P. 1
Sejarah Singkat Kab

Sejarah Singkat Kab

|Views: 334|Likes:
Dipublikasikan oleh RM Muslimsuharto CN

More info:

Published by: RM Muslimsuharto CN on Jul 20, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/30/2014

pdf

text

original

Sejarah singkat Kab. Labuhanbatu Utara Daerah mana yang tidak kenal Kab. Labuhanbatu Utara?

Kabupaten yang di mekarkan dari Kabupaten induk Labuhan Batu yang dimekarkan dalam memperhatikan surat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Labuhan Batu Nomor 63 Tahun 2005 tanggal 31 Oktober 2005 tentang persetujuan DPRD Kab. Labuhan Batu terhadap pembentukan Kab. Labuhan Batu, Kab. Labuhanbatu Utara dan Kab. Labuhanbatu Selatan serata di dukung dengan Keputusan DPRD Provinsi Sumatera Utara surat Nomor 1/K/2006 tanggal 12 Januari 2006 tentang persetujuan pemekaran Kab. Labuhan Batu serta Surat Keputusan Gubernur Sumatera Utara Nomor 135/731/ tanggal 26 Januari 2006. Melalui proses yang cukup panjang akhirnya Pemerintah bersama DPR RI menetapkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kab. Labuhanbatu Utara pada tanggal 21 July 2008. Berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri RI Nomor 131.12/1005 tahun 2008 tentang pengangkatan Penjabat Bupati Kab. Labuhanbatu Utara Drs. H. Daudsyah, MM yang dilantik pada tanggal 15 Januari 2009 di Jakarta maka resmila Kab. Labuhanbatu Utara terbentuk sebagai Daerah Otonom baru dari hasil pemekaran Kab. Labuhan Batu. Seogianya masa jabatan Penjabat Bupati berakhir tanggal 15 Februari 2010 dikarena ‘hasrat’ untuk ikut dalam pemilukada 27 September 2010 terpaksa jabatan Bupati harus dilanjutkan ketampuk Drs. Asrin Naim yang dilantik oleh Gubernur Sumatera Utara pada tanggal 22 Januari 2010.

Kehadiran Gatot Pujo Nugroho Di Labura Disambut “Aksi” Demo
Pencanangan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat ( BBGRM ) Sumatera Utara ke-9 dan Pembangun Desa Mandiri dan Terpadu ( Bangdes-Madu) resmi dibuka oleh H. Gatot Pujo Nugroho ST, Senin (1/4/12) di Lapangan Polri Aek Kanopan, Kabupaten Labura. Kabar Labura - Selasa, 01 Mei 2012

Aek Kanopan - Pencanangan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat ( BBGRM ) Sumatera Utara ke-9 dan Pembangun Desa Mandiri dan Terpadu ( Bangdes-Madu) resmi dibuka oleh H. Gatot Pujo Nugroho ST, Senin (1/4/12) di Lapangan Polri Aek Kanopan, Kabupaten Labura.

Namun sebelum acara berlangsung, Plt. Gubsu ini disambut aksi demontrasi dari sejumlah buruh dan petani yang tergabung dalam Aliansi buruh dan tani Se-Labuhanbatu Raya ( Burta Labura ) yang terdiri dari Kabupaten Labuhanbatu, Labuhanbatu Utara, Labuhanbatu Selatan. Dalam aksinya, massa melakukan long march dari terminal Aek Kanopan menuju kantor Bupati Labura. Daniel Marbun SH selaku pimpinan aksi dalam orasinya menyampaikan, kondisi buruh di perkebunan selama ini sangat memprihatinkan. Selain upah rendah, hak-hak normatif seperti kesehatan dan keselamatan kerja serta, alat dan perlengkapan kerja selalu diabaikan pihak perusahaan. Demikian juga masalah sengketa tanah, banyak perkebunan di Kabupaten Labuhanbatu Raya khususnya di Labuhanbatu Utara sendiri yang telah merampas tanah rakyat dan hingga sekarang belum ada penyelesaian dari pemerintah. Adapun perusahaan perkebunan di Labura yang telah merampas tanah rakyat di antaranya PT. Smart, PT. Graha Dura Leidong Prima ( Bakrie Group), PT. Sawita Leidong Jaya ( PT. SLJ ), PTPN 3 Merbau Selatan, PTPN 3 Kebun Janji, PT. Merbau Jaya Indah Raya ( PT. MJIR), PT. Asam Jawa, PT. Umbul Mas Wisesa, PT. SIPEF, PT. Jaya Motor, PT. Nagali, PT. Paten Alam Lestari, PT. Hari Sawit Jaya, PT. Rantau Sinar Karsa, PT. Indo Sepadan Jaya serta beberapa perkebunan perseorangan seperti perkebunan sawit milik Aleng, Perkebunan sawit milik Herlina, Perkebunan milik Abak.

Terkhusus sengketa lahan yang ada di Labuhanbatu Utara, Daniel Marbun menilai Bupati Labura H. Kharuddin Syah Sitorus hanya bisa sebatas berjanji tidak ada langkah penyelesaian yang konkrit. Dan bahkan yang paling mengecewakan, Bupati Labura sendiri terkesan selalu menghindar dari setiap aksi-aksi yang dilakukan para petani. “ Kami meminta Bupati Labura agar segera menyelesaikan sengketa tanah rakyat yang telah dirampas perusahaan perkebunan dan menutup perusahaan perkebunan yang tidak memiliki izin dan menguasai kawasan hutan. Kami butuh tindakan yang nyata dan bukan sebatas janji” tegas Daniel dalam orasinya. Para massa aksi mengaku merasa kecewa karena para delegasi buruh tani hanya disambut oleh Sekda Labura, H. Amran Matondang dan Bupati sendiri tidak ada di tempat. Dan massa dihadang dari anggota Satpol PP dan ratusan petugas Polri serta para OKP. Aksi yang sekaligus memperingati hari Buruh sedunia ( May Day ) ini berlangsung damai. Namun para massa aksi mengaku benar benar kecewa terhadap Pemkab Labura khususnya bupati Labura sendiri yang dinilai tidak serius menyelesaikan masalah rakyat khusunya masalah buruh dan sengketa lahan yang terjadi di Labura. (KL/0809)

Ratusan Petani Labura Unjuk Rasa

Aek Kanopan Ratusan petani yang menamakan diri Serikat Petani ( Setan ) Labura, Rabu, 28/09 melakukan aksi unjuk rasa didepan kantor bupati Labuhanbatu Utara. Massa yang berunjuk rasa tersebut merupakan gabungan dari beberapa Kelompok Tani di Labura yang melebur menjadi satu. Para petani ini berasal dari Koptan Padang Halaban sekitarnya, Koptan Sidodadi ( Marbau Selatan ), Koptan Penghijauan, dan Koptan Trans Kecamatan Kualuh Hulu.....

Dalam aksinya, massa petani menyampaikan Sepuluh Tuntutan kepada Pemkab Labuhanbatu Utara. Dalam tuntutan yang mereka namakan Sepultura tersebut, massa meminta agar pemerintah Kabupaten Labuhanbatu Utara dapat lebih memihak kepada petani ( rakyat ). Adapun isi daripada tututan tersebut adalah ; Pencabutan HGU Perkebunan yang bermasalah di Labura, pengembalian tanah rakyat yang dirampas oleh perkebunan, menangkap dan mengadili mafia tanah, mencabut UU No 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan, bebaskan warga tani yang ditangkap oleh Polres Labuhan Batu, meminta aparat hukum untuk bersikap adil dalam menangani kasus-kasus tanah petani, hentikan kriminalisasi terhadap petani, meminta bupati untuk mundur jika tidak sanggup untuk menyelesaikan konflik pertanahan, hentikan perampasan tanah, dan meminta agar pengusaha perkebunan yang tidak memiliki ijin HGU segera ditangkap. Dalam unjuk rasa ini sempat terjadi aksi saling dorong antara petani yang ingin menemui bupati ( kebetulan sedang berada di Medan ) untuk menyampaikan aspirasinya dengan petugas Satpol PP dan petugas Polres Labuhan Batu yang telah berjaga-jaga dilokasi sebelum tibanya para pengunjukrasa. Namun akhirnya situasi dapat dikendalikan setelah Wakil Bupati, H. Sahminan Pasaribu yang didampingi Sekda, H. Amran Matondang bersedia menerima perwakilan dari petani diruangan kerja Sekda. Setelah pertemuan sekitar 4 ( empat ) jam yang juga dihadiri oleh Asisten Pemerinthan Tata Kota dan Kesra, H.M. Amin Daulay, Msi dan Kabag Tata Pemerintahan Setdakab, H. Habibuddin, M.AP, akhirnya pihak pemkab membuat Notulen yang merupakan kesimpulan rapat antara petani dengan pihak pemkab. Dalam Notulen tersebut, Poktan Padang Halaban sekitarnya meminta agar perolehan HGU PT. SMART yang diperoleh dari Kebun Plantagen diperjelas asal usulnya. Dimana waktu perolehan HGU dulu, telah terjadi penyerobotan terhadap lahan warga seluas 3000 Ha. Masyarakat meminta, agar lahan yang dipersengketakan dapat diusahai masyarakat secara bersama-sama dengan PT. SMART. Koptan Sidodai Marbau Selatan menjelaskan tentang sengketa antara petani dengan pihak PTPN III, dimana seluas 72 Ha tanah warga dirampas tanpa ganti rugi. Disebutkan, PTPN III sudah melakukan ganti rugi, namun hingga saat ini tidak dapat menunjukkan buktinya. Koptan ini juga meminta agar HGU PTPN III yang luas lahannya 3193 Ha segera diukur ulang dan tanah milik petani dikembalikan. Koptan Penghijauan menjelaskan tentang sengketa lahan dengan PT. Sawita Leidong Jaya dan PT. Grahadura Leidong Prima. Dalam sengketa tersebut disebutkan banyak petani yang ditangkap

karena lahan yang dipersengketakan adalah kawasan hutan, namun tidak satupun dari pihak peusahaan yang ditangkap, sehingga ada kesan telah terjadi diskriminasi hukum. Sedangkan Koptan Trans menjelaskan tentang aksi perampasan tanah rakyat yang dilakukan oleh PT. NAGALI dan pengusaha Abak yang merupakan tanah cadangan untuk transmigrasi di Desa Sonomartani. Adapun kesimpulan akhir dari tuntutan masyarakat Koptan yang tergabung dalam Setan Labura tersebut adalah sebagai berikut ; Tanah yang disengketakan tersebut harus dikembalikan kepada rakyat, tanah yang disengketakan agar di Stanvas, Polisi dituntut agar bersikap adil dalam menyikapi permasalahan ini, dan yang terakhir, ingin bertemu langsung dan berdialog dengan Bupati Labuhanbatu Utara. Sebagai point terakhir dari Notulen tersebut, disimpulkan bahwa perwakilan Kelompok Tani akan bertemu dengan Bupati Labuhanbatu Utara sekitar dua minggu lagi dan Penkab Labuhanbatu Utara berjanji akan menindaklanjuti aspirasi para Kelompok Tani sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku. Sebelum membubarkan diri, massa sempat kembali melakukan orasi dan mengancam akan melakukan aksi yang sama dalam jumlah yang besar jika tuntutan mereka tidak dikabulkan. PTPN III Kembalikan Tanah Rakyat Kebun Sayur Merbau Selatan Labuhan Batu Utara

Ir Dahlan Iskan Meneg Bumn

Ketua kelompok tani Sidodadi, Merbau Selatan (Marsel), Kabupaten Labuhan Batu Utara (Labura) Kamidi berharap agar PTPN III perkebunan Marsel, Labura mengembalikan lahan seluas 72 Ha yang telah dikuasai kelompok tani sejak tahun 1968. "Kami berharap PTPN III membuat kebijakan untuk mengembalikan lahan seluas 72 Ha yang telah dikuasi kelompk tani sejak tahun 1968,"ujar Kamidi, di rapat dengar pendapat Komisi A, DPRD Sumatera Utara, di gedung dewan ( 12/1).

Rapat dengar pendapat di pimpin Ketua Komisi A, DPRD Sumatera Utara H Isma Padli

Ardya Pulungan dan Sekretaris Komsi A, DPRD Sumatera Utara Mustofawiyah Sitompul. Hadir di rapat itu, mewakili BPN Sumatera Utara Masriani, Kabag Umum PTPN III M Bangun dan Kepala Urusan Tanah PTPN III Fahri Hidayat.

Sedangkan anggota Komisi A, DPRD Sumatera Utara yang hadir, Ahmad Ikhyar Hasibuan, Rinawati Sianturi, Drs Rauddin Purba, Hj Syafrida Fitrie, Hasbullah Hadi, Abu Bokar Tamba dan H Syamsul Hilal. Pemkab Labura di wakili Asisten Pemerintahan Amin Daulay serta mewakili pemerintah Provinsi Sumatera Utara T Sibarani. Di hal lain, Kamidi menyarankan agar TNI, Polri dan Sekuriti jangan mencampuri urusan lahan yang kami tuntut dari PTPN III."DPRD Sumatera utara harus menyikapi persoalan kelompok tani Sidodadi, Marsel, Labura,"ujarnya. Sementara itu, Dedi Syahputra, Ketua kelompok tani Maju Jaya Dusun MBK, Marsel, Labura, yang hadir di rapat itu juga berharap sekali dukungan Komisi A, DPRD Sumatera Utara, untuk merealisasikan pengembalian lahan seluas 71 Ha yang merupakan tuntutan kelompok tani ke PTPN III, perkebunan Marsel. "Kami berharap dukungan Komisi A, DPRD Sumatera Utara, untuk merealisasikan pengembalian lahan seluas 71 Ha,"tandas Dedi.

Terhadap tuntutan pengembalian lahan seluas 71 Ha, saran Dedi, agar jajaran PTPN III untuk kiranya tidak memberatkan kami. Di rapat itu, Dedi juga memohon kepada Komisi A, DPRD Sumatera Utara agar memberikan perlindungan hukum kepada kelompok tani. "Kami mohon perlindungan hukum dari anggota DPRD Sumatera Utara, agar petani jangan sering di diskriminasi," tandasnya lagi.

Ketua Komisi A, DPRD Sumatera Utara H Isma Padli Ardya Pulungan menegaskan pihaknya selalu memediasi persoalan tuntutan kelompok tani."Lahan kelompok tani Sidodadi dan kelompok tani MBK bersentuhan dengan lahan PTPN III. Mungkin sudah ada upaya Bupati Labura untuk menyelesaikannya. Persoalan lahan itu harus diselesaikan oleh Pemkab Labura"tegas Isma. Mewakili pemerintah Provinsi

Sumatera Utara T Sibarani menyarankan agar PTPN III menyikapi tuntutan kelompok tani Sidodadi dan kelompok tani MBK.Hal senada juga dikemukakan Asisten Pemerintahan Pemkab Labura Amin Daulay."Tuntutan kelompok tani sudah berlangsung lama. Kita sudah mencoba menyikapinya berdasarkan data-data yang ada. Pemkab Labura sepakat untuk membahas dan menyelesaikan tuntutan kelompok tani,"ujar Amin.

Kabag Umum PTPN III M Bangun menjelaskan menurut catatan kami, tuntutan lahan seluas 72,19 Ha berada di HGU No.9, tanggal 2 Januari 2008."Sebelumnya pernah digantirugi pada 20 Maret 1971. Atas klaim-klaim tersebut, kita sudah melakukan sosialisasi, begitu juga terhadap tuntutan masyarakat," papar Bangun. Selanjutnya, Kamidi menjelaskan 92 Ha lahan PTPN III perkebunan Marsel telah dikeluarkan dari HGU oleh BPN Pusat. "Kampung kami hanya seluas 20 Ha. Kami kehilangan lahan seluas 72 Ha. Jadi lahan seluas 72 Ha itu merupakan tuntutan kami agar segera dikembalikan,"tegasnya lagi.

Anggota Komisi A, DPRD Sumatera Utara H Syamsul Hilal menyarankan agar persoalan sengketa lahan kelompok tani dengan PTPN III segera diselesaikan. "Saran saya, harus diselesaikan sesegera mungkin. Mari kita berbesar hati untuk menyelesaikannya,"ujar Syamsul. Anggota Komisi A, DPRD Sumatera Utara Ahmad Ikhyar Hasibuan menghimbau jangan ada permusuhan antara kelompok tani dengan PTPN III.

RAKYAT MENGGUGAT
Rabu, 10 November 2010
“SETELAH SATU ABAD SAWIT : BURUH, PETANI, DAN LNGKUNGAN HIDUP TERMARJINALKAN”
PRESS RELEASE : Secara komersil, tanaman sawit diperkenalkan di Sumatera Timur (sekarang Sumatera Utara), sejak tahun 1911, perkebunan sawit pertama di Indonesia. Kebun kelapa sawit pertama dibuka di Tanah Itam Ulu oleh perusahaan Oliepalmen Cultuur dan di Pulau Raja oleh perusahaan Huileries de Sumatera, RCMA. Kemudian bertambah luas oleh Seumadam Cultuur Mij, Sungai Liput Cultuur Mij, Mapoli, Tanjung Genteng oleh Palmbomen Cultuur Mij, Medang Ara Culttur Mij, Deli Muda oleh Huileries de Deli. Hingga tahun 1915, Perkebunan sawit sudah mencapai 2.715 Ha. Sebuah era kapitalisasi sawit telah dimulai disini. Satu abad berikutnya tahun 2010, luas kebun sawit di Indonesia sudah mencapai 9 Juta Ha yang dikuasai oleh 33 group perusahaan sawit skala besar. Hutan yang dihancurkan dan lahan yang dipergunakan untuk pembukaan lahan sawit tercatat mencapai 400,100 ha per tahun. Sementara itu, hingga 2008, Statistik Propinsi Sumatera Utara mencatat, luas Kelapa Sawit 1.019.207,61 Ha atau 53,64% dari total luas perkebunan di Sumatera Utara, meningkat dari hanya sekitar 386.970 Ha dari tahun 1984. Sebesar 66 % luas lahan tersebut adalah milik perkebunan sawit skala besar seperti investor asing, lokal, dan BUMN. Perkebunan-perkebunan ini telah memproduksi sekitar 14 juta ton kelapa sawit per tahun. Sisanya, 33 %, Menurut Statistik Pempropsu 2008, lahan perkebunan sawit adalah milik petani kelapa sawit, tetapi tidak ada penjelasan petani seperti apa yang dimaksudkan. Penelitian Kelompok Pelita Sejahtera (KPS), Bakumsu, dan Lentera menunjukkan bahwa para pengusaha besar atau pemilik modal besar ternyata berada di belakang sebagian besar kelompok petani yang ada. Petani hanya dijadikan sebagai tameng untuk memperoleh kredit dan pinjaman dana dari pemerintah dan bank. Penelitian 3 (tiga) lembaga, Kelompok Pelita Sejahtera, Bakumsu, dan Lentera Rakyat, sejak 2008-2010, menemukan hal-hal sebagai berikut : · Dari sekitar 236.000 orang buruh di Perkebunan Sawit di Sumatera Utara, terdapat sebanyak 80.000 orang buruh harian lepas (BHL) tanpa hak-hak normatif seperti jaminan sosial berupa kecelakaan, kesehatan, kematian dan jaminan hari tua. · Terdapat 68.000 tukang berondol (kernet) tanpa perikatan kerja yang tidak jelas statusnya sama sekali di perkebunan-perkebunan sawit di Sumatera Utara. “Sistem Kernet” ini dipakai untuk memenuhi target kerja yang dibebankan kepada buruh. Kernet biasanya adalah anggota keluarga inti dari seorang buruh pemanen

yang bekerja di Perkebunan Sawit. Ini adalah bentuk upaya informalisasi hubungan kerja terhadap buruh perkebunan · Penentuan upah buruh didasari kebutuhan hidup seorang lajang per bulan, yakni sebesar Rp. 1.005.000. Padahal, seorang buruh memiliki tanggungan keluarga yang sebagian menjadi kernet atau membantu pekerjaan buruh dimaksud di dalam perkebunan. · Dari studi kasus bulan Januari hingga April 2008 terhadap 6 perkebunan besar seperti PTPN II Sawit Hulu, PT. Socfindo Matapao, PT Lonsum Rambung Sialang, PT BSP Asahan, PT Buana Estate Langkat, dan PT Sri Rahayu Agung Serdang Bedagai, ditemukan 47 kasus kecelakaan kerja. Dari 47 kasus tersebut, 68% dikategorikan kecelakaan ringan seperti tertusuk duri sawit, tertimpa pelepah sawit, tergigit serangga berbisa, dan keseleo. 23% mengalami cacat seperti cacat mata rabun dan buta karena terkena zat kimia beracun. 4,23 % buruh meninggal karena terkena sengatan listrik dan tertimpa Tandan Buah Sawit (TBS). · Dari studi di 10 (sepuluh) perkebunan sawit skala besar di Labuhan Batu dan Labuhan Batu Utara (PT Hari Sawit Jaya, PT Socfindo Negeri Lama, PT Serba Huta Jaya, PT Smart Padang Halaban, PTPN III Marbau Selatan, PTPN IV Berangir, PT Deli Labuhan Indah, PT Indo Sepadan Jaya, PT Supra Matra Abadi, PT Smart Adipati, PT Cisadane Sawit Raya), terdapat temuan-temuan sebagai berikut: · 1. Sanksi berupa denda yang ditetapkan perusahaan secara sepihak terhadap buruh sebesar antara Rp 3.000 s/d Rp 20.000 per kasus kesalahan. Kesalahan buruh ditentukan sepihak oleh perusahaan tanpa ada pembelaan dari buruh. Akumulasi denda dipotong secara langsung saat gajian. 2. Target kerja yang diluar kemampuan wajar. Target kerja pemanenan bagi buruh sekitar 1 - 2 ton per hari. 3. Peralatan kerja yang tidak memadai dan tidak diberikan sepenuhnya perusahaan. Peralatan kerja bagi buruh pemanen dan perawatan harus dibeli sendiri oleh buruh, meskipun terkadang sebagian kecil dibayar setengah oleh perkebunan. Contohnya sarung tangan, egrek dan dodos, angkong/beko, kaca mata, helm, sepatu bot, seragam pakaian, dan masker. 4. Buruh harian lepas harus menanggung sendiri biaya pengobatan akibat kecelakaan kerja. Padahal buruh bekerja di bagian produksi utama dengan kewajiban kerja yang sama dengan buruh tetap. Sedangkan bagi buruh tetap hanya ditanggung biaya pengobatannya saja, tanpa ada biaya pemulihan. 5. Fasilitas umum di perkebunan tidak layak pakai seperti perumahan, listrik, air, jalan, poliklinik dan sekolah. 6. Buruh sulit untuk mendirikan serikat buruh selain SPSI. · Terjadi konversi lahan sistematis dari lahan pertanian padi menjadi perkebunan sawit di sejumlah tempat di Sumatera Utara. Studi di desa Selat Beting, Kecamatan Panai Tengah, Labuhan Batu, menunjukkan lahan pertanian padi yang masih bertahan mengalami kehancuran karena rusaknya sistem irigasi yang telah

terblokir oleh perkebunan besar sawit, kemunculan hama tikus tak terkendali. Dampaknya, desa penghasil padi terbesar kedua di Labuhan batu hingga tahun 1990 ini, menjadi desa kesulitan pangan tahun 2010. · Konflik tenurial antara masyarakat lokal, pengusaha besar, dan hutan habitat hewan langka, seperti yang terjadi di Sigajah Gajah, Kecamatan Torgamba, Labuhan Batu Utara. Enam perkebunan sawit besar, antara lain PTPN III dan PT Torganda berada di lokasi dimana seharusnya tanah seluas 1.963, 75 HA, diperuntukkan untuk lokasi penangkaran Gajah. Hingga tahun 2009, terdapat 20 ekor Gajah ditempatkan dilokasi hanya seluas 4 Ha. Kebun holtikultura petani lokal, desa Sumber Sari, kerap menjadi korban amukan gajah, karena telah kehilangan habitat dan sumber makanannya. · Perkebunan ilegal, penghancuran hutan lindung dan lahan gambut, seperti pada studi kasus di kecamatan Kualuh Hulu, oleh PT GDLP dan SLJ. Sebagian lokasi perkebunan milik PT GDLP dan SLJ di Kualuh Hulu ternyata berada di lahan gambut dan hutan lindung, sesuai dengan Surat Badan Planologi Departemen Kehutanan No. S.293/VII-PW/2005. · Aneksasi lahan yang dilakukan perkebunan skala besar menyisakan persoalan baru, munculnya petani-petani tak bertanah, seperti ambil alih lahan rakyat peserta PIR oleh PTPN IV di desa Sei Raja, Aek Kanopan, Labuhan Batu Utara, dan ambil alih lahan petani desa Sukaramai, Kualuh Hulu, oleh PT GDLP dan SLJ. Oleh Karena itu, kami meminta kepada pemerintah Pusat sampai Kabupaten untuk mengkaji ulang kehadiran perkebunan sawit dan rencana ekspansinya karena telah diduga melakukan pelanggaran HAM berat. Demikian temuan-temuan penelitian ini kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih.

Medan, 05 Novemebr 2010 Hormat kami,

Gindo Nadapdap

Benget Silitonga Diapari Marpaung

Direktur Eksekutif KPS Direktur Bakumsu Direktur Lentera Rakyat

Didukung oleh: PBHI Sumut, AGRA, Formatsu, FMN, K-SBSI Sumut

Rumah Tak Layak Huni Masih Di Tempati Keluarga Sudin
Puluhan tahun pasangan suami istri bernama Sudin Munthe dan Yanti tinggal disebuah rumah berlantaikan tanah, beratap rumbia, berdinding gedek dan berlampu teplok. Pasangan suami istri ini memiliki 3 orang anak. Kesehariannya Sudin Munthe yang bermata pencaharian sebagai penggalas sayuran (along-along) ini tidak bias berbuat apa-apa untuk memperbaiki rumah yang dihuninya. Kabar Labura - Kamis, 07 Juni 2012

Sukarame, Labura - Puluhan tahun pasangan suami istri bernama Sudin Munthe dan Yanti tinggal disebuah rumah berlantaikan tanah, beratap rumbia, berdinding gedek dan berlampu teplok. Pasangan suami istri ini memiliki 3 orang anak. Kesehariannya Sudin Munthe yang bermata pencaharian sebagai penggalas sayuran (alongalong) ini tidak bias berbuat apa-apa untuk memperbaiki rumah yang dihuninya.

Terlihat dari atap rumbia yang telah puluhan tahun sudah rusak dan bocor hanya dapat ditempel dengan tenda saja agar diwaktu musim hujan tidak bocor. Tak sampai disitu anak dari Sudin Munthe tidak bias duduk di bangku sekolah karena kurangnya penghasilan sebagai penggalas sayuran. Meskipun sudah lama bertempat tinggal di Dusun Air Salak Desa Sukarame, keluarga Sudin Munthe baru 3 kali mendapat jatah raskin itupun setelah diurus salah satu kru kabarlabura.com bernama Agus Siagian. Anehnya dalam pengurusan agar keluarga Sudin Munthe mendapat jatah raskin, Agus sudah pernah mengajukan kepada Kepala Lorong dan Kepala Desa tetapi sangat disayangkan dimana perangkat Desa malah mengatakan “bagaimana mau dibagi sementara jatah berasnya saja kurang.” Agus pun menemui Timbul Hasibuan selaku pengurus beras raskin untuk Kecamatan Kualuh Hulu agar melihat situasi keluarga Sudin Munthe yang serba kekurangan, Timbul Hasibuan kemudian memberikan jatah raskin. Keluarga Sudin Munthe saat dimintai keterangannya

menuturkan kepada kru kabarlabura.com (01/06/2012) “berharap dengan adanya pemberitaan ini Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu Utara dapat memperhatikan dan membantu kami dalam program bedah rumah. Kami sangat membutuhkan pertolongan Pemkab Labura dimana untuk tidur saja kami sudah susah karena rumah ini hanya memiliki 1 kamar sedangkan anak saya tidur diatas tanah beralaskan tikar,” ucapnya.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->