinya, guru yang membantu mengamati teman sejawatnya mengajar, jug dapat keuntungan yaitu mempunyai pengalaman mengamati secara cermatperistiwa pembelajaran yang mungkin selama ini tidakfpernah dipikirkan. Dosen LPTK yang membantu guru dalam proses perencanaan PTK, juga mempunyai keuntungan yang sangat berharga, yaitu lebih mengenal

335

sekolah tempat mahasiswaanya akan bertugas mengajar. Dengan pengalaman ini, dapat dipastikan dosen akan lebih mantap dalam mendidik mahasiswanya. Perbedaan antara guru mengajar biasa dengan guru pelaksana PTK : Guru mengajar biasa hanya memfokuskan diri pada pembelajaran. Guru pelaksana PTK memfokuskan diri pada pembelajaran dan kemudian sebagai peneliti, ia juga harus memfokuskan diri pada pengumpulan data. Selama mengajar, agar pembelajaran sesuai dengan rencana dan data terkumpul dengan cermat, guru harus melakukan Transaksional dan mencatat dalam buku catatan agar dapat dianalisis dengan cermat. Penyesuaian Transaksional adalah penyesuaian yang dilakukan guru dalam pelaksanaan pembelajaran, ketika antara guru dan siswa sedang berlangsung. Namun bagi guru yang melaksanakan PTK, kelalaian melakukan penyesuaian ini akan berdampak pada hasil penelitian, lebih-lebih jika penyesuaian ini menjadi salah satu tujuan perbaikan. a. Kegiatan Awal 1) Kegiatan pembelajaran dimulai dengan apersepsi yang maksudnya menarik perhatian dan minat peserta didik menghadapi materi pelajaran yang akan disampaikan. Manfaat apersepsi : a) Menarik perhatian peserta didik b) Proses pembelajaran akan berjalan lancer c) Peserta didik bersemangat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan d) Mendapat keterampilan baru e) Nilai dan sikap yang akan disampaikan akan tumbuh dengan baik. f) Peserta didik akan tenang dan senang sampai akhir pembelaran. g) Kemungkinan kompetensi yang diharapkan dapat dikuasai 2) Dalam pelaksanaan PTK, guru benar-benar mempersiapkan beberapa apersepsi dengan cermat dan rinci dalam RP. Tidak hanya sekedar kata-kata Guru menyampaikan apersepsi tetapi menulis dengan rinci. 3) Agar keefektifan rencana tersebut dapat diketahui, selama pembelajaran guru perlu mengikuti rencana tersebut dengan cermat. 4) Namun jika ada yang tidak sesuai, guru harus melakukan penyesuaian (transaksional), kejadian ini harislah dicatat dan menjadi bahan refleksi yang akan dimanfaatkan untuk rencana perbaikan berikutnya. C. Latihan 1. Tuliskan kembali Rencana Pembelajaran yang pernah anda buat ! 2. Tuliskan Rencana Perbaikan Pembelajaran terhadap Rencana Pembelajaran yang pernah anda buat tersebut! D. Lembar Kegiatan 1. Cobalah anda menghitung berapa Rencana Pembelajaran yang pernah anda buat dalam satu semester yang memerlukan perbaikan! 2. Apa pendapat anda tentang hal tersebut! E. Rangkuman Dalam pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas guru memiliki 2 tugas sekaligus. Tugas pertama adalah sebagai pengajar dan tugas kedua adalah sebagai peneliti. Kedua tugas tersebut harus dapat dilaksanakan dengan baik. Untuk itu dalam melaksanakan PTK perlu dilakukan persiapan yang matang agar kedua peran guru tersebut dapat berjalan baik.

336

F. Tes Formatif 1. Tuliskan perbedaan tugas guru sebagai pengajar dan sebagai peneliti pada tahap persiapan pembelajaran ! 2. Tuliskan perbedaan tugas guru sebagai pengajar dan sebagai peneliti pada tahap pelaksanaan pembelajaran ! 3. Tuliskan perbedaan tugas guru sebagai pengajar dan sebagai peneliti pada tahap pasca pembelajaran ! 4. Mengapa kolaborasi diperlukan !

337

PENYUSUNAN LAPORAN PTK A. Kompetensi dan Indikator Peserta dapat memahami cara pembuatan laporan penelitian tindakan dalam mata pelajaran matematika. Indikator Menyusun Laporan Penelitian Tindakan Kelas. B. Uraian Materi Penyusunan Laporan Penelitian Ada beberapa jenis penyusunan laporan penelitian yang tergantung pada penyandang dana, maupun pembaca utama yang ditargetkan. Apabila peserta mendapatkan sistematika yang tidak sama dengan tulisan ini harap disesuaikan. Secara umum sistematika suatu laporan terdiri dari 3 bagian pokok, yaitu pembuka, inti, dan penutup (Depdiknas, 2006). Berikut adalah contoh komponen laporan hasil PTK dengan kelengkapan dan sistematikanya. JUDUL HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN ABSTRAK KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL (KALAU ADA) DAFTAR GAMBAR (KALAU ADA) DAFTAR LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah B. Rumusan Masalah dan Pemecahannya C. Tujuan Penelitian D. Manfaat Hasil Penelitian BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori B. Kerangka Pikir C. Hipotesis Tindakan BAB III. METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian B. Subjek Penelitian C. Teknik Pengumpulan Data D. Teknik Analisis Data E. Prosedur Penelitian BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian B. Pembahasan BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 1. Abstrak Abstrak berisi uraian ringkas permasalahan dan cara pemecahannya, tujuan, prosedur dan hasil PTK. Abstrak diketik satu spasi dengan font 11, dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris(jika 338

diperlukan). Jumlah kata dalam abstrak tidak melebihi 200 kata dan dilengkapi dengan kata-kata kunci sebanyak 3-5 kata. 2. Kata Pengantar Kata pengantar berisi hal-hal yang ingin disampaikan oleh tim pengembang sehubungan dengan pelaksanaan PTK dan hasil yang dicapai. Di bagian ini dapat pula disampaikan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang berjasa dalam pelaksanaan PTK. 3. Daftar Isi Daftar isi memuat bagian awal laporan, Bab dan sub bab, bagian akhir, disertai pencantuman nomor halamannya. 4. Daftar Tabel Daftar tabel memuat nomor dan judul semua tabel yang ada dalam laporan disertai pencantuman nomor halamannya. 5. Daftar Gambar Daftar gambar memuat nomor dan judul semua gambar yang ada dalam laporan disertai pencantuman nomor halamannya. Gambar yang dimaksud adalah gambar yang diambil selama proses PTK berlangsung dan berguna antara lain, untuk menggambarkan situasi kelas laboratorium atau mimik seorang peserta didik yang dapat memperkuat uraian dalam komponen penemuan. 6. BAB I PENDAHULUAN Pendahuluan memuat unsur latar belakang masalah, perumusan masalah dan pemecahannya(termasuk definisi operasional dan ruang lingkup pengembangan inovasi), tujuan pengembangan inovasi, manfaat hasil pengembangan inovasi. 7. BAB II KAJIAN PUSTAKA Kajian pustaka berisi uraian teori dan temuan penelitian yang relevan yang digunakan sebagai dasar dalam pemilihan pendapat dan pelaksanaan PTK. Uraian ini digunakan sebagai dasar penyusunan kerangka berpikir dan usaha pengembangan membangun argumen teoritik dalam menjelaskan hasil yang diperoleh baik yang positif maupun negatif, berkaitan dengan tindakan yang digunakan dalam upaya meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan dan pembelajaran. 8. BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian berisi deskripsi lokasi, waktu, mata pelajaran, karakteristik peserta didik, dan prosedur pengembangan inovasi, Prosedur berupa uraian secara rinci tahap-tahap kegiatan dalam setiap siklus. 9. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Dalam hasil penelitian disajikan dalam bentuk siklus dengan data lengkap. Dalam bagian ini diuraikan tindakan yang khas yang dilakukan sehingga terlihat bedanya dengan pembelajaran yang selama ini biasa dilakukan. Selain itu diuraikan pula pelaksanaan tindakan , dan juga disajikan hasil pengumpulan data yang diperoleh melalui berbagai instrument, sedangkan data lengkap disajikan dalam lampiran. Disampaikan pula aspek keberhasilan dan kelemahan dan rencana tindak lanjut. 339

Mengapa berhasil (tidak)?, apa yang perlu dilakukan pada siklus berikutnya. Disajikan analisis data dan hasil perubahan dalam bentuk grafik/statistik deskriptif dioptimalkan. Dalam pembahasan adalah membahas hasil penelitian, sehingga ada ulasan tentang perubahan yang dihasilkan dari tiap siklus dan keseluruhan siklus. 10. BAB V SIMPULAN DAN SARAN Di dalam simpulan yang disusun harus sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian. Saran disusun untuk tindak lanjut penelitian berdasarkan pembahasan hasil penelitian dan juga untuk penerapan hasil, saran sebaiknya disusun secara operasional ditujukan kepada siapa. 11. DAFTAR PUSTAKA Daftra pustaka yang dicantumkan dalam laporan hanya yang benar-benar dirujuk di dalam naskah. Daftar pustaka dituliskan secara konsisten dan alphabetis. Daftar pustaka dapat bersumber pada buku, jurnal, majalah, dan internet. 12. LAMPIRAN-LAMPIRAN Lampiran memuat RPP yang dilaksanakan, inovasi, dan bukti lain pelaksanaan PTK. instrumen pengembangan

C. Latihan Untuk meningkatkan pemahaman dalam menyusun laporan carilah contoh laporan penelitian tindakan kelas, cermati dan diskusikan apakah isi dan makna dari tiap-tiap bagian dalam laporan tersebut. D. Lembar Kegiatan 1. Langkah Kegiatan Bacalah dengan cermat masing-masing komponen dalam teori cara menyusun laporan penelitian tindakan kelas, kemudian mulailah mengidentifikasi isi dari masing-masing bagian tersebut. 2. Hasil Hasil bahasan dari laporan penelitian tindakan kelas yang sudah ada. E. Rangkuman Secara umum sistematika suatu laporan terdiri dari 3 bagian pokok, yaitu pembuka, inti, dan penutup. Baguan pembuka terdiri dari judul, halaman judul, abstrak, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, daftar lampiran. Bagian inti terdiri dari pendahuluan, kajian pustaka, metode penelitian, hasil penelitian dan pembahasan, simpulan dan saran, semuanya disajikan secara lengkap. Bagian penutup berisi daftar pustaka dan lampiran. F. Tes Formatif 3 Pilihlah satu jawaban yang paling tepat 1. Laporan penelitian tindakan kelas memuat antara lain A. judul, abstrak, pendahuluan, kajian pustaka, penutup. B. judul, abstrak, pendahuluan, kajian pustaka, penutup, daftar pustaka. C. judul, abstrak, pendahuluan, kajian pustaka, metode penelitian, hasil dan pembahasan, riwayat hidup, penutup, simpulan dan saran, daftar pustaka. D. judul, abstrak, pendahuluan, kajian pustaka, metode penelitian, hasil dan pembahasan, simpulan dan saran, daftar pustaka.

340

2. Gambaran umum mengenai substansi sebuah laporan dapat ditemukan pada A. kata pengantar. B. abstrak. C. pendahuluan. D. hasil penelitian 3. Kajian pustaka merupakan bagian penting dari laporan penelitian, sebab berisi A. daftar buku-buku, jurnal, internet dan yang lainnya. B. informasi yang berkaitan dengan penelitian tindakan kelas. C. teori-teori serta hasil penelitian pada topik yang sama yang sudah pernah dilakukan oleh orang lain maupun yang belum dilakukan. D. uraian teori dan temuan penelitian yang relevan yang digunakan sebagai dasar dalam pemilihan pendapat dan pelaksanaan penelitian. 4. Pada bagian metode penelitian pada umumnya penulis menyajikan A. teori penelitian. B. rencana penelitian. C. hasil penelitian. D. temuan penelitian. 5. Penyajian hasil penelitian dapat dilakukan dengan cara A. naratif. B. gambar. C. diagram, tabel, analisis, sintesis, kualitatif. D. naratif, gambar, grafik, diagram, dan tabel. 6. Daftar pustaka yang dicantumkan dalam laporan penelitian adalah A. buku yang pernah dibaca. B. jurnal yang pernah dibaca. C. buku yang dirujuk dalam naskah laporan. D. buku yang dirujuk pada naskah proposal. 7. Pada bagian saran yang ditulis adalah tindak lanjut A. berdasarkan hasil penelitian B. berdasarkan kajian teori. C. dari penelitian sebelumnya. D. dari penelitian yang serupa. 8. Dalam pembahasan yang dibahas adalah A. kajian teori. B. hasil penelitian C. metode penelitian. D. simpulan. 9. Salah satu bagian dari metode penelitian adalah A. subjek penelitian. B. objek penelitian C. populasi. D. sampel. 10.Salah satu yang bukan bagian dari metode penelitian adalah A. subjek penelitian. B. sampel penelitian. C. lokasi penelitian. D. rencana penelitian.

341

Jawablah pertanyaan di bawah ini! 1. Jelaskan apa yang perlu ditulis dalam hasil penelitian! 2. Jelaskan apa yang perlu ditulis dalam pembahasan! 3. Jelaskan apa yang perlu ditulis pada simpulan dan saran!

DAFTAR PUSTAKA Aqib, Zainal. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Untuk Guru. Bandung : Yrama Widya. Depdiknas. 2001. Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah di Bidang Pendidikan dan Angka Kredit Pengembangan Profesi Guru. Jakarta : Direktorat Tenaga Kependidikan Ditjen Dikdasmen Depdiknas. Harun Joko Prayitno, M. Thoybi, dan Adyana Sunanda (Ed.). 2000. Pembudayan Penulisan Karya Ilmiah. Surakarta : Muhammadiyah University Press. http://suksesbersamasukarto.blogspot.com/2010/02/dasar-dasar-penulisan-karyatulis_01.html Kasiihani Kasbolah E.S. 2002. Penelitian Tindakan Kelas untuk Peningkatan Profesionalisme Guru SLTP. Makalah. Malang : Universitas Negeri Malang. Rahman, Maman. 2008. Penelitian Tindakan Kelas (Dalam Bagan). Semarang : Universitas Negeri Semarang. Soly Abimanyu, dkk. 1995. Penelitian Praktis untuk Perbaikan Pengajaran. Jakarta : Bagian Proyek PGSD, Ditjen Dikti Depdikbud. Suharsimi Arikunto, Suhardjono, dan Supardi. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara. Surya, H. Mohamad. 2008. Hakikat dan Peranan PTK dalam Pengembangan Profesionalisme Konselor. Disampaikan dalam Seminar Nasional Penelitian Tindakan Kelas dalam Rnagka Pengembangan Profesionalisme Konselor. IKIP PGRI Semarang, Kamis 19 Juni 2008.

342

343

344

345

346

347

348

349

350