Anda di halaman 1dari 12

Firanda memfitnah ulama ahlus sunnah

Gelar kadzdzab (gemar berdusta) yang disematkan oleh salah seorang ulama besar di Madinah AsySyaikh Abdullah bin Abdirrahim Al-Bukhari Hafizhahullah kepada seorang pelajar di Madinah yang bernama Firanda Andirja memang merupakan gelar yang layak disandangnya. Mengapa tidak, Firanda seakan tiada henti menghembuskan fitnahnya dengan menyebarkan berbagai kedustaan dikalangan salafiyyin dengan menyebarkan berita-berita palsu yang kandungannya adalah upaya merendahkan kedudukan para ulama dan Dai Ahlus sunnah ditengah umatnya.

Belum lama kita mendengarkan haditsul ifk Firanda yang menyebarkan fitnah dusta dengan mengatasnamakan Asy-Syaikh Rabi bahwa Beliau meninggalkan kota Madinah dan menetap di Makkah karena diusir dari Madinah. Subahanaka hadza buhtaanun azhim, betapa lancangnya anda berdusta atas nama seorang yang disebut oleh Imam Al-Albani sebagai pembawa bendera al-jarhu wat-tadil dizaman ini. Mungkin dia berkata: bukan saya yang mengatakan itu, tapi saya hanya menukil. Kami katakan: Anda terkena ucapan anda sendiri, bukankah anda sendiri menyebutkan dalam buku fitnah anda yang berjudul lerai pertikaian sudahi permusuhan sebagai berikut: Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam kitabnya, al-Adab al-Mufrad (no.324), demikian juga Ibnu Abid Dun-ya dalam kitabnya, ash-shamt (no.260), dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam shahih al-Adab (no.247), dari Ali, ia berkata:


Pengucap perkataan dusta adalah sama dosanya dengan orang yang memanjangkan tali perkataan tersebut. Makna ucapan Ali yang memanjangkan tali perkataan tersebut, yaitu menyebarkannya. (Dinukil dari buku fitnah Firanda, hal:26) Tak lama setelah itu, ia kembali berulah di kota Nabi Shallallohu alaihi wasallam, dengan menyebarkan berita palsu berikutnya bahwa Asy-Syaikh Abdullah Al-Bukhari Hafizhahullah Taala- menjelekkan Syaikh Abdurrazzaq Al-Abbad Hafizhahullah-, yang menyebabkan Syaikh Abdullah Al-Bukhari marah besar kepadanya dan tidak memaafkannya hingga dia datang kerumah Beliau. Menurut berita dari Syaikh Al-Bukhari bahwa dia telah datang untuk meminta maaf,namun gelar pendusta tersebut masih saja Beliau sematkan kepada hamba Allah yang satu ini, dan gelar itu memang pantas disematkan kepadanya. Selamat berbahagia dengan gelar ini wahai Firanda dari salah seorang ulama besar Madinah Nabawiyyah. Anehnya, Firanda menyebutkan dalam buku fitnahnya (hal:32), ia berkata:

Ada sebagian orang yang tidak bisa mengendalikan lisannya.Tidak peduli dengan apa yang diucapkannya.Tidak peduli siapapun yang sedang ia ghibah, yang ia bicarakan, yang ia rendahkan, yang ia jatuhkan harga dirinya. (Buku fitnah Firanda:32) Benar apa yang anda katakan, terlebih lagi kalau yang sedang dibicarakan itu seorang ulama senior yang dikenal sebagai pembela sunnah Rasulullah Shallallohu alaihi wasallam, dan pembela manhaj salafi, semisal Syaikh Rabi Hafizhahullah Taala.Al-Hafizh Ibnu Asakir rahimahullah berkata:


Ketahuilah wahai saudaraku semoga Allah senantiasa memberi taufik kepada kami dan kalian untuk menggapai ridha-Nya dan menjadikan kami dan kalian termasuk orang- orang yang takut kepada-Nya dan bertakwa kepada-Nya- bahwa sesungguhnya daging para ulama itu beracun, dan kebiasaan Allah azza wajalla, dalam membongkar kedok orang- orang yang merendahkannya adalah hal yang telah dimaklumi, dan barangsiapa yang melontarkan ucapannya dengan menjelekkan para ulama, maka Allah azza wajalla, menghukumnya sebelum dia mati dengan kematian hatinya, hendaknya berhati- hati orang- orang yang menyelisihi perintahnya akan tertimpa fitnah atau tertimpa azab yang pedih. Berkata Abdullah bin Mubarak rahimahullah:


Barangsiapa yang merendahkan para ulama maka hilang akhiratnya, dan siapa yang merendahkan penguasa maka hilang dunianya, dan siapa yang merendahkan saudaranya maka hilang harga dirinya. Berkata Ahmad bin AdzroI rahimahullah:


Mecela para ulama terkhusus yang senior dikalangan mereka termasuk dosa besar. Berkata Malik bin Dinar:


Cukuplah kejahatan bagi seseorang yang menunjukkan dia bukan orang saleh tatkala dia merendahkan orang- orang saleh.

Syaikh Abdul Aziz Sadhan hafizhahullah- berkata: Berhati-hatilah dari sifat lancang dengan lisan dan telunjuknya terhadap lembaran hidup para ulama, dan berusaha memperburuk citra mereka atau menyebarkan berbagai tuduhan atas mereka.Sebab hal itu akan membuka pintu kejahatan yang lebar, yang dapat menyeretnya kepada kerusakan dan membuat

kerusakan baik secara hakiki maupun secara maknawi, bukan hanya menimpa yang mengucapkannya saja, namun menyebabkan rusaknya seluruh masyarakat.Untuk menjelaskan bahayanya perkara ini dikatakan bahwa: sesungguhnya merendahkan para ulama dan meremehkan mereka, lebih besar dosa dan kejahatannya dibanding merendahkan selain mereka. Sebab merendahkan para ulama bukan hanya sekedar merendahkan pribadinya saja, namun mengarah kepada sikap merendahkan apa yang mereka bawa berupa ilmu, dan apa yang mereka miliki dari agama dan akhlaq.Oleh karenanya, dikhawatirkan atas orang yang merendahkan para ulama akan ditimpa hukuman yang disegerakan, disebabkan buruknya perbuatan dan kejahatannya. (Manzilatul ulama,Syaikh As-Sadhan,hal:33) Lalu beliau menyebutkan salah satu bentuk merendahkan para ulama: mengotori lisannya dengan meng-ghibah mereka atau tidak membela kehormatan mereka tatkala dighibahi, dan musibah yang terbesar adalah tatkala seseorang merasa nikmat dengan merusak kehormatan mereka baik dengan ucapan, pendengaran atau menunjukkan tanda menerima. Perbuatan ini menunjukkan keburukan hati dan kejelekan maksud, bagaimana mungkin dia menghalalkan dirinya untuk melakukan perbuatan yang kotor itu. Meng-ghibah seorang muslim adalah haram berdasarkan nash al-Quran


Dan jangan sebagian kalian mengghibah sebagian lainnya. (QS.Al-Hujurat:12) Sebab seorang muslim yang tidak berilmu memiliki kemuliaan dengan sebab islam, lalu bagaimana dengan seorang alim yang kedudukannya jauh lebih mulia dibanding yang lain, dengan kemuliaan ilmunya dan besar manfaatnya?. (Manzilatul ulama:55) Namun ternyata kebiasaan berdusta Firanda tidak juga berhenti, dan gelar yang telah dilekatkan kepadanya tidak membuatnya jera dan bertaubat kepada Allah azza wajalla, bahkan masih saja terus menyebarkan fitnah dan dusta

Siapa yang menyembunyikan fatwa?

Dalam buku fitnah karya Firanda hadanallahu wa iyyahu-, dia mengutip terjemahan nasehat Syaikh Bin Baaz rahimahullah- sebagai berikut: ..Kelima : kebanyakan perkataan yang dilontarkan (baik berupa tuduhan maupun celaan) sama sekali tidak benar, namun hanya merupakan persangkaan-persangkaan keliru yang dihiasi oleh syaitan kepada para pengucapnya.

Syaitan memperdaya mereka dengan hal ini. Allah berfirman:


Hai orang- orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain danjanganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. (QS.Al-Hujuraat:12) Seorang mukmin hendaknya membawa perkataan saudaranya sesama muslim kepada makna yang paling baik.Sebagian salaf berkata,


Janganlah sekali-kali engkau menyangka dengan prasangka yang buruk terhadap sebuah kalimat yang keluar dari (mulut) saudaramu, padahal kalimat tersebut masih bisa engkau bawa kepada (makna) yang baik. (Buku fitnah Firanda,hal:67) Apa yang disebutkan Syaikh Bin Baaz rahimahullah ini memang perlu kita renungkan lalu kita amalkan, dan saya berharap kita bisa mengamalkannya,Allahumma yassir. Namun ketika saya membaca makalah yang ditulis Firanda yang dengan entengnya melemparkan tuduhan kepada yang lain dengan tuduhan fatwa telah disembunyikan ????.... Begitu mudahnya dia melemparkan tuduhan tanpa mendahulukan sikap husnuz zhan yang disebutkan dalam buku fitnahnya, saya tidak mengerti apa yang menyebabkan Firanda menyelisihi kaedahnya sendiri. Atau mungkin sikap husnuz zhan hanya diterapkan kepada orang- orang yang turut serta mengambil sumbangan dari ihya At-Turats tanpa perlu merasa khawatir akan pengaruh yang mereka bawa?, adapun yang memberi peringatan dari bahayanya pengaruh mereka yang selalu menimbulkan perpecahan dimana-mana, tidak perlu menerapkan sikap husnuz zhan kepada mereka, sehingga dengan mudahnya melemparkan tuduhan menyembunyikan fatwa masyayikh. Subhanallah, apa tidak ada kemungkinan lain yang lebih baik untuk membawa kepada persangkaan yang lebih sehat..?


Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. (QS.Al-Maidah:8)

Fatwa disembunyikan, kenapa takut?


Walhamdulillah, tak ada fatwa yang perlu untuk disembunyikan, dan juga mengapa harus disembunyikan?. Berkenaan dengan fatwa Syaikh Ubaid hafizhahullah dalam salah satu kunjungan ke rumah Beliau, yang akhirnya saya dituduh oleh Firanda menyembunyikan fatwa yang telah ditanyakan

kepada Beliau tentang Ihya At-Turats. Saya memang belum sempat mentranskrip lalu menerjemahkan fatwa Beliau selama ini, seperti halnya fatwa- fatwa para masyayikh lainnya yang masih tersimpan dalam komputer saya, juga belum sempat saya transkrip dan terjemahkan, dalam keadaan sangat ingin fatwa ini segera disebarkan. Hal ini disebabkan karena kesibukan mengajar, menulis artikel lain, dan yang lainnya. Sebagai contoh, fatwa Syaikh Khalid Azh-Zhufairi hafizhahullah yang membantah berita dusta yang disebarkan orang- orang yang membenci Syaikh Rabi hafizhahullah bahwa Beliau diusir dari Madinah, Syaikh Khalid hafizhahullah telah membantahnya dalam beberapa poin, dan bantahan ini sudah ada beberapa tahun lalu sejak awal kedatangan beliau ke Indonesia, dan saya berkeinginan untuk mentranskripnya, namun hingga kini belum sempat saya melakukannya, bukan karena kesengajaan ingin menyembunyikan fatwa. Demikian pula fatwa Syaikh Abdullah Bukhari hafizhahullah yang menjelaskan tentang kedustaan Firanda, juga masih tersimpan filenya pada kami, padahal rekaman itu sudah lama, namun belum sempat kami transkrip dan menerjemahkannya untuk dikonsumsi oleh ahlus sunnah agar mengetahui siapa Firanda sebenarnya, bukan karena kami sengaja menyembunyikan fatwa, namun kesempatanlah yang belum kami miliki untuk melakukannya. Semoga dalam kesempatan lain kami akan menampilkan transkripnya, berikut file suara Beliau hafizhahullah, agar kemudian Firanda tidak lagi melemparkan tuduhan kepada kami bahwa fatwa telah disembunyikan, semoga ini menjadi hadiah yang bermanfaat bagi al-akh Firanda.

Ini fatwa Syaikh Ubaid Hafizhahullah


Berikut ini fatwa Syaikh Ubaid hafizhahullah yang dengannya saya dituduh menyembunyikannya:

: : ( )

: , : . ))( . , , .

Pertanyaan : Apa nasehat Engkau kepada sebagian ikhwan yang terpedaya dengan gerakan ihya At-Turats dimana sebagian mereka menyangka bahwa Ihya At-Turats sekarang ini telah berubah dan menjadi salafiyah?

Beliau hafizhahullah- menjawab : Ungkapan ini yaitu ungkapan berubah dan menyifati sesuatu berubah dari bidah menuju sunnah.Ungkapan ini seringkali didengungkan oleh ikhwanul muslimin yang bertujuan untuk memberi kelonggaran kepada orang-orang sesat dan mengajak mereka untuk menerimanya dan menerima apa yang berasal dari mereka. Organisasi Ihya At-Turats telah sering aku jelaskan diberbagai majelis baik di Arab Saudi maupun di Kuwait, dan Masih tetap seperti dulu dan tidak ada perubahan. Apabila kegiatan-kegiatan Ihya At-Turats al-Kuwaitiyah telah berubah,para pemimpinnya , ahlul halli walaqd-nya juga telah berubah menjadi orang-orang yang bermanhaj salafy yang mengarahkan Ihya At-Turats untuk menyebarkan sunnah semata yang bersih dari noda bidah maka kami akan bersamanya. Jika mereka mengajak aku untuk bergabung dalam kegiatan-kegiatan mereka dan aku mampu melakukan hal itu maka aku tidak akan ragu (untuk bergabung). Kemudian: apakah boleh diambil bantuan dari organisasi ini dan organisasi-organisasi yang menyimpang apakah itu organisasi ihya At-Turats atau yang lainnya,ini ada dua keadaan: Pertama: keadaan meminta, orang yang memiliki kebutuhan mendatangi organisasi ini dan menjulurkan tangannya kepadanya, (kata kurang jelas..) maka lebih utama tidak melakukannya, sebab setiap orang yang memiliki penyimpangan memanfaatkan kebutuhan yang dikehendaki pihak lain, dan yang butuh tidak dapat berlepas darinya tatkala diharuskannya dia melakukan apa yang diinginkan oleh orang yang menyimpang ini meskipun dimasa yang akan datang. Keadaan kedua: Jamaah yang menyimpang ini memberi sumbangan secara mutlak tanpa syarat, menyumbang dengan sesuatu yang memberi manfaat bagi kaum muslimin disebuah kampung atau beberapa kampung, seperti membangun masjid, sekolah,memberi harta untuk kebutuhan sekolah-sekolah ini dan masjid-masjid,dan menyerahkan segala urusan kepada penduduk negeri tersebut atau penduduk kampung tersebut, dan mereka tidak mendikte mereka sedikitpun, namun sumbangan secara mutlak. Maka ini tidak mengapa insya Allah Taala. Dalilnya adalah sabda Rasulullah Shallallohu alaihi wasallam :

))(
Sesungguhnya Allah azza wajalla, menguatkan agama ini melalui seorang yang fajir Bahkan meskipun orang kafir yang menawarkan kepada penduduk kampung, sama saja apakah kafir ini penguasa atau bukan, untuk membangun masjid di kampungnya,sekedar membangun masjid. Maka kita terima darinya,dan tidak mengapa untuk kita katakan kepadanya: terima kasih,engkau telah berbuat baik. Namun kita tidak mengucapkan semoga Allah membalasmu kebaikan, semoga Allah berbuat baik kepadamu, semoga Allah memberimu pahala, sebab doa ini termasuk kekhususan kaum muslimin .Namun kita katakan : terima kasih engkau telah berbuat baik. Barakallahu fiik . Ini berkenaan tentang bantuan yang datang kepada ahlus sunnah dari jamaah-jamaah yang menyimpang. (Pertemuan dirumah Syaikh Ubaid Al-Jabiri Hafizhahullah,rekamannya ada pada kami).

Dalam fatwa Syaikh Ubaid Al-Jabiri hafizhahullah Taala ini, ada beberapa hal yang dapat kita simpulkan: Pertama : Dalam hal meminta dana kepada organisasi yang menyimpang, baik ihya At-Turats ataupun yang lainnya sebaiknya tidak dilakukan, sebab hal itu akan memberi pengaruh kepada orang yang menerima dana tersebut, cepat atau lambat. Karena kebiasaan mereka yang selalu memanfaatkan orang-orang yang butuh kepada hartanya. Kedua : Mereka memberi sumbangan tanpa syarat secara mutlak, tanpa didikte sedikitpun, maka hal ini tidak mengapa, bahkan dari orang kafir sekalipun. Cobalah anda perhatikan, fatwa Syaikh ini dengan jelas merinci permasalahan mengambil dana dari yayasan menyimpang, bahwa tidak mengapa mengambil dana dari mereka jika tanpa disertai syarat apapun, baik syarat idaari (administrasi) atau yang lainnya. Tapi Firanda sebagai perwakilan yang tidak resmi berusaha menjadi jubir (juru bicara) Syaikh Ubaid yang menafsirkan fatwa Beliau.Dia mengatakan: Persyaratan yang dimaksud bukanlah persyaratan membuat laporan kerja atau yang sifatnya idaari (administrasi) akan tetapi persyaratan yang bisa merusak manhaj seseorang, seperti syarat untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran yang menyimpang.

Lihatlah penafsiran Firanda terhadap ucapan Syaikh Ubaid, lalu perhatikan pula fatwa Beliau diatas, jauh panggang dari api, atau sebagian mengistilahkannya kurang nyambung. Saya benar- benar merasa heran dengan tuduhan Firanda kepada saya bahwa saya sengaja menyembunyikan fatwa Beliau ini, padahal apa yang Beliau sebutkan ini sama sekali tidak bertentangan dengan apa yang telah kami jelaskan dalam buku menjalin ukhuwwah diatas minhaj ukhuwwah. Perhatikan apa yang saya sebutkan dalam menjalin ukhuwwah,hal:32- 33:

Pada saat kaum muslimin berusaha mengenal dakwah salafiyyah secara murni dan konsekwen serta senantiasa berpijak diatas al-Quran dan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan pemahaman yang benar dari salafus shalih dengan bimbingan para ulama ahlus sunnah wal jamaah, mereka dikejutkan dengan sepak terjang organisasi ihya At-Turats al-Kuwaiti ini di bumi Indonesia. Mengandalkan dananya, mereka menyalurkan kepada beberapa organisasi, yayasan atau pondok pesantren untuk memenuhi kebutuhan mereka, seperti membangun masjid, menanggung anak yatim, menggaji para duat (guru) dan semisalnya. Kalau permasalahnnya berhenti sampai di sini, tentu hal itu tidak dipersoalkan oleh para ulama yang memberi peringatan dari bahaya organisasi tersebut. Ternyata tidak demikian, penyaluran dana itu diikuti dengan kegiatan yang justru menjadi pemicu terbesar semakin terpecahnya Ahlus sunnah di negeri ini. Selesai penukilan. Jadi permasalahannya bukan sekedar pemberian sumbangan, akan tetapi pengaruh Ihya At-Turats yang tidak hanya menyerahkan sumbangan semata, namun dampak dari sumbangan mereka untuk melakukan intervensi terhadap dakwah salafiyah di berbagai negeri, termasuk Indonesia. Coba anda perhatikan fatwa Syaikh Muqbil rahimahullah yang juga dinukil Firanda berikut ini:

: .
Beberapa orang dari Kuwait datang menemuiku, diantaranya Al-Akh Abdullah As-Sabt, dan mereka berkata: Kami tidak mampu untuk membantumu kecuali jika engkau terkait dengan yayasan negeri?. Maka aku berkata kepada mereka : "Dan kami tidak menjual dakwah kami kepada seorangpun, jika kalian berkehendak untuk membantu dakwah tanpa syarat dan tanpa ikatan maka silahkan lakukan, dan jika ada persayaratan maka Allah akan mencukupkan kami dari membutuhkan bantuan kalian", selesai penukilan. perhatikan yang beliau sebutkan, tatkala Abdullah As-Sabt yang enggan memberi sumbangan karena mensyaratkan agar mahad beliau dibawah naungan yayasan negeri, yang ini juga bagian dari idaari (administrasi), bukan syarat agar mereka menyebarkan pemikiran menyimpang dan menyesatkan., namun Syaikhuna Al-WadiI rahimahullah menolak mentah- mentah permintaan mereka. Tapi anehnya, Firanda tidak mengomentari fatwa Syaikh Muqbil rahimahullah ini seperti halnya dia mengomentari fatwa Syaikh Ubaid hafizhahullah. Apa yang disembunyikan? Ihya At-Turats tatkala memberi sumbangan, tentu tidak serta merta memberi syarat untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran sesat mereka, itu tidak akan mereka lakukan. Namun ada proses, camkan penjelasan dari Syaikh ubaid: dan yang butuh tidak dapat berlepas darinya tatkala diharuskannya dia melakukan apa yang diinginkan oleh orang yang menyimpang ini meskipun dimasa yang akan datang. Hal ini sejalan dengan apa yang disebutkan Imam Al-Barbahari rahimahullah:


Perumpamaan ahli bidah seperti kalajengking, mereka menyembunyikan kepala dan badannya ke dalam tanah dan mengeluarkan ekornya, jika mereka punya kesempatan maka merekapun segera

menyengatnya. Demikian pula ahli bidah, mereka bersembunyi ditengah manusia, jika mereka punya kesempatan, maka mereka menyampaikan apa yang mereka inginkan. (Thabaqaat al-hanaabilah:2/44) Perhatikan pula nasehat dari Imam Al-jarh wat-tadil Rabi bin Hadi Al-Madkhali Hafizhahullah berikut ini:

( . 11/4/0441
Aku peringatkan saudara- saudaraku salafiyyin dari makar organisasi-organisasi ini, politik yang mengenakan pakaian salafiyah, yang memiliki tujuan dan manhaj yang bertentangan dengan salafiyah dan manhajnya, dimana organisasi ini berusaha menjerat orang- orang yang cinta dunia dengan bantuan harta dibawah slogan membantu salafiyah. Lalu orang-orang yang berakal dan bijak tidak merasa hingga orang-orang yang diberi bantuan inipun berubah menuju penyimpangan yang meruntuhkan dakwah salafiyah dan menanamkan permusuhan dan pertengkaran sengit yang disertai kezaliman dan usaha untuk menjatuhkan para ulama dan tokoh-tokoh dakwah ini. Sebagaimana yang telah dan sedang dilakukan oleh organisasi politik Ihya At-Turats al-kuwaitiyah dan cabang- cabangnya di Emirat dan Bahrain, dimana mereka memukul dakwah salafiyah di Yaman, Mesir, Sudan, India, Pakistan, dan Bangladesh. Tidaklah orang- orang yang tamak menerima bantuannya melainkan engkau melihat perpecahan, pergolakan, berbagai fitnah akan timbul antara peneriman sumbangannya dengan salafiyyin yang kokoh diatas al-haq yang memahami makar oraganisasi ini dan berbagai trik-trik politik yang penuh dengan tipu daya. Mereka (salafiyyin) menyentuh dengan tangan-tangan mereka, melihat dengan mata dan ilmu mereka akhir yang menyakitkan dan menghinakan bagi mereka yang menjulurkan tangantangan khianat dan rendah mereka kepada organisasi ini dan hartanya yang dikumpulkan atas nama orang-orang fakir miskin, dan yang ditimpa musibah. Lalu kemudian harta-harta ini diserahkan kepada para pengkhianat itu yang telah menjual agamanya lalu mereka menjadi bahan permainan dan corong bagi organisasi ini. Jika engkau ingin, maka sebut saja mereka sebagai tentara yang dipersenjatai untuk memerangi dakwah salafiyah dan pemeluknya disetiap negeri. (Nasehat Beliau kepada ikhwan salafiyin di Iraq,tanggal 11-4-1430 H).

Kalaulah pengaruh fulus Ihya At-Turats yang menimpa Firanda dan yang bersamanya hanya sekedar merendahkan kedudukan Syaikh Robi Hafizhahullah, itu sudah cukup menunjukkan kesesatannya. Tapi ternyata pengaruhnya tidak berhenti sampai disini Semoga Allah memberi kemudahan kepada saya untuk menambah tulisan ini dalam kesempatan lain, insya Allah Taala. Adapun menyembunyikan fatwa jihad oleh seorang ustadz, saya sendiri tidak memahami maksud Firanda, fatwa yang mana dan siapa ustadz yang menyembunyikan fatwa itu?. Saya sudah bertanya kepada beberapa ustadz, tapi tidak satupun yang mengetahui hal ini. Fatwa yang mana dan ustadz siapa? Fatuu burhaanakum in kuntum shadiqiin. ( Bersambung insya Allah dengan judul.. SAYA MENOLAK BERDIALOG )

Ditulis oleh: Abu Karimah Askari bin Jamal

Waduh, Ternyata Firanda Seorang Pendusta

Tentang kedustaan Firanda, telah kami jelaskan sebelumnya bahwa yang menghukumi dustanya Firanda bukanlah seorang ustadz yang berasal dari Indonesia, namun seorang Syaikh dari kota Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang masyhur yang sangat dikenal kiprahnya dalam dakwah salafiyah, yaitu Syaikh: Abdullah Bin Abdurrahim Al-Bukhari Hafizhahullah Taala. Beliau benar- benar mengetahui akhlak Firanda yang sangat buruk ini, sebab beliau yang menghadapinya secara langsung tentang fitnah keji yang dia sebarkan olehnya. Berikut ini fatwa Beliau:

.....

, ,

, , : ....

)(
Terjemahan :
Ditempat kalian terjadi fitnah, apakah ditempat kami tidak terjadi fitnah? Kami juga mengalami fitnah, bahkan fitnah yang lebih banyak dibanding kalian, kalau kita terus berjalan dibelakang setiap mereka, yakni setiap orang dari mereka para pelaku kejahatan berbicara, dan jumlah mereka sungguh banyak semoga Allah tidak menambah lagi jumlah mereka menyebabkan kita tidak lagi mengajar manusia, tidak lagi membuat karya ilmiah, tidak lagi menulis, tidak lagi mengajar dan menyebarkan agama. termasuk orang yang paling fajir diantara mereka (ahli fitnah). paling buruk dan pendusta sekarang ini adalah si jahat yang dikenal dengan nama Firanda yang berasal dari Indonesia. Si jahat dan pendusta besar ini berjalan di kota Madinah mendatangi sebagian para pelajar dan sebagian orang, dan membuat kisruh bahwa Syaikh Abdullah (al-Bukhari) tidak menyisakan satupun, semuanya dikritik, dia mengkritisi si fulan, mengkritisi Syaikh al-Abbad dan anaknya dan saya tidak tahu siapa lagi, sebab ketika mereka datang kepadaku, dia bersama yang lain dari pengikutnya Ali Musri dan aku membicarakan mereka dan kebodohan mereka, si bodoh yang ngawur Ali Musri dan sikap dia pada tahun yang lalu. Dan aku mencela Firanda atas bukunya yang berbicara tentang Ihya At-Turats, Aku jelaskan kebobrokan Ihya At-Turats dan memaparkan kepada mereka siapa itu Ihya At-Turats. mereka berkata: Demi Allah wahai Syekh, kami benar-benar tidak tahu, jazakallah khaer engkau telah menjelaskannya. Maka saya berkata : nah, sekarang aku telah menjelaskan, apa yang akan kamu lakukan sekarang? Tentunya orang ini (maksudnya Firanda,pen) dia keluar dari kediamanku dalam keadaan dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan dan perbuat setelah menyebarkan kedustaan, kefajiran dan kejahatan ini. Bahkan teman-temannya yang ketika itu bersamanya, diantara mereka Nur Ihsan dan yang bersamanya, mereka berkata: wahai syaikh, kami tidak memahami ucapanmu ini dengan pemahaman itu, dan engkau telah mengetahui bahwa orang ini (maksud mereka Firanda,pen) jahat dan pendusta,fajir, bahkan kelewat batas dalam berdusta pula. Maka kita semoga Allah memberkatimu- setiap hari kami menghadapi fitnah, dan setiap hari kami menghadapi para pencari fitnah. Kalau sekiranya kita menyibukkan diri dengan mereka, kita tidak akan mendakwahi manusia, tidak mengajar lagi, ya akhi, tinggalkan mereka

Anda mungkin juga menyukai