P. 1
terapi bicara

terapi bicara

|Views: 859|Likes:
Dipublikasikan oleh anon_446354562

More info:

Published by: anon_446354562 on Jul 20, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/12/2014

pdf

text

original

SHARING

Jika Anak Anda Terlambat Berbicara
Sumber: ibu ibu DI

Tanya Anak adik saya, lelaki umur 2 tahun 3 bulan sampai saat ini masih belum bisa bicara, kosa kata yang bisa diucapkan tidak lebih dari 5 kata : Mama, Ayah, Diii (nama kakaknya), Ya dan Cu (minta susu). Mama dan ayahnya berusaha tiap hari untuk menambah perbendaharaan kata-kata namun sangat sulit bagi dia untuk menghafal maupun mengucapkannya. Apakah diantara Ibu ada yang punya kasus serupa? Apakah ini berhubungan dengan apa yang disebut orang "autis'? (not sure yet). Menurut DSA keponakan saya, untuk umur segitu masih wajar jika susah bicara dan cuma diberi vitamin saja. Tapi kalau melihat teman-teman sebayanya kayaknya kok saya ngenes ya karena dia diam saja, tidak pernah ngoceh kayak yang lain. Please sharingnya, apakah kiranya perlu dibawa ke psikolog anak? Jika perlu, tolong referensinya. (Y) Jawab Jangan panik dulu, karena perkembangan setiap anak itu berbeda. Untuk kasus terlambat ngomong perlu hati-hati untuk menganalisanya. Coba cari tahu ada tidak riwayat terlambat ngomong di keluarga, kalau memang tidak ada coba perhatikan dulu: 1. kesehatan fisik anak, apakah dia sehat atau sering sakit-sakitan 2. bagaimana perilaku anak, apakah dia punya perhatian terhadap sekelilingnya atau hanya sibuk dengan diri sendiri 3. apakah dia ada alergi thd sesuatu (makanan, udara dll) Ini perlu sekali supaya kita tidak salah menangani masalah keterlambatan bicara ini dikemudian hari. Kalau perlu jangan ragu deh pergi ke psikolog untuk berdiskusi dan observasi, jangan sampai si anak diberi label yang salah. Coba ke Lembaga Psikologi Terapan UI, disana psikolognya cukup bagus dan tidak terlalu mahal. Ini cuma berdasarkan pengalaman pribadiku saja, karena aku punya seorang anak yang dulu cuma didiagnosa terlambat ngomong, karena katanya biasalah anak laki-laki terlambat ngomong. Seandainya waktu bisa diputar kembali. Tapi sudahlah yang penting kedepannya bagaimana menjaga anak-anak kita tetap sehat dan bisa berkembang sesuai dengan kemampuannya. (DN) Referensi ke Klinik Anakku. 1. Kelapa Gading Boulevard Blok LA 6 no. 34-35. Kelapa Gading Permai (depan mal Kelapa Gading) - Jakarta Utara (450 2355-56) 2. Jl . Raya Manggis Blok A no. 2B-C. Komplek Ruko Cinere (depan mal Cinere) - Jakarta Selatan (754 5400) 3. Komplek Green Ville Blok BG no. 14-15 - Jakarta Barat (566 9211) 4. Jl. Ahmad Yani -Bekasi. Pusat Niaga kalimalang Blok A-6 no. 1-2 (885 4001-02) Tanya Anak saya usianya hampir 2 tahun (tepatnya 21 bulan), tapi sampai saat ini bicaranya masih payah banget. Pernah bisa ngomong mamam, minyum, syusyu, kakak, tapi terus hilang lagi. Ngocehnya masih tidak bisa kita mengerti.saya lihat pendengarannya baik, dan tingkahnya sih sudah kayak anak gede. motorik kasarnya bagus sekali. Kita sudah coba ngajak ngomong terus, tapi kayaknya dia cuek banget. Tetap saja ngomong sesuai dengan maunya dia. apakah mungkin karena kita tinggal di lingkungan beda-beda bahasa (saya tinggal di negara berbahasa perancis, di rumah kita berbahasa indonesia, tapi TV umumnya bahasa perancis atau inggris). Bisa minta sharingnya, bagi yang pernah mengalami pengalaman serupa.

Jawab Memasuki usia dua tahun, anak sedang memasuki tahap awal tumbuh kembang kognitif yaitu tahap pra-operasional, yaitu pemahaman berdasarkan hal2 konkret saja. Jadi dia mengerti apa yang bisa dia lihat saja. Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan yang bersifat bawaan, yakni dengan sendirinya anak akan mengerti akan bahasa selama organ2 fungsi bicaranya berkembang baik. Namun, tidak dapat diabaikan juga adalah faktor lingkungan dan pengalaman. Jika anak tidak diberi rangsangan secara verbal, anak tidak akan bisa belajar bahasa. Jadi, yang terpenting adalah rangsangan yang anda berikan dan hasratnya berbicara. Berikan saja perkenalan bahasa, baik indonesia, prancis, atau inggris. hal ini sangat baik untuk pembiasaan pendengarannya. Misalnya, dia sudah paham bahwa ketika mau minum, maka anda berkata minum, lalu dalam bahasa prancis, besoknya dalam bahasa inggris, sambil memberikan keterangan yang mudah dimengerti, bahwa lingkungan memang mengkondisikan harus menggunakan banyak bahasa. Jangan dipaksa atau dianggap tidak mampu berbahasa ketika anak menunjukkan sikap cuek, kemungkinan dia sedang memprosesnya sesuai atau tidak dengan memori yang dimilikinya. KEMUNGKINAN AUTIS: CATATAN DARI Dr Rudy Sutadi SpA, Wakil Ketua Yayasan Autisme Indonesia: Penyandang autisme memiliki gangguan/ masalah pada bidang komunikasi, interaksi sosial, dan minat yang terbatas serta berulang-ulang. Mungkin juga terdapat masalah pada bidang sensasi (indera), dan fungsi adaptif. Hal-hal tersebut menyebabkan tingkat perkembangan/kemampuan penyandang autisme semakin lama akan semakin jauh tertinggal dari anak seusianya. Dalam talk show ini, Dr. Rudy memberi contoh sebagai berikut: Masalah pada komunikasi, misalnya anak tidak bisa bicara, terlambat bicara, bicara hanya mengeluarkan suara-suara/suku-suku kata yang tidak mempunyai arti (babling/bahasa "planit"), hanya menarik tangan orang dewasa bila menginginkan sesuatu. Pada yang mulai bisa bicara, mungkin hanya sekedar mengulangi kata-kata orang lain (membeo/echoing/ echolaly) atau pada usia 18-24 bulan tiba-tiba bicaranya menghilang (berhenti bicara). Tanya Mohon info seperti apa/prosesnya bagaimana untuk pemeriksaan Autisme? (apakah dengan tes-tes tertentu, ada tahap-2nya, pemeriksaan lab dll?) Apakah di dokter anak sudah cukup? Dan berdasarkan apa nantinya kesimpulan diambil? Kalaupun ada ciri-ciri yang mengarah ke penyakit Autisme dan anak mengalami salah satu gejalanya, bisa dicurigai mengidap penyakit ybs? Apakah Yayasan Autisme ((waktu itu saya pernah melihat tayangan di Metro TV yang menampilkan dokter Rudy (kalau tidak salah) sebagai wakil ketua Yayasan tsb))sudah mempunyai situs sendiri di Internet ? Jawab Gangguan autisme merupakan suatu jenis gangguan perkembangan pervasif pada anak. Untuk menegakkan diagnosa gangguan autisme ini tidaklah memerlukan suatu pemeriksaan yang canggih-canggih seperti MRI, brain mapping atau CT scan, kecuali ada indikasi lain yang bermakna. Oleh karena akhir-akhir ini gangguan autisme sering dikaitkan dengan keracunan logam berat dan pertumbuhan jamur yang pesat di usus, maka beberapa pemeriksaan yang berkaitan dengan hal tsb sering dilakukan (dengan catatan sesuai indikasi yang berlaku). Untuk menegakkan diagnosis gangguan autisme biasanya didasarkan dari gejala gejala klinis yang tampak dan jelas menunjukkan pola penyimpangan dari perkembangan normal anak seusianya. Kriteria yang digunakan pada saat ini adalah dari pedoman kriteria diagnosis berdasarkan DSM-IV (Diagnostic & Statistic Manual of Mental Disorder IV) atau ICD-10 (International Classification of Disease 10). Kriteria Diagnostik gangguan autisme berdasarkan DSM IV adalah: A. Harus ada sedikitnya gejala dari (1), (2), dan (3) dengan minimal 2 gejala dari (1)

dan masing-masing satu gejala dari (2) dan (3) : (1). Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik. Minimal harus ada 2 gejala dari gejala di bawah ini: a. Tidak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai, kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak-gerik yang kurang tertuju. b. Tidak bisa bermain dengan teman sebaya (sesuai dengan usia anak) c. Tidak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain. d. Kurangnya hubungan sosial dan emosional yang timbal balik. (2) Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi, seperti ditunjukkan minimal satu dari gejala-gejala di bawah ini : a. Bicara terlambat atau bahkan sama sekali tidak berkembang (tak ada usaha untuk mengimbangi komunikasi dengan cara lain tanpa bicara) b. Bila bisa bicara, bicaranya tidak dipakai untuk komunikasi. c. Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang. d. Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif dan kurang bisa meniru. (3) Ada suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam perilaku, minat dan kegiatan. Sedikitnya harus ada satu dari gejala di bawah ini: a. mempertahankan satu minat atau lebih, dengan cara yang sangat khas dan berlebihlebihan. b. terpaku pada satu kegiatan ritualistik atau rutinitas yang tak ada gunanya. c. ada gerakan-gerakan yang aneh yang khas dan diulang-ulang. d. seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda. B. Gejala-gejala di atas timbul sebelum usia 3 tahun dan adanya keterlambatan / gangguan dalam bidang: (1) interaksi sosial, (2) bicara/berbahasa, (3) cara bermain baik simbolik atau imajinatif C. Tidak disebabkan oleh sindroma RCH / gangguan disintegrasi masa kanak. Dengan mempelajari gejala-gejala tsb di atas maka para orang tua dapat menduga apakah anak tsb termasuk anak dengan autisme atau bukan. Tanya Anak saya perempuan usia 1 tahun 8 bulan, sampai saat ini anak saya masih belum bisa ngomong seperti anak seusianya, ngomongnya masih belum terarah (semaunya saja ngomongnya). Dan kalau diajarin untuk berbicara dia cuek saja, apalagi kalau sudah asyik nonton tv di panggil saja tidak noleh. Anak saya berat badannya kira2 11 kg dan dia termaksud anak yang lincah, pro aktif dan suka bercanda,cuman satu saja sampai sekarang belum bisa ngomong. Yang ingin saya tanyakan apakah anak saya termasuk lambat berbicara atau autisme? Jawab Tolong anaknya dibawa saja untuk diperiksa. Tentunya saya tidak bisa memastikan apakah autis atau bukan dengan data yang terbatas. Umur 1 tahun 8 bulan belum bicara harus diperiksa dengan teliti. Jangan menunggu, tolong diperiksakan saja. Kebetulan sama dulu juga mengalami kegelisahan seperti itu. Anak saya yang besar waktu umur 2 tahun, kosakata yang jelas masih sedikit, sebagian besar bahasa planet yang hanya dia yang tahu artinya. Jadi seringnya komunikasi kita seperti satu arah, kita tidak ngerti apa yang diucapkan dan kalau ditanya, seringnya diam saja, atau dijawab pakai isyarat, tapi sepertinya dia mengerti apa yang kita bicarakan, Padahal di rumah eyangnya, banyak orang (om-om-nya) dan semuanya cerewet, seneng ngajak ngobrol anakku, jadi tidak mungkin karena kurang stimulasi. Saya juga konsultasikan ke DSA,

karena patokan saya, anak harusnya mulai lancar bicara, start 2 tahun, tapi kok anakku telaat, Tadinya saya sampai pengen ikut terapi bicara, tapi menurut DSA-ku, anakku masih wajar, dan disarankan untuk dimasukkan kelompok bermain dulu, saya sampai minta vitamin, khususnya vit. untuk perkembangan otak, karena saya takut, anakku khan suka jatuh pas belajar jalan, jadi was-was saja, Akhirnya pas anakku 2 th 4 bulan aku masukkan ke kelompok bermain, yang seminggu sekali, memang awal mulanya dia, masih penyesuaian diri dan lebih banyak diam, tapi seiring waktu, banyak kemajuan pesat dari anakku. Mungkin karena banyak teman sebaya, dll, anakku mulai banyak bicara, dan lebih kritis, pokoknya, jadi cerewet deh sekarang, apa saja dikomentarin, Sekarang anakku sudah 2 thn 10 bulan, alhamdulillah, sudah banyak bicaranya, malah sudah bisa cerita atau ngadu, jadi pengasuhnya tidak bisa macam2, karena sudah bisa laporan sich, Mungkin dicoba dulu dimasukkan ke Kelompok bermain mbak? setahu saya kalau anak autis, tanda-tandanya bukan hanya telat bicara, banyak faktor atau ciri2 lain yang mungkin ibu lain bisa tambahin, (DS) Anak saya dulupun demikian sewaktu umurnya 2 tahun plus namun yang perlu diperhatikan : Bila diajak bicara apakah si anak mengerti apa yang dikatakan? Atau ditest dengan cara menyuruh si anak buang sampah misalnya. Bila diajak bicara apakah mata si anak menatap pembicara??? Bila hal diatas sudah dilakukan kemungkinan besar hanya kurang interaksi internal, bukannya autis. Akhirnya pada waktu itu si anak saya sekolahkan padahal umurnya baru 2 tahunan dan PRT dirumah saya tambah menjadi 2 orang sehingga si anak banyak mendengar orang bicara dan sianakpun berintraksi dengan banyak orang. Dan alhamdullilah lambat laun terlihat perkembangannya. Semoga saja anak adik mbak demikian seperti anak saya yang pertama (sekarang umurnya sudah 5 tahun 5 bulan dan sudah cerewet). (URI) Soal ini yang juga bikin aku cemas. Anakku, 20 bulan, sampai sekarang belum bisa bicara lho ibu. Kata yang fasih diucapkan cuma 1 kata yaitu "udah". Selain itu tidak ada yang jelas. Cuma eh, aa, uu, mba' (bukan manggil mbak lho tapi kalau' minta perhatian bapaknya), manggil akunya dengan ah ah / eh. Mau minum susu cuma tunjuk botol sambil bicara eh, eh, eh, Kadang mau minum putih saja sambil nangis karena kita tidak ngerti maksud bahasa dia. Hal yang agak melegakan hati adalah dia selalu merespons dengan baik apa yang kami sampaikan, seperti meletakkan gelas di cucian, mematikan lampu mobil, mengambil barang-barang (gelas dll). Tiap makan dia akan berinisiatif bilang "a'" kalau' dirasa mulutnya sudah kosong sementara dia belum disuap lagi. Bermain bersama dilakukan dengan gembira jadi sosialisasi kayaknya tidak masalah deh, disuruh salim dia akan langsung mengulurkan tangan meski dengan orang asing. Penjelasan ibu sekalian memang cukup menenangkan tapi aku apa perlu periksa juga ke DSA yang lain ya, soalnya kalau' dengan Dr Bambang, menurut beliau anakku tidak masalah. Cuma sering tercetus takutnya terjadi aku terlambat merespons. (A) Anakku juga termasuk agak telat ngomongnya, umur 15 bulan ngomongnya masih pakai bahasa planet, padahal sepupu2-nya umur 12 bulan sudah bisa panggil mama papa. Kata DSA tidak masalah wong anaknya dia saja baru ngomong umur 2 thn, tapi kalau mau second opinion ke dr lain ya silakan, akhirnya dirujuk ke Prof. Taslim di Hermina Jtn. Waktu diperiksa dia bilang tidak ada masalah dan tidak autis (legaaaa rasanya), cuman dibilangin kurang banyak latihan/ diajak ngobrol, (padahal kurang gimana lagi ya cerewetnya kita), dikasih obat racikan untuk 1 bulan plus tugas untuk lebih intensif lagi ngajarin/ngajak ngomong, eh baru seminggu minum obat anakku sudah mulai panggil mama, mama, juju (susu) sudah, dan beberapa kata pendek lainnya. Berhubung aku merasa tidak urgent lagi akhirnya aku tidak balik lagi ke si Prof, padahal DSAnya bilang silakan saja diteruskan, Tapi keponakanku juga baru ngomong umur 3,5 tahun lho !! Gara2 awalnya sering ditinggal didepan TV nonton sendirian, karena ibunya sibuk ngurusin rumah, sudah di terapi wicara bolak-balik tidak ada kemajuan, akhirnya dimasukin play group baru deh mulai ngomong, Sekarang sudah 4,5 tahun dan cerewet!! (IT)

Mungkin yang harus kita lakukan bukan cuma 'cerewet' sendiri. Tapi, berusaha ngerangsang si anak untuk ngejawab omongan2 kita. Mungkin kalau 'cerewet' yang satu arah, si anak malah bingung kali yach. "Ibuku kok tidak kasih kesempatan aku buat ngomong ya???". Soalnya beberapa sodara saya yang anak2nya pada telat ngomong, kejadiannya sama seperti itu. Si ortu asyik sajacerewet sendiri, sementara si anak asyik saja ngedengerinnya dan tidak bisa nanggepin kecerewetan si ortu ini, (R) Keponakanku sampai ultahnya yang ke-2 bicaranya sama, yang keluar cuma ah uh eh doang. Persis, kalau mendengar perkataan orang dia bisa mengerti. Seperti disuruh salam, atau diminta mengambilkan mainannya gitu dia bisa mengerti. Waktu itu seisi rumah juga cemas melihat keadaan ini sementara badannya bongsor, diusia 2 tahun sudah seperti anak usia 3-4 tahun tapi ngomongnya masih bahasa planet, kan lucu jadinya. Padahal bundanya, tantenya dan orang2 disekelilingnya adalah orang2 yang cerewet alias doyan ngomong. Lalu pola bicara kita orang2 disekelilingnya mulai sedikit diperhatikan. Kita sepakat kalau bicara sama dia, bicaranya sesedikit mungkin. Tapi dipraktekin dan minta dia bicara berulang2. Misalnya kita baca buku sama2 lalu kita bilang "Ini burung" lalu tanya apa ini? Begitu lama2 dia bisa walaupun hanya ujung katanya saja. Lalu kalau dia minta sesuatu misalnya dia minta susu, kita biarin dulu sampai dia mencoba bilang susu atau dia berusaha menunjukan bahwa yang diinginkannya itu susu. Dulu dia suka nunjuk tempat bikin susunya terus kita bilang "oh mau susu ya" "Mau apa dik?" "susu" gitu terus diulang2. Kadang secara tidak sadar lingkungan memenuhi kebutuhan anak sedemikian rupa sehingga tanpa sianak harus bicarapun lingkungan sudah mengeri dan memberikan kebutuhan dia. Si anak jadi tidak terlatih untuk mengemukakan apa.yang diinginkannya. Tapi kita harus waspada juga jangan sampai sianak jadi frustasi karena dia mencoba mengemukakan bahwa dia pengen susu tapi kita terus cuekin karena dia belum bener ngomong susu.Dengan memperbanyak anak bersosialisasi dengan anak sebayanya juga bisa merangsang anak untuk berkomunikasi. karena dengan teman sebaya mau tahu mau dia harus mencoba mengemukakan apa yang dipikirkannya. Misalnya kalau dengan orang tua dia mengatakan "mau su" kita sudah ngerti kalau dia mau susu. Tapi dengan anak lain belum tentu. Situasinya membuat sianak memang harus bicara, tapi dalam keadaan yang tidak tertekan karena situasinya bermain. Usia hampir 2 tahun 6 bulan, dia terus bisa bicara, bahkan tidak bisa berenti kalau sudah nanya. Kata neneknya, ayahnya dulu juga baru bica bicara lancar diusia 2 tahun, jadi barangkali ada kaitannya juga ya? (SK) Iya betul ya. Ini juga berlaku baik bagi anak normal maupun yang bermasalah ya? Soalnya temenku yang terapi-in anaknya itu juga disuruh begitu sama terapistnya. Anak jangan langsung dilayani kalau misalnya cuma bilang,"Uh,uh,", sambil nunjuk botol susunya. Kita harus rangsang supaya dia 'berbicara' dulu baru dikasih susunya. Juga kadang kita tidak sabar nunggu anak ngomong sampai selesai. Jadi dia lagi bilang, "Mau minum. minum.", kadang ada yang nyambung :"Susu ya?". Sebaiknya sih ditungguin si anak selesai berpikir dan mengutarakan pikirannya. Sebab kadang anak lebih cepet di otak daripada di bibir. Otaknya sudah mikirin apa, yang nyampe bibir baru apa gitu. (R) Nah kalau yang kayak gini kejadiannya sama ponakanku satu lagi. Jadi malas bicara karena kalau dia ngomong sesuatu trus agak lama kan kadang lingkungan jadi tidak sabar, ini anak mau ngomong apa sih? lalu kalau dia ngomong lingkungan jadi suka memotong omongannya. Misalnya dia bilang Bu kaka mau itu, mau itu, mau itu bu, Ibunya langsung bilang "oh mau coklat dari toko kemaren ya? Kadang lingkungan bermaksud membantu sianak menuntaskan perkataannya, tapi kadang hal itu malah jadi menghambat si anak untuk berbicara. Kita bisa saja terus tanya, mau apa? kaka mau apa ya? Ibu kok belum ngerti? sampai sianak bisa mengemukakan apa yang ada dipikirannya Kakak sekarang suka curhat sama aku (waktu dia usia 10tahun) katanya ibunya suka nuduh dia. Aku tidak ngerti kenapa dia bisa punya pikiran seperti itu setelah ditanya tanya, rupanya dia sebel karena katanya kalau dia ngomong belum selesai ibunya sudah motong pembicaraan dia. "padahal bukan itu loh tante yang mau kakak

bilang sama Ibu". "Ah kakak jadi males ngomong katanya kalau orang ngomong kita tidak boleh motong omongan orang. Tapi kalau kakak ngomong kok suka dipotong". Untung cepet ketahuan kalau dia punya pikiran seperti itu. Kalau keterusan? bukan tidak mungkin akan muncul masalah yang lebih serius lagi. (SK) Usulan ini sudah aku terapin berulang untuk si kecil. Sudah uh..uh..uh.. sambil nunjuk botol. Aku tanya "adik mau apa", uh..uh..uh.. keukeuh nunjuk botol. Aku tanya "mau apa dik", sambil nunggu dia mau ngomong apa keluarnya uh..uh..uh.. lagi sambil nunjuk botolnya. Berapa kali masih begitu akhirnya aku ambil botol susu dia sambil bilang : adik mau minum susu ? Dia tuh uh, uh, uh, lagi sambil jalan balik ke dispenser tempet biasanya susu dibuatin, nungguin di situ. Kalau' ditanya lagi adik mau apa, waduh bisa langsung ngamuk. Mungkin pikirnya Ibuku ini sudah ngerti maksud aku masih tanyatanya saja. Aku sih masih berusaha terus nih, pengasuhnya juga aku ingatin terus supaya tetap merangsang adik untuk mau ngomong. Kakaknya, padahal cerewet betul, ngajakin ngomong adiknya. Semoga juga cuma masalah waktu saja ya, bukan yang lain-lain. (A) Mungkin dicoba kata per kata. Jadi misalnya ditanya mau apa, tetap masih uh-uh-uh lagi, kitanya bilang, susu? Adik mau susu? Susu yang ini? S, u, s, u, coba dik, Berkalikali-kali seperti gitu, lama2 lengket di otaknya, itu SUSU. Sembari terus melatih, kita juga tetap memperhatikan, juga mengingat2, apa ayah/ibu/sepupu2nya dulu juga ada yang begitu? Sebab anak tetatidaku, sudah 2 tahun lebih (dulu) belum bisa ngomong juga, ternyata dirunut2, sepupu2nya dari garis bapaknya semua rata2 begitu. Rata2 lancar bicara umur 3 tahun. Ya bener saja, memang dia umur 3 tahun baru lancar bicaranya (R). Kalau menuruntuku adik itu sudah ada usahanya untuk mengemukakan apa yang dia inginkan. Adik kalau mau susu nunjuk botol laau ngajak ketempat dispenser, itu salah satu bentuk usahanya dia. Barangkali memang masih susah buat adik untuk bicara, tapi kita teruskan saja usahanya kalau sudah diambil susu dibilang oh adik mau susu ya? Susu, gitu terus, Insya Allah kalau berulang2 dan konsisten dilakukan oleh lingkungannya akan diinget terus sama sianak. Memang sebaiknya jangan sampai sianak ngamuk, takutnya menimbulkan frustasi yang berkepanjangan. (SK) Kalau aku punya pengalaman dari kedua saudaraku yang pertama anaknya sampai 3,5 tahun susah ngomongnya pakaui bahasa planet, naah ibunya terus saja melatih dia untuk bicara ngikutin kata ibunya, dan katanya kakeknya tuh anak (bapaknya si ibu) dulu waktu kecilnya juga lama baru bisa bicara lancar sekitar umur 4 tahunan makannya si ibu santai saja, soalnya dikaitkan dengan cerita keturunan itu, kalau yang satu lagi anaknya mengalami autis ini terlihat dengan dia sering bicara planet dengan dunianya sendiri dimana dia ngoceh saja tanpa ketahuan ngomong apaan, akhirnya ibunya menemui ahli wicara apa ya pokonya dokter anak di warung buncit untuk terapi bicara, dan alhamdullillah kata dokternya sajaran ibunya dalam melatih anaknya bicara sudah benar, anak dilatih untuk bicara keinginannya dengan dibantu, Akhirnya si autis bisa bicara walaupun belum jelas sekarang sudah kelas satu SD,(N) Waktu itu aku sudah curiga abis karena anakku tidak bisa ngomong, ada sih mama, papa, tapi hiperaktif nya itu lho. Jadi sudah niat, 24 bulan tidak ngomong, bawa ke dokter, dulu di Malaysia dokternya bilang bukan autis. Masalahnya dibilangnya, speech and comm. disorder, Kemudian aku cek ke 3 dokter, idem dito, bukan autis, tapi pas di Jakarta, positif dibilang autis. Tapinya, terapi yang disuruh sama dengan yang dibilang dr. di Malaysia. Aku inget daftar pertanyaan dari Dr. Hardyono di KG itu ya, bisa dicek: (1) Suka ketawa sendiri tidak (2) Suka pegang2 penis

(3) Suka lihat & maenin benda berputar (4) Usia satu tahun belum bisa menunjuk sesuatu yang dia mau/maksud (5) Suka jingjit (6) Suka berputar-putar (7) Suka mengamuk kalau tidak dituruti (bisa membenturkan kepala ke tembok, atau tiduran di lantai, atau tahan nafas) (8) tidak nengok kalau dipanggil (9) Lebih suka main sendiri (10)Suka menyusun mobil2an berderet2 (11)Kontak mata yang jarang dengan lawan bicara Kalau 2 tahun belum bicara, atau ada ciri2 di atas, takutnya nyesel bawa saja dicek ke dokter, Aku ingetin begini, soalnya ada temenku sekarang nyesel banget telat bawa anaknya, 5 tahun baru ketahuan asperges. (IE) Aku mau cerita ya, ibu, tentang anakku, dari umur 12-16 bulanan, aku sudah was-was karena anakku belum juga bicara, rasa khawatir ini timbul karena aku punya 2 temen dimana anak2 kita lahir hanya selang 10 hari dan anakku yang paling tua, kedua anak temanku itu umur 12-13 thn sudah bisa bilang num susu, bis, motor, bil-mobil, mama, papa, eyang, sudah lumayan jelas, smtr dia jauhhh, banget, deh dari mereka, kalau kita tanya andung, mana, dia tidak nunjuk ke ibuku, tapi cukup melemparkan pandang kearah ibuku dengan senyum, kesannya seolah2 ia bilang itu andung, setiap ditanya matanya mana; kakinya mana, lagi2 Cuma senyum2, sambil tetap ngeluarin suara2 bayi-nya, dirumah, rasanya jugan ditanya deh, gimana ramenya kita, hampir yang ibu semua lakukin buat anak2 ibu itu juga yang kita lakuin dirumah, bacain cerita, nyanyi, sampai untuk mengenalkan warna aku pakai dengan cara, kamu pakai baju putih ya, gitu deh, waktu aku baca postingan ibu, ternyata F juga melakukan hal ini, dari waktu ke waktu kita tetap usaha terus, kalau tanya ke dsa-nya, beliau cuma bilang, tetap saja bu dilatih, belum 2 thn kan? Tapi selama itu juga banyak pemahaman dan pengertian yang diterimanya, kalau dikasih perintah yang mudah2 dia bisa lakukan, spt ambil handuk buat mandi, pakai sepatu, bisa pakai sandal sendiri, buang sampah, semacam itu deh. Antara umur 18-24 bulan, tiba2 aku surprise, waktu pulang, dia bisa bilang 'allahu akbar' dengan jelas tapi tanpa huruf 'r', rupanya sesiangan dia diajarin oleh kakeknya, tidak lama kmdn kata 'amin' karena dia sering lihat kita2 stelah shalat berdoa, terus waktu itu juga dia lagi getol2nya niruin gaya org shalat. Terus tidak berapa lama ibu DI ngomongin soal vcd iqra, wah, aku langsung beli, hampir tiap pagi slbm aku berangkat knt (kadang juga sore, tergantung maunya ayra juga) stel vcd ini, tidak nyangka dia nyimak, kata ibuku lagi dia juga mulai ikut2an berdendang kalau kita nyanyi. Sepanjang desember kemarin (pas 2 thn) banyak banget deh, ibu yang dia sudah bisa, sekali2, aku tanya lagi, mata kamu mana? dia tunjuk matanya, aku tanya lengkap dia bisa kasih tahu lengkap anggota badannya, dia juga sudah bisa nyebut panggilan2 org2 rumah, (kecuali mama/ayah dr dulu dia memang bisa), terus aku tanyain juga iqra alif, dia bisa, juga, aku tanya secara acak, ia juga bisa, (mis;dal diatas,nanti dia nyahut 'da', ) sudah bisa nyanyi lagu favoritnya 'topi saya bundar', sudah bisa bilang mamam(makan), o, iya, aku juga udah masukkin ke tempat bermain, tapi kayaknya belum efek deh, ke dia untuk bicara, karena dia sendiri masih cuek dan masih lebih banyak sama kitanya, ketimbang teman2nya, meskipun ditempatnya bermain itu, sudah lumayan banyak juga anak yang sudah bisa bicara, lihat dia saat ini paling tidak bisa mengurangi sedikit kekhawatiranku (aku sempet kepikiran juga siapa tahu dia autis), mudah2an dari bulan ke bulan nantinya ada kemajuan, demikian juga buat anak2 ibu, o, iya, aku seneng juga baca sharingnya ibu tentang ini, siapa tahu ada input tambahan buatku spy bisa merangsangnya bicara. (R) Iya, aku dibilanginnya juga jangan bersedih dulu kalau baru bisa ngomong SSSS doang buat susu, sudah harus dikasih reward tu kalau bilang "SSsss..." pas mau susu. Anakku dulu baru bisa ngomong umur 5 tahun lho, sampai sekarang kalau ngomong masih

irrrriiit banget. (IE) Kalau menurut pendapatku, beda anak, beda kasus, beda penanganan. Ada late talkers karna lingkungannya pendiem. Ada yang justru karna lingkungan terlalu bawel. Ada yang terbantu dengan 'dipaksa' menyelesaikan kalimat. Tapi ada yang justru jadi frustrasi banget trus takut omong (karena dia merasa tidak ada org yang mau ngertiin dia, lha dia mana tahu bahwa kita sedang nunggu dia ngucapin kata yang benerkalau buat dia kan itu kata sudah bener. Jangan kecil hati karena ngelihat suatu metode berhasil di org lain dan tidak di kita dan kalau kita mau jadiin usia sebagai indikasi normal / tidaknya tumbuh kembang anak kita, hati-hatilah, yakin dulu bahwa kita memang tahu ilmunya jadi was-was itu manusiawi sekali, tapi kalau saking waswasnya trus berdasarkan cerita org lain kita memastikan kasusnya anak kita, apalagi trus kita taruh label tertentu pada si anak dan memilih sendiri penanganannya ini yang bahaya. Yang jelas, sebagai orgtua insya Allah kita punya deh insting kalau emang kita rasa ada yang tidak beres cari, cari, cari pendapat dari yang kompeten dokter anak, psikolog, kalau bisa tim sih lebih bagus yang penting bisa diajak diskusi sampai ngelotok sampai semua pertanyaan & keraguan terjawab kalau masih ada yang dirasa tidak puas, cari lagi pendapat lain, untuk bisa tegakkan diagnosa apapun, butuh pemeriksaan dan analisa detil yang didasarkan sejarah tumbuh kembang si anak dan observasi langsung! ini yang terpenting. Karena sekali lagi, tiap anak beda, tiap anak super istimewa, (H) Soal anak belum bisa ngomong emang bikin kita cemas ya. Aku kalau berdo'a berharap perkembangan bayiku dalam perut kelak akan selancar kakaknya, jadi kalau kakaknya ngoceh aku suka berdo'a dalam hati agar adiknya pun lancar perkembangannya, padahal kalau dipikir saat hamil pertama itu aku merasa lumayan tertekan lho, maksudku saat itu kebetulan aku lagi ada masalah rumah tangga, makanya kalau lihat dia lari2 trus ngoceh nanya ini itu aku cuman bisa bilang Subhanallah kalau inget saat hamil dia betapa "mandiri" nya aku, betapa "pendiam"nya aku, dulu saat hamil dia aku juga suka makan junk food, kalau tidak bisa keluar rumah aku punya daftar delivery service masing2 restoran junk food, hehehe, aku tahu itu tidak bagus, habis daripada tidak ada yang masuk perut, sekarang Z sudah 2 th,aku juga tunda dulu imunisasi MMRnya,meski blom sekolah skrg dia sudah bisa bilang one sampai ten,yang penting kalau ngajarin ke anak kita jugan cemas, anak mungkin ikut merasakan ketegangan kita,ikhlas dengan kondisi anak & rileks saja sambil jalan, toh tiap anak itu unik & perkembangannya tidak selalu sama, aku selalu bicara saat melakukan kegiatan bersama anakku sejak dia bayi, apapun itu,lagi ganti popok,mandiin,bahkan sabun jatuhpun kuungkapkan seolah dia ngerti sabun itu licin, kebetulan pbt-ku juga full comment kalau nonton TV,oh ya ada yang bilang TV juga merangsang anak cepat bicara, asal tepat yach tontonannya,VCD juga membantu, dulu anakku kalau nanya suka bilangm?,hm?, hm?, jadi kita jawabnya berulang2, ternyata dia niru pbt-ku kalau diajak ngobrol temennya suka bilang gitu, akhirnya aku tegur jangan 'hm",tapi "apa bunda?", atau "apa Mbak?", itu kukatakan berulang2 tiap kali dia ber hm-hm-ria, skrg sudah tidak lagi,malah suka ngeledek,"apa bunda?,hm?,hm?,hm?", kemudian dia terkekeh. (C) Anakku yang besar (now 25 mos), termasuk yang lambat mulai bicara. Sempat juga kita khawatir dengan autis, speech delay atau penyakit lainnya. Padahal orang di rumah cerewetnya bukan main, bingung kan Akhirnya mulai umur 20 bulanan, aku coba salah satu cara yang disarankan ibu DI yang pinter-pinter ini. Aku belikan VCD lagu-lagu anak banyak sekali (beli di sojong, murmer dan kumplit) Setiap hari bangun tidur langsung setel VCD, malam pulang kantor, setel VCD sampai tertidur. Lalu dari VCD itu beberapa lagu favorit kita rekam di kaset, nah kaset itu diputar berulang- ulang, ya di jalan, ya waktu makan siang pokoknya setiap ada waktu. Hasilnya dalam waktu tidak terlalu lama, anakku bisa menyanyikan lagu lengkap Misalnya nina bobo, cicak didinding, naik-naik kepuncak gunung etc sekarang malahan lagu-lagi yang lumayan susah/panjang dia sudah bisa. Kesimpulanku sih, dia bukan belum bisa ngomong, tapi memang dia belum pengen/stimulusnya kurang tepat. Kalau kata-kata, herannya malahan baru bisa merangkai dua kata spt "mau berenang" (nah ini fasih banget), "mau mandi" yah

pokoknya dua kata saja, aku belum pernah denger dia ngomong 3 kata.Kalau kosa katanya sih sudah lumayan banyak, semua benda di rumah dia tahu namanya. Lumayan, aku sudah agak lega (V) Tanya Ibu, kenapa ya kok banyak anak yang autis dan hiperaktif sudah berapatemen dan saudara yang anaknya autis dan hiperaktif ini akibat dari apa ya? Kata temen karena banyaknya mengkonsumsi junk food tapi masa' iya sih? Kalau ada yang tahu sharing dong, (Nt) Kalau aku dibilanginnya karena turunan, ada yang karena rubela pas hamil, ada yang curiga karena MMR.Tapi bisa jadi juga, karena sekarang sudah banyak informasi tentang autis, jadi baru ketahuan deh anak autis. Soalnya dulu suamiku tidak dibilang autis, pdhl dari cerita mertua, curiga banget dia autis karena ciri2nya ada semua. Dokterku sendiri di tempat yang lama, tidak mau nge-cap pasiennya autis sebelum 5 tahun, sementara banyak juga kan dokter yang begitu lihat langsung yakin pasiennya autis. Aku inget dulu selalu di saranin second opinion, ya ? Biar lebih yakin, Kalau junkfood sih aku tidak tahu bisa jadi penyebab, cuma fyi, anak autis tidak boleh makan junkfood and msg, (IE) Kalau aku sih sudah bukannya second opinion lagi, sampai fourth, five, sixth opinion. Tidak percaya ahli-ahli disini pakai ahli negeri seberang juga,, dan hasilnya sama, dengan begini aku (mudah-mudahan) tidak salah menanganinya. Jadi aku tidak sekedar "ikut-ikutan" atau "latah" therapy ini dan itu, mana jaman aku 5 thn yang lalu itu susah cari info karena belum banyak yang tahu. Seperti yang sudah aku share sebelumnya yang terpenting, cari dulu akar permasalahannya, kemudian cari ahli yang tepat dan temukan penanganan yang cocok sesuai saran ahli dan hati nurani masing-masing. (DN) Perkembangan bicara anak pertamaku bukan main cepetnya kalau tidak mau dibilang kecepetan. Tapi anak kedua lain sama sekali, sudah 2 th sekarang tapi belum terlalu lancar bicaranya, kadang yang denger masih tidak ngerti. Padahal kalau dipikir, dulu anak pertamaku kan kalau aku ke kantor cuma ditinggal ama BSnya, sementara anak kedua sekarang lebih banyak temennya, ada kakaknya, BSnya, mbaknya kakaknya, mamiku, dll, logikanya anak kedua harusnya bisa lebih lancar berbicara. Tapi kenyataannya lain. Aku sih cuma mikir, yah anak adalah individu yang unik, selama secara keseluruhan perkembangannya baik, aku tenang-tenang saja. (SM) Apa anak ke dua begitu ya?? Anakku memang baru 8,5 bulan. Actually dia sudah mulai ngoceh. Cuma herannya dia banyak ngoceh pas jam 4 pagi saat dia bangun karena pup. Atau jam2 Abangnya tidur. Aku perhatiin sih begitu. Mungkin kalau Abangnya sudah bangun, adiknya merasa kalah suara kali ya?? Soalnya si Abang anaknya bener2 heboh gitu. Aku sekarang rada2 cemas gitu, kasian juga lihat Arei tidak banyak omong saat ada Zaldi. Paling dia cuma senyum2 dan ketawa saja. Padahal aku sudah pancing2 supaya dia ngoceh. Tapi memang dia lebih banyak silent. Tapi memang dia tetep aktif ngikutin becandanya Abang. Sampai EmbahAbahnya bilang "ini anak idep (tidak banyak tingkah)". Tapi aku kok jadi worry ya? Jadi kalau jam 4 dia bangun, aku seneng banget, ngocehnya tidak brenti2. Ada tidak ibu yang pengalaman begini? Atau ada ide gimana supaya si adik tidak kalah suara sama Abangnya? (S) Waktu bayi, kakanya pendidam, tidak pernah ngoceh, tp umur 1 th tahu-tahu saja dia ngomong, jelas dan nyambung. Sementara adiknya, waktu bayi malah cerewet sekali, ngoceh terus, aku kirain bakalan cepetngomong, tahunya. salah aku. (SM) Kok yang sering aku temui tentang anak ke-2 begitu ya? Ibunya rata2 bilang, anak pertama bicaranya cepet, anak kedua lebih lambat. Apa kira2 karena terlalu ramai gitu, maka si anak lebih asyik mendengarkan daripada berlatih bicara ? (R)

Kalau kasus keponakanku karena anak pertama dominan di rumah dan seringnya sibuk dengan dirinya sendiri/main sendiri dan setiap adiknya mau ngomong sering dipotong dan ortunya secara tidak sengaja jadinya lebih sering ngobrol dan dengerin ngomongnya si kakak yang jelas daripada dengan si adik yang ngomongnya tidak jelas maksudnya, mungkin itu bikin si adik frustasi ya? Menurut DSA anakku biasanya anak ke 2 ngomongnya cepet juga karena meniru kakaknya apalagi kalau kakaknya banyak ngomong kecuali kasus tadi dan kebanyakan anak yang lambat bicaranya anak laki2 mungkin anak perempuan lebih cerewet kali ya? (Nt) Adikku pernah cerita kalau dia ketemu seorang ibu yang lagi terapi bicara anaknya di Klinik Anakku Bekasi. Menurut ibu ini setelah konsul beberapa kali dengan psikolog ketahuan anaknya telat bicara karena terbebani oleh kondisi kakak yang nota bene jadi "benchmark" si adek. Si adek pengen sekali seperti si Abang kesekolah, punya teman,main sepeda dst, sementara jarak umur membuatnya tidak bisa dan frustasi. Solusinya selain terapi si Ibu memberikan fasiltas sama dengan si Abang spt memasukkan ke PG membelikan sepeda dst. Aku juga baru tahu kalau hal seperti itu bisa juga membuat si adek mogok bicara. Aku juga harus waspada nih, dengan perkembangan anak keduaku (masih 6 bulan) karena si kakak super aktif untuk semua kegiatan termasuk bicara.(Es) Anakku yang ke dua (N) juga gitu, sampai sekarang sudah 16 bulan masih pakai bahasa planet, dia baru bisa bilang 'mama' dan 'udah'. Lain banget sama N (anak I) yang usia 14 bulan sudah mulai banyak mengucapkan kata2 walaupun hanya belakangnya saja. Tapi dari bayinya N memang banyak ngoceh, kebalikannya N tidak suka ngoceh, seingatku dulu pernah dibilang kalau anak bayi suka ngoceh ngomongnya lama, tapi kalau diem ngomongnya cepat. Hal ini terbukti untuk kedua anakku, tapi kalau interaksi dengan kita biasa2 saja, anaknya normal2 saja kan ibu? (YA)

Referensi Buku: Stephen Camarata John F. Kennedy Center on Development and Disabilities 09/25/2005

----- Original Message ----From: Dev To: peduli-autis Subject: [Puterakembara] Speech therapy ?Cara paksaan Dear rekans seperjuangan, Mungkin ada yang bisa memberikan input. Anak saya, Tyo (3 tahun) baru mulai mengikuti speech therapy, baru 3x pertemuan (seminggu sekali). Kelihatannya dia masih tidak comfortable dengan therapistnya, sehingga sering ngambek. Sebenarnya dia sudah bisa mengucapkan beberapa kata2 tunggal, tapi artikulasinya belum jelas. Therapistnya bilang kalau Tyo harus lebih dikerasin, sedangkan menurut saya, masuk akal lah kalau anak umur 3 tahun masih angin2an, apalagi kalau baru kenal dan jarang2 ketemunya. Kalau dikerasin ya Tyo nangis, lalu therapistnya bilang anak ini terlalu dimanja. Terus terang saya (dan terutama Tyo) sudah trauma dengan terapi dengan paksaan. Apakah ada dari rekan2 yang bisa share pengalamannya. Mungkin ada yang bisa membantu memberikan info tempat speech therapy di Surabaya, syukur2 ditambah

sekelumit kesan pesan atas tempat therapy/therapistnya. Terima kasih banyak sebelumnya :-) ----- Original Message ----From: Mil To: peduli-autis Subject: [Puterakembara] RE: Speech therapy ?Cara paksaan Mengenai pengalaman Ibu Dev, saya juga pernah menjumpai hal seperti itu. Pada satu ketika saya pernah membaca di salah satu surat kabar di Surabaya mengenai pengalaman anak untuk kebutuhan khusus. Saya tertarik dengan tulisan tsb, kemudian saya hubungi koran tsb utk menanyakan sekolah yang imaksud. Tapi setelah saya survey, rasanya saya tidak setuju dengan pendekatan yang dipakai. Ya..seperti yang ibu ceritakan itu....Tadinya saya mau ikutan daftar di Sekolah itu...akhirnya saya mundur teratur. Singkat kata, setelah saya ceritakan dengan psikiater tempat saya konsul beliau menyarankan ke salah satu tempat terapi tapi lokasinya sangat jauh.Lha...saya di Selatan...lokasi terapinya di Utara. Di tempat terapi yang sekarang saya merasa cocok. Terapisnya telaten sekali...Cuma ya itu..jauuhhh. Makanya kemaren saya juga menanyakan kalo2 ada tempat terapi yang dekat rumah dan bagus. Tidak ada salahnya kita coba... Regards, Mil ----- Original Message ----From: DP To: peduli-autis Subject: [Puterakembara] RE: Speech therapy ?Cara paksaan Pengalaman pribadi, nih. Kalo terapi "dipaksa", jadinya engga' "fun" dan anak juga ga' berkembang positif. Khusus soal bicara, ada kejadian menarik dalam hidup saya dan Ikhsan. Buat yang "baru kenal"...Ikhsan anak saya, 14 tahun 6 bulan, tidak bisa bicara. Autis. Dari umur 3 tahunan sampai 10 tahunan Ikhsan terapi speech sama ibu Evi Sabir. Tidak terlalu berhasil dalam arti, si anak tidak juga bisa bicara karena memang sulit sekali buat dia. Tapi Ikhsan terus meningkat dalam hal pemahaman, komunikasi, perilaku dan sebagainya. Anyway, karena Juli lalu Ikhsan 'bilang' (via yes-no questions) bahwa dia "ingin bisa bicara", saya ajak Ikhsan ketemu Evi Sabir lagi Sabtu kemarin. Menurut penilaian beliau, Ikhsan sudah sangat banyak berubah. Banyak verbalisasi dibandingkan dulu. Dan 'motivasi' untuk bicara sangat terlihat, juga dibandingkan dulu. Karena ibu Evi tidak ada waktu (hiks) dan saya tidak sanggup cari-cari tenaga baru lagi, akhirnya kita sampai ke jalan tengah: program dan teknik dari ibu Evi, dan Saya yang

akan sok tau bersikap sebagai speech therapist. Secara periodik akan konsul dan aku harus commit dengan proyek ini (kalau ibu ga' ngerjain, aku ga' mau ketemu lagi lho....begitu katanya....ha..ha.. sounds like me, bo!!!). So...kesimpulannya....kalau segala "iklim" di sekitar anak dibuat dalam keadaan tidak terpaksa (tapi juga tetap dalam kaidah aturan yang berlaku), anak seyogyanya akan perform sesuai potensi-nya. Kalau memang harus "dipaksa", tetap harus dalam konteks apa yang ia kuasai (si Ikhsan sekarang harus dipaksa untuk mengucapkan berbagai hal yang ia sudah bisa, dengan konsonan yang sudah mampu ia ucapkan). Jadi kita tidak menghancurkan rasa percaya dirinya, dan tidak menindas harga dirinya. Sekedar pemikiran seorang ibu yang juga masih berjuang terus.... Ita ----- Original Message ----From: JJ Mom To: peduli-autis Subject: [Puterakembara] RE: Speech therapy ?Cara paksaan Kasihan Tyo Bu, jangan paksa anak belajar, bisa "shut down" in si anak. Pengalaman saya dengan speech therapist adalah kita belajar tekniknya, prakteknya adalah angggota keluarga di rumah. Kalau di Singapore ST itu sangat mahal SGD100 per jam, itu pun 30 menit buat simpam toys, nulis2 homework buat si anak. Kita ngga bisa tiap hari ST, tak sanggup biayanya. Ja (3.5 tahun) sempat ikutan ST 2 bulan sebelum ikut special school (ini karena sekolahnya bilang tak usah ST di luar). Ja yang tidak ada meaningful words (4-5 bulan yang lalu). Semalam, bilang sama Bapaknya, "I want Mei Mei sit on green chair". Suamiku langsung floored! 7 words! walaupun grammarnya tak benar. Padahal ini dia lagi libur 2 minggu, sekolahnya belum kasih dia ST (karena murid baru sih). Ini karena kita selalu modelin ke Ja, NEVER CORRECT, MAKE IT FUN, dan CONSISTENT (jangan hari ini bilang bakso, besok bakwan, bingung sih anak). Karena Ja mulainya dari meaningless echolalic, jadi ja ada chance untuk belajar language lebih cepat. Nah, si Jo, putriku (2 tahun), baru ultah hari ini, non verbal, non echolalic, jadi lebih sulit ngajarin dia, bahkan mantan ST nya ja menolak menerima Jo, alasannya too young. Padahal dia Speech Pathologist! Blek... Tapi saya percaya, kalau anak bisa nangis, teriak, bisa babble, pasti bisa bicara, karena hardwarenya ada (ini menurut Anita Russell). Saya tidak akan putus asa. Nah, untuk si Jo, kalau dia bilang Te Te, Saya langsung bilang 'water" "water", dengan meriahnya, kalau dia bilang 'pen pen", saya langsung bilang 'open" open" dengan meriah dan modelling juga, baik di depan lototan orang banyak. Kalau Ibu Dev tertarik akan buku2 bacaan, salah satunya yah.. itu...i, More Than Words. . yah... yang itu itu lagi kata para senior. Oh ya, kata ST ja, kalau si anak verbal, pakai gambar visual bisa cepat membantu, kalau

non verbal, bisa pakai PECS lebih cepat. Mula2 nya untuk kata2 baru yang susah dipahami Ja, saya pakai visual (gambar2 dari PECS juga, ada CD programnya). Sekarang, saya sangat bersyukur, Ja tak perlu pake visual, kecuali untuk mengajarkan dia merangkai kalimat sulit. Kita lebih banyak dengan modelling ke Ja, seperti maen sandiwara antara anggota keluarga. Salam JJ Mom ----- Original Message ----From: HPU To: peduli-autis Subject: [Puterakembara] RE: Speech therapy ?Cara paksaan Kalo pengalaman saya , saya cari tahu dulu kesenangan anak saya apa. Dari situ saya explore benda tersebut. Contohnya anak saya belajar warna , awalnya dari kesukaan dia dengan mobil, trus dia enjoy kalo diajak jalan2 naik motor. Sambil saya boncengin di depan saya ajarin dia ngomong. Dari nama mobil , trus saya ajarin warna mobil. Dari situ dia bisa ngomong. Sewaktu belum bisa ngomong, dia sukanya liat tv F1. Sekarang sudah mulai lumayan. Jadi kita gali dulu kegemaran anak itu apa dan situasi yang bagaimana dia itu bisa enjoy. Kalo dipaksa anak saya nendang2, malah nggak karu2 an. Salam, ----- Original Message ----From: Ind To: peduli-autis Subject: [Puterakembara] Re: Speech therapy ?Cara paksaan Dear all, Saya sangat menentang pola paksaan dalam mendidik anak, apalagi anak-anak spesial seperti ini. Harus ada kesepahaman dulu antara orang tua dengan therapist or guru or dokter yang menangani anak kita. Anak yang belum bisa bicara mempunyai 'tingkat frustasi yang lebih tinggi' dibandingkan anak yang verbal, karena ia tidak bisa menyampaikan perasaan, keinginan dan keluhannya secara sempurna. Makanya tak heran kalau tingkat tantrum mereka juga lebih tinggi. Apalagi kalau dengan cara paksa. Anak akan takut dan tidak enjoy, ujung-ujungnya terapi tidak berhasil. Hal ini terjadi pada anak saya (3 th). Sebelum masuk Play Group dan OT, sering tantrum sambil bilang kata-kata yang kami tdk tau artinya (misal: ica..ica..atau ini..ini...). Setelah terapi ada perkembangan ia bisa mengucap beberapa kata walau belum jelas. Tapi setidaknya kami bisa mengerti. Bersyukur terapistnya cukup sabar sehingga anak saya mau kooperatif, walau kadang masih suka 'semaunya sendiri'. Di rumah, kalau saya mau follow up home programnya, saya tunggu ia siap. Kalau ia

sedang tidak mau, saya alihkan dengan permainan lain. Kalau moodnya sdh baik, baru deh saya mulai. Dan ini bisa terjadi kapan saja. Misalnya sedang makan, saya ajak ia belajar ucap nama makanan atau sayuran. salam, Ind ----- Original Message ----From: LH To: peduli-autis Subject: [Puterakembara] Re: Speech therapy ?Cara paksaan Dear all, Ikutan sharing... Memang pada metode ABA yang traditional (Lovaas), yang dipentingkan adalah kepatuhan, oleh karena itu kalau membaca buku "The Me Book", instruksi yang diajarkan pertama-tama adalah "sit". Dan kebanyakan tempat terapi yang ada menganut pola ini, bahkan meja dilubangi dan dipepetkan tembok supaya anak tidak bisa keluar, seperti dipasung. Metode ABA ini mengalami evolusi, dan pada ABA Verbal Behavior, ditekankan bahwa learning is fun. Instruktur harus bisa menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan, oleh karena itu instruktur harus melengkapi diri dengan reinforcer (istilahnya "pairing with reinforcer), sehingga si anak merasa enjoy bersama instrukturnya karena dia tau bahwa kalau dia bertemu dengan si instruktur dia bakal mendapatkan sesuatu yang menyenangkan (reinforcer). Untuk mengurangi tantrum, pada ABA VB, skill pertama yang diajarkan adalah "MAND" (= request), atau meminta, baik secara verbal (bagi yang sudah ada vokalisasi), maupun dengan cara lain (PECS, signing). Tujuannya adalah supaya anak tahu the power of communication, dengan komunikasi dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Beda dengan ABA traditional, yang diajarkan pertama adalah receptive. Bu Ind bener, belajar tidak harus setting formal, di mana saja bisa, di kamar mandi, di meja makan dll. Rgds, LH ----- Original Message ----From: Ind To: peduli-autis Subject: [Puterakembara] Re: Speech therapy- dont make them robotic Dear all,

Saya mengikuti seminar "Keterlambatan Bicara, Autisme dan Hiperaktif" di FKUI tgl 10 September kemarin. Salah satu narasumber, Dr. Ira (saya lupa nama lengkapnya ) menekankan agar para terapist jangan kaku dalam mendidik anak-anak special ini. Selama ini masih banyak terapist yang sering mengulang-ulang instruksi: duduk! berdiri!, dll (LOVAAS). Akibatnya anak-anak ini menjadi seperti robot. Mereka mungkin bisa mengikuti instruksi tersebut, tapi tidak menghayati 'jiwa' dan 'makna' dari instruksi itu. Kebetulan hari itu banyak terapist yang datang. Mudah-mudahan, mereka memahami. Saya yakin, di balik sikap "cool" anak-anak ini, mereka sesungguhnya mempunyai perasaan yang peka, sama seperti kita. Salam, Ind ----- Original Message ----From: FR To: peduli-autis Subject: [Puterakembara] Re: Speech therapy ?Cara paksaan Dear all, Yang namanya 'pola paksaan' itu sebenarnya seperti apa ya? Misalnya ada 2 kasus: Kasus pertama: (Pernah kejadian sama anak kami tuh), dulu di salah satu tempat terapi (masih dalam rangka cari tahu anak kami autis atau bukan) anak kami masuk ruangan sama terapis, nggak lama kemudian terdengar suara anak saya nangis-nangis dan suara keras "Ruben, ambil bola! Ambil bola!" (kalau di tombol radio volumenya udah sampai angka 8 atau 9 nich). Terus kelihatan si terapis lagi duduk di lantai dengan menjepit kaki anak supaya tidak lari... :-( Kasus kedua: Misalnya, waktu terapi anaknya mau lari lalu (a) dipegang tangannya oleh terapis diam di tempat dan (b) terapis bicara dengan nada lembut "Ruben, duduk. Kalau sudah selesai baru berdiri". Dan diajak ngomong terus seperti begitu sampai akhirnya Ruben duduk lagi. Yang masuk pola paksaan kasus pertama atau kedua? (bukannya keduanya sama-sama memaksa? Bedanya kasus kedua 'memaksanya' lebih halus. Maaf nich saya tanya begini, soalnya saya pikir dalam pendidikan anak, apalagi anakanak kita ini, pasti ada (banyak?) unsur paksaannya. cheers, FR (ayahnya Ruben, 5 thn) ----- Original Message ----From: Ind

To: peduli-autis Subject: [Puterakembara] Re: Speech therapy ?Cara paksaan Pak FR, Yang saya maksudkan di sini adalah pemaksaan yang tidak halus. Untuk mendisiplinkan anak memang perlu cara yang jitu, dalam arti tidak kasar tetapi juga diupayakan agar anak mau mengikuti. Anak saya juga masih sering lari-larian sendiri, tapi untung terapistnya sabar. Dengan bujukan, akhirnya terapi bisa diteruskan. Mungkin ada faktor kesiapan juga dari si anak. Artinya, ketika anak merasa siap, maka ia akan lebih kooperatif. Nah..bagaimana merangsang kesiapan anak? Tentu dengan kondisi yang menyenangkan. Dunia anak adalah dunia bermain. Bermain bisa menjadi KUNCI UTAMA untuk mendorong anak mau belajar. Mungkin ada masukan dari yang lain? Salam, Ind ----- Original Message ----From: DP To: peduli-autis Subject: [Puterakembara] paksa memaksa Aku sih selalu berpikir anak-anak kita kalo ga' rada dipaksa, ga' akan jadi apa-apa. Lagian...namanya juga autis. Nikmat aja ada di dunianya... Tapi aku ambil kasus yang kedua. Ga' pake intimidasi (suara keras, pegangan fisik secara keras) soalnya. Gitu. Ita ----- Original Message ----From: LM To: peduli-autis Subject: [Puterakembara] Re: Speech therapy (metode pola paksaan ?) Kelihatannya kasus pertama dan kasus kedua mempunyai tujuan/target yang sama yaitu "kepatuhan". Sama-sama "maksa" juga, tapi bedanya yang satu maksa secara halus, yang satu maksa beneran ) Setahu saya metode ABA memang paling "jitu" dalam usaha meningkatkan kepatuhan dan fungsi kognitif atau kepandaian. Sayang ada banyak Terapis yang melakukan metode ABA secara kaku. Sehingga yang terjadi adalah seperti kata ibu Linda Halim bahwa instruksi yang pertama kali diajarkan adalah "sit" atau "duduk" atau juga "tirukan ini, tirukan itu".

Kembali kepada kasus pak Rotty, menurut saya yang akan men"buah"kan hasil yang lebih baik mungkin kasus kedua, sedangkan kasus pertama mungkin akan membuat si anak malah trauma dan bisa saja berakhir dengan tantrum. Saya ingat Dr. Hardiono pernah berkata bahwa sebenarnya metode Floor time dan ABA kalau dipadukan akan sangat baik. Walaupun metode keduanya berbeda (satu inisiatif dari anak, satu inisiatif dari terapis), tetapi dengan kreativitas Terapis "learning is fun" bisa dicapai. Sekedar urun rembuk.... Salam, LM

Thursday, December 08, 2005
Susah konsentrasi dan belum bisa bicara.
Yth Mamanya Nadira,Farel

Menurut saya tampaknya Farel masih dalam batas normal. Hanya stimulasinya yang harus ditingkatkan. Oh ya, Kids Sport saat ini bahasanya bahasa Inggris atau Indonesia. Semoga bahasa Indonesia. Bila mau menstimulasi anak, coba waktu mau tidur beberapa saat diajak / ditanya mana hidung, kuping dll. Kalau dia mau coba diubah dengan kata ini apa......ku........ping. dan seterusnya Semoga dr Irawan bermanfaat, M

Dokter, mau ikutan tanya nih. Anak saya,laki-laki, bulan desember ini masuk usia 1 tahun 7 bulan. Sangat-sangat aktif dan mulai usia 10 bulan sudah jalan dan saat ini rasanya hampir seluruh giginya sudah tumbuh. Yang menjadi pikiran saya adalah, mengapa sampai saat ini kosa katanya belum banyak. Baru bisa mengucapkan mama,papa,kakak (tiga kata ini sangat jelas diucapkan), yang lain baru bisa suku kata terakhir (dan inipun terbatas sekali: 3-5 kata). Kontak sosial, menurut saya juga normal. Sudah ikutan kelas di Kids Sport sejak usia 7 bulan, dan bisa mengikuti seluruh aktivitas di kelas. Kalau dipanggil dan disuruh-suruh (mis. Ambil bola,big hug,cium tangan dll) juga bisa. Apakah hal tersebut normal atau saya sudah harus pergi ke klinik tumbuh kembang. DSA nya bilang masih normal saja. Stimulasi terus dilakukan dengan cara bermain bersama kakak dan teman2nya, dibacakan buku, diajak bicara, jalan2 dilingkungan rumah sambil diceritakan benda apa saja yang ditemui dll. Dan terlihat sekali dia mengerti karena kalau melihat benda yang sama dia pasti menunjuk2 sampai kita menerangkan benda tersebut.

Demikian, Mamanya -----Original Susah

mohon

masukkan, Nadira From: On dan

dan dan Behalf Of belum

terima kasih. Farrel irawanma@cbn.net.id bisa bicara.

Message----konsentrasi

Yth Papanya Jojo, Maaf berdasarkan cerita anda, pendapat saya sedikit berbeda dengan Team Di RS Sanglah. Menurut saya anak anda masih termasuk spektrum anak autisme yang tidak dapat diklasifikasi (PDDNOS), walaupun kadarnya lebih ringan. Autisme mempunyai gejala: terlambat bicara, kontak sosial terganggu (dipanggil orangtua tidak menengok langsung, jarang bermain dengan anak seusianya) dan adanya perilaku aneh yang sering diulang-ulang (putar-putar > roda, cium-cium benda, loncat-loncat sendiri, memukul kepala). Tampaknya anak anda mempunyai 2 tipe gejala di atas, tanpa gejala perilaku yang diulang-ulang. Terapi yang perlu di berikan adalah Terapi Sensori Integrasi berupa terapi bermain, terapi bicara belum dapat diberikan bila konsentrasi anak dan kontak sosialnya sangat terganggu. Obat-obatan biasanya diberikan bila anak sering menyakiti dirinya, memukul orang, merusak barang, atau kontak sosialnya buruk sekali dan anak terlalu hiperaktif. Semoga bermanfaat, dr Irawan Mangunatmadja, SpA(K) Divisi Neurologi - Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM Dear Dokter, Anakku Jojo hampir 3 th. Pagi ini kami membawanya ke klinik tumbuh kembang anak (RSU Sanglah-Denpasar)untuk di-diagnosa, karena Jojo susah konsentrasi dan belum bisa bicara. Hanya bisa mengekor dan mengulang per kata saja, belum bisa merangkai 2 kata. Kesimpulan team dokter, Jojo sehat, tidak autis, tidak ADHD. Jojo hanya memerlukan terapi bicara dan konsentrasi. Jojo juga diberikan vitamin otak untuk membantu konsentrasinya (Merzitrophil Syrup 1 X 1/2 sendok dan Aktoral Syrup 1x1 sendok) Apakah memang dibutuhkan bantuan obat2an untuk membantu konsentrasinya? Adakah efek samping obat2 tersebut? Saya takut menimbulkan akan menimbulkan ketergantungan. Mohon second opinion-nya, Dok. Terima kasih sebelumnya, Papanya Jojo

Posted by . at 12/08/2005 04:48:00 AM Social bookmark this post • View blog reactions

Translate: Portugues | Francais | Espanol | Deutsche | Italiano | Chinese | Korean | Japanese

1 Comment: sabrina said... Dokter,anak saya,syifa namanya,lahir premature 8 bln,scr cesar,BB=2565gr,stlh lahir diinkubator selama 3 mg,krn hiperbilirubbin smp 20,shg hrs exchange daah di hari ke2.Wkt hamil syifa saya menderita ACA (Anti Cardiolipin Antibody / Pengentalan Darah) shg saya hrs diobati dg cara disuntikan Fraxiparine 0,7ml setiap hari dr awal smp lhran.Skg usia syifa 2 th (26/3/07),smp skg syifa blm bs bicara,syifa baru bs bilang mama,papa,mba, tp itupun jarang sekali diucapkannya. Syifa kl bicara lbh sering bilang “A” sambil nunjuk2.Saya udh pernah membawa Syifa ke klinik tumbuh kembang,dan menurut dokter&psikolog yg memeriksa, syifa hanya mengalami keterlambatan bicara ekspresif (verbal),sedangkan secara komprehensif (pemahaman) mnrt mrk syifa tdk ada masalah,krn semua dpt dipahami oleh syifa dg baik.Mrk menyarankan saya agar syifa ikut terapi bicara di klinik tersebut,syifa sempat ikut 3x,dan mnrt saya terapi-nya tdk efektif krn tdk memacu syifa utk bicara,melainkan membuat syifa jadi bosen krn hanya sendiri tdk ada tmn2-nya.Akhirnya saya memasukkan syifa ke playgrup,krn saya prnh baca di Koran ada kisah yg sama dg syifa dan si ibu memasukkan anaknya ke playgrup,stlh 3 mg-an si anak sdh bs bicara.Jadi saya putuskan utk mengikuti cara tersebut.Playgrup yg syifa ikuti memakai bahasa pengantar Inggris.Mnrt saya syifa punya sifat yg sgt keras,syifa suka marah/teriak2 kl ada keinginannya yg tdk dituruti.Kami sdh stimulasi syifa drmh,spt mengajarkan syifa utk mengikuti apa yg kita minta,spt mi..num-dll, tp tdk pernah diikuti.Yang ingin saya tanyakan : 1. Apakah yang dialami syifa?? 2. Apakah ada indikasi autis?? 3. Dimanakah terapi bicara yg hrs diikuti syifa,agar efektif memacu syifa utk bcr?? 4. Apakah bahasa Inggris sbg bhs pengantar efektif utk memacu syifa bicara?? 5. Apakah sifat pemarah/suka teriak2nya itu hanya krn berhubungan dg sifat kerasnya atau ada indikasi lainnya?? 6. Apakah benar “anak Fraxiparine” lbh hiperaktif?? 7. Apakah yang hrs saya lakukan?? 8. Ada obat (Nootropil & racikan,terdiri dr Folic Acid,Vit.E&Pyridoxin) yg dikasih oleh dokter dr klinik tumbuh kembang,apakah hrs diminum?? 9. Adakah efek samping dr obat yg diberikan tersebut?? 10. Adakah hubungan keterlambatan ini dg riwayat lahir-nya syifa??? Demikian yang ingin saya tanyakan, atas jawaban yg diberikan dokter,saya ucapkan banyak terima kasih. Ibu-nya Syifa

RE: [balita-anda] terapi okupasi dan bicara -Reply
Dian Rahmawati Fri, 06 Jul 2001 02:29:32 -0700
Klinik Pela ada di Jl. Pela No. 9, dekat Jl. Barito II, Blok M Kebayoran Baru No. Telpon 7262849

Jasanya seingat saya terapis bicara & psikolog anak. Dian Rahmawati

-----Original Message----From: Retno Adriani [mailto:[EMAIL PROTECTED]] Sent: Friday, July 06, 2001 3:41 PM To: [EMAIL PROTECTED] Subject: RE: [balita-anda] terapi okupasi dan bicara -Reply Klinik Pela 9 ini dimana ya ? Saya mau catat untuk referensi .. dan jasa apa saja yang disediakan oleh klinik ini thanks bunda qiya >>> Dian Rahmawati <[EMAIL PROTECTED]> 07/06/01 02:11pm >>> Ibu Susi Mohon maaf sebelumnya, saya tidak bermaksud membuat Ibu semakin cemas, tapi apakah Ibu sudah menanyakan ke dokter tentang kemungkinan autisme? (semoga TIDAK) Sebab keponakan saya (laki2) juga begitu dan ternyata hasil diagnosanya dia menderita autis. Di website http://puterakembara.org/ ada checklist tentang mendeteksi autis atau kalau untuk sharing/bertanya-tanya, ada mailing listnya, untuk mendaftar bisa tulis email ke [EMAIL PROTECTED] yang diasuh oleh dr Rudy Sutadi Sp A, Wakil Ketua Yayasan Autisme Indonesia. Anak saya juga sedang ikut terapi bicara di Pela 9. Menurut saya, klinik tersebut cukup bagus. Dalam 2 kali terapi, kemajuan bicaranya cukup banyak. Semoga Vanessa tidak apa-apa. Dian -----Original Message----From: Susi Sutanto [mailto:[EMAIL PROTECTED]] Sent: Friday, July 06, 2001 1:32 PM To: [EMAIL PROTECTED] Subject: [balita-anda] terapi okupasi dan bicara Dear Netters, Putri saya, Vanessa, 18 bulan, selama ini belum bisa bicara

sepatah kata-pun, juga mengucapkan mama-papa jadi cuma ngoceh dan sesekali teriak nggak ada arti dan kalau dia sudah bermain sesuatu, dipanggil bahkan sampai teriak pun nggak pernah noleh. Sehari-hari dia sangat aktif dan senang sekali main sambil mutar-mutar. Secara keseluruhan dia normal, tapi untuk diajarkan sesuatu susah sekali. Kemarin saya sudah bawa dia ke klinik tumbuh kembang di Pela 9, oleh tim dokter yang memeriksa diberi pengantar untuk difoto bagian otak (EEG) di RSAB Harapan Kita. Informasi dari tim dokter, Vanessa sulit untuk konsentrasi, bahkan memegang pensil-pun dia tidak bisa memegang dengan baik tapi dicengkram erat juga waktu menyusun balok dia tidak bisa. Jadi dia harus menjalani terapi okupasi dan terapi bicara. Yang saya tanyakan, mungkin ada yang mengerti mengenai hal ini, apakah kekhawatiran saya ini berlebihan ataukah sudah benar mengikuti petunjuk dokter ? Saya ada rencana Sabtu besok, untuk foto dan terapi. Mohon advisnya. Thanks, Susi Sutanto

Kirim Teman | Print Artikel

Gigih Dampingi Luna Lakukan Terapi Bicara ... Jakarta, Rabu Berbulan-bulan lamanya Suri Alvi Sihombing berusaha keras mencari seorang terapis untuk dapat menyembuhkan putri bungsunya, Luna Nauli Sihombing, yang mengalami kesulitan berbicara sejak kecil. Ia pun rela keluar dari tempat kerjanya demi kesembuhan sang putri tercinta.

Nova

Saat itu, rasanya dunia mau runtuh menimpaku. Naluriku sebagai ibu merasakan adanya kejanggalan dengan bayi kecilku, Luna Nauli Sihombing yang lahir 17 Februari 1998. Tak seperti anak seusianya yang sudah mampu mengeluarkan kata-kata "mama", "papa", Luna hanya bisa mengeluarkan suara-suara tak jelas hingga ia berusia satu tahun. Beda dengan anak pertamaku, Rian Namora Sihombing, ia sudah pandai mengucap kata "mama" dan "papa" sejak berusia 1 tahun.

Aku semakin waswas dan curiga ketika berusia 1,5 tahun, Luna tak juga bisa bicara. Ketika kusampaikan hal ini pada suamiku, Julian Sihombing, dan keluargaku, awalnya mereka tak percaya Luna punya masalah. Secara fisik, Luna memang sama sekali tak berbeda dengan anak normal lainnya. Bahkan Luna sudah bisa berjalan di saat usianya 11 bulan. Demi menjawab kekhawatiranku, aku membawa Luna ke dokter A di sebuah klinik dekat rumah di kawasan Bintaro. Dokter A bilang, mungkin Luna belum bicara saja dan aku disarankan menunggu. Dokter A pun melihat Luna tampaknya tak mengalami gangguan apaapa. Namun, sebagai ibunya, aku tetap tak bisa menghilangkan kekhawatiranku pada kondisi Luna. Karena panik dan terus dihantui rasa takut akan terjadi apa-apa dengan Luna, aku membawa Luna ke dokter anak B di Rumah Sakit (RS) Pondok Indah, Jakarta Selatan. Yang menjadi ketakutan terbesarku, Luna terkena autisme. Namun, hasil pemeriksaan dokter B sedikit menenangkanku. Katanya, Luna tidak apa-apa. Dokter juga menyarankanku untuk melihat perkembangan Luna hingga berusia dua tahun. TERLAMBAT BICARA

Usia Luna genap dua tahun. Sehari setelah Luna berulang tahun, aku kembali membawa Luna ke dokter B. Ternyata, kekhawatiranku menjadi kenyataan.

Dokter B bilang, Luna tidak autis, tapi memang Luna sedikit hiperaktif serta mengalami gangguan yang disebutnya speech delay atau lambat bicara. Dokter B menyarankanku untuk memberikan terapi bicara pada Luna. Aku hanya bisa pasrah mendengar kesimpulan dokter. Untuk lebih memastikan kondisi Luna, keesokan harinya aku kembali membawa Luna ke dokter A. Kuceritakan semua kesimpulan dokter B pada dokter A. Lalu, dokter A merekomendasikan nama seorang profesor ahli saraf anak yang praktik di RSCM. Segera kubawa Luna ke sana. Setelah bertemu di dalam ruangannya, Luna tak diperiksa. Ia dibiarkan saja selama setengah jam untuk mengetahui apa pun yang dilakukan. Dokter ahli ini mengamati sikap dan tingkah laku Luna sambil merekam gambarnya dengan kamera. Luna memang sangat aktif. Luna menaiki meja, jumpalitan, dan memainkan segala permainan yang ada di ruangan dokter. Setelah itu, dokter menghampiriku dan mengatakan, "Luna tampaknya memiliki gejala autisme." Mendengar kesimpulan dokter, rasanya dunia runtuh. Tubuhku lemas dan aku langsung menangis. Sejak awal memang penyakit autislah yang menjadi kekhawatiranku. Sambil menangis, aku mendengarkan semua penjelasan dokter. Menurut dokter, sebelum seorang anak dikatakan autisme, bisa jadi hanya mengalami telat bicara saja atau hiperaktif, hingga akhirnya autisme. Sambil terus menangis aku keluar dari ruangan dokter. Tiba-tiba dokter memanggil Luna dan melambaikan tangan. Keanehan terjadi, ternyata Luna memberi respons. Luna menengok ke arah dokter seraya mengangkat tangannya untuk membalas lambaian tangan dokter.

Dokter kaget. Ia mulai ragu apakah Luna benar-benar memiliki gejala autisme. Biasanya, anak yang terkena autisme, saat dipanggil tidak akan memberi respons apa pun. Dia akan bersikap acuh dan seperti memiliki dunianya sendiri. CARI TERAPIS

Dokter memanggilku lagi masuk ruangannya. Katanya, sebaiknya kami bertemu lagi. Kesimpulan tadi dianggap tidak ada. Kami janji bertemu lagi beberapa hari kemudian. Lusanya, aku kembali bertemu dokter. Kami mengunjungi Yayasan Mandiga, sebuah yayasaan autisme.

Yayasan ini ada sekolah khusus untuk anak-anak autisme dan bekerja sama dengan dokter ahli saraf anak yang kudatangi. Di sana, Luna dibiarkan bermain di sebuah ruangan yang penuh dengan berbagai mainan anakanak. Kami hanya memperhatikan dan mengamati. Kemudian bersama-sama menganalisis sikap dan tingkah laku Luna. Kesimpulannya, Luna tak bisa dikatakan autisme atau pun gejalanya. Tapi Luna harus diberi perawatan di rumah dan menjalankan program terapi yang dibuat yayasan. Namun, aku orang awam yang tak tahu secara detail masalah anakku. Aku hanya seorang karyawati di bagian entri data di kantor BKKBN, Jakarta. Pengetahuan yang terbatas membuat aku butuh seorang terapis yang bisa ikut membantu merawat dan menjalankan program terapi di rumah. Menurutku program dari yayasan sudah bagus, lengkap dengan dokter dan terapisnya, sementara aku mendampingi Luna di rumah. Namun, aku tak puas dengan terapi yang kujalankan. Akhirnya, aku kembali membawa Luna ke RS Pondok Indah dan bertemu dokter B yang pernah kudatangi dulu. Kukatakan masalahku pada dokter B. Aku memang ibunya, tapi kalau harus melakukan sendiri semua hal yang sebetulnya harus dilakukan seorang terapis, aku tentu tak sanggup. Aku perlu sekali bantuan orang lain yang mengerti, tahu, dan ahli menangani Luna. Dokter mengerti maksudku. Tapi terapis di RS Pondok Indah pun terbatas. Aku diminta menunggu sampai bisa mendapatkan seorang terapis yang bisa membantuku. Sampai kapan aku menunggu? Sementara usia Luna semakin bertambah. Aku terus berupaya mencari terapis untuk Luna. Kudatangi berbagai RS dan yayasan khusus. Selama pencarian, aku selalu dibendung rasa khawatir. Tak jarang aku juga menangis di tengah-tengah doaku pada Tuhan. Untunglah suami dan keluargaku sangat mendukung. RELA BERHENTI KERJA

Waktu yang kubutuhkan untuk mencari seorang terapis dan merawat Luna sangat banyak, akibatnya pekerjanku terbengkalai. Aku sering kali izin pada atasanku. Belum lagi cuti dengan waktu yang lama.

Seminggu aku hanya masuk kantor dua hari. Lama kelamaan aku malu dengan rekan kerja dan atasanku, meski sebenarnya mereka sangat memberikan kebijaksanaan padaku untuk bisa

merawat Luna. Akhirnya, aku memilih berhenti dari dunia pekerjaan yang sudah kulakoni selama 13 tahun. Beberapa bulan kemudian, aku dipanggil pihak RS Pondok Indah. Dokter B bilang padaku, "Mari kita lakukan terapi untuk Luna, karena terapisnya sudah ada." Aku sangat bersyukur Luna bisa ikut perawatan di RS Pondok Indah. Di RS ini Luna ditangani lengkap oleh psikolog, dokter, terapis, termasuk aku dan pembantuku diajak serta. Luna dianalisis lagi oleh tim perawatan ini, lengkap dengan segala perhitungannya. Kesimpulan akhir didapatkan tim ini. Katanya, Luna hanya mengalami masalah sulit bicara dan sedikit hiperaktif. Luna memang tak bisa diam dan sulit konsentrasi. Setiap mengerjakan sesuatu, sering cepat bosan. Belum selesai melakukan yang satu, sudah pindah ke kegiatan lain. Akhirnya Luna mendapatkan seorang terapis dari RS Pondok Indah, lulusan akademi tuna wicara RS Kramat, namanya Ibu Dewi. Mulailah Luna diterapi seminggu sekali saat berusai 2,5 tahun di RS Pondok Indah dengan waktu dua jam setiap pertemuan. Lalu, jadwalnya ditambah, seminggu empat kali dengan terapi di rumah. Pokoknya Luna semakin banyak menerima terapi. Pertama kali Luna menjalani terapi, hatiku teriris-iris. Setiap aku ingat peristiwa itu, aku masih suka menangis sedih. Awalnya Luna sama sekali menolak diterapi. Dia berguling-guling, menangis, menjerit, berontak, dan membentur-benturkan kepala. Saat berontak, aku memeluknya sambil menangis. Kira-kira selang sebulan lebih seminggu, Luna mulai bisa tenang dan tak lagi meronta-ronta. Hanya sesekali saja menangis, meski beberapa tugas yang diberikan Ibu Dewi masih tidak mau ia selesaikan. Hanya tugas-tugas yang ia suka saja yang mau dilakukan. Kalau sedang tidak mau, ya diam saja, tidak berontak dan menyakiti diri lagi. BAHAGIA DIPANGGIL IBU

Dalam terapi itu, Luna diberi tugas yang harus diselesaikan. Misalnya, menyusun puzzle, main masak-masakan, bikin kue atau sayuran, yang semuanya harus diselesaikan. Setelah selesai, baru Luna boleh mengerjakan yang lain.

Intinya, Luna diberi terapi awal untuk melatih konsentrasinya agar tak memikirkan hal lain saat mengerjakan satu tugas. Setelah daya konsentrasi Luna mengalami kemajuan, terapisnya mulai mengajari Luna bicara. Mulai dari mengajari membaca huruf per huruf dan pelafalannya. Awalnya Luna sangat kesulitan menyebutkan beberapa huruf. Rupanya anak-anak yang mengalami gangguan speech delay, lidah bagian depannya tidak aktif dan justru lebih memakai lidah belakangnya. Jadi, suara yang keluar dari mulutnya tidak terdengar jelas lafalnya. Tak terasa waktu berjalan terus hingga Luna berusia empat tahun lebih. Aku lihat Luna, kok, sepertinya tidak mengalami kemajuan berarti. Aku sedih sekali. Lagi-lagi Tuhan menunjukkan kebesarannya. Kebetulan, tahun 2002 lalu kakakku naik haji. Aku minta didoakan agar Luna bisa segera berbicara. Lalu kakakku mendoakan Luna di Mekkah.

Entah karena faktor doa kakakku atau memang sudah waktunya Luna bisa berbicara, suatu pagi setelah bangun tidur dan sarapan, Luna memanggilku "ibu". Memang belum jelas benar pengucapannya. Dia menyebutku dengan kata " bibu". Ya Allah, akhirnya Luna bisa juga mengucap kata ibu. Sejak itu Luna mulai bisa mengucap kata "yayah" dan "babang", maksudnya memanggil ayah dan abangnya. Ibu Dewi semakin menyempurnakan pengucapan Luna. Tapi, itu butuh waktu lama. Akhirnya Luna sudah bisa mengucapkan sepatah dua patah kata dengan benar saat berusia 4,5 tahun. Aku pun mulai memasukkannya ke TK. Tentu aku menceritakan keadaan Luna pada gurunya. Kebetulan TK itu bisa menerima kondisinya. Sungguh senang ketika guru TK-nya melaporkan, Luna bisa mengikuti pelajaran di sekolah. Justru untuk menyerap pelajaran Luna lebih pintar dari teman-temannya. Mungkin saat diterapi, ia sudah mulai banyak diajari macam-macam, termasuk membaca oleh terapisnya. Sekarang usia Luna sudah 7 tahun dan duduk di kelas 1 SD. Ia sudah mengalami banyak kemajuan. Orang lain pun sudah mengerti apa yang dikatakan Luna. Memang kalau didengar dengan seksama, masih harus ada yang dibetulkan lagi tata bahasanya. Terkadang menetapkan awalan me- dan di- masih suka tertukar. Aku merasa sangat bahagia, Luna sudah mampu berbicara sekarang. Meski prosesnya sangat lama dan membutuhkan biaya yang tak terhingga besarnya. Sampai sekarang pun Luna masih terus melakukan terapi seminggu sekali. Terapinya hanya untuk menyusun kalimat lengkap. Selain terapi, Luna juga kini aktif ikut beberapa les. Melalui pengalamanku ini, aku ingin mengimbau pada semua ibu, jangan pernah sembunyikan anak Anda pada orang lain. Ceritakan semua masalah yang terjadi pada anak Anda. Dan aku bersyukur, Tuhan baik padaku, aku bisa peka lebih awal pada kondisi Luna. (Tabloid Nova) KENAPA TERLAMBAT BICARA?

Saya seorang ibu (26) yang bekerja dari pukul 07.50-16.30
WIB. Karena tempat kerja dekat dengan rumah, setiap waktu istirahat saya akan pulang dan bertemu dengan anak lakilaki saya yang berusia 2 tahun 3 bulan. Sebagai informasi, BB-PB lahirnya 2,9 kg - 47cm. Lahir dengan divakum. Empat hari sesudah lahir mengalami kuning (jaundice). Beratnya hanya naik 3 ons pada 3 bulan pertama karena sering muntah selanjutnya naik bertahap hingga sekarang BB - PB, 14 kg - 95cm. Sekarang walaupun sudah bisa berkomunikasi, anak saya belum dapat berbicara dengan bahasa yang berstruktur. Memanggil "ibu" atau "ayah" pun belum bisa. Malah dia sering menggunakan bahasanya sendiri. Kalau minta minum akan bilang "nyah", melihat gambar ikan "mamam", gambar sapi/kuda, dibilang "wa-a-a-a" dan gambar cacing/ular/kuda laut, akan disebut "cakng", kupu-kupu/burung dia bilang "pupu". Sementara ada teman sebayanya yang bisa memanggil "mama"/ "papa" pada 10 bulan. Padahal saya, suami dan para pengasuhnya (adik saya & kakek-neneknya) sering mengajaknya bicara, menyanyi dan menunjukkan gambar-gambar yang dia sukai. Awalnya saya mengira karena faktor keturunan. Menurut mertua, suami saya baru bisa bicara pada usia 3 tahun. Tapi saya jadi khawatir karena di antara anak sebayanya,

hanya anak saya yang belum bisa berbicara. Kemajuan kosakatanya pun sangat lambat. Perlu Ibu ketahui, dia aktif sekali. Kalau tidak sedang tidur, dia selalu beraktivitas. Apakah anak saya punya gejala autis? Tapi berdasarkan pengamatan sehari-hari, sepertinya tidak. Terus terang, saya bertemperamen tinggi. Jika sedang lelah atau bete lantas diajak bermain (anak saya sering mencari perhatian dengan cara mencubit, menggigit, memukul) secara refleks saya mengeluarkan kata-kata keras seperti, "Aduh! Sakit dong!".Atau kadang-kadang saya akan balas mencubit. Walaupun setelah itu saya menyesal dan minta maaf padanya. Pertanyaan: 1. Apakah anak saya autis/hiperaktif ? 2. Apakah karena saya suka marah yang menyebabkan anak saya lambat bicara? Atau karena sejarah kelahirannya yang sempat dirawat di RS? Atau faktor keturunan? 3. Normalkah kemampuan berbahasa anak saya? 4. Bila anak saya belum juga bisa bicara pada umur 3 tahun, saya akan menempuh jalan terapi. Menurut Ibu terlambatkah penanganan itu? Di mana saya dapat memperoleh informasi mengenai terapi bicara yang dekat dengan tempat tinggal saya? 5. Dan bagaimana cara melakukan terapi bicara sendiri di rumah? Fadhilah - Sukabumi Saya mengalami kesulitan dalam menegakkan diagnosa bahwa putra Ibu tergolong anak yang hiperaktif, mengingat usianya baru menjelang 3 tahun. Untuk menegakkan diagnosa tersebut, dibutuhkan pengamatan yang lebih cermat. Apakah dia menyandang autisma? Rasanya tidak, sebab ia dapat berinteraksi timbal balik dengan orang lain, misalnya mau mengajak main dan akan menyakiti ibunya bila tidak ditanggapi. Sehubungan dengan beberapa keluhan yang Ibu sampaikan, saya sarankan agar Ibu segera membawa si kecil untuk di tangani oleh seorang dokter ahli saraf anak dan jangan menunggu sampai ia berusia 3 tahun. Beberapa pertimbangan yang mendasarinya adalah ia lahir dengan bantuan vakum; di usianya sekarang ini kemampuan berbicaranya masih terbatas, kata-kata diucapkan secara tidak tepat padahal rangsangan bahasa sudah banyak dilakukan. Sayang sekali saya tidak mempunyai informasi apakah di kota Sukabumi sudah ada ahli terapi wicara. Saya sarankan Ibu berkunjung ke Bandung atau ke Jakarta guna mencari ahli yang bisa diandalkan. Untuk terapi bicara di rumah, saya tidak dapat memberikan saran yang tepat, karena bukan kompetensi saya. Perlakuan Ibu yang suka marah-marah pada anak, bisa berdampak secara tidak langsung terhadap perkembangan bahasa/kemampuan anak untuk berbicara. Anak akan lebih mudah mempelajari suatu materi baru (kosakata baru) kalau hatinya tenang dan merasa senang. Jadi sebaiknya Ibu tidak terlalu mudah untuk terpancing menjadi marah.

Terapi Bicara

Feb 25, '08 1:47 AM for everyone

Hari sabtu kemarin Nabiel sudah terapi bicara 7 kali kedatangan.. Alhamdulillah Nabiel senang bgt sekolah (kami menyebutnya sekolah)... Pintu belum dibuka aja, udah berdiri di depan pintu sambil megang buku hihihi..... Jd inget... Kali pertama Nabiel sekolah.. Klo di Pangudi Luhur khan orang tua ga boleh masuk. Jd dari pertama Nabiel udah sendirian. Kebayang deh takutnya dia... Nangissss kenceng sampe

muntah2 didalem. Ibu dan ayah dan yangti nega2in diri diluar sambil mikir klo ini utk Nabiel jg ke depannya. Utk kemandiriannya.. Kali kedua.. masih nangis tp ga muntah. Ketiga nangis sebentar tp udah mau masuk sendiri.. Keempat, udah ga nangis lg.. Sekarang.... senyum2, pegang buku sendiri, masuk sendiri, lepas sepatu sendiri, dannn udahannya ga mau pulang... Sampe skrg nabiel masih belajar motorik. Yg Nabiel pelajari disekolahm skrg: 1. Mewarnai. Udah mulai terarah, tekanan sudah bagus, tp belum rapi.(P+) 2. Mencocokkan warna. Yaitu menarik garis misal merah ke merah, dll. Nabiel sudah bisa. (+) 3. Mencocokkan bentuk. Yaitu menarik garis dari misal segitiga ke segitiga, dll. Nabiel bisa. (+) 4. Mencocokkan huruf sambung (disekolahnya menulis sambung yg dipakai). Yaitu misal dari g ke g atau a ke a, dll. Udah + jg. 5. Mencocokkan suku kata, misal ma ke ma atau gi ke gi. Udah +. 6. Mencocokkan kata ke kata, kata ke benda.. Nah ini nabiel blm bisa heheheh..... Masih baru sih blm diulang dirumah.. 7. Puzzle. Udah + 8. Pasang menara, Masih blm urut (-) 9. Meniup. Masih -. Padahal udah diajarin terus pake balon, lilin, kertas, koq ga bisa2 ya.... Hrs gimana ya? Klo menyedot, mengunyah, menjilat Nabiel udah OK. Tinggal niup ini nih huhu... 10. Mengeluarkan suara Nabiel jg blm mau... Mudah2an segera menyusul..Aminn... Ga sabar nunggu saat terapi AVT mulai nih.. Masih minggu depan.. Tdnya sempet bingung jg, kata terapis AVT di ABDI, terapi pendengaran dan terapi wicara ga boleh digabung, krn anaknya akan bingung. Tp setelah dirembug dan dengar saran ibu2 yg lain.. Bismillah deh biar jalan dulu keduanya dan lihat perkembangannya nanti. Sambil cari2 informasi lain. Mudah2an semua langkah yg kami ambil bermanfaat buat nabiel, nabiel tambah pintar dan cepet bicara, aminn...

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->